Page 39

lewat pembalakan liar. Dalam beberapa kasus, lahan juga dibuka untuk tujuan-tujuan lain seperti perkebunan kelapa sawit. Selain itu, sebagian komunitas pedesaan yang kekurangan lahan juga telah merambah hutan lebih jauh. Situasinya semakin rumit ketika pemerintah daerah mempunyai definisi peruntukan lahan yang bertentangan dengan defenisi nasional.

Jadi kita tidak cukup berhasil Tidak, dan semua ini menimbulkan masalah besar bagi penduduk yang menggantungkan penghidupan mereka pada hutan, khususnya sekitar 10 juta penduduk miskin, termasuk kelompok masyarakat adat27. Penggundulan hutan juga seringkali disertai dengan kebakaran hutan yang menimbulkan masalah kesehatan yang serius selain memproduksi gas rumah kaca yang dilepaskan dalam jumlah besar ke atmosfer. Penggundulan hutan juga mengurangi keragaman hayati kita. Seperti yang sudah anda bayangkan, untuk indikator MDGs ini, Indonesia masih jauh dari target.

Jadi bagaimana kita bisa mengejar ketertinggalan? Mungkin agak sulit. Di tingkat nasional kita mempunyai niat yang benar. Pemerintah telah berikrar untuk melindungi lingkungan. Namun kita memiliki pengelolaan yang buruk dan kesulitan dalam menegakkan peraturan. Kita harus berbuat lebih banyak untuk memberantas kejahatan dan korupsi di bidang kehutanan. Yang juga perlu dilakukan adalah pengalihan pengendalian hutan kepada komunitas setempat sehingga mereka bisa hidup dari hutan dan mendapatkan insentif untuk mengelola dan melindungi hutan tersebut. Namun kita juga memiliki banyak sumber daya alam lain yang dengannya penduduk miskin bisa bertahan hidup, khususnya lautan yang menjadi lapangan pekerjaan bagi 3 juta orang. Kenyataannya, sumber daya kelautan di Indonesia juga telah terkena dampak penggundulan hutan.

Kita punya pohon bawah laut? Tidak, namun penggundulan hutan dan kerusakan lahan menyebabkan erosi berupa pengikisan lapisan tanah oleh air hujan. Tanah tersebut mengalir bersama sungai ke laut sehingga menghancurkan terumbu karang. Laut kita pun menghadapi risiko polusi lainnya, khususnya tumpahan minyak. Sementara itu, di daratan kita dihadapkan pada

28

polusi limbah beracun, kimia dan pestisida –begitu pula polusi udara, khususnya yang berasal dari industri dan semburan asap kendaraan bermotor. Secara keseluruhan, lingkungan hidup Indonesia telah cukup tercemar. MDGs tidak memiliki indikator untuk polusi, namun memonitor seberapa besar penggunaan energi kita, karena banyak dari energi tersebut merupakan hasil industrialisasi yang biasanya mengkonsumsi lebih banyak energi.

Saya banyak menggunakan energi untuk membaca laporan ini Juga sangat menarik bukan? Tetaplah membaca. Tinggal satu tujuan MDGs lagi yang akan dibahas. Tentu saja energi yang sedang kita bahas ini tidak berasal dari makanan namun dari berbagai jenis bahan bakar. Konsumsi minyak bumi, kita berada di titik yang rendah pada 1998 menyusul krisis ekonomi. Sejak itu, “intensitas energi� kita meningkat terus hingga saat ini mencapai 95,3 kg setara minyak per 1,000 $ (Dep. ESDM, 2006). Namun demikian, menggunakan lebih banyak energi tidak serta-merta berarti lebih banyak pencemaran, khususnya jika kita beralih menggunakan bahan bakar yang lebih bersih. Dalam kenyataannya, salah satu indikator MDG lainnya jelas mencerminkan hal ini. Indikator tersebut melihat pada proporsi penduduk yang menggunakan bahan bakar padat. Ini artinya menggunakan kayu atau batubara, misalnya, dan bukan menggunakan minyak tanah, atau LPG (Liquified Pertoleum Gas). Memang proporsi penduduk yang menggunakan bahan bakar padat sudah menurun secara tajam, dari 70,2% pada 1989 menjadi 47,5% pada 2004.

Apa yang salah dengan bahan bakar padat? Biasanya lebih kotor karena menghasilkan uap dan asap. Ini berisiko jika digunakan di rumah, khususnya bagi perempuan dan anak-anak karena bisa terkena dampak buruknya. Tentu saja kita juga perlu mengkhawatirkan emisi bahan bakar lain yaitu “gas rumah kaca�, khususnya karbon dioksida yang naik ke lapisan atas atmosfer dan memanaskan planet ini.

Itu bukan salah kita. Kebanyakan gas rumah kaca berasal dari negara-negara kaya Memang betul bahwa negara-negara maju paling banyak menghasilkan emisi industri. Namun banyak negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,

Laporan Pencapaian MDGs 2007/2008  

Laporan pencapaian MGDs Indonesia

Advertisement