Issuu on Google+

ISSN: 1978-3833

JURNAL

KESEHATAN MASYARAKAT Volume 2/Nomor 1/September 2007 - Maret 2008

EDITORIAL 1 Kebijakan Pembangunan Program Kesehatan Propinsi Sumatera Barat Rosnini Savitri

30 Hubungan Kejadian Perdarahan Post Partum Dini dengan Paritas di RSUP Dr. M. Djamil Padang Miswarti

ARTIKEL PENELITIAN

STUDI LITERATUR

7 Kegemukan (Overweight) pada Perempuan Umur 25-50 Tahun (di kota Padang Panjang Tahun 2007) Kushari Supeni, Asmayuni

33 Pembangunan Pariwisata Berwawasan Kesehatan di Sumatera Barat Nizwardi Azkha

12 Kajian Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang Tahun 2006 Denas Symond 21 Survival Analysis Gangguan Pernafasan dengan Tingkat Pajanan Pencemaran Udara di DKI Jakarta (Studi Cohort pada Murid SD) Defriman Djafri

37 Anemia Defisiensi Besi Masrizal 43 Dampak dan Pengendalian Hujan Asam di Indonesia Erni M. Yatim 49 Mutu Pelayanan Medik pada Peserta Askes Isniati

Diterbitkan Oleh/Published by : PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG E-mail : jurnalkesmas@gmail.com Website : http://psikm.unand.ac.id/jurnal


DAFTAR ISI EDITORIAL Kebijakan Pembangunan Program Kesehatan Propinsi Sumatera Barat (105-110) Rosnini Savitri ARTIKEL PENELITIAN Kegemukan (Overweight) Pada Perempuan Umur 25-50 Tahun (Di kota Padang PanjangTahun 2007) (111-115) Kushari Supeni, Asmayuni Kajian Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang Tahun 2006 (116-123) Denas Symond Survival Analysis Gangguan Pernafasan dengan Tingkat Pajanan Pencemaran Udara di DKI Jakarta (Studi Cohort pada Murid SD) (124-132) Defriman Djafri Hubungan Kejadian Perdarahan Post Partum Dini dengan Paritas di RSUP Dr. M. Djamil Padang (133-135) Miswarti STUDI LITERATUR Pembangunan Pariwisata Berwawasan Kesehatan di Sumatera Barat (136-139) Nizwardi Azkha Anemia Defisiensi Besi (140-145) Masrizal Dampak dan Pengendalian Hujan Asam di Indonesia (146-151) Erni M. Yatim Mutu Pelayanan Medik pada Peserta Askes (152-155) Isniati SERBA SERBI KONGRES I IKATAN ALUMNI PSIKM DAN MUSYAWARAH DAERAH IAKMI SUMATERA BARAT (156-158)

iii


EDITORIAL

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PROGRAM KESEHATAN PROPINSI SUMATERA BARAT

Rosnini Savitri*

Pembangunan kesehatan secara berkesinambungan telah dimulai sejak dicanangkannya Rencana Pembanguan Lima Tahun Pertama, serta dengan diberlakukannya Undangundang Otonomi Daerah No. 22 dan 25 tahun 1999, berdasarkan UU tersebut, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam melaksanakan program pembangunan kesehatan. Guna mengembangkan berbagai sumber daya kesehatan, serta melaksanakan upaya kesehatan yang berdampak kepada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Propinsi Sumatera Barat memiliki permasalahan yang cukup kompleks. Permasalahpermasalah yang sedang dihadapi saat ini dintaranya: 1. Struktur ekonomi lemah, produktivitas pertanian rendah 2. Kemiskinan tinggi, yaitu 10,46 % / tahun (2004) dan 12,07 % / tahun (2005) 3. Pengangguran tinggi: 16,53 % (2004) 4. Akses dan kualitas pendidikan dan kesehatan masih rendah 5. Iklim investasi tidak kondusif, daya saing rendah 6. Jumlah dan mutu infrastruktur belum memadai 7. Kepastian dan penegakan hukum rendah, kinerja birokrasi lemah dan korupsi

Tabel 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kabupaten Di Sumatera Barat

Tabel 2 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kota Di Sumatera Barat

Permasalahan ini membawa dampak terhadap Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) secara umum. Karena IPM sangat dipengaruhi oleh derajat kesehatan masyarakat, pendidikan dan keadaan ekonomi suatu daerah. Di bawah ini akan dilihat gambaran umum IPM di Sumatra Barat.

*Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat (Disampaikan pada acara seminar Nasional “Peran Profesi Kesehatan Masyarakat Menuju MDG’S Bidang Kesehatan�, Rocky Hotel, 28 Juli 2007)

105


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Setelah dilakukan ranking, maka berikut urutan IPM Kabupaten Kota di Sumbar. Tabel 3 Ranking IPM Kab/Kota Di Sumatera Barat Se Sumatera Tahun 2005 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Kabupaten/Kota Kota Padang Kota Bukittinggi Kota Pdg Panjang Kota Payakumbuh Kota Solok Kota Sawahlunto Kab. Tanah Datar Kota Pariaman Kab. Agam Kab. Pasaman Kab. Pdg. Pariaman Kab. 50 Kota Kab. Pesisir Selatan Kab. Solok Kab. Kep. Mentawai Kab. Swl/Sijunjung Kab. Pasaman Barat Kab. Solok Selatan Kab. Dharmas Raya

IPM 76,3 76,1 76,0 73,5 73,4 73,1 71,6 71,3 71,1 69,7 68,8 68,7 68,4 68,3 67,4 67,1 67,0 65,8 64,5

3.

Persalinan oleh tenaga kesehatan: menunjukkan trend yang terus membaik. Persalinan ini sangat mempengaruhi angka kematian Ibu dan bayi sekaligus.

Rank 2 4 5 19 22 27 39 46 49 71 79 86 91 94 107 112 113 124 128

4. Cakupan imunisasi juga cenderung meningkat, namun peningkatannya belum optimal Gambar 4 Proporsi Anak Usia 12-23 bulan yang diimunisasi campak

Tantangan dalam Mewujudkan Millenium Development Goals 1. Kematian Ibu mengalami penurunan. Tapi dengan kecenderungan seperti ini, akan sulit mencapai target MDG tanpa upaya ekstra Gambar 1 Kecendrungan Angka Kematian Ibu (AKI)

5. Kekurangan gizi cenderung menurun namun pada tahun-tahun terakhir, terjadi stagnasi

2. Angka kematian ibu di Sumbar Gambar 2 Angka Kematian Ibu di Sumbar

Isu / Pemasalahan Bidang Kesehatan di Sumatera Barat : l. Pemerataan, keterjangkauan & mutu yankes belum optimal 2. Manajemen kesehatan, adm kes, pengemb iptek kesehatan dan hukum kesehatan belum optimal

106


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

3.

4. 5. 6. 7. 8.

Kualitas sdm kes belum menunjang penyelenggaraan pembangunan .kes Kondisi lingkungan kurang mendukung Perencanaan & penganggaran belum optimal Pemberdayaan masyarakat masih harus ditingkatkan Masih terbatasnya alokasi anggaran kes terutama di kabupaten kota Potensi dikembangkannya sumbar menjadi tujuan pendidikan dan yankes Pengembangan desa siaga di seluruh kab/kota

Permasalah-permasalah yang sedang dihadapi oleh Sumtera Barat saat ini sangat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat secara umum, terutama masalah angka kemiskinan yang tinggi, akses serta kualitas pendidikan dan kesehatan yang masih rendah. Dengan mengetahui kondisi dan permasalahan ini tentunya diharapkan Dinas Kesehatan Propinsi Sumtera Barat dapat merumuskan kebijakan Pembangunan Program Kesehatan yang sesuai dengan kondisi yang ada saat ini, sehingga permasalahan kesehatan tersebut dapat diatasi dengan tepat. Visi Departemen Kesehatan : “Indonesia Sehat 2010” “Departemen Kesehatan sebagai penggerak bidang kesehatan menuju terwujudnya Indonesia sehat serta DepKes sebagai penggerak kemandirian pembangunan kesehatan menuju terwujudnya Indonesia sehat.” Visi Dinas Kesehatan Sumbar : “Sumbar sehat 2010” “Terwujudnya masyarakat sumbar yang mandiri untuk sehat.” Tujuan Pembangunan kesehatan : Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Kebijakan Pembangunan Kesehatan 1. Meningkatkan jumlah, jaringan dan kualitas puskesmas 2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan 3. Mengembangkan sistem jaminan kesehatan terutama bagi penduduk miskin

4. Meningkatkan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat 5. Meningkatkan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini 6. Meningkatkan pemerataan dan kualitas fasilitas kesehatan dasar 7. Mengendalikan tingkat kelahiran penduduk melalui upaya memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan kb terutama bagi gakin dan daerah terpencil. Program Pembangunan Kesehatan : 1. Promkes 2. Upaya Kesehatan Masyarakat 3. Upaya Kesehatan Perorangan 4. Perbaikan Gizi Masyarakat 5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 6. Lingkungan Sehat 7. Obat dan Perbekalan Kesehatan 8. Kebijakan dan Manaj. Pemb. Kesehatan 9. Sumber Daya Kesehatan 10. Penelitian dan pengembangan Kes Kegiatan Pokok Program Pembangunan Kesehatan : 1. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat ditujukan memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agara mampu menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat, dengan indikatif kegiatan pokok : a. Pendayagunaan lembaga /organisasi formal dan kemasyharakatan dalam penanggulangan kesehatan masyarakat b. Pemantapan media promosi kesehatan dan teknologi KIE c. Pemantapan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) seperti posyandu, polides dan uks, generasi muda d. Peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat 2. Program Lingkungan Sehat à ditujukan utk mewujudkan lingkungan sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakan pembangunan lintas sektor yang berwawasan kesehatan a. Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar terutama bagi masyarakat miskin b. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan

107


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

c. Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan d. Pengembangan model kesehatan lingkungan kabupaten/kota sehat 3. Upaya Kesehatan MasyarakatĂ  ditujukan utk meningkatkan jumlah, pemerataan dan kualitas yankes melalui puskesmas dan jaringannya meliputi puskesmas, pustu, pusk keliling dan bidan didesa a. Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya; b. Pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya; c. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan dasar; dan d. Penyediaan bantuan/dukungan pada puskesmas e. Pemantapan sarana UPTD Dinas Kesehatan f. Pembinaan pemberdayaan kesehatan masyarakat g. Pemantapan model dokter keluarga secara bertahap 4. Upaya Kesehatan Perorangan a. Pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III rumah sakit b. Pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit di daerah bencana dan tertinggal secara selektif c. Perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit d. Pengadaan obat dan perbekalan rumah sakit e. Peningkatan pelayanan kesehatan rujukan f. Pengembangan pelayanan dokter keluarga g. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan h. Peningkatan peran serta sektor swasta dalam upaya kesehatan perorangan. 5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit a. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko b. Peningkatan imunisasi c. Penemuan dan tatalaksana penderita d. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah

108

e. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit 6. Perbaikan Gizi Masyarakat a. Peningkatan pendidikan gizi b. Penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kekurangan zat gizi mikro lainnya c. Penanggulangan gizi-lebih d. Peningkatan surveilens gizi e. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi 7. Program Sumber Daya KesehatanĂ ditujukan utk meningkatkan jumlah, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan.Kegiatan pokok : a. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan b. Peningkatan keterampilan dan profesionalisme tenaga kesehatan melalui diklat tenaga kesehatan c. Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan, terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya, serta rumah sakit kabupaten/kota d. Pembinaan tenaga kesehatan; dan karir tenaga kes e. Pemerataan penempatan tenaga kesehatan f. Perizinan dan akreditasi Rumah Sakit dan institusi pendidikan kes 8. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan ditujukan untuk menjamin ketersediaan, peme-rataan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan termasuk obat tradisional, perbekalan kes rumah tangga dan kosmetika. Kegiatan pokok: a. Penyediaan obat sangat esensial dan buffer stock b. Peningkatan kemampuan dan manajemen obat publik pada sarana pelayanan kesehatan dasar, sarana farmasi dan sarana kesehatan lingkungan c. Pembinaan dan pengendalian alat kes.dan perbekalan rumah atanga (PKRT) d. Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk penduduk miskin


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

e. Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit f. Peningkatan kemampuan dan pemahaman masyarakat tentang bahaya penyalah gunaan obat narkoba 9. Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan ditujukan untuk mengembangakan kebij. dan manajemen pembangunan keehatan guna mendukung penyelenggaraan sistem kesehatan. Kegiatan Pokok: a. Peningkatan kualitas penyusunan perencanaan kesehatan b. Peningkatana dan pemantapan sistem informasi kesehatan c. Pengembangan sistem kesehatan daerah d. Pengembangan upaya jaminan pemeliharaan kesehatan e. Pengembangan sistem perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan dan penyempurnaan administrasi keuangan, serta hukum kesehatan. 10.Program Penelitian dan Pengembangan KesehatanĂ  ditujukan untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan iptek kesehatan sebagai masukan perumusann kebijakan dan program kesehatan. Kegiatan pokok: a. Mengembangkan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan; b. Meningkatkan sumber daya tenaga peneliti kesehatan c. Mengembangkan sarana dan prasarana penelitian d. Penyediaan dukungan administrasi penelitian dan pengembangan penelitian e. Penyebarluasan dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan Untuk melaksanakan semua progam pembangunan kesehatan ini maka Dinas Kesehatan Propinsi Sumatra Barat membuat Grand Strategi (5 strategi utama) pembangunan kesehatan.

Grand Strategi Pembangunan Kesehatan Sumatra Barat : 1. Menggerakan dan Memberdayakan Masyarakat Untuk Hidup Sehat a. Seluruh nagari/desa menjadi desa nagari/ siaga, dengan target tahun 2006, ada 200 nagari/desa siaga, tahun 2007 menjadi 800 nagari/desa siaga dan 2008 menjadi 1.314 nagari/desa yang memiliki pos kesri/poskerta/poskesdes. b. Seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat dengan target tahun 2006 = 37 % RT & 2007 = 44 % RT c. Tahun 2007 berprilaku bersih, sehat meningkat menjadi 44% RT, menurun dari 14,2% pada tahun 2006 menjadi 13,5% pada tahun 2007. 2. Meningkatkan Akses Masyarakat terhadap Pelayanan Kesehatan yang berkualitas a. Setiap orang miskin mendapat pelayanan kesehatan yang bermutu b. Setiap bayi, anak, ibu hamil dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit. c. Di setiap nagari/ desa tersedia sdm kesehatan yang kompeten , minimal 1 orang bidan d. Di setiap nagari / desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar e. Setiap puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya f. Pelayanan kesehatan di setiap rumah sakit, puskesmas dan jaringannya memenuhi standar mutu 3. Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas SDM Kesehatan a. Penataan jumlah dan jenis tenaga kesehatan melalui man power planning b. Pendistribusian tenaga kesehatan secara adil dan merata c. Pencapaian akreditasi institusi diklat dan laboratorium kesehatan daerah serta diklat kesehatan d. Pencapaian registrasi SDM kes tertentu sesuai kompetensi dan peraturan yang berlaku

109


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

4. Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan a. Setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat kepada kepala jorong /desa/lurah untuk dilaporkan ke unit pelayanan kesehatan/puskesmas terdekat b. Setiap kejadian luar biasa (KLB) dan wabah penyakit tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan masyarakat c. Semua sediaan farmasi, makanan dan perbekalan kesehatan memenuhi syarat d. Berfungsinya sistem informasi kesehatan di dinkes provinsi, kabupaten dan kota 5. Meningkatkan pembiayaan kesehatan a. Pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran pemerintah pusat dan daerah b. Anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan. c. Terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin.

110

Pembangunan kesehatan tidak hanya dapat diselesaikan sendiri oleh sektor kesehatan saja, namun harus banyak sektor yang terlibat, untuk mencapai kesehatan yang menyeluruh sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu kebijakan Pembangunan Program Kesehatan harus mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Propinsi Sumatra Barat 2006-2010. 1. Meningkatkan Kualitas Kehidupan Beragama dan Sosial-Budaya 2. Membangun SDM Berkualitas 3. Menyelenggarakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih 4. Membangun Ekonomi yang Tangguh dan Berkeadilan 5. Mengembangkan Infrastruktur yang Mendorong Percepatan Pembangunan 6. Mempercepat Penurunan Tingkat Kemiskinan 7. Memberdayakan Nagari sebagai Basis Pembangunan.


ARTIKEL PENELITIAN

KEGEMUKAN (OVERWEIGHT) PADA PEREMPUAN UMUR 25-50 TAHUN (Di Kota Padang Panjang Tahun 2007) Kushari Supeni* Asmayuni**

ABSTRACT Overweight results when there is an imbalance between energy intake and energy expenditure. As metabolism slows down with advancing age, amount of food eaten should be adjust. Being overweight is associated with a higher risk of disease mainly cardiovascular diseasese and diabetes mellitus type 2.The prevalence of overweight is influenced by a complex interaction of genetic, environmental and behavioural factors. Overweight now is a problem in almost all cities in Indonesia, and for Padang Panjang West Sumatera the prevalance of overweight is 37%.; 53,1% out of that 37 % are female. The present study was designed to address the above issue. Sample were 25-50 years old female kota Padang Panjang. Data were collected through questioners and assessment of body mass index. This study revealed that social economic, genetic and carbohydrate consumption contribute to the development of overweight among those subyects and suggest among others to those who are incharge in public health nutrition should give detail information on the risk, causes and prevention of overweight Key words: overweight, female, determinant factors

PENDAHULUAN Di negara berkembang, khususnya negara yang sedang mengalami transisi, gizi kurang yang sudah merupakan masalah tetap, bahkan kini timbul bersamaan dengan masalah gizi lebih (kegemukan). Kegemukan atau overweight merupakan akibat dari kelebihan lemak tubuh karena tidak adanya keseimbangan antara kalori yang dikonsumsi dan energi yang dikeluarkan dan seringkali menyebabkan gangguan kesehatan. Makin bertambah umur metabolic rate makin melambat ; Setiap 10 tahun sesudah umur 25 tahun, metabolisme sel-sel tubuh berkurang 4% dan pada perempuan ketika memasuki periode menopause metabolic rate mulai menurun (1) sehingga tidak lagi dibutuhkan banyak kalori untuk mempertahankan berat tubuh. Prevalensi kegemukan dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara faktor lingkungan, perilaku dan genetik (riwayat kegemukan dalam keluarga).Peningkatan indeks masa tubuh yang mencerminkan adanya kegemukan maupun obesitas berkaitan dengan sejumlah penyakit antara lain

diabetes mellitus tipe 2, hipertensi dan penyakit jantung koroner (2) Di Indonesia, kegemukan maupun obesitas sudah merupakan masalah kesehatan di kota-kota baik pada perempuan maupun laki-laki dewasa. Indeks Masa Tubuh (IMT) > 25kg/m2, >27 kg/m2 dan e�30 kg/m2 berturut-turut ditemukan sebesar 21,0%, 11,1% dan 3,9% (3). Di Sumatera Barat tahun 2005 sebesar 24% orang dewasa termasuk dalam kategori gemuk dengan IMT >25,0 kg/m2 dan untuk kota Padang Panjang kategori gemuk umur 18 tahun ke atas sebanyak 37% dan dari jumlah ini 53,1% perempuan. Kegemukan di kota ini menduduki peringkat tertinggi diantara kabupaten/kota di Sumatera Barat ,dan penyakit Diabetes Mellitus di kota ini juga berada di urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak (4). Budaya makan makanan yang berlemak di Sumatera Barat umumnya dan di Padang Panjang khususnya dapat memicu terjadinya kegemukan. Beras (nasi), ikan, daging sapi, ayam merupakan bahan makanan dasar sedangkan kelapa (santan kental) dan cabe merupakan bumbu dasar. Studi ini ditujukan untuk dapat menjawab isu kegemukan pada perempuan di kota Padang Panjang.

* Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ** Staf Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang

111


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kota Padang Panjang wilayah kerja Dinas Kesehatan setempat dengan desain potong lintang. Lama studi 2 bulan (April-Mei 2007). Sampel adalah perempuan umur 25-50 tahun dengan kriteria inklusi: tidak hamil, tidak menyusui, tidak mengalami cacat mental dan fisik serta bersedia dijadikan sampel. Kriteria ekslusi: sampel tidak kooperatif. Jumlah sampel 192 orang perempuan, dihitung berdasarkan rumus estimasi proporsi menurut Lemeshaw (5) dan dipilih secara probability proportional to Size (PPS). Pada studi ini variabel yang diteliti adalah kegemukan (overweight) sebagai variabel dependent dan faktor demographi (umur), faktor biologi (genetik=riwayat kegemukan pada orang tua, paritas), faktor perilaku (asupan dan pola makan, aktifitas fisik) dan faktor sosiobudaya (status ekonomi, pengetahuan gizi, status perkawinan) sebagai variabel independent. Kegemukan dihitung berdasarkan rumus Indeks masa tubuh (IMT) yaitu Berat badan ( kg) dibagi dengan tinggi badan (m) kuadrat yang diukur dengan timbangan injak digital dengan ketelitian 0,1 kg dan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm. Pengukuran IMT dipilih karena sederhana dan lebih mudah dilakukan pada tingkat populasi. Hasil pengukuran (IMT) diklasifikasikan sebagai normal apabila d�25 kg/m2 dan kegemukan bila >25kg/m2 (6). Data asupan makanan (energi, karbohidrat, protein, lemak dan serat total) dinilai dengan menggunakan formulir baku food frequency semi kuantitatif; formulir berisi rincian tentang beberapa jenis makanan yang biasa dikonsumsi per hari, minggu, bulan, tahun dan makanan yang tidak pernah dikonsumsi. Pengambilan asupan makanan ini dibantu dengan food model yang selanjutnya dihitung dengan perangkat lunak program nutri survey dan dibandingkan dengan Angka kecukupan gizi yang dianjurkan dan komposisi pangan yang memadai. Semua jawaban rincian pada formulir diberi skor (nilai) dengan gradasi semakin tinggi skor semakin positif perilaku dan pemilihan makanan baik dari segi jumlah maupun jenis. Data aktivitas fisik dinilai berdasarkan Baecke (7), data riwayat kegemukan orang tua dilihat dari ada/tidaknya kegemukan pada orang tua; data status ekonomi dihitung dari prosentase tingkat pengeluaran per kapita per bulan untuk konsumsi dibagi dengan total pengeluaran per bulan dengan

112

menggunakan kuesioner baku susenas 2004 dan data pengetahuan gizi diambil dari nilai-nilai pertanyaan yang diajukan. Pengumpul data 4 orang tenaga lulusan D3 Gizi. Data yang diperoleh di analisis secara univariat, bivariat dan analisis multi variat regresi logistik Analisis interaksi dilakukan karena diperkirakan ada interaksi secara substantif diantara variabel independent HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kuesioner memenuhi validitas dan reliabilitas (untuk aktifitas fisik r=0,8; pola makan r=0,6 dan untuk pengetahuan gizi r=0,8 ; r tabel=0,3) Tabel 1. Distribusi frekuensi responden menurut variabel dependent (kegemukan/IMT) dan variabel independent


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Kegemukan pada studi ini diukur dengan indeks masa tubuh. IMT dipilih karena sederhana dan mudah penerapannya pada tingkat populasi. Namun demikian ada konsensus bahwa nilai ambang (threshold) IMT sebaiknya berbeda untuk masingmasing negara, kelompok etnis dan bahkan mungkin untuk memprediksi disease-specific risk (5). Nilai IMT yang sama dapat dicapai oleh kombinasi berat badan-tinggi badan yang sangat berbeda baik di negara maju maupun negara berkembang, misalnya tidak menutup kemungkinan di negara berkembang dimana banyak terjadi stunted, nilai itu dapat dicapai oleh orang dengan berat badan yang lebih rendah daripada normal. Oleh karena itu disarankan untuk mengembangkan standar lain disamping IMT misalnya lingkar pinggang. Hasil studi ini. menunjukkan 54,20% perempuan dengan status kegemukan (IMT>25). Angka ini melebihi hasil studi yang didapat di daerah sekitar kota Padang Panjang, antara lain Padang Pariaman dan dua kota lain di Sumatera Barat. Kegemukan cenderung menimbulkan penyakit degeneratif dan di Padang Panjang kenyataan itu didukung oleh data bahwa Diabetes Mellitus berada di peringkat pertama dari 10 penyakit lainnya (6). Penelitian ini memfokuskan pada perempuan umur 25-50 tahun karena kelompok ini pada umumnya sudah mengalami masa reproduksi dengan berbagai keadaan yang memungkinkan terjadinya kegemukan misalnya kehamilan dan pemakaian kontrasepsi hormon, disamping itu mulai umur 25 tahun metabolisme sudah mulai menurun 4% per decade sehingga dengan gaya hidup yang sama dengan umurumur sebelumnya akan sangat memungkinkan terjadinya kegemukan. Lebih banyak perempuan dari hasil studi ini dengan pola makan yang tidak baik (53,60%) demikian pula dengan perempuan yang menjalankan aktivitas ringan (68,20%). Lebih banyak perempuan dengan status ekonomi tergolong tinggi (57,8%), namun lebih banyak pula perempuan dengan pengetahuan gizi rendah (51,60 %). Pada studi ini hasil asupan energi (kkcal/hr) rendah lebih banyak (57,80%), sedangkan masukan zat gizi makro lain (tinggi dan rendah) hampir sama.

Tabel 2. Gambaran variabel faktor demographi, biologi, perilaku dan sosiobudaya berdasarkan variabel kegemukan (IMT)

Hubungan yang bermakna terlihat antara riwayat kegemukan orang tua dengan kegemukan, demikian juga antara status ekonomi dengan kegemukan Tabel 3. Gambaran Asupan makanan berdasarkan kegemukan (IMT)

113


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Asupan karbohidrat tinggi secara statistik berhubungan bermakna dengan terjadinya kegemukan. Sumbangan total karbohidrat terhadap total energi sebanyak 58%, lebih rendah daripada yang dianjurkan (60%-65%). Untuk lemak, sumbangan yang diberikan terhadap total energi 29%, lebih besar dari yang dianjurkan (hanya 20%-25%) sedangkan asupan protein menyumbang energi sebesar 14%, masih dalam batas yang dianjurkan yaitu 10%-15% dan asupan serat (total) yang rendah terlihat lebih tinggi daripada asupan serat (total) yang tinggi. Komposisi asupan zat karbohidrat, protein dan lemak dari makanan yang dikonsumsi 58:14:29 menunjukkan bahwa sumbangan energi terbesar berasal dari lemak, sesuai dengan kebiasaan di kota ini, dimana kelapa (santan kental) merupakan bumbu dasar hampir pada semua makanan. Tabel 4 Analisis multivariat (hasil akhir)

studi ini dinyatakan dengan riwayat kegemukan orang tua), kaitannya dengan kegemukan sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa apabila salah satu orang tua kegemukan maka peluang untuk menjadi gemuk pada anak 40% dan 80% apabila kegemukan terjadi pada ke 2 orang tua (9). Perempuan dengan asupan karbohidrat tinggi pada studi ini lebih terlindung dari kegemukan dibanding dengan asupan karbohidrat rendah. Hal ini dapat dijelaskan walaupun asupan karbohidrat tinggi namun apabila jenis karbohidrat kompleks, maka tidak berpeluang menimbulkan kegemukan oleh karena indeks glikemik (IG) rendah. Karbohidrat kompleks dengan IG yang rendah, tingkat laju penyerapan lambat sehingga kadar glukose dalam darah tidak meningkat, dengan demikian tidak ada kelebihan glucosa yang akan disimpan sebagai lemak tubuh. Makin rendah tingkat gelatinisasi bahan pangan, makin lambat laju pencernaan SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Faktor status ekonomi (tinggi), riwayat kegemukan orang tua, asupan karbohidrat tinggi memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna dengan kegemukan, dengan peluang untuk terjadi kegemukan berturut-turut: 2,2 kali; 2 kali dan 0,4 kali dibanding dengan berturut-turut status ekonomi rendah; tidak ada riwayat kegemukan orang tua; asupan karbohidrat rendah setelah masing-masing dikontrol oleh asupan karbohidrat dan riwayat kegemukan orang tua; asupan karbohidrat dan status ekonomi serta riwayat kegemukan orang tua dan status ekonomi. Analisis interaksi antara variabel status ekonomi dan asupan karbohidrat menunjukkan hasil yang tidak bermakna. Pada studi ini tingkat ekonomi diukur dari persentase pengeluaran untuk pangan terhadap total pengeluaran per orang per bulan dan berdasarkan tingkat ekonomi perhitungan di atas, 61,8% dari perempuan dengan tingkat ekonomi tinggi termasuk perempuan dengan kegemukan. Menurut hasil penelitian pada masyarakat dengan rata-rata tingkat ekonomi sedang/kurang, seperti terlihat di Padang Panjang, status ekonomi berkorelasi dengan peningkatan berat badan (8). Faktor genetik (dalam

114

1. Perempuan umur 25-50 tahun dengan kegemukan (yang diukur dengan IMT) di kota Padang Panjang cukup tinggi (54,20%) 2. Tingginya kegemukan diperkirakan ikut berkontribusi terhadap tingginya penyakit degeneratif Diabetes Mellitus yang merupakan penyakit pada urutan pertama dari 10 penyakit lain di kota ini. 3. Tingkat ekonomi merupakan faktor peluang terbesar untuk terjadinya kegemukan di kota Padang Panjang, diikuti oleh riwayat kegemukan orang tua 4. Dari sudut pangan besar kemungkinan peluang kegemukan disebabkan karena konsumsi karbohidrat dengan indeks glicemik tinggi Saran 1. Cukup tingginya jumlah perempuan masa reproduksi dengan kegemukan di kota Padang Panjang dan karena kegemukan berisiko terhadap terjadinya penyakit degeneratif maka perlu diadakan penyuluhan tentang kegemukan yang meliputi arti, proses terjadinya, risiko penyakit maupun gangguan lain dan pencegahan kegemukan khususnya ditinjau dari sudut tingkat ekonomi dan


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

riwayat kegemukan orang tua serta pangan terutama tentang karbohidrat berikut indeks glicemiknya. 2. Penyuluhan dilakukan sesuai dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi masyarakatnya dengan tidak meninggalkan akar budaya daerah. 3. Untuk peneliti lain yang akan meneliti tentang kegemukan ada baiknya selain pengukuran melalui IMT juga digunakan cara lain yang sederhana dan mudah diaplikasikan di lapangan dalam penilaian status gizi yang dapat mencerminkan kegemukan. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan kota Padang Panjang atas izin penelitian, teman-teman dilapangan atas bantuannya dalam pengumpulan data.

DAFTAR PUSTAKA 1. Bray. GA. Who are the obese? (2003). Postgraduate Medicine, vol 114 no 6 2. Xavier F, Sunyer Pi (2002). The obesity EpidemicS: Pathophysiology and Consequences of Obesity. Obesity Researh Vol 10 Suppl. Dec 2 3. World Health Organization: Indonesia Report: most recent national country profile [0nline]. Http infobase.who.int.Access 7/27/2006 5:23:1 4. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat 2005. Pemantauan Gizi Sumatera Barat 2004 5. Lameshow, Stanley (1997) . Besar sampel dalam penelitian kesehatan, ed Bashasa Indonesia. Gajah Mada University Press, Yogyakarta 6. Aronne JL (2002). Classification of Obesity and Assessment of Obesity-Related Health Risk. Obesity Research vol 10 Suppl. Dec 2 7. Baecke J, Burema J, Frijters JR (1992) A short quesioner for the measurement of habitual physical aactivity in epidemiological sstudies. Am J Clin Nutr 36:936-942 8. Sobal J, Stunkard AJ (1998). Socioeconomic status and obesity. A review of the Literature Psychological Bulletin 9. Karl T B. Gender, Race and Obesity (2004)-Related Quality of life at extreme levels of Obesity. Journal Obesity Research Vol 12 No 6 June 2004

115


ARTIKEL PENELITIAN

KAJIAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN DI DINAS KESEHATAN KOTA PADANG TAHUN 2006 Denas Symond*

ABSTRACT Health development is one of the supporting National Development that requires availability in quantity and quality of human resources adequately especially at District level. In health planning needed the person who know to determine their own priority on local health development based on local ability, condition and hence it is expected health planned made could solve health problems in their area. The study was meant to know annual health planning processes and problems concerning the implementation in District Health Officee Padang City municipality. This was an qualitative study who interviewed 26 informans consist of: Head of District Health Office, Head of Administrative Officee, Sub-Division Head of Planning and Budgetting and representative of 8 Health Centree Officee Head and 8 Health Centree Officee Admin Head at Padang city municipality.Data were collected by six interviewer who already trained and qualitively analyzed by researcher. The result of study showed that health planning process done by bottom-up planning. Most of members who involved in health planning did not have good understanding on planning methods and the execution of planning steps. Some constrains that found were unavailability and unaccuracy data for making health planning. Health planning documents made namely Budgetting Plan of Working Unit (Rencana Anggaran Satuan Kerja). Annual budget in the year 2006 increased 3.8% than the year before. It was concluded that annual health planning done by buttop-up planning and unproperly health planning caused by some members who involved in health planning did not have good understanding on planning methods and the execution of planning steps.It was recommended to District Health Officee to gain his staff in health planning by training in the scope of health planning steps. Keywords: Health Planning, Budgetting

PENDAHULUAN Perubahan pengelolaan keuangan di era desentralisasi dengan diberlakukannya Undangundang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah adalah dengan pemberian kewenangan lebih besar kepada daerah untuk menentukan alokasi anggaran sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing daerah. Sumber anggaran pembangunan daerah dapat berasal dari pemerintah pusat maupun daerah itu sendiri. Salah satu mekanisme keuangan (fiskal) di era desentralisasi adalah dana perimbangan. Mekanisme dana perimbangan yang berlaku berupa block grant dari pemerintah pusat kedaerah menyebabkan perlunya advokasi kepada daerah sehingga alokasi anggaran dapat diarahkan ke sektor kesehatan(1).

*) Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKUNAND

116

Berdasarkan perhitungan kebutuhan pelayanan 18 kegiatan dasar puskesmas diperlukan Rp.43.000 perkapita di tahun 1999, sedangkan nilai rupiah tahun 2001 menjadi Rp.51.000 (World Bank, HNP Statistics). Angka ini sudah termasuk pelayanan kuratif puskesmas tetapi belum termasuk biaya rawat inap. Komponen pembiayaan yang memegang peran besar dalam pembiayaan kesehatan adalah pengeluaran masyarakat termasuk swasta (76% dari total belanja kesehatan).(2) Melalui desentralisasi, daerah diberikan wewenang untuk menentukan sendiri prioritas pembangunan kesehatan daerahnya sesuai kemampuan, kondisi dan kebutuhan setempat. Dengan demikian daerah diharapkan mampu melakukan perencanaan kesehatan dengan baik. Penyiapan dokumen perencanaan kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang dilakukan pada setiap sub dinas dan dikoordinir oleh seksi perencanaan pada bagian tata usaha setiap tahun mengacu pada kewenangan yang dimiliki dibidang kesehatan.(3)


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Padang dalam penyusunan perencanaan penganggaran program kesehatan setiap tahunnya berupa dokumen Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) dan perencanaan tahunan program yang di biayai dari Bank Dunia melalui proyek Health Woldforce and Services (HWS) belum mendapatkan hasil yang optimal. Hal ini terlihat pada belum semua pegawai yang terlibat dalam proses perencanaan terlibat secara penuh dari segi waktu penyiapan dokumen perencanaan kesehatan tahunan belum tepat waktu. Apakah proses perencanaan tersebut berdampak kepada terlambatnya realisasi anggaran (pertengahan tahun) sehingga kegiatan tidak dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan kesehatan tahunan dilakukan dan permasalahan yang dihadapi di Dinas Kesehatan Kota Padang Tahun 2006 perlu dilakukan suatu penelitian untuk selanjutnya dapat merekomendasikan suatu model perencanaan dan penganggaran kesehatan pada waktu datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses perencanaan dan penganggaran kesehatan tahunan dan permasalahan dalam pelaksanaannya di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006. Tujuan khusus yang hendak diketahui dalam penyiapan perencanaan penganggaran kesehatan meliputi: 1. Informasi dari unsur masukan (kebijakan, struktur organisasi, sumber daya manusia, dana, sarana prasarana, data infomasi dan metode perencanaan) dalam perencanaan kesehatan tahunan di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006 2. Informasi dari unsur proses (langkah perencanaan, bimbingan teknis, koordinasi LP/ LS dan pelaksanaan konsultasi) dalam perencanaan kesehatan tahunan di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006 3. Informasi dari unsur keluaran (dokumen perencanaan kesehatan tahunan / RASK) dalam perencanaan kesehatan tahunan di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006 4. Permasalahan pada setiap proses perencanaan kesehatan tahunan di Dinas Kesehatan Kota Padang Tahun 2006 Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk memperkuat jajaran Dinas Kesehatan Kota Padang dalam penyiapan perencanaan dan penganggaran kesehatan setiap tahunnya.

METODOLOGI Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan system (masukan, proses dan keluaran) dari sudut pandang organisasi. Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei sampai dengan Nopember 2006 dengan lokasi penelitian di Dinas Kesehatan Kota Padang dan 8 Puskesmas terpilih masing-masing (1) Puskesmas Lubuk Buaya (2) Ulak Karang (3) Padang Pasir (4) Nanggalo (5) Belimbing (6) Lubuk Begalung (7) Seberang Padang (8) Ulak Karang. Informan dalam penelitian ini berjumlah 26 orang yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota Padang dan unsur Puskesmas terpilih masing-masing: Tingkat Dinas Kesehatan Kota Padang 1. Kepala Dinas Kesehatan 1 orang 2. Kepala Tata Usaha 1 orang 3. Kepala Sub Dinas 4 orang 4. Staf Sub Dinas 4 orang Tingkat Puskesmas: 1. Pimpinan Puskesmas 2. Staf terkait perencanaan di Puskesmas

8 orang 8 orang

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (focus group discussion), pengamatan dan telaah dokumen. Data yang didapatkan kemudian diolah secara manual dan dilakukan analisis isi. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Informan Informan yang terkait dalam proses perencanaan kesehatan tahunan di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006, rinciannya adalah 1 orang Kepala Dinas Kesehatan, 1 orang Kepala Tata Usaha, 1 orang Sub Bagian Keuangan dan 1 orang perencanaan HWS. Karakteristik informan tersebut sebagaimana pada tabel 1 berikut ini :

117


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Tabel 1. Karakteristik Informan Penelitian di Dinas Kesehatan Kota Padang Tahun 2006 K ode In fo rm a n LP1

LP2 LP3 LP4 LP5 LP6

J a b a ta n K e p a la D i n a s K e s e h a ta n K o ta P a d a n g K e p a la B a g ia n T a ta U s a h a K a .S u b B a g i a n K euan gan P e ren ca n aa n HW S P i m p in a n P u sk esm as S taf P ere n c a n a P u sk esm as

M a sa K e r ja J a b a ta n

Hasil penelitian melalui wawancara mendalam (Indepth Interview) penelitian dokumen dan pengamatan (observasi) terkait dengan proses perencanaan kesehatan sebagai berikut :

7 ,5 T a h u n 5

T ahun

2

T ahun

2

T ahun

5 -7 T a h u n 1 0 - 1 5 ta h u n

Tabel 2. Faktor Masukan, Proses & Out Put Penyiapan Perencanaan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang Variabel A.Komponen Input Kebijakan

Pelaksanaan Kebijakan

Struktur Organisasi

Ketenagaan (SDM)

Pendanaan

118

Hasil Penelitian Wawancara mendalam: Sebagian besar informan menyampaikan bahwa kebijakan yang ada sudah mengarah kepada peningkatan anggaran menuju 15% dari total APBD.Penelitian Dokumen: Anggaran tahun 2005/06 dalam DASK sebesar 5% anggaran kesehatan dari total APBD dan tahun 2006 meningkat menjadi 8,8% dari total APBD untuk bidang kesehatan Wawancara mendalam: Sebagian besar informan menyampaikan bahwa pelaksanaan kebijakan yang dibuat berdasarkan aspirasi dari bawah baik dari tingkat Puskesmas dan masyarakat melalui aspirasai masyarakat dalam forum acara duduk basamo.Pengamatan: Pelaksanaan kebijakan disosialisasikan oleh setiap subdinas ketingkat Puskesmas pada acara kunjungan ke Puskesmas. Wawancara Mendalam: Sebagian besar informan mengetahui bahwa perencanaan dibuat oleh masing-masing sub dinas dan dalam struktur organisasi dikoordinir oleh sub bagian keuangan dilingkungan Bagian Tata Usaha Dinas Kesehatan.Penelitian Dokumen: Ada struktur organisasi yang baru dan tugas perencanaan berada di bagian keuangan dengan uraian tugas/jabatan.Pengamatan: Sub bagian keuangan yang bertanggung jawab dalam kordinasi dan penyiapan akhir perencanaan dan pengganggaran kesehatan tahunan belum berfungsi dengan optimal.Perencanaan untuk proyek HWS dibuat oleh bagian perencanaan khusus oleh proyek HWS. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengatakan bahwa tenaga SDM yang ada untuk penyiapan perencanaan kesehatan masih kurang terampil dan kurang pengalaman.Penelitian Dokumen: Tenaga yang ada telah memiliki pendidikan setingkat S-1 bidang kesehatan (SKM).Pengamatan: Penyiapan dokumen perencanaan disiapkan oleh staf biasa dan pada bagian akhir baru melibatkan kepala bagian. Wawancara mendalam: Ada informan yang mengetahui bahwa ada dana dalam pembuatan perencanaan kesehatan dan sebagian besar informan tidak tahu bahwa ada dana untuk pekerjaan pembuatan perencanaan kesehatan.Penelitian Dokumen: Pendanaan yang dibutuhkan untuk penyiapan dokumen perencanaan bersumber dari dana rutin.Untuk perencanaan proyek HWS ada disiapkan dana khusus.Pengamatan: Penyiapan dokumen perencanaan kesehatan tidak didukung dengan anggaran yang memadai. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengemukakan dalam penyiapan dokumen perancanaan sudah ada sarana yang diperlukan seperti komputer, alat tulis dan sejenisnya.Penelitian Dokumen: Pada setiap sub bagian sudah ada komputer yang dapat dipakai dalam penyiapan dokumen perencanaan kesehatan.Pengamatan: Peralatan komputer dan alat tulis sudah memadai untuk penyiapan dokumen perencanaan kesehatan.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Ketersediaan Fasilitas dan Sarana

Ketersediaan Data dan Informasi

B.Komponen ProsesLangkah PerencanaanAnalisa Situasi

Penetapan Masalah Kesehatan

Penentuan Prioritas Program/ Kegiatan

Penetapan Perencanaan Kesehatan

Bimbingan Teknis

Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengemukakan bahwa keterbatasan data dan validitas data sangat dirasakan untuk membuat dokumen perencanaan kesehatan yang berbasis data. Data dan informasi untuk perencanaan kesehatan juga didapatkan melalui musyawarah pembangunan (Musbang) yang dilakukan 1 kali setahun disetiap kecamatan.Penelitian Dokumen: Data yang ada bersumber dari laporan tahunan dan profil kesehatan tahunan dan keakuratan dan vliditas data masih kurang.Pengamatan: Data ada terbatas bersumber dari profil kesehatan dan laporan tahunan dan validitasnya masih kurang dapat dipercaya. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengetahui bahwa analisa situasi sangat penting dipahami dalam penyiapan dokumen perencanaan kesehatan.Penelitian Dokumen: Tercantum pada dokumen RASK dan Proposal tahunan HWS bahwa ada analisis situasi.Pengamatan: Analisis situasi dalam penyiapan dokumen perencanaan belum disiapkan dengan baik karena keterbatasan data. Wawancara mendalam:Sebagian besar informan sudah memahami bahwa masalah kesehatan adalah masalah yang berkaitan dengan angka kesakitan atau prevalensi penyakit yang dialami oleh penduduk kota Padang.Penelitian Dokumen: Ada dicantumkan pada dokumen RASK dan proposal perencanaan tahunan HWS.Pengamatan: penetapan masalah kesehatan belum merujuk kepada kondisi yang sebenarnya karena keterbatasan data yang valid. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan sudah mengetahui bahwa penentuan prioritas program/kegiatan yang direncanakan adalah menetapkan urutan pertama dan seterusnya berdasarkan besar dan luasnya masalah, semakin besar masalahnya akan mendapatkan prioritas tinggi untuk diprioritaskan ditanggulangi.Penelitian Dokumen: Ada dicantumkan prioritas masalah kesehatan dan cara-cara penentuan prioritas dalam dokumen RASK dan proposal tahunan HWS.Pengamatan: Penentuan prioritas sudah dilakukan dengan berbasiskan data yang ada. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengemukakan bahwa penyiapan dokumen perencanaan kesehatan disiapkan oleh masing-masing bagian dan untuk proyek HWS disiapkan dalam bentuk dokumen TOR. Dokumen perencanaan yang dibuat dibicarakan dalam forum rapat perencanaan yang dipimpin oleh kepala Dinas Kesehatan.Perencanaan Puskesmas disiapkan oleh Sub Dinas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota.Penelitian Dokumen: Ada dokumen usulan kegiatan dari setiap bagian didinas kesehatan kota PadangPengamatan: Dokumen perencanaan kesehatan sebagian besar berisi jenis kegiatan dan besaran kebutuhan dana yang dibutuhkan untuk 1 tahun kegiatan. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengemukakan bahwa bimbingan teknis pada bawahan dilingkungan bagian dan ke Puskesmas ada dilaksanakan dalam 3 bulan terkahir dan tidak ada jadwal khusus.Penelitian dokumen: ada laporan terkait bimbingan yang dilakukan ke PuskesmasPengamatan: Bimbingan teknis yang dilakukan ke masing-masing sub bagian dan Puskesmas terkait penyiapan perencanaan kesehatan dilakukan secara insidentil dan tidak terjadwal. Wawancara mendalam: ada dilakukan dengan bagian lain dan dinas terkait melalui forum pertemuan.Penelitian dokumen: ada notulen rapatPengamatan: koordinasi ada dilakukan dan agak susah dilaksanakan untuk implementasi kegiatan dilapangan. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan melakukan konsultasi untuk penyiapan perencanaan ke lintas sektor utamanya Bappeda dan Dinas Kesehatan Provinsi. Sedangkan untuk proyek HWS juga melakukan konsultasi ke Depkes RI JakartaPenelitian Dokumen: ada laporan hasil konsultasiPengamatan: Pelaksanaan konsultasi sering dilaksanakan utamanya ke Dinas Kesehatan Propinsi. Wawancara mendalam: Sebagian besar informan mengemukakan bahwa DASK yang ada merupakan dokumen perencanaan dan anggaran yang bersumber dari usulan setiap bagian.Penelitian Dokumen: Ada DASK dan proposal perencanaan dan anggaran proyek HWS.Pengamatan: DASK merupakan dokumen perencanaan dan anggaran tahunan Dinas Kesehatan Kota Padang.

119


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan dan telaah dokumen dalam proses perencanaan kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang seperti yang dikemukakan diatas dapat digambarkan alur proses perencanaan unit kerja di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006 pada gambar 3 berikut ini : Sub Bagian Keuangan

Bidang P2P

Bidang PMKL

Bidang Kesga

Sub Bagian Kepegawaian

Bidang

GFK

Puskesmas

Puskesmas

Puskesmas

Puskesmas

PUSTU

PUSTU

PUSTU

PUSTU

Gambar 1. Alur Proses Perencanaan Unit Kerja Di Dinas Kesehatan Kota Padang Tahun 2006

PEMBAHASAN Komponen Masukan (Input) Kebijakan Hasil wawancara mendalam tentang kebijakan dapat disimpulkan bahwa otonomi dan desentralisasi berdasarkan UU no.22 tahun 1999 tentang Pemerintah daerah, telah memberikan keleluasaan membuat, menentukan perencanaan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah, sehingga daerah lebih mandiri dalam menentukan kebijakan. Pelaksanaan kebijakan sudah berjalan sesuai kebutuhan dan segala perencanaan mengarah kepada kebutuhan masyarakat. Struktur Organisasi Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kota Padang dapat disimpulkan terjadi perampingan jabatan sebagaimana tertuang dalam Perda No. 18 tahun 2004 tentang uraian tugas pokok dan fungsi Dinas Kesehatan Peningkatan struktur dan eselonering pada era otonomi daerah di Dinas Kesehatan Kota Padang lebih baik dalam hal perencanaan kesehatan, namun masih terbentur dalam

120

waktu perencanaan disebabkan beban kerja yang banyak, dampak dari digabungannya sejak 1 tahun terakhir Sub Dinas Bina Program ke Sub Bagian Keuangan. Peningkatan struktur organisasi dan eselonering tidak berpengaruh terhadap penyusunan perencanaan kesehatan, jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber dayanya. Struktur hanyalah kerangka atau wadah aparatur untuk mencapai tujuan organisasi, yang terpenting adalah kapasitas orang-orang yang duduk dalam struktur tersebut, sehingga mampu untuk menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada visi dan misi organisasi. Sumber Daya Manusia Ketersedian dan kemampuan sumber daya manusia dalam penyiapan perencanaan masih terbatas sebagaimana diutarakan oleh Gani, 2001 bahwa permasalahan perencanaan program kesehatan kabupaten/kota salah satunya adalah lemahnya sumber daya manusia pada unit perencanaan Dinas Kesehatan (Gani 2001). Berkaitan dengan sumber daya manusia, ada beberapa jenis keahlian yang secara bertahap perlu disediakan ditingkat Kabupaten/kota yaitu: 1) Administrasi dan perencanaan kesehatan 2) Epidemiologi lapangan (field epidemiologist) 3) Promosi kesehatan 4) Kesehatan lingkungan 5) Gizi masyarakat Dana dan prasarana Dana untuk perencanaan tersedia dan cukup yang bersumber dari dana rutin. Sarana penunjang dalam penyiapan perencanaan seperti komputer sudah cukup memadai, Pemeliharaan dan perawatan diperlukan sekaligus tenaga operator yang ada kedepan memerlukan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan sarana komputer tersebut Data dan Informasi Hasil wawancara mendalam yang berkaitan dengan data dan informasi, dapat disimpulkan bahwa data untuk penyusunan perencanaan sudah tersedia, namun terdapat permasalahan seperti data yang kurang akurat, tidak valid, tidak aktual, dan tidak baru. Akibat data yang kurang lengkap sehingga sulit untuk bisa dianalisis lebih jauh, penetapan kebutuhan data dan pencatatan serta pelaporan sangat berkaitan dengan indikator yang disepakati. Untuk itu perlu


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

dilakukan reformasi terhadap pengelolaan data dan dapat dijadikan sebagai pengembangan sistem informasi kesehatan (SIK) yang dapat digunakan untuk membantu menetukan kebijakan pengambilan keputusan disemua tingkat administrasi pelayanan kesehatan di daerah. Komponen Proses Langkah Perencanaan Analisis Situasi Hasil wawancara mendalam tentang analisis situasi dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan analisis situasi belum memahami cara dan proses analisis situasi.Analisis situasi hendaknya memanfaatkan ( evidence based) dan menghimpun apa saja kebutuhan lokal (Nadjib, 2000), dalam menganalisis situasi hendaknya data yang dikumpulkan dapat menghasilkan kesimpulan tentang masalah. Sebaiknya data meliputi keadaan umum dan lingkungan (geografi, pendidikan, pekerjaan dan sosial budaya), data derajat kesehatan masyarakat (status kesehatan penduduk, kesehatan lingkungan pemukiman) dan data upaya kesehatan (fasilitas dan pelayanan kesehatan) (Azwar, 1998, Wijono, 1997, Green, 1990).(4) Proses analisis situasi di Dinas Kesehatan Kota Padang ternyata memiliki kesamaan dengan temuan Tuty (2004), yaitu laporan cakupan program tahun lalu merupakan data untuk menganalisis situasi, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk merencanakan bahkan ditindak lanjuti sebagai pelaksanaan program.(5) Mengingat keterbatasan kemampuan sumber daya manusia, sebaiknya dalam menganalisis situasi saat desentralisasi, selain melibatkan lintas program dan lintas sektor juga epidemiologi, ekonomi kesehatan agar dapat menganalisis situasi secara menyeluruh, baik dari sisi epidemiologi maupun determinannya. Menentukan Masalah Kesehatan Hasil wawancara mendalam tentang masalah dalam analisis situasi dapat disimpulkan bahwa karena keterbatasan dalam menggali masalah, mengolah, menganalisa data serta menginterpretasikan data dengan menggunakan konsep epidemiologi. Dalam mengidentifikasi masalah, informan mengungkapkan jenis kasus berdasarkan kasus rutin dan tidak terungkap konsep waktu produktif yang hilang (estimasi beban kerugian akibat sakit), jadi

dalam mengidentifikasi masalah, yang ada dalam pemikiran informan adalah indikator gangguan kesehatan (Depkes RI.1998), bisa dimaklumi estimasi beban kerugian akibat sakit tidak tampak dalam pemikiran informan, karena metode estimasi tersebut belum pernah dilakukan di tingkat kabupaten (Depkes RI.1998). Kriteria (affordability) yang mengemukakan oleh informan ternyata sama dengan temuan Nadjib (2000), bahwa dalam menentukan prioritas, anggaran yang menjadi suatu pertimbangan.Menentukan masalah diharapkan pertimbangan epidemiologi, lingkungan, persepsi masyarakat, aspek teknologi dan kemampuan sumber daya kesehatan yang ada, dapat benar-benar menyentuh masalah kesehatan yang nyata. Menentukan Prioritas Program Kesehatan Hasil wawancara mendalam tentang menentukan prioritas program masalah kesehatan dapat disimpulkan bahwa yang menjadi prioritas program kesehatan yang menyangkut dan berdampak langsung terhadap masyarakat. Menurut Green (1992), mengemukakan dalam melakukaan penilaian pilihan selayaknya memikirkan dampak pada tiap pilihan, bagaimana efeknya pada target kesehatan dan bagaimana menerapkan sumber daya yang ada (cost effectiveness). Alokasi anggaran hendaknya diprioritaskan pada kebutuhan lokal spesifik. Terlebih dengan anggaran yang terbatas, maka prioritas ditujukan pada (public good) dan pelayanan kesehatan terutama bagi kalangan keluarga miskin. Dalam melaksanakan intervensi pilihan, sudah terjalin kerjasama lintas program dengan bidang /bagian yang terkait kegiatan tersebut suatu prioritas program Dinas Kesehatan yang harus dibantu oleh bidang/bagian lain. Menetapkan Perencanaan Kesehatan Hasil wawancara mendalam tentang menetapkan perencanaan kesehatan dapat disimpulkan bahwa program yang disajikan masingmasing bidang/bagian yang menjadi prioritas kesehatan dibahas dalam rapat untuk mengambil keputusan dan menetapkan perencanaan kesehatan. Mengenai masalah (persoalan potensial) yang bakal timbul, bertujuan menjamin keberhasilan pelaksanaan suatu rencana. Dalam suatu rencana, penentuan masalah biasa bersumber dari pengalamam (Depkes RI. 1998).

121


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Menurut Green (1992), dalam penyusunan setiap program, hendaknya diperhatikan apakah program yang terpilih dapat memenuhi tujuan/sasaran yang ditetapkan, hal apa saja yang dibutuhkan dalam program terpilih, agar tujuan/sasaran dapat tercapai, dan bagaimana kebutuhan akan kecukupan sumber daya. Hal ini perlu dipertimbangkan adalah bagaimana dukungan struktur organisasi yang menyangkut tugas/fungsi/kewenangan dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program tersebut, serta dukungan politis dari Pemerintah Daerah dan Legislator bahkan bantuan sumber daya dan waktu pelaksanaan yang tepat untuk menghasilkan sasaran yang optimal. Sedangkan penyusunan program di Dinas Kesehatan Kota Padang mengacu pada program hasil usulan dari masing masing bidang/bagian dan puskesmas. Dalam rangka otonomi ini dalam perencanaan lebih berorientasi pada paradigma promosi (promotif) dan pencegahan (preventif) serta melibatkan masyarakat di dalamnya. Karena perencanaan, tujuan umum (goal) yang sering disetarakan dengan dampak (impact) merupakan keadaan di masa yang akan datang yang hendak dicapai, sehingga kegiatan program yang dipilih, diharapkan benar-benar dapat mencapai tujuan (Azwar, 1996, Depkes RI. 1998). Pokok-pokok program pembangunan kesehatan ke depan antara lain program peningkatan upaya kesehatan, perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat, serta lingkungan sehat yang melibatkan kemauan dan kemampuan masyarakat untuk melindungi kesehatan dan lingkungan sendiri, sehingga pemikiran informan mengenai program yang lebih berorientasi pada promosi (promotif) dan pencegahan (preventif), sejalan dengan rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. Perencanaan strategis yang berfokus pada sasaran kebutuhan lokal, haruslah dirancang secara lintas program dan lintas sektor. Perencanaan strategis akan memberi arahan bagi kegiatan yang akan datang. Selain itu perencanaan strategis akan menggali sumber daya yang ada, termasuk upaya keterpaduan antara pemegang program dan dukungan politis Pemerintah Daerah, serta swasta dan patisipasi masyarakat untuk dijadikan sebagai suatu kekuatan dan peluang mencapai sasaran kebutuhan lokal. Komponen Hasil (Output) Hasil wawancara mendalam tentang dokumen perencanaan dapat disimpulkan bahwa perencanaan

122

di setiap bidang/bagian dikumpulkan dalam suatu dokumen yang tertuang dalam RASK dimana dokumen perencanaan juga digunakan sebagai acuan kegiatan program kesehatan. RASK tahun 2006 sebesar Rp.32.633.192.612. Berkaitan tentang saran dalam dokumen perencanaan perlu ditingkatkan kualitas perencanaan kesehatan yang bisa menampung semua program kesehatan sehingga dokumen perencanaan kesehatan bisa menjawab permasalahan kesehatan di Kota Padang. Suatu rencana yang baik harus mencatumkan uraian tentang metode penilaian serta kriteria keberhasilan (method of evaluation milestone) yang akan dipergunakan. Metoda penilaian yang baik berdasarkan data, untuk itu diuraikan metode pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data serta interpretasi data yang akan dipergunakan. Menurut Azwar (1996), kriteria keberhasilan yang dapat dipergunakan banyak macamnya, secara umum dapat dikelompokan ke dalam 3 (tiga) macam, yaitu 1. Kriteria keberhasilan masukan 2. Kriteria keberhasilan unsur proses 3. Kriteria keberhasilan unsur keluaran Menurut Denisto dalam Azwar (1996), suatu program kesehatan dapat dinilai dari beberapa hal, yaitu kelayakan program (appropriateness), kecukupan program (adequancy), efektifitas program (effectiveness), dan efisiensi (effisiency). Komponen hasil (output) data diperoleh dari wawancara mendalam, berbagai informan berpendapat bahwa proses dokumentasi perencanaan seperti yang diharapkan, namun masih perlu peningkatan. Proses dokumentasi perencanaan di Dinas Kesehatan dibedakan untuk perencanaan yang diusulkan APBD kota dalam bentuk RASK proses dokumentasi di masing masing bidang/bagian. Perencanaan yang diusulkan ke HWS dalam bentuk proposal, perencanaan HWS proses dokumentasinya di lakukan oleh perencanaan HWS. Untuk memperbaiki proses dokumentasi terdapat kesamaan pendapat antara informan di Dinas Kesehatan, yang mengatakan bahwa proses dokumentasi dapat berjalan dengan baik apabila proses dan tahapan penyusunan perencanaan didukung oleh keakuratan dan ketepatan data, mengacu pada rencana strategis, metode perencanaan yang benar serta aparatur memahami tugas pokok dan fungsinya. Penyempurnaan proses dokumentasi perencanaan dilakukan dengan menyatukan proses dokumentasi perencanaan, baik yang akan diusulkan


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

ke APBD kota maupun yang ke propinsi, pusat dan HWS (Bank Dunia) yang di koordinir oleh Sub Bagian Keuangan. Hasil dari proses perencanaan dalam bentuk RASK, proposal, rencana strategi dan sebagainya yang disyahkan, serta lainnya yang merupakan hasil perencanaan yang sudah ditetapkan dan untuk dilaksanakan, yang memuat seluruh program pembangunan kesehatan. Dokumen ini sangat penting sekali dalam melakukan kegiatan untuk evaluasi dan acuan selama melakukan kegiatan pembangunan kesehatan Kota Padang yang akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Kemudian terhadap kelayakan program yang telah tersusun, beberapa informan berpendapat bahwa kelayakan program yang sudah tersusun itu sudah memadai, karena sudah disesuai dengan kondisi yang ada. Setiap kegiatan dalam program akan laksanakan pada tahun 2006. Berdasarkan hasil telaah dokumen anggaran perencanaan program pembangunan kesehatan Kota Padang bersumber dari APBD tahun 2005 dan tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 3,8 % (tahun 2005 sebesar 5% dan tahun 2006 sebesar 8,8% dari APBD), tahun 2006 RASK sebesar Rp.32.633,192.612,- mendorong pelaksanaan proses desentralisasi bidang kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Padang sesuai dengan proposal proyek HWS tahun 2006 mendapat dana sebesar Rp.1.286.208.800,- dari Pinjaman Luar Negeri (World Bank). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Penyusunan perencanaan kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang dilakukan dengan mekanisme perencanaan dari bawah (botton up planning). Kedudukan perencanaan pada tingkat Sub Bagian yaitu pada Sub Bagian Keuangan pada eselon 3a yang mengkoordinasikan penyusunan perencanaan kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang. 2. Sumber Daya yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Padang dalam penyiapan perencanaan kesehatan meliputi SDM masih terbatas terutama dari segi kualitas, sehingga berpengaruh terhadap penyusunan perencanaan khususnya dan juga operasional di Dinas Kesehatan Kota Padang Sedangkan sumber daya dana dan sarana perelngkapan seperti komputer dalam penyiapan perencanaan sudah memadai. Ketersedian data yang masih kurang akurat, sehingga menjadi

masalah dalam penyusunan perencanaan dengan baik. Pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan program belum mendapat prioritas 3. Proses penyusunan perencanaan belum dilakukan sebagaimana mestinya, yaitu belum dilakukan analisis situasi secara menyeluruh dan penyusunan perencanaan khususnya menganalisis situasi yang didasarkan terutama pada cakupan tahun sebelumnya dan belum melibatkan ahli disiplin ilmu tertentu terutama epidemiologi, promosi kesehatan, gizi masyarakat dan kesehatan lingkungan. Penentuan masalah kesehatan berdasarkan pada kasus yang rutin muncul di kota Padang dan berdasarkan data yang ada, Penentuan prioritas program kesehatan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang berasal dari aspirasi masyarakat dan prioritas masingmasing pemegang program. 4. Dokumen hasil perencanaan kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2006 berupa RASK sesuai Kep.Mendagri No. 29 tahun 2002, proyek HWS dalam bentuk proposal tahunan. Saran 1. Disarankan kepada Sub Bagian Keuangan dan Perencanaan HWS dalam menyiapkan dokumen perencanaaan dapat melakukan pembenahan dan perbaikan data dan menerapkan sistem pencatatan pelaporan dan pengelolaan data di Dinas Kesehatan Kota Padang sesuai rancangan yang telah dikembangkan yaitu sistem informasi kesehatan (SIK). 2. Disarankan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberdayaan dan peningkatan kemampuan SDM yang ada di bidang perencanaan melalui pendidikan dan pelatihan, yaitu kemampuan dalam mengolah data dengan menggunakan pendekatan multi disiplin ilmu. Daftar Bacaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Undang-Undang Otonomi Daerah, CV Tamita Utam, Jakarta, 2004 Biro Perencanaan Depkes RI dan FKM-UI, Perhitungan biaya Operasional Program Kesehatan, Kerjasama Biro Perencanaan Depkes Ri, PT Indoconsult dan FKM-UI, Jakarta 1998 Dinas Kesehatan Kota Padang, Rencana Kerja tahun 2005, Padang, 2005 Azwar A. Dasar-dasar Perencanaan di Bidang Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta, 1996 Tuty E, Thesis, Analisis Sistem Perencanaan dan Penganggarn Kesehatan di Dians Kesehatan Kota Payakumbuh Sumatera Barat, Pasca Sarjana UI Jakarta 2004. Modul Perencanaan dan Peanganggaran Kesehatan Terpadu (P2KT), Jakarta, 1998 FKM-UI – CIMU Health, Aplikasi metode kualitatif dalam penelitian kesehatan, The British Council Jakarta 2000 Dinas Kesehatan Kota Padang, Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah Tahun 2006-2010, Padang, 2006

123


ARTIKEL PENELITIAN

SURVIVAL ANALYSIS GANGGUAN PERNAPASAN DENGAN TINGKAT PAJANAN PENCEMARAN UDARA DI DKI JAKARTA (STUDI COHORT PADA MURID SEKOLAH DASAR) Defriman Djafri*

ABSTRACT Level of health risk generated by air pollution material to public especially at school children and existence of impact to respiratory symptom. Purpose of this research is wished to know the relationship of repiratory symptom at elementary school with level of air pollution exposure in DKI Jakarta. This research type is observation study having the character of analytic with approach of study planning applied by prospective cohort that is doing observation at research subject every day and followed by during 3 month of be noted the happening of respiratory illness at the time period. Data is analyzed to apply statistical methods Survival Analysis in STATA 9.2 (license). Result of research it is got that existence of the relationship of respiratory symptom with level of air pollution exposure, From 4 respiratory symptom taken analysed and in this research, incidence rate at each symptom is got by higher case at region high exposure compared to region low exposure. Conclusion is got approximant 50% base school children experiences case of respiratory symptom based on result of case probability everyone of respiratory symptom observation. Keyword : respiratory symptom, respiratory illness, air pollution exposure, survival analysis

PENDAHULUAN DKI Jakarta, sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia mempunyai konsekuensi peningkatan pembangunan yang cukup tinggi di segala sektor, baik di sektor ekonomi, pembangunan, industri , teknologi dan sebagainya. Sejalan dengan pertumbuhan pembangunan tersebut, maka sektor perhubungan, khususnya perhubungan darat, adalah salah satu yang terpenting dalam menunjang pembangunan tersebut. Pembangunan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak, tetapi juga dapat menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan. Salah satu dampak pembangunan perkotaan dan lingkungan yang tidak menguntungkan adalah berupa pencemaran udara. Udara yang tercemar dapat berdampak buruk bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Terjadinya kerusakan lingkungan berarti berkurangnya (rusaknya) daya dukung alam, yang selanjutnya akan mengurangi kualitas hidup manusia. Pencemaran udara yang terpenting di daerah perkotaan adalah bersumber dari sarana transportasi. Data terakhir tahun 2003 Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyebutkan, jumlah kendaraan di DKI *Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand

124

Jakarta mencapai 4,48 juta kendaraan, dengan rincian, sepeda motor 2,3 juta unit, mobil pribadi 1,211 juta unit, truk 370.832 unit, dan bus 254.914 unit. Meski uji KIR dilakukan, tetap saja banyak knalpot kendaraan mengeluarkan asap tebal, terutama bus kota. Laporan pemantauan kualitas udara di Jakarta yang dilakukan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BPLHD) DKI Jakarta dan Pusat Pengendalian Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (PUSARPEDAL) tahun 2000 dan 2001 mengklasifikasikan DKI Jakarta menurut tingkat pencemaran udaranya, yaitu : Pertama, wilayah dengan pencemaran udara tinggi dengan kadar SO2 >20 ppb, Kadar NO2>15 ppb, dan Kadar NOx>40 ppb yang meliputi Kecamatan Palmerah, Kecamatan Kalideres, Kecamatan Sawah Besar, Kecamatan Cilincing, dan Kecamatan Tanjung Priok. Kedua, Wilayah dengan pencemaran udara rendah dengan kadar SO2<10 ppb, dan kadar NO2<10 ppb, dan kadar NOx<20 ppb yang meliputi Kecamatan Jagakarsa, Kecamatan Pasar Rebo, dan Kecamatan Cipayung. Pada tahun 2000 BPLHD DKI Jakarta menunjukan, kualitas udara di DKI Jakarta yang masuk kategori baik 26%, kategori sedang 74%, dan khusus untuk kategori tidak sehat, sangat tidak sehat,


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

dan berbahaya masih 0%. Artinya, pada tahun 2000, kualitas udara Jakarta masih bisa dibilang sehat. Tahun 2001, kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat dan sangat tidak sehat mulai kelihatan. persentase jumlah hari yang tidak sehat mencapai 8,49% dan kategori sangat tidak sehat mencapai 0,27%. Sementara kategori udara baik merosot dari 26% di tahun 2000 menjadi 20,55% di tahun 2001. Dan kategori udara sedang juga turun, dari 74% menjadi 70,68%. Pada tahun 2002, kualitas udara Jakarta semakin bertambah parah. Kategori kualitas baik merosot tajam dari 20,55% di tahun 2001 menjadi hanya tinggal 5,75%. Sedangkan kualitas udara sedang merosot tinggal 62,19%. Sementara itu, persentase kategori tidak sehat justru melonjak tajam dari 3,23% di tahun 2001 menjadi 8,49% di tahun 2002. Kategori udara sangat tidak sehat semakin hari semakin meningkat dari 0,27% di tahun 2001 menjadi 0,82% di tahun 2002. Buruknya kualitas udara di DKI Jakarta membuat banyak orang terserang penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, sepanjang pertengahan tahun 2003, jumlah penderita ISPA tercatat 2.297 orang. Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 menunjukan 6,8% prevalensi ISPA pada anak-anak di DKI Jakarta. Dari keadaan-keadaan tersebut di atas dan begitu besarnya dampak pencemaran udara terhadap kesehatan masyarakat khususnya pada usia anakanak, maka penelitian ini bermaksud untuk mendapatkan informasi hubungan gangguan saluran pernapasan pada murid sekolah dasar dengan tingkat pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta. Tujuan Penelitian Mendapatkan informasi hubungan gangguan saluran pernapasan pada murid sekolah dasar dengan tingkat pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta. METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di Wilayah DKI Jakarta. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juni 2004. Lokasi penelitian pada wilayah pajanan tinggi diwakili oleh Kecamatan : Palmerah, Kalideres, Sawah Besar, Cilincing dan Tanjung Priok. Sedangkan wilayah pajanan udara rendah diwakili oleh Kecamatan: Jagakarsa, Pasar Rebo, dan Cipayung..

Sekolah Dasar yang terpilih pengelompokan(cluster sampling):

secara

Wilayah Tingkat Pajanan Udara Tinggi(high exposure) 1. Kec Kalideres : SDN Semanan 12 Pagi, SD Putra Nusa II, SDN Pegadungan 06 Pagi, SD Galatia 03 2. Kec Palmerah : SDN Kota Bambu 5 Pagi, SDN Kemanggisan 12 Pagi, 3. Kec Tanjung Priok : SDN Sunter Agung 13 Pagi, SD Taman Harapan, SD Barunawati 3 4. Kec Cilincing : SDN Marunda 4 Petang, SDN Semper Barat 11 Pagi, SDN Kali Baru 6 Petang 5. Kec Sawah Besar : SDN Pasar Baru 10 Petang, SDN Mangga Dua Sel. 3 Pagi Wilayah Tingkat Pajanan Udara Rendah(low exposure). 1. Kec Jagakarsa : SDN Tanjung Barat 8 Pagi, SDN Jagakarsa 10 Pagi, SDN Srengseng Sawah 12 Pagi, SDN Cipedak 3 Pagi, SDN Lenteng Agung 2 Petang 2. Kec Pasar Rebo : SDN Pekayon 1 Pagi, SDN Pekayon 13 Petang, SDN Kalisari 4 Pagi, SDN Baru 1 Pagi, SDN Cijantung 7 Pagi, SD Islam PB Sudirman 1, SDN Gedong 10 Pagi 3. Kec Cipayung : SDN Cilangkap 05 Petang, SDN Bambu Apus 05 Pagi Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah murid kelas 3 dan 4 Sekolah Dasar yang bersekolah di DKI Jakarta. Murid kelas 3 dan kelas 4 sangat berisiko dibandingkan dengan kelas 1 dan kelas 2, karena waktu pajanan pencemaran udara terhadap murid kelas 3 dan kelas 4 lebih lama berada disekolah dibandingkan dengan murid kelas 1 dan kelas 2. Besar sampel minimum didapatkan dari perhitungan rumus sampling studi kohor dibawah ini:

(z n=

1−α

2 P(1 − P ) + z1− β P1 (1 − P1 ) + P2 (1 − P2 )

)

2

( P1 − P2 ) 2

P1 + P2 2 P1 = RR * P2 P=

125


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Hasil dari perhitungan rumus diatas dengan asumsi tingkat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 90% didapatkan sampel minimum 131 murid pada masing-masing kelompok tingkat pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta, berarti jumlah sampel minimum dalam penelitian ini sebanyak 262 murid. Dalam studi ini diambil sampel terdiri dari 28 sekolah dengan menggunakan cluster sampling (pengelompokan) yang terpilih 14 sekolah dasar di wilayah pajanan udara tinggi dan 14 sekolah dasar di wilayah pajanan udara rendah. Masing-masing sekolah terpilih 14 murid sebanyak 7 murid kelas 3 dan 7 murid kelas 4 yang terpilih secara acak untuk menjadi subyek penelitian. Dengan demikian, secara total terdapat 392 responden di DKI Jakarta dalan studi ini. Sampel yang dapat di observasi dan dianalisis dalam penelitian ini adalah 350 responden Jenis Penelitian Penelitian ini dibiayai oleh JICA(Japan International Cooperation Agency) yang merupakan studi observasi yang bersifat analitik dengan pendekatan rancangan studi yang digunakan kohort kedepan(prospective cohort), yaitu melakukan pengamatan pada subyek penelitian setiap hari dan diikuti selama 3 bulan untuk dicatat terjadinya gangguan saluran pernapasan pada periode waktu tersebut. Studi analitik ini untuk menilai, memperkirakan dengan interpretasi yang tepat dan akurat mengenai fenomena lingkungan dan individu serta menganalisa uji hipotesa-hipotesa serta interpretasi yang lebih mendalam tentang hubungan tingkat risiko dengan kejadian penyakit dengan analisis survival. Bahan dan Cara Kerja Lembar observasi mengenai gangguan saluran pernapasan siswa Sekolah Dasar di DKI Jakarta didapat dari pengisian kuesioner yang dititipkan melalui wali/guru kelas masing-masing, dengan cara mewawancarai dan mengamati (observasi) masing-masing murid yang terpilih

126

menjadi subyek penelitian kemudian hasilnya diambil setiap 2 minggu sekali selama 3 bulan waktu penelitian berlangsung. Analisis Data Seluruh data yang terkumpul yaitu data-data lembar observasi gangguan saluran pernapasan murid sekolah dasar di DKI Jakarta dianalisis menggunakan metode analisis survival dengan perangkat lunak Intercooled STATA versi 9.2 (license) Analisa data yang dilakukan adalah : 1. Metode life table atau dikenal dengan nama metode actuarial atau Cutler-Ederer. Penggunaan metode ini dengan cara menentukan interval waktu yang dikehendaki, yang menghasilkan life table non parametrik dan dapat membandingkan life expectancy dan risiko(hazard) antar 2 kelompok. 2. Metode Kaplan-Meier hampir sama dengan metode life table, yaitu menghasilkan tabel kehidupan non parametrik dan dapat melakukan uji survival antar kelompok, pada metode life table waktu survival dibagi menurut kelas interval, sedangkan pada metode Kaplan-Meier menghasilkan estimasi survival pada waktu kejadian(event) yang terjadi. 3. Uji Log-rank(Log-rank test) uji statistik untuk membedakan atau membandingan kurva survival bermakna atau tidak antara dua kelompok. HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Pajanan Pencemaran Udara dengan Lama Life expectancy SakitTenggorokan Hasil analisis dilakukan dari 350 murid yang dapat diobservasi telah memberikan gambaran murid yang sakit tenggorokan sebanyak 178 murid (50,9%) mengalami event yaitu dari keadaan tidak sakit menjadi sakit tenggorokan dan 172 murid (49,1%) yang mengalami sensor dimana sampai akhir pengamatan belum terjadi event.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Tabel. 1 Distribusi statistik gangguan saluran pernapasan dengan tingkat pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta

event Sakit Tenggorokan Batuk-batuk > 5 kali Hidung Berair/berlendir Kesulitan Bernapas

High Low High Low High Low High Low

73 105 115 122 87 128 51 62

censoring Incidence rate 95 77 53 60 81 54 117 120

Pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,16 dan median life expectancy sakit tenggorokan selama 3 hari, dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 2 sampai 4 hari, sedangkan pada wilayah pajanan sedang/rendah(low exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,11 dan median life expectancy sakit tenggorokan 7 hari, dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi

0.16 0.11 0.14 0.15 0.14 0.12 0.19 0.13

Median

95% CI

3 7 2 2 2 4 2 5

2-4 3-8 1-5 1-3 1-5 3-6 1-4 2-7

p-value (log-rank test) 0.0288 0.7069 0.4321 0.1187

interval 3 sampai 8 hari life expectancy sakit tenggorokan. Berdasarkan hasil analisis life table, didapatkan probabilitas life expectancy kumulatif (atau bebas penyakit) sakit tenggorokan sampai akhir minggu pertama 56% pada wilayah pajanan tinggi dan 64% pada wilayah pajanan rendah. Hasil uji statistik Log-rank(Log-rank test) untuk membandingkan life expectancy diantara wilayah didapatkan nilai p-value 0,0288.

Gambar.1 Probabilitas Life Expectancy Sakit Tenggorokan Murid Sekolah Dasar Menurut Waktu Survival Sakit Tenggorokan dengan Tingkat Pajanan Pencemaran udara di DKI Jakarta

Dari data ini, dapat diinterpretasikan tingkat pajanan pencemaran udara berkorelasi dengan kejadian sakit tenggorokan, artinya pada wilayah pajanan tinggi diperoleh probabilitas kesakitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah pajanan redah. Tapi kalau dilihat dari selisih probabilitas kesakitan sakit tenggorokan tidaklah terlalu jauh perbedaannya. Dari sini dapat diperkirakan beban pajanan pencemaran udara pada wilayah yang rendah sekalipun angka probabilitas sakit tenggorokan bisa dikatakan hampir sama dengan probabilitas kejadian sakit tenggorokan pada wilayah pajanan tinggi.

Bila dilihat pada kurva dan perhitungan estimasi Kaplan Meier pada Gambar. 1 didapatkan probalibilitas life expectancy sakit tenggorokan 3 hari pada wilayah pajanan tinggi dan 7 hari pada wilayah pajanan rendah dalam persentil 50 atau median life expectancy sakit tenggorokan murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Dari data ini dapat diinterpretasikan bahwa setengah atau 50% murid sekolah dasar pada wilayah pajanan tinggi akan bertahan tidak(atau bebas penyakit) sakit tenggorokan selama 3 hari sejak dari awal sampai berakhirnya observasi. Sedangkan setengah atau 50% murid sekolah dasar pada wilayah

127


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

rendah akan bertahan tidak(atau bebas penyakit) sakit tenggorokan selama 7 hari sejak awal sampai berakhirnya observasi. Disini dapat disimpulkan bahwa murid pada wilayah pajanan rendah akan lama survive sakit tenggorokan dibandingkan dengan wilayah pajanan tinggi. Hasil uji statistik Logrank(Log-rank test) didapatkan p-value 0,0288, artinya perbandingan hasil estimasi kurva life expectancy sakit tenggorokan antara wilayah pajanan menunjukan hasil yang signifikan. Data Kuliatas Udara Tahun 2003 dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta tambah memperjelas hubungan ini, bahwa kejadian sakit tenggorokan sangat dipengaruhi kualitas udara yang buruk, disebutkan bahwa kosentrasi harian untuk parameter partikulat(PM10) dan carbon monoksida(CO) kosentrasi maksimum tertinggi berada pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) tepatnya di Casablanca Jakarta Pusat. Sedangkan Kosentrasi karbon monoksida(CO) maksimum terendah berada pada wilayah pajanan rendah(low exposure) tepatnya di Kantor Wali Kota Jakarta Timur.

Tingkat Pajanan Pencemaran Udara dengan Lama Life expectancy Batuk- batuk lebih dari 5 kali. Hasil analisis dilakukan dari 350 murid yang dapat diobservasi telah memberikan gambaran murid yang batuk-batuk lebih dari 5 kali sebanyak 237 murid (67,7%) mengalami event yaitu dari keadaan tidak sakit menjadi batuk-batuk lebih dari 5 kali dan 113 murid (32,3%) yang mengalami sensor dimana sampai akhir pengamatan belum terjadi event. Pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,14 dan diperoleh median life expectancy batuk-batuk lebih dari 5 kali adalah 2 hari dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 1 sampai 5 hari sedangkan pada wilayah pajanan sedang/rendah(low exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,15 dan median life expectancy batuk-batuk lebih dari 5 kali 2 hari dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 1 sampai 3 hari life expectancy batuk-batuk lebih dari 5 kali. Berdasarkan hasil analisis life table, didapatkan life expectancy kumulatif (atau bebas penyakit) batuk-batuk lebih 5 kali sampai akhir minggu pertama 48% pada wilayah pajanan tinggi dan 42% pada wilayah pajanan rendah. Hasil uji statistik Log-rank(Log-rank test) untuk membandingkan life expectancy diantara wilayah didapatkan nilai p-value 0,7069.

Gambar 2 Probabilitas Life expectancy Batuk-batuk Lebih dari 5 Kali Murid Sekolah Dasar Menurut Waktu Survival Batuk-batuk Lebih dari 5 Kali dengan Tingkat Pajanan Pencemaran Udara di DKI Jakarta

128


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Bila dilihat pada kurva dan perhitungan estimasi Kaplan Meier pada Gambar.2 didapatkan probalibilitas life expectancy batuk-batuk lebih dari 5 kali 2 hari pada wilayah pajanan tinggi dan 2 hari pada wilayah pajanan rendah dalam persentil 50 atau median life expectancy batuk-batuk lebih dari 5 kali murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Dari hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa setengah atau 50%, baik dari murid sekolah dasar pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) dan murid sekolah dasar pada kelomok pajanan rendah(low exposure) akan dapat bertahan tidak(atau bebas penyakit) mengalami batuk-batuk lebih dari lima kali selama 2 hari sejak awal sampai berakhirnya observasi. Dari hasil ini dapat menunjukan bahwa life expectancy murid sekolah dasar untuk tidak mengalami batuk-batuk lebih dari 5 kali pada kedua wilayah sama. Hasil uji statistik Log-rank(Log-rank test) didapatkan p-value 0,7069, artinya perbandingan hasil estimasi kurva life expectancy untuk tidak mengalami batuk-batuk lebih dari 5 kali antara wilayah pajanan menunjukan hasil yang tidak signifikan. Dari hasil ini dapat dijelaskan bahwa hubungan gejala batuk-batuk lebih dari 5 kali dengan tingkat pajanan pencemaran udara di wilayah pajanan rendah tidak terlalu jauh berbeda hubungan gejala batuk-batuk lebih dari 5 kali dengan tingkat pajanan pencemaran udara di wilayah pajanan tinggi.

Data ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) tahun 2003 yang diperoleh dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah(BPLHD) DKI Jakarta, menunjukan pada bulan Maret, April, dan Juni mulai ditemukan kualitas udara yang tidak sehat di Jakarta, bulan April mencapai 23,33%, bulan Mei 29,03%, dan bulan Juni 6,67% , artinya kondisi tahun lalu pada bulan Maret, April, Juni persisnya pada bulan ini tahun 2004 penelitian ini berlangsung menunjukan kualitas udara di jakarta sudah tidak sehat lagi, kualitas udara pada tahun lalu juga tidak jauh berbeda dengan tahun 2004 sekarang berdasarkan probabilitas kesakitan batuk-batuk lebih dari 5 kali yang dihasilkan dalam penelitian ini, pajanan pencemaran udara yang dilihat buruknya kualitas udara di DKI Jakarta menunjukan hubungan yang seiring terjadinya kejadian gangguan saluran pernapasan khususnya pada gejala batuk-batuk lebih dari 5 kali pada murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Tingkat Pajanan Pencemaran Udara dengan Lama Life expectancy Hidung Berair/berlendir. Hasil analisis dilakukan dari 350 murid yang dapat diobservasi telah memberikan gambaran murid yang hidung berair/berlendir sebanyak 215 murid (61,4%) mengalami event yaitu dari keadaan tidak sakit menjadi hidung berair/berlendir dan 135 murid (38,6%) yang mengalami sensor dimana sampai akhir pengamatan belum terjadi event.

Gambar 3 Probabilitas Life expectancy Hidung berair/berlendir Murid Sekolah Dasar Menurut Waktu Survival Hidung Berair/Berlendir dengan Tingkat Pajanan Pencemaran Udara di DKI Jakarta

129


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,14 dan median life expectancy hidung berair/berlendir 2 hari dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 1 sampai 5 hari life expectancy hidung berair/ berlendir, sedangkan pada wilayah pajanan sedang/ rendah(low exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,12 dan median life expectancy hidung beair/berlendir 4 hari dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 3 sampai 6 hari life expectancy hidung berair/berlendir. Berdasarkan hasil analisis life table, didapatkan probabilitas life expectancy kumulatif (atau bebas penyakit) hidung berair/berlendir sampai akhir minggu pertama 54% pada wilayah pajanan tinggi dan 52% pada wilayah pajanan rendah. Hasil uji statistik Log-rank(Log-rank test) untuk membandingkan life expectancy diantara wilayah didapatkan nilai p-value 0,4321. Bila dilihat pada kurva dan perhitungan estimasi Kaplan Meier pada Gambar.3 didapatkan probalibilitas life expectancy hidung berair/berlendir 2 hari pada wilayah pajanan tinggi dan 4 hari pada wilayah pajanan rendah dalam persentil 50 atau median life expectancy hidung berair/berlendir murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Dari hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa setengah atau 50% murid sekolah dasar pada wilayah pajanan tinggi akan bertahan tidak(atau bebas penyakit) mengalami hidung berair/berlendir selama 2 hari sejak dari awal sampai berakhirnya observasi. Sedangkan setengah atau 50% murid sekolah dasar pada wilayah rendah

akan bertahan tidak(atau bebas penyakit) mengalami hidung berair/berlendir selama 4 hari sejak awal sampai berakhirnya observasi. Dari hasil ini menunjukan bahwa murid sekolah dasar pada wilayah pajanan rendah(low exposure) lebih lama bertahan untuk tidak mengalami hidung berair/berlendir dibandingkan dengan wilayah pajanan tinggi(high exposure). Hasil uji statistik Log-rank(Log-rank test) didapatkan p-value 0,5373, artinya perbandingan hasil estimasi kurva life expectancy untuk tidak mengalami hidung berair/berlendir antara wilayah pajanan menunjukan hasil yang tidak signifikan. Kejadian hidung berair/berlendir pada murid sekolah dasar pada wilayah tingkat pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta dalam penelitian ini menunjukan keadaan yang sama dalam klasifikasi yang telah ditetapkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah(BPLHD) DKI Jakarta dan Pusat Pengendalian Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2000 dan 2001, artinya kejadian hidung berair/berlendir pada murid sekolah dasar berhubungan dengan tingkat pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta. Tingkat Pajanan Pencemaran Udara dengan Lama Life expectancy Kesulitan Bernapas Hasil analisis dilakukan dari 350 murid yang dapat diobservasi telah memberikan gambaran murid yang kesulitan bernapas sebanyak 113 murid (32,3%) mengalami event yaitu dari keadaan tidak sakit menjadi kesulitan bernapas dan 237 murid (67,7%) yang mengalami sensor dimana sampai akhir pengamatan belum terjadi event.

Gambar 4 Probabilitas Life expectancy Kesulitan Bernapas Murid Sekolah Dasar Menurut Waktu Survival Kesulitan Bernapas dengan Tingkat Pajanan Pencemaran Udara di DKI Jakarta

130


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,19 dan median life expectancy kesulitan bernapas 2 hari dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 1 sampai 4 hari life expectancy kesulitan bernapas, sedangkan pada wilayah pajanan sedang/ rendah(low exposure) diperoleh angka kesakitan (incidence rate) 0,13 dan median life expectancy kesulitan bernapas 5 hari dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan estimasi interval 2 sampai 7 hari life expectancy kesulitan bernapas. Berdasarkan hasil analisis life table, didapatkan life expectancy kumulatif (atau bebas penyakit) kesulitan bernapas sampai akhir minggu pertama 65% pada wilayah pajanan tinggi dan 70% pada wilayah pajanan rendah. Hasil uji statistik Log-rank(Log-rank test) untuk membandingkan life expectancy diantara wilayah didapatkan nilai p-value 0,1187. Bila dilihat pada kurva dan perhitungan estimasi Kaplan Meier pada Gambar.4 didapatkan probalibilitas life expectancy kesulitan bernapas 2 hari pada wilayah pajanan tinggi dan 5 hari pada wilayah pajanan rendah dalam persentil 50 atau median life expectancy kesulitan bernapas murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Dari hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa setengah atau 50% murid sekolah dasar pada wilayah pajanan tinggi akan bertahan tidak mengalami kesulitan bernapas selama 2 hari sejak dari awal sampai berakhirnya observasi. Sedangkan setengah atau 50% murid sekolah dasar pada wilayah rendah akan bertahan tidak mengalami kesulitan bernapas selama 5 hari sejak awal sampai berakhirnya observasi. Dari hasil ini menunjukan bahwa murid sekolah dasar pada wilayah pajanan rendah(low exposure) lebih lama bertahan untuk tidak(atau bebas penyakit) mengalami kesulitan bernapas dibandingkan dengan wilayah pajanan tinggi(high exposure). Hasil uji statistik Logrank(Log-rank test) didapatkan p-value 0,1187, artinya perbandingan hasil estimasi kurva life expectancy untuk tidak mengalami kesulitan bernapas antara wilayah pajanan menunjukan hasil yang tidak signifikan. Dari 4(empat) bentuk gejala dari gannguan saluran pernapasan yang diambil dan dianalisis dalam penelitian ini, angka kesakitan(incidence rate) pada masing-masing gejala menunjukan angka lebih tinggi pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) dibandingkan dengan wilayah pajanan rendah(low exposure), dapat dikatakan hampir 50% murid sekolah dasar mengalami kejadian gangguan saluran

pernapasan dari hasil probabilitas kejadian masingmasing dari gejala gangguan saluran pernapasan. Dari pengklasifikasian kualitas udara yang dibuat oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah(BPLHD) DKI Jakarta dan Pusat Pengendalian Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2000 dan 2001 menunjukan probabilitas yang sama atau seiring diikuti dengan angka kesakitan(incidence rate) gejala gangguan saluran pernapasan murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Dari selisih angka kesakitan(incidence rate) antara wilayah pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta yang tidak terlalu jauh, menunjukan bahwa pada wilayah pajanan rendah(low exposure) juga sangat berisiko terhadap gangguan saluran pernapasan, dari hasil ini juga dapat dikatakan bahwa kualitas udara di DKI Jakarta termasuk katagori pajanan tinggi(high exposure), ini dibuktikan dari data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukan sepanjang pertengahan tahun 2003, jumlah penderita ISPA tercatat 2.297 orang dan Data ISPU(Indeks Standar Pencemara Udara) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah(BPLHD) DKI Jakarta yang dihimpun sepanjang 2001-2003 menunjukan bahwa warga DKI Jakarta menghirup udara sehat hanya 26 hari dalam setahun. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN 1. Hubungan gannguan saluran pernapasan dengan gangguan saluran pernapasan sangat positif, Dari 4(empat) bentuk gejala dari gangguan saluran pernapasan yang diambil dan dianalisis dalam penelitian ini, angka kesakitan(incidence rate) pada masingmasing gejala menunjukan angka lebih tinggi pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) dibandingkan dengan wilayah pajanan rendah(low exposure). 2. Didapatkan hampir 50% murid sekolah dasar mengalami kejadian gangguan saluran pernapasan berdasarkan hasil probabilitas kejadian masing-masing dari gejala gangguan saluran pernapasan yang diobservasi. 3. Probabilitas life expectancy pada wilayah pajanan rendah(low exposure) lebih tinggi/ lama untuk tidak mengalami gejala gangguan saluran pernapasan dibandingkan dengan wilayah pajanan tinggi(high exposure)

131


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

4. Ditemukan adanya perbedaan yang signifikan/bermakna gejala sakit tenggorokan murid sekolah dasar di DKI Jakarta diantara klasifikasi wilayah pajanan pencemaran udara di DKI Jakarta. Dengan probalibilitas life epectancy sakit tenggorokan 3 hari pada wilayah pajanan tinggi(high exposure) dan 7 hari pada wilayah pajanan rendah(low exposure) dalam persentil 50 atau median life expectancy sakit tenggorokan murid sekolah dasar di DKI Jakarta. SARAN 1. Mengingat hampir sama tingginya angka kesakitan(incidence rate) pada wilayah pajanan rendah(low exposure) dengan wilayah pajanan tinggi(high exposure) perlunya perhatian khusus dan intervensi pengendalian dan pengelolaan secara komprehensif mengenai pencemaran udara di DKI Jakarta. 2. Perlunya penyampaian informasi promosi kesehatan(penyuluhan) terhadap murid sekolah dasar melalui wali kelas dan orang tua mengenai dampak faktor risiko pencemaran udara terhadap kesehatan dan khususnya gangguan saluran pernapasan.

132

DAFTAR PUSTAKA 1. Achmadi UF. Faktor-faktor penyebab ISPA dalam lingkungan rumah tangga di Jakarta tahun 1990-1991. Lembaga Penelitian Universitas Indonesia 1991. 2. Arya WW. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi Offset. Yogyakarta; 1999. 3. BPS. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Badan Pusat Statistik (BPS) & ORC Marco, Maryland, USA; 2003. 4. Depkes RI. Pedoman Program Penyakit Infeksi saluran Pernapasan Akut Untuk Penanggulangan Pnemonia pada Balita. Jakarta: Ditjen PPM & PLP Depkes RI; 2000. 5. Fardiaz S. Polusi Air dan Udara. Jakarta: Penerbit Kanisius; 1992. 6. Jenkins SP. Essex Summer School Course “Survival Analysis” Module, Preparing Survival Time Data for Analysis an Estimation. University of Essex; 2003. 7. Jenkins SP. Essex Summer School Course “Survival Analysis” Module, Estimation of The(Integrated) Hazard and Survivor Fuctions: Kaplan Meier Product-Limit and Life Table Methods. University of Essex; 2003. 8. Kate B. Statistics in Medicine, Tutorial in Biostatistics Survival in Obervasional Studies. John Wiley & Sons, Ltd; 1997. 9. Lu, Frank C. Basic Toxicology 2nd Edition. Hemisphere Publishing Cooperation. USA.; 1991 10. Kleinbaum DG. Survival Analysis, A Self-Learning Text. SpringerVerlag New York.Inc; 1996 11. Purwana R. Partikulat Rumah Sebagai Faktor Risiko Gangguan Pernapasan Anak Balita(penelitian di Kel.Pekojaan. Disertasi Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat. FKM-UI; 1999 12. WHO. Health Research Methodology, A Guide for Training in Research Methods. World Health Organization. Geneva.; 1992 13. Benarkah Udara Jakarta Semakin Polutif?. Kompas. 2003 5 Juni 2003. 14. Lima Stasiun Pemantau Kualitas Udara Rusak. Media Indonesia. 2003.


ARTIKEL PENELITIAN

HUBUNGAN KEJADIAN PENDARAHAN POS PARTUM DINI DENGAN PANITAS DI RSUD Dr. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2005 Miswarti*

ABSTRACT The post partum bleeding was a casual of serious blood lose which most commonly found in obstetrics case and was most casual of death in from all motherâ&#x20AC;&#x2122;s mortality case. The objectives of this research was o find out the early post partum incident in RSUD Dr. M. Djamil Padang in 2005 compare with all childbird case during 005 in RSUP Dr. M. Djamil Padang , and to find out early post partum incident in RSUP Dr. M. Dlail Padang according to the parity based on the number of early post partum bleeding in 2005. Kind of research was descriptive retrospective research with all of mother who giving birth in RSUP Dr. M. Djamil Padang which experiences the post partum bleeding as the population. The sample was all of mother who gave birth with experiences post partum bleeding based on parity. Data was taken through data collection format. Data analysis used univariate and bivariate analysis. The result found that the post partum bleeding incident in RSUD Dr. M Djamil Padang in 2005 was 4,40% from all of the childbirth, whereas post partum bleeding was in second place of ten most obstetrics case in RSUP Dr. M. Djamil Padang. There was also found that the incident rate of 1 parity were 15 cases or 11,54 %. 2-3 parity was 52 case or 40 % and 4 or more parity was higher compare to 2-3 parity, wich are 63 case or 48,46%. Bivariate analysis found that calculate X2 > X2 table, so it can concludes that there was a significant relationship between post partum bleeding in RSUP Dr. M. Djamil Padang with parity. Researcher advising the paramedics to inform the society to not having children more than 4, because it could increse the risks on the next childbirth which one of them is post partum bleeding. Keywords: Parity, Early Postpartum Bleeding, Health Service

PENDAHULUAN Salah satu masalah penting dalam bidang obstetrik dan ginekologi adalah masalah perdarahan. Walaupun angka kematian maternal telah menurun secara dramatis dengan adanya pemeriksaanpemeriksaan dan perawatan kehamilan dan persalinan di Rumah Sakit dan adanya fasilitas transfusi darah, namun kematian ibu akibat perdarahan masih tetap merupakan faktor utama dalam kematian maternal (Khoman, 1992). Di Indonesia angka kematian ibu hamil relatif tinggi. Pada tahun 1998 kematian maternal diperkirakan 450/100.000 kelahiran hidup, angka tersebut adalah tertinggi di Asia Tenggara yang rataratanya hanya 5-142 / 100.000 kelahiran hidup dan 50 sampai lebih tinggi dari pada angka kematian maternal di negara-negara maju yang hanya berkisar 5-10 / 100.000 kelahiran hidup. (Prawiharjo, 1991) Perdarahan obstetri dapat terjadi setiap saat, baik selama kehamilan, persalinan, maupun masa

nifas. Oleh karena itu setiap perdarahan yang terjadi dalam masa kehamilan, persalinan maupun nifas harus dianggap sebagai suatu keadaan akut dan serius, karena dapat membahayakan ibu dan janin (Khoman, 1992). Perdarahan post partum merupakan penyebab kehilangan darah serius yang paling sering dijumpai di bagian obstetrik. Sebagai faktor penyebab langsung kematian ibu perdarahan post partum merupakan penyebab sering terdapat dari keseluruhan kematian akibat perdarahan obstetrik yang disebabkan dari perdarahan post partum, plasenta previa, solusio plasenta, kehamilan ektopik terganggu, perdarahan akibat abortus dan ruptura (Cunningham, hal 19). Banyak faktor yang mempunyai arti penting baik sendiri maupun secara gabungan di dalam menimbulkan perdarahan post partum dini. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor predisposisi untuk tingginya perdarahan post partum dini (Cunningham, hal 19), dimana wanita dengan paritas tinggi menghadapi resiko perdarahan akibat atonia uteri yang semakin meningkat (Cunningham, hal 19).

* Staf Pengajar Politeknik Kesehatan Padang

133


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk membuat penelitian dengan judul â&#x20AC;&#x153;HUBUNGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM DINI DENGAN PARITAS DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANGâ&#x20AC;?. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui insiden perdarahan post partum dini di RSUP Dr. M. Djamil tahun 2005 dibandingkan dengan seluruh kasus persalinan selama tahun 2005 di RSUP Dr. M. Djamil Padang. 2. Mengetahui insiden perdarahan post partum di RSUP Dr. M. Djamil menurut paritas berdasarkan jumlah kasus perdarahan post partum dini tahun 2005. Kerangka Pemikiran Perdarahan postpartum adalah hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ â&#x20AC;&#x201C; organ reproduksi setelah selesainya kala III persalinan (Wati, M, 1996). Perdarahan post partum apabila perdarahan setelah anak lahir melebihi 500 ml. Perdarahan primer terjadi dalam 24 jam pertama dan sekunder sesudah itu (Prawirohardjo, 1992). Penyebab tersering perdarahan postpartum yaitu atonia uteri, laserasi jalan lahir dan tertinggalnya plasenta atau selaput plasenta (Hibberd, 1982) KERANGKA KONSEP Adapun kerangka konsep dari penelitian ini adalah :

Perdarahan Postpartum

Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah : 1. Format pengumpulan data 2. Catatan rekam medik RSUP M. Djamil Padang 3. Status pasien dengan perdarahan postpartum. Pengolahan Data dan Analisis Data Data yang diperoleh akan diolah secara manual, kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi, setelah itu dianalisis untuk melihat hubungan antar variabel. Dilakukan pengujian statistik chi square dengan derajat kemaknaan pda signifikan 0,05 dengan df 2. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan cara : a). Analisis Univariat, untuk menggambarkan distribusi frekuensi dari beberapa variabel yang diteliti. b). Analisis Bivariat, untuk melihat hubungan antara dua variabel (variabel independen dan variabel dependen). Apabila X2 hitung > X2 tabel maka ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, apabila X2 hitung < X2 tabel maka tidak ada hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. HASIL PENELITIAN

Paritas

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan cara menganalisis catatan medik kasus perdarahan postpartum yang dirawat di RSUP M. Djamil Padang tahun 2005 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di RSUP M. Djamil Padang pada bagian obstetri dan ginekologi, mulai pada tanggal 15-30 mei 2005. Populasi dan Sampel Populasi adalah semua ibu yang melahirkan

134

yang mengalami perdarahan postpartum di RSUP M. Djamil Padang. Sampel adalah seluruh ibu yang melahirkan yang mengalami perdarahan postpartum berdasarkan paritas.

Insiden Kejadian Perdarahan Pospartum Di RSUP M. Djamil Padang Dari hasil penelitian diketahui bahwa kejadian perdarahan postpartum di RSUP M. Djamil Padang sebanyak 4,40 % dari semua persalinan di mana kasus perdarahan postpartum merupakan urutan kedua dari sepuluh kasus kebidanan terbanyak di RSUP M. Djamil Padang. Insiden Kejadian Perdarahan Postpartum Menurut Paritas Dari hasil penelitian diketahui bahwa angka kejadian paritas 1 sebanyak 15 kasus atau 11,54 %. Paritas 2-3 sebanyak 52 kasus atau 40 % sedangkan paritas besar sama empat lebih tinggi dibandingkan paritas 2-3 yaitu sebanyak 63 kasus atau 48,46 %.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Analisis bivariat Hubungan Kejadian Perdarahan Postpartum Dini Dengan Paritas Di RSUP M. Djamil Padang Dari hasil penelitian diketahui bahwa X2 hitung > X2 tabel, sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara perdarahan postpartum dengan paritas di RSUP M. Djamil Padang PEMBAHASAN 1. Insiden Kejadian Perdarahan Postpartum Menurut di RSUP M. Djamil Padang sebanyak 4,40 % dari semua persalinan di mana kasus perdarahan postpartum merupakan urutan kedua dari sepuluh kasus kebidadanan terbanyak di RSUP M. Djamil Padang. Hal ini sesuai dengan keadaan RSUP Dr M Djamil Padang sebagai rumah sakit rujukan terbesar di Sumatra Barat sehingga sebagian besar kasus patologis dirujuk ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan segera. 2. Insiden Kejadian Perdarahan Postpartum Menurut Paritas diketahui bahwa angka kejadian paritas 1 sebanyak 15 kasus atau 11,54 %. Paritas 2-3 sebanyak 52 kasus atau 40 % sedangkan paritas besar sama empat lebih tinggi dibandingkan paritas 2-3 yaitu sebanyak 63 kasus atau 48,46 %. Hal ini sesuai yang dikemukakan Cunningham (2000) bahwa wanita dengan paritas tinggi menghadapi resiko perdarahan akibat atonia uteri yang semakin meningkat sehingga dapat menyebabkan perdarahan post partum dini. 3. Hubungan Kejadian Perdarahan Postpartum Dini

Dengan Paritas Di RSUP M. Djamil Padang dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara perdarahan postpartum dengan paritas. Hal ini sesuai dengan yang di kemukakan Cunningham (2000) bahwa paritas tinggi merupakan salah satu faktor predisposisi untuk tingginya perdarahan post partum dini. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil penelitian maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1. Angka kejadian perdarahan postpartum di RSUP M. Djamil Padang tahun 2005 adalah 130 orang (4,40 %) 2. Paritas mempunyai faktor resiko terhadap perdarahan postpartum 3. sebagian besar perdarahan postpartum terjadi pada paritas eâ&#x20AC;? 4 yaitu sebanyak 63 orang (48,46 %). Saran Baerdasarkan kesimpulan di atas maka dapat dikemukakan beberapa saran yaitu : 1. Perlu tenaga penolong persalinan yang terampil dalam pengawasan persalinan pada ibu yang paritasnya tinggi 2. Kepada tenaga kesehatan agar memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar mempunyai anak tidak lebih dari 4 karena akan meningkatkan resiko dalam persalinan selanjutnya salah satunya perdarahan post partum.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3.

4.

5.

6. 7. 8. 9.

Abdullah MN, Gangguan dalam kala III persalinan, Ilmu kebidanan. Oleh Prawirohardjo, YBP-SP, 1991 Adersen FH, Hopkins M, Post Partum Hemorrhagie, Gynecology and Obstetri, Happer and Row Publication, 1989 Beydoun SN, Post Partum Complication, Diagnosis And Manajemen Of Obstetrik Emergencies, Addison-Wesley Publishing Company Inc, 1992 Greenhill, Third Stage Pathology, Biological Principanls and Modern Practice of Obstetricks, WB Saunders Company USA, 1984. Habbard LT, Complication of Labor and Delivery, Ralph C Benson Current Obstetricks and Gynecology, 4th edition, lange medical publication, Los Altos California, 1982. Khoman JS, Perdarahan hamil tua dan perdarahan postpartum, majalah cermin dunia kedokteran Indonesia, 1992 Lewis TLT, Chamberlein GVP, Obstetricks By Ten Teacher, 15 Th edition, Butler & Tanner Ltd, Frome And London, 1992 Prabowo RP, Perdarahan Post Partum, Ilmu Bedah Kebidanan, Prawirohardjo, 1991 Cunningham F. Gany, Md, Mac Donal Paul C, MD, Gant Norman F, M.D Obstetri Williams ( William Obstetric), EGC, 2000

135


STUDI LITERATUR

PEMBANGUNAN PARIWISATA BERWAWASAN KESEHATAN DI SUMATERA BARAT Nizwardi Azkha*

Pendahuluan Kepulauan Nusantara yang terkenal dengan sebutan untaian Zamrud di Khatulistiwa, potensial sebagai tempat pariwisata. Ciri khas kebudayaan satu daerah yang berlainan dengan daerah lainnya, serta keramahtamahan penduduknya merupakan sebagian dari citra yang memiliki daya pikat bagi para wisatawan. Kegiatan pariwisata yang pada hakekatnya merupakan suatu perjalanan yang diatur untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna melihat keindahan alam, mesakan kesejukan pegunungan, melihat atraksi-atraksi kebudayaan, tempat-tempat bersejarah ataupun tempat-tempat yang dianggap suci ataupun sacral. Adapun bentuk motivasi perjalanan wisata yang dapat dilakukan antara lain adalah bertamasya, kesehatan, studi, keagamaan, berlibur dan sebagainya. Dalam kepariwisataan terdapat keterkaitan yang erat antara kegiatan pariwisata dalam aspek sosial dimana menyangkut hubungan antara manusia, yaitu wisatawan dengan masyarakat lokal di daerah tujuan wisata, di samping itu kegiatan pariwisata tidak menutup kemungkinan akan membawa dampak terhadap lingkungan fisik di daerah tujuan tersebut. . Faktor lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang sangat berhubungan terhadap derajat kesehatan masyarakat, karenanya perlu memperoleh perhatian secara sungguh-sungguh terutama di daerah tujuan wisata. Perilaku sehat yang diharapkan adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan.

*Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand

136

Sedangkan lingkungan sehat adalah lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, yaitu bebas polusi, pemukiman yang sehat, tersedianya air bersih, dan pengelolaan sampah yang sehat. Permasalahan yang ditemui dalam pengelolaan Daerah Tujuan Wisata khususnya di Sumatera Barat adalah bidang lingkungan dan perilaku yang saat ini belum dilaksanakan secara optimal. Dari perilaku yang terlibat dengan objek pariwisata seperti pelaku para penjual makanan dan minuman, asongan, dan warung makanan kadangkala seenaknya saja membuang sisa makanan atau sampah ke riol, kesembarang tempat, begitu juga pengunjungpun ada pula yang tidak peduli dengan kebersihan dan kesehatan karena seenaknya pula membuang bungkusan nasi, plastik, dan sisa makanan lainnya kelingkungan daerah tujuan wisata, hal ini sudah jelas akan memperburuk dan menimbulkan lingkungan yang kotor, yang akhirnya menbawa dampak malasnya orang berkunjung kelokasi tersebut. Kondisi ini tentu akan merugikan perekonomian dan kesehatan masyarakat. Untuk itu kesehatan lingkungan daerah tujuan wisata sangat penting untuk dipelihara, dijaga dan diperhatikan oleh semua pihak, tidak saja manfaatnya untuk pengunjung (wisatawan) tapi kebersihan dan kesehatan itu adalah untuk masyarakat yang ada di objek wisata dan sekitarnya agar tetap sehat dan produktif. Lingkungan Bersih dan Sehat Sebagai Pendorong Peningkatan Kunjungan Kedaerah Tujuan Wisata Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap derjat kesehatan manusia atau masyarakat. Sedangkan derajat kesehatan masyarakat pada hakekatnya merupakan kontribusi penting bagi kualitas sumber daya manusia, sehingga ada keterkaitan antara mutu lingkungan hidup dengan SDM itu sendiri.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Melihat keberkaitan tersebut, sudah selayaknya bila perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan patut mendapat prioritas. Bukan hanya untuk mencari sebuah kondisi lingkungan yang ideal, akan tetapi lebih jauh lagi pada upaya peningkatan produktivitas sumber daya manusia. Kondisi ini dapat tercapai bila masyarakat semakin meningkatkan kepeduliannya akan kebersihan dan kesehatan lingkungan, dan ini memerlukan faktor-faktor penting yang dapat membangkitkan bentuk kepedulian tersebut khususnya di daerah tujuan wisata. Supaya mempunyai nilai bagi pengembangan pariwisata haruslah bertujuan untuk rekreasi dan berlibur agar dapat memelihara semangat kerja dengan melihat pemandangan alam, kazanah budaya, dan sekaligus dapat memperkaya ilmu pengetahuan. Dilihat dari alasan kenapa orang pergi bertamasya dari sudut kesehatan adalah untuk menghilangkan stress, supaya pikiran tenang lagi, kesehatan dan lain sebagainya, yang penting bagaimana mereka dengan keluarga bisa bersenangsenang. Untuk itu bagi pelaku pariwisata terutama bagi pemandu wisata sudah seharusnya memahami keadaan yang demikian, pengunjung yang datang ingin untuk dilakukan dengan rasa kasih sayang dan dihormati, agar mereka betah untuk berlama-lama di lokasi wisata. Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat Dalam penerapan konsep kesehatan lingkungan yang perlu diperhatikan masyarakat, Ada tiga faktor lingkungan yang perlu mendapat perhatian adalah lingkungan fisik, biologis dan sosial. Lingkungan Fisik Lingkungan fisik ini menyangkut air bersih, udara, limbah cair dan padat, kotoran serta polutan lain yang umumnya dapat dilihat. Selain udara yang tercemar oleh polutan, limbah padat (sampah) juga menjadi masalah kesehatan lingkungan yang rawan, terutama di daerah tujuan wisata. Pembuangan dan penanganan sampah yang tidak tepat akan mengurangi kebersihan, kesehatan dan estetika lingkungan. Limbah cair domestik yang berasal dari kamar mandi, pencucian dan dapur serta industri juga banyak menimbulkan pencemaran terutama pada air tanah, sumur serta air permukaan. Sumber pencemaran pada daerah tujuan wisata adalah dari pedagang makanan, minuman, rumah makan, asongan, pengunjung dan penduduk pada daerah

tujuan wisata, disamping tidak tersedianya tempat pengelolaan sampah dan kurangnya sarana sanitasi seperti MCK, dan saluran air yang tidak baik. Lingkungan Biologis Lingkungan biologis ini dapat memberi pengaruh negatif terhadap kesehatan. Jasad renik seperti virus, jamur, bakteri, cacing dan parasit lainnya yang bersifat patogen dapat menimbulkan penyakit. Begitu juga hewan seperti serangga, nyamuk, lalat, ular, tikus, anjing dan lainnya dapat berperan sebagai perantara penyakit menular. Lingkungan Sosial Lingkungan sosial memberikan dampak negatif yang khusus terhadap kesehatan masyarakat, seperti timbulnya berbagai penyakit yang bersifat somatik, psikosomatik dan psikososial. Derunya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada akhirnya juga menjadi masalah tersendiri. Alkoholisme, penyakit akibat hubungan seksual (AIDS) yang menakutkan bagi kalangan orang tua. Belum lagi masalah kriminalitas yang kian meningkat. Guna menjaga pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh ketiga jenis lingkungan tersebut maka pengetahuan masyarakat khususnya pada daerah tujuan wisata tentang kesehatan lingkungan ini harus benar-benar ditingkatkan. Dengan mengetahui secara jelas dan gamblang mengenai masalah kesehatan lingkungan ini maka kesadaran masyarakat maupun pengunjung dan pelaku wisata lainnya akan timbul. Kesadaran inilah yang menjadi kunci timbulnya kepedulian masyarakat tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masyarakat Peduli Akan Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan Masyarakat sebagai penghuni dan pengguna lingkungan pada dasarnya sangat peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Namun kepedulian tersebut akan tumbuh berkembang bila diiringi faktor yang mempengaruhi tumbuhnya kepedulian itu. Bentuk kepedulian yang bisa dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari datangnya bisa karena pengaruh orang lain, institusi pemerintah atau bahkan bisa juga dari kesadaran masyarakat.

137


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Faktor Yuridis Faktor yuridis atau hukum ini maksudnya adalah sejauh mana pemerintah dapat mendikte dan mengambil tindakan secara tegas terhadap penyelewengan dan pelanggaran yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Faktor ini juga sangat erat kaitannya dengan wibawa penegak hukum. Perlu pembentukan dan pembuatan peraturan atau UU baru yang mengatur tentang daerah tujuan wisata, peraturan tentang pengelolaan sampah, perda tentang larangan merokok ditempat umum, dan sebagainya. Dengan adanya aturan-aturan tersebut, masyarakat sebagai penghuni ataupun pengunjung wisata secara periodik kepeduliannya meningkat. Walaupun dalam hal ini aspek yuridis mengandung sedikit unsur pemaksaan namun demikian kebaikan dan manfaat bersama hal tersebut bukanlah menjadi hambatan. Faktor Sarana Dan Prasarana Faktor sarana dan prasarana juga menjadi pendukung munculnya kepedulian masyarakat akan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Bagaimana pelaku wisata atau masyarakat akan peduli terhadap kebersihan bila sarana dan prasarana tidak menunjang. Faktor sarana yang berwujud penyampaian informsi baik itu yang menyangkut petunjuk, peringatan maupun larangan hendaknya juga diperbanyak. Misalnya sarana untuk menampung sampah sementara yang diletakkan ditempat yang strategis, dan mencukupi, MCK yang bersih, tersedianya sumber air bersih, dan riol. Faktor Keteladanan Makin disadari bahwa faktor keteladanan pada saat ini masih sangat kurang. Padahal bila kita amati, keteladanan ini sangat diperlukan dilingkungan kehidupan yang semakin kompleks dan maju. Untuk memulai menyingkapi keteladanan ini memang memerlukan kesadaran yang tinggi dari setiap individu masyarakat. Faktor Media Informasi Pada hakekatnya masyarakat telah mengetahui dan memahami apa itu arti kebersihan dan kesehatan lingkungan. Namun sebagian besar dari mereka, masih terlalu awam untuk mengetahui arti kebersihan dan kesehatan lingkungan yang hakiki. Oleh karena itu perlu adanya penyampaian informasi

138

yang cukup mendalam untuk memperdalam pengetahuan masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Penyampaian informasi ini dapat dilakukan lewat beberapa media seperti elektroinik, media cetak ataupun penyuluhan lapangan. Dengan penyampaian informasi ini diharapkan masyarakat akan semakin peduli terhadap lingkungannya. Daerah Tujuan Wisata Pariwisata merupakan sektor andalan diluar sektor migas dibutuhkan berbagai langkah dan kegiatan yang melibatkan semua pihak sebagai pelaku pariwisata. Pariwisata sehat merupakan pendakatan untuk mewujudkan kawasan pariwisata yang aman, nyaman, dan sehat. Kawasan pariwisata sehat sangat erat kaitannya dengan peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat dari masyarakat dan pelaku pariwisata. Daerah tujuan wisata yang aman, bersih, sejuk, indah dan sehat sudah jelas akan menjadi minat bagi wisata untuk berkunjung ke daerah tersebut, sekaligus juga akan meningkatkan ekonomi masyarakat. Ruang Lingkup Pariwisata Sehat 1. Objek dan Daya Tarik Wisata, haruslah berkesan, menarik dan wisatawan mendapatkan kenangan indah. 2. Sarana Wisata, Tersedianya akomodasi bagi pengunjuk seperti hotel, restoran yang aman, nyaman dan sehat. 3. Sarana Penunjang, Adanya pasar, cendera mata, rumah ibadah yang selalu bersih, tertib, aman dan berkualitas. 4. Prasarana Dasar a. Tersedia sarana air bersih, bisa saja dari PDAM, Sumur Gali, Sumur Pommpa, yang penting jumlahnya cukup dan kualitasnya baik. Untuk itu perlu diperiksakan kualitas airnya pada Labkes / Dinas Kesehatan setempat. Air ini penting untuk menjaga kebersihan lingkungan, bagi pengunjung untuk mandi, wc dan lainnya. Tersedia WC yang bersih dan mencukupi untuk pengunjung. Minimal setiap 20 orang tersedia satu WC. Kondisinya harus selalu terkontrol jangan sampai berbau, ada


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

5. 6.

7. 8.

jentik, airnya cukup bila perlu harus dengan keramik, cahaya cukup. Sehingga pengunjung merasa puas dengan sarana tsb. Tempat Pembuangan Sampah Sementara, setiap jarak 100 m harus tersedia TPS yang bersih dan tertutup, kemudian sampah ini harus dibuang setiap hari. Dilengkapi juga papan pengumuman dan himbauan agar membuang sampah pada tempatnya. tersedia riol yang bersih dan airnya mengalir. Sarana dan Prasarana Transport, harus aman, nyaman, bersih dan sehat. Sarana Pelayanan Kesehatan, harus memadai, tersedia pelayanan set iap waktu, dan petugas yang profesional dan ramah. Jaringan Informasi Pariwisata dan Kesehatan Lengkap. Perangkat Pengamanan Wisatawan.

Masalah Kesehatan Di Daerah Tujuan Wisata 1. Penularan berbagai jenis penyakit seperti Diare, Malaria, DHF, TBC, AIDS & penyakit Kelamin.

2. Keracunan makanan dan Pestisida 3. Pencemaran Udara, Air, dan Tanah 4. Penyakit dengan serangan mendadak seperti jantung, hypertensi dll. 5. Keselamatan dan kecelakaan Pemecahannya 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pembentukan forum pariwisata sehat Promosi Kesehatan Pemberdayaan masyarakat Kemitraan Pembudayaan Hidup Bersih dan Sehat Sapta Pesona

Kesimpulan 1. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap derjat kesehatan manusia dan masyarakat. 2. Kualitas sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja. 3. Kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor yaitu yuridis, faktor sarana, faktor keteladanan dan faktor media informasi.

Kepustakaan : 1. Depkes. RI (1999). Program Pariwisata Sehat, Jakarta. 2. Ardika, I.G (2001). Pariwisata Sebagai Perwujudan Hak Azazi Manusia, Orasi Ilmiah, Jakarta, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. 3. Marsongko, E.P (2001). Elemen-elemen Kebudayaan dan Pariwisata, Bandung. 4. Ismayanti Istanto (1998). Psikologi Pelayanan, Diktat di lingkungan Universitas Sahid. 5. Kantor Menteri Negara Pariwisata dan Kesenian (2000). Kode etik Pariwisata Dunia, Jakarta. 6. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2002). Pariwisata Inti Rakyat, Jakarta.

139


STUDI LITERATUR

ANEMIA DEFISIENSI BESI Masrizal*

Pendahuluan Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan dan status kesehatan. Khumaidi (1989) mengemukakan bahwa faktorfaktor yang melatarbelakangi tingginya prevalensi anemia gizi besi di negara berkembang adalah keadaan sosial ekonomi rendah meliputi pendidikan orang tua dan penghasilan yang rendah serta kesehatan pribadi di lingkungan yang buruk. Meskipun anemia disebabkan oleh berbagai faktor, namun lebih dari 50 % kasus anemia yang terbanyak diseluruh dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat gizi besi. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit (cacing). Di negara berkembang seperti Indonesia penyakit kecacingan masih merupakan masalah yang besar untuk kasus anemia gizi besi, karena diperkirakan cacing menghisap darah 2-100 cc setaip harinya. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia gizi besi akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena infeksi. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan selama ini ditujukan pada ibu hamil, sedangkan remaja putri secara dini belum terlalu diperhatikan. Agar anemia bisa dicegah atau diatasi maka harus banyak mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi. Selain itu penanggulangan anemia defisiensi besi dapat *Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand

140

dilakukan dengan pencegahan infeksi cacaing dan pemberian tablet Fe yang dikombinasikan dengan vitamin C. Anemia Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal, berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan kehamilan. Batas normal dari kadar Hb dalam darah dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Batas normal kadar Hb menurut umur dan jenis kelamin Sumber : WHO, 200

Kelompok

Umur

Hemoglobin (gr/dl)

Anak â&#x20AC;&#x201C; anak

6 â&#x20AC;&#x201C; 59 bulan 5 â&#x20AC;&#x201C; 11 tahun 12 â&#x20AC;&#x201C; 14 tahun

11,0 11,5 12,0

Dewasa

Wanita > 15 tahun Wanita hamil Laki-laki > 15 tahun

12,0 11,0 13,0

Sebagian besar anemia disebabkan oleh kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial (zat besi, asam folat, B12) yang digunakan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Anemia bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti penyakit malaria, infeksi cacing tambang. Klasifikasi Anemia Secara morfologis, anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin yang dikandungnya. 1. Makrositik Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik yaitu : 1. Anemia Megaloblastik adalah kekurangan vitamin B12, asam folat dan gangguan sintesis DNA.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

2. Anemia Non Megaloblastik adalah eritropolesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran. 2. Mikrositik Mengecilnya ukuran sel darah merah yang disebabkan oleh defisiensi besi, gangguan sintesis globin, porfirin dan heme serta gangguan metabolisme besi lainnya. 3. Normositik Pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah, ini disebabkan kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan, penyakit-penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati. Anemia Defisiensi Besi Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Jika simpanan zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat rendah berarti orang tersebut mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala fisiologis. Simpanan zat besi yang sangat rendah lambat laun tidak akan cukup untuk membentuk selsel darah merah di dalam sumsum tulang sehingga kadar hemoglobin terus menurun di bawah batas normal, keadaan inilah yang disebut anemia gizi besi. Menurut Evatt, anemia Defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan besi tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin, berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur sering mengalami anemia, karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi sewaktu hamil. Patofisiologi Anemia Zat besi diperlukan untuk hemopoesis (pembentukan darah) dan juga diperlukan oleh berbagai enzim sebagai faktor penggiat. Zat besi yang terdapat dalam enzim juga diperlukan untuk mengangkut elektro (sitokrom), untuk mengaktifkan oksigen (oksidase dan oksigenase). Defisiensi zat besi tidak menunjukkan gejala yang khas (asymptomatik)

sehingga anemia pada balita sukar untuk dideteksi. Tanda-tanda dari anemia gizi dimulai dengan menipisnya simpanan zat besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan dengan meningkatnya kapasitas pengikatan besi. Pada tahap yang lebih lanjut berupa habisnya simpanan zat besi, berkurangnya kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang diubah menjadi heme, dan akan diikuti dengan menurunnya kadar feritin serum. Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya kadar Rb (Gutrie, 186:303) Bila sebagian dari feritin jaringan meninggalkan sel akan mengakibatkan konsentrasi feritin serum rendah. Kadar feritin serum dapat menggambarkan keadaan simpanan zat besi dalam jaringan. Dengan demikian kadar feritin serum yang rendah akan menunjukkan orang tersebut dalam keadaan anemia gizi bila kadar feritin serumnya <12 ng/ml. Hal yang perlu diperhatikan adalah bila kadar feritin serum normal tidak selalu menunjukkan status besi dalam keadaan normal. Karena status besi yang berkurang lebih dahulu baru diikuti dengan kadar feritin. Diagnosis anemia zat gizi ditentukan dengan tes skrining dengan cara mengukur kadar Hb, hematokrit (Ht), volume sel darah merah (MCV), konsentrasi Hb dalam sel darah merah (MCH) dengan batasan terendah 95% acuan (Dallman,1990) Etiomologi Anemia Defisiensi Besi Penyebab Anemia Defisiensi Besi adalah : 1. Asupan zat besi Rendahnya asupan zat besi sering terjadi pada orang-orang yang mengkonsumsi bahan makananan yang kurang beragam dengan menu makanan yang terdiri dari nasi, kacang-kacangan dan sedikit daging, unggas, ikan yang merupakan sumber zat besi. Gangguan defisiensi besi sering terjadi karena susunan makanan yang salah baik jumlah maupun kualitasnya yang disebabkan oleh kurangnya penyediaan pangan, distribusi makanan yang kurang baik, kebiasaan makan yang salah, kemiskinan dan ketidaktahuan. 2. Penyerapan zat besi Diet yang kaya zat besi tidaklah menjamin ketersediaan zat besi dalam tubuh karena banyaknya zat besi yang diserap sangat tergantung dari jenis zat besi dan bahan makanan yang dapat menghambat dan meningkatkan penyerapan besi.

141


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

3. Kebutuhan meningkat Kebutuhan akan zat besi akan meningkat pada masa pertumbuhan seperti pada bayi, anakanak, remaja, kehamilan dan menyusui. Kebutuhan zat besi juga meningkat pada kasus-kasus pendarahan kronis yang disebabkan oleh parasit. 4. Kehilangan zat besi Kehilangan zat besi melalui saluran pencernaan, kulit dan urin disebut kehilangan zat besi basal. Pada wanita selain kehilangan zat besi basal juga kehilangan zat besi melalui menstruasi. Di samping itu kehilangan zat besi disebabkan pendarahan oleh infeksi cacing di dalam usus. Diagnosis 1. Anamnesis 1). Riwayat faktor predisposisi dan etiologi : a. Kebutuhan meningkat secara fisiologis terutama pada masa pertumbuhan yang cepat, menstruasi, dan infeksi kronis b. Kurangnya besi yang diserap karena asupan besi dari makanan tidak adekuat malabsorpsi besi c. Perdarahan terutama perdarahan saluran cerna (tukak lambung, penyakit Crohn, colitis ulserativa) 2). Pucat, lemah, lesu, gejala pika 2. Pemeriksaan fisis a. anemis, tidak disertai ikterus, organomegali dan limphadenopati b. stomatitis angularis, atrofi papil lidah c. ditemukan takikardi ,murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran jantung 3. Pemeriksaan penunjang a. Hemoglobin, Hct dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) menurun b. Hapus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik c. Kadar besi serum (SI) menurun dan TIBC meningkat , saturasi menurun d. Kadar feritin menurun dan kadar Free Erythrocyte Porphyrin (FEP) meningkat e. sumsum tulang : aktifitas eritropoitik meningkat Akibat Anemia Defisiensi Besi Akibat-kibat yang merugikan kesehatan pada individu yang menderita anemi gizi besi adalah 1. Bagi bayi dan anak (0-9 tahun) a. Gangguan perkembangan motorik

142

dan koordinasi. b. Gangguan perkembangan dan kemampuan belajar. c. Gangguan pada psikologis dan perilaku 2.Remaja (10-19 tahun) a. Gangguan kemampuan belajar b. Penurunan kemampuan bekerja dan aktivitas fisik c. Dampak negatif terhadap sistem pertahanan tubuh dalam melawan penyakit infeksi 3.Orang dewasa pria dan wanita a. Penurunan kerja fisik dan pendapatan. b. Penurunan daya tahan terhadap keletihan 4.Wanita hamil a. Peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu b. Peningkatan angka kesakitan dan kematian janin c. Peningkatan resiko janin dengan berat badan lahir rendah Penentuan kadar hemoglobin 1. Metoda menentukan kadar HB Menurut WHO, nilai batas hemoglobin (Hb) yang dikatakan anemia gizi besi untuk wanita remaja adalah < 12 gr/dl dengan nilai besi serum < 50 mg/ml dan nilai feritin < 12 mg/ml. Nilai feritin merupakan refleksi dari cadangan besi tubuh sehingga dapat memberikan gambaran status besi seseorang. Untuk menentukan kadar Hb darah, salah satu cara yang digunakan adalah metoda Cyanmethemoglobin. Cara ini cukup teliti dan dianjurkan oleh International Committee for Standardization in Hemathology (ICSH). Menurut cara ini darah dicampurkan dengan larutan drapkin untuk memecah hemoglobin menjadi cyanmethemoglobin, daya serapnya kemudian diukur pada 540 nm dalam kalorimeter fotoelekrit atau spektrofotometer. Cara penentuan Hb yang banyak dipakai di Indonesia ialah Sahli. Cara ini untuk di lapangan cukup sederhana tapi ketelitiannya perlu dibandingkan dengan


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

cara standar yang dianjurkan WHO. Ada tiga uji laboratorium yang dipadukan dengan pemeriksaan kadar Hb agar hasil lebih tepat untuk menentukan anemia gizi besi. Untuk menentukan anemia gizi besi yaitu : a. Serum Ferritin (SF) Ferritin diukur untuk mengetahui status besi di dalam hati. Bila kadar SF < 12 mg/dl maka orang tersebut menderita anemia gizi besi. b. Transferin Saturation (ST) Kadar besi dan Total Iron Binding Capacity (TIBC) dalam serum merupakan salah satu menentukan status besi. Pada saat kekurangan zat besi, kadar besi menurun dan TIBC meningkat, rasionya yang disebut dengan TS. TS < dari 16 % maka orang tersebut defisiensi zat besi. Tabel 2. Parameter untuk menentukan status besi

Kelompok Umur

Hemoglobin (gr/dl)

Anak anak

11,0 11,5 12,0 12,0 11,0 13,0

â&#x20AC;&#x201C; 6 â&#x20AC;&#x201C; 59 bulan 5 â&#x20AC;&#x201C; 11 tahun 12 â&#x20AC;&#x201C; 14 tahun Dewasa Wanita > 15 tahun Wanita hamil Laki-laki > 15 tahun

c.

Free Erythocyte Protophorph Bila kadat zat besi dalam darah kurang maka sirkulasi FEB dalam darah meningkat. Kadar normal FEB 35-50 mg/dl RBC. Secara ringkas untuk menentukan keadaan anemia seseorang dapat dilihat pada tabel 2.

2. Fungsi Hemoglobin Hemoglobin merupakan komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida. Warna merah pada darah disebabkan oleha kandungan hemoglobin (Hb) yang merupakan susunan protein yang komplek yang terdiri dari protein, globulin dan satu senyawa yang bukan protein yang disebut heme. Heme tesusun dari suatu senyawa lingkar yang bernama porfirin yang bahagian pusatnya ditempati oleh logam besi (Fe). Jadi heme adalah senyawa-senyawa porfirin-besi, sedangkan hemoglobin adalah senyawa komplek antara globin

dengan heme. Pencegahan dan Pengobatan Anemia Defisiensi Besi Upaya yang dilakukan dalam pencegahandan penanggulangan anemia adalah a. Suplementasi tabet Fe b. Fortifikasi makanan dengan besi c. Mengubah kebiasaan pola makanan dengan menambahkan konsumsi pangan yang memudahkan absorbsi besi seperti menambahkan vitamin C. d. Penurunan kehilangan besi dengan pemberantasan cacing.Dalam upaya mencegah dan menanggulangi anemia adalah dengan mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti dari berbagai penelitian bahwa suplementasi, zat besi dapat meningkatkan kada Hemoglobin. e. Pengobatan Anemia Defisiensi Besi Sejak tahun 1997 pemerintah telah merintis langkah baru dalam mencegah dan menanggulangi anemia, salah satu pilihannya adalah mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti dari berbagai peneltian bahwa suplemen zat besi dapat meningkatkan hemoglobin. Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Defisiensi Besi Dapat dilakukan antara lain dengan cara: a. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan Mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup. Namun karena harganya cukup tinggi sehingga masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang lain untuk mencegah anemia gizi besi. Memakan beraneka ragam makanan yang memiliki zat gizi saling melengkapi termasuk vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran sumber vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 - 80 % vitamin C akan rusak.Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan zat besi seperti : fitat, fosfat, tannin. b. Suplementasi zat besi Pemberian suplemen besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status hemoglobin

143


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

dalam waktu yang relatif singkat. Di Indonesia pil besi yang umum digunakan dalam suplementasi zat besi adalah frrous sulfat. Persentase dan jumlah zat besi di dalam tablet Fe bisa dilihat pada tabel 3 . Tabel 3. Persentase dan jumlah zat besi di dalam tablet FE yang lazim digunakan Senyawa Fe (mg) per tablet Fero famarat 200 Fero glukonat 300 Fero sulfat (7H2O) 300 Fero sulfat, Anhidrosida 200 Fero sulfat dikeringkan 200 (1HO2) Preparat

Fe elemental (mg) per tablet 66 36 60 74 60

% Fe 33 12 20 37 30

Sumber : Demaeyer, (1995)

Efek samping dari pemberian besi feroral adalah mual, ketidaknyamanan epigastrium, kejang perut, konstipasi dan diare. Efek ini tergantung dosis yang diberikan dan dapat diatasi dengan mengurangi dosis dan meminum tablet segera setelah makan atau bersamaan dengan makanan. a. Fortifikasi zat besi Fortifikasi adalah penambahan suatu jenis zat gizi ke dalam bahan pangan untuk meningkatkan kualitas pangan . Kesulitan untuk fortifikasi zat besi adalah sifat zat besi yang reaktif dan cenderung mengubah penampilanm bahan yang di fortifikasi. Sebaliknya fortifikasi zat besi tidak mengubah rasa, warna, penampakan dan daya simpan bahan pangan. Selain itu pangan yang difortifikasi adalah yang banyak dikonsumsi masyarakat seperti tepung gandum untuk pembuatan roti. b. Penanggulangan penyakit infeksi dan parasit Penyakt infeksi dan parasit merupakan salah satu

144

penyebab anemia gizi besi. Dengan menanggulangi penyakit infeksi dan memberantas parasit diharapkan bisa meningkatkan status besi tubuh. Pemantauan Terapi a. Periksa kadar hemoglobin setiap 2 minggu b. Kepatuhan orang tua dalam memberikan obat c. Gejala sampingan pemberian zat besi yang bisa berupa gejala gangguan gastrointestinal misalnya konstipasi, diare, rasa terbakar diulu hati, nyeri abdomen dan mual. Gejala lain dapat berupa pewarnaan gigi yang bersifat sementara. Tumbuh Kembang a. Penimbangan berat badan setiap bulan b. Perubahan tingkah laku c. Daya konsentrasi dan kemampuan belajar pada anak usia sekolah dengan konsultasi ke ahli psikologi d. Aktifitas motorik Penutup Upaya penanggulangan AKB diprioritaskan pada kelompok rawan yaitu BALITA, anak usia sekolah, ibu hamil dan menyusui, wanita usia subur termasuk remaja putri dan pekerja wanita. Upaya pencegahan efektif untuk menanggulangi AKB adalah dengan pola hidup sehat dan upaya-upaya pengendalian faktor penyebab dan predisposisi terjadinya AKB yaitu berupa penyuluhan kesehatan, memenuhi kebutuhan zat besi pada masa pertumbuhan cepat, infeksi kronis/berulang pemberantasan penyakit cacing dan fortifikasi besi.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

DAFTAR PUSTAKA 1.

Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A Guide to Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85. 2. Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology and Oncology. Edisi ke-2. New York; Churchill Livingstone Inc, 1995 : 35-50. 3. Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of Infancy and Childhood. Edisi ke-1. Philadelphia; Saunders, 1974 : 103-25. 4. Recht M, Pearson HA. Iron Deficiency Anemia. Dalam : McMillan JA, DeAngelis CD, Feigin RD, Warshaw JB, penyunting. Oskiâ&#x20AC;&#x2122;s Pediatrics : Principles and Practice. Edisi ke-3. Philadelphia; Lippincott William & Wilkins, 1999 : 1447-8. 5. Schwart E. Iron Deficiency Anemia. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-16. Philadelphia; Saunders, 2000 : 1469-71 6. Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A Guide to Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85. 7. Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology and Oncology. Edisi ke-2. New York; Churchill Livingstone Inc, 1995 : 35-50. 8. Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of Infancy and Childhood. Edisi ke-1. Philadelphia; Saunders, 1974 : 103-25. 9. Recht M, Pearson HA. Iron Deficiency Anemia. Dalam : McMillan JA, DeAngelis CD, Feigin RD, Warshaw JB, penyunting. Oskiâ&#x20AC;&#x2122;s Pediatrics : Principles and Practice. Edisi ke-3. Philadelphia; Lippincott William & Wilkins, 1999 : 1447-8. 10. Schwart E. Iron Deficiency Anemia. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-16. Philadelphia ; Saunders, 2000 : 1469-71. 11. Studi Anemia Anak Sekolah Dasar. Majalah Kedokteran Indonesia

Vo. 45. No. 10, Oktober, 1995. 12. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, Program Penanggulangan Anemia Gizi pada Wanita Usia Subur (WUS), Direktorat Gizi Masyarakat, 2001. 13. Sediaoetomo, A. D. Ilmu Gizi II, Dian Rakyat Jakarta, 1996. 14. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, Anemia Gizi dan Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Wanita Usia Subur, Direktorat Gizi Masyarakat, 2005. 15. Alamtseir, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia Jakarta, 2002. 16. Hermina. Penelitian Gizi dan Makanan, Puslitbangh Gizi Bogor Depkes RI. 17. Wirakusumah E. S. Perencanaan Menu Anemia Gizi Besi. Trubus Agriculture. 18. Wilson P.S. LM. Patofisiologi Konsep Klining Proses-proses Penyakit, 1995. 19. Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinik Proses Penyakit, 1995. 20. Sumarni, S, dkk. Masalah Gizi di Indonesia. 21. Setianingish, I. Anemia Defisiensi, Besi dan Prestasi. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI / RSCM. 22. Demaeyer, Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. Widya Mendika Jakarta, 1995. 23. Muhilal, dkk. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan. Dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. 2004. 24. Nasution, A.H. dan Karyadi. D, Pengetahuan Gizi mutakhir (Mineral). 1991. 25. Tan, A. Wanita dan Nutrisi. Health Media Nutrition Series, Bumi Aksara. 26. Kartasapoetra. G, dkk. Ilmu Gizi, Korelasi Gizi, Kesehatan dan Produktivitas Kerja. Rineka Cipta. 27. Situs Pengelolaan Program KRR Tumbuh Kembang Remaja. File // A :\ pp3 Tumbuh Kembang Remaja. Htm. 2003. 10 Januari 2007 28. Wirawan. S. Psikologi Remaja. PT. Raja Grasindo.

145


STUDI LITERATUR

DAMPAK DAN PENGENDALIAN HUJAN ASAM DI INDONESIA ERNI. M. YATIM *

PENDAHULUAN Dalam kehidupan modern dan industrialisasi seperti sekarang ini, hampir semua sendi kehidupan selalu ditopang oleh teknologi canggih yang menjanjikan proses yang lebih efisien, hemat waktu dan tenaga. Karena pada kenyataannya, dalam kehidupan modern semua dituntut serba cepat, tapi belum tentu sehat. Ini berlaku diseluruh sektor kehidupan. * Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang Saat ini kita bertumpu pada kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin, solar dan premix. Memang kendaraan bermotor lebih bisa menjanjikan proses yang lebih efisien, hemat waktu dan tenaga,ditam bah daya angkut yang lebih banyak. Semua itu sesuai dengan tuntutan kebutuhan manusia dan kehidupan modern. Hanya satu yang tidak dijanjikan oleh teknologi modern yaitu proses yang lebih sehat. Sampai saat ini, kendaraan bermotor merupakan salah satu penyebab pengotoran udara dengan persentase terbesar, disamping pabrik. Sehingga sulit bagi kita sekarang ini, berharap bisa menghirup udara bersih. Gas buang kendaraan bermotor dan pabrik akan memberikan polutan seperti Sox, Nox, Co, Pb dan partikulat, serta pengaruh lain yaitu kebisingan. Gas limbah Sox dan Nox Jurnal Kesehatan Masyarakat di athmosfir mengalami reaksi kimia menjadi asam sulfat dan asam nitrat. Asam tersebut dapat turun kebumi sebagai hujan dan disebut Hujan Asam. Jakarta, Singapura, Kuala lumpur, Bangkok dan Manila, misalnya, adalah kota-kota yang potensial mendapatkan hujan asam. Potensi ini bersumber pada perkembangan industri dan transportasi yang tinggi serta diperkuat oleh kondisi iklim, yaitu angin yang lemah, sehingga zat pencemar tidak disebar dan *Staf Pengajar Politeknik Kesehatan Padang

146

diencerkan. Daerah yang mempunyai banyak industri atau / dan pusat pembangkit listrik perlulah diwaspadai, misalnya Banten bagian utara, Jabodetabek, Gresik, Cilacap dan Aceh ( Soemarwoto, 1992 ). Dengan adanya rencana pengem bangan industri dijalur utara Jawa Barat dan pembangunan jalan tol masalah pencemaran ini perlulah diperhatikan sejak dini. Tidak pula tertutup kemungkinan kita mendapatkan belerang dari luar negri, misalnya dari RRC yang merupan produsen SO2 terbesar setelah Rusia dan Amerika Serikat. Belum ada data apakah SO2 dan asam yang terbentuk dapat sampai ke Indonesia terbawa oleh angin yang menghembus dari daratan Asia ke Autralia pada waktu daratan Asia mengalami musim dingin dan Australia musim panas ataukah sudah dideposisiskan di laut Cina Selatan, misalnya sebelum sampai ke Indonesia Pada tahun 1952, London menderita asbut (=asap + kabut, yaitu smog = smoke + Fog) yang berat yang disebutnya black fog (kabut hitam) dan dilaporkan 4.000 orang meninggal karena asbut tersebut. Yang terutama menghadapi risiko sakit dan meninggal ialah mereka yang berumur lanjut dan menderita penyakit kronik jantung dan paru-paru ( Achmadi, 1992 ) Sehubungan dengan hal tersebut, maka berikut ini dibahas mengenai pengertian hujan asam, dampak hujan asam dan pengendalian hujan asam. HUJAN ASAM Istilah hujan asam pertama kali digunakan oleh Robert A. Smith ( 1872 ) dalam Kupchella ( 1989 ) yang menguraikan tentang keadaan di Manchester, sebuah daerah industri dibagian utara Inggris. Hujan asam ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asam di udara larut dalam butirbutir air di awan. Jika hujan turun dari awan itu, air hujan bersifat asam. Asam itu terhujankan atau rainout. Hujan asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut kedalam air hujan dan turun kebumi. Asam


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

itu tercuci atau wash-out. Hujan asam dapat terjadi di daerah yang sangat jauh dari sumber pencemaran. Masalah hujan asam terjadi dilapisan athmosfir rendah, yaitu di troposfir. Asam yang terkandung dalam hujan asam ialah asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO)3, keduanya merupakan asam kuat. Asam sulfat berasal dari gas SO2 dan asam nitrat dari gas NOx. SUMBER SOX DAN NOX Sekitar 50% SO2 yang ada dalam atmosfer di seluruh dunia adalah alamiah, antara lain, dari letusan gunung dan kebakaran hutan yang alamiah. Yang 50% lainnya adalah antropogenik, yaitu berasal dari kegiatan manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil (BBF) dan peleburan logam. Di daerah yang banyak mempunyai industri dan lalu lintas berat bagian SO2 yang antropogenik lebih tinggi daripada 50 %. BBF terbentuk jutaan tahun yang lalu dari makhluk hidup yang setelah mati mengalami proses fosilisasi. Semua makhluk hidup mengandung belerang dan belerang itu tinggal dalam BBF. Minyak mentah mengandung BBF antara 0,1% sampai 3% dan teroksidasi menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas ke udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat (Sumarwoto, 1992). Seperti halnya SO2, 50% NOx dalam atmosfer adalah alamiah dan 50% antropogenik. Pembakaran BBF juga merupakan sumber terbesar NOx sehingga di negara dengan industri maju bagian NOx yang antropogenik lebih besar daripada yang alamiah. Pada waktu pembakaran BBF, sebagian NOx berasal dari nitrogen yang terkandung dalam BBF yang teroksidasi menjadi NOx. Sebagian lagi berasal dari nitrogen yang terdapat dalam udara yang terdiri dari 80% gas nitrogen. Pembakaran BBF mengoksidasi 5-40% nitrogen dalam minyak berat dan 100% nitrogen dalam minyak ringan dan gas. Makin tinggi suhu pembakaran, makin banyak NOx yang terbentuk (Soemarwoto, 1992). Instalasi pembangkit listrik dan transpor dengan kendaraan bermotor merupakan sumber utama NOx. Di negara sedang berkembang transpor merupakan sumber NOx yang lebih besar daripada pusat pembangkit listrik (Saruji, 1995). NOx juga berasal aktivitas jasad renik tanah yang untuk kehidupannya menggunakan senyawa organik yang mengandung N. Oksida N itu merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap oleh tumbuhan juga mengalami perombakan kimia-fisik,

biologik dan menghasilkan oksida N. Karena makin banyak digunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut. Di dalam udara sebagian dari oksida N itu berubah menjadi asam nitrat (Achmadi, 1992). Sumber asam nitrat yang lain adalah amoniak (NH3). NH3 sebenarnya bersifat basa, tetapi di dalam tanah sebagian NH3 mengalami proses nitrifikasi menjadi asam nitrat. Sumber utama NH3 adalah pertanian dan peternakan, yaitu pupuk dan kotoran ternak. NH3 ialah gas yang tercium menyengat hidung pada waktu kita masuk kedalam kandang ternak ataupun WC. Di negara maju, 80-90% emisi NH3 berasal dari sumber ini dan sisanya dari industri dan transpor, kotoran manusia dan hewan liar serta dari tanah. Kira-kira 35-45% nitrogen total dalam kotoran hewan lepas ke udara sebagai NH3. Emisi dari kotoran ternak diperkirakan 22-30 juta ton/tahun, (Ahmadi, 1992). Mengingat kotoran hewan merupakan sumber NH3 yang penting, dapatlah dikatakan bahwa makin banyak peternakan, makin tinggi pula produksi asam nitrat. Karena itu, disamping dari pembakaran BBF untuk transpor dan industri, peternakan merupakan pula penyumbang hujan asam yang penting. Pupuk N pun di dalam tanah mengalami proses mikrobiologi dan kimia fisik. Sebagian dari pupuk itu menguap sebagai NH3. Di daerah iklim sedang sampai 20% N urea dapat hilang sebagai NH3 dan amonium sulfat sampai 15%. Di daerah tropik, sampai 40-60% N urea yang dipakai di sawah dapat hilang sebagai NH3. Kehilangan N itu dipengaruhi oleh berbagtai faktor, antara lain, pH tanah yang tinggi, kondisi kering dan panas serta angin yang kuat memperbesar kehilangan N tersebut. Jurnal Kesehatan Masyarakat DAMPAK HUJAN ASAM Hujan asam berdampak terhadap kesehatan, hutan, pertanian, ekosistem akuatik dan material. a. Kesehatan Hujan asam mempengaruhi kesehatan melalui tiga cara, yaitu pertama efek jangka pendek karena menghirup udara yang tercemar berat; efek jangka panjang karena menghirup udara yang tercemar sedang atau ringan; efek tidak langsung karena terexposed pada logam berat seperti alumunium dan logam berat lain yang terbebaskan dari zarah tanah pada pH yang rendah, akumulasi logam berat melalui rantai makanan dan terlarutnya logam berat dari pipa

147


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

air yang terbuat dari timbal atau tembaga. b. Hutan Dampak terhadap hutan dan pertanian sebagian karena pH tanah turun. Penurunan pH tanah dan air danau dipengaruhi kemampuan tanah dan air untuk menetralisir asam tersebut. Daya netralisasi asam itu ditentukan oleh adanya zat yang dapat menetralisir asam, misalnya, kalsium karbonat (CaCO3) dan humus. Jika ada kalsium karbonat ion H+ bereaksi dengan zat itu dan diubah menjadi air, karbonat dan CO2. Kerusakan hutan oleh hujan asam gejalanya berbeda dengan gejala kerusakan oleh kekeringan dan serangan hama atau penyakit. Kerusakan dan kematian hutan disebut Forest Dieback atau Waldsterben. Kematian hutan mengakibatkan naiknya resiko terjadinya tanah longsor dan juga kelonggaran salju pada musim dingin, yang sangat berbahaya bagi penduduk dan wisatawan. Proses terjadinya kerusakan dapat dikelompokan menjadi enam, yaitu (1) stres umum, (2) penurunan pH tanah- keracunan aluminium, (3) peracunan oleh SO2, (4) kekurangan magnesium, (5) kelebihan hara atau nitrogen dan (6) zat organik pengatur tumbuh. 1) Stres Umum Pencemaran udara telah menghambat fotosintesis dan immobilisasi hasil fotosintesis dengan pembentukan metabolit sekunder yang potensial beracun. Sebagai akibatnya akar kekurangan energi, karena hasil fotosintesis tertahan di tajuk. Sebaliknya tajuk mengakumulasi zat yang potensial beracun. Dengan demikian pertumbuhan akar dan mikoriza (jamur yang tumbuh secara simbiotik dengan akar) terhambat serta daun menguning dan rontok. Pohon menjadi lemah dan mudah terserang oleh penyakit dan hama serta mudah ambruk terkena angin. 2) Penurunan pH tanah-Keracunan Aluminium Penurunan pH menyebabkan terlepasnya alumunium dari zarah tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang halus mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan air terhambat. Hal ini menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati. 3) Peracunan oleh Gas SO2 Gas ini menyebabkan daun menjadi kuning dan coklat.

148

4) Kekurangan magnesium Pada analisis daun menunjukkan kadar magnesium yang rendah. Magnesium adalah sebuah unsur hara yang esensial sehingga kadar yang rendah dalam daun itu menunjukkan, pohon menderita kekurangan magnesium. Kekurangan magnesium disebabkan oleh pencucian magnesium dari tanah karena pH yang rendah dan rusaknya daun. Kerusakan daun menyebabkan pula tercucinya magnesium dari daun. Jurnal Kesehatan Masyarakat 5) Kelebihan hara Udara yang tercemar juga mengandung unsur hara sehingga dalam jangka waktu yang panjang terjadilah kelebihan unsur hara, terutama nitrogen. Kelebihan nitrogen memacu pertumbuhan yang berlebihan sehingga pohon membutuhkan lebih banyak unsur hara yang lain dan karena itu dapat menyebabkan kekurangan unsur hara tertentu. Kelebihan nitrogen juga menyebabkan penghambatan atau nekrosis pada mikoriza; kenaikan kepekaan terhadap suhu dibawah titik beku; kenaikan kerentanan terhadap penyakit jamur pada akar; perubahan dalam nitrifikasi dan penambatan nitrogen dari udara. 6) Zat organik pengatur tumbuh Contoh zat ini ialah etilen dan anilin. Pencemaran ini berasal dari industri yang memproduksi berjenis pestisida, herbisida dan zat pengatur tumbuh. Gejala peracunan oleh zat itu ialah daun menjadi berwarna coklat, rontoknya daun yang masih berwarna hijau dan kematian pohon dewasa. Pengamatan menunjukkan adanya kandungan NH4 dan aluminium lebih tinggi di hutan yang mengalami kerusakan daripada yang sehat dan kandungan Mg, Ca dan Kalium yang lebih rendah. Dalam keadaan demikian hutan yang rusak mengalami kelebihan nitrogen sehingga pertumbuhannya dipacu, sedangkan unsur hara Mg, Ca dan K tidak mencukupi untuk memenuhi laju pertumbuhan yang tinggi itu (ingat hukum minimum). Hutan itu juga mengalami keracunan aluminium. c. Pertanian Hasil padi dapat turun sampai 30% karena hujan asam. Karena besarnya laju pertumbuhan industri dan transpor, ada kemungkinan telah terjadi kenaikan kadar SO2 sampai pada kadar yang menyebabkan keracunan kronik dan penurunan hasil pertanian tanpa


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

adanya gejala morfologik dan kasat mata pada tanaman. d. Ekosistem akuatik Hujan asam yang berkepanjangan akan mempengruhi pH air ekosistem akuatik (Kupchella, 1989). Karena kehidupan organisme hidup akuatik sangat dipengaruhi oleh pH air tempat hidupnya, hujan asam mempunyai pengaruh yang besar terhadap biologi ekosistem akuatik. Hujan asam menurunkan populasi ikan, tumbuhan akuatik dan jasad renik. Menjadi asamnya air danau dapat juga menyebabkan kepunahan jenis. Di samping efeknya terhadap pH, hujan asam juga memperkaya danau dengan unsur hara, khususnya nitrogen. Sebagai akibatnya dapatlah terjadi apa yang disebut eutrofikasi, yaitu penyuburan perairan. Eutrofikasi menimbulkan kesulitan, karena terjadinya pertumbuhan plankton yang berlebihan sehingga plankton itu saling meneduhi dari sinar matahari dan terjadilah kematian massal plankton (Odum, 1996). Jika ini terjadi oksigen dalam air habis terpakai dalam proses pembusukan biomassa yang mati itu dan mengakibatkan kematian ikan dan organisme. e. Material Hujan asam mempunyai dampak penting terhadap berbagai jenis material. Logam, bangunan baru, keramik dan gelas, cat, kertas, bahan fotografi, tekstil, kulit dan karet terpengaruh oleh oksida belerang, oksida nitrogen dan zat pencemar udara lainnya. Sebagian kerusakan ini disebabkan oleh deposisi kering asam sulfat yang berasal dari transpor dalam kota dan dari industri. PENGENDALIAN HUJAN ASAM Usaha untuk menanggulangi pencemaran dari pembakaran BBF di pabrik dan instalasi listrik adalah dengan membangun cerobong asap yang tinggi. Dengan cerobong yang tinggi itu daerah sekitar pabrik dan pusat pembangkit listrik menderita sedikit atau bahkan bebas dari pencemaran. Tetapi, zat pencemar itu terbawa oleh angin ke tempat yang jauh. Jika jumlah zat pencemarnya sedikit, cara ini baik karena dengan penyebaran itu terjadi pengenceran zat pencemar. Akan tetapi, dengan makin banyaknya zat pencemar yang diproduksi, efek pengenceran tidak lagi cukup sehingga daerah yang jauh akhirnya menderita juga. Jadi, cerobong tinggi sebenarnya mempunyai efek membuang zat pencemar ke halaman tetangga.

Mengendalikan hujan asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemar, menghindari terjadinya zat pencemar pada waktu pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi. a.Bahan bakar dengan kandungan belerang rendah Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. 11% cadangan minyak dunia, mengandung kandungan belerang yang tinggi antara 1,4-1,6%. Dengan demikian, dunia sebagian besar tergantung pada minyak yang mengandung kadar belerang yang tinggi. Penggunaan gas alam akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini melalui pipa dan tempat lain menambah emisi metan, yang merupakan gas rumah kaca yang kuat. Usaha lain lagi ialah untuk menggunakan bahan bakar alternatif yang tidak mengandung belerang dan nitrogen, antara lain, metanol, etanol dan hidrogen. Akan tetapi, penggantian haruslah dilakukan dengan hati-hati, karena penggantian itu dapat memecahkan satu masalah, tetapi menimbulkan masalah lain. Contohnya ialah metanol yang pada pembakaran menghasilkan dua sampai lima kali lebih banyak formaldehide daripada pembakaran bensin. Zat ini diketahui mempunyai sifat karsinogenik (penyebab kanker). Apabila metanol itu diproduksi dari batu bara, proses produksi dan pembakaran metanol menghasilkan 20-160% lebih banyak CO2 daripada bensin, yang juga merupakan gas rumah kaca. b. Mengurangi kandungan belerang sebelum pembakaran Kadar belerang dalam bahan bakar dapat dikurangi dengan menggunakan teknologi tertentu. Dalam proses produksi batubara, batubara biasa dicuci. Proses pencucian itu, yang bertujuan untuk membersihkan batubara dari pasir, tanah dan kotoran lain, juga mengurangi kadar belerang yang berupa pirit (belerang dalam bentuk besi sulfida) sampai 5090%. Untuk mengurangi kadar belerang organik dalam batubara lebih sulit dan memerlukan teknologi yang lebih canggih. c. Pengendalian pencemaran selama pembakaran Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan NOx pada waktu pembakaran telah dikem bangkan. Salah satu teknologi itu ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Dengan teknologi ini, emisi SO2 dapat dikurangi sampai 80% dan NOx 50%.

149


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Dalam teknologi ini, kapur diinjeksikan ke dalam dapur pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan dengan menggunakan alat pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan membentuk gypsum (kalsium sulfrat dihidrat). Penurunan suhu mengakibatkan penurunan pembentukan NOx, baik dari nitrogen yang ada dalam bahan bakar maupun dari nitrogen udara. Pengendalian setelah pembakaran Zat pencemar dapat pula dikurangi dari gas limbah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah flue-gas desulfurization (FGD). Prinsip teknologi ini ialah untuk mengikat SO2 di dalam gas limbah di cerobong asap dengan absorben, yaitu yang disebut scrubbing. Dengan cara ini, 7095% SO2 yang terbentuk dapat diikat. Kerugian cara ini ialah terbentuknya limbah. Akan tetapi, limbah itu dapat pula diubah menjadi gipsum yang dapat digunakan dalam berbagai industri. Sebuah cara lain ialah untuk menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk. Cara khusus untuk mengurangi emisi NOx ialah dengan Reduksi Katalitik Selektif ( Selective Catalytic Reduction = SCR ). Dengan cara ini 80 â&#x20AC;&#x201C; 90 % Nox diubah menjadi nitrogen elementer yang dapat dilepas ke udara dengan tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi SCR lebih mahal dari pada penggunaan pembakaran khusus dengan suhu rendah. Perhatian juga harus diberikan pada pencemaran yang disebabkan oleh transpor, karena transpor merupakan sumber 33 â&#x20AC;&#x201C; 50 % dari pencemaran total. Metode yang paling banyak digunakan ialah pengubahan katalitik ( Catalytic Converter ). Akan tetapi alat ini hanya berguna pada kendaraan dengan BBM benzin dan tidak pada mesin diesel. Alat ini juga tidak dapat digunakan pada benzin yang mengandung timbal ( Pb ) sehingga tidak dapat digunakan pada negara yang masih menggunakan bensin ini, seperti di Indonesia. Namun karena Timbal merupakan zat pencemar yang beracun, oleh negara maju kendala ini justru dimanfaatkan untuk mengurangi pencemaran Pb dengan memproduksi benzin tanpa timbal. Beberapa negara malahan melarang penggunaan benzin dengan Pb. Pengubahan catalytic yang dipasang pada knalpot menggunakan campuran platinum dan rhodium sebagai katalisator. Pengubah itu mengubah CO ( karbon monoksida ) dan HC ( hidrokarbon) menjadi Carbon dioksida dan air serta mereduksi NOx menjadi gas nitrogen.

150

Dengan alat ini emisi CO, HC, dan NOx dapat dikurangi sampai 90 %. Kelemahan pengubah ini ialah alat itu rumit dan memerlukan pengendalian yang baik campuran udara/bahan bakar pada pembakaran, dan alat ini juga cukup mahal. Penghematan energi Semua pengendalian pencemaran seperti diuraikan diatas mempunyai kelemahan yaitu hanya mempunyai efek terhadap SO2 dan NO2 dan tidak terhadap CO 2 yang merupakan gas rumah kaca yang penting. Semua cara pengendalian pencemaran memerlukan biaya. Penghematan energi pun memerlukan biaya. Tetapi penghematan energi mempunyai keuntungan bahwa efeknya juga mengurangi emisi CO2. Biayanya sangat bervariasi dari yang murah sampai yang mahal sehingga terdapat pilihan yang luas yang dapat dilakukan oleh rakyat kecil yang melarat sampai yang kaya. Pilihan tertentu bahkan menguntungkan rakyat kecil seperti pengembangan transpot massal umum ( Budihardjo, 1997 ) dengan bus dan kereta api serta transpot dengan sepeda dan jalan kaki untuk jarak dekat. Oleh karena itu penghematan energi untuk menanggulangi pencemaran merupakan pilihan yang baik untuk negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Yang dimaksud dengan penghematan energi bukanlah mengurangi penggunaan energi sehingga menghambat laju pembangunan, melainkan menaikan efisiensi energi sehingga per-unit didapatkan pelayanan yang lebih banyak. Penutup Pembakaran bahan bakar, terutama bahan bakar fosil ( BBF ) mengakibatkan terbentuknya asam sulfat dan asam nitrat. Asam itu dapat dideposisikan dalam bentuk hujan pada hutan, tanaman pertanian, danau, dan gedung sehingga menyebabkan kerusakan dan kematian organisme hidup. Asam juga dicurigai mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan. bahan bakar sebelum dibakar,dan pilihan yang paling baik adalah mengikat dan mengubah zat pencemar dari gas pembuangan yang berasal dari menggunakan bahan bakar yang. Untuk mengurangi kerugian itu, perlu dilakukan usaha untuk mengurangi pencemaran udara dengan mempunyai kadar belerang rendah, mengurangi kadar belerang dalam pembakaran BBF dengan menghemat energi, seperti pengembangan transportasi masal umum.


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Daftar Pustaka 1. 2.

3.

4.

5. 6. 7.

Sumarwoto, Otto, 1992, Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama. Ahmadi, Umar Fahmi, 1992, (Pengaruh Perubahan Lingkungan Akibat ) Pembangunan Terhadap Masalah Kesehatan Masyarakat, Jakarta, Lingkungan dan Pembangunan Kupchella, charles E, Hyland Margaret C, 1989, Environmental Science, Living Withing The System Of Nature, Boston, Alyn and Bacon. Saruji, Didik, 1995, Pencemaran Udara (SO2, CO dan Pb) Oleh Gas Buang Kendaraan Bermotor, Konferensi Nasional XII PSL di Semarang 11 â&#x20AC;&#x201C; 13 Januari 1995. Odung, Eugene P, 1996, Dasar-dasar Ekologi (Indonesia Edition Yogyakarta, Gajah Mada University Press Wardana, Wisnu Arya, 1995, Dampak Pencemaran Lingkungan, Yogyakarta, Andi Offset. Budihardjo, Eko, 1997, Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota, Yogyakarta, Andi Offset

151


STUDI LITERATUR

MUTU PELAYANAN MEDIK PADA PESERTA ASKES Isniati*

Pendahuluan Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat banyak faktor yang harus diperhatikan salah satunya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Supaya pelayanan kesehatan dapat mencapai tujuan yang diinginkan maka mutu pelayanan kesehatan harus baik. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat perlu mendapat jaminan kesehatan agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan tenang, semangat, penuh rasa tanggung jawab dan rasa pengabdian yang tinggi. Agar terpenuhinya maksud diatas pada tahun 1968 dikeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 230 tentang jaminan pemeliharaan kesehatan pegawai negeri, penerima pensiun dan keluarganya, dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) dan pada tahun 1984 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.23 dirubah menjadi Perum Husada Bhakti (PHB). Dalam perkembangan selanjutnya perum husada bhakti dialihkan menjadi PT. (Persero) ASKES dengan keluarnya peraturan pemerintah No. 6 tahun 1992. Dalam melaksanakan tugasnya PT. Askes sebagai BUMN dilingkungan Departemen Kesehatan sebagai badan penyelenggara mengadakan kerjasama dengan intansi atau institusi pelayanan kesehatan sebagai pemberi pelayanan kesehatan (PPK).. Mutu pelayanan rawat jalan tidaklah semudah yang diperkirakan karena pada pelayanan rawat jalan ditemukan beberapa ciri-ciri khusus (Asrul Azwar, 1996). Ciri-ciri khusus tersebut adalah

*Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand

152

: sarana, prasarana, serta jenis pelayanan rawat jalan sangat beraneka ragam, tenaga pelaksana yang bekerja terbatas, hasil pelayanan sering tidak diketahui karena banyak pasien yang tidak dating lagi, pasien datang dengan jenis penyakit yang dapat sembuh sendiri atau dengan penyakit yang telah berat dan bersifat kronis, rekam medis yang kurang lengkap dan perilaku pasien yang sulit di kontrol. Hardjosoedarmo (1996) menyebutkan bahwa mutu adalah penilaian subjektif konsumen. Penilaian ditentukan oleh persepsi konsumen terhadap produk dan jasa. Selanjutnya mutu juga amat bergantung pada apa yang dikehendaki dan apa yang dibutuhkan konsumen. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jerald Young di University of Florida menunjukkan bahwa alasan pelanggan keluar atau pindah dari suatu penyelenggaraan kesehatan sebanyak 23% karena mutu pelayanan medis yang kurang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Potutu (1994) di puskesmas Menggala Ujungpandang tentang â&#x20AC;&#x153;Tinjauan Mutu Pelayanan Medik pada peserta Askesâ&#x20AC;? mengungkapkan beberapa keluhan peserta terhadap pelayanan medik yaitu : prosedur pelayanan yang rumit 17,6 %, lama menunggu 56 %, pelayanan kurang dibagian loket 38,4 %, pelayanan kurang dibagian pemeriksaan 12 %, pelayanan kurang di bagian Apotik 11,20 % dan obat kurang 32%. Mutu Pelayanan kesehatan merupakan suatu produk yang memberikan jasa kepada pasien, jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual dengan demikian jasa hanya bisa dikonsumsi tetapi tidak bisa dimiliki (Rudi Suardi, 2000). Karena pelayanan kesehatan menjual jasa maka pelayanan kesehatan itu harus bermutu , untuk itu diperlukan batasan pengertian tentang mutu, diantaranya adalah :


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

1. Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan (Crosby, 1984) 2. Menurut Goetsch dan Davis, 1994 â&#x20AC;&#x153;Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapanâ&#x20AC;?. 3. Mutu adalah derajat / tingkat kharakteristik yang melekat pada produk yang mencukupi persyaratan / keinginan (ISO 9000 : 2000) Dari batasan diatas dapat disimpulkan bahwa mutu sesuatu yang dimiliki barang atau jasa yang mempunyai standar yang berhubungan dengan manusia, proses dan lingkungan yang bertujuan memenuhi keinginan atau harapan. Banyaknya aspek yang berkaitan dengan mutu sehingga penilaian mutu sangat subjektif yang tergantung dari persepsi seseorang. Menurut Mutia (1995) persepsi adalah suatu proses membuat penilaian atau membangun kesan mengenai berbagai macam hal yang terdapat dilapangan penginderaan seseorang. Sedangkan (Irwanto, 1994) mengatakan persepsi dalam dunia nyata merupakan olahan indera-indera yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan pengalaman. Untuk menentukan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas salah satu tergantung pada persepsi pasien yang menilainya. Pelayanan Kesehatan Menurut Levey dan Loomba, 1973 â&#x20AC;&#x153; Pelayanan kesehatan adalah setiap upya yang diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Washington Based Technical Assistance Research Program (TARP) menunjukkan bahwa bila mutu pelayanan tidak baik sehingga menyebabkan satu orang pelanggan tidak puas maka ia akan menceritakan kepada sembilan orang lainnya. Sedangkan bila pelayanan memuaskan ia hanya akan menceritakan kepada empat orang lainnya. Syarat pokok pelayanan kesehatan menurut Asrul Azwar (1996) : 1. Tersedia dan berkesimbungan Tersedia dan berkesinambungan artinya semua jenios pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan serta keberadaannya di masyarakt setiap saat ada.

2. Dapat diterima dan wajar. Dapat diterima olehmasyarakat dan bersifat wajar artinya pelayanan kesehatan tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat. 3. Mudah dicapai Pengertian mudah dicapai disini adalah mudah untuk didatangi oleh masyarakat dari susut lokasi. 4. Mudah dijangkau. Pengertian mudah dijangkau adalah masyarakiat mudau menjangkau pelayanan kesehatan dari sudut biaya sesuai kemampuan ekonomi masyarakat. 5. Bermutu. Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat harus bermutu yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dan sesuai dengan kode etik dan standar yang ditetapkan. Prosedur Pelayanan Masâ&#x20AC;&#x2122;ud Khasan, 1985 mengatakan prosedur adalah tata tertib mengenai tata cara yang harus dipenuhi dalam melaksanakan atau mendapatkan sesuatu (Kamus ilmiah popular, Bintang Pelajar). Freddy Rangkuty (2002) mengatakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi pelanggan terhadap suatu jasa yaitu prosedur/tahapan pelayanan. Bagi peserta PT. Askes yang mendapatkan pelayanan rawat jalan tingkat pertama,rawat jalan lanjutan.rawat inap serta pertolongan persalinan di puskesmas atau di rumah sakit yang telah mengikuti prosedur sesuai ketentuan berlaku maka tidak dipungut bayaran dan pembayarannya dilakukan secara kolektif melalui klaim yang diajukan oleh puskesmas ke PT. Askes. Lama Waktu Tunggu Lama waktu tunggu untuk peserta PT. Askes dipuskesmas dimulai sejak waktu datang sampai selesei pengobatan merupakan hal yang dikeluhkan peserta bila mendapatkan pelayanan medik dan hal ini akan berpengaruh terhadap mutu pelayanan yang diberikan di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian yang dilakukan oleh Jerald Young mengatakan bahwa pelanggan akan keluar atau pindah dari suatu penyelenggara pelayanan kesehatan sebanyak 23% karena waktu yang harus menunggu. Lama waktu tunggu tersebut menggambarkan interaksi antara kepentingan pasien disatu pihak dan kewajibab petugas kesehatan di pihak lain

153


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

Asuransi Kesehatan Asuransi adalah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti (substitusi) kerugiankerugian besar yang belum pasti ( Drs.H. Abbas Salim,MA,Asuransi dan menajemen resiko). Asuransi kesehatan adalah suatu sistim dalam pembiayaan kesehatan dimana dilakukan pengelolaan dana yang berasal dari iuran teratur peserta untuk membiayai kesehatan yang dibutuhkannya (Asrul Azwar, 1988). Asuransi kesehatan meruapak cara untuk mengatasi resiko dan ketidak pastian peristiwa sakit serta implikasi biaya biaya yang diakibatkannya (Bhisma Murti, 2000). Di dalam sistim asuransi kesehatan terdapat 3 pihak yang saling berhubungan dan mempengaruhi yaitu peserta, badan asuransi dan pemberi pelayanan kesehatan (PPK). Peserta ialah mereka yang terdaftar sebagai anggota dan mempunyai kewajiban membayar iuran/premi dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan.Badan asuransi adalah badan yang bertanggungjawab mengumpulkan dan mengelola dana serta membayar biaya kesehatan yang dibutuhkan peserta.Pemberi pelayanan kesehatan adalah intitusi yang bertanggungjawab menyediakan pelayanan kesehatan bagi peserta dan untuk itu mendapatkan imbalan jasa dari badan asuransi. PT (PERSERO) Askes Indonesia PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia adalah suatu badan usaha milik negara yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan pemeliharan dan peningkatan kesehatan masyarakat peserta dan anggota keluarganya dalam bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat. Asuransi kesehatan pegawai negeri sipil dan penerima pensiun telah dimulai sejak tahun 1968 dengan Keputusan Presiden nomor 230/1968, pembayaran dimulai dengan sistim restitusi yaitu panggantian biaya pengobatan yang lebih dahulu dibayar oleh peserta. Perkembangan selanjutnya reorganisasi badan penyelenggara dana pemeliharan kesehatan (BPDPK) tahun 1977, Perum Husada Bhakti (PHB) dengan Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 1984 dan terakhir menjadi PT. Askes berasarkan PP nomor 6 tahun 1992 1. Administrasi Kepesertaan Penatalaksanaan pelayanan kesehatan diberikan kepada peserta PT. Askes pada Puskesmas yang dipilih oleh peserta dan dianjurkan untuk memilih Puskesmas yang lebih dekat dengan tempat tinggal dan dapat mengganti Puskesmas setelah

154

6 bulan (pedoman administrasi kepersertaan PT. Askes, 1998). Peserta PT. Askes terbagi atas 2 peserta yaitu : pertama peserta wajib adalah pegwai negeri sipil, penerima pensiun, perintis kemerdekaan, pegawai PTT dan keluarganya. Kedua peserta sukarela adalah pegawai dari badan usaha yang melakukan perjanjian kerja sama dengan PT. Askes untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. 2. Hak peserta PT. Askes. Peserta dan keluarganya berhak memperoleh pemeliharan kesehatan sesuai dengan kebutuhan di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta yang ditunjuk dengan mengikuti prosedur yang ditetapkan. 3. Kewajiban Kewajiban peserta adalah membayar iuran dan mempunyai kartu Askes sebagai bukti sah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Ruang Lingkup Pelayanan PT. ASKES 1. Rawat jalan tingkat pertama. a. Pemeriksaan dan pengabatan oleh dokter umum/paramedis b. Pemeriksaan dan pengobatan gigi oleh dokter gigi/perawat gigi c. Pemeriksaan laboratorium sederhana d. Tindakan medis sederhana e. Pemeriksaan ibu hamil dan balita f. Imunisasi dasar g. Pemberian obat sesuai standar h. Pelayanan KB i. Pemberian rujukan atas indikasi medis 2. Rawat jalan tingkat lanjut a. Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter b. Pemeriksaan penunjang diagnostik (radiologi, laboratorium, dll) c. Tindakan medis d. Obat obatan sesuai kebutuhan medis e. Rehabilitasi 3. Rawat Inap a. Pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan oleh dokter b. Pemeriksaan penunjang diagnostik c. Tindakan medis d. Obat obatan sesuai kebutuhan medis e. Fasilitas penginapan sesuai kelas 4. Pelayanan obat a. Obat rawat jalan tingkat pertama disediakan di Puskesmas dan poliklinik rumah sakit kelas D


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

b. Obat untuk pelayanan rujukan diperoleh di rumah sakit atau apotik yang ditunjuk c. Pemberian obat obatan untuk rawat jalan lanjutan dan rawat inap berpedoman pada buku Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) yang diterbitkan oleh PT. Askes 5. Hal hal yang tidak menjadi tanggungan PT. Askes b. Peserta yang tidak mengikuti/mentaati ketentuan prosedur yang berlaku. c. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak ditunjuk oleh PT. Askes. d. Biaya transpor untuk berobat. e. Ambulance. Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan (pedoman penyelenggarakan puskesmas di era desentralisasi). Dalam penyelenggarakan pelayanan medis kepada peserta PT. Askes puskesmas merupakan unit terdepan. Fungsi dan program puskesmas. 1. Fungsi puskesmas yaitu pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan,pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan dan pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama. 2. Program kesehatan Program puskesmas merupakan wujud dari pelaksanaan ketiga fungsi puskesmas, program tersebut adalah program kesehatan dasar terdiri dari : KIA/KB, pemberantasan penyakit menular, perbaiakn gizi, pengobatan, kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan serta program

kesehatan pengembangan. Menurut Jacobalis (1989), bahwa tidak mudah mengukur mutu produk jasa seperti halnya mengukur pelayanan kesehatan. Mutu sangat subjektif bergantung pada persepsi, sistem nilai, latar belakang sosial, pendidikan atau pribadi yang terkait dengan jasa layanan itu. Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana individu memilih, mengorganisasikan, serta mengartikan stimulus yang diterima melalui alat inderanya menjadi suatu makna dan dipengaruhi oleh pengalaman. Faktor yang berpengaruh terhadap persepsi pelanggan atas suatu jasa yaitu : harga, citra, tahap pelayanan dan moment pelayanan. Penutup Prosedur merupakan tata tertib mengenai tata cara yang harus dipenuhi dalam melaksanakan atau mendapatkan sesuatu rangkaian satu sama lainnya sehingga menunjukan adanya suatu urutan tahap demi tahap sreta jalan yang harus ditempuh dalam rangka menyelesaikan dan melaksanakan sesuatu. Waktu tunggu adalah lama menunggu bagi pasien mulai datang sampai selesai pengobatan. Lama waktu tunggu tersebut menggambarkan interaksi antara kepentingan pasien di satu pihak dan kewajiban petugas kesehatan di pihak lain.Dengan demikian kepuasan pelanggan mempunyai dimensi waktu karena hasil akumulasi. Pelayanan pemeriksaan yang baik mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kepuasan pasien yang berobat di puskesmas. Pelayanan apotik yang baik juga mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kepuasan pasien yang berobat di Puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Asrul Azwar, 1996, Pengantar Administrasi Kesehatan, Edisi III, Bina Rupa Aksara Jakarta. Abbas Salim, Drs, 1998, Asuransi Manajemen Resiko, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Asrul Azwar, 1993, Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, PKMI, Jakarta. Bhisma Murti, 2000, Dasar Dasar Asuransi Kesehatan, Penerbit Kanisius, Jakarta Depkes RI, 1999, Renvana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta. Depkes RI, 2001, Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas Di Era Desentralisasi, Jakarta. Freddy Rangkuti, 2002, Measuring Customer Satisfaction, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Fandy Tjiptono& Anastasi Diana, 1998, Total Quality Manajemen, Penerbit Andi Yogjakarta. Hardjo Soedarma, S, 1996, Dasar dasar Total Quality Manajemen, Penerbit Andi Yogjakarta. Handi Irawan, MBA, 2002, 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan,

11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Penerbit PT Elekmedia Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta. Irwanto, Drs, 1994, Psikologi Umum, PT. Gramedia Jakarta. Jacobalis Samsi, 1989, Menjaga Mutu Pelayanan Rumah sakit, PT. Citra Windu Satria, Jakarta. Lily Syafrina, 1997, Tinjauan Tentang Perubahan Pengelolaan Askes PHB Menjadi PT. (persero) Askes Indonesia, skripsi tidak diterbitkan, Padang Rudi Suwandi, 2001, Sistem Manajemen Mutu, ISO 9000 : 2000, PPM Jakarta. Syarif Potutu, 1994, Tinjauan Mutu Pelayanan Medik Pada Peserta PT. Askes Indonesia Di Puskesmas Kelurahan Manggala Kodya Ujung Pandang, Skripsi Tidak diterbitkan. PT. Askes Indonesia, 1998, Pedoman Administrasi Kepesertaan, Jakarta. PT. Askes, 2001, Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Prima, Jakarta. Sulastomo, 2000, Manajemen Kesehatan, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Sulastomo, 2002, Asuransi Kesehatan Sosial Sebuah Pilihan, PT. Raja Grafindo Persada, jakarta.

155


SERBA-SERBI

KONGRES I IKATAN ALUMNI PSIKM DAN MUSYAWARAH DAERAH IAKMI SUMATERA BARAT

Tanggal 28 Juli yang lalu merupakan tanggal yang bersejarah bagi PSIKM. Betapa tidak, karena pada tanggal tersebut telah sukses diadakan Kongres I Ikatan alumni PSIKM dan Musyawarah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Sumatera Barat. Banyak hal yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut, diantaranya penambahan wawasan tentang profesionalisme seorang SKM, kebersamaan dan silaturrahmi alumni PSIKM dan terbentuknya pengurus IAKMI Sumbar yang tentu saja diharapkan bisa membawa angin segar pada dunia kesehatan di Sumatera Barat. Adapun rangkaian acara yang diadakan pada saat itu adalah Seminar Nasional dengan tema “Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat menuju Millenium Development Goals Bidang Kesehatan”, Kongres Alumni PSIKM, dan Musda IAKMI Sumbar serta penyajian poster-poster hasil penelitian dosen PSIKM. Berikut rangkuman dari kegiatan-kegiatan tersebut: 1. Seminar Nasional Tema yang diangkat pada seminar Nasional ini adalah “Peran Profesi Kesehatan Masyarakat Menuju Millenium Development Goals”. Sebagai pembicara pertama adalah Ir. Herwanti Bahar, M.Sc dari Puspronakes- LN Badan PPSDM Kesehatan Depkes RI. Beliau mengangkat topik tentang “Kebijakan Puspronakes-LN dalam Pembinaan dan Pemberdayaan Organisasi Profesi”. Dalam presentasinya beliau menjabarkan tentang perlunya peningkatan daya saing profesi tenaga kesehatan di era globalisasi. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan profesi kesehatan dan peningkatan masalah kesehatan, perkembangan IPTEK, peningkatan kualitas SDM dan timbulnya jenis penyakit baru. Untuk menjawab harapan dan kebutuhan tersebut diperlukan peran Pemerintah dan organisasi profesi kesehatan agar kualitas sumber daya kesehatan dapat lebih dioptimalkan. Strategi peningkatan kemandirian dan kompetensi tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Depkes, dalam hal ini Pusat Pronakes-LN adalah

156

penetapan standar profesi, pengembangan program sertifikasi, pelaksanaan registrasi profesi tenaga kesehatan dan terwujudnya legislasi tenaga kesehatan. Disinggung juga tentang beberapa kompetensi yang perlu dikuasai lulusan kesehatan masyarakat, diantaranya yaitu surveice, risk assessment, health education, health promotion, administrasi kebijakan kesehatan, AMDAL dan gizi masyarakat. Pembicara kedua adalah dr. Rosnini Savitri, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat. Makalah beliau berjudul “Kebijakan Pembangunan Program Kesehatan Propinsi Sumatera Barat”. Dr. Rosnini memaparkan salah satu agenda pembangunan prioritas Propinsi Sumbar adalah membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas tersebut bisa didapatkan dengan memperbaiki sektor pendidikan dan kesehatan. Dibidang kesehatan terdapat 10 program pokok diantaranya perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit, lingkungan sehat, kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan. Adapun grand strategy untuk mencapai target pembangunan bidang kesehatan adalah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM kesehatan, meningkatkan sistem surveilance monitoring dan informasi kesehatan dan meningkatkan pembiayaan kesehatan. Grand strategy tersebut diterjemahkan ke dalam 20 sasaran program yang mempunyai indikator yang lebih terperinci. Sedianya acara ini juga akan dihadiri oleh Prof.dr.Amal C Sjaaf,SKM,Dr.PH, konsultan Kesehatan Masyarakat sekaligus dosen FKM UI. Namun karena tertundanya jadwal penerbangan, Prof.dr.Amal C Sjaaf, SKM, Dr.PH batal berangkat ke Padang. Akhirnya makalah beliau dibacakan oleh Pembantu Dekan I FK Unand, DR.dr Masrul, MSc. Dalam makalahnya Prof. Amal C Sjaaf menjelaskan bahwa dari 8 (delapan) tujuan yang hendak dicapai


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

dalam MDGs, tenaga kesehatan masyarakat dapat berperan setidaknya dalam 5 (lima) tujuan, yaitu : tujuan 1; eradikasi kemiskinan dan kelaparan ekstrim, tujuan 4; penurunan angka kematian Balita, tujuan 5; Perbaikan Kesehatan Ibu, tujuan 6; pemusnahan malaria, HIV/AIDS, dan penyakit infeksi lain, tujuan 7; pemantapan pelestarian lingkungan hidup. 2. Kongres I Ikatan Alumni PSIKM Kongres I Ikatan Alumni PSIKM FK Unand bertujuan untuk menyatukan alumni PSIKM kedalam suatu wadah organisasi alumni yang diharapkan dapat mengkoordinir semua alumni PSIKM. Ikatan Alumni PSIKM nantinya dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi, dan silaturrahmi bagi alumni dan tentunya juga diharapkan dapat memberikan masukan terhadap peningkatan kualitas PSIKM sebagai sebuah institusi pendidikan kesehatan. Kongres I Ikatan Alumni PSIKM mengagendakan acara pembentukan organisasi Alumni dan pembentukan Ketua dan pengurus inti Ikatan Alumni PSIKM. Proses pemilihan Ketua sendiri dimulai dengan memilih satu orang perwakilan tiap angkatan dari tahun 2000-2004. Selanjutnya formatur tersebut melakukan voting terhadap beberapa nama yang diusulkan oleh peserta Kongres. Setelah melalui proses voting tersebut terpilihlah Ildamsyah, SKM sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni PSKM FKUA periode 2007-2011. Kemudian ketua terpilih bersama formatur membentuk pengurus inti yang terdiri atas wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Setelah Ketua dan pengurus inti terpilih, maka Kongres mengamanatkan kepada mereka untuk membentuk pengurus lengkap Ikatan Alumni PSIKM. Berikut nama-nama yang dicalonkan sebagai pengurus lengkap Ikatan Alumni PSIKM FK Unand: Penasehat

: Dekan Fakultas Kedokteran FK Unand Ketua PSIKM FKUnand Ketua : Ildamsyah, SKM Wakil Ketua 1 : Masrizal Dt. Manggung, SKM Wakil Ketua 2 : Syahrul Fulqan, SKM Sekretaris : Ade Suzana E.P, SKM Wakil Sekretaris : Roery Yohanes, SKM Bendahara : Vivi Triana, SKM Wakil Bendahara : Nurhusnida, SKM

Kabid Organisasi dan Profesi H. Amril, SKM, SPd,Mkes (Ketua) Anggota 1. Metra Nelinda, SKM 2. Minda Liza, SKM 3. Riki Toni, SKM 4. Elfi Muthia, SKM Kabid Pengembangan IPTEK Lismarni, SKM (Ketua) Anggota 1. Yasril, SKM 2. Yanti, SKM 3. Yuni Andra, SKM 4. Catur Wira Yoga, SKM, Mkes Kabid Humas dan Usaha M. Syahril, SKM (Ketua) Anggota 1. Isniati, SKM 2. Irdawati, SKM 3. Rini Lamawati, SKM 4. Resmanto, SKM Kabid Pengabdian Masyarakat Miladil Fitra, SKM (Ketua) Anggota 1. Hannif, SKM 2. Devid, SKM 3. Zaineti, SKM 4. Ahmad Roby Hidayat, SKM Kabid Publikasi Fivi Melva Diana, SKM (Ketua) Anggota 1. Ade Febrian, SKM 2. Meidarni, SKM 3. Kadriadi, SKM Koord. Wilayah Dieky Firan Dola, SKM (Ketua) Profil Ketua Ikatan Alumni PSIKM: Nama : Ildamsyah, SKM TTL : Padang, 30 Agustus 1962 Tahun Masuk PSIKM : 2003 Instansi : Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Teluk Bayur Padang 3. Musyawarah Daerah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Sumatera Barat IAKMI terbentuk bertujuan untuk turut dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan masyarakat. Selain itu juga

157


Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2007, II (1)

bertujuan turut serta dalam peningkatan derajad kesehatan Indonesia khususnya dan ummat manusia umumnya. Musyawarah Daerah (MUSDA) IAKMI diselenggarakan setiap 5 tahun sekali dengan maksud dan tujuan untuk menghimpun para ahli kesehatan masyarakat yang tergabung dalam wadah IAKMI untuk memilih dan menetapkan kepengurusan IAKMI untuk periode 5 tahun berikutnya. Berdasarkan pemilihan yang dilaksanakan oleh anggota IAKMI Sumbar dan berpedoman pada Anggara Dasar IAKMI Pusat terpilih dr. H. Suchyar Iskandar Dt.Gd Madjolelo, M.Kes. (Direktur Utama RSUP M. Jamil Padang) sebagai Ketua IAKMI Sumbar periode 20072012. Setelah terpilih ketua umum dilanjutkan dengan pemilihan pengurus inti IAKMI pada tanggal dan tempat yang sama. Setelah itu sebagai kelanjutan dari pemilihan ketua terpilih dan pengurus harian, pada tanggal 4 Agustus 2007 di Aula Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unand Padang, yang dihadiri oleh Pembina, Pengurus lama, Ketua terpilih dan pengurus harian dilaksanakan pemilihan pembentukan pengurus lengkap IAKMI Periode 2007 â&#x20AC;&#x201C; 2012. Nama- nama pengurus lengkap IAKMI Sumbar adalah sebagai berikut: Pengurus IAKMI Sumbar Periode 2007-2012 Dewan Penasehat 1. Gubernur Provinsi Sumatera Barat 2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat 3. Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang 4. Dr. Zulkarnain Agus, MSc, MPH 5. DR.dr. H. Hafni Bachtiar, MPH Ketua Umum Dr.Suchyar Iskandar, M.Kes Ketua I Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, M.Pd, M.Si Ketua II Magzaiben, SKM, M.Kes Sekretaris Umum Evino Sugriarta, SKM, M.Kes Sekretaris I Defriman Djafri, SKM, MKM

158

Wakil Sekretaris Pipit Muthia, SKM Bendahara Umum DR.Dr. Rizanda Machmud, M.Kes Bendahara I Yudri Bufia,SKM, M.Kes Sekretariat Ade Suzana Eka Putri, SKM Azrimaidaliza, SKM, MKM Miladil Fitra, SKM Bidang-Bidang Bidang I Organisasi, Profesi, Diklat: Koordinator : DR. Dr. Masrul, MSc Anggota : Jhon Amos, SKM, M.Kes Dr.Winardi, MSc Dr. Edison, MPH Isniati, SKM Bidang II Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat Koordinator Denas Symond, MCN Anggota 1. Ch Tuti Ernawati, SKM, M.Kes 2. Dr. Yuniar Lestari, M.Kes 3. Dr.Nur Indrawati P, MSc, PhD Bidang III Pengabdian Masyarakat Koordinator Kamal Kasra, SKM, MQIH Anggota 1. Iswanelly Mourbas, SKM, M.Kes 2. Masrizal Dt. Mangguang, SKM 3. Syafrawati, SKM


FORMULIR BERLANGGANAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama

: ...........................................................................................................................

Alamat

: ...........................................................................................................................

Telepon

: ...........................................................................................................................

e-mail

: ...........................................................................................................................

Bersedia untuk menjadi pelanggan Jurnal Kesehatan Masyarakat dengan biaya Rp. 75.000,00/tahun/2 Edisi (sudah termasuk ongkos kirim).

Pembayaran ditransfer ke Rek a/n. PSIKM Fakultas Kedokteran Unand No. Rek. 0132783036 BNI Padang Cabang Imam Bonjol Bukti Transfer berikut Formulir ini dikembalikan ke : Redaksi Jurnal Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Jl. Perintis Kemerdekaan Padang Telp. (0751) 38613

159


Volume 2 Nomor 1 (September 2007 - Maret 2008)