Page 1

www. cosplaytheseries. com

Cosplay dan Kebanggaan Mereka BONNI RAMBATAN Cosplay: The Series

01 i


ii

Cosplay: The Series


Cosplay: The Series Cosplay dan Kebanggaan Mereka

Cosplay: The Series

iii


Lini novel remaja Plot Point: Cosplay The Series ABG di Balik Runway Blue Romance

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

iv

Cosplay: The Series


Cosplay dan Kebanggaan Mereka

Bonni Rambatan


COSPLAY: THE SERIES, cosplay dan kebanggaan mereka Bonni Rambatan Cetakan Pertama, Juni 2012 Penyunting: Gina S Noer, Arief Ash Shiddiq Perancang sampul: Teguh Pandirian, Arief Ash Shiddiq Pemeriksa aksara: Primanilla Serny Penata letak: Arief Ash Shiddiq Desain dan ilustrasi: Bonni Rambatan Diterbitkan oleh PlotPoint Publishing (Kelompok Bentang) Anggota Ikapi Jln. Puri Mutiara II No.7, Jakarta 12430 Telp. (021) 7500895 Fax. (021) 75902920 Email: info@plotpointkreatif.com http://www.plotpointkreatif.com Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) The Beginning/ Bonni Rambatan ; penyunting, Gina S Noer, Arief Ash Shiddiq—Yogyakarta: PlotPoint Publishing, 2012. vi+202 hlm; 20,5 cm ISBN 978-602-9481-15-0 1. Novel 2. Seri I. Cosplay The Series: The Beginning II. Gina S Noer III. Arief Ashshiddiq 899.221 3

Didistribusikan oleh: Mizan Media Utama Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146 Ujungberung, Bandung 40294 Telp. (022) 7815500 – Faks. (022) 7802288 Email: mizanmu@bdg.centrin.net.id Perwakilan: Jakarta: Telp.: 021-7874455, 021-78891213, Faks.: 021-7864272, Email: mmujkt@gmail. com – Surabaya: Telp.: 031-8281857, 031-60050079, Faks.: 031-8289318, Email: mizanmu_ sby@yahoo.com – Pekanbaru: Telp.: 0761-20716, 0761-29811, Faks.: 0761-20716, Email: mmupku@gmail.com – Medan: Telp./Faks.: 061-7360841,Email: mmumedan@hotmail. com – Makassar: Telp./Faks.: 0411-873655, Email: mznmks@yahoo.com – Malang: Telp./ Faks.: 0341-567853, Email: mizan_mlg@yahoo.com –Palembang: Telp./Faks.: 0711413936, mizanmu_palembang@ yahoo.co.id – Yogyakarta: Telp.: 0274-885485, Faks.: 0274-885527, Email: mizanmediautama@yahoo.com – Bali: Telp./Faks.: 0361-482826, Email: mizanbali@yahoo.com – Bogor: Telp.: 0251-8363017, Faks.: 0251-8363017 – Banjarmasin: Telp.: 0511-3252374

vi

Cosplay: The Series


Daftar Isi Prolog 1 Annisa 5 Kebanggaan Bangsa 25 Tigapuluh Hari 41 Agnesya 57 Ini Hidupmu 71 Ocha 89 Dinding Yang Kau Bangun 103 Jangan Remehkan Ketulusan Hati 117 Krisis 137 Penerimaan 153 We Are Here For You 177 Kerja Yang Bagus 183 Epilogue 191

Cosplay: The Series

vii


viii

Cosplay: The Series


Prolog

L

antai empat SMA Kebanggaan Bangsa amat jarang dikunjungi para siswa. Kelas-kelas di lantai ini kebanyakan digunakan hanya untuk menyimpan barang-barang rusak seperti perabotan yang termakan waktu dan karya-karya seni lama yang sudah tidak diminati lagi. Habis manis, sepah dibuang. Perabotan yang sudah usang ditinggalkan untuk dimakan rayap dan tugas karya seni yang sudah dinilai oleh guru ditelantarkan begitu saja. Begitulah cara teman masa kecil dilupakan. Janjijanji dikhianati. Impian bersama dikejar dengan orang lain. Waktu adalah kekuatan yang paling menyeramkan. Sukma merasa nyaman berada di lantai empat. Mungkin karena ia merasa akrab dengan berbagai barang usang yang telah dibuang, merasa nyaman dengan cara mereka mengingatkannya bahwa segala sesuatu ujung-ujungnya akan

Cosplay: The Series

1


habis termakan waktu. Mungkin karena dari sini ia dapat mengamati orang-orang yang lalu-lalang di lantai bawah, kecil seperti semut, tanpa harus diamati kembali. Mungkin karena angin kencang yang menemani kesendiriannya merupakan satu-satunya pengingat bahwa ia masih punya tujuan di dunia ini, masih punya hutang janji. Dan Sukma adalah orang yang selalu menepati segala janji. Tidak seperti Vincent. Vincent yang telah melupakan segalanya, meninggalkan janji-janji di masa lalu. Vincent yang berkhianat. “Ahahahaha!� Tawa seorang gadis badung terdengar amat keras dari bawah. Lalu terdengar gelak tawa seorang gadis feminin dan seorang gadis berambut panjang mengiringinya, disusul dengan celetukan tidak jelas dari seorang anak yang terus menggambar yang membuat tawa kelompok makin meledak, yang bahkan meledakkan tawa seorang anak yang tampak kikuk dan pemalu. Anak-anak yang sungguh ceria dalam kenaifan mereka. Plak!! Si Gadis Badung memukul Si Komikus dengan kipas kertas yang selalu dibawanya ke mana-mana, disusul tawa keras khasnya menutupi gerutu sang korban, “Ahahaha, ya, ampuuun! Ngawur bangetlah itu!� Gurauan sekelompok sahabat Vincent di bawah semakin menjadi saat lewat di lapangan bawah. Mengamati mereka sudah seperti menonton kartun Jepang saja. Jika saja Sukma tidak sedemikian membenci Vincent, pasti ia sudah tertular keceriaan mereka. Namun hidup tidak seceria itu bagi Sukma. Pemuda itu mengamati mereka dari tempat favoritnya di pagar lorong lantai empat. Jauh. Seorang diri. Sukma mengamati sumber berisik itu. Diam-diam dia sudah hafal mereka; Ocha, gadis badung yang mendirikan klub

2

Cosplay: The Series


cosplay bersama Vincent. Agnesya, gadis feminin penyuka renda-renda yang impiannya terus didukung oleh Vincent. Eka, komikus handal mesum yang dikagumi Vincent. Bagas, anak kikuk yang selalu dibantu Vincent dalam ketidakpercayaan dirinya, dan Annisa. Annisa, gadis cantik berambut panjang dari kelas sebelah yang baru beberapa bulan lalu masuk klub cosplay, namun seketika mendapat kepercayaan besar dari Vincent karena bakatnya untuk menyatukan tim dengan ideide brilian dan energi positifnya. Sejujurnya, Sukma tidak membenci mereka dan sekian banyak anggota lain klub cosplay tersebut. Mungkin ia dan seluruh klub itu memang kerap dikatakan musuh bebuyutan. Mungkin rencana-rencana Sukma benar-benar akan mengguncang dan menyakiti mereka. Namun ia sekedar menjalankan apa yang menurutnya benar. Dan ia tidak akan membiarkan apapun merusak rencananya. Ya, rencananya. Angin kencang terasa lebih dingin dari biasanya pagi hari ini, sedingin jiwanya. Mungkin ia baru tujuh belas tahun, namun ia tidak akan membiarkan hal itu menjadi alasan bahwa ia terlalu muda untuk memegang teguh prinsip hidupnya, mempertanggungjawabkan janji-janjinya di masa lalu. Ia tidak akan berhenti, tidak walaupun dunia menentangnya. Ia sudah menyaksikan terlalu banyak. Sukma tidak menyalahkan mereka yang membencinya. Entah bagaimana pandangan mereka, entah apa yang telah diceritakan Vincent tentang dirinya, Sukma tidak tahu dan tidak mau tahu. Apapun yang didengar orang, Sukma tahu bahwa Vincent terlalu pengecut untuk jujur pada mereka. Terlalu pengecut untuk mengemban tanggung jawab yang sudah seharusnya diembannya. Sukma tidak peduli apakah teman-teman Vincent kini

Cosplay: The Series

3


mengetahui kebenaran atau tidak. Bukan itu tujuannya. Mungkin justru lebih baik mereka tidak tahu daripada terlibat terlalu dalam. Tujuannya hanya satu: memenuhi janjinya pada Nina. Sebentar lagi semuanya akan berubah. Harus berubah—mungkin tidak dengan sendirinya—namun segala macam argumen yang telah disampaikannya pada Ibu Kartini dan orang-orang penting lainnya pasti didengarkan. Ia yakin itu. Pemuda penyendiri itu memainkan lima ratus perak di tangannya, memindah-mindahkannya dari satu sela jari ke yang lainnya. Senyum kecil kemenangan tampak di wajahnya, pandangannya lurus menatap langit cerah di pagi hari berangin itu. Kamu tidak bisa lari selamanya, Vincent.

4

Cosplay: The Series


1

Annisa

L

angit biru tampak secerah wajah gadis berseragam sailor itu. Gadis itu berjalan di tengah hutan, memandangi pohon, sungai, dan langit. Seragam biru menghiasi sosok yang ramping, pita birunya serasi dengan mata yang lebar, penuh dengan impian. Ia berjalan perlahan, meninggalkan tenda kuningnya dan menjelajah hutan, senyuman terus terpasang di wajahnya. Tak lama kemudian Sang Gadis menemukan sebuah rumah tradisional Jepang yang tampak amat tenang di tengah hutan. Ia berjalan mendekat, tas sekolah dipegangnya di depan kedua pahanya saat ia penasaran mengintip ke dalam. Dengan hati-hati ia melihat sekeliling... dan tokoh utama anime Fruits Basket itu membeku di tengah langkahnya karena yang menonton tiba-tiba memencet tombol pause. Annisa menoleh pada cermin dan mencoba memasang

Cosplay: The Series

5


senyuman tanpa dosa seperti Tohru Honda yang kini sedang membeku di layar. Gadis kelas dua SMA ini memainkan ujung rambutnya yang hitam panjang di antara jari-jarinya. Beberapa kali dia coba hingga senyumnya pas seperti Tohru Honda. Lumayan bisa, kok. Dulu waktu pertama kali cosplay tokoh itu kenapa malah terlihat sinis, yah? Annisa menjangkau minuman sodanya, namun sodanya sudah habis. Minuman itu tinggal manis saja rasanya, tidak enak. Kadang, hal yang terlalu manis memang tidak enak. Hidup itu indah karena penuh perjuangan, manis karena ada pahit. Annisa sudah tujuh belas tahun lebih kini. Kini, pertanyaan tentang “Siapa dirinya?” mulai terus merasuk di hidupnya. Kadang saat dia sedang bercermin di pagi hari, kadang saat dia sedang memandang butir debu di sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela kelasnya. Kadang pikiran itu hilang, namun makin sering muncul setiap dirinya menatap orang-orang asing yang dia lihat di jalan. Jika Annisa tinggal dalam dunia anime, mungkin ia sudah berlayar ke laut lepas sebagai bajak laut atau paling tidak bersepeda seorang diri ke tepi pantai, melamunkan makna hidup dan kebebasan. “Annisa! Udah jam berapa ini? Ayo, tidur sana! Masih nonton kartun aja kamu, besok, kan, sekolah pagi.” “Iya Ma, ini terakhir, deh, bentar lagi selesai.” Lamunannya rusak lagi, deh. Huuh. “Kamu ini nonton kartun apa, sih, kok, asik banget?” Tanpa peringatan, Si Mama yang penasaran saja ini sudah mengambil tempat persis di sebelahnya. Mama sudah hendak tidur rupanya, mengenakan daster bunga-bunga khas ibu-ibu yang dikoleksinya untuk baju tidur. Daster itu jauh lebih jujur jika disuruh bicara tentang usia ibunya yang sudah empat puluhan. Tanpa daster, ibu Annisa

6

Cosplay: The Series


lebih mirip kakak, dengan wajah awet muda yang amat mirip dengannya, namun dengan rambut sebahu dan postur yang lebih pendek dan berisi daripada Annisa yang kurus tinggi. Mata, alis, dan struktur wajah mereka hampir persis, senyum mereka amat mirip namun bibir Mama lebih berisi dari bibir tipis Annisa. Wajah dan perangai Mama yang hampir selalu segar bugar sama sekali tidak menunjukkan statusnya sebagai orangtua tunggal dari dua orang anak remaja. Mama pasti bisa jadi Tohru Honda, pikir Annisa. “Eh, ini bajunya kayak bajumu yang waktu itu, yah?” Mama tiba-tiba menyeletuk, mengintip laptop Annisa. “Iya Ma, kan, waktu itu aku emang cosplay-in dia,” Annisa bangkit dan duduk di sebelah ibunya. Dia sendiri memilih untuk mengenakan baju usang dan celana pendek saja di waktu tidur, jangan sampai daster ibu-ibu. Naudzubillah. “Iya, di klub cosplay itu sebenarnya ngapain, sih, kamu sama temen-temen itu? Pakai baju kayak di kartun-kartun gini ini, yah?” “Ya, kayak yang pernah kubilang, Ma. Intinya kita berkostum ‘gitu, tapi kita juga harus belajar mendalami karakter, sifat dan gerak-geriknya. Entar difoto atau ditampilin di kabaret ‘gitu.” “Terus, buat apa cosplay ‘gitu?” “Ya, biar senang, dong, Ma!” Annisa menjawab spontan dan langsung menyesalinya. “Oh, jadi senang-senang aja?” Mama menyeletuk. Tuh, kan. “Ya, enggak. Gini, Ma. Di cosplay itu aku bisa belajar bikin baju, make-up, hairstyling, properti panggung, seni peran, editing musik, lengkap, deh!” Annisa yakin sudah pernah menjelaskan hal ini sebelumnya ke ibunya, namun pasti beliau sudah lupa lagi.

Cosplay: The Series

7


“Macam-macam aja, ya.” Mama lagi-lagi menganggukangguk, entah apa maksudnya. Annisa merasa sepertinya Si Mama masih akan lebih setuju jika ia mengambil ekskul Paskibra atau yang lain. Ekskul yang bisa dibanggakan pada tetanggalah. “Hati-hati aja ya, kalo ada event atau apa gitu, sekarang suka banyak ada yang protes, lho, kalau budaya luar,” tambahnya, baru teringat. “Ya, udah, habis ini tidur, lho, ya,” kata ibu paruh baya itu kalem sambil beranjak dari kasur. “Jangan lupa sikatan.” Suaranya netral, sedikit pasrah mungkin. “Ya, Ma!” “Ntar kalo cosplay lagi kasih tahu Mama, yah. Kamu cantik kemarin pakai baju biru itu!” Tanpa Annisa sangka, Si Mama menambahkan pujian di ambang pintu, terus berjalan tanpa membalikkan badan. Apresiasi sambil lalu. “Ya, Ma,” Annisa tersenyum. Setidaknya ibunya berusaha memahami dan mendukungnya walau tidak terlalu mengerti dan bahkan tidak terlalu setuju sepenuhnya. Untuk Annisa itu sudah lebih dari cukup. Namun segera ia teringat sesuatu dan senyum Annisa memudar secepat ia datang. Cosplay lagi? Entah kapan Annisa bisa cosplay lagi, atau bahkan apa Annisa masih bisa cosplay lagi. Dengan ancaman pembubaran kelompok ekskul Q-Cosushinkai Cosplay Club di sekolahnya, Annisa benar-benar tidak yakin. Di kota kecil tempat tinggalnya, tidak ada yang kenal cosplay. Kalaupun ada, sedikit sekali yang berminat. Annisa makin bingung, kalau tidak lagi didukung sekolah, mana boleh ia dan temanteman patungan untuk menyewa mobil untuk pergi sekian puluh kilometer ke Bandung atau Jakarta? Pasti bisa, sih, kata teman-temannya setiap kali bertemu setelah pengumuman pembubaran itu. Annisa ingin percaya itu, tapi diam-diam ia rasa tidak ada seorang pun temannya

8

Cosplay: The Series


yang benar-benar percaya semuanya akan baik-baik saja. Annisa menghela nafasnya. Padahal baru saja ia bergabung dengan klub cosplay-nya tidak sampai dua bulan lalu. Fruits Basket adalah cosplay pertamanya yang benarbenar diseriusi, masa sekarang sudah harus berhenti cosplay? Mau diapakan wig-wig, kain, busa ati dan lensa kontak itu jika ia tidak untuk menyelesaikan proyek-proyek cosplay yang direncanakannya hingga akhir? Annisa memandangi layar laptopnya yang masih di-pause. Fruits Basket. Kisah tentang gadis yang merasa menjadi sepotong onigiri di dalam sekeranjang buahbuahan, terlempar dalam situasi yang bukan tempatnya. Di Jepang, “Fruits Basket” merupakan permainan di mana setiap anak diberi nama buah-buahan. Tohru Honda yang polos diberi nama “onigiri” dalam permainan tersebut, tidak sadar teman-temannya sedang jahat padanya dan sengaja menjulukinya nama yang bukan buah-buahan agar dia tidak bisa ikut bermain. Namun Tohru bukannya bersedih atau dendam— karena tempat manusia di dunia ini bukan ditentukan oleh siapa atau dari mana dirinya, apa ia buah atau nasi kepal, namun apa yang dilakukannya bagi orangorang yang dikasihinya. It’s okay to be different. Ia rasa itu alasannya masuk dunia cosplay. Mungkin itu yang ingin diteriakkannya dengan wig dan lensa kontak warna-warni itu: bahwa menjadi sekepal nasi di antara masyarakat yang mengharapkan buah-buahan bukanlah hal yang terlalu buruk. Kini, haruskah ia melepaskan dunia penuh hasrat yang baru saja ia temukan itu demi kembali mencoba menjadi buah dalam keranjang?

Cosplay: The Series

9


Annisa sedang gelisah. Sekolah sudah menjatuhkan vonis: Klab cosplay-nya akan dibubarkan. Vincentsenpai Sang Pendiri dengan wajah bishonen-nya, Ocha Sang Ketua dengan kipas kertas dan keceriaannya, Agnesya Sang Lolita dengan renda dan aksesori-aksesori lucunya, Eka Sang Komikus, Bagas Sang Ksatria Baja, mereka sudah jadi sebuah keluarga. Lalu, mereka harus pisah begitu saja? Mereka jelas harus berjuang. Mengalah bukan pilihan. Mereka harus menghadapi pihak sekolah, meyakinkan keluarga, tapi pertama mereka harus bisa menjawab pertanyaan yang lebih penting: Apa arti cosplaying bagi diri mereka masing-masing?

9786029481150 NOVEL REMAJA PL-001

“Saya suka banget sama COSPLAY: The Series, karena serial ini merupakan serial web pertama di Indonesia yang rutin dan konsisten! Kalo ada novelnya gini pasti berasa nonton serialnya tanpa buffering!” -- Dennis Adishwara (produser dan showrunner Indonesia) “COSPLAY: The Series ini merupakan kerja yang sangat kreatif, amat bisa mempromosikan cosplay Indonesia ke luar negeri.” -- Pinky Lu Xun (cosplayer senior Indonesia) “Latar belakang tiap karakternya benar-benar impresif. Saya tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya!” -- Hikari Green (cosplayer Jepang ternama)

10

This episode made me cry. My parents are the same way. They don't like the the fact that my husband & I are cosplayers even tho we have our own home. I don't care what my parents think, this is who we truly are. --SexyNoJutsuGaara, komentar untuk Web Episode 3 Cosplay: The Series

Jln. Puri Mutiara II No.7, Jakarta 12430 Telp : (021) 75902920 Email : info@plotpointkreatif.com www.plotpointkreatif.com PlotPoint @_PlotPoint

Cosplay The Series: Cosplay dan Kebanggaan Mereka  

“Cosplay The Series: Cosplay dan Kebanggan Mereka" adalah adaptasi dari serial web yang fenomenal di youtube, serial Cosplay The Series. Nov...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you