Page 1

1


Buletin Salut! merupakan bagian dari PPI Prancis 2012/2013 Ketua PPI Prancis 2012/2013 Muhammad Dhafi Iskandar

Bulan Mendota Tim Redaksi • Toulouse

Lita Lestianti Tim Redaksi • Paris - Indonesia

Nadia Ratna Tim Redaksi • Saint Quentin

Iyan Xavier Fotografer • Paris

Reyner Artistik • Lyon

2

Sesulih Kapti Laras Tim Redaksi • Angers - Indonesia Kontributor Arnadi Murtiyoso Btari Chandra Kesumanegoro Helena Ariesty Gustika Jusuf Mexind Suko Utomo Made Handijawa - Dewantara Kiki Irawati Arif Umami Muhammad Dhafi Iskandar

Efi Dwi Indari Tim Redaksi • Rennes - Itali Kontak Redaksi mediacenterppi@gmail.com @mediappiprancis Didukung oleh :

KBRI Paris

KJRI Marseille


Apa kabar teman-teman semua? Bonne année 2014 Semoga di tahun baru ini semakin semangat untuk menghadapi semua tantangan baru di depan mata. Jujur, Salut! kali ini temanya agak terasa seperti ‘gado-gado’. Ada beberapa artikel kami mengenai beberapa tips untuk yang baru datang ke negara Napoleon ini, ada artikel tentang persiapan liburan hiver di depan mata (saatnya bermain ski!) dan ada juga beberapa testimonial dari teman-teman kita tentang suka dan duka mencari magang dan melakukan persiapan soutenance musim panas lalu. Must read bagi teman-teman yang bersiap-siap mencari magang! Salut! yakin teman-teman bisa mendapatkan tempat magang idaman. Sudah pernah dengar dengan sistem skema beasiswa terbaru yang sedang hangat dibicarakan, yaitu beasiswa LPDP? Salut! kali ini mengundang seorang teman kita untuk menulis tentang pengalamannya mendapatkan beasiswa tersebut. Jangan lupa untuk melihat foto-foto perjalanan musim panas lalu dari fotografer kita, Iyan Xavier untuk menginspirasi persiapan liburan musim panas depan. Tapi meski terlihat ‘gado-gado’, artikel kami punya satu benang merah loh! Benang merahnya adalah Semangat Pemuda, yaitu semangat kita sebagai mahasiswa Indonesia di Prancis untuk belajar dan bekerja (dan jangan lupa, bersenang-senang yah!) demi masa depan negara Indonesia tercinta. Kami tentu saja berharap artikel dan informasi yang kami berikan bisa menginspirasi teman-teman semua. Saya pribadi mengucapkan terimakasih kepada seluruh tim redaksi Salut! 2013 dan para kontributor yang sudah meluangkan waktu diantara waktu kuliah dan bekerja demi terbitnya buletin kita ini. Quel bon travail! Dan tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman pengurus PPI Prancis 2012-2013. Seperti biasa, kami menunggu kritik dan saran teman-teman semua demi kemajuan buletin kita bersama.

À bientot! Bulan Mendota

3


DEC MMXIII

3 Editorial.

12

Liputan OKTI 2013: Mencari Solusi untuk Bangsa.

16

4

Mengenal Lebih Dekat Beasiswa LPDP.

6

Cover story : Faddy Ardian Semangat Untuk Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju.

18

Liputan UNESCO + Rekomendasi 8th UNESCO YOUTH FORUM.

22

Semangat Muda di Journée des Langues 2013.

28

La Nuit Indonesiénne 2013.

36

Ice Breaking: Faire une Soiree. 38

French Lesson: Le mot d’argot.


74

Beach Getaway to French Riviera. 42

Profil Alumni Talitha Fauzia Cairunniza.

47

Hello Summertime oleh Iyan Xavier.

82

Sharing Stage.

86

Suka - Duka Soutenance.

88

Testimoni: Sekolah sekaligus bekerja.

92

Profil: Reggie Surya.

96

Berlatih Gamelan Rennes.

100 Perjalanan Kepengurusan PPI Prancis Periode 2012-2013.

102

Opini pariwisata Bali - Paris. 108 MarchĂŠ de NoĂŤl

110

Chamonix, le plaisir de skier au pied de Mont-Blanc. 114 Travel tips: Jalan-Jalan Hemat. 116 Referensi musik. 117 Komik.

5


Faddy Ardian, Semangat U

n

t

u

k

M e mb a w a I n d o n e si a 6

M e n j a d i Negara Maju Teks: Bulan Mendota Foto: Iyan Xavier


7


8

Energik dan murah senyum, mungkin kesan pertama yang dilihat ketika berbincang dengan ketua PPI Paris yang baru saja dipilih ini. Selain menjadi ketua PPI Paris, sebenarnya kontribusi Faddy kepada organisasi pelajar Indonesia di Prancis ini sudah cukup banyak, salah satunya adalah menjadi ketua OKTI, acara dua tahunan yang diadakan oleh PPI Prancis beberapa waktu yang lalu. Yuk kita berkenalan dengan mas sumringah ini.

S: Boleh diceritakan latar belakang sekolah dari sebelum memutuskan untuk sekolah di Prancis sampai sekarang?

F: Saya memulai jenjang studi perguruan tinggi saya di Jurusan Teknik Fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM) dimana saya belajar banyak tentang instrumentasi dan energi. Lalu, setelah mendapatkan gelar Sarjana Teknik, saya merantau ke Prancis untuk mengejar gelar master bidang Energy Management di Ecole des Mines de Nantes dengan dukungan beasiswa unggulan pada tahun kedua saya. Setelah mendapatkan gelar tersebut, alhamdulillah, saya mendapatkan rejeki beasiswa dari perusahaan Itali ( Cogenpower SpA ) untuk mendapatkan gelar doktoral di Energy Economics. Akan tetapi, dikarenakan kurangnya edukasi formal di bidang Ekonomi, saya tidak bisa langsung masuk menjadi kandidat doktor. Maka, dikirimlah saya oleh supervisor saya ke program master riset di bidang Ekonomi di Ecole Polytechnique. Sekarang, saya menjadi kandidat doktoral ekonomi di Ecole Polytechnique dengan dua gelar master berbeda. Jadi, nama saya kalo ditulis bisa panjang karena gelar hehehehe‌.

S: Pencapaian apa saja yang diterima selama menjadi sekolah?

F: Untuk achievement, saya mungkin termasuk seorang pelajar standar yang minim achievement, hehehe... Achievement saya yang bisa dibanggakan dari saya mungkin menjadi rangking 30 pelajar teladan se-Bali ketika masih SD. Selain itu, mungkin juara acara-acara biasa pada tingkat kecil seperti lomba 17-an, lomba pidato, dll. Untuk kompetisi tingkat nasional ataupun intenasional, rata-rata saya gugur sebelum final. Sedangkan untuk IPK, saya berada di tingkat moderat (nggak sampai cum laude).

S: Bisa dijelaskan tentang pengalaman berorganisasi dari masih belajar di Indonesia sampai sekarang di prancis?

F: Pengalaman berorganisasi saya dimulai dari SMP, dimana saya menjadi ketua OSIS. Lalu, saya teruskan lagi di perkuliahan dengan aktif di BEM fakultas serta himpunan jurusan. Di sini, saya aktif dalam mengorganisir acara-acara di kampus di berbagai bidang; dari acara musik hingga lomba winning eleven. Saya juga aktif dalam organisasi independen di Jurusan saya, KAMASE, yang aktif dalam studi dan sosialisi pada bidang energi. Bersama KAMASE saya ikut memberikan kontribusi dalam desain dan pembangunan Solar Water Pumping di Gunung Kidul sebagai alat bantu akses air bersih untuk desa terpencil di sana.


Di Prancis, saya secara relatif cukup aktif berorganisasi. Ini saya lakukan agar dapat terus berinteraksi dengan teman teman Indonesia dan menjaga semangat juang untuk tanah air saya. Saya mulai dengan menjadi Badan Musyawarah PPI Nantes 2010. Lalu, saya sempat tidak ikut aktif karena harus melakukan tugas akhir master di Itali. Pada tahun 2012, saya diberi amanah untuk menjadi ketua Bidang Pendidikan sekaligus menjadi ketua OKTI yang ke Tiga. Sekarang, saya mengemban tanggung jawab sebagai ketua PPI Paris untuk periode 2013/2014.

Karena saya yakin Indonesia pasti akan menjadi negara maju, tapi untuk itu kita harus selalu menjadi yang unggul dan kita harus selalu mengejar itu dengan riset dan inovasi.

S: Apakah jalannya acara OKTI beberapa waktu lalu sudah sesuai dengan ekspektasi? Apa catatan yg penting atau menarik selama OKTI? apa yang harus segera diaplikasikan setelah OkTI? tanggapan teman-teman yang lain?

F: Alhamdulillah acara OKTI kemarin berjalan dengan lancar tanpa gangguan yang signifikan dan saya sekali lagi ingin berterima kasih banyak dengan semua pihak yang telah membantu acara ini. Kami sangat bersyukur dengan berhasil mengundang Bapak Ilham Habibie dan Ibu Dessy Irawati. Kami juga tidak punya ekpektasi bahwa ada lebih dari 400 proposal abstrak yang kami terima. Tentu saja ada banyak hal yang tidak sempurna dalam acara ini karena mengingat kesibukan akademis dan non-akademis teman teman semua. Namun, semua sudah kami catat dan saya yakin OKTI selanjutnya akan jauh lebih baik dari sekarang.

S: Apakah catatan yang paling menarik selama acara OKTI berlangsung?

F: Catatan paling menarik selama OKTI mungkin adalah saya pada saat itu statusnya illegal di Prancis. hehe. Ini dikarenakan pada saat itu saya sedang berada dalam masa ketidakjelasan administratif. Tapi, di luar candaan saya, selama OKTI berlangsung saya melihat bahwa tiap mahasiswa Indonesia memiliki potensi berinovasi yang dapat membangun negara kita. Tentu saja ide-

ide tersebut belum semuanya sempurna menjadi produk yang jadi dan siap untuk Indonesia. Oleh karena itu, saya harap semua pihak yang berpartispasi di OKTI tidak berhenti mengejar ilmu dan mengembangkan ilmu sehingga dapat mendorong perkembangan indonesia.

S: Apa harapan Faddy yang bisa segera diaplikasikan setelah acara OKTI berakhir?

F: Setelah OKTI, saya rasa tidak mungkin kita bisa serta merta mengaplikasikan hal yang besar seperti membangun PLTN atau membangun laser ataupun mengganti sistim yang ada. Saya lebih ingin semangat untuk melakukan riset, mengejar ilmu dan mengembangkan ilmu itu tertanam di teman-teman semua. Inilah pesan yang dibawa OKTI. Karena saya yakin Indonesia pasti akan menjadi negara maju, tapi untuk itu kita harus selalu menjadi yang unggul dan kita harus selalu mengejar itu dengan riset dan inovasi. Selain itu, setiap hal memiliki proses, pesawat luar angkasa tidak dapat langsung diciptakan begitu saja. Riset tersebut dimulai dari rumus gaya Isaac Newton dan berkembang dua abad kemudian untuk membawa manusia ke bulan. Oleh karena itulah, dengan OKTI ini, saya ingin mendorong seluruh pemuda Indonesia untuk terus berkarya karena bisa jadi karya ini adalah batu pijakan untuk hal yang lebih besar di kemudian hari entah untuk Indonesia ataupun dunia.

S: Sebagai pemuda Indonesia yang sedang menuntut ilmu di prancis, nilai-nilai apa saja yang bisa diambil untuk kemajuan Indonesia?

F: Ada satu hal paling penting dalam hidup saya yang saya dapat ketika saya belajar di sini. Hal itu saya dapat dari percakapan singkat antara saya dengan atasan saya ketika berada di Itali untuk tugas akhir master saya. Pada saat itu, saya ditanya oleh atasan saya “Apakah kamu bisa membangun ini?”. Saya jawab “Saya tidak tahu, saya tidak yakin”. Dengan santai beliau membalas “Well, if they can do it, there is no way we cannot do it”.

9


Sebagai orang Indonesia yang masih terkadang merasa inferior saya rasa penting bagi kita untuk menaruh mind set kita bahwa orang Prancis, Itali, Cina atau orang manapun itu sama seperti kita. Mereka juga memulai membaca dengan umur yang relatif sama dengan kita. Mereka juga suka main game, sama seperti kita. Kalau mereka bisa berhasil membuat rumus atau teori baru, kita seharusnya bisa melakukannya juga. Kalau mereka bisa menggali minyak di negara kita, kita seharusnya bisa menggali minyak di negara sendiri atau bahkan di negara mereka. Kalau mereka bisa membuat mobil, kita pasti mampu membuat mobil yang lebih bagus. Kita hanya perlu memberikan usaha dan kerja keras yang lebih dari yang lain. Untuk itulah, kita perlu terus mencoba untuk maju, menjadi yang terbaik di bidang yang kita geluti dan jangan pernah merasa kita tidak bisa ketika ada orang lain yang bisa melakukannya.

10

S: Apa makna semangat sumpah pemuda bagi faddy?

F: Bagi saya, semangat sumpah pemuda memberi makna perjuangan untuk tanah air bagi saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beraninya para pemuda pada zaman penjajahan itu yang memberikan janji untuk menegaskan cita cita berdirinya negara Indonesia. Dari sumpah pemuda inilah, akhirnya semangat itu berkobar ke seluruh pemuda yang akhirnya menciptakan kemerdakan Indonesia di tahun 1945. Sekarang, kita sudah merdeka dan saya bisa bersekolah dengan bebas dimana saja. Namun, sumpah pemuda ini selalu mengingatkan saya bahwa kita harus terus berjuang untuk tanah air kita dimanapun kita berada. Sebagai pemuda pada era baru, kita harus memiliki cita-cita yang lebih tinggi untuk Indonesia. Kita adalah pemuda-pemuda yang akan merealisasikan hal itu. Maka dari itu, kita harus berjuang dengan apa yang kita mampu untuk memberikan kontribusi dalam perkembangan di Indonesia.

S: Menurut Faddy, apa yang bisa PPI Prancis lakukan untuk menfasilitasi semangat pemuda ?

F: Banyak hal yang bisa dilakukan dan telah dilakukan oleh PPI Prancis. Satu contoh yang telah dilakukan PPI Prancis adalah OKTI, dimana kita memberi wadah untuk semangat juang pemuda di era yang baru dalam berkarya. Untuk ke depannya, saya sangat ingin teman teman PPI Prancis dapat terus memberikan acaraacara atau produk serupa sehingga api perjuangan tidak mati. Mungkin dengan membuat newsletter yang berisikan ide

untuk kemajuan Indonesia yang ditulis oleh para pemuda atau dengan membuat forum diskusi pemuda untuk bertukar pikiran membahas cara memajukan Indonesia. Saya juga berharap PPI Prancis dapat terus memfasilitasi transfer knowledge dari para pemuda Indonesia di Prancis ke teman-teman yang kita yang tidak seberuntung kita seperti dengan sharing beasiswa, seminar ke universitas atau sekolah di Indonesia dan juga sharing riset atau bahan kuliah kita dengan mereka.

Sebagai pemuda pada era baru, kita harus memiliki cita-cita yang lebih tinggi untuk Indonesia. S: Menurut Faddy, Dimana Anda pada lima tahun kedepan?

F: Setelah lulus doktoral nanti, saya harus membayar hutang budi ke perusahaan yang menyekolahkan saya terlebih dahulu dengan bekerja bersama mereka di Eropa untuk bertahun-tahun ke depan. Mereka telah memberikan kepercayaan kepada saya dengan tanggung jawab serta berbaik hati menyekolahkan saya. Oleh karena itu, sebagai orang Indonesia dan orang Jawa saya harus menjawabnya dengan loyalitas dan kerja keras. Akan tetapi, saya tidak akan melupakan tanah air saya. Kehadiran saya di perusahan ini mempunyai harapan dan rencana panjang di benak saya. Saya sangat berharap di kemudian hari akan tercipta kerja sama antara Cogenpower dengan Indonesia yang dapat mendorong negara kita menjadi negara maju. Lalu, dan yang paling penting, di perusahan ini saya ingin belajar dan mempersiapkan diri saya untuk mendirikan sebuah perusahaan di bidang energi milik saya di Indonesia ketika saya pulang nanti. Akan tetapi, seperti bapak B.J. Habibie, tentu saja saya akan dengan senang hati pulang ke Indonesia apabila ada presiden RI yang meminta saya pulang untuk membantu dia membangun Indonesia. Saya berharap calon Presiden RI itu sedang membaca tulisan ini sekarang dan mengingat saya ketika menjadi presiden nanti.


11


12

L

I

P

U

TA

N

M E N C AR UNTUK Teks: Sesulih Kapti Laras Foto: Iyan Xavier

OKT


13

OKT

I

2

0

1

3

I SOLUSI BANGSA


Teman-teman Salut!, tahun 2013 ini dengan sukses PPI Prancis kembali menyelenggarakan Olimpiade Karya Tulis Ilmiah atau OKTI dengan acara puncak yang berlangsung tanggal 26-27 Oktober di Paris. Acara yang turut didukung oleh KBRI Paris, Insitut Français d’Indonésie (IFI), CampusFrance, Total, dan SKK Migas ini berhasil menyedot animo mahasiswamahasiswa Indonesia di seluruh dunia loh. Simak liputannya berikut ini. 14

Sekilas tentang OKTI

Nah, bagi yang belum tahu, OKTI merupakan forum ilmiah bergengsi yang diadakan setiap dua tahun sekali oleh PPI Prancis. Tahun ini merupakan tahun ketiga penyelenggaran OKTI setelah tahun 2009 dan 2011. Acara ini diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia dari dalam dan luar negeri untuk mengirimkan karya tulis ilmiah terbaiknya dalam bidang sains, teknologi, sosial humaniora, pendidikan dan ekonomi. Karya-karya tulis ilmiah tersebut tentunya harus disesuaikan dengan tema yang diambil setiap tahunnya. Nah, OKTI tahun 2013 ini mengusung tema “Innovative Solution for the Future of Indonesia”. Dengan adanya tema ini, diharapkan dari OKTI akan lahir inovasi-inovasi yang berguna bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan dan permasalahan di masa depan.

Acara puncak OKTI

OKTI 2013 kali ini berhasil menerima 400 abstrak karya tulis ilmiah mahasiswa Indonesia dari berbagai negara di dunia. Setelah melalui proses seleksi yang ketat oleh para reviewer akademik dari Indonesian Scholar Journal, terpiihlah 25 yang terbaik yang akan dipresentasikan pada acara puncak OKTI di Paris. Nah, seperti telah disebutkan diatas, acara puncak ini dilangsungkan selama dua hari, yaitu tanggal 26-27 Oktober 2013 di KBRI Paris. Selama dua hari ini, para finalis mempresentasikan karya tulis ilmiahnya dihadapan para juri dan juga para tamu undangan yang terdiri dari KBRI Paris, perwakilan-perwakilan mahasiswa


Indonesia di Prancis, mahasiswa-mahasiswa asing undangan seperti asosiasi mahasiswa dari negara-negara ASEAN di Prancis, serta para professional dan praktisi. Turut hadir pula Dr.Ing Ilham Habibie, MBA dan Dr Dessy Irawati sebagai keynote speaker dalam acara ini. Dr. Ing Ilham Habibie adalah Presidium ICMI Pusat dan memiliki pengalaman panjang dalam dunia kedirgantaraan, sedangkan Dr Dessy Irawati adalah Ketua Umum I-4 (International Indonesian Scholars Association) Periode 20132015. Acara dua hari yang cukup padat dan menguras tenaga ini ditutup dengan jalan-jalan keliling Paris. Menyenangkan, bukan ?

15

Inilah Para Pemenangnya !

Para pemenang OKTI tahun ini terdiri dari beberapa kategori, yaitu Best Paper, Best Poster, dan Best Presentation. Kategori Best Paper dimenangkan oleh Meilani Kurniawati Wibowo dari National Taiwan University of Science and Technology (Taiwan) dengan judul karya tulis A Computational Study of Sulfonebased Solvents for High-Voltage Li-ion Battery Strong accept. Kategori Best Poster dimenangkan oleh Nancy Marisa Natalia Sianipar dari Rostov State University of Economics (Rusia) dengan judul karya tulis Russia as A Strategic Partner with the Republic of Indonesia in the Bilateral Economic Cooperation. Kategori yang terakhir yaitu Best Presentation, dimenangkan oleh Rahma Muthia dari University of Twente (Belanda) dengan judul karya tulis Application of Advanced Distillation Configuration to Enhance Industrial Process Intensification in Indonesia. Masingmasing pemenang atau juara 1 dari masing-masing kategori berhak mendapatkan uang tunai sebesar 500 Euro, sedangkan untuk juara 2 dan juara 3 masing-masing 300 Euro dan 200 Euro. Une grande felicitation buat para pemenang! Buat yang masih belum beruntung dan ingin berkesempatan menjadi pemenang serta jalan-jalan ke Paris, nantikan OKTI 2015 mendatang yah!.

Akhirnya, selamat dan terima kasih banyak juga buat para panitia OKTI 2013 yang diketuai oleh Faddy Ardian, serta berbagai pihak yang turut membantu kesukesan acara ini. Bravo !!!


16

Mengenal Lebih Dekat B e a sis wa L P D P Teks: Arnadi Murtiyoso

Biasanya ketika memutuskan ingin melanjutkan sekolah keluar negeri, ada dua masalah utama yang timbul. Masalah pertama, Negara mana dan lebih penting lagi universitas/ sekolah mana yang diinginkan. Masalah kedua yang paling penting lagi adalah bagaimana caranya membiayai sekolah itu?


Untuk masalah pertama, kita harus rajin mencari informasi dan berkomunikasi. Di Indonesia, untuk studi ke Perancis untungnya ada Campus France dengan basis datanya yang sangat membantu kita. Bagaimana dengan masalah pendanaan? Tentunya kita ingin mencari beasiswa yang memadai. Nah, ijinkan saya untuk share beberapa pengalaman saya. Sejak tahun 2013, pemerintah Indonesia memiliki program beasiswa andalan baru. “Beasiswa Pendidikan Indonesia”, begitulah namanya. Beasiswa ini dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dibawah naungan tiga kementrian: Kementrian Keuangan, Kementrian Pendidikan Nasional, dan Kementrian Agama. Dikalangan para pemburu beasiswa biasanya lebih marak disebut “Beasiswa LPDP” atau “Beasiswa Kemenkeu” karena operator utama beasiswa ini memang LPDP dibawah Kementrian Keuangan.

Skema LPDP

Beasiswa ini terbuka bagi semua warga Indonesia. Terdapat beberapa skema pendanaan yang ditawarkan oleh LPDP. Pertama, yaitu beasiswa belajar yang mencakup Program Magister (S-2) dan Doktor (S-3). Komponen pembiayaannya tidak tanggungtanggung, hampir semua keperluan penerima yang berkaitan dengan pendidikannya dipenuhi. Mulai dari biaya sekolah, biaya transportasi, biaya hidup, sampai dengan biaya buku dan biaya wisuda. Kedua, dana penyelenggaraan tesis atau disertasi dan yang ketiga, dana riset. Untuk program beasiswa Magister dan Doktor, LPDP membukanya untuk universitas di dalam maupun di luar negeri. Untuk universitas luar negeri, LPDP membatasi universitas tujuan ke 200 universitas terbaik dunia. Tapi jangan khawatir, karena kita tetap bisa masuk ke universitas di luar daftar itu, asalkan mampu membuktikan bahwa untuk jurusan yang kita tuju, universitas tersebut memang bereputasi baik. Untuk Perancis, ini penting karena sistim Grande Ecole biasanya luput dari rangking universitas dunia terutama untuk bidang-bidang yang kurang dikenal. Tahapan seleksi beasiswa sendiri terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu seleksi dokumen, seleksi wawancara, dan pengayaan kepemimpinan. Selanjutnya pertanyaan yang paling sering saya terima tentang beasiswa ini yaitu, mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, mendaftar universitas atau mendaftar beasiswa? Tidak masalah! Beasiswa LPDP ini tidak mengharuskan pendaftarnya sudah diterima di universitas tertentu (tapi meminta pendaftar untuk mengidentifikasi universitas yang diinginkan ketika mendaftar beasiswa). Jika pendaftaran universitas sudah buka, langsung daftar saja. Selain itu, pendaftaran beasiswa terbuka sepanjang tahun.

Dana abadi

Kelebihan utama dari beasiswa ini, yaitu dana yang digunakan tidak terikat kepada APBN. Dana beasiswa LPDP ini merupakan dana abadi, sehingga secara teknis tidak ada alasan untuk keterlambatan pencairan. Saya pribadi sebagai penerima, sejauh

ini belum pernah merasakan keterlambatan pengurusan dana beasiswa. Selain itu beasiswa ini juga tidak memiliki ikatan dinas, tetapi kita tetap diharuskan untuk kembali ke Indonesia sesudah menyelesaikan studi.

Masih terus dikaji

Akan tetapi karena masih baru, beasiswa ini juga masih punya banyak kekurangan. Kekurangan utama bagi yang ingin studi ke Perancis, tentunya yaitu penerima beasiswa ini belum dianggap sebagai penerima Bourse de Gouvernement Français (BGF), sehingga penerima tetap mengalami kesulitan tertentu seperti kesulitan mencari tempat tinggal di Cité Univérsitaire di Prancis. Tapi situasi ini sedang dalam tahap diskusi antara LPDP dan Campus France Indonesia. Masalah perbedaan sistem pendidikan Prancis dan sistem Indonesia atau Anglo-Saxon juga masih perlu dikaji. Selain itu sistem informasi LPDP masih dikembangkan sehingga akibatnya keberadaan beasiswa ini juga masih kurang diketahui. Padahal, potensi dari program beasiswa ini sangat besar. Namun demikian secara keseluruhan, kualitas dan kuantitas pendanaan yang ditawarkan bisa dikatakan setara atau bahkan lebih dari yang diberikan oleh beberapa institusi beasiswa asing. Di tengah sulitnya mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah, LPDP memberikan alternatif yang sangat baik. Tahapan birokrasi seleksi lebih sederhana, dan komponen pembiayaannya sangat mencukupi keperluan studi penerimanya. Sudah saatnya Indonesia memiliki institusi khusus dan profesional yang memberikan dana pendidikan sebagaimana telah dimiliki beberapa negara lain.

Untuk pendaftaran beasiswa maupun informasi lebih lanjut, bisa langsung mengunjungi situs http:// beasiswalpdp. org/

17


The 8th UNESCO Youth Forum

18

D a r i Pemuda Untuk Pemuda Teks: Mexind Suko Utomo Gustika Jusuf Foto: dokumen pribadi

« Les jeunes ne sont pas seulement la génération de demain – les jeunes sont des partenaires aujourd’hui». Itulah kalimat pembuka rekomendasi “The 8th UNESCO Youth Forum” (UYF8) yang dikutip dari Ahmad Alhendawi, Utusan pertama Sekjen PBB untuk Pemuda. Pada tgl. 29-31 Oktober 2013, markas UNESCO di Paris menjadi lebih hidup dengan berkobarnya luapan semangat 500 pemuda dari 150 negara dan LSM yang berkumpul dengan satu misi, memastikan suara mereka didengar seluruh dunia, tidak hanya sebagai penerima bantuan tapi juga sebagai mitra kerjasama pembangunan.


Aspirasi Pemuda

Didirikan pada tahun 1945, UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan, membangun pemahaman lintas budaya, memajukan kerjasama ilmiah dan melindungi kebebasan berekspresi. Sampai hari ini, UNESCO adalah satusatunya badan PBB yang mengakui Palestina sebagai negara anggota. Adapun forum pemuda UNESCO diadakan sejak tahun 1999 untuk menampung aspirasi pemuda dan menyampaikannya kepada “UNESCO General Conference”, pertemuan tertinggi di UNESCO yang mengumpulkan Menteri Pendidikan dari seluruh 195 negara anggota setiap dua tahun. Dengan tema “Youth and Social Inclusion: Civic Engagement, Dialogue and Skills Development”, para peserta UYF8 mengupas tantangan pemuda di seluruh penjuru dunia dan membahas solusinya melalui implementasi UNESCO Operational Strategy on Youth 2014-2021 yang mencakup Policy formulation and review with the participation of youth, Capacity development for the transition to adulthood, dan Civic engagement, democratic participation and social innovation . Delegasi Indonesia terdiri dari Mexind Suko Utomo (mahasiswa École Nationale d’Administration, Duta Muda ASEAN-Indonesia 2009) sebagai Wakil Resmi, Gustika Fardani Jusuf (mahasiswi Sciences Po Lyon, wakil pemuda Indonesia pada UNFCCC COP18 / CMP8) dan M. Dhafi Iskandar (mahasiswa Université Paris Ouest Nanterre La Defense, Ketua PPI Perancis merangkap Koordinator PPI Amerop) sebagai Pengamat. Partisipasi Delegasi Indonesia turut dibantu oleh Edwin Leo Mokodompit (Koordinator Isu Pemuda pada Komnas Indonesia untuk UNESCO, peserta Forum Pemuda UNESCO ke-6 dan pembicara pada Forum Pemuda UNESCO ke7) yang mungkin lebih dikenal masyarakat luas sebagai Leo AFI.

Rekomendasi Delegasi Indonesia

Berbeda dari sebelumnya, Delegasi Indonesia kali ini tidak hanya menggunakan bahasa Inggris, tapi juga bahasa Perancis untuk merangkul para pemuda Afrika, dan bahasa Spanyol untuk merangkul para pemuda Amerika Latin. Secara keseluruhan, ada enam isu yang berhasil diangkat dan dimasukkan ke dalam rekomendasi akhir, diantaranya promosi mekanisme magang pada kurikulum sekolah menengah atas guna mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan lapangan kerja, serta

dorongan kepada perusahaan besar agar mengalokasikan dana CSR untuk kegiatan kewirausahaan pemuda. Rekomendasi akhir berjumlah tiga halaman kemudian disampaikan kepada semua komisi yang ada dalam “The 37th UNESCO General Conference”, tgl. 5-20 November 2013. Indonesia yang diwakili Mexind diundang untuk memberikan presentasi hasil forum serta berdiskusi tentang langkah implementasinya di Komisi Kominfo dan Komisi Kebudayaan

Memperjuangkan kepentingan pelajar Indonesia

Sebagai sebuah organisasi non-politik yang bergerak di bidang akademik, sosial dan budaya, PPI Perancis perlu melibatkan diri di UNESCO dalam kerangka NGO-UNESCO liason committee, memperjuangkan kepentingan pelajar Indonesia di tanah air maupun di perantauan mancanegara. PPI Perancis, yang mewakili unsur non-pemerintah, perlu bekerjasama dengan KWRI UNESCO (Kantor Wakil RI pada UNESCO di Paris) dan KNIU (Komnas Indonesia untuk UNESCO di Jakarta) dalam memperkuat posisi Indonesia di UNESCO pada berbagai lapisan. Terlebih, eksistensi PPI Perancis di UNESCO juga akan meningkatkan diseminasi berbagai kesempatan magang, lowongan pekerjaan maupun tawaran penelitian yang tersedia untuk semua pelajar Indonesia.

19


8th UNESCO YOUTH FORUM 29-31 October 2013 UNESCO Headquarters, Paris RECOMMENDATIONS “Youth are not just the future generation - youth are partners today.” Ahmad Alhendawi, UN Special Envoy for Youth The 8th UNESCO Youth Forum, Welcoming the initiative of UNESCO to organize the 8th Youth Forum on “Youth and Social Inclusion: Civic Engagement, Dialogue and Skills Development”, held at the Headquarters, in Paris, from 29-31 October 2013, prior to the 37th General Conference;

within the UNESCO-NGO liaison committee. We call on UNESCO to formalize youth participation at the General Conference by ensuring a youth delegate is included in the national delegation by the 38th session. Equal participation from young people of all Member States should be ensured.

Reaffirming the recommendations that were adopted by the 7th UNESCO Youth Forum in 2011 and the previous Forums;

2. UNESCO must ensure that the implementation and followup of the Operational Strategy on Youth involves young people as well as youth organizations in the decision-making, implementation and evaluation procedures. To do so, UNESCO should urge Member States’ National Commissions for UNESCO to include permanent and full youth representation.

Applauding the initiative of the General Conference in integrating youth in its strategy development, and encouraging UNESCO and its Member States to continue integrating youth in decisionmaking and in the implementation of the operational strategy;

20

Emphasizing the importance of youth as a high priority in the work of UNESCO; Acknowledging the challenges young people face today and taking into account the gender balance, with a specific focus on marginalized and disabled youth, and underlining that these groups should receive specific attention in the implementation of our recommendations; Recognizing that young people in all countries are key agents for social change, economic development and technological innovation, and affirming that investment in youth development and education is crucial for sustainable social, economic and cultural development; Recalling the importance of a Youth Forum prior to and feeding into the General Conference and encouraging UNESCO to continue involving youth through a Forum in the future; Puts forth the following recommendations to the 37th General Conference of UNESCO:

AXIS 1 : Policy formulation and review with the participation of youth

1. Ensure that autonomous, inclusive youth structures are established and strengthened in every Member State by 2021, as well as a permanent UN youth forum in the UN system. Assure closer cooperation between UNESCO and non-governmental youth organizations and reestablish a youth NGO commission

3. Promote and conduct formal and non-formal education on active national and global citizenship. This should include participation in democracy and decision-making, knowledge of existing law and policy-making procedures. Equal opportunities for participation among different groups of youth should be highlighted.

AXIS 2: Capacity development for the transition to adulthood

4. Youth’s skills and competences gained through non-formal and informal education and training should be recognized by the Member States, by developing tools and mechanisms to officially value and validate them. 5. Improving the quality of the formal educational systems should be a priority in the post-2015 agenda, especially in terms of measurable outcomes. Media and information literacy, entrepreneurship skills, technical, vocational education, education for sustainable development and peace, should be included in the curricula. We urge Member States at the General Conference of UNESCO to thoroughly consider a proposal for a global convention for recognition of higher education. 6. Member States must prioritize youth employment by undertaking the following measures: narrow the gap between educational systems and labour markets; supporting quality internship opportunities accessible for all; providing job opportunities especially in green economy; encouraging entrepreneurship and social business; and providing information,


training centers run by government and civil society to be accessible to all young people.

AXIS 3: Civic engagement, democratic participation and social innovation

7. It should be a high priority to encourage organizations, nongovernmental organizations, and Member States to sustain teaching young pupils civic and ethics education within formal, non-formal, and informal settings. It is imperative to teach youth what social entrepreneurship is and how it operates through utilizing and promoting peer to peer education. Member States should include mandatory early childhood civic education that will include dialogues between youth and politicians. It is imperative to promote intercultural dialogue and this dialogue should include discussions on the environment, the economy, health, and education which will aid in preventing conflicts. 8. We urge Member States to support economically, socially, and environmentally sustainable youth development projects. This should include private/public partnerships that provide guidance and/or funding for these projects, social entrepreneurship and intergenerational learning with mechanisms to help youth finance these projects and articulate the importance of their projects to potential investors and the general public. UNESCO should promote collaboration and development of knowledge and technological skills across developed and developing countries. 9. We call upon UNESCO, the Member States, and nongovernmental partners to make sure that funding opportunities for youth initiatives are increased and constantly present, in part through engaging in different finance initiatives that help fund youth-led initiatives, and technical support. UNESCO also needs to promote financial responsibility and accountability amongst youth-led initiatives. UNESCO should urge partner organizations to allocate CSR from corporations to youth entrepreneurship. In particular, funding for the following programs should be increased: social entrepreneurship, and programs that encourage more women and minorities to study science, mathematics, engineering, technological fields, and other underrepresented fields as well as the creative arts.

10. We invite UNESCO Member States to incorporate, in the national laws, action plans to secure the development, participation, and inclusion of all young people, which will encourage youth participation and social inclusion. To foster this, ICT should be one of the targeted tools, especially social media. To ensure free and open participation, the protection of online and offline media as an open space for collaboration must be ensured. It is imperative to promote a culture of “inclusiveness,� free from all possible forms of discrimination. In order to do so, Member States should support the integration of existing youth immigrants, indigenous, and marginalized youth into society and promote intercultural diversity, so as to safeguard the interests of people in all sectors of society. In addition, all countries are required to detect and eliminate all social, cultural, and economic factors that contribute to, and propel, systemic and autonomic oppression and inequalities. UNESCO must urge Member States to improve media infrastructure and literacy among youth as a basis for dialogue and collaborative opportunities between decision-makers and all youth. Policies to eliminate intercultural barriers based on ethnicity, religion, age, language, gender, socioeconomic status, sexual orientation, and ability should be a global direction.

21


S e m a n g at M u da d i JournĂŠe dES L angueS 2 013 Teks: Btari Chandra Kesumanegoro Foto: Raphael Reyner


23


24


25


26


Journée des Langues merupakan acara tahunan kota Lyon yang pada penyelenggaraannya, fokus pada kajian bahasa dari berbagai negara. Tahun ini, Indonesia yang diwakili oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Lyon (PPI Lyon) kembali berpartisipasi meramaikan acara ini di Place Sathonay pada tanggal 21 September 2013 yang lalu.

Keragaman Bahasa Indonesia

Acara ini merupakan salah satu kesempatan untuk PPI Lyon untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat Prancis, terutama bagi mereka yang tinggal di Lyon. Tidak hanya terfokus pada bahasa Indonesia, mereka juga memperkenalkan aksara batak dan jawa kepada para pengunjung yang hadir diacara terbuka ini dengan menuliskan nama pengunjung dalam aksara tersebut. Banyak pengunjung yang terkejut mengenai keragaman bahasa yang ada di Indonesia karena hal ini jarang ditemukan di Negara lain. Lalu, aksi ini terkait dengan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai salah satu spirit sumpah pemuda dalam melestarikan bahasa dan aksara daerah. Sebanyak 53 negara turut berpartisipasi dalam acara ini dimana dihadiri pula oleh Xavier North (Ministère de la Culture – DGLFLF) serta Nathalie Perrin-Gilbert (Maire du 1er arrondissement). Sebagai pembuka acara Journée de la Langue, tim tari saman PPI Lyon tampil meramaikan acara dan berhasil menarik perhatian para pengunjung. Selain itu, acara yang juga didukung oleh ITPC Lyon ini juga dilengkapi oleh dégustation makanan ringan khas Indonesia, yaitu klepon, bakwan goreng, lumpia, dan martabak telur. Di stan Indonesia yang diramaikan oleh berbagai hiasan khas nusantara seperti kain batik, wayang-wayang, dan bendera Indonesia ini, para anggota PPI Lyon membagikan selembaran berisi percakapan sehari-hari berbahasa Indonesia dengan terjemahannya dalam bahasa Prancis. Tidak lupa mereka juga memajang kamus-kamus serta buku-buku berbahasa Indonesia yang bisa dibaca oleh pengunjung.

Lebih baik

Menurut Anggawestri Nabila atau yang biasa dipanggil Echie, mahasiswi LEA Université Jean Moulin Lyon 3 yang juga berpartisipasi di Journée de la Langue, acara ini lebih sukses dan bagus dari tahun sebelumnya. Ia mengaku puas dengan kerja PPI Lyon yang lebih terstruktur sehingga menarik banyak perhatian pengunjung. Sebagai mahasiswi dari fakultas bahasa, ia pun merasa senang karena bisa belajar berbagai bahasa dari mancanegara sekaligus memperkenalkan bahasa Indonesia ke khalayak luas. Echie yakin ini semua merupakan wujud dari semangat para pemuda dalam mencintai Indonesia melalui pelestarian bahasanya.

27


L A

N U I T

Penuhi Jawab 28

I N DO N É S I E N

Tang Seb

Ahli Wa K e b u d a y

Teks: Helena Ariesty Foto: Iyan Xavier


N N E

2 0 1 3

ggung bagai

Waris a a n

29


30

Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan. Keragaman budaya tersebut merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, didukung oleh diversitas dari berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dimana setiap pulaunya didiami oleh jumlah suku yang tidak sedikit kuantitasnya. Keanekaragaman ini adalah sebuah keunggulan tersendiri bagi bangsa Indonesia dan anugerah yang sudah selayaknya dilestarikan oleh seluruh penduduk Indonesia dimanapun mereka berada.


31


32


Sebuah Asosiasi Pelajar Indonesia (PPI) di Perancis terutama di kota Rennes memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi untuk memperkenalkan budaya Indonesia dalam kancah internasional. PPI Rennes mempersembahkan “La Nuit Indonésienne” atau “Malam Indonesia” sebagai bentuk rasa tanggung jawab generasi muda pemilik dan penerus warisan budaya negeri. Acara tersebut diselenggarakan pada Jumat malam, 24 Mei 2013, berlangsung pada pk 20.00 hingga pk 23.00 di La Liberté, sebuah gedung pertunjukkan yang berlokasi di pusat kota Rennes. Dalam acara ini, panitia turut mengundang Duta Besar Republik Indonesia, Bapak Rezlan Ishar Jenie, namun sangat disayangkan beliau berhalangan hadir sehingga menugaskan Duta Besar Indonesia untuk UNESCO yaitu Bapak Carmadi Mahbub untuk memberikan sambutan pada pembukaan acara. Pak Carmadi Mahbub dalam pidatonya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kreativitas generasi muda dalam memperkenalkan budaya Indonesia ke masyarakat Perancis, terlebih lagi hal ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat positif dalam ajang pertukaran budaya dari dua negara yang berbeda (PerancisIndonesia) salah satunya adalah adanya beberapa orang Perancis yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara tersebut. Acara ini dibuka oleh ketua Panitia, Nicholas Steven Cendana Lianel, yang dalam pidatonya memberikan ucapan terima kasih kepada Duta Besar Indonesia untuk UNESCO, Bapak Carmadi Mahbub dan Ibu Ade Campaign, Presiden Asosiasi FrancoIndonesiénne Rasa Sayang atas kehadirannya memeriahkan acara tersebut serta menyatakan tujuan dari berlangsungnya acara ini adalah untuk memenuhi tanggung jawab sebagai pemudapemudi Indonesia yang merupakan ahli waris kebudayaan untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya negeri sendiri serta mempresentasikan slogan “Wonderful Indonesia” yang mengajak penonton untuk menikmati kesatuan dalam kekayaan dan keragaman budaya Indonesia. Acara “Malam Indonesia” menyajikan keanekaragaman tarian khas Indonesia, meliputi tari Pendet, tari Maengket, tari Saman, tari Piring, tari Oleg Tamulilingan, tari Sajojo, dan tari Poco-poco sebagai penutupan acara. Selain itu, terdapat juga penampilan gamelan oleh Asosiasi Ageng, peragaan busana tradisional Indonesia yang dibawakan oleh gabungan mahasiswa Indonesia dan Perancis yang bertujuan untuk melakukan pertukaran budaya, siteran Jawa serta penampilan paduan suara lagu nasional dengan iringan gitar dan biola. Acara ini juga menampilkan pameran batik, wayang, rebab, seruling, dan lain sebagainya.

33


Tari pendet merupakan tarian khas Bali yang memiliki makna ucapan selamat datang yang ditujukan kepada seluruh penonton yang telah hadir. Tari Maengket berasal dari rakyat Minahasa di kota Manado, Sulawesi Utara yang merupakan bentuk ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian terutama tanaman padi yang melimpah ruah.

34

Selanjutnya, tari Saman juga tidak kalah menarik dari tarian yang lainnya. Tarian yang berasal dari Aceh ini banyak menyedot perhatian dari para penonton yang hadir. Keseragaman formasi dan ketepatan waktu merupakan suatu hal yang sangat sakral dalam penampilannya, dan berhasil dibawakan dengan sangat luar biasa oleh tim Saman PPI Rennes. Bravo ! Tim saman melakukan tarian ini secara berkelompok dengan formasi tiga pria, dan tiga wanita dengan posisi duduk berlutut. Para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi terhadap iringan alat musik berupa gendang, juga menggunakan suara dari para penari, sinkronisasi tepukan tangan dengan memukul dada dan pangkal paha. Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang disebut sebagai Syech. Kebetulan sekali pada acara La Nuit IndonesiĂŠnne, syech tari saman ini didatangkan langsung dari Aceh, tempat asal tarian sehingga suara dan penampilan yang dihasilkan membawa penonton ke nuansa adat tanah Rencong. Para penonton juga dibuat terpukau oleh penampilan tunggal tari piring yang berasal dari Minagkabau, Sumatera Barat, yang dibawakan dengan luar biasa oleh Amanda Ariawan, koordinator acara La Nuit IndonesiĂŠnne. Tujuannya hampir sama dengan tari Maengket yaitu ucapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Tarian ini ditampilkan dengan menggunakan media utama yaitu piring yang diayunkan dengan gerakan yang cepat dan teratur tanpa terlepas dari genggaman tangan yang diselingi dengan dentingan piring dari cincin sang penari. Selanjutnya, tari Oleg Tamulilingan dibawakan oleh Asosiasi Sekar Jagat Indonesia, yang menggambarkan dua ekor kumbang, jantan dan betina, sedang bersenang-senang di taman Bunga sambil mengisap madu. Gerakan tarian ini sangat lemah gemulai dan menuai tepukan riuh dari penonton yang hadir. Selain itu, tari Sajojo yang berasal dari Papua turut memeriahkan acara ini. Tarian pergaulan asal Papua ini dibawakan secara bersama-sama dengan hentakan kaki dan goyangan tubuh, serta dilengkapi dengan kostum tradisional khas Papua, yang sangat atraktif menangkap perhatian penonton. Tari Sajojo merupakan bagian dari kebudayaan asli Indonesia yang memesona. Tarian terakhir pada acara kebudayan ini adalah tari poco-poco yang dibawakan oleh seluruh panitia penyelenggara. Tarian ini mendapat apresiasi yang luar biasa. Setelah berlangsungnya acara ini, terdapat beberapa pengunjung yang meminta untuk diajarkan bagaimana cara menarikannya. Hal ini sangat mengejutkan dan merupakan dampak yang sangat positif terhadap pengenalan budaya Indonesia di kancah internasional, terutama di kota Rennes


Demikianlah acara La Nuit IndonĂŠsienne dapat terlaksana dengan baik dan harapannya acara seperti ini dapat semakin mendorong minat calon wisatawan mancanegara asal Prancis untuk datang mengunjungi Indonesia.

35


Ice Breaking

Faire

Une SoirĂŠe

Teks: Lita Lestianti

36

SoirĂŠe dengan teman-teman Perancis menjadi salah satu event bagi kita untuk mengenal satu sama lain. Jika selama perkuliahan kita kurang bisa menyatu dengan teman sekelas, karena bisa jadi satu kelas memiliki kuran lebih 30 mahasiswa. Dan tentu saja kita susah untuk mengenal semua teman sekelas kita, apalagi kalau masih menjadi mahasiswa baru apalagi dari benua lain. Kesulitan bergaul selama perkuliahan sebenarnya bisa diatasi dengan mengikuti salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh teman-teman kita, seperti SoirĂŠe. Berikut beberapa tips saat mengikuti SoirĂŠe bagi kita yang masih menjadi mahasiswa baru di Prancis.


DOs Usahakan datang !

Momen ini merupakan momen penting bagi kita sebagai mahasiswa asing. Jika teman sekelas mengadakan Soirée, usahakan datang. jika Soirée diadakan oleh teman sekelas, biasanya sedikit teroganisir dengan baik, karena mereka membuat list makanan yang akan dibawa, salé atau sucré, tinggal kita tulis ingin membawa makanan salé atau sucré atau bawa minuman apa.

Bawa makanan atau minuman

Nah, karena kita berasal dari negara yang kaya akan makanan tradisionalnya, sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita membawa makanan khas Indonesia, seperti tahu isi, pisang goreng, bakwan, atau makanan indo sederhana lainnya yang bahannya mudah dicari. Kalau bisa jangan yang pedas yah, dikhawatirkan malah tidak ada yang makan. Membawa makanan tradisional ini bisa menjadi awal perkenalan kita dengan temanteman sekelas, karena mereka akan bertanya ke kita « ini apa? gimana memasaknya? rasanya salé atau sucré? » dari situ mereka jadi tahu tentang negeri kita kan. Hehe. Dan pastinya dari sebuah makanan bisa berlanjut ke pembicaraan yang lain, seperti keingintahuan mereka tentang Indonesia. Bisa juga kita membuka pembicaraan dengan menanyakan hal yang sama tentang makanan mereka. Jika ingin membawa minuman juga tidak apa-apa, tapi agaknya sedikit ribet kalo kita bawa minum tradisional jadi kalau ingin bawa minuman, bisa beli aja.

Katakan saja !

Jika ditawarkan sesuatu dan kita tidak suka, katakan saja. Beberapa teman yang mengerti kita tidak minum alkohol, mungkin tidak akan menawarkan alkohol, tapi bagi teman yang belum tahu (biasanya untuk yang muslim) dan menawarkan kita alkohol, kita bisa bilang « pas d’alcool, merci », mereka akan memaklumi kok.

Aktif dengan kegiatan didalamnya

Musik pasti tidak pernah luput dari une Soirée dan biasanya temanteman akan mengikuti irama musik dengan menggoyangkan anggota tubuh. Kita ikuti saja gerakan musik bersama temanteman untuk meramaikan suasana. Atau misalnya ada permainanpermainan kecil, maka kita tidak perlu malu untuk mengikutinya.

Percaya diri

Percaya diri menjadi kunci utama agar bisa dianggap existe diantara teman-teman Prancis.

Pamit sebelum pulang

Saat tempat tinggal kita lumayan jauh dari tempat Soirée dan khawatir akan kehabisan transport, maka tidak ada salahnya untuk pamit pulang duluan. Tapi kalau alasan tidak ada transport, biasanya mereka akan menahan kita dan menyuruh kita pulang dengan bus Noctilien (misal di Paris). Maka kita bisa juga beralasan capek dan ingin segera beristirahat, mereka akan memahami kondisi kita.

DON’Ts Jangan mojok sendiri

Bila sudah tidak ada bahan yang ingin dibicarakan, biasanya kita diam saja dan memilih mojok makan dan minum. Jika kita tidak ada bahan yang dibicarakan, lebih baik ikut di rombongan teman sambil makan atau minum, sehingga bisa menimpali apa yang mereka perbincangkan.

Tidak pilih-pilih teman

Soirée itu bukan saja untuk mempererat pertemanan dengan teman yang sudah kita kenal di kelas, tapi juga untuk mengenal dengan teman yang belum kita kenal. Pertama datang bolehlah kita mendatangi teman yang sudah kita kenal biar tidak canggung. Tapi bukan berarti kita buntutin dia terus kan? Maka alangkah lebih baiknya jika kita ikut ngobrol dengan teman-teman lainnya secara bergantian, tidak dengan satu teman saja, tapi juga semua teman.

Jangan malu bertanya

Selama berbincang-bincang dengan teman, ada kalanya kita tidak paham sama sekali dengan apa yang dibicarakan. Tidak masalah kalau kita bertanya, maksudnya apa? biasanya mereka menjelaskan maksudnya. Tapi jangan sampai kebanyakan tanya, bisa-bisa mereka malas ngobrol dengan kita. Jika kita paham secara garis besar, lebih baik jangan bertanya. Dengan mencoba mendekatkan diri dengan mereka saat Soirée, maka saat di kelas pun tidak lagi canggung untuk berkomunikasi dengan mereka. Karena kita sudah kenal mereka saat Soirée. Profite-bien vos soirées !

37


A

R

Le mot d’argot,

c’est

G

38

O

T

le français familier !

Teks: Lita Lestianti


39

Le mot d’argot merupakan kata yang digunakan oleh orang Perancis pada situasi yang tidak formal, atau bisa disebut sebagai bahasa gaul, walaupun bisa diucapkan oleh semua usia. Tetapi jangan sekalikali menggunakannya saat ujian ya, atau saat berbicara dengan professeur/ enseigneur di Prancis. Terkadang, bagi teman-teman yang baru tiba di Prancis, dan saat berbicara dengan teman Prancis, mereka pasti mengucapkan slang expressions dan pastinya kita bingung dengan apa yang diucapkan.


Oleh karena itu, beberapa kata argotique dibawah ini mungkin berguna bagi teman-teman untuk memahami bahasa gaul mereka.

la bouffe bouffer bosser s’éclater kiffer Ça boume? une boum/un party Teuf cimer Une meuf faire gaffe piger un flic Fric, thunes, blé s’en ficher

40

: la nourriture : manger : travailler : beaucoup s’amuser : aimer → Je kiffe grave le rap (j’aime beaucoup le rap) : Ça va? : une fête → T’es allé à la boum ? (Did you go to the party?) : à l’envers de mot « fête » : à l’envers de mot « merci » : à l’envers de mot « femme » : faire attention → Faites gaffe, les gars! (Watch out guys!) : comprendre → Tu piges ? (Get it?) : un gendarme : argent : Ça m’est égal (to not care, to be fed up) ben : (can be used in place of bien (well) in certain situations) l’occase : l’occasion dégoter : obtenir une bagnole : une voiture un gars : un garçon mec : Un homme McDo : McDonald’s Gonzesse/ nana : une fille Fringue : un vêtement Se tirer : partir/ s’en aller → Maman s’est tirée une fois de plus en m’abandonnant les mômes (maman est partie une fois de plus en m’abandonnant les enfants) Môme : un enfant Je m’en fiche ! : (I don’t care) L’apéro : apéritif (Di Prancis, “apéritif” atau “apéro” merupakan salah satu budaya semacam soirée yang mengajak orangorang minum, di café atau dirumah seseorang) Avoir la dalle : Avoir la faim → J’ai la dalle (j’ai faim) avoir la pêche : se sentir en forme va falloir la jouer fine : il va falloir être très rusé (bermain secara « halus »/licik/ diam-diam) ils nous lâchent pas d’une : ils nous suivent de très près semelle foutre le paquet : faire le maximum pas d’embrouille : n’essayez pas de me tromper se faire avoir : se faire rouler, duper, tromper


41


P r o fil a lumni : 42

T a li t h a F a u z i a C airunnisa Teks: Lita Lestianti Foto: dokumen pribadi


Talitha Fauzia Cairunnisa, merupakan alumni mahasiswa Indonesia yang sekolah di Prancis dan saat ini bekerja di World Bank (WB). Sebelum bekerja di WB, Talitha juga memiliki banyak prestasi, seperti lulusan S1 cumlaude, termuda dan terbaik di Universitas Indonesia tahun 2008 dari Fakultas Ekonomi, jurusan Development Economic. Kemudian Talitha memperoleh beasiswa Eiffel tahun 2009 untuk melanjutkan sekolah magister di UniversitĂŠ de Rennes 1, FacultĂŠ des Sciences Economiques.

43


44

WB memerlukan konsultan berlatar belakang pendidikan S2 dan S3 yang masih sangat minim jumlahnya dengan latar belakang ekonomi, kebijakan publik, ilmu sosial, teknik dan ilmu pasti seperti matematika dan fisika.

Selain aktif dalam publikasi nasional dan internasional, ia pernah bekerja di Bappenas untuk program-program pengembangan daerah. Awal karirnya juga bermula ketika ia mencoba daftar dan diterima sebagai peneliti di J-PAL atau Abdul Latief Jameel Poverty Action Lab (lembaga riset khusus di MIT Massachusetts Institute of Technology untuk penanggulangan kemiskinan) dan ditempatkan di Jakarta karena profesor-profesor di J-PAL kebanyakan di US dan jarang turun lapangan. Di J-PAL, Talitha banyak belajar mengenai permasalahan kemiskinan di Indonesia. Tidak hanya itu, Talitha membangun relasi dengan profesor-profesornya karena di J-PAL merupakan network profesor-profesor di seluruh dunia.

Berkarir di Bank Dunia

Kemudian, kebutuhan peneliti di Indonesia untuk WB juga sangat besar, kemudian Talitha mencoba melamar sebagai peneliti dan akhirnya diterima. Kantor Bank Dunia di Indonesia adalah kantor WB terbesar kedua di dunia (yang pertama di headquarter, Washington DC). WB Indonesia bergerak di hampir segala bidang terkait pembangunan di Indonesia, dan main counterpart-nya adalah pemerintah. Umumnya, WB tertarik untuk membiayai proyek pembangunan dan riset terkait pembangunan, baik dalam bentuk pinjaman jangka panjang, maupun hibah. Selain itu, WB memerlukan konsultan berlatar belakang pendidikan S2 dan


S3 yang masih sangat minim jumlahnya dengan latar belakang ekonomi, kebijakan publik, ilmu sosial, teknik dan ilmu pasti seperti matematika dan fisika. Untuk bekerja di WB, seseorang sebaiknya sudah confident untuk menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan seharihari, karena sebagian besar correspondence harus menggunakan bahasa Inggris, dan beberapa dari kolega pasti orang asing. Karena itu, banyak sekali lulusan luar negeri yang direkrut di WB (tapi anggapan bahwa harus lulusan luar negeri itu tidak benar, karena banyak juga lho yang lulusan universitas di Indonesia). Selain kemampuan bahasa Inggris (bahasa lain, seperti bahasa Prancis dan Spanyol juga bisa membantu), WB juga menghargai pengalaman dan minat riset terutama dibidang penanggulangan kemiskinan, juga kemampuan interpersonal yang baik. Khusus untuk bidang riset, biasanya WB mencari pekerja yang sudah confident menggunakan software statistik seperti STATA, karena riset biasanya menggunakan data level household/rumah tangga. Beliau juga menyarankan bagi teman-teman yang ambil S2 mata kuliah ekonomi di Prancis, sangat tertarik dengan riset dan berencana melanjutkan ke jenjang S3, maka WB dan J-PAL tempat yang cocok untuk berkarier dan belajar. Resource-nya banyak, dan recognition-nya di dunia internasional juga cukup baik.

Bermimpi untuk mengentaskan kemiskinan

Jika ditanya mengenai rencana kedepannya, Talitha menjawab sebenarnya cita-citanya ingin menciptakan perdamaian dunia, karena banyaknya konflik perang yang terjadi, tetapi hal tersebut sangat sulit diwujudkan. Alasannya “aku hanya 1 dari milyaran orang di dunia ini, faktor yang mempengaruhi perdamaian itu banyak sekali, dan dalam scope yang lebih kecil saja, misalnya Indonesia, perdamaian masih belum bisa sepenuhnya dicapai� Sehingga, Talitha berencana untuk mentargetkan faktor kecil dari perdamaian, yaitu dengan mengentaskan kemiskinan, dan dimulai dari Indonesia dulu. Sebagai peneliti di Bank Dunia merupakan kontribusi beliau untuk negara ini karena hasilnya tersebut diserahkan kepada pemerintah untuk membantu pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan. Menurutnya, target karier yang ingin dicapai di masa akan datang sangat terkait dengan apa yang di kerjakan sekarang. Entah sebagai pengajar, peneliti, atau mungkin suatu saat menjadi pengambil keputusan/pembuat kebijakan. Saat ini usaha yang paling penting menurut Kak

Aku hanya 1 dari milyaran orang di dunia ini, faktor yang mempengaruhi perdamaian itu banyak sekali, dan dalam scope yang lebih kecil saja, misalnya Indonesia, perdamaian masih belum bisa sepenuhnya dicapai. Talitha adalah menambah pengalaman bekerja, dan skills untuk bisa melakukan penelitian dengan baik. Selama tinggal di Prancis, Kak Talitha mendapatkan banyak nilai yang menginspirasi hidup beliau dan tentunya menjadi satu pesan yang dapat menunjang kehidupan karir beliau, yaitu: (1) Work-life balance: Menurutnya kegiatan bersekolah mungkin hanya 10-20% waktu dan kehidupan kita, cukup kecil, sedangkan yang lainnya adalah social life, how to survive, kesehatan, makan atau masak apa hari ini, keluarga kita, traveling, waktu untuk Tuhan, dan lain sebagainya (bisa berbeda-beda untuk semua orang). Baginya, semua dalam hidup kita itu penting, bukan hanya karier atau pendidikan. Seseorang yang terlalu workaholic, akan berakhir menyesal ketika tua nanti, karena walaupun kaya dan sukses, umumnya kita akan sakit (karena kurang peduli dengan kesehatan). Selain itu, akan menciptakan jarak dengan orangorang terdekat, yang sebenarnya paling penting untuk kita. (2) Be on time, never too late: Belajar on time menunjukkan bahwa kita profesional, niat, dan reliable. (3) Always make an appointment: Di Prancis kita diharuskan untuk membuat appointment, bertemu profesor, urusan bank, asuransi, bahkan urusan potong rambut. Dengan membuat janji dan menepatinya adalah cara yang sangat baik dan profesional, karena kita menghargai waktu orang lain, dan berusaha efisien dengan waktu yang kita punya.

45


(4) Eating good food will make you live longer and happier: I’m a big fan of delicious food. Selain pola makan harus seimbang, kita harus makan makanan yang enak dan dimasak dengan sangat baik. (5) Dress up well: Talitha bercerita ketika temannya harus bersiap-siap 2-3 jam di pagi hari untuk terlihat sangat cantik dan rapi. Agaknya kurang memungkinkan jika dilakukan di Indonesia (karena macet). Tapi poin yang bisa diambil adalah tampil rapi, segar, dan prima adalah cara untuk menunjukkan profesionalism, dan menghargai orang-orang di sekitar kita. Dari value-value tersebut, mungkin bisa menginspirasi kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi dengan menghargai waktu, diri kita dan orang lain. Selain itu, Talitha juga memberikan Quotes yang selalu memotivasi beliau :

“Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars” -Brian Littrell -- quote ini selalu mengingatkannya untuk selalu berusaha untuk menjangkau yang tinggi dan yang baik-baik, karena kalaupun gagal, beliau sudah upgrade diri dan pasti akan mendapatkan hal yang baik (dan indah) juga.

46

“There are no shortcuts to anywhere worth going” -Beverly Sills -- semua yang berharga untuk didapatkan, tidak mungkin didapatkan dengan cara yang mudah. Jadi kalau sedang berada dalam kesulitan, stuck, bingung, pusing sama sekolah, hal itu berarti kita sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan sesuatu yang boleh jadi sangat berharga. Sekilas tentang Profil Alumni Mahasiswa Indonesia di Prancis, semoga bisa menyemangati kita mewujudkan yang menjadi impian kita selanjutnya :)


HEL LO! Foto: Iyan Xavier

47


S M 48

U E


U E

M R 49


T 50


T 51


52


I 53


M 54

E


55


56


57


There shall be eternal summer in the grateful heart. -Celia Thaxter

58


59


60


61


62


Time always seems long to the child who is waiting for Christmas, for next summer, for becoming a grown up: long also when he surrenders his whole soul to each moment of a happy day. -Dag Hammar -skjold

63


It was a splendid summer morning and it seemed as if nothing could go wrong. -John Cheever

64


65


66


67


68


69


70


The summer night is like a perfection of thought. -Wallace Stevens

71


72


73


B G

e e

a t

t

F r Ri 74

v Teks: Bulan Mendota Foto: google.com

a e

i


a

a

c w a nc e r

h yo h a 75


76

Musim panas di Eropa bukanlah musim yang menyenangkan. Suhu cuaca di kota tempat tinggal saya, Toulouse, bisa mencapai 35 derajat di siang hari. Bagi saya, ini adalah tanda untuk segera pergi berlibur. Kemana? Yah apalagi kalau bukan pantai. Untuk tujuan kali ini, saya menunjuk untuk pergi menikmati pemandangan pantai Mediterania, French Riviera, menuju kotakota cantik di Prancis Selatan. Riviera sendiri dalam bahasa Italy mempunyai arti ‘coastline’.


Ada dua cara menuju kesana, dengan kereta api atau pesawat terbang. Karena waktu memesan saya cukup mepet, hanya dua minggu sebelum waktu berangkatnya, pesawat terbang adalah solusi yang paling menarik. Ketika berpergian di Prancis, ada baiknya untuk selalu membandingkan harga kedua trannsportasi tersebut, karena sistem tiket kereta api disini sama dengan pesawat terbang, apabila beli jauh hari akan mendapatkan harga yang lebih murah. Untuk menuju French Riviera, kota yang paling strategis untuk dikunjungi pertama adalah Nice. Ketika hari berangkatnya tiba, saya terkejut karena ternyata pesawat yang akan saya naiki adalah pesawat kecil baling-baling. Dimana bagasi cabin saya saja tidak bisa diangkut ke dalam pesawat. Jadi, harus diletakkan di dekat tangga sebelum kita naik dan nantinya ada petugas yang akan mengambil bagasi kita. Begitu kita turun kita ambil lagi. Berasa seperti naik bus saja, yah!

Nice

Begitu sampai Nice, kami langsung bergegas menuju hotel. Hotel kami ini letaknya dekat dengan stasiun kereta. Ini penting, karena kami berencana mengunjungi kota-kota lainnya dengan menggunakan kereta. Tujuan pertama, kami menuju Ch창teau de Nice, letaknya ada di dekat Vieux Nice (Kota Tua Nice). Dari sini kita bisa melihat pemandangan Nice dari ketinggian. Ada dua cara menuju ch창teau tersebut, naik lift dan naik tangga. Yah tentu saja kami memilih naik lift! Sampai diatas, pemandangan langsung menghadap Promenade des Anglais dan pantai

Nice terpampang depan mata. Indah sekali. Bagi saya, Nice adalah perpaduan kecantikan Prancis dan Italy. Meskipun penduduk local berbahasa Prancis, tetapi Nice penuh dengan bangunan arsitektur berwarna pastel seperti Italy. Tidak heran, karena letak Nice begitu dekat dengan perbatasan Italy. Puas mengagumi Nice dari atas, kami segera bergegas menuju pantai. Begitu sampai, saya kaget karena ternyata pantainya itu berbatu!!!. Duh, sakit sekali apabila kita langsung menginjak tanpa alas kaki. Setelah nyebur sedikit, saya jadi parno sendiri karena takut jatuh terpeleset di batu-batu tersebut. Kami kemudian memutuskan hanya berjalan-jalan di Promenade des Anglais, tempat dimana turis dan lokal bercampur baur untuk bersosialisasi dan berolahraga sambil meilhat orangorang yang berenang atapun berjemur di pantai batu tersebut. Saya perhatikan, Nice ternyata punya pantai untuk umum dan pantai privat. Di pantai privat, kita bisa menyewa tempat duduk dan payung 15 euro selama 6 jam. Yang saya salut, mereka juga membuat pantai yang bisa dilewati oleh orang yang menggunakan kursi roda. Nice di tengah malam sangat hidup dengan cafe dan fine dining restaurant bertebaran dipenjuru kota. Restaurant disini juga bermacam variasinya, mulai dari masakan Prancis, Italy dan juga Asia. Saran saya, jangan lupa menikmati Gellato di Fennocio, terletak di Place Rosseti. Gellato ini menawarkan banyak rasa unik yang menarik, seperti rasa Viollete ataupun Tomato Basil. Yum! Kebetukan kami datang bertepatan dengan hari libur keagamaan

77


di Prancis. Di hari itu, pemerintah kota Nice akan membuat kembang api. Kembang api mulai dari jam 10 malam. Selama 20 menit, lampu kota Nice dimatikan. Dalam keadaan gelap gulita, kita menikmati kembang api yang dinyalakan dari dua kapal laut di ujung pantai Nice. It was beyond beautiful.

Monaco

Keesokan harinya, kami langsung bergegas menuju Monaco. Yes, we are visiting our twin country. Negara dengan bendera

78

Selama 20 menit, lampu kota Nice dimatikan. Dalam keadaan gelap gulita, kita menikmati kembang api yang dinyalakan dari dua kapal laut di ujung pantai Nice. It was beyond beautiful.


79

merah putih ini hanya berjarak setengah jam dari Nice. Tiketnya pun kami hanya membayar 3.7 euro sekali jalan. Selain kereta, terdapat juga bus yang menghubungkan dari Nice ke Monaco. Sampai disana, udara Monaco sedang panas-panasnya. Tetapi hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk segera menjelajah Monaco yang sangat cantik. Gambaran luxury memang identitas yang sangat jelas dari Monaco. Hal ini terlihat dari yatch yang berjajar di harbour Monaco, luxury boutique brands dan mobil mewah menghias semua sudut Monaco. Tujuan kami disitu ada dua, pertama dan tentu saja ke Monte Carlo yang terkenal itu, dan bagi partner, dia mau bernapak tilas rute F1 Monaco. Monte Carlo sendiri adalah sebuah ‘wealthy’ distrik di Monaco. Casino nya adalah salah satu icon yang terkenal dari distrik ini. Monte Carlo Casino dibangun sejak tahun 1863. Monte Carlo Casino sendiri buka untuk umum. Sedikit tips, datanglah kesana setelah jam 2 siang, karena Casino ini akan dibuka gratis. Penasaran, kami masuk ke Casino tersebut dan ikut mencoba bermain. Di dalam Casino, Saya terpesona dengan interior yang terlihat mewah dan glamour. Lalu kami bergerak menuju Palais Princier de Monaco, istana tempat kediaman kerajaan Monaco. Biasa melihat istana Eropa yang cantik, saya terkejut karena bentuk istananya biasa saja,

Gambaran luxury memang identitas yang sangat jelas dari Monaco. Hal ini terlihat dari yatch yang berjajar di harbour Monaco, luxury boutique brands dan mobil mewah menghias semua sudut Monaco.


80

malah bentuknya lebih terlihat seperti benteng. Monaco juga mempunyai museum oseanografi yang cukup terkenal. Apabila membawa anak kecil, kita bisa membawa mereka kesana untuk melihat binatang laut. Monaco juga terkenal oleh Formula 1 race yang termasuk pertama di dunia. F1 ini juga unik, karena race nya ada di dalam kota Monaco sendiri, tidak di jalur tersendiri seperti yang F1 lainnya. Di dekat Port Monaco, kita bisa melihat bekas dari titik start F1. F1 Monaco sendiri biasanya ada di bulan Mei. Lebih baik hindari ke Monaco di bulan Mei apabila Anda bukan penggemar F1, karena dimana-mana hotel akan mahal dan turis akan sangat membludak.

Cannes

Hari berikutnya, kami memutuskan untuk ke Cannes, kota tepi laut yang terkenal dengan Festival Film Cannes, festival film yang paling terkenal di Eropa dan juga dunia. Cannes meskipun sama ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit, ternyata harga tiketnya lebih mahal dibanding ke Monaco. Setelah melihat Monaco dan Nice, Cannes ternyata kurang menarik untuk saya, dan udaranya lebih panas. Karena itu, kami memutuskan untuk naik kereta eskursi kecil yang membawa kami menyusuri Cannes. Cannes sendiri kota yang tidak besar, namun jarak dari satu tempat ke tempat lainnya cukup jauh. Dari kereta ini, kami menyusuri pantai (yang btw dari pasir tidak batu seperti Nice) dan menyaksikan private beach terkenal, Palm Beach dan melewati hotel Intercontinental Carlton Cannes yang terkenal dengan biasa ditempati oleh bintang-bintang besar ketika datang mengunjungi Festival Film Cannes. Tak lupa, kami

juga mengunjungi Palais de Festival, gedung dimana tempat diselenggarakan Festival Film Cannes. Disana kami juga melihat cetakan handprint dari bintang yang pernah mengunjungi Cannes.

Cannes, kota tepi laut yang terkenal dengan Festival Film Cannes, festival film yang paling terkenal di Eropa dan juga dunia.


Villefrance-sur-mer

Tengah hari kami kembali ke Nice, untuk segera menuju kota di tepi pantai yang lain, Villefrance-sur-mer. Kota ini sebenarnya tidak berada di itinerary kami. Kota ini seperti ‘hidden gem’ yang kami temukan di French Riviera. Siapa yang bisa menolak hamparan pantai yang dikelilingi oleh tebing dan bukit yang cantik. Pasirnya sendiri lebih merupakan pebble-like. Empuk dan mudah dibersihkan. Air laut Mediteriania di musim panas juga tidak terlalu dingin, malah sangat menyegarkan. Pemandangan yang indah dan air laut yang hangat merupakan pengalaman yang tak ternilai dari perjalanan kali ini. Puas bermain di pantai, kami menyusuri pusat kota Villefrancesur-mer. Kota kecil ini ternyata bernuansa kental kekhasan Italy. Perumahan yang berwarna pastel dan berbukit-bukit, restauran dan cafĂŠ yang banyak berjajar menyelip diantara gang bukitbukit tersebut dan suasana yang romantis. Apalagi ketika malam mulai menyapa dan kota disinari oleh lampu kota. Dinner di kota kecil ini merupakan penutup yang manis dari perjalanan kami menyusuri kota-kota cantik di French Rivera.

Siapa yang bisa menolak hamparan pantai yang dikelilingi oleh tebing dan bukit yang cantik. Pasirnya sendiri lebih merupakan pebble-like. Empuk dan mudah dibersihkan.

81


I N T E 82

RN S H I P Teks: Nadia Ratna Foto: dokumen pribadi

?


Stage atau Kerja Magang, adalah salah satu kewajiban tak terhindar apabila kita sekolah di Prancis. Kebanyakan program sekolah di Prancis mewajibkan mahasiswanya untuk magang demi mendapat pengalaman secara nyata di dunia kerja. Jadi, kita tidak melulu hanya belajar tentang teori. Sebagai seorang mahasiswa asing, tentu tidak semudah itu untuk mendapat magang di perusahaann Prancis. Yuk, kita simak cerita beberapa teman Salut! yang musim panas lalu berjibaku mencari dan bekerja magang di Prancis.

Nella Nabila M2 Marketing KEDGE Business School Marseille Kerja Keras Membuahkan Hasil

Sebagai salah satu persyaratan untuk mahasiswa tingkat akhir, saya harus magang dan membuat tesis. Setelah beberapa bulan mencari lowongan di beberapa perusahaan, akhirnya saya mendapatkan kesempatan magang di “Hugo Boss� sebagai sales consultant yang mempunyai jam kerja sekitar 35 jam seminggu. Selama 4 bulan, saya tidak hanya ditempatkan di butik tapi juga bekerja menjaga stand HB di Galeries Lafayette Marseille dengan tujuan supaya tidak bosan dan bisa berkenalan dengan temanteman lain. Dalam satu toko, saya bekerja dengan 3 rekan staf senior, seorang brand manager dan 2 stagiares lainnya. Umumnya, kegiatan saya sehari-hari adalah membersihkan toko pada pagi hari, lalu melipat atau merapihkan baju yang tidak terletak sesuai tempatnya, mengganti stok baju yang sudah tidak tersedia, merapikan gudang seperti menaruh baju sesuai dengan artikel atau jenisnya, membuat laporan kedatangan baju yang baru atau yang akan keluar, menyapa pengunjung, dan memberikan info-info mengenai model terbaru atau material tekstil yang dibutuhkan oleh konsumen. Walaupun pada awalnya sangat sulit untuk berkomunikasi dengan customer, tapi dengan kerja keras seperti misalnya mempelajari bahan-bahan tekstil dan tipe-tipe pakaian melalui situs web di internet dan bertanya langsung kepada rekan-rekan di tempat kerja, semuanya akan membuahkan hasil. Misalnya yang terjadi pada saya. Pada suatu hari saya berhasil menjual tiga buah kostum dalam satu waktu yang membuat manager saya sangat terkesan dengan hasil kerja keras saya. Rekan-rekan kerja pun merasa senang karena saya sekarang sudah dapat berkomunikasi dengan baik dengan pelanggan.

83


Semoga cerita singkat saya bisa menginspirasi teman-teman yang akan menjalani magang.

84

Intinya adalah jangan menyerah untuk terus belajar, selalu bekerja keras untuk menghasilkan yang terbaik, jangan malu bertanya, dan tentunya selalu percaya diri walaupun mungkin bahasa Prancisnya masih berantakan. Tenang, itu hanya masalah kebiasaan yang membutuhkan waktu.

saya belum juga mendapatkan tempat untuk magang. Memang sangat susah tapi bukan berarti mustahil. Sampai akhirnya ada seorang teman kampus yang merekomendasikan saya di sebuah perusahaan yang sama tempat dia magang. Kebetulan perusahaan tersebut membutuhkan seseorang yang berbahasa indonesia untuk membantu projek ekspansi perusahaan mereka ke daerah Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Saya pun akhirnya diterima setelah melewati proses wawancara dengan Responsable Finance dan Responsable Commercial Perusahaan “Huntsman Tioxide”. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati aktivitas dan kesibukan di perusahaan tersebut. Tugas-tugas yang dibebankan, saya kerjakan dengan serius dan enjoy dibantu arahan dari tutor saya. Tugas saya sederhana, saya berkesempatan untuk berpartisipasi dalam membuat laporan keuangan akhir bulan dan menghitung biaya produksi dan aktivitas akuntansi lainnya. Selain itu, saya juga ditugaskan untuk mencari informasi yang berhubungan dengan projek perusahaan seperti mencari calon klien potensial. Selain dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah, saya juga berkesempatan untuk belajar bagaimana bekerja dan berinteraksi secara profesional dengan teman kantor yang mempunyai latar belakang dari berbagai negara, budaya dan bahasa. Selalu menghormati dan berusaha memahami karakter, budaya dan cara mereka bekerja merupakan kunci dari adaptasi saya selama magang karena memiliki kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungan adalah hal yang sangat penting bagi seorang stagiaire. Saya merasa hampir tidak ada dukanya pada saat menjalani stage tersebut. Setiap kesulitan bisa diselesaikan dengan baik. Saat tidak bisa menyelesaikannya sendiri, ada tutor dan rekan kerja yang selalu siap membantu. Buat saya pribadi, magang adalah kesempatan dimana saya dapat bertanya, bertanya, bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Abram Mahon Mahalai L3 Sciences Eco-Gestion Université d’Artois Arras Nord-Pas de Calais Jangan takut untuk bertanya!

Mungkin bagi teman-teman yang sedang kuliah Magister dan Doktor, magang adalah sebuah hal yang biasa. Tapi bagi kami para Licence, hal ini menjadi hal yang sangat “wah” karena bagi kami kebanyakan hal ini akan menjadi sebuah pengalaman yang pertama, seperti halnya bagi saya. Stage pertama saya adalah saat menimba ilmu di IUT Calais dalam bidang finances et comptabilité. Jadwal stage dari kampus dimulai pada awal April sampai pertengahan Juni 2013 selama 10 minggu. Maka segaralah saya mencari info dari teman, kenalan, pihak kampus, internet dan lain-lain dan akhirnya mulai apply dari bulan Juli 2012. Puluhan lamaran saya buat baik melalui situs web, e-mail, maupun surat dan beberapa wawancara pun telah saya lakukan. Singkat cerita, sampai deadline tanggal kegiatan magang dimulai,


Satu pesan dari tutor saat awal masa magang yang selalu saya ingat hingga kini: “Saat stage, jika kamu tidak mengerti katakan tidak mengerti. Kalau kamu mengerti katakan mengerti. Jangan malu bertanya meskipun orang lain menganggap pertanyaanmu adalah pertanyaan bodoh, karena saat kamu terjun ke dunia kerja yang sebenarnya, orang tidak akan lagi menjawab pertanyaan bodohmu.

So, untuk temanteman yang akan magang, sedikit kata dari saya, “Jangan malu bertanya, bertanya dan bertanya!”

Comme j’ai suivi mes études à l’IUT, j’ai pu effectuer trois stages en 2 ans. Quand on n’a pas encore d’expérience, le premier stage est toujours difficile à trouver. J’ai envoyé ma demande de stage par la poste ou par email à beaucoup d’entreprises. Malgré tout, je n’ai reçu aucune réponse positive. Un jour j’ai assisté à une dégustation de vin dans un château avec des amis. Et là, j’ai rencontré une journaliste qui était venue pour faire un entretien avec l’un de mes amis, étudiant en viticulture. En discutant avec elle de mon stage, elle m’a donné des contacts d’entreprises qu’elle connaissait. Ainsi j’ai pu trouver mon premier stage. Pour cela, j’ai quelques conseils pour faciliter notre recherche : • Il faut commencer des recherches 4-5 mois avant le début de stage. • Commencer par demander à notre famille, nos amis, nos voisins. • Ne pas oublier aussi demander à l’université. En principe, ils ont des contacts avec des entreprises. • Contacter les organismes qui aident les étudiants pour trouver un stage, comme la Chambre des Métiers. • Dans le domaine génie civil, c’est encore mieux de visiter directement les chantiers et discuter avec le chef de chantier. Ceci est très efficace. Sur le chantier, j’ai remarqué que c’est un travail très dur en fonction du temps, tantôt très froid, tantôt très chaud. La première semaine j’ai eu pas mal de difficultés car il y avait tellement de termes techniques que je ne connaissais pas. Juste un conseil, n’ayez pas peur de demander aux collègues. Je leur ai toujours posé des questions. Profitez aussi de la pause pour parler et discuter avec eux. Il est important aussi de récupérer tous les documents et prendre les photos utiles pour le rapport de stage ou la soutenance. Pour nous aider à rédiger le rapport de stage, il est nécessaire aussi d’écrire un rapport journalier. Il nous permet de ne pas oublier les activités que l’on a faites chaque jour. A travers le stage, j’ai pu décider du métier que je voulais faire. J’ai acquis aussi les compétences pour travailler sur le terrain. Pour moi, le stage est vraiment fondamental car il nous aide à préparer notre avenir. Il faut toujours montrer notre motivation pour créer un bon lien entre nous et l’entreprise. On ne sait jamais si après nos études, on ne sera pas amené à travailler dans cette entreprise.

Firman Saputro L3 Génie Géologique et Civil Université Bordeaux 1 Le stage pour moi

Dans toute formation, il y a une partie théorique et une partie pratique. Le stage (ou internship en anglais) est une période de formation pratique dans une entreprise permettant d’appliquer nos connaissances théoriques et d’obtenir ainsi de nouvelles compétences. Donc, cette période est bien entendu importante avant de plonger dans le monde professionnel.

Pour terminer, il ne faut pas surtout oublier de remercier l’entreprise à la fin du stage. J’ai toujours préparé quelques spécialités indonésiennes comme les beignets (bakwan, kerupuk, tahu dan tempe goreng) pour les collègues. Ainsi on passe un bon moment avant de se quitter. De plus, j’ai invité le directeur à assister à ma soutenance, et je lui ai remis un exemplaire de mon rapport de stage.

85


S u ka (d u ka ) Soutenance 86

Teks: Nadia Ratna Foto: dokumen pribadi

Selain harus kerja magang, salah satu syarat di akhir masa belajar adalah ‘Soutenance’ atau kalau di Indonesia disebut Sidang Tugas Akhir. Bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, tentunya Sidang Tugas Akhir juga berbeda dengan apa yang biasa kita hadapi di Indonesia. Mari kita simak cerita teman-teman Salut! ketika harus berhadapan dengan para professor Prancis demi mendapatkan diploma mereka.


Ramadhan Prasetya Utama Diplômée Master 2 Recherche Génie Mécanique et Aéronautique Université Toulouse III Paul Sabatier Lima Jam yang Tak Terlupakan

Setelah kurang lebih 5 bulan menjalankan stage, akhirnya tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu, c’est le temps de soutenance. Beruntungnya kali ini saya mendapatkan persetujuan untuk melakukan soutenance dalam Bahasa Inggris. Jadwal sudah difix-kan, laporan pun sudah selesai dan siap dikoreksi oleh encadrant ketika H-7. Ketika H-5 saya menyadari entah kenapa lebih gampang menyiapkan slide presentasi dalam Bahasa Prancis dibanding dalam Bahasa Inggris. H-1 presentasi, saya kebingungan karena encadrant belum juga mengembalikan laporan yang sudah dikoreksi, saya pun curiga jangan-jangan laporan yang saya kirim beberapa hari sebelumnya itu sebenarnya hanyalah formalitas dan tidak akan pernah dikoreksi sampai kapan pun, tapi saya pun tetap ber-positive thinking.

J-jour de soutenance, persiapan sudah dilakukan semaksimal mungkin, saya sudah berlatih presentasi, mempersiapkan catatan kecil per slide yang akan ditampilkan, dan berbusana serapi mungkin. Lima jam sebelum soutenance saya sudah berada di labo, lima jam yang tidak akan pernah terlupakan dimana rasa tegang menghadapi soutenance bercampur dengan ketidakjelasan keberadaan encandrant yang mengakibatkan saya bengak-bengok di labo. Singkat cerita, lima menit sebelum waktu yang dijanjikan, encadrant memanggil saya untuk menuju salle de reunion di mana soutenance akan diadakan dan sudah berkumpul di sana para dosen penguji. Dari gerak-gerik encadrant saya, dapat dipastikan bahwa memang benar laporan saya tidak dikoreksi sama sekali, okay. Soutenance, c’est partie, presentasi pun dimulai dengan perkenalan diri diikuti dengan pemaparan plan de presentation untuk memberikan gambaran umum bagaimana soutenance ini akan berlangsung. Presentasi pun berjalan lancar, saya sendiri pun terkejut para professeur bule tersebut kelihatan mengerti dengan Bahasa Prancis saya yang pas-pasan. Ternyata memang benar science itu bisa menembus kendala bahasa. Akhirnya presentasi berakhir, dimulailah sesi tanya jawab, pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh dosen penguji,

untungnya pertanyaan yang diajukan memang terkonsentrasi pada subjek yang saya riset sehingga saya bisa menjawabnya dengan lancar apalagi encadrant saya selalu membantu saya dengan memberikan clue. Lebih kurang 30 menit soutenance dilaksanakan, saya diminta untuk menunggu di luar ruangan dikarenakan para professeurs akan berunding untuk menentukan saya lulus atau tidak beserta nilai yang diberikan. Kira-kira 10 menit kemudian saya disuruh masuk, saya didudukkan di hadapan para professeurs, mereka pun mulai memberikan petuah-petuah mengenai riset yang saya lakukan, bagaimana caranya untuk dapat meningkatkan kevalidan riset yang saya lakukan dan menonjolkan strong point yang ada. Keputusan pun diberikan, akhirnya saya mendapatkan nilai 15 dengan mention Bien. Alhamdulillah effort panjang dari proses awal sampai akhir pun terbayar lunas.

Sylvia Ayu Bethari Master 2 Chemistry - Universite Claude Bernard Lyon 1 Persiapkan diri dengan baik

Sidang merupakan tahap terakhir penentuan dalam sistem pendidikan saat ini, dimana kita mempertahankan apa yang menjadi hipotesis dalam suatu karya dengan proses penelitian terlebih dahulu. Kadang hasil sidang dianggap mewakili apa yang kita pelajari selama beberapa tahun kuliah menjadikan sidang salah satu momen terpenting sebagai seorang pelajar. Mempersiapkan diri baik pikiran dan mental sangatlah penting, seperti mempelajari materi dan mempersiapkan presentasi dengan baik. Cobalah berlatih presentasi beberapa kali dengan orang yang memiliki kapasitas yang berbeda, lihat apa yang mereka cerna dari presentasi Anda dan pertanyaan seperti apa yang akan mereka lontarkan kepada Anda. Terima setiap masukan yang diberikan tapi sesuaikan dengan gaya Anda saat presentasi. Saat cemas pasti ada dan itu wajar, yakinkan diri Anda jika Anda sudah siap, pikiran positif akan segera menenangkan kecemasan. Yang saya lakukan pada malam sebelum hari sidang yaitu bersantai diri, dan mencoba lebih mendekatkan diri lagi pada Tuhan atau mempersiapkan pakaian yang akan saya gunakan. Disaat sidang, cobalah menjawab dengan berbagai pendekatan yang Anda ketahui, jangan pernah merasa takut salah, durasi satu jam enggak lama kok! Hehe. GOOD LUCK ALL ! ;)

87


Testimoni:

Sekolah Sekaligus Bekerja di 88

Prancis, Kenapa Tidak? Teks: Kiki Irawati Foto: dokumen pribadi


Pernah nggak terpikirkan oleh teman-teman untuk kuliah di negara Napoleon ini hanya dengan mengandalkan pekerjaan, tanpa disokong oleh beasiswa maupun dana dari orang tua? Itulah keadaan yang sekarang sedang Kiki perjuangkan.

Dulunya saya seorang penerima beasiswa unggulan Diknas tahun 2012-2013 untuk program Master 2 Recherche, namun saya mempunyai keinginan untuk bisa bekerja di negara ini sehingga memutuskan untuk melanjutkan studi Master 2 Profesionnel jurusan Patrimoine Architectural di Université Jean Moulin Lyon 3. Namun sayangnya tahun ini saya tidak mempunyai beasiswa. Bekerja sambil kuliah adalah salah satu pilihan yang harus diambil.

Pengalaman menjadi Babysitter

Sebelum masuk ke Master 2 Pro, saya telah mendapatkan beberapa pekerjaan, seperti penjaga stand di Foire de Lyon dan menjaga kucing milik orang Prancis selama musim panas. Tahun ajaran baru ini, saya mendapat pekerjaan sebagai babysitter untuk dua anak kembar Prancis di Croix Rousse, Lyon. Setiap hari pukul 16.30 Kiki menjemput mereka di sekolah lalu menjaga mereka hingga pukul 19.30. Sedangkan untuk hari Rabu saya bekerja dari jam 15.00. Pekerjaan ini saya dapatkan dari salah satu teman yang kebetulan dulunya menjadi nounou di keluarga ini. Nah, makanya dengan menambah teman dan jaringan, kalian bisa mempunyai peluang besar untuk mendapatkan pekerjaan melalui jalan ini. Teman itu nggak hanya teman kuliah, tapi juga teman soirée! So, sering-seringlah datang ke bar saat akhir pekan untuk melepas penat kuliah sekaligus mencari kenalan yang menguntungkan. Menjadi seorang penjaga anak ternyata sangat melelahkan, apalagi harus menjaga “les petits monsters”, 2 anak kembar berusia 7 tahun yang nakal. Tidak jarang saya hampir menangis kalau sudah kewalahan menjaga mereka. Beratnya menjadi babysitter adalah saya harus tahu di titik mana saya harus marah dan mengontrol mereka jangan sampai melewati batas. Jika mereka nakal, terkadang saya suka susah marah karena mereka adalah anak orang lain. Tapi kalau tidak ditegur, mereka akan semakin menjadi-jadi. Tidak jarang juga saya menjadi objek mainan mereka. Pernah suatu kali saya sakit leher dan memar-memar karena “dianiaya” oleh mereka. Namun terlepas dari itu, saya menikmati pekerjaan ini karena ini adalah anugerah dari Tuhan mengingat tidak mudah untuk mendapat pekerjaan di negara ini.

Kerja di Kabinet Urbanisme

Menjadi babysitter juga ternyata masih belum mumpuni. Meskipun uang yang saya dapat bisa digunakan untuk biaya hidup, namun saya juga ingin mencari pekerjaan yang lebih

89


seru. Oleh karena itu saya juga menyebarkan CV dan portofolio ke kabinet-kabinet arsitektur dan urbanisme di Lyon dan Paris untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya sekarang. Sudah tiga kali Kiki mengikuti wawancara, namun sayangnya selalu gagal. Hingga akhirnya interview yang keempat, ia berhasil mendapat kontrak CDI di sebuah kabinet urbanisme di Lyon. Untuk mencari pekerjaan ini saya harus betul-betul “menjual diri” di kantor-kantor.

90

Tidak peduli apakah mereka memiliki lowongan kosong atau tidak, saya mencoba memasukkan CV ke semua kantor. Sedikit tips, pastikan CV kalian menarik. Misalnya, kalau saya melamar ke kantor arsitek, saya lebih menonjolkan portofolio arsitektur. Sedangkan kalau kantor urbanis, Kiki akan “promosi” diploma dari L’École Nationale des Travaux Publics de l’État (ENTPE) karena lebih menjual. Bekerja di kantor urbanisme membuat saya memahami kondisi lapangan di kota Lyon ini. Bukan hanya teori yang biasanya diajarkan di kampus, namun saya benar-benar melihat realita di lapangan. Saya juga banyak belajar dari atasan saya. Saya diajarkan bagaimana menganalisa site dari Plan Local d’Urbanisme (PLU), lalu melihat Plan Cadastre, melakukan analisa, melakukan peletakan bangunan hingga bagaimana “bertarung” dengan pihak Mairie mengenai perijinan bangunan. Awal saya bekerja di kantor ini, saya diminta untuk menyebar setumpuk brosur-brosur kantor yang harus saya edarkan ke rumah-rumah. Selain itu, bos saya sering memberi Pekerjaan Rumah lewat e-mail yang harus dikerjakan toute de suite dan itu bener-bener bikin panik bukan kepalang!

Beragam suka dan duka

Jika ditanya bagaimana suka dukanya, tentu saja sangat beragam. Hal-hal yang menyenangkan yakni saya bisa mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri dan mempertajam kemampuan dalam berkomunikasi bahasa Prancis, apalagi dengan keterbatasan bahasa yang dulu saya miliki, saya harus membangun jaringan dan kenalan. Pengalaman di lapangan juga sangat seru. Dukanya, tentu saja adalah waktu dan tenaga. Setiap pagi saya harus mengikuti kuliah atau bekerja di kabinet. Jika ada jam istirahat, saya menyempatkan diri untuk mengerjakan PR-PR kantor. Bos saya tidak mengharuskan untuk saya datang ke kantor setiap hari, kecuali diminta, namun semua tugas yang beliau berikan harus diselesaikan. Ditambah karena pekerjaan saya adalah seorang penganalis site yang akan dibangun, saya juga harus sering mengunjungi lapangan untuk melihat site tersebut. Kapan saya mengerjakan itu semua? Tentu saja di selasela kuliah. Terkadang, saya terpaksa harus mengorbankan kuliah untuk pekerjaan. Sore harinya, mulai pukul 16.30, saya harus menjadi penjaga anak hingga malam. Jika ada kuliah pukul 16.00 atau yang berakhir setelah jam 16.00, biasanya saya meninggalkan kuliah tersebut. Yah mau tidak mau, harus selalu ada hal yang dikorbankan. Sepulang dari menjadi nounou saya tidak bisa langsung beristirahat, saya harus mengerjakan tugas-tugas sekolah maupun kantor. Setiap hari Selasa, saya mengantar anak-anak ke gymnase dan menunggu mereka latihan senam. Biasanya selama 1,5 jam, saya bisa memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Pernah juga saya diminta bekerja hingga jam 1 malam. Setelah anak-anak tidur, saya langsung membuka laptop dan mengerjakan tugas. Intinya, kapanpun dan dimanapun kalau ada waktu kosong pasti saya manfaatkan untuk menuntaskan semua tanggung jawab saya. Bahkan jika weekend saya harus bekerja atau bekerja overtime, pasti akan saya lakukan! Mungkin terlihat berat dan mustahil dilakukankan, namun hal ini bisa terjadi. Dengan kondisi seperti ini kita akan menjadi manusia yang lebih bisa menghargai waktu dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Buktinya, saat ini saya terbiasa untuk selalu merancang kegiatannya selama satu minggu kedepan, membuat schedule kapan harus bekerja, kuliah, visite-terrain, bahkan saya sudah mempersiapkan kapan jam-jam kuliah yang harus saya tinggalkan. Kini, semua sudah mulai terasa ringan dan menjadi kebiasaan karena sudah bekerja sambil bersekolah


sejak semester 2 kuliah S1. Jadi sekarang saya sudah dapat menikmati kondisi rumit seperti ini. Mulai semester depan saya harus stage. Saya yakin pasti hidup saya akan menjadi lebih seru dengan kuartet kuliah-stage-kerja kantor-babysitter. On verra, bagaimana nantinya, tapi saya yakin Tuhan akan membantu. Nah, untuk memperbaiki nilai kuliah, carilah temen sekelas yang bisa dimintai tolong. Jadi kalau ada catatan atau tugas yang diberikan ketika kalian tidak masuk kelas, kalian bisa bertanya dan sedikit merepotkan teman tersebut. Sebagai gantinya, sekalisekali bolehlah ia ditraktir makan di Resto U !

Saya yakin, jika teman-teman mau mencoba, kalian pasti bisa melakukannya. Asal, kita pantang menyerah dan pintar mengatur waktu. Kalau teman-teman senantiasa berjuang, Tuhan pasti akan selalu memberikan jalan. Oh ya, di sela-sela kesibukan ini, saya sempat mengikuti sayembara arsitektur juga loh! Jadi, semoga pengalaman yang saya share bisa menginspirasi teman-teman semua dan memberi gambaran bagaimana suasana bekerja dan sekolah di Prancis!

91


92


REGG I E S U RYA, Siap Mengabdi 93

untuk Sesama Teks: Bulan Mendota Foto: dokumen pribadi


94

Setelah lulus dengan gelar “Cum Laude” di Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Tehknologi Pangan di tahun 2011, Reggie Surya, memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Prancis, tepatnya di kota Toulouse. Kini, dia adalah salah satu dari 15 penerima beasiswa “Allocation de Recherché Doctorals” dari Ministère de l’Enseignement Supérieure. Beasiswa yang sangat kompetitif bahkan untuk mahasiswa lokal Prancis.


REGGIE SURYA,

lulusan terbaik IPB periode Juli 2011 dengan IPK 3,99

Tertarik dengan bidang pangan.

Reggie mengakui kalau ketertarikannya kepada bidang keamanan pangan adalah salah satu alasan kenapa dia melanjutkan sekolah di Prancis. Tahun pertama di Prancis, dia mengambil program Magister di École Nationale de Formation Agronomique, dan melanjutkan ke École Nationale Supérieure Agronomique de Toulouse, Jurusan Mutu dan Keamanan Pangan. Selama dua tahun berturut-turut, Reggie lulus sebagai rangking pertama di kelasnya. Perjalanan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan program PhD nya dimulai ketika di akhir masa magangnya tahun kedua di laboratorium Institut National de la Recherche Agronomique (INRA) ToxAlim. Proffesor yang menjadi tutornya selama magang menawarkan untuk mengikuti kompetasi beasiswa ‘ Allocation de Recherché Doctorals ’ tersebut. Program ini menawarkan beasiswa kepada semua universitas yang menyelenggarakan program S3 di tiap kota Prancis. Beasiswa ini adalah program pemerintah Prancis atau lebih tepatnya, kementrian pendidikan Prancis untuk meberikan dana kepada mahasiswa Doktorat yang berkomitmen untuk melakukan penelitian ilmiah. Program ini sendiri sudah ada di Prancis tahun 1931 dan terbuka untuk mahasiswa Prancis maupun mahasiswa asing. Untuk tahap selanjutnya, universitas yang ikut berpartisipasi dengan program beasiswa ini mengadakan ‘concours’ atau semacam ujian untuk mencari kandidat penerima beasiswa. Di ‘concours’ tersebut, Reggie diminta untuk menjelaskan proyek tesis yang akan menjadi topik penelitiannya dalam waktu 10 menit dan kemudian diikuti oleh tanya jawab selama 20 menit. Sebagai catatan, dari penerimaan awal hanya 52 kandidat yang dianggap layak dan diundang presentasi. Dan dari jumlah tersebut, hanya ada 15 orang yang akan mendapatkan program beasiswa tersebut.

“Yah, bisa dibilang beruntung, tapi dengan kerja keras juga”

95 Buah kerja keras.

“Yah, bisa dibilang beruntung, tapi dengan kerja keras juga,” katanya ketika ditanya perasannya setelah dia berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Reggie sendiri mengaku tidak terlalu percaya diri, tetapi hal ini tidak membuat dia untuk patah menyerah berusaha. Topik penelitian thesis Reggie untuk program Doctorat di INRA menitik besarkan kepada potensi Kanker Kolon akibat knsumsi daging merah yang berlebihan. Bisa dibilang, jurusan ini masih meneruskan passion dia untuk meneliti tentang keamanan pangan. Ketika ditanya rencana kedepan setelah menyelesaikan program Doktoratnya, Reggie menyatakan keinginannya untuk berkontribusi langsung kepada organisasi pangan international seperti FAO ataupun WHO. Reggie merasa dengan bekerja untuk badan international tersebut, bisa mewujubkan mimpinya untuk mengabdi terhadap sesama.


96

B e r l at i h Gamel an di Rennes


Gamelan adalah ensemble musik tradisional asal Indonesia yang biasa dimainkan di daerah Jawa, Sunda, maupun Bali. Bisa dibilang kalau alunan musik gamelan sudah tak asing lagi bagi telinga orang Indonesia. Hebatnya, alunan musik jenis ini sudah cukup dikenal oleh orang-orang asing. Bahkan sudah ada beberapa kelompok warga asing yang berlatih gamelan secara rutin yang tersebar di beberapa titik dunia. Tak terkecuali di Prancis, negara tempat pembaca SALUT! belajar!

97


Kali ini tim SALUT! akan membahas latihan gamelan di Rennes, sebuah kota yang terletak di barat daya Prancis, yang tidak hanya diikuti oleh pelajar Indonesia, tapi juga oleh orang-orang Prancisnya juga! Tim pemain gamelan ini sempat tampil di la nuit Indonesienne-nya PPI Rennes juga loh!

Belajar gamelan di garasi rumah

98

Adalah Arnaud Halet, seorang bapak dari tiga orang anak yang menjadikan garasi rumahnya sebagai tempat latihan gamelan, sebuah ensemble musik khas Indonesia. “Garasi bukan tempat yang bagus untuk latihan gamelan karena tidak bisa melibatkan banyak orang, “ ujar Arnaud yang mengharapkan bisa mendapat tempat latihan yang lebih luas.

Kesukaannya terhadap musik karawitan membuatnya menyelam lebih dalam ke ensemble musik bernama gamelan ini. Bahkan, ia sampai ke Indonesia untuk belajar langsung dari sumbernya.

Untuk tahun ini latihan gamelan yang diikuti oleh beberapa orang Prancis dan Indonesia ini memang dilakukan di garasi rumah Arnaud. Tahun-tahun sebelumnya, latihan dilakukan di salah satu ruangan tempat Arnaud bekerja, yaitu di sekolah untuk anak-anak. Sayangnya untuk tahun ini Arnaud dan kawankawannya tidak lagi mendapatkan izin untuk berlatih gamelan di ruangan itu. Latihan gamelan yang diprakarsai oleh Arnaud ini sudah berlangsung kurang lebih tiga tahun lamanya. Setahun sebelum latihan gamelan dimulai, Arnaud belajar tentang musik karawitan yang ia kenal dari departemen musikologi di universitas tempatnya belajar. Sembari kuliah di bidang literatur, ia belajar tentang musik karawitan secara otodidak. Kesukaannya terhadap musik karawitan membuatnya menyelam lebih dalam ke ensemble musik bernama gamelan ini. Bahkan, ia sampai ke Indonesia untuk belajar langsung dari sumbernya. Ia pergi ke Wonogiri (Jawa Tengah) tiga kali, masing-masing satu bulan.

Menemukan budaya baru

Tak berhenti di situ. Ia pun ingin melanjutkan latihan gamelan di tempat ia tinggal sekarang bersama teman-temannya. Kemudian ia memulai dengan mencari penjualan gamelan melalui internet. Akhirnya ia menemukan seorang wanita berkebangsaan Prancis yang berniat menjual gamelannya. Beruntungnya ketertarikan Arnaud terhadap gamelan juga dimiliki oleh teman-teman yang lain sehingga ia bisa bermain gamelan beramai-ramai. Ketika ditanya kenapa bermain gamelan, kebanyakan dari peserta latihan ini menjawab untuk pleasure. Veronique, salah seorang wanita Prancis paruh baya yang mengikuti latihan gamelan ini menambahkan bahwa


dengan berlatih gamelan, dia bisa menemukan dunia dan budaya baru. Bimo dan Abu, yang merupakan anggota PPI Rennes, memiliki alasan khusus kenapa memutuskan untuk bermain gamelan di Rennes. Abu bermain gamelan karena di SMAnya dulu ada kegiatan ekstrakurikuler gamelan, tapi ia tidak mengikutinya. Sesampainya di Prancis, dia kaget ketika tahu bahwa bule-bule juga main gamelan. Keadaan inilah yang membuatnya ingin bermain gamelan. Sedangkan Bimo yang merupakan pelajar di bidang musikologi ini mengaku bahwa ia ingin bermain gamelan karena terpanggil! Dengan keterampilan yang Arnaud miliki, sebenarnya ia bisa saja ‘menjual’ keterampilannya bermain gamelan dengan memasang tarif tinggi. Tapi, Arnaud menginginkan agar orang yang tidak memiliki banyak uang pun bisa menikmati permainan gamelan.

Dengan berlatih tiap Jumat malam, dengan lama latihan lebih dari dua jam, peserta latihan hanya membayar 10 euro per bulannya. Murah, ya? Mengenai kesukaannya terhadap gamelan dibandingkan alat musik lain, Arnaud mengaku bahwa ia menyukai keindahan gamelan karena harmoni gamelan bisa dinikmati jika gamelan dimainkan secara kolektif. Kita tidak bisa menciptakan harmoni gamelan jika hanya bermain gamelan sendirian. Itulah keindahan gamelan menurut Arnaud.

Berharap lebih dikenal

Meskipun keinginan untuk bermain gamelan ramai-ramai sudah terpenuhi, Arnaud masih menyimpan harapan yang keren banget terhadap ‘masa depan’ gamelan di Prancis! Selama ini ia belum

bisa menyebarkan informasi tentang latihan gamelan ini kepada khalayak umum mengingat tempat latihan yang masih terbatas. Meskipun demikian, suami dari istri yang membuat motif wayang kulit ini ingin lebih banyak orang-orang di Prancis datang, melihat, kemudian bermain gamelan. Ia menginginkan agar suatu saat gamelan bisa terkenal di Prancis, sama halnya dengan popularitas gamelan di Inggris, Belanda, Italia maupun Amerika Serikat. Harapan lain, ia ingin bisa bermain alat-alat musik dalam gamelan yang lebih rumit untuk dimainkan daripada alat-alat musik yang sudah tersedia sekarang seperti kendang, kentong, gambang. Wah, jadi bangga rasanya budaya Indonesia digemari oleh warga Negara asing! Mungkin teman-teman SALUT! jadi ada yang ingin berlatih gamelan juga? Kata Arnaud, gamelan tidak susah untuk dimainkan loh! Apalagi kita hanya butuh untuk bisa menghitung sampai dengan enam, sehingga semua orang bisa memainkannya. Semoga keinginannya agar gamelan menjadi terkenal seantero Prancis bisa terwujud ya, Arnaud! Teks: Efi Dwi Indari Foto:Efi Dwi Indari

99


100

Perjalanan kepengurusan PPI Prancis periode 2012 – 2013


Kepengurusan PPI Prancis periode 2012 – 2013 dimulai ketika sidang Bamus berlangsung pada tanggal 1 Desember 2012, dimana dari hasil sidang Bamus ini, saya diberikan amanah oleh warga untuk menjadi Ketua PPI Prancis 2012-2013. Dimulai dengan proses open recruitment untuk seluruh pelajar di Prancis yang bersedia meluangkan waktunya dan berkontribusi sebagai pengurus PPI Prancis dengan membawa visi yang sama yaitu : “Terwujudnya persaudaraan dan prestasi intelektual Indonesia di Prancis berdasarkan asas panguyuban”, maka terbentuklah struktur kepengurusan yang utuh, yang terdiri dari Wakil Ketua Bidang Eksternal ‘Andi Liza Patminasari’ dan Wakil Ketua Bidang Internal ‘Ari Sentani’, Sekretaris ‘Aishah Prastowo’, Bendahara ‘Maria Ulfa’, serta Divisi-divisi yang mencakup Divisi Pusat Kajian dengan Koordinator ‘Hari Solagratia’ dengan anggota: Sri Rezeki, Rudi Yusuf Natamihardja, Lisma Safitri, Ramadhan Prasetya, Muhammad Khoirul Khakim & Rifan Hardian, Divisi Media Center dengan Koordinator ‘Raphael Reyner’ dengan anggota: Bulan Mendota, Iyan Xavier, Angga Perima, Sesulih Kapti Laras, Lita Lestianti & Nadia Ratna, Divisi Humas & IT dengan Koordinator ‘Fadhilah Muslim’ dengan anggota: Zahra Medina, Seilendria Dima Hadiwardoyo, Awal Kaimuddin, Indah Tridiyanti & Ainun Nazriah, Divisi Pendidikan dengan koordinator ‘Faddy Ardian’ dengan anggota: Hana Witsqa, Huda Albana, Dony Rifado Guci&Setyawan Ajie Sukarno, Divisi Dana Usaha dengan Koordinator ‘Awatrawika Dharmmesti’ dengan anggota: Raka Aditya, Marini Vanessa Poluakan&Mary Sagala serta Divisi Sosial Budaya Seni & Olahraga dengan Koordinator ‘Astrini Hartanto’ dengan anggota: Alfil Aldyno, Yessica Molline Tarigan, Mexind Suko Utomo, Abram Mahon Mahalai, Arditya Chandra, Agnesia Putri Kurnianingtyas, Kevin Harryngton Sitompul, Isriyanti Affifah & Fachri Ali Ramadhan.

2012’ di New Delhi; Melakukan ski bersama di Midi Pyreness; Acara diskusi malam minggu ‘Dinner Talk’; Pengumpulan abstrak penelitian pelajar Indonesia di ‘Gudang Kajian’; Memperbaharui ‘Registrasi PPI Prancis’ di Prefecture pusat di Paris; Lomba olahraga ‘PPI Games 2013’; Mendokumentasikan diskusi-diskusi di KBRI; Penerbitan ‘Buletin Salut!’; Mengikuti ‘Simposium PPI Eropa Amerika 2013’ di Istanbul; Upgrade ‘Website PPI Prancis’; Semakin aktifnya media sosial PPI Prancis, baik twitter, page, dan group facebook PPI Prancis; Sayembara, pembuatan, hingga penjualan ‘kaos PPI Prancis edisi 2013’; Pelaksanaan konferensi ‘Olimpiade Karya Tulis Ilmiah (OKTI) 2013’, maupun kegiatankegiatan lainnya baik yang merupakan rencana program dari pengurus PPI Prancis sendiri, maupun kolaborasi dengan PPI wilayah, KBRI Paris dan PPI negara lainnya.

Berbagai kegiatan dan program kerja telah dilakukan untuk memenuhi misi yang pernah disusun pada awal kepengurusan. Dengan diawali oleh pengumpulan dana ‘Gerakan 1 Euro’ pertama diakhir acara bamus 2012; Pembuatan dan penyebaran ‘Proposal kegiatan PPI Prancis’; Mengikuti ‘Simposium PPI Dunia

Salam PPI Prancis, Salam Indonesia!

Di akhir kata, ucapan terima kasih kami sampaikan yang sebesarbesarnya kepada teman-teman pelajar Indonesia, KBRI Paris, KJRI Marseille, masyarakat Indonesia serta rekan-rekan warga negara dan penduduk Prancis yang peduli dengan Indonesia. Tak lupa, apresiasi terbesar kepada pengurus PPI Prancis periode 2012 – 2013 yang telah dengan maksimal bekerja dan meluangkan waktunya di sela-sela kesibukkan sebagai pelajar di Prancis, untuk membantu memberikan solusi terhadap permasalahanpermasalahan warga PPI di Prancis, serta melaksanakan programprogram terbaiknya untuk PPI dan Indonesia. “Tak ada gading yang tak retak”, maka mohon maaf untuk semua kekurangan dari kepengurusan PPI Prancis periode 2012-2013 ini.

Teks: Muhammad Dhafi Iskandar

101


102


PAR I S DA N B A L I , M E N Y I A S AT I P ER S A I N GA N 103

DAV I D

Teks: Made Handijaya Dewantara Foto: google.com

VER S U S GO L I ATH


104

Paris dan Bali. Keduanya dikenal sebagai salah dua destinasi pariwisata paling favorit di dunia saat ini. Itu kalau kita menggunakan parameter masyarakat dunia. Parameter itu bisa dilihat dari predikat kedua destinasi ini, di mana satunya memegang posisi sebagai kota paling banyak dikunjungi di dunia, dan yang satu lagi dianugerahi sebagai pulau paling favorit di dunia.

Namun, boleh kiranya opini kualitatif tersebut diuji lagi secara kuantitatif. Secara statistik, tingkat kunjungan wisatawan ke kota Paris yang mencapai 27 juta wisatawan per tahunnya. Angka tersebut sekaligus menjadi rekor tertinggi tingkat kedatangan wisatawan di sebuah kota pada satu tahunnya. Bali juga tidak mau kalah. Meskipun angkanya tidak sementereng Paris, namun paling tidak Bali muncul sebagai pulau destinasi paling favorit di Asia Tenggara dan Timur. Per tahunnya, Bali bisa kedatangan hampir 10 juta wisatawan (lokal maupun internasional).

Analogi David dan Goliath

Memang, kedua destinasi ini menjadi salah dua destinasi terbaik di mata internasional. Namun berkaca pada angka statistik di atas, kalau masih disandingkan, ternyata posisi Bali masih kalah jauh dibandingkan Paris. Penting kiranya bagi pemerhati dan praktisi pariwisata untuk mencermati perbandingan antara kota Paris dan Bali. Kalau diibaratkan sebuah dongeng, di mana kita analogikan Paris dan Bali sebagai tokoh dalam dongeng tersebut, maka persaingan


Proses penghargaan sejarah lebih dari sekedar pemaknaan simbol, namun lebih kepada pemahaman pada ideologi dan filosofi di balik keberadaan situs-situs sejarah tersebut.

Bali dan Paris dalam menarik wisatawan dapat dikatakan seperti persaingan antara David dan Raksasa Goliath. David kita posisikan sebagai Bali yang masih mencoba bangkit dari bayang-bayang tragedi bom Bali, dengan luas wilayah dan kondisi infrastruktur di bawah kota Paris. Raksasa Goliath kita bisa bayangkan pada diri kota Paris, yang sangat lengkap, modern, dan merupakan kota impian hampir semua remaja di seluruh dunia. Analogi ini memang pas untuk mengkomparasi industri pariwisata di Bali dan Paris. Akan tetapi, analogi ini juga seakan menggelitik kita. Jikalau dongeng ini diakhiri sebagaimana mestinya, bukankah David akan menang melawan raksasa Goliath (atau dengan kata lain Bali menang melawan Paris)? Bukankah David hanya perlu menggunakan ketapel untuk melumpuhkan raksasa Goliath yang angkuh? Jika komparasi ini berjalan sesuai

cerita, maka pada akhirnya, kita bisa mengatakan bahwa Bali memenangkan persaingan dengan Paris, paling tidak dari jumlah kedatangan wisawatan yang mereka dapatkan. Diperlukan lebih dari sekedar ÂŤ ketapel Âť bagi Bali untuk memenangkan persaingan dengan Paris. Namun, untuk paling tidak menyamai apa yang sudah diraih Paris, hal yang perlu dilakukan adalah dengan memperbandingkannya. Paling tidak terdapat lima poin yang ada di Paris tapi tidak ada di Bali.

Lima Poin Penting

Poin yang pertama adalah penghargaan terhadap sejarah. Semua orang sudah mengenal bahwa ikon kota Paris adalah menara Eiffel, namun banyak yang orang tidak tahu adalah mengapa menara Eiffel tersebut begitu tersohor. Belum lagi dengan kesohoran objek wisata lainnya seperti MusĂŠe du Louvre, Istana

105


106

Versailles dan Arch de Triophe. Kesohoran tersebut tercipta karena masyarakat Paris sangat menghargai sejarah mereka, sehingga mereka begitu memperhatikan kelestarian dan keberlangsungan situs sejarah mereka. Proses penghargaan sejarah lebih dari sekedar pemaknaan simbol, namun lebih kepada pemahaman pada ideologi dan filosofi di balik keberadaan situs-situs sejarah tersebut. Seperti menara Eiffel yang dipandang sebagai simbol kebebasan dan ideologi kemerdekaan berpendapat (sejarah peranan menara Eiffel di saat perang dunia 1 dan 2). Bali sekarang berada pada tahap pemahaman terhadap ideologi dan filosofi di balik banyaknya situs bersejarah di pulau ini. Pemahaman pada kedua hal tersebut akan berujung pada wujud kecintaan pada situs bersejarah yang Bali miliki.

Banyaknya institusi pariwisata dan riset pariwisata yang dihasilkan Paris menjadikan dinamika industri pariwisata di kota ini selalu penuh dengan inovasi-inovasi.

Poin kedua adalah salah satu poin terpenting yaitu kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia menjadikan perusahaan perhotelan Prancis dan orang Prancis mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bandingkan dengan industri pariwisata Bali yang didominasi oleh investasi modal asing, sehingga banyak orang Bali yang hanya mampu bekerja dalam level menengah ke bawah. Hal ini disebabkan kualitas sumber daya manusia pariwisata yang sudah dimiliki Prancis sejak dulu. Di Paris sendiri terdapat begitu banyak pusat riset pariwisata, termasuk beberapa di antaranya pusat pendidikan pariwisata (dari program gelar hingga vokasional). Sangat jauh dari Bali yang baru memiliki satu pusat kajian riset pariwisata. Para pelaku dan praktisi pariwisata pun selalu kaya dengan ide baru untuk menangkap peluang industri pariwisata yang ada di depan.

kereta api, tram, hingga bisnya sudah sangat modern sehingga memudahkan para wisatawan untuk berpindah tempat dari satu ke tempat lainnya. Poin aksesibilitas ini menjadi sangat kuat apabila dibandingkan dengan Bali yang sampai saat ini belum memiliki sistem transportasi publik independen seperti di Paris. Memang dibutuhkan kajian dan modal cukup besar untuk membangun sistem transportasi publik seperti ini. Namun, paling tidak pemikiran untuk hal ini bisa dimulai dari sekarang, dibandingkan hanya memikirkan proses pelebaran dan penambahan jalan demi daya tunjang moda transportasi pribadi.

Poin keunggulan ketiga adalah transportasi atau sarana mobilitas. Sarana transportasi publik yang dimiliki Paris adalah salah satu yang terbaik dan terorganisir di dunia. Sistem metro,

Poin yang keempat adalah infrastruktur listrik dan air bersih. Di Paris, seluruh wisatawan bisa mengakses air bersih siap minum di beberapa taman di kota ini. Ketersediaan taman terbuka hijau


ini juga menambah asri kota yang konon tiap harinya dilalui 10 juta orang ini. Mengenai infrastruktur lainnya yaitu listrik, kota ini hampir dipastikan tidak akan mengalami pemadaman listrik. Di kondisi modern saat ini, dua energi ini sangat mutlak kehadirannya bagi industri pariwisata dan kenyamanan wisatawan.

Poin terakhir sekaligus terpenting adalah perencanaan atau master plan. Hal ini mencakup pembangunan keberlanjutan untuk menjamin sebuah industri pariwisata dapat berlangsung pada masa-masa yang akan datang. Perencanaan menjadi salah satu pilar penting untuk memastikan pembangunan yang lebih terarah. Hal ini masih jarang dimiliki Bali, terlebih dikarenakan kurangnya kegiatan riset-riset terkait serta ide-ide inovatif di bidang pariwisata.

Rekomendasi untuk Bali

Namun haruskah Bali meniru mentah-mentah kelebihan yang dimiliki oleh Paris? Sudah barang tentu harus disesuaikan

dengan karakteristik Bali sebagai destinasi budaya. Sebagai destinasi pariwisata budaya, Bali juga harus mempertahankan keunggulan yang dimilikinya selama ini. Beberapa poin yang wajib dipertahankan Bali adalah keluhuran budaya,, keramahtamahan (pelayanan), dan alam. Keluhuran budaya yang dimiliki Bali harus dijaga keberadaannya khususnya dari bentuk-bentuk komersialisasi. Kebudayaan ini tidak hanya yang bersifat stage culture melainkan juga yang bersifat street culture. Kedua bentuk budaya yang sudah mengakar pada adat dan tradisi inilah yang menjadikan Bali masih dikunjungi wisatawan mancanegara, karena otentisitas yang dimilikinya. Keramahtamahan juga menjadi hal yang membedakan Bali dengan destinasi pariwisata lainnya. Hanya saja, poin ini semakin runtuh seiring dengan modernisasi yang terjadi di Bali. Belum lagi munculnya pertikaian-pertikaian kecil di tengah masyarakat Bali seakan membuat pertanyaan baru, apakah Bali masih seramah yang dulu? Namun, lebih dari itu, kehangatan masyarakat Bali dalam menyambut masyarakat luar, yang sangat jarang ditemukan di Paris, bisa menjadi keunggulan yang bisa dioptimalkan. Yang terakhir adalah alam. Poin ini harus mendapat perhatian di tengah isu kerusakan alam yang ada di Bali beberapa tahun terakhir, sebut saja kerusakan hutan bakau, terumbu karang, dan hutan lindung. Ada banyak faktor penyebab kerusakan alam, yang salah satunya adalah eksploitasi besar-besaran demi kebutuhan industri pariwisata. Akan tetapi, yang harus selalu diingat adalah modal alam merupakan modal kedua terbesar setelah budaya, yang menjadi alasan utama wisatawan internasional datang ke Bali. Jika Bali mampu menerapkan kelima poin keunggulan di kota Paris tadi, maka paling tidak Bali akan mampu menyamai rekor pencapaian kota Paris dari segi jumlah kedatangan wisatawan. Apalagi, kalau Bali mampu mempertahankan poin keunggulan yang mereka miliki, maka niscaya cerita David versus Goliath akan berakhir sebagaimana yang tertulis.

107


N

ë

Marché de de

108

Noël Strasbourg

O

Teks: Sesulih Kapti Laras Foto: Iyan Xavier

L


Setiap tahun, ketika musim dingin tiba, menjelang Natal, setiap kota di Eropa menyelenggarakan Marché de Noël atau Pasar Natal selama kurang lebih sebulan. Deretan kios kecil dari kayu yang saling berdempetan dan menjual berbagai produk kerajinan tradisional, kuliner, dan dekorasi, Marché de Noël juga semarak dengan dekorasi khas Natal seperti pohon Natal, lampu-lampu warna-warni, pita-pita, dan lain-lain. Berbagai atraksi dan pertunjukan juga digelar di tengah-tengah Marché de Noël ini. Menarik bukan? Di Prancis Marché de Noël ini juga merupakan acara yang sangat ditunggutunggu. Nah, teman-teman tahu tidak kalau Marché de Noël yang paling menarik di negeri Napoleon ini ada di kota Strasbourg? Apa saja sih keistimewaannya?

Tertua di Prancis

Marché de Noël de Strasbourg merupakan yang paling tua di Prancis. Acara ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1570, tidak lama setelah Marché de Noël pertama di Eropa yang lahir di Jerman. Ratusan kios kayu didirikan di sekitar katedral gotik yang termasuk katedral paling tua di Eropa, di pusat bersejarah yang tercatat sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Keren yah?. Tetapi tidak hanya itu saja. Berbagai produk khas daerah seperti anggur khas Alsace dan bredel de Noel atau kue khas Natal banyak dijumpai disini. Selain itu, Marché de Noël de Strasbourg juga menawarkan berbagai pertunjukan spektakuler khas daerah Alsace dengan dekorasi menakjubkan dan penuh imajinasi. Katanya sih Marché de Noël Strasbourg ini mampu membawa kita menelusuri suasana Natal yang autentik dan luar biasa. Dan yang paling terkenal dari Marché de Noël Strasbourg ini juga pohon natal raksasanya atau Grand Sapin (sekitar 30 meter) yang merupakan paling tinggi se-Eropa! Saking besar dan menariknya , Marché de Noël de Strasbour menjadi suatu atraksi turistik tersendiri. Bahkan ada sebutan kalau Strasbourg bukan hanya capital d’Alsace, tetapi juga capital de Noel loh. Tertarik untuk mengunjungi Marché de Noël Strasbourg tahun depan? Catat tanggalnya yah dari 29 November-31 Desember.

109


Chamonix, le plaisir

e

D IER

SK

110

au pied dE

Mont-Blanc


Kegiatan wisata yang paling mantap dan asik untuk dilakukan di liburan musim dingin nanti apalagi kalau bukan main ski. Nah, Prancis yang memiliki pegunungan Alpen, Jura, Massif Central, Jura, Pyrennees, dan Vosges terkenal dengan sejumlah station de ski lengkap dan modern dengan reputasi dunia. Yuk kita kenalan dengan salah satunya, yang katanya paling terkenal dengan pemandangan yang paling cantik; Chamonix Mont-Blanc!

111


Jalur ski terpanjang di dunia

Chamonix terletak di kaki gunung Mont -Blanc, puncak tertinggi pegunungan Alpen. Dengan ketinggian sekitar 3000 meter, lembah Chamonix menawarkan berbagai macam jalur ski untuk semua tingkatan (amatir sampai professional ) yang tersebar di 4 domaine skiable atau wilayah ski-nya yaitu Les Grands Montets, Brévent/Flégère, Domaine de Balme dan Les Houches. Jalur ski Vallee Blanche (22 km) di Chamonix adalah salah satu yang terpanjang di dunia. Berbicara mengenai fasilitas dan akomodasi, Chamonix bisa dibilang sangat lengkap dan modern. Untuk menuju ketinggian, tersedia berbagai layanan remontée mecanique canggih dan modern yang bisa digunakan. Kemudian untuk transportasi di dalam wilayah lembah, tersedia berbagai alternatif seperti Train Mont-Blanc Express, Chamonix Bus, navette, dan velo electrique. Penginapan pun sangat beragam dan tersebar baik di dalam

station atau desa-desa sekitarnya. Jadi, tinggal pilih mau hotel, apartemen, chambre d’hotes, atau camping? Chamonix menawarkan panorama alam yang menakjubkan baik puncak Mont-Blanc, lembahnya sendiri, dan nuansa pedesaan khas pegunungan alpen. Yang paling spektakuler, tentu saja, La mer de glace! Nah dengan paket lengkap yang dimiliki Chamonix, teman-teman yang suka ski dan ingin belajar ski wajib nih kesini. Apalagi ditambah fakta bahwa Olimpiade Musim Dingin pertama kali diadakan di Chamonix pada tahun 1924. Teks: Sesulih Kapti Laras Foto: google.com


J

a J

l a

Hemat Teks: Sesulih Kapti Laras Foto: Iyan Xavier

Jalan-jalan hemat pastilah impian semua orang, khususnya kaum mahasiswa. Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar kita bisa jalan-jalan, menghilangkan penat, tanpa harus mengeluarkan banyak uang . 114

Apalagi di Prancis dan seluruh Eropa pada umumnya, telah tersedia berbagai layanan dan promosi untuk bisa jalan-jalan dengan hemat. Nah, di rubrik ini Salut! ingin memberikan tipstips bagi kalian untuk bisa jalan-jalan dengan hemat dengan memanfaatkan program-program yang ada. Simak yah! 1. Gunakan EuRail Pass dan InteRail Pass Bagi yang ingin jalan-jalan ke beberapa negara Eropa dengan kereta, kalian bisa menggunakan layanan EuRail Pass dan InteRail Pass. Prinsipnya, kalian hanya akan membeli satu tiket atau pass yang bisa digunakan di negara-negara Eropa sesuai dengan paket negara yang kalian pilih dan dalam jangka waktu tertentu. Ada paket dua negara, tiga, dan bahkan paket seluruh negara Eropa yang tergabung dalam layanan ini. Harganya bervariasi tergantung paket negara dan jangka waktunya. Namun tentunya jauh lebih murah dibanding membeli tiket satu-satu. InteRail yang diperuntukkan bagi warga Eropa dan warga asing yang telah tinggal minimal 6 bulan, harganya lebih murah lagi. Tips nih, biasanya layanan high speed train mewajibkan biaya

a l


a l

n a

reservasi. Jadi, untuk lebih hemat biaya, gunakanlah local train di negara-negara dengan biaya reservasi yang cukup tinggi. 2. Jeli mencari layanan murah TER Train Express Regional atau TER di Prancis juga memiliki layanan yang bisa kita manfaatkan untuk jalan-jalan hemat loh. TER di region Pays de la Loire misalnya memberlakukan tiket TribU untuk setiap week-end. Jadi, kita membeli satu tiket seharga 45 Euro yang berlaku untuk maksimal 5 orang dan bebas digunakan semaunya di seluruh Pays de la Loire dengan TER selama 2 hari (Sabtu dan Minggu). Nah, cara yang hemat untuk menjelajah region bareng teman-teman kan? 3. Manfaatkan program jalan-jalan dari kampus Sebagai mahasiswa asing khususnya yang dari program pertukaran, memiliki keuntungan lebih untuk bisa jalan-jalan hemat. Apalagi kalau bukan program liburan singkat yang biasanya sering diadakan oleh bagian Internasional di kampus khusus untuk mahasiswa asing program pertukaran. Tarifnya sangat

n

-

murah dan sudah termasuk transport, makan, dan aktivitas di tempat. 4. Mencari agence de voyage khusus mahasiswa Bagi yang ingin jalan-jalan hemat sekaligus males repot mengurus akomodasi dan sebagainya, bisa mencari agence de voyage atau biro perjalanan. Agar lebih murah, carilah yang khusus untuk mahasiswa. Di Prancis, tersedia biro-biro perjalanan untuk mahasiswa yang menawarkan berbagai paket liburan murah baik di Prancis atau keliling Eropa. Harga yang ditawarkan pastinya sudah termasuk transport, hotel, makan (biasanya sarapan). dan terkadang juga tiket masuk dan ekskursi. Nah, berbagai pilihan sudah tersedia untuk bisa jalan-jalan hemat, jadi, tunggu apa lagi? Ayo siapkan diri untuk musim depan!

115


Robin des Bois,Le Spectacle Musical de l’Année! Teks: Sesulih Kapti Laras Foto: google.com

116

SALUT! edisi kali ini akan membahas sebuah pertunjukan musik yang sedang booming tahun ini. Apalagi kalau bukan Robin des Bois: Ne renoncez jamais! Ya, bisa dibilang Robin des Bois adalah pertunjukan musik terbesar tahun ini. Konsepnya acara ini adalah sebuah pertunjukan drama musikal yang mengambil cerita legendaris Robin des Bois atau Robin Hood. Robin des Bois diisi oleh penyanyi-penyanyi papan atas Prancis yang memerankan tokoh-tokoh dalam cerita legendaris ini, yaitu M.Pokora (Robin des Bois), Stéphanie Bédard (Marianne), Sacha Tran (Adrien), Nyco Lilliu (Frère Tuck), Marc Antoine (Petit Jean), Dume (Le Sherif), dan penyanyi muda Prancis Caroline Costa (Bedelia). Pertunjukan ini pertama digelar di Palais de Congres, Paris pada tanggal 26 September lalu sampai Januari 2014 nanti. Kemudian setelah selesai di Paris, tim Robin des Bois akan

berkeliling menggelar konsernya ke kota-kota di Prancis dan beberapa kota di luar Prancis seperti Jenewa dan Brussels. Tokoh dibalik pertunjukan ini adalah Michaei Laprise yang merupakan seorang aktor kawakan dalam menciptakan pertunjukan musik yang spektakuler. Selain itu, juga didukung oleh tim-tim berpengalaman lain yang mendukung pertunjukan ini khususnya di bidang koreografi, kostum, dan lain-lain. Nah, bagi yang ingin mendengarkan single-single nya dulu sebelum melihat pertunjukannya, tersedia album Robin des Bois yang bisa dibeli online di situs resmi mereka. Single yang juga menjadi hits di Prancis antara lain Un monde à changer (Nyco Lilliu) dan Le jour qui se rêve (M.Pokora). Bagi yang ingin melihatnya langsung, silakan cek jadwal pertunjukannya di kota-kota kalian yang juga tersedia situs resminya, www. robindesbois-lespectacle.fr


118


Salut! 4th Edition  
Advertisement