Page 31

31

Jalan Sedekah MAS MENG

K

ita tidak tahu apa yang terjadi setelah hari ini, maka menjalani kehidupan sekarang dengan terus memperbaiki diri adalah sebuah pilihan tepat dan selalu optimis menjalaninya”. Filosofi itu, kiranya tepat untuk menggam­ barkan sosok Mardiono ketika manjalani ke­ hidupannya. Mardiono lebih suka dipanggil Mas Meng. Sosok sederhana yang setia mengi­ kuti alur kehidupan dengan rasa optimis. Dina­ mika kehidupan dengan ombak dan badainya, dijalani dengan senyuman. Mas Meng, seakan tak rela jika garis hidup yang ia lakoni beririn­ gan dengan kesedihan. Ayah tujuh anak itu, su­ dah amat kenyang mengunyah getir saat masih hidup di jalanan. Sudah beragam profesi dijalani. Dari men­ jadi jasa penagih utang di Jakarta, hingga jadi pemulung. “Mengalir saja, gak usah ngeluh. Nikmati tiap episodenya”, tuturnya. Temannya banyak, silaturahimnya luas. Anak jalanan, preman, sampai yang tampak alim dan juga ulama, Mas Meng bergaul tulus. “Jangan memasang benteng baja dalam ber­ teman, Kanjeng Nabi Muhammad saja tak me­ milih dengan siapa bergaul”, tandasnya lagi. Lelaki asal malang itu, kini menjalani aliran sungai kehidupannya di Bali. Takdir memper­ temukannya dengan Brenda Lynn Ritchmond, perempuan asli Amerika yang jatuh hati ke bumi Indonesia. Bersama istrinya, ia diamanahi tujuh anak dan satu anak angkat. Sang istri pu­ nya nama muslim Fatimah, tapi di Bali akrab disapa Mba Brenda.

www.pppa.or.id

Edisi: 002 Tahun V/Mei 2012/Jumadil Akhir 1433

Majalah DAQU, Edisi: 002 - Tahun V - Mei 2012/Jumadil Akhir 1433 H  

Majalah DAQU, Edisi: 002 - Tahun V - Mei 2012/Jumadil Akhir 1433 H terbitan PPPA Daarul Qur'an

Majalah DAQU, Edisi: 002 - Tahun V - Mei 2012/Jumadil Akhir 1433 H  

Majalah DAQU, Edisi: 002 - Tahun V - Mei 2012/Jumadil Akhir 1433 H terbitan PPPA Daarul Qur'an

Advertisement