Page 14

sampai tuntas. Namun tujuan MDGs hanya mematok target pengurangan kemiskinan menjadi separuh. Sementara untuk HIV/AIDS, tujuannya adalah meredam persebaran epidemik. Sedangkan untuk pendidikan, targetnya lebih ambisius yaitu memastikan bahwa 100% anak memperoleh pendidikan dasar 9 tahun.

Kenapa demikian?

Karena memang lebih sulit mengukur kualitas, meskipun tidak mustahil. Anda mungkin bisa menilai kualifikasi para guru, atau hasil-hasil ujian, namun sulit untuk mengukur dan mendapatkan informasi tentang kualitas. Hal ini, membawa kita ke masalah besar berikutnya. Di negara yang sangat besar dan beragam seperti Indonesia, Kapan semuanya ditargetkan terwujud? angka nasional saja tidak terlalu bermanfaat. Sebagian besar ditargetkan pada 2015, dengan Ambil contoh, usia harapan hidup secara nasional patokan tahun 1990. Sebagai contoh, di Indonesia, adalah 68 tahun. Namun, bervariasi antara proposi penduduk yang hidup di bawah garis 73 tahun di Yogyakarta hingga 61 tahun di NTB. kemiskinan pada 1990 berjumlah sekitar 15,1%. Selain itu, meskipun ada angka provinsi, belum Pada 2015, kita harus mengurangi angka tersebut juga mengungkapkan kondisi kabupaten. Karena menjadi separuh, yaitu 7,5%. itu, secara keseluruhan, data-data MDGs memiliki keterbatasan.

Apa yang telah kita capai?

Terkait kemiskinan, belum banyak kemajuan yang dicapai. Pada 2007 ini, angka kemiskinan kita (16,6%) masih lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Jadi, dalam delapan tahun ke depan, banyak yang harus kita dilakukan. Sementara, untuk beberapa tujuan MDGs yang lain, kita lebih berhasil. Sebagai contoh, angka partisipasi anak di sekolah dasar, telah mencapai 94,7%. Namun, bila dicermati lebih rinci seperti terbaca dalam uraian pada bab berikut, kondisi kemiskinan sebenarnya tidak seburuk angka yang ditampilkan. Sebaliknya, kondisi pendidikan tidak sebaik yang terungkap dalam angka tadi. Untuk mengetahuinya secara rinci, silahkan baca laporan ini hingga selesai.

Tampaknya, saya perlu terus membaca Menurut saya Ya. Isu-isu yang diusung MDG sangat penting, meskipun terkesan sederhana karena terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya kuantitatif. Sebagai contoh, di sektor pendidikan, adalah baik bahwa 94,7% anak-anak terdaftar di sekolah dasar. Namun ketika sekolah mereka bocor, atau hanya memiliki buku dalam jumlah yang terbatas serta guru-guru yang kurang kompeten, maka bersekolah tidak akan membuat anak-anak mendapatkan pendidikan bermutu. Sayangnya, tujuan pendidikan dalam MDGs tidak mengkaji aspek kualitas.

Jadi, tidak terlalu berguna Baiknya, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. MDGs bukan sekedar soal ukuran dan angka-angka, namun lebih untuk mendorong tindakan nyata. Mencegah terjadinya kematian ibu lebih penting daripada sekedar menghitung berapa banyak perempuan meninggal sewaktu melahirkan. Yang penting tidak hanya menghitung berapa banyak anak Indonesia yang kekurangan gizi, namun juga memastikan bahwa semua anak memperoleh asupan yang cukup. Salah satu manfaat dari MDGs adalah berbagai persoalan yang diusung menjadi perhatian berbagai pihak termasuk masyarakat secara luas. Namun, laporan tentang kemajuan MDGs di tingkat kabupaten juga sangat diperlukan.

Lalu buat apa ada laporan MDGs nasional? Anggaplah ini sebagai titik awal, yaitu cara untuk memperkenalkan berbagai masalah tersebut secara umum, sehingga masyarakat di seluruh negeri yang luas ini dapat mulai berpikir tentang penyelesaiannya. Sebuah laporan nasional juga bisa dimasukkan ke dalam sistem internasional yang mencatat pencapaian-pencapaian MDGs di seluruh dunia. Dan, karena anda masih terus membaca, baiklah kita segera membahas Tujuan 1 dari MDGs.

3

Laporan Pencapaian MDGs 2007/2008  

Laporan pencapaian MGDs Indonesia

Advertisement