Page 19

Pontianak Post

Minggu 14 Februari 2010

Resensi Judul : Detektif Monk dan Flu Biru Penerbit : Dastan Books Pengarang : Lee Goldberg Tahun : November 2009 Penerjemah : Rika Sylfentri Tebal : 395 Halaman

Kerja Keras Detektif Edan

K

ALI ini Monk menghadapi kasus pembunuhan wanita-wanita muda yang sepatu sebelah kirinya diambil pelaku. Aneh. Kenapa harus yang kiri? Belum tuntas menyelesaikan kasus itu, terjadi mogok kerja massal di kepolisian yang dinamakan flu biru. Untuk mengatasi kekurangan personel, Monk diangkat oleh walikota menjadi Kapten Polisi yang memimpin Divisi Pembunuhan. Dalam menyelesaikan misinya sebagai kapten, Monk dibantu tim khusus yang terdiri atas pa­ra detektif edan yang dibuang dari kepolisian. Monk dan tim barunya dipaksa bekerja keras bahkan sejak pertama Monk menjadi kapten. Selain menyelidiki kasus pembunuhan sepatu kiri, Monk juga harus mengungkap misteri aneh lainnya yaitu kematian peramal, pembunuhan beberapa orang dengan tanggal dan tahun kelahiran yang sama serta kematian seorang polisi rekan mereka.**

EdukasI

19

Pola Geometri Batik Keturunan TULISAN ini terbit, tanggal 14 Februari 2010. Pada tanggal ini masyarakat Tionghoa, bersamasama masyarakat China di seluruh dunia,sedangmerayakankedatangan tahun baru (Imlek). Diceritakan, jaman dahulu kala ada raksasa yang tiap akhir musim dingin muncul di perkampungan penduduk. Tentu, ini membuat penduduk takut. Pada suatu hari, seorang penduduk melihat raksasa ini lari ketakutan setelah berjumpa dengan seorang anak kecil yang berpakaian merah. Karena itulah,warnamerahmenghiasiparayaan Imlek. Raksasa ini juga takut dengan api dan suara gaduh. Maka, tidak perlu kaget jika dalam waktu Ilmek suara mercon berdentuman di manamana. Ini semua dilakukan untuk menakut-nakuti raksasa itu yang pasti muncul di akhir musim semi. Di antara pakaian warna merah yang diuntukkan menyambut tahun baru Imlek tentu ada yang bermotif ’mirip’batik. Bedanya terletak pada warna, ringan meriah. Penggunaan kata ’mirip’ batik tidak tepat karena memang sungguh batik, batik China. Ada yang memang berasal dari negara China ada juga yang dibuat di Indonesia oleh warga keturunan Tionghoa. Untuk memudahkan komunikasi diberi nama ’batik Keturunan’ (Gambar 1). Sejarah batik di negeri China

Gambar 2

2.b

Gambar 1

dapat terlacak hingga sekitar 2 abad sebelum Masehi, sekira dua ribu tahun yang lalu. Pada waktu itu di bagian barat daya China berkuasa dinasti Han. Pada jaman itu batik juga menjadi populer di China bagian tengah. Para gadis suku Miao diwajibkan belajar membatik dan bordir. Di era modern ini ada seorang gadis (Anshun dari Guizhou) yang belajar membatik era 2000 tahun yang lalu. Pada usia 20 tahun ia telah menemukan karya batik yang khas dirinya sendiri. Ketrampilan ini membawanya keliling dunia. Kini, batik produksi China tidak hanya pakaian tetapi sudah merambah ke benda-benda kerajinan, seperti hiasan dinding (2.a,c) atau tempat surat (2.b). sudah barang tentu benda benda ini telah masuk di Indonesia juga. Dalam bahasa Cina padanan kata ’batik’ adala ’La Ran’ atau ’La Xie’. Sebagian masyarakat keturunan Cina (Tionghoa) yang tinggal di Indonesia juga mengembangkan tradisi membatik ini. Bahkan beberapa di antaranya menjadi sangat

kesohor baik sebagai pengusaha batik maupun sebagai perancang batik. Tidak heran, jika ada yang memperoleh tanda penghargaan dari negara (kerajaan) dengan gelar bangsawan (Misalnya: Kanjeng Raden Tumenggung, KRT). Batik dengan ragam khas China yang kini dikenal dengan nama batik China. Penggunaannya tidak hanya untuk bahan busana, tetapi juga digunakan untuk perlengkapan peribadatan dan upacara keagamaan, sert barang kerajian. Pada umumnya, pola yang digunakan berupa ragam hias satwa dalam mitos China, seperti: naga, singa, burung phocnix atau hong, kura-kura, kilin, dewa dan dewi. Pada sekitar 1910-an lahir batik China dengan ragam hias bunga-bunga. Ada proses pembauran antara pola batik China dan batik asli Indonesia. Pembauran itu menghasilkan motif-motif baru dan dikenal sebagai batik keturunan. Desin tradisional batik keturunan berbasis geometri (Gambar 3). Pola geometri yang sering muncul adalah persegi dan

2.a

2.c

lingkaran, segitiga dan spiral. Berbeda dengan pola batik jawa, pola batik keturunan menekankan harmonisasi di seluruh bidang. Garis dan titik tersusun sangat teratur. Dan keseluruhanya menghasilkan bangun yang sangat alamiah. Persegi dimaknai sebagai petanda bahwa kebagianaan hanya dapat dicapai jika ada rasa aman. Rasa aman dapat diperoleh dengan cara membuat diri sendiri menjadi terbebas dari materi. Setiap manusia harus melepaskan diri dari ketergantungan akan harta benda. Jika dapat mebebaskan diri dari ‘jeratan’ harta benda maka ia dapat merasakan keebahagiaan. Lingkaran merupakan simbol dari Tuhan. Tuhan adalah suatu lingkaran yang titik pusatnya ada di mana-mana. Sementara itu, kelilingnya tidak ada. Karena itu, Tuhan dapat terasa sangat jauh sekaligus menjadi sangat dekat. Segitiga melambangkan bahwa alam semesta ini merupakan suatu sumber energi. Karena itu, manusia Gambar 3

berkewajiban memelihara alam semesta agar energi tidak memancar secara sembarangan. Pelangi penuh dengan warna warni. Demikian juga, sinar mentari pagi sungguh penuh gemerlapan warna-warni. Karena, itu kita dapat melihat orang lain juga penuh warna. Merah adalah api. Menuju ke atas. Merah juga berarti selatan. Suasana yang hangat. Musim panas tiba. Hitam adalah air. Mendalam. Hitam adalah utara. Musim dingin kembali. Air semakin berkurang. Hijau adalah tetumbuhan. Hijau juga berarti timur. Musim semi. Putih adalah metal. Putih adalah barat. Musim gugur kembali tiba. Sedangkan kuning adalah bumi. Bumi merupakan pendukung seluruh isi dunia. Manusia adalah kuning yang tumbuh dan berkembang di Bumi. Manusia adalah dedaunan dar alam semesta. Inilah pola geometri keturunan dan sejumlah makna simbolisnya. Selamat merayakan Tahun Baru Imlek.(om tris)

Pontianak Post  

14 Februari 2010

Pontianak Post  

14 Februari 2010

Advertisement