Issuu on Google+

Kekayaan dan keragaman sumber daya genetik pangan lokal pada dua wilayah kabupaten yang berbeda kultur budayanya di Propinsi Jawa Timur Sudarmadi Purnomo, Saiful Hosni,Ali Ari Widodo, Thohir Zubaidi, Didik Harnowo, Handoko, M. Cholil Mahfud dan Bambang Pikukuh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur Jln. Raya Karangploso Km 4, Malang, Jawa Timur, 65152 Abstrak Praktek budidaya dalam pertanian beragam terpadu, baik di pekarangan maupun luar pekarangan rumah, dan telah lama dilakukan oleh petani dapat menjadi alat pemantau status kekayaan dan keragaman sumber daya genetik tanaman pangan lokal (SDGTPL) lapangan. Makalah ini menjelaskan perubahan kekayaan SDGTPL dan nilai keragamannya yang terjadi di dua wilayah kabupaten di Propinsi Jawa Timur, yaitu Sumenep dan Tuban. Masyarakat kedua kabupaten ini memiliki budaya yang berbeda, yaitu budaya Madura untuk masyarakat wilayah Sumenep dan budaya Pesisir untuk wilayah kabupaten Tuban. Penelitian telah dilaksanakan mulai Januari 2013 sampai dengan Juni 2013, menggunakan metode survai dengan sasaran 23 responden rumah tangga yang memiliki luas lahan pekarangan dan lahan luar pekarangan rumah antara 450 m2 – 8.500 m2 untuk masing-masing kabupaten. Pemilihan lokasi sasaran rumah tangga secara acak agar mewakili representasi budaya masyarakat dan keragaman ekologi dari wilayah kabupaten yang bersangkutan. Analisis diversitas SDGTPL menggunakan pendekatan Indeks Shanon (H’) dan tingkat kemiripan struktur spesies menggunakan besaran koefisien Sorenson (SC). Hasil penelitian menyatakan bahwa jumlah spesies dan aksesi SDGTPL pekarangan dan luar pekarangan rumah berturutturut 57 species terdiri dari 165 aksesi untuk wilayah kabupaten Sumenep, dan 51 spesies dengan 113 aksesi untuk wilayah kabupaten Tuban. Kekayaan SDGTPL di kedua wilayah ini turun sekitar 22,3% - 35,8% jika dibandingkan dengan kondisi 5-10 tahun yang lalu. Penurunan jumlah spesies yang besar terjadi pada kelompok pangan lokal penyedia karbihidrat dan sayuran. Indeks Shanon (H’) yang dihitung dalam lima kelompok tanaman pangan, yaitu tanaman pangan kelompok penyedia karbohidrat, tanaman pangan kelompok buah-buahan, tanaman pangan kelompok sayuran dan tanaman pangan kelompok biofarmaka dan kelompok tanaman industri dari masing-masing wilayah kabupaten ada pada kisaran 2,1 – 3,0 kecuali untuk kelompok tanaman industri yang indeksnya dibawah kisaran tersebut. Diversitas SDGTPL di kedua wilayah kabupaten termasuk sedang, kecuali dari kelompok tanaman industri yang divesitasnya sangat rendah. Indek Equalibility (EH) tanaman pangan kedua wilayah kabupaten mendekati nilai 1, menunjukkan tingkat pemerataan spesies antar rumah tangga dalam wilayah yang relatif sama. Nilai koefesien Sorenson (SC) tidak ada yang mendekati 1, maknanya kekayaan SDGTPL kedua wilayah tidak memiliki kesamaan struktur species. Ini menjadi indikator bahwa budaya masyarakat setempat menentukan macam kekayaan dan ragam SDGTPL, budaya masyarakat Madura lebih menyukai mengelola SDGT pangan bersumber vitamineral, bumbu masak dan empon-empon daripada masyarakat kultur budaya pesisir Tuban yang lebih menyukai mengelola SDGT pangan penyedia karbohidrat. Kata kunci : indeks diversitas, sumberdaya genetik, tanaman pangan lokal, pekarangan, kultur budaya


Richness and Diversity of Genetic Resources of Local Food in Two Districts with Different Culture in East Java Sudarmadi Purnomo, Saiful Hosni, Ali Ari Widodo, Thohir Zubaidi, Didik Harnowo, Handoko dan Bambang Pikukuh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur Jln. Raya Karangploso Km 4, Malang, Jawa Timur, 65152 Abstract Cultivation practices in a diverse and integrated agriculture, both in the yard or outside the yard, has long been done by farmers, and can be used as status monitor of richness and diversity of plant genetic resources of local food (SDGTPL) in the field. This paper describes changes of SDGTPL richness and diversity values occurring in two districts in East Java Province, namely Sumenep and Tuban. Communities of these districts have a different culture namely the culture of Madura in Sumenep and Coastal culture in Tuban. The research was conducted from January 2013 to June 2013, using the survey method targeting 23 households who have land outside the yard and the yard area between 450 m2 - 8500 m2 for each district. Random selection of households’ location was to represent the cultural and ecological diversity of the district concerned. SDGTPL diversity analysis approach Shannon Index (H '), while the degree of similarity in the structure of the species using Sorenson scale coefficient (SC). The study found that the number of species and accession of SDGTPL in and outside house yard were 57 species comprising of 165 accessions in Sumenep district, and 51 species comprising of 113 accessions in Tuban district. The SDGTPL richness in both regions decreased about 22.3% - 35.8% compared to the conditions of 5-10 years ago. Large decrease in the number of species occurred in the local food group of carbohydrate providers and vegetables. The Shannon index (H') calculated for five groups of food crops, namely carbohydrates provider group, fruit group, vegetable group, medicinal group and industrial groups from each district is in the range of 2.1 to 3.0 except for a group of industrial plants whose index below that range. SDGTPL diversity in both districts is categorized as medium, except from the industrial group whose diversity is very low. Equitability indexes (EH) of crops in the two districts were close to the value of 1, indicating that the level of species distribution between households in the region is relatively the same. There was no Sorenson coefficient (SC) close to 1, meaning that the richness of SDGTPL of the two regions does not have same structure of species. It's an indicator that the culture of the local community determines the type of SDGTPL richness and diversity. Madurese culture is more like managing SDGT of vitamineral sourced food; spices and empon-empon than coastal communities Tuban culture that prefer to manage SDGT of carbohydrate providers’ food. Keywords: diversity index, genetic resources, local food crops, backyard, community culture.


02 abst kekayaan dan ragam sdg bptp jatim