Page 1

Newsletter Edisi 103 102


Direktur Eksekutif: Bachtiar Firdaus ST., MPP Direktur Pembinaan Peserta & Pemberdayaan Alumni: Adi Wahyu Adji, S.Si, MSM Direktur Sumber Daya Manusia & Administrasi Keuangan: Muhammad Ichsan SE Direktur Kemitraan & Fundraising: Fachriadi Tanjung SE., M.Si Manajer Pembinaan Peserta & Pemberdayaan Alumni: Aqil Wilda Arief Manajer Sumber Daya Manusia & Administrasi Keuangan: Andi Junasa Andhika Manajer Kemitraan & Fundraising: Nur Ihsan Robbiyanto Asisten Manajer Marketing & Komunikasi: Ibrahim Irsyad

Sumpah Pemuda Untuk Indonesia Seperti yang kita ketahui bahwa Sumpah Pemuda tercetus pada 28 Oktober 1928 yang berarti cerminan dari tekad dan ikrar para pemuda, pelajar dan mahasiswa. Pada saat itulah mereka tidak membeda-bedakan suku, bahasa, pulau, dan organisasi mana. Karena tekad mereka para pemuda adalah bersatu untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Dewasa ini, nilai-nilai tersebut sepertinya mulai luntur oleh pengaruh budaya yang datangnya dari segala arah dikarenakan akses keterbukaan (internet) yang semakin mudah. Semangat persatuan menjadi pupus ditelan semangat membela kepentingan kelompok dan golongan. Yang berdampak sedikit saja gesekan bisa menjadi besar. 1000 orang tua bisa bermimpi, 1 orang pemuda bisa meng ubah dunia! – Soekarno Mengamalkan isi Sumpah Pemuda adalah kunci hidup berbangsa dengan damai, berdampingan, saling menghargai dan menyayangi, karena substansi Sumpah Pemuda berarti berjuang demi kemajuan bangsa dan negara serta menjaga dan meneruskan gerakan-gerakan nyata yang menjaga nasionalisme yang ada. Sebagai calon pemimpin-pemimpin muda di masa datang, Rumah Kepemimimpinan dibina untuk menjadi agen-agen penyemangat persatuan & kesatuan dimasa datang. Sehingga nilai dan tekad pada masa itu yaitu “hidup atau mati� tiada jalan lain untuk mempertahankan kemerdekaan, kecuali para pemuda Indonesia bersatu padu membela bangsa Indonesia! Bisa terus bergelora di momen sumpah pemuda ini! Salam Redaksi

Staff Bidang Pembinaan Peserta & Pemberdayaan Alumni: Enung Azizah Mulyawati Huditami Ajeng Widanti Staff Bidang Sumber Daya Manusia & Administrasi Keuangan: Lusi Cahya Pertiwi Fithratun Nuha Tsabita Staff Bidang Kemitraan & Fundraising: Yessy Nur Handayani Irsyaad Suharyadi Staff Bidang Marketing & Komunikasi: Maghfira Puteri Almira Muhammad Nabil Bidang Umum: Fauzan Hendar Yanti Regional 1 Jakarta Pembina Regional: Dr. Hamid Chalid SH. LLM Manajer Regional: M. Fathan Mubina Supervisor Asrama: Arya Adiansyah, Indah Puspita Regional 2 Bandung Pembina Regional: Dr. Taufikurrahman Supervisor Asrama: Septiar D Putra Regional 3 Yogyakarta Pembina Regional: Dr. M. Wazis Wildan M. Sc Manajer Regional: Chandra Nur Triwiyanto Supervisor Asrama: Hamdan Abdullah, Devi Lukitasari Regional 4 Surabaya Pembina Regional: Dr. Arief Basuki, Sp An Manajer Regional: Wawan Ismanto S.Si Supervisor Asrama: Amron Basuki Regional 5 Bogor Pembina Regional: Dr. Abdul Munif M. Sc, Agr Manajer Regional: Pauzi S. Gz Supervisor: Supriatna Regional 6 Medan Pembina Regional: Rudi Hartono Manajer Regional: Andi Pranata, S.Si Staf Pembinaan: Irwansyah Putra Regional 7 Makassar Pembina Regional: Dr. Yusran Manajer Regional: Arifatul Mahmudah D. Supervisor Asrama: Mushaddiq Asri, Ahmad Akbar


4 - Mitra & Daftar Isi

Inspirasi Tokoh

Mr.Sudeep Mohandas ( Managing Director First International ) dan Gurunda Ustad Musholli memberi beberapa inspirasi cara membentuk jiwa kepemimpinan yang baik.

10

Hal 10&11 Inspirasi Pahlawan Belajar dari Guru Bangsa, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Bagaimana visi yang dapat menghindarkan manusia dari lemahnya semangat Hal 12

RK Utama Jakarta - Hari Jum’at (22/9) Bukalapak di Keroyok Alumni Rumah Kepemimpinan. Apa saja keseruan yang terjadi disana ? Hal 14

Komik Kepemimpinan Lembar khusus curhatan Komikus dari Rumah Kepemimpinan akan pentingnya kepemimpinan pada masa kini. Hal 27

12 14 27

6

Inspirasi Pemimpin muda

16

Galeri Aktivitas Regional

18

Prestasi Pemimpin muda

20

RK Regional

22

RK Alumni

24

RK Leadership Project

26

Laporan Keuangan


Konsultan Pemimpin Kisah RK - 05 5

TERIMA KASIH, ASRAMA! “Gaes, maaf ya, jam 8 aku ada kajian di asrama, jadi harus segera balik, maaf banget ga bisa ikut nonton bareng sama kalian.” “Tems, maaf aku ga bisa join beach camp nanti malem, nanti malem bukan hari libur dan aku ada acara asrama juga nanti malem, maaf ya ga bisa join kali ini.” “Maaf banget, aku izin datang terlambat karena harus piket asrama dulu, nyapu, ngepel, dan kawan-kawan.” “Temen asramaku sakit, jadi aku harus balik duluan, aku belum beliin temenku makan.” Itu mungkin kalimat-kalimat yang terlalu sering kuucapkan ketika agenda hore organisasi berbenturan waktu dengan agenda asrama. Mungkin masa kuliahku terlihat tertekan, membosankan, dan terbatasi karena aku tinggal di ASRAMA. Tapi, aku tidak menyesal, sama sekali tidak menyesal sebagian waktu kuliahku kuhabiskan dengan tinggal di asrama. Terimakasih asrama, kini aku jadi tidak kesulitan membagi fokus di dalam maupun di dalam rumah. “Wii , kamu keren banget hari ini,” puji seorang teman saat melihat penampilanku hari ini. “Biasa, peragaan busana asrama mahasiswa, wkwkwk.” Jawabku santai. “Sistaaa, ada yang punya rok hitam dan bisa kupinjam besok?” tanyaku suatu malam, dan paginya muncul tiga rok warna hitam yang modelnya agak beta tipis. “Gaes, besok presentasi kita pake baju apa nih biar kompak?” tanya ketua timku. “Pakai seragam asramaku aja, kembar cantik dan jumlahnya insyaAllah cukup buat satu tim kita. Mungkin inilah berkah anak asrama, memiliki koleksi pakaian sejumlah N lemari. Dimana N adalah jumlah anak asrama. Jadi, mau hujan badai, praktikum lapangan terusa-terusan, stok sahabat ada aja. Terimakasih asrama! “Saudara sampai surge, nitip bwain jas yaaa. Letaknya di lemari kanan atas palin pojok. Terimakasih sista” “Aku ujian dan lupa bawa kartu ujian nih, boleh nitip bawain ke kampus? Di rak buku aku yang paling kanan ya” “Yang belum balik, nitip makanan dong, makasih yaw.” “Aku sampe satsiun jam sekian nih, ada yang bisa jemput aku?” Sepotong hal-hal kecil dalam kehidupan asrama mungkin akan terlupa seiring berjalanya usia, tapi hikmah terbaik akan melekat di hati kita. Kisah di asrama mungkin tak selamaya indah, selalu saja ada hal-hal yang menyebalkan, tapi percayalah bahwa kebersamaan akan semakin membesarkan cita. Karena hal besar tidak hanya diciptakan oleh aku dan kamu, tapi oleh kita. Mungkin hanya sekian tahun kita tinggal seatap bersama, tapi semoga doa kita bersama tetap langgeng selamanya. Bukan atap ini yang menyatukan kita, tapi cita-cita dan idealisme kita bersama. Terimakasih kawan, terimakasih asrama!

ditulis oleh : Nurul Muizah, Fakultas Kedokteran, Universitas UGM 2014 (Regional 3)


6

- Inspirasi Pemimpin Muda

a i s e n o d n I h a l t a h Li t a k e D Lebih Inspirasiku dari Tanah Banggai! Apakah kalian termasuk satu di antara banyak pemuda yang mengeluh akan kebobrokan bangsa ini? Apakah kalian termasuk satu di antara banyak pemuda yang merasa tidak beruntung dilahirkan di bumi pertiwi ini? Apakah kalian termasuk satu di antara sekian banyak pemuda yang merasa bahwa keadaan negara di luar sana lebih baik daripada negeri kita ini? Jika iya, mungkin kamu harus melihat Indonesia lebih dekat. Tahukah kamu, para pemuda Indonesia? Populasi kita menduduki posisi terbanyak dalam piramida penduduk, lebih dari 40 juta pemuda saat ini bernafas menghirup udara di bumi pertiwi, Indonesia. Bayangkan jika 40 juta populasi itu hanya diam dan tidak

melakukan perubahan apapun untuk Indonesia. Mungkinkah Indonesia akan menjadi negeri madani yang kita mimpikan selama ini? Mungkinkah Indonesia akan menjadi negara yang adil, makmur, dan sejahtera? Jika melihat dari perspektif sejarah Indonesia, mengapa pemuda menjadi tolok ukur keberhasilan suatu bangsa? Sebut saja Bung Karno, pada 1927 mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), saat usianya baru 26 tahun. Dalam usia 44 tahun, beliau bersama Bung Hatta yang saat itu baru berusia 43 tahun memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Selanjutnya, ada Bung Tomo yang saat itu baru berusia 25 tahun, yang kemudian setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Lalu, Dokter Soetomo dan Dokter Wahidin Soedirohoe-

sodo yang pada 20 Mei 1908 mendirikan Boedi Oetomo, cikal-bakal organisasi pergerakan modern di Indonesia. Pada saat itu usia Soetomo baru 20 tahun dan Wahidin berusia 56 tahun. Tanggal 20 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Begitu pula dengan para pemuda yang mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Mereka berikrar, “Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia; berbangsa satu, Bangsa Indonesia; dan berbahasa satu, Bahasa Indonesia�. Saat itu mereka rata-rata baru berusia 20-30 tahun. Sumpah Pemuda kemudian berujung pada proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Bisa dibayangkan bukan? Betapa kontribusi nyata pemuda Indonesia sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Dalam


tulisan ini, saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya ketika menginjakkan kaki di tanah Banggai, pengalaman ketika pertama kali menjadi pengajar muda di progam KKN-PPM UGM di Desa Mbuang-Mbuang. Apa dan dimanakah itu? Mbuang-mbuang merupakan desa tertua di kecamatan Bokan Kepulauan, kabupaten Banggai Laut, provinsi Sulawesi Tengah. Terletak di pulau Salue Kecil membuat Mbuang-mbuang menjadi kawasan yang terpisah jauh dari ibu kota kabupaten, sehingga tidak heran apabila perkembangan desa ini relatif lambat dibandingkan dengan desa-desa lain di kabupaten Banggai Laut. Untuk sampai di desa Mbuang-mbuang, saya harus menempuh transportasi darat, udara, dan laut selama kurang lebih lima hari dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Deskripsi singkat yang menggambarkan daerah ini adalah tidak ada sinyal, sulit air bersih, minimnya listrik, kondisi sekolah yang memprihatinkan, dan pelayanan kesehatan yang terbatas. Desa Mbuang-mbuang dengan segala keindahannya ternyata menyimpan begitu banyak sisi yang perlu kita perhatikan. Dalam sektor pendidikan dan kesehatan utamanya. Dari sektor pendidikan, Mbuang-mbuang memiliki sekolah dengan peserta 15 siswa TK, 60 siswa SD dan 28 siswa SMP saja. Namun, itu semua tak mengurangi semangat belajar mereka dalam menuntut ilmu. Fasilitas sekolah yang kurang dari cukup, mungkin kita terbiasa mendapat fasilitas yang serba instan di kota, tetapi tidak dengan mereka. Ruang kelas tanpa jendela dan lantai pasir sudah biasa mereka nikmati. Bagaimana dengan tenaga pendidiknya? Hanya ada satu guru PNS dan empat guru honorer di desa ini. Dengan minimnya tenaga pengajar,

Inspirasi Pemimpin Muda - 7 jangan heran apabila pemandagan kelas kosong sudah sering dijumpai. Ditambah, kurangnya motivasi dari guru honorer juga menghambat kegiatan belajar adik-adik. Dengan upah Rp1.600,00 per jam, sering kali guru honorer meninggalkan tanggung jawabnya sebagai tenaga pendidik. Sungguh, sebuah realitas sosial yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Berbanding lurus dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan di desa ini. Kesulitan dalam mendapatkan akses kesehatan sangat dirasakan oleh warga sekitar. Bagaimana tidak, ke Puskesmas terdekat harus menempuh waktu dua jam dan rumah sakit terdekat harus ditempuh selama enam jam dengan menggunakan transportasi laut. Dan untuk perjalanan ke rumah sakit pun hanya dapat dilakukan dua kali dalam seminggu sesuai jadwal kedatangan kapal di desa, yaitu setiap hari senin dan sabtu saja. Tidak heran obat-obatan tradisional masih menjadi alternatif yang sering digunakan oleh warga di sana. Jika tidak kunjung sembuh maka mereka dengan sabar menunggu jadwal kapal seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Lalu, bagaimana jika kondisinya makin memburuk? Kematian, tidak jarang kematian menjadi ancaman keras bagi hidup warga desa Mbuang-mbuang. Hei pemuda, lihatlah, renungkanlah. Sejenak mari kita melihat Indonesia lebih dekat lagi. Indonesia butuh kita para pemuda dengan kontribusi nyata. Tidak hanya pandai berbicara di meja politik, tetapi juga yang bisa menghasilkan karya. Pemuda, satu kata penuh makna. Pemuda, yang katanya masa depan harapan bangsa. Pemuda, yang katanya harus punya idealisme tinggi. Pemuda, katanya harus punya kontribusi yang nyata untuk negara. Mungkinkah kita salah satu pemuda dari sekian banyak makna yang sudah ada?

(Yauma Ayu Arista, Peserta RK Regional 3 Yogyakarta, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada 2014 ) https://www.selasar.com/jurnal/38115/Lihatlah-Indonesia-Lebih-Dekat-Inspirasiku-dari-Tanah-Banggah


8

- Inspirasi Pemimpin Muda

i d a J n a g Jan si wa

s a Mahematur Pr

Mahasiswa, sebutan bagi generasi yang menjadi bahasan yang tidak akan ada habisnya. Istilah “maha” yang disematkan sebelum kata siswa ini menandakan bahwa mereka berada di tingkat yang lebih tinggi daripada mereka yang berseragam putih abuabu dan putih biru, serta yang masih duduk di bangku sekolah. Kedewasaan berpikir dan bertindak adalah sesuatu yang diharapkan ada dalam diri mahasiswa atau lebih boleh disebut siswa yang sudah “maha” ini. Dalam diri mahasiswa sendiri terdapat tanggung jawab yang besar ke depan dalam membangun negeri yang dilanda banyak krisis multidimensional ini. Sosok mahasiswa disebut-sebut sebagai agent of change, agen pembawa perubahan untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Sosok yang diharapkan membawa perubahan besar bagi bangsa Indonesia sebagaimana yang diidamkan pahlawan-pahlawan yang telah berkalang tanah. Namun, realitasnya tidak demikian. Banyak mahasiswa yang tidak memiliki idealisme dalam diri mereka. Menjadi mahasiswa bagi mereka hanyalah sebuah usaha dalam mengejar status sosial yang akan hanya membuat mereka terlihat lebih prestise di mata masyarakat. Gelar dan ijazah sarjana yang didapatkan kelak hanya digunakan sebagai “golden ticket” dalam memasuki dunia kerja yang diidam-idamkan. Padahal, menjadi mahasiswa tidak sesederhana itu. Pilihan yang salah dapat membuat mahasiswa hilang tujuan dan arah dalam dunia pasca kampus ke depannya. Salah satu pilihan salah tetapi banyak dipilih mahasiswa

adalah menjadi mahasiswa prematur atau lebih tepatnya sarjana prematur. Memaksakan diri lulus lebih dini, potensi dan kemampuan masih belum terasah dengan baik serta kemampuan yang dimilikinya masih absurd. Padahal, sesuai cita-cita Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian ke masyarakat. Mahasiswa idealnya memiliki kepekaan sosial dalam meng analisis masalah-masalah yang ada di masyarakat dan menjadi problem solver dalam memecahkan masalah-masalah tersebut bersama masyarakat. Bukan malah menjadi beban dan trouble maker di masyarakat. Ironisnya, banyak sarjana-sarjana (yang tentunya sebelumnya adalah mahasiswa) yang setelah lulus hanya menjadi beban bukan hanya untuk masyarakat bahkan negara.


Hal ini sesuai dengan data yang dicatat oleh BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah pengangguran terbuka (tanpa pekerjaan sama sekali) di Indonesia pada tahun 2011 adalah 8,12 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 600 ribu orang adalah mereka yang telah lulus universitas alias sarjana. Inilah potret buram pengangguran terdidik di negeri ini. Sudah saatnya mahasiswa tercambuk hatinya dan mengubah paradigma berpikir yang pragmatis dan simbolis. Banyak masalah di negeri ini yang membutuhkan peran aktif mahasiswa. Kaum pemuda yang diwakili oleh mahasiswa seharusnya turut berkontribusi aktif dalam membangun negeri ini. Bukan hanya berkonsentrasi pada dunia akademik (bangku kuliah) saja, tanpa mencari asupan pengetahuan di luar bangku kuliah. Padahal yang menjadikan mahasiswa berproses dari “ulat-ulat nakal” menjadi “kupu-kupu peradaban” adalah pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman itulah yang akan memberikan kita kedewasaan, ketegaran, dan proses memahami realitas hidup yang sesungguhnya. Sudah saatnya memaknai kampus sebagai ruang proses pencarian jati diri dan pematangan pribadi sebagai kaum terdidik. Sudah saatnya menjadikan ruang dan dimensi kehidupan yang ada di kampus bukan hanya alat untuk mencari kepuasan lahiriah, tetapi juga alat

Inspirasi Pemimpin Muda - 9 untuk berproses menjadi seseorang yang visioner. Sebagaimana istilah mahasiswa oleh Gramsci disebut “intelektual organik”, yang idealnya harus mampu memahami ruang proses kampus sebagai penempaan keilmuan dan kedewasaan diri, bukan pada pemenuhan gelar semata. Cukuplah sindiran yang disematkan oleh Iwan Fals dalam lirik lagunya “Engkau sarjana muda, resah mencari kerja mengandalkan ijazahmu. Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia” menjadi tamparan keras bagi para sarjana muda di negeri ini. Jelas, menjadi sarjana prematur adalah pilihan fatal dalam kacamata pendidikan kritis. Sebab yang diandalkan hanya ijazah, bukan kemampuan personalnya. Dalam catatan historisitas kampus, mahasiswa yang lama di kampus (tidak cepat sarjana) rata-rata setelah lulus banyak yang sukses, utamanya yang aktif di organisasi kemahasiswaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana, selain mereka sudah banyak pengalaman, mereka juga punya jaringan (networking) yang luas di luar kampus, sehingga setelah lulus akan mudah untuk mencari peluang dari sana. Serta yang paling penting, mahasiswa yang lama di kampus sikap kemandirian dan kedewasaan dirinya sudah terbentuk sehingga cara berpikirnya matang, inspiratif, kreatif, dan tidak bergantung pada keadaan.

( Agung Ridwan Hidayanto, Peserta RK Regional 4 Surabaya, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga 2014 ) https://www.selasar.com/jurnal/38169/Jangan-Jadi-Mahasiswa-Prematur


10 - Inspirasi Tokoh

Membentuk Budaya dan Nilai Oganisasi yang Kompetitif Budaya dan nilai organisasi adalah modal penting bagi organisasi yang ingin terus tumbuh menghadapi tantangan dan perubahan zaman. Tidak sedikit organisasi yang tumbuh menjadi besar bahkan menjadi raksasa bisnis di bidangnya kemudian berakhir tumbang karena tidak mampu beradaptasi dengan persaingan dan dinamika global. Demikian ungkap Mr. Suddep Mohandas Managing Director I First International sebuah lembaga konsultan untuk Institusi nonprofit saat menyampaikan materi pembukanya pada workshop #NAMAInQube 2017 di Putrajaya Malaysia. #NAMAInQube adalah sebuah forum pelatihan dan workshop yang diselenggarakan oleh NAMA Foundation bagi lembaga-lembaga nonprofit yang fokus pada dunia pendidikan dan pengembangan Non-Government Organisation (NGO). Hadir dalam pelatihan dan workshop tersebut 20 NGO yang berasal dari 7 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Libanon, Palestina, Kenya, Tanzania, dan Kyrgystan. Mr. Sudeep juga mengungkapkan meski tidak bersaing dengan organisasi bisnis besar dan bukan berorientasi pada upaya meraih profit, NGO juga sangat perlu membangun budaya organisasi yang kuat agar organisasi mampu bertahan dan bersaing di era global. Nilai-nilai kepercayaan (amanah) dan transparansi adalah bagian isu yang penting bagi NGO dalam membangun basis program dan keberhasilan organisasinya. Nilai-nilai tersebut dapat dibangun melalui budaya organisasi yang hidup dan menjadi ruh organisasi. Lebih lanjut Mr. Sudeep menyatakan bagi NGO budaya yang penting dibangun harus mengarah pada terbentuknya nilai profesionalisme sehingga membuka peluang bagi NGO mendapat dukungan yang lebih luas baik dalam skala lokal maupun internasional. Mr. Sudeep memberikan 7 perspektif kunci dalam membangun budaya organisasi yang kompetitif yaitu: 1. Orientasi pada karakter 2. Peningkatan kemampuan belajar 3. Biasakan perilaku juara (selalu memberikan yang terbaik) 4. Bangun Sense of Competitiveness bagi seluruh anggota organisasi 5. Menjaga kepercayaan stakeholder dan donor 6. Membangkitkan potensi organisasi menjadi energi yang membangun 7. Komunikasi yang terbuka dan proaktif Mr. Sudeep berharap para NGO yang mengikuti workshop #NAMAInQube 2017 mampu menerapkan 7 perspektif kunci diatas dengan dibarengi visi organisasi yang kuat sehingga para NGO tersebut akan mampu tumbuh dan bersaing baik di tingkat lokal maupun global.

tokoh

Mr.Sudeep Mohandas (Managing Director I First International) disampaikan pada acara NAMAInQube 2017 1-7 Oktober 2017 Putrajaya, Malaysia


Inspirasi Tokoh - 11

Nilai dan Inspirasi yang Harus di Amalkan Nilai-nilai ROOM-PK adalah warisan terbesar untuk cita-cita memberikan kontribusi bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat di mata dunia. Muslim di negara yang mayoritas islam justru kebanyakan tidak mencerminkan nilai islam ke masyarakat non muslim. Sejauh mana pengaruh agama terhadap kehidupan sehari-hari serasa menjadi cerminan kondisi Indonesia saat ini. Tingginya minat masyarakat terhadap Al-Quran tidak berbanding terbalik dengan keburukan-keburukan yang terjadi. Sebagai contoh real yang terjadi di masyarakat adalah sampah. Kesadaran dan tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat di Indonesia. Semua itu memang harus dimulai dari perbaikan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Jangan sampai kita jadi orang yang ‘kaburo maqtan’ atau banyak bicara tapi tidak melakukan. Terdapat efek domino dari masalah-masalah di lingkungan di masyarakat, seperti kemacetan yang menyebabkan polusi lingkungan dan tingginya tingkat stres masyarakat. Akibat kemacetan itu pula ada nilai ekonomis & efisiensi yang banyak hilang. Perilaku lain yang yang paling merusak dalam puluhan tahun kedepan adalah Korupsi. Untuk membangun bangsa ini dibutuhkan jiwa-jiwa yang besar, yaitu orang-orang yang mampu mengecilkan egonya untuk kebermanfaatan banyak orang. Bagaimana kita sebagai umat islam menengahi dan memoderasi perbedaan yang ada? Yaitu dengan manajemen konflik atau mengubah ancaman menjadi peluang. Adalah sifat “Rendah Hati” apabila ada perbedaan, kita tidak merasa paling benar. Yang kedua adalah “Objektif” yaitu adil dalam menilai walaupun kebenaran itu bukan datang dari kelompoknya tapi tetap mengakui kebenaran tersebut. Kalau kelompok kita salah, akui kesalahan tersebut. Right is right and wrong is wrong. Yang ketiga adalah “Open Mind”, yaitu mendengarkan apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakan. Keempat adalah “Moderat” yaitu ada di pertengahan. Ke-empat nilai tersebut di implementasikan dengan sifat Prestatif dan Kontributif sebagai orientasi dari kerja yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan siap berkorban untuk mencapai tujuan luhur. Nilai dasar RK itu bukan hanya diceramahkan, didiskusikan dan ditanamkan dalam jiwa seluruh Peserta dan Alumni RK, melainkan harus dibiasakan dan diberi contoh teladan oleh para Pengurus dan Pimpinan lembaga. Gurunda Musholli adalah teladan hidup bagi sikap kerendah-hatian, keterbukaan, obyektivitas dan sikap pertengahan. Mungkin bukan kategori prestatif dan kontributif seperti dimaknai generasi muda sekarang. Musholli mencontohkan prestasi kebajikan dengan kontribusi berkesinambungan, sehingga Dompet Dhuafa pernah memberikan Award tahun 2012 sebagai Tokoh Inspiratif bidang pendidikan.

tokoh

dari Gurunda

Ust Musholli


12 - Inspirasi Pahlawan

Adalah sebuah visi yang dapat menghindarkan manusia dari lemahnya semangat. Adalah sebuah pemikiran yang menjadi bahan bakar dari segala pergerakan. Adalah guru yang dapat memberikan contoh sehingga tercipta murid yang berkualitas dan mampu menunjukkan potensinya secara utuh. Itulah HOS Tjokroaminoto, seorang guru dari pemimpin bangsa Indonesia yang mampu menjadi contoh bagi muridnya sekaligus menjadi pemimpin yang mampu diterima oleh semua. HOS Tjokroaminoto merupakan muslim yang taat dalam menjalankan urusan agama, namun juga bukan pendukung Islam yang terlalu fanatik sehingga tidak mau menerima pandangan dari orang lain selain muslim. Kepemimpinan yang bersandar pada Islam mampu diterima oleh kalangan lain yang bermacam-macam asal-usulnya karena sifat beliau yang berpikiran terbuka. Berkat kegemarannya berkelana dan keterlepasannya dari segala macam protokoler keningratan, beliau berhasil masuk ke semua kalangan dan mendengarkan harapan-harapan rakyat yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang bangsawan yang menikmati agenda - agenda birokratis. manajerial yang baik pun ditunjukkan oleh HOS Tjokro Aminoto dalam memimpin SI dimasa genting pada awal pembentukan. Sifat pantang menyerah untuk melebarkan sayap SI dan menyentuh semua simpul pergerakan di Indonesia dibarengi dengan strategi yang dipikirkan dengan matang membuat beliau berhasil konsisten mencapai visinya tersebut. Retorikanya yang tak dapat diragukan lagi selalu dapat menggerakkan orang-orang yang mendengarkannya. Bahkan, musuh pun terdiam karena kebenaran yang disampaikannya. Kemampuan ini yang kemudian ditiru oleh anak-anak yang tinggal di rumahnya saat itu. Soekarno, sang orator unggul pun belajar dari beliau. Perjuangan HOS Tjokroaminoto tentu juga mengalami banyak naik turun, terutama saat pada akhirnya SI terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih. Tantangan pun datang dari muridnya yang juga pada akhirnya menjadi penentangnya seperti Semaoen dan Musso. Namun , “setidaknya� H O S Tjokroaminoto memberikan standar bagi pergerakan Indonesia. Beliau lah standar bagaimana seharusnya seorang pemimpin pergerakan. Murid-muridnya belajar sangat banyak dari HOS Tjokroaminoto dengan melihat gaya kepemimpinan mentornya. Masalah ideologi memang masalah yang tidak dapat serta merta diubah dalam pikiran seseorang karena berasal dari latar belakang individu yang bermacam-macam. Begitupun yang terjadi dengan murid-murid HOS Tjokroaminoto. Mereka datang dengan telah membawa belief, keyakinan, kebiasaan, dan penilaian pribadi yang telah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka bertemu dengan HOS Tjokroaminoto hanya pada sebagian kecil hidup mereka saja. Jika ingin dinilai seberapa jauh HOS Tjokroaminoto mengajar mereka, hendaknya dilihat secara adil dengan melihat aspek lain pula selain ideologi. Pikiran mereka terbukakan mengenai kepemimpinan, kemampuan manajerial, sifatsifat kenegaraan, sifat pantang menyerah, cara berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain, pengetahuan mengenai kebangsaan, ide-ide baru dari tokoh yang mungkin tidak akan mereka temui jika tidak tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, sertabanyak hal lainnya. Tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa HOS Tjokroaminoto adalah seasliaslinya guru bangsa, yang lahir dari rakyat dan kembali ke rakyat. Guru bangsa yang mengalami berbagai macam rintangan dan juga keberuntungan lalu menampilkannya kepada rakyat dengan kualitas seorang negarawan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah meneladani guru bangsa kita ini? Mari kita siapkan jawaban-jawab terbaik kita sendiri.


Inspirasi Pahlawan - 13


14 - RK Utama: Gala Dinner Bukalapak

Gala Dinner Alumni Rumah Kepemimpinan Saat ini bukanlah eranya untuk sukses sendiri menjadi seorang “Superman”, akan tetapi sekaranglah saatnya untuk gapai kesuksesan dunia dan juga akhirat dengan bersama-sama, dengan keroyokan, dengan menjadi “Superteam”. Jakarta - Hari Jum’at (22/9) menjadi momen yang tak terlupakan bagi alumni Rumah Kepemimpinan. Bagaimana tidak, sebanyak lebih kurang 120 orang Alumni Rumah Kepemimpinan dari berbagai angkatan, hadir dalam Gala Dinner Alumni Rumah Kepemimpinan (RK). Gala Dinner Alumni RK ini bertempat di kantor baru Bukalapak yang terletak di Jl. Ampera, Cilandak, Jakarta Selatan. Adalah Achmad Zaky selaku CEO Bukalapak, merupakan salah satu Alumni RK yang memiliki I’d awal sekaligus menfasilitasi penuh acara ini. Acara dibuka dengan makan malam bersama dengan

suasana kekeluargaan yang sangat kental. Walau terdiri dari angkatan yang berbeda, tidak nampak kecanggungan dalam berinteraksi antar alumni. Setelah makan malam, acara dilanjut dengan sambutan sekaligus pemaparan terkait semangat #Collabor(ACT) ion oleh Adlil Umarat (Pak Ading) selaku Ketua Ikatan Alumni RK. Semangat #Collabor(ACT) ion inilah yang menjadi semangat alumni dalam berkarya dan berkiprah di dunia paska kampus. Pada penjelasannya, Pak Ading menyebutkan bahwa, setidaknya alumni dapat berkolaborasi dalam tiga level. Ketiga level tersebut, yakni Level Api Merah (#ApiMerah), Level Api Biru (#ApiBiru), dan Level Api Kebakaran (#ApiKebakaran). Penentuan tingkatan kolaborasi ini bukan tanpa sebab. Diharapkan alumni dapat saling berkolaborasi mulai dari tingkatan paling rendah, semisal makan siang bersama, nonton bareng, sampai tingkat paling tinggi, semisal kolaborasi antar lembaga tempat alumni tersebut berkarya. Achmad Zaky pun selaku tuan rumah menyampaikan rasa kebanggaannya menjadi keluarga besar Rumah Kepemimpinan. Beliau berpesan, sering-seringlah memba-

ngun komunikasi antar alumni. Karena dengan komunikasi yang dibangun, bermulalah kolaborasi kebaikan pada tingkatan manapun. Bukalapak sendiri sebagai salah satu contoh sukses kolaborasi yang dilakukan antar alumni Rumah Kepemimpinan. Acara malam itu bukan ha nya dimeriahkan dengan keha diran alumni dan pengurus RK saja, Ustadz Musholi pun selaku Founding Father RK hadir secara tak direncanakan sebelumnya untuk memberikan pesan-pesan penguat idealisme, sebagaimana yang selalu disampaikan oleh beliau saat para alumni masih mengenyam pembinaan di asrama RK. Sesi Ustadz Musholi menjadi sesi nostalgia bagi para alumni, apalagi bagi alumni angkatan terdahulu. Salah satu pesan dari ustadz yang begitu mengena adalah, sejatinya alumni dimanapun berada adalah pejuang antikorupsi dimanapun sektor kontribusinya, sehingga semangat untuk memberantas musuh utama Bangsa tetap terus menggelora. Setelah Ustadz memberikan penyegar dahaga idealisme, saatnya masuk kedalam sesi puncak. Sesi puncak acara ini adalah diskusi singkat antar alumni di masing-masing klaster


RK Utama: Gala Dinner Bukalapak - 15

kontribusi untuk membahas setidaknya tiga hal. Apa yang dibutuhkan oleh masing-masing alumni, apa yang bisa diberikab oleh alumni dan bagaimana cara terbaik bisa berkolaborasi. Diskusi ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para alumni untuk diskusi-diskusi lanjutan hingga menciptakan small winnings #Collabor(ACT)ion selanjutnya. Momen malam Gala Dinner alumni RK tersebut juga menjadi momen untuk meluncurkan “Lentera Accelerator”sebagai salah satu small winnings #Collabor(ACT)ion alumni RK. Lentera Accelerator (LA) adalah satu inisiatif untuk memberikan inkubasi bisnis bagi para alumni muda atau bahkan peserta yang memiliki passion di dunia bisnis, khususnya start up. LA ini

diharapkan mampu memfasilitasi para alumni muda dan peserta untuk mengembangkan start up nya. Terakhir, acara ditutup dengan penyampaian penuh inspirasi dari Direktur Eksekutif RK - Bachtiar Firdaus. Beliau menyampaikan apresiasi kepada Ikatan Alumni atas inisiatifnya mengumpulkan alumni dalam jumlah yang cukup banyak untuk bisa duduk bersama dan membahas hal-hal strategis untuk Bangsa dan Negara. Beliau berharap, agar #Collabor(ACT) ion ini menjadi gerakan massif di seluruh alumni untuk menciptakan hal-hal baik lagi bermanfaat untuk Bangsa dan Negara. Beliau menambahkan bahwa saat ini bukanlah eranya untuk sukses sendiri menjadi seorang “Superman”, akan tetapi sekaranglah saatnya

untuk gapai kesuksesan dunia dan juga akhirat dengan bersama-sama, dengan keroyokan, dengan menjadi “Superteam”. Acara Gala Dinner alumni RK diakhiri oleh foto bersama dan diskusi kultural lanjutan antar alumni. Acara ini menjadi acara yang kembali mempertemukan alumni RK dalam jumlah yang besar setelah Gathering Alumni RK pada tahun 2015 lalu di Yogyakarta. Dengan jumlah yang kini telah menyentuh angka 1049, alumni RK terus berkiprah dan berkarya di berbagai sektor dan bergerak bersama, berkolaborasi untuk Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat. (AQW)


16 - Gallery Aktifitas Regional

Kajian Islam Kontemporer (KIK)

Galeri Aktifitas dari Regional Dialog tokoh Regional 4 Surabaya

Regional 1 Jakarta bersama Ust. Musholi di Auditorium Rumah Kepemimpinan. Pada KIK kali ini, Ust. Musholi mengajak Ksatria-Tiara merefleksikan apakah kita sudah menjadikan Al Quran teraktualisasikan dalam kehidupan sehari hari. 4 Oktober 2017

Kediaman pak Dahlan Iskan, beliau membicarakan seputar isu Import mobil listrik, Meikarta, minyak yang masih dikuasai asing, kehidupan masa kecil pak dahlan, pengalaman di PLN dan Menteri BUMN serta kehidupan aktivisme mahasiswa yang dahulu beliau geluti. 18 September 2017

Apel Pagi Regional 7 Makassar.

Bertempat di taman Universitas Hasanuddin, upacara dipimpin oleh Ahmad Husain (Statistika 2014) serta Muh. Mushaddiq Asri (Supervisor RK Regional 7 Makassar) selaku Pembina Apel. 25 September 2017


Training Networking Regional 1

Gallery Aktifitas Regional - 17

Bersama Direktur Rumah Kepemimpinan, Bachtiar Firdaus, ST., MPP. Pelatihan ini diberikan kepada peserta pembinaan karena dalam masa pembinaan semester 3 ini kompetensi yang ingin dikembangkan adalah kemampuan membangun jaringan seiring dengan aktualisasi yang sedang dilakukan oleh peserta dalam bidangnya masing-masing. 21 September 2017

Social Mapping Training Bersama Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) dengan tema “Memetakan Potensi, Eskalasi Kampung Mandiri" dengan metode field training di Desa Mitra Rumah Kepemimpinan Bandung: Kp. Pojok Desa Mekarwangi, Kab. Bandung. 24 September 2017.

Tahsin-Tahfidz Al-Qur'an

Kajian Keislaman

Bersama Warga RK Regional 3 Yogyakarta. Kajian malam ini spesial karena dilaksanakan bersama warga dusun Ngabean Kulon, Desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Kajian Adab Bertetangga, yang disampaikan oleh Ustd Didik Purwodarsono. 29 September 2017


18 - Prestasi Pemimpin Muda

CAPAIAN PESERTA September-Oktober 2017

Andini Ika Saskia Farmasi FF UI 2014 Best Participant in Youth Educational and Enterpreneur Summit 2017, Istanbul, Turki

Latifa Ayu Lestari T.Industri FT UI 2014 Selected Participant of Tokyo Institute of Technology—Asia Young Engineer and Scientist Advanced Study Program, Philiphine

Dimas Prasetio Ajie Teknik Kimia FT UI 2015 Presenter pada ASEAN Islamic Student Summit (AISS) Jamaah Masjid Shalahudin UGM bekerjasama dengan AFSEC Kuala Lumpur, Malaysia, 21-24 September 2017

Kinanti Indah Safitri Jurusan llmu Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM 2014 Pemakalah dalam Seminar National conference and Teacher Training 2017 Universitas Jember dengan tema "Implementasi Pendidikan Karakter dalam Jenjang Sekolah Formal" tanggal 2 September 2017 di Universitas Jember


Prestasi Pemimpin Muda - 19

Ramadhany Ayu Kehutanan UGM 2014 Delegasi Konferensi JENESYS Composite 1st (Culture) Japan-ASEAN Students Conference 19-24 September 2017

Mohammad Rizky Ferdiansyah Teknik Elektro FTE ITS Finalis Karya Inovasi PT.PLN 2017 Juara Groufie Instagram PLN contest 2017

Irsyad Al Ghifari Ekonomi Syariah FEM IPB 2015 dinobatkan sebagai mahasiswa inspiratif dalam IPB Awarding Night 2017

Yoga Rivaldi FKH, IPB,2015 Terpilih menjadi Duta IPB 2017/2018

Work Hard Stay Humble Never Ever Give Up

“


20 - RK Regional

g o l Dia didikan Pen

Sabtu, 7 Oktober 2017, yaitu Rumah Kepemimpinan Regional 4 Surabya bersama Yayasan Dana Sosial Alfalah (YDSF) menyelenggarakan Dialog Tokoh bersama Dr. (HC). Ir. H. Abdulkadir Baraja. Beliau adalah ketua YDSF yang beberapa waktu yang lalu menerima penghargaan Doktor Kehormatan dari Unesa (Universitas Negri Surabaya) dalam bidang Manajemen Pendidikan. Acara tersebut dihadiri oleh lembaga penerima dana pembinaan dari YDSF yaitu Rumah Kepemimpinan dan SDM IPTEK. Acara dilaksanakan pada pukul 08.00 - 11.00 di Jl. Bengawan No. 2A, Surabaya. Beliau menyampaikan bahwa ada ketimpangan antara sekolah negeri dan swasta yaitu pada biaya pendidikannya. Jika sekolah negeri mendapatkan biaya tambahan atau bahkan penuh dari pemerintah, tidak untuk sekolah swasta. Padahal pendidikan merukan hak bagi setiap dari warga negara. Beliau menambahkan bahwa sebenarnya ketika zaman Pak Nuh pencanangan pemerataan ini sudah dibahas tapi tidak ada realisasinya. Kenapa hal ini menjadi penting karena biaya sekolah idealnya akan memberikan kualitas dan tanggung jawab lebih kepada seorang guru. Meskipun dalam kenyataannya guru di Indonesia ketika diberi sertifikasi sama dengan guru yang tidak diberikan sertifikasi bahkan ada yang lebih buruk. Ada analogi menarik yang beliau sampaikan kepada peserta. “Yang membuat tape itu enak atau tidak adalah raginya. Maka idealnya ketika raginya jelek maka tape yang dihasilkan juga jelek. Beginilah pentingnya dari peran guru. Sebagai ragi maka kualitas guru tersebut harus lah memiliki kualitas yang sangat baik untuk membuat murid menjadi baik�, ujar pak Abdul Kadir. Beliau juga menambahkan permasalahan yang ada saat ini. Kenapa guru di Indonesia saat ini kualitasnya banyak yang kurang baik ? hal ini dimulai dari pengiriman guru besar besaran ke Malaysia 1968 dan 1970. Pada saat itu guru guru terbaik milik kita dikirimkan ke Malaysia sedangkan yang tidak memenuhi kompetensi untuk dikirim tetap di Indonesia. Selain itu faktor yang lain adalah profesi guru ini kurang menjajikan sehingga orang pintar cenderung memilih berkarir di Industri. Tak hanya bicara soal masalah, namun beliau juga memantik diskusi untuk memikirkan solusi. Arif, salah satu peserta diskusi yang merupakan alumni Rumah Kepemimpinan Surabaya, memberikan tanggapan atas pertanyaan Pak Abdulkadir soal kondisi pendidikan kini dan solusinya. Beliau menyampaikan bahwa salah satu cara untuk mengatasi problematika pendidikan, dalam hal ini adalah masalah guru, yaitu dengan meniru konsep pesantren. Dimana peserta didik yang cerdas diwajibkan untukmengabdi sebagai pendidik sebelum keluar dari sekolah. Atau merekomendasikan peserta didik terbaik untuk menjadi pendidik. Maka ketika pendidiknya adalah kualitas yang terbaik, hasilnya insya Allah juga lebih baik. Sebelum agenda berakhir, dibuka sesi tanya jawab. Dan akhirnya acara ditutup oleh moderator dan sesi foto bersama. Agenda diskusi yang menggugah nalar kritis pemuda untuk peduli soal pendidikan. Semoga menjadi titik yang baik dalam pembinaan peserta Rumah Kepemimpinan Surabaya.


RK Regional - 21

g o l a Di ampus K a c s a P Hari Sabtu, 21 Oktober 2017 di Asrama Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta diadakan program dialog pasca kampus (DPK) degan pembicara Bp. Hari “Soul” Putra yang sangat aktif di bidang finance. Program tersebut bertema ‘Meniti Karir Dunia dan Akhirat’ dengan tajuk manajemen karir. Selain aktif sebagai trainer, pembicara merupakan seorang penulis dengan 6 judul buku yang telah diterbitkan. Pada kesempatan tersebut pembicara menyampaikan bahwa salah satu teori yang selama ini cukup populer di kalangan pebisnis ialah teori yang diperkenalkan oleh Robert T. Kiyosaki yang membagi antara elemen employee (E), Self Employe (S), Invest (I), dan Business (B) menjadi empat kuadran dua bagian. Namun, tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa T. Kiyosaki memiliki cukup banyak guru (mentor) yang salah satunya bernama Keith Cunningham. Konsep yang sempat dipopulerkan oleh T. Kiyosakiosaki tersebut sebetulnya merupakan gagasan Cunningham yang sejatinya bukan terbagi atas empat kuadran, melainkan membentuk tanda ‘plus’. Artinya, diperlukan keempat elemen tersebut, yang membedakan adalah bagaimana formulasinya. Bicara soal karir, tentu erat kaitannya dengan kesuksesan. Sukses sejatinya merupakan kombinasi antara iman dan strategi. Namun ternyata jauh sebelum bicara soal karir, terdapat beberapa hal yang perlu kita tengok dan kita buat ‘clear’ terlebih dahulu, yaitu: 1. Aspek diri dan keluarga. Coba mulai kita tanyakan pada diri. Dari mana saja harta kita berasal? Apakah masih ada harta riba yang mengalir dalam darah kita dengan sengaja? 2. Hubungan dengan Allah SWT. Semakin dekat atau sebaliknya? Bagaimana kabar mutabaah harian kita? Sudahkah kita membuat history? Not just story. Bagaimana hubungan kita dengan orang tua kita? 3. Seberapa dekat hubungan kita dengan pasangan? Seberapa ridho pasangan dan anak-anak kita atas apa yang kita kerjakan? 4. Seberapa dekat kita dengan ummat? Apakah mereka ridho dengan harta dan kedudukan kita? 5. Apakah kita telah memiliki mentalitas kaya? Yang salah satu cirinya adalah sedekah yang terstruktur. Tak lupa, beliau juga menyampaikan bahwa dalam merancang karir, perlu kita tentukan tujuan karir, tujuan akhirat, tujuan peningkatan diri, tijuan materi, serta tujuan masyarakat. Sungguh waktu kita terbatas. Tidak ada plihan selain membangun diri, keluarga, agama, bisnis, dan negeri dalam satu tarikan nafas.


22 - RK Alumni

Hadirkan Solusi Syariah bagi UMKM untuk Menghindari Jerat Riba Irvan Hermala Regional I Jakarta Angkatan 2

Menggeluti kajian tentang Ekonomi Umat, membawa seorang pemuda bernama Irvan Hermala menemukan solusi bagi pendanaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk tumbuh. Pria yang lahir di Jakarta, 32 tahun yang lalu ini kini tengah merintis satu start up di bidang investasi syariah bernama Indves sejak Januari 2016 silam. Pria yang menamatkan jenjang Sarjananya di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2008 ini, kemudian melanjutkan studi jenjang Master di Cardiff University dengan mengambil jurusan Business Strategies and Entrepreneur hingga tahun 2016. Sekembalinya ke Tanah Air, Irvan bersama-sama rekan-rekannya dari Prodi Bisnis Islam UI dan Alumni Beasiswa LPDP dari USA dan UK bersama-sama membangun Indves sebagai solusi bagi para pelaku UMKM di Indonesia. Indves merupakan salah satu platform keuangan (investasi) syariah yang bertujuan memudahkan UMKM untuk mendapatkan modal untuk memulai atau mengembangkan usahanya. Kini, Irvan dan rekan-rekan telah mampu mey-

akinkan sebanyak 2830 investor dan 341 UMKM yang mendaftarkan diri pada platform Indves. Hal yang juga membanggakan adalah, sejak didirikan pada Januari 2016 lalu, Indves telah berhasil membukukan sejumlah 1 Miliar Rupiah sebagai modal yang dapat disalurkan. Selain alasan untuk membantu pengusaha kecil yang mengalami kesulitan permodalan karena sulitnya akses UMKM kepada Bank dan institusi keuangan, Indves juga didirikan dengan semangat untuk memotong jerat riba yang menjadi banyak persoalan bagi pendanaan UMKM. Karena fakta hari ini mengatakan bahwa tidak sedikit UMKM yang lari ke rentenir sehingga masuk kedalam perangkap hutang riba yang sedemikain membelenggu. Pengalaman Irvan ketika di kampus di beberapa organisasi dan juga pengalaman di beberapa tempat kerja memberikan bekal tersendiri bagi Irvan untuk memulai bisnis strategis ini. Sempat menyicipi bekerja di PT. Kao Indonesia Chemicals, PT. Tigaraksa Satria, dan PT. Trans Retail Indonesia, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studinya

di Cardiff, United Kingdom. Dapat dikatakan bahwa dengan pengalaman dan kapasitas yang matang, Irvan dengan Indves-nya siap bersaing dengan perusahaan fin-tech yang tengah menggeliat di Indonesia. Selain itu, pengalaman mendapatkan pembinaan di Rumah Kepemimpinan (RK) pada tahun 2004 hingga tahun 2006, memberikan kesan tersendiri dalam diri Irvan. Kata-kata dalam Idealisme Kami yang sering dikumandangkan di asrama ketika itu terpatri kuat dan menjadi energi yang tak pernah padam dalam diri untuk memberikan yang terbaik bagi siapapun. RK pun mendidik Irvan dan penerima beasiswa saat itu untuk menjadi pemimpin masa depan yang mampu menorehkan kontribusi dan manfaat se luas-luasnya bagi Bangsa. Itulah jua yang menjadi motivasi Irvan dalam menghadirkan Indves di tengah-tengah masyarakat, yakni seluas-luasnya manfaat bagi kesejahteraan rakyat.


RK Alumni - 23


24 - RK Leadership Project

PROFIL LEADERSHIP PROJECT LEADERSHIP PROJECT Regional 6

Yes, We Are Leaders!

Smart Bottle Adalah Leadership Project yang memfokuskan diri pada peningkatan taraf ekonomi melalui konsep sosiopreneur dengan menciptakan produk daur ulang bernilai jual.

AGRISULTAN & LEK LUMUT Memfokuskan diri pada model kegiatan sociopreneur yang memberdayakan masyarakat target untuk menghasilkan produk bernilai jual. Pemilihan bahan baku produk yang akah diolah dititikberatkan pada aspek kelestarian lingkungan.


RK Leadership Project - 25

Merasa bertanggungjawab atas pelestarian lingkungan di daerahnya, peserta Rumah Kepemimpinan Regional 6 Medan mendirikan sebuah Unit Kegiatan Peserta yang dinamakan AgriSultan.Ialah Agus Susanto sebagai direktur, ditemani Indra Elnizar dan Irwansyah Putra sebagai manajer. Mereka dibantu oleh teman-temannya yaitu Jabbar Ali Pangabean, Muhammad Taufik, Rahmat Rahandi dan Pikri Hadin sebagai tim. AgriSultan memfokuskan diri pada model kegiatan sociopreneur yang memberdayakan masyarakat target untuk menghasilkan produk bernilai jual. Pemilihan bahan baku produk yang akah diolah dititikberatkan pada aspek kelestarian lingkungan. Dalam usahanya tersebut, AgriSultan membentuk sebuah leadership project sociopreneur pertamanya yang bernama Smart Bottle dan Lek Lumut. Smart Bottle dan Lek Lumut merupakan produk recycling kolaborasi sampah botol bekas dan tanaman bermanfaat. Dengan slogannya “Berani Hijaukan Indonesia�, Smart Bottle hadir sebagai bentuk kegelisahan akan maraknya sampah botol plastik di kota Medan serta upaya perbaikan finansial masyarakat sekitar. Pada bulan ini, Agrisultan memenuhi undangan peliputan untuk acara Bingkai Sumatera yang nantinya akan tayang di DAAI TV. Dalam liputan kali ini agrisultan memperkenalkan produk barunya yakni New Smartbottle dan Lek Lumut yang telah banyak memenangkan lebih dari 5 ajang kompetisi lokal maupun nasional dan berhasil menjadi perwakilan Leadership Project skala internasional pada ajang YSEALI, Amerika Serikat. Kompetisi terbaru yang dimenangkan adalah juara 1 Karya tulis ilmiah Kota Medan yang dilaksanakan 28 Agustus lalu sekaligus menambah deret capain AgriSultan.


LAPORAN KEUANGAN BULAN SEPTEMBER 2017

NO A B

C

D E F

URAIAN SALDO AWAL BULAN PENERIMAAN DONASI INSTITUSI DONASI INDIVIDU PENDAPATAN LAINNYA JUMLAH PENERIMAAN JUMLAH SUMBER DANA (A + B) PENDAYAGUNAAN INDIRECT COST BIAYA PERSONALIA BIAYA OPERASIONAL BIAYA KEMITRAAN BIAYA SDM DIRECT COST BIAYA UANG SAKU BIAYA PROGRAM BIAYA OPERASIONAL ASRAMA BIAYA ASRAMA (SEWA dan RENOVASI) JUMLAH PENDAYAGUNAAN PENAMBAHAN HUTANG PEMBAYARAN HUTANG SALDO AKHIR (A+B-C+D-E)

Rp

SEPTEMBER 925.148.297

Rp Rp Rp Rp Rp

72.000.000 180.881.417 16.219.050 269.100.467 1.194.248.764

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

185.290.983 4.254.000 9.335.724 5.610.800 166.090.459 354.723.120 126.500.000 146.331.600 31.891.520 50.000.000 540.014.103 22.827.977 631.406.684

Rp Rp Rp Rp

SISA HUTANG 1.106.521.348 441.889.958 25.000.000 1.573.411.306

CATATAN SALDO HUTANG SEPTEMBER 2017 PERUNTUKAN Pembelian Asrama Regional 4 Surabaya (depan) Pembelian Asrama Regional 4 Surabaya (belakang) Operasional RK TOTAL

27%

6%

67%

Pendapatan lainnya Donasi Institusi Donasi Individu

4%

71% 90%

INDIRECT COST

66%

Indirect Cost Direct Cost

PENDAYAGUNAAN

PENERIMAAN

2% 3% 5%

34%

Biaya Personalia Biaya Kemitraan Biaya Operasional Biaya Sdm

14%

36%

9%

41%

DIRECT COST

*Keterangan info lebih lanjut di Web & Call Center RK http://rumahkepemimpinan.org/ | 021 7888 3828

Biaya Program Biaya Uang Saku Biaya Asrama (Sewa dan Renovasi) Biaya Operasional Asrama


Gedung Rumah Kepemimpinan Jalan Lenteng Agung Raya No.20 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan 12640 Telp : 021 7888 3828 | 021 7888 3829 info @rumahkepemimpinan.org | rumahkepemimpinan.org

Newsletter Rumah Kepemimpinan Edisi 103  
Newsletter Rumah Kepemimpinan Edisi 103  
Advertisement