Page 1

EDISI 6 • 2014

Sumpah Pemuda

DAN REFLEKSI PRIX DE JEUNES

garuda

kongres

ALUMNI

Prancis

île des

RÊVES

Urbanisme Geoteknik Akulturasi BUDAYA

Simposium PPI DUNIA


EDITO

Salut! Comment allez-vous ? Tidak terasa, Buletin Salut! PPI Prancis telah sampai diedisinya yang ke-enam. Tema yang diangkat kali ini adalah « Sumpah Pemuda » yang kita peringati setiap tanggal 28 Oktober. Tema yang krusial dan berkaitan erat dengan para pelajar Indonesia khususnya yang berada di Prancis. Tentu, para pelajar Indonesia di Prancis juga termasuk pemuda – pemudi yang ada di generasi saat ini meskipun sedang berada di tanah rantau. Kita tetap perlu meresapi makna dan semangat kongres

pemuda tahun 1928 yaitu bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Karena perkembangan zaman serta sebagai kaum terpelajar, makna dan semangat tersebut perlu diadaptasikan dengan konteks kekinian dimana kita dihadapkan pada era teknologi, sains dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Buletin Salut! kali ini berisi artikel – artikel menarik yang mengangkattopik refleksi sumpah pemuda, sains dan IPTEK dari pemuda untuk Indonesia serta berbagai info kegiatan – kegiatan PPI Prancis sebagai bentuk implementasi makna dan semangat Sumpah Pemuda. Sekian untuk Edito kali ini. Kami ucapkan selamat membaca dan semoga bermanfaat...

2

À plus! Khakim Habibi


SOMMAIRE 2 Edito 3 Sommaire 4 Ours

18 Scientifiques 18 Modal Utama Kepala Daerah Memimpin Kota-Kota Di Indonesia 20 Modelisasi Diskrit 22 PPI Perancis Dan Peran Pemuda Dalam Hubungan Antar-Bangsa

5

24 Persatuan Dalam Perbedaan

5 Ulasan Cover Salut! Sumpah Pemuda Dan Refleksi

Fait Divers

6 Soempah Pemoeda

26 French English False Cognates - Faux Amis

7 Pemuda, Bekerja dan Bergembiralah!

28 Batik en France

ACARA PPI PRANCIS DAN WILAYAH

30 Pokoknya Ga Mau Move On Dari Musik Indonesia, Ga Mau!

8 Prix de Jeunes Garuda

Opini/Informasi

12 Simposium PPI Dunia

32 Fungsi Bamus 2014 - 2015

14 Kongres Ikatan Alumni Prancis Indonesia

36 Menjadi WNA Tanpa Meninggalkan Merah Putih

16 テ四es des Rテェves PPI Lyon

16

36 3


OURS Pelindung: Henry Richard Willard Kaitjily

Didukung oleh:

Penanggung Jawab: Dhiara Fasya Penanggung Jawab Divisi: Khakim Habibi Tim Redaksi: Okta Pramitya Pasaribu Artistik: Hanggi Merwanto Fotografer: Iyan Xavier PPI Grenoble PPI Lyon PPI Paris PPI Toulouse Cover: Noni Baraba

4

Kontributor: Aulia Nastiti Dhafi Iskandar Frendika Septanaya Gabriella Alodia Gani Jaelani Icha Ayu Indah Tridiyanti James Oetomo Laras Pitayu Mexind Utomo Reyner Email Redaksi: media-center@ppifrance.fr

KBRI Paris

KJRI Marseille


Behind The Cover

Setuju kan kalo cover kita kali ini spesial? Seorang pelajar Indonesia dengan latar belakang menara Eiffel di malam hari. Pada dasarnya, arti dari cover kali ini adalah Buletin Salut! edisi 6 memuat tulisan - tulisan dari para pemuda - pemudi di Prancis yang berbasiskan sains, teknologi dan budaya. Kemudian muncul pertanyaan, ÂŤapa hubungannya de ngan sumpah pemuda?Âť Sumpah pemuda identik dengan pemuda, dimana dalam cover ini diwakili oleh pemudi Indonesia. Karena buletin ini terdiri dari hasil karya pemuda pemudi Indonesia di Prancis, maka dipilihlah Menara Eiffel sebagai lambang dari di negeri Napoleon (Menara Eiffel). Pertanyaan selanjutnya, ÂŤterus, bagaimana hubungannya dengan Sains, Teknologi dan Budaya?Âť Tentu, menara Eiffel tidak hanya berarti romantisme dan mode semata. Tetapi menara yang diapit oleh taman TrocadĂŠro dan Champs-de-Mars ini adalah hasil aplikasi sains yang diterjemahkan dalam ilmu arsitektur, teknik sipil dan material. Bentuknya yang indah juga mewakili aspek budaya. Menara Eiffel juga diidentikan dengan kota Paris sebagai kota mode dunia yang selalu update. Sejalan dengan hal ini, kontribusi pemuda - pemudi kali ini harus dilakukan pengkinian karena perubahan jaman. Bentuk kontribusi ini berupa karya - karya (tepatnya tulisan) yang berbasiskan sains, teknologi dan budaya terbaru yang disesuaikan dengan perkemba ngan terkini.

5


SUMPAH PEMUDA DAN REFLEKSI

SOEMPAH PEMOEDA Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

6

PHOTO http://goo.gl/kLmYZ4

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.


PEMUDA, BEKERJA DAN BERGEMBIRALAH! Meja makan sepertinya merupakan tempat yang paling asik untuk obrolan politik. Setidaknya itulah yang dialami para penghuni Indonesische Clubhuis, di jalan Keramat no. 106, seperti Moh. Yamin, Amir Sjarifoedin, Aboe Hanifah, dan A. K. Gani – anak-anak muda yang cukup aktif di perkumpulan pemuda yang kemudian kita mengenalnya sebagai tokoh nasional. Dan meja makan pagi adalah saat ketika para penghuni cukup lengkap berkumpul dan berdiskusi tentang persoalan aktual. Tapi pagi itu, 28 Oktober 1928, suasana meja makan agak sepi. Bukan karena mereka tidak lagi semangat membicarakan persoalan masyarakat. Juga bukan karena takut ditangkap pemerintah kolonial. Pagi itu, para penghuni asrama tampak disibukkan oleh persiapan kongres yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Dan apa yang terjadi pada malam itu, kita masih terus mengingatnya sampai sekarang. Tapi mengatakan bahwa peristiwa itu sebagai kongres pemuda pemuda dari seluruh Indonesia mungkin terlalu berlebihan. Kata Sugondo Djojopuspito, sang ketua pada pertemuan para pemuda ini, anggapan itu bisa jadi muncul dari judul resolusi yang dihasilkan: “Poetoesan Congres Pemoeda Indonesia”. Bagi orang yang tidak hadir, judul itu memberi kesan yang megah. Muhammad Yamin, sang konseptor, pemikir nasionalis yang pada saat itu masih sangat muda, itulah yang menjadikan peristiwa ini menjadi tampak gagah. Kemudian para anggota panitia yang membantunya masih sangat muda. “Dan sudah menjadi watak orang muda”, kata Sugondo lagi “suka memakai perkataan-perkataan yang muluk. Sebab itu judul dan kata-kata resolusi yang disusun oleh Yamin lebih mengutamakan effect daripada kebenaran”. Bahkan, konon, istilah “Sumpah Pemuda” juga sebetulnya ciptaannya di tahun -50an. Sebetulnya, mereka yang usianya masih belasan dan dua puluhan tahun itu berkumpul di sana sejak sabtu malam tanggal 27 Oktober. Tujuannya: membicarakan persoalan masyarakat dan pentingnya menghimpun gerakan bersama. Saat itulah Sugondo menyampaikan pidatonya yang menjadi semangat utama rapat umum ini. “Perangilah pengaroeh bertjerai-berai dan madjoelah teroes ke arah Indonesia bersatoe yang kita tjintai”, serunya di akhir pidato. Akibat dari pidato yang disampaikan dengan cukup bersemangat ini, rapat hampir saja dibubarkan. Komisaris Polisi Belanda yang memang selalu hadir dalam acara perkumpulan orang Indonesia dengan tujuan mengawasi tentu saja tidak senang ketika kata “merdeka” terdengar diteriakan; sebuah kata yang selalu menjadi momok bagi pemerintah kolonial. Alasan sang Komisaris ketika menegur ketua panitia cukup jelas: kata merdeka identik dengan politik, sedangkan rapat politik tidak boleh dihadiri oleh mereka yang usianya belum delapan belas tahun. Dan mereka yang hadir di sana masih banyak yang usianya bahkan belum enam belas tahun tentu saja.

Saya tidak tahu apakah sebetulnya mereka yang hadir di sana paham arti berpolitik atau tidak. Pun saya tidak tahu apakah gagasan kebangsaan Indonesia sudah tertanam di kepala mereka. Tapi mereka jelas paham satu hal: mereka merasa perlu bersatu untuk bisa membebaskan diri dari penjajahan. Karena itulah, apa yang kemudian disepakati adalah sesuatu yang kemudian bisa dibagi oleh mereka yang berasal dari berbagai daerah berbeda: ada semangat untuk memiliki tanah air yang satu, memiliki bangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan – bahasa Indonesia. Gagasan inilah yang kemudian mampu membuat mereka yang berasal dari daerah yang berbeda, pulau yang berbeda, merasa diri sebagai Indonesia. Tapi, “Poetoesan Congress” yang lebih dikenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda” bukanlah tujuan. Ia lebih merupakan sebuah dasar perjuangan, seperti yang dibilang Bung Karno pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke34- di Istana Olah Raga Bung karno Jakarta. “Tujuan kita jalah, dengan mempergunakan dasar dan alat ini mentjapai hal jang lebih djauh dari itu, jaitu misalnja satu masyarakat jang adil dan makmur”. Kita sadar betul, 85 tahun setelah peristiwa di gedung Indonesisch Clubhuis, apa yang menjadi tujuan itu tampaknya masih jauh dari kenyataan. Itulah kenapa Presiden Soekarno di dalam pidatonya itu juga mengingatkan bahwa peristiwa di pada tanggal 28 Oktober 1928 itu harus dilihat dalam kaitannya dengan peristiwa lain yang mendahului. Ada Kongres Pemuda I yang diselenggarakan dua tahun sebelumnya; pembentukan Perhimpoenan Indonesia oleh para mahasiswa Indonesia di Belanda yang untuk kali pertama mengenalkan gagasan Indonesia sebagai satuan politik; ada Indische Partij yang slogannya telah membuat pemerintah kolonial cemas: Indie voor Indiers – Hindia diperuntukan bagi mereka yang memiliki rumah di sini. Dan lebih dari itu semua, pengorbanan rakyat yang namanya mungkin tidak pernah tercatat sejak abad ke19- tentu juga tidak boleh dilupakan. Dan semua itu memiliki tujuan yang sama: mewujudkan satu dunia yang baru sama sekali, suatu masyarakat yang adil dan makmur. Tampaknya si Bung Besar hendak mengatakan bahwa 28 Oktober 1928 memang peristiwa penting. Juga tidak mengingkari peran pemuda yang cukup besar di dalamnya. Tapi, dia juga merasa perlu mengingatkan bahwa peristiwa bukan segala-galanya. Karena sejarah tentu saja tidak hanya dibuat oleh mereka yang namanya ditulis di lembar kertas atau terpahat di monumen. Sejarah lebih banyak digerakan oleh mereka yang namanya tidak pernah tercatat. Kepada anak muda yang hadir di sana, Bung Karno berseru supaya tidak lekas puas dengan pencapaian mereka; bahwa para pemuda harus bisa bekerja lebih keras dan berkarya lebih tinggi. “Soyez plus grand que nous!”, demikian dirinya mengutip salah seorang pemikir Perancis. Karena itu bekerja dengan kedua tangan menjadi ukuran yang jelas. Tapi sang proklamator itu juga sadar betul, bahwa semua itu bukan berarti para anak muda tidak boleh bergembira dan bersenang-senang. “Sebab”, katanya “pemuda dan pemudi jang tidak bergembira dan bersemangat lebih baik masuk lobang kubur sadja”.

7

Saya membayangkan, sebetulnya pada perayaan Sumpah Pemuda di Jakarta lima puluh dua tahun yang lalu itu Si Bung Besar kira-kira ingin mengatakan: Wahai anak muda, bekerja, bergembira dan bersenang senanglah!!!

TEXT by GANI A. JAELANI


ACARA PPI PRANCIS DAN WILAYAH

kepengurusan 2013-2014. Kegiatan ini terbagi ke dalam dua bagian, yakni kompetisi penulisan essai dalam bahasa Indonesia dan bahasa Perancis, serta weekend pelatihan pengembangan diri « Camp de Jeune Garuda ».

LE PRIX DE JEUNES GARUDA Mahasiswa dan pelajar banyak dikenal dengan sebutan Agent of Change. Tidak berlebihan jika status itu disandangkan pada mahasiswa karena peran sentralnya sebagai salah satu penentu utama masa depan bangsa. Mahasiswa dan pelajarlah yang nantinya akan membawa kemana arah Indonesia bergerak. Banyak dari para pelajar/mahasiswa Indonesia yang bersekolah di luar negeri memiliki impian besar untuk kembali dan membangun bangsa menjadi lebih baik. Merekalah yang akan menjadi penyalur ilmu pengetahuan yang mereka peroleh ketika belajar di negara-negara adidaya, akses jaringan profesional, dan pergaulan internasional. Terlepas dari skenario ideal tersebut, kita tidak bisa menafikan bahwa Indonesia adalah negara yang kompleks dengan kesenjangan yang masih nyata, baik itu kesenjangan harta, fasilitas infrastruktur, dan yang terutama adalah kesenjangan pendidikan. Mampukah kita semua turut andil dalam mengatasi itu semua?

8

“Berbicaralah pada rakyatmu dengan bahasa yang bisa mereka pahami”, begitu penyair WS Rendra pernah berhimbau pada kaum intelektual. Selain harus memiliki kemampuan akademik dan keterampilan vokasional (hardskill), mahasiswa juga seyogyanya mempunyai softskill yang mumpuni. Kerjasama tim, jiwa leadership, kemampuan beradaptasi, komunikasi, problem solving, conflict resolution dan pengambilan keputusan adalah sedikit dari banyak softskill yang harus dipupuk dalam jiwa seorang pelajar agar kelak dapat berkontribusi dengan maksimal untuk masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pada bulan Juni lalu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Prancis menyelenggarakan sebuah kegiatan bernama “Prix de Jeune Garuda” sebagai salah satu program kerja untuk periode

TEXT by LARAS PITAYU + PHOTOS by PANITIA

Tema tulisan yang diminta bertajuk « Pahit Manisnya Gegar Budaya », disini peserta bisa memaparkan kisah adaptasi mereka sebagai seorang perantau muda di Prancis. Lebih dari itu, peserta juga diharap bisa menceritakan pergolakan batin yang dihadapi manakala nilai – nilai ke-Indonesia-an mereka dibenturkan dengan tantangan budaya baru. Menyambut tantangan menulis ini, terdapat tak kurang dari 18 karya tulis pendek telah terkumpul dari seluruh penjuru Prancis. Kedelapanbelas karya tulis ini kemudian dinilai secara anonim oleh dua orang juri undangan, yakni Bapak Jérôme Samuel, pengajar di Institut National des Langues et Civilisations Orientales, serta Ibu Rosita Sihombing, pengarang buku «Luka di ChampsElysées» dan «Catatan Cinta dari Negeri Eiffel». (lihat box : Kesan Pesan Juri) Semua peserta kemudian diundang untuk dapat mengikuti Camp Jeune Garuda selama tiga hari dua malam di Marseille, semua biaya termasuk penginapan dan konsumsi ditanggung oleh panitia, peserta hanya menanggung biaya transportasinya saja. Para peserta yang datang disambut hangat oleh teman – teman PPI Marseille selaku penyelenggara teknis serta Bapak Harya Sidharta selaku Acting Konjen KJRI Marseille beserta segenap staf.

Kegiatan Camp Jeune Garuda ini dirancang sedemikian rupa untuk mengakomodir kebutuhan peserta akan pelatihan dasar organisasi, pengenalan diri, manajemen waktu dan stres, memahami tantangan adaptasi di era global serta kiat – kiat merancang masa depan. Dari lima sesi yang dirancang, sesi yang menjadi primadona adalah sesi « debat interkultural » yang diasuh oleh Bung Gani Jaelani dan Bung Wisnu Adihartono, keduanya adalah kandidat doktor di Prancis. Pada sesi ini, peserta dibagi menjadi empat kelompok yang mewakili kelompok – kelompok masyarakat yang paling kontroversial (kaum rasis –


konvensional, kaum religius, kaum atheis, dan kaum pembela hak masyarakat homoseksual). Debat menjadi ricuh manakala tiap kelompok sibuk membenarkan argumen masing – masing dan menjatuhkan yang lain. Sesi ditutup dengan kesimpulan bahwa setiap kelompok adalah benar, setidaknya berhak berpendapat bahwa mereka benar menurut pandangan masing – masing. Di Prancis, tiap – tiap kelompok ini memiliki hak berkegiatan dan diberi ruang untuk bermasyarakat. Hidup menjadi adil saat setiap individu berhak menjustifikasi pilihannya, asalkan tentu dengan tetap menghargai perbedaan dan tidak merugikan kelompok lain.

Keesokan harinya, acara Prix de Jeune Garuda 2014 diakhiri dengan games santai di pantai Marseille serta tur keliling kota Marseille yang cantik dan bermandikan sinar matahari. Segenap peserta dan panitia kemudian pulang ke kotanya masing - masing dengan perasaan lega dan sukacita. Bravo PPI Prancis ! Bravo PPI Marseille ! Bravo segenap pelajar Indonesia di Prancis !

Di akhir kegiatan sesi materi, diumumkan jawara dari lomba perdana Prix de Jeune Garuda, yakni Kartika Nurhayati sebagai Juara Umum (judul karya : Lewat Segelas Anggur/A Travers d’un Verre de Vin), Bima Nawandana sebagai Juara Favorit 1 (judul karya : Rumput Nusantara dari Halaman Tetangga/L’Herbe de Nusantara Vue de Jardin du Voisin) dan Restu Nurul sebagai Juara Favorit 2 (judul karya : Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung!/A Rome, Fais Comme Les Romains!). Juara umum mendapatkan medali perunggu dari Monnaie de Paris serta uang tunai dan sertifikat, sementara Juara Favorit 1 dan 2 mendapatkan sertifikat dan uang tunai.

“BERBICARALAH PADA RAKYATMU DENGAN BAHASA YANG BISA MEREKA PAHAMI” - WS RENDRA

Gala Night juga dimeriahkan dengan pagelaran tari persembahan Adnya Pratiwi dan Anisa Putri dari PPI Marseille, juga acara musik santai dimana Bapak Harya selaku Acting Konjen KJRI Marseille turut unjuk gigi dan menampilkan betotan gitar andalannya.

9


10


LEWAT SEGELAS ANGGUR

A TRAVERS D’UN VERRE DE VIN

Kuperhatikan tiap geraknya hingga dimiringkannya botol itu di bibir gelas, aku masih belum percaya ini kali pertama dalam hidupku melihat seseorang membuka botol anggur. Ternyata tidak sesederhana yang aku bayangkan. Atau pernahkah sekalipun aku terbersit keingintahuan tentang itu? Untung saja tidak pernah aku diminta membuka sang botol, bisa ketahuan betapa terbelakang dan terasingnya aku dari peradaban dunia.

J’ai regardé chaque mouvement de la bouteille inclinée sur les jantes, je ne crois toujours pas que c’était la première fois de ma vie de voir quelqu’un ouvre une bouteille de vin. Ce n’était pas aussi simple que je l’avais imaginé. Avais-je même la curiosité à ce sujet à y penser ? Heureusement, on ne m’a jamais demandé d’ouvrir aucune bouteille, sinon on va découvrir à quel point je suis en arrière et aliéné de la civilisation mondiale.

Cahaya lilin kue ulang tahun memantul di dinding putih kamar lima belas meter persegi. Menjadi mahasiswa di ibukota dunia, kami telah terbiasa menikmati hidup dalam kemesraan dan kesederhanaan, namun kehadiran sebotol anggur malam itu di tengah makan malam pasta dan salad bermerk supermarket memberi kesan sekelas hotel bintang empat. Tunggu dulu. Apakah ini nyata? Mengapa sedari awal ada botol anggur dalam kamar ini? Sudah lupakah dia bahwa aku tidak mengkonsumsi alkohol, atau dia tidak peduli? Dalam kegundahan hati, tanpa sadar kulempar tatapan kosong penuh ragu saat ditawarkannya sang burgundy suci.

La lumière des bougies sur un gâteau d’anniversaire reflet sur un mur blanc de la chambre de quinze mètres carrés. Être étudiants dans la capitale du monde, nous avons été habitués à profiter de la vie dans l’intimité et la simplicité, mais la présence d’ une bouteille de vin ce soir-là au milieu d’un simple diner des pâtes et de la salade de marque supermarché a donné la classe d’un quatre étoiles. Attends. Est-ce réel ? Pourquoi y-a-t-il une bouteille de vin dès le départ dans cette pièce ? A-t-il oublié que je ne consomme pas d’alcool, ou il ne s’en fiche pas? Dans l’angoisse du coeur, j’ai jeté distraitement des regards vides plein d’hésite lorsqu’il m’a offert le saint bordeaux.

«Ayolah, hanya segelas saja untuk hari ulang tahunmu, ini tidak akan merobohkanmu.»

«Allez, juste un verre pour ton anniversaire, il ne te frappera pas.»

Wajah yang tadinya penuh kasih tiba-tiba berubah di mataku layaknya ancaman. Seperti yang diajarkan guru pencak silat ku, dalam menghadapi bahaya, paksa diri untuk menenangkan diri untuk membuat keputusan yang tepat, karena musuh terbesar adalah diri sendiri. Ku gali lubang di bawah tanah demi menembus pagar bentengku, kutandai jejakku, agar kutahu jalan pulang kembali. Oh, kutemukan diriku tertawa lepas bersamanya dan sebelum terjatuh, ku berlari pulang ke bentengku. Hidupku indah, yang baru saja terjadi itu apakah yang dinamakan toleransi?

Le visage qui était plein d’amour a soudainement changé dans mes yeux en étant une menace. Comme m’a appris un professeur d’arts martiaux, en face du danger, il faut se forcer à se calmer pour prendre la bonne décision, parce que le plus grand ennemi est le soi. J’ai creusé un trou dans le sol pour pénétrer la barrière forteresse, j’ai marqué mes traces, comme ça je saurais que le chemin de retour. Ah, je me suis retrouvé contente de rire avec lui et avant que je suis tombée, je suis retourné au fort. Ma vie est belle. Ce qui vient de se passer, c’est ce qu’on appelle la tolérance?

karya : Kartika Nurhayati

11


Simposium Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia VI

12

Salut PPIers.. Sukses dengan kegiatan Simposium Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di tahun-tahun sebelumnya, di periode 2014 ini Simposium dan kongres PPI Dunia ke-6 berlangsung pada tanggal 20-23 September 2014 bertempat di Tokyo Institut of Technology, Tokyo, Jepang dengan mengusung tema ÂŤ Initiating Contribution of Indonesian Young Generation to the Word Âť atau Menggagas Kontribusi Generasi Muda Indonesia untuk Dunia. Acara tahunan sekaligus acara puncak dari PPI dari seluruh Dunia ini sukses mendatangkan pembicara-pembicara ahli dari berbagai bidang diantaranya pendidikan, politik dan pemerintahan, pembangu-

TEXT by INDAH TRIDIYANTI + PHOTO by PPI Prancis

nan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan kewirausahaan, serta sains, teknologi, dan inovasi yang diharapkan dapat memberikan motivasi positif bagi para pelajar Indonesia untuk memberikan karya nyata dalam berbagai aspek. Nara sumber yang hadir seperti Bapak Dr. Iqbal Djawad dan M. Anwar Bashori (perwakilan dari bank Indonesia), Dr.Eng.Khoirul Anwar, Dr. Warsito Purwo Taruno, Bapak abdul Kahar (Direktur Dana Kegiatan Pendidikan LPDP) yang diwakili oleh stafnya hingga beberapa teman-teman kita dari negara- negara ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Comumnity sukses memberikan semangat perjuangan untuk membangun Indonesia yang lebih baik lagi.


Simposium ini tidak hanya diisi dengan diskusi saja, namun ada lomba poster dengan tema ÂŤ Nilai-Nilai Positif di Masing-Masing Negara Yang Dapat di Terapkan bagi Kemajuan Indonesia Âť. Di lomba ini, tiap-tiap masing negara mempresentasikan posternya dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada kesempatan ini, PPI Prancis mengirimkan poster yang mengulas beberapa sisi positif dari Prancis yang bisa kita aplikasikan di Indonesia. Tiga sisi utama yang diulas dalam poster ialah : 1. Sejarah sebagai pedoman hidup 2. Pajak sebagai kesejahteraan rakyat 3. Pendidikan sebagai bentuk pemenuhan hak masyarakan terhadap wajib belajar. Di akhir acara, diumumkan pemenang lomba poster, dan yang berhasil memenangkan lomba tersebut ialah perwakilan dari PPI Tiongkok dengan mengusung tema transportasi. Tak sekedar menghadirkan narasumber - narasumber yang hebat, kita juga dihibur oleh penampilan tari dari teman-teman kita PPI Jepang, bak penari profesional mereka menampilkan tari kreasi eslilin dan tari kreasi yang memadukan antara budaya Jepang dan Indonesia pada acara gala dinner. Pada hari ke-3 acara dilanjutkan dengan Kongres PPI dunia yang di hadiri oleh 32 delegasi dari 20 Negara. Pada kongres kali ini, PPI Dunia bersama Perhimpunan Karyasiswa DIKTI Luar Negeri (PKDLN) mengeluarkan surat pernyataan sikap untuk kasus DIKTI yang sampai saat ini belum tuntas. Kami mengeluarkan surat pernyataan sikap dengan tujuan agar mendesak para pemerintahan untuk segera menindaklanjuti secara nyata dan jelas kasus beasiswa DIKTI yang sudanh berlarut-larut dari tahun-ketahun. Di kongkres ini juga memilih koordinator dewan presidium PPI Dunia, tahun ini PPI Australia kembali dimandatkan untuk menjadi koordinator umum, dan terpilih lah Ahmad Almaududy Amri sebagi koordinator PPI Dunia periode 2014-2015. PPI Prancis juga dipercaya untuk menjadi sekretaris kawasan Amerika-Eropa mendampingi PPI Belanda yang dimandatkan menjadi ketua kawasan. Acara yang berlangsung selama 4 hari ini sangat sukses karena semua tim bekerja dengan sangat baik dan terstruktur bahkan panitia bisa meminimalisir pergeseran waktu kegiatan. Seperti kata orang, Jepang memang terkenal tepat waktu. Tak heran jika masyarakat disini, bahkan teman-teman kita yang berasal dari Indonesia juga terkena dampak positifnya. Di hari terakhir acara, para peserta diajak berkeli-ling ke berbagai tempat menarik di Jepang seperti Asakusa market, Odaiba, Harajuku street, hingga mencoba berbagi makanan khas Jepang seperti ramen di shibuya, mochi, origini, takoyaki hingga menu tempura yang super nikmat di Asakusa.

Abram Mahon Mahalai (Kiri) dan Indah Tridiyanti (Kanan) sebagai delegasi PPI Prancis dalam Simposium PPI Dunia 2014, Tokyo, Jepang. Masing - masing merupakan ketua divisi Sosial-Budaya-Olahraga dan Hubungan Masyarakat PPI Prancis 2013/2014

Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil dari acara simposium PPI Dunia kali ini. Selain materi dari nara sumber yang sangat membangun dan semakin menggerakan anak bangsa untuk kembali ke Indonesia dan membangun Indonesia yang semakin baik, kita juga bisa belajar banyak dari masyarakan Jepang yang sangat maju akan tekhnologi namun tak lupa akan budaya. Kita bisa menikmati tekhnologi terbaru hampir disetiap sendi-sendir masyarakat, mulai dari mesin untuk memesan makanan, toilette yang serba otomatis, hingga alat transportasi yang tak perlu diragukan lagi, namun mereka tak sedikitpun meninggalkan budaya tradisionalnya. Kita masih akan sering melihat wanita-wanita jepang menggunakan yukata (kimono musim panas) di sudut – sudut jalan, tempat makan tradisional atau bahkan bangunan-bangunan tradisional yang masih dijaga sampai saat ini. Teknologi dan tradisi yang saling berdampingan inilah yang harus bisa kita terapkan di Indonesia. Sukses bangsaku, maju terus Indonesiaku ! Sampai jumpa di simposium PPI Dunia 2015 di Singapura.

13


Sumpah Pemuda dan Peran Alumni Prancis

14

TEXT by M. DHAFI ISKANDAR + PHOTO by M.D.I


Merantau merupakan salah satu pilihan hidup. Hal itu diambil sebagai salah satu jalan untuk peningkatan kualitas diri, menambah wawasan, cara pandang, pengalaman serta melatih kemandirian. Pilihan yang umumnya diambil oleh kaum muda adalah untuk menuntut ilmu, dimana ada banyak hal-hal yang berbeda dan tidak bisa didapat hanya dengan mencari di satu negara saja. Tinggal di negeri asing, tentunya memicu kerinduan akan tanah air. Hal ini menjadi salah satu poin penting dalam peningkatan nasionalisme diri dan refleksi untuk memaknai kembali sumpah pemuda. Perjuangan mengisi kemerdekaan dan melanjutkan semangat sumpah pemuda sangat mungkin dilakukan walaupun berada jauh dari Indonesia. Salah satu hal positif yang bisa dilakukan selain kuliah adalah dengan bergabung serta aktif berpartisipasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), khususnya di Prancis. Secara tidak langsung, kita (para pelajar Indonesia di Prancis) menjadi duta Indonesia untuk berbagai macam hal seperti pendidikan, olahraga, politik, kebudayaan dan lain-lain. Secara tidak langsung pula, kita menjadi duta bagi orang Indonesia lainnya yang sedang mencari tahu tentang Prancis dan pendidikan di luar negeri. Namun, tentunya setiap organisasi dan perkuliahan mempunyai jangka waktu dan penyelesaian. Oleh karena itu, bagi yang telah lulus dan selesai menjabat, khususnya yang telah pergi dari Prancis, maka secara otomatis dia menyandang status sebagai alumni Prancis. Mengabdi dan berkontribusi tidak hanya pada saat kuliah ataupun saat bergabung di PPI, namun juga dapat dilakukan setelah lulus dan menjadi alumni. Bagi orang Indonesia, alumni Prancis adalah organisasi tersen diri, untuk mewadahi dan menyatukan alumni-alumni warga negara Indonesia di Prancis yang bernama Ikatan ‘Alumni Prancis Indonesia (IAPI)’. IAPI didirikan pada tanggal 1 Agustus 1995. Organisasi ini dibangun oleh beberapa alumni Prancis yang pada saat itu berkeinginan untuk menjalin silaturahmi dengan seluruh warga Indonesia alumni Prancis dalam bentuk keterikatan batin yang kuat karena latar belakang yang sama yaitu pernah tinggal, hidup, bekerja atau sekolah di Prancis. Organisasi ini telah melaksanakan 4 Kongres dengan agenda utama pemilihan Ketua Umum untuk menjalankan organisasi. Kongres pertama telah menyepakati Bapak Haryanto Dhanutirto sebagai Ketua Umum. Kongres kedua dilaksanakan pada tahun 2004 yang telah menyepakati Bapak J.B. Kristiadi sebagai Ketua Umum. Kongres ketiga dilaksanakan pada tahun 2007, dengan Ketua Umum Bapak Muh. Nuh, serta kongres keempat pada tahun 2010 yang kembali mengangkat beliau menjadi ketua umum. Kongres terakhir, yang merupakan kongres ke-5, dilakukan pada tanggal 18

Oktober 2014 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, atas dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Prancis di Indonesia, Institut Français Indonesia (IFI), dan pihak-pihak pendukung lainnya. Kegiatan ini melibatkan alumni Prancis di Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dan negara untuk mengikuti proses laporan pertanggungjawaban pengurus periode berjalan sekaligus pemilihan ketua umum IAPI periode berikutnya, serta akan disiarkan secara langsung melalui streaming. Ketua umum periode 2014-2017 adalah Ibu Poppy Dharsono, yang secara aklamasi terpilih dalam acara kongres ini. Angkatan muda alumni Prancis, yaitu semua yang baru saja menyandang status alumni, mempunyai peranan yang cukup signifikan untuk perkembangan dan peningkatan kegiatan-kegiatan IAPI. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai informasi, jaringan serta pengalaman yang paling update serta ide segar dan semangat yang masih tinggi sebagaimana umumnya kaum muda. Hal yang menarik dalam organisasi alumni adalah sangat bervariasinya angkatan serta umur anggota didalamnya, dimana kombinasi ide dan semangat baru angkatan muda serta pengalaman, ilmu serta networking kaum senior yang lebih luas dan dalam saling mengisi dan melengkapi, baik individu-individu anggota IAPI maupun dalam konsep dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi. Kegiatan yang umumnya dilakukan alumni berhubungan dengan intelektualitas yaitu diskusi, penyebaran informasi pendidikan kepada pelajar dan pekerja muda, pemberian bantuan materi, tenaga maupun pikiran dalam bidang sosial, serta menyatukan, merekatkan dan mengenalkan alumni-alumni Prancis yang baru di Indonesia dan juga yang tersebar di penjuru dunia baik melalui acara-acara silaturahmi maupun melalui bantuan media daring (online).

IAPI DIDIRIKAN PADA TANGGAL 1 AGUSTUS 1995. ORGANISASI INI DIBANGUN OLEH BEBERAPA ALUMNI PRANCIS YANG PADA SAAT ITU BERKEINGINAN UNTUK MENJALIN SILATURAHMI DENGAN SELURUH WARGA INDONESIA ALUMNI PRANCIS

15


“ILES DES RÊVES” : MELINTASI PULAU-PULAU IMPIAN

Minggu, 28 September 2014, di salle de spectacle CCVA Villeurbanne, warga Lyon terkesima oleh alunan musik kolintang yang mengiringi berbagai tarian tradisional Indonesia. Sore itu, para penonton, baik para pelajar Indonesia maupun warga Perancis, diajak untuk berkunjung ke pulau-pulau impian, melintasi nusantara, melalui pementasan “Iles des Rêves”. “Iles des Rêves” merupakan pentas kebudayaan yang diselenggarakan PPI Lyon bekerja sama dengan Yayasan Bina Kreativetas Anak Bangsa. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara misi kebudayaan yang bertajuk “Cultural Journey to Indonesian Islands”. Yayasan Bina Lyon merupakan kota kelima yang disambangi setelah Delft, Eindhoven, Paris, dan Nancy. Sebelumnya, pada 19 April 2014, PPI Lyon telah mengadakan acara tahunan Soirée Culturelle Indonésienne, dengan sajian utama teater historikal Indonesia. Namun, acara kali ini mengusung konsep yang agak berbeda. Tidak hanya mengenalkan Indonesia, melalui acara “Iles des Rêves”, PPI Lyon mengajak warga Perancis untuk menjelajahi aneka keragaman budaya Indonesia, bersama-sama dengan warga Indonesia yang tinggal di Lyon.

16

Acara dibuka dengan Tari Rancak Bana yang merupakan kombinasi antara tarian Minangkabau dengan seni pencak silat. Grup musik kolintang Kawanua mencuri perhatian dengan memadukan lagu tradisional dengan lagu barat Can’t Take My Eyes Off of You. Sambutan meriah pun kian terasa ketika para penonton memberikan standing applause ketika grup musik HiVi, yang digawangi empat pemuda Indonesia, membawakan lagu legendaris La Vie en Rose dengan harmonisasi yang sangat apik dengan musik kolintang. Suguhan utama di acara ini adalah tarian tradisional dari Sanggar Ananda Kawula Muda yang dibina oleh Aditya Gumay, grup musik Kolintang Kawanua, serta grup akustik HiVi. Rangkaian pertunjukan dikemas dengan dinamis dan apik, dengan memadukan kolaborasi antara ketiga grup dan juga penampilan setiap grup secara terpisah.

TEXT by AULIA NASTITI + PHOTOS by M. DIMAS HADIPUTRA

Berbagai seni kebudayaan yang disajikan antara lain Tari Genjring Nusantara yang diiringi kolintang, Tari Gong Enggang dari Kalimantan Timur diiringi kolintang dan lagi Cik-cik Periuk yang dibawakan HiVi. Lagu tradisional dari Sabang hingga Merauke pun juga ditampilkan lewat paduan apik HiVi dengan kolintang yang membawakan lagu Sik-sik Sibatumanikam, Sajojo, Ayo Mama, dan Hujan Gerimis Aje. Tak lupa, sebagai grup music anak muda, HiVi juga tampil membawakan lagu mereka untuk memperkenalkan musik akustik kontemporer yang digandrungi anak muda Indonesia. Di penutup pagelaran, seluruh penampil berkolaborasi membawakan lagu dan tarian “Inilah Indonesia”, yang memadukan parade baju adat, tarian tradisional, serta lagu kreasi untuk menunjukkan betapa beragam dan berwarnanya budaya Indonesia. Gong acara yang meriah berhasil mengundang decak kagum penonton. Camille, salah satu pengunjung yang datang, mengungkapkan kekagumannya akan budaya Indonesia. “C’est très super, le spectacle! J’aime bien la festivité de la culture Indonésienne, surtout les danses et les tenues traditionnels, ce sont magnifiques“, katanya sambil menambahkan bahwa ia sangat ingin berkunjung ke Indonesia. Bapak Ashariyadi, wakil Dubes RI yang datang sebagai tamu undangan, juga menyampaikan penghargaannya, khususnya pada PPI Lyon. “Luar biasa sekali komitmen PPI Lyon untuk mengenalkan budaya Indonesia ya, karena kegiatan budaya Indonesia di sini terasa paling hidup dibanding kota-kota lain“. Rasanya penilaian Bapak Hari tak berlebihan mengingat dari tahun ke tahun, PPI Lyon telah aktif dan rutin menyelenggarakan acara kebudayaan Indonesia, dan juga turut berpartisipasi di acara resmi kota Lyon untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Bagi PPI Lyon, adalah sebuah kebanggaan untuk membawa sebanyak-banyaknya warga Lyon berkunjung ke pulau-pulai impian, menjelejahi keragaman budaya nusantara.


“C’EST TRÈS SUPER, LE SPECTACLE! J’AIME BIEN LA FESTIVITÉ DE LA CULTURE INDONÉSIENNE, SURTOUT LES DANSES ET LES TENUES TRADITIONNELS, CE SONT MAGNIFIQUES“ - CAMILLE


SCIENTIFIQUES

MODAL UTAMA KEPALA DAERAH MEMIMPIN KOTA-KOTA DI INDONESIA : Sebuah refleksi pasca putusan pengesahan Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah

Akhir-akhir ini, masyarakat disuguhkan teatrikal politik yang dilakukan oleh para politisisenayan mengenai keputusan pengesahan Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah (pilkada). Berbagai reaksi pun muncul sebagai respon dari keputusan rapat paripurna DPR-RI yang pada akhirnyamemilih opsi pilkada secara tidak langsung. Disatu sisi, ada kalangan masyarakat yang menganggap keputusan ini sebagai bentuk kemunduran demokrasi karena secara eksplisit akan merampas hak politik masyarakat. Sedangkan di sisi lain, ada yang berpikir bahwa justru pilkada tidak langsung akan menghemat biaya penyelenggaraan pemilu, mengurangi politk uang yangmasif terjadi dan mencegah munculnya kon flik horisontal di masyarakat. Terlepas dari kontestasi politik dalam menentukan mekanisme pemilihan kepala daerah, ada beberapa hal penting lainnya yang mungkin luput dari pengamatan akhir-akhir ini. Terutama mengenai hal-hal yang lebih prinsip dalam memilih sosok kepala daerah itu sendiri. Setidaknya ketika keputusan para elit politik berujung pada pilihan pilkada langsung atautidak langsung, masyarakat tetap perlu tahu sosok kepala daerah yang seperti apa yang sebenarnya layak memimpin daerahnya, apakah benar hanya cukup bermodalkan tingkat elektabilitas yang tinggi saja? Padahal nyatanya “kota-kota besar� di Indonesia saat ini sedang dirundung berbagai masalah kronis akibatdampak arus urbanisasi yang semakin cepat seperti merebaknya permukiman kumuh, buruknya pelayanan transportasi publik, tidak tersedianya infrastruktur dasar yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat, pengangguran, pelanggaran terha dap aturan tata ruang, dan lain sebagainya.

18

Secara umum, masyarakat selama ini cenderung memilih kepala daerah terutama Walikota atau Bupati berdasarkan penilaian dari sisi personal. Memang tidak ada yang salah karena seorang pemimpin wajib memiliki modal kepemimpinan, kapabilitas, integritas serta rekam jejak yang sudah teruji. Tapi ada hal lain yang tidak kalah penting bahwa seorang kepala daerah juga harus memiliki pengetahuan manajemen pembangunan kota yang baik. Kemampuan ini mutlak diperlukan karena mereka akan membuat berbagai arahan dan kebijakan pembangunan yang harus sejalan dengan konsep pembangunan kota berkelanjutan. Pembangunan yang berprinsip memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang dengan memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya secara simultan dan komprehensif.

TEXT by FRENDIKA SEPTANAYA

Beberapa waktu terakhir, World Bank merilis laporan yang berjudul Planning, connecting & financing, priorities for city leaders (2013). Laporan ini sangat menarik karena membahas tentang tiga dimensi penting yang harus dimiliki oleh kepala daerah. Ketiga dimensi itu meliputi perencanaan (planning), keterhubungan (connecting) dan pembiayaan (financing). Hubungan antar dimensi ini harus saling terintegrasi dan berurutan. Walaupun terkadang banyak sekali contoh kebijakan yang sia-sia karena menempatkan pembiayaan pembangunan (financing) sebagai fokus utama sedangkan perencanaannya masih belum benar-benar matang. Salah satu contohnya terjadi di Kota Beihai yang merupakan daerah otonom Guaxi Zhuang (Cina). Telah dibangun lebih dari seratus hunian perumahan mewah namun tidak laku terjual karena lokasinya yang terlalu jauh dari pusat kota. Padahal di sana juga tersediaberbagai fasilitas pendukung seperti pusat perkantoran, perbelanjaan, ruang terbuka hijau dan jalan raya yang terpadu. Alhasil sekarang wilayah itu sama sekali tidak berpenghuni dan warga sekitar menyebutnya sebagai kota mati.

Gambar 1. Proyek di Kota Beihai (Cina) yang tak berpenghuni http://goo.gl/PcwyCE

Dalam konteks perencanaan, kepala daerah harus mampu membuat dan mengimplementasikan kebijakan perencanaan kota yang ideal. Terutama dalam hal pengelolaan spasial kota atau yang berkaitan dengan tata guna lahan. Dengan mempertimbangkan kondisi demografi dan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang, kota-kota besar di Indonesia harus memiliki struktur ruang yang lebih kompak (compact city). Hal ini berarti pembangunan kegiatan-kegiatan yang baru seperti perumahan, perkantoran, pusat perbelanjaan dan infrastruktur yang di dalamnya mencakup transportasi publik harus terintegrasi satu dengan yang lainnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat melakukan pergerakan (daily commuting) lebih cepat dan murah, mengurangi konsumsi energi serta mencegah adanya pemekaran ruang kota (urban sprawl). Sebagai contoh proyek La Courrouze di Kota Rennes (Prancis). Di sana pembangunan dilakukan dengan pemanfaatan lahan yang mix-used (permukiman, perkantoran, pusat perbelanjaan berada saling berdekatan), transportasi publik yang terintegrasi dan ruang terbuka hijau yang sangat besar.

Gambar 2. Konsep compact city di proyek La Courrouze – Rennes (Prancis). http://goo.gl/WzTzrX


Kepala daerah juga harus mampu menentukan pemanfaatan lahan yang tepat untuk daerahnya. Dari aspek ekonomi, lahan yang akan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan harus menjamin tersedianya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong sektor basis / potensi lokal (sumber daya alam, manusia, maupun buatan) yang dimiliki untuk menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang besar. Tetapi upaya ini harus tetap memperhatikan faktor keseimbangan lingkungan terutama terkait daya tampung dan daya dukung lahan(kapasitas asimilasi ruang). Sedangkan dari aspek sosial, setiap kegiatan pembangunan harus bersifat inklusif dimana manfaat pembangunan harus diterima oleh semua golongan. Seperti halnya penyediaan infrastruktur dasar yang harus didistribusikan secara merata keseluruh lapisan masyarakat. Adapun strategi yang dapat diterapkan untuk menjamin pemerataan pelayanan infrastruktur dasar, misalnya menggunakanskema pelibatan swasta (harness market force), regulasi harga (regulate prices) dan subsidi pembayaran bagi mereka yang tidak mampu (establish subsidies). Selain menentukan jenis kegiatan (pola ruang) yang tepat di atas lahan yang semakin terbatas, seorang kepala daerah juga dituntut terampil melihat peluang-peluang untuk memanfaatkan ruang-ruang yang tidak produktif. Tentu ruang yang dimaksud bukanlah ruang yang masuk dalam kawasan lindung akan tetapi berbagai kawasan terbangun di kota yang tidak memberi banyak manfaat. Dengan modal kreativitas dan kejelian menangkap peluang, seorang kepala daerah harus mampu merevitalisasi kawasan tersebut sehingga dapat menarik banyak investasi baru. Selain itu, kepala daerah juga harus mampu memastikan bahwa implementasi rencana tidak akan terhambat permasalahan pembebasan lahan. Baik yang disebabkan karena harga lahan yang terlampau tinggi, sengketa lahan atau surat-surat kepemilikan tanah yang tidak jelas. Terkait hambatan yang disebabkan oleh tingginya harga lahan, pemerintah daerah dapat mencontoh keberhasilan pemerintah Korea Selatan yang membuat badan penilai lahan. Badan ini memiliki fungsi untuk menentukan sekaligus mengontrol kenaikan harga lahan. Sekarang pembangunan kota-kota di Korea Selatan jauh lebih kondusif karena semua proyek pembangunan dapat dieksekusi dengan cepat (sesuai target pelaksanaan) dan dengan biaya yang relatif lebih rendah. Dalam konteks keterhubungan (connecting), seorang kepala daerah harus memiliki dua kemampuan yaitu membangun keterhubungan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal mereka harus mampu menciptakan sinergitas fungsi ruang yang baikdi dalam kotanya. Sedangkan secara eksternal merekajuga harus mampu menjalin kerjasama yang erat dengan kota/ kabupaten di sekitarnya sehingga terwujud keuntungan bersama (mutual benefit) antar wilayah. Kekuatan eksternal memang cukup dibutuhkan karena dalam konstelasi pembangunan wilayah, setiap kota/ kabupaten harus mampu menjalankan peran dan fungsinya masing-masing dengan optimal. Dengan menyatukan potensi yang ada maka tidak mustahil akan muncul sebuah aglomerasi ekonomi perkotaan yang kuat.

Tapi perlu diingat bahwa harapan ini bisa terwujud asalkan ada komitmen antar kepala daerah untuk meningkatkan konektivitasinfrastruktur wilayah seperti jalan raya, sarana transportasi (contoh : kereta api), pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya. Dimensi terakhir setelah perencanaan dan keterhubungan adalah pembiayaan (financing). Dimensi ini sangat penting karena seorang kepala daerah tentu membutuhkan pendanaan yang besar untuk mengimplementasikan seluruh kebijakan pembangunan kota. Mengingat pemerintah daerah tidak mungkin hanya mengandalkan pembiayaan dari sumber penerimaan daerah (APBD) saja. Oleh sebab itu, kepala daerah harus memiliki inovasi untuk menarik investasi swasta yang sebesar-besarnya. Dengan catatan bahwa investasi ini tetap harus mempertimbangkan klasifikasi jenis barang, apakah termasuk public, private, toll atau common goodskarena tidak semua kegiatan pembangunan bisa dibiayai oleh sektor swasta. Ada banyak skema yang bisa dipakai dalam upaya pelibatan swasta misalnya dengan public private partnership, built operate transfer (BOT), joint venture, obligasi dan lain sebagainya. Semua pilihan ini bisa dijalankan dengan baik asalkan ada jaminan kerjasama yang transparan,aturan main yang jelas (kepastian hukum) dan garansi keberlangsungan pembangunan. Dengan demikian, apapun mekanisme yang terpilih dan digunakan dalam penyelenggaraan pemilukepala daerah, baik langsung atau tidak langsung, masyarakat atau anggota legislatif harus benar-benar siap memilih sosok pemimpin yang tepat. Mereka harus senantiasa memberi ruang yang besar bagi setiap individu yang memiliki kemampuan manajemen kota yang baik. Kemampuan yang mutlak diperlukan mengingat seorang pemimpin tidak akan mungkin hanya berpangku tangan dan mengandalkan kualitas sumber daya aparatur yang rendah untuk membuat sebuah kebijakan yang tepat. Tidak hanya itu, harapannya ada sebuah perubahan kultur diantara mayoritas pemilih agar tidak lagi menempatkan unsur-unsur primordialisme (suku, ras dan agama) sebagai satu-satunya pertimbangan utama. Demi terwujudnya tatanan kota yang lebih baik dan sekaligus tatanan demokrasi yang lebih berkualitas. REFERENSI Buku dan Jurnal Ilmiah 1.The World Bank. (2013). Planning, connecting & financing, priorities for city leaders. Washington,DC : World Bank 2.Yunus, Hadi, Sabari. (2006). Manajemen Kota : Perspektif Spasial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 3.Hofstad, Hege. (2012). Compact city development : High ideals and emerging practices. European Journal of spatial development. Media Elektronik 1.http://metropole.rennes.fr/politiquespubliques/grands-projets/ la-courrouze/ 2.http://www.tempointeraktif.com/galeri/play.php?id=16058 3.http://log.viva.co.id/news/read/498856-melihat-perumahan-elit-jadi--kota-mati--di-china

19


Modelisasi Diskrit: Dinding Penahan Tanah dengan Batu Kering Geomaterial: Dari kontinum ke diskrit Bumi yang kita pijak, pondasi rumah yang kita huni, hingga sebagian besar gedung perkantoran yang megah di kota-kota besar dunia merupakan geomaterial. Menurut para ahli, material yang diklasifikasikan sebagai geomaterial antara lain: tanah, beton, batu. Karena begitu pentingnya peran geomaterial dalam kehidupan sehari-hari, maka tidaklah mengherankan ada begitu besar keingintahuan tentangnya. Jika kita lihat sejarahnya, proses memahami perilaku geomaterial ini sangat panjang. Dimulai sejak abad 17 ketika Hooke menemukan perilaku elastis material (hubungan linear antara gaya dan perpindahan dan berlanjut pada pengembangan konsep mengenai kekakuan (rigidity) dari material elastis oleh Euler pada abad ke 18.Kemudian, sejalan dengan berkembang pesatnya formulasi baku dari hukum kesetimbangan klasik dan konsep mengenai sistem termodinamik pada abad ke 19 (kekekalan energi dan entropi) oleh Thompson, Carnot dan Gibbs, pondasi ilmu mekanika kontinum akhirnya ditegakkan dengan dirumuskannya pertidaksamaan Clausius-Duhem. Pada mekanika kontinum, geomaterial dimodelkan sebagai suatu massa yang kontinu. Ini berarti bahwa tegangan dan deformasinya juga kontinu. Tegangan dan deformasi disini adalah dua entitas yang dapat diparalelkan dengan beban dari luar dan respon material yang bersangkutan. Misalnya bila sebuah bangunan (beban) didirikan diatas sebuah lapisan tanah, para ahli di bidang teknik sipil diharapkan mampu memprediksi respon tanah tersebut saat proses pembangunan sedang berlangsung, sesaat setelah bangunan selesai dibangun bahkan sepuluh tahun setelah bangunan didirikan.

20

Selain tergantung informasi parameter mekanik tanah yang kita miliki, akurasi dari prediksi yang dihitung juga sangat tergantung dari hukum konstitutif yang digunakan dan kriteria runtuh yang digunakan. Bermodalkan pertidaksamaan Clausius-Duhem, kita dapat memperoleh berbagai macam hukum konstitutif. Hukum ini sesungguhnya mengatur relasi dari tegangan dan deformasi dari material seperti yang telah diilustrasikan pada paragraf sebelumnya. Sebagai contoh, pada sebagian besar kasus praktis, tanah seringkali dimodelkan menggunakan hukum konstitutif dari material elastik dengan suatu kriteria runtuh yang nilainya tergantung dua parameter: kohesi dan sudut geser tanah, atau lebih dikenal dengan nama model Mohr-Coulomb.

TEXT by JAMES OETOMO + PHOTO by J.J.O

Modelisasi kontinum ini banyak digunakan pada ber bagai simulasi sistem struktur dengan geomaterial. Namun, ia sulit diaplikasikan untuk beberapa tipe struktur tertentu, misalnya pada struktur candi dimana antar elemen batu penyusunnya tidak direkatkan dengan pozzolan atau agen pengikat lainnya. Pada kasus tersebut, kegagalan struktur dapat terjadi akibat geser atau buka an pada antarmuka antar elemen batu. Di skala yang lebih kecil seperti pada material batu pecah (rockfill) di bendu ngan, kebanyakan model kontinum juga kesulitan untuk memprediksi dengan baik perilaku lokal dari material (contoh: shear banding). Menggunakan metode dinamik-molekuler yang dikenal dengan nama metode elemen diskrit, sejatinya telah dikembangkan sejak akhir tahun 70-an oleh Cundall, namun baru banyak berkembang di medio 90an ketika kapasitas komputer telah cukup mumpuni untuk melakukan kalkulasi yang intensif, material berbutir seperti tanah dapat dimodelkan butir demi butirnya menggunakan metode ini. Meski berpotensi untuk menghasilkan simulasi yang dekat dengan realitas yang ada, selain waktu simulasi yang intensif, metode ini juga memerlukan proses kalibrasi yang panjang dengan metode trial and error karena jumlah variabel mikro dan variabel keadaan (state variable) yang harus ditentukan selalu lebih banyak dibandingkan dengan variabel makro yang diketahui.

Dinding penahan tanah dengan batu kering (drystone) Struktur batu kering merupakan struktur yang dibangun dengan teknik yang telah dikenal sejak jaman neolitik, batu alami atau yang telah dipahat disusun tanpa bantuan perekat tambahan, ditumpuk untuk memperoleh suatu struktur yang dikehendaki. Kata kering disini sesungguhnya mengacu pada “kontak kering� antar elemen struktur (batu) yang tidak direkatkan dengan material intermedier apapun seperti semen ataupun tanah. Proses pembangunannya memerlukan ketrampilan khusus karena stabilitas struktur sangat tergantung dari bagaimana seorang tukang memilih dan menempatkan batu yang tersedia. Tidak sedikit struktur batu kering di dunia yang kini telah menjadi warisan budaya dunia. Contohnya Stonehenge di Inggris, struktur dinding peninggalan budaya Inca di Amerika Latin, hingga struktur candi seperti Candi Borobudur (sebelum dipugar). Salah satu aplikasi dari struktur batu kering yang banyak ditemui di Prancis adalah dinding penahan tanah dengan batu kering (DPTBK). Struktur ini pada umumnya dibuat pada abad ke 19 khususnya pada masa revolusi industri. Pada masa tersebut, jalan-jalan baru antar kota pada teritori Prancis banyak dibuat untuk memenuhi kebutuhan jalur dagang antar kota, imbas dari pertambahan populasi penduduk yang signifikan. Untuk jalan yang memotong lereng, maka diperlukan suatu konstruksi penahan tanah dimana pada masa itu struktur DPTBK merupakan salah satu pilihan utama. Popularitas


struktur ini pudar menjelang akhir akhir abad ke 19, akibat perkembangan material beton dan metalik (contoh: baja) sebagai material konstruksi inovatif pada masa tersebut. Hal ini diperparahdengan urbanisasi akibat mekanisasi lahan pertanian dan perang dunia pertama yang mengakibatkan hilangnya para ahli pembangun DPTBK. Ketertarikan kembali pada struktur DPTBK muncul kembali pada akhir tahun 80-an, akibat kesadaran mengenai konsep pembangunan berkelanjutan. Sebuah studi menyatakan bahwa struktur DPTBK dapat menurunkan penggunaan energi terkandung (embodied energy) hingga 215% lebih rendah dibandingkan dengan material konvensial seperti dinding penahan tanah dari beton. Meski demikian, karena struktur DPTBK bukanlah struktur yang kontinu, maka perilaku struktur ini saat pembebanan relatif belum dipahami sepenuhnya, terlebih belum ada aturan baku (standar) yang mengatur dengan jelas bagaimana dimensi struktur DPTBK harus dihitung. Untuk meneliti mengenai perilaku dari struktur DPTBK, Pemerintah Prancis melalui Kementrian Ekologi dan Kementrian Kebudayaan, membiayai proyek riset yang bernama masing-masing: PEDRA dan RESTOR. Proyek ini merupakan kerjasama antara Ecole Centrale de Lyon (ECL) dan Ecole Nationale des Travaux Publics de l’Etat (ENTPE), yang mana keduanya merupakan bagian dari Laboratoire de Tribologie et Dynamique des Systèmes (LTDS). Dengan berbekal hasil eksperimen DPTBK dengan kondisi batas plane strain yang dilakukan oleh tim dari ENTPE, penulis berkesempatan untuk bekerja dalam proyek tersebut di ECL untuk membuat simulasi struktur DPTBK. Simulasi ini disatu sisi merupakan riset aplikasi yang khusus dilakukan untuk memahami perilaku DPTBK saat dibebani. Di sisi lain, penelitian ini juga bermanfaat untuk menguji kapasitas metode elemen diskrit untuk memodelisasi suatu model 2D yang sepenuhnya diskrit (tanah dan DPTBK seluruhnya dimodelkan dengan elemen diskrit). Untuk setiap simulasi diskrit (lihat gambar), diperlukan waktu simulasi setidaknya 2,5 minggu, tidak termasuk proses kalibrasi parameter. Riset ini berhasil menunjukkan bahwa metode elemen diskrit memang terbukti dapat digunakan untuk menganalisis perilaku struktur DPTBK dengan hasil yang terkomparasi baik antara eksperimen dan simulasi diskrit-kontinum. Keberhasilan modelisasi diskrit dari tanah menunjukkan bahwa teknik ini potensial untuk memahami problem-problem geoteknik lain yang menarik untuk diteliti (contoh: stabilitas lereng). Doctorant: James J. Oetomo (soutenu 23 Septembre 2014) Directeur de thèse: Eric Vincens Co-directeur de these: Jean-Claude Morel Penulis berterimakasih kepada Kedutaan Prancis di Indonesia yang juga telah memberikan sebagian pembiayaan studi melalui Bourse du Gouvernement Français (BGF).

Doctorant: James J. Oetomo (soutenu 23 Septembre 2014) Directeur de thèse: Eric Vincens Co-directeur de these: Jean-Claude Morel Penulis berterimakasih kepada Kedutaan Prancis di Indonesia yang juga telah memberikan sebagian pembiayaan studi melalui Bourse du Gouvernement Français (BGF).


PPI PERANCIS DAN PERAN PEMUDA DALAM HUBUNGAN ANTAR-BANGSA

22

Jika hari ini Indonesia mengambil foto ‘selfie’ dan membandingkan hasilnya dengan potret tahun 1928 silam, saat kakak-kakak pendiri bangsa menegaskan Sumpah Pemuda, tampaklah sebuah negara besar yang patut dibanggakan. Tercatat, Indonesia telah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi ke-10 dunia (ICP - World Bank, 2014), dengan masyarakat paling bahagia di dunia (The Economist, 2011), serta jumlah penduduk muda yang setara dengan sebagian dari total penduduk muda benua Eropa (Population Reference Bureau, 2013). Bahkan, diperkirakan pada tahun 2030 jumlah pemuda Indonesia akan terus meningkat mencapai 68% dari total penduduk nasional secara keseluruhan. Dalam bingkai globalisasi, pemuda Indonesia bersyukur memiliki aset multikulturalisme berkat keterampilan multilingual yang diasah sejak dini, melalui kewajiban belajar bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Inggris, bahasa asing selain bahasa Inggris dan juga alfabet bahasa Arab bagi pemeluk agama Islam. Aset multikulturalisme sangatlah penting ketika dewasa ini hubungan antar bangsa sudah tidak lagi menjadi monopoli pemerintah. Sebagai wadah pemuda Indonesia yang merantau di Perancis, setidaknya ada tiga peran yang bisa dimainkan oleh PPI Perancis, yaitu memotori hubungan Indonesia-Perancis, mewakili pelajar Indonesia di UNESCO dan menjembatani masyarakat ASEAN dengan Uni Eropa.

TEXT by MEXIND SUKO UTOMO + PHOTOS by M.S.U

Pertama, pada tingkat bilateral Indonesia-Perancis, usai menjalin hubungan selama lebih dari setengah abad, kedua negara akhirnya sepakat untuk membawa hubungan ke tingkat lebih lanjut dengan disahkan nya Kemitraan Strategis Bilateral pada tahun 2011 yang menaruh perhatian penting pada masyarakat. Dua tahun kemudian, tercatat jumlah warga Indonesia di Pe rancis mencapai 2.314 orang (Quai d’Orsay, 2013), sekitar 30% diantaranya berstatus pelajar. Jelas, PPI Perancis berperan besar dalam mendorong hubungan antar masyarakat (People-to-People, P2P) guna melengkapi hubungan antar pemerintah (Government-to-Government, G2G) dan antar pelaku usaha (Business-to-Business, B2B). Lebih dari sekedar wadah silaturahmi, PPI Perancis merupakan wadah masa intelektual Indonesia di Perancis yang tak hanya mahir berbahasa Perancis (parler en français), tapi juga cakap berfikir dalam bahasa Perancis (penser en français) dan dengan gaya Perancis (penser à la française). Melalui keberadaan 21 PPI Wilayah di seluruh Perancis, kita perlu lebih memaksimalkan promosi Indonesia di masyarakat akar rumput. Sebagai contoh, selain menyelenggarakan malam kebudayaan Indonesia (Soirée culturelle indonésienne) di berbagai kota, kita juga bisa menyelenggarakan sebuah hari Indonesia (Journée indonésienne) dan menyiasati diadakannya sebuah tahun Indonesia di Perancis (Année indonésienne en France) – memetik pengalaman dari “Année vietnamienne en France, 2014”. Meski tak sedikit jumlah warga Perancis di Indonesia, namun masih banyak orang setempat yang tak menyadari bahwa Bali hanyalah satu dari 17.534 pulau Nusantara, bahwa jarak antara Sabang dan Merauke lebih jauh daripada jarak antara ibu kota Irlandia dan Iran, bahwa menelusuri panjang garis pantai Indonesia sama halnya melakukan perjalanan dari Paris ke New York pulang-pergi sebanyak delapan kali. Kedua, melampaui tingkat bilateral Indonesia-Perancis, pada tingkat dunia, PPI Perancis juga bisa memberikan kontribusi nyata kepada Indonesia melalui UNESCO. Mari kita lihat sejarahnya. Pada tahun 1945, UNESCO didirikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, membangun pemahaman lintas budaya, memajukan kerjasama ilmiah dan melindungi kebebasan berekspresi di dunia. Pada tahun 1958, PPI Perancis didirikan untuk mewadahi kegiatan pelajar Indonesia di Perancis dalam bidang akademik, sosial dan budaya. Keduanya didirikan di kota yang sama, dengan bidang kegiatan yang sama-sama berkaitan, tetapi setengah abad telah berlalu, hingga kini keduanya masih belum menjalin hubungan. Sudah saatnya PPI Perancis melakukan pendekatan. Dengan keberadaan markas UNESCO di Paris, PPI Perancis bisa melakukan konsultasi reguler untuk menyalurkan aspirasi pemuda Indonesia di UNESCO, dan sebaliknya meningkatkan diseminasi ber bagai kesempatan magang, lowongan pekerjaan serta tawaran penelitian dari UNESCO yang terbuka untuk pemuda Indonesia di tanah air maupun di perantauan mancanegara. Sebagai langkah awal, PPI Perancis bisa mendaftarkan diri di NGO-UNESCO liason committee yang dibentuk pada tahun 2012. Baru saja akhir bulan


dengan hadirnya perwakilan dari seluruh negara anggota ASEAN yang terhimpun dalam ASEAN Committee in Paris (ACP). Terlebih, Perancis merupakan negara tujuan utama mahasiswa Erasmus. Artinya, di sini lah kita bisa berinteraksi dengan perkumpulan terbesar pemuda lintas Eropa. Di satu sisi, kita bisa mengembangkan kerjasama antar pemuda dalam mendukung peningkatan hubungan ASEAN dan Uni Eropa pada tingkat P2P, yang kemudian akan berdampak pada tingkat G2G maupun B2B. Di sisi lain, kita juga bisa memetik pelajaran dari pergerakan pemuda di Uni Eropa dan kemudian melakukan transfer pengalaman untuk pergerakan pemuda di ASEAN.

Bersama Wakil Presiden Republik Indonesia ke-11 Bapak Boediono beserta Menteri Luar Negeri Kabinet Indonesia Bersatu II Bapak Marty Natalegawa dalam ASEAN Leaders’ Meeting with Youth Representative 2012 di Phnom Penh, Kamboja.

September yang lalu, komite ini mengadakan forum tahunan ke-tiga dengan mengusung tema “The role of youth in the safeguarding of tangible and intangible cultural heritage”. Tentu, eksistensi PPI Perancis di UNESCO akan menjadi nilai tambah bagi pemerintah, yang selama ini diwakili oleh KNIU (Komnas Indonesia untuk UNESCO) dan KWRI UNESCO (Kantor Wakil RI untuk UNESCO). Ketiga, sama pentingnya dengan UNESCO, ASEAN juga perlu mendapat perhatian PPI Perancis. Dalam hitungan bulan, wilayah Asia Tenggara akan segera ‘move on’, bertransformasi menjadi Komunitas ASEAN 2015 berlandaskan pilar Politik-Keamanan, Ekonomi dan Sosial-Budaya, serta berpusat dan berorientasi pada masyarakat. Jika dahulu ASEAN terkesan elit, hanya muncul ketika ada foto bersama para Presiden dan Perdana Menteri, kini masyarakat diharapkan bisa menjadi pendorong kemajuan ASEAN, tak terkecuali para masyarakat berusia muda. Komitmen ini sangat jelas ketika KTT ASEAN ke-20 meminta pemuda untuk mengambil peran dalam meningkatkan hubungan ASEAN dengan segenap mitra asing, diantaranya Uni Eropa. Seyogya nya, PPI Perancis melanjutkan inisiatif pembentukan Ikatan Pelajar ASEAN di Perancis yang akan menjadi wadah pelajar ASEAN pertama di Eropa. Selain untuk mempromosikan ASEAN ke masyarakat akar rumput di Perancis, ikatan ini juga akan bermanfaat untuk menggalang solidaritas pemuda ASEAN di Perancis, bertukar informasi mengenai berbagai perkembangan ASEAN, dan tentu memperluas ‘networking’ untuk keperluan kerja saat kita kembali ke negara asal masing-masing. Secara geografis, kita diuntungkan. Di Perancis, kita terbantu

Pada akhirnya, momentum perayaan Sumpah Pemuda perlu kita jadikan ajang evaluasi dan proyeksi peran PPI Perancis dalam melanjutkan perjuangan kakak-kakak pendiri bangsa. Mari kita maksimalkan potensi PPI Pe rancis sebagai ujung tombak ‘soft power’ Indonesia. Mari kita menyesuaikan posisi PPI Perancis dengan tuntutan zaman, memastikan foto ‘selfie’ PPI Perancis di abad ke-21 berbeda dengan potret PPI Perancis di abad ke-20. Sebagai negara besar, Indonesia membutuhkan pemuda berjiwa besar. Siapa lagi kalau bukan kita?


PERSATUAN DALAM PERBEDAAN

24

TEXT by ICHA AYU + PHOTO http://goo.gl/SR1yUD


... BERI AKU 10 PEMUDA NISCAYA AKAN KU GUNCANGKAN DUNIA” BUNG KARNO

Setiap memasuki akhir bulan Oktober, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan peringatan sumpah pemuda. Bahkan, saya percaya apabila kita harus kembali membacakan hapalan isi sumpah pemuda tentunya banyak di antara kita yang masih mengingat dengan jelas keseluruhan isi dari hasil kongres pemuda II yang di adakan di Batavia pada tanggal 28 Oktober 1928. Kongres yang dipercaya menjadi awal dari pergerakan untuk menyatukan berbagai etnis yang ada di negara yang bahkan belum terbentuk. Para pemuda terbaik bangsa yang berkumpul di kongres tersebut yakin bahwa persatuan akan bisa membawa mereka membentuk suatu bangsa yang merdeka. Butuh waktu tidak kurang dari tujuh belas tahun sebelum akhirnya mereka bisa dengan bangga memproklamasikan kemerdekaan suatu bangsa yang sudah mereka impikan sejak lama, Bangsa Indonesia. Kita semua yang saat ini sedang menuntut ilmu di negara heksagon ini pasti pernah mengalami betapa terkesimanya orang-orang Prancis yang tidak begitu mengenal Indonesia begitu mendengar penjelasan kita yang menggebu-gebu dan penuh kebanggaan tentang betapa besar dan beragamnya negara tempat kita berasal. Kita pasti akan dengan segera menjelaskan kepada mereka bahwa negara kita tidak hanya negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, tetapi kita juga merupakan negara dengan ratusan dialek yang akhirnya bisa bersatu dan berkomunikasi dengan satu bahasa, bahasa Indonesia. Bahasa yang menjadi salah satu alat pemersatu dari keberagaman.

Konsep bhineka tunggal ika tentu sudah sangat kita kenal karena sudah ditanamkan di kepala kita sejak masih berada di sekolah dasar. Unity in diversity, sebuah konsep yang tampaknya mustahil dan telalu indah untuk bisa menjadi nyata tapi buktinya berhasil kita percayai ada di negara kita, Republik Indonesia. Padahal, saya sendiri baru menyadari betapa megah dan membanggakannya negara saya saat sudah berada jauh. Saya yakin, kita yang berada jauh dari tempat yang selalu kita sebut “rumah” selalu berbangga hati dengan keindahan dan keberagaman Indonesia yang terdiri dari bermacam suku dan budaya. People are just so different one and another which make them fascinating. Begitu juga Indonesia, negara besar yang bisa bersatu dalam perbedaan. Namun nyatanya ketika saya mengobrol dengan orang-orang Prancis yang pernah mengunjungi Indonesia mereka justru kaget dengan kebanggaan kita dengan perbedaan tersebut. “Kenapa walaupun mereka selalu berbangga bilang bahwa mereka adalah orang Indonesia tetapi masih ada selipan embel-embel etnis dibaliknya?” “Kenapa mereka tidak seperti orang Prancis yang sudah (sebagian besar) tidak lagi peduli apabila mereka adalah keturunan Polandia, Italia, atau Spanyol?” “Kenapa teman kamu si A selalu kamu bilang dia chinois-indonésien dan bukan hanya bilang bahwa dia indonésien?” “Bisakah kalian, bangsa Indonesia benar-benar bersatu saat masih selalu bilang bahwa kalian berbeda? Bahwa kamu adakah sundanaise dan bukan javanaise padahal kalian semua adalah indonésiens?”

Berkesempatan menuntut ilmu di negara yang menjadi impian banyak orang, tentu saja harus dibayar dengan tanggung jawab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis tentang negara kita. Ini merupakan konsekuensi besar karena kita, sebagai pelajar Indonesia, secara tidak langsung menjadi “duta” dari negara yang (sayangnya) belum banyak orang kenal di sini. Tanggung jawab yang harus dibayar dengan belajar tentang banyak hal baru yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.Sanggupkah kita menjawab tantangan Bung Karno puluhan tahun yang lalu untung mengguncangkan dunia (setidaknya Prancis)? Tentu saja semua orang tidak bisa menjawab tantangan itu sendirian, karena dengan kebersamaanlah maka kita bisa bergerak, seperti hal nya motto PPI, on est une famille, ensemble on bouge.

25


FAIT DIVERS

is translated by assister (see above): I attended the conference - J’ai assisté à la conférence. Avertissement vs Advertisement Un avertissement is a warning or caution, from the verb avertir - to warn.An advertisement is une publicité, une réclame, or un spot publicitaire.

French English False Cognates - Faux amis

Blesser vs Bless Blesser means to wound, injure, or offend, while to bless means bénir. Bras vs Bras Le bras refers to an arm; bras in English is the plural of bra - un soutien-gorge.

French and English have hundreds of cognates (words which look and/or are pronounced alike in the two languages), including true (similar meanings), false (different meanings), and semi-false (some similar and some different meanings). My alphabetized list of hundreds of false cognates can be a bit unwieldy, so here is an abridged version of the most common false cognates in French and English. Actuellement vs Actually

Caractère refers only to the character or temperament of a person or thing: Cette maison a du caractère - This house has character. Character can mean both nature/temperament as well as a person in a play: Education develops character L’éducation développe le caractère. Romeo is a famous character - Romeo est un personnage célebre.

Actuellement means “at the present time” and should be translated as currently or right now. Je travaille actuellement - I am currently working. A related word is actuel, which means present or current: le problème actuel - the current/present problem.

Cent vs Cent

Actually means “in fact” and should be translated as en fait or à vrai dire. Actually, I don’t know him - En fait, je ne le connais pas. Actual means real or true, and depending on the context can be translated asréel, véritable, positif, or concret: The actual value - la valeur réelle.

Chair vs Chair

Assister vs Assist

26

Caractère vs Character

Assister à nearly always means to attend something: J’ai assisté à la conférence - I attended (went to) the conference. To assist means to help or aid someone or something: I assisted the woman into the building - J’ai aidé la dame à entrer dans l’immeuble. Attendre vs Attend Attendre à means to wait for: Nous avons attendu pendant deux heures - We waited for two hours. To attend

TEXT by LAURA K. LAWLESS + PHOTO http://goo.gl/x54PTV

Cent is the French word for a hundred, while cent in English can be figuratively translated by un sou. Literally, it is one hundredth of a dollar.

La chair means flesh. A chair can refer to une chaise, un fauteuil (armchair), or un siège (seat). Chance vs ChanceLa chance means luck, while chance in English refers to un hasard, une possibilité, or une occasion. To say “I didn’t have a chance to...” see Occasion vs Occasion, below. Christian vs Christian Christian is a masculine French name while Christian in English can be an adjective or a noun: (un) chrétien. Coin vs Coin Le coin refers to a corner in every sense of the English word. It can also be used figuratively to mean from the area: l’épicier du coin - the local grocer, Vous êtes du coin ? - Are you from around here? A coin is a piece of metal used as money - une pièce de monnaie.


Collège vs College Le collège and le lycée both refer to high school: Mon collège a 1 000 élèves - My high school has 1,000 students. College is translated by université: This college’s tuition is very expensive - Les frais de scolarité à cette université sont très élevés. Commander vs Command Commander is a semi-false cognate. It means to make an order (command) as well as to order (request) a meal or goods/services. Une commande is translated by order in English. Command can be translated by commander, ordonner, or exiger. It is also a noun: un ordre or un commandement. Con vs Con Con is a vulgar word that literally refers to female genitalia. It usually means an idiot, or is used as an adjective in the sense of bloody or damned. Con can be a noun la frime, une escroquerie, or a verb - duper, escroquer. Pros and cons - le pour et le contre. Crayon vs Crayon Un crayon is a pencil, while a crayon is as un crayon de couleur. The French language uses this expression for both crayon and colored pencil. Déception vs Deception Une déception is a disappointment or let-down, while a deception is une tromperie or duperie.

Envie vs Envy Avoir envie de means to want or to feel like something: Je n’ai pas envie de travailler - I don’t want to work / I don’t feel like working. The verb envier, however, does mean to envy. Envy means to be jealous or desirous of something belonging to another. The French verb is envier: I envy John’s courage - J’envie le courage à Jean. Éventuellement vs Eventually Éventuellement means possibly, if need be, or even: Vous pouvez éventuellement prendre ma voiture - You can even take my car / You can take my car if need be. Eventually indicates that an action will occur at a later time; it can be translated by finalement, à la longue, or tôt ou tard: I will eventually do it - Je le ferai finalement / tôt ou tard. Expérience vs Experience

Demander means to ask for: Il m’a demandé de chercher son pull - He asked me to look for his sweater. Note that the French noun une demande does correspond to the English noun demand. To demand is usually translated by exiger: He demanded that I look for his sweater - Il a exigé que je cherche son pull.

Expérience is a semi-false cognate, because it means both experience and experiment: J’ai fait une expérience - I did an experiment. J’ai eu une expérience intéressante - I had an interesting experience. Experience can be a noun or verb refering to something that happened. Only the noun translates into expérience: Experience shows that ... - L’expérience démontre que... He experienced some difficulties - Il a rencontré des difficultés.

Déranger vs Derange

Finalement vs Finally

Déranger can mean to derange (the mind), as well as to bother, disturb, or disrupt. Excusez-moi de vous déranger... - I’m sorry for bothering you.... To derange is used only when talking about mental health (usually as an adjective: deranged = dérangé).

Finalement means eventually or in the end, while finally is enfin or en dernier lieu.

Demander vs Demand

Douche vs Douche Une douche is a shower, while douche in English refers to a method of cleaning a body cavity with air or water: lavage interne. Entrée vs Entrée Une entrée is an hors-d’oeuvre or appetizer, while an entrée refers to the main course of a meal: le plat principal.

Football vs Football Le football, or le foot, refers to soccer (in American English). In the US, football = le football américain.

27


Batik en France

28


INDONESIAN BATIK IS A MASTERPIECE OF ORAL AND INTANGIBLE HERITAGE OF HUMANITY - UNESCO

29


POKOKNYA GA MAU MOVE ON DARI MUSIK INDONESIA, GA MAU! Abang: Neng, Neng.. Eneng: Kenapa, Bang? Abang: Kok sendirian aja, Neng? Pacarnya ke mana? Eneng: Di rumah, Bang.. Di Indonesia lagi nungguin Eneng.. Abang: Ah, si Eneng.. Pacaran kok jarak jauh.. Itu pacaran apa tendangan bebas?!

Ahem.. Untuk para jomblowan dan jomblowati se-Indonesia maupun se-Prancis raya, tenang! Tulisan ini bukan mengenai move on, apalagi pacaran jarak jauh. Hal tersebut sudah urusan masing-masing pribadi, selama ga bikin rusuh di pernikahan mantan pacar dan lalu masuk berita. Kali ini Salut! akan membahas hubungan jarak jauh dengan beberapa musisi ciamik asli Indonesia yang.. Uuuuhh.. Bikin ga pengen move on deh, dari perhelatan musik tanah air! Untuk kalian yang biasa nonton acara-acara TV yang disiarkan hampir setiap pagi dimana setiap penonton yang hadir dihargai sekitar puluhan ribu rupiah, mungkin kalian akan mencibir. Cih, apa sih musik Indonesia. Isinya alay. Lagunya norak. Jauh lebih baik mendengarkan alunan aduhai Joyce Jonathan, merayakan kesedihan dengan irama gembira ala Stromae, atau malah joged dangdut bersama Indila. Eitss.. Jangan salah! Coba lihat, dengar, dan rasakan sendiri efek samping dari musisi-musisi Indonesia yang kini beterbangan bebas di dunia awan! Pasang headset, pasang selimut, hirup coklat panas, dan mainkan!

1. PAYUNG TEDUH

30 “Aku menunggu dengan sabar. Di atas sini, melayang-laaayaaang...” – Resah Siapa yang tidak pernah dengar Payung Teduh, siapa! Ngaku! Jika kalian anak muda Indonesia di bawah 26 tahun dan belum pernah mendengarkan alunan gitar,

TEXT by GABRIELLA ALODIA + PHOTOS google.com

petikan bas betot, serta suara empuk Om Is dikala hujan sore-sore. I feel sorry for you, Bro. Bagaimana bisa seseorang tak terbuai akan lantunan “Tidurlah” yang perlahan mengantarkan kita ke alam mimpi? Atau, kapan yah kira-kira, seseorang bisa berkata dalam hati “bulan jadi saksinya, kita berdua di antara kata yang tak terucap” di depan kekasihnya, sembari dag-dig-dug mempersiapkan segala sesuatu untuk “ucapkan janji tak kan berpisah selamanya,” seperti dalam nomor “Berdua Saja.” Payung Teduh, seperti namanya, cocok didengarkan di musim gugur dan musim dingin yang kadang membuat diri tidak produktif. Nikmati alunannya, resapi syairnya, yakini, bahwa hatimu tak kan ke mana-mana. Ahe!

2. BANDA NEIRA

“Dan kawan, bawaku tersesat, ke entah berantah...” – Ke Entah Berantah Pertama kali kedua musisi ini terlintas adalah ketika seorang teman tiba-tiba berkata “please, bawa gue ke entah berantah!” Kala itu kedua sahabat sedang entah di mana satu sama lain, mengenang kala muda, saat waktu main berkualitas jauh lebih mudah didapatkan dibanding masa ini. Banda Neira merupakan duo manis yang terdiri atas petikan gitar, alunan suara maskulin dan feminin, terkadang ditemani dentingan glockenspiel, seperti dalam lagu “Senja di Jakarta.” Ya! Mari sama-sama “maafkan jalan di Jakarta!” Dengarkan juga lantunan Rara Sekar dan Ananda Badudu yang menyayat-nyayat hati seorang mahasiswa rantau dalam t Siapkan hati mendengarnya... “Kini kamarnya teratur rapi. Ribut suaranya tak ada lagi. Tak usah kau cari dia tiap pagi.” :’)


3. GARDIKA GIGIH PRADIPTA Setelah bernyanyi bersama kedua musisi di atas, mari istirahatkan kepala dengan lantunan piano serta aransemen dari musisi mudah berbakat Gardika Gigih Pratama. Pejamkan mata dan rasakan sejenak “Senja di Pelabuhan Kecil #2 – dari Puisi Chairil Anwar,” sembari mengingat seorang yang jauh di sana. Akhirihari yang lelah dalam kungkungan transportasi publik ditemani “Pada Tiap Senja.” Percayalah, Gardika akan membawa kita ke dunianya sementara dan membuat kita berkata “baiklah, kini saya siap menghadapi apa pun juga!”

6. DIALOG DINI HARI

4. TESLA MANAF EFFENDI

“Pagi, jangan pergi. Ku takut malam nanti ku masih sendiri, dan pagiku tak lagi indah.” – Pagi

(gambar: teatrikal yang menemani pertunjukan Tesla Manaf) Berangkat dari petikan gitar, Tesla Manaf berhasil menghipnotis para pendengarnya lewat kolaborasi antara Jazz dan World Music dimulai dari album pertamanya “It’s All Yours.” Bekerja sama dengan Unit Kebudayaan Bali “Mahagotra Ganesha” ITB, Tesla dengan manis menampilkan sebuah kisah yang dirangkum dalam enam kepingan lagu. Menariknya, pada setiap penampilan, ia selalu membawakan kepingan-kepingannya lengkap dengan sebuah adegan teatrikal dan teknik pencahayaan yang melebihi ekspektasi! Penasaran kan? Jadi pengen pulang kan? Pengen nonton kan? Hehe..

5. FRAU “Dalam tawa si mungil, semua yang tak akan menjadi yang akan..” – Tarian SarI Nuansa pentatonis ala gamelan jawa, bercampur dengan nada-nada asli pentatonis dari sebuah piano, ditambah dengan lantunan suara Leilani Hermiasih yang mengalir dan perlahan menghanyutkan. Tantangan: coba dengarkan lagu tersebut secara lengkap, tanpa memikirkan sosok ibu dari ibu kita! Atau bahkan khusus bagi para wanita, membayangkan bagaimana kehidupan berlangsung terhitung kisaran 40-50 tahun dari sekarang. Ngomongin cucu loh ini! Cucu! Atau sekedar menyalahkan diri sendiri, “kenapa gue ga bisa nari, kenapa?!” Dengarkan pula “Mesin Penenun Hujan” dan perang denting dalam “Salahku, Sahabatku.” Selain menyesal karena tidak memiliki bakat menari, mungkin kepala ini akan terasa digetok-getok “kenapa gue dulu ga belajar piano sih, kenapa?!”

Bangun di pagi hari, paling nikmat memang menyeruput secangkir kopi dan sebuah croissant hangat. Sekalinya mendapat momen tersebut, jangan ragu menikmatinya dengan alunan dari Dialog Dini Hari! Grup asal Bali ini akan mengantarkan kita pada hari yang menyenangkan. Coba hirup udara pagi bersama lagu tersebut, dilanjutkan dengan “Oksigen” dan “Satu Cinta.” Kala Pak Presiden terbaru kita baru-baru ini mencanangkan gerakan “Revolusi Mental,”Dialog Dini Hari telah menawarkan “Renovasi Otak” sejak lama! Dialog paling menginspirasi, mungkin memang dialog di dini hari, yang lalu berlanjut pagi.

7. BONUS TRACKS! Bonus Tracks? Band macam apa itu? Bukan.. Kali ini Salut! justru akan menawarkan beberapa track bonus asli Indonesia untuk menemani harimu! Nikmati versi galau dari soundtrack “Susu Murni Nasional” gubahan farhanfarhan. Versi asik dari “Naik Naik Ke Puncak Gunung” dari ganeshamerdu. Serta... Bagi kalian penikmat grup musik Float, rasakan gilanya aransemen ulang dari lagu “Sendiri” gubahan Guruh Soekarno Putra! Bagaimana bagaimana? Sudah didengarkan satu persatu? Bayangkan betapa murah hatinya para musisi jagoan ini. Semuaaa yang dibahas di sini bisa diakses melalui Soundcloud.com! Gimana, masih protes sama kualitas musisi tanah air? Aduh, guys, ke mana aja sih kalian?

31


OPINI/INFORMASI

BAMUS, APA ITU?

32


Merujuk pada AD/ART PPI Prancis, kekuasaan tertinggi PPI Perancis dipegang oleh lembaga legislatif pusat yaitu Badan Musyawarah (BAMUS).

anggota

bamus

nordpas de calais amiens compiègne caen brest quimper

nancy

paris

rennes angers & saumur

alsace loraine

Bada Musyawarah terdiri dari Badan pa wakil PPI regional (1 para or orang per wilayah) yang me memiliki jumlah pelajar minima 5 orang pada periode minimal yang berjalan. Sampai saat ini jumlah anggota Bamus adalah 21 orang.

DIJON besançon

nantes & st. nazaire

poitiers la rochelle limoges*

lyon clermont ferrand*

GRENOBLE

bordeaux & pau montpellier toulouse

marseille

33


tugas daN wewenang

bamus

Sebagai sebuah lembaga, BAMUS tentu mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:

Melantik Ketua PPI Perancis;

Menentukan garis-garis kebijaksanaan bagi pelaksanaan tugas organisasi secara umum;

Menerima pertanggungjawaban Ketua PPI Perancis pada setiap akhir periode kepengurusan;

34

Meminta pertanggungjawaban Ketua PPI Perancis apabila dianggap melanggar Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga.


tanggal

penting

1 - 30 nov

Pendaftaran kandidat Ketua PPI Perancis;

1 - 19 des

Masa kampanye kandidat Ketua PPI Perancis;

20 des

Rapat paripurna BAMUS dan pengangkatan Ketua PPI Perancis 2014 - 2015

35 www.ppifrance.fr bamus 2014 // Š reyner


Jika kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang dapat membuat kita cinta kepada Indonesia? Jawabannya tentu berbeda-beda, mulai dari alamnya yang kaya dan rupawan, keragaman budaya yang tak terhitung jumlahnya, hingga prestasi-prestasi yang pernah diukir oleh anak-anak bangsa dalam berbagai bidang. Ya, begitu banyak alasan untuk mencintai tanah air kita. Di sisi lain, masih banyak pula orang-orang yang apatis dan tidak peduli dengan bangsa ini. Ada yang lelah akan kebobrokan sistem pemerintahannya, bagaimana bidang keilmuannya tidak pernah digubris oleh para pengambil keputusan, serta tentunya berbagai masalah ekonomi yang seakan tak kunjung usai. Belum lagi persoalan moral dan hak asasi yang tak pernah ada kejelasannya. Pertanyaannya, dengan adanya pendapat dari dua sisi ini, masihkah kita berani berkata bahwa kita benar-benar mencintai Indonesia?

36

Ada beberapa cara untuk mencintai Indonesia, yang menurut hemat saya, masih kurang lazim diterapkan, bahkan mungkin dianggap aneh oleh beberapa orang. Cara yang saya angkat di sini adalah mencintai Indonesia dengan berpindah kewarganegaraan dan menetap di negeri orang. Saya cukup yakin, sebagian orang yang mendengar gagasan ini akan mengernyitkan dahi dan berpendapat bahwa hal itu bukanlah merupakan satu gagasan yang brilian. Bagaimana mungkin kita dapat mencintai Indonesia jika raga kita sendiri tidak berada di negeri ini?

Menjadi Warga Tanpa Meninggalk

TEXT by GABRIELLA ALODIA + PHOTO http://goo.gl/uzSJHi


Mari kita kilas balik perjalanan negeri ini. Sejak merdeka di tahun 1945, Indonesia masih berkutat dengan masalah yang itu-itu saja. Kemiskinan, pengangguran, serta korupsi dan kawan-kawannya. Bahkan bencana alam masih dianggap sebuah “musibah” dimana seharusnya warga negara Indonesia menyadari bahwa hal itu merupakan konsekuensi bagi sebuah negara yang terletak di wilayah yang rawan gempa, letusan gunung api, serta “bencana” lain yang sebenarnya merupakan siklus “biasa” dari bumi yang selalu berusaha menyeimbangkan diri. Jika negara ini masih berkutat dengan masalah-masalah tersebut, menurut hemat saya, apa pun yang berhubungan dengan ilmu dan teknologi akan terus menjadi sesuatu yang terlalu “mahal” dan “mewah.” Satu-satunya cara untuk berkembang di tiga bidang tersebut 2adalah dengan terlebih dahulu menjadi orang yang “berpunya” dan kemudian mendirikan sebuah badan penelitian dan pengembangan yang khusus mempekerjakan ahli-ahlinya demi perkembangan dan aplikasi ilmu pengetahuan yang tentunya sesuai dengan kebutuhan negeri ini. Dari solusi di atas, muncul sebuah masalah baru. Badan penelitian dan pengembangan tersebut akan mempekerjakan ahli-ahli dalam bidang tertentu. Jika badan yang diimpikan tersebut tidak juga ada, mau dikemanakan ahli-ahli tersebut? Nah, di sinilah gagasan menjadi WNA (Warga Negara Asing) itu muncul. Terlalu disayangkan jika Indonesia memiliki orangorang pintar di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi namun kepintarannya itu tidak bisa disalurkan akibat tidak adanya dana untuk membiayai berbagai penelitian mereka. Tidak bisa dipungkiri, seperti kondisi yang telah dibahas di atas, Indonesia sendiri masih belum mampu memfasilitasi para ahli untuk mengembangkan bidang keilmuan mereka, Apalagi untuk menerapkan hasil penelitian tersebut menjadi suatu aplikasi keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat karena memang masih ada hal-hal yang lebih esensial dengan kebutuhan dana yang juga besar. Jadi, salah satu cara agar para ahli ini dapat

BAGAIMANA MUNGKIN KITA DAPAT MENCINTAI INDONESIA JIKA RAGA KITA SENDIRI TIDAK BERADA DI NEGERI INI?

tetap mengembangkan keilmuannya adalah, dengan menjadi researcher di negeri orang, yang mungkin menuntutnya untuk menjadi WNA. Mengapa WNA? Karena dengan berpindah menjadi warga negara di wilayah yang bersangkutan, fasilitas yang didapat tentunya lebih banyak dan kesempatan mereka untuk berkarya akan jauh lebih luas dibanding jika mereka tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesianya. Selain itu, menjadi warga negara di wilayah bersangkutan akan mereduksi berbagai perijinan untuk keperluan penelitian dalam berbagai hal yang masih berada dalam lingkup wilayah tersebut, terutama jika ternyata wilayah penelitian itu merupakan wilayah yang tidak memiliki kedutaan Indonesia. Menjadi WNA, bukan berarti kita meninggalkan dan melupakan Indonesia, tapi justru, Indonesia akan semakin dikenal di mata dunia. Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara terpadat di dunia, bersaing dengan Cina, Amerika Serikat, dan India. Ketiga negara tersebut telah “menyebarluaskan” warga negaranya ke seluruh penjuru dunia, mengapa Indonesia tidak? Masalah tidak ingin meninggalkan merah putih, itu kembali ke pribadi masing. Anggun C. Sasmi yang kini merupakan Warga Negara Perancis pun masih lebih dikenal sebagai “Orang Indonesia” daripada sebagai “Orang Perancis.” Jadi, jangan takut menjadi WNA, jika memang tujuannya adalah tetap untuk memajukan dan mengabdi kepada bangsa ini secara tidak langsung. Banyak hal yang dapat dilakukan di luar sana, yang bahkan mungkin membawa solusi baru kepada bangsa yang memiliki berbagai potensi, namun sangat kurang dalam hal manajemen ini. Biarlah kita kehilangan merah putih di atas kertas, tapi tidak dalam hati kita.

Negara Asing kan Merah Putih

37


Salut! 6th Edition  
Advertisement