Page 1

#PetaX

Indonesia Dari Atas Sepeda RANGKAIAN PETA KECIL: JAWA BARAT | 26 JANUARI - 06 FEBRUARI 2011


(X) dalam apapun melambangkan sesuatu yang belum diketahui, baik secara keseluruhan maupun buram. Kata umum menggambarkan situasi ini adalah ‘ambigu’. (#PetaXŽ), suatu peta perjalanan yang berupa titik-titik tidak jelas dengan informasi terkait yang terbatas. Tidak diketahui pula bagaimana menuju titik-titik tersebut dan garis penghubung untuk membuatnya menjadi sebuah pola...


suppor ted by:

#PetaX e-book Indonesia version: http://sepedaku.com/petax_ind #PetaX video: http://sepedaku.com/petaxvideo

01


Sepedaku.com difasilitasi Polygon, dan keseluruhan inti cerita yang dihasilkan juga disuarakan oleh Trax Magazine di edisi Maret 2011. Menggandeng pula Yayasan Tunas Cendekia, sebuah lembaga nirlaba berkonsentrasi ke pendidikan anak yang ketika pada perjalanan ditemukan sekolah atau sarana pendidikan terkait yang memerlukan pembenahan, bisa langsung ditinjau untuk diupayakan mendapat bantuan. Perjalanan ini diadakan sebagai bentuk dokumentasi sederhana tentang bagian kecil Indonesia dari atas sepeda, sama sekali bukan bentuk kegiatan mencari keuntungan. Perjalanan ini juga sama sekali jauh dari tujuan egosentris individu, pula bukan bermaksud mengajari bagaimana seharusnya perjalanan dilakukan, karena rekan-rekan semua dipastikan banyak yang memiliki kemampuan jauh dibanding tim yang diberangkatkan. Dengan menggabungkan sepeda, pandangan tanpa batas dan dengan maksud yang dalam, pasti selalu ada nilai cerita yang mengesankan, bahkan pada sebuah situasi yang sangat sederhana. Rute yang dekat, tidak menyeberangi lautan dan selat, hanya sebagian kecil Jawa Barat sampai dengan batas Jawa Tengah. Transportasi pun tidak hanya sepeda, tapi menggabungkan transportasi darat yang ditemui, tergantung kebutuhan di lapangan. Dengan kedekatan tersebut, masihkah kita kenal nama lengkap tetangga yang jaraknya hanya beberapa depa saja dari jendela, saat seluruh dunia dihubungkan media?

...setelah sebelumnya Sepedaku.com memfasilitasi sejumlah pesepeda pada #semak10 dengan hasil berupa e-book sederhana, http://sepedaku.com/semak10 dan video dokumenter perjalanan. Kali ini kegiatan sejenis akan kembali diulang...

02


“...menggabungkan sepeda, pandangan tanpa batas dan dengan maksud yang dalam, pasti selalu ada nilai cerita yang mengesankan, bahkan pada sebuah situasi yang sangat sederhana...� 03


Velodrome, ‘Rumah’ Bagi Pesepeda • Jakarta, 26 Januari 2011 •

04


PERJALANAN #PetaX dimulai dari Jakarta bagian timur Velodrome, stadion balap sepeda. Diresmikan pada era gubernur Ali Sadikin pada 20 Maret 1973 kini telah hampir rampung bebenah diri untuk persiapan Sea Games tahun ini. Pembenahan ini didasari inisiatif Wahyudi yang ‘ngotot’ meminta pemerintah untuk bebenah. Berdasar pemantauan lapangan, tinggal lintasan saja yang belum mendapat sentuhan. “Katanya sih pertengahan bulan Februari” kata Andri Prawata, salah seorang atlet balap sepeda Jakarta lapis pertama. Sudah sejak lama sebetulnya Velodrome berfungsi sebagai ‘hotel’ bagi para pesepeda, atau sebut saja tempat persinggahan bagi pesepeda siapapun itu untuk sekedar berkunjung, atau bahkan bermalam. Kebenaran tentang ini bisa ditanyakan langsung kepada para atlet sepeda di seluruh Indonesia, juga ditegaskan Wahyudi, pelatih ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Jakarta, “Ini rumah bagi semua pesepeda, asalkan mau ikut berkelakuan baik, berniat baik, silahkan saja, toh kita semua bersaudara” imbuhnya. Atas dasar itulah tim #PetaX numpang bermalam disini.

Keseharian Di Velodrome MALAM ini #PetaX tiba di tempat bertepatan dengan para atlet balap sepeda bersiap makan malam. Makanlah bersama mereka di sebuah mall dengan makanan yang bebas mereka pilih. Idealnya baik jam makan dan pehitungan kandungan sangat mereka perhatikan. Itu bila bicara ideal, namun kenyataan tidak berkata demikian saat dana makan saja amat sangat terbatas, cukup untuk harga warung pinggir jalan, bahkan masak seadanya. Tidak usah dulu bicara vitamin tambahan berkualitas yang hingga kini masih harus import. Dengan gaji tidak sampai 2 juta bagi atlet lapis pertama, tidak masuk perhitungan matematis sama sekali bila nilai sebesar itu harus pula dibelanjakan untuk makanan berkualitas ditambah vitamin, disamping kebutuhan utama mencukupi keperluan sehari-hari bagi yang telah berkeluarga, kuliah. Terkecuali Alvin, yang baru saja mencicil sebuah sepeda seharga 50 jutaan, lainnya tidak satupun memiliki sepeda layak dilombakan, semuanya pinjaman. Sepeda milik ISSI Jakarta sendiri hanya layak dipergunakan untuk latihan sehari-hari, itupun dengan part kanibal. Itu sepeda, jersey dan bike pants saja mengandalkan bekal balapan beberapa waktu lalu.

“...ini rumah bagi semua pesepeda, asalkan mau ikut berkelakuan baik, berniat baik, silahkan saja, ‘toh kita semua bersaudara...* ~ Wahyudi, pelatih ISSI Jakarta ~

05


“... kami prajurit, harus selalu siap dengan kondisi apapun... “ ~ Atlet ISSI Jakarta ~

Raja Sapta Oktohari, yang baru saja ditetapkan sebagai ketua ISSI Jakarta berjanji untuk tidak diam melihat kenyataan seperti itu, “Tidak pantaslah bagi sekelas ibukota negara, Jakarta atletnya tidak diperhatikan. Tunggu saja beberapa waktu ke depan, from zero to super hero!” tegasnya. Anak-anak sendiri, tiada patah semangat dengan kondisi serba terbatas seperti itu. “Kami prajurit, harus selalu siap dengan kondisi apapun” ungkap mereka kepada #PetaX di sela sarapan setelah latihan.

Retorika Balap Sepeda Indonesia BILA melihat kenyataan yang ada pada kehidupan para pembalap sepeda di Indonesia secara umum, Jakarta khususnya, kondisi tidak berbeda jauh dengan di kota-kota lainnya. Masyarakat dibawa media dan pasar pada salah satu cabang olah raga saja, sementara lainnya masih banyak. Cukupkah dengan teriakan “kami dukung!” atau prihatin? jawabannya “tidak”. Diperlukan sinergi antar pihak terkait dengan proses berkelanjutan. Komunitas dan

06

klub-klub kecil merupakan ladang bibit unggul, selanjutnya pemerintah merupakan payung kebijakan, swasta merupakan pendukung, dalam artian riil sumber dana mencukupi anggaran pemerintah, dan masyarakat sebagai pemantau berdasar informasi obyektif yang disampaikan media. Simak di salah satu thread di forum sepedaku.com, http://bit.ly/fBxMJl tentang PSN (Polygon Sweet Nice) yang meng-klaim telah ‘diganjal’ PB (Pengurus Besar) ISSI sehingga dikhawatirkan tidak dapat mengikuti pertandingan skala Internasional yang sebentar lagi berlangsung yang hanya disebabkan faktor sederhana yaitu birokrasi taktis (administratif ) yang seharusnya bisa ditengahi dengan komunikasi intens, atau mediator bila perlu. Seperti halnya pada sepak bola dan cabang lainnya, bangga bukan bila cabang balap sepeda baik on road, track, MTB, BMX bisa berprestasi di kancah internasional dan atletnya sejahtera? Semoga velodrome tidak lantas menjadi velodoom, meski besar kemungkinan begitu bila didiamkan begitu saja.


Terbatas? Jangan Ngojek, Ajak Saja Jek • Garut, 27 Januari 2011 •

07


PERJALANAN dilanjutkan menuju Bogor, Sukabumi, Bandung kemudian akhirnya tiba di Garut 27 Januari 2011. Di kota ini #PetaX bermalam di rumah Rizky Anugrah a.k.a Jek, (Pembalap sepeda jalan raya lapis dua ISSI Jakarta), dan besoknya #PetaX mengajak Jek ikut serta dalam perjalanan ini, dan Jek pun mengiyakan tawaran kami. Esok hari, sekitar jam 09.00 kami berangkat dari rumah Jek, Desa Cibunar, Garut untuk menuju arah Pamengpeuk. Menapaki aspal, jalan kampung hingga perbukitan. Setelah sekitar 60KM kami bersepeda melewati jalanan yang sebagian besar tanjakan dan hampir sepanjang perjalanan itu melewati lokasi sepi yang berdinding bukit dan hutan lebat berbatas jurang, #PetaX terpaksa harus menghentikan kayuhan karena kabut tebal dan hujan turun dengan derasnya ketika memasuki Gunung Gelap.

Cerita Warung Kopi Gunung Gelap SEBUAH warung kopi di pinggir jalan, menjadi tempat kami untuk beristirahat dan berteduh. Sembari ngopi berselimut sarung menahan hembusan angin dingin, kami mendengar obrolan dari sekumpulan bapak-bapak di sebelah dan nampaknya disayangkan bila hanya diam menguping. Akhirnya kami nimbrung menjadi pendengar isi pembicaraan mereka. Adalah Yayat seorang Babinsa (Badan Pembina Desa), dan dilanjut keikutsertaan Cecep dan Eman yang keduanya adalah petugas perhutan, mereka bercerita…

• Kecamatan Baru Bernama Cihurip KECAMATAN ini adalah hasil dari pemekaran, yang terdiri dari empat desa dan baru berdiri sejak 10 tahun lalu. Yayat dengan bangga bercerita bahwa Cihurip merupakan satu-satunya kecamatan di Kabupaten Garut yang memiliki hari jadi. “Silahkan, siapapun untuk datang, hari senin, 31 Januari ini kami akan mengadakan syukuran ulang tahun kecamatan Cihurip” ajaknya dengan sumringah. ”Ci” dalam bahasa Sunda berarti “air” dan “hurip” adalah “hidup”, penjelasan berdasar etimologi sederhana berarti “air kehidupan”. Bila dikaitkan dengan nama “Cihurip”, mungkin memiliki korelasi, beberapa aliran air deras yang mengalir dari mata air perbukitan melalui celah cadas dimanfaatkan sebagai sumber air minum penduduk sekitar kampung Gunung Gelap. Warung yang kami singgahi kebetulan mendapat pasokan listrik dari kincir angin sungai Cilimbung dengan dinamo sederhana yang dibuat secara mandiri oleh penduduk. Aliran listrik ini juga sampai ke salah satu desa di pelosok perkebunan, Desa Mekarwangi. Kembali menurut Yayat, “Sudah kami ajukan ke PLN untuk dialiri listrik, namun hingga kini belum juga ditanggapi”

08


“ ...perlu hutan untuk berlindung, baik bagi kami ataupun bagi penduduk, tidak usah banyak menyesali kesalahan sistem kemarin yang membiarkan Gunung Gelap menjadi gundul... “ ~ Yayat, Badan Pembina Desa ~

• Gunung Gelap Kembali ‘Digelapkan’ ”Kami tentara, perlu hutan untuk berlindung, baik bagi kami ataupun bagi penduduk. Tidak usah banyak menyesali kesalahan sistem kemarin yang membiarkan Gunung Gelap menjadi gundul, tapi ada baiknya berpeluh bekerja semaksimal mungkin kedepannya seperti apa” cerita Yayat, tentang Gunung Gelap. Dia telah lama diperintahkan langsung oleh komandan untuk menghijaukan kembali Gunung Gelap dengan menanam pohon mudah tumbuh dalam waktu singkat. Selain itu, bekerja dengan Perhutani setempat, sejak lama areal hutan yang ditumbuhi pinus telah menggandeng serta masyarakat untuk menjaga sekaligus menghasillkan uang bagi tenaga kerja lokal. Apa yang mereka lakukan?... menjadi penyadap getah. Kurang lebih terdapat 110 hektar hutan pinus tersebar di lima daerah, dengan perincian: Gunung Wiru 25ha, Gunung Lutung 90ha, Cibeureum 15ha, Cipasung 5ha, dan Ciawi 15ha. Satu orang warga diberikan tanggung jawab mengelola pohon pinus tersebut seluas 5 hektar dan diberikan hak sadap getah untuk kemudian dijual kepada perhutani setempat. Dari cara seperti ini, minimal 1,5 juta perbulan didapatkan oleh

satu penduduk tersebut. Bukan nilai kecil bagi daerah Cihurip. Tugas Perhutani juga menjadi lebih mudah, karena dipastikan penyadap pinus akan dengan sepenuh hati turut menjaga kelestarian pepohonan tersebut. Masalah tenaga kerja dan tenaga ahli kini yang sedikit menemui masalah dilapangan. Perhutani, Babinsa dan pihak Kecamatan berharap agar pengelolaan pinus tersebut berada di tangan masyarakat lokal, sebagai salah satu upaya mengurangi pengangguran. Mereka menyayangkan, bahwa area Cipasung dan Ciawi masih dikelola warga pendatang. Selain itu masalah pelatihan, meski sudah berjalan di periode sebelumnya, mereka berharap agar diadakan kembali pelatihan pemeliharaan pinus dan cara penyadapan getah yang baik agar mendapat hasil optimal dan kualitas sesuai dengan standar pasar. Lebih bagus bila ada pihak investor yang berani membuka pabrik pengolahan di Cihurip, hingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi tambahan untuk menjualnya ke Bandung. Tepat pukul 16.00, ditengah udara sedingin puncak Bogor dibawah hujan deras dan jalanan licin berkabut tebal, kanan kiri landscape sawah yang jauh lebih indah dari Tabanan-Bali dengan berat hati harus dilewatkan. #PetaX melanjutkan perjalanan munuju Cikelet atau setidaknya manjelang malam sudah bisa sampai di Pamengpeuk.

09


Si Pirang Dari Kanada Kampung Ciawi Tali, Desa Dukuh, Cisompet • 28 Januari 2011 •

10


NIATAN awal bermalam di daerah Cikelet atau setidaknya Pameungpeuk dihentikan panggilan alam bernama lapar, dia datang lebih cepat, tenaga kami habis ‘dimakan’ untuk menahan dingin perjalanan. Dalam kondisi basah kuyup #PetaX berhenti di sebuah warung sederhana Kampung Ciawi Tali untuk menginap sambil beristirahat dan memulihkan tenaga, nasi timbel berbungkus daun pisang berlauk ayam goreng sederhana berpindah kedalam perut hanya dalam tempo singkat. Sesaat kemudian, ditengah hujan, tampak beberapa anak muda berambut pirang berbahasa Inggris berjalan dan masuk ke sebuah rumah. Timbul penasaran, karena jelas Desa Dukuh ini bukanlah daerah wisata meski memiliki pemandangan luar biasa dan cukup jauh dari Pameungpeuk. Ternyata para pemuda-pemudi berambut pirang itu menempati salah satu rumah Ibu pemilik warung. Selepas magrib, diantarkanlah #PetaX menemui mereka.

Pertukaran Pemuda Antar Negara

“... disini roda kehidupan berjalan pelan, benar-benar menikmati hidup...” ~ Raphaelle ~

EMY yang menyambut kami agak sedikit menunjukan raut muka curiga saat ditengah gerimis kami duduk di ruang tamu. “Ah pemuda-pemuda iseng” mungkin itu dalam benaknya. Namun suasana menjadi cair begitu kartu pengenal dan sticker #PetaX dikeluarkan serta diberikan sedikit paparan. Dimotori Menpora, terdapat 20 pemuda pemudi dari Canada telah satu bulan berada di kampung Ciawi Tali ini. Selama tiga bulan, mereka belajar tentang apapun, dari bertanam padi, tari, hingga mengajarkan Bahasa Inggris di sekolah setempat. Raphaelle, 23 tahun dari Montreal mengatakan bahwa dia kerasan berada disini, “Beda jauh cara hidup warga sini dan ditempat saya. Disini roda kehidupan berjalan pelan benar-benar menikmati hidup, sementara di Montreal, waktu berasa kurang dan semua proses bergerak cepat. Kedepannya saya pastikan akan kembali berkunjung kembali kesini dan mengajak serta yang lain, well, meski agak kesulitan masalah toilet” ungkapnya. Keesokan paginya, #PetaX diundang mengunjungi mereka di balai desa untuk melihat mereka berlatih Jaipong dan kegiatan-kegiatan lainnya. Setelah mengikuti beberapa kegiatan mereka, kami berkemas untuk segera melanjutkan perjalanan. Seusai dari Kampung Ciawi Tali, #PetaX melanjutkan perjalanan menuju Pamengpeuk, pantai dengan pasir putih, ombak tinggi dan masih alami, tidak kalah dengan keindahan Pantai Kuta. Di titik 0 mdpl, kami melepas lelah, berleyeh-leyeh di beberapa pantai sekitar Pameungpeuk, pantai Sayang Heulang, Ranca Buaya dan Rantolo. Setalah memutuskan untuk masuk 20KM ke perbukitan di ketinggian 400mdpl. Jalanan kampung makadam menanjak berliku, sepi. Hamparan perbukitan jelas tampak di sisi kanan kiri jalanan kampung, namun sayang, hampir semua gundul, hanya beberapa jenis pohon yang di dominasi oleh pohon jati muda saja. Tapi terik tapi segar udara khas pegunungan lumayan mengurangi kebosanan.

11


Pantai Pamengpeuk • 28 Januari 2011 •

12


13


Kampung Dukuh • 29 Januari 2011 •

14


Kampung Dukuh Sebagai Maket Indonesia SABTU, 29 Januari 2010, 30 menit sebelum Ashar, #PetaX tiba di Kampung Dukuh, kami disambut oleh anak-anak yang berlari mendekat lantas berkerumun tanpa diundang, “Aya pit alus yeuh, kadieu barudak!” (“Ada sepeda bagus nih, kesini anakanak!”), kata Baban, seorang anak berumur 5 tahun, yang teriak sambil berlari tanpa alas kaki diatas makadam licin memberi komando kepada lainnya. Beberapa penduduk mendekat dan menyambut kami. Menurut mereka, meski banyak yang berkunjung, namun, dalam sepuluh tahun bisa dipastikan kurang dari 50 orang yang menggunakan sepeda. Sepeda kami hanya boleh parkir di lapangan kecil dititipkan di rumah-rumah penduduk dibagian luar pagar bambu setinggi pinggang. Meski begitu, dipastikan aman, karena semua penduduk baik yang tinggal didalam pagar maupun diluar pagar menjaganya. “Selama berniat baik, pasti kami sambut”, kata salah seorang penduduk. Kami disambut ketua adat dan beberapa penduduk di rumah bambu beratap rumbia berukuran lebih besar dari puluhan rumah lainnya, tiada yang kecurigaan dari kedatangan #PetaX. Hidangan makanan disajikan untuk semua. Meski sederhana, namun terasa nikmat saat semua duduk setara tanpa dibatasi strata. Malam ini, setelah minta ijin, #PetaX menginap di Kampung Dukuh. Sekedar informasi, hampir semua media, baik lokal, blog pribadi, media nasional bahkan internasional sering mengulas kampung adat yang satu ini. Namun, #PetaX berani memastikan ulasan khusus ini akan lebih dalam dan beda daripada yang lain.

“...Hidangan makanan disajikan untuk semua. Meski sederhana, namun terasa nikmat saat semua duduk setara tanpa dibatasi strata...” Jek Akhirnya Desersi, Dia Pulang SEDARI sore, Jek meminta agar kami hanya bermalam sebentar saja. Tanpa alasan jelas dia setengah memaksa. Akhirnya berani bicara juga kepada kami. “Kata ibu saya, harus segera keluar dari kampung sini. Disini gak aman, semua penduduk menggunakan ilmu-ilmuan begitu. Takutnya pas sampe rumah nanti saya stress diguna-guna, dulu tetangga pernah ada yang begitu. Gak mau suudzon juga sih, tapi saya juga kasian istri yang lagi hamil muda dan ngidam”, begitu yang diungkapkan Jek. Kami terdiam tidak melarang, toh bukan salah dia juga berpikir seperti itu, pun bukan kealfaan ibunda yang menilai sesuatu berdasar cerita berlabel “katanya”. Keesokan paginya setelah berpamitan dengan beberapa penduduk, akhirnya dia pulang kembali Ke Garut.

15


“...kreativitas, kemandirian serta daya tahan mereka terasah sejak dini. membuat mainan sendiri, bisa memotong-motong kayu keras menggunakan pisau/golok tajam dengan cara benar, bahkan cara berhitung ruang...�

Minggu Itu Libur, Tapi Tidak Untuk Belajar HARI ini 30 Januari, hari Minggu yang selesai terasa cepat meski kehidupan di Kampung Dukuh ini berjalan lambat. Terasa malu saat penduduk, terutama anak-anak, tidak mengenal waktu libur untuk belajar. Siang, sore, malam di sebuah bangunan panggung dari kayu berbilik bamboo, selalu ramai diisi kegiatan mengaji. Anak-anak kampung yang keseharian saat bermain tampak biasa, menjadi luar biasa saat mereka duduk bersila membaca rangkaian kitab gundul dengan lancar

16

seperti bahasa ibu, sementara ini tidak dikategorikan sebagai pesantren. Sedangkan hari biasa diluar Minggu, pagi anak-anak tersebut sekolah seperti biasa. Berjalan kaki melalui medan terjal berbatu. Selepas sekolah mereka mengaji, lalu bermain seperti anak-anak lain. Malam selepas Maghrib berjamaah, aula tersebut kembali ramai para ‘santri’ belajar. Untuk informasi, dan catatan penting kami tentang kehidupan agamis ini mohon tidak dikaitkan dengan kelompok ekstrimis yang rajin berdemo seperti sering diulas media, yang ini sangat berbeda.


Anak-Anak Hebat Kampung Dukuh SEPERTI pada #Semak10, dan di pelosok manapun pola hidup masa anak-anak adalah sama, mereka hebat. Meski dengan narasi tidak terlalu dalam, salah satu acara di salah satu TV swasta cukup mewakili hal tersebut. Tapi alangkah tidak adilnya menggunakan parameter kehidupan perkotaan untuk menilai penampilan anak-anak kampung, khususnya di Kampung Dukuh ini sebagai generasi dekil, generasi jorok, dan sejenisnya. Pantauan #PetaX malah sebaliknya. Kreativitas, kemandirian serta daya tahan mereka terasah sejak dini. Membuat mainan sendiri, bisa memotong-motong kayu keras menggunakan pisau/golok tajam dengan cara benar, bahkan cara berhitung ruang. Meski tidak semuanya, hal ini dibuktikan Baban, 5 tahun yang sudah cekatan melakukan hampir apa saja. Dari membuat mainan, berlari diantara tanjakan terjal cadas tanpa alas kaki dan tidak terjatuh, termasuk sesekali menyembelih ayam untuk bekal makan. Bukan berlebihan, bila diperkirakan pada usia 12 tahun mereka bahkan akan bisa membangun rumah sendiri, dan kesemua itu dilakukan tidak dengan paksaan, melainkan bagian dari permainan. Ketika mereka ingin jajan makanan kecil berwarna-warni (bercap terdaftar di depkes no reg XXX) yang memang sudah banyak tersedia di warung kampung tetangga. Retorik, saat kami bilang siapa yang menjamin bahwa makanan berwarnawarni tersebut aman dikonsumsi mereka? Kami tidak terlalu khawatir, ketika panganan utama hasil alam mudah didapatkan, anak-anak ini telah mengetahui bahwa limus adalah sejenis mangga yang seratnya sekaligus membersihkan sisa makanan di selasela gigi. Mengenai pendidikan, bahwa mayoritas waktu dihabiskan di lingkungan perkampungan itu-itu saja. Padat memang waktu belajar mereka, tapi kembali, itu tanpa paksaan. Meski sebagian materi yang masuk kepala mereka bersifat normatif dan dogmatis, #PetaX cukup yakin ada saatnya nanti mereka berfikir analitis terhadap apa yang mereka pelajari sedari kecil. Melihat kondisi seperti ini, yang justru menyedihkan adalah anak-anak di perkotaan dengan fasilitas berlebihan. Hasil akhir yang bisa dipastikan adalah pribadi manja dan jauh dari mandiri meski tidak lagi bisa dikatakan usia dini. Sudah kuliah atau kerja, tapi masih hidup di ketiak orang tua? Tidak malu sama Baban di Kampung Dukuh ini?. Satu lagi hal terpenting yang tidak bosan kami ulas, bahwa ratusan anak yang ditemui, tidak satupun yang kegendutan alias obesitas :)

“...sudah kuliah atau kerja, tapi masih hidup di ketiak orang tua? tidak malu sama Baban di Kampung Dukuh ini?...� 17


“...lebih dari 2 KM dari rumah menuju sekolah melewati jalanan menanjak terjal dan licin saat hujan...�

18


“...anak-anak ini harusnya telah belajar di ruang kelas masing-masing, duduk di bangku, bukan lesehan tanpa alas di lantai...”

“...Bila Tak Dikorup, Mereka Harusnya Bisa Memiliki Bangku Dan Meja...” SETELAH mengulas bagaimana kondisi anak-anak ceria tersebut. #PetaX juga memperhatikan bagaimana mereka menempuh perjalanan lebih dari 2 KM dari rumah menuju sekolah melewati jalanan menanjak terjal dan licin saat hujan. Mereka berlari kecil, sementara kami ngos-ngosan dan harus mendorong sepeda. Aktivitas ini berefek pada kesehatan fisik mereka yang bisa dipastikan jauh diatas rata-rata anak seusia mereka di kota-kota. Bangungan SD yang mereka tempati, baru tiga tahun dirubah menjadi gedung permanen menggunakan dana pemerintah, sebelumnya hanya bangunan dari kayu. Dua ruang kelas lainnya sedang dibangun, sementara ini satu ruang dibagi menjadi dua kelas, cukup dipisahkan papan. Perbincangan cukup panjang antara #PetaX dengan salah seorang guru mengalir banyak cerita, mulai dari kualitas anak

dan pendidikan, hingga retorika dana pemerintah yang entah lari kemana. Seorang Guru bercerita bahwa dana untuk bangunan awal serta fasilitasnya dikelola oleh sekolah, menghasilkan bangunan dan fasilitas berkualitas, jauh bila dibandingkan dengan bangunan yang masih dalam dalam proses pengerjaan, “Saya gak bisa komentar banyak mas, mas lihat sendiri kualitas bangunan yang telah jadi dan sedang dibangun itu, padahal besaran dananya hampir sama saja” pengakuannya. Lalu apakah praktek peningkatan jabatan di dunia pendidikan sudah murni bebas KKN? saat hadir sebuah cerita bahwa untuk menjadi kepala sekolah saja, uang sebesar 18 Juta harus dikeluarkan sang calon, entah itu masuk kantong siapa. #PetaX cukup percaya kondisi ini, karena untuk mencari bukti, sama sekali bukan ranah kami. Bayangkan bila dana pendidikan tidak bocor ditengah jalan oleh oknum yang mementingkan perut sendiri, anak-anak ini harusnya telah belajar di ruang kelas masing-masing, duduk dibangku, bukan lesehan tanpa alas di lantai… bahkan harusnya mereka bisa punya perpustakaan lengkap.

19


“...mereka hampir tidak bergantung kepada pihak lain dalam berkehidupan sehari-hari, mulai dari masalah umum, sandang, pangan, hingga papan...�

20


Masyarakat Kecil Mandiri MAKSUD dari kemandirian disini adalah, mereka hampir tidak bergantung kepada pihak lain dalam berkehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah umum, sandang, pangan, hingga papan.

1. Kesederhanaan mereka akan sandang. Sandang yang dimaksud di sini adalah bukan berarti mengikuti mode yang berlaku umum berdasar ‘pesanan’ globalisasi, pakaian sederhana bersarung tanpa corak pakaian bersarung tanpa corak, dirasa lebih dari cukup untuk penutup aurat, hingga penahan angin malam hari. Untuk tamu, juga dianjurkan menggunakan sarung, tutup kepala, dan kemeja/gamis sederhana, tanpa corak, kecuali garis-garis saja.

2. Bagian Kampung Dukuh. Kampung Dukuh terbagi dari 2 bagian berbatas pagar bambu; bagian dalam pagar terdiri dari rumah yang terikat dengan beberapa peraturan, tidak boleh dialiri listrik, tiada piranti elektronik, tapi kenyataannya didalamnya baru-baru ini ada warga memiliki handphone bermula sejak ekspansi merk China. Lalu bagaimana bila perlu charge? tinggal ke ‘kampung sebelah’. Kampung sebelah dimaksud bukanlah kampung berjarak berpuluh kilometer, melainkan komplek perumahan diluar pagar bambu, hanya terpisah beberapa langkah saja. Di ‘kampung sebelah’ ini dipersilahkan menggunakan listrik dan perangkat apapun, tidak ada peraturan pengikat.

3. Hutan. Di Kampung Dukuh, terdapat hutan larangan atau bahasa umumnya adalah hutan lindung, benar-benar dijaga sebagai mana mestinya, demi kelangsungan kehidupan. Peraturan yang ditegakkan dipatuhi semua, meski berbau dogmatis, seperti ritual yang wajib dilakukan sebelum memasuki areal tersebut, dan hanya pada hari-hari tertentu saja. Semua disini patuh tanpa kecuali, baik masyarakat setempat maupun tamu yang berkujung bermaksud ziarah. Disamping dogma tadi, lantas, piranti secara fisik yang dipergunakan untuk menjaga hutan larangan tersebuthanya pagar bambu setinggi pinggang orang dewasa. Mudah dilompati bila memang berniat, namun sejauh pantauan ” #PetaX dan informasi dari warga, tidak satupun berani melangkahi peraturan yang diberlakukan. Pagar ini pula yang dipergunakan memisahkan kampong adat dan masyarakat sekitarnya.

4. Pangan dan Pengairan. #PetaX tidak sempat bertanya tentang pemanfaatan tanaman obat yang banyak ditanam di sekitar halaman rumah mereka. Juga tidak ditanyakan apakah mereka menggunakan pupuk kimia sejenis urea atau lainnya dalam mengelola sawah dan kebun, tapi bila dilihat dari sinergi rotasi perairan sedari MCK hingga ke

21


pengairan sawah, seharusnya tidak lagi diperlukan pupuk kimia tambahan. Mereka menggunakan sistem pengairan terintegrasi, yaitu flow tidak terputus, pancuran langsung dari mata air dipergunakan untuk minum, masak dan mandi, kemudian sisanya dialirkan langsung ke kolam ikan. Kolam ini juga difungsikan sebagai jamban. Terdapat pengayaan protein yang dihasilkan dari kotoran ikan dan micro organisme didalamnya, sekaligus filtrasi alamiah dari dinding kolam tanah, baru air tersebut mengalir ke sawah-sawah dibawahnya. Pola pengairan terintegrasi antara kebutuhan rumahtangga dengan pertanian seperti ini, banyak tersebar secara luas di hampir seluruh area Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah, serta Jawa Timur, terutama di daerah pegunungan. Pernah diberitakan secara lisan, bahwa pada tahun 70-an, di beberapa desa di Kuningan Jawa Barat pernah secara sistematis dibuat seperti ini. Terlepas dari siapa mempengaruhi siapa, pola yang tampaknya sederhana ini merupakan sebuah sistem ‘canggih’, bila diukur dari manfaat pada tiap titik air yang termanfaatkan, lebih jauh tentunya kepada kemandirian kehidupan masyarakat. Kebutuhan protein hewani didapatkan dari unggas yang dipelihara dan dibiarkan bebas berkeliaran, saat ingin ikan tinggal serok, saat ingin ayam tinggal potong. Praktis dan sehat tanpa perlu menggantungkan pasokan pasar yang sekarang penuh kandungan kimiawi tidak jelas. Terkait hewan peliharaan dan konsumsi daging, terdapat kesamaan peraturan antara Kampung Dukuh dan beberapa kampung lainnya yang di seluruh Garut, bahkan pelosok Jawa Barat lainnya, sebuah dogma, “tidak boleh memelihara hewan berkaki empat�. #PetaX berasumsi bahwa sebetulnya terkait dengan pemisahan antara daging merah dan putih. Tetapi Kampung Dukuh mengadopsi anjuran ini berdasar cerita Syeh Abdul Jalil yang menentang kerajaan Mataram tiga abad lalu dan memilih mengasingkan diri disini.

5. Papan/Perumahan. Rumah yang mereka bangun adalah rumah panggung, sederhana, atap rumbia, tiang kayu, bambu yang sekaligus juga menjadi dinding. Dijelaskan pada banyak literatur, rumah bambu adalah bangunan tahan gempa karena kelenturannya. Selain itu kemudahan mendapatkan bahan. Perlu berapa puluh tahun agar kayu dari batang pohon besar bisa dipergunakan sebagai bahan bangunan? Amat jauh lebih cepat bambu tentunya. Sayang, pencitraan media dan dunia pendidikan memberikan penilaian bahwa rumah berstruktur beton merupakan lambang modernisasi. Modernisasi dulu atau fungsi dulu? silahkan dijawab sendiri ;) Disamping itu, masih ada kerjasama erat antara warga saat proses pembangunan rumah, hal ini umum diseluruh penduduk Indonesia sebetulnya, dari ujung Papua hingga Aceh sana. Tapi, masihkah disekitar kita terdapat bentuk kerjasama seperti ini saat segala sesuatu lantas dinilai dengan hitungan uang dibanding kebersamaan? Kami yakin amat sangat jarang.

22


6. Wisata. Satu hal yang diungkapkan sang ketua adat, meski Kabupaten Garut memasukkan kampung ini kedalam salah satu obyek wisata yang layak dikunjungi masyarakat luar, hal ini tidak diamini. “Kami tidak diajak berdiskusi pada awal penentuan kampung kami sebagai obyek wisata, pun kami tidak pernah mengundang. Lihat saja, anda sendiri yang datang tanpa kami undang bukan?” dan #PetaX mengamini hal tersebut. Bila dilihat, banyak yang menarik untuk diketahui dan bila ingin merasakan bentuk kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan keseharian dikota, silahkan bersopan santun mengunjungi saudara sebangsa kita yang satu ini.

7. Pergeseran Nilai. Meski tak tampak, pembatas pagar bambu untuk memisahkan Kampung Dukuh Dalam dengan Kampung Dukuh Luar, apabila di cermati tampak jelas sekali perbedaannya. Bau kapitalis jelas tercium pada pola hidup sebagian masyarakat. Contoh sederhana dari kerajinan tangan penduduk sekitar atas barang X yang hanya dihargai 500 perak, sementara dijual keluar oleh pengepul pada kisaran 10 ribu. Memang sah saja hal tersebut dijalankan bila dilihat dari peraturan dagang yang berlaku umum, namun kurang enak bila dilihat secara normatif. Disamping itu ekspansi budaya melalui televisi tanpa proses filtrasi mumpuni, terkadang cukup miris saat band-band kota besar tetap diperdengarkan di beberapa rumah kampung luar, dimotori anak muda, saat gema Adzan berkumandang. Sungguh sayang, tidak dimana, prinsip berlaku sama saja. Warga Kampung Dukuh dianggap sebagai orang lugu atas sikap nrimo mereka. Beberapa kali mereka dimanfaatkan oknum pemerintahan sebagai objek pengucuran anggaran, padahal sedikitpun tidak mengalir ke tengah warga. Terdapat hal ‘lucu’ disini, saat pemerintahan menganggarkan sebanyak 1.7M, ketua adat dalam guyonannya menimpali, “Untuk apa uang sebesar itu di kampung ini?, bisa saja sih dibelikan tanah sawah yang luas supaya warga mau bertani dan tidak meninggalkan kampung bila hanya sekedar berkehidupan”. Begitu ungkapnya, dan untuk lebih jelasnya, silahkan kunjungi langsung dan tanyakan kepada Ketua Adat, karena #PetaX tidak mau dianggap memanipulasi informasi. Potensi kesuburan tanah juga masih sangat luas belum tergarap, namun kampung ini sudah dikelilingi lahan luas milik swasta, perhutani menjadikan tiap petak sebagai hutan produksi kayu jati, hal ini menyebabkan beberapa penduduk menjadi TKI ke luar negeri, menjadi kuli di kota-kota besar. Dituturkan salah seorang warga, tidak sedikit yang menempuh kesarjanaan, bahkan ada yang menjadi anggota dewan di Jakarta.

8. Pemimpin Bijak Menganjurkan Untuk Tidak Melawan Pada sosial media dan media umum hampir tiap saat terdengar kata “lawan”, “hajar” dan ajakan konfrontasi sejenisnya. Lantas apakah Ketua Adat Kampung Dukuh Dalam

23


mengajak serta melawan modernisasi, ideolodi serta pemerintahan yang kini berjalan? Tidak, malah sangat demokratis, “Kami tidak melarang siapapun untuk hidup mewah dengan harta berlimpah dan kepemilikan alat budaya modern lainnya, apapun itu, tapi ya, silahkan keluar dari lingkar bambu sini”, kata sang Ketua Adat. Ini benar, dan banyak warga di luar pagar bambu yang memiliki motor, bahkan mobil. Lalu bagaimana sikap mereka terhadap ideologi dan pemerintahan yang kini berjalan?, “Biarkan saja, siapapun yang kini memimpin Negara harus didukung bukan? bila tidak setuju, ya menyingkir saja, jangan melawan”… lagi, satu anjuran bijak yang disuarakan. Anjuran sejenis ini banyak dikumandangkan para pemimpin bijak tidak hanya di kampung ini saja. Sayang, beberapa nama diantaranya bukan ranah #PetaX untuk menyebutkan, meski hanya inisial nama mereka.

9. Salah Satu Kata Kunci: Air Kampung Dukuh berada di salah satu untai perbukitan Kabupaten Garut, ketika sedang mengelilingi daerah sekitar, kami bertemu dengan seorang Bapak Tua yang sedang beristirahat di gubug, di pinggir sawah. Sambil istirahat, terjadi suatu perbincangan tentang banyak hal dan permasalahan. Bapak Tua tersebut dengan bijak menjelaskan untuk tidak setengah-setengah menyimpulkan solusi dari sebuah permasalahan secara parsial, tapi dirunut hingga tuntas kepada sumber hukum yang berlaku saat itu. “Cuma terdapat dua kegiatan yang diharapkan berjalan sebagai sumber hidup keseharian masyarakat agraris seperti Indonesia, yakni pertanian dan perdagangan. Bertani dan berkehidupan tak akan pernah bisa dilakukan tanpa peran serta air. Air berasal dari sela pegunungan dengan ekosistem terjaga dengan baik. Disitulah peranan kita semua untuk menjaga keseimbangan agar kehidupan terus berjalan secara harmonis...” ini sebagian kecil pendapat Bapak Tua tersebut. Puluhan rumah di Kampung Dukuh mendapat pasokan air dari hutan adat yang mereka jaga ketat dengan berbagai peraturan yang dipatuhi semua. Talang air terbuat dari bambu, paralon dan sedikit besi menghubungkan antara satu dengan lainnya. Tidak pernah mereka kekurangan pasokan air. Meski hanya terbuat dari alat sederhana memanfaatkan gravitasi semata, kami anggap ini merupakan sebuah teknologi canggih tepat guna. Mulai dari irigasi teknis hingga keperluan MCK, semua terpenuhi. Referensi sejarah dunia kembali membayang di ruang kepala. Petra pada masa Ad dan Tsamud, Petra merupakan sebuah irigasi raksasa yang menjadikan kota tersebut sejahtera. Jangan lupakan pula Angkor Wat, digambarkan merupakan lautan padi dengan sistem irigasi sangat canggih, dilihat dari hamparan kanal-kanal raksasa yang menghubungkan mata air hingga sungai sampai ke tengah kota. Tidak jauh dari jendela kita, tengok Borobudur yang merupakan pusat perairan dan candicandi sekelilingnya. “Negeri manapun yang mampu bersahabat dengan air, maka bisa dipastikan akan mampu memakmurkan rakyatnya”, entah siapa yang pernah

24


berpendapat seperti itu. Namun, amat sangat masuk akal saat modernisasi yang bermula sejak beralihnya agraris menjadi industrialis 300 tahun lalu hingga masa kini yang disebut sebagai zaman modern, tidak dibarengi dengan kemampuan untuk menangani desakan air berupa banjir. Permasalahan banjir ditengah kota tidak bisa lantas dilihat parsial pada kota tersebut saja, saat sumber air di pegunungan sekitarnya kini gundul dan villa menjamur, dimana mata air hanya dikuasai perorangan/swasta dan memakmurkan sedikit saja, bukan oleh negara demi kesejahteraan semua. Di saat hutan resapan beralih fungsi menjadi hutan produksi karena semua berjalan dengan perhitungan untung rugi berdasar ekonomi. Masalah hutan ini pula dialami Kampung Dukuh, sebagai adat, mereka dipercaya menjaga sekitar 7 hektar area hutan ‘saja’. Sementara hutan sekitarnya telah dialihfungsikan sebagai hutan produksi bertanaman kayu jati yang dianggap menguntungkan secara ekonomi. Tidak dijelaskan dan ditegaskan mana hutan lindung yang harus dilindungi, mana hutan produksi dan lain-lain. Berita di media masa, masyarakat sekitar yang dipersalahkan sebagai perambah. Namun bila dilihat, masyarakat tak akan melakukan hal tersebut bila tidak ada permintaan. Jalur distribusi pun tak akan aman tanpa perlindungan. Namun kembali lagi, bukan ranah #PetaX untuk mengulasnya hingga tuntas, para ahli telah berada di lini kebijakan sana dan kami mengambil sedikit saja sempalan informasi, yang sekiranya bisa secara umum kita jadikan sebuah acuan tanpa batasan. Hanya ada pertanyaan mendasar, sudahkah negeri ini bersahabat, menguasai air? DARI 9 uraian umum diatas, bukankah terkadang kita menginginkan kondisi seperti itu? sebuah kondisi saat tiada orang lapar. Sulit memang bila berharap terjadi secara masal, tapi setidaknya hal ini terjadi pada lingkungan terkecil, sebagai contoh adalah kampung dimana #PetaX singgah, …Kampung Dukuh. Selama empat hari tiga malam menginap dan berinteraksi dengan mereka, tidak berlebihan bila kami simpulkan bahwa meski tidak sempurna, mereka merupakan maket Indonesia yang dicita-citakan bersama. Sebuah pola hidup masyarakat saling berbagi, menentramkan semua, meski masih jauh dari standar sempurna. Keterbatasan waktu, sangat kurang untuk lebih merasakan “menginap” di sini, karena masih banyak informasi yang belum terceritakan. #PetaX mesti berkemas untuk melanjutkan perjalanan lagi.

“...mereka merupakan maket Indonesia yang dicitacitakan bersama, sebuah pola hidup masyarakat saling berbagi, menentramkan semua...” 25


Menuju Titik “X” Selanjutnya • 02 Februari 2011 •

26


“...longsor secara fisik rupanya bersinggungan juga dengan ‘longsornya’ mental anak muda yang minta uang bermodal kardus...”

Longsor Dan ‘Longsor’, 2 FEBRUARI 2011 pagi, #PetaX meninggalkan Kampung Dukuh, kembali menjelajah menuju lokasi selanjutnya. Setelah berpuluh kilometer, kami melewati jalanan kampung longsor akibat hujan beberapa hari terakhir. Lumayan, lebar 3 meter dan sekitar 20 meter memanjang, 1-3 meter kedalaman, menyisakan 1 meter untuk lalu-lintas roda dua. Mobil dipastikan belum bisa lewat. Sisa yang bisa dilalui pun merupakan hasil pembenahan pagi harinya. Aparat terkait, termasuk petugas PLN tampak bekerja di lapangan, menarik kabel yang putus akibat pohon-pohon besar tumbang. Situasi inipun sama terlihat pada beberapa orang tua. Bermodal golok, ditebasnya batang demi batang dahan dan batang besar pohon yang menghalangi jalan. Sambil beristirahat, #PetaX menyempatkan waktu untuk melihat dan berbincang dan informasi yang kami

dapatkan dari petugas, daerah ini memang rawan longsor. Kontur perbukitan dan kurang berkualitasnya sarana jalan, mengakibatkan kemungkinan longsor berikutnya amat besar. Hal ini terlihat dari jalan bergelombang dan lubang menganga disana-sini. Kondisi ini sangat jauh beda dengan di Kampung Dukuh. Terletak di pedalaman dengan kontur perbukitan lebih curam, namun hujan lebat bahkan beberapa kali gempa lumayan besar, dengan santai mereka lewati tanpa kendala, pula tanpa kerusakan pada rumah panggung berbilik bambu yang ditempati. Kembali di lokasi jalan yang longsor ini, mayoritas warga berkumpul hanyalah menonton. Beberapa orang anak muda bermodal kotak kardus meminta sumbangan kepada pengendara yang lewat. “Untuk makan siang mas”, jawabnya saat ditanyakan #PetaX. Longsor secara fisik rupanya bersinggungan juga dengan ‘longsornya’ mental anak muda yang minta uang bermodal kardus tersebut. “Yang cape kerja siapa, yang minta duit siapa”, kata #PetaX dalam hati.

27


“...tahukah proses dari A hingga Z sedari benih padi sampai dengan nasi hangat tersaji diatas piring? masih kenalkan telapak kaki kita yang dicipta peka ini kenal rasa tanah berlumpur saat hujan?...”

Pertanian oh Pertanian PERJALANAN #PetaX dari selatan berlanjut menuju bagian utara Jawa. Ya, kami menuju arah Cirebon, memang sebuah perjalanan yang cukup melelahkan. Kamis 3 Februari 2011, kami tiba di Desa Beber, desa sekaligus Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kuningan. Di desa ini pula, merupakan shelter untuk #PetaX sampai dengan tanggal 6 Februari. Desa ini mempunyai sistem pertanian tadah hujan, karena tidak dilengkapi infrastruktur irigasi teknis sebagai sarana pendukung ‘wajib’ yang seharusnya ada pada tiap komplek pertanian. Dari dasar itulah #PetaX ingin menyampaikan sebuah ulasan ringan tentang kondisi dilapangan, kondisi kita, Indonesia sebagai negeri di Khatulistiwa dengan tanah super subur diincar negara lain di seluruh dunia. Kondisi ini berbeda jauh dengan desa lain yang termasuk kedalam wilayah Kabupaten Kuningan. Irigasi teknis menjamin pasokan air tiada putus sepanjang tahun. Lahan pertanian aktif mampu menghidupkan penduduk sekitar, meski tidak semua. Wilayah III Cirebon

28

yang berada di bawah kaki gunung tertinggi di Jawa Barat, Ciremai, nampaknya perlu kerjasama lebih intens antar Kabupaten. Minimnya lahan pekerjaan, terutama berkurangnya lahan pertanian produktif menjadikan generasi muda kian enggan mengayunkan lengannya mencangkul sawah. Belum lagi ditambah iming-iming imagi kehidupan serba glamour melalui media, kembali tanpa filtasi semakin ‘membutakan’ pandangan akan masa depan mereka. Pilihan merantau ke perkotaan meski sebatas kuli bangunan banyak dipilih warga sini, sementara lainnya yang bertahan tinggal, mentok-mentoknya mayoritas sebagai pengojek. Betul, bahwa 70% Indonesia adalah laut, namun pembangunan peradaban dunia tidak berada diatas sana, melainkan pada daratan. Mesopotamia, melalui Eufrat, Tigris memberikan contoh nyata bagaimana sebuah peradaban tinggi berkembang sepanjang perairan dari sungai. Hal ini, meski tidak sepenuhnya, telah diadopsi Kampung Dukuh, atau mungkin dari Bangkok dibawa oleh para pedagang Gujarat atau China ribuan tahun lalu. Kelautan adalah ruang pertahanan, begitu penempatannya. Sebut saja Pak Satu, seorang


bapak 60 tahun, sore itu dalam diam menyemai benih padi berusia 25 hari siap ditanam. Dibawah gardu sutet penghantar listrik Jatiluhur – Bali ditemani Masni, tiada pengaruh apapun, apalagi takut berita-berita di media tentang bahayanya beraktifitas dibawah jaringan listrik tegangan tinggi ini. Bayangan sejenak terbang kepada kondisi anak muda sekarang yang seolah diarahkan untuk semakin kreatif dan kreatif, lalu berakhir sebagai pekerja kreatif. Kreatifitas yang sama sekali tidak bisa diaplikasikan kepada hukum alam, dimana gravitasi sama sekali tidak bisa dilawan, tapi diikuti. Gempa selayaknya disikapi dengan konstruksi bangunan sederhana, namun tahan, bahan bambu misalnya. Proses genetika dipaksakan untuk merubah bahan pangan agar menghasilkan keluaran memenuhi permintaan pasar; pupuk dijejalkan pada tanah melanggar proses alamiah, hingga dalam waktu cepat unsur hara jenuh, perlu bertahun mengembalikan kesuburannya. Belum lagi ditengah perdagangan global yang membuat barang apapun dengan amat mudah masuk ke Indonesia. Pertanian yang seyogyanya diupayakan sebagai pemenuh kebutuhan dasar warga setidaknya

untuk bertahan hidup, beralih menjadi industri, kembali demi permintaan luas. Hingga, anomali iklim akhir-akhir ini membuat harga cabe yang sebetulnya amat mudah ditanam meski dihalaman rumah, harganya melambung tinggi jauh diatas daging sapi, sungguh sangat tidak masuk akal, saat harga dari petani tidak terlampau mahal, bahkan cenderung stabil. Bila sudah begini, ruang import dibuka, masuklah barang pertanian tandingan berharga jauh lebih murah, segelintir importirlah yang meraup untung, masyarakat konsumtif seolah kian ‘primitif’, dibutakan akan surga diatas telapak kaki mereka. Pada #Semak10 di pojok Sumatera beberapa bulan lalu, kami menemui masalah yang tidak lebih sama, hanya bentuk yang membedakan, perkebunan/ladang dan pertanian sawah. Pertanyaan sederhana untuk anak muda, masih bisahkan kita bercocok tanam? Tahukah proses dari A hingga Z sedari benih padi sampai dengan nasi hangat tersaji diatas piring? Masih kenalkan telapak kaki kita yang dicipta peka ini kenal rasa tanah berlumpur saat hujan? masih tahan akan tusukan duri puteri malu? :)

29


Kaswadi dan Feodalisme Pada Nelayan SATU jam sudah hujan mengguyur antara kecamatan Lemah Abang hingga Babakan. Sore menjelang magrib, 4 Februari 2011, #PetaX tiba di kampung nelayan desa Gebang Mekar. Desa ini merupakan sebuah kampung nelayan di pesisir Cirebon, dengan jumlah nelayan terbesar se-Jawa Barat yaitu sekitar 2000 nelayan, pantaslah bila sebagian dari mereka tersebar di berbagai pelosok laut Indonesia. #PetaX bertemu Kaswadi yang sudah tiga tahun tidak melaut, hangat menyambut dan mempersilahkan berteduh di ruangan sempit petak rumahnya. Disela kopi panas berganti gelas, cerita lancar mengalir tanpa sungkan, tiada sedikitpun tampak

30

kecurigaan. Kondisi ini wajar, sudah tiga tahun Kaswadi tidak melaut, “Sekarang sudah terlalu banyak nelayan mas, kondisi gelombang juga sedang tidak bersahabat, ditambah lagi biaya operasional sudah tidak lagi masuk akal, tidak mungkin nelayan kecil seperti saya mampu menutupi itu semua”. Kondisi ini dijelaskan mantan nelayan berusia 60 tahun dalam tatap nanar jauh menerawang. Wajar, karena di samping menjadi petani, lautlah tempat dia belajar sedari kecil bersama almarhum bapaknya. Meski begitu, dia tetap ‘mematenkan’ diri sebagai orang darat (petani), meski tiada lagi lahan garapan karena semua telah dijual. Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, Bapak dari 9 anak, yang sekarang tinggal 4 orang ini menggantungkan hidup dari berjualan kelontong dan sesekali narik becak. “Kian sulit sekarang ini, kami yang


“...kami yang bekerja keras dengan resiko nyawa, sementara pendapatan lebih besar didapatkan para pemodal, bagian kami hanya cukup untuk makan, itupun seringnya nombok...� ~ Kaswadi ~

bekerja keras dengan resiko nyawa, sementara pendapatan lebih besar didapatkan para pemodal, bagian kami hanya cukup untuk makan, itupun seringnya nombok. Terus begitu gali lobang tutup lobang tiada akhir. Ya sudah, saya tidak berani memaksakan kondisi ini, dengan ini saja sudah cukup kok�, ujarnya disela hisapan panjang kretek dibawah gerimis yang tak juga kunjung reda. Kusfinah, anak tertua Kaswadi meninggal di usia 23 saat menjadi TKI di Arab pada tahun 1983 dengan alasan yang dia terima adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Meski baru 2 bulan dia bekerja, dia mendapatkan USD 4.000 sebagai uang duka. Jumlah cukup besar di masa itu. Uang tersebut dia pergunakan membeli sepetak tanah dan membangun rumah yang ditempatinya sekarang. Salah seorang anaknya masih

duduk di bangku kelas 1 SMU Negeri lumayan ternama Di Kecamatan Babakan. Meski program pemerintah menyatakan bahwa pendidikan sekarang gratis, nyatanya Kaswadi masih harus mengeluarkan biaya sebesar 1,1 juta sebagai uang pangkal masuk SMU, sementara biaya komputer 20 ribu perbulan masih bisa dianggap wajar. Magrib telah lewat, gerimis belum juga reda, sebelum terlalu gelap, #PetaX memutuskan kembali ke desa Beber sebagai shelter sejauh 37KM didepan. Menyusuri jalanan panjang pantura yang terkenal sebagai jalur tengkorak. Jalur ini terpaksa dipilih meski lebih dari tiga kali kami diserempet truk besar dan minibus bernomor polisi ‘B’. Jalur ini kami pilih karena relatif lebih aman dibanding kembali melalui jalur kampung tadi yang amat gelap dan menurut cerita tidak aman.

31


32


“...sebuah kampung nelayan di pesisir Cirebon, dengan jumlah nelayan terbesar se-Jawa Barat...� ~ Desa Gebang Mekar ~

33


Jobir Dan Prostitusi Pesisir CERITA ini ditulis berdasar sebuah pengalaman panjang dalam 2 hari, ketika seorang penduduk lokal Kabupaten Cirebon yang setia menemani #PetaX yang bertindak sebagai pemandu. Sebut saja Jobir, seorang bapak dua anak usia 31 tahun. Status pernikahannya tinggal menunggu putusan pengadilan, lantas kembali masuk kedalam kesendirian. Apapun yang ditulis disini sebelumnya telah disetujui Jobir. Didikan keras keluarga dan kurangnya perhatian sedari kecil menjadikannya seorang preman kampung nan tanggung. Disebut tanggung karena, dia seorang pria biasa yang menjadi lemah saat ditinggal istri tercinta karena desakan keluarga. Mungkin sepintas tampak pongah, namun tidak seperti itu bila menyempatkan menyelam jauh kedalam dirinya. Setelah seharian, sedari Sabtu pagi hingga siang, 5 Februari 2011 bersepeda, malamnya kami menggunakan kendaraan sewaan menyusuri jalanan kampung hingga berakhir disebuah desa dekat pesisir, Ciledug. Jobir, dengan desakan syahwat berbulan tanpa pasangan, meminta berhenti di sebuah prostitusi pinggir jalan (warung remang-remang). Bangunan berbilik bambu, berlantai tanah dan semen semi permanen. Diluar hanya seorang wanita setengah tua, saat masuk kedalam ternyata ada beberapa wanita lainnya, hampir semuanya muda, belasan tahun. Sembari menunggu Jobir ‘buang hajat’ , #PetaX ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa ‘pekerja’ yang masih menunggu tamu untuk mem-booking-nya. Ditemani bir dingin, cerita dari mereka pun lancar mengalir.

• Sutinah dan Kisah Klisenya KEMBALI, sebut saja Sutinah, seorang perempuan legam buta huruf berusia 18 tahun. Baru 5 bulan dia ‘beroperasi’ di gubuk remang ini setelah sebelumnya 3 tahun dipaksa ‘beroperasi’ di Jambi. Berawal dari seorang anak kampung dari keluarga miskin, menempati pesisir yang tak lagi subur, Sutinah senang-senang saja saat diajak bekerja di Jakarta oleh seseorang yang baru dikenalnya. Kecurigaan berawal saat naik kapal berhari-hari melalui Tanjung Priok, padahal sepengetahuan dia, Jakarta dari Losari, Cirebon, sama sekali tidak melewati laut. Mulai hari itu dan hari-hari selanjutnya, Sutinah menangis dipojok kamar setelah keperawanannya dijual. Selama 3 tahun di Jambi dijalaninya sebagai pekerja prostitusi akibat dari perdagangan manusia terselubung, karena terlalu miskin untuk memiliki pikiran terbuka sejak muda. Cerita Sutinah selesai tepat dengan Jobir keluar bilik. mesam-mesem dengan muka tampak segar mata berbinar. Singkat cerita, walaupun sebatas ngobrol, Sutinah dan teman-temannya berhasil melorotin bir serta minuman lain yang ternyata jauh lebih mahal dibanding biaya ngamar yang cuma 70 ribu, ditambah 30 ribu sewa bilik. :D

34

“... Mulai hari itu dan hari-hari selanjutnya, Sutinah menangis dipojok kamar, setelah keperawanannya dijual...” • Dewi, Bayinya Ternyata Baru 3 Bulan, dan Jobir Mau Jadi Suaminya ‘PASANGAN’ Jobir adalah Dewi, 21 tahun, ternyata 3 bulan lalu baru saja melahirkan. Ini bisa dipercaya bila beberapa detik saja memperhatikan bentuk badan Dewi yang memang seperti seorang perempuan yang baru saja melahirkan. Kini anaknya tinggal dengan ibunya di daerah Brebes, sementara dia sendiri mengontrak petak kamar kecil di sekitar ‘tempat kerjanya’. “Yang jelas, Dewi gak mau pas tadi gw buka BH-nya”, kata Jobir. “Masih penuh ASI mas, jangan dibuka yah” kata Dewi menurut penuturan Jobir. Entah Jobir, atau entah Dewi yang pandai merayu merangkai kata menjadi sebuah cerita. Setelah keluar bilik, mereka berdua masih sejenak duduk berdua saling bicara sayup menatap mata masing-masing. Saat menuju arah pulang, Jobir cerita dengan serius bahwa dia ingin menikahi Dewi. #PetaX sempat kaget mendengar sebuah proses yang terjadi begitu cepat bagi seorang pria yang kali pertama menggunakan jasa PSK. Sekedar mengingatkan dia, agar proses pengenalan dilakukan lebih dalam. Maksud Jobir memang baik, bahkan mulia, mengangkat Dewi keluar dari ‘jurang’ tersebut, namun, kami sebagai teman, hanya mengingatkan untuk lebih berhatihati dengan menggunakan data sebanyak mungkin sebagai bekal analisa untuk memutuskan sebuah hal penting, karena pernikahan sama sekali bukan main-main. Baru beberapa menit kami beranjak dari warung remang-remang itu, beberapa KM ke daerah dingin kaki gunung Ciremai, sebuah SMS diterima Jobir dari Dewi, “Mas, aku lagi kecapean abis lari-lari ke sawah. Tadi tempatku dioperasi polisi banyakan”. Jobir tampak panik, tapi agak tenang setelah ada kabar kalau Dewi masih aman-aman saja. Kaca jendela mobil masih dibuka ditengah gerimis kecil dan balutan kabut dingin khas pegunungan menghantar kami untuk pulang, beberapa jam lagi harus naik kereta kembali ke Jakarta, sementara sepeda belum di cuci dan barang lainnya belum selesai di packing, dan Jobir masih terus-terusan bicarakan tentang Dewi dan Dewi…, “udah ah, besok lagi, sana nyetir yang lurus, kita-kita udah ngantuk :D”.

• Sejenis Jobir itu Banyak Sekaligus Sedikit JOBIR bisa dikatakan beruntung sedari kecil sering ikut almarhum kakek, seorang sopir angkutan barang untuk keliling Jawa dan daerah lainnya di Indonesia. Kegiatan


ini menjadikan pengetahuannya tentang jalanan bisa dikatakan diatas rata-rata. Didikan keras bapaknya, seorang pengusaha furniture, menjadikannya seorang pemuda dengan keahlian perkayuan yang bisa diacungi jempol, jarang, sedikit yang mampu. Sayang, kemampuan itu meski sekarang masih ada, tapi Jobir malah bekerja sebagai sopir di salah satu perusahaan swasta di Kota Cirebon, meski baru beberapa bulan saja. Perhatian dan pendidikan dalam rumah tidak didapatkannya, menghasilkan Jobir muda memiliki kadar bandel yang juga jauh diatas rata-rata. Ribut, gelut, sok jagoan, dominan, merupakan keseharian sedari SD, SMP hingga beberapa tahun terakhir, tapi tidak sekarang. Kondisi ini ‘menjebak’ Jobir tidak melanjutkan ke SMU dan menikah muda. Pernikahan belasan tahun, dan akan segera berakhir di meja sidang. Gelombang hidup naik turun dilaluinya, meski hampir selalu berada dalam posisi bawah, tidak membuatnya lupa akan jasa baik kawan-kawan terdekat. Tidak melebihkan, ketika matanya sedikit menggenang, saat mengulang sebuah cerita. “2007 lalu, saat saya, anak, istri tinggal di rumah kontrakan di pedalaman kampung. Hari itu saya sekeluarga lagi kelaparan dan gak pegang duit seperakpun. Lalu seorang kawan datang ngajak jalan ke kota Cirebon, masuk mall, belanja. Saya kira belanjaan sebanyak itu buat dia, tapi saat mampir di rumah, dia taruh semua belanjaan itu buat saya. Pas dia pulang, saya sama istri cuma bisa nangis�. Masalah Jobir adalah gambaran umum kondisi anak muda di negeri ini, banyak, bahkan kami katakan hampir semua. Sayangnya jarang dibuka, bilapun diulas seluruh analisa hanya berujung pada sebab akibat yang tidak pernah dituntaskan dengan baik hingga ke sumber referensi utama. Apa itu?..., ... semoga di sesi #PetaX lainnya semoga ada jawaban.

• Tentang Jobir, Sutinah, Dewi dan Sekitar Kita... TULISAN ini disusun sama sekali bukan mengangkat prostitusi pinggiran secara vulgar, tidak juga mengangkat pribadi seorang Jobir, Sutinah dan Dewi, melainkan mencoba masuk kedalam kehidupan mereka, meski sejenak mencoba menjadi bagian dari mereka. Toh topik semacam ini telah amat banyak diulas berbagai media, Jobir, Sutinah dan Dewi, dan kesemuanya termasuk predikat masing-masing adalah korban yang ada dalam keseharian, dekat di sekitar kita, hanya sebagian besar kita saja mungkin lupa atau enggan bicara. (Mungkin) kita telah benar-benar dibuat lupa akan detail informasi berjarak beberapa depa saja, karena hampir apapun bisa disimak melalui layar kaca. Bilapun langsung, masih berbatas bingkai kaca kendaraan,selain itu, topeng kepura-puraan serta justifikasi prematur masih erat dikenakan. Hal ini mengakibatkan insight yang sebetulnya ada pada realita terburuk sekalipun amat sulit dilihat, didapatkan, meski jelas terpampang.

35


Selesai, #PetaX Kembali ke Jakarta  • 06 Februari 2011 •

36


“... yang terpenting bagi kami adalah bukan seberapa jauh, bukan seberapa lama, tapi lebih mementingkan kenapa perjalanan ini dilakukan, kenapa dengan sepeda, dan apa hasil yang didapatkan...�

37


Sebuah Gagasan, Akhir Perjalanan #PetaX SETELAH menjelajah dari berbagai titik yang ditemui dan membawa cerita menarik, akhirnya team #PetaX berkemas kembali menuju Jakarta. Perjalanan pulang menggunakan kereta api Cirebon – Jakarta karena kondisi tenaga yang sudah terkuras selama sekitar 10 hari perjalanan menempuh 927 km. Di dalam kereta api Cirebon – Jakarta ini, kami dari tim #PetaX berdiskusi, memberikan sedikit kesimpulan umum pada pelaksanaan perjalanan ini berdasar pengamatan apapun yang ditemui dilapangan, serta mengandalkan beberapa referensi sebagai penguat opini pada tulisan. Bila ada yang tidak berkenan, atau dianggap tidak umum, mohon maaf sebelumnya.

• Daya Jelajah

BENAR, bahwa baru sebagian kecil saja dari keseluruhan Jawa Barat yang telah kami tapaki. Meski begitu, dalam hanya beberapa hari saja sudah sebanyak ini yang bisa #PetaX hadirkan untuk semua. Coba bayangkan luasan Indonesia lainnya yang belum kita ketahui, yang belum tertangkap media. Pernahkan berpikir, berapa persen kita ketahui keseluruhan tanah air kita sendiri?… seujung kukupun kami tidak.

• Pariwisata

OBYEK pariwisata di Jawa Barat saja tersebar merata di tiap pelosok, dari wisata alam hingga wisata pendidikan yang terdiri dari budaya dan eksakta tempat kita semua bisa berkaca. Sarana transportasi pun bisa dipastikan bisa menjangkau semua, meski beberapa diantaranya paling aman, tetap menggunakan sepeda dengan memperhatikan daya jelajah lebih jauh, lebih dalam melewati kondisi tersulit. Bagai buah simalakama disaat kebijakan pemerintah atau swasta menjadikan beberapa pantai di Pameungpeuk misalnya, mendapat pengelolaan secara profesional. Perputaran ekonomi pada area lokal terbatas dipastikan akan ada, namun kelangsungan kerusakan kelestarian merupakan ancaman tersendiri. Belum lagi pengaruh terhadap pola pikir masyarakat yang akan semakin materialis meninggalkan berbagai ajaran local yang penuh kerjasama, suka duka ditanggung bersama. Sebuah cita-cita seperti digambarkan seluruh bangsa di dunia, sekaligus makna bangsa meski hingga kini masih merupakan retorika pada ujung pena. Kami sarankan biarkanlah seperti apa adanya. Biarkan dengan kesulitan akses menuju titik-titik tesebut, agar ada upaya lebih bagi pengunjung. Kemudahan akses akan mempercepat perubahan

38

bentuk apapun, ini jelas digambarkan pada perbedaan pola hidup antara Kampung Dukuh dalam dan Kampung Dukuh Luar, meski keduanya hanya dipisahkan pagar bambu saja.

• Kesamaan Prinsip Budaya

KAMI memang tidak menjangkau keseluruhan Jawa Barat, dengan menggunakan contoh beberapa tempat, sedari pegunungan, perbukitan hingga pesisir, kami anggap telah cukup. Bentuk kehidupan pada masyarakat Kampung Dukuh, relatif sama dengan apa yang dijalankan pada Kampung Naga di Tasik, hanya sentuhan komersil yang membedakan. Juga tidak jauh beda dengan suku adat Kanekes Di Banten, meski Kanekes lebih tertutup bagi dokumentasi visual. Pemanfaatan air secara terintegrasi bagi pemenuhan hidup juga sama, sedari ujung pesisir laut selatan, hingga pesisir laut utara. Bagi daerah pelosok dengan hutan/kebun luas, masih mudah ditemui penggunaan tungku berbahan kayu bakar sebagai alat memasak. Masalah kenikmatan hasil masakan, jangan disangsikan. Meski hanya menu sederhana seperti sayur rebung, sayur jantung pisang, ikan asin bakar, semuanya terasa nikmat bila disertai suasana yang mendukung disekitaranya. Terpenting, berlaku bagi umum, makan bareng disaat lapar itu nikmatnya luar biasa. Kebersamaan, tenggang rasa di penduduk pedalaman masih ada, masih erat, sekaligus dalam ancaman kepunahan saat seluruh sendi hidup diukur dengan uang dan menjadikannya sebagai satu-satunya alat tukar resmi. Semoga suatu saat, tidak akan pernah ada tarif resmi, standard bagi kita, penduduk dalam satu bendera, untuk sekedar berkunjung, bersilaturahmi ke saudara kita lainnya.

• Kesehatan

MASALAH obesitas, sejurus dengan #Semak10 beberapa bulan lalu, ternyata hanya ditemui di kota besar saja. Kota besar dengan industri jasa luas berkembang dan infrastruktur terutama pendukung sarana transportasi berupa jalan bagus, maka disitulah terdapat obesitas. Masyarakat sadar atau tidak sadar dibuat malas bergerak melangkahkan kaki, penggunaan media komunikasi bergerak secara massive lambat laun kian mengikis jenis komunikasi sederhana yang efektif, yaitu jenis komunikasi langsung, tatapan, sentuhan, tepukan, pelukan. Kami percaya, secanggih apapun teknologi dikembangkan, tak akan mampu membangun keterikatan emosional yang dibangun melalui hubungan fisik secara langsung. Tidak kami temui penyakit bahaya tidak menular seperti jantung, kanker dan sejenisnya. Terutama pada masyarakat dengan pola hidup amat sehat, bermula dari makanan dengan bahan tanpa diawali perubahan genetis pada bibitnya. Entah siapa yang pernah bilang, tapi bila diamati mungkin ada benarnya, bahwa “genetically


modified food is criminal”. Mengapa menurut kami ada benarnya? karena perubahan struktur bahan makanan ini akan langsung atau tidak langsung berpengaruh besar kepada susunan sel pada jaringan tubuh, cepat atau lambat. Ini pula yang akan mereduksi daya tahan, sekaligus menyebabkan berbagai penyakit bermutasi. Bentuk badan, bentuk badan seseorang ditentukan dari beragam aktivitas fisik pada keseharian. Petani, nelayan yang masih rajin berjalan, mencangkul, dan aktivitas fisik lainnya sesuai kerja mereka, rata-rata (bila tidak dikatakan semuanya) memiliki bentuk badan bagus dengan berat ideal, minimal simpanan lemak pada ototnya. Ironis, saat kita sebagai orang kota, harus berlangganan pusat kebugaran untuk mendapatkan bentuk badan ideal, alih-alih lebih banyak bergerak dalam keseharian. Contoh sederhana, gunakan sepeda untuk alat transportasi jarak dekat bila jauh belum bisa, atau perbanyak jalan kaki misalnya.

• Agama

KEBETULAN yang kami temui hanya perkampungan beragama Islam saja, tidak cukup waktu untuk menelusuri daerah Cigugur, Kuningan yang mayoritas beragama Kristen, atau saudara Tionghoa di Cirebon yang tengah merayakan Imlek. Meski begitu, kembali dipastikan bahwa tidak pernah ada konflik di akar rumput sebetulnya, dipastikan semua berjalan harmonis dalam perbedaan. Lantas, setelah beberapa hari terakhir Indonesia kembali dihentakkan oleh dua kerusuhan berbau SARA. Pembantaian menyeramkan oleh satu penganut agama kepada lainnya digambarkan video amatir di Cikeusik, berlanjut melambung jauh ke Temanggung, dengan isu yang sama…, Agama. Pertanyaannya siapa yang menggerakkan?

• Pendidikan

PERLU ulasan sangat panjang saat bicara mengupas tuntas pendidikan secara kualitatif. Kami hanya bicara karakter masyarakat yang kami temui sepanjang jalan sebagai hasil dari sebuah proses pendidikan. Anak-anak desa belajar di bilik bambu tidak berarti hasilnya tidak lebih cerdas, tidak lebih berkualitas bila dibandingkan anak-anak perkotaan yang tiap hari diantar jemput sopir dan bersekolah di sekolahsekolah internasional. Silahkan buktikan hipotesa ini, bahwa kebijakan sebaiknya bukan pada lini sarana prasarana secara fisik, tapi lebih dalam kedalam konten pendidikan, karena disitulah terdapat nyawa, berupa informasi yang akan masuk kedalam kepala tiap peserta didik. Bila sudah begini, masih bisa dipercayakah berbagai iklan di media masa yang meng-klaim berbagai sumber makanan yang mampu menambah kecerdasan bila kita melihat kasus pada kampung-kampung yang dikunjungi #PetaX? Bagaimana

bila begini, bahwa kecerdasan seseorang ditentukan dari aktivitas keseharian dan informasi sebagai pilar berpikir seseorang. Asupan makanan hanya berpengaruh kepada fisik semata. Tengok saja para pemimpin terdahulu, Soekarno, Hatta dulu tiap hari minum susu atau makanan bergizi lainnya tiap hari sedari kecil hingga wafat?. Mengenai korupsi, korupsi masih ada di seluruh sendi, terutama di daerah pelosok yang relatif sulit dijangkau, seperti dicontohkan pada salah satu sekolah di Kampung Dukuh, Cikelet, Garut. Kami tidak merekomendasikan tindakan selanjutnya, hanya menginformasikan saja. Untuk para pelaku korupsi, bagaimana jika anak-anak anda bersekolah tidak disediakan bangku, meja dan fasilitas lainnya, karena ternyata uang yang seyogyanya dipergunakan untuk membangun itu semua malah masuk rekening pribadi? Sungguh ironis, saat yang melakukan ini justru ada di dunia pendidikan. Wajarkah? demi alasan perputaran ekonomi, semua harus diukur dengan bilangan digit pada alat tukar bernama uang.

• Sosial Masyarakat

HAMPIR di tiap tulisan menggambarkan hubungan harmonis antar manusia dan manusia, manusia dengan penciptanya, dan manusia dengan alam. Tidak berlebihan kiranya bila kami berkesimpulan bahwa Indonesia sebagai negeri yang ramah. Gemah ripah itu masih ada, dan bisa saja diperluas bila diinginkan. Hanya perkara mau atau tidak untuk diejawantahkan pada tatanan strategis pembuat kebijakan. Peran kepemimpinan lokal meski berbasis dogma masih cukup kuat berperan sebagai pengikat perpecahan. Kondisi ini bisa menjadi boomerang bila tidak dibarengi dengan kematangan dan kebijakan kepemimpinan mereka. Bisa dengan mudah diprovokatif untuk melakukan tindakan anarkis bila dikehendaki. Ah, tidak, itu hanya di TV saja. Semoga kampung Dukuh dan kampung-kampung pelosok lainnya Di Indonesia umumnya, Jawa Barat khususnya tidak seperti itu. Masyarakat kampung adalah model masyarakat mandiri. Mau dan mampu bergerak dengan minim fasilitas. Meski misalkan tidak memiliki uang, mereka masih akan bisa bertahan hidup dengan menggantungkan pada kemurahan alam. Berburu, bertani, melaut, tinggal pilih mana yang bisa dilakukan tergantung kepada letak geografis dan keahlian yang dimiliki. Misalkan sebagian kecil kampung memutuskan diri dari sistem ekonomi formal yang berlaku umum di seluruh dunia namun tidak mengganggu lainnya yang tengah berjalan, itu bisa saja dilakukan dan kami anggap sah-sah saja. Demikian, akhirnya tercapai sebuah kesimpulan dari seluruh perjalanan #PetaX Indonesia Dari Atas Sepeda, sebuah rangkaian “Peta Kecil: Jawa Barat,” dari tanggal 26 Januari 2011 sampai dengan 06 Februari 2011.

39


Lebih Dalam Tentang #PetaX

ber-travel 100mm. “Ini mah sama aja dengan latihan endurance dan power, lebih cape dari balapan 200KM euy”, imbuhnya di sela helaan napas tersengal. Inilah alasan #PetaX memilih menggendong backpack dibanding membonceng pannier. Meski lebih capek, namun bisa lebih stabil saat ingin ‘membandel’ lompat-lompatan di jalan rusak, karena mayoritas daerah yang akan dilalui adalah berjalan setapak, rusak.

#PetaX Itu Biasa Saja

SESUAI konsep awal, #PetaX (baca: Peta X) merupakan sebuah perjalanan bersepeda dan kendaraan lainnya yang biasa saja; ketempat yang biasa saja; tapi dengan hasil yang (semoga) tidak biasa, bias dikatakan seperti pada #Semak10 beberapa bulan lalu. Pertimbangan pun telah dikemukakan, bahwa banyak rekan-rekan yang jauh lebih berpengalaman. Dilihat jarak, banyak yang sudah keliling Indonesia, atau bahkan dunia, permasalahan sederhana adalah, apa yang digambarkan dan point of view yang dipergunakan. Bila bentuk dokumentasi hanyalah foto-foto diri, kondisi sekitar dengan caption dan alur cerita biasa saja, maka hal tersebut (maaf ), menurut kami kurang membawa kesan apalagi manfaat untuk semua, terlepas dari diterima atau tidaknya berbagai catatan tersebut.

Single Track Tanpa Ujung

Antara Atlit Balap dan MTB-er

JALANAN kampung makadam menanjak berliku, sepi, diperlukan trik mendaki dan kesabaran. Tidak perlu dijelaskan secara teknis disini, kami yakin semua sudah paham, tinggal cari di thread sepedaku.com bagi yang belum. Seorang Jek, yang setiap hari hanya balapan di jalan raya tampak cukup kesulitan mengendalikan sepeda MTB

40

PERKAMPUNGAN di Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, kesemuanya jalan tanah, jalan kampung melewati pinggir kali, pesawahan bahkan semak belukar. Polygon Cozmic CX1.0 sebagai ‘senjata’ utama dari tim #PetaX nyaman dikendarai di jalur ini. Prinsip MTB, terutama XC (Cross Country) sederhana, bagaimana tidak merusak tatanan yang telah ada, malah bersinergi dengan semua, intinya jangan sampai merusak. Balik lagi tentang turunan makadam panjang di Kampung Dukuh, Cikelet, Garut. Sejauh belasan kilometer merupakan jalur kurang mengasyikan bila dilewatkan dengan pelan. Memang idealnya menggunakan sepeda jenis AM (All Mountain), namun Polygon Cozmic CX1.0 ini lebih dari cukup. Namun karena terlalu dipaksakan melalui medan tersebut, alhasil, Rear Derrauler hanger (anting) bengkok, sementara lainnya, aman-aman saja. Lantas bagaimana meluruskan ‘anting’ yang telah bengkok tersebut? mudah, karena saat membeli sepeda ini telah dibekali anting cadangan. Lalu, di daerah Cirebon ada Lemah Abang, sebagai cikal bakal nama Tanah Abang Di Jakarta; juga Pancuran, diadopsi menjadi Pancoran. Berawal dari Desa Beber melewati pesawahan, arah barat tembus hingga Kuningan, Majalengka, atau bahkan


mengelilingi gunung Ciremai bila sempat. Tinggal colek komunitas lokal, semua pasti dengan senang hati mau menemani. Menurut #PetaX, permasalahan track MTB yang kian hari terus tergusur oleh pembangunan perumahan ternyata hanya momok yang terjadi di Jabodetabek dan kota besar lainnya. Sementara itu, bila pergi menjauh sedikit saja ke daerah, kondisi ini dipastikan tidak ditemui lagi. Tidak berlebihan rasanya judul tulisan ini, mengingat kondisinya memang seperti itu. Bagi para pesepeda, pasti pernah ketemu sekumpulan anak-anak kampung yang seringkali memanggil “Mister” tiap kali dilewati. Ini menyedihkan, saat pengguna sepeda dimata mereka masih merupakan mainan, lalu umum digunakan para bule. Sementara mereka sendiri, telah sedari kecil dididik bahwa sepeda tidak lebih dari mainan saja, dilanjut bahwa suksesi secara sederhana diukur dari kepemilikan barang-barang mewah, kendaraan bermotor diantaranya. Sebelum itu, untuk meningkatkan kemampuan dasar MTB (pedaling, handling, shifting, cara jatuh yang aman, dll) berlatih cukup di JPG (Jalur Pipa Gas), Cihuni, Jati Asih, dan lain-lain. Diluar sana masih sangat banyak daerah yang belum terjajah, ayo tunggu apalagi!, kenali tiap jengkal negerimu sebelum semuanya musnah ‘dijajah’ pembangunan di segala penjuru tanah.

#PetaX dan Sepedanya

POLYGON Cozmic CX 1.0 tahun 2011 bisa dikatakan sebagai sepeda entry level bagi pemula yang baru akan mencoba dunia MTB. Perbedaan antara seri ini dengan seri diatasnya, Polygon Cozmic CX2.0 hingga Polygon Cozmic CX5.0 hanya terletak pada grafis dan spare part yang dipergunakan. Sementara geometri frame yang merupakan

‘nyawa’ dari sebuah sepeda, sama saja. Sepeda inilah yang dipergunakan #PetaX menjelajah sebagian kecil Jawa Barat sekitar 927KM, dari tanggal 26 Januari hingga 6 Februari 2011. Tidak hanya bersepeda, tapi mengkombinasikan dengan kendaraan darat lainnya. Hasil akhir dari perjalanan sejauh itu adalah baret disana-sini, serta Rear Derauller/RD hanger (anting) agak bengkok. Ini tidak fundamental, seperti dijelaskan pada tulisan diatas, track yang dilalui seyogyanya menggunakan sepeda jenis AM (All Mountain). Bukan juga perkara untuk membetulkannya, tinggal lepas RD, luruskan manual, bilapun patah, saat pembelian, telah termasuk satu buah anting cadangan. Dengan netral, #PetaX menyatakan cukup bagi sepeda ini, bahkan lebih dari cukup. Maksudnya, lebih dari cukup bila hanya dipergunakan kegiatan sejenis #PetaX melalui jalan setapak tanah licin berlumpur, turunan makadam, serta selap-selip diantara padatnya lalu lintas perkotaan tidak menyebabkan masalah berarti. Ciri khas MTB, luwes dan stabil bisa dirasakan. Yang menarik pada jenis ini bila dibandingkan dengan kelas diatasnya, bahkan seri RXX berharga diatas 40 juta, adalah bentuk drop-off yang diperpendek dan diperkuat. Meski hanya beberapa milimeter berpengaruh pada sudut lengkung, ini sangat mempengaruhi stabilitas putaran roda belakang dan mempertinggi down force saat menukik, serta efficiency pada tiap kayuhan. Satu hal terpenting bagi yang baru akan memulai bersepeda, pemilihan MTB jenis XC (Cross Country) seperti Polygon Cozmic CX series atau sejenisnya bisa dijadikan pilihan paling logis diantara jenis lainnya. Seiring kemampuan bersepeda meningkat dan spare part yang ada dirasa kurang, tinggal upgrade secara bertahap. Bilapun mau dijadikan hybrid untuk dipergunakan diperkotaan, tinggal ganti ban halus dan ganti shock breaker dengan fork rigid, hasilnya akan menjadi sebuah sepeda bertampang ‘garang’ dan siap dipacu cepat, stabil, luwes dijalanan aspal.Sedikit upgrade juga dilakukan #PetaX, yaitu dengan mengganti handlebar berjenis rise dengan flatbar disertai bar-end, serta crank hollowtech II yang kebetulan semua part upgrade itu ada di sepeda lama kami, sehingga tidak beli baru. Meski begitu, sekali lagi, bila anda baru akan bersepeda, kondisi standard seharga 4,3 juta sudah lebih dari cukup. Pertimbangan logisnya, dengan spare part lebih mahalpun akan sulit anda rasakan bedanya, lebih bijak jika dilakukan seiring peningkatan kemampuan anda bersepeda. Ilustrasi sederhana, sebuah gitar custom diciptakan untuk maestro, saat baru belajar, gitar apapun cukup. Tapi ini bukan berarti kami larang anda membeli yang lebih mahal disaat kelebihan uang, itu kembali ke kantong anda masing-masing.

~ Selamat bersepeda, rajin berlatih supaya tidak kesulitan menjelajah belahan tanah Indonesia....~

41


Live Tweet #PetaX @Sepedaku / Tue Jan 25 15:22:08 #PetaX – Indonesia Dari Atas Sepeda http://ow.ly/3JRSV @Sepedaku / Wed Jan 26 10:49:04 Mulai hari ini s/d 6/2/11, seperti halnya #semak10 http://sepedaku.com/semak10 (pdf 11MB), #PetaX http://ow.ly/3JRSV akan live update.

@Sepedaku / Thu Jan 27 00:08:40 #velodrom dlm persiapan Sea Games, tinggal lintasan yang tengah direnovasi. #PetaX http://twitpic.com/3tp80y

@Sepedaku / Fri Jan 28 04:57:30 Rehat pertama setelah 2,5 jam genjot, batu numpang, cikajang. #PetaX http://twitpic.com/3u2byw

@Sepedaku / Sat Jan 29 02:03:10 Kini, bahkan sepeda saja sudah ‘dijajah’ wanita #PetaX http://twitpic.com/3uc03k

@Sepedaku / Wed Jan 26 14:01:14 Ali Sadikin membangun velodrome pada 1973, gubernur selanjutnya membangun apa?, mall? #PetaX http://twitpic.com/3tkf8f

@Sepedaku / Sat Jan 29 02:46:10 Mereka sdg baca e-book #semak10, sebentar lg dlm bahasa Inggris, juga #PetaX http://twitpic.com/3ucens @Sepedaku / Thu Jan 27 00:10:50 Subuh tadi di #velodrome, mereka bersiap latihan saat sebagian kita masih lelap. #PetaX http://twitpic.com/3tp8nj @Sepedaku / Thu Jan 27 01:21:49 Barangkali ada yang mau ajak mereka ‘main’, silahkan lho. #PetaX http://twitpic.com/3tpt5j

@Sepedaku / Wed Jan 26 15:33:29 Olahraga bukan cuma sepak bola bukan?, apa kabar sepeda prestasi Indonesia?. Malam ini tim #PetaX bermalam sekamar dg atlit di velodrome. @Sepedaku / Wed Jan 26 17:51:04 Yg punya masalah asam lambung tolong jangan buka. Bayangkan kalo atlit sepeda kaya gini #PetaX http://twitpic.com/3tmcp2

42

@Sepedaku / Fri Jan 28 23:23:51 Update #PetaX terbaru: “Cerita ala warung kopi” & “Si Pirang dari Kanada”, hutan, rakyat & pendidikan global http:// ow.ly/3JRSV

@Sepedaku / Thu Jan 27 09:37:25 #velodrome semoga tidak jadi ‘velodoom’ #PetaX http://ow.ly/3JRSV @Sepedaku / Thu Jan 27 10:05:15 Untuk perjalanan #PetaX besok, Jek gamau jersey yang dia pakai longgar. Dg cuma 5rb, jadi bodyfit. http://twitpic.com/3ttbp6 @Sepedaku / Thu Jan 27 09:47:14 Suguhan setelah bersepeda. Lokasi, slh satu dusun pelosok Garut. Mau? #PetaX http://twitpic.com/3tt7sx

@Sepedaku / Fri Jan 28 07:26:33 Betul menurut salah satu member sepedaku, abah, gunung gelap-Garut kini gundul. Lebat diluar gundul didalam. #PetaX http://ow.ly/3JRSV @Sepedaku / Fri Jan 28 07:44:36 Gunung gelap, lebat diluar, gundul didalam. 14:43:53 hujan & kabut tebal #PetaX http://twitpic.com/3u3dc8 @Sepedaku / Fri Jan 28 10:56:46 1. Pelajar/mahasiswa, ada yg tau kampung Ciawi Tali, ds. Depok. Kec. Cisompet?, lbh indah dari Tabanan atau Puncak. #PetaX @Sepedaku / Fri Jan 28 10:58:08 2. Di pelosok dusun ini ada bbrapa mahasiswa/i pertukaran pelajar dr Kanada. Cuma 7KM dari Pameungpeuk. #PetaX

@Sepedaku / Sat Jan 29 03:06:12 Sebaiknya kamu segera keluar dari situ kawan, goyangannya akan kenceng lho #PetaX http://twitpic.com/3uclqt @Sepedaku / Sat Jan 29 03:17:59 5KM menuju Pameungpeuk, ini hanya sebagian kecil dr yg disaksikan #PetaX http://twitpic.com/3ucpyw @Sepedaku / Sat Jan 29 04:14:07 “Selamat datang di pantaimu”, kata Pameungpeuk http://twitpic.com/3udasc


Kumpulan live tweet yang dikirimkan melalui twitter @Sepedaku selama pelaksanaan #PetaX dengan hashtag #PetaX. Tidak termasuk informasi tambahan lainnya yang dikirimkan oleh anggota tim secara individu. @Sepedaku / Sat Jan 29 04:53:36 Untung sepeda gak perlu mampir kesini yah (spbu samping SMKN 1 Cikelet) #PetaX http://twitpic.com/3udp5p @Sepedaku / Sat Jan 29 06:56:44 Di kompleks perumahan sebelah kiri itu malam ini #PetaX menginap. http://twitpic.com/3uest7 @Sepedaku / Sat Jan 29 07:21:38 Penjual di puncak bukit ini terlalu ‘jujur’, mie rebus cuma seharga Rp2500. #PetaX http://twitpic.com/3uf03t @Sepedaku / Sat Jan 29 07:44:29 Dalam sekejap anak-anak ini berkerumun, “aya pit alus euy” (“ada sepeda bagus”), katanya #PetaX http://twitpic.com/3uf6hh

@Sepedaku / Sat Jan 29 09:58:44 Jadi rebutan, maklum, bisa dihitung sepuluh jari sepeda yg pernah masuk kampung sini. #PetaX http://twitpic.com/3ug7i6 @Sepedaku / Sat Jan 29 15:07:59 2KM turunan curam sbg ‘hadiah’ setelah

lbh dari 10KM tanjakan panjang di hutan belantara #PetaX http://twitpic.com/3uizck @Sepedaku / Sun Jan 30 01:16:21 08:14:42 Jek pulang meninggalkan tim #PetaX, dia takut isu miring ttg kampung ini :)) http://twitpic.com/3uod6u @Sepedaku / Sun Jan 30 23:48:02 06:46:04 mereka berjalan kaki melalui medan sulit ke sekolah #PetaX http://twitpic.com/3v02w9

@Sepedaku / Mon Jan 31 04:14:29 Pak guru: “gamungkin tau geometri sepeda kalau dasar saja lupa, ini penting lho”. #PetaX http://twitpic.com/3v29w3

@Sepedaku / Tue Feb 01 04:22:11 Does anyone wish to be here and jump?, hhmm..., no, better do your work tho ;) #PetaX. http://twitpic.com/3vcudv

@Sepedaku / Mon Jan 31 07:14:21 #PetaX tidak bicara agama, tapi kedisiplinan & antusiasnya mereka belajar. Ini tiap hari. http://twitpic.com/3v3fkx

@Sepedaku / Tue Feb 01 04:54:17 Catatan bagi orang tua modern: Anak Anak Hebat Dusun #X1 #PetaX http://bit.ly/gJtEad

@Sepedaku Mon Jan 31 04:00:38 Ada yang tau jenis serangga ini?, sangat mirip batang bambu. #PetaX http://twitpic.com/3v25r5 @Sepedaku / Mon Jan 31 04:08:07 Limus sbg ‘cemilan’ anak SD di kampung X ini. “Seratnya u/ bersihkan gigi”, kata mereka. http://twitpic.com/3v283b

@Sepedaku / Thu Feb 03 03:18:41 #PetaX kini brada di kampung #Xn, smentara ini, betapa kartu pers seperti senjata bagi aparat sigh. http://twitpic.com/3vyjkf @Sepedaku/ Mon Jan 31 09:14:29 Bukan takut rusak apalagi cuma lecet, kalo salah maenin bisa buat mereka luka bukan?. #PetaX http://twitpic. com/3v42q0 @Sepedaku / Mon Jan 31 14:40:41 Pantau terus #PetaX http://ow.ly/3JRSV, akan ada kuis berhadiah merchandise sepedaku (msgr bag, tshirt special, helmet cover, dll)

@Sepedaku / Mon Jan 31 04:11:34 Kalau dana dari pemerintah tdk ‘bocor’, mereka sdh punya bangku lho ssssttt. http://twitpic.com/3v2934

@Sepedaku / Wed Feb 02 03:08:24 Update terbaru dari #PetaX, “Kata Kuncinya Adalah Air” (lebih hebatkah kita dibanding kampung #X1 ?) http://bit.ly/hQ0Vmf

@Sepedaku / Tue Feb 01 03:10:53 Selamat tinggal kampung #X1, sumpah kampung ini ngangeni!. Sampai ketemu di #PetaX berikutnya. http://twitpic.com/3vc8zf

@Sepedaku / Thu Feb 03 03:27:24 slh 1 speda #PetaX dititipkan di warung smalam krn gakuat 7KM mndaki saat hujan, pagi diambil, aman. http://twitpic.com/3vymge

43


Live Tweet #PetaX @Sepedaku / Thu Feb 03 04:06:41 Kasihan, sejak #PetaX mulai, 26/1, dia baru akan mandi setelah ke kota, laut, gunung, dll. http://twitpic.com/3vyz93 @Sepedaku / Thu Feb 03 05:16:56 Apapun bisa dijadikan alat kerja, entah mana duluan yang kering #PetaX #Xn http://twitpic.com/3vzjqi @Sepedaku / Thu Feb 03 15:04:36 Masih jelas terngiang kata Baban, 5th di kampung #X1, “Baban mau sepeda dong” #PetaX http://twitpic.com/3w41da @Sepedaku / Thu Feb 03 15:14:38 “Bila dana bantuan sekolah tidak dikorupsi, mereka akan punya bangku”, kata pak guru #X1 #PetaX http://twitpic.com/3w44pd

Kumpulan live tweet yang dikirimkan melalui twitter @Sepedaku selama pelaksanaan #PetaX dengan hashtag #PetaX. Tidak termasuk informasi tambahan lainnya yang dikirimkan oleh anggota tim secara individu.

Cirebon. #PetaX #Xn http://twitpic.com/3w9xv9 @Sepedaku / Fri Feb 04 04:23:38 Di area longsor tadi, Aparat sigap, orang tua turun membantu, sebagian besar nonton, & anak muda mintain uang *lho? #PetaX #Xn @Sepedaku / Fri Feb 04 04:27:42 Sampai jumpa di #PetaX beberapa 11:27:05 kedepan. 11:27:10, shalat Jumat di #Xn http://twitpic.com/3wadb4

@Sepedaku / Fri Feb 04 09:08:13 Use local people! Mereka adalah penggembala kerbau freelance seusai sekolah #PetaX http://twitpic.com/3wc7kv @Sepedaku / Fri Feb 04 10:12:20 Beberapa hari lalu di laut selatan, kini, 17:11:20 #PetaX di ujung utara/timur Jawa Barat http://twitpic.com/3wcmbs

@Sepedaku / Fri Feb 04 04:30:44 Sepeda: “kami tiada beda, hanya tuan penunggangnya saja yang merasa” #PetaX http://twitpic.com/3wae4s @Sepedaku / Fri Feb 04 07:18:40 Hhhhhmmm manisnya tebu, semoknya pantat kebo #PetaX http://twitpic.com/3wbjgp

enak pemodal mas, ga kerja tapi hasil lbh banyak dari kita nelayan”, kata Kaswadi #PetaX @Sepedaku / Fri Feb 04 11:40:40 Bersepeda malam dijalan berlumpur, lubang diantara truk besar itu tidak menyenangkan #PetaX http://twitpic.com/3wd9ha @Sepedaku / Sat Feb 05 05:01:13 11:58:39 Situ Cipariuk berlatar belakang Gn. Ciremai #PetaX http://twitpic.com/3wmeo9 @Sepedaku / Sat Feb 05 05:42:00 “Hindarkan perang saudara. Pro dan kontra tetap bersatu, sambutlah Linggarjati dengan tenang” #PetaX http://twitpic.com/3wmsnv

@Sepedaku / Fri Feb 04 10:15:04 Desa Gebang Mekar- Cirebon, kampung nelayan dg jumlah nelayan terbanyak se Jawa Barat #PetaX @Sepedaku / Fri Feb 04 10:17:36 Kaswadi sdh 3 th tdk melaut, “Tambah sulit mas sekarang”, katanya ke #PetaX http://twitpic.com/3wcnnf

@Sepedaku / Fri Feb 04 01:28:49 Setelah #PetaX bermalam dirumahnya, Nana langsung renovasi sepeda besinya. Semangat! http://twitpic.com/3w8xd1 @Sepedaku / Fri Feb 04 03:35:41 Jalan desa longsor krn hujan semalam, Desa Belawa, kec. Lemah abang, kab

44

@Sepedaku / Fri Feb 04 08:39:28 Simak update #PetaX: Longsor dan ‘Longsor’ http://bit.ly/eUJsmz @ Sepedaku”

@Sepedaku / Fri Feb 04 10:20:48 Tampang serem pantai utara itu cuma di media, coba masuk kedalam, interaksi dg warga. Sederhana, “anda sopan, semua segan” #PetaX @Sepedaku / Fri Feb 04 10:24:39 Dimanapun, feodal itu masih ada, “yg

@Sepedaku / Sun Feb 06 08:44:02 Per 6/1/2011, #PetaX selesai, e-book & video sdg disusun, forum http:// ow.ly/3JRSV akan pula di update. Terima kasih u/ semuanya.


Apa Kata Mereka tentang #PetaX (via forum Sepedaku.com) abah: - Pantai Pameungpeuk memang masih tetap indah dibandingkan Kuta sekalipun. Tetapi bilang Gunung Gelap sebagai hutan lebat, terlalu berlebihan. Bukannya hutan itu sudah habis dibabat? di saatsawa awal reformasi lalu ketika semua orang mengatasnamakan reformasi membabat hutan untuk kepentingan pribadi. - Konon dinamai Gunung Gelap, krn dulu saking lebatnya hutan di gunung-tepatnya bukit-- jika berada di kawasan itu serasa gelap. “siang serasa maghrib� kira-kira begitulah suasananya. Sayang, keserakahan manusia menghabiskan pepohonan di situ. Ok, hati-hati di jalan. Banyak randa katanya... - Trims laporannya. mengingatkan masa kecil saya. Bau matahari n selalu riang gembira, alhamdulillah terbawa sampai aki-aki... - Udah follow @sepedaku dari sejak nini-nini pake jengki. Cuma kebodohan saya membuat selalu mengerutkening membaca laporannya karena nama-nama

Kumpulan tanggapan member Sepedaku.com dan komentar dari Facebook.

(via Facebook) daerah/kampung/dusun, menggunakan nama X1< X anu dst, selain kebodohan saya, kemungkinan lain adalah: sengaja dirahasiakan, untuk suatu maksud. Atau nama memang enggak penting karena daerah yang dikunjungi adalah cermin dari semua daerah di negeri ini. Miskin dan ditinggalkan para pemimpin, yang sebagian di antaranya malah menghisap mereka... #weleh serius amir... petruslingga: foto2nya cakep bener kilometertiga: KEREN! Seribu jempol! devin: mmhhh..ulasan tentang si pirang cukup menarik, ayo ulas lebih dalam lagi bro !..hehe arnaldowenas: Ditunggu e-book dari Peta-X, ditunggu trip selanjutnya, ditunggu ulasan pandangan berikutnya. Ekspedisi kalian banyak membawa manfaat dan menjadi pemicu untuk kami semua...LANJUTKAN!

Indra Ighra Ghrawita: spedanya type apa om?... rekomen pake ban ukuran berapa dan type apa ya? Fredy Susanto: Great mission!! Sedih juga ya di Jawa Barat masih ada sekolah tertinggal. Gimana dengan yang bagian Indonesia timur sono. Iye Rohadian: Indonesia dan segala sesuatu di atasnya, indah untuk disentuh, dinikmati dan dirasakan. Perjalanan dengan sepeda akan menyempurnakannya... Top... Alfa Febrianto: Salute komandan!

Toto Sugito: Chakep petualangannyah, laen kali ajak2 ya Mochamad Ricky: mantap! Ancilla Marcelina: menarik! sering2 adain acara seperti ini.. semangat! Annisa Gurdi: Salute and respect Captain Inu dkk! Rawks Sepedaku + #Semak10! Iwan Hadiantoro: Nice journey. I envy you! Time is priceless, so enjoy while it last!

Rahmi Newbie: Pendidikan, pariwisata, pengentasan kemiskinan, bersepeda & adventure .... Indeed a very nice package ;))

Moeldjana Abdoelgani: mantaps

Arno Himawan Egoll: salute......sukses ya

Teguh Setiawan: foto yang mengesankan ya...

Cak Kris: wah sama kerennya dengan #semak10...

45


Pelaksanaan & Team #PetaX Daerah yang dikunjungi:

• Jakarta (exposure) • Bogor, Tangerang, Cianjur, Sukabumi, Ciamis, Tasik – (hanya dilewati) • Garut – (exposure) • Wilayah III Cirebon, meliputi Kotamadya Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka – (exposure)

Moda transportasi selama perjalanan: • Sepeda • Angkutan Umum • Sewa Mobil Pribadi • Jalan kaki

Topography umum: • Perkotaan, datar • Perkotaan daerah • Perbukitan • Pegunungan • Pesisir pantai

#PetaX Berterima Kasih Kepada:

1. Polygon, yang telah memberikan dukungan pada kegiatan yang tidak umum dan tidak biasa ini. 2. Seluruh member sepedaku.com khususnya, pesepeda umumnya, dan masyarakat umum selama perjalanan. 3. TRAX Magazine (MRA Media), yang berani memberikan ulasan berbeda dari kekhususan liputannya selama ini. Serta Yayasan Tunas Cendekia, atas dukungan dan bantuan khususnya untuk sarana pendidikan. 4. Seluruh masyarakat adat Kampung Dukuh, Ama Uluk Lukman selaku tetua adat dan keluarga 5. Tim #Semak10 untuk semangat dan inspirasinya. 6. dr. Andreas Prasadja, dokter spesialis tidur, atas konsultasi kesehatannya 7. Dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

46


Pelaksana: Inu Febiana (@IFnubia) – sepedaku.com | Bayu Hendroatmodjo (@bayuhdr)– Trax Magazine, Desainer Grafis | Rizky Anugrah – Pembalap Sepeda asal Garut Budi Santoso (@budissimo) – sepedaku.com | Ancila Marcelina (@ancillamarcelin) – Produksi | Ali Indrawan (@aliindrawan) – Alih Bahasa | Anak muda lokal di tiap daerah Didukung: Member sepedaku.com & Follower twitter @Sepedaku

47

#PetaX - Indonesia Dari Atas Sepeda  

Rangkaian Peta Kecil: Jawa Barat (Indonesia version)

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you