Page 41

90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% Jakarta Bali Kalimantan Timur Kepulauan Riau Yogyakarta Sulawesi Utara Jawa Timur Kalimantan Barat Maluku Kalimantan Selatan Jawa Tengah Sulawesi Tenggara Sumatera Utara Iindonesia Sulawesi Selatan Riau Jambi Sumatera Barat Irian Jaya Barat Sumatera Selatan Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Lampung Nusa Tenggara Barat Jawa Barat Sulawesi Tengah Banten Gorontalo Papua Kalimantan Tengah Bengkulu Nanggroe Aceh Bangka Belitung Sulawesi Barat

0%

Gambar 7.2 Akses terhadap Sumber Air yang Terlindungi menurut Propinsi, 2006

telah memberikan perkiraan seperti yang terlihat di Gambar 7.2. Angka rata-rata nasional untuk Indonesia adalah 52,1%, meskipun angka ini bervariasi dari 34% di Sulawesi Barat hingga 78% di Jakarta. Kecenderungan terkini di tingkat nasional dapat dilihat pada Gambar 7.3. Gambar tersebut menunjukkan satu peningkatan yang perlahan namun pasti. Untuk mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses pada 2015 berarti harus mencapai angka sekitar 80%.

Sumber: BPS – Susenas berbagai tahun dan Departemen PU, 2006

Kita sedang menuju ke arah yang tepat Gambar 7.3 Akses terhadap Sumber Air yang Terlindungi, Perkotaan dan Pedesaan Sumber: BPS – Susenas berbagai tahun dan Departemen PU, 2006

diberi pembatas atau memiliki pagar atau tutup untuk melindunginya dari kontaminasi hewan. Atau bisa saja air sungai yang telah disaring oleh perusahaan air untuk menghilangkan hampir semua sumber kontaminasi dan kemudian menyalurkannya melalui pipa. Air seperti itu dapat dikatagorikan sebagai “air yang bersih” meskipun tidak bisa disebut air minum yang aman. Bahkan ada berbagai standar yang berbeda tentang “kebersihan” air. Satu standar, misalnya, mensyaratkan bahwa sumber air paling tidak harus berjarak minimal 10 meter dari tempat yang digunakan untuk pembuangan tinja.

Sepertinya itu bisa dipahami Dengan menggunakan standar tersebut, Susenas

30

Ya, dengan kemajuan yang kita capai hingga saat ini, nampaknya kita hampir memenuhi target. Namun dalam kenyataannya, untuk dapat mencapai target minimal “air bersih” akan sulit. Penyebabnya berbeda-beda antara kawasan perkotaan dengan perdesaan. Di kawasan perdesaan sistem yang telah terpasang mencapai 50%, tetapi tidak terpelihara dengan baik. Artinya, angka 50% pun bisa jadi hanya perkiraan optimistis karena mencakup sistem yang tidak bekerja dengan baik.

Apa yang salah? Seringkali kurangnya pemeliharaan. Di komunitaskomunitas yang menyebar, sistem yang didanai publik seringkali bersumber pada sumur atau mata air. Namun setelah sistem dipasang, mungkin tidak jelas siapa yang bertanggung jawab untuk

Laporan Pencapaian MDGs 2007/2008  
Laporan Pencapaian MDGs 2007/2008  

Laporan pencapaian MGDs Indonesia

Advertisement