Issuu on Google+

Ri

u et AHIRU BS letin

Winter Januari 2012 Volume 02

Akhir Minggu

Growing Crystal http://sendai.ppijepang.org


Sumber gambar sampul: SnowCrystals.com


Catatan Redaksi

|1

CATATAN REDAKSI Ilmu pengetahuan merupakan kunci penting dalam melanjutkan kelangsungan hidup manusia. Teknologi berkembang untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya alam. Seiring dengan berkembangnya teknologi yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan sosial manusia, para peneliti mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mengubah dunia menjadi tempat hunian yang lebih baik. Terkait hal ini, PPI Sendai dengan penerbitan BuSet AHIRU PPIS mencoba untuk sedikit berkontribusi dengan memberikan wawasan dan perspektif baru masa depan. Dengan mengangkat tema “Growing Crystal� di edisi kedua, buletin ini diharapkan menjadi perwujudan harapan kami untuk memunculkan keindahan dan daya tarik sebenarnya dari sains dan teknologi layaknya kristal-kristal salju yang tumbuh indah di musim ini. Kami mengharapkan buletin ini dapat diterima dengan baik melalui semangat yang kami usung, AHIRU: ilmiAH, mutakhIr, Revolusioner dan popUler! Sendai, Januari 2012

Penanggung Jawab: Ahmad Ridwan Tresna Nugraha Pemimpin Redaksi: Dwi Prananto

Tim Editor: Ahmad Ridwan Tresna Nugraha Ikhtiar

BuSet AHIRU diterbitkan setiap musim di akhir minggu oleh Persatuan Pelajar Indonesia Sendai (PPI Sendai)

Tim Desain: Dwi Prananto M. Irka Irfa Darojat

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Redaksi BuSet AHIRU


2|

Daftar Isi

3

Ahmad-Ridwan Tresna Nugraha: Dari Sebatang Pensil: Kontribusi Fisika Teori dalam Mewujudkan Perangkat Elektronik Berbasis Karbon 5

8

Alimansyar: Pandangan Kekotoran Masyarakat Jepang Modern dalam Ritual Penyucian Diri Shinto: Studi Kasus di Kuil Takekoma 13

15

Bambang Winarta: Development of New Solitary Wave Generation System

Atas Pracoyo: Faktor-Faktor PenentuPopulasi Kerang di Air Payau: Tinjauan Hidrolika Ikhtiar Spintronics: Era Baru Penyimpanan Data


Research Trend

Komunitas fisikawan teoretis saat ini terutama terfokus pada dua cabang besar, yaitu fisika material (condensed matter) dan fisika partikel. Bidang yang pertama membahas interaksi antarpartikel dalam skala nanometer hingga skala makro, misalnya bagaimana elektron berinteraksi sehingga kita bisa memutuskan suatu material bersifat konduktor atau insulator. Sementara itu, bidang yang kedua membahas aspek yang lebih fundamental, yaitu apa dan bagaimana partikel-partikel paling kecil menjadi “batu bata� penyusun alam semesta. Mari kita tilik satu bagian kecil dari kontribusi fisika teori dalam perkembangan bidang fisika material, terutama terkait salah satu material yang dalam dua dekade belakangan ini menjadi hot topic, yaitu carbon nanomaterials. Kita tentu tidak asing lagi dengan material karbon. Setidaknya setiap hari kita menulis

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita mundur dulu jauh ke belakang, di tahun 1959. Saat itu, fisikawan teoretis kenamaan Richard Feynmann melontarkan pernyataan yang melegenda, “There's plenty of room at the bottom!� Pernyataan ini telah menjadi inspirasi berbagai generasi fisikawan untuk mengkaji material-material pada skala nanometer yang kemudian memicu perkembangan nanosains dan nanoteknologi. Dengan mempelajari bagaimana partikelpartikel di dalam suatu material berinteraksi pada skala nanometer, kita dapat memanfaatkannya untuk mengambil sifatsifat fisis yang luar biasa yang tidak ditemukan pada skala makro. Secara khusus untuk material karbon sendiri, mundur lebih jauh lagi ke belakang sebelum Feynmann, ada Phil Wallace yang di tahun 1947 merumuskan teori sifat elektronik grafit. Tanpa disadari dirinya sendiri sebenarnya ia telah memprediksi keberadaan graphene, yaitu selembar grafit setipis lapisan atom yang pada tahun 2004 dikonfirmasi oleh Andre Geim dan Kostya Novoselov, peraih penghargaan Nobel Fisika tahun 2010. Sifatsifat grafit dan graphene pula yang menjadi landasan dari hipotesis adanya material karbon lain dalam bentuk tabung bernama carbon nanotube (CNT) yang ditemukan pada 1991 oleh Sumio Iijima, meskipun saat itu graphene sendiri belum dikonfirmasi oleh eksperimen. Tiga material karbon yang telah disebutkan ini, grafit, graphene, dan CNT membentuk kelas material tersendiri yang menempatkan

karbon sebagai unsur kimia yang unik karena memiliki alotrop pada seluruh dimensi, baik itu 1D (CNT), 2D (graphene), maupun 3D (grafit). Masing-masing dimensi material memiliki sifat-sifat elektronik yang menarik. Grafit adalah semimetal, bersifat konduktor. Graphene juga semimetal, tetapi lebih mengarah untuk dimanfaatkan menjadi semikonduktor. Sementara itu, CNT dapat bersifat sebagai semikonduktor ataupun konduktor bergantung pada struktur geometrinya.

Tiga macam struktur CNT: zigzag, chiral, dan armchair. Arah penggulungan lembaran graphene menjadi CNT akan menentukan struktur ini. Masing-masing kategori dapat menjadi semikonduktor ataupun konduktor, kecuali armchair CNT yang secara teoretis diprediksi bersifat konduktor. Dengan mengatur bentuk CNT, kita memiliki lebih banyak kebebasan dalam mendesain perangkat elektropnik yang sesuai dengan keperluan. Tentunya hal ini menjadi salah satu keunggulan material karbon dibandingkan silikon yang masih menjadi elemen utama perangkat elektronik saat ini.

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Memang benar bahwa teori-teori fisika itu seringkali sulit dipahami. Untuk merumuskannya, para fisikawan butuh waktu berpikir yang sangat lama dan kadang menjurus pada rasa frustasi. Namun, anggapan bahwa secara praktis fisika teori kurang bermanfaat itu tidaklah tepat. Hukumhukum alam yang coba dituliskan dalam rumusan matematis oleh para fisikawan, meski hanya tertulis dalam secarik kertas dengan bantuan sebatang pensil, tak jarang menghasilkan prediksi pemanfaatan suatu material dan energi yang bermanfaat bagi kehidupan di masa depan.

dengan pensil, itu artinya kita berurusan dengan grafit yang tersusun atas unsur karbon. Sering kita menikmati hidangan sate yang sedikit gosong. Warna hitam pada sate pun berasal dari karbon. Rupanya karbon ada di mana-mana. Pertanyaannya, pernahkah kita terpikir karbon dapat menjadi penyusun utama perangkat elektronik di masa depan?

Sumber: ART Nugraha, 2010, Master Thesis, Tohoku University

F

isika? Teori? Mendengar dua kata ini, pikiran kita mungkin langsung melayang pada sebuah cabang ilmu yang sering dipandang sedikit manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari. Konsep yang abstrak disertai rumus-rumus matematis yang bisa membuat sakit perut adalah anggapan masyarakat secara umum terhadap fisika teori. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak juga sepenuhnya benar.

|3


4|

Research Trend

Sumber: ART Nugraha, 2010, Master Thesis, Tohoku University

Karakterisasi CNT salah satunya dilakukan dengan spektroskopi Raman. Hasil perhitungan fisikawan teori telah membantu para eksperimentalis menentukan diameter CNT dengan menganalisis kurva spektrum Raman. Gambar kiri adalah ilustrasi intensitas laser yang dihamburkan CNT dalam proses spektroskopi Raman sebagai fungsi dari frekuensi mode getaran pada CNT. Mode RBM terutama memberikan informasi diameter dan struktur geometri CNT. Gambar kanan adalah contoh penentuan puncak-puncak spektrum Raman yang terkait dengan struktur CNT tertentu.

Proses alih teknologi silikon ke teknologi karbon tentunya tidak bisa berlangsung instan. Dibutuhkan proses bertahap yang juga mencakup bermacam pertimbangan seperti fabrikasi, karakterisasi material, hingga desain perangkat elektronik. Menariknya, proses

yang sangat “eksperimentalis� seperti karakterisasi material pun membutuhkan dukungan yang cukup dari fisika teori. Sebagai contoh, alat karakterisasi material yang cukup sering digunakan adalah spektroskopi Raman. Dalam spektroskopi ini, data yang dihasilkan adalah sejumlah puncak-puncak spektrum yang terkait dengan struktur CNT tertentu serta sifatnya apakah konduktor atau semikonduktor. Pengetahuan ini diperoleh tidak lain dari fisika teori yang memprediksi kaitan antara spektroskopi Raman dan struktur/sifat CNT. Dengan demikian, fisika teori yang diterapkan dalam riset material telah menjadi suatu alat yang sangat berguna untuk memprediksi serta menjelaskan sifat-sifat material yang

PENULIS

http://www.nanotech-now.com/images/Infineon-nanotube.jpg

dikonfirmasi dalam eksperimen. Penemuan CNT serta graphene yang dirangsang oleh hipotesis sifat elektronik karbon pada struktur nanometer 1D dan 2D telah menjadi sinyal untuk mewujudkan perangkat elektronik berbasis karbon di masa depan. Dari sebatang pensil dan secarik kertas, kita akan terus melihat dan memandang ke depan demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

http://physicsworld.com/cws/article/news/43668

https://share.sandia.gov/news/resources/news_releases/images/2009/nano_detect2.jpg

AHMAD-RIDWAN TRESNA NUGRAHA Lahir dan besar di Bandung, menempuh pendidikan sarjana fisika di ITB sejak tahun 2004. Pendidikan pascasarjana dimulainya pada tahun 2008 di jurusan fisika Tohoku University di bawah bimbingan Riichiro Saito, salah satu pionir dalam riset material carbon nanotube. Sekarang masih berusaha keras lolos dari lab tersebut. Dalam 3 tahun perjalanannya sejauh ini, total 9 paper telah ditulisnya dan dimuat di jurnal internasional. Kata kunci penelitiannya adalah CNT, exciton, graphene, dan coherent phonon. Kontak: http://flex.phys.tohoku.ac.jp/~nugraha

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Fleksibilitas material karbon menjadikannya kandidat yang potensial untuk menjadi elemen perangkat elektronik masa depan. Saat ini silikon adalah material utama yang menjadi penyusun dari hampir seluruh perangkat elektronik yang kita miliki. Dengan sifat-sifat elektronik yang unggul dari material karbon pada ukuran yang sama dengan silikon, industri kini mulai mempertimbangkan untuk menggunakan karbon sebagai basis perangkat elektronik.


Research Insight

|5

Development of New Solitary Wave Generation System Bambang Winarta

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Environmental Hydrodynamics Laboratory Department of Civil and Environmental Engineering Tohoku University

sendai.ppijepang.org


6|

Research Insight

S

(a)

(b)

Fig. 1 Solitary wave in the real condition; (a) shallow water in Maalea (taken on Maui in Hawaiian Islands,Feb, 2003) and (b) Tsunami – Japan 2011 (taken from Helicopter-National self defense, Japan )

(a)

(b) Fig. 2 Experimental facilities; (a) by Liu et al. (2006, 2007) an (b) by Sumer et al. (2010)

In the past, many problems and inconveniences had been faced during conducting the laboratory experiment. As an example: Liu et al. (2006, 2007) had carried out experiments by using a wave flume facilitated Particle Image Velocimetry (PIV) (Fig. 2(a)). Their generation system just able to investigate boundary layer characteristics in a laminar flow regime and it could not do experiments in the higher Reynolds number / in transition and turbulent flow regimes. In contrast to the wave flume data, U-shaped oscillating water tunnel which has been used by Sumer et al. (2010) enable conducting experiment in higher Reynolds number (Fig. 2(b)). However, it will be practically difficult in a U-shaped oscillating tunnel to generate boundary layer flow exactly corresponds to solitary wave motion because of restorative force in a tunnel, which may induce oscillating motion with flow reversal. Indeed in Sumer et al.'s (2010) analysis of the experimental result, the portion of the data with negative velocities at the trailing of the fluid motion was disregarded. In an experiment using a wave flume or U-shaped tunnel, another difficulty arises in a great number of realizations required to obtain a reliable ensemble averaged quantities. It is reported that under oscillatory motion, 50 samples are necessary to achieve convergence of turbulent statistics such as turbulence intensity and mean velocity (Sleath, 1987; Jensen et al., 1989).

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

olitary wave with narrow crests without trough has been often used as an approximation of surface profile of ocean water waves propagating in shoaling water area (Fig. 1(a)). Moreover, a tsunami wave approaching shallow water can also be frequently replaced with a solitary wave to a first approximation (Fig. 1(b)). In past five years, investigation of boundary layer characteristics under a solitary wave becomes trending topics after many large tsunamis. Theoretical study on damping solitary wave was introduced by Keulegan (1948) and then, it has been followed by some researchers in both laboratory experiment and numerical approach (e.g., Ippen and Kulin, 1957; Naheer, 1977, 1978; Tanaka et al., 1998; Liu et al., 2006, 2007; Suntoyo and Tanaka, 2009b; Sumer et al., 2010; Vitori and Blondeaux, 2008, 2011). In case of laboratory experiment, facilities or generation set up used in the previous experiments can be classified into two groups: a wave flume with free surface (e.g., Ippen and Kulin, 1957; Naheer, 1977, 1978; Liu et al., 2006, 2007) and an oscillating water tunnel (Sumer et al., 2010).


Research Insight

By considering the inconveniences of facilities applied in the previous experimental studies, in the present study, a closed conduit water tunnel with a downstream gate has been newly proposed to investigate boundary layer characteristics under a solitary wave over a smooth bed. The experimental set up consists of an overflow head tank, a conduit water tunnel, a downstream gate and a flow velocity measurement device. The conduit has length of 400 cm, width of 15 cm and height of 10 cm (Fig. 3(a)). The overflow head tank keeps a constant pressure head and then, water flows into measurement section intermittently along the conduit in response to opening and closing of the gate at the downstream end which is controlled by rotating disk (Fig. 3(c)). It should be noted here that the flow motion generated by the present mechanism is not purely “solitary�, but periodical consists of solitary-wave-like positive peaks and tranquil period in between two peaks. A new generation system proposed here has been used to carry out solitary motion experiments and it is followed

|7

by validation. As conclusions, a closed conduit generation system validation results show a good agreement with the finding of previous studies (Sumer et al., 2010; Vittori, G., and Blondeaux, P., 2011). And

the most important finding that we want to highlight in here is a closed conduit generation system can overcome some difficulties of the facilities used in the previous experimental studies (Liu et al., 2007; Sumer et al., 2010), particularly in achieving a reliable ensemble averaging with ease and also in conducting the sediment transport experiment. The detail explanation of a new generation system and references of this study can be found in http://dx.doi.org/10.1016/j.coastaleng.2011.07.003

BAMBANG WINARTA Menyelesaikan studi S1 dan S2 dari Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Studi S3 dilanjutkan di Jurusan Teknik Sipil, Tohoku University dibawah bimbingan Prof. Hitoshi TANAKA dan selesai pada bulan Maret 2012. Aktivitas sekarang sebagai staf pengajar di Jurusan Teknik Sipil ITS. Tertarik pada penelitian terkait hidrolika sungai dan pantai. Daftar publikasi utama: 1. Bambang Winarta, Hitoshi Tanaka: Validity of generation system for solitary wave boundary layer. Journal of JSCE, Ser.B1 (Hydraulic Engineering), B1-67, S235-S240, 2011 2. Bambang Winarta, Hitoshi Tanaka: Closed conduit system for generating boundary layer induced by solitary wave. Journal of JSCE, Ser.B3 (Ocean Engineering), 67(4), 2011 3. Bambang Winarta, Hitoshi Tanaka: Improvement of Generation System for Solitary Wave Boundary Layer. Journal of JSCE, Ser.B2 (Coastal Engineering), B2-67(1), 2011 4. Hitoshi Tanaka, Bambang Winarta, Suntoyo, Hiroto Yamaji: Validation of a new generation system for bottom boundary layer beneath solitary wave, Coastal Engineering, 59, 45-56, 2012; http://dx.doi.org/10.1016/j.coastaleng.2011.07.003 5. Bambang Winarta, Hitoshi Tanaka: Experimental study on transition to turbulence in solitary wave boundary layer, Journal of JSCE, ***.**(Hydraulic Engineering),**-**,***, 2012

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

PENULIS

Fig. 3 A new generation system; (a) general sketch of generation system, (b) mechanism of rotating disc, (c) rotating disk design and (d) operational of generation system


8|

Research Insight

Pandangan Kekotoran Masyarakat Jepang Modern Dalam Ritual Penyucian Diri Shinto -Studi Kasus di Kuil TakekomaAlimansyar Master`s Program Religious Studies, Faculty Arts and Letters Tohoku University

PENDAHULUAN

D

alam kepercayaan masyarakat Jepang terdapat sebuah konsep yang disebut dengan kegare (ケガレ)atau fujo ( 不 浄 ) yang mengandung arti kekotoran. Menurut Emiko Namihira (2009:17), makna kekotoran di sini memiliki makna religius yang hanya dapat disucikan melalui ritualritual tertentu. Hal yang paling dianggap kotor oleh sebagian besar orang Jepang adalah ケ ガ レ

yang berasal dari kematian. Mereka meyakini bahwa ケ ガ レ dapat menular, sehingga apabila ada anggota keluarga yang meninggal, selama masa berkabung ( dalam kepercayaan Shinto selama 50 hari, sedangkan dalam kepercayaan Buddha selama 49 hari) tidak dibenarkan mengunjungi kuil (Shinto), tidak boleh membunuh sesuatu yang bernyawa, tidak boleh mengirimkan kartu ucapan selamat tahun baru,

tidak boleh melakukan perayaan apapun, seperti tahun baru dan sebagainya. Kemudian apabila menghadiri upacara pemakaman, setelah kembali ke rumah harus menyucikan diri terlebih dahulu di depan pintu dengan garam. tersebut diperoleh dari keluarga yang berkabung. Tujuannya adalah agar roh jahat dari almarhum/ah tidak masuk ke rumah dan mengganggu ketenteraman keluarga.

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Ritual pembacaan doa


Okiyome Shio, Garam Penyuci ケ ガ レ juga selalu dikaitkan dengan bencana atau malapetaka dan kegagalan. Misalnya apabila terjadi kecelakaan, atau sering melakukan kesalahan dalam bekerja, masyarakat di wilayah tertentu meyakini bahwa hal ini terjadi karena adanya ケ ガ レ . Untuk menghindari terjadinya kecelakaan, atau menghindari kegalan yang terus menerus terjadi, mobil atau diri sendiri harus disucikan melalui ritual tertentu (Emiko Namihira, 1974:239-245). Kegare juga ditemukan dalam upacara keagamaan di kuil Shinto. Dalam pengamatan penulis, setiap orang yang datang berkunjung ke kuil, harus menyucikan diri menggunakan air sebelum memanjatkan doa kepada kami sama (tuhan menurut kepercayaan Shinto). Setiap pendeta harus melakukan kessai (mandi wajib sederhana) sebelum menghadiri upacara keagamaan. Bahkan secara berkala para pendeta juga melaksanakan misogi (mandi wajib bersama-sama). Dalam setiap upacara keagamaan selalu diawali dengan penyucian jasad dan raga setiap pengunjung maupun pendeta. Semua ini dilakukan karena masyarakat meyakini bahwa mereka tidak dapat terhindar dari ケガレmeskipun tidak diketahui kapan dan di mana terjadinya. Dari fenomena di atas, terlihat

bahwa istilah ケ ガ レ digunakan dalam ruang lingkup yang luas, sehingga tidak mudah untuk dijelaskan. Berangkat dari fenomena ini, penulis merasa perlu untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ケ ガ レ , bagaimana sebuah kondisi yang disebut dengan ケガレ serta upaya apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Untuk memperdalam pengetahuan tentang ケ ガ レ , sejak Juni 2010Oktober 2011, penulis melakukan riset lapangan di kuil Takekoma yang terletak di kota Iwanuma prefektur Miyagi. Adapun metode yang dilakukan adalah melakukan pengamatan baik dengan cara berpartisipasi langsung dalam upacara keagamaan, maupun hanya mengamati di sekitar areal upacara tersebut berlangsung. Objek yang diamati adalah bagaimana sebuah upacara keagamaan dilangsungkan sejak awal hingga akhir, alat apa yang digunakan dalam upcara keagamaan tersebut. Melakukan wawancara terhadap pengunjung (user) dan pendeta Shinto (dealer) sebagai penghubung antara kami sama (maker) dengan umatnya (User). Pengamatan dilakukan terhadap seluruh upacara keagamaan yang berlangsung di kuil Takekoma dalam satu tahun, namun dalam tulisan kali ini penulis membatasi pada satu contoh kasus saja, yaitu ritual penyucian diri di musim panas, nagoshi oharae. PENDAPAT PENELITI TERDAHULU TENTANG ケガレ Konsep ケ ガ レ pertama sekali dikemukakan oleh seorang ahli Antropologi Budaya bernama

|9

Emiko Namihira pada tahun 1974. Konsep ini lahir dari perdebatan para ahli folklor tentang konsepハレ dan ケ yang terdapat dalam kehidupan masyarakat tradisional Jepang. Menurut pendiri ilmu folklor Jepang Kunio Yanagita (1993), dahulu dalam kehidupan masyarakat Jepang terdapat dua periode waktu yaitu ハ レ dan ケ , di mana di antara kedua masa tersebut terdapat perbedaan yang signifikan. ハ レ adalah hari-hari khusus (suci) yang berbeda dengan hari-hari biasa. Yang dimaksud dengan hari-hari khusus (suci) di sini adalah hari penyelenggaraan kegiatan tahunan (nenchu gyoji) seperti perayaan tahun baru, perayaan obon dan sebagainya, atau hari penyelenggaraan upacara yang dilakukan satu kali seumur hidup (kankonsousai) seperti kunjungan pertama kali ke kuil setelah lahir, upacara pernikahan, dan upacara kematian.1 Pada harihari khusus (suci) ini, masyarakat tradisional Jepang mengenakan pakaian khusus, mengkonsumsi makanan khusus, serta melakukan kegiatan-kegiatan khusus.2 Kegiatan-kegiatan khusus tersebut dalam berbagai bentuk berkaitan dengan upacara keagamaan sebagai sarana berkomunikasinya manusia dengan kami sama.3 Sedangkan yang dimaksud dengan ケ adalah hari-hari biasa dalam kehidupan sehari-hari seperti bangun tidur, sarapan pagi, berangkat kerja, makan siang, pulang dari kerja, makan malam, tidur, esoknya bagun kembali lalu melakukan rutinitas seperti biasanya.4 1 Mikiharu Ito, 1973:7; Emiko Namihira, 1974:235 2 Taro Wakamori, 1953:351-352 3 Emiko Namihira, 1974:233 4 Mikiharu Ito, 1973:7

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Research Insight


Research Insight

Tetapi, dari hasil riset yang dilakukan terhadap masyarakat nelayan di Prefektur Nagasaki, Masyarakat pegunungan di Prefektur Kochi, dan masayarakat pertanian di Prefektur Oita, Emiko Namihira Mencetuskan satu konsep tambahan yaitu ケ ガ レ untuk melengkapi ハ レ dan ケ . Dalam tulisannya berjudul “Kepercayaan Etnik Masyarakat Jepang dan Strukturnya”, Namihira (1974) menjelaskan bahwa terdapat hari-hari khusus lain yang tidak dapat dikategorikan dengan ハ レ . Hari yang dimaksud adalah hari yang tidak menggembirakan seperti hari upacara pemakaman anggota keluarga, hari peringatan meninggalnya anggota keluarga dan sebagainya. Pada hari-hari tersebut anggota keluarga juga mengenakan pakaian khusus, menkonsumsi makanan khusus, tetapi berbeda dengan pada saat ハ レ . Kegiatan yang dilakukan juga khusus tetapi tidak berkaitan dengan upacara keagamaan (Shinto). Di akhir ulasannya, Namihira membagi hal-hal khusus menjadi dua kategori; (1) Hal yang berkaitan dengan upacara keagamaan (Shinto), peristiwaperistiwa yang membawa kebaikan pada manusia, hal-hal yang menggembirakan, Perayaan, hal yang mengandung kesucian; (2) Peristiwa yang membawa keburukan pada manusia, bencana, penyakit, luka, kematian, kegagalan, dosa, dan hal yang mengandung kekotoran. Kedua kategori ini berkaitan erat dengan kepercayaan. Kategori (1) disebut dengan ハ レ , dan kategori (2) disebut dengan ケガレ. Konsep ハレ・ケ・ケガレyang dikemukakan yang dikemukakan

sangat penting dalam memahami kepercayaan masyarakat Jepang, tetapi saying sekali, Namihira tidak menjelaskan bagaimana hubungan ketiga konsep ini, sehingga menuai banyak kritik dari para ahli lainnya. Salah satunya adalah folkloris Tokutaro Sakurai yang berusaha menjelaskan ケ ガ レ dari segi etimologi. Menurut Sakurai (1985), fondasi kehidupan masyarakat ada pada keseharian (ケ ), untuk m e m p e r t a h a n k a n k e l a n j u ta n kehidupan ケ ini dibutuhkan energi yang sangat besar. Alasannya adalah bila ケ melemah (ケ 枯 れ , maka semangat kerja akan menurun dan akan berimbas pada menurunnya produksi, dan kelangsungan keseharian akan terancam. Untuk memulihkan kondisi ini dibutuhkan kegiatan tertentu yang disebut dengan ハレ. Teori ini dikenal dengan teori sirkulasi ハレ→ケ→ケガレ. Hal senada juga dikemukakan oleh Noboru Miyata (1996), perayaan-perayaan kagamaan (Shinto) ハ レ adalah bertujuan untuk mengembalikan kondisi keseharian ケ , sekaligus sebagai ritual untuk menghilangkan ケ ガ レ (kekotoran). Dengan kata lain, tujuan utama masyarakat melaksanakan perayaan keagamaan (Shinto) adalah untuk mempertahankan kelangsungan keseharianケ. Terakhir, Takanori Shintani (1997) yang mendukung teori Namihira dalam bukunya berjudul “Dari Kekotoran Menuju kami (kesucian)” mengatakan, yang dimaksud denganケ ガ レ adalah kematian sebagai lawan dari kehidupan, atau sesuatu yang berhubungan dengan kematian. Meskipun bertentangan dengan

kehidupan, kematian tidak bisa dihentikan. Salama ada kematian maka ケ ガ レ juga akan berlangsung terus menerus. Sifat kotor, bahaya, kuat dan dapat menular yang dimiliki ケ ガ レ tidak dapat dibiarkan begitu saja, tetapi harus diatasi dengan ritual-ritual tertentu. Dengan demikian, ケ ガ レ akan berbalik dan lahir sebagai kami yang penuh dengan kekuasaan. ケガレDALAM RITUAL PENYUCIAN DIRI NAGOSHI OHARAE Nagoshi Oharae yang dimaksudkan di sini adalah ritual Oharae. Oharae adalah salah satu ritual keagamaan yang telah diselenggarakan sejak zaman kuno (1-1191 Masehi). Ritual ini bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana melalui penghapusan dosa dan kekotoran yang tanpa sadar dilakukan seseorang (Inoue dkk, 1994:225). Menurut Ono (2010) salah seorang Pendeta Shinto di Kuil Takekoma, Oharae di perkirakan berlangsung sejak zaman Heian. Pada saat itu pelaksanaan Oharae bertujuan untuk mendoakan kemakmuran kaisar dan untuk meredakan berbagai bencana yang terjadi seperti penyakit menular dan perang saudara. Awalnya Oharae diselenggarakan setiap kali bencana terjadi, tetapi sejak berlakunya undang-undang yang disebut Taihou Ritsuryou, Oharae dijadikan kegiatan kenegaraan dan dilangsungkan 2 kali dalam setahun yakni Juni dan Desember. Oharae pada bulan juni disebut dengan Nagoshi Oharae, sedangkan Oharae pada bulan desember disebut dengan Toshikoshi Oharae.

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

10 |


Research Insight

Di kuil Takekoma Nagoshi Oharae berlangsung tanggal 30 Juni setiap tahun. Ritual berlangsung pukul 15:00 – 15:40. Persiapannya sudah dimulai sejak awal Juni berupa pengiriman surat pemberitahuan kepada seluruh pengunjung yang pernah mendatangi kuil Takekoma. Di dalam pemberitahuan tersebut terlampir kertas berbentuk manusia (hito gata) dan mobil (kuruma gata) yang berfungsi untuk memindahkan dosa dan kekotoran. Bagi mereka yang berhalangan hadir pada 30 Juni dapat mengirimkan kembali kertas yang dimaksud di atas ke kuil, sedangkan yang dapat hadir membawa langsung pada hari penyelenggaran ritual. PENYELENGGARAAN OHASHI OHARAE Nagoshi Oharae berlangsung di halaman kuil. Ritual diawali dengan penyerahan kiri nusa oleh petugas kepada seluruh pendeta yang hadir. Kiri nusa 5 ini nantinya akan ditaburkan ke seluruh tubuh untuk menghapus dosa dan kekotoran diri. Selanjutnya pembacaan doa (oharae kotoba). Pembacaan doa ini juga dianggap salah satu cara untuk penyucian diri. Pembacaan doa ini bertujuan agar para dewa yang bertugas untuk menghapus dosa dan kekotoran mendengar

lalu mengabulkan permohonan para peserta. Setelah pembacaan doa, para pendeta yang telah menerima kiri nusa selanjutnya menaburkannya ke seluruh tubuh. Setelah selesai salah satu pendeta maju ke depan mengambil onusa6 lalu mengibaskannya terlebih dahulu kearah kotak berisi dosa dan kekotoran dari semua pengunjung baik yang hadir maupun yang berhalangan hadir yang sudah dipindahkan ke hito gata dan kuruma gata. Selanjutnya kepada pendeta dan pengunjung. Dalam waktu bersamaan satu orang pendeta menaburkan kiri nusa kehadapan para peserta. Baik kiri nusa maupun onusa, sama-sama berfungsi untuk menghapus dosa dan kekotoran. Setelah selesai penaburan kiri nusa dan pengibasan onusa, satu pendeta mengumpulkan kembali kantongan kiri nusa dari seluruh pendeta yang hadir lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Setelah pengumpulan kantong kiri nusa, upacara keagamaan berakhir. Tetapi ritual penyucian diri masih berlanjut dengan mengelilingi chi no wa sebanyak tiga kali dikomandoi oleh kepala pendeta dan diikuti seluruh peserta. Kegiatan mengelilingi chi no wa ini adalah bagian penting dalam proses penyucian diri. Menurut Ono (pendeta kuil Takekoma), daun chikaya mengeluarkan aroma tidak

sedap, dan sejak dahulu diyakini mampu menyembuh berbagai penyakit, sehingga dijadikan sebagai bahan dasar chi no wa7. Setelah selesai mengelilingi chi no wa, para pendeta kembali ke kantor kuil, sedangkan seluruh pengunjung membubarkan diri. Tetapi ritual nagoshi oharae belum berakhir. Masih terdapat satu tahapan penting sebagai penutup, yaitu menghanyutkan kertas dosa (hito gata dan kuruma gata) yang berisi dosa dan kekotoran dari seluruh peserta ke sungai terdekat. Menurut Ono (pendeta kuil Takekoma), kertas-kertas berisi dosa dan kekotoran tersebut selanjutnya akan dihanyutkan ke sungai hingga mencapai laut dan tenggelam ke dasar laut. Di dalam dasar laut bersemayam kami sama yang bertugas untuk menyucikan kertas-kertas berisi dosa dan kekotoran tersebut. Di sinilah akhir dari ritual Nagoshi Oharae.

KESIMPULAN Dari contoh kasus ritual Nagoshi Oharae terlihat bahwa proses penyucian diri dari dosa dan kekotoran merupakan syarat mutlak dari sebuah upacara keagamaan (Shinto). Tetapi isi substansi dari ritual ini tidak pernah berubah sejak dahulu, dengan kata lain sepertinya ritual ini sekedar tradisi yang diulang-ulang setiap tahunnya. Menurut pendapat penulis, para pengunjung yang menghadiri ritual Nagoshi Oharae maupun ritual lainnya, 5 Potongan kertas putih berbentuk segi empat 6 Ranting pohon sakaki yang digunakan sebagai alat untuk penyucian diri. 7 Daun chikaya yang dibuat menyerupai sebuah

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Hito gata dan kuruma gata

| 11


Research Insight

PENULIS

bukan karena mengalami sesuatu yang buruk seperti kecelakaan, terserang penyakit dan sebagainya, tetapi hanya sekedar mempertahankan tradisi yang telah berlangsung selama ini dalam masa-masa tertentu dalam kehidupan berdasarkan konsep ケ ガ レ yang terdapat dalam mitos naskah kuno Kojiki (712 M) dan Nihonshoki (720 M). Tetapi karena penulis hanya melakukan riset di lingkungan kuil (Shinto), sehingga belum sepenuhnya dapat menyimpulkan bagaimana pandangan kekotoran masyarakat Jepang. ke depannya ini akan dilanjutkan dengan melakukan riset terhadap masyarakat umum yang berada di luar kuil.

REFERENSI 伊藤幹治 1969 「「ハレ」と「ケ」の生活と論理 日本文化論の試み」 『科学朝 日』        朝日新聞社 ―――――1973 「日本文化の構造的理解をめざして」『季刊人類学』京都大学 人類学研究会 神社本庁教学研究所 1990 『神道のしきたりと心得』 神社本庁教学研究所 國學院大學日本文化研究所編1994『神道事典』 弘文堂 松平斉光 1946 『祭本質と諸相』 日光書院 宮田登 『ケガレの民俗誌 差別の文化的要因』 人文書院 波平恵美子 1974 「日本民間信仰とその構造」 『民族學研究』38 (3・4) ――――― 1974 「通過儀礼における「ハレ」と「ケガレ」の観念の分析」  『民族學研究』 40 (4)  日本文化人類学会 ――――― 1989 「「ハレ」と「ケ」 : 日本人における日常性と非日常性の演 出」       『日本音響学会誌』 社団法人日本音響学会 ――――― 1992 『ケガレの構造』 青土社 ――――― 2009 『ケガレ』 講談社 桜井徳太郎 1985 『結衆の原点 共同体の崩壊と再生』 弘文堂 新谷尚紀 1997 『ケガレからカミへ』 岩田書院 竹駒神社 1998~2011 『すいとく』 竹駒神社 柳田國男 1998 『柳田國男全集5』筑摩書房 和歌森太郎 1953 『日本民俗學』 弘文堂

Alimansyar menyelesaikan studi S1 dari Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan. Studi S2 dilanjutkan di jurusan Religious Studies Fakultas Sastra Universitas Tohoku di bawah bimbingan Prof. Iwayumi SUZUKI dan selesai pada bulan Maret 2012. Selanjutnya berencana melanjutkan studi S3 di jurusan dan universitas yang sama. Aktivitas sekarang sebagai staf pengajar di Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Email : ali_lya75@yahoo.co.jp

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

12 |


Research Insight

| 13

FAKTOR-FAKTOR PENENTU POPULASI KERANG DI AIR PAYAU: TINJAUAN HIDROLIKA

P

erairan payau adalah lingkungan yang unik dikarenakan tingkat keasinan air yang bervariasi secara harian yang biasanya diakibatkan oleh adanya pengaruh pasang surut air laut. Sebagai konsekuensinya, makhluk yang hidup di daerah tersebut juga unik, mereka mampu beradaptasi terhadap perubahan salinitas jangka pendek/harian namun tidak bisa bertahan hidup jika airnya sama sekali asin atau tawar dalam jangka waktu yang lama. Kerang adalah salah satu makhluk hidup yang umum dijumpai di perairan ini, umumnya di daerah yang sedimennya berpasir. Spesiesspesies tertentu menjadi sumber perikanan yang penting, sehingga

harus dijaga keberadaannya untuk mendukung perekonomian di daerah tersebut. Lebih dari itu, keberadaan spesies tersebut dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan daerah yang dimaksud. Penurunan populasi kerang tidak hanya berdampak pada perikanan, namun juga mengindikasikan menurunnya kualitas lingkungan di daerah tersebut. Di Jepang, salah satu spesies kerang yang penting adalah Ya m a t o S h i j i m i ( C o r b i c u l a japonica), dengan tingkat konsumsi rerata 20 ribu ton per tahun. Salah satu penghasil kerang yang terkenal adalah Danau Jusan di Aomori Perfecture. Di danau ini, tahun 2008 terjadi lonjakan populasi kerang dari 35 kerang/m2

menjadi 135 kerang/m2, namun demikian, populasi kerang ini tidak merata di seluruh wilayah danau. Pada wilayah-wilayah tertentu populasinya selalu tinggi sementara pada wilayah yang lain populasinya selalu rendah tiap tahun. Penting untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan kedua hal ekstrim tersebut dapat terjadi, sehingga dapat dilakukan langkah-langkah teknis untuk menjaga agar populasi kerang tetap tinggi, lebih dari itu untuk tetap menjaga agar kualitas lingkungan tetap terjaga. Di tahun 2008, populasi didominasi oleh kerang berdiameter sekitar 3 mm. Kerang tersebut berumur sekitar satu tahun. Dengan demikian, proses

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

A TAS P RACOYO Environmental Hydrodynamics Laboratory Department of Civil and Environmental Engineering, Tohoku University


14 |

Research Insight

PENULIS

lonjakan populasi tersebut sebenarnya sudah dimulai dari tahun sebelumnya, tahun 2007. Kerang ini hanya bertelur setahun sekali di musim panas, jika suhu air lebih tinggi atau sama dengan 22oC. Di tahun 2007, ternyata populasi kerang dewasanya jumlahnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 3 ekor kerang/m2. Bagaimana prosesnya sehingga dapat menghasilkan anakan yang lebih banyak di tahun 2007? Analisis menunjukkan bahwa sejak tahun 2002 hingga 2007 kemampuan bertelur di setiap tahun relatif sama. Jika demikian maka kemungkinannya adalah jumlah telur yang berhasil menjadi kerang lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Proses transformasi dari telur ke kerang sangat dipengaruhi oleh salinitas air. Salinitas ideal adalah 3,2 kg/m3. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, salinitas pada saat musim bertelur di tahun 2007 lebih tinggi dan mendekati nilai ideal tersebut. Hal lain yang juga istimewa di tahun 2007 adalah bahwa musim bertelurnya lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga memberi kesempatan semua dewasa untuk bertelur, dan cukup waktu serta didukung kondisi yang baik untuk telur-telur tersebut bertransformasi menjadi kerang. Mengenai disparitas yang tinggi dan terus-menerus, wilayah yang populasinya selalu rendah umumnya

terletak di daerah yang lebih dalam, yang sedimenya mengandung lumpur dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Sebenarnya kedalaman Danau Jusan yang 2 m itu masih ideal untuk habitat Yamato Shijimi, hanya saja karena topografi Danau Jusan yang menyerupai cawan, maka sirkulasi air di dekat dasar di daerah dalam menjadi kurang baik. Air laut yang masuk ke lokasi tersebut akan tetap tinggal di sana sehingga salinitasnya tinggi dan berlangsung lama, yang mana kondisi ini tidak baik untuk Yamato Shijimi. Pada musim panas terjadi proses penguraian bahan organik yang terkandung dalam lumpur. Proses ini membutuhkan oksigen sehingga kandungan oksigen dalam air menurun. Kurang baiknya sirkulasi air memperparah kekurangan oksigen ini. Faktor salinitas dan suhu air adalah dua hal pokok yang mempengaruhi populasi Yamato Shijimi, namun demikian sulit untuk mengelola keduanya agar sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hal yang lebih mungkin bisa dilakukan adalah dengan mengurangi konsentrasi lumpur dalam sedimen. Usaha pengerukan langsung, fluidisasi ataupun rekayasa hidrodinamik dapat dilakukan untuk mengurangi konsentrasi lumpur. Usaha-usaha pencegahan dapat dilakukan dengan pembangunan penangkap lumpur di sungai sebelum masuk ke danau atau dengan mengurangi sedimentasi lahan dengan reboisasi.

ATAS PRACOYO Lahir di Lubuk Linggau Sumatera Selatan sebagai putra transmigran, menamatkan kuliah S1 dan S2 di Teknik Sipil UGM dan melanjutkan jenjang S3 di Tohoku University. Sejak tahun 2008 hingga kini aktif mengajar di Jurusan Teknik Sipil Universitas Mataram di Lombok, NTB.

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

Lokasi Danau Jusan dan Caligula japonica dewasa berdiameter sekitar 2 cm


Research News

| 15

SPIN Di samping massa dan muatan listrik, elektron juga memiliki properti intrinsik lainnya yaitu spin.

SPINTRONICS:

IKHTIAR

Era Baru Penyimpanan Data

Master Student, Department of Applied Physics Tohoku University

GMR dapat dapat dimengerti secara sederhana seperti ilustrasi yang terdapat pada gambar Magnetoresistansi (Hal. 16 pada bagian kiri atas). Pada gambar tersebut, elektron digambarkan melewati tiga lapisan tipis yang tersusun dari dua lapisan

ferromagnetik yang dipisahkan oleh lapisan metal yang bersifat nonmagnetik. Pada saat kedua lapisan ferromagnet memiliki arah magnetisasi yang sama (paralel), salah satu arah spin yakni atas (spin-up) dapat melalui tiga lapisan tipis dengan mudah, sedangkan arah spin yang lainnya, yakni bawah (spindown) akan mengalami hamburan dengan frekuensi yang lebih tinggi, sehingga secara keseluruhan resistansi lapisan banyak tersebut menjadi relatif rendah. Namun, pada saat kedua lapisan ferromagnetik memiliki arah magnetisasi yang berlawanan (antiparalel), kedua arah spin akan mengalami hamburan yang sama besarnya sehingga resistansi secara keseluruhan akan lebih besar daripada keadaan paralel. Perbedaan kedua resistansi inilah yang kemudian oleh para peneliti diekspresikan ke dalam bentuk rasio magnetoresistansi (MR ratio) yaitu (RAPRP/RP), di mana RP adalah resitansi pada keadaan paralel dan RAP adalah resistansi pada keadaan antiparalel.

Penemuan GMR pada saat itu telah membuat komunitas peneliti material magnetik dan para pelaku industri mengubah arah riset mereka untuk mengeksplorasi lebih dalam transpor elektron pada lapisan banyak magnetik. Hal ini didorong oleh potensi aplikasi yang sangat beragam dari efek magnetoresistif terutama GMR yang memperlihatkan rasio magnetoresistansi yang sangat tinggi kala itu. Salah satu aplikasi luas dari GMR adalah sensor magnetik dengan produk komersial teranyarnya yang dapat kita temukan pada sensor pembaca Hard Disk Drive (HDD). Integrasi sensor berbasis GMR ke dalam HDD harus menunggu 10 tahun semenjak penemuannya. Adalah grup peneliti dari IBM yang berhasil melakukan rekayasa dan pengembangan GMR hingga akhirnya mengkomersialkan ke dalam HDD pada tahun 1997. Penggunaan GMR sebagai sensor pembaca bit-bit magnet permanen penyimpan data pada piringan HDD telah SANG PIONIR Peter Grunberg (kiri) dan Albert Fert (kanan) menerima hadiah Nobel atas penemuan GMR yang mereka capai yang kemudian melahirkan bidang penelitian baru dalam dunia fisika yang dikenal sebagai Spintronics [2]

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

K

ehidupan manusia modern saat ini tidak dapat terlepas dari penggunaan berbagai peralatan elektronik. Kesemuanya bekerja dengan mengandalkan manipulasi pergerakan dan konsentrasi elektron yang merupakan pembawa muatan negatif. Di samping muatan, elektron juga memiliki properti intrinsik lainnya yang dinamakan spin dan pengaruhnya dalam skala makro dengan mudah kita lihat pada berbagai material magnetik. Sayangnya kedua properti intrinsik ini, yaitu muatan dan spin, lebih sering dimanipulasi secara terpisah . Hal ini mulai berubah pada tahun 1988 ketika dua grup peneliti yang berbeda, menemukan fenomena giant magnetoresistance (GMR) yang merupakan fenomena perbedaan resistansi pada lapisan-banyak magnetik (magnetic multilayers) saat berada dalam pengaruh medan magnetik eksternal. GMR bekerja atas dasar konsep konduksi “dua arus� (two currents), di mana elektron yang melewati material magnetik akan mengalami perbedaan hamburan atau tumbukan yang bergantung pada arah spin yang dimilikinya. Perbedaan hamburan ini secara langsung berimplikasi pada perbedaan resistansi dari elektron-elektron yang memiliki arah spin yang berbeda.


16 |

Research News

MAGNETORESISTANSI Perbedaan hamburan yang dialami oleh spin-up (mengarah ke kiri pada gambar) dan spin-down (mengarah ke kanan) menghasilkan perbedaan resistansi untuk keadaan magnetisasi yang berbeda, paralel untuk gambar atas dan antiparalel untuk gambar bawah, dari kedua lapisan ferromagnetiknya [1]

memberikan efek yang luar biasa dalam peningkatan kapasitas HDD. Hal ini dapat dilihat pada grafik kapasitas penyimpanan (areal density) dari HDD vs tahun yang dirilis oleh perusahaan Hitachi (gambar kanan atas).

CAPACITY GROWTH Grafik peningkatan kapasitas penyimpanan (areal density) Hard Disk Drive (HDD) dalam dua dekade terakhir. [Sumber: Hitachi Global Storage Technology 2008]

Pada gambar tersebut terlihat dengan jelas bahwa GMR berhasil meningkatkan laju pertumbuhan kapasitas HDD menjadi 90% per tahunnya. Lompatan kapasitas penyimpanan ini telah menghasilkan HDD yang berukuran kecil untuk piranti-piranti mobile seperti laptop yang ringan serta HDD dengan kapasistas yang belum pernah ada sebelumnya sebagai media penyimpanan data-data multimedia yang berukuran besar.

Magnetoresistance (TMR), akhirnya menggantikan peran GMR sebagai sensor pembaca pada HDD pada tahun 2005. TMR yang menggunakan material insulator alihalih material metal sebagai lapisan yang memisahkan kedua lapisan ferromagnetik dianggap memenuhi syarat untuk tetap mempertahankan laju peningkatan kapasitas penyimpanan HDD yang menurun seiring keterbatasan yang dialami GMR. Namun, kalangan peneliti di dunia industri telah menyiratkan jauh-jauh hari bahwa sensor TMR tidak akan bertahan lama sebagai sensor pembaca HDD dan akan mulai banyak menemui banyak keterbatasan pada kapasitas di atas 1 Terrabit/in2.

Meskipun GMR telah berhasil membawa perubahan besar dalam sejarah perkembangan HDD, sensor magnetoresistif lainnya, yaitu Tunneling

Untuk tugas ini, varian lain dari GMR sensor, yaitu CPP-GMR (Current perpendicular to plane) di mana arus yang digunakan mengalir tegak lurus terhadap bidang permukaan

lapisan, diharapkan menjadi pemecah kebuntuan yang akan dihadapi sensor TMR dalam waktu dekat ini. Eksplorasi kombinasi material ferromagnetik dan material metal pemisahnya menjadi kunci untuk menjadikan CPP-GMR sebagai sensor pembaca HDD generasi terbaru. Dan barubaru ini laporan penelitian prototipe sensor CPP-GMR yang menggunakan material ferromagnetik berbasis Heusler alloy oleh sebuah grup di Universitas Tohoku, Jepang, telah menunjukkan potensi penggunaannya untuk kapasitas HDD hingga 5 Terrabit/in2 [3]. Referensi:

[1] C. Chappert et al., Nature Materials 6, 813 (2007) [2] W. P. Mc Cray, Nature Nanotechnology 4, 2 (2009) [3] Jo Sato et al. , APEX 4, 113005 (2011).

PENULIS

IKHTIAR Lahir di kota Palu, Sulawesi Tengah. Menghabiskan masa kecil hingga remajanya di kota Palu hingga akhirnya melanjutkan studi sarjananya di Institut Teknologi Bandung di departemen Teknik Fisika dari tahun 2005 hingga 2009. Pada tahun 2011 memulai kisah barunya di Tohoku University, Sendai, Jepang sebagai mahasiswa Master Course di Department of Applied Physics. Menekuni bidang penelitian Current Perpendicular to Plane Giant Magnetoresistance (CPP-GMR) dengan menggunakan material Half-Metallic Heusler Alloy. Email : tiar_092@yahoo.ie

sendai.ppijepang.org

BuSet AHIRU | Volume 02 | Winter | Januari 2012

HARD DISK DRIVE dan perbesaran struktur skematik dari sensor pembaca berbasis GMR [1]


Wonders of Sendai:

Photo of The Season


http://sendai.ppijepang.org


BuSet AHIRU volume 2, Musim Dingin 2012