Page 1

LENTERA MAJALAH ALUMNI RUMAH KEPEMIMPINAN

EDISI 01/ TAHUN I / JANUARI 2018

KEISLAMAN, KEINDONESIAAN DAN KEPEMIMPINAN

topik utama MEMBANGUN OPTIMISME MENYIAPKAN MASA DEPAN

PESAN GURU

54

BERKARYA DENGAN SISTEM

1


SAMBUTAN KETUA IKATAN ALUMNI RUMAH KEPEMIMPINAN Adlil Umarat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Tahun 2018 dan 2019 adalah tahun politik, dimana Pilkada dan Pilpres akan dilaksanakan di negara kita. Maka, konsekuensi logisnya, akan banyak gaduh di negeri ini. Ada banyak drama dengan bermacam gimmick politik yang akan terjadi. Pertanyaannya, di tengah hiruk-pikuk itu, apakah Alumni Rumah Kepemimpinan tetap bisa FOKUS berkarya yang terbaik di bidangnya sesuai kompetensi yang dimiliki, atau malah terseret dalam kubangan perdebatan-perdebatan non-konstruktif yang menguras energi. Pilihannya ada di tangan para Alumni RK. Terbitnya majalah digital Ikatan Alumni Rumah Kepemimpinan ini adalah salah satu wadah untuk menyatukan pemikiran-pemikiran konstruktif, solutif, dan bermanfaat terhadap permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita. Alumni RK dari berbagai bidang, dengan berbagai sudut pandang, kita minta untuk berani memberikan pendapatnya, menjelaskan perjuangan yang ia sedang bangun di bidang-bidang yang ia dalami saat ini. Saya berharap, Alumni RK mampu melakukan berbagai #Collabor(ACT)ion. #Collabor(ACT)ion dengan berbagai level, #ApiMerah (bertukar pikiran, bertemu silaturrahim baik online maupun offline), #ApiBiru (menindaklanjuti ide yang sama, dieksekusi jadi sebuah proyek antarindividu Alumni RK), dan level #ApiKebakaran (mewujudkan ide brilian dengan level yang lebih tinggi, yaitu antarinstitusi dimana Alumni RK itu bernaung). Melihat jumlah Alumni RK yang sudah lebih dari 1.000 orang dan akan bertambah lagi di pertengahan tahun 2018 ini, saya yakin kita mampu berkontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa. Mari kita ikat makna atas karya-karya yang jadi concern kita. Mudah-mudahan, dengan adanya tukar pikiran ide dan gagasan di majalah digital ini, kita mampu memberikan sebuah harapan positif bagi banyak pihak. Tidak hanya dampak positif bagi para stakeholder Rumah Kepemimpinan yang sudah turut berjuang bersama dari awal, tapi juga bagi pemerintah, dan masyarakat luas. Mari bergerak bersama, saling bertautan dalam kerjasama ide, proyek kebaikan, dan kerja-kerja yang memberikan DAMPAK nyata! Salam #Collabor(ACT)ion, Adlil Umarat Ketua Ikatan Alumni Rumah Kepemimpinan

2


SAMBUTAN REDAKSI Oleh Dewan Redaksi

P

dapat menawarkan konten yang cukup mendalam, tetapi tetap dengan format yang lugas, populer, dan kreatif. Sedangkan nama “Lentera” diambil dari kekhasan Rumah Kepemimpinan terhadap nama ini sejak awalnya. Secara sederhana, dia adalah kependekan dari “Lenteng Agung Raya”, nama jalan di seberang Kampus UI Depok, di mana Kantor Pusat dan Asrama Rumah Kepemimpinan berlokasi. Tetapi seperti diungkap Pendiri Rumah Kepemimpinan, dalam diskusi-diskusi kecil dulu, Lentera dalam arti barang adalah suatu tempat bagi lampu atau api sebagai penyinar dalam kegelapan, yang sifat Pikiran dan perasaan adalah energi uniknya adalah dia tidak menyilaukan terbesar bagi anak manusia dalam dan dapat dibawa kemana-mana. berkiprah dan berkontribusi dalam kehidupan. Majalah ini menjadi media Demikianlah insan-insan Rumah Kepemimpinan diharapkan pembangunan pikiran dan perasaan keberadaannya. Mereka adalah itu, dengan 2 (dua) pendekatan. “penyinar” bagi sekitarnya, “penyinar” Pertama, Majalah ini menjadi yang secara konsisten memberikan media bagi para penulisnya untuk cahayanya bagi lingkungan dan dapat olah intelektual dan kontemplasi terhadap berbagai isu yang ada dalam diterima dalam kegelapan apapun. pengamatannya. Kedua. Majalah Kami optimis Majalah Lentera ini akan ini menawarkan kepada pembaca menjadi kebanggaan kita semua, berupa pengetahuan, analisis, dan gagasan dalam berbagai isu dan sudut seluruh insan Rumah Kepemimpinan. Majalah ini mengumpulkan gagasan, pandang yang disusun oleh penuliside, dan pemikiran dari para Insan penulisnya itu. Rumah Kepemimpinan, yang latar belakang pendidikan, kompetensi, Format majalah dipilih di antara dan bidang pengabdiannya berbedaberbagai kemungkinan format media yang ada karena format majalah dinilai beda, tetapi terhimpun dalam suatu ada intinya dan mulanya, Majalah Lentera ini digagas sebagai ikhtiar untuk terus merawat kebersamaan, persaudaraan, idealisme, dan semangat sinergi di antara alumni Rumah Kepemimpinan (RK), sehingga menjadi nyatalah citacita besar itu bagi Bangsa dan Agama. Majalah ini mengambil ikhtiar itu dalam bentuk pembangunan manusia, yaitu Alumni RK pada cakupan intinya dan pembaca umum pada cakupan luasnya , utamanya adalah pembangunan manusia dalam pikiran dan perasaan.

idealisme yang sama, yaitu kemajuan dan kesejahteraan bagi ummat dan Bangsa Indonesia. Latar belakang yang berbeda-beda itulah yang akan membuat Majalah ini memiliki kekayaan dalam isi dan sudut pandang, sekaligus akan semakin menyadarkan kita bahwa Rumah Kepemimpinan adalah himpunan potensi dan/atau kekuatan yang besar. Majalah ini juga menjadi referensi yang kuat dan obyektif, sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan di Rumah Kepemimpinan. Referensi yang kuat dan obyektif menjadi prasyarat penting bagi pribadi-pribadi yang ingin bergerak ke depan, menata dan menggapai kebaikan diri dan masyarakatnya. Maka kami mengundang kepada para Alumni Rumah Kepemimpinan untuk menghidup-hidupkan Majalah ini, menjadikannya sebagai media yang mencerdaskan bagi internal Rumah Kepemimpinan maupun khalayak pembaca secara umum. Selamat kepada kita semua!

3


LENTERA MAJALAH ALUMNI RUMAH KEPEMIMPINAN

EDISI 01/ TAHUN I / JANUARI 2018

KEISLAMAN, KEINDONESIAAN DAN KEPEMIMPINAN

topik utama MEMBANGUN OPTIMISME MENYIAPKAN MASA DEPAN

PESAN GURU

54

BERKARYA DENGAN SISTEM

Edisi Perdana Majalah Lentera ini mengambil topik utama “Membangun Optimisme, Menyiapkan Masa Depan”. Untuk topik utama tersebut, kami menampilkan beberapa artikel utama, yang menawarkan analisis sekaligus keyakinan bahwa bangsa Indonesia memiliki modal untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik lagi. Optimisme adalah suatu hal yang mesti kita rawat, kita pupuk, dan kita hidupkan. Adanya kekurangan bukanlah menjadi akhir kebaikan, tetapi dia muncul untuk mendorong diri dan bangsa ini untuk berkarya lebih baik lagi. Demikianlah semangat Majalah Lentera dalam mengawali edisi Perdana ini sekaligus mengawali tahun 2018. Artikel-artikel lain kami hadirkan dengan berbagai analisis dan sudut pandang yang menarik dari para penulisnya. Semuanya Insya Allah akan menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca. Terakhir kami sampaikan terima kasih sedalamnya kepada para penulis, yang telah sudi untuk berbagi ilmu melalui majalah ini. Semoga tulisan-tulisan yang baik ini menjadi amal jariyah bagi para penulis. Wassalam

MAJALAH INI DITERBITKAN OLEH “IKATAN ALUMNI RUMAH KEPEMIMPINAN” Dengan Misi sebagai “Media Aktualisasi Pikiran Alumni RK dalam Islam, Indonesia, dan Kepemimpinan” Terbit Sebulan Sekali, Setiap Hari Jum’at Pekan Terakhir PENGARAH: Bahtiar Firdaus, MPP Sapto Waluyo, MSc Adlil Umarat (Ketua IA RK)

DEWAN REDAKSI: M. Iffan Fanani, MSM, CIA, CA Alief Aulia Rezza, PhD Aresto Yudho, MSc, CISA Adi Wahyu Adji, MSM

KONTAK REDAKSI: Email : lenterark@gmail.com No HP : 08115300909

Redaksi menerima tulisan dari para Alumni RK dalam berbagai topik Untuk donasi dana bagi peningkatan Majalah ini, anda dapat menghubungi kontak di atas

4


DAFTAR ISI

TOPIK UTAMA 06 Menatap Perekonomian Indonesia

Oleh Alief Aulia Rezza, PhD Ekonom; Alumni RK (Angkatan 1, Regional 1 Jakarta)

22

TRAVEL

10 Merancang Optimisme Perjuangan Anti Korupsi

Sehari di Islamabad

Oleh: Muh. Ihsan Harahap, S.S. Alumni RK (Angkatan VII Regional VII Makassar)

Oleh Bachtiar Firdaus, MPP Direktur Rumah Kepemimpinan

14 (Kembali) Membangun Indonesia dengan Modal Sosial

Oleh Goris Mustaqim Aktivis Social Entrepreneurship dan Konsultan Pemberdayaan Masyarakat - Alumni RK (Angkatan 2 Regional 2 Bandung)

16 Dari Bung Tjipto hingga Bung Karno

HUKUM Jejak Islam dalam Konstitusi Kita Oleh : Himas el Hakim Sarjana Hukum, Alumni RK (Angkatan VI Regional 4 Surabaya)

buku Resensi-Putih, Lebih Putih, Paling Putih Oleh Teguh Afandi Penggiat @klubbaca, Alumni RK (Angkatan 4, Regional 3 Yogyakarta)

Oleh Dea Tantyo Iskandar Penulis Buku “Leiden!�, Alumni RK (Angkatan 4 Regional 2 Bandung)

PESAN GURU

54

18 Menata Optimisme Membangun

Berkarya Dengan Sistem

Aksi

Drs. Musoli

Oleh Nur Ihsan Robbiyanto Certified Professional Coach, Alumni RK (Angkatan 5 Regional 4 Surabaya)

KELUARGA

Menyiapkan Pernikahan Membangun Keluarga Scientia Afifah Taibah Ibu, Alumni RK (Angkatan 5, Regional 1 Jakarta)

5


TOPIK UTAMA

MENATAP PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh Alief Aulia Rezza, PhD Ekonom; Alumni RK (Angkatan 1, Regional 1 Jakarta)

6


warisan orang tua yang semakin menipis, dan iii) memastikan anak – anak mereka untuk tumbuh sehat dan mempunyai keahlian yang membuat mereka mampu bersaing di dunia kerja di masa depan. Secara sederhana, gambaran keluarga di paragraf sebelumnya adalah ilustrasi tentang perekonomian Indonesia saat ini. Piramida penduduk Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas penduduk negara kita berusia muda dan dalam rentang usia yang produktif (keluarga muda). Indonesia adalah negara berpendapatan menengah (relatif berkecukupan) dengan jumlah penduduk yang besar (banyak anak). Pendapatan dan produk domestik bruto (PDB) negara kita banyak bersumber dari pajak dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam (penjualan warisan orang tua). SEJAHTERA SEBELUM TUA Salah satu isu yang kerap menjadi perhatian ekonom pembangunan akhir – akhir ini adalah semakin cepatnya pertumbuhan penduduk usia tua di dunia. Di tahun 2000, sekitar 6,8% penduduk dunia tercatat berusia di atas 65 tahun. Angka ini naik menjadi 8.3% di tahun 2015 dan diprediksi naik lebih jauh ke 11.7% di tahun 2030. Dampak langsung dari fenomena menuanya penduduk dunia adalah berkurangnya tenaga kerja di perekonomian global. Tanpa tenaga kerja, mustahil perekonomian bertumbuh. Di sisi lain, semakin majunya fasilitas kesehatan berdampak positif terhadap meningginya angka harapan hidup. Berkurangnya tenaga kerja produktif yang diiringi dengan bertambahnya angka penduduk non-produktif pada akhirnya memunculkan tantangan tersendiri. China telah mengalami hal ini. Formasi 4-2-1 kerap kali dibincangkan di sana untuk menunjukkan bagaimana satu orang anak usia produktif harus menanggung 2 orang tua dan 4 kakek nenek. Untungnya untuk Indonesia, penduduk usia produktif diramalkan akan terus tumbuh, meskipun melambat, setidaknya sampai tahun 2030. Diperkirakan di pertengahan tahun 2020-an, Indonesia akan menikmati bonus demografi, yaitu situasi dimana penduduk usia produktif jumlahnya melebihi jumlah penduduk non produktif (usia pensiun dan anak – anak).

B

ayangkan sebuah keluarga muda dengan banyak anak. Keluarga ini hidup relatif berkecukupan dibandingkan dengan banyak keluarga lainnya, dikarenakan, antara lain, pemasukan dari penjualan warisan orang tua. Secara ekonomi, tantangan keluarga ini paling tidak adalah i) mengusahakan agar mereka bisa mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi sebelum kepala keluarga dan pasangannya memasuki usia tua atau pensiun; ii) mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari penjualan harta

Meski demikian, tantangan ke depan tetap tidak mudah. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa perjalanan waktu tidak selalu dibarengi dengan bertumbuhcepatnya ekonomi suatu negara. Brazil, misalnya, tumbuh cepat antara tahun 1960an sampai dengan tahun 1970an. Namun mulai tahun 1981, pertumbuhan ekonomi melambat sampai tahun 2004. Pengalaman kurang lebih sama terjadi di Meksiko dimana PDB bertumbuh semenjana selama 20 tahun. Afrika Selatan adalah contoh lainnya. Rendahnya pertumbuhan ekonomi akan menjadi masalah dikarenakan angkatan kerja baru kemungkinan tidak akan mendapatkan pekerjaan dan akhirnya jumlah penduduk usia produktif yang bekerja harus menanggung beban penduduk nonproduktif dengan jumlah yang lebih banyak. LANJUT HAL BERIKUTNYA

7


Berpacu dengan waktu, meningkatkan kesejahteraan Indonesia bisa dilakukan dengan meningkatkan produktifitas tenaga kerja: secara sederhana, hal ini berarti memastikan bahwa tiap tenaga kerja bisa menghasilkan lebih banyak output dan atau nilai tambah dalam rentang waktu yang sama. Semisal dalam waktu satu hari, seorang petani bisa menghasilkan 2 kg beras dengan harga Rp. 15 000. Dia dan negara secara keseluruhan, akan lebih sejahtera jika dalam waktu yang sama beras yang dihasilkan adalah 4 kg. Ada banyak cara agar lompatan produktifitas ini tercapai: kita bisa membekali petani tersebut dengan input yang baik (bibit yang lebih bagus, pupuk yang lebih menyuburkan, dll), alat yang lebih canggih (mesin yang bisa menghemat waktu sang petani, sehingga kelebihan waktunya dapat dipergunakan untuk hasil produktif lainnya), atau memberikan pengetahuan terkait pengelolaan ladangnya (pengairan yang baik, pecegahan terhadap hama, misalnya). Mempermudah terjadinya lompatan produktifitas ini adalah tugas pemerintah. Bagaimana petani bisa mendapatkan pupuk yang lebih baik, akses terhadap kredit yang kompetitif, biaya berusaha yang lebih murah (misalnya lewat penyediaan jalan umum yang baik, saluran irigasi yang lancar), bagaimana tekhnologi baru bisa bertemu dengan mereka yang membutuhkan (semisal lewat investasi baik dari dalam dan luar negeri), adalah beberapa contoh hal – hal yang mudah dan seharusnya relatif cepat untuk dilakukan, tapi memberikan manfaat yang besar untuk para petani. Hal lainnya yang masih sangat mungkin dilakukan di Indonesia adalah mendorong terjadinya perpindahan tenaga kerja dari sektor dengan produktifitas yang relatif rendah ke sektor lain dengan produktifitas relatif lebih tinggi. Mempergunakan contoh sebelumnya, semisal pemerintah bisa memfasilitasi perpindahan petani (yang menghasilkan 4 kg beras seharga Rp. 15 000 per kg setiap harinya) ke sektor konstruksi yang memberikan upah rata – rata di atas Rp. 100 000 per hari, produktifitas petani, yang diukur lewat seberapa jauh ia bisa menghasilkan nilai tambah, meningkat hampir dua kali lipat hanya karena faktor perpindahan tenaga kerja. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata memfasilitasi. Seringnya, seperti yang dialami penulis sendiri, perpindahan dari satu sektor ke sektor yang lain tidaklah tanpa penyesuaian. Banyak perusahaan memfasilitasi perpindahan ini dengan memberikan pelatihan atau tunjangan (jika perpindahan terjadi bukan hanya antar sektor melainkan juga antar kota atau bahkan provinsi). Namun di lebih banyak

8

contoh, perusahaan tidak mempunyai sumber daya cukup untuk memfasilitasi perpindahan ini. Di titik ini peran pemerintah menjadi penting, meski tidak memberikan kemudahan secara langsung kepada pekerja yang berpindah sektor, memberikan insentif kepada perusahaan untuk mendorong mereka semakin aktif dalam perekrutan tenaga kerja antar sektor adalah sama pentingnya. Catatan Bank Dunia dalam laporannya tahun 2014 menunjukkan bahwa potensi perpindahan pekerja antar sektor di Indonesia yang memberikan dampak berlipat pada produktifitas, dan selanjutnya pertumbuhan ekonomi, masih sangat besar. MENGURANGI KETERGANTUNGAN KEPADA SEKTOR SDA Meski tidak separah beberapa negara timur tengah dengan ketergantungan terhadap minyak bumi atau negara seperti Mongolia, misalnya, yang sangat tergantung dari ekspor mineral, sektor SDA di Indonesia berperan penting dalam kontribusi terhadap PDB, penerimaan negara, dan penciptaan lapangan kerja. Enam produk utama penyumbang pundi pendapatan negara adalah batu bara, minyak bumi, gas alam, karet, kelapa sawit, dan mineral (termasuk di dalamnya tembaga, bauksit dan logam non-mulia lainnya). Setidaknya ada 3 hal yang mendasari mengapa ketergantungan terhadap sektor SDA harus perlahan dikurangi: i) ketidakstabilan harga; ii) keberlanjutan pasokan; dan iii) kebutuhan dalam negeri. Terkait hal pertama, harga yang berubah ubah dalam rentang yang lebar jamak terjadi di perdagangan komoditas. Harga yang tinggi, meski bagus untuk negara penghasil komoditas seperti di Indonesia, harus disikapi dengan hati – hati. Negara konsumen komoditas selalu berusaha untuk meminimalkan konsumsinya, menemukan barang penggantinya, atau mendapatkan komoditas yang sama dengan harga yang lebih murah. Amerika Serikat, mengonsumsi seperlima dari total konsumsi minyak dunia, adalah negara dimana shale revolution terjadi. Ditemukannya tekhnologi yang mampu mengambil minyak yang terperangkap di sela – sela shale (batuan sedimen klastik berbutir halus yang terdiri dari lumpur yang merupakan campuran dari serpihan mineral - mineral lempung dan fragmen fragmen kecil dari mineral lainnya, terutama kuarsa dan kalsit) dengan harga yang relatif lebih murah, berperan besar meningkatkan jumlah pasokan minyak bumi dan gas alam dunia. Salah satunya disebabkan oleh inovasi ini, harga minyak turun drastis dari titik tertinggi $115 per barel pada pertengahan 2014 ke titik terendah di $32 per barel pada akhir 2015. Jika kita mempergunakan rumah tangga sebagai contohnya, fenomena jatuhnya harga minyak ini seperti rumah tangga dengan pendapatan bulan Rp. 10 juta tiap bulan yang tiba-tiba harus menyesuaikan dengan pendapatan baru sebesar


Rp. 2 juta per bulan! Jatuhnya harga minyak berakibat hilangnya ratusan ribu pekerjaan di sektor migas serta lebih banyak lagi pekerjaan turunan pendukung sektor tersebut. Secara sosial, negara yang kerap memanjakan rakyatnya dengan banyak subdisi dipaksa menyesuaikan lagi anggaran tahunannya, mengurangi jaminan sosial bagi penduduknya, atau terpaksa harus mengenakan pungutan baru. Indonesia harus mampu mengantisipasi fenomena ini dengan melakukan kebijakan anggaran yang disiplin: menabung di saat harga komoditas sedang tinggi serta berhemat di harga komoditas yang rendah. Norwegia adalah contoh negara dengan kedisiplinan yang tinggi. Mereka sadar bahwa minyak yang mereka produksi lambat laun akan habis. Mereka juga ingin memastikan bahwa anak cucu mereka di masa mendatang bisa mendapatkan manfaat dari minyak bumi tersebut seperti hal nya generasi sebelumnya. Hasilnya adalah jumlah uang tabungan (sovereign wealth fund) terbesar di dunia dengan nilai kurang lebih $ 1 triliun per akhir Desember 2017. Dana pensiun Norwegian, begitu tabungan ini kerap disebut, memiliki kepemilikan di sekitar 9.000 perusahaan di dunia dan termasuk pemegang saham di perusahaan terkenal seperti Apple, Microsoft, Nestle, dan properti di tempat tempat penting dunia seperti Times Square di New York, Regent Street di London atau Champs Elysees di Paris. Tantangan kedua bagi negara dengan ketergantungan tinggi terhadap SDA adalah pasokannya yang kian menipis. Indonesia,misalnya, pernah memproduksi minyak lebih dari 1.5 juta barel per hari, jumlah ini terus menurun ke angka sekarang sebesar kurang dari 900 ribu barel per hari. Masalah lain yang kerap kurang diperhatikan adalah keadaan lingkungan setelah proses produksi selesai. Di banyak tempat, proses eksploitasi mineral dilakukan tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan sekitar. Kekeringan, tanah yang ambles, atau vegetasi yang tercemar kerap ditemukan di daerah bekas pertambangan. Kerusakan lingkungan, yang sering tidak tercatat di dalam hitungan – hitungan ekonomi seperti PDB, pertumbuhan ekonomi atau pendapatan per kapita, adalah bom waktu yang akan menurunkan potensi perekonomian dan kesejahteraan suatu negara di masa depan. Isu terakhir terkait SDA adalah kebutuhan dalam negeri yang semakin lama semakin besar. Indonesia awalnya adalah negara pengekspor minyak bersih, tergabung dalam organisasi kartel pengekspor minyak OPEC sejak 1962, yang kemudian berganti menjadi negara pengimpor minyak bersih, dan akhirnya keluar dari keanggotaan OPEC sejak tahun 2009. Menurunnya produksi dalam negeri serta semakin besarnya

kebutuhan minyak dalam negeri, mengakibatkan jumlah impor minyak setiap tahunnya semakin besar. Sektor yang sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja dan kontributor penerimaan negara, secara perlahan perannya makin mengecil. Tanpa strategi diversifikasi yang solid, Indonesia bisa menjadi negara berpendapatan semenjana selamanya ketika SDA tidak mampu lagi menopang aktivitas perekonomian kita. BERINVESTASI UNTUK GENERASI DEPAN YANG LEBIH BAIK Menurut survei kesehatan nasional terbaru, sekitar sepertiga anak Indonesia berusia di bawah 5 tahun, atau sekitar 9 juta anak, mengalami kekerdilan (stunting). Stunting memiliki dampak jangka panjang: anak-anak yang kerdil lebih rentan terhadap penyakit, cenderung lebih banyak masalah di sekolah, dan saat dewasa, mereka memiliki prospek pekerjaan yang jauh lebih buruk. Penelitian terbaru yang mengolah data survei nasional dari tahun 2007 dan 2013 menemukan bahwa anakanak dengan gizi yang baik, lingkungan yang aman dan bersih, layanan kesehatan, dan perawatan yang memadai, akan mempunyai resiko kekerdilan yang lebih rendah. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah harus berfokus kepada penyediaan nutrisi dan meperhatikan pendidikan anak di usia dini. Dua hal ini adalah investasi paling efektif-biaya (cost-effective) yang dapat dilakukan oleh Indonesia. Secara global, setiap dolar yang diinvestasikan untuk mengurangi stunting memiliki tingkat pengembalian rata-rata sebesar $16. Bank Dunia memperkirakan bahwa jika pencegahan malnutrisi sudah dilakukan ketika pekerja sekarang sedang berada pada usia kanak – kanak, diperkirakan pendapatan per kapita dunia (dan tentunya kesejahteraan dunia) dunia saat ini akan menjadi 7 persen lebih tinggi. Angka ini menunjuk kepada satu kesimpulan: sejahtera atau tidaknya bangsa ini di masa depan, akan sangat ditentukan bagaimana generasi sekarang mendidik dan menjaga generasi penerus bangsa. TIDAK MUDAH Menjalankan kebijakan – kebijakan di atas tentu tidaklah mudah. Pemerintah juga dihadapkan pada banyak masalah jangka pendek dan juga masalah jangka panjang lain yang menuntut perhatian dan prioritas. Komitmen pemerintah dan keikutsertaan kita dalam mengawal kebijakan terkait hal ini akan menjadi kunci keberhasilannya.

9


TOPIK UTAMA

10


MERANCANG OPTIMISME PERJUANGAN ANTI KORUPSI Oleh Bachtiar Firdaus, MPP - Direktur Rumah Kepemimpinan

Sepanjang tahun 2017 ini, kita disuguhkan drama gerakan “pendukung koruptor” melawan gerakan “anti koruptor” dalam kasus Mega Korupsi e-KTP. Setelah sebelumnya DPR berencana akan merevisi UU nomer 30 tahun 2002 tentang KPK yang isinya ditengarai akan memperlemah KPK (adanya Dewan Pengawas KPK, dihapusnya kewenangan penyadapan dan penuntutan, dll), DPR tiba-tiba membentuk Pansus Hak Angket KPK yang kontroversial untuk “menjatuhkan” peran dan kredibilitas KPK di mata masyarakat serta menghalangi penyelidikan kasus e-KTP. Selanjutnya, DPR dan POLRI juga mengajukan rencana pembentukan Detasemen Khusus Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor) yang akhirnya dihentikan prosesnya oleh Presiden Jokowi. Pada saat yang bersamaan, tersangka kasus Mega Korupsi e-KTP, SN yang juga Ketua DPR RI, mengajukan Pra Peradilan dan “drama” sakit

sambil berusaha menunda pemeriksaan KPK terhadap dirinya. Belum lagi pembelaan dari berbagai kalangan terutama sebagian anggota DPR terhadap SN. Sementara itu, di sisi lain, gerakan “anti korupsi” yang terdiri dari berbagai elemen, mulai dari mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Gerakan Anti Korupsi Lintas Perguruan Tinggi (GAK), Indonesian Corruption Watch (ICW), Perempuan Anti Korupsi, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, Pemuda Muhammdiyah, dll terus mendesak KPK untuk menuntaskan penyelidikan Mega Korupsi e-KTP dan membawanya ke pengadilan Tipikor. Mereka mengadakan serangkaian aksi dan demonstrasi yang tak kunjung putus di depan gedung KPK, di gedung DPR / MPR, di Car Free Day, di kampus-kampus, dan di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Karyawan KPK pun mengajukan gugatan uji materi (judicial review) keabsahan panitia khusus (Pansus) Hak Angket KPK ke Mahkamah Konstitusi. Setelah SN ditahan dan berkas perkaranya diserahkan ke pengadilan, ternyata para pembelanya seperti hilang tak berbekas walaupun sempat mengajukan sidang Pra Peradilan kedua. Begitupun hasil dari Pansus Hak Angket KPK juga seperti “main-main” yang tidak ada langkah kongkritnya. LANJUT HAL BERIKUTNYA

11


Kasus Mega Korupsi e-KTP di atas adalah salah satu contoh korupsi sistemik dan persisten yang menjadi realitas jamak dalam dinamika kelembagaan (publik maupun swasta) di negara berkembang dan maju. Untuk mengetahui masalah dan solusi korupsi di Indonesia, kita perlu memeriksa dan membandingkan perspektif ekonomik dan perilaku organisasional tentang tindak korupsi sebagai pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Selanjutnya, kita perlu mengembangkan model perubahan kelembagaan yang dicitakan di Indonesia (island of integrity atau zona bebas korupsi) dan menggunakan model itu untuk melihat apakah lembaga koruptif dapat diubah oleh aktivis anti korupsi, sebagaimana pembela status quo atau antek koruptor mencoba mempertahankan aksi korupsi nya. Dari perspektif ekonomi tentang korupsi, korupsi terjadi karena penyalahgunaan otoritas atau fasilitas publik untuk keuntungan personal, dimana penyimpangan itu mencakup pelanggaran norma legal. Biasanya ada kontrol terhadap perizinan dan biaya ekonomi, sehingga berpotensi menimbulkan rent seeking. Pejabat yang memegang otoritas memiliki diskresi atas alokasi keuntungan dan menentukan pembagian biaya tersebut diberikan kepada siapa dan untuk keperluan apa. Pada kasus Mega Korupsi e-KTP di atas, para pelakunya terdiri dari para Anggota DPR, Pejabat Kementrian Dalam Negeri, Konsorsium Perusahaan, dll yang saling bekerjasama “mengatur” peserta dan pemenang tender dan “me-mark up” biayanya sehingga merugikan negara sebesar 2.3 Trilyun. Maka, salah satu solusi dari masalah korupsi adalah membangun masyarakat sipil yang kuat yang dapat “mengimbangi” pemerintah, mengadvokasi struktur regulasi pemerintah yang mengedepankan akuntabilitas dan transparansi, serta penegakan hukum yang tegas dan adil terhadap semua jenis korupsi. Dari perspektif perilaku organisasi tentang korupsi, ada keterkaitan antara korupsi sebagai tindakan rasional dari antek koruptor yang mementingkan diri sendiri dengan kesempatan mengeksploitasi diskresi untuk meraih keuntungan, dan belum baiknya struktur regulasi kelembagaan ekonomi atau masyarakat (good governance). Kita perlu memperhatikan pentingnya cara bertindak para antek koruptor, dimana setting organisasi kerap kali melahirkan logika dan perilaku amoral. Korupsi dipahami sebagai cermin jalinan faktor individual dan situasional yang berinteraksi dalam organisasi,

12

dan mencakup pelanggaran prinsip moral atau norma sosial untuk kepentingan pribadi dan atau kepentingan kelompok di atas kepentingan umum. Akhirnya, praktek korupsi menjadi rutinitas dan kelaziman (habitual), sehingga terlembaga (institutionalized) dalam organisasi. Lebih jauh lagi, tindakan korupsi kemudian tidak dipandang “korup” seperti banyaknya pihak yang terlibat dalam kasus Mega Korupsi e-KTP di atas: mulai dari perwakilan semua partai di DPR, wakil pemerintah di Kementerian Dalam Negeri, dan berbagai perusahaan yang tergabung dalam konsorsium pemenang tender. Korupsi atau perilaku tak etis dalam organisasi dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dikurangi atau dihilangkan melalui perubahan kultural dalam organisasi dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku Budaya SDM sebuah organisasi menunjukkan bahwa perilaku korupsi dapat melekat (embedded) dalam organisasi dalam kerangka normatif serta kognitif, yang kemudian mengarahkan cara berpikir dan bertindak anggota organisasi tersebut. Roles dan identity adalah faktor penting dalam memicu atau mencegah korupsi. Jika tidak ada upaya atau lemahnya gerakan anti korupsi mengubah sekaligus membongkar identitas korup yang melekat (embedded identities), maka tindakan korupsi akan terus berlangsung. Perspektif perilaku organisasi tentang korupsi menawarkan potret yang kaya tentang sumber korupsi dan cara mengobatinya dibandingkan dengan pendekatan ekonomik murni yang berpusat pada pemberian insentif, pemantauan/ supervisi, dan penegakan disiplin. Di sinilah pentingnya kita mengorganisir diri menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil yang selalu melakukan “check and balance” terhadap Lembaga Legislatif Eksekutif, maupun Yudikatif. Tindakan sosial dalam tatanan kelembagaan diarahkan oleh Nalar Kelembagaan (institutional logic) yakni “pola historik dari praktek material, asumsi, nilai, kepercayaan, dan aturan yang terkonstruksi secara sosial, dimana seseorang memproduksi dan mereproduksi substansi material, mengorganisasi waktu dan ruang, serta menyediakan makna atas realitas sosial yang mereka hadapi”. Sumber daya (resources) memberikan batas daya tahan dan kelenturan


dari nalar kelembagaan. Nalar anti korupsi (keadilan) yang tidak difasilitasi sumberdaya akan dikalahkan oleh nalar korupsi (kezaliman) yang memiliki sumberdaya besar. Alangkah ironisnya, Gerakan Antek Koruptor sering berhasil karena mereka lebih bisa mengorganisir gerakannya daripada Gerakan Aktivis Anti Korupsi yang tidak terorganisir dan berserakan tanpa persatuan. Atau karena masih banyaknya orang baik yang diam, pasif, hanya “ribut� di sosial media tanpa gerakan kongkrit dan nyata ketika para koruptor melakukan aksi korupsi nya. Elemen terakhir yang bersifat sentral bagi tatanan kelembagaan dan proses transformasi adalah Aktor Sosial (social actors), yang menafsirkan, menyebarkan, dan menerapkan identitas anti korupsi dan makna reformasi. Peran Aktor Sosial Anti Korupsi mencakup segala daya upaya para Pembaharu Kelembagaan (institutional entrepreneurs) untuk menggunakan sumberdaya ekonomi, kultural, sosial, dan simbolik yang tersedia sebagai modal propaganda Nalar Kelembagaan Baru (new institutional logic) melawan logika status quo yang koruptif. Maka Rumah Kepemimpinan, secara sadar dan by design, ingin melahirkan pemimpin-pemimpin Indonesia yang berkarakter, berintegritas, prestatif kontributif untuk agama, bangsa dan negaranya. Karena itu, Rumah Kepemimpinan terlibat dalam melahirkan varian baru gerakan anti korupsi di kalangan muda Indonesia melalui Future Leaders Anti Corruption (FLAC) dan Generasi Anti Korupsi (GERAK). Pembaharu Kelembagaan (kaum reformis) mengartikulasi dan melekatkan Nalar Kelembagaan Baru (new anti corrupt institutional logic). Dimana kita menyadari bahwa para Pembaharu Kelembagaan Gerakan Anti korupsi akan dilawan oleh pembela struktur lama (kaum status quo/Antek Koruptor). Pembaharu kelembagaan Gerakan Anti Korupsi harus memiliki pemahaman kritis (critical understanding) atas logika status dan sumberdaya yang mendukungnya. Kaum Reformis/Aktor Gerakan Anti Korupsi harus memiliki Keterampilan Sosial, yakni kemampuan untuk menggalang kerjasama di antara aktor dengan cara memberikan pemahaman dan identitas bersama sehingga tindakan kolektif dapat dijalankan dan dibenarkan. Aksi Gerakan Anti Korupsi yang terlatih muncul

setelah penemuan dan penguatan identitas kolektif dari sejumlah kelompok, serta upaya membentuk dan mempertemukan kepentingan dari beragam kelompok tersebut. Secara pribadi, saya mengajak teman-teman semua untuk turut serta menjadi lokomotif maupun gerbong gerakan anti korupsi di Indonesia, baik melalui organisasi alumni perguruan tinggi masingmasing (ikatan alumni/keluarga alumni/himpunan alumni), organisasi profesi sesuai dengan bidang kerjanya, ataupun melalui Gerakan Anti Korupsi Lintas Perguruan Tinggi (GAK). Kita harus ingat bahwa tidak akan datang perubahan jika kita sendiri tidak memperjuangkannya. Indonesia bebas korupsi bukan hadiah yang turun dari langit semata, tapi hasil dari perjuangan dan pengorbanan kita semua. Jangan sampai hanya para koruptor yang mengkader generasi koruptor penerus korupsi mereka, kita pun harus lebih serius mengkader dan menggerakkan generasi anti korupsi, generasi pembaharu Indonesia. Tanpa kenal lelah, di tengah berbagai amanah dan aktifitas kita, dengan keringat, darah, dan air mata, kita harus terus bersuara menyadarkan sesama anak bangsa dan bergerak bersama mencegah dan memberantas korupsi di Indonesia. Ketika kita sudah mengorganisir diri dalam sebuah barisan perjuangan anti korupsi yang rapih, maka gerakan dan aksi kongkrit untuk mencegah dan memberantas korupsi akan bisa kita lakukan. Mulai dari melatih dan mengkader para generasi muda anti korupsi, melakukan kampanye bahaya korupsi yang memiskinkan dan menimbulkan ketidakadilan, mengadvokasi kebijakan publik yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas, melakukan aksi dan demonstrasi mengawal kasus korupsi besar baik di pusat maupun di daerah, dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk memastikan berjalannya Good Governance dalam tiga sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini tidaklah mudah kita lakukan, tapi dengan niat yang suci dan tekad yang kuat serta dilakukan bersama dengan berbagai elemen bangsa, Insya Allah kita akan mewujudkan Indonesia Bebas dari Korupsi, Indonesia yang lebih Baik dan Bermartabat. Katakan Hitam adalah Hitam.. Putih adalah Putih.. Tiada Kata Jera dalam Perjuangan, Keep on Fighting.! Jangan Diam.. Ayoo Lawaan Koruptor, Bakaaar.!

13


TOPIK UTAMA kemandirian atau menolong diri sendiri (self help), serta kerja sama dari warga desa di Korea Selatan yang dirumuskan ketika pendiri Negara, Presiden Park Cung Hee, memerintah dan sedang memformulasikan strategi pembangunan Korea Selatan. Keyakinannya waktu itu apapun strategi dan barangnya, semua bisa dilakukan asal mentalitas dan etos kerjanya telah terbangun. Maka bergulirlah seperti kita tahu sekarang, dari gerakan desa membangun kolaborasi masyarakat, pemerintah, mahasiswa, intelektual di sana bertransformasi menjadi pembangunan berbasis nilai tambah teknologi dan kebudayaan. Oleh karena itu, sebagaimana diakui pemerintah Oleh Goris Mustaqim - Aktivis Social Entrepreneurship dan Konsultan Pemberdayaan Masyarakat Korea Selatan, Saemaul Undong adalah Alumni RK (Angkatan 2 Regional 2 Bandung) Gerakan Revolusi Mental. Lalu apa kabar enjelang setahun masa manusia, pembangunan kebudayaan, Revolusi Mental Indonesia sekarang? pemerintahannya berakhir, serta semangat sebagai sebuah hal yang sementara bangsa adalah titik tolak dari Jika boleh sedikit mengkritik, penulis ini orang-orang paling transformasinya dalam waktu yang merasa bahwa Gerakan Revolusi Mental ingat dari Jokowi mungkin adalah tergolong singkat. kita terlalu dogmatis, jargon, minim pembangunan masif infrastruktur di kajian dan pemaknaan. Hal ini berbeda berbagai pelosok negeri. Indonesia Cina dengan beragam kontroversi dengan Korea Selatan karena mereka memang sangat membutuhkannya, masa lalunya menggarisbawahi tidak pernah membuat jargon dulu lalu malah cenderung telat, untuk peran Revolusi Kebudayaan Mao, melaksanakan gerakan membangun, meningkatkan konektivitas, lalu dinormalisasi oleh strategi tetapi terlebih dulu melaksanakannya menurunkan biaya logistik agar lebih modernisasi Komunis-Liberalisme selama bertahun-tahun lalu mengamati kompetitif, dan untuk mengurangi Bapak Pembangunan Deng Xiapoing. keberhasilan pembangunan tersebut ketimpangan yang menganga Begitu juga Korea Selatan yang sebelum diekstraksi dan dirumuskan antara pusat dan daerah. Lalu sangat bangga menyebarkan menjadi prinsip Saemaul Undong. Di sini apakah ini bisa membawa Indonesia saemaul undong yang legendaris mungkin saja saya salah karena belum menjadi Negara maju sebagaimana ke beragam Negara berkembang membaca turunan atau hubungan berbagai prediksi baru-baru ini yang ingin mengikuti jejak lompatan dari Revolusi Mental ke pendidikan, (seperti prediksi McKinsey dan pembangunannya. Korea Selatan tidak ke program pemerintah, atau lebih PricewaterhouseCoopers)? memasukan industrialisasi dengan dahsyatnya ke gerakan masyarakat nilai tambah tinggi sebagai resep membangun. Semuanya tampak Jika kita telisik sejarah berbagai untuk mencapai kemajuan karena berjalan sendiri-sendiri, seolah-olah Negara yang berhasil menapakkan tentunya masing-masing kondisi aktor pembangunan adalah Pemerintah posisinya di kategori negara maju berbeda. Jauh sebelum Samsung, LG, seorang. yang berangkat dari garis start yang Hyundai, dan brand global lainnya, kurang lebih sama dengan Indonesia, belum terhitung demam K-Pop, yang Hal positif yang tentunya tidak mengenal tidak ada satupun yang menjadikan menjajah dunia Korea menemukan istilah terlambat adalah Pemerintah pembangunan fisik negaranya sebagai bahwa semangat sosial dari rakyatnya mulai belajar dari kekurangan “tipping point� dari keberhasilan sendiri adalah sumber inspirasi Pemerintahan sebelumnya dan pembangunannya, setidaknya begitu pembangunan. juga mendengar kritik dari berbagai yang kita baca dari luar. Sebut saja kalangan. Baru-baru ini Presiden Jokowi Korea Selatan dan Cina. Mereka selalu Saemaul Undong kurang lebih menyatakan Anggaran 2019 mulai akan menanamkan bahwa pembangunan adalah ketelatenan, semangat difokuskan ke SDM, dan mengakui

(KEMBALI) MEMBANGUN INDONESIA DENGAN MODAL SOSIAL

M

14


bahwa sampai 2018 Anggaran akan habis untuk infrastruktur beserta hutang-hutangnya. Dalam konteks pembangunan desa juga, Pemerintah telah melangkah cukup baik dengan UU Desa dan Dana Desa, walau sampai sekarang masih banyak kekurangan dalam praktik maupun kampanyenya, untuk menjadi sebuah gerakan bersama, tidak hanya program Pemerintah Desa dan warganya. Tapi dalam konteks membangkitkan marwah desa dalam otonomi merumuskan pembangunan yang benar-benar dibutuhkan masyarakatnya, suasana demokrasi dan gengsi ber-desa, kebijakan tersebut patut diapresiasi. Membangun manusia Indonesia sesungguhnya adalah juga amanat dari Nawa Cita. Interpretasi penulis setidaknya 3 sampai 4 dari 9 poin Nawa Cita mengandung frasa, kata, dan kalimat yang jelas-jelas menyebut Pembangunan SDM. Berbicara mengenai pembangunan SDM maka tidak akan dapat lepas dari pembangunan berbasis budaya. Mustahil membangun manusia Indonesia tanpa memasukkan atau menjadikan budaya sebagai referensi. Lebih jauh pembangunan manusia Indonesia bukanlah pekerjaan yang tersektoralisasi, tersekat hanya di berbagai program atau departemen semata. Kekurangfahaman atau ketidakkonsistenan dalam hal ini menyebabkan akan banyak terjadi kesenjangan dalam grand design dan program, antara mimpi dan realisasi. Pembangunan Manusia berarti pula mempersiapkan SDM Indonesia agar mampu semaksimal mungkin menerima manfaat dari Pembangunan, di segala lapisan dan sektor. Kepentingan nasional berarti sedapat mungkin sebanyak-banyaknya manusia Indonesia yang menjadi tuan rumah bukan segelintir saja. Tidak boleh lagi ada kesenjangan dalam mengatasi ketimpangan. Sebagai contoh baru-baru ini Pemerintah mencanangkan untuk

meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara menjadi 20 juta orang ke Indonesia. Hal ini berkelindan dengan berbagai program seperti 10 KEK (Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata) serta percepatan homestay di berbagai destinasi wisata. Pembangunan berbasis manusia Indonesia tidak akan hanya memprioritaskan pembangunan resort atau hotel bintang 5 beserta segala infrastruktur pendukung seperti jalan raya, bandara, dan sebagainya yang mempermudah investor masuk. Pembangunan berbasis manusia Indonesia akan fokus juga untuk meningkatkan kapasitas penduduk lokal untuk mampu mengelola potensi wisata di sekitarnya menjadi usaha berbasis masyarakat, sehingga tidak terjadi tragedi seperti terjadi di beberapa destinasi wisata mainstream dimana penduduk lokal hanya menjadi tenaga keamanan, atau resepsionis. Pembangunan berbasis budaya Indonesia juga tidak akan membiarkan homestay begitu saja dibangun dengan taste kota, tercerabut dari budaya serta dimiliki oleh orang luar. Bukankah definisi homestay adalah tinggal di rumah warga lokal dan turut mengalami kehidupan lokal. Tidak ada istilah karena mengejar angka target lalu skema dipermudah dengan memungkinkan kepemilikan orang luar bekerjasama dengan desa. Itulah ilustrasi dari bahwa maksud baik saja tidak cukup. Perlu keberanian dan keberpihakan. Begitu pula tekad untuk membela kelompok masyarakat agar dapat memiliki akses konsesi lahan, tidak hanya korporasi besar. Pembangunan berbasis budaya Indonesia harus mampu membangkitkan inspirasi, menjadikan modal sosial bangsa ini sebagai bahan bakar. Selama ini tidak bisa dipungkiri dari pengalaman penulis ketika berkeliling, belajar, serta mendampingi berbagai pemberdayaan masyarakat, bahwa banyak sekali program pemerintah yang pada prakteknya malah menumpulkan bahkan merusak modal sosial tadi. Sebutlah

contohnya bantuan yang tidak tepat sasaran dan tepat jumlah, syarat pembentukan lembaga sebagai formalitas dengan didukung proposal dan KTP, bantuan sosial (bansos) yang malah menjadikan organisasi masyarakat meminta-minta. Hal ini menjadi kotraproduktif dan dalam jangka panjang menghapus modal sosial yang dulu ada menjadi kultur ketergantungan. Oleh karena itu, mutlak dalam pembangunan madzhab ini, kepercayaan (trust) adalah syaratnya, baik kepercayaan kepada pemimpin yang memberikan teladan dan orisinal, juga kepercayaan kepada masyarakat bahwa mereka mampu. Lalu jika Korea Selatan tadi telah menyadari dan mempraktekan pembangunan berbasis budaya setengah abad lalu apakah berarti pula Indonesia tertinggal setengah abad dari mereka. Jawabannya tidak begitu. Saat pembangunan kita jatuh bangun, mencari-cari model yang tepat, sebagai eufimisme dari tersesat, ada berbagai manusia Indonesia, kelompok masyarakat, organisasi di seantero Nusantara yang tetap bekerja dalam senyap membangun bangsa dengan skala kecil atau malah mikro dengan tetap berpegang teguh pada modal sosial tersebut. Itulah kelebihan kita di sisi lain dari negara lain. Semangat bertahan hidup, kreativitas masyarakat yang tetap menyala dan tumbuh secara organik. Pada poin inilah harusnya Pemerintah menyadari bahwa perannya dalam pembangunan hendaknya bukan hanya sebagai aktor, tapi paling penting adalah menjadi pemimpin pembangunan. Di sini Peran pemerinttah adalah menciptakan ekosistem agar aktor-aktor pembangunan lain memiliki arah yang sinergis, saling mendukung, dan saling mengamplifikasi dampaknya.

15


TOPIK UTAMA

DARI BUNG TJIPTO HINGGA BUNG KARNO Oleh Dea Tantyo Iskandar Penulis Buku “Leiden!”, Alumni RK (Angkatan 4 Regional 2 Bandung)

yang merekam kepemimpinan itu selepas usia dan jabatan, itulah yang menjadi pertanyaan besar. Kita mengenal Syaikh Ahmad Yasin di Palestina misalnya. Orang tua yang lumpuh dan beraktivitas dengan kursi roda, namun dihormati jutaan orang. Kata-katanya diikuti. Orasinya menjadi bahan bakar jundi-jundi Palestina. Sosok jernih dan pemberani yang paling ditakuti tentara zionis.

K

etika Obama, 47 tahun, seorang berkulit hitam, ber-ayah Kenya, yang memulai masa kecilnya di Menteng Jakarta, lalu percaya diri meneriakan jargon powerfull “Change” pada Amerika, dan memenangkan pemilu atas McCain dengan 52% popular vote & 338 electoral votes. Terpilih sebagai presiden yang mencetak sejarah baru AS. Kita menyebut hal tersebut sebagai episode awal sebuah “kepemimpinan”. Ketika Vladimir Putin dinobatkan oleh Time sebagai Person of The Year 2007 karena dipandang sebagai sosok pemimpin berkarakter. Digadang sebagai Tsar baru Rusia. Sosok yang kembali membawa negeri “beruang merah” menjadi pusat perhatian. Kita menyebut Putin adalah representasi “kepemimpinan”. Ketika Bung Karno. Presiden yang dicintai dan dielu-elukan rakyat. Sosok berkarisma dan berwibawa. Putra Republik yang konon bercitacita untuk dimakamkan dibawah batu besar dan pohon rindang, agar dapat menemani istirahat rakyatnya yang lelah membajak sawah. Pemimpin yang diam-diam sering keluar malam menjenguk kondisi rakyatnya di pasar. Kita menyadari itu sebagai kisah “kepemimpinan”. Ketika Pak Harto yang kontroversial, pendiam, namun dijuluki "The Strong Man" & "The Smiling General", tokoh yang pernah membawa Indonesia menjadi negara swasembada pangan, sekaligus membawa Indonesia ke jurang terdalam krisis. But however, he has patriotism. Kita memahami ini sebagai imaji “kepemimpinan”. Ada berbagai gambaran kepemimpinan. Tapi makna kepemimpinan tidak berhenti sampai disini. Lebih jauh lagi, kepemimpinan sejati menghayati semacam nilai yang menembus jauh melampaui dimensi dunia. IN THE MEMORY OF THE LIVING Siapapun bisa dikenang sebagai pemimpin, tapi apa yang bisa dititipkan pada hati orang-orang

16

Kematiannya ditangisi ratusan ribu umat. Di jalan Allah ia membela bumi para Nabi. Dimensi perjuangannya menembus akhirat. Di Indonesia kita mengenal Mohammad Natsir dan Buya Hamka. Ulama pejuang yang hampir tak pernah merasakan gemerlap materi, namun sukacita dalam berkorban untuk Islam dan Indonesia. Sosok yang hidup bersahaja di alam maddah (materi), namun kaya di alam ruhani. Dua pemimpin yang tegak membela Islam dan Indonesia. Sehingga wajar jika kematian Buya di 24 Juli 1981 dan Pak Natsir di 6 Februari 1993, diguyur hujan serta disolati ribuan orang. Maka seorang pemimpin yang benar adalah mereka yang menyadari perannya sebagai arsitek kenangan. Ia akan mulai memikirkan amanahnya bukan di hari inagurasi, melainkan sedari akhir masa usia atau jabatan. Ia akan menyiapkan pesan yang memberikan teladan sejak awal. “The life of the dead is placed in the memory of the living,” ujar Marcus Cicero, senator legendaris Romawi itu. Dengan asas ini, amanah kepemimpinan akan menjadi panggung tempat dimana sang pemimpin mengambil peran dengan jernih, memutuskan beramal, dan memilih hidup dengan nilai-nilai. BERPERAN; EVERYONE’S A LEADER NOW Di bukunya yang terkenal, Purple Cow (2003), Seth Godin pernah berkata, “Everyone’s a marketer now.” Dua tahun sesudahnya, di buku selanjutnya, All Marketers Are Liars (2005) pesan utama Seth Godin berkembang, “Everyone’s a storyteller now.” Dan di Tribes (2008), Seth Godin menjangkarkan pesan besar, “Everyone’s a leader now!” Menjalani hidup berarti memasuki sebuah ruang dengan pilihan-pilihan. Seseorang bisa hidup sebagai rakyat atau presiden. Dapat menerima atau menolak amanah untuk menggenggam jabatan. Tapi untuk dirinya sendiri, suka tak suka, seseorang adalah pemimpin yang akan dan terus berhadapan

dengan resiko-resiko hidup. Lalu ia dapat memilih: untuk hanya menyelesaikan misi pribadi hidupnya, atau turut menyelesaikan masalah sosial masyarakatnya. Dahulu, Soekarno dan Hatta bisa memilih untuk sekolah dengan tenang, lulus, lalu hidup mapan. Adapun nyatanya mereka lebih memilih jalan sukar dan mendaki. Berpindah penjara. Berkali-kali ditangkap. Berkali-kali dibuang dan diasingkan. Setelah 4 tahun di Ende, Soekarno dibuang ke Bengkulu. Sedangkan Hatta, 1 tahun di Digul, lalu diasingkan ke Banda Neira. Mereka menghentikan perjuangan? Tidak. Bak genderang, semakin dipukul, semakin riuh tabuh berbunyi. Makin dihantam, makin tegak berdiri. Mereka merayakan sebuah episode untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Mereka manusia-manusia besar yang membenturkan diri dengan resiko. Selesai dengan diri sendiri, lalu berkontribusi pada sesuatu di luar dirinya. Meninggalkan kenyamanan demi mengabdi pada rakyat. Mewariskan pelajaran kepahlawanan sejati: bahwa kehidupan adalah terminal untuk mengambil peran, meski di penjara mereka di tempatkan. Kita kemudian juga mengingat satu masa ketika Michael Gorbachev ditanya mengenai gebrakan Glasnot & Perestroika yang membuat dirinya dinobatkan sebagai Man of Decade majalah Time. Gerakan keterbukaan dan kebebasan demi mendorong kedamaian bagi dunia. Sebuah gerakan kepemimpinan yang diapresiasi sejarah. Apa jawaban Gorbachev? Singkat dan bernas, “If not me, who? If not now, when?” (Depauw, 2005) Saya tak meminta Anda meneladani manhaj politik Gorbachev atau negerinya. Tapi hari itu kita tahu, bahwa Gorbachev telah membelokan sejarah. Di titik puncak Perang Dingin yang menegangkan, ia memilih untuk mengambil peran meski mengundang pro dan kontra. Ia dipuji di luar, namun dibenci di dalam. Maka kita tahu saat dunia menganugerahi nobel bagi Gorbachev di tahun 1990, sebaliknya justru ia hanya mendapatkan 1% suara di dalam negerinya saat mencalonkan diri kembali dalam pemilu 1996 (Colton, 2000). Tapi hidup adalah soal keputusan. “Kita membutuhkan bintang dalam perdamaian, bukan bintang dalam peperangan,” kata Gorbachev.


BERAMAL : MAN OF VALUE Tidak ada netralitas dalam sejarah. Seorang pemimpin harus memilih di titik mana ia berpihak. Titik itu kemudian yang menjadi timbangan nilai (value) yang akan diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Nilai yang akan mendorong sebuah perjuangan berusia panjang. Kita belajar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang diutus untuk sebuah nilai. Maka ujian demi ujian, timpukan thaif, tumpahan kotoran, cemooh & caci maki, tak lagi jadi beban. Kapanpun sesungguhnya Rasul bisa memilih untuk mundur. Anehnya saat banyak orang merintangi sang Nabi, nilai yang jadi bahan bakarnya malah melahirkan api yang kian besar. “Aku tak kuasa meninggalkan hal itu, meskipun karenanya kalian akan meletakkan matahari di atasku.” Dalam konteks negara, Islam mengajari kita bahwa tak ada dikotomi antara agama dengan pemerintahan. Dalam Islam kepedulian umat terhadap politik sudah muncul sedari awal lahirnya. Pertikaian kaum muslimin dengan kaum musyrikin mustahil mampu diatasi jika tidak menggunakan strategi (baca: politik). (Al Bana, 2007). Pemahaman itulah yang membuat founding fathers bangsa ini, bahu membahu berjuang demi agama dan negara. Dengan modal tauhid yang kuat, para pejuang berhasil merebut kemerdekaan. Dalami kisah Bung Tomo, da’i sekaligus pahlawan yang mengobarkan api di dada rakyat Surabaya 70 tahun silam. Prinsip Islam yang tertanam di dalam jiwanya itu yang kemudian melahirkan kisah Surabaya 10 November yang membuat cemburu kita yang belum bisa berbuat apapun. Kita tahu, hari itu, Inggris melakukan serangan besar-besaran di Surabaya, mengerahkan ribuan serdadu, puluhan pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Apakah Surabaya menang? Tidak. justru ribuan penduduk Indonesia menjadi korban, 6000-16.000 pejuang tewas, 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. (Ricklef, 2005) Surabaya mungkin kalah secara materi, tapi apa yang lebih indah dibanding berjuang sepenuh asa, mempertahankan value yang mengakar di dada dan mati secara terhormat. Dahsyatnya perjuangan para pahlawan “berani mati” melawan penjajah inilah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Bung Tomo, sang agitator jihad yang telah mengobar dan mengorbankan jiwa raga ini, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Pada lini masa yang lain, kita juga mengenang dalam sejarah bagaimana sekelompok kecil orang bergerilya turun ke desa masuk ke hutan. Menembus setiap jalur terjal dan mendaki. Dimana bersama rombongan itu satu laki-laki ringkih dengan kaki kurus ditopang tongkat. Kelompok yang secara logika amat mudah ditaklukan. Tapi takdir berkata lain, bahwa orang-orang ini yang justru dengan gagah menjaga Republik. Sampai puncaknya Belanda mengakui kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, dan benar-benar hengkang dari ibu pertiwi.

Tapi laki-laki itu, Pak Dirman namanya, sepertinya memang ditakdirkan hanya untuk berjuang, bukan untuk menikmati kemerdekaan yang telah beliau perjuangkan. Beliau wafat dalam sakit beliau pada tanggal 29 Januari 1950, hanya berselang 1 bulan setelah pengakuan kedaulatan RI. Beliau ulama sekaligus tentara yang mengorbankan diri untuk Indonesia. (Imran, 1980) BERKORBAN : LEIDEN IS LIJDEN Indonesia adalah negeri besar yang dibangun atas perjuangan demi perjuangan, pengorbanan demi pengorbanan. Di jalan ini kita bisa menelusuri berderet nama bapak bangsa yang mewakafkan diri untuk republik. Ada Haji Agus Salim, orang tua jenius itu mestinya bisa hidup mewah dan nyaman. Lulusan terbaik HBS se-Hindia Belanda. Memiliki potensi karir sebagai intel muda dan konsulat Belanda. Dan dikabarkan bergaji 750 gulden, saat keluarga lain hidup dengan 12 gulden. Namun sebaliknya Haji Agus Salim justru merasa "mewah" dengan hidup melarat, tinggal nomaden dengan rumah yang luasnya tak lebih dari sekamar kosan. (Roem, 1983) Ada pula Syafrudin Prawira Negara. Sang Penyelamat Republik yang mestinya bisa hidup mapan. Bertitel sebagai menteri keuangan. Bahkan Presiden Darurat Republik Indonesia. Harta-tahta di depan mata. Tapi nyatanya Syafrudin Prawiranegara justru merasa "mapan" dengan menjadi menteri keuangan yang tak punya uang, didampingi seorang istri yang tak malu berjualan sukun goreng demi menyambung hidup. Ada Dr. Tjipto Mangunkusumo, tokoh dengan episode hidup multifaset. Sosok yang mestinya bisa hidup bahagia. Lahir dari keluarga kaya berpendidikan. Lulus sebagai seorang dokter brilian dengan banyak peluang membuka rumah praktik. Namun yang terjadi justru berkebalikan, bahwa Dr. Tjipto, ternyata "bahagia" dengan hidup yang menjadi tahanan. Diserang asma. Dihempas hak hidupnya oleh Belanda. Bahkan wafat sebelum menikmati kemerdekaan. Hingga Bung Karno pernah memberi refleksi yang begitu dalam tentang Pak Tjipto saat sang pahlawan diasingkan; "Tiadalah setetes air mata kita yang jatuh saat kawan Tjipto minta diri..Tiada seteteslah air-mata yang mencuramkan penglihatan kita saat saudara ini berpisah. Dengan kepercayaan yang sepenuh-penuhnya akan jayanya hari kemudian..Dengan yakin, bahwa satu kali saatnya pasti datang, dimana matahari itu pasti akan terbit. Maka kita kawan-kawannya sepakat..Menyambut salamnya Tjipto Mangunkusumo itu dengan kata-kata: bukan ‘selamat berpisah’. Melainkan ‘sampai ketemu lagi’. (Soekarno, 1965) Perhitungan hidup memang tak harus sama. Mereka orang-orang yang seakan keliru dalam mengkalkulasi bagaimana hidup tenang, mapan, dan bahagia. Mereka jenis pemimpin yang memperlakukan hidup tak

hanya untuk materi, melainkan untuk melawan kesewenangan, untuk memilih hidup bersama rakyat, untuk memberi dan memberi. Een Leidersweg is een lijdensweg, Leiden is Lijden. UNTUK INDONESIA Bung Karno pernah berpesan, bahwa tiap-tiap manusia harus menjalankan kewajibannya dengan tidak menghitung-hitung apa yang nanti akan menjadi buahnya. Dalam menjalankan kewajibannya tiap orang harus mempersembahkan dengan iman yang kuat serta pengorbanan-pengorbanan. Walau bagaimana pahitnya. Walau bagaimana getirnya. Selama mereka belum memiliki kekuatan untuk tersenyum atas pengorbanan yang sepahit-pahitnya & segetir-getirnya, selama itu mereka belum cukup kuat memperoleh hadiah yang diinginkan. Selama mereka belum kuat memikul susah. Selama itu mereka belum kuat memikul senang. (Soekarno, 1965) Carlo Rosslli, martir antifasis Italia di PD II pernah berkata, bahwa menjalankan tugas patriotik tidak harus selalu bertindak heroik. Patriotisme hanya menuntut agar setiap kita menjadi warga negara yang aktif. Aktif berjuang, menyumbang, atau mendukung segala sesuatu tentang bangsa kita. (Tolleng, 2012). Indonesia sedang terluka? Benar. Para penjahat yang menyakiti hati rakyat selalu ada, namun para penyelamat bangsa juga tak pernah sirna. Bumi Indonesia tak pernah berhenti melahirkan pahlawan-pahlawan yang memilih untuk bermakna bagi sesama . Denys Lombart, sejarawan Perancis yang mendalami Indonesia itu pernah berkata, bahwa negeri kita yang berada di titik persilangan berbagai kebudayaan dan beragam dunia berpeluang menjadi peradaban agung. (Lombard, 2005) Syaikh Dr. Abu Bakr Al 'Awawidah, ulama asal Palestina yang matanya buta karena siksaan penjara Israel itu, juga begitu optimis tentang Indonesia. Kata beliau suatu ketika, bahwa bangsa Indonesia akan ditakdirkan memimpin peradaban dunia dan membebaskan bangsabangsa yang terjajah. Lombard dan syaikh Dr. Abu Bakr benar. Kita punya jutaan modal untuk menuju peradaban agung itu. Obor bernama Indonesia masih menyala dan akan terus terang berpijarnya. Kini, kita tinggal menanti negarawan itu hadir kembali: pemimpin teladan yang rela merancang peta negara di atas prahara sejarah manusianya. Bukan malaikat. Hanya manusia biasa yang rela menggantungkan cita-cita bangsa di langit pemikirannya. Pada Indonesia, kita tak pantas memintaminta lagi. Kini saatnya kita tunjukan diri untuk memberi. Negarawan dan para pejuang pernah hadir menyumbangkan masa-masa emas mereka untuk Indonesia, kini giliran kita, saya dan Anda. Our country needs us!

17


TOPIK UTAMA

MENATA OPTIMISME MEMBANGUN AKSI Oleh Nur Ihsan Robbiyanto - Certified Professional Coach Alumni RK (Angkatan 5 Regional 4 Surabaya)

“Selamat datang tahun 2018. Semoga tahun ini saya menjadi lebih baik�

K

urang lebih pesan seperti itu banyak saya jumpai baik di timeline media sosial maupun di group-group WhatsApp selama momen pergantian tahun ini. Senang membaca harapan dari teman sejawat untuk lebih baik di tahun 20018 ini. Artinya, banyak orang yang memiliki keinginan menjadi pribadi lebih baik di waktu yang akan datang. Bukankah ini menjadi satu langkah dalam mewujudkan hadits Nabi yang menyatakan bahwa barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin menjadi orang yang beruntung, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka menjadi orang yang merugi, dan bila hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka menjadi orang yang celaka? Mereka mengusahakan agar saat hari esok tiba, akan menjadi hari yang lebih baik dari hari sebelumnya. Resolusi yang dibuat sesungguhnya jadi bekal yang baik dalam pengembangan diri. Mengawali tahun yang baru dengan optimisme adalah langkah jitu dalam memanfaatkan momentum. Dan momentum selalu erat dalam perubahan kehidupan setiap manusia. Misalnya saja, seorang wanita yang memutuskan berhijab setelah melakukan ibadah umroh. Ibadah umroh sebagai momentumnya, sedangkan berhijab adalah aksi perubahan dirinya. Contoh lain, seorang siswa yang jadi jauh lebih rajin belajar ketika mendekati Ujian Nasional. Momentumnya adalah ujian nasional, dan semakin rajin belajar menjadi perubahan dirinya. Lalu, setiap perubahan diri harus menunggu momentumnya terlebih dahulu? Momentum tidak perlu ditunggu, setiap dari kita mampu menciptakan momentum untuk perubahan diri. Memang benar ada momentum untuk perubahan diri seperti saat Ramadhan, akhir tahun dan sebagainya. Bersyukurlah Allah SWT telah sediakan waktu khusus untuk melakukan perubahan diri. Diluar waktu-waktu tersebut, mari kita ciptakan sendiri momentum perubahannya. Sebelum jauh bicara tentang momentum perubahan, mari kita melihat ke dalam diri sendiri. Sejauh mana kamu mengenal diri kamu sendiri?

1

2

Sama sekali tidak kenal

3

4

Tidak banyak

5

6 Saya rasa saya tahu

7

8

Saya tahu apa yang saya inginkan

9

10

Saya mengenal diri saya dengan sangat baik

Jujur saja dalam menjawab pertanyaan diatas. Karena dengan kejujuran itu akan membuat kamu mudah menentukan langkah-langkah selanjutnya. Faktanya, tidak sedikit orang yang kaget dengan pilihan jawabannya sendiri atau mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan tersebut. Poin dari pertanyaan ini adalah sejauh mana kamu dalam melihat dan mengenal diri sendiri secara detail. Mari lihat dalam keseharian kita, berapa waktu yang telah kita alokasikan untuk lebih mengenal lagi tentang diri kita sendiri? Jangan-jangan aktivitas keseharian kita justru lebih banyak membicarakan atau kepoin orang lain. Dalam proses mengenal lebih jauh tentang diri sendiri, dapat dieksplorasi mulai dengan mengajukan pertanyaan untuk diri, seperti: 1. Untuk apa saya hidup? 2. Apa tujuan hidup saya? 3. Apa yang membuat saya bersemangat dalam hidup? 4. Apa yang membuat saya bahagia?

18


5. Apa yang membuat saya sedih? 6. Hal-hal apa saja yang mampu menghadirkan marah dalam diri? 7. Apa opsi yang nyaman saya lakukan untuk meredakan emosi ketika saya marah? 8. Apa yang perlu dilakukan untuk saya lebih produktif? 9. Apa pentingnya bagi saya untuk sehat sepanjang waktu? 10. Dan lain sebagainya. Mungkin jika dilihat sekilas, pertanyaan-pertanyaan diatas seperti pertanyaan normatif saja. Namun, cobalah untuk menjawabnya satu per satu. Tidak perlu terburu-buru, gunakan waktumu dengan optimal, dan hadirkan suasana yang nyaman dalam mengisi pertanyaan tersebut. Semoga hasil refleksi ini mampu menghadirkan insight dan pengalaman yang kuat untuk mengenal lebih dalam tentang diri sendiri.

AREA HIDUPMU Sudah coba menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas? Yuk, sempatkan menjawab terlebih dahulu sebelum melanjutkan bacanya. Okay, saya percaya kamu sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. So, mari kita lanjutkan ke fase yang jauh mengasyikkan ini. Coba kamu bayangkan, semua aktivitas yang telah kamu lakukan selama satu bulan terakhir ini? Pastikan cuplikan aktivitas-aktivitas tersebut hadir dalam benak pikiran mu. Coba hadirkan aktivitas-aktivitas tersebut secara berurut dari awal hingga akhir bulan, dari pagi hingga pagi kembali. Lalu, mulailah dengan mengklasifikasikan aktivitasaktivitas yang serupa atau setipe. Misal, aktivitas sholat, tilawah, puasa, infaq, umroh dikumpulkan sebagai aktivitas Spiritual. Berinteraksi dengan pasangan (istri/suami), bermain dengan anak, travelling dengan keluarga besar, membesuk saudara yang sakit hingga mungkin rapat kerja keluarga dikumpulkan sebagai aktivitas Keluarga. Begitu seterusnya hingga semua aktivitas kamu berkumpul dengan aktivitas sejenisnya. Jadi, terkumpul berapa kelompok besar aktivitas? Pada umumnya, setiap orang memiliki kelompok besar aktivitas sebagai berikut: 1. Spiritual 2. Keluarga 3. Pekerjaan & Karir 4. Keuangan 5. Pengembangan diri 6. Sosial 7. Kesehatan 8. Hiburan Delapan kelompok besar aktivitas inilah yang biasa saya sebut area hidup. Kamu boleh saja memiliki area hidup yang berbeda dengan orang lain. Selanjutnya, mari lihat lebih dalam tentang area hidup ini dengan menjawab secara jujur pertanyaan, sebagaimana berikut: Seberapa puas kamu terhadap masing-masing area hidupmu? 1

2

3

4

5

6

7

8

9

Sangat Tidak Puas

10 Sangat Puas

Berapa pun angka yang kamu pilih untuk setiap area hidup, sampaikan penjelasan yang membuat kamu yakin untuk memilih angkat tersebut. AREA HIDUP

LEVEL KEPUASAN (1-10)

PENJELASAN

Spiritual Keluarga Pekerjaan & Karir Keuangan Pengembangan Diri Sosial Kesehatan Hiburan LANJUT HAL BERIKUTNYA

19


Saya menganjurkan kamu untuk mencoba mengisi tabel diatas, semoga memudahkanmu dalam memetakan kondisi area hidupmu. Alhamdulillah, sampai dengan disini kamu sudah semakin mengenal diri dan mengetahui area hidupmu.

AKSI NYATA YANG OPTIMAL Masuk ke fase ketiga, setelah mengenal diri lebih dekat dan mengetahui area hidup, fase ini akan mengajak kamu untuk lebih merenung dan merefleksikan diri tentang aktivitas atau kebiasaan (habit) kamu sehari-hari. Dalam proses perenungannya, mari gunakan 8 area hidupmu beserta level kepuasannya serta berfokus pada aktivitas atau kebiasaaan apa saja yang akan kamu lanjutkan (continue) di 2018 ini dan kebiasaan apa saja yang akan kamu hentikan (stop) di 2018 ini. Berikut contoh hasil perenungannya:

Area Hidup: Spiritual | Level Kepuasan: 5 dari 10 Continue Your Habit

Stop Your Habit

1. Sholat wajib berjama’ah dan diawal waktu

1. Menunda-nunda pembayaran zakat profesi

2. Rutin puasa Senin dan Kamis

2. Tidak mengajak rekan kerja untuk sholat berjama’ah di awal waktu

Silahkan kamu dapat menggunakan contoh tabel diatas untuk melengkapi semua area hidupmu. Dalam proses ini, penting untuk kita menerima apa adanya diri kita. Tidak perlu kita melakukan pembelaan atas kebiasaan (habit) yang kurang baik. Lapangkan saja hati kita untuk menerima semuanya. Maknai aktivitas ini sebagai cara untuk menjadi makhluk Allah SWT yang lebih baik lagi. Semoga Allah SWT mudahkan kamu dalam menyelesaikan proses ini. Selanjutnya, setelah melakukan refleksi tentang aktivitas yang akan dilanjutkan (continue) dan yang akan dihentikan (stop) di tahun 2018, lengkapilah dengan kebiasaan yang akan kamu mulai (start) di tahun 2018 ini. Gunakan kreativitas dan imajinasimu dalam menyusun kebiasan baru ini, boleh saja jika kebiasaan baru yang kamu susun sebagai upaya perbaikan atau peningkatan kebiasaanmu selama ini. Sehingga, kamu dapat melengkapi tabel diatas sebagaimana berikut:

Area Hidup: Spiritual | Level Kepuasan: 5 dari 10 Continue Your Habit

Stop Your Habit

Start New Habit

1. Sholat wajib berjama’ah dan diawal waktu

1.Menunda-nunda pembayaran zakat profesi

1. Berinfaq setiap hari

2. Rutin puasa Senin dan Kamis

2. Tidak mengajak rekan kerja untuk sholat berjama’ah di awal waktu

2. Menunaikan zakat profesi sesaat setelah menerima gaji

Semoga kamu dapat menentukan kebiasaan baru untuk seluruh area hidupmu. Hal yang bijak jika kamu meminta bantuan teman, pasangan, dan/atau orang tua untuk memberikan saran sesuai sudut pandang mereka tentang kebiasaan-kebiasaanmu. Mungkin saja ada kebiasaan yang luput dari pandanganmu, namun begitu lekat dari pandangan orang-orang disekitarmu. Setelah kamu menyelesaikan proses ini untuk 8 area hidup mu, saya menyarankan untuk menceritakan hasil tersebut ke orang-orang terdekat. Semoga menjadi do’a dan sekaligus pengingat saat kamu terlupa akan target-target hidupmu. Alhamdulillah, sampai disini kamu sudah melakukan refleksi untuk mengenal dirimu lebih dalam lagi, menentukan area hidupmu, dilanjutkan memetakan kebiasaan yang akan lanjut (continue) dan yang akan diakhiri (stop), lalu diakhir dilengkapi dengan identifikasi kebiasaan yang akan kamu mulai (start) di 2018 ini. Bayangkan di akhir 2018 nanti kamu dapat melaksanakan semua aksi nyata yang kamu susun, termasuk didalamnya kebiasaan (habit) baru yang kamu rencanakan, bagaimana perasaan mu? Alih-alih sebatas mengatakan: “Selamat datang tahun 2018. Semoga tahun ini saya menjadi lebih baik” Kini kamu menatap 2018 dengan lebih optimis, dilengkapi dengan pemahaman diri dan perencanaan yang baik serta mengetahui aksi nyata apa yang perlu kamu lakukan.

20


POTENSI ZAKAT DI INDONESIA oleh Farid Septian Kord. Bagian Dakwah Advokasi BAZNAS RI - Alumni RK (Angkatan 4 Regional 1 Jakarta)

ZAKAT

merupakan salah satu sektor utama dalam philantropi Islam. Sebagai rukun Islam ketiga, zakat adalah sebuah kewajiban bagi muslim yang memenuhi syarat (muzakki) untuk menyucikan hartanya dengan cara menyalurkan sebagian hartanya tersebut kepada mereka yang membutuhkan (mustahik) melalui institusi Amil Zakat (baytul maal). Hal ini merupakan konsep genuine redistribusi ekonomi dalam Islam yang bertujuan untuk pemerataan kepemilikan aset, menstimulus kesejahteraan, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan keadilan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi, zakat merupakan salah satu instrumen ekonomi yang sangat potensial. Zakat diyakini memiliki peran strategis untuk mengurangi angka kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejumlah kajian dan penelitian telah berupaya untuk menghitung seberapa besar potensi zakat di Indonesia. Pertama, studi PIRAC menunjukkan bahwa potensi zakat di Indonesia memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan survey yang dilakukan di 10 kota besar di Indonesia, PIRAC menunjukkan bahwa potensi rata-rata zakat per muzakki mencapai Rp. 684.550,00 pada tahun 2007, meningkat dari sebelumnya yaitu Rp. 416.000,00 pada tahun 2004. Kedua, PEBS FEUI menggunakan pendekatan jumlah muzakki dari populasi Muslim Indonesia dengan asumsi 95 persen muzakki yang membayar zakat, maka dapat diproyeksikan potensi penghimpunan dana zakat pada tahun 2009 mencapai Rp. 12,7 triliun. Ketiga, penelitian

yang dilakukan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa potensi zakat nasional dapat mencapai Rp. 19,3 triliun (Outlook Zakat Indonesia 2018). Penelitian teranyar dilakukan oleh BAZNAS dan FEM IPB dalam firdaus et al (2012) menyebutkan bahwa potensi zakat nasional pada tahun 2011 mencapai angka 3,4 persen dari total PDB, atau dengan kata lain potensi zakat di Indonesia diperkirakan mencapai Rp. 217 triliun. Jumlah ini meliputi potensi penerimaan zakat dari berbagai area, seperti zakat di rumah tangga sebesar Rp. 82,7 triliun, perusahaan industri swasta sebesar Rp. 114,89 triliun, BUMN sebesar Rp. 2,4 triliun, serta deposito dan tabungan sebesar Rp. 17 triliun. Angka ini akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah PDB. Tingginya prosentase potensi zakat terhadap total PDB merupakan bukti bahwa zakat dapat dijadikan sebagai instrumen penting untuk menggerakkan perekonomian nasional, khususnya kelompok dhu’afa (Fiqh Zakat Indonesia, 2015). Sementara itu, realisasi penghimpunan dana ZIS di Indonesia memang masih jauh dari potensi. Berdasarkan dokumen statistik BAZNAS (2016) melaporkan bahwa penghimpunan ZIS nasional yang merupakan total dana yang dihimpun oleh berbagai organisasi pengelola zakat (OPZ) resmi se-Indonesia pada tahun 2016 mencapai Rp. 5.017 triliun atau sekitar 2,3% dari potensi yang ada. Namun demikian tren jumlah penghimpunan dana ZIS di Indonesia mengalami pertumbuhan positif dengan kenaikan rerata dari tahun 2002 hingga 2016 sebesar 35,84% yang jauh melampaui rerata pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,1 hingga 5,5%.

EKONOMI ISLAM Jenis dana yang dihimpun oleh para OPZ (2016) tersebut mencakup (1) Zakat, termasuk di dalamnya zakat fitrah dan zakat maal (74,51%), (2) Infak/ Sedekah, baik infak terikat (muqayyadah) maupun tidak terikat (ghair muqayyadah) (19,96%), (3) dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) yang meliputi harta nazar, harta amanah atau titipan, harta pusaka yang tidak memiliki ahli waris, kurban, kafarat, fidyah, hibah, dan harta sitaan serta biaya administrasi peradilan di pengadilan agama, serta (4) dana lainnya, yang dalam hal ini merupakan penerimaan bagi hasil bank yang menjadi saluran penghimpunan dana-dana yang dipaparkan sebelumnya. Secara umum terdapat beberapa faktor yang menyebabkan masih rendahnya total penghimpunan ZIS secara nasional jika dibandingkan dengan potensi, antara lain Pertama, kesadaran masyarakat untuk menyalurkan ZIS melalui lembaga resmi masih relatif rendah. Kedua, kewajiban membayar zakat dalam kerangka peraturan perundang-undangan di Indonesia masih bersifat sukarela (volunterism). Ketiga, masih rendahnya insentif khusus bagi wajib zakat (muzakki) untuk pengurang pajak. Keempat, jenis dana zakat yang dikumpulkan masih terbatas pada zakat fitrah dan zakat profesi yang belum menyentuh jenis zakat lain seperti perniagaan, pertanian, perkebunan, pertambangan, dsb. Kelima, menjadi fenomena umum di masyarakat Indonesia dimana muzakki menyalurkan dana zakat secara langsung kepada mustahik sehingga tidak tercatat dan terintegrasi dalam catatan laporan zakat nasional. Semua faktor ini memberikan pengaruh terhadap rendahnya angka pengelolaan zakat yang dilakukan oleh BAZNAS dan LAZNAS secara nasional. Pun demikian, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, peningkatan pengumpulan ZIS dari tahun 2002 hingga tahun 2016 menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif dengan rerata 35,84%. Terdapat beberapa hal strategis yang perlu dilakukan untuk memoderasi gap realisasi penghimpunan dengan potensi zakat yang ada. Pertama, memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk menyalurkan zakat sesuai dengan syariat yakni melalui Amil Zakat resmi. Kedua, mendorong pemerintah dan stakeholder terkait untuk memberikan insentif kepada wajib zakat dengan memberlakukan ketentuan zakat sebagai pengurang pajak. Ketiga, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas lembaga zakat resmi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat. Keempat, mendorong seluruh lembaga zakat resmi untuk menggunakan sistem informasi manajemen BAZNAS (SIMBA) dalam rangka membuat laporan yang terintegrasi. Kelima, memperkuat program pemberdayaan masyarakat berbasis dana zakat yang bersifat produktif dan memiliki dampak yang dapat dilihat secara nyata. Hal lain yang juga dilakukan oleh BAZNAS untuk menggenjot total penghimpunan dana ZIS di Indonesia adalah mendorong pemerintah untuk menaikkan level Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat di Kementerian/Lembaga, Sekretariat Jenderal Lembaga Negara, Sekretariat Jenderal Komisi Negara, BUMN, Pemerintah Daerah, dan BUMD melalui Badan Amil Zakat Nasional menjadi Peraturan Presiden (Perpres) yang mewajibkan Aparatur Sipil Negara untuk wajib membayarkan zakatnya melalui BAZNAS. Dengan langkah-langkah strategis di atas kita berharap potensi zakat yang sedemikian besar itu dapat tercapai dan pada akhirnya dapat disalurkan untuk meningkatkan manfaat zakat dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

21


TRAVEL

Mengunjungi Tempat Menarik Di Islamabad Dalam Sehari Oleh: Muh. Ihsan Harahap, S.S. Alumni RK (Angkatan VII Regional VII Makassar)

Faisal Mosque Setelah Magrib

Penulis di pintu salah satu kuil hindu di Saidpur

P

ada tanggal 2-7 Agustus 2017 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Islamabad, Pakistan. Perjalanan ini cukup menarik minat saya karena ia merupakan kali pertama saya berkunjung ke Asia Selatan. Tujuan saya di Islamabad adalah untuk menghadiri konferensi perdamaian yang diadakan oleh PUAN (PakistanUS Alumni Network) dan Kedutaan Amerika Serikat di Pakistan. Saya hadir bersama dua orang peserta lainnya yang diundang dari Indonesia: Badrus Sholeh dari UIN Jakarta, Alijah Diete dari Yayasan Prasasti Perdamaian. Setelah menempuh perjalanan tiga jam dari Jakarta ke Bangkok, kami melanjutkan penerbangan hampir enam jam menuju Islamabad. Kami sampai di Bandara Internasional Benazir Bhutto pada tengah malam. Bandara dengan fasilitas yang sangat terbatas dan menurut saya cenderung tidak dikelola dengan profesional, buktinya terjadi empat kali mati lampu di bandara ini ketika

22

Sebanyak empat orang aparat bersenjata memeriksa mobil yang kami tumpangi. Mereka membuka kap mesin depan, bagasi belakang dan bagian bawah mobil. Maklum saja, hotel yang akan kami tempati pernah diserang bom mobil pada 2008.

Penulis di Desa Bersejarah Saidpur

saya pulang kembali ke Bangkok. Kami pun dijemput oleh pihak Marriott Hotel, tempat konferensi akan dilaksanakan. Perkiraan saya tentang situasi keamanan di Islamabad terbukti: kami melewati jalan tol dengan tiga portal yang dijaga aparat membawa senjata laras panjang. Hal yang tak kalah menegangkan kami alami ketika tiba di depan pintu gerbang hotel.

Setelah konferensi yang berlangsung hingga tanggal 6, saya otomatis hanya memiliki satu hari yang lowong untuk mengunjungi berbagai tempat menarik di Islamabad. Atas bantuan seorang teman Indonesia yang pernah tinggal di Islamabad, saya dijemput oleh Abdullah, teman Indonesia lain yang sedang belajar di IIUI (International Islamic University of Islamabad). Saya berangkat bersama Abdullah dengan memakai motor dari hotel menuju kampus utama IIUI. Hal yang menarik di Islamabad adalah anda tidak diwajibkan untuk memakai helm jika anda hanya penumpang.

LANJUT HAL BERIKUTNYA


Penulis, Firos, Syuaib di Daman-e-koh dengan latar belakang Seventh Avenue

Penulis di Pakistan Monument Museum

Setelah kurang lebih 30 menit melalui jalan-jalan Islamabad yang lebar dan indah, akhirnya tibalah saya di kampus lama IIUI. Abdullah mengajak saya ke kantin asrama mahasiswa IIUI untuk bertemu dan berdiskusi singkat dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang lain. Dikarenakan cuaca yang panas, kami beristirahat sebentar di kamar milik Syuaib, mahasiswa asal Bulukumba yang telah 8 tahun di Islamabad. Saya berkenalan pula dengan Firos asal Jakarta yang baru saja menyelesaikan S1 bidang Islamic Studies. Setelah salat zuhur, saya bersama Syuaib dan Firos berangkat ke tujuan pertama kami yaitu Damane-Koh, sebuah puncak bukit yang terletak di Margalla Hills National Park di bagian utara kota Islamabad. Daman-e-koh adalah tempat paling tepat untuk melihat kota Islamabad dari titik ketinggian. Dari sana, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Pir Sohawa yang letaknya lebih tinggi. Di Daman-e-koh kita bisa melihat bentangan lurus jalan Seventh Avenue sepanjang 4 kilometer. Namun anda harus hati-hati, terutama jika anda membawa bekal: puluhan monyet berkeliaran siap mencoleng bekal anda. Bukan hanya Daman-e-koh

Matahari tenggelam di balik Pakistan Monument

yang menarik, tetapi juga perjalanan menuju ke sana yang berkelok, menanjak, dilengkapi pemandangan alam yang indah. Memang tidak bohong penulis Khaled Hosseini ketika menggambarkan tentang Damane-Koh dalam novelnya, The Kite Runner. Setelah menikmati pemandangan Daman-e-koh, kami berkendara kembali, menuruni bukit menuju lembah. Di sana ada sebuah desa tua nan bersejarah bernama Saidpur.

sang penguasa Dinasti Mughal memerintah dan mencoba upaya sinkretisasi ajaran Islam dan Hindu, dipadu dengan nilai-nilai agama Kristen, Jainisme, Sikh dan Zoroastrianism. Saya selalu tertarik melihat bagaimana rumitnya upaya sang raja untuk mewujudkan harmoni dan toleransi di antara rakyatnya. Akbar bukan hanya menciptakan harmoni (dan tentu saja kontroversi), namun juga mendorong debat-debat agama dan filsafat di dalam masyarakatnya.

Desa ini dinamakan Saidpur untuk mengenang Sultan Said Khan, putra dari Sultan Sarang Khan, seorang pemimpin region Pothohar di bawah kekuasaan Babur, raja dan pendiri Dinasti Mughal yang terkenal itu. Said Khan kemudian menghadiahkan desa ini untuk putrinya yang kemudian dinikahi oleh raja Dinasti Mughal, Jahangir, anak dari raja Akbar (Abul Fath Jalaluddin Muhammad Akbar atau Akbar The Great) yang di Indonesia kita kenal lewat serial televisi Jodha Akbar.

Dari Saidpur, kami bertiga berangkat ke Pakistan Monument yang terletak di puncak perbukitan Shakarparian. Setelah menempuh perjalanan 10 km yang menanjak dan membelah hutan, kami sampai di sana. Pakistan Monument adalah simbol persatuan rakyat Pakistan. Bentuknya seperti kelopak bunga yang siap mekar. Terdapat empat struktur melengkung setinggi 15 meter yang keempat ujungnya bertemu di tengah. Jika kita berdiri tepat di bawah struktur itu, kita bisa melihat sejarah perjalanan negara Pakistan. Di bagian dalam empat struktur melengkung yang terbuat dari granit itu kita juga bisa melihat mural dari tokoh-tokoh penting Pakistan seperti Muhammad Ali Jinnah,

Kunjungan saya ke Saidpur adalah yang paling berkesan. Suasana desa bersejarah dimana terdapat kuil Hindu dan gurdwara Sikh seolah melemparkan kita kepada lima abad yang lalu, ketika Akbar

LANJUT HAL BERIKUTNYA

23


Penulis di Saidpur

pendiri negara Pakistan, serta Muhammad Iqbal, sastrawan dan pemikir penting dunia Islam asal Pakistan. Di dalam komplek Pakistan Monument ini terdapat pula sebuah museum yang cukup besar. Sayangnya, ketika kami berkunjung ke sana museumnya sedang tutup. Seperti tempat publik lain di Islamabad, terdapat sebuah sumur untuk mengambil air wudhu bagi mereka yang ingin menunaikan salat. Di dalam kompleks ini terdapat pula sebuah toko souvenir. Saya membeli sebuah miniatur tembaga berbentuk Pakistan Monument seharga 300 rupee, setara dengan 30 ribu rupiah. Tepat di luar pintu gerbang Pakistan Monument, puluhan pedagang kaki lima menjajakan barang mereka. Seperti di negeri kita, pemerintah Pakistan mempunyai aturan tentang para pedagang ini. Ketika kami melangkah keluar gerbang untuk pulang, para pedagang yang menggunakan gerobak ini berhamburan lari ke dalam hutan ketika melihat aparat yang ingin melakukan razia datang. Mengingat matahari menjelang terbenam, kami memutuskan kembali ke kampus IIUI. Namun sebelum sampai di IIUI, kami singgah di Faisal Mosque. Kami memarkir motor di

24

pinggir jalan bersama kendaraan lain yang terparkir liar. Setelah puas mengambil gambar, kami mendapati motor milik Syuaib hilang. Kami segera melapor ke pos polisi terdekat. Ternyata motor tersebut diangkut petugas karena melakukan tindakan pelanggaran ringan: memarkir kendaraan di sembarang tempat. Awalnya ngeri juga melakukan negosiasi agar motor tersebut dikembalikan. Penyebabnya tentu saja karena polisi di Pakistan membawa senjata laras panjang hampir dimana saja, setidaknya seperti yang saya lihat. Namun akhirnya motor tersebut dikembalikan setelah saya menjelaskan bahwa saya membutuhkannya untuk pulang kembali ke hotel dan harus berada di bandara pada pukul 9 malam nanti. Mengetahui bahwa Syuaib adalah mahasiswa Indonesia, petugas tersebut akhirnya mengembalikan motor kami. Kami pun memarkir motor di parkiran resmi Faisal Mosque dan segera mengambil wudhu untuk bergabung dengan jamaah yang hendak menunaikan salat masjid. Faisal Mosque adalah masjid terbesar di Pakistan, sumbangan 120 juta dolar AS dari mendiang Raja Faisal dari Arab Saudi pada tahun 1976. Dirancang oleh arsitek Turki Vedat Dalokay, masjid ini berbentuk kubah raksasa seperti tenda orang-orang Badui, dilengkapi dengan menara setinggi 79 meter.

Seperti yang kami alami di Damane-koh, Saidpur dan Pakistan Monument, wajah kami menjadi perhatian bagi orang-orang Pakistan. Sekelompok pengunjung di Daman-e-koh bahkan meminta untuk berfoto bersama kami – mengira kami adalah sekelompok turis dari Cina. Setelah menunaikan salat dan berfoto di depan Faisal Mosque, kami segera mengambil langkah menuju asrama kampus IIUI. Faisal Mosque ini letaknya persis di depan gerbang kampus lama tersebut, sehingga kami hanya perlu tiga menit untuk sampai. Setelah tiba di asrama, saya segera bertemu Abdullah, berpamitan kepada sahabat baru, Firos dan Syuaib, dan segera meluncur ke hotel Marriott untuk mengambil koper. Setiba dari hotel, saya baru tahu bahwa saya adalah peserta terakhir yang ada di sana. Sekira 200 orang peserta konferensi telah berpulang ke tempat mereka masing-masing di seluruh Pakistan, termasuk peserta dari Afganishtan, Bangladesh, Turki dan Indonesia. Dari sana saya diantar pihak hotel untuk menuju Bandara Benazir Bhutto di Rawalpindi, take off pukul 23.20 menuju Bangkok, kemudian Jakarta. Pada 8 Agustus, pukul 20.00 WITA, saya telah tiba dengan aman di Makassar dengan membawa pengalaman mengunjungi tempat menarik di Islamabad dalam sehari.


TRAVEL

Menilik Arab Saudi Lebih Jauh: Ternyata tak Hanya Mekkah dan Madinah!

S

udah hampir 10 tahun berlalu semenjak saya pertama kali menjejakkan kaki di tanah dua kota Suci, tetapi rasanya masih jelas teringat kenangan saat mata ini memandang kota Mekkah-Madinah, dan tentu saja, Ka’bah sebagai pusat gravitasi ibadah kaum muslim sedunia. Berbekal kesempatan mengecap ilmu lebih tinggi di Arab Saudi selama empat setengah tahun, membuat

Oleh: Mohammad Kamiluddin S2 dari Arab Saudi, Alumni RK (Angakatan 3 Regional 1 Jakarta)

saya mengalami pengalamanpengalaman yang sulit untuk dilupakan di sana.

luas wilayah lebih dari dua juta km2, Arab Saudi secara geografis adalah Negara terbesar ke lima di Asia dan kedua terbesar di Dunia Arab setelah Aljazair. Sekilas tentang Arab Saudi Negara ini berbatasan langsung dengan Arab Saudi lebih dikenal Yordania dan Irak, Kuwait di Timur Laut, dengan Negara yang terdapat Qatar, Bahrain dan Uni Emirat Arab di Haramain, yang berarti Dua sebelah Timur, Oman di Tenggara dan Tanah Haram merujuk pada Yaman di Selatan. Sementara Teluk dua kota suci umat Islam yaitu Aqaba memisahkan Negara ini dengan Mekkah dan Madinah. Dengan Israel dan Mesir. Saat saya menjadi Ketua adanya Haramain, Arab Saudi PPMI Riyadh, salah satu aktifitasnya memiliki beberapa kelebihan adalah mengunjungi Bahrain bersama bila dibandingkan dengan Mahasiswa Indonesia di Arab Saudi, negara-negara lainnya. Dengan apalagi negara ini menjanjikan visa gratis LANJUT HAL BERIKUTNYA

25


King Saud University

bagi siapapun pengunjung Arab Saudi. Menuju Bahrain pun ditempuh dengan melewati Bahrain Causeway (atau disebut juga King Fahd Causeway), sebuah jembatan raksasa yang membelah Teluk Bahrain dan memiliki panjang lima kali lipat Jembatan Suramadu (Surabaya Madura Jawa timur). Sejak zaman dunia kuno, Semenanjung Arab, terlebih Arab Saudi, telah memegang peranan penting terutama dalam bidang perdagangan. Perdagangan memegang peranan penting dalam perkembangan perekonomian Arab Saudi mengingat datarannya yang cenderung kering dan didominasi oleh gurun pasir. Lebih-lebih, Negara ini juga terletak di antara dua pusat besar peradaban dunia saat itu yaitu Lembah Sungai Nil dan Mesopotamia. Orangorang di semenanjung Arab kemudian mengembangkan jaringan kompleks rute perdagangan untuk mengangkut barang-barang pertanian yang dibutuhkan di Mesopotamia, Lembah Nil dan daerah Mediterania. Barang-barang yang biasa dijual misalnya almond dari Taif, kurma, hingga kemenyan dan mur dari dataran Tihama. Sejak ditemukannya kilang

26

Burj Mamlaka Riyadh

kilang minyak pada tanggal 3 Maret 1938, secara otomatis perekonomian di Arab Saudi bertumpu pada sektor minyak bumi dan turunannya. Arab Saudi merupakan Negara pemroduksi dan pengekspor minyak terbesar di dunia dan memiliki cadangan minyak terbesar kedua di dunia. Cadangan gas alam pun tidak kalah besar menduduki yang keenam di dunia. Dengan adanya kekayaan alam ini, peran Arab Saudi semakin diperhitungkan di dunia. Perusahaan minyak Saudi yaitu Aramco menjadi perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia. Awalnya, perusahaan ini berdiri atas kerjasama dengan perusahaan minyak dari Amerika. Tetapi, pada tahun 1980, kepemilikan Aramco telah diambil alih penuh oleh pemerintah Arab Saudi. Salah satu sisi menarik dari Aramco adalah kepemilikannya akan museum mengenai minyak dan gas serta sejarah kekayaan alam ini di Arab Saudi. Museumnya pun bukan tipikal yang membuat pengunjungnya bosan, tetapi banyak alat-alat interaktif yang mampu membuat anak-anak terpesona dan tidak sadar telah belajar banyak mengenai minyak bumi. Meningkatnya industri di Arab Saudi memberikan dampak makin dibutuhkannya sumber air

tawar. Menjawab tantangan itu, Arab Saudi mendirikan Industri Desalinasi Air Laut di kota Jubail. Industri ini mampu menyaring air laut hingga menjadi air tawar siap minum dan membantu menyelesaikan permasalahan kebutuhan air tawar di Arab Saudi yang selama ini hanya mengandalkan oase atau wadiwadi penadah hujan. Jika menilik lebih jauh, pembangunan di Arab Saudi tidak hanya terpusat pada satu kota saja. Sebagai Negara yang terbagi menjadi lima wilayah dan memiliki 13 provinsi, setiap wilayah memiliki keunikan dan keunggulan sendiri. Di wilayah tengah terdapat ibukota Negara, yaitu Riyadh yang di dalamnya menjulang Burj Mamlaka (Burj artinya Tower, Mamlaka artinya Kerajaan), symbol kota Riyadh layaknya Monas bagi Jakarta. Di sini terdapat Sky Bridge yaitu jembatan menghubungkan satu pucuk gedung ke gedung yang lain. Dari Burj Mamlaka ini, saya bisa melihat kota Riyadh dari Ujung ke Ujung, dan lebih indah melihatnya di Malam hari dengan tatanan kota yang sangat Rapih, karena diatur langsung oleh kerajaan. Di wilayah Barat terdapat dua kota suci umat Islam, yaitu Mekkah dan Madinah. Dua kota yang akan selalu diidentikkan dengan Arab Saudi. Seperti yang telah diketahui oleh


hampir semua umat Islam, Masjidil Haram dan Ka’bah yang menjadi kiblat bagi sholat terletak di Mekkah sedangkan Madinah memiliki Masjid Nabawi dan makam Rasulullah pun berada di kota ini. Belajar di Negara ini, lebih tepatnya di King Saud University, Riyadh, memberikan saya kesempatan untuk berkali-kali mengunjungi kedua kota suci ini. Dengan menempuh perjalanan darat kurang lebih 900 km sekitar 9-10 jam dari Riyadh, kedua kota ini menjadi salah satu destinasi akhir pekan terfavorit bagi para pelajar asing yang beragama Islam. Mengunjungi kedua kota ini di kala penatnya kuliah adalah suatu kenikmatan tersendiri. Layaknya tanah tandus yang tersiram air hujan. Indah dan sangat melegakan hati. Sementara, daerah timur dan utara terkenal dengan kilangkilang minyak tempat industri tambang Arab Saudi berdenyut kencang. Aramco, perusahaan minyak terbesar di Arab Saudi dan di dunia, berada di kota Dammam di wilayah ini. Dan siapa bilang Arab Saudi hanya melulu tentang gurun pasir? Daerah Tabuk di wilayah barat Arab Saudi justru terkenal dengan daerah hijau dan pertanian, bahkan daerah ini mengekspor bunga ke wilayah Eropa. Beberapa kali salju juga turun di wilayah ini. Tidak heran, karena meskipun kering, wilayah Tabuk masih berada pada daerah Sub-tropis yang memungkinkan terjadi salju. Pendidikan di Arab Saudi Semakin majunya industri dan pertambangan di Arab Saudi tentu memberikan dampak

baik di bidang perekonomian dan tentu saja menumbuhkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang mumpuni. Selain itu, sektor wisata keagamaan yang ditunjang oleh adanya dua kota suci umat Islam tentu membuat Arab Saudi harus terus berbenah meningkatkan sumber daya manusianya. Salah satu sisi yang menarik adalah bagaimana di bidang pendidikan Arab Saudi banyak melakukan upaya untuk menggenjot sector ini. Awalnya, ketika Kerajaan Arab Saudi didirikan pada tahun 1932, pendidikan yang tersedia untuk sangat sedikit orang, terutama sebagian besar anak-anak dari keluarga kaya yang tinggal di kota-kota besar. Hari ini, sistem pendidikannya meliputi 25 universitas Negeri dan 27 universitas swasta yang lebih terencana; sekitar 30.000 sekolah; dan sejumlah besar perguruan tinggi dan lembaga lainnya. Sistem ini terbuka untuk semua warga negara, dan memberikan siswa dengan pendidikan gratis, buku dan pelayanan kesehatan. Pendidikan dasar formal mulai di Arab Saudi pada 1930an. Pada tahun 1945, Raja Abdulaziz bin Abdelrahman Al-Saud, pendiri negara Arab Saudi, memulai program ekstensif untuk membangun sekolah-sekolah di Kerajaan. Enam tahun kemudian, pada tahun 1951, negara Arab Saudi memiliki 226 sekolah dengan 29.887 siswa.

tahun 1957. Saat ini pun telah berdiri KAUST (King Abdullah University for Science and Technology), salah satu universitas teknik yang paling bergengsi di semenanjung arab. Pada tahun 1954, Departemen Pendidikan didirikan, diikuti oleh Departemen Pendidikan Tinggi pada tahun 1975. Sekolah pemerintah pertama untuk anak perempuan dibangun pada tahun 1964, dan pada akhir tahun 1990-an sekolah anak perempuan telah didirikan di setiap bagian dari Kerajaan. Hari ini, siswa perempuan merupakan populasi lebih dari setengah dari 6 juta siswa saat ini yang terdaftar di sekolah Arab Saudi serta universitas. Pemerintah Arab Saudi juga dikenal royal dalam memberikan beasiswa. Beberapa tunjangan diberikan misalnya tunjangan tempat tinggal, tunjangan keluarga hingga biaya pulang pergi dari daerah asal ke Arab Saudi sekali dalam setiap tahun. Beasiswa diberikan tidak hanya pada warga negaranya untuk menuntut ilmu di luar negri, tetapi juga pada mahasiswa-mahasiswa asing yang ingin menimba ilmu di negri para nabi ini. Demikianlah sekilas informasi mengenai Arab Saudi. Tidak hanya pembangunan yang berpusat di ibukota ataupun dua kota suci, geliat rekonstruksi telah digalakkan pemerintah di berbagai wilayah dibarengi dengan peningkatan di sektor pendidikan. Tidak heran jika saat ini, Arab Saudi telah menjadi salah satu Negara yang diperhitungkan dunia.

King Saud University, tempat saya menimba ilmu, merupakan universitas pertama dan didirikan di Riyadh pada

27


SEJARAH

DIPONEGORO DAN KONTEKS KEKINIAN Oleh Huzaifah Hanum Pembaca Sejarah, Alumni RK (Angkatan 3 Regional 1 Jakarta)

B

agi Kolonial Belanda dan antek-anteknya, Pangeran Diponegoro adalah pemberontak, penjahat, teroris, dan seluruh representasi elemen-elemen keburukan yang merusak tatanan sosial. Namun, tidak bagi rakyat pribumi. Diponegoro adalah sosok pejuang. Sosok yang memperjuangkan keadilan, melawan kezaliman. Maka baginya, disematkanlah gelar pahlawan. Pangeran yang memiliki nama lahir Mustahar ini merupakan putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III (berkuasa 1810-11 dan 181214). Semasa kecil ia bernama Bendara Raden Mas Antawirya. Ia merupakan kandidat utama penerus takhta Keraton Yogyakarta. Ibunya merupakan keturunan keempat Sultan Bima. Ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, juga merupakan keturunan Cakraningrat, figur pejuang Madura. Dalam tubuh Diponegoro seakan ditakdirkan mengalir darah perjuangan. Nama Diponegoro berasal dari bahasa Jawa, yang berarti “cahaya negara�. Ia dibesarkan di Tegalreja, wilayah kauman di sebelah barat kompleks Keraton Yogyakarta. Di sana, Pengaran menghabiskan masa kecilnya dalam pengasuhan neneknya dengan pengajaran Islam. Konsepsi nilai yang kelak sangat mempengaruhi pandangannya akan kehidupan. Kesukaannya adalah berjalan kaki. Mengamati kehidupan rakyat lebih dekat, dengan hati. Di samping itu, ia juga suka memacu kuda dan mempelajari ilmu beladiri. Bagi Diponegoro, ada yang salah dengan kondisi politik dan ekonomi masyarakat Jawa. Pada masa itu, kedua Sultan di Jawa, baik di Surakarta maupun di Yogyakarta, diangkat berdasarkan pertimbangan Pemerintah Kolonial Belanda. Kondisi itu merupakan dampak dari kekalahan perang yang berakhir pada Perjanjian Giyanti. Kesultanan kembar di Jawa menjadi sekedar vassal bagi Kolonial Belanda. Maka, kebijakan politik dan ekonomi Keraton hanyalah

28

implementasi teknis dari kepentingan kolonial dalam mengeksploitasi sumberdaya alam dan manusia di Jawa. Pasca transisi dari perusahaan dagang swasta Belanda (VOC) kepada pemerintah Kolonial Belanda pada 1 Januari 1800, Kolonial Belanda membuat kebijakan ekstensif mengenai optimalisasi wilayah jajahan. Hal tersebut ditujukan untuk mengisi kekurangan keuangan pemerintah Belanda pasca Perang Napoleon di Eropa yang melelahkan. Salah satu kebijakan yang berdampak besar bagi rakyat di Jawa adalah penyewaan lahan dan juga manusia bagi perkebunan swasta. Baik di wilayah Yogyakarta-Surakarta maupun mancanegara, eksploitasi lahan dan manusia terjadi secara intensif. Langkah itu justru didukung oleh Keraton kembar. Kemiskinan menjadi fenomena umum, akibat kebijakan penjajahan yang menindas. Kondisi sosial di Jawa juga mengalami degradasi akut. Terutama di lingkaran dalam Keraton, candu menjadi hal yang biasa. Padahal itu adalah subjek haram dalam agama dan terlarang oleh negara. Begitu pula dengan praktek prostitusi

dengan ragamnya. Sebagian besar punggawa istana terjebak oleh gundik dan candu yang disediakan diam-diam oleh pemerintah Kolonial Belanda. Komitmen atas adab dan moralitas menjadi redup di lingkungan istana. Penghambaan hawa nafsu menjadi lumrah dan merajalela. Atas kerusakan yang terjadi di Keraton, Diponegoro memilih jalan menjauh dari kekuasaan. Menepi di Tegalreja. Membersamai para santri dan keluarga keraton yang muak dengan kehidupan istana. Namun, hal yang tidak pernah bisa luput dari perhatiannya adalah penderitaan rakyat Jawa. Terutama di wilayah Kedu dan sekitarnya. Kemiskinan dan penistaan yang dialami rakyat terasa begitu mengusik jiwa dan perasaan Pangeran. Dalam Islam, kekuasaan semestinya digunakan untuk melayani rakyat yang menjadi tanggungjawabnya. Bukan sekedar berkuasa lalu menindas. Hal inilah yang menjadi pemicu ketidaksukaan Diponegoro terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Sejak awal, pemerintah Kolonial Belanda memang sudah mendeteksi keberadaan Diponegoro sebagai penghalang hegemoninya di Keraton Yogyakarta. Terlebih nilai Islam yang meresap dalam pemikiran Pangeran, itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah Kolonial Belanda. Karena itu, trah kekuasaan yang harusnya berlanjut kepada Dipenogoro, justru dilimpahkan kepada adik sepupu Pangeran,


yang kemudian menjabat sultan dengan gelar Hamengkubuwono IV (berkuasa 1814-22). Atas pelimpahan kekuasaan tersebut, Diponegoro cenderung menerima. Karena sejak awal Pangeran memang tidak berniat menjadi raja yang berada dibawah pengaruh Kolonial Belanda. Hamengkubuwono IV tidak berkuasa lama. Ada indikasi bahwa Sultan Keempat tersebut diracun. Kolonial Belanda hendak memajukan keturunannya, keponakan Pangeran, yang masih belum baligh, menjadi Hamengkubuwono V (berkuasa 1823-26 dan 1828-55). Dalam transisi kekuasaan yang mencurigakan tersebut, Diponegoro menyuarakan protes. Mengangkat Hamengkubuwono V sama saja mengangkat boneka sebagai raja. Protes tersebut tidak dihiraukan. Bahkan Kolonial Belanda kerap mendikte raja dan menjadikannya sekedar stempel kebijakan kolonial yang menyengsarakan rakyat. Antipati Diponegoro terhadap pemerintah Kolonial Belanda semakin meningkat, seiring kelancangannya terhadap Sultan Yogyakarta. Terlebih lagi penindasan yang semakin menjadi-jadi kepada rakyat Jawa. Diponegoro mengundang para ulama dan umara’ bermusyawarah di Goa Selarong. Membahas penyikapan terhadap kezaliman yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Hasil musyawarah tersebut memutuskan bahwa perlu dilakukan perlawanan terhadap kezaliman yang dilakukan oleh pihak Kolonial Belanda. Simbolisasi perlawanan tersebut adalah dengan menancapkan tombak-tombak pada bidang tanah di area makam leluhur keraton di Tegalreja. Kawasan itu adalah area penggusuran untuk dijadikan jalan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Pihak Kolonial Belanda tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Sejumlah divisi pasukan gerak cepat sudah disiapkan di Magelang dan juga Legiun Mangkunegara, satuan pasukan profesional Jawa, sudah bersiaga di Surakarta. Siap menghancurkan Diponegoro dan pengikutnya. Perang Jawa (1825-30) pun meletus. Diponegoro bersama rakyat Jawa berhadapan dengan pasukan Kolonial Belanda. Karena peperangan berlangsung tidak seimbang, Diponegoro dan pengikutnya melawan secara bergerilya di hutanhutan Jawa bagian selatan. Dua tokoh utama lainnya dalam perlawanan

Diponegoro adalah Kyai Maja, yang merupakan representasi kaum santri dan ulama. Adapun Sentot Ali Pasha Prawiradirdjo merupakan representasi bangsawan keraton Jawa. Dua kombinasi tersebut merupakan kunci dari dukungan sebagian besar penduduk Jawa. Hal yang tidak disangka oleh Kolonial Belanda sebelumnya. Kombinasi itu juga membuat peta perlawanan tidak hanya terjadi di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, melainkan juga meluas ke wilayah Mancanegara di Jawa tengah bagian utara dan juga bagian timur hingga Madiun. Perlawanan Diponegoro juga mengundang simpati dari entitas keturunan Tionghoa. Mereka dengan sukarela bergabung bersama Diponegoro untuk melawan pemerintah Kolonial Belanda. Prediksi Kolonial Belanda atas Perang Jawa ternyata keliru. Pasukan yang telah disiapkan di Magelang dan Semarang serta dukungan pasukan elite dari Legiun Mangkunegara, tidak cukup untuk menghentikan perlawanan Diponegoro dan pengikutnya. Dalam perang ini, pemerintah Kolonial Belanda terpaksa mengosongkan sebagian besar garnisun utama di Manado, Ambon, dan Batavia. Kolonial Belanda juga menarik seluruh pasukan yang sedang beroperasi di Minangkabau dan pendudukan Aceh. Zona pembantaian pun dilakukan pasukan Kolonial Belanda dengan Benteng Stelsel di wilayah Bagelen, daerah yang diperkirakan menjadi ruang gerilya Diponegoro. Perang terus berlangsung di luar ekspektasi. Perlawanan Diponegoro tidak juga berhenti. Sementara kas pemerintah Kolonial semakin menipis. Perekonomian Jawa yang menjadi sumber pendapatan Kolonial pun menurun drastis. Tidak mudah menundukkan Diponegoro. Maka Jenderal Hendrik Merkus de Kock memilih siasat memecah belah pengikut Pangeran. Bagi rakyat biasa dijanjikan penghapusan pajak. Bagi kalangan ningrat dijanjikan subsidi dan posisi di birokrasi. Bagi santri dan ulama dijanjikan kebebasan menjalankan praktek Islam. Bagi mereka semua dijanjikan kehidupan yang damai di Jawa. Janji-janji tersebut diberikan hanya dengan satu syarat yaitu meninggalkan Diponegoro dan perlawanannya.

ia harus ditangkap dan diasingkan ke tempat yang jauh di Tondano, hingga ia wafat di sana. Dalam posisi sulit, Pangeran terus didesak untuk mengakhirkan perang dan membuat perjanjian damai oleh pihak kolonial. Baginya, Kolonial Belanda menjanjikan pemulihan kembali kehidupan sosial dan kesejahteraan bagi rakyat di Jawa. Untuk itulah, perundingan-jebakan di Magelang digagas Jenderal de Kock. Diponegoro membayangkan jalannya perundingan dalam suasana keterbukaan dan kebebasan. Namun, Kolonial Belanda adalah wajah licik yang jauh dari nilai kebebasan dan keadilan dari Protestanisme yang menjiwai Revolusi Belanda. Laku hipokrit ini selaras dengan sikap pengecut Raja William I yang menilai bahwa mengamankan tanah jajahan di Jawa hanya dapat dilakukan jika Diponegoro telah ditangkap tanpa syarat. Prosesi perundingan kemudian hanyalah formalitas dari mekanisme penangkapan. Namun, pihak Kolonial Belanda mengklaimnya sebagai penyerahan diri sang Pangeran. Di sini, sejarah coba direkayasa, sebagaimana dalam lukisan Nicolaas Pieneman. Walau dibantah secara elegan oleh Raden Saleh sebagai sebuah sejarah keji dalam diplomasi. Kini, Diponegoro telah mati. Tapi, sejarahnya akan terus abadi. Mengenang Pangeran berarti memilih untuk berpihak. Berpihak pada perjuangan untuk keadilan. Semangat yang harus terus ada dalam konteks kekinian. Berlaku adil dalam setiap kesempatan. Terlebih saat kita memegang kuasa dan jabatan. Mengenangnya juga berarti beroposisi terhadap praktek kezhaliman. Menghentikannya dengan kekuasaan yang di tangan atau dengan nasihat terbaik melalui lisan dan tulisan. Atau setidaknya mengutuk hal itu sebagai keburukan. Bukan hanya diam, terlebih lagi justru menikmati irama kejahatan

Satu per satu, pengikut Pangeran menyerahkan diri. Sentot Ali Pasha, lalu menyusul Kyai Maja, memilih mengakhirkan perlawanan. Bagi Sentot, statusnya tetap sebagai panglima dengan pasukannya, yang kelak akan dikirim ke Perang Paderi. Namun, tidak bagi Kyai Maja. Ia dianggap simbol Islam yang menjadi motor perlawanan. Karenanya

29


30


31


INTERNASIONAL

BICARA CINA, BICARA BUDAYA Oleh Fathan Asadudin Sembiring Master of International Business,

University of International Business and Economics, Beijing Alumni RK (Angkatan 4 Regional 2 Bandung)

M

embicarakan mengenai Cina, memang tidak akan ada habisnya. Menilik balik sedari berakhirnya Dinasti Qing (1912), berdirinya Republik Cina (1912 – 1949), konflik dan perang-perang sipil (1927 – 1950), imperialis Jepang yang menjajahnya (1937 – 1945), sampai pada berdirinya Republik Rakyat Cina–bersamaan pindahnya “Ibu Kota Republik Cina” ke Pulau Formosa (1949). Itu pun juga masih bisa dilanjutkan dengan keseruan membahas mengenai Revolusi Kebudayaan (1966), pemberlakuan Kebijakan Pembatasan 1-anak (1979), dan lain-lain. Hal-hal tersebut berlanjut hingga pada saat ini kita semua harus menerima kenyataan bahwa Cina merupakan negara tertinggi untuk GDP at PPP ranking (PwC, 2015) sejak tahun 2014. So, what did we miss? Namun, tulisan yang singkat ini tidak akan membahas banyak hal seperti spesifik pertumbuhan ekonomi, fenomena industrialisasi, The Great Fire Wall, perkembangan e-commerce, perkembangan artificial intelligence (AI) di Cina. Karena menurut hemat kami, hal-hal yang sedemikian itu merupakan akibat, bukan penyebab. Sehingga, mungkin akan lebih menarik bila kita membahas mengenai sebab, dibandingkan dengan kenyataankenyataan yang telah (memang) terjadi. Penyebab dari itu semua tidak lain dan bukan adalah budaya. Budaya yang bukan sekedar budaya.

32

Tetapi budaya yang diwarisi, yang dijaga kemurniannya (walaupun kenyataannya tidak 100% lagi) sehingga generasi berikutnya mereka masih tetap tersadar bahwa mereka adalah Cina. Dalam setting apapun, di mana pun, dalam kondisi ekonomi apapun, Bangsa Cina akan terus seperti itu, dan berusaha untuk menjaga nilai-nilai dan tradisi mereka, betapapun arus globalisasi memiliki andil yang memengaruhi. Dalam mengenali budaya Cina, mungkin secara umum kita hanya tahu dari kasat matanya saja. Tidak mudah untuk memahami budaya suatu Bangsa (yang terhimpun dari berbagai suku-bangsa pula) yang sudah eksis sejak 5.000 tahun yang lalu (berbagi sumber). Di Cina sendiri faktanya ada 55 suku-suku Bangsa lain selain Suku Han. Walaupun dominasi Suku Han sebanyak 91 persen, hal ini tidak lantas menjadikan bahwa apabila kita berbicara mengenai Cina, maka akan hanya terpatok pada corak-corak budaya orang Han semata. Mengapa budaya ini menjadi begitu penting? Dari semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baik itu yang berujung kepada kesuksesan atau kegagalan, semuanya secara filosofis merupakan cerminan dari identitas diri kita. Orang-orang Cina baik itu yang berada di Cina Mainland (daratan) maupun Overseas (perantauan di seluruh dunia) telah berhasil merawat identitas mereka dan melanggengkannya di pojok bumi manapun mereka berada.

Identitas ini begitu penting, karena pada akhirnya, segala hal yang kita lakukan tentunya memiliki “kebutuhan” untuk diakui, apalagi untuk hal-hal yang positif atau berhubungan dengan pencapaian sebuah prestasi.

Dalam bukunya Traditional Chinese Culture, Xiaoyue Xu menjelaskan, To make the characteristics of traditional Chinese culture clear, we must understand thoroughly its value orientation. The term “value orientation” means that faced with a certain object awaiting action, a subject definitely has certain inclination and makes a choice from the perspective of value. Among the ancient civilizations, the Greeks valued and pursued the “natural heaven and earth” so they created a “nature-based” value orientation. The Hebrews treasured and explored the “supernatural heavenly kingdom” so they embraced a “theocentric” value orientation. The Chinese cherished and explored human society so they formed a “peoplecentered” value orientation. Nevertheless, a people-centered and ethicscentered Chinese culture paid equal attention to metaphysical observation and physical corroboration. Therefore, mind-nature, human nature and life were the most intensively and extensively debated concepts in Chinese philosophy. Beberapa hal tersebut hanya merupakan kutipan, namun tetap jelas mengisyaratkan bahwa karakteristik yang dimiliki oleh kebudayaan Cina itu sendiri memiliki kekhasan yang bisa dirunut secara kronologis dan komparatif.


Lantas, bagaimana dengan hal-hal yang agak kontemporer, misalnya agama? Mungkin banyak dari kita yang merasa bahwa untuk membicarakan mengenai agama atau unsurunsur yang berkaitan dengan kepercayaan (individu) merupakan sesuatu yang klise dalam konteks Cina. Namun, hal itu lagi-lagi kemungkinan besar dikarenakan asumsi yang terlalu menyederhanakan. Seperti yang ditulis oleh Xiaoyue Xu, bahwasanya:

advocated that children always have a pleasant smile on their faces in front of their parents and never be against the parents nor act in defiance of propriety. In other words, the children should always treat their parents in strict accordance with the proper rites when parents were alive or dead already.

Sehingga tentu saja, kita juga secara kasat perlu mengetahui sumber-sumber pembentuk budaya Cina. Mungkin kita sering mendengar bahwa kebudayaan Cina terasosiasikan dengan agama Buddha, Konfusianisme (Kong Hu Cu), dan ajaran Taoisme. Dalam ulasannya, Xiaoyue Xu juga Most importantly, inclusive polytheism decisively menuliskan: influenced Chinese attitudes towards foreign Intellectually, National Learning/ religions. The introduction and dissemination Studies or traditional Chinese culture of Buddhism, Islam and Christianity were all carried out in the tolerance and inclusiveness of consisted of Confucianism, Daoism, and Buddhism. The assertion that traditional Chinese religion. National Learning/Studies was composed of the three great teachings Very probably, only China achieved the equal worship of gods of different religions in the same was made in accordance with the hall. In the long history of China, the bloodshed perception of culture and the actual influence of traditional Chinese caused by conflicting religious faith and culture on the Chinese. doctrines was completely nonexistent. The Chinese cult of diverse supernatural beings itself indicates that deities – regardless of origin – could coexist peacefully and blend in with each other. In view of this, it is safe to say that the inclusiveness of Chinese polytheism was one of the most distinctive characteristics of Chinese religions.

Walaupun begitu, mungkin kedua alinea penjelasan di atas masih terkesan “jauh” dari familiar bagi kita. Mungkin, ada sesuatu yang bisa dicari kesamaannya? Tentu ada, semisal hal yang berhubungan dengan filial piety. Lagi-lagi, hal ini menarik untuk dibicarakan, karena di kebudayaan manapun, peranan atau hubungan interaksional antara orang tua dan anak itu memiliki keunikannya masingmasing. Dalam kebudayaan tradisional Cina, menghormati orang tua merupakan sebuah kewajiban. Penjelasannya pun masih dapat disimak seperti yang Xiaoyue Xu katakan di dalam buku nya:

There is, however, a question that must be answered; that it to say, which one – Confucianism, Daoism or Buddhism – was the main pillar of traditional Chinese culture? That question remains open to discussion, though there have been diverse, extensive debates on the issue. Some contend that Buddhism was predominant; some held that it was Confucianism plus Daoism that shaped Chinese culture; and some opined that traditional Chinese culture was equally derived into Confucianism, Daoism and Buddhism.

dengan interaksi ekonomi, bisnis, politik, sosial, dan sebagainya. Menggunakan pendekatan yang dipelajari oleh Hofstede, Cina memiliki scoring Long Term Orientation (LTO) paling tinggi diantara entitas (negara) lain. Hal ini juga menjadi suatu parameter yang muncul akibat tidak lain dan bukan adalah kulminasi dari ribuan tahun kebudayaan yang telah menjadi konsentrat dan pada akhirnya menjadi landasan berkelakuan Bangsa Cina.

Memahami hal-hal seperti ini memang ada iya dan tidaknya. Namun, melihat siginifikansi dari Bangsa Cina yang kembali bangkit (merebut apa yang menjadi hak mereka—mengulang sejarah), mau tidak mau kita harus mengakui bahwa ada gap di persoalan ini. Sehingga, hal-hal yang berhubungan dengan investasi untuk membuat nyambung dengan fenomena ini adalah pada SDM. Di Cina sendiri, spesifikasi SDM seperti apapun akan dapat kita temukan (dari perspektif yang membutuhkan). Namun, keadaan yang kurang balance terjadi pada sisi Indonesia. Karena hanya dengan berinvestasi pada SDM lah, kita akan mengetahui bahwasanya A Gathering of Civilizations itu sesuatu yang tidak bisa kita tepis—agar kemudian tidak terjadi Clash.

Seemingly, which moral category could symbolize the core values of traditional Chinese culture has not been confirmed. Some held that it was ren; some preferred the Five Constancies as a whole; and some chose xiao 孝, or filial piety.

*** Tentu saja mendiskusikan Bangsa Cina tidak akan cukup dengan ulasan yang hanya beberapa halaman. Namun, paling tidak dapat menjadi pemicu awal untuk mengerti lebih lanjut bahwasanya Bangsa Cina itu Xiao was a unique Chinese value and Chinese merupakan sebuah entitas yang cultural phenomenon. It was adaptable to the tidak bisa disederhanakan. So sophisticated social base and structure that were centered on patriarchal families. Since time much so, akan memiliki turunan konsekuensi yang sangat berkaitan immemorial, various social classes paid most erat dengan ‘bagaimana baiknya kita attention to xiao. berinteraksi dengan mereka’. Baik itu urusan-urusan yang berkenaan Additionally, Confucians enthusiastically

33


INTERNASIONAL

TATANAN DUNIA LIBERAL DI ERA DISRUPTIVE POLITICS : SEBUAH REFLEKSI Moch Faisal Karim

T

idak diragukan lagi bahwa tatanan dunia liberal saat ini menghadapi tantangan baru. Memang, sejak dibangun oleh kekuatan Barat dari abu Perang Dunia II, tatanan dunia liberal selalu mendapatkan tantangan mulai dari penyebaran komunisme selama Perang Dingin hingga bangkitnya terorisme semenjak peristiwa 9/11, yang membuat tantangan terhadap liberalisme menjadi lebih tersebar dan terdesentralisasi. Terlepas dari tantangan eksternal yang dihadapi tatana dunia liberal, ia telah bertahan dan terus berkembang. Keberadaan tatanan liberal dianggap oleh banyak kalangan sebagai dasar bagi terciptanya tatanan dunia yang relatif lebih stabil daripada tatanan global sebelum Perang Dunia II. Bahkan naiknya kekuatan-kekuatan non-Barat yang terlihat menantang tatanan dunia liberal, sebagian besar, menerima tatanan ini dan mendapatkan keuntungan dari keberadaannya. Kendati demikian, tantangan yang kini sedang dihadapi oleh tatanan dunia liberal sangatlah berbeda dengan tantangan-tantangan sebelumnya. Banyak yang mengira bahwa tantangan utama tatanan dunia liberal datang dari gangguan kekuatan eksternal. Namun, tantangan utama tatanan dunia liberal sebenarnya berasal dari dalam. Tantangan ini adalah munculnya apa yang saya sebut sebagai disruptive politics (politik yang mengganggu) di jantung Negara-negara liberal Barat yang terkonsolidasi. Dua efek samping utama dari disruptive politics dapat dilihat baik di tingkat domestik maupun internasional. Di dalam negeri, berkembangnya populisme di negaranegara demokrasi barat yang stabil dicontohkan dengan pemilihan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Secara internasional, ada penolakan terhadap globalisasi dan integrasi yang semakin meningkat, dicontohkan oleh referendum Inggris yang berhasil meyakinkan setengah pemilih untuk meninggalkan Uni Eropa.

34

Banyak komentator dan pakar mengamati bahwa bangkitnya disruptive politics adalah ancaman bagi tatanan dunia liberal yang pada akhirnya dapat menyebabkannya runtuh dari dalam. Pakar internasional seperti Stephen Walt (2016), Ian Buruma (2017), dan Roger Cohen dari New York Times (2017) telah memperingatkan tentang masa-masa sulit yang dihadapi tatanan dunia liberal dengan berkembangnya disruptive politics baru-baru ini yang terjadi di negara-negara demokrasi liberal barat. Joe Biden bahkan menyatakan bahwa tatanan dunia liberal beresiko runtuh dalam refleksinya sebagai Wakil Presiden AS di Forum Ekonomi Dunia di Davos (Biden 2017). Tentu efek samping dari disruptive politics harus dilihat secara seksama dan hati-hati. Namun, sangat menyesatkan untuk menyamakan disruptive politics dengan efek sampingnya seperti munculnya populisme dan munculnya ketidaksukaan terhadap globalisasi. Saya berpendapat bahwa disruptive politics diperlukan untuk kelangsungan tatanan dunia liberal. Disruptive politics adalah cara untuk membuat kita menyadari bahwa demokrasi liberal tidak sempurna, dan kita perlu memperbaikinya. Esai ini membahas gagasan tentang politik yang mengganggu dan tantangan yang ditimbulkannya. Ini dimulai dengan membongkar gagasan dibalik disruptive politics. Esai ini kemudian menawarkan tiga kritik tentang bagaimana mempertahankan tatanan dunia liberal di era disruptive politics.

MEMAHAMI DISRUPTIVE POLITICS DALAM ORDE LIBERAL Pada tahun 1995, Clayton Christensen (1997) mengemukakan gagasan disruptive innovation sebagai “inovasi yang menciptakan jaringan pasar dan nilai baru dan pada akhirnya mengganggu jaringan pasar dan nilai yang ada.� Meminjam gagasan disruptive innovation, saya

mendefinisikan disruptive politics sebagai sebuah politik yang mengganggu tatanan mapan, terutama dalam konstituen inti tatanan dunia liberal dalam hal ini negara-negara demokrasi liberal terkonsolidasi. Disruptive politics sangat berbeda dengan contentious politics, yang didefinisikan sebagai “sebuah politik yang menggunakan metode yang mengganggu tatanan yang mapan untuk mengubah kebijakan pemerintah tertentu� (Tilly and Tarrow 2015). Sementara contentious politics dapat dilihat di kedua negara demokrasi dan otokrasi, disruptive politics adalah proses yang lamban dalam demokrasi liberal yang menyerang inti tatanan dunia liberal, yaitu demokrasi liberal dan kapitalisme global. Sama seperti seruan untuk demokrasi dalam rezim otoriter, disruptive politics di dalam demokrasi liberal terutama disebabkan oleh politik kebencian, terutama terhadap status quo dan elit yang telah melupakan rakyat biasa. Di negara-negara otoriter, contentious politics sering terjadi karena kurangnya kebebasan untuk melawan pemerintahan otoriter dan kebebasan warganegara untuk dapat melakukan perubahan rezim melalui mekanisme-mekanisme yang konstitutisional. Dalam demokrasi liberal dengan transfer kekuasaan demokratis yang stabil, gangguan yang sama jarang terjadi. Demokrasi liberal telah menganut protes dan pembangkangan sebagai bagian dari strategi legitimasinya dan memberikan platform demokrasi yang menetralisir perlawanan terhadap status quo. Tapi itu tidak membahas masalah ketidaksetaraan di mana akumulasi kekuatan di tangan beberapa orang telah membuat suara sebagian besar orang tidak pernah mendengarnya. Studi menarik yang dilakukan oleh ilmuwan politik Martin Gilens dan Benjamin Page mengenai demokrasi AS menunjukkan bahwa warga biasa memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kebijakan publik dibandingkan dengan elit ekonomi (Gilens dan Page 2014). Dengan kondisi ini, demokrasi telah terhabituasi sebagai perayaan seremonial bagi warga biasa sementara keputusannya didominasi oleh elit kaya dan berkuasa. Dalam jangka panjang, seperti dalam pemerintahan otoriter, demokrasi liberal, alih-alih menjadi pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, seperti yang dibayangkan oleh Abraham Lincoln, telah bermetamorfosis menjadi oligarki. Keadaan baru-baru ini di negara-negara demokrasi


liberal dirangkum dengan sempurna dalam ucapan terkenal Animal Farm, “semua hewan setara, tapi beberapa hewan lebih setara dari yang lain” (Orwell 2003). Untuk mengubah keadaan ini, dibutuhkan disruptive politics. Meminjam dari Carol Hanisch (1969), terjadinya disruptive politics telah membuat politik menjadi lebih pribadi dan pribadi bersifat politis. Bila status quo di dalam demokrasi telah memutus hubungan politik dari masyarakat, disruptive politics dapat memberdayakan masyarakat untuk lebih terlibat dalam politik agar lebih baik atau lebih buruk. Beberapa komentator bahkan berpendapat bahwa kebangkitan nasionalisme populis baru-baru ini dalam wacana politik arus utama barat mungkin telah dimungkinkan oleh hilangnya kepercayaan agama secara kolektif. Ada kemungkinan dalam pembacaan terhadap apa yang telah saya tulis di sini sebagai pembelaan terhadap kebangkitan populisme dan kemunduran prinsip liberal. Tapi pesan saya justru sebaliknya. Disruptive politics bisa memiliki hasil yang berbahaya, tapi ini sama sekali bukan akhir dari tatanan dunia liberal. Ini adalah wajah Janus. Di satu sisi, hal itu dapat menyebabkan kemunduran demokrasi liberal dengan bangkitnya nasionalisme populis di mana mayoritas demokrasi yang marah berkuasa, yang dapat menyebabkan bangkitnya orang-orang kuat yang otoriter. Di sisi lain, ini bisa memberi kita kesempatan untuk mereformasi prinsip inti tatanan dunia liberal, yang agenda nasional dan global telah dilakukan secara agresif, terutama sejak berakhirnya Perang Dingin. Politik yang mengganggu adalah panggilan bangun yang keras kepada elit dan warga rata-rata bahwa tatanan dunia liberal bukan tanpa kekurangannya. Melalui politik yang mengganggu, kita diberi kesempatan untuk melangkah mundur dan menilai ulang agenda nasional dan global tatanan dunia liberal.

MENGELOLA DISRUPTIVE POLITICS Dengan munculnya disruptive politics, tatanan politik global seperti apa yang akan muncul? Ini memang pertanyaan yang sangat penting yang telah menarik perhatian pikiran paling cerdas. Untuk berkontribusi dalam debat ini, saya menawarkan tiga kritik tentang bagaimana mempertahankan tatanan dunia liberal di era politik yang mengganggu. Pertama, disruptive politics yang terjadi di negaranegara inti Barat bisa memberikan suara segar dari kekuatan non-barat untuk tampil dalam pertahanan tatanan dunia liberal. Alih-alih menentang motifmotif kekuatan non- Barat dalam mengejar kepemimpinan global, sekarang saatnya bagi para pemimpin Barat untuk mempercayai dunia non-Barat dalam berbagi peran kepemimpinan untuk mempertahankan tatanan global. Disruptive politics sayangnya telah membawa wacana proteksionisme dan anti-globalisasi ke dalam politik arus utama di Barat, dengan pernyataan Presiden Trump “Beli Amerika Serikat Amerika” (Chu 2017). Anehnya, presiden China, Xi Jinping yang mencela proteksionisme dan membela globalisasi (Fidler, Chen, dan Wei 2017). Kekuatan non-Barat yang dianggap tidak liberal tampaknya yang tampaknya memegang prinsip tatanan liberal dengan baik. Ini menunjukkan bahwa meskipun kekuatan non-Barat

mungkin belum sepenuhnya merangkul prinsip liberal, mereka menyadari pentingnya mempertahankan tatanan dunia liberal.

Kita harus belajar bagaimana dua dekade kebijakan intervensionis liberal telah gagal dan menciptakan lebih banyak ketidakstabilan di beberapa bagian dunia. Ini bahkan telah menumbuhkan antipati Kedua, disruptive politics telah dari negara-negara pinggiran tatanan menunjukkan bagaimana kemarahan liberal. Tantangan yang ditimbulkan oleh rakyat kecil terhadap kapitalisme disruptive politics juga menunjukkan global yang mengakibatkan munculnya kepada kita bahwa bahkan demokrasi ketidaksetaraan dapat merobek struktur liberal yang matang pun tidak kebal sosial tatanan liberal. Kapitalisme global terhadap pergeseran kearah spektrum memang telah mengangkat ratusan juta yang tidak liberal. Kita harus belajar dari orang keluar dari kemiskinan di seluruh sejarah bahwa selalu ada bahaya imperial dunia, terutama di Asia. Namun, hal itu overstretch dari sebuah gagasan. Prinsip juga membawa ketidaksetaraan dan liberal mungkin dapat disebut sebagai ketidakadilan sosial yang besar pula. Di prinsip yang mampu bertahan diantara dunia Timur, dirangkulnya globalisasi prinsip-prinsip lainnya yang hadir dalam oleh China tidak hanya menjadikan China sejarah. Namun seperti banyak ide lainnya, sebagai pusat kekuatan ekonomi namun ia jauh dari sempurna. Sudah waktunya juga mengantarkan China menjadi negara para penggiat liberalisme untuk rendah dengan tingkat ketimpangan pendapatan hati dan membiarkan dua prinsip liberal tertinggi di dunia, di mana satu persen inti berkembang menjadi berbagai model rumah tangga terkaya memiliki sepertiga yang juga menganut konteks budaya dan dari kekayaan negara. Kemunculan historis yang berbeda di setiap masyarakat ketidaksetaraan yang biasanya terjadi di di luar Barat. wilayah pinggiran kini mulai merambat ke negara-negara inti liberal. Di AS, MELIHAT KEDEPAN ketidaksetaraan telah menjadi semakin besar, mencapai titik paling ekstrem Tampaknya kata-kata mutiara “perubahan sejak depresi besar (Desilver 2013). Di selalu menciptakan ketidakpastian, Eropa, ketidaksetaraan telah meningkat dan cara kita memandang perubahan secara substansial sejak pertengahan sering menentukan bagaimana kita 1980an (Fredriksen 2012). Intinya, meresponsnya” dengan jelas memberikan ketidaksetaraan telah menjadi masalah kita gambaran perihal bagaimana pelik bagi tatanan liberal. Saya percaya menghadapi keberadaaan disruptive bahwa penjelasan dari bangkitnya politics yang sekarang telah mengubah rasisme dan xenofobia di negara-negara jalannya tatanan dunia liberal. Kita demokrasi Barat tidak dapat dipisahkan bisa melihat disruptive politics sebagai dari ketidaksetaraan yang tumbuh di ancaman dan karenanya bereaksi sesuai. masyarakat. Ketidaksetaraan akan Atau kita bisa melihatnya sebagai sebuah memicu rasa takut dan ketidakamanan peluang dan dengan demikian mengurangi di tengah masyarakat. Sebagai gantinya efek samping negatifnya. Disruptive mereka dapat dengan mudah dimobilisasi politics yang terjadi di dunia Barat harus karena kebencian terhadap orang mengingatkan kita bahwa tidak peduli lain (Karim 2017). Sudah saatnya para betapa terglobalisasi dan terpadunya pemimpin global untuk benar-benar fokus dunia kita, DNA kesukuan kita yang sudah pada pemecahan ketegangan antara tertanam semenjak ribuan tahun lalu masih ketidaksetaraan yang dihasilkan oleh melekat dalam bagaimana kita memahami kapitalisme pasar dan persamaan yang dunia. Selama segmen besar penduduk dibutuhkan oleh demokrasi. tidak merasakan manfaat dari globalisasi dan merasa teralienasi dari prosesnya, Ketiga, kita perlu mempertimbangkan prinsip liberal hanya memperkuat batas kembali bagaimana nilai-nilai utama dan menebalkan penghalang yang ada. dari tatanan liberal yakni demokrasi dan kapitalisme harus dipromosikan. Tentang Penulis Demokrasi akan menjadi bentuk Penulis adalah Global Challenges Fellow di pemerintahan yang paling diinginkan School of Public Policy, Central European dan standar global untuk pemerintahan University (CEU), Budapest. Beliau juga yang sah, terlepas dari kemunduran Kandidat PhD, University of Warwick, yang tampaknya demokratis dan Coventry, United Kingdom. Alumni RK beragam model yang mungkin tidak (Angkatan 3 Regional 1 Jakarta) Beliau terlalu liberal (Ikenberry 2011). Demikian dapat dikunjungi pada halaman berikut ini juga kapitalisme. Meskipun tidak selalu www.mochfaisalkarim.com. mengikuti gagasan tentang pasar bebas liberal, sebagian besar negara pada akhirnya akan menganut kapitalisme sebagai cara untuk mengatur ekonomi mereka di masa mendatang. Namun, dengan asumsi bahwa prinsip liberal harus diterima secara universal tidak hanya salah tapi juga berbahaya.

35


HUKUM

JEJAK ISLAM DALAM KONSTITUSI KITA

P

erkawinan antara kaum muslimin dengan tumbuh kembangnya negara Indonesia memang tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat kaum muslimin di pelbagai wilayah nusantara memberikan sumbangsih jiwa raga harta guna kepentingan republik ini. Tak terkecuali peran dan sisipan dalam sistem hukum nasional yang hingga tujuh dekade bangsa ini berdiri tidak bisa dipungkiri lagi manfaatnya baik bagi seluruh rakyat khususnya umat Islam di Indonesia. Islam mewarnai sistem hukum Indonesia lahir dan batin.

Oleh : Himas el Hakim Sarjana Hukum, Alumni RK (Angkatan VI Regional 4 Surabaya)

dimaknai secara tunggal bahwa hanya Islam adalah agama yang diakui di Indonesia karena nama Tuhannya saja yang ditulis di konstitusi akan tetapi hal ini terbukti secara historis diterima oleh seluruh rakyat Indonesia baik di akar rumput maupun elit politik. Kontroversi tersebut ada ketika Maka penerimaan ini bisa dimaknai tujuh kata yang ada pada sila positif sebagai bentuk penghormatan pertama Pancasila Piagam konstitusional banga terhadap jasa Jakarta diganti dari “Ketuhanan, kaum muslimin di Indonesia dengan dengan kewajiban menjalankan tidak hanya membubuhkan nama syari’at Islam bagi pemelukTuhannya namun juga sifatnya, yang pemeluknya” menjadi “Ketuhanan maha kuasa. Yang Maha Esa”. Hal ini tentu perlu pembahasan yang lebih Islam dalam Batang Tubuh Konstitusi lanjut dan detail namun titik kulminasi dari kontroversi ini Keberlakuan filosofis – historis yang ISLAM DALAM PEMBUKAAN seakan selesai ketika Presiden ada dalam pembukaan konstitusi Sukarno menegaskan dalam tersebut semakin konkret membuka Konstitusi sebagai dekritnya bahwa Piagam Jakarta ruang Islam sebagai ajaran yang staatgrundgezets memiliki peran menjiwai UUD 1945 yang disahkan komprehensif untuk diakomodasi penting dalam sistem hukum menggantikan UUD Sementara. hukumnya secara nasional dalam suatu negara. Sebagai sumber Dengan kata lain, keberlakuan batang tubuhnya Hal ini bisa dilihat hukum, konstitusi Indonesia selain “syariat Islam bagi muslim” baik secara implisit maupun eksplisit mengandung visi – misi (Supreme tersebut bisa diakui secara dalam ketentuan Bab X tentang Hak goals) berdirinya negara juga substantif dan diejawantahkan Asasi Manusia khususnya Pasal 28E memuat staatfundamentalnorm pada peraturan perundang – ayat (1) maupun Bab X tentang Agama atau falsafah hidup berbangsa undangan baik legislatif maupun Pasal 29 ayat (2). dan bernegara (Lihat Liav Orgad, regulatif. Penerapan syariat Islam The Preamble in Constitutional bagi pemeluknya memiliki landas “Setiap orang berhak memeluk Interpretation, Jurnal I-Con.). konstitusional – historis. agama dan beribadat menurut Konten tersebut terkandung agamanya, memilih pendidikan dan dalam alinea keempat khususnya Selain itu ada hal menarik dalam pengajaran, memilih pekerjaan, di bagian akhir yang kita sebut preamble konstitusi Indonesia memilih kewarganegaraan, memilih sebagai Pancasila. yakni penyebutan nama khusus tempat tinggal di wilayah negara Tuhan yang identik dengan Tuhan dan meninggalkannya, serta berhak Sebagai norma dasar Indonesia, umat Islam, Allah. Kata – kata kembali.” Pancasila merupakan hasil “Atas berkat rahmat Allah Yang kesepakatan dari buah pemikiran Maha Kuasa ...” yang termaktub Bunyi Pasal 28E diatas menegaskan the founding fathers yang terdiri diawal kalimat alinea ketiga. posisi seorang muslim untuk dari bermacam latar belakang Memang hal ini tidak bisa melaksanakan praktik agama Islam ideologi maupun kultur termasuk

36

Islam. Akar sejarah dari Pancasila yang hari ini menjadi “hafalan wajib” rakyat zaman now tidak lepas dari dokumen penting sekaligus kontroversial yakni Piagam Jakarta.


baik secara personal maupun komunal. Hal yang menarik adalah adanya kata – kata “menurut agamanya” yang mengikat keberlakuan ibadah suatu agama dalam hal ini Islam tidak secara sembrono atau semena – mena dipraktikkan oleh penganutnya namun juga ada standar apakah ibadah tersebut sesuai agama atau tidak. Kata – kata inilah yang menjadi salah satu jejak luar biasa Islam dalam konteks menjaga “kemurnian” ajaran Islam dari misinterpretasi penganut-nya.

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing – masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

dicintai dan diridhai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan yang nampak maupun tidak, maka konstitusi memberikan ruang sangat luas bagi umat untuk beribadah. Praktik muamalah yang juga memiliki irisan dengan syariat Islam sebagai buktinya telah banyak diakomodasi oleh negara seperti berdirinya Peradilan Agama yang secara tegas berwenang memutuskan perkara khusus bagi umat Islam hingga kepengurusan ibadah seperti Haji maupun Zakat yang juga dipayungi oleh penguasa. Jejak lain dalam konstitusi adalah penyebutan sumpah jabatan presiden yang diatur dalam ketentuan Pasal 9 yang berbunyi “Demi Allah saya bersumpah ...” yang menunjukkan bahwa posisi agama khususnya Islam dalam konsteks ini tidak terpisahkan dari jabatan politis dengan konsekuensi sumpah atas nama Tuhan yang masuk dalam konten konstitusi. Sekali lagi Islam diberikan kehormatan dengan tertulisnya asma Allah pada ketentuan positif fundamental bangsa ini.

Praktik ibadah yang disebut dalam konstitusi, jika dimaknai oleh umat Islam sebagaimana definisi Ibnu Taimiyah (dalam Al Ubudiyah) tentang Ibadah yakni segala sesuatu yang

PENUTUP Konstitusi Indonesia telah terwarna secara filosofis – historis sekaligus mengakomodasi Islam dalam pembukaannya maupun batang

Pada ketentuan lain yakni Pasal 29 ayat (2) secara tekstual menerangkan bahwa ada ruang bagi umat Islam sebagai salah satu pemegang kepentingan konstitusional untuk mempraktikkan agama Islam secara bebas dan dilindungi.

tubuh. Pada tataran legislasi maupun regulasi juga tidak sedikit peraturan perundag – undangan yang memiliki semangat Islam yang esensinya ada pada menjaga agama, jiwa, harta, akal, kehormatan hingga keturunan. Umat Islam di Indonesia selayaknya bersyukur atas nikmat yang Allah amanahkan melalui terbentuknya konstitusi yang pro-Islam khususnya Pancasila dengan memperjuangkan semakin kuatnya nilai – nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum yang masih “sekuler” seharusnya tidak hanya berhenti diteriakkan di jalanan namun harus ada upaya konstitusional dan sosial untuk diisi dengan nilai Islam seperti pengajuan Judicial Review, audiensi ke DPR hingga sosialisasi ke rakyat akar rumput agar Islam tak lagi dijauhkan dari sistem yuridis Indonesia. Jejak Islam telah melekat di konstitusi tinggal bagaimana umat membangun rumah Islam diatas jejak tersebut.

37


INTERNASIONAL

MENYIAPKAN PERNIKAHAN MEMBANGUN KELUARGA Scientia Afifah Taibah Ibu, Alumni RK (Angkatan 5, Regional 1 Jakarta)

38


B

eberapa waktu terakhir publik dikejutkan dengan wabah difteri yang merebak di berbagai wilayah. Penyakit yang mematikan dan menelan korban yang tidak sedikit tersebut menjadi perhatian pemerintah, sehingga pemerintah menggalakkan imunisasi massal yang disebut dengan Outbreak Response Immunization. Imunisasi yang diselenggarakan dalam tiga tahap tersebut mengangkat kembali 'peperangan' antara kalangan provaksin dan antivaksin, yang semuanya mengatasnamakan rasa sayang mereka terhadap keluarga.

Belum mereda pro kontra vaksinasasi, media massa kembali ramai kembali dengan isu yang sangat erat dengan ketahanan keluarga, yakni putusan MK terhadap permohonan judicial review pasal-pasal yang mengatur kejahatan terhadap kesusilaan yang termaktub dalam uji materi Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Salah satu hal yang menarik adalah, pemohon judicial review tersebut adalah komunitas yang mengidentifikasi dirinya dengan label pencinta keluarga. Dari kedua kasus tersebut kita bisa melihat betapa erat kaitannya kondisi unit terkecil dalam benteng masyarakat tersebut dengan wajah sebuah negara secara umum. Salah satu pemohon judicial review yang saya sebutkan di atas adalah seorang guru besar sebuah Perguruan Tinggi Negeri di bidang ilmu keluarga yang usianya sudah tidak lagi muda. Ia maju dengan berani memberi kesaksian berdasarkan kedalaman ilmunya di bidang keluarga, tersebab rasa sayangnya terhadap generasi anak dan cucunya di masa depan. Analogi yang sering digunakan para pendukung vaksin dalam menggalakkan program vaksinasi adalah penggunaan payung ketika hujan. Ketika dalam sebuah komunitas terdapat sepuluh orang, dan delapan di antaranya menggunakan payung, maka dua orang yang tidak menggunakan payung akan terselamatkan dari hujan. Namun sebaliknya, ketika hanya dua orang yang menggunakan payung sementara selebihnya tidak, dua orang pengguna payung ini akan ikut kehujanan. Perempuan yang menjalankan perannya sebagai ibu di sebuah keluarga, ibarat mengembangkan payungnya lebar-lebar. Ketika payung-payung tersebut dikembangkan dan bertemu dengan banyak payung lainnya, maka peluang seorang anak akan terjangkit penyakit fisik maupun sosial akan semakin kecil. Seorang anak yang lahir di keluarga yang baik, namun tinggal di lingkungan yang buruk, bukan tidak mungkin sedikit banyak akan terpapar hal-hal yang buruk. Begitu pula sebaliknya, seorang anak yang lahir di keluarga yang buruk namun tinggal di lingkungan yang baik, maka ia akan terpapar banyak kebaikan yang tidak ia dapati dari rumahnya. Terbentuknya sekumpulan unit keluarga yang kelak menjadi wajah suatu bangsa dan peradaban tersebut dimulai dari pembentukan pribadi-pribadi yang juga kokoh. Maka sebelum beranjak ke jenjang pernikahan, di mana beban dan tanggung jawab bertambah, memastikan diri pribadi sudah cukup bekal adalah suatu keniscayaan. Setidaknya sebagai seorang muslim, kita membutuhkan bekal di beberapa aspek yang saling berkelindan sebagaimana berikut: spiritual, mental, keilmuan, fisik, serta finansial. Dari aspek spiritual, seorang lelaki maupun perempuan yang hendak melangsungkan pernikahan hendaknya menyiapkan pernikahan sebagai bagian ibadah, yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhir. Meyakini bahwa berumah tangga adalah salah satu sarana menimba pahala, bukan sekedar pemuas nafsu atau untuk memenuhi tuntutan sosial. Aspek spiritual inilah yang menjadi landasan paling kuat ketika bahtera rumah tangga menemui siklus naturalnya; naik turun, goncangan badai, kecil atau besar, baik dari dalam maupun dari luar. Sedangkan dari aspek mental, yang perlu diperhatikan adalah kematangan pikiran dan emosi, yang sering disebut dengan istilah ‘kedewasaan’. Sebagaimana kita ketahui, salah satu kunci utama dalam mempersiapkan keluarga yang langgeng dan kokoh adalah ketika ada banyak persamaan di antara sepasang manusia ini. Ketika dua orang yang memiliki perbedaan dalam hal sudut pandang, jenis kelamin, serta latar belakang yang berbeda Allah pertemukan dalam rumah tangga, maka dibutuhkan adanya kematangan pikiran dan emosi.

39


Banyak rumah tangga berhenti perjalanannya bukan karena tidak sama-sama cinta, tapi karena kurang matangnya dalam mengelola pikiran dan emosi. Kematangan pikiran dan emosi ini akan sangat dipengaruhi seberapa pandai kita mengembalikan penyelesaian setiap konflik pada visi pernikahan yang telah disepakati. Ketika mereka saling terbentur, yang terjadi bukanlah semakin menjauh, tetapi justru akan semakin mengkristalkan visi pernikahan mereka. Buah dari mengkristalnya visi pernikahan adalah hadirnya kesatuan jiwa sepasang manusia tersebut untuk saling menopang, bahu membahu, saling mengembangkan sehingga sebuah rumah tangga bisa menjalankan fungsi sosial dan pembinaan lingkungannya. Kedewasaan, menurut Quraish Shihab dalam bukunya Pengantin al-Qur’an, menjadikan seseorang mengetahui hakikat dirinya yang sebenarnya. Ia akan menjadikan seseorang menyadari kelemahan dan keterbatasannya. Dalam konteks rumah tangga, kedewasaan itu menjadikan pasangan menyadari bahwa ketika suami memberi, ia sebenarnya juga menerima dari istrinya, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, masing-masing kuat dan lemah dalam saat yang sama. Kuat ketika memberi dan lemah ketika menerima. Persamaan ini tidak menafikkan peran kepemimpinan yang diembankan ke pundak lelaki, yang disebut dengan qawwamah. Jika dilihat dari akar katanya, qa’im berarti pelaku yang melaksanakan tugas atau apa yang diharapkan darinya. Kalau sang pelaku tersebut melaksanakan tugas sesempurna mungkin, berkesinambungan, dan berulangulang, maka dia dinamai qawwam. Dengan melihat akar kata tersebut, maka sesungguhnya makna qawwamah lebih luas dari ‘sekedar’ kepemimpinan. Di dalamnya juga tercakup pemenuhan kebutuhan, perhatian, pemeliharaan, pembelaan dan pembinaan. Oleh sebab itu, perlu disadari bahwa anugerah qawwamah yang Allah berikan pada pundak suami tidak boleh mengantarnya pada kesewenang-wenangan. Lelaki yang faham akan makna qawwamah tidak akan melakukan penyalahgunaan wewenang atas nama agama sebagaimana yang mengemuka nampak menjadi sekian data KDRT. Sebagaimana dilansir oleh Komnas Perempuan di tahun 2017, sepanjang tahun 2016 kekerasan terhadap istri menempati posisi pertama (56 %) di ranah kekerasan personal/relasi. Penyalahgunaan atau tidak munculnya qawwamah yang baik juga akan berimplikasi pada perceraian yang trennya meningkat di Indonesia sekitar 16-20 % dalam kurun waktu 8 tahun (2009-2016). Perwujudan qawwamah yang ideal akan melahirkan keseimbangan antara kedua pihak. Lelaki yang memimpin rumah tangga bak nakhoda, dan perempuan yang dididik untuk menjadi prajurit sekaligus pemimpin layaknya menjalankan tiga peran chief officer (mualim kapal) sekaligus. Ya, tugas seorang perempuan sebagai manajer rumah tangga meliputi berbagai hal teknis yang memiliki pengaruh signifikan bagi tercapainya visi keluarga. Jika sang ayah memimpikan anak-anak yang dekat dengan Tuhan, peduli pada sesama, sang ibulah yang banyak menghabiskan waktu bersama sang anak dan memberi banyak keteladanan bagaimana mewujudkan cita-cita tersebut. Kebiasaan berdialog dua arah haruslah dibangun, di mana kedua pihak saling mendengar aktif yang meletakkan pasangannya sebagai pusat perhatian, bukan membiarkan ia berbicara dengan udara dan kita berbicara sendiri di dunia maya. Meskipun kadangkala diam menjadi bahasa cinta,

40

menjadi receiver yang peka tanpa ada kata-kata pun membutuhkan latihan dalam waktu yang lama. Apabila terjadi ketidaksepakatan dalam dialog—dan itu menjadi bumbu yang menyedapkan pernikahan, pastikan tidak menghilangkan rasa sayang dan penghormatan kita pada pasangan. Tidak ada kata kalah dan menang dalam berdialog dan bermusyawarah dengan pasangan selama sama-sama meletakkan Allah swt sebagai tujuan. Tidak akan kecewa yang melakukan istikharah, dan tidak merugi yang bermusyawarah. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah wawasan keilmuan dasar, di dalamnya tercakup ilmu tentang bagaimana bertahan hidup bersama: agama, psikologi, komunikasi, sosial, ekonomi, dsb. Jika ilmu tentang pernikahan adalah ilmu tentang hidup itu sendiri, maka yang dibutuhkan adalah semangat untuk terus belajar dan siap memperbaiki kesalahan. Finansial merupakan aspek yang tak boleh luput untuk dipersiapkan . Salah satu penyebab perceraian yang signifikan adalah karena kondisi ekonomi yang kurang mapan, atau terlalu mapan sehingga mengurangi kehangatan di tengah keluarga. Era yang dihadapi para perempuan masa kini adalah era di mana perempuan juga dituntut mengisi lapangan pekerjaan. Baik untuk memenuhi kebutuhan dasar yang makin mencekik, atau tuntutan materialisme yang membuahkan sekedar rasa gengsi, atau bagian dari kebutuhan masyarakat akan kehadiran sentuhan perempuan di berbagai lapangan pekerjaan. Aspek terakhir yang juga harus diperhatikan ketika ingin berumah tangga adalah kekuatan fisik. Bagi lelaki akan menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya, penjaga visi utama keluarganya, sedangkan bagi perempuan kelak ia akan membawa dalam kandungannya selama kurang lebih 40 hari calon manusia penerus banga, menyusuinya, merawat dan menjadi teman terbaik bagi tumbuh kembang balitanya. Oleh sebab itu, ketangguhan fisik adalah hal yang harus terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya Pernikahan dan membangun rumah tangga di era digital ini memiliki ragam tantangan yang belum terpikirkan di decade-dekade sebelumnya. Maka kita lebih dari sekedar butuh pada perwujudan doa-doa yang sering dilantunkan oleh para sanak saudara dan kerabat yang hadir ketika pernikahan dilangsungkan; semoga sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah yang hadir ketika muncul ketentraman dengan melihat pasangan dan buah hati kesayangan. Mawaddah yang muncul lebih dari sekedar rasa cinta, tapi juga perasaan lapang dada menerima sepenuhnya pasangan jiwa. Terakhir adalah rahmah yang muncul di dalam hati ketika melihat ketidakberdayaan (kekurangan pasangan), dan mendorong diri kita untuk melakukan pemberdayaan. Menginginkan hal yang terbaik untuk pasangan. Rahmah, mengutip kata Quraish Shihab, yang menghiasi jiwa akan mampu membendung kebutuhan dan keinginan pribadi. Dari sana lahir pengorbanan untuk mendatangkan kebaikan bagi pasangan, tanpa perlu menyakiti hatinya. Kita lebih dari sekedar butuh atas perwujudan ketiga hal yang lahir dari jiwa manusia tersebut. Maka jangan lupakan untuk mengembalikan segala sesuatunya pada penggenggam jiwa kita, “Sesungguhnya hatihati bani Adam seluruhnya berada diantara dua jemari Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih), laksana satu hati, Ia bolak-balikkan hati tersebut sekehandaknya.” (HR. Muslim). Mendekatlah pada Allah, mintalah pada-Nya agar selalu mendekap erat keluarga kita, melimpahkan cinta dan kasih sayang yang bersumber dari-Nya, hingga proyek peradaban itu bisa memuliakan sebuah bangsa, dan berujung pada kebahagiaan yang tak fana; nirwana di ujung sana.


BUKU

PUTIH, LEBIH PUTIH, PALING PUTIH Oleh Teguh Afandi Penggiat @klubbaca, Alumni RK (Angkatan 4, Regional 3 Yogyakarta) Judul : PUTIH-Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional Penulis : L. Ayu Saraswati Penerbit : Marjin Kiri Edisi : Pertama, Juli 2017 Tebal : 254 halaman ISBN : 9789791260701

Tak perlu melakukan pengamatan besar, cukup cermati dua sampai tiga menit iklan televisi di sela-sela sinetron atau acara peak hours. Kita akan menemukan dari waktu yang singkat itu pasti ada satu atau dua iklan pemutih. Baik pemutih wajah, gigi, pakaian, lantai, kaki tangan, lipatan ketiak, hingga tungkak kaki. Sebuah usaha terus-menerus untuk membentuk framing akan pentingnya warna putih yang sudah lumrah di masyarakat. Seolah putih adalah simbol keindahan paripurna. Putih yang oleh penulis dikhususkan untuk mensifati kecerahan kulit perempuan ternyata bukan sekadar penanda cantik atau buruk semata. Ada konten rasisme yang terselubung dan kepatuhan akan artefak kolonialisme sisa Jepang dan Belanda. Hingga terbentuklah sebuah keyakinan, atau dalam bahasa L. Ayu Saraswati tentang afek dan rasa bahwa warna

putih jauh lebih baik dari warna gelap untuk kulit perempuan. Saraswati mengerucutkan pembahasan putih hanya untuk perempuan dan berkisar di ranah gender. Meskipun di era mileneal sekarang, demikian juga disadari oleh Saraswati, putih dan kulit bersinar pun diidamkan oleh kaum laki-laki. Bila dalam bahasa Saraswati melaki-lakikan istilah putih yang semula terkesan lebih feminin dengan padanan baru yakni white active. Memberi rasa maskulin dan sportif, yang berusaha menggaet lelaki tertarik dengan produk pemutih wajah. Dua alasan mengapa sosok perempuan harus selalu dibandingkan dan dipuja bentuk fisik karena, sejak bayi perempuan lebih banyak menerima komentar tentang warna kulit dibanding bayi laki-laki. Juga karena laki-laki tidak seperti perempuan, tidak

diminta baik oleh orang lain maupun kepatutan sosial untuk mempergunakan riasan wajah. (hal.203) Pembangunan persepsi dan kemudian mendarah daging hingga menumbuhkan afeksi akan keunggulan warna putih, dimulai bahkan sejak praIndonesia. Penelitian dalam buku ini mengungkapkan bahwa pembentukkan afeksi lebih untuk warna putih dimulai sejak Ramayana. Dalam epos yang tumbuh hampir sekuat agama, publik menempatkan putih, terang, bulan sebagai analogi hal-hal baik. Kecantikan Sinta disimilekan seterang bulan oleh Rama. Kenanganku akan wajahmu yang manis hidup kembali karena pemandangan sang bulan (serupa wajahmu) yang terang. (hal.43) Sebaliknya, baik dalam versi India maupun Jawa kuno, tokoh-tokoh

41


jahat diasosiasikan berkulit gelap, senada dengan tindakannya yang melambangkan aura negatif. Keyakinan kuno ini lambat laun memengaruhi bagaimana referensi kecantikan bagi perempuan. Pembentukan demikian semakin menjadi-jadi ketika masa kolonial, orang-orang kulit putih datang dengan strata sosial lebih tinggi dari pribumi. Sepanjang periode kolonial, warna kulit terang atau putih menandakan status yang lebih tinggi. (hal.70) Hal demikian terekam pula dalam memoar Hella S Haasse, Oeroeg(1948). Dikisahkan bagaimana Oeroeg yang sejatinya adalah pribumi menyaru menjadi seorang inlander lantaran perbedaan perlakuan bila sudah mengenakan atribut kebelandaan. Posisi terhormat kulit putih menjadi standar orang pribumi semacam Oeroeg di masa penjajahan. Perlakuan dalam hal hukum, ekonomi, sosial, dan penghormatan di masa kolonial, secara diam-diam mengkontruksi pikiran manusia Indonesia. Di periode ini pula, mulai bermunculan iklan produk kecantikan dalam media cetak. Sebagai bentuk budaya adopsi kolonialisme barat. Produk yang diiklankan adalah produk luar negeri dengan bintang ras kaukasian berkulit terang. Iklan ini nyatanya tidak sekadar membentuk cantik ideal bagi wanita Indonesia, sekaligus mempertebal batas rasis putih-gelap dan kontruksi gender yang sempit. Lantaran manusia bukan makhluk nokturnal dan berdarah panas, yang lebih banyak beraktivitas di suasana hari terang, tak ayal bila suasana terang lebih disukai. Suana gelap atau malam lebih untuk istirahat. Namun, menurut Saraswati yang sedikit ganjil adalah menjadikan putih atau terang sebagai standar tunggal dan menganggap kulit

42

gelap-hitam berada di urutan bawah, di tengah fakta fisiologis kulit orang Indonesia yang sebagian besar tak putih. Bahkan dalam satu wawancara, terungkap beberapa orang beranggapan orang kulit hitam dekat dengan perilaku kriminal. Gelap di Indonesia hari ini dipersepsikan menakutkan, kriminal, bau, kotor, dan aneh. (hal.188) Fondasi perihal keunggulan warna kulit putih terus menguat berkat eksposur berlebihan dalam iklan produk pemutih wajah. Tak hanya produk kecantikan impor, produk lokal dengan bintang iklan pun gencar disuguhkan. Tercatat nominal besar digelontorkan untuk iklan pemutih baik di televisi maupun majalah. Sebagai contoh Unilever menghabiskan 97 miliar untuk iklan produk pemutih sepanjang 2003. Bila dibandingkan dengan jumlah biaya iklan sampo anti ketombe yang di kisaran 72 miliar rupiah. Dalam buku ini, sempat disinggung kegagalan pembentukan putih Indonesia di era awal kemerdekaan. Pendirian Soekarno yang hendak berdikari dan bebas dari pengaruh kolonial (Jepang dan Belanda) serta anti-Barat (Amerika) mencoba menawarkan konsep putih yang benar Indonesia. Penolakan untuk menggunakan kata ‘putih’ ini, berikut penggunaan kata-kata lain untuk menandakan warna kulit terang, mencerminkan strategi era kolonial. (hal.108) Bila mengikuti istilah Tirto Adhi Soerjo dalam cerita bersambung berjudul “Nyai Ratna” di Medan Prijaji tahun 1909, menggambarkan kecantikan Nyai Ratna dengan ‘sungguh, bukan putih, tetapi kuning’. Sebuah determinasi untuk menyederhanakan cantik indonesia. Usaha pengukuhan cantik Indonesia ini kembali tumbang

bersama muncul Orde Baru yang justu sangat condong ke Amerika. Hingga sekarang muncul sebuah prespektif yang semakin kuat saja, bahwa perempuan yang memiliki kulit putih-terang bukan hanya cantik, memikat, tetapi juga lebih kosmopolitan. Lebih siap melejit dan bersaing dengan perempuan Barat. Buku ini selain mendedah bagaimana putih menjadi rujukan tingkat kosmpolitan seorang perempuan, sekaligus menegaskan bahwa dari zaman Ramayana hingga mileneal, tubuh perempuan akan selalu menjadi materi yang dikupas. Dijadikan sasaran konsumsi produk kecantikan. Termasuk pemutih. Dengan pembenaran bahwa putih memiliki nilai lebih atau nilai tukar lebih tinggi. Putih cemerlang yang bukan putih indonesia. Lantas di domain mana kita harus menyikapi gelap-terang warna kulit kita? Kita akan terus menjadi budak, bila turut labelisasi kosmopolitan dan patuh iklan kecantikan.[] Teguh Afandi, penggiat @KlubBaca


BUKU

PENDIDIKAN YANG MEMBAHAGIAKAN Oleh Adi Wahyu Adji Manajer Pembinaan RK Judul : Teach Like Finland (Mengajar seperti Finlandia) Penulis : Timothy D. Walker Penerbit : Grasindo Edisi : Agustus 2017 Tebal : 197 halaman ISBN : 9786024520441

“Strategi paling penting dalam buku ini sebenarnya adalah sesuatu yang paling sederhana: Jangan lupa bahagia.” (Timothy D. Walker) Timothy D. Walker adalah profil guru yang sangat membantu menjelaskan bagaimana kualitas pendidikan di Findlandia. Seorang guru kelas di Arlington, Masachusetts, Amerika, yang awalnya sangat antusias mencintai pekerjaannya, lalu berubah justru menjadi benci karena ketidakseimbangannya antara kerja dan hidup. Hingga akhirnya dia mendapatka kesempatan menjadi pengajar di Helsinki, Finlandia dan semuanya berubah menjadi kembali indah. Pengalaman itulah yang dituangkan dalam buku ini, Teaching Like Findland. Ada 33 strategi sederhana yang terbagi dalam 5 bagian besar tentang pendidikan Findlandia

dipaparkan dengan baik di buku ini. Namun, semua strategi itu boleh jadi tidak mudah untuk kita terapkan di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Pasi Shalberg penulis buku Finnish Lesson, “Sistem pendidikan seperti tanaman atau pepohonan yang tumbuh baik hanya di tanah dan iklimnya sendiri.” Namun, beruntung Timothy memberikan kunci utama dari kesemuanya, bagaimana proses belajar dan mengajar disertai dengan satu unsur, kebahagiaan. Kebahagiaan bukan lagi ditempatkan sebagai hasil tetapi elemen yang melekat bersamaan dengan proses pendidikan itu sendiri. Strategi yang dituliskan oleh Timothy, hampir semuanya menyiratkan hal ini, memasukkan unsur bahagia pada guru, sistem pendidikan dan otomatis pada siswa.

GURU DAN SISWA BAHAGIA “Pada hari Jum’at pukul 4.30 sore, saya sedang bekerja di ruang istirahat guru yang sedang kosong, dan sang kepala sekolah berbisik di telinga saya, “Waktunya pulang.” Pada bagian awal buku ini yaitu tentang kesejahteraan, Timothy bercerita perihal keadaaan dirinya sebagai guru di Helsinki yang sangat dijaga untuk berada pada keadaan bahagia. Mulai dari tersedianya jam istirahat 15 menit setiap 45 menit pengajaran. Memang itu adalah jam istirahat siswa. Tetapi ternyata, rekan-rekan guru Timothy menggunakan momen tersebut untuk bercengkerama, menikmati kopi, membaca surat kabar dan aktivitas ringan lainnya di lounge. Strategi lain yaitu recharge sepulang sekolah. Apa artinya?

43


Alih-alih berpikir bahwa guru yang baik adalah guru yang bekerja keras hingga melebihi jam kerja bahkan membawa pekerjaannya ke rumah, justru di Helsinki Timothy dididik untuk menyelesaikan semua pekerjaannya di sekolah tanpa harus membawanya ke rumah. Yang utama adalah adanya batasan jelas antara bekerja dan beristirahat. Namun, jangan salah persepsi bahwa para guru ini tidak bersungguh-sungguh dalam mengajar. Salah satu bentuk kesungguhannya adalah kesadaran mereka untuk berkolaborasi saling berbagi informasi dan trik pembelajaran. Jika diperlukan, sesama guru bisa saling berbagi dan saling bergantian secara sukarela mengajar di kelas rekan yang membutuhkannya. Di Findlandia siswa tidak dibebankan pekerjaan rumah yang memberatkan. Setiap 45 menit pembelajaran ada 15 menit istirahat. Dalam proses pembelajaran diupayakan pula proses pembelajaran yang aktif bergerak. Sesekali bahkan pembelajaran dilakukan di luar kelas bersentuhan langsung dengan alam. Pada bagian-bagian tertentu, siswa bisa mengusulkan materi pelajaran yang akan diberikan. Guru dituntut untuk bisa mengenal siswa dengan baik, bermain dengan mereka, merayakan keberhasilan mereka, mengejar impian kelas dan berkawan. Masih banyak strategi lain yang diungkapkan oleh Timothy di buku ini. Tak lain tak bukan semuanya berorientasi pada kebahagiaan siswa. Kondisi inilah yang kemudian berkorelasi pada kesiapan siswa menerima materi pelajaran yang diberikan. Mereka juga senang menerima dan membuat tantangan-tantangan baru yang memancing kreatifitas

44

dan kesungguhan mereka mencari ilmu pengetahuan. SISTEM PENDIDIKAN YANG MENDUKUNG Dalam perjalanannya, sistem pendidikan di Findlandia tidak sekaligus menjadi yang terbaik seperti sekarang ini. Sebagai contoh yaitu pada tahun 2014 ada Rapor Findlandia yang menunjukkan bahwa kegiatan fisik untuk anakanak dan kaum muda mendapat nilai D. Hal ini sama sebenarnya juga terjadi dengan Amerika. Namun bedanya, di Findlandia kemudian mengambil inisiatif baru yaitu sebuah program bernama : Finnish School on the Move. Program ini mendorong siswa mendalami hobi mereka yang identik dengan aktitiitas fisik di sekolah. Sekolah memberikan fasilitas dan juga kebijakan mendukung seperti penyediaan fasilitator dari siswa, waktu istirahat yang ditambah, dan lain-lain. Dalam waktu singkat kegiatan fisik siswa di sekolah mengalami peningkatan. Kebijakan penting lainnya misalnya keberadaan student welfare team yang dibentuk setiap sekolah. Isinya adalah kepala sekolah, perawat, pekerja sosial, psikolog dan guru pendidikan khusus atau siapa saja yang dapat membantu kebutuhan individual di kelas. Tim ini menjadi partner bagi para guru untuk mereka mengkonsultasikan perkembangan kelasnya. Jadilah setiap guru memandang bahwa kelasnya bukan “kelas saya� tetapi “kelas kami�. Tidak adanya sekolah swasta yang mana dampaknya tidak munculnya persaingan antar sekolah di Findlandia membuat setiap sekolah diperlakukan sama baiknya tanpa menghiraukan kondisi siswa dengan berbagai macam kualitasnya. Kualifikasi seorang guru yang harus

berpendidikan master di Findlandia juga membantu ketersediaan pendidikan yang berkualitas untuk siswa.

BAGAIMANA KITA MENGAMBIL PELAJARAN? Buku ini sudah cukup lengkap untuk dijadikan inspirasi perbaikan proses pengajaran di negeri kita. Tetapi tentu tidak ada jaminan bahwa jika sistem yang sama ini diterapkan akan menghasilkan keberhasilan yang sama baiknya. Banyak faktor lain seperti kondisi geografis, budaya, sosial, ekonomi dan politik yang tidak sama antara Indonesia dengan Findlandia. Tapi itu pun juga jangan sampai menjadikan kita tidak beranjak jadi lebih baik. Setidaknya, kita bisa sama-sama berpikir, strategi apa yang tepat untuk menghasilkan pendidikan yang membahagiakan. Entah itu datang dari guru, sekolah, orang tua atau pemerintah. Seperti Timothy sampaikan di kalimat penutup buku ini, “kebahagiaanlah yang membuat saya tetap mengajar, dan saya berkomitmen untuk mengingat dan memprioritaskannya di dalam kelas saya.


BUKU

MECCA: THE SACRED CITY Oleh Aresto Yudo Penikmat Buku, Alumni RK (Angkatan 1 Regional 1 Jakarta)

Seperti sebagian besar muslim di dunia, Ziauddin Sardar punya tempat khusus untuk Mekkah di hatinya. Karpet usang bergambar Masjidil Haram di ruang keluarga rumah masa kecilnya, kerinduan dalam mata ibunya dan guru-gurunyanya di madrasah ketika membicarakan kota suci itu membulatkan tekad Sardar bahwa dirinya tidak akan berharga jika tidak menjadikan Mekkah sebagai orientasinya dalam berkarya. Kerinduan inilah yang salah satunya mengantarkan Sardar menghabiskan 5 tahun perjalanan karirnya di Pusat Riset Haji di Jeddah. Niat Sardar untuk menulis sebuah buku mengenai Mekkah muncul ketika pada perjalanan haji-nya yang kelima, Sardar menempuh rute darat Jeddah-Mekkah dengan berjalan kaki. Bukan pengalaman berjalan kaki selama lebih dari 3 hari itu yang membekas pada Sardar. Keinsafan muncul justru ketika pada akhir perjalanannya Sardar bertemu seorang renta jamaah Somalia yang berjalan kaki selama 7 tahun untuk mencapai Mekkah. Pada titik inilah Sardar tersadar bahwa ada 2 Mekkah. Yang pertama adalah Mekkah spiritual, obyek kerinduan umat Islam yang membuat seseorang ajeg berjalan 7 tahun demi mencapainya. Mekkah kedua adalah badan Mekkah yang punya tempat dalam keberlanjutan ruang dan waktu, menjadi saksi dari "kelemahan dan

keganasan" manusia yang mengisi lembarlembar sejarahnya. Buku Sardar ini mengajak kita mencermati Mekkah yang kedua. Sardar dengan memikat menggunakan berbagai sumber untuk merunut sejarah Mekkah sejak pra Islam hingga kekiniannya di bawah kuasa Bani Saud. Sebagai penikmat sejarah, melahap detail-detail sejarah Mekkah yang disajikan Sardar sangatlah mengenyangkan. Ulasan mengenai nama siapa yang disebut dalam khutbah Jumat di Masjidil Haram dari waktu ke waktu misalnya, dapat memberikan wawasan mengenai bagaimana dinamisnya pergiliran pemegang tampuk politik Islam dan bagaimana penguasa Mekkah harus bermain cantik dalam menegaskan keberpihakannya. Lewat perjalanan sejarah Mekkah yang dijabarkannya, Sardar membangun dua argumen. Pertama, walaupun Mekkah selalu menjadi pusat Islam, kota itu tidak pernah menjadi pusat peradaban Muslim. Budaya, keilmuan dan pencapaian dari ibukota seperti Baghdad, Damaskus dan Istanbul sangat sedikit berpengaruh pada Mekkah yang menurut Sardar tetap "cupet, sempit dan cuek dengan perubahan realita yang terjadi di dunia". Ini juga mengapa sebagian besar catatan perjalanan Haji memberikan porsi yang sedikit dalam mendokumentasikan serba-serbi penduduk Mekkah yang, lagilagi menurut Sardar, "lebih sibuk dengan

soalan dunia yang jauh dari konstruk luhur yang terbangun di benak Muslim mengenai Mekkah". Kedua, lewat jalinan narasinya Sardar ingin menunjukkan berlanjutnya pergulatan antara dua Mekkah. Pergulatan yang sering kentara dalam fenomena absurd seperti bagaimana berlandas motif melindungi fokus spiritual, Bani Saud menghancurkan situs-situs warisan sejarah dan justru menggantinya dengan bangunan yang sangat materialistik seperti hotel atau mal. Sama anehnya adalah bagaimana semakin jamak jamaah haji/umroh yang merasa perlu melengkapi perjalanan spiritualnya dengan oleh-oleh badani seperti selfie atau souvenir. Dalam sebuah wawancara yang membahas buku ini Sardar ditanya "buku ini sangat menyentuh di awal, menghibur dengan paparannya tapi terasa sangat marah di akhir. Kenapa?" Sardar menjawab "bagaimana aku tidak marah? Saudi telah mengubah Mekkah menjadi Disneyland." Siapapun yang pernah mengunjungi Mekkah dan bingung melihat kenapa kota yang pusatnya adalah masjid dimana waktu sholat mengikuti bergulirnya matahari perlu membangun sebuah jam raksasa, dapat berempati dengan kemarahan Sardar.

45


ISLAM

NALAR KEWUJUDAN ALLAH SWT Oleh M Iffan Fanani Alumni RK (Angkatan 1 Regional 1 Jakarta)

S

aat membahas tentang Allah SWT, dalam kitabnya Aqidatul Muslim, Syekh Muhammad al-Ghazali menjelaskan secara ringkas bahwa “Allah” adalah “Nama mulia dari Dzat yang suci, yang kepadanya manusia beriman dan beramal. Manusia mengenali dan menyadari bahwa kehidupannya berasal dari Dia (Allah SWT) dan kepadaNya manusia akan kembali.” Penjelasan yang menempuh jalan lugas ini selaras dengan uraian Abbas Mahmoud Al-Akkad (juga seorang Pemikir dari Mesir), dalam karyanya berjudul Allah,

46

bahwa masalah wujud Tuhan pertama-tamanya adalah masalah kesadaran (personal), dimana Manusia akan selalu memiliki kesadaran, walau secara praktis itu bersifat pasang-surut, tentang hakikat dan wujud dirinya, termasuk kesadaran tentang alam semesta dan eksistensi Wujud terbesar. Syed Naquib Al-Attas, dalam karyanya Prolegomena to the Metaphysics of Islam menjelasan bahwa pengetahuan akan kebenaran, termasuk kebenaran akan alam semesta dan Penciptanya, tidak hanya datang dari hasil nalar akal atau pikiran yang bersifat empiris, sebagaimana doktrin yang dikehendaki oleh

filsafat pendidikan modern, tetapi ia juga datang dari Otoritas dan Intuisi. Otoritas adalah Wahyu yang dikabarkan oleh Rasul, sedangkan intuisi adalah suatu kecerdasan spiritual yang didasarkan pada hati. Kesadaran, sebagaimana dijelaskan Abbas Akkad, ataupun Intuisi, sebagaimana dijelaskan Naquib Al-Attas, bukanlah hal yang bertentangan dengan akal atau logika manusia, tetapi dianya justru merupakan fitur yang menjadikan manusia memiliki akal atau logika yang utuh. Sebagaimana ada banyak hal yang tidak atau belum mampu dilihat oleh akal (yang sebatas pikiran fisikal atau empirikal), sehingga


seringkali manusia juga mendapati kesalahan-kesalahan akal atau logika itu dalam mengurai sesuatu hal. Sebagaimana kata Abbad Akkad, kesadaran itu bersumber dari lahir dan batin manusia. Maka, akal atau pikiran logis dalam diri manusia yang membawa pengenalan kepada Allah SWT adalah perpaduan antara pikiran yang bersifat empiris, kesadaran personal dan/atau intuisi, yang kemudian dipandu dengan Wahyu. Selaras itu, Yusuf Qardhawi, dalam Introduction to Islam atau Madkhalu li Ma’rifatil Islam, dan Muhammad Abduh, dalam Risalah Tauhid, menyebut bahwa pengenalan kepada Allah SWT adalah sangat lekat dengan tabiat manusia pada umumnya. Manusia selalu memiliki tabiat berupa keinginannya untuk mengetahui siapa dirinya dan alam sekitarnya. Manusia, walaupun seringkali disibukkan oleh pekerjaan sehari-hari, urusan keluarga, atau urusan bisnis, pada suatu waktu akan kembali kepada pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Darimana aku dan alam semesta ini datang? Apakah aku ini tercipta dengan sendirinya dan tiba-tiba ada? Atau jika aku tidak tercipta sendiri, maka siapa yang menciptakan aku? Siapa juga yang menciptakan alam semesta ini?. Manusia kemudian menalar bahwa semua yang eksis/wujud di alam semesta ini bergantung kepada yang lain, dan yang lain ini pun juga bergantung kepada yang lain, dan seterusnya. Jika semua wujud atau eksistensi itu memiliki ketergantungan, maka tidak logis jika kumpulan mereka dapat menjadi independen atau mewujud karena dirinya sendiri. Jika semua wujud akan mati, maka tidak logis kumpulan mereka mampu menjadi penjaga alam semesta yang telah melewati berbagai masa dan kebinasaan

ini. Jika semua wujud memiliki kelemahan, maka tidak logis jika kumpulan mereka menghasilkan kesempurnaan atau keteraturan layaknya keteraturan alam semesta ini. Jika semua wujud itu, dalam hal ini manusia, tidak berkuasa sepenuhnya terhadap keinginannya sendiri, maka tidak logis jika kumpulan mereka dapat menciptakan keselarasan alam semesta. Akhirnya, jika wujud-wujud di alam semesta itu tidak mampu independen, tidak mampu abadi, tidak mampu sempurna, maka harus ada Sebab yang mengharuskan adanya wujudwujud itu, yang menjaganya, yang mengaturnya, yang memelihara, dengan sebaik-baik pengaturan alam semesta, yang Wujud Sebab itu tidak tergantung kepada adanya sebab-sebab lain. Itulah Allah SWT. Alquran sebagai Penjelas Auguste Comte, seorang positivist, berargumen bahwa seluruh upayaupaya manusia untuk memahami esensi dari segala sesuatu adalah gejala ketidakdewasaan dalam pikiran manusia. Karena manusia belum memiliki gagasan tentang sebab kejadian di alam semesta ini, seperti gempa bumi, banjir, atau wabah penyakit menular, maka manusia kemudian mencari kekuatan-kekuatan yang dianggap “Maha Kuasa� dan mengharap dan memohon kepadanya agar dilindungi dari hal-hal buruk itu. Lebih lanjut, menurut Auguste Comte, manusia mencapai tingkatan positivism ketika Manusia telah mengetahui sifatsifat alam, hukum-hukum alam, dan peraturan yang ada dalamnya, sehingga alam semesta itu berhasil mereka tundukkan, walaupun belum semuanya. Menurutnya, jika seseorang telah mencapai tahapan positivism, dia akan

menghentikan seluruh upayanya untuk menemukan Tuhan dan menyibukkan dirinya dengan pemahaman atas fenomena. David Hume juga sangat skeptis karena menurutnya Tuhan tidak pernah dapat dibuktikan dengan akal. Lebih lanjut, kepercayaan kepada Tuhan bukanlah hasil dari akal budi manusia tetapi dia lebih berangkat dari kebutuhan manusia akan kebahagiaan, ketakutan akan kematian, kesengsaraan masa depan, hingga kehausan atas pembalasan dendam. Sebagian sarjana sosial menyebut bahwa agama dengan gagasan Tuhan-nya hanyalah sebuah proyeksi dan pelarian manusia dari ketidakmampuan mereka menjelaskan fenomenafenomena alam dan masalahmasalah kehidupan yang rumit. Tudingan ini didukung dengan munculnya gagasan-gagasan baru tentang bagaimana seharusnya manusia memandang dan mempelajari alam semesta ini. Di Inggris muncul aliran “Empirism� yang menyebutkan bahwa segala sesuatu pengetahuan harus didasarkan kepada hasil pengamatan panca indera. Prof Rasjidi, dalam bukunya Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, memaparkan adanya keadaan manusiamanusia yang walaupun telah berpendidikan tinggi, mehamami banyak fenomena alam semesta, mereka tetap saja mencari-cari pertolongan ke dukun, menyerahkan sesajen, dan sejenisnya; atau juga pergi mendatangi psikiater, motivator, atau juga para guru agama, untuk menenangkan jiwa mereka. Ini semua menandakan bahwa manusia yang pada tingkatan positif pun sebenarnya masih menyisakan ketidaktahuan atas hakikat berbagai hal. Sehingga tingkatan positivism sebagaimana

47


diklaim oleh Auguste Comte tidak benar-benar ada, manusia-manusia itu akan tetap memiliki kesadaran dan/atau intuisi terhadap “Yang Maha Besar”. Sedangkan argumentasi David Hume dkk sebagiannya benar jika yang dia maksud dengan kepercayaan itu adalah kepercayaan kepada pohonpohon besar, hewan-hewan besar, dan beragam benda yang dikeramatkan. Memang karena ketidakmampuannya memahami fenomena-fenomena non-empiris, sebagian manusia mencoba melarikannya kepada hal-hal tadi yang dianggapnya memiliki kekuatan untuk mewujudkan atau mengatur fenomena di luar akal tersebut, padahal tentu saja barang-barang itu tidak mendatangkan pengaruh sama sekali terhadap fenomena yang ada. Tetapi argumentasi Kewujudan Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Islam, selain dari nalar dan kesadaran manusia yang obyektif, dia utamanya ditopang oleh pernyataan-pernyataan dari Allah SWT itu sendiri, yang turun dalam bentuk Alquran, melalui RasulNya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Alquran menjelaskan kewujudan Allah SWT secara berulang-ulang dalam Alquran, dan menjadi topik utama dalam keseluruhan Alquran. Dalam penjelasan Naquib Al-Attas, Alquran adalah Otoritas, salah satu sumber kebenaran. Tetapi sebagian kalangan akan membantah, "Membuktikan kewujudan Allah SWT dengan ayat Alquran (Firman Tuhan) adalah kesalahan dalam berargumen". Mereka menyebutnya sebagai bentuk kekeliruan logika berjenis Circular Reasoning atau Circle in Proving. Karena justru Tuhan itu yang sedang diuji kebenarannya, maka perkataan-Nya (dalam

48

Alquran) tidak dapat digunakan untuk membuktikan keberadaanNya. Ada yang luput dari kritikkritik sejenis di atas. Sebelum kita sampai pada keyakinan untuk mengambil isi Alquran, yaitu dalam ini adalah tentang kewujudan Allah SWT, Alquran itu sendiri sudah hadir atau mewujud sebagai sesuatu yang memuaskan akal manusia bahwa dia adalah ucapan Dzat Yang Maha Besar, bukan dari sesuatu wujud yang lemah. Alquran melampaui apa yang bisa dipikirkan dan dihasilkan manusia, yaitu tentang gambaran alam ghaib, kekuatan bahasanya, kisah sejarahnya, keindahannya, keselarasannya, rumusan hukum dan kebijaksanaanya, dan segala kesempurnaannya. Alquran benar-benar menjadi representasi perkataan Dzat Tertinggi, dan tidak memiliki satu kelemahanpun yang mengisyaratkan bahwa dia adalah perkataan manusia atau mahkluk lain. Sehingga sudah berlalu ribuan tahun, upaya-upaya manusia penentang untuk merendahkan atau mendistorsinya tidak pernah berhasil apalagi untuk menirunya atau membuat semisalnya satu surat saja. Dengan fitur Alquran itu, maka itu sudah menjadi bukti yang kuat bagi manusia yang berpikir, yang menggunakan akalnya, untuk menyadari bahwa isi Alquran itu sudah kredibel untuk kemudian menuju kesimpulan-kesimpulan tentang Allah SWT. Kebenaran Alquran, selain dikonstruksi oleh kualitasnya, juga didukung oleh figur yang membawanya yaitu Rasulullah SAW. Bagi orang-orang yang hidup semasa dengan seorang Rasul, maka bukti kebenaran itu akan mudah mereka lihat

karena mereka dapat melihat sendiri gerak-gerik dan tingkah laku Rasul itu dari dekat, termasuk melihat langsung mukjizat yang dimilikinya. Mereka juga dapat mendengar sendiri Alquran yang dibawa oleh Rasul dari Allah SWT, meresapi maknanya, merasakan hikmah turunnya ayat itu, langsung pada saat ayat diturunkan. Sedangkan bagi orang-orang yang hidup setelahnya, dimana mereka tidak menyaksikan langsung zaman kerasulan itu, bukti kerasulan datang dari berita yang mutawatir, yaitu berita yang disaksikan oleh banyak orang dengan mata mereka sendiri, dan mereka semua memberi kesimpulan yang sama atas apa yang dilihatnya, dan mustahil mereka dapat berdusta karena fakta atau berita itu telah pula disaksikan oleh banyak orang yang lain. Dalam Islam, metode pemeliharaan orisinalitas materi ajaran agama ini dijaga dengan rapi dan ketat. Sehingga Alquran dan/atau risalah kenabian yang menjelaskan kewujudan Allah SWT itu dapat diterima dan dipertanggungjawabkan secara akademis dan meyakinkan logika kalangan awam. Membahas kewujudan Allah SWT adalah hal terpenting, termasuk dalam hal ini adalah sifat-sifat-Nya, perintah dan larangan-Nya. Kenapa keimanan kepada kewujudan Allah SWT menjadi topik utama, karena dia adalah akar dari pasang surut kehidupan manusia dan masyarakat. “Kemusyrikan adalah sarang kebatilan” kata Syekh Yusuf Qardhawi. Seperti pula sebuah pepatah ““Bagaimana bisa aku meragukan keberadaan Tuhan? Karena jika Dia tidak ada maka istriku akan menghianatiku dan pembantuku akan merampokku.”


ISLAM

MUTIARA DI ANTARA BEBATUAN Oleh: Mohammad Nuryazidi Alumni Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang - Alumni RK (Angkatan 1 Regional 1 Jakarta)

“Muhammadun basyarun laa kal basyar, bal huwa kal yaquti bainal hajari�

D

emikian bunyi penggalan bait syair yang biasa dibaca di kampung saya selepas shalat tarawih. Arti penggalan syair tersebut menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW itu manusia, tetapi tidak seperti manusia. Beliau seperti mutiara di antara bebatuan. Dan benar saja, membaca

sejarah Nabi Muhammad SAW memang serasa bukan membaca sejarah seorang manusia. Muhammad tumbuh di dataran Hijaz yang merupakan salah satu landscape paling keras di muka bumi. Oleh karena itu, dua peradaban besar pada waktu itu, Romawi dan Persia, sama sekali tidak tertarik untuk menguasainya. Berbeda dengan daerah Arab selatan (Yaman dan Oman sekarang) yang menjadi daerah rebutan kedua peradaban besar tersebut. Sejarah mencatat, pada

akhirnya daerah Arab selatan dikuasai oleh Persia. Di luar keadaan alam yang sangat keras, budaya orang Suku Quraisy pada waktu itu sangat terbelakang, dengan menggunakan istilah mereka sendiri, disebut sebagai budaya jahiliyah, budaya kebodohan. Tinggal berdampingan dengan rumah suci Allah, Ka'bah, kelakuan Suku Quraisy pada waktu itu sungguh sangat memalukan. Mereka mengotori Ka’bah dengan patung-patung berhala yang menjadi sesembahan mereka.

49


Akibat tuntutan ekonomi, tidak jarang berhala-berhala itu mereka makan karena memang terbuat dari roti. Terhadap perempuan, perlakuan mereka sungguh keterlaluan. Mereka mengubur anak-anak perempuannya hidup-hidup karena malu dan tak segan menjadikan isteri mereka barang taruhan di ajang perjudian. Dengan latar belakang seperti itu, Allah tetap bersikukuh, Nabi pamungkas-Nya lahir di dataran Hijaz yang keras bertepatan dengan saat peradaban mereka jatuh pada titik terendah. Muhammad ibnu Abdullah lahir pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 Masehi. Kelahiran beliau sesungguhnya memang sudah dijanjikan kepada semua nabi yang telah diutus sebelum beliau. Karenanya, pendeta nasrani shalih dari Kota Busyra, yang bernama Bahira langsung mengenali Muhammad kecil sebagai calon Nabi terakhir ketika Abu Thalib membawanya ke Syam. Di Persia, beliau ditunggu sebagai Astvat-ereta, pelindung iman Zarathustra. Di Tibet, kelahiran beliau dinanti sebagai Budha Maitreya, yang memiliki tubuh semurni emas. Di India, Nabi terakhir itu dinanti sebagai Malechha Dharma. Dalam Al Quran sendiri telah diisyaratkan bahwa kenabian Muhammad adalah jawaban dari doa dua nabi mulia yaitu Ibrahim dan Ismail, setelah

50

keduanya selesai membangun Ka’bah. Kedua nabi tersebut berdoa agar dikirimkan nabi yang lahir di sekitar Ka’bah untuk menyampaikan ayatayat Allah, mengajarkan kitab dan hikmah serta menyempurnakan akhlak (QS 2:129). Dengan latar belakang geografis yang keras dan peradaban yang menyedihkan, Nabi Muhammad SAW menjadi tumpuan harapan seluruh umat manusia. Beliau adalah nabi terakhir dengan misi dakwah yang paling panjang baik dari dimensi ruang maupun waktu. Sebuah tugas yang maha berat. Untuk menggambarkannya, saya mencoba membandingkan tugas beliau dengan tugas Nabi Musa AS. Sebagai nabi yang paling banyak diceritakan dalam Al Quran, misi dakwah Nabi Musa SAW kita ketahui sangat menantang. Musuh Nabi Musa AS yang paling terkenal tentu saja Fir’aun, penguasa paling sukses dan kuat di Mesir. Sebagai penguasa Mesir, kemampuan Fir’aun dalam hal pemerintahan sulit dicari tandingannya. Ia tidak pernah sekalipun kalah dalam peperangan. Fir’aun sangat piawai menjaga stabilitas politik dan keuangan negerinya secara kokoh. Ada satu lagi hal kecil yang mungkin jarang orang tahu, Fir’aun tidak pernah sekalipun sakit sejak ia kecil sampai ia mati tenggelam di Laut Merah.

Kesombongan Fir’aun sampai pada puncaknya ketika ia mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi. Melawan Fir’aun, ternyata nabi sekuat Musa pun keder, terlebih yang beliau lawan adalah orang yang pernah mengasuhnya sejak beliau bayi. Selain sebagai pemimpin yang sangat berkuasa, Nabi Musa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kebengisan Fir’aun. Untuk membangun proyek-proyek infrastruktur Mesir, Fir’aun memperbudak Bani Israil dengan cara yang sangat kejam. Bahkan karena takut kekuasaannya akan direnggut, Fir’aun tega membunuhi bayi laki-laki dari Bani Israil. Cerita tentang Fir’aun itu sekedar ingin menggambarkan betapa misi dakwah Nabi Musa melawan raja Mesir itu merupakan sesuatu yang berat luar biasa. Selain Fir’aun, Nabi Musa AS juga masih memiliki musuhmusuh sampingan seperti Haman, Qarun dan Samiri. Oleh karena itu, untuk menghadapi musuhmusuhnya itu Nabi Musa AS meminta kepada Allah untuk dibantu oleh seorang side kick, yaitu saudaranya Harun yang kemudian juga diangkat menjadi nabi. Semacam Robin untuk Batman. Sebagai informasi, ladang dakwah Nabi Musa terbatas pada kaumnya, yaitu Bani Israil. Di luar itu, pada masa Nabi Musa ada banyak nabi lain


yang diutus untuk kaumnya masing-masing namun tidak diceritakan dalam kitab suci. Selanjutnya, pasca kenabian Musa AS ada banyak nabi penerus beliau yang diutus kepada Bani Israil, mulai dari Nabi Daniyal, Nabi Samuel, Nabi Uzair, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan seterusnya sampai Nabi Isa.

berarti beliau bukan nabi. Sebuah jebakan intelektual yang sangat rapi karena secara logika ketika seseorang ingin meyakinkan orang lain tentu dia akan mengungkapkan fakta sedetil mungkin. Tapi yang terjadi seperti kita ketahui bersama bahwa cerita Al Quran tentang ashabul kahfi tidaklah begitu detil.

Mari kita kembali ke tokoh utama tulisan ini, Nabi Muhammad SAW. Muhammad bin Abdullah diutus sebagai nabi seorang diri, dengan misi dakwah untuk menyebarkan agama tauhid dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kompleksitas dakwah Nabi Muhammad tak kalah problematik. Bukan hanya berdakwah kepada para penyembah berhala yang jahiliyah, Nabi Muhammad SAW juga berdakwah kepada para intelektual dari kalangan Yahudi dan Nasrani, karena beliau adalah nabi terakhir yang menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya.

Satu fakta lagi yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang benar-benar makhluk istimewa. Dakwah nabinabi sebelum beliau tentu saja penuh tantangan. Sebagaimana cerita Nabi Musa di atas, ending para musuh beliau berakhir dengan cerita memilukan: Fir’aun dan Haman ditenggelamkan di laut Merah; Qarun dibenamkan ke perut bumi; dan Samiri diusir dari kaumnya. Pun umat Nabi Luth yang keterlaluan melakukan tindakan homoseksual dihujani dengan batu yang telah tertulis nama-nama korbannya. Tapi hal itu tidak terjadi dengan para pembangkang di umat Nabi Muhammad SAW. Cerita beliau dilempari batu di Thaif yang membuat para malaikat penjaga gunung geram menunjukkan betapa kasih sayang beliau melebihi sifat malaikat. Demi menyaksikan kekasih Allah dilempari batu oleh penduduk Thaif, para malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk menghantam penduduk Thaif dengan gunung-gunung yang mereka jaga, dengan izin Allah tentu saja. Tapi Nabi

Saya tak tahan untuk tidak menulis contoh tentang asbabun nuzul surat Al Kahfi sebagai salah satu ilustrasi kompleksitas dakwah Nabi Muhammad SAW menghadapi kaum intelektual. Para pendeta Yahudi pada waktu itu bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang kisah ashabul kahfi. Jika saja nabi Muhammad SAW dapat menceritakannya secara detil,

Muhammad SAW yang mulia justru mencegahnya bahkan mendoakan penduduk Thaif agar keturunan mereka beriman kepada Allah. Sebagaimana telah disebutkan di atas, periode dakwah Nabi Muhammad merupakan periode dakwah paling panjang di antara semua nabi yang lain, yaitu sejak pertama kali beliau mendapatkan wahyu di Gua Hira sampai dengan hari kiamat nanti. Dengan periode umur Nabi Muhammad SAW yang sangat singkat, misi beliau serasa seperti mission impossible. Namun apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW untuk menyelesaikan misi beliau? Beliau melakukan kaderisasi. Beliau menyiapkan sahabat-sahabatnya untuk meneruskan dakwah. Secara berantai, tugas dakwah para sahabat diteruskan para Tabiin, para Tabiit tabiin, dan seterusnya, yang sesungguhnya sampai pada kita. Inilah sesungguhnya inti tulisan tentang Nabi Muhammad SAW sebagaimana uraian di atas. Kita, yang beruntung dijadikan Allah sebagai umat Nabi Muhammad SAW, yang beliau cintai sampai nafas terakhirnya, punya kesempatan untuk membalas cinta beliau. Wujud rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW harus dibuktikan dengan meneruskan misi dakwah beliau, mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamiin.

51


ISLAM

RELASI MUSLIM DAN NON-MUSLIM MENURUT SYEKH YUSUF QARDHAWI DALAM pendapat, kecuali orang yang dirahmati

Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka” (QS Hud 118-119). Oleh M Iffan Fanani Dalam ayat lain: “Dan jikalau Tuhanmu Alumni RK (Angkatan 1 Regional 1 Jakarta) menghendaki, tentulah beriman semua ebagaimana dikutip oleh Menurut Syekh Yusuf Qardhawi orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia Syekh Yusuf Qardhawi, ada beberapa landasan supaya menjadi orang-orang yang Syekh Muhammad alteologis untuk mendudukkan beriman semuanya?” (QS Yunus 99). Ghazali, seorang ulama dari relasi muslim dengan nonUniversitas Al-Azhar Mesir, pernah muslim. Pertama, Perbedaan Allah SWT telah menciptakan manusia menjelaskan bahwa konsep agama di antara anak manusia untuk berbeda setelah memberikan akal, kebebasan, dan kehendak kepada toleransi dalam agama adalah adalah kenyataan yang gagasan yang orisinil dari Islam terjadi karena kehendak Allah mereka semua. (pada awalnya), dimana manusia SWT, yang tentu melekat di Kedua, Keyakinan muslim adalah tidak akan menemukan penegasan sana hikmah-hikmahnya. bahwa keadilan Allah SWT itu mencakup dan kekuatan konsep ini di luar Sebagaimana firman-Nya: ajaran Islam. Jelas bahwa ummat "Jikalau Tuhanmu menghendaki terhadap keseluruhan hamba-Nya, baik Islam adalah pewaris teks-teks tentu Dia menjadikan manusia dia itu muslim maupun non-muslim. Sebagaimana Firman Allah SWT, “Dan keagamaan yang memerintahkan ummat yang satu, tetapi janganlah sekali-kali kebencianmu dan mengajurkan toleransi. mereka senantiasa berselisih

‫الصحوة االسالمية من المراهقة الي الرشد‬

S 52


terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS Al Maidah 8). Dengan dasar ini maka seorang muslim tidak akan berpihak atau bias hanya kepada orang yang dia sukai dan bersikap aniaya kepada orang yang dibencinya. Tetapi dia akan memberikan hak kepada pemiliknya, baik dia itu seorang muslim atau nonmuslim, kawan ataupun lawan. Ketiga, Menjadi keyakinan muslim pula mengenai kemuliaan manusia sebagai manusia, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anakanak Adam.” (QS Al-Isra 70). Sebagaimana pula riwayat Imam Bukhari, dari Jabir ra, ketika Rasulullah SAW berhenti dan berdiri untuk menghormati jenazah yang sedang lewat, kemudian para Sahabat Nabi berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya itu adalah jenazah orang Yahudi”, maka Rasulullah SAW bersabda “Bukankah dia tetap seorang manusia”.

bagaimana peradaban manusia ini akan meninggi jika disana tidak muncul keadilan dan penghormatan satu dengan yang lainnya. Kerja sama antar ummat beragama merupakan kebutuhan yang penting bagi kehidupan di dunia ini, terlebih kerja sama dengan ummat agama lain yang hidup dalam satu wilayah atau negara yang sama, yang bersama-sama merasakan perjuangan dan pahit getirnya hidup di negara tersebut. Persaudaraan seagama memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi keberadaannya tidak menafikan adanya persaudaraan-persaudaraan yang lain, di antaranya persaudaraan setanah air dan persaudaraan sebangsa.

Syekh Yusuf Qardhawi mengajukan setidaknya 4 ruang dimana ummat beragama yang berbeda dapat atau seharusnya saling bekerja sama: Pertama, Interaksi antar agama yang fokus kepada nilai-nilai universal, dimana yang disampaikan adalah nilai-nilai yang bersifat Keempat, Bahwa perhitungan universal, yang dipaparkan (atau pembalasan) terhadap adalah titik-titik persamaan kesesatan dan kekafiran yang dan bukan perbedaan atau dilakukan oleh manusia tidak pertentangannya. Dalam dilakukan di Dunia ini, akan pandangan penukil (Iffan tetapi nanti di Akhirat. Dan Fanani), nilai universal ini tidak pula perhitungan itu banyak mewujud pada halmenjadi wewenang manusia, hal seperti pengelolaan tetapi itu menjadi wewenang pekerjaan, semangat inovasi, Allah SWT yang Maha Bijaksana, keadilan, tolong menolong, dan Adil, Lembut, dan Mengetahui. sejenisnya. Realitas perbedaan itu memberikan keadaan bagi ummat manusia untuk dikelola sebaik mungkin, sehingga akhirnya menghasilkan kehidupan dunia dengan nilai tertinggi. Sulit difahami

mereka yang tidak ingin diatur, kaum nudis, kaum homoseksual, seks bebas, dll. Maka orang-orang beragama harus satu barisan untuk menangkal kehancuran peradaban manusia karena penyakit-penyakit sosial itu. Ketiga, Kaum agama harus bersamasama membela keadilan dan kaum yang lemah. Keadilan dan pembelaan terhadap kaum lemah adalah agenda yang diamanahkan Tuhan. Orang yang tidak adil, dzolim, penindas, adalah orang-orang yang sombong dan melampui Tuhan. Mereka hendak menjadikan hamba Allah sebagai hamba mereka. Maka ummat beragama bisa dalam satu barisan untuk melawan ketidakadilan dan kedzoliman itu. Keempat, Dakwah ini perlu membangun Toleransi, bukan Fanatisme. Yang harus diusung adalah penebaran semangat toleransi, kasih sayang, dan lemah lembut, bukan fanatisme, kekasaran dan kekerasan, dalam interaksi antar ummat beragama. Toleransi agama diperlukan sebagai usaha untuk menciptakan suasana persaudaraan antar manusia, yang itu penting bagi peradaban manusia, dalam satu negara, satu bangsa, termasuk penting bagi penyelesaian masalahmasalah internasional yang memanas dewasa ini. Dalam internal ummat Islam, kesadaran untuk hidup bekerja sama dan bertoleransi dengan orangorang di luar Islam adalah perwujudan kematangan dakwah Islam yang akan membawa ajaran-ajaran Islam kepada cakupan yang tingkatan yang lebih jauh lagi, sehingga menjadi nyatalah Islam itu sebagai rahmat dan petunjuk bagi peradaban manusia.

Kedua, Kaum agama harus bersama-sama mengatasi kaum ateis, anti agama, atau kaum dengan faham kebebasan. Mereka inilah yang sebenarnya mengancam tatanan peradaban manusia,

53


PESAN GURU

“K

BERKARYA DENGAN SISTEM

Drs. Musholi

atakanlah Turki saat ini dapat menjadi contoh keberhasilan kalangan Islam dalam menata negara, sehingga dia menjadi negara yang sejahtera, maju, tertib, dan menawarkan kebahagiaan bagi rakyatnya. Maka pertanyaannya, apakah valid bahwa keberhasilan mereka itu datang (semata-mata) dari “Jumlah Jama’ah Sholat Subuh di Masjid yang meluber layaknya Jama’ah Sholat Jum’at” sebagaimana klaim orang-orang yang banyak beredar di media sosial? Dari bacaan-bacaan dan kunjungan saya ke Turki, saya justru mendapati bahwa kemajuan yang mereka capai adalah bagian dari pembangunan sistem, perencanaan yang matang, penghitungan yang presisi, penerapan model kerja yang baik, hingga etos kerja yang giat. Klaim di media sosial itu perlu diluruskan kepada pemahaman yang lebih komprehensif, agar tidak mengelirukan ummat dalam menjalani dan menyelesaikan tantangan kehidupan. Contoh terdekat akan pentingnya sistem dapat pula dilihat dari keberhasilan transformasi PT Kereta Api Indonesia dibawah kepemimpinan Bapak Ignatius Jonan, seorang non-muslim. PT Kereta Api Indonesia telah berubah dengan organisasi, kinerja, dan pelayananan yang baik. Proses transformasi itu bukan tiba-tiba datang, tetapi dia buah keteguhan dan keyakinan dari para penggerak perubahan di PT KAI, yang diwujudkan dengan kerja keras dalam penataan sistem, perbaikan remunerasi, penyusunan laporan yang akuntabel, penilaian kinerja secara terukur, dan sederet perbaikan keorganisasian lain yang berlangsung selama hampir lima tahun. Dan menariknya, perbaikan kinerja kereta api ini, yang bersifat sistem dan organisasi, telah pula menjadi jalan bagi musnahnya kemungkaran-kemungkaran dalam ummat yang sebelumnya banyak terjadi pada lingkungan stasiun dan kereta, seperti copet, pelecehan seksual, buang sampah sembarangan, keengganan untuk mengantri, pembobolan pagar stasiun, penipuan, penyuapan petugas stasiun, hingga vandalism terhadap fasilitas publik. Ceramah-ceramah agama memang penting untuk membina ummat. Tetapi kesuksesan membangun sistem dan fasilitas publik yang baik ternyata menghantarkan pula kepada peradaban manusia yang baik, dan mungkin itu dapat dilakukan dengan lebih efektif. Peribadatan Sholat adalah sesuatu yang elementer, dia adalah tujuan penciptaan, misi tertinggi, pembangun nilai, dan juga sumber motivasi dan keyakinan terbesar. Orang-orang harus selalu mengorientasikan hidupnya kepada Allah SWT. Tetapi dalam pengelolaan negara atau karya keummatan, Allah SWT juga mensyaratkan untuk membangun sistem, merencanakan dengan baik, atau juga menata organisasi. Mewujudnya manusia yang tunduk syahdu dalam sholatnya, ikhlas hatinya, sekaligus baik kinerjanya, professional, kokoh sistemnya, atau juga kuat kepemimpinannya, adalah bentuk keparipurnaan manusia dalam melaksanakan amanah-amanah kekhalifahan Allah SWT di muka bumi.

54

54


IDEALISME KAMI Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini, sementara kita hanya menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci; bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu. Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia; tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekadar ucapan terima kasih. Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah, Pencipta alam semesta

55


56

Majalah Lentera Rumah Kepemimpinan - Edisi Januari 2018  

Sebuah karya Kolaboratif dari dan oleh Alumni Rumah Kepemimpinan untuk Indonesia

Majalah Lentera Rumah Kepemimpinan - Edisi Januari 2018  

Sebuah karya Kolaboratif dari dan oleh Alumni Rumah Kepemimpinan untuk Indonesia

Advertisement