Issuu on Google+

EDISI 16/ FEBRUARI 2012

BULETIN PPI JEPANG

SD Shiogama; Mengajar dengan Hati

Kanji of the Year: “KIZUNA” Mendampingi Pasangan tanpa menjadi Student

Profil Presidium PPI Jepang 2011-2012 Artikel Hokkaido University, Hirosaki University dan Tohoku University

Manfaat Sensus


DARI REDAKSI

PENGARAH Andi Subhan Mustari Atus Syahbudin Fatwa Ramdani PEMIMPIN REDAKSI Muhammad Rifqi KONTRIBUTOR Fatwa Ramdani Putri Setiani Indah Nurmawati Himawan Sutanto Ibnu Fathrio Ahmad Ridwan Tresna Nugraha Astrid Ayuningtyas Muhammad Haris Mahyuddin Dian Syahfitra Hariyadi Budi Susanto Alimansyar EDITOR Jimmy Hadi Susanto DESAINER Dwi Prananto Muhammad Irka Irfa Darojat Email : [buletin@ppijepang.org]

Assalamualaikum Wr.Wb Salam Sejahtera Rekan-rekan PPI Jepang, Tidak terasa sudah setahun berlalu sejak bencana besar 11 Maret 2011 terjadi. Begitu banyak kesedihan melanda Negeri Sakura ini, baik yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung. Namun berkat ikatan batin yang kuat antara sesama warga Jepang, sedikit demi sedikit bangsa ini bangkit kembali dan pulih seperti sediakala. Ikatan batin itulah yang harus kita teladani sebagai warga Indonesia, negeri dimana istilah "ikatan batin" sudah jarang sekali terlihat di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Buletin Interaksi PPI Jepang edisi kali ini mengangkat tema "ikatan batin", atau "Kizuna", yang menyajikan kisah-kisah seputar ikatan batin yang terjalin antar manusia, seperti artikel SD Shiogama: Mengajar dengan Hati, Kizuna, Kanji of the Year 2011, dan artikel-artikel lainnyayang menarik untuk dibaca. Berlandaskan semangat INTERAKSI (Integrity, Teamwork, Action, Solidarity), kami berharap buletin ini bisa menjadi media untuk saling memperkuat ikatan batin antar warga PPI Jepang, sehingga walaupun kita terpisah oleh jarak, tapi kita bisa senantiasa solid dan berempati satu sama lain. Semoga rasa kepemilikan terhadap PPI Jepang juga bisa bertambah kuat, dan membawa kita pada perbaikan organisasi ini serta mampu memberikan kontribusi nyata kepada negara kita, Indonesia.

Redaksi menerima pertanyaan, saran, dan kritik dari pembaca. Untuk setiap emailyangmasukmohon mencantumkan nama, instansi (sekolah/tempat bekerja) dan kota tempat tinggal.

Seperti kata pepatah, "Tiada gading yang tak retak", kami pun sadar buletin ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian untuk terus meningkatkan kualitas Buletin PPI Jepang ke depannya.

Sumber gambar sampul: http://yun.com/jpeg/yun_3300.jpg

Hormat kami, Tim Redaksi

1


PETA KONTRIBUTOR

PETA Kontributor

- Himawan Sutanto

- Ibnu Fathrio

- Fatwa Ramdani - Putri Setiani - A. R. T. Nugraha - Hariyadi B. Susanto - Alimansyar - Astrid Ayuningtyas

- Indah Nurmawarti

- Dian Syahfitra - M. Haris Mahyuddin

2


Kabar PPI Jepang

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI KABINET KPK PPI JEPANG PEIODE 2011-2012 PROFIL PRESIDIUM PPIJ 2011-2012 MANFAAT SENSUS Fatwa Ramdani

PROGRAM BEASISWA PPIJ-PPIS Putri Setiani

MENDAMPINGI PASANGAN TANPA MENJADI STUDENT ARTIKEL HOKKAIDO UNIVERSITY Himawan Sutanto

ARTIKEL HIROSAKI UNIVERSITY Ibnu Fathrio

ARTIKEL TOHOKU UNIVERSITY Serba-Serbi

Ahmad Ridwan Tresna Nugraha

18 KIPPU Astrid Ayuningtyas

BEKERJA DI PERUSAHAAN JEPANG, SIAPA TAKUT? M. Haris Mahyuddin & Dian Syahfitra

SD SHIOGAMA; MENGAJAR DANGAN HATI Hariyadi Budi Susanto

“KIZUNA”; KANJI OF THE YEAR Alimansyar

KABAR KORDA-KOMSAT

3

Seputar PPI Jepang

Indah Nurmarwati


KABINET PPIJ

PENGURUS P USAT Kabinet Kebersamaan, Promosi dan Kemitraan (KPK) PPI JEPANG PERIODE 2011-2012 Dewan Pembina - Duta besar RI di Tokyo - Konsulat Jenderal RI di Osaka

Dewan Penasehat - Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo (Prof. Dr.Eng. Drs. Edison Munaf, M.Eng.) - Fithra Faisal Hastiadi (Waseda University, Korda Kanto) - Suharman Hamzah (Kyoto University, Korda Kansai)

Dewan Perwakilan Korda (DPK) Presidium - Andi Subhan Mustari (Toyohashi University of Technology, Korda Chubu) - Atus Syahbudin (Ehime University, Korda Shikoku) - Fatwa Ramdani (Tohoku University, Korda Tohoku) Sekretaris Jenderal - Rodiyan Gibran Sentanu (Chiba University, Korda Kanto) . Wakil Sekretaris Jenderal - Fithyani Anwar (Ehime University, Korda Shikoku) Bendahara Umum - Annisa Mahdia Pratiwi (Keio University, Korda Kanto) Wakil Bendahara Umum - Srikandi Novianti (Tokyo Institute of Technology, Korda Kanto) Biro/Departemen/Bidang - Seminar dan Kajian Ilmiah Koordinator: Rudy Yusuf (Kanazawa University, Korda Hokuriku) Anggota : Dedy Eka Priyanto (Kyoto University, Korda Kansai) Bayu Prabowo (Tokyo Institute of Technology, Korda Kanto) - Budaya dan Olahraga Koordinator: Zaenal Mutaqin (Hiroshima University, Korda Chugoku) Anggota : Hendra Pachri (Kyushu University, Korda Kyushu) - Informasi dan Teknologi Diptarama (Tohoku University, Korda Tohoku) Beasiswa dan Pengabdian Koordinator: Ibnu Fathrio (Hirosaki University, Korda Tohoku) Anggota : Himawan Sutanto (Hokkaido University, Korda Hokkaido)

4


KABAR PPI JEPANG

Profil Presidium

PPI JEPANG

ANDI SUBHAN MUSTARI

L

ahir di Bone Sulawesi Selatan, 31 Mei 1976. Menyelesaikan sarjana teknik jurusan sipil di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2000. Selanjutnya di tahun 2010 meraih gelar Master of Engineering di Toyohashi University of Technology (TUT Tech) Jepang untuk bidang Coastal Engineering. Sejak Desember 2010 Andi Subhan Mustari tercatat sebagai mahasiswa S3 di TUT Tech pada bidang yang sama dengan penelitian fokus pada sediment transport dan shoreline changes.

Gamacca-UH

L

Setelah menyelesaikan studinya di tahun 2000, ia bekerja sebagai engineer pada proyek jalan dan jembatan di Papua tahun 2001-2003. Selanjutnya bergabung dengan PT. Pembangunan Perumahan di tahun 2003-2004 sebagai cost estimator

ahir di kota pelajar, Yogyakarta, pada tanggal18 Agustus 1977. Atus, begitulah ia biasa dipanggil, meraih gelar sarjana kehutanan dari Fakultas Kehutanan UGM (2001) dan Master of Agriculture (M.Agr.) dari Fakultas Pertanian, Universitas Ehime (2010). Saat ini iaadalah kandidat doktor di The United Graduate S c h o o l o f A g r i c u l t u r a l S c i e n c e s, E h i m e University/UGAS EU, saudara kembardari UGAS TUAT. Penelitiannya mengenai konservasi eks-situ Vitexcofassus, jenis kayu unggul yang banyak dimanfaatkan oleh para pembuat perahu Phinisi di wilayah Wallacea. Berwirausaha dan berburu beasiswa, plus doa dan tawaka lkepada-Nya, merupakan senjata utamanya dalam menggapai pendidikan tinggi. Setelah beasiswa Padmanaba (1994-1996), Neutron (1996), Angkatan 77 (1997-2000), kini berbekal beasiswamonbukagakusho (2008-2013), ia merencanakan wisuda doktornya pada September 2013. Ayah dari 4 pemainsepak bola: Gilang (10), Ulin (8), Odin (7) danHikaru (2), memulai karirnya sebagai dosen di Fakultas Kehutanan UGM sejak tahun 2002. Namun saat mahasiswa ia sudah terlibat aktif di berbagai magang, pelatihan dan eksplorasi jenis-jenis pohon utama di Indonesia, antara lain: jati (JawadanSultra), dipterocarpaceae (Jambi, Kaltim, Kalsel, dan Kalbar), perupuk (Kaltim), merbau (NTT, Maluku, Papua, Papua Barat), akasia (Palembang),

pada proyek pelabuhan Bajoe (Bone) Kolaka (kendari). Sejak tahun 2005 ia menjadi salah satu staf dosen di Jurusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin Makassar. Ia juga pernah di INCO Sorowako sebagai staf Engineer pada tahun 2006 (kerjasama UNHAS – INCO Sorowako), dan terakhir sebagai team leader pada proyek pelabuhan PT. Semen Tonasa ditahun 2007-2008. Pada tahun yang sama (2008) ia sebagai sala satu tim teknis pembangunan infrastruktur kampus Universitas Hasanuddin Makassar, s eb e l u m a k h i r nya m e m u t u s k a n melanjutkan studinya di Jepang di akhir tahun 2008. Pria dengan 2 anak ini dikenal sangat dekat dengan mahasiswanya, mungkin karena sewaktu mahasiswa ia sangat aktif

kemiri (Sulsel), gupasa (Sulawesi). Terlibat dalam ITTO project dan awal mula penerapan SILIN (silvikulturintensif) merupakan pengalaman yang paling berkesan, karena SILIN masuk dalam 100 Inovasi Indonesia pada tahun 2008. Keinginannya agar bermanfaat bagi sesama sudah muncul ketika usia caberawit. Di kampung, ia mengajar di TPA sejak bangku SD. Juga ikut berpartisipasi di berbagai kepanitiaan, ketua RT, jurutulis Badan Kerjasama Antara Masjid,Panitia Pemilihan Kelurahan, dll. Di sekolah pun, ia akti fmengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti peleton inti, Kelompok Ilmiah Remaja, pramuka, rohis, dan olah raga. Di sela-selawaktunya, ia me-nyantri di pondok pesantren di dalam dan luar Jawa. Keaktifannya di PPI Jepang(PPIJ) dimulai saat pertama kali ia menghirup udara musim semi Jepang 2009. Waktu itu amanah sebagai Ketua PPIJ Komsat Ehime (April 2009- Maret 2010) diembannya. Selanjutnya ia menjadi anggota Komite Desa Binaan Kabinet Pelayanan PPIJ (Oktober 2009-September 2010); anggota Tim Revitalisasi PPIJ Korda Shikoku (Maret-September 2010); Sekretaris Matsuyama Islamic Culture Center/MICC (April 2010-April 2011); tim formatur Aidai International Student's Association/AISA (Oktober-November 2010); anggota dewan shura Muslim Student's Association of Japan/MSAJ, Ketua MICC (Mei-September 2011) dan Ketua PPIJ Korda Shikoku (Januari 2011Januari 2012).

2011-2012

5

dan turut ambil bagian di organisasi di kampusnya, baik di tingkat jurusan, fakultas maupun universitas. Andi Subhan Mustari juga aktif dalam organisasi keprofesian. Ia pernah menjadi sekretaris pada organisasi Forum Angkatan Muda Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan ditahun 2006-2008 dan di tahun 2007 ia mendapat sertifikat insinyur profesional untuk bidang teknik sipil. Kini sebagai salah satu presidium PPI Jepang Periode 2011-2012, Andi Subhan Mustari berharap PPI Jepang menjadi organisasi yang selalu dirindukan oleh anggotanya, PPI Jepang menjadi milik bersama yang pada akhirnya dapat menjadi rumah kedua bagi setiap anggotanya.

ATUS SYAHBUDIN Saat ini sebagai salah satu Presidium PPIJ Periode November 2011-Agustus 2012, ia berharap dapat berkontribusi lebih banyak dan luas lagi bagi rekanrekan PPIJ, Indonesia yang lebih baik dan dunia. Atus dapat dihubungi di alamat email atus_sy (at) ugm.ac.id atau syahbudin_atus (at) yahoo.com dan nomor HP softbank Jepang 080-4033-3540. Tomorrow must be better!


KABAR PPI JEPANG

Profil Presidium

PPI JEPANG

FATWA RAMDANI

L

ahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 19 Juni 1985. Anak pertama dari tiga bersaudara ini menghabiskan masa kecilnya di Balikpapan, Anyer dan Batam, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Ibunya berdarah Sunda dan Ayahnya berasal dari Bugis, sejak kecil tempat tinggalnya berpindah-pindah, menjadikannya lekat dengan berbagai budaya di Indonesia. Hobinya untuk mengisi waktu senggang adalah tracking, berjalan kepelosok-pelosok untuk melihat keindahan alam. Sementara itu olahraga favoritnya adalah bulutangkis dan sepak bola. Sejak SMP, ia tergabung di organisasi dengan berbagai latarbelakang yang menjadi minatnya. Ia aktif di organisasi intra sekolah, keagamaan, seni dan olahraga, juga terlibat di organisasi kemahasiswaan saat berada di jenjang kuliah. Ia meraih gelar sarjana dari Departemen Geografi, FMIPA Universitas Indonesia pada tahun 2007, lalu bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang survey dan pemetaan selama 2 tahun, pekerjaan ini pula

yang kembali membawanya berkeliling Indonesia. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan membawanya ke Tohoku University di Sendai. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S2 di jurusan Geo-environment pada tahun 2011, dan saat ini sedang menjalani pendidikan S3-nya di tempat yang sama. Topik penelitiannya adalah mengenai efek perkembangan perkebunan kelapa sawi tterhadap lingkungan di Indonesia, menggunakan pendekatan “pixel linkage to people” karena memanfaatkan teknologi penginderaan jauh yang “dikawinkan” dengan socio-economic dan humanenvironmental approach. Saat ini, dengan mengemban amanah sebagai salahsatu presidium PPIJ, Ia menginginkan agar PPIJ menjadi milik semua, serta memberi manfaat lebih bagi sesama. Visinya adalah “meningkatkan sinergi pelajar Indonesia di Jepang, memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia”. Fatwa dapat ditemui di fatwaramdani.wordpress.com dan dihubungi di fatwa@ppijepang.org.

2011-2012 6


KABAR PPI JEPANG Apa itu sensus? Berdasarkan kamus online Oxford, sensus merupakan survey atau penghitungan resmi menyangkut hal kependudukan (http://oxforddictionaries.com/definition /census?q=census). Sensus berawal sekitar awal abad ke-17 sebagai catatan dalam pengumpulan pajak, registrasi penduduk untuk kegiatan wajib militer, serta pencatatan property maupun asset Roma kuno. Secara sederhana, definisi sensus saat ini adalah kegiatan penghitungan jumlah orang/penduduk di suatu daerah, dimana data-data yang dikumpulkan berkaitan dengan data demografi dan sosial-ekonomi. Biasanya dilakukan oleh pemerintah secara teratur

s e t i a p s e p u l u h t a h u n s e ka l i d a n masyarakat di wajibkan untuk ikut berpartisipasi aktif didalamnya (http://www.tuition.com.hk/geography/ c.htm#Census) Kenapa sensus menjadi penting? Partisipasi aktif dalam kegiatan sensus merupakan keharusan, mengapa? Karena informasi yang dikumpulkan dapat digunakan untuk memberikan feedback positif kepada masyarakat. Para pengambil keputusan biasanya menggunakan datadata sensus untuk mengalirkan dana-dana pembangunan infrastruktur di suatu daerah seperti pembangunan sekolah, rumah sakit, jaringan jalan, dan lain

sebagainya. Organisasi-organisasi sosialkemasyarakatan juga menggunakan data sensus untuk membuat program-program pelayanan sosial seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi warga miskin, jumlah volunteer muda yang diharapkan dapat ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial-kemasyarakatan, dsb. Berpartisipasi akfif dalam kegiatan sensus merupakan cara paling mudah untuk membuat pemerintah bekerja melayani anda. Kenapa? Karena dengan ikut aktif dalam kegiatan sensus mereka akan mengetahui siapa kita dan apa yang kita butuhkan. Program-program pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta kebutuhan-kebutuhan sosial-ekonomi yang mendasar yang kita bu-

Manfaat

SENSUS Oleh: Fatwa Ramdani

tuhkan untuk keberlangsungan hidup dapat terlayani dengan baik. Manfaat apa yang akan kita (red. Warga PPIJ) dapatkan dari sensus? Insya Allah dalam beberapa waktu kedepan PPIJ akan mengadakan kegiatan sensus akbar warga PPIJ sebagai salah satu amanah kongres yang harus ditunaikan. Lalu apa yang akan kita dapatkan sebagai feedback positif dari kegiatan ini? Beberapa diantaranya akan saya jabarkan dibawah ini; 1. Dengan ikut berpartisipasi aktif dalam ke g i a t a n s e n s u s a kb a r k i t a a ka n memudahkan penanganan keadaan darurat bencana. Saat ini kita semua tinggal diatas wilayah dengan kerentanan bahaya gempa bumi, tsunami, serta taifun yang terkadang diikuti oleh banjir besar. Ketika bencana ini melanda, tim penyelamat akan lebih mudah memberikan bantuan kepada kita dengan memanfaatkan data-data sensus terbaru yang kita miliki. Mengambil pelajaran dari gempa besar 11 Maret 2011 lalu, saat itu tim penyelamat tidak memiliki data yang

7

valid mengenai jumlah pengungsi warga Indonesia di sekitar wilayah bencana, sehingga bantuan emergency pascabencana sulit untuk diberikan. Sebagai contoh, pada kasus gempa Maret 2011 lalu, jumlah makanan yang dibutuhkan pengungsi sulit untuk diprediksi, sehingga sempat terjadi kekurangan stok makanan. Kegunaan lain dari penggunaan data sensus terbaru adalah untuk memudahkan proses evakuasi. Masih pada gempa Maret 2011 lalu,data yang dimiliki tim evakuasi menunjukkan terdapat 300 lebih warga Indonesia di wilayah bencana, padahal sebenarnya di lapangan hanya ada sekitar 150 warga. Oleh karena itu, data yang valid dan ter-update merupakan keharusan untuk mengoptimalkan bantuan dalam kondisi darurat bencana. 2. Partisipasi aktif dalam kegiatan sensus akan membantu warga PPIJ untuk mendapatkan informasi dan pelayanan dalam mencari pekerjaan di Jepang setelah menyelesaikan studi masing-masing (terutama bagi yang tidak memiliki afiliasi di Indonesia maupun yang hendak pindah afiliasi). Perusahaan jasa penyalur tenaga

kerja dapat menggunakan data sensus terbaru untuk memberikan pelayanan yang lebih optimal. 3. Angka yang akurat mengenai jumlah warga PPIJ diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi pemerintah Indonesia dan Jepang dalam menetapkan kebijakan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia di Jepang. Sebagai contoh, asuransi kematian bagi Warga Negara Indonesia, dimana jika ada Warga Negara Indonesia yang meninggal di Jepang, pemerintah Indonesia dan Jepang dapat bekerjasama untuk memulangkan jenazah tanpa biaya. Walaupun pada kenyataannya hal ini masih jauh dari realita yang diharapkan, n a m u n d e n ga n d a t a ya n g a ku ra t seitdaknya dapat memberikan pertimbangan kepada kedua belah pihak untuk semakin memudahkan kehidupan warga PPIJ di Jepang, Insya Allah. Manfaat apa yang akan mereka(selain warga PPIJ) rasakan? KBRI dan Konjen akan dapat dengan mudah melakukan cross-check terhadap


KABAR PPI JEPANG warga Indonesia yang sudah pulang kembali ke tanah air bila dibutuhkan. Karena biasanya pelajar Indonesia rajin membuat laporan kedatangan namun sering lupa membuat laporan kepulangan ke Indonesia setelah selesai menempuh studi di Jepang. 2. Kita dapat membantu keberlangsungan pendidikan adik-adik kita di Indonesia dengan ikut aktif dalam kegiatan sensus akbar. Kenapa? Paling tidak ada dua alasan, pertama, dengan angka yang valid dan terus ter-update dengan baik, kami dapat mengajak seluruh warga PPIJ untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan beasiswa dan pengabdian PPIJ, semakin banyak jumlah kepala tentunya akan semakin besar potensi partisipasi. Kedua, dengan data sensus yang dilengkapi dengan emailkontak warga, kami dapat mengajak seluruh warga PPIJ untuk bergabung dan berkunjung ke website PPIJ.Setiap kali te rd a p a t a r t i ke l b a r u ka m i a ka n mengundang warga PPIJ untuk ikut membaca.Didalam website PPIJ tersebut terdapat iklan beberapa perusahaan yang bekerjasama dengan PPIJ, sehingga diharapkan dengan semakin tingginya kunjungan ke website PPIJ, semakin sering pula iklan tersebut di-click. Dengan demikian secara tidak langsung kita sudah

ikut membantu kelangsungan sekolah adik-adik kita di Indonesia yang mendapatkan beasiswa PPIJ. 3. Kita dapat membantu perkembangan bisnis masyarakat Indonesia di Jepang seperti tempe Pak Rusto (http://www.geocities.jp/tempe8rusto/) dan toko bahan makanan Indonesia di Tokyo (http://toko-indonesia.org/) untuk terus berkembang dan bertahan, serta terhindar dari resiko finansial. Dengan kata lain, bisnis warga Indonesia di Jepang tersebut dapat lebih mudah memetakan pasar yang potensial (yaitu warga PPIJ sendiri) serta dapat memunculkan produk-produk baru yang kita butuhkan dimasa depan.

dilaksanakan dalam beberapa waktu mendatang, Insya Allah. Semoga selain yang telah saya jabarkan di atas, akan lebih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan.

4. Pelaku-pelaku bisnis biasanya akan menggunakan data-data sensus untuk membuka cabang-cabang baru serta menentukan lokasi-lokasi pembangunan pabrik, yang pada akhirnya akan membuka banyak lowongan pekerjaan di Indonesia oleh perusahaan-perusahaan Jepang kelak, yang sekarang masih belum memiliki kantor perwakilan di Indonesia Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya, maka marilah kita berpartisipasi aktif dalam kegiatan sensus akbar PPIJ yang akan

http://www.stat.go.jp/data/kokusei/2010/special/english/index.htm

8


KABAR PPI JEPANG

Program Beasiswa PPIS-PPIJ Program Peduli Oleh: Putri Setiani

9


KABAR PPI JEPANG

http://stargazerpuj.files.wordpress.com/2010/05/love-book.jpg

Mendampingi

Pasangan Tanpa menjadi Student Oleh: Indah Nurmawarti

P

ergi ke tempat yang baru dan berbeda pasti akan menimbulkan gejolak tersendiri di dalam diri kita. Banyak pertanyaan dan ketakutan yang muncul dalam benak kita, hanya karena kita tidak tahu kondisi yang akan kita hadapi di tempat baru itu seperti apa. Semuanya akan terasa sedikit melegakan ketika seseorang, baik teman lama ataupun orang baru, memberikan informasi tentang apa yang kita butuhkan. Dan tentunya akan lebih melegakan lagi kalau kita sudah benar-benar mengalami, melihat dengan mata kepala, merasakan dengan hati, kenyataan yang sebelumnya kita resahkan. Jepang bukanlah tempat yang terlalu jauh dari Indonesia. Delapan jam perjalanan dengan pesawat terbang akan membawa kita sampai ke negerinya barang-barang elektronik terkenal. Menginjakkan kaki pertama kali di Jepang tentunya menyenangkan bagi siapa saja. Bekal dari kampung halaman berupa rendang, abon, sambal, coet, dan mie instan tentu tidak akan terlupakan bagi siapa saja yang akan tinggal di negeri Doraemon ini. Belum lagi dengan bekal-bekal lainnya yang dibutuhkan untuk menjalani misi pribadi selama tinggal di Jepang baik sebagai pelajar, pekerja, maupun ibu rumah tangga. Sebagai pelajar atau pekerja, tentunya sebelum berangkat ke Jepang, orang yang bersangkutan sudah punya persiapan jelas tentang apa yang akan dia lakukan di negeri tersebut. Begitu juga dengan ibu rumah tangga, mereka tentu sudah tahu apa yang akan mereka lakukan di sana: mengurus keluarga. Dengan adanya para isteri di

samping suami, suami akan merasa tenang dan fokus untuk bekerja atau berkuliah,karena urusan rumah sudah ada yang menangani :). Berdasarkan pengalaman berkenalan dengan orang-orang Indonesia di Jepang, ibu rumah tangga ini bisa diklasifikasikan menjadi empat macam, yakni:1. Ibu rumah tangga punya anak dan tidak bekerja/kuliah; 2. ibu rumah tangga punya anak dan bekerja/kuliah; 3. Ibu rumah tangga belum punya anak dan bekerja/kuliah; 4. Ibu rumah tangga belum punya anak dan tidak bekerja/kuliah. Saya tidak mengetahui pasti bagaimana romantisme menjalankan tiga tipe pertama. Karena saya sendiri termasuk tipe keempat. Dengan kondisi belum dikaruniai keturunan serta tidak ada kegiatan formal diluar rumah, saya memiliki waktu luang yang banyak sekali. Kelebihan waktu belum tentu menyenangkan lho, bahkan saya sendiri berpendapat kalau sibuk itu lebih baik. Dengan banyaknya waktu luang, saya merasakan bahwa probabilitas untuk melakukan berbagai kelalaian menjadilebih besar dari biasanya. Biasanya, untuk menghindari waktu terbuang sia-sia, kita melakukan hal positif dengan orang terdekat kita masing-masing. Nah masalahnya adalah, orang dekat nomor satu (baca: suami) kita harus berada di kampusnya dari pagi hingga petang. Maka dari itu saya biasanya menghabiskan waktu di rumah sendirian. Setelah suami, orang terdekat nomor dua adalah orang yang berasal dari satu negara. Namun di lingkungan saya tinggal, komunitas orang Indonesia tidak-

10


KABAR PPI JEPANG

lah banyak. Orang Indonesia di sini hanya ada dua keluarga yang total anggotanya berjumlah tujuh orang, dan beberapa mahasiswa di kampus tempat suami berkuliah. Para tetangga lain yang masih satu rumpun dengan kitapun punya kesibukan masing-masing, dan tentunya tidak setiap saat dapat dikunjungi. Jadi, dengan kondisi semacam itu, adalah sangat mungkin bagi saya untuk “dihampiri� stress yang berlebihan. Dari awal kedatangan saya untuk menemani suami belajar di Jepang, saya terus memikirkan tentang aktivitas apa yang akan saya lakukan di negeri orang yang tidak saya ketahui medannya. Untuk mengatasi hal itu, menurut pengalaman saya, saya menyadari bahwa “bertanya� merupakan aktivitas penting ketika kita masih awam di tempat baru. Dengan bertanya kita akan mempunyai a ks e s ke i n fo r m a s i - i n fo r m a s i ya n g sebelumnya tidak kita ketahui. Beruntung tinggal di Jepang, tidak hanya karena kecanggihan teknologi dan kemajuan ilmunya saja yang membuat saya kagum dengan negeri ini, tetapi juga karena fasilitas umum serta kegiatan kemasyarakatannya. Di kantor pemerintahan baik tingkat kecamatan atau kota, kita bisa menemukan informasi tentang kegiatan-kegiatan yang akan diselenggarakan di daerah tersebut. Salah satu kegiatan yang sangat membantu, terutama untuk warga negara asing, adalah kegiatan sukarela dari orang Jepang untuk mengajarkan bahasa Jepang kepada orangorang asing. Soal biaya, itu relatif, karena sebagian komunitas mengharuskan kita membayar, sebagian lagi tidak. Ini sungguh menguntungkan untuk orang asing, karena selain ilmu bertambah, uang di kantong pun tidak keluar banyak. Memang harus diakui pengajaran bahasanya tidak se-profesional

11

sekolah bahasa yang formal, tetapi kegiatan semacam itu dapat membuat kita mengenal kultur Jepang sedikit demi sedikit. Jika hubungan guru dan murid terjalin baik, seringkali guru di kelas menjadi teman yang membantu kita dalam urusan kehidupan sehari-hari, dimana sekaligus kita juga bisa belajar kultur Jepang seharihari. Tidak disangsikan lagi selain terkenal dengan teknologi dan komiknya, Jepang juga bisa saya sebut negerinya kerajinan tangan. Orang Jepang terkenal sangat mencintai keindahan, mereka biasa membuat karyakarya dengan detail yang menarik, pengerjaan yang telaten, dan hasil yang luar biasa indah. Terkait hal ini, saya sangat beruntung bisa bertemu dengan guru di kelas volunteer yang memiliki keahlian dalam merajut. Beliaulah yang mengajarkan saya bagaimana caranya merajut. Pakaian yang dikenakannya membuat saya iri karena beliau menggunakan sendiri barang hasil karya tangannya. Walaupun pada akhirnya saya tidak benar-benar menjadi ahli merajut, minimal saya berhasil membuatkan syal musim dingin buat suami :). Tidak hanya merajut, jika kita membuka mata lebih lebar, banyak sekali jenis kerajinan tangan yang bisa kita telusuri di Jepang ini. Majalahmajalah berkualitas tentang kerajinan banyak dijual di toko-toko buku. Kita bisa belajar secara otodidak dari majalah-majalah tersebut. Sebuah toko kerajinan bernama Yuzawaya adalah salah satu toko yang menjadi favorit saya. Toko ini menyediakan kebutuhan perlengkapan kerajinan tangan mulai dari menjahit, merajut, merangkai bunga, menggambar, dan apa saja yang dicari untuk keperluan kerajinan tangan :). Bagi yang kurang menyukai kerajinan tangan, mungkin bisa mencoba dengan memasak. Perempuan yang sudah menikah, pastinya ingin memenuhi kepuasan lidah dan kebutuhan perut keluarganya. Guru bahasa Jepang saya sering mengenalkan makanan Jepang kepada kami dan juga mengajarkan cara memasaknya. Adapula kelas-kelas memasak formal yang bisa diikuti, namun biasanya dalam bahasa Jepang :(. Tapi jangan putus asa dulu, karena teman-teman Indonesia dan teman dari negara lain biasanya akan dengan senang hati bertukar ilmu dalam hal memasak.

Bergabung dengan budaya Jepang memang menyenangkan, tapi ada kalanya kita merindukan untuk berkumpul bersama sanak saudara setanah air. Bersyukur lagi bahwa komunitas masyarakat Indonesia adalah komunitas warga negara asing kelima terbanyak dari benua Asia setelah Korea, China, Filipina, dan Thailand (2005). Berbagai organisasi Indonesia berbasis komunitas hadir di negeri Sakura. Sebut saja, organisasi pelajar, organisasi keagamaan, organisasi penulis, organisasi pekerja, semuanya ada di Jepang. Organisasi ibu rumah tangga memang tidak ada secara formal, namun perkumpulan yang menampung ide dari para ibu rumah tangga di Jepang ada juga. Tak jarang mereka berkumpul dan menyelenggarakan kegiatan bermanfaat buat masyarakat Indonesia, khususnya perempuan. Kegiatan semacam ini, dimana para ibu rumah tangga bisa bertukar pengalaman dan informasi seputar kehidupan di Jepang merupakan momen penting untuk memberikan semangat dan motivasi satu sama lain. Dengan kecepatan akses internet yang tinggi, jangan takut untuk tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain, karena internet membuat segalanya menjadi lebih dekat dan mudah. Kelas-kelas nonformal secara online bisa kita ikuti dan dengarkan. Kelas bahasa Jepang, kelas tahsin Al-Quran, atau seminar-seminar kecil bisa diselenggarakan tanpa harus bertatap muka langsung. Pengalaman ini membuat kesan tersendiri dalam diri saya. Bayangkan, saya bisa bercakap-cakap dengan seseorang yang tinggal di selatan atau utara Jepang tanpa pernah sekali saya bertemu langsung dengan beliau, lalu ketika kesempatan bertatap muka datang, rasanya bagaikan bertemu teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. Hanya setahun setengah saja saya merasakan pengalaman sebagai seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jepang. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah suatu peran jelek dan membosankan, karena bisa dibayangkan betapa kacaunya kehidupan para suami dan anak-anak tanpa adanya isteri atau ibu. Kekhawatiran saya tentang bagaimana menghabiskan waktu luang sudah pergi entah kemana, karena sekarang sudah ada banyak kegiatan yang bisa saya lakukan di negeri ini. Belajar di sekolah formal boleh berhenti tapi jangan pernah berhenti belajar di sekolah kehidupan.


SEPUTAR PPI JEPANG

Hokkaido University Website: http://www.hokudai.ac.jp/en/

P

erkenalkan nama saya Himawan Sutanto. Saat ini saya berkesempatan untuk melanjutkan studi saya di Jepang, tepatnya di kota Sapporo, Hokkaido (pulau paling utara Jepang), yaitu di Hokkaido University (Hokudai). Sebelum melanjutkan studi disini, saya bekerja sebagai seorang geologist di badan riset dan pengembangan minyak dan bumi milik pemerintah Indonesia. Sebenarnya sebelum studi di Hokkaido University ini, saya sudah pernah dua kali ke Jepang untuk menghadiri training dan workshophasil kerjasama antara PPPTMGB "LEMIGAS", Japex dan JGI Inc. Pada kesempatantraining dan workshop tersebut saya bertanya ke rekan-rekan dari Japex dan JGI Inc. tentang tempat kuliah yang terbaik di Jepang untuk bidang petroleum geoscience. Kebanyakan dari mereka merekomendasikan Hokkaido University dan Prof. Noriyuki Suzuki sebagai pembimbing. Mereka juga menyarankan untuk segera mengontak sang profesor. Maka dari itu, sepulang trainingtersebut (sekitar akhir 2009), saya langsung mengontak Prof. Noriyuki Suzuki.Alhamdulillah komunikasi yang baik terjalin diantara kami, dimulai dari saya yang mengirimkanCV, rencana penelitian, nilai TOEFL, dan lain-lain.Singkat cerita, Alhamdulillahbeliau berkenan menjadi profesor pembimbing saya, dan saya diterima di Hokudai, dimana saya bersekolah sejak 30 September 2010 sampai sekarang. Menurut pengalaman saya tersebut, saya berpendapat kalau syarat utama yang harus dimiliki untuk bisa diterima di Universitas di Jepang adalah rencana penelitian yang baik.Setelah sampai disini, senseisaya pun mengatakan hal yang sama, yaitubahwa rencana penelitian adalah hal utama yang menjadi penilaian bagi inter-

national student, sementara persyaratan setidaknya biaya hidup di Sapporo sekitar JPY yang lain hanya tambahan saja. 120.000. Inipun dengan catatan makan dua kali sehari. Kondisi seperti ini hanya untuk Terkait finansial, saya bagi penjelasannya yang daya tahannya kuat, sedangkan saya menjadi dua bagian: biaya kuliah dan biaya sendiri sih tidak tahan hidup seperti itu.:) hidup. Untuk biaya kuliah, saat awal studi, ada beberapa biaya awal harus dikeluarkan, yaitu Untuk membantu menutupi biaya hidup biaya pendaftaran kuliah dan uang kuliah sehari-hari, banyak mahasiswa di sini yang semester pertama.Sebenarnya saya tidak kerja sambilan (baito). Jenis pekerjaan yang mengetahui secara pasti besarannya, tapi dilakukan bermacam-macam. Biasanya sejauh yang saya tahu, biaya pendaftaran di semakin seorang mahasiswa menguasai H o k u d a i a d a l a h s e k i t a r J P Y bahasa Jepang, semakin banyak pula pilihan 582.000.Sementara itu uang kuliah per baito yang bisa di ambil. Khusus bagi s e m e s t e r n y a s e k i t a r J P Y mahasiswa Indonesia, untuk urusan baito ini 300.000.Penerimaan mahasiswa baru di akan dibantu oleh PPI Hokkaido/Sapporo, Hokudai berlangsung dua kali setahun, yaitu termasuk urusan pencarian baito itu sendiri. pada bulan Juni-September dan FebruariMaret. Pengumuman penerimaan mahasiswa Secara keseluruhan, hidup di sini cukup b a r u i n i s e l a l u d i p u b l i k a s i k a n d i menyenangkan, apalagi bagi mahasiswa websiteHokudai (alamatnya tertera di awal Muslim, karena mesjid Sapporo terletak cukup dekat dari kampus (hanya 2 blok). Bagi artikel ini). yang beragama Kristen, terdapat pula Bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan beberapa gereja yang juga terletak di dekat keuangan, disediakan skema keringanan kampus. Adapun masalah utama yang biaya kuliah yang besarannya mulai dari 50% dihadapi adalah banyaknya salju dan cuaca sampai 100%.Skema ini ditujukan untuk dingin, yang bisa dibilang merupakan mahasiswa yang membiayai studinya secara masalah klasik bagi orang yang tinggal di mandiri (self-support finance).Namun Jepang utara. Selain itu, makanan sehari-hari pemberian skema ini tidak dilakukan di cukup sulit didapat dan harganya mahal, s e m e s t e r a w a l , t e t a p i m a h a s i s w a terutama bagi yang muslim (soal makanan bersangkutan harus sudah menjalani halal). minimal satu semester dulu untuk dijadikan Namun Alhamdulillah berkat kerjasama bahan evaluasi pemberian keringanan. antarawarga PPI Hokkaido/Sapporo dan Biaya hidup seorang mahasiswa di Jepang masyarakat Indonesia yang tinggal di terbagi-bagi menjadi beberapa pos-pos Sapporo, ada setidaknya 2 tempat makan biaya.Soal rumah tinggal, mahasiswa yang halal yang menyediakan masakan Indonesia. tidak tinggal di asrama biasanya menyewa Selain itu mereka juga menyediakan bahanapartemen (apato).Biaya sewa apato per bahan makanan halal lainnya. Nama kedua bulan di Sapporo jelas lebih murah tempat makan itu adalah Warung Jawa dan dibandingkan dengan di Tokyo. Kisaran harga Kedai Kita. Kedai Kita baru dibuka pertama apato di Sapporo adalah sekitar JPY 30,000- kali saat Idul Adha 2011, tepatnya tanggal 11 60,000 dan lokasinya hanya beberapa blok November. Karyawan dari Kedai Kita boleh dari kampus. Terkait soal makanan, biaya dibilang 98%-nya adalah anggota PPI yang dikeluarkan untuk makan sehari-hari di Hokkaido/Sapporo, karena memang tempat Sapporo cukup mahal, terutama bagi yang m a k a n i n i d i r i n t i s o l e h P P I muslim karena makanan halal di Sapporo Hokkaido/Sapporo guna mempermudah harganya mahal. Saat musim dingin, pembelian makanan sehari-hari. Kepada pengeluaran per bulannya bisa membengkak, teman-teman PPIJ, silakan bergabung di karena butuh biaya gas untuk menyalakan facebook Kedai Kita Sapporo di alamat heater. Lebih parahnya lagi, musim dingin di berikut: http://facebook.com/kedaikita14. Sapporo berlangsung lama, yaitu dalam satu Silakan pula mampir kesini untuk kongkowtahun Sapporo biasanya tertutup salju sekitar kongkow dan menikmati kuliner Indonesia 6 bulan. Jadi kesimpulannya, kalau diambil bercitarasa memukau dengan harga batas bawah pengeluaran per bulan, dengan terjangkau. asumsi apato paling murah, makanan halal tiap hari paling murah, tarif gas flat per tahun, Website PPI Hokkaido: http://www.ppitermasuk juga biaya telepon, maka hokkaido.org/index.html

12


SEPUTAR PPI JEPANG

N

ama Saya Ibnu Fathrio, biasa dipanggil Ibnu. Saya bekerja di Pusat Sains Atmosfer Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). Jadi riset keseharian saya berkutat dengan ilmu meteorologi dan klimatologi baik pengamatan maupun pemodelan. Namun latar belakang pendidikan S1-S2 sebelumnya sedikit berbeda, dimana saya lulus dari jurusan Fisika ITB dengan bidang keahlian fisika bumi. Sekarang saya sedang mengambil kuliah S3 di Hirosaki University di jurusan Meteorologi

Jadi ilmu meteorologi ini merupakan hal yang baru bagi saya dan saya terpacu untuk belajar lebih giat lagi dengan cobacoba mencari kesempatan beasiswa di luar negeri. Di LAPAN kami beberapa kali mengundang ahli-ahli sains atmosferdan antariksa untuk mengisi acara dalam sebuah lecture series / seminar dan kami sering bekerja sama dengan RISH-Kyoto University. Nah, di lecture inilah saya pertama kali berkenalan dengan sensei saya. Dalam sebuah lecture, salah satu pakar yang diundang adalah (yang kemudian menjadi sensei saya) Yasumasa Kodama, berasal dari Hirosaki University.

HIROSAKI UNIVERSITY Oleh: Ibnu Fathrio

Website: http://www.hirosaki-u.ac.jp/english/science.html

Jalan untuk mendapatkan beasiswa tidaklah mudah. Berkali-kali menemui kegagalan saat mencoba peruntungan dengan beasiswa Monbusho dan beasiswa lainnya. Tapi yang namnaya rejeki sih gak kemana. Meski gagal dalam Monbusho, ternyata disaat yang sama ada secercah peluang untuk mendapatkan beasiswa lain dari program RISTEK karya siswa. Program ini diperuntukan kepada para PNS di lembaga-lembaga non-departemen / dibawah koordinasi Menristek, seperti LAPAN, LIPI, BATAN, dan BPPT. Beasiswa ini termasuk sangat baru, karena baru dimulai tahun 2010 untuk jenjang S2 dan S3 di dalam negeri. Dan semenjak tahun 2011 beasiswa ini juga men-support studi S3 studi ke luar negeri. Beasiswa ini hanya mensyaratkan proposal penelitian, Letter of Acceptance (LoA) dan nilai TOEFL minimum 500, jadi bisa dibilang tidak terlalu sulit. Saat saya melamar beasiswa ini, saya cukup beruntung karena kuota pelamar beasiswa ini masih dibawah kuota beasiswa yang direncanakan Ristek. Alhamdulillah saya dapat lulus persyaratan untuk mendapatkan beasiswa ini.

13

Untuk ukuran studi di Jepang, besar beasiswa ini memang sedikit dibawah nilai nominal beasiswa Monbusho. Walaupun begitu, untuk hidup di kota dengan standar hidup seperti Tokyo, beasiswa ini bisa dikatakan lebih dari cukup. Sebelum dinyatakan lulus sebagai mahasiswa S3 di universitas ini, saya harus melewati ujian masuk berupa presentasi di depan para penguji (professor) dari berbagai bidang keahlian. Materi yang dipresentasikan adalah topik riset yang dilakukan sebelumnya (topik tesis S2) dan juga rencana studi S3. Ujian masuk ini dilaksanakan hanya sebulan sebelum semester dimulai, yaitu pada bulan Juli 2011. Alhamdulillah untuk ujian masuk ini, biaya kehidupan saya di-support oleh program RISTEK karya siswa yang lainnya yang bernama “program pemagangan penelitian�. Di bawah program ini, peserta diberi jatah 3 bulan untuk melakukan riset di luar negeri. Karena tahun ini merupakan tahun pertama untuk program


SEPUTAR PPI JEPANG mungkin bisa dapat baito yang lebih tinggi salary-nya. Masih soal finansial, untuk mahasiswa yang kesulitan keuangan, terdapat fasilitas keringanan uang kuliah yang diberikan oleh universitas. Keringanan uang kuliah ini bisa didapatkan namun besarannya bermacam-macam. Contoh kasus, mahasiswa asal Bangladesh dibebaskan dari biaya pendaftaran dan biaya semester, dan ada juga mahasiswa lain yang hanya membayar 50%.

beasiswa ini, maka proses pendaftaran di universitas harus dilakukan oleh kita sendiri. Namun kita tidak perlu cemas, karena biasanya sensei sudah menyiapkan dan akan membantu kita dalam pengurusan proses pendaftaran ke universitasnya. Biaya kuliah di universitas negeri di Jepang umumnya sama. Saat pertama kali masuk, kita harus membayar biaya ujian masuk sebesar 30.000 yen, biaya pendaftaran sebesar 282.000 yen dan biaya per semester sebesar 267.900 yen. Semua biaya ini ditanggung sepenuhnya oleh beasiswa RISTEK karya siswa. Kota yang sekarang saya tinggali bernama Hirosaki, yang bisa dibilang merupakan kota kecil, jadi biaya hidupnya tidak semahal kota-kota besar Jepang seperti Tokyo. Biasanya perbedaan yang mencolok adalah pada harga sewa apartemen (apato)-nya. Di kota ini kita masih bisa mendapatkan apato ukuran 6 tatami dengan harga 19 20 ribu yen, yang lokasinya hanya 10-15 menit dari kampus (ditempuh dengan jalan kaki). Untuk biaya hidup secara keselurahan “cukup� menyediakan 80 ribu yen. Biaya ini dengan asumsi masak makanan sendiri (tidak beli di kantin), pasang internet di apato dan di handphone, dengan asumsi harga sewa apato 20-30 ribu. Saat musim dingin biayanya sedikit membengkak karena harus membeli minyak bahan bakar

untuk penghangat ruangan (18 liter minyak ~ 1.500 yen). Pada musim dingin (salju turun mulai akhir November) kota Hirosaki memiliki suhu maksimum 0 derajat dan selalu tertutup salju sepanjang hari. Oh ya, di kampus saya tidak ada kantin yang menjajakan makanan halal, jadi otomatis kita terpaksa berhemat dengan masak sendiri (2.000 yen untuk seminggu jika bisa menghemat). Komunitas muslim disini memang sedikit, tapi kami menyewa apato di dekat kampus untuk dijadikan musola sehingga kita bisa solat berjamaah lima waktu disana. Setiap hari Jumat Alhamdulillah kami tidak pernah absen dari solat Jumat meskipun hanya dihadiri oleh sekitar 10 orang. Jamaahnya terdiri dari muslim dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, dan Pakistan. Bahkan waktu Idul Adha kami sempat melakukan kurban kambing, tetapi tentunya tidak secara terangterangan karena penyembelihan hewan tanpa lisensi itu dilarang di Jepang. Persaudaraan antar-muslim disini begitu kental terasa meski kita berasal dari negara dan bahasa yang berbedabeda.

Hirosaki adalah kota wisata, dengan salah satu tempat wisatanya yang terkenal adalah Hirosaki Castle. Di tiap musim juga selalu diadakan festival. Sebagai contoh, pada pertengahan musim panas (2-7 Agustus) di kota ini sering diadakan festival Nebuta. “Nebuta adalah lentera ukuran raksasa yang dibuat dari kerangka kayu berlapis washi yang umumnya berbentuk boneka pemeran kabuki atau hewan. Nebuta diusung dengan kendaraan hias untuk berpawai di jalan-jalan� (wikipedia). Menurut saya, waktu yang paling menyenangkan di Hirosaki adalah saat musim dingin, dimana kita dengan mudah mendapatkan akses untuk bermain ski dan snowboard, yang lokasinya tidak jauh dari pusat kota Hirosaki. Selain kota wisata, Hirosaki juga dikenal sebagai kota penghasil apel terbesar di Jepang, dimana sekitar 20% apel di Jepang berasal dari kota ini. Musim panas di Hirosaki pun tidak terlalu panas seperti di kota lainnya, dengan suhu tertinggi sekitar 32-33 derajat celcius. Demikian pengalaman singkat hidup di Hirosaki, semoga berkenan berkunjung ke kota ini . Ibnu fathrio e-mail:ibnufathrio@yahoo.com

Soal kerja paruh waktu (baito) sepertinya disini tidak terlalu populer karena kota ini tidak terlalu ramai. Namun kalaupun ada, biasanya temanteman saya melakukan baito di pabrik apel. Jika mahir berbahasa Jepang

14


SEPUTAR PPI JEPANG negeri ini.Dulu ketika masih bersekolah di tingkat S1 jurusan fisika ITB, saya membaca sebuah buku berjudul "Physical properties of Carbon Nanotubes" yang ditulis oleh Riichiro Saito, Gene Dresselhaus, dan Mildred Dresselhaus. Buku ini cukup populer di kalangan mahasiswa fisika yang minatnya di bidang fisika material elektronik.Salah satu kakak kelas saya waktu itu yang banyak mengajarkan kepada saya tentang material carbon nanotube ini.Tidak saya sadari, mungkin hasrat belajar bersama para penulis buku itu terpendam secara diam-diam di hati saya. Penulis utama buku tersebut berdasarkan biografinya tahun 1998 ketika buku itu diterbitkan adalah seorang profesor di UEC, Tokyo, yang pernah melakukan riset di MIT, Amerika Serikat. Lebih-lebih, para penulis buku tersebut adalah fisikawan teoretik. Sebagai anak ingusan di fisika, saya pikir "keren" juga andai saya bisa berguru kepada mereka dan menjadi fisikawan teoretik kelas dunia.

TOHOKU R

ekan-rekan pembaca buletin PPI Jepang yang saya hormati, perkenalkan, saya Ridwan.Sekarang saya masih sekolah (S3 tahun kedua) di Tohoku University, jurusan fisika.Selain aktivitas sekolah, saya juga mengemban amanah sebagai ketua PPI Sendai periode 2011/2012.Barangkali ini salah satu alasan mengapa saya ditodong PPI Jepang membuat tulisan ini.Oleh karena itu, izinkan saya bercerita sedikit tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Tohoku, dari sudut pandang saya pribadi.Tentunya ini bukan berarti saya lebih tahu dibandingkan temanteman lainnya, semata-mata ini karena ketiban musibah saja mendapat amanah tersebut.Jadi mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan isi tulisan saya. ;)

Oleh: Ahmad Ridwan Tresna Nugraha

S aya m u l a i c e r i t a nya d a r i s e k i l a s tentangSendai dan Tohoku.Banyak orang di Indonesia mungkin baru mengenal Sendai setelah terjadinya gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011. Sendai adalah kota kecil yang tenang dan damai di jantung prefektur Miyagi. Di Indonesia, prefektur bisa dikatakan setara dengan provinsi.Dengan luas daerah sekitar 3 kali kota Bandung, jumlah penduduk kota Sendai "hanya" sekitar 1 juta orang. Selain identik dengan gempa, kota ini identik dengan sebuah universitas besar yang merupakan Universitas Imperial ke-3 di Jepang setelah Universitas Tokyo dan Kyoto, yaitu Tohoku University. Istilah “Tohoku� (! " ) sendiri yang secara harfiah berarti “Timur Laut� merupakan representasi daerah utara Pulau Honshu, Jepang, meliputi prefektur Aomori, Akita, Iwate, Yamagata, Fukushima, dan tentunya Miyagi. Untuk mencapai kota Sendai, ada banyak cara. Cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan menggunakan shinkansen dari Tokyo, yang menempuh waktu sekitar 2 jam.Selain shinkansen, Sendai bisa juga dicapai dengan pesawat atau bus.Jaraknya sekitar 350 km dari Tokyo ke arah utara.

Impian tersebut saya simpan saja cukup lama.Saya pikir mustahil untuk menuntut ilmu dari mereka.Malah menjelang selesai masa S1 saya nyaris mengambil tema skripsi fisika nuklir, bidang yang benar-benar tidak terkait dengan material. Sampai akhirnya saya mendapatkan informasi dari kakak kelas, Tohoku University membuka peluang melanjutkan sekolah tingkat S2 dan S3 dalam sebuah program terintegrasi 5 tahun yang bernama IGPAS (International Graduate Program for Advanced Sciences) yang memberikan beasiswa Monbusho dengan sistem kerja penuh waktu di lab. Dia pun saat itu sudah bergabung dengan program tersebut.Setelah saya cek informasi mengenai Tohoku University dari internet, saya terkejut karena universitas ini adalah yang terbaik di Jepang untuk penelitian di bidang material berdasarkan indikator kualitas dan kuantitas publikasi paper, bahkan termasuk 3 besar terbaik di dunia.Khusus untuk bidang fisika sendiri Tohoku University adalah yang terbaik kedua di Jepang setelah Tokyo University.

Keterkejutan saya tidak berhenti sampai tahap mengenali Tohoku University, tetapi juga ketika melihat nama-nama profesor fisika yang ada. Saya menemukan nama Riichiro Saito, penulis buku yang saya mimpikan untuk bisa belajar bersama. Rupanya ia sudah pindah dari kampusnya yang dulu untuk mengabdi di Tohoku University. Ok, saya pikir sudah jelas, saat itu juga saya giat mempelajari kembali buku tersebut, menyusun skripsi dengan topik Selanjutnya saya ingin bercerita tentang asal sederhana terkait pelajaran yang diberikan muasal bagaimana saya bisa terjerembab di di buku, dan yang paling penting adalah men-

15


SEPUTAR PPI JEPANG

daftar program IGPAS. Tadinya agak pesimis apakah profesor yang satu ini akan menjawab pesan saya. Rupanya dalam hitungan jam saja sudah dibalas dengan jawaban positif. Singkat cerita, setelah mengikuti ujian IGPAS saya dinyatakan lulus dan bisa memulai sekolah tingkat master di bawah bimbingan beliau. Saya sebenarnya hanya beruntung saja bisa sekolah di sini. Kalau ditanya bagaimana cara bisa diterima di Tohoku University, satusatunya cara yang saya tahu dengan baik hanyalah program IGPAS. Akan tetapi, dari pengamatan saya terhadap rekan-rekan pelajar Indonesia lainnya yang masuk To h o k u U n i v e r s i t y, v a r i a s i j a l u r penerimaannya cukup banyak.Untuk tingkat S1, jalur masuk yang paling populer adalah dengan skema beasiswa Monbusho yang pendaftarannya di kedutaan Jepang.Barubaru ini dibuka pula program Global 30 yang memberikan beasiswa tahun pertama S1 dan kuliahnya dalam bahasa Inggris. Untuk tingkat S2 dan S3, biasanya kita harus terlebih dahulu mengontak calon profesor pembimbing, kemudian mengikuti ujian masuk sesuai program yang hendak diikuti, lalu masalah pembiayaannya bisa dari dana pribadi, dana calon lab, ataupun beasiswa pemerintah.Syarat masuk ke Tohoku University untuk tingkat S2 dan S3 tidaklah terlalu ketat. Asalkan calon pembimbing kita berkenan dengan kemampuan yang kita miliki, insya Allah langsung diterima, entah bagaimanapun cara tesnya, apakah dengan wawancara, tes tertulis, bahkan diminta datang dulu ke Jepang untuk melakukan presentasi proposal riset.

Ketika saya pertama kali datang ke Sendai, kota tempat Tohoku University berada, saya sempat khawatir tidak mampu beradaptasi dengan baik. Saya sangat khawatir dengan masalah makanan, biaya hidup, pergaulan, dan bermacam ketakutan orang udik semacam saya ketika pergi jauh dari kampung halaman.Seumur hidup saya baru kali ini saya keluar jauh untuk waktu yang lama dari kota Bandung, Jawa Barat, tempat saya lahir.Mungkin ini kekhawatiran yang umum pula bagi kebanyakan pelajar Indonesia yang baru tiba di Jepang.Alhamdulillah, ternyata warga Indonesia yang tinggal di Sendai ternyata cukup banyak.Orang-orang asing lainnya di sini pun seperti pemandangan yang biasa saja.Seringnya berinteraksi dan bersosialisasi bersama membuat kekhawatiran saya berkurang.Bahkan sampai saat ini sudah lebih 3 tahun tinggal di Sendai tanpa perlu banyak berbicara bahasa Jepang pun saya masih bisa bertahan hidup di sini.Kecenderungan sensei (profesor) yang lebih senang menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Jepang membuat saya beruntung di satu sisi dan tidak beruntung di sisi lainnya.Saya beruntung karena bisa berkomunikasi lancar dalam hal riset ataupun kehidupan sehari-hari bersama sensei, tetapi saya tidak beruntung karena tidak ada waktu maupun teman berbicara untuk belajar bahasa Jepang. Dari segi biaya hidup, daerah Tohoku termasuk cukup murah di Jepang.Pengeluaran per bulan rata-rata 100120 ribu yen bergantung pada gaya hidup kita. Jika kita hemat tentunya biaya hidup bisa lebih murah lagi. Sempat mendengar cerita dari salah seorang teman asing ketika saya masih tinggal di asrama JASSO Sendai International House, dia hanya

menghabiskan 50 ribu yen per bulannya. Wow! Setelah dipikir-pikir, mungkin saja sih bisa seperti itu. Caranya begini: (1) biaya asrama sudah termasuk biaya listrik-air-gas sekitar 20 ribu yen, (2) makan selalu masak setiap hari sehingga hanya menghabiskan 20 ribu yen, (3) transportasi pergi ke kampus menggunakan sepeda setiap hari, dan (4) biaya komunikasi serta rekreasi sekitar 10 ribu yen saja per bulan. Ok, poin pentingnya adalah nomor (1), yaitu biaya tempat tinggal. Inilah yang banyak membedakan biaya hidup di Tohoku dengan daerah Jepang lainnya.Ada beberapa asrama di Sendai yang memberikan harga murah untuk mahasiswa. Untuk sewa apartemen pribadi pun kisaran harganya hanya 20-50 ribu yen per bulan untuk ukuran pelajar yang belum menikah hingga yang sudah berkeluarga dengan 3-4 anak. Sementara itu, untuk poin nomor (2)(4) lebih banyak bergantung pada gaya hidup kita masing-masing dan jumlah anggota keluarga. Sebagai contoh, untuk saya yang sudah berkeluarga dan hidup berdua saja dengan istri, gambarannya kira-kira: (1) 30 ribu yen untuk tempat tinggal, (2) 50 ribu yen untuk makan, (3) 10 ribu yen untuk transportasi, (4) 30 ribu yen untuk komunikasi dan rekreasi. Supaya hidup kita tidak membosankan hanya di kampus saja, ada baiknya berjalan-jalan menjelajahi kota Sendai dan sekitarnya di akhir pekan atau masa liburan sekolah. Sebagai negeri 4 musim, Jepang memiliki keindahan yang khas di setiap musimnya.Di Sendai sendiri, ada acara-acara yang menarik dan berbeda-beda tergantung musim.Di musim semi, menikmati pemandangan sakura yang hanya mekar selama dua pekan saja tentunya jadi pilihan terbaik. Di musim panas, festival kembang api, tari-tarian, dan hiasan-hiasan Jepang adalah sesuatu yang dicari-cari para penggemar fotografi.

16


SEPUTAR PPI JEPANG D e m i k i a n p u l a d i m u s i m g u g u r, pemandangan daun-daun indah yang berganti warna disertai udara sejuk memanjakan kita. Di musim dingin, meskipun kita sebagai warga khatulistiwa tidak terlalu terbiasa dengan suhu dingin, petualangan dengan salju akan selalu menarik.

kondisi saya yang harus berhadapan dengan salah satu "selebritis" di bidang fisika m a te r i a l , b e ke r j a s e ke ra s - ke ra s nya merupakan sebuah keniscayaan. Akan tetapi, kita tidak perlu terlalu larut dengan gaya hidup orang Jepang. Sangat penting bagi kita untuk menunjukkan jati diri kita sendiri. Kita perlu hidup seimbang dengan bermain dan bersosialisasi bersama teman-teman.Jangan lupakan pula ibadah, mengingat Allah setiap saat, ini merupakan poin terpenting agar jiwa kita tetap sehat.Banyaknya kasus bunuh diri di Jepang diakibatkan mereka tidak mengenal konsep kehidupan setelah kematian. Bagi kita yang beragama, yang percaya adanya hari pembalasan, sebaik apapun kita di dunia kalau bunuh diri hanya karena tidak tahan dengan kehidupan itu akan menghasilkan kematian yang sia-sia.

Sebagai penutup cerita singkat ini, saya Selamat berjuang menggapai cita-cita! hanya ingin menyampaikan sebuah kesan bahwa pengalaman hidup di Sendai selama 3 tahun ini telah memberikan banyak pelajaran dan juga membentuk sisi lain dari kepribadian saya agar lebih kuat dalam menghadapi hidup. Sensei saya selalu menekankan kepada saya agar selalu bekerja keras dalam situasi apapun. Pengalaman ditempa dengan cara yang keras di lab oleh sensei merupakan pengalaman tersendiri merasakan budaya orang Jepang yang terkenal dengan "kegilaan"-nya dalam bekerja, yang sulit ditemukan di negara lain. Orang Jepang sudah biasa mengutamakan kerja di atas segalanya, bahkan prioritasnya lebih tinggi dibandingkan keluarga.Dalam

17


SERBA-SERBI

pun hanya sedikit dan sangat senang ketika mendengarkan cerita

18


SERBA-SERBI

19


SERBA-SERBI

20


SERBA-SERBI

21


SERBA-SERBI

22


SERBA-SERBI

23


SERBA-SERBI

24


SERBA-SERBI

25


AGENDA PPIJ

AGENDA

PPI JEPANG

26


PETA PENGURUS

peta pengurus PPI Jepang 27


KABAR KORDA-KOMSAT

28


KABAR KORDA-KOMSAT

29


30


KRITIK & SARAN

30



Buletin Interaksi PPI Jepang - Februari 2012