Improve Magazine Ed 14 - August 2022

Page 1

EDISI

14

AGS 2022

W W W.PQ M.C O.I D ●

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

THE FUTURE

OF SUPPLY CHAIN:

LOOKING FORWARD TO 2023 AND BEYOND


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE


6

25

KERANGKA KERJA SCOR (SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE) MENJAWAB TANTANGAN SUPPLY CHAIN MASA MENDATANG

MEMANFAATKAN POTENSI PASAR MELALUI PENERAPAN SALES & OPERATIONS PLANNING (S&OP)

14

31

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

MENJADI PEMIMPIN MASA DEPAN MELALUI PROFESSIONAL YOUNG LEADER PROGRAM

19

WAREHOUSE STUDY PERUSAHAAN COCOA: OPTIMASI INVENTORY MENGGUNAKAN INVENTORY PLANNING MODEL (IPM)

TRANSFORMASI CUSTOMER EXPERIENCE (CX) SEBAGAI KUNCI KESUKSESAN BISNIS

JOIN US ON SOCIAL MEDIA

CONTACT PQM CONSULTANTS

WEBSITE WWW.PQM.CO.ID LINKEDIN PQM CONSULTANTS FACEBOOK PQM CONSULTANTS YOUTUBE PQM CONSULTANTS INSTAGRAM @PQMCONSULTANTS TWITTER @PQMCONSULTANTS

PHONE 021 4251887 EMAIL PQMCONS@PQM.CO.ID JL. CEMPAKA PUTIH TENGAH 17C NO. 7A JAKARTA PUSAT 10510

3

SUBSCRIBE TO IMPROVE MAGAZINE https://pqm.co.id/improve


The future of the supply chain: looking to 2022 and beyond Krisis rantai pasokan tidak diragukan lagi terasa berat. Pemasok dan produsen dari seluruh dunia sebagian besar telah diuji — menghadapi kekurangan stok besar-besaran, penundaan pemenuhan, dan backorder yang lama pada item inventaris mereka yang paling populer. PQM Consultants berharap tantangan rantai pasokan akan dapat dilewati dengan baik. Secara umum, tantangan ini didorong oleh peningkatan pembelanjaan konsumen, selera yang berkelanjutan untuk kenyamanan membeli secara online, dan mengejar ketertinggalan yang diperlukan dari kemacetan tahun lalu. Namun, terlepas dari jaringan rantai pasokan tahun 2022 yang rapuh, perusahaan menyesuaikan diri dengan perubahan ini dengan mengatasi inefisiensi secara langsung dan berusaha untuk bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Selain memperhatikan Supply Chain Management, perusahaan juga harus mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan untuk menjaga keberlangsungan perusahaan. Ini dilakukan oleh PT Fajar Surya Wisesa, Tbk dan kini PQM Consultants siap membantu Fajar Paper mewujudkan kompetensi SDM yang semakin andal. Improve Magazine edisi kali ini, akan mengajak anda serta organisasi anda untuk melakukan perbaikan dari sisi supply chain. Selamat menyimak. Salam Improvement!

EDISI

14

AGS 2022

W W W.PQM.C O.ID ●

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Cover THE FUTURE

OF SUPPLY CHAIN:

LOOKING FORWARD TO 2023 AND BEYOND

IMPROVE! Contributors PENANGGUNG JAWAB: Wahyu Rahtomo Tri Joko KONTRIBUTOR: Yozie Syamsubar, Dian Ananda Setiawan, Septa Tiar, Jarot Anorogo, Wahyu Rahtomo, Althaf R Tibyan, Miky Nurhariadi, Deris Yusuf REDAKSI: Jo Yan Matheas, Septa Tiar, Dian Ananda Setiawan TATA LETAK: Dito Boby


PHONE: 021 4251887


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

KERANGKA KERJA SCOR

(SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE) MENJAWAB TANTANGAN SUPPLY CHAIN MASA MENDATANG Ditulis Oleh: Yozie Syamsubar 1. Evolusi dan Tantangan Dunia Supply Chain saat ini dan kedepan Dunia supply chain telah mengalami perubahan yang cukup pesat dalam beberapa dekade terakhir ini. Dalam perkembangannya supply chain telah mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu yang tadinya lebih bersifat independent. Evolusi tersebut sudah terjadi dalam beberapa tahapan [1]. Sebelum memasuki era tahun 60an, beberapa disiplin ilmu seperti Demand Forecasting, Purchasing, Production Planning, Warehousing, Distribution dan Logistic, Customer Service dan sebagainya telah lebih dulu hadir. Memasuki era selanjutnya, integrasi telah terjadi sehingga melahirkan dua kelompok

besar yaitu, Purchasing/Material Management yang fokus kepada pengadaan material, perencanaan produksi sampai pengendalian persediaan. Dan Physical Distribution yang fokus pada proses warehousing dan pendistribusiannya. Dalam era 2000an selanjutnya Supply Chain Management telah menyatukan berbagai kegiatan tersebut. Sejalan dengan perkembangan kompleksitas permasalahan dan teknologi pendukung, SCM perlu melibatkan disiplin lainnya seperti Strategic Planning, TI/SI, Marketing, dan Finance (Gambar 1) [1].

6


Activity Fragmentation to 1960

Activity Integration 1960 to 2000

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

2000+

Dem and Forecasting Purchasing Requirements Planning Production Planning

Purchasing/ Material Management

Manufacturing Inventory Warehousing

Logistics

Material Handling Packaging Finished Goods Inventory Distribution Planning Order Processing

Physical Distribution

Supply Chain Management

Transportation Customer Service Strategic Planning Information Services Marketing/Sales Finance Gambar 1. Evolusi Supply Chain Management menunjukkan integrasi berbagai disiplin ilmu yang telah berlangsung dalam beberapa dekade terakhir ini.

Dalam periode yang sama SCM telah berupaya untuk mengatasi berbagai problematika yang muncul secara dinamis. Berbagai peristiwa seperti tsunami di Jepang (2011) [3], banjir di Thailand (2011) [4], kebakaran pabrik kimia Jerman yang mengganggu pasokan part otomotif dunia (2012) [5], pandemi global covid-19 (2020) [6], terblokirnya terusan suez oleh kapal container raksasa [7], telah melahirkan beberapa pemikiran baru dalam rangka memperkuat struktur supply chain agar tidak mudah tergoyahkan selama terjadinya gangguan tersebut.

Pandemi global Covid-19 telah berdampak sangat besar bagi seluruh organisasi bisnis di seluruh dunia. Gangguan terjadi baik dari sisi demand maupun supply. Meskipun beberapa organisasi dapat bertahan dan bahkan meningkatkan kinerjanya selama periode tersebut, tidak sedikit organisasi yang tersingkirkan karena lemahnya struktur aliran rantai pasok yang dimiliki. Hal ini menyadarkan banyak organisasi akan pentingnya beberapa point berikut:

7


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

1. Upaya untuk meningkatkan Collaboration dan Visibility sepanjang aliran supply chain

kinerja (metrics), best practice, dan teknologi sebagai sebuah kesatuan guna mendukung komunikasi yang terjadi antar partner supply chain dan meningkatkan efektifitas pengelolaan supply chain secara terintegrasi.

2. Peran Risk Management dalam mengidentifikasi adanya kerentanan dalam aliran supply chain

Sesuai dengan perkembangan terkini, SCOR telah mengalami beberapa kali perbaikan. Model SCOR terbaru hingga saat tulisan ini dibuat adalah versi 12.0. SCOR model dikembangkan dan dijaga kekiniannya oleh para professional dan cendikiawan supply chain baik anggota APICS maupun subject matter expert dari beraneka ragam industri

3. Mempercepat digital transformation dalam proses bisnis organisasi. 4. Workforce skill upgrade agar dapat menjalankan digitalized business model Organisasi semakin disadarkan untuk melakukan studi mendalam mengenai kondisi pengelolaan supply chain yang telah berjalan saat ini. Sejalan dengan prinsip collaboration, inisiatif tersebut tentunya melibatkan perusahaan dengan beberapa strategic business partnernya dalam mempersiapkan supply chain yang semakin kokoh dan kompetitif di era industri 4.0 ini.

3. Kerangka kerja SCOR Model SCOR telah dikembangkan dan untuk menggambarkan aktifitas bisnis yang terkait dengan seluruh tahapan dalam rangka memenuhi permintaan customer. Model terdiri atas beberapa bagian yang dapat dikelompokkan atas 6 proses utama yang terdiri atas Plan, Source, Make, Deliver, Return dan Enable. SCOR dapat dipakai untuk menggambarkan supply chain mulai dari yang sangat sederhana sampai yang paling kompleks sekalipun menggunakan definisi yang telah distandarisasikan. Model ini telah sukses dalam memberikan landasan bagi perbaikan supply chain baik yang bersifat global maupun area tertentu (Gambar 2).

Dalam kaitan ini SCOR (Supply Chain Operations Reference) merupakan sebuah kerangka kerja yang dapat menjadi acuan bagi banyak organisasi dalam menjalankan kegiatan aliran rantai pasoknya. SCOR memberikan panduan kerja secara sistematis melibatkan berbagai aspek dalam proses evaluasinya. Tidak hanya dilihat dari kesiapan proses dan peningkatan kinerja. Lebih dari itu juga mempersiapkan kebutuhan sumber daya manusia yang handal melalui pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. 2. Sejarah singkat perkembangan SCOR Supply Chain Operations Reference model (SCOR) adalah salah satu produk APICS berdasarkan hasil merger yang terjadi pada 2014 antara Supply Chain Council dan ASCM (Association for Supply Chain Management) [2]. Model SCOR telah dikembangkan sejak tahun 1996 dan telah banyak diadaptasikan dalam praktek bisnis supply chain. SCOR telah menjadi sebuah tool yang memadai dalam melakukan evaluasi, dan studi perbandingan kinerja dan aktivitas supply chain. SCOR memberikan kerangka kerja unik yang menghubungkan proses bisnis, 8


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

PLAN

SCOR PROCESS PLAN

DELIVER SOURCE

MAKE

RETURN RETURN

PLAN

DELIVER

RETURN

SOURCE

MAKE

RETURN

DELIVER

RETURN

SOURCE

MAKE

RETURN

ENABLE

DELIVER SOURCE

RETURN RETURN ENABLE

ENABLE Suppliers Supplier

Supplier

Your Organization

Internal or External

Customer

Customers Customer

Internal or External SCOR MODEL

Gambar 2. SCOR dikelompokkan atas 6 besar proses manajemen yang terdiri atas Plan, Source, Make, Deliver, Return, dan Enable yang menjangkau supplier tingkat 2 hingga customer tingkat 2

Model SCOR terbagi atas 4 pilar utama: • • • •

Performance: Metric standard untuk menjelaskan kinerja proses dan definisi tujuan strategik. Processes: Penjelasan standard proses manajemen dan hubungan antar proses Practices: Praktek manajemen yang menghasilkan kinerja proses yang lebih baik People: Definisi standard keahlian yang dibutuhkan untuk menjalankan proses supply chain.

3.1 Performance Pilar kinerja (performance) fokus kepada pengukuran and penilaian hasil keluaran dari proses eksekusi supply chain. Karakteristik kinerja supply chain yang disesuaikan dengan strategi bisnis dapat dilihat Performance Attribute pada tabel 1. Hasil yang diperoleh dari analisa performance menjadi referensi dalam mengevaluasi seberapa jauh proses dan praktek supply chain memenuhi best-practice model process dan leading process.

9


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Performance Attribute

Definisi

Reliability

Kemampuan menjalankan kegiatan sesuai ekspektasi, seperti on-time, the right quantity, the right quality.

Responsiveness

Kecepatan dalam memenuhi permintaan customer.

Agility

Kemampuan memberikan respon terhadap faktor eksternal, seperti perubahan pasar demi mempertahankan keunggulan kompetitif.

Costs

Biaya menjalankan proses supply chain termasuk gaji tenaga kerja dan biaya material.

Asset Management Efficiency

Kemampuan menggunakan aset secara efisien, contohnya inventory days of supply dan capacity utilization Tabel 1. Performance Attribute SCOR

Performance attribute memiliki satu atau lebih stategic metric. Level satu memberikan indikasi seberapa jauh perusahaan telah berhasil dalam mencapai posisi yang diinginkan dalam persaingan pasar. SCOR metric diukur secara berjenjang yaitu level-1, level-2, dan level-3. Hubungan yang terjadi diantaranya bersifat diagnostic, artinya gap kinerja level 1 dapat dijelaskan dengan melakukan diagnosa pada kinerja level 2. Demikian pula kinerja pada level 2 dapat dianalisis root cause nya berdasarkan pencapaian level 3. Metric level 1 ditunjukkan pada tabel 2: Performance Attribute

Level-1 Strategic Metric

Reliability

Perfect Order Fulfillment (RL.1.1)

Responsiveness

Order Fulfillment Cycle Time (RS.1.1)

Agility

● Upside Supply Chain Adaptability (AG.1.1) ● Downside Supply Chain daptability (AG.1.2) ● Overall Value at Risk (AG.1.3)

Cost

● Total Supply Chain Management Costs (CO.1.1) ● Cost of Goods Sold (COGS) (CO.1.2)

Asset Management Efficiency ● Cash-to-Cash Cycle Time (AM.1.1) ● Return on Supply Chain Fixed Assets (AM.1.2) ● Return on Working Capital (AM.1.3) Tabel 2 – Metric level 1 SCOR

10


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

3.2 Process Kembali pada gambar 3, level 3 fokus kepada langkah-langkah proses yang dilakukan dalam urutan tertentu untuk masing-masing kegiatan yang didefiniskan pada level sebelumnya. Kegiatan Plan Make pada prinsipnya terbagi atas empat langkah. Kemudian pada level 4, organisasi dapat mengembangkan modelnya sendiri yang disesuaikan dengan tipe industri atau organisasi, lokasi tertentu, maupun sistem dan paktik yang berlaku. Proses perbaikan dapat dilakukan untuk masing-masing tahapan ini menggunakan berbagai macam tool seperti Lean, Six Sigma, TQM, dan lain sebagainya.

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3, SCOR dirancang untuk mendukung analisa supply chain pada beberapa tingkatan. Untuk itu SCOR fokus pada tiga level proses utama. Level 1 adalah proses yang sifatnya umum terdiri atas Plan, Source, Make, Deliver, Return dan Enable. Selanjutnya pada level 2 menggambarkan strategi operasional yang dijalankan berdasarkan kapabilitas yang dimiliki perusahaan, yaitu make to stock, make to order, dan engineer to order. Pembagian ini berlaku bagi proses utama Source, Make, dan Deliver. Proses Utama seperti Plan dibedakan alur proses sebelumnya, Plan Supply Chain, Plan Source, Plan Make, Plan Deliver dan Plan to Return.

Gambar 3 – SCOR mengembangkan hirarki Proses Manajemen hingga level ke-3. Level ke-4 bersifat unik karena disesuaikan berdasarkan kondisi masing-masing industri.

11


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

3.3 Practices

Melalui evaluasi yang mendalam menggunakan metode SCOR organisasi senantiasa dapat mempersiapkan diri dalam memperkuat rantai pasoknya secara keseluruhan sejalan dengan strategic business plan.

Bagian ini merupakan kumpulan praktek yang telah diakui memberikan nilai tambah. Keunggulan ini sifatnya unik karena adanya proses otomasi, teknologi yang diterapkan pada proses, urutan spesifik untuk menjalan proses, dan sebagainya. Practice dibedakan atas Emerging Practices (BP.E), Best Practices (BP.B), dan Standard Practices (BP.S). Beberapa contoh emerging practice misalnya Block Chain, Digital Supply Chain, dan Demand Driven S&OP. Sedangkan Best Practice antara lain Vendor Managed Inventory, Supply Chain Risk Management, dan Data Analytics.

PQM Consultants adalah lembaga konsultasi, pelatihan, dan riset yang telah berdiri sejak 1987 dengan spesialisasi dalam bidang productivity & quality management, human capital development, dan service excellence. Team kami yang tergabung dalam Subject Matter Expert Supply Chain Management (SCM) telah banyak membantu para klien baik perusahaan lokal maupun multinasional. 5. Referensi

3.4 People

[1] Chiu, Dickson. SCM and Logistics: Business Logistics and Management, fifth edition. 2006. [2] APICS, SCOR Supply Chain Operations Reference Model Version 12.0, Chicago, Illinois: APICS, 2017. [3] Escaith, Hubert., Robert Teh, Alexander Keck, and Coleman Nee “Japan’s earthquake and tsunami: International trade and global supply chain impacts”, VOXEU, 2011. h t t p s : // v o x e u . o r g / a r t i c l e / j a p a n s earthquake-and-tsunami-global-supplychain-impacts [4] BBC News: “Thailand floods disrupt production and supply chains”, 2011. h t t p s : // w w w . b b c . c o m / n e w s / business-15285149 [5] IFSEC Global: “German factory explosion causes global car part shortage”, 2012. h t t p s : // w w w . i f s e c g l o b a l . c o m / uncategorized/german-factory-explosioncauses-global-car-part-shortage/ [6] Helper, Susan and Evan Soltas. “Why the Pandemic Has Disrupted Supply Chains?”, The White House, 2021. https://www.whitehouse.gov/cea/writtenmaterials/2021/06/17/why-the-pandemichas-disrupted-supply-chains/ [7] New York Times: “Suez Canal Blocked After Giant Container Ship Gets Stuck”, 2021. https://www.nytimes.com/2021/03/24/ world/middleeast/suez-canal-blockedship.html

Merupakan standar keahlian yang dibutuhkan untuk menjalan kegiatan dan mengelola proses. Umumnya adalah spesifik supply chain. Tapi beberapa keahlian juga bisa diterapkan di luar area supply chain. Elemen utama People adalah Skills, Experience, dan Trainings. Ketiga aspek ini sangat terkait satu sama lain dalam penjelasan SCOR. 4. Penutup Telah banyak perusahaan merasakan manfaat dalam mengembangkan Supply Chain Management nya kearah yang lebih baik menggunakan SCOR. SCOR memberikan kerangka kerja yang jelas tidak hanya dilihat dari sisi pengembangan proses melalui penerapan beberapa best practice disertai dukungan teknologi. Namun lebih dari itu juga menyarankan kesiapan sumber daya manusia yang diperlukan guna menjalankan proses yang telah dikembangkan untuk menjadi yang terbaik dibidangnya. Kerangka kerja SCOR tidak hanya dapat diterapkan di dunia manufacturing. Tapi juga industri lainnya seperti retail, MRO (maintenance, repair, operating supplies), fast food, hingga industri service semisal rumah sakit dan transportasi.

12


PQM Consultants Online Training Series

TRAINING ONLINE

INVENTORY MANAGEMENT Facilitator : Iwan Nova Melakukan pengendalian persediaan merupakan salah satu fungsi yang penting dalam sebuah perusahaan. Jika terjadi persediaan yang berlebihan, maka akan menyebabkan pengeluaran biaya yang tinggi seperti biaya penyimpanan hingga risiko kerusakan pada materialnya. Namun sebaliknya, jika persediaan tidak cukup akan berakibat pada terhambatnya kelancaran produksi yang berujung pada kehilangan penjualan dan market share perusahaan. Pelatihan ini membantu Anda dalam memberikan pemahaman perencanaan dan pengendalian persediaan yang efisien dan efektif dengan tujuan meningkatkan customer service, meminimumkan biaya investasi dan biaya-biaya terkait operasional.

12-13 Oktober 2022 | 09.00-16.00 WIB | Via Zoom | *Rp. 2.700.000

Daftar Segera Di Sini events@pqm.co.id 021 4251887

Scan QR Code untuk dapatkan silabus lengkapnya https://events.pqm.co.id/page/home

events.pqm.co.id exclude ppn 11%


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

MENJADI PEMIMPIN MASA DEPAN MELALUI PROFESSIONAL YOUNG LEADER PROGRAM

Sumber: FajarPaper.com

Ditulis Oleh: Dian Ananda Setiawan

S

aat ini sudah banyak perusahaan menjalankan Management Development Program (MDP), yaitu program pengembangan terpadu untuk meningkatkan kompetensi calon pemimpin masa depan perusahaan. PT Fajar Surya Wisesa, Tbk (yang lebih dikenal dengan Fajar Paper) juga memiliki program serupa yang bernama Professional Young Leader Program (PYL Program).

Apa yang melatarbelakangi terbentuknya program PYL? PYL bermula dari program yang diadakan Siam Cement Group (SCG), perusahaan induk Fajar Paper yang berpusat di Thailand. Proses pembelajaran dimulai dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada karyawan yang jawabannya bisa didapat melalui video pembelajaran. Digital Learning ini dilakukan untuk menuntut karyawan agar belajar mandiri dan menyesuaikan waktu belajar dengan kesibukannya.

Apa yang menarik dari Program PYL dan membedakannya dengan program MDP lainnya? Mari menyimak penjelasan mengenai program tersebut berdasarkan penuturan Anthonius Wahyu Kristianto seaku Talent Management Supervisor Fajar Paper, peserta, sekaligus PIC program PYL.

Kemunculan PYL disambut baik oleh Fajar Paper. Tujuan penerapannya di Indonesia yaitu untuk memberi pembekalan kepada karyawan potensial yang akan naik jabatan. Fajar Paper melakukan 14


analisis dan memberikan laporan setiap 2 minggu kepada para pimpinan untuk meninjau efektivitas program. Berdasarkan laporan 2 mingguan tersebut, progress pembelajaran karyawan hanya mencapai 10% karena karyawan terkesan belajar hanya demi mengumpulkan tugas semata. Untuk menyiasati hal tersebut, Fajar Paper berupaya mematangkan program melalui kombinasi Metode Digital Learning dengan pelatihan in-class.

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

dari metode campuran, yaitu online (digital learning), offline (in-class training), penugasan, dan presentasi. Materi PYL diadaptasi dari materi SCG yang dimulai dengan 12 topik dan dipelajari melalui sistem digital learning (6 materi tentang leadership dan 6 materi tentang bisnis). Spesifikasi program in-class dilakukan dalam 2 batch yang masing-masing berlangsung selama 5 hari. Sistem program terdiri dari 1 hari on dan 1 hari off secara bergantian antara batch 1 dan 2. Sistem tersebut diberlakukan agar karyawan fokus belajar saat pelatihan tanpa mengabaikan urusan pekerjaan pada keesokan harinya. Selanjutnya, program PYL juga dilengkapi penugasan untuk mewujudkan improvement di area kerja. Total durasi program sejak sesi in-class sampai presentasi sekitar 1,5 bulan.

Mengapa program PYL diperuntukkan secara khusus bagi para group leader dan supervisor? Fajar Paper menganggap bahwa posisi group leader adalah level pertama yang melandasi kinerja Leader perusahaan. Oleh sebab itu, seorang group leader harus dipersiapkan dengan baik agar mampu mengenal fungsi manajerial. Selain group leader, peran supervisor juga tak kalah penting bagi perusahaan. Supervisor berada di garis terdepan dan memegang kunci utama dalam pelaksanaan operasional. Selain itu, supervisor juga menjalankan fungsi kontrol manajemen. Beberapa supervisor telah mengelola tim besar yang anggotanya lebih dari 30 karyawan.

Persiapan dan pelaksanaan Program PYL tentu tidak lepas dari kendala. Apa saja kendala yang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya? Kendala terkait merumuskan kurikulum in-class agar sejalan/sesuai dengan materi Digital Learning SCG dan sesuai kebutuhan. Proses digital learning PYL baru bisa dimulai pada bulan Desember 2021 kemudian sesi in-class dimulai pada Juni 2022. Tim penyelenggara PYL harus mengadakan rapat berkali-kali untuk mematangkan konsep dan berkonsultasi dengan manajemen. Hal tersebut patut dilakukan karena PYL adalah program yang bersifat pondasi sehingga harus dijalankan dengan konsep yang matang.

Selama ini Fajar Paper menemukan fakta bahwa mayoritas supervisor hanya berfokus pada target kerja tanpa diimbangi kemampuan mengelola kinerja karyawan. Itulah sebabnya program PYL memprioritaskan sinergi antara aspek pengelolaan SDM (manage people) dan bisnis. Apa Saja Hal Utama yang Mendasari Materi Program PYL?

Kendala lainnya yang terjadi adalah kesesuaian jadwal kerja dan belajar karyawan, khususnya para karyawan yang bekerja dengan sistem shift. Dukungan dari pihak manajemen membuat program ini dapat berlangsung lancar karena diiringi dengan perubahan shift.

Penekanan utama program PYL terletak pada leadership. Fajar Paper ingin mengubah pola pikir karyawan yang awalnya berorientasi pada target kerja menjadi kemampuan mengenal masalah di unit kerja dan kemampuan mengelola SDM. Fajar Paper mengemas PYL secara khusus agar program tersebut berjalan sesuai konsep, kebutuhan, dan permasalahan yang kasuistik. Sistem belajarnya terdiri 15


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Apa hal-hal menantang yang dirasakan peserta saat menjalani program ini?

di Fajar Paper membuat para karyawan antusias. Setelah program PYL berjalan, karyawan mendapatkan bonus berupa kebebasan sharing masalah pekerjaan. Koordinasi pun berlangsung secara lebih mudah dan nyaman. Sekarang, peserta bisa berinteraksi secara luwes dengan divisi marketing tanpa perasaan sungkan. Contohnya, karyawan operation.

Program PYL mewajibkan seluruh peserta untuk mampu membuat perbaikan secara sistematis dengan mencari akar permasalahan (root cause) di perusahaan. Proyek yang menjadi bagian akhir program PYL merupakan hal menantang bagi seluruh peserta, terutama karyawan divisi office dan HO yang belum terbiasa. Karyawan dari divisi produksi dan engineering adalah peserta yang paling cepat menyelesaikan proyek karena sudah terbiasa menangani persoalan yang berkaitan dengan mesin dan proses operasional.

Apakah program ini sudah selaras dan mendukung kebutuhan perusahaan secara keseluruhan? Ya, program PYL sudah sejalan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Bahkan, tema dan topiknya sama dengan program SCG. Perusahaan mengharapkan agar supervisor bisa memahami sisi bisnis tetapi tidak perlu mendalami secara berlebihan. Aspek manage people adalah tujuan paling penting yang ingin dicapai dalam pelaksanaan PYL. Salah satu contoh konkret yang diperoleh selama program berlangsung adalah topik Embracing Diversity. Topik tersebut mengajak para karyawan memahami banyak perbedaan dalam perusahaan tanpa menitikberatkan fokus dari sisi bisnis.

Bagaimana respon peserta selama rangkaian program PYL berlangsung dan bagaimana implementasinya di tempat kerja? Secara garis besar, peserta merasa senang karena PYL adalah program yang ditunggutunggu. Para karyawan merasa program tersebut sangat penting agar mereka tidak hanya paham tentang teknis pekerjaan, melainkan juga hal-hal penting lainnya secara keseluruhan. Respon positif karyawan terhadap program PYL juga ditunjukkan dengan membawa materi ke dalam pekerjaan sehari-hari dengan gaya bercanda. Misalnya, dulu karyawan langsung mencari solusi untuk mengatasi masalah tetapi sekarang harus melakukan why-why analisis terlebih dahulu.

Apakah program ini akan kembali diadakan? Ya, karena masih banyak supervisor yang belum ikut, hanya 40 dari total 190 orang supervisor Fajar Paper yang sudah mengikuti program PYL. Namun, penyelenggaraan PYL juga akan disesuaikan dengan jadwal. Bulan Juni, Juli, dan Agustus adalah periode krusial untuk pelatihan dengan tetap mempertimbangkan kasus Covid yang saat ini (Juli 2022) sedang meningkat lagi.

Apakah ada hal positif lain yang dirasakan dari program PYL? Selain mendapatkan ilmu, peserta secara pribadi merasa senang karena program ini membuat peserta bisa menjalin kedekatan dengan teman-teman lintas fungsi, terutama teman-teman dari HO yang jarang bertemu. Selama ini mereka jarang ngobrol sehingga koordinasi menjadi kaku satu sama lain. Kedekatan mulai terjalin karena suasana training membuat para karyawan dipaksa aktif di kelas.

Apakah Fajar Paper berencana menyampaikan materi pelatihan sendiri dengan pengembangan yang dibantu tim PQM Consultants? Rencana tersebut sudah ada tetapi belum dieksekusi dalam waktu dekat. Fajar Paper berencana menyiapkan internal trainer yang tepat untuk menyajikan materi. Internal trainer untuk pelatihan teknis sehari-hari sudah

Selain itu, suasana pelatihan yang dinamis, fun, dan tidak kaku juga turut mendukung kedekatan tersebut. Suasana belajar yang menyenangkan

16


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

siap tetapi materi soft skill masih melalui tahap penyusunan. Di samping itu, pemilihan internal trainer untuk tema bisnis tak boleh dilakukan sembarangan. Karena penyajian materi terkait tema tersebut harus dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman di bidang tersebut. Apa saja hal yang perlu diperhatikan perusahaan jika ingin membuat program pengembangan SDM serupa PYL? Banyak vendor yang menyediakan berbagai program dan training leadership, tetapi mencari vendor yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan memang tidak mudah. Saya senang PQM Consultants bisa mengunjungi Fajar Paper dan melakukan diagnosis awal sebelum membuat materi dan program, sehingga PQM Consultants bisa memperoleh gambaran yang jelas tentang kondisi kerja dan kebutuhan Fajar Paper. Setiap perusahaan harus memilih vendor yang mampu memetakan kebutuhan klien secara tepat supaya program pengembangan SDM berlangsung lancar.

Mempersiapkan SDM berkualitas dalam program terpadu (mengembangkan modul yang tepat, delivery pelatihan dan pendampingan project) adalah langkah penting untuk meraih kesuksesan bisnis di masa kini dan masa depan.

17



PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

WAREHOUSE STUDY PERUSAHAAN COCOA: OPTIMASI INVENTORY MENGGUNAKAN INVENTORY PLANNING MODEL (IPM) Ditulis Oleh: Yozie Syamsubar

1. Latar belakang masalah Setelah diakuisisi oleh salah satu group perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang penyediaan produk pangan dan pertanian, saat ini perusahaan tengah melakukan berbagai pembenahan. Termasuk pembenahan secara internal dalam rangka memperluas jangkauan pemasaran terutama tujuan ekspor yang berkontribusi besar dari total penjualan. Guna menunjang tujuan tersebut perusahaan merasa perlu untuk dilakukan study secara menyeluruh meliputi planning, inventory management, warehouse operations, hingga proses execution. Melalui studi tersebut diharapkan dapat diketahui berbagai kesenjangan yang dihadapi perusahaan saat ini. Sehingga secara menyeluruh pula dapat ditentukan berbagai perbaikan yang diperlukan kedepannya.

Salah satu bagian penting dari study yang dilakukan adalah analisa inventory management. Hal ini penting mengingat inventory menimbulkan konsekuensi beberapa biaya yang diantaranya adalah holding cost sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1 [1].

19


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

INVENTORY HOLDING COSTS

COST OF CAPITAL

INVESMENT COST

COST OF INVENTORY RISKS

COST OF STORAGE

COST OF SERVICING INVENTORY

RENT FOR PHYSICAL SPACE

COST OF BREAKAGE / DAMAGE

COST OF INSURANCE

COST OF SPECIAL FACILITIES (E.G. COLD STORAGE)

COST OF OBSOLESCENE

TAXES

COST OF SHRINKAGE

COST OF PHYSICAL HANDLING

Gambar 1. Komponen inventory holding cost. Pada prinsipnya dibedakan atas empat komponen utama, yaitu, biaya modal, biaya pelayanan persediaan, biaya penyimpanan, dan biaya resiko. Prosentase masing-masing komponen sangat bervariasi tergantung pada jenis industrinya.

Pengadaan inventory menimbulkan konsekuensi okupansi lahan yang berlebihan yang dapat berdampak pada operasional (storage cost). Belum termasuk resiko yang ditimbulkan apabila terjadi masalah keusangan (obselences) karena adanya perubahan permintaan pasar termasuk adanya kerusakan yang mungkin saja terjadi selama proses penyimpanannya. Di sisi lain inventory dapat memberikan keamanan bagi perusahaan karena adanya ketidakseimbangan antara demand dan supply [2]. Terlebih dalam kondisi saat ini dimana faktor ketidakpastian semakin meningkat setelah pandemic Covid-19.

pasar dan beberapa faktor lainnya seperti pencapaian produksi. Karenanya diperlukan suatu metode yang lebih komprehensif dengan memperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi kebutuhan inventory baik dari sisi kemampuan supply dan juga pergerakan permintaan. 2. Pengendalian inventory klasifikasi inventory

menggunakan

Ada bermacam-macam teknik pengelompokan inventory yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing industry. Pengkategorian inventory yang umum dan paling sering dipergunakan adalah Klasifikasi ABC [3]. Teknik ini didasarkan pada Hukum Pareto dimana berlaku prinsip 80/20 artinya 80% dari total penjualan dikontribusikan oleh 20% dari jumlah produk yang dimiliki perusahaan [4].

Perusahaan belum memiliki inventory policy yang dapat menjadi acuan dalam perencanaan dan pengendalian inventory. Penentuan tingkat kebutuhan inventory untuk beberapa produk dilakukan berdasarkan estimasi planner dengan melihat data historis permintaan 20


Klasifikasi ABC memberikan panduan bagi perusahaan dalam melakukan kebijakan terkait operations management seperti perencanaan pengadaaan persediaan, pengendalian akurasi persediaan, demand forecast, hingga pemenuhan permintaan customer (service level).

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Apabila kita bandingkan dengan kondisi inventory saat ini, kelas C berpotensi untuk menempati areal penyimpanan yang relatif cukup besar yaitu 26% secara rata-rata tahunan dan meningkat menjadi sekitar 34% pada akhir tahun. Menggunakan perbandingan yang sama, di sisi lain kelas A mengalami penurunan secara prosentase. Dengan kata lain, pada akhir tahun persediaan kelas C menempati sejumlah lokasi yang tadinya dipergunakan oleh kelas A. Sementara dapat disimpulkan bahwa portfolio pemanfaatan ruang penyimpanan persediaan tidak mencerminkan kebutuhan yang seharusnya. Namun demikian penentuan prosentase yang optimal untuk masing-masing kelas masih perlu dianalisa lebih lanjut.

Berdasarkan analisa data penjualan, rata-rata inventory dan posisi inventory akhir selama dua tahun terakhir dapat dibuat chart pareto yang menghubungkan keempat hal tersebut. Hanya 7% total produk yang dimiliki perusahaan masuk sebagai kelas A dan berkontribusi terhadap 79% total penjualan. Sedangkan kelas B dengan jumlah produk 8% berkontribusi 16% penjualan. Sisa 6% penjualan berasal dari 85% dari seluruh produk yang ada. Dengan jumlah tersebut, produk kelas C mendominasi jumlah produk yang ada di perusahaan ini.

3. Pengembangan Inventory Planning Model Kebijakan inventory menjadi landasan bagi proses pengendalian persediaan yang lebih terarah dan efektif yang sesuai dengan potensi dan karakteristik masing-masing produk. Hal tersebut direalisasikan dalam bentuk Inventory Planning Model (IPM). IPM dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang meliputi kebijakan service level, profil permintaan dan karakteristik supply dari produk yang bersangkutan.

Gambar 2. Pareto Analisis berdasarkan penjualan yang dikaitkan dengan posisi inventory (rata-rata dalam setahun dan akhir tahun)

21


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

IPM dikembangkan menggunakan prinsip model “pola gigi gergaji” yang dapat diilustrasikan seperti pada gambar 3 dibawah ini:

Gambar 3. Pola gigi gergaji untuk menggambarkan pergerakan inventory dari waktu ke waktu. Masing-masing komponen inventory model seperti safety stock, cycle stock, production excess, dan intransit stock memegang peran yang berbeda. Intransit stok tidak terlihat pada gambar karena tidak relevan dengan model yang dikembangkan untuk perusahaan ini.

Masing-masing komponen ditentukan berdasarkan perhitungan matematis melibatkan beberapa data. Misalnya cycle stock diperoleh dengan mempertimbangkan production lead time, QC time, dan data lead time lainnya yang dapat didefinisikan oleh planner secara spesifik. Demikian pula halnya untuk safety stock yang didapat dengan menggunakan data rata-rata dan variabilitas dari permintaan dan supply (pencapaian produksi). Termasuk pertimbangan service level yang diinginkan.

Pengembangan IPM disesuaikan dengan pola jaringan distribusi yang dijalankan organisasi. Model diatas dapat disesuaikan apabila perusahaan memiliki jaringan distribusi melibatkan beberapa distribution center dalam penyebaran produknya kepada pelanggan. Untuk itu salah satu komponen yang dilibatkan adalah intransit stock yang menggambarkan lead time perpindahan barang antar stock point.

Dengan menggunakan pendekatan IPM diatas, kebutuhan inventory level untuk setiap produk dapat dihitung. Selanjutnya pada level category dapat diaggregasikan berdasarkan hasil perhitungan sebelumnya. Dan pada akhirnya kebutuhan secara total company dapat diketahui. Perbandingan kondisi inventory sebelum dan setelah menggunakan inventory model dapat dilihat pada gambar 4. Kondisi saat ini Dengan IPM

Gambar 4. Perbandingan komposisi kelas ABC berdasarkan inventory saat ini dan bila menggunakan inventory planning model (IPM). Terutama kelas A meningkat tajam bila dibandingkan dengan sebelumnya.

22


Kelas A menunjukkan peningkatan dari sisi jumlah inventory yang ada sementara kelas C menurun dengan tajam.

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

yang spefisik yang telah disesuikan dengan karakteristik supply dan pola permintaannya (sebagaimana dapat dilihat pada table 1). Perhitungan dampak terhadap biaya juga dapat diperhitungkan secara jelas apabila dibutuhkan adanya rencana penambahan inventory (built up) sebagai antisipasi adanya peristiwa tertentu di masa mendatang.

Dengan adanya kebijakan inventory, team operasional memiliki landasan yang cukup kuat dalam perencanaan pengadaan dan kebutuhan produksi karena masingmasing produk memiliki inventory level

Tabel 1. Perhitungan Inventory Planning Model yang didasarkan berbagai parameter input untuk mendapatkan target stock level yang dibutuhkan

4. Penutup Matter Expert Supply Chain Management (SCM) telah banyak membantu para klien baik perusahaan lokal maupun multinasional termasuk pelatihan dan konsultasi terkait seperti Inventory Management, Production Planning and Inventory Control.

IPM dapat dipakai sebagai acuan dalam penentuan kebijakan inventory. Dengan adanya kesepahaman bersama, seluruh upaya akan mengarah pada pencapaian inventory level yang sama. Hal ini mendorong adanya kolaborasi antar fungsi dalam upaya mencapai suatu target stok level tertentu. Dengan demikian optimasi inventory diharapkan dapat dicapai dengan lebih baik.

5. Referensi [1] Shenoy, Dinesh., and Roberto Rosas. Problems and Solutions in Inventory Management, Springer 2018. [2] APICS, Strategic Management of Resources (SMR) References Sourcebook. Chicago, Illinois: APICS, 2009. [3] Wild, Tony. Best Practice in Inventory Management, second edition. Woburn, MA: Butterworth-Heinemann, 2002 [4] Chapman, Stephen N., J.R. Tony Arnold, Ann K. Gatewood, Llyod M. Cliff. Introductions to Material Management, eight edition. Pearson Education Inc., 2017.

Selanjutnya dalam penerapannya IPM perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian secara regular. Tujuan dari proses ini adalah untuk melihat apakah terdapat beberapa parameter yang perlu disesuaikan berdasarkan kondisi terkini. Misalnya adalah lead time pengiriman yang lebih cepat dengan adanya perbaikan infrastruktur transportasi, meningkatnya forecast accuracy permintaan barang dari customer karena penerapan CPFR dan S&OP. Termasuk juga meningkatnya kinerja output mesin produksi ditunjang program preventive maintenance yang lebih baik. PQM consultants adalah lembaga konsultasi, pelatihan, dan riset yang telah berdiri sejak 1987 dengan spesialisasi dalam bidang productivity & quality management, human capital development, dan service excellence. Team kami yang tergabung dalam Subject

23


PQM Consultants Online Training Series

ONLINE TRAINING

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

BUSINESS MODEL CANVAS Facilitator : Nunung B. Hertin

27 September 2022

|

Via Zoom

|

*Rp. 1.500.000

Scan QR Code untuk dapatkan silabus lengkapnya

Daftar Segera Di Sini events@pqm.co.id

https://events.pqm.co.id/page/home

021 4251887 events.pqm.co.id 24

exclude ppn 11%


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

MEMANFAATKAN POTENSI PASAR MELALUI PENERAPAN SALES & OPERATIONS PLANNING (S&OP)

Sumber: Pixabay.com

Ditulis Oleh: Yozie Syamsubar

A

Mengenal Definisi Sales & Operations Planning (S&OP)

lur supply chain organisasi bersifat kompleks karena berkaitan dengan berbagai pihak dan proses. Oleh sebab itu, peningkatan kinerja rantai pasok (supply chain) membutuhkan strategi efektif yang dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu strategi yang dapat diterapkan organisasi adalah Sales & Operations Planning (S&OP) untuk memanfaatkan potensi pasar secara maksimal (Demand Driven S&OP).

Sales & Operations Planning (S&OP) merupakan bentuk kolaborasi lintas fungsi dalam suatu organisasi yang bertujuan mengkoordinasikan perencanaan dari berbagai departemen, seperti sales, marketing, operations, dan keuangan. Dengan kata lain, S&OP dapat didefinisikan sebagai forum bagi top management untuk mewujudkan keselarasan (vertical alignment) antara rencana bisnis strategis dengan perencanaan taktis dan operasional yang berada di bawah naungannya seperti yang ditunjukkan pada gambar 1 [1]. 25


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Demand Side Activities

Forecasting

Demand Management

Strategic Planning

Total

Business Planning

Aggregate

Distribution Requirements Planning (DRP)

Purchasing

Total

Detail

Supply Side Activities

Sales and Operation Planning (S&OP) Consensus Demand Plan and Production Plan

Resource Planning (RP)

Master Scheduling (MS): Master Production Schedule (MPS)

Rough-Cut Capacity Planning(RCCP)

Material Requirements Planning (MRP)

Capacity Requirements Planning (DRP)

Production Activity Control (PAC)

Final Assembly Scheduling (FAS)

Capacity Control

Gambar 1. Hierarki Fungsi S&OP Sebagai Penghubung antar Rencana

Nantinya, keputusan S&OP akan menjadi acuan bagi Master Production Schedule (MPS), perencanaan kebutuhan material (Material Requirement Planning) hingga eksekusi di lapangan (kegiatan shop floor dan pengadaan material). Melalui forum tersebut, top management dapat mengambil beberapa keputusan penting jangka menengah (taktis) sebagai respon terhadap perubahan pasar yang bersifat dinamis.

implementasinya, contohnya American Production and Inventory Control Society (APICS). Pada tahun 1987, S&OP didefinisikan sebagai proses bisnis yang bertujuan menyeimbangkan supply dan demand [2]. Setelah melewati beberapa penyempurnaan proses dan dukungan teknologi terkini, Demand Driven S&OP berkembang menjadi salah satu emerging practice yang disarankan oleh Supply Chain Operations Reference (SCOR). Demand Driven S&OP menitikberatkan upaya pemanfaatan potensi demand yang efektif untuk mencapai tujuan rencana bisnis jangka panjang organisasi.

Konsep S&OP dicetuskan pertama kali oleh Oliver Wight di tahun 1970-an. Selanjutnya, konsep tersebut mulai berkembang ketika banyak organisasi berbagi pengalaman

26


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Tantangan dan Kesempatan Implementasi S&OP Historis

Stable

Reaktif

Efisien Reaktif

Efisien Proaktif

Strategic Driver

Stage 1:

Stage 2:

Stage 3:

Stage 4:

Multiple Dysfunction

Semifunctional enterprise

Integrated enterprise

Extended enterprise

1. Transaksional 1. Inisiatif 1. ERP mendukung dengan dunia luar Perbaikan pada sharing information 2. Minimum Hubungan area tertentu & koordinasi teknologi 2. Fokus pada cost 2. Sales & Operation 3. Silos antar internal cutting Planning (S&OP) departemen 3. Silo decision dijalankan 4. Reaktif dalam hal making 3. VMI. perencanaan Replenishment

1. Kolaborasi dengan external partner 2. Strategic relationship dengan key partners 3. Sharing data 4. Supporting technology

Gambar 2. 4 Tahapan Evolusi Kematangan Supply Chain Menurut ASCM APICS

Berdasarkan definisi supply chain maturity yang dikemukakan APICS CSCP [1] pada gambar 2, organisasi yang telah berupaya menerapkan dan meningkatkan kualitas S&OP sebenarnya sudah memasuki tahap ke-3 (integrated enterprise). Pada tahap 1 dan 2, kolaborasi yang baik antar departemen belum terwujud. Pencapaian tersebut baru mulai terbentuk pada tahap 3, salah satu parameternya yaitu implementasi S&OP. Setiap inisiatif perbaikan melibatkan seluruh departemen yang terkait sehingga optimalisasi dapat dicapai pada tingkat korporasi, bukan hanya pada departemen tertentu saja.

hendaknya menciptakan prinsip “kepemimpinan yang kuat”. Top management harus mampu meyakinkan lingkungan kerja bahwa S&OP adalah proses untuk mengelola semua aktivitas penting, yaitu mengintegrasikan, menyeimbangkan, dan menginspirasi perbaikan terus menerus [3]. Vollmann et. al. menyatakan S&OP sebagai sarana bagi top management untuk mengendalikan bisnis, memahami kondisi terkini, dan mengambil beberapa keputusan taktis demi mengamankan tujuan strategis organisasi [4]. Kondisi pasca pandemi Covid-19 membuat sebagian besar organisasi semakin menyadari pentingnya kolaborasi supply chain secara internal maupun eksternal. S&OP merupakan bentuk kolaborasi yang terjadi dalam organisasi. Gangguan dari sisi demand maupun supply terjadi secara umum saat pandemi berlangsung. Hal tersebut membuat top management patut menerapkan strategi supply chain baru demi mempertahankan kelangsungan hidup organisasi. Dengan demikian, peran S&OP untuk memanfaatkan setiap peluang bisnis dan memenuhi permintaan pasar jadi semakin efektif.

Oleh sebab itu, organisasi yang masih berada dibawah tahap ke-3 masih harus mengupayakan realisasi kerjasama melalui koordinasi antar departemen yang lebih baik. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran top management dalam mewujudkan suasana lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi tersebut. Peran top management memang tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan S&OP. Keterlibatan mereka diharapkan dapat mendorong terciptanya suasana kerja yang kondusif. Kehadiran top management 27


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Implementasi S&OP saat dan pasca Pandemi Sebelum pandemi melanda dunia, salah satu organisasi farmasi terbesar di Indonesia telah melakukan antisipasi masalah kelangkaan material dengan strategi tertentu. Organisasi tersebut menjalankan analisis resiko pasokan material (material supply risks assessment) yang berfokus pada material penghasil produk akhir kelas A. Selain itu, penggunaan beberapa parameter input seperti lead time, shelf life, MOQ, status regulasi, dan kompleksitas pemasok dapat membantu menentukan skala tingkat resiko (risk level rating) masing-masing material. Sehingga material dengan risk level rating tinggi akan diprioritaskan dalam proses penanggulangan demi meningkatkan kepastian pasokan secara berkelanjutan.

Ada tiga faktor penting yang mendukung terciptanya proses S&OP berkualitas, yaitu: ● Perubahan siklus S&OP meeting. ● Koordinasi efektif dengan partner bisnis utama melalui teknologi pendukung. ● Penelaahan secara mendalam tentang resiko dan kesempatan pada setiap opsi pengambilan keputusan. Proses S&OP yang berkualitas menjadi standard baru bagi organisasi untuk memanfaatkan potensi pasar secara efektif pasca pandemi (Demand Driven S&OP). Prinsip S&OP telah lama diimplementasikan dan terbukti membantu pertumbuhan bisnis serta market share organisasi di kawasan Asia termasuk Indonesia. Proses pembelajaran yang cukup panjang membuat organisasi menyadari pentingnya memperkuat S&OP. Upaya memantapkan konsep S&OP wajib melibatkan pihak distributor sebagai input pelaksanaan dalam mengidentifikasi perubahan sinyal permintaan. Data penjualan yang dikenal sebagai secondary sales dan persediaan distributor merupakan informasi penting untuk meramalkan permintaan (forecast primary sales).

Fokus Stock Keeping Unit (SKU) yang memprioritaskan produk kelas A membuat siklus meeting S&OP dapat diselenggarakan secara lebih intensif dengan agenda pembahasan lebih spesifik. Untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang efisien saat S&OP meeting, organisasi juga meningkatkan kapabilitasnya dengan melakukan kolaborasi secara digital. Pertukaran informasi dengan penyedia jasa logistik dan para pemasok material yang termasuk kategori kritis telah menggunakan layanan teknologi cloud. Hal yang sama juga dilakukan dengan para pelanggan yang berada di berbagai belahan dunia.

Contoh lain tentang kesuksesan implementasi S&OP adalah organisasi multinasional di bidang produksi makanan minuman (food and beverage). Kegiatan utama organisasi tersebut di tanah air adalah bidang pemasaran dan distribusi makanan ringan (snacks). Pandemi ternyata turut mengubah kebiasaan konsumen dalam menikmati makanan ringan. Keinginan untuk mengatasi stres dan mendapatkan ketenangan ketika menyantap makanan ringan menjadi faktor pendorong terjadinya kenaikan permintaan [5].

Visibilitas dalam aliran supply chain merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan rantai pasok. Teknologi digital tidak hanya membantu pengumpulan data terkini menjadi lebih cepat, tetapi juga mendukung kemampuan pengolahan data secara masif. Sehingga organisasi dapat merangkum banyak informasi yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam S&OP meeting. Diskusi forum S&OP jadi semakin berkualitas dengan dukungan tersebut. Sebelum keputusan ditentukan dengan sistem konsensus, elaborasi terhadap dampak pengambilan keputusan berbagai alternatif dapat diperhitungkan lebih seksama.

Relasi baik yang telah terjalin dengan para distributor memudahkan organisasi mencermati kecenderungan kenaikan permintaan sejak dini. Upaya bisnis untuk memaksimalkan potensi tersebut merupakan

28


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

perwujudan S&OP yang berorientasi pada permintaan pelanggan (Demand Driven S&OP). Selain menerapkan S&OP, organisasi juga menjalankan weekly operations meeting yang perencanaannya berlangsung kurang dari satu bulan.Kegiatan tersebut bertujuan untuk meninjau perencanaan sebelumnya sebagai pembanding dengan situasi terkini yang terjadi di pasar. Berbagai keputusan yang sifatnya operasional disepakati untuk mendukung keputusan S&OP sebelumnya.

secara tepat dan kasuistik. Pelatihan dan konsultasi tentang Sales & Operations Planning (S&OP) menjadi salah satu cara terbaik untuk mengedukasi para profesional tentang manfaat S&OP bagi organisasi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan S&OP dapat mendukung pemanfaatan potensi pasar secara efektif. Melalui forum S&OP, top management berkesempatan melihat proses operasional yang dijalankan sesuai amanat rencana strategis organisasi secara langsung. Top management memegang peranan penting untuk memastikan bahwa budaya S&OP yang kondusif dapat berjalan dengan baik demi mewujudkan kolaborasi antar fungsi dalam organisasi. Koordinasi dengan bisnis partner utama sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa pencapaian kinerja S&OP yang efektif dapat mengenali perubahan pasar yang bersifat dinamis (Demand Driven S&OP).

1. APICS. APICS Certified Supply Chain Professional (CSCP). Chicago: Illinois: APICS, 2022. 2. Avila, Paulo, et.al. ScienceDirect: Design of a Sales and Operations Planning (S&OP) process – case study, 2019. 3. Wallace, Thomas F., and Robert A. Stahl. Sales & Operations Planning: The How-To Handbook, third edition. Cincinnati, Ohio: T.F. Wallace and Company, 2008. 4. Vollman, Thomas E., William L. Beery, D. Clay Whybark., F. Robert Jacobs. Manufacturing Planning & Control Systems for Supply Chain Management, fifth edition. New York, NY: McGraw-Hill, 2005. 5. Oller, Samantha. “How the pandemic is reshaping the snacking occasion”. https:// w w w. f o o d d i v e . c o m / n e w s / h o w - t h e pandemic-is-reshaping-the-snackingoccasion/597757/

Sudahkah organisasi Anda menerapkan konsep S&OP dengan tepat untuk memaksimalkan kinerja supply chain? Referensi:

Sebagai lembaga konsultasi, pelatihan, dan riset yang telah berdiri sejak 1987, PQM Consultants senantiasa berupaya membantu organisasi mengimplementasikan S&OP

29


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

4 KEUNGGULAN Online TRAINING PQM CONSULTANTS

INTERACTIVE LECTURE

VIDEO Learning

Seluruh online training yang kami selenggarakan, dibawakan oleh professional yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Untuk mempermudah peserta memahami materi, kami lengkapi online training dengan beragam video pembelajaran.

LIVE Q&A AND DISCUSSION

Interactive Quiz

Kelas online yang kami sediakan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi Anda untuk berdiskusi!

Ikut online training membosankan? Anda harus coba kegiatan interaktif yang kami miliki untuk tahu bedanya!

Pelajari Lebih Lanjut: pqmcons@pqm.co.id | 021 4251887


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

TRANSFORMASI CUSTOMER EXPERIENCE (CX) SEBAGAI KUNCI KESUKSESAN BISNIS

Sumber: Pixabay.com

Ditulis Oleh: Althaf R Tibyan

I

stilah Customer Experience (CX) kini semakin akrab diperkenalkan sebagai salah satu kunci sukses bisnis. Seluruh sektor usaha seakan berlomba memberikan Customer Experience terbaik kepada para pelanggan melalui berbagai cara. Selain itu, perusahaan modern juga wajib mengingat bahwa masyarakat sangat mengharapkan transformasi perusahaan yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Itulah sebabnya ekspektasi terhadap Customer Experience yang diberikan perusahaan menjadi semakin tinggi seiring berjalannya waktu.

setelah proses transaksi selesai. Dengan kata lain, Customer Experience memiliki cakupan yang luas dan mengandung berbagai penting untuk memastikan keseluruhan pengalaman yang dirasakan pelanggan dapat berjalan dengan mulus. Pencapaian tersebut dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang. Seluruh karyawan perusahaan memiliki peran yang sama penting dalam menyajikan Customer Experience berstatus excellent. Oleh karena itu, semua karyawan wajib bekerja sama mengupayakan Customer Experience yang positif dalam segenap aktivitas bisnis perusahaan. Customer Experience sesuai ekspektasi perusahaan dapat terwujud jika para karyawan juga merasakan pengalaman positif selama bekerja (Employee Experience atau EX).

Transformasi Customer Experience yang berorientasi pada kebutuhan pelanggan dapat dilakukan melalui beberapa langkah berikut ini: Mengenal Konsep dan Beberapa Hal Penting dalam Customer Experience

Employee Experience sangat erat kaitannya dengan kepuasan kerja dan produktivitas karyawan. Semakin baik pengalaman yang dirasakan karyawan selama bekerja, maka semakin bernilai pula Customer Experience

Customer Experience dapat diartikan sebagai keseluruhan pengalaman yang diperoleh pelanggan dari sebuah brand atau perusahaan, yang meliputi interaksi sebelum, saat, hingga

31


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

yang disajikan kepada pelanggan. Hal tersebut membuat karyawan dapat membangun hubungan positif dengan para pelanggan.

Selain manfaat yang didapat setiap divisi perusahaan, berbagai manfaat Customer Experience lainnya yang tak kalah penting adalah sebagai berikut:

Memahami Manfaat Investasi Sumber Daya Perusahaan bagi Customer Experience

● Persepsi terhadap brand perusahaan yang menjadi semakin baik ● Partisipasi karyawan semakin maksimal. ● Loyalitas pelanggan semakin tinggi. ● Peningkatan pendapatan dapat terwujud.

Saat ini. Kondisi perekonomian yang menganut prinsip Experience Economy juga semakin memprioritaskan pengalaman positif pelanggan. Latar belakang tersebut membuat Customer Experience dapat dikategorikan sebagai salah satu keunggulan kompetitif perusahaan. Banyak sekali perusahaan ternama yang menjadikan Customer Experience sebagai fokus, seperti Apple dan Amazon. Perusahaan tersebut tak segan melakukan investasi sebagai upaya menciptakan Customer Experience yang positif.

Melakukan Penilaian Ulang tentang Penerapan Customer Experience di Perusahaan Langkah pertama untuk mengidentifikasi penerapan Customer Experience yang sedang berlangsung di perusahaan harus dilakukan melalui proses pengumpulan dan analisis data. Metode pengumpulan data dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu:

Berdasarkan studi yang dilakukan Watermark Consulting, investasi perusahaan pada bidang Customer Experience masih tergolong sangat kecil. Hanya 20% perusahaan yang memiliki rencana tindak lanjut konkret untuk mewujudkan Customer Experience dari total 91% perusahaan yang menyatakan bahwa Customer Experience adalah pilar utama bisnisnya.

● Kualitatif: wawancara dengan pelanggan, Focus Group Discussions (FGD), observasi, meminta testimoni, dan lainnya. ● Kuantitatif: survei, analisis website dan data di sistem Customer Relationship Management (CRM), serta analisis engagement akun media sosial perusahaan dan lainnya.

Pemahaman bahwa Customer Experience tidak hanya memberikan manfaat bagi pelanggan tetapi juga bagi perusahaan harus senantiasa digaungkan agar semakin banyak perusahaan yang menginvestasikan sumber dayanya pada bidang Customer Experience.

Pemahaman terhadap penerapan Customer Experience di perusahaan patut didasari lima elemen utama berikut ini: ● Keselarasan antara strategi Customer Experience dengan tujuan utama perusahaan

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh setiap divisi perusahaan jika menerapkan prinsip Customer Experience, yaitu:

● Pemahaman tentang data yang diperoleh dari proses pengumpulan dan analisis secara kuantitatif maupun kualitatif.

● Marketing: memperoleh gambaran untuk memperbaiki kampanye pemasaran secara lebih personal. ● Sales: mencapai omzet penjualan yang fantastis. ● Customer Care: proses melayani pelanggan berlangsung lebih mudah. ● Human Resources: retensi karyawan kian meningkat dan proses rekrutmen berlangsung lancar. ● Manajemen: pencapaian tujuan utama perusahaan semakin jelas.

● Pemantauan tentang penerapan Customer Experience yang sedang diterapkan. Customer Experience harus berjalan mulus dengan tujuan utama memecahkan masalah atau memenuhi ekspektasi pelanggan. ● Integrasi dan konsistensi pada seluruh saluran perusahaan yang disediakan untuk pelanggan. Elemen ini juga mesti disertai pengukuran untuk menganalisis performa perusahaan terkait penerapan Customer Experience. 32


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Merealisasikan Setiap Tahapan dalam Proses Transformasi Customer Experience Setelah perusahaan berhasil melakukan analisis tentang penerapan Customer Experience, maka langkah selanjutnya adalah mewujudkan transformasi dengan melakukan beberapa tahapan sebagai berikut:

● Menyelaraskan dan mengintegrasikan Customer Experience yang sudah diperbaiki melalui proses implementasi dan penyesuaian selama proses transformasi berlangsung.

● Memetakan kondisi terkini berdasarkan analisis data yang sudah dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai Customer Experience.

● Mengukur pencapaian setiap implementasi perbaikan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur sesuai dengan strategi yang ditetapkan di awal rencana transformasi.

● Menentukan tujuan utama yang ingin dicapai dari transformasi yang akan dilakukan. Proses refleksi atas visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan dapat dijadikan landasan penentuan tujuan.

Pelaksanaan transformasi Customer Experience membutuhkan upaya, waktu, dan komitmen yang konsisten dari seluruh pihak di perusahaan. Hal tersebut memang tidak mudah tetapi harus diupayakan untuk menciptakan Customer Experience terbaik bagi pelanggan. Hasil konkret berupa peningkatan profit perusahaan, kepuasan kerja karyawan, dan loyalitas pelanggan tentu menjadi motivasi terbaik untuk memicu partisipasi seluruh pihak di perusahaan. Mari lakukan improvement secara maksimal agar perusahaan memiliki ciri khas yang membuat pelanggan senantiasa loyal dan puas.

● Mengidentifikasi peluang untuk perbaikan dengan melakukan audit penerapan Customer Experience saat ini dan mencoba menemukan kesenjangan antara kondisi aktual dengan kondisi ideal yang diinginkan. Kesenjangan tersebut berisiko memicu permasalahan jika tidak diantisipasi sesegera mungkin. ● Mengembangkan strategi transformasi dengan menyusun prioritas, jadwal pelaksanaan, dan langkah-langkah lain yang diperlukan untuk menindaklanjutinya secara bertahap.

33



PQM Consultants Online Training Series

TRAINING ONLINE

TRAINING LEAN LOGISTIC Facilitator : Septa Tiar & Jarot Anorogo

16 - 17 November 2022 Daftar Segera Di Sini events@pqm.co.id 021 4251887 events.pqm.co.id

exclude ppn 11%

|

Via Zoom

|

*Rp. 1.500.000

Scan QR Code untuk dapatkan silabus lengkapnya https://events.pqm.co.id/page/home


ONLINE PUBLIC TRAINING SCHEDULE ONLINE PUBLIC TRAINING JULY 2022 - DECEMBER 2022 JULY SCHEDULE - DECEMBER OCTOBER 2022

JULY 2022

JULY 2022 No Topic No

Topic 1

2

1

Investment

APICS Certified in Logistics Transportation and Distribution (CLTD)* Supply Chain Management Lean Six Sigma Yellow Belt

Rp. 2.700.000

20-21 July 2022

10

Design Thinking

Rp. 2.700.000

20-21 July 2022

10

Rp. 3.900.000

26-28 July 2022

15

3

Skills for Service Excellence

6

Workload Analysis

AUGUST 2022

4

Lean Six Sigma Yellow Belt

5

1 Complex Problem Solving Design Thinking

6

No

Topic

No

Date

Hours

Rp. 27.000.000

18-21 and 25-28 July 2002

40 3 4

Inventory Management

Rp. 2.700.000

13-14 July 2022

10

5

How to Transform Customer Service into Customer Experience

Rp. 2.700.000

19-20 July 2022

10

6

Change Management: Achieving Successf Organizational Changes Through People

Rp. 2.700.000

20-21 July 2022

10

1

2

Date

Hours

Rp. 2.700.000

1-2 August 2022

10

Rp. 2.700.000

20-21 July 2022

10 No

2 Rp. 16.000.000 1-4 August 2022 Management (CPIM) -Productivity Part 1* Improving Manpower through Workload Analysis

20

Rp. 3.900.000

26-28 July 2022

15

3

Negotiation Skills for Procurement Professionals

Rp. 2.700.000

2-3 August 2022

10

4

Agile Project Management

Rp. 3.000.000

3-4 August 2022

12

Rp. 3.000.000

10-11 August 2022

12

Rp. 2.700.000

10-11 August 2022

10

Rp. 2.700.000

22-23 August 2022

10

Organizational Performance

6 Shopfloor Leadership Topic 7

Problem Solving & Continuous Improvement

using PDCA & 7 QC Tools Negotiation Skills for Procurement Professionals

1

Waste Elimination Production Planning & Inventory Control

3

APICS Certified Supply Chain Professional (CSCP)*

4

Lean Six Sigma Black Belt

5

Preventive Maintenance

Investment

Date

Hours Improving Manpower Productivity through 6

Rp. 2.700.000

2-3 August 2022

107

Internal Auditor Training Based On ISO 19011:2018

Rp. 3.000.000

3-4 August 2022

128

Organization Resilience

Workload Analysis

Train the Trainers: Becoming Interactive & Inspiring Trainer

Rp. 3.000.000

22-23 August 2022

14

3

9

Lean Manufacturing: Improving Speed, Quality & Cost Competitiveness

Rp. 2.700.000

24-25 August 2022

10

Problem Solving & Continuous Improvement using PDCA & 7 QC Tools10 10 Effective Planned Maintenance Rp. 2.700.000 30-31 August 2022

Rp. 2.700.000

22-23 August 2022

10

4

Effective Complaint Handling & Train Inspiring30-31 Trainer 11 the Trainers: Becoming InteractiveRp.&2.700.000 August 2022 Service Recovery

10

Rp. 3.000.000

22-23 August 2022

14

Agile Project Management

Lean Manufacturing: Improving Speed, SEPTEMBER 2022 Quality & Cost Competitiveness

6

1 Successful Project Management Rp. 3.900.000 6-8 September 2022 APICS Certified in Planning Inventory Management (CPIM) - Part 1*

No 2

Topic Lean Six Sigma Green Belt

7

Effective Planned Maintenance 3 Leadership for Continuous Improvement

8

4 Effective Complaint Handling & Strategy 5 Warehouse Management Service Recovery

Managing Customer Loyalty & Win Back

Investment

Date

Rp. 2.700.000

24-25 August 2022

101

Rp. 16.000.000

29 August 1 September 2022

20

Hours 15

Rp. 8.000.000

7-8 & 13-15 September 2022

25

Rp. 2.700.000

13-14 September 2022

10

Rp. 2.700.000

19-20 September 2022

10

Rp. 2.700.000

21-22 September 2022

10

Negotiation Skills for Procurement Professionals

DECEMBER 2022 Topic

APICS Certified in Logistics Transportatio and Distribution (CLTD)*

2

Overall Equipment Effectiveness (OEE) Improvement

3

Procurement Management

4

Awareness of SNI/ISO 37001:2016

Rp. 2.700.000

30-31 August 2022

10

Rp. 2.700.000

30-31 August 2022

10 Seluruh program yang tertera dalam brosu

 Harga diatas belum termasuk PPN 11%

 Harga diatas belum termasuk biaya serti

6

Data Analytics for Managers

Rp. 2.700.000

21-22 September 2022

10

7

Business Model Canvas

Rp. 1.500.000

27 September 2022

7,5

 APICS Certification by Association for Su

Rp. 3.600.000

27-29 September 2022

15

 Informasi & pendaftaran kunjungi: https://

Rp. 2.700.000

28-29 September 2022

10

8

Supervisory Management: Enhancing Managerial Skills and Leadership Autonomous Maintenance

SEPTEMBER 2022 9

No

9

No

5

Topic

2

8

2

Creative Innovation Thinking Awareness of SNI/ISO 22301:2019

NOVEMBER 2022

Investment

APICS Certified in Planning Inventory

Topic APICS Certified in Planning Inventory Management (CPIM) - Part 2*

Investment

10

5

AUGUST5 2022 Talent Management: For Enhancing

• • • • • • •

40

4

SupplyImproving Chain Management Manpower Productivity through

1

Rp. 2.700.000

11-14 and 25-28 July 2002 13-14 July 2022

Hours

3 Skills for Service Excellence Rp. 2.700.000 20-21 July 2022 APICS Certified in Logistics Transportation and Distribution (CLTD)*10

2

No

Rp. 27.000.000

Date

 Six Sigma Certification by International Q

 Training APICS Certification dapat dilaku

Info & Registration Hours :

Topic

Investment

Date

1

Successful Project Management

Rp. 3.900.000

6-8 September 2022

15

2

Complex Problem Solving

Rp. 2.700.000

8-9 September 2022

12

3

Lean Six Sigma Green Belt

Rp. 8.000.000

7-8 & 13-15 September 2022

25

4

Managing Customer Loyalty & Win Back Strategy

Rp. 2.700.000

19-20 September 2022

12

5

Warehouse Management

Rp. 2.700.000

21-22 September 2022

12

6

Data Analytics for Managers

Rp. 2.700.000

21-22 September 2022

12

7

Business Model Canvas

Rp. 1.500.000

27 September 2022

7,5

8

Autonomous Maintenance

Rp. 2.700.000

28-29 September 2022

12

Harga diatas belum termasuk PPN 11% Seluruh program yang tertera dalam brosur ini dapat dilakukan dalam format In-House Training dan Consulting Harga diatas belum termasuk biaya sertifikasi untuk Program Lean Six Sigma & APICS Six Sigma Certification by International Quality Federation - USA APICS Certification by Association for Supply Chain Management (ASCM) - USA Training APICS Certification dapat dilakukan offline pada hari kerja dan online pada akhir pekan Informasi & pendaftaran kunjungi: https://events.pqm.co.id

pqmcons@pqm.c


OCTOBER 2022 No

Topic

Investment

Date

Hours

1

Employee Opinion Survey

Rp. 2.700.000

3-4 October 2022

12

2

APICS Certified in Planning Inventory Management (CPIM) - Part 2*

Rp. 21.500.000

3-6 & 17-20 October 2022

40

3

Creative Innovation Thinking

Rp. 2.700.000

5-6 October 2022

12

4

Talent Management: For Enhancing Organizational Performance

Rp. 3.000.000

11-12 October 2022

12

5

Awareness of SNI/ISO 22301:2019

Rp. 1.500.000

12 October 2022

5

6

Inventory Management

Rp. 2.700.000

12-13 October 2022

12

7

Shopfloor Leadership

Rp. 2.700.000

12-13 October 2022

12

8

How to Transform Customer Service into Customer Experience

Rp. 2.700.000

19-20 October 2022

12

9

Change Management: Achieving Successful Organizational Changes Through People

Rp. 2.700.000

19-20 October 2022

12

10

Waste Elimination

Rp. 2.700.000

26-27 October 2022

12

NOVEMBER 2022 No

Topic

Investment

Date

Hours

1

Production Planning & Inventory Control

Rp. 2.700.000

2-3 November 2022

12

2

APICS Certified Supply Chain Professional (CSCP)*

Rp. 29.000.000

7-10 & 21-24 November 2022

40

3

Lean Six Sigma Black Belt

Rp. 12.000.000

8-11 & 22-25 November 2022

48

4

Preventive Maintenance

Rp. 2.700.000

9-10 November 2022

12

5

Improving Manpower Productivity through Workload Analysis

Rp. 3.900.000

15-17 November 2022

15

6

Internal Auditor Training Based On ISO 19011:2018

Rp. 2.700.000

16-17 November 2022

12

7

Supervisory Management: Enhancing Managerial Skills and Leadership

Rp. 3.600.000

22-24 November 2022

18

8

Organization Resilience

Rp. 2.700.000

23-24 November 2022

12

9

Lean Leadership: Developing Continuous Improvement Leaders in All Levels

Rp. 2.700.000

29-30 November 2022

12

10

Negotiation Skills for Procurement Professionals

Rp. 2.700.000

29-30 November 2022

12

DECEMBER 2022 No

Topic

Investment

Date

Hours

1

APICS Certified in Logistics Transportation and Distribution (CLTD)*

Rp. 27.000.000

5-8 & 19-22 December 2022

40

2

Overall Equipment Effectiveness (OEE) Improvement

Rp 2.700.000

6-7 December 2022

12

3

Procurement Management

Rp. 2.700.000

7-8 December 2022

12

4

Awareness of SNI/ISO 37001:2016

Rp. 2.700.000

13-14 December 2022

12


PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE

Berdasarkan Future Jobs Report dari World Economic Forum, 50% karyawan wajib mengupgrade skill atau kemampuannya pada tahun 2025 agar mampu bersaing. Untuk menjawab tantangan dan perubahan di masa depan ini, PQM Consultants hadir dengan serangkaian program pelatihan terbaru yang akan membantu organisasi Anda lebih produktif dan beradaptasi lebih cepat dengan perubahan di masa mendatang! Untuk itu, kami menghadirkan program-program yang akan membantu Anda dan organisasi untuk siap menghadapi masa depan : • • • • • • • • • • • •

Agile Project Management Business Model Canvas Complex Problem Solving Creative Innovation Thinking Data Analytics for Managers Design Thinking Digital Transformation How to Transform Customer Service into Customer Experience Leadership for Continuous Improvement Organization Resilience Productivity Measurement Talent Management

Persiapkan diri agar memiliki skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan di masa depan. Hubungi kami di:

pqmcons@pqm.co.id www.pqm.co.id 021 4251887 38


OUR TESTIMONIALS

39

PRODUCTIVITY & QUALITY MAGAZINE


PQM Consultants

Mengucapkan

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA