Page 27

perempuan. Setelah itu, situasi perempuan terus memburuk, dan hanya sedikit berubah selama beberapa tahun terakhir. Informasi lebih lanjut diperoleh dari berbagai survei tentang proporsi penduduk dewasa dalam angkatan kerja. Misalnya, pada tahun 2004, proporsi laki-laki adalah 86% namun perempuan hanya 49% 10. Selain kurang mendapatkan lapangan pekerjaan, perempuan juga cenderung mendapatkan pekerjaan tidak sebaik laki-laki. Di pabrik-pabrik industri tekstil, pakaian dan alas kaki, misalnya, banyak perempuan muda yang bekerja dengan upah rendah – seringkali dengan penyelia laki-laki. Demikian pula halnya di pemerintahan. Perempuan hanya menduduki 14% jabatan tinggi dalam birokrasi pemerintahan. Perempuan juga kurang terwakili di bidang politik.

Indonesia bahkan lebih rendah, masing-masing 13% (1992), 9% (2003), dan 11,3% (2005).

Paling tidak angkanya naik lagi

Itu mungkin karena Undang-Undang tahun 2003 tentang Pemilihan Umum yang mewajibkan Partai Politik untuk sedikitnya memiliki 30% calon perempuan. Tidak semua partai politik bisa mewujudkan hal tersebut. Bahkan umumnya menaruh perempuan di urutan terbawah dalam daftar calon legislatif (caleg), posisi di mana Sang Caleg tidak akan terpilih. Meskipun demikian, kewajiban tersebut ada dampaknya. Yang menarik, dalam Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di mana para calon tidak mewakili partai politik, perempuan menduduki sepertiga dari kursi yang ada – dan lebih dari 30% perempuan yang mencalonkan diri, Tapi, setidaknya kita pernah memiliki terpilih dalam pemilihan anggota DPD. Tampaknya, presiden perempuan pemilih cukup mendukung terpilihnya perempuan. Benar, dan hal itu menunjukkan Indonesia lebih Masalahnya, bagaimana agar bisa menjadi calon maju dibandingkan banyak negara lain. Namun salah satu partai politik besar. Perempuan juga dalam jenjang jabatan politik di bawahnya, kurang terwakili di tingkat daerah, terutama perempuan kurang terlihat. Hanya sedikit yang karena harus memikul tanggung jawab rumah terpilih menjadi anggota parlemen. Demikian tangga. Karena itu, terkait kesetaraan gender, juga yang menjadi bupati atau gubernur. Indikator secara menyeluruh kita telah cukup berhasil MDG untuk ini adalah proporsi perempuan yang dalam pendidikan namun anak perempuan dan menjadi anggota DPR. Angka rata-rata dunia untuk perempuan masih banyak menghadapi hambatan hal ini cukup rendah, yaitu sekitar 15%. Proporsi budaya dan ekonomi.

TUJUAN 3: Mendorong kesetaran gender dan pemberdayaan perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan, lebih baik pada 2005, dan di semua jenjang pendidikan paling lambat tahun 2015 Yang menjadi indikator utama adalah rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki di pendidikan dasar, lanjutan dan tinggi. Disini Indonesia tampaknya sudah mencapai target, dengan rasio 99,4% di sekolah dasar, 99,9% di sekolah lanjutan pertama, 100,0% di sekolah lanjutan atas, dan 102,5% di pendidikan tinggi. Indikator kedua adalah rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki untuk usia 15-24 tahun. Disini pun, tampaknya kita telah mencapai target dengan rasio 99,9%. Indikator ketiga adalah sumbangan perempuan dalam kerja berupah di sektor non-pertanian. Disini kita masih jauh dari kesetaraan. Nilainya saat ini hanya 33%. Indikator keempat adalah proporsi perempuan di dalam parlemen, dimana proporsinya saat ini hanya 11,3%.

16

Laporan Pencapaian MDGs 2007/2008  

Laporan pencapaian MGDs Indonesia

Advertisement