Page 26

yang paling mengesankan, adalah apa yang terjadi di perguruan tinggi. Silahkan lihat kembali Gambar 3.1. Sepanjang sepuluh tahun terakhir, jumlah perempuan dengan cepat mengejar jumlah laki-laki dan sekarang berada di depan. Sekitar 15% remaja yang beranjak dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, mendapatkan pendidikan tinggi. Kemajuan yang dicapai anak perempuan juga terlihat dalam hal tingkat melek huruf. Tahun 2006 tingkat melek huruf adalah 91,5% untuk lakilaki, namun hanya 88,4% untuk perempuan. Ini karena di masa lalu lebih sedikit anak perempuan yang bersekolah. Sekarang situasi sudah semakin setara. Untuk mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun, tingkat melek huruf baik untuk laki-laki dan perempuan hampir mendekati 100%. Gambar 3.2 Proporsi Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki di Sekolah-sekolah Lanjutan Kejuruan, 2002/03

Jadi, perempuan cukup berhasil. Terkait kesempatan untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi, kesan anda benar. Namun ketika anak perempuan bersekolah, banyak ketimpangan atau ketidaksetaraan yang harus dihadapi. Panutan pertama mereka adalah para guru. Di sekolah dasar, terdapat lebih banyak guru perempuan dibandingkan laki-laki. Namun, siapa yang memimpin? Jumlah laki-laki yang menjadi kepala sekolah, misalnya, empat kali lipat dibandingkan dengan perempuan8. Anak perempuan juga akan melihat ketimpangan ketika mereka membuka buku teks. Sebuah buku teks utama sekolah dasar tentang kewiraan, misalnya, membahas tanggung jawab dalam keluarga. Buku tersebut menjelaskan bahwa aktivitas utama ayah adalah mencari nafkah sementara ibu bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga. Dan ilustrasi tentang tanggung jawab anak-anak dengan gambar anak perempuan yang sedang mencuci dan menyeterika9.

Sumber: UNESCO/LIPI, 2005

perempuan yang mempelajari sains.

Selain melihat bidang studi yang diambil, anda juga dapat menelaah apa yang terjadi ketika anak perempuan putus sekolah untuk bekerja – dengan melihat berapa banyak yang bekerja di luar rumah atau di luar lahan pertanian. Target Pembangunan Milenium melihat hal ini dengan membandingkan jumlah laki-laki dan perempuan yang bekerja di Saya berharap, anak perempuan saya mau “pekerjaan upahan non-pertanian�. Ini ditunjukkan menyeterika. Dan saya harap, anak laki-laki anda juga dapat dalam Gambar 3.3. Jika laki-laki dan perempuan melakukan hal yang sama. Kesenjangan lainnya, dipekerjakan secara setara di jenis pekerjaan anak perempuan sepertinya juga memilih bidang tersebut, perbandingannya haruslah 50%. Namun yang berbeda dari anak laki-laki. Hal ini tampak anda dapat melihat bahwa angka untuk perempuan jelas pada murid yang mengambil sekolah kejuruan. hanyalah sekitar 33,5%. Dari semua anak tersebut, anak perempuan jarang Dan tampaknya, angka itu menurun akhirmemilih sains (science) dan teknologi. Banyak akhir ini yang memilih sekolah pariwisata (Gambar 3.2). Ya, puncaknya pada 1998. Saat itu adalah puncak Namun situasinya lebih seimbang bagi mereka krisis ekonomi, ketika mungkin lebih banyak laki-laki yang mengambil sekolah lanjutan umum. Terdapat yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan dibandingkan jumlah yang sama antara anak laki-laki dan

Gambar 3.3 Sumbangan Perempuan dalam Kerja Berupah di Sektor Non-Pertanian Sumber: Sakernas (Berbagai Tahun)

15

Laporan Pencapaian MDGs 2007/2008  

Laporan pencapaian MGDs Indonesia

Advertisement