Page 1

NOVEMBER 2019 No. 04

IT CAN COMPLETE US OR IT CAN RUIN US


Psym Tim

ag 2019

Steering Committee Dicki Romendo Raboek, Anggi Kurniawaty, Efrem Ferdinand Geminus, Jovina Jodiputri. Pemimpin Redaksi Silvia Nityaswasti. Redaktur Tulisan dan Bahasa Helena Winih Widhiasih. Redaktur Desain dan Foto Dayka Marenda. Sekretaris Redaksi Silvia Novera, Adeline Hega Puspa.

Sepa

tah

Kata

Berawal dari keinginan mengulas sesuatu yang selalu ada, entah disadari atau tidak. Memang tidak berupa, namun dapat diwujudnyatakan. Kehadirannya kadang membawa kemuraman, tidak jarang kegirangan. Siapa pun bisa merasakan, siapa pun memilikinya. Psymag #04 mempertanyakan “Apakah cinta dapat melengkapi atau malah menjatuhkan?� Segala jawaban kembali kepada si perasa dan pejalan. Ia yang merasakan dan menjalankan wajib memutuskan. Baik dan buruk ia yang menentukan. Cinta dengan segala manis dan celanya, menyajikan madu dan racun. Lalu mana yang dipilih? Mari refleksi dan evaluasi bersama.

Silvia Nityaswasti

Bendahara Redaksi Bernadetta Ratih Kusumawardharni, Fransiscus Satya. Reporter Ghenta Damara, Septyani Nur Trisnani, Fransiskus Asisi Anggara K., Theresia Retno Putri Hapsari, Yohana Ralinia, Anak Agung Ayu Intan Vitaloka. Editor Carolina Reni Kusumaningsih, Yulisa Melinia, Veronica Andhita, Modita Nissreyasa Adhimurti, Louri Ngongike Pinoa. Desainer Irish Joanna, Clarissa Adhisa Regita Cahyane, Karen Erna Hotmauli Siahaan, Filumena Dextramelcrysta, Maria Paulina Kasni Nogo H., Rae Vinda Radiaswari, Sekar Arum Agatha Karinsia.

Fotografer adea Syahrani Theresita Arm e Helyanan, Devi S., Maria Etha . el na ta Na Olivia, Derwin Periklanan dra Harjanto, Prasetyo Chan ani Pertiwi, Natasha Kristi Dorothy Damasa Elda Simbolon. Pemasaran aria ta Novie C., M Carolina Rena Panjaitan. Yantri, Beatrix nti A., Kelvin, Anastasia Kina a, Anggi Rendi Alicia Alexandr ti cilla Gita Gus Panjaitan, Pris As elia Putri, a H. A., Vinny Am y Katarina Emill Firda Inayah, a eline Nady Puspitasari, Ev a Karisma dy Li Kristanto, na Winda Putri, Magdale a in nt le Va

Dilara ng me ngutip bentu majala k apa h dala pun ta m npa se Psycho iz in pihak logy M agazin e...

Tim Jurnalistik PSYMAG 2019 Psychology Magazine Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Cover Psymag #04 Muse: Dicki & Irish Photographer: Dea Location: Pantai Parangkusumo


02

DOSIS ILMU Dosen Psikologi Berbagi Ilmu

05

HS Halo Sehat

07

OM Opini Mahasiswa

12

KARISMA CERPEN Karya Tulis Mahasiswa: Cerpen

14

REKAN Rekomendasi Kawan

16

LENSAKOLOGI Lensa Psikologi

19

SENSASI Sekilas Event Seputar Psikologi

23

BK Baris Karya

27

KARISMA PUISI Karya Tulis Mahasiswa: Puisi

28

TA Tips Alumni

31

KUAH Kuis Berhadiah

TABLE OF CONTENTS

01

SAHABAT Salam Hangat Untuk Kerabat


Untuk: M Dari: Ak as Ipank 18 A “M” 19 A u Pengagum R ahasiam Senyum u mengajamu itu lho m kku ber as, sea umahta k ngga an

u C u tah a! Kam diri? Rafa 18 Untuk: semangat y nggak sen ngan Rafa i sini kamu apa-apa ja ngan kan d kalau perlu long aku, ja rdas Kamu an minta tomu itu ce sungk capek. Ka capek- manis.  dan hu

Untuk: Ayu 18 Dari: Angkatan 16 Hati-hati di jalan ya, banyak hati yang lagi jalan-jalan!

Untuk: 17 D yang Kemarin Ultah Wee…jangan galak-galak dong sama aku, aku kan sedih.  Jangan ngegas-ngegas juga, aku kan terkejut dan jadi takut.

Untuk: Silvia 17 Dari: Ezra 17 , you can do it! Semangat babe er lagi! Yuk nonton kons

Un Da tuk: Ma ri: 18 18 D ri k D ita ray aka n

Untuk: SN Dari: Anonymous ENTAH APA YANG MERASUKIMUUU~

a pak Kopm apak-ba Untuk: B tta esnya Dari: De hu bakso pedehehe. H ta ? k , ga Pak in bisa dibanyak ya, Pak. ih s a k Ma

Untuk: Jopin 18 D Dari: Anon Terima kasih sudah menerima, menyayangi, dan mencintaiku sepenuh hati. Semoga tidak bosan dengan aku yang seperti ini.

Untuk: Teman Dari: Teman-t-teman Ambyarku Jangan buba eman Ambyarmu r geng!

Untuk: Mbak Nur 17 Dari: Angkatan 18 Jangan lupa keramas!

Untuk: Kakak Berambut Panjang yang Badai Senyum dong kak, soalnya kalau senyum dunia rasanya jadi indah banget.

Untuk: Psi 19 Dari: Psi 18 Hai, kenalan dong.

!

Untuk: Melin 18 D imu Dari: Anon yang menyayang anJangan dipikul sendiri beb mu nya. Aku ada di samping i juga bukan jadi pajangan, tap tem untuk jadi support sys kamu. Semangat!

anan PF Untuk: CO KeamKandang T-Rex ni hu ng Pe , ri: Da ngan lupa makan Semangat ya! Ja yar PDL. Dapet jangan lupa ba burjo depan. salam dari Aa Untuk: CO Dari: Peng Konsumsi Baksos Semangat huni Kolam Painga konsumsin ya, jangan lupa p n esen ya yang en ak! Uwu. in

D Ara 18 ang Untuk: emujamu udah ada ydih. P i i: se p a u t h Dar u , h sih hu Cantik :( Bucin lagi, punya

16 Untuk: Tutut Mas Pam 17 ng! Dari: Pacarnya konser bare Ayo nonton

Untuk: Si Manja Dari: Teman Ci Terima kasih dro Mama terima kasih aku udah dijaga dan kku. Love you. sudah seperti kaka-

SAHABAT S alam Hangat Untuk Kerabat

Untuk: Metta go. I love you but I’m letting

mahaUntuk: Semua siswa Psi USD first Love yourself e each before you lov other!

Untuk: Situ Dari: Saya Semangat kuliah, jangan skip mulu.

g ada Untuk: Leo Kakak ganten Hai Kak Leo! nggak? Aku pengen yang punya kut ada yang marah. kenal tapi tak Leo! Semangat ka a 19 Kriseld Untuk: non animal A Dari: sama-sama Kita h!  lover lo

Untuk: Mahasiswa Psikologi Dari: Gio Mau dengerin opini dewasa? Dengerin Podcast Kasur Miring di Spotify. Untuk: Bababang Dari: Your buddy Halo! Ayo bikin lulus 4 tahun hal yang biasa di psikologi.

Untuk: Sa Dari: Inis tya Jika kulihial C kurasaka at dirimu berja hanya din indahnya Paingan.lan, tak yang sang rimulah satu- Namun tak entul- at mantul mantasatunya p b entul. Duo semangka etul .

Dari: Si Cengeng Untuk: Hoa Hoe Hai kalian! Terima kasih sudah menerima dan menyayangiku sebagai teman baik. Maaf buat sikap yang menyakiti kalian. Love you Hoa Hoe

Untuk: 18 D Dari: Nax Ambis Maafkan jika aku pernah angkuh dan menjengkelkan. Sejujurnya aku pengen bisa nyambung sama kalian semua.

Untuk: 18 D Dari: Wipi Semangat semuanya! Tunjukkan semangat api kalian dan tetap berjalan sesuai jalan ninja.

Editor: Ayik Psychology Magazine

01


DOSIS ILMU

SERBA SERBI TOXIC RELATIONSHIP

“Toxic relationship itu menurut saya adalah hubungan yang tidak setara, dimana salah satu pihak memaksakan sesuatu pada pihak yang lain secara halus maupun frontal, ada pengabaian kebutuhan atau melanggar hak dari pihak lain. Jadi salah satu pihak merasa seperti diatur, terikat, dan kurang bisa mengekspresikan dirinya.�

02

Psychology Magazine


Dalam Dosis Ilmu kali ini, Anggara dan Kinan mewawancarai salah satu dosen di kampus tercinta kita. Febriana Ndaru Rosita M.Psi., Psi. atau yang biasa dipanggil Bu Sita merupakan dosen yang mengajar sejumlah mata kuliah, seperti Emosi Kognisi, Psikogerontologi, dan Psikologi Kepribadian pada semester 2 lalu. Obrolan kali ini berhubungan dengan toxic relationship, mengingat keadaan zaman sekarang yang mana banyak orang yang memiliki hubungan kurang baik. Kinan

: Apa itu toxic relationship?

Bu Sita : Toxic relationship itu menurut saya adalah hubungan yang tidak setara, dimana salah satu pihak memaksakan sesuatu pada pihak yang lain secara halus maupun frontal, ada pengabaian kebutuhan atau melanggar hak dari pihak lain. Jadi salah satu pihak merasa seperti diatur, terikat, dan kurang bisa mengekspresikan dirinya.

ar

gg

An

Anggara: Apakah toxic relationship hanya terjadi pada orang yang berpacaran?

a

Bu Sita : Menurut saya toxic relationship itu bisa di semua jenis hubungan, tidak hanya di pacaran, bahkan mungkin suami-istri, orangtua-anak bisa jadi mengalami toxic relationship, apalagi pertemanan

juga bisa. Ada pula toxic relationship didunia kerja. Jadi toxic relationship bisa terjadi pada konteks yang bermacam-macam. Kinan

: Mengapa bisa terjadi toxic relationship?

Bu Sita : Kalau dari korban, saya pikir, mungkin dia belum tahu hubungan yang sehat seperti apa, ketika belum tahu hubungan yang sehat, dia bisa terjebak di toxic relationship. Apalagi diperparah jika korban memiliki harga diri yang rendah. Dia tidak bisa mengekspresikan pendapatnya, dan ketika dia tidak bisa mengekspresikan pendapatnya, alias manut-manut saja, dia akan lebih mudah terjebak di toxic relationship. Kalau dari sisi pelaku mungkin mengalami peristiwa traumatik atau rasa memiliki yang berlebihan (posesif). Misalnya orangtua yang sampai tidak membiarkan anaknya untuk memilih atau berekspresi, nah, menurut saya itu juga termasuk toxic. Apalagi anak harus selalu menuruti orangtua tanpa kompromi. Anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan pendapat dan keinginannya. Komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang setara yang masing-masing pihak memiliki kesempatan untuk menunjukkan ekspresinya.

Psychology Magazine

03


Anggara: Apakah hubungan yang toxic selalu berpisah? Bu Sita : Tidak. Korbannya bisa jadi tidak merasa di-toxic-in, sehingga dia hanya tidak suka, namun tidak tahu bahwa dia memiliki opsi lain. Tapi bisa juga meski menyadari hubungannya tidak sehat, korban tetap memutuskan hidup bersama pelaku. Misalnya karena ada ketergantungan ekonomi dengan pelaku. Kinan: Apakah dampak toxic relationship selalu negatif atau bisa positif? Bu Sita : Menurut saya, ketika toxic itu berlangsung, dan orang itu tidak bisa mengekspresikan pendapatnya, itu seperti terpenjara, jadi dia tidak bisa mengaktualisasikan diri. Sehingga jika dalam pacaran akan menjadi budak cinta (bucin), bahkan dalam pertemanan yang selalu nurut maka dia juga akan menjadi budak teman. Ekstrimnya adalah inisiatifnya akan rendah, karena ada orang lain terus yang mengatur dan orang tersebut merasa tertekan secara fisik maupun mental. Anggara: Apakah Ibu memiliki pesan kepada

ita Bu S

para pembaca yang sedang terjebak dalam toxic relationship?

Bu Sita : Sadarilah bahwa kamu mempunyai hak untuk mengekspresikan pendapat. Dalam hubungan menurut saya, pasti ada proses negosiasi, tidak bisa kita menang sendiri atau sebaliknya. Negosiasi yang baik adalah mereka tahu apa yang kita mau, dan kita tahu apa yang mereka mau, kemudian kita putuskan bersama. Demikian percakapan singkat antara Anggara, Kinan, dan Bu Sita. Semoga setelah membaca konten ini, banyak orang yang lebih aware dengan toxic relationship, dan apa yang harus dilakukan jika sedang terjebak.

ra r: Angga Reporte Aro : r o ie Edit fer: Dev Fotogra 04

Psychology Magazine


A ANTAR N N A G KA GUN ERASA M KEBIN N A IH D MEMIL

HALO

SEHAT

Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum.

“Saat ini saya sedang menjalin hubungan romantik dengan seseorang. Walau sudah hampir seten-

gah tahun hubungan kami, tapi saya kerap merasa bahwa perasaan saya pasang surut. Bahkan sekarang saya memiliki ketertarikan dengan beberapa orang (tapi pasangan saya tidak tahu). Saya merasa hubungan kami sudah kehilangan ‘rasa’ tapi kami berdua terlalu takut untuk menyudahi hubungan kami. Kami takut menyesal kalau putus. Dengan kondisi saya yang menyukai beberapa orang dan hubungan kami yang berada di ambang, apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan kami dan apa yang perlu kami lakukan?�

Sukar juga kalau kita dihadapkan pada banyak pilihan dan tidak satupun dari pilihan-pilihan itu

yang dapat kita yakini. Bahkan Saudara mengatakan bukan hanya diri sendiri yang menyesal, tapi kami: Saudara dan pasangan. Erich Fromm, seorang ahli Psikologi, mengatakan bahwa cinta adalah satu-satunya jawaban yang memuaskan terkait keberadaan manusia. Tetapi, cinta itu sendiri yang justru menjadi persoalan bagi Saudara dan pasangan.

Tentu saja, tidak menyenangkan bila kita menjalani sesuatu yang diri sendiripun tidak menyuka-

inya. Tidak juga mendatangkan ketenangan bila kita hidup dalam ketidakmampuan untuk memilih. Walau begitu, setidaknya dengan berbagai pertanyaan dan kebingungan Saudara, Saudara berada pada suatu keadaan, yang mana Saudara akan berpikir dan belajar untuk membuat penilaian atas keadaan Saudara. Saudara sedang membuat pertimbangan mengenai apa yang semestinya dilakukan.

Saudara juga merasa bersalah karena berada pada keadaan menyukai beberapa orang lain selain

pasangan. Ini merupakan hal yang sangat normal. Kita hidup dalam dunia yang seakan-akan mewajibkan bahwa pasangan hidup itu cukup satu saja. Dalam dunia seperti demikian, diam-diam menjalin hubungan dengan orang lain tentu dapat menyakitkan bagi pasangan Saudara. Masalahnya adalah orang untuk hidup, perlu agar tidak dalam mengambil pilihan.

Saya ingat pernah membaca sebuah cerita demikian: Suatu hari seseorang berjalan di sebuah

taman bunga yang begitu cantik. Orang tersebut diperbolehkan memetik satu bunga saja. Baru berjalan sepuluh langkah, orang tersebut menemukan bunga yang indah. Ia mendekati dan berniat memetik bunga tersebut. Tiba-tiba saja dia urung niatnya. Ia berpikir bahwa di depan sana akan ada lagi bunga yang lebih

Psychology Magazine

05


indah. Satu bunga lagi. Dua bunga. Tiga bunga. Empat bunga‌ dan seterusnya sampai belasan bunga indah tak kunjung ia petik. Sampailah ia pada ujung taman dan mendapati tak satu pun bunga untuk dipetik. Ia menyesal sebab ketidakberanian membuatnya tak membawa apapun keluar dari taman cantik tersebut. Bagaimana kalau orang tersebut adalah Saudara?

Kalau dipikir dan dirasakan, apa yang Saudara akami bersama pasangan adalah suatu hal yang

sangat wajar dalam sebuah hubungan. Semakin lama dan semakin intim sebuah hubungan, bukankah tidak lagi sekadar digerakkan oleh sebuah ‘rasa’, melainkan oleh penghargaan mendalam atas pasangannya? Kegagalan dari sebuah hubungan yang dijalani oleh sepasang manusia adalah ketika mereka tidak berhasil mengubah cinta romatis menjadi cinta persahabatan. Apabila memang demikian, tidak ada cara lain bagi pasangan untuk menimbang-ulang hubungan mereka. Pertimbangan ini pun hanya bisa dilakukan dengan berbicara terus terang satu sama lain, dari hati ke hati. Bukankah demikianlah cara kita menghargai sesama kita?

Nah, pembicaraan memang tidak lalu dapat menyelesaikan suatu persoalan. Namun, dengan saling

terbuka, berbicara dan berkeluh satu sama lain, setidaknya masalah Saudara akan menjadi jelas.

Repor Editorter: Damar foto: : Ike pribaddokumen i

06

Psychology Magazine


HIP: S N O I T ELA NA? TOXIC R A M I G RUS AKU HA ISWA

AHAS OPINI M

Dhevan Brian (Dhevan, Psikologi ’16): Menurut Dhevan, toxic relationship adalah hubungan yang mengganggu antara kita dan orang lain, dalam artian hubungan tersebut menimbulkan perasaan tidak nyaman, tidak aman, cemas, dan hal-hal negatif lain. Dhevan pernah terjebak dalam toxic relationship ini dengan seorang teman semasa SMA, di mana ia melakukan berbagai macam aktivitas dilakukan dengan temannya. Kedekatan ini membuat Dhevan lupa bahwa banyak hal yang tidak selalu bisa dilakukan dengan teman. Ada saat ketika temannya melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengannya dan terlalu mendramatisasi. Pengalaman itu lantas membuat Dhevan merasa tidak nyaman dan dirugikan. Sulit untuk keluar dari circle itu, karena mereka sudah berteman cukup lama dan saling tergantung. Namun, perlahan-lahan Dhevan bisa bebas, dan menemukan teman baru di dunia perkuliahan yang memberikan banyak kebaikan dalam berelasi. Dhevan berbagi tips untuk keluar dari toxic relationship, yakni menyadari bahwa relasi tersebut sudah mengarah pada jalinan yang tidak sehat dan memberanikan diri untuk keluar dari zona tersebut.

Laurentius Bagas (Bagas, Psikologi ’16): Toxic relationship yaitu hubungan yang tidak baik di mana lebih banyak emosi negatif dibandingkan emosi positif. Individu merasa dia tidak bisa sendiri, lantas mencari orang untuk mengisi kekosongannya sampai-sampai ia menjadi takut kehilangan orang tersebut. Simtom pada toxic relationship bisa berupa sikap egois, cemburu, posesif, acuh tidak acuh dengan pasangannya, sehingga menyebabkan kekangan terhadap pasangan. Menurut Bagas, cara pencegahan tumbuhnya hubungan tidak sehat adalah dengan saling mendukung kegiatan yang positif dan tetap menjaga kehidupan pribadi, serta mengurangi konflik dalam hubungan. Pasangan kita tidak harus selalu mengetahui hal-hal yang terjadi, ada yang memang harus disimpan sendiri dan ada yang bisa dibagikan, semua ada porsinya masing-masing.

Nandya Sentosa (Nandya, Psikologi ’17): Toxic relationship itu hubungan yang membawa kerugian bagi salah satu atau kedua pihak dalam hubungan tersebut—baik fisik maupun psikis. Walaupun Nandya tidak mengalami toxic relationship dalam hubungan romantis, namun dari pengalaman teman-temannya, salah satunya ada yang mengalami toxic sekaligus abusive relationship. Contohnya, ketika temannya diajak pergi oleh pasangannya dan ia menolak, maka ia mendapat perlakuan yang tidak baik, dan hal itu mempengaruhi kondisi psikis temannya. Bagi Nandya mengakhiri toxic relationship itu tidak mudah, walaupun kita sudah memberi saran pada teman akan tetap sulit jika bukan kemauan dari diri sendiri untuk menyudahi hubungan yang tidak sehat tersebut.

Psychology Magazine

07


Marcelina Viodhy (Viodhy, Psikologi ’16): Bagi Viodhy, toxic relationship adalah racun dalam sebuah hubungan yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak dan lingkungan sosial dari kedua belah pihak tersebut. Viodhy pernah mengalami hubungan demikan dengan mantan pacarnya. Hubungan mereka berjalan dengan tidak baik karena nihilnya komunikasi dan kepercayaan. Padahal, dua aspek tersebut penting untuk membangun hubungan yang sehat. Selain itu, rugi dirasakan Viodhy sebab banyak waktu yang tercurah namun tidak membawa keuntungan bagi dirinya. Setelah putus pun, mantannya masih menghubungi Viodhy dengan dalih tidak mendapatkan perhatian yang serupa dari pacarnya yang baru. Viodhy berhasil keluar dari hubungan tersebut semenjak ia memutus kontak dengan sang mantan. Menurut Viodhy, pertemanan pun bisa bersifat toxic, misalnya ketika menghasut teman untuk tidak berhubungan dengan teman lain hanya karena kita punya masalah dengan orang tersebut. Hal ini tentu tidak sehat bagi kehidupan sosial kita. Ada baiknya jika memang teman kita menceritakan masalahnya dengan orang lain, kita harus bisa menempatkan diri pada posisi yang netral agar tidak ada bias.

Thomas Dwi Januar (Tommy, Psikologi ’17): Dari pendapat Tommy, toxic relationship merupakan hubungan yang tidak memberikan dukungan positif terhadap diri kita, bisa menyebabkan individu merasa tertekan, tidak berkembang, bahkan mungkin depresi. Efeknya kerap mengenai kondisi mental seseorang, dan tidak terlihat secara langsung, bahkan bisa terlihat baik-baik saja. Tanpa kita sadari, hal ini sudah mengakar seperti budaya kita. Dari pengalaman Tommy sendiri, ia pernah memiliki teman yang sering merendahkan dirinya saat ia mendapatkan sebuah pencapaian atau prestasi, menganggap Tommy kurang pantas untuk mendapatkan penghargaan tersebut. Atau, terkadang pendapatnya kurang dihargai, sehingga saat diskusi hanya raga Tommy saja yang hadir, sementara pikirannya tidak fokus. Bagi Tommy, tentu akan baik jika dengan teman dipupuk sikap saling menghargai, memberikan dukungan, dan mau membangun kepercayaan. Sikapsikap ini sangat berdampak bagi orang lain dan relasi yang sedang atau akan kita jalani agar menjadi hubungan yang sehat.

Putu Maharani Karuna Citra (Karuna, Psikologi ’19): Pengertian sederhana tentang toxic relationship menurut Karuna adalah hubungan yang dapat menghambat perkembangan emosional seseorang. Toxic relationship tidak melulu tentang hubungan asmara, tapi bisa juga dalam pertemanan bahkan dalam keluarga. Karuna sendiri mengalami pola hubungan ini dengan mantan pacarnya dulu. Karuna cenderung bergaul atau cerita pada teman cowoknya karena dia bukan tipe orang yang punya banyak teman cewek. Ia hendak menjelaskan pada mantannya soal keakrabannya dengan salah satu temannya ini supaya tidak menimbulkan masalah yang lebih besar, namun si mantan malah menganggap Karuna semacam tukang selingkuh sampai dia melontarkan kata-kata yang cukup menyakitkan. Karuna memutuskan untuk menyudahi hubungan tersebut, namun ia belum berpikir kalau hubungan yang sedang jalanin itu bersifat toxic. Ia putus sebab ada masalah lain. Bagi Karuna, dampak toxic ini berbanding 50:50 antara positif dan negatif. Dari pengalamannya itu, ia jadi belajar dan menyadari situasi hubungan yang tidak baik. Kalau sudah menggunakan ungkapan yang tidak pantas, berarti hubungan itu tidak berdampak baik. Selain itu, hubungan yang toxic juga menguras energi melalui cara-cara yang negatif, serta membuat Karuna meragukan self worth-nya. Ketika indikasi sudah terlihat dan hubungan membuat kita merasa digerogoti, tips dari Karuna adalah berhenti dan segera ambil tindakan agar kita tidak jatuh terlalu dalam.

08

Psychology Magazine


Amrita Chaya (Mita, Psikologi ’18): Bagi Mita, toxic relationship adalah situasi ketika suatu hubungan membatasi perkembangan diri kita mulai dari pertemanan hingga kegiatan yang akan atau sedang kita lakukan—padahal kita memiliki kebebasan untuk itu. Mita pernah mengalami hubungan yang demikian dengan kedua orangtuanya. Mita punya hobi menyanyi dan mencoba untuk mendalami hobinya, namun orang tuanya tidak menyetujui. Orangtua Mita menilai sebelah mata soal hobinya dan lebih mementingkan pendidikan. Selain itu, dalam pertemanan pun Mita kurang beruntung. Temannya selalu cemburu atau tidak senang jika Mita mempunyai teman baru dan malah akhirnya bermusuhan. Hubungan dengan gebetan juga tidak berjalan mulus. Gebetannya tidak bisa percaya dengan Mita saat ia menjalin relasi dengan teman lawan jenis dan setiap kegiatan yang ia ikuti tidak didukung. Dalam keadaan begitu, Mita jadi sulit untuk mengembangkan potensi dirinya ketika berada di dalam toxic relationship ini. Menurut Mita juga, ada baiknya jika hubungan tidak sehat didiskusikan dan diperbaiki selagi masih bisa. Jika memang sudah tidak bisa diubah, kita sendiri yang menentukan untuk bertahan atau meninggalkan hubungan tersebut.

Ignatius Pinandito (Dito, Psikologi ’17): Kata Dito, toxic relationship adalah hubungan dua arah yang menyebabkan ketidaknyamanan dan menuntut banyak hal. Pengalaman Dito dalam hubungan yang demikian salah satunya ketika di SMA, ada tugas kerja kelompok yang dikerjakan berdua. Kenyataannya, Dito mengerjakan tugas itu sendiri, sedangkan temannya hanyak seperti benalu yang numpang nama dan dapat nilai. Dito juga pernah mengalami hubungan tidak sehat ketika masih berpacaran dengan mantannya. Waktu itu, Dito ingin mantannya menyaksikan Dito nge-MC, namun ia tidak bisa hadir. Dito merasa hal tersebut termasuk toxic karena Dito menuntut hal lebih padahal mantannya saat itu tidak bisa memenuhinya. Ciri-ciri toxic relationship dalam pacaran menurut Dito adalah tidak mendapat dukungan untuk mengembangkan kegiatan atau bakat positif, menjauhkan kamu dari teman, dan banyak melarang untuk melakukan ini itu.

Samuel Brahmantia (Sammy, Psikologi ’18): Menurut Sammy, toxic relationship merupakan proses menjalin hubungan dengan seseorang—romantis atau bukan, di mana salah satu pribadi dalam hubungan tersebut tidak diuntungkan dan hanya terjadi hubungan satu arah. Hal ini dapat terjadi antara teman sesama laki-laki saat terlalu dekat, malah akhirnya sangat terikat dengan mereka dan mengurangi kebebasan melakukan hobi atau menjalin hubungan dengan lawan jenis. Teman-teman Sammy mengalami toxic relationship ini dan mereka masih bertahan dalam hubungan tersebut. Hal ini jadi mempengaruhi mental mereka, menyebabkan kesulitan percaya pada lawan jenis akibat sering mendapatkan perlakuan yang menyakitkan. Sammy berpesan, ketika kalian terlibat dalam relasi yang sekiranya sudah tidak sehat, kalian perlu untuk segera menyadari dan mengambil tindakan secara perlahan agar bisa melepaskan hubungan tidak sehat tersebut. Pesan Sammy, sayangi diri kalian sendiri sebelum menyayangi orang lain.

Psychology Magazine

09


Theresia Cleopatra (Cleo, Psikologi ’19): Toxic relationship dalam pandangan Cleo adalah hubungan yang sudah tidak sehat lagi secara emosional maupun fisik. Cleo pernah mengalaminya ketika ia bersama mantannya. Mantan ini amat posesif bahkan seakan-akan membatasi ruang gerak dan pertemanan Cleo. Selain itu, ia kerap mendapat kata makian saat berdebat atau konflik. Sayang tentu oke-oke saja asalkan wajar, tetapi sikap posesif berlebihan dan menganggap pacar sebagai “center of my life� itu justru memupuk tumbuhnya perasaan terbebani. Sharing dan kesediaan untuk terbuka juga perlu, tetapi ketika tidak ada perubahan tentu tidak akan mengenakkan. Bagi Cleo, dalam posisi tersebut lebih baik untuk menyelesaikan hubungan daripada semakin menderita.

Margareta Citra Nur Satiti (Citra, Psikologi ’19): Bagi Citra, toxic relationship berarti hubungan, misalnya pacaran, yang terlalu berlebihan atau membuat seseorang menjadi tidak sehat dalam berperilaku. Citra pernah mengalaminya sendiri dalam hubungannya yang dulu. Hal kecil kerap menjadi masalah, membuat Citra banyak memikirkan permasalahan dan hubungan itu sehingga mengesampingkan sekolahnya. Hubungan ini berakhir diputus oleh mantannya. Mereka kerap marah satu sama lain, namun selalu diusahakan untuk bertahan. Meskipun toxic, Citra ingin mengubah hubungan toxic itu menjadi hal yang lebih positif dengan cara menghadapi hubungan toxic itu dengan bijak. Baginya toxic relationships berasal dari suatu hal yang postif yang terlalu berlebihan sehingga malah menjadi negatif. Eksistensi dan dukungan untuk pacar jelas penting, asal tidak berlebihan mengingat pacar belum tentu jodoh yang terikat secara sakral. Pacaran bukan yang utama dalam hidup, sebagai mahasiswa tentu pendidikan penting untuk didahulukan.

10

Psychology Magazine


Reporter: Trisna Editor: Aro Fotografer: Dea & Etha


ISWA: CERPEN KARYA TULIS MAHAS

RE MY SWEETEST FAILU

Hampir seluruh identitas yang saya bagikan di cerita ini adalah samaran. Mulai dari orang, tempat, dan kendaraan. Sarah, begitu saya akrab memanggilnya. Ia adalah seorang alumni psikologi dan kakak tingkat saya dulu. Namun dari segi umur, ternyata kami seumuran dan bahkan masih lebih tua saya berdasarkan bulan lahirnya. Pada Mei 2016, saya pertama kali berkenalan dengan Sarah. Saat itu, ia menjadi salah satu asisten dosen (asdos) di salah satu mata kuliah alat tes psikologi. Meskipun ia tidak menjadi asdos di kelas saya, namun saya sering menjumpainya duduk sendirian dengan laptopnya di sebuah ruangan yang bernama Studio Psikologi. Sarah, tidak seperti namanya, sesungguhnya memiliki tampilan yang nyentrik bila dibandingkan dengan mayoritas mahasiswi psikologi. Memiliki haircutyang unik, cara berpakaian yang tidak terbuka namun tetap eye catching, hingga kesan tomboy yang timbul dari wajah“no make up, merupakan sedikit gambaran singkat mengenai penampilan uniknya. Belum lagi ekspresi wajahnya yang lebih sering menunjukkan ekspresi jutek daripada ceria. ”Halo, Mbak Sarah,” begitu sapaan pertama saya pada Sarah, setelah berhari-hari menahan nyali untuk berkenalan. Tidak disangka, obrolan pertama kami siang itu berlangsung hingga dua jam. Saya bahkan harus menunda makan siang sampai pukul tiga sore. Tentu ada alasan khusus mengapa obrolan berdurasi dua jam dapat terjadi antara dua orang yang baru berkenalan. Selain karena diri saya yang sejak awal memang penasaran dengan Sarah, ada alasan lain yang berasal dari kepribadian Sarah. Entah bagaimana ceritanya, justru Sarah yang lebih banyak berbicara dalam obrolan siang itu. Usut punya usut, setelah melakukan beberapa penelitian melalui teman-teman terdekatnya, terungkaplah beberapa hal mengenai Sarah. Anti sosial, sering tak cocok dengan teman sesama perempuan, korban bullying saat SMA, hingga kekerasan dalam pacaran yang pernah dialami. Itulah beberapa cerita yang saya dapatkan tentang Sarah. “Oh, pantesan.” Itu yang ada di benak saya setelah sebulan melakukan pendekatan dan mendengar beberapa cerita tersebut. Uniknya, pengalaman-pengalaman traumatis yang pernah Sarah alami itu pada akhirnya diceritakan langsung kepada saya. Pastinya saya sangat senang karena perempuan yang sedang saya dekati bisa terbuka seperti itu. Pada akhirnya saya menyadari bahwa alasan yang membuat Sarah terbuka adalah karena Sarah butuh teman bercerita. Tidak lebih dan belum sampai pada kehidupan romantik seperti yang saya pikirkan. Kurang lebih sepuluh bulan lamanya hubungan dekat tanpa status pacaran ini berjalan. Beberapa momen romantis ala kawula muda pernah kami lalui bersama, seperti makan malam, berwisata alam, karaoke, nonton bioskop, hingga pergi ke gereja. Momen unik lainnya yang berkesan bagi saya adalah ketika di kencan kelima kami, saya berhasil memaksa Sarah untuk mengambil alih kemudi mobil city car mewahnya. Cara mengemudi Sarah yang 12

Psychology Magazine


ugal-ugalan membuat saya senam jantung setiap kali kami berkencan. Hal ini membuat saya sempat berasumsi bahwa 7 dari 10 perempuan kurang mampu mengemudi kendaraan dengan baik. I’m sorry, ladies. Namun sesungguhnya, momen yang paling memorable dalam hubungan saya dengan Sarah, yaitu ketika saya harus, mau tidak mau, mendengarkan rentetan cerita random yang keluar dari mulutnya. Beberapa kali saya merasa telinga saya mulai panas dan membatin, Sar, bisa nggak, 10 menit aja berhenti ngomong. Akan tetapi, setiap kali saya membatin, selalu ada semacam bisikan malaikat dalam hati bahwa saya harus menolong Sarah. Saya harus menunjukkan pada Sarah bahwa kehidupan ini masih indah untuk dijalani. Saya ingin membuat hidupnya tidak kesepian, meskipun ia sebetulnya berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Latar belakang keluarga Sarah sempat membuat saya meyakini sebuah kutipan“money can’t buy happiness, meskipun saat ini kutipan tersebut kontroversial. Akhir cerita saya dengan Sarah sesungguhnya cukup absurd karena berakhir dengan akun LINE saya yang diblok oleh Sarah. Secara tidak sengaja, saya benar-benar menyinggung perasaannya. Namun, hingga hari ini saya masih berhubungan baik dengan Sarah dan beberapa kali kami masih saling berbalas komentar di medsos. Saat ini ia sedang menjalani studi S2. Setelah hubungan ini berakhir tanpa kejelasan karena saya pun belum sempat menyatakan perasaan saya, teman-teman terdekat Sarah bercerita pada saya dalam sebuah momen nongkrong di kantin. Mereka bercerita bahwa Sarah sebenarnya senang dengan usaha keras dan kesabaran saya untuk mendekatinya selama itu. Namun karena satu dan lain hal yang berkaitan dengan karakter saya, Sarah merasa adanya ketidakcocokan besar dan memutuskan tidak melanjutkan hubungan kami ke arah yang lebih serius. Mendengar itu, saya tidak terkejut sama sekali dan justru merasa sangat bersyukur. Pertama, karena Sarah benar-benar menghargai usaha saya selama ini. Kedua, saya menghabiskan hampir satu tahun hanya untuk mendekati seorang perempuan dan saya belum pernah sesabar itu sebelumnya. Ketiga, saya merasa lega karena mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang mahasiswa psikologi. Saya mampu untuk mendengarkan, memahami, dan memanusiakan manusia. Mengenai tema tentang cinta, saya ingin memberi pesan kepada semua pembaca Psy-Mag. Bagi saya cinta tidak harus saling memiliki. Mencintai seorang manusia sama halnya seperti cara Tuhan mencintai manusia. Tuhan mengasihi ciptaan-Nya dengan penuh kesabaran, tanpa pamrih, dan merawat dengan tulus. Terimakasih, Sarah. You are my sweetest failure in my romantic life.

Editor: Yulisa

Psychology Magazine

13


REKOMENDASI KAWAN

FILM TEMA CINTA, NOMOR 4 BIKIN KAMU DEG-DEGAN! Berdasarkan question box yang dibuka di Instagram Psymag pada beberapa bulan yang lalu, didapatkan beberapa rekomendasi dari kawan-kawan mengenai film bertema cinta. Film-film yang direkomendasikan menarik-menarik sekali, hingga membuat Tim Psymag bingung untuk memilihnya. Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut mengenai film-film yang direkomendasikan, akhirnya kami memutuskan untuk memilih tiga film bertema cinta yang dirasa wajib untuk ditonton. Apa saja? Mari disimak! 1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind Film keluaran tahun 2004 ini menjadi rekomendasi pertama karena memeroleh rating IMDb (Internet Movie Database) tertinggi dari ketiga film, yaitu sebesar 8.3/10. Paduan antara romance dan science-fiction berhasil disusun dengan sangat apik oleh sang sutradara, Michel Gondry. Bercerita mengenai Joel Barish (diperankan oleh Jim Carrey) yang berusaha untuk menghapus memorinya tentang Clementine Kruczynski (diperankan oleh Kate Winslet). Keputusan Joel tidak pernah mudah karena sebenarnya ia masih sangat mencintai Clementine, meski ia tahu bahwa Clem terlebih dahulu menghapus memori tentangnya. Setelah keduanya berhasil menggunakan prosedur medis tersebut, peristiwa-peristiwa berikutnya membawa mereka pada fakta yang tidak disangka. Salah satu tagline yang mendalam dari film ini adalah “You can erase someone from your mind. Getting them out of your heart is another story.�

2. Her Terpukau dengan akting Joaquin Phoenix pada film Joker tahun ini? Film Her menjadi pilihan yang tepat untuk bisa lebih mengenalnya, tentu dengan genre film yang berbeda. Kepiawaian Phoenix dalam berakting dan kehebatan sang sutradara, Spike Jonze turut andil dalam keberhasilan film ini memeroleh rating 8/10 pada IMDb dan penghargaan-penghargaan lainnya, salah satunya Academy Award for Best Original Screenplay 2014. Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Theodore Twombly (diperankan oleh Joaquin Phoenix) yang jatuh cinta pada program komputer 14

Psychology Magazine


yang dimilikinya. Program tersebut bernama Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johansson), sebuah teknologi canggih OS (Operating System) yang menemani keseharian Theodore melalui bahasa verbal. Mungkin terdengar absurd, namun film ini berhasil merasionalkan dan mengemas cerita dengan sangat unik. Selain itu, Her juga menjadi salah satu bentuk satire bagi masyarakat yang gila teknologi.

3. Blue is The Warmest Color Mengisahkan tentang Adèle (diperankan oleh Adèle Exarchoupoulos), seorang pelajar SMA yang bertemu dengan seorang wanita berambut biru, Emma (diperankan oleh LÊa Seydoux). Pertemuan mereka membentuk relasi yang lebih jauh dan dalam hingga mengubah kehidupan Adèle yang sebelumnya terasa kosong dan membosankan menjadi penuh tantangan. Film yang rilis pada tahun 2013 ini mengajak penonton mengikuti perjalanan hidup dan merasakan naik-turun emosi yang dimiliki dan dirasakan Adele. Film garapan sutradara Abdellatif Kechiche ini memiliki durasi tiga jam, namun menjadi tidak terasa karena rasa penasaran akan kelanjutan cerita pada setiap bagian dari film selalu hadir. Film ini mendapat rating dari IMDb sebesar 7.8/10. Meski tema yang diangkat dalam film ini sangat bisa menimbulkan silang pendapat, namun ingat selalu bahwa love is love.

Jadi, sudah memutuskan weekend ini mau streaming film apa? Psychology Magazine

15

(NIT

YA)


LENSAKOLOGI

PSYCHOFEST 2019

16

Psychology Magazine


Psychology Magazine

17


si kumenta Foto: do 19 0 2 st Psychofe

18

Psychology Magazine


Cinta dalam Dialog Lintas Iman

Sensasi:

2019

Halo Sahabat Psymag! Kali ini Sensasi akan membahas salah satu acara yang diadakan

oleh Fakultas Psikologi kita tercinta, nih. Apa, tuh? Iya, benar sekali! Dialog Lintas Iman. Dialog Lintas Iman atau DLI adalah salah satu acara tahunan yang rutin diadakan oleh BEM Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Acara DLI berlangsung pada tanggal 20 September 2019, dan bertempat di ruang Drost

lantai 4, Gedung Utama Kampus III Universitas Sanata Dharma. Acara ini diketuai oleh Dhimas Susila Pradana atau yang biasa dipanggil Dhimas dengan anggota panitia yang berjumlah 40 orang. Tahun ini DLI mengangkat tema yang sesuai dengan majalah Psymag edisi ini lho, yaitu cinta, lebih tepatnya cinta beda agama.

Tema ini sudah disusun oleh Steering Committee (SC) dan didukung oleh para panitia. Keti-

ka diwawancarai, Dhimas selaku ketua panitia DLI menyampaikan bahwa tema itu memang sudah ada dari SC karena tema itu harus sudah ada ketika teman-teman SC membuat RKA. “Meskipun tema itu dari SC, namun aku dan teman-teman SC juga mengajak teman-teman CO (koordinator) yang pada waktu itu sudah ditunjuk untuk berefleksi bersama tentang tema itu, dan hasilnya kami semua sepakat mengangkat tema itu karena sangat dekat dengan mahasiswa, khususnya mahasiswa Sanata Dharma, mengingat Sanata Dharma ini seperti miniatur Indonesia—banyak agama, suku, dan budaya yang berbeda-beda.�

Para pembicara dalam acara DLI berasal dari berbagai agama yang ada di Indonesia. Dari

agama Katolik ada Rm. Nikolas Kristiyanto, dari agama Islam ada Dr. Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum., selanjutnya ada Pdt. Sri Handoko yang mewakili agama Kristen, kemudian Ir. Ngakan Ngurah Mahendrajaya sebagai wakil dari agama Hindu, Totok Tejamano, S. Ag., M.Hum. dari agama Budha, dan yang terakhir Js. Cucu Rohyana, S.T. sebagai perwakilan agama Kong Hu Chu. Selain itu, yang tidak kalah keren adalah moderatornya yakni Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum. atau yang biasa disapa Mas Ucil, beliau adalah dosen dari fakultas kita sendiri. Walaupun topik yang dibawakan cukup berat, namun dengan pembawaan yang menyenangkan dari para pembicara dan moderator, topik ini dapat dibawakan dengan ringan dan menyenangkan, bahkan muncul beberapa lelucon yang membuat topik bahasan ini jauh terlihat santai.

Psychology Magazine

19


Acara ini berlangsung sesuai dengan harapan, walau terdapat sedikit kendala yang

pada akhirnya dapat diatasi. “Kalau menurutku, kinerja teman-teman panitia sudah sangat baik, apalagi aku sendiri lebih mementingkan dinamika kepanitian terlebih dahulu sembari mencari dana dan merancang acara, setelah itu baru teman-teman panitia diajak untuk fokus ke acara yang sudah dibentuk. Meskipun begitu, tentu ada kekurangannya yakni dalam hal komunikasi, tapi itu tentu masih bisa diatasi. Selain itu, kerja teman-teman panitia sudah sangat memuaskan karena mereka benar-benar bekerja pada hari H, bahkan mereka yang tidak ada kuliah bisa datang lebih awal dan sampai di Drost langsung inisiatif membantu. Jadi untuk persiapan awalnya bisa lebih cepat dari waktu yang sudah diperkirakan. Saat berjalannya acara, teman-teman panitia juga bertugas sesuai job desc-nya masing-masing. Ketika berbenah setelah acara teman-teman juga bisa saling membantu antar divisi,� terang Dimas ketika diwawancarai.

Di akhir wawancara, Dhimas menyebutkan harapannya atas acara yang diketuainya

tahun ini, “Kalau dari aku, harapan mengenai DLI kemarin, (semoga) teman-teman yang sudah datang mendapat insight baru tentang apa itu cinta dan bagaimana menyikapi cinta beda agama, atau bagi mahasiswa yang sudah terlanjur, bagaimana menyikapi pacaran yang berbeda agama. (Semoga) Acara ini dapat membantu teman-teman yang datang dalam menanggapi hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Untuk DLI selanjutnya, harapannya DLI tetap masih ada karena ini adalah kegiatan yang positif bagi mahasiswa, dan tentunya juga memilih tema yang lebih seru lagi serta relevan dengan kehidupan mahasiswa,� tutupnya sebelum wawancara selesai.

: Intan Reporter ndhita illy - Vero Editor: Em entasi DLI um Foto: Dok

20

Psychology Magazine


DIALOG LINTAS IMAN

DIALOG LINTAS IMAN

Psychology Magazine

21


DIALOG LINTAS IMAN

DIALOG LINTAS IMAN

22

Psychology Magazine


BARIS KARYA

IT’S NOT ABOUT HOW BUSY YOU ARE, IT’S ABOUT HOW YOU CAN MANAGE YOUR TIME

Mahasiswa memiliki banyak kegiatan lain di luar perkuliahan, salah satunya adalah menjadi pengurus unit kegia-

tan/unit kegiatan fakultas (UK/UKF). Penasaran ‘kan, apa saja sih kesibukan pengurus UK/UKF? Yuk, intip kesibukan mereka!

Ketua Angkatan

: Aprinita Eriananda Sitepu (Aprin) : 2018

Kesibukan nonakademis-ku adalah mengikuti kepanitiaan Psychofest dan UKF Seni. Caraku membagi waktu antara perkuliahan dengan kegiatan lain adalah dengan mendahulukan tugas-tugas kuliah. Keuntungan dari mengikuti kegiatan nonakademis adalah aku bisa membuang kelelahan dan kejenuhanku. Minusnya, aku terkadang sering luput. Maksudnya, aku lupa menanyakan bagaimana program kerja (proker) dari kepanitiaan-kepanitiaan itu. Untuk mengatasi kalau sudah jenuh, aku lebih sering nonton YouTube atau jalan-jalan. Tips membagi waktu dariku sendiri adalah membuat planner dan mengagendakan kegiatan. Dengan planner, aku tahu kesibukanku. Selain itu, dengan mengetahui apa saja yang harus kukerjakan, aku juga jadi tahu kalau aku sudah tidak bisa menambah kesibukan lagi. Wakil Ketua Angkatan

: Maria Paulina : 2018

Aku memiliki beberapa kesibukan yaitu mempersiapkan acara show case, mengurus pementasan kecil, mengecek jika ada pertemuan divisi, dan rapat dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF). Aku juga mengikuti beberapa kegiatan seperti event Psychofest divisi Dekorasi, dan menjadi desainer majalah Psymag. Perihal membagi waktu biasanya aku akan menjadwalkan kegiatan yang akan dilakukan dalam sehari. Jika terdapat jadwal yang bertabrakan maka aku akan membaginya. Jeda kelas yang ada, aku manfaatkan sebaik mungkin untuk belajar agar tidak ketinggalan materi kuliah. Menurutku banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan yang kujalani seperti banyak mendapatkan teman baru, belajar untuk lebih pede dalam organisasi, dan juga melatih kerja sama. Dalam mengatasi mood yang tidak baik, biasanya aku mencoba untuk membangun suasana sehingga mood-ku membaik.

Psychology Magazine

23


Ketua Angkatan

: Fransiskus Anggara : 2018

Disamping sibuk menjalani perkuliahan, aku juga aktif di beberapa organisasi dan kepanitiaan seperti menjadi ketua PAT, reporter majalah Psymag, mengikuti official PIPI (Pekan Inovasi Psikologi Indonesia), dan Dialog Lintas Iman (DLI) yang sudah terlaksana pada bulan Agustus lalu. Dalam hal membagi waktu biasanya aku akan membuat daftar jadwal acara yang akan berlangsung. Apabila ada jadwal yang bertabrakan, aku akan datang ke keduanya jika memungkinkan. Menurutku terdapat keuntungan dan kelemahan yang diperoleh (dari banyaknya kegiatan, red). Keuntungannya bisa menambah teman dan relasi, serta pengalaman bertambah. Akan tetapi, menurutku dengan mengikuti banyak kegiatan maka semakin banyak masalah yang muncul, sehingga ini menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk dapat mencari jalan keluar dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Hal yang biasa kulakukan ketika mulai jenuh adalah jalan-jalan bersama teman atau me time di kamar dengan menonton YouTube seharian. Pesanku nih, buat para pembaca psymag semuanya, sesibuk apapun kegiatan kalian, kuliah tetap harus diutamakan ya! Sekretaris Angkatan

: Irene Dyah Ayu : 2018

Kegiatan aku selain perkuliahan adalah menjadi sekretaris PAT. Kemarin aku juga sempat menjadi panitia, tapi sudah selesai acaranya. Jadi untuk sekarang, kesibukanku hanya jadi Sekretaris PAT saja. Aku fleksibel dalam pembagian waktu. Jika aku kerja di suatu event dan sedang sangat sibuk, aku menjadi semakin bersemangat untuk menjalani perkuliahan dan semua tugasnya. Aku memprioritaskan tugas yang lebih penting. Kalau ada tugas yang perlu dikumpul secepatnya, maka tugas itu yang kuprioritaskan. Dari kegiatan-kegiatan ini, aku menjadi lebih bersemangat untuk belajar karena ada dorongan. Minusnya, karena fisikku lemah dan kurang istirahat, ada penyakit yang mulai kambuh lagi. Selama ini aku lebih jenuh kuliah karena aku lebih senang mengerjakan (job desc., red.) event. Kalau aku butuh self-feeling, aku akan cerita ke CO-ku dan meminta waktu untuk istirahat sebentar dari kegiatan event. Biasanya kalau lagi capek atau jenuh, aku jalan-jalan ke alam. Salah satu tips yang bisa kuberikan adalah semangat. Kalau kamu sudah tidak semangat dan tidak ada niat, kamu akan lebih cepat capek. Kamu juga harus bisa memprioritaskan kegiatan apa yang lebih penting, bukan hanya karena kesenangan. Semua itu ada porsinya jadi kamu harus bisa membagi porsi tersebut agar semua kegiatan mendapat bagian.

24

Psychology Magazine


Ketua Angkatan

: Andreas Ario : 2016

Untuk saat ini UKF Debat sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba yang akan diadakan bulan November. Di semester ini juga ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan dan sebagai ketua aku juga harus mengurus agenda pertemuan rutin tiap minggunya. Apalagi angkatan 2019 baru masuk sehingga diperlukan pengenalan materi. Selain mengurus UKF Debat yang akan mengikuti lomba, aku pun ikut ambil bagian dalam perlombaan bulan November nanti. Jadi aku juga mempersiapkan diri untuk lomba, apalagi aku sudah rehat selama 2 tahun. Tidak ada kegiatan diluar perkuliahan yang kuikuti karena selama semester 1-5 aku sudah banyak mengikuti kegiatan seperti Psychofest, Akrab Psikologi (AKSI), dan lain-lain. Maka dari itu semester ini aku hanya berfokus untuk UKF Debat dan perkuliahan, seperti mengambil mata kuliah yang belum terpenuhi semester lalu, memperbaiki nilai, dan seminar. Selama proses ini banyak hal yang kudapat, seperti belajar untuk mengembangkan manusia dan organisasi. Selain itu, aku belajar untuk mengambil keputusan secara bijak karena berhubungan dengan banyak orang jadi harus mepertimbangkan kebutuhan dan keinginan yang ada. Aku juga harus menyatukan visi dan misi serta kerja sama, dan mengatur waktu yang baik dengan membuat planning. Sebelum jadi pengurus, aku orang yang fleksibel sehingga imbasnya sering telat. Hal yang kulakukan ketika sudah mulai jenuh adalah refreshing. Dari pengurus sendiri, kami suka rapat di luar agar tidak monoton. Wakil Ketua Angkatan

Psychology Magazine

: Angelina Ekadiana : 2017

Kesibukanku selama ini adalah kuliah. Kebetulan semester ini aku tidak ambil kepanitiaan apapun jadi sekarang aku hanya menjadi pengurus UKF Debat. Kalau tugas, aku lihat prioritas terlebih dulu. Jika tugas harus diprioritaskan, maka UKF Debat waktunya bisa fleksibel. Dulu aku pernah mengikuti dua kepanitiaan, mengurusi UKF Debat, sedangkan tugas lagi banyak-banyaknya. Saat itu, aku harus memilih antara tugas atau kepanitiaan. Menurutku, ketika kamu mengikuti kegiatan, kamu dapat membuat timeline aktivitasmu sehingga pekerjaanmu menjadi lebih efisien. Jika kamu masih merasa kurang dengan timeline itu, kamu bisa membuat alarm untuk mengerjakan tugas. Selain itu, aku juga menulis sticky notes dan meminta teman untuk mengingatkanku terkait tugas-tugas. Kalau aku jenuh dengan kuliah maupun kepanitiaan, aku akan cerita dengan teman-temanku. Menurutku dengan cerita, kita dapat meregulasi emosi supaya kita bisa kerja lagi.

25


Ketua Angkatan

: Gloryossa Gerraldina Zefanya : 2017

Kesibukanku saat ini adalah menjadi ketua UKF Kerang dan sebagai pemateri untuk UKM PSM. Sebelum mengambil suatu kegiatan biasanya aku akan mempertimbangkan kegiatan apa yang sudah ada sehingga aku dapat membagi waktu dengan baik. Contohnya saat aku mengambil jabatan ketua dan anggota PSM dengan tanggung jawab yang sama-sama besar, aku sudah membuat planning dalam sebuah buku yang berisi jadwal-jadwalku. Akan tetapi, terkadang ada jadwal yang bertabrakan, atau ada kegiatan mendadak. Jika ini terjadi, yang kulakukan adalah mengorbankan salah satu kegiatan karena tidak mungkin untuk membagi diri. Aku mempertimbangkan kegiatan mana yang tak bisa kutinggalkan. Jika PSM tak bisa kutinggalkan, maka aku akan ke PSM, dan begitu pun sebaliknya. Melalui kegiatan yang kujalani, aku merasa lebih mengenal kapasitas diri dan lebih menghargai diriku sendiri. Walaupun lelah dan waktu untuk membangun hubungan dengan teman dan keluarga berkurang, aku selalu melihat suatu hal secara positif. Ketika ada waktu senggang, aku memanfaatkannya sebaik mungkin dengan tetap di rumah seharian, walau sekedar dikamar untuk menenangkan diri. Wakil Ketua Angkatan

: Lukas Tio Sejati : 2018

Kesibukanku sekarang hanya di UKF Kerang dan event Psychofest. Untuk kegiatan Kerang, kami ada pertemuan 2 minggu sekali. Pleno Psychofest juga 2 minggu sekali, sehingga tidak terlalu mempengaruhi satu sama lain. Aku menjadi bagian dari divisi sponsorship di Psychofest. Divisi ini pun tidak harus tiap hari bertemu karena bisa lewat handphone. Tidak ada cara-cara khusus untuk membagi waktu karena jadwalku memang tidak bertabrakan. Aku selalu mendahulukan akademisku sehingga kalau ada tugas, aku akan mencoba untuk menyelesaikannya dulu. Setiap hari aku punya jadwal main, sehingga aku tidak merasa jenuh. Di UKF Kerang sendiri aku berperan sebagai wakil, sehingga dibandingkan dengan ketua UKF, aku belum banyak bekerja. Kelebihan mengikuti berbagai kegiatan adalah aku bisa mengembangkan diri dari aspek cara berbicara, cara memimpin, dan pembuatan keputusan. Untuk kekurangannya ada dua. Yang pertama, kalau aku sedang berkegiatan, aku nggak bisa terlalu fokus ke kegiatan akademis. Aku harus bisa membagi-bagi waktu. Yang kedua adalah rasa lelah. Jika ada jadwal kuliah dari pagi sampai sore, kemudian dilanjutkan dengan rapat dan sebagainya, jam istirahatku berkurang. Hal ini dapat berpengaruh pada hari berikutnya, yaitu aku tidak bisa fokus di kelas. Rep o Edi rter: tor Nia : Fot o: D Dhita & ea & D Gita erw in

26

Psychology Magazine


P e n b cy : up sry si hat t nt

Pohon memang nakal Dia suka bicara Sore tadi dengan penuh usil dia menggugurkan daun-daunnya ke arahku Aku menatapnya serius Hmmmm Mungkin dia ingin bercerita atau mungkin membisikan sebuah rahasia atau cuma ingin bercanda Aku tahu! Mungkin dia ingin bertanya-tanya mengenai pencurian tadi malam Ya, tadi malam ada orang masuk lewat jendela di tengah dadaku Dia mencuri secuil perasaan dengan menodongkan sebuah tatapan mata Mata yang ingin bercerita tentang rahasia di dalamnya

: Editor

Yulisa

Psychology Magazine

- Gita

27


TIPS ALUMNI

Membangun dan Menjaga Relasi ala Mas SS dan Kak Mita

Membangun dan Menjaga Relasi ala Mas SS dan Kak Mita Stevan Stevi Stevanus Sampeako atau biasa dipanggil Mas SS adalah alumni mahasiswa Psikologi Sanata Dharma yang kini telah bekerja sebagai recruitment officer di salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Mas SS menceritakan pengalamannya terkait relasinya dengan keluarga, teman dan pacar. Tak lupa juga Mas SS membagikan sedikit tips untuk menjaga relasi dengan orang-orang sekitarnya. Yuk disimak! R

: Bagaimana supaya bisa tetap berkomunikasi dengan orangtua disela kesibukan kuliah?

Mas SS : Sebenarnya aku jarang menghubungi orangtua. Justru mereka yang sering menghubungi aku. Karena rumahku tidak terlalu jauh dari Yogya, ya, aku tinggal pulang kalau aku kangen. Terus kalau sebelum ujian, entah itu UAS, UTS atau ujian skripsi, aku pasti pulang dulu minta didoain. Orangtuaku itu selalu dan tidak pernah lupa untuk menelepon aku. R : Bagaimana bentuk kasih sayang orangtua yang ditunjukkan pada Mas SS? Dan sebaliknya, bagaimana bentuk kasih sayang yang ditunjukkan Mas SS kepada orangtua? Mas SS : Menurutku, dengan menelepon saja, mereka sudah menunjukkan kasih sayang. Bagaimana kabar anaknya, (yang terpenting) masih ada uang pegangan atau tidak. Mereka juga selalu berusaha memenuhi kebutuhanku di Yogya yang tidak sedikit. Kalau aku, sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan orangtua. Hanya saja bagaimana caraku menunjukkan kasih sayang, yaitu dengan cara aku bertanggung jawab dalam perkuliahan. Lulus kuliah, bisa kerja dan membuat mereka bangga. Intinya menjawab kepercayaan yang mereka berikan. Mereka percaya aku bisa kuliah di Yogya, ya tentu tidak akan aku sia-siakan. R

: Berhubung sekarang sudah bekerja, apakah orangtua masih sering menelepon?

Mas SS : Masih, hanya tidak seintens dulu. Mungkin karena mereka tahu kalau aku pulang kerjanya malam jadi kalau tidak menelepon, ya sekadar ngechat saja. R : Nah, tadi ‘kan tentang relasi dengan keluarga. Bagiamana kalau relasi dalam pertemanan? Menurut Mas SS, bagaimana cara atau tips-tips yang bisa kita lakukan supaya terjalin pertemanan yang baik, apalagi dunia kerja itu lebih luas daripada perkuliahan? 28

Psychology Magazine


Mas SS : Aku selalu berusaha untuk terbuka dulu pada orang lain, seperti memberi tahu ke mereka “Ini lho, aku mau berteman dengan kalian.� Nah setelah itu, aku akan mencoba mengenali karakteristik mereka. Mereka itu orang yang seperti apa, supaya aku tahu harus bercanda seperti apa ke setiap orang, mau cerita se-privasi apa dan memperlakukan mereka seperti apa. Karena setiap orang berbeda, jadi akupun memperlakukannya beda-beda. R : Menurut Mas SS, apa yang harus dilakukan untuk menghadapi teman yang toxic? Misalnya, teman yang suka ngomongin teman lainnya di belakang, atau teman yang nyinyir dan meng-ghibah orang lain. Mas SS : Hahahahaha, kalau itu didiamkan saja. Kalau nyinyir, mungkin dia sirik. Tapi didiamkan saja, buktikan kalau omongan mereka tidak benar. Itu saja sih, didiamkan saja sudah cukup menurutku, tidak perlu diapa-apakan. Kalau diladeni malah capek sendiri nanti. R

: Tapi, apakah orang itu tetap menjadi bagian dari lingkaran pertemanan atau bagaimana?

Mas SS : Tetap dong, tidak mungkin kita singkirkan. Pastinya yang pertama, kita rangkul dulu, ajak ngobrol supaya tahu lebih banyak tentang dia. Siapa tahu dia memang sedang ada masalah. Tapi, kalau seandainya sudah kita dekati, namun dia tetap seperti itu dan kita merasa tidak cocok, ya sudah yang seperlunya saja. Kita tetap berteman, tapi tidak intens. R

: Lalu, bagaimana menjalin relasi yang baik dengan pacar?

Mas SS : Cara menjalin relasi dengan pacar, yah kita beri waktu kita untuk dia. Sering ngobrol, beri masukan dan selalu menyediakan telinga, maksudnya jadi pendengar yang baik ketika pacar sedang curhat atau cerita apapun itu. R : Apa yang perlu dilakukan ketika menghadapi toxic relationship? Misalnya, pacar yang mengajak melakukan seks padahal belum sah. Mas SS : Untuk pacar yang pengen melakukan seks pra nikah, ya jangan membuka peluang untuk itu, dialihkan pembicaraannya sampai dia bosan dan tidak membahas lagi. Harus bisa menahan diri, menahan nafsu dari masing-masing pribadi. Yang paling penting, sih, saling support. Nah, itu dia teman-teman beberapa tips yang bisa kita lakukan dalam menjalin relasi dengan orang-orang di sekitar. Tentunya mudah untuk dilakukan, bukan? Selanjutnya, Kak Mita akan berbagi tentang tips menjalin relasi juga, nih. Yuk, disimak! R : Bagaimana relasi Kak Mita dengan orangtua ketika masih kuliah dulu, ‘kan jauh, tuh, dari orangtua? Kalau boleh tahu, bagaimana sih tips supaya komunikasi dengan orangtua tetap terjalin disela kesibukan kuliah? Kak Mita : Komunikasi paling penting sih. Aku tetap mengabarkan bagaimana kegiatanku dan menyakan kabar orangtua, juga menceritakan bagaimana keseharianku. Aku berusaha menyempatkan untuk ngobrol dengan mereka, biasanya telepon atau video call selagi ada waktu luang. Mungkin tidak setiap hari, tapi at least selagi ada waktu. Aku seperti itu karena selalu ingat kalau orangtua di Bogor sana pasti memikirkan bagaimana keadaan anaknya, kita juga tidak tahu bagaimana kondisi orangtua karena tidak lihat secara langsung. Namun, semakin berjalannya waktu, saat semakin bertambahnya semester malah makin jarang beri kabar, tapi sebisa mungkin tetap beri kabar setidaknya seminggu sekali. Psychology Magazine

29


R : Menurut Kak Mita, bagaimana menjalin relasi pertemanan yang baik? Kak Mita : Hmm... kalau aku, selalu berusaha terbuka dengan siapapun. Maksudnya, tidak membatasi mau berteman dengan siapa. Lalu, jadi pendengar yang baik, without judging anything and anyone. Aku berusaha memperlakukan setiap orang sebagaimana aku mau diperlakukan orang lain. Kalau mau punya teman yang baik, kita juga mesti jadi teman yang baik. Jadi nilai plus ‘kan, menambah relasi baru, tapi juga mempertahankan relasi yang ada, makin luas deh pertemanannya. R : Lalu, sekarang kan sedang marak diperbincangkan tentang toxic relationship. Menurut Kak Mita, bagaimana cara supaya kita menghadapinya apalagi kalau toxic itu ada pada teman kakak sendiri? Kak Mita : Sulit ya pertanyaannya. Ini akan selalu jadi PR aku sih karena toxic relationship akan selalu ada di sekeliling kita. Seluas apapun relasi kita, mesti tetap peka sama tanda-tanda teman toxic yang ada di sekitar. Kalau memang temanku sendiri yang begitu, yah aku usaha untuk jaga-jaga sih. Kalau sampai dia ‘nyenggol’, baru aku cut. Kan kita tidak perlu mempertahankan teman toxic. R kami?

: Nah, menurut kak Mita, bagaimana menjalin relasi yang baik dengan pacar? Boleh beri tips ke

Kak Mita : Mungkin sama saja sih yah, kalau komunikasi itu penting. Apalagi seperti aku yang memang lagi LDR-an sama pacar, jadi kita banyak berkomunikasi lewat chat, telepon dan video call. Dan juga saling memahami satu sama lain. Dua hal itu bisa buat kita lebih percaya dan lebih kenal sama pacar. Otomatis, relasi kita juga makin berkembang. Nah, itu dia guys, tips dari kak Mita. Kita harus tetap siaga sama orang-orang yang toxic terutama kalau teman kita sendiri yang malah jadi toxic. Sekian dan terima kasih.

i Putr ter: r o p Re e si r: Ik enta Edito dokum : Foto i d priba

30

Psychology Magazine


Psychology Magazine

31


32

Psychology Magazine


THESE PICTURES ARE BELONG TO @BROKENSHIPSLA CHECK THEM ON INSTAGRAM


READ OUR MAGAZINES ONLINE ONLY ON ISSUU

NEW!

SCAN THE BARCODE TO READ OUR NEW EDITION!

bit.ly/psymag

symag.psiusd@gmail.com psymag.usd @ohv2351s


Profile for Psychology Magazine

Psymag #4  

Psymag edisi keempat ini membahas mengenai cinta, khususnya toxic relationship. Kami mempertanyakan apakah cinta dapat melengkapi atau menja...

Psymag #4  

Psymag edisi keempat ini membahas mengenai cinta, khususnya toxic relationship. Kami mempertanyakan apakah cinta dapat melengkapi atau menja...

Advertisement