Page 1

Monthly

Edisi 04 / 6 Maret 2012

JOGJA AIR SHOW 2012

EKSOTIKA Baluran National Park

Sepotong Africa di Taman Nasional Baluran

RAKERNAS II PHRI

Penguatan Peran PHRI Dalam Membangun Daerah Untuk Kemajuan Ekonomi Nasional

Butet Kertaradjasa

Kawasan Pantai Selatan Yogyakarta Siap Menjadi Alternatif Objek Wisata Dirgantara

Paul Amron Yuwono Seniman Asal Yogya yang 20 tahun malang melintang di negeri Paman Sam

Mental Proyek dan Mental Komisi MEMBUAT PARIWISATA DIY BERJALAN LAMBAN


Stylish, fun and fresh hotel inYogyakarta Hotel dengan fasilitas bintang 2, didesain dengan gaya modern minimalis, sederhana dan penuh warna yang membuat hotel Pose In berbeda dengan yang lain. Kami memanjakan tamu – tamu dengan dekorasi kamar yang modern, atraktif, dan segar, yang memberikan rasa nyaman dan pengalaman yang luar biasa selama tinggal di Pose In Hotel. Tersedia 24 kamar dengan 3 tipe kamar : Standard Room, Superior Room, Deluxe Room dilengkapi dengan kunci “security key locking system� dan safe deposit box di setiap kamar semakin memberi kenyamanan dan rasa aman kepada tamu tamu hotel. POSE IN HOTEL adalah hotel modern minimalis yang menyatukan gaya, warna, kenyamanan dan keramahan. Terletak di lokasi stragtegis tak jauh dari pusat wisata kota Yogyakarta yaitu Malioboro, Kraton dan Kota gede membuat Pose In Hotel semakin menarik dan menjadi pilihan favorit bagi semua kalangan, pebisnis dan pelancong. Fasilitas: WiFi LCD TV Laundry Service Hot & Cold Water Magnetic Card Key Breakfast International TV Channel Shuttle Service Mini Bar ** Save Deposit Box ** Note : ** Available at Superior & Deluxe Room.

POSE IN HOTEL Jl. Mayjend Sutoyo no.62 Yogyakarta Indonesia Tel: 0274 - 371975 Email: info@poseinhotel.com


Dari Redaksi

Box Redaksi

SAMBUTAN PEMIMPIN REDAKSI PESONA WISATA MAGAZINE

Pendiri: Tubagus D. Irawan SHY Tubagus Aria Irawan Tetra

Assalam mualaikum Warahmattulloh Hiwabarakatuh.

Pelindung dan penasehat KRHT Drs. H. Istidjab M. Danu Nagoro, MM M. Tazbir Abdullah

Pertama-tama saya menghaturkan puji syukur kehadirat Allah Subhana Huwata’ala yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta nikmat sehat kepada kita semua hingga dapat menyelesaikan proses Re-format Pesona Wisata yang sebelumnya berformat Tabloid, namun kini telah ber metamorfosa menjadi Pesona Wisata Magazine, Saya secara pribadi dan atas nama segenap awak Pesona Wisata Magazine merasa terharu namun berbahagia karena kerja keras kami selama lebih kurang dua bulan untuk mewujudkan cita-cita kami menerbitkan sebuah Magazine dengan segmen full pariwisata dapat terlaksana. Jika di edisi reformat ini mungkin masih ditemukan beberapa kekurangan, tetapi Insyaallah pada edisi-edisi berikutnya secara perlahan kekurangankekurangan itu akan kami revisi agar lebih baik lagi.

Pemimpin Perusahaan Tb. Aria B Irawan Pemimpin Redaksi Tb. Aria Irawan Dewan Redaksi Tb. Aria Irawan Pafleavi Iyul Redaktur Eksekutif Drs. Ign. Soedjarwo CHA, MM Herman Toni Reporter Windy Anggraina Tb. Aditya Irawan Staff Redaksi Tb. Aulia

Motivasi kami menerbitkan Pesona Wisata Magazine ini tak lain karena didorong rasa tanggung jawab moril sebagai anak bangsa dan kecintaan kami pada dunia pariwisata yang menginginkan agar DIY memiliki media dengan segmentasi full pariwisata berformat apik namun memiliki Coverage distribusi yang luas hingga keluar wilayah DIY dan dapat ditemukan di kota-kota besar lainnya. Sebagai bagian dari insan Pers, kami hanya dapat melakukannya dengan cara menerbitkan sebuah media dengan format Tourism Magazine yang khusus menyajikan artikel dan berita-berita pariwisata baik dari sisi informasi, edukasi dan promosi.

Iklan dan Pemasaran Tri Hastati Martina Koresponden Aldista Fariz (Bali) Noni Khairani (Surabaya) A. Nofel Assegaf (Semarang) Rony (Jakarta) Vega (Bandung) Design dan Artistik Bambang Ally Budi Utomo Alamat Redaksi dan Iklan Jl. Timoho no. 31 Yogyakarta 55225 Telp. (0274) 8081378 Email: Pesonawisata.magz@yahoo.co.id PUBLISHER Dian Media Internusa Printing by: Bee Grafis Yogya

Monthly

Edisi 04 / 6 Maret 2012

Cover JOGJA AIR SHOW 2012

EKSOTIKA Baluran National Park

Sepotong Africa di Taman Nasional Baluran

RAKERNAS II PHRI

Penguatan Peran PHRI Dalam Membangun Daerah Untuk Kemajuan Ekonomi Nasional

Kawasan Pantai Selatan Yogyakarta Siap Menjadi Alternatif Objek Wisata Dirgantara

Sebagai sebuah Majalah yang terbit di Daerah Istimewa Yogyakarta, kami memiliki komitmen untuk berusaha menggali seluruh potensi pariwisata, khususnya yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Itu sebabnya dalam kesempatan ini kami seluruh awak Pesona Wisata Magazine mohon partisipasi dan kerjasama pihak-pihak yang terkait dengan pariwisata di Yogyakarta ini. Maaf..., ini bukan promosi lho, tetapi perlu saya informasikan pada pembaca sekalian jika Pesona Wisata Magazine ini pendistribusiannya tidak hanya di wilayah Yogyakarta dan Kabupaten-kabupaten sekitarnya, namun kami memiliki coverage 7 kota meliputi Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bali, Bandung dan Jakarta, Pesona Wisata magazine ini dibagikan secara cuma-cuma dan tidak akan ditemukan di pasaran bebas, karena kami mendistribusikannya melalui hotel-hotel, Perusahaan biro perjalanan, Beberapa perusahaan penerbangan serta tempat-tempat lain yang berfungsi sebagai sarana penunjang pariwisata. Insyaallah untuk ke depannya nanti kami akan lebih memperluas pendistribusiaan Pesona Wisata Magazine ini ke beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Model : Penari Festival Tionghoa Lokasi : Kampung Ketandan Fotografer : Aditya Design : Bambang Ally Budi Utomo

Paul Amron Yuwono Seniman Asal Yogya yang 20 tahun malang melintang di negeri Paman Sam

Butet Kertaradjasa

Mental Proyek dan Mental Komisi MEMBUAT PARIWISATA DIY BERJALAN LAMBAN

4 . PesonaWisata Magz

Wabilahitaufik wal hidayah, warahmattulloh hiwabarakatuh.

Wassalam

mualaiikum

Tb. Aria Bomantara Irawan.


Content hal 26

hal 6

Liputan Acara

Aktual

Tiongkok Kecil

Sertifikasi Klasifikasi/ Re-Klasifikasi

Dikampung Ketandan,

Bintang Hotel Se-DIY Wujud Jaminan Mutu Bagi Konsumen

Mereka Berbicara Butet Kertaradjasa Mental Proyek dan Mental Komisi MEMBUAT PARIWISATA DIY BERJALAN LAMBAN

hal 22

Malioboro

Tokoh Kita Paul Amron Yuwono Seniman Asal Yogya yang 20 tahun malang melintang di negeri Paman Sam

hal 20

hal 16

hal 10

Liputan Utama Liputan Wisata Baluran National Park Sepotong Africa di Taman Nasional Baluran

KEGIATAN DAN HASIL RAKERNAS II PHRI Makassar 9 -11 Februari 2012


LiputanAcara

Tiongkok Kecil Dikampung Ketandan, Malioboro Perayaan tahun baru Cina atau yang lebih dikenal dengan perayaan imlek 2563 yang jatuh pada tanggal 23 Januari tak dilewatkan begitu saja oleh warga keturunan Tionghoa. Perayaan imlek yang diwarnai dengan pesta kembang api dan pemasangan lampion dilakukan semata-mata untuk menyambut pengharapan baru yang penuh keberkahan dan kebahagiaan ditahun naga air ini.

P

erayaan imlek sendiri dinegara asalnya di Tiongkok adalah sebuah perayaan kegembiraan masyarakat Tionghoa dalam menyambut musim panen yang ditandai dengan adanya pergantian musim dari musim dingin menuju musim semi. Bagi para petani dan nelayan, awal musim semi merupakan awal yang baik untuk memulai bercocok tanam dan melaut. Tradisi perayaan imlek dan cap go meh yang dirayakan setiap tanggal 15 penanggalan kalender Cina selalu disambut meriah oleh masyarakat Tionghoa dan masyarakat pribumi. Hal ini ditandai dengan adanya even pekan budaya Tionghoa Yogyakarta yang diadakan dinas pariwisata propinsi DIY bekerjasama dengan jogja Chinese art and culture centre (JCACC). Even budaya yang mampu menarik 60 ribu antusiasme pengunjung ini adalah even tahunan yang telah dilaksanakan hingga tahun ke-7 pada tahun ini. Kegiatan pekan budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dipusatkan dikampung ketandan malioboro selama 4 hari sejak tangal 2 hingga 6 Februari. Selama even penyelenggaraan pekan budaya ini, area kampung ketandan disulap menjadi kampung pecinan dimalam hari karena seluruh rangkaian kegiatan dimulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Beragam pernak pernik imlek, lampion dan aneka kuliner khas Tionghoa yang rutin disajikan menjelang imlek seperti lontong cap go meh, kue keranjang, bak cang dan kembang tahu menjadi menu andalan disepanjang area ketandan dimalam hari yang selalu ramai dipadati pengunjung. Pekan budaya Tionghoa yang menjadi even tahunan ini dibuka secara resmi pada tanggal 2 Februari oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Dalam sambutanya, Sri Sultan mengatakan bahwa keberadaan even PBTY dapat dijadikan sarana pemetaan budaya Tionghoa di Indonesia. Dengan adanya kesamaan tradisi diharapkan akan 6 . PesonaWisata Magz

Gubernur DIY Sri Sultan HB X ketika membuka pekan budaya Tionghoa 2012

Salah satu tarian tradisional Tionghoa yang turut memeriahkan pembukaan event PBTY

Salah satu aksi seniman Didi Nini Towok dengan tarian kupu-kupunya


LiputanAcara

Gerbang masuk kampung Cina di jalan Ketandan

Aksi naga yang memukau para penonton

menambah khasanah kebudayaan dan kebhinekaan. “ Kebudayaan Tionghoa adalah sub kultur kebudayaan nusantara. Melalui even budaya semacam ini akan terjadi persentuhan budaya Tionghoa dengan budaya Indonesia,� terangnya dalam pidato pembukaan PBTY yang berlangsung dikampung ketandan. Even pekan budaya Tionghoa kali ini tidak hanya even budaya dan pariwisata yang mampu menarik perhatian dan antusias pengunjung untuk datang dan berkunjung dalam pekan budaya Tionghoa yang menjadi salah satu even yang kehadiranya selalu ditunggu oleh masyarakat. Kehadiran even ini diharapkan mampu mendorong para seniman Tionghoa untuk terus berkreasi dan bergeliat memajukan seni budaya Tionghoa yang telah berakulturasi dengan budaya masyarakat sekitar. Semangat kreatiifitas seni dan budaya hendaknya dibarengi dengan interaksi sosial pada masyarakat agar kebudayaan yang selama ini belum dikenal menjadi populer ditengah masyarakat. Para pengunjung yang hadir tidak hanya dimanjakan dengan panganan kuliner yang khas, beragam kegiatan kesenian seperti pembacaan puisi mandarin, karaoke lagu-lagu mandarin dan suguhan tari-tarian khas neg-

eri tirai bambu ini tak lupa ditampilkan untuk menghibur sekaligus memperkenalkan budaya Tionghoa dalam bentuk tari-tarian tradisional pada masyarakat. Dalam even pembukaan pekan budaya Tionghoa, masyarakat yang memenuhi panggung utama ketandan terlihat antusias dan menikmati tarian tradisional tari seribu tangan dan tarian dari negeri Tibet yang berhasil dibawakan dengan apik oleh sanggar tari amour. Tarian seribu tangan adalah salah satu tarian yang tak pernah absen dipentaskan dalam even perayaan imlek. Tarian yang dimainkan oleh 11 orang penari berusia 15 hingga 25 tahun ini merupakan simbol limpahan rezeki yang melimpah ruah yang diberikan oleh Dewi Kwan Im yang tercermin dari ribuan tangan yang tergambar dalam tarian ini. Tangan-tangan yang menjadi kekuatan tarian ini dimaknai sebagai tangan Dewi Kwan Im yang senantiasa membantu umatnya dengan cara memberikan kemakmuran melalui limpahan rezeki yang didapatkan. Selain itu, tarian seribu tangan menjadi wujud rasa syukur seseorang kepada sang Dewi Kwan Im yang telah memberikan kecukupan kebutuhan yang diperlukan manusia. Selain aneka tarian tradisional yang dapat dinikmati pengunjung, setiap harinya para pangunjung dapat menyaksikan pertunjukan wayang poo tay hie yang dipentaskan setiap hari dan terbagi dalam segmen anak-anak dan segmen dewasa. Dalam perkembanganya, wayang poo tay hie digunakan sebagai media pendekatan kebudayaan, dan syiar keagamaan pada masyarakat. Sajian cerita yang unik, menarik dan atraktif membuat stand khusus wayang poo tay hie tak pernah sepi dikunjungi pengunjung yang penasaran dengan tokoh-tokoh wayang Tionghoa yang jenaka, cerdik dan pandai ini. Even pekan budaya kali ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Didik Ninik Thowok, seniman tari kawakan yang terkenal dengan berbagai tarian tradisional yang diciptakanya. Seniman yang memiliki darah Tionghoa ini terlibat langsung dalam pementasan ketoprak sampek ingtay yang diperankanya bersama Yu Beruk, Marwoto dan rekan-rekan seniman ketoprak lainya. Didik mengaku tak ada kesulitan yang berarti untuk pementasan ketoprak kali ini hanya saja kesulitan yang ditemui terletak pada pemilihan kostum. “ Secara keseluruhan tidak ada masalah dengan pementasan ketoprak kali ini, pementasan ini juga saya selingi dengan beberapa tarian pendukung untuk menghidupkan suasana. Kesulitan utamanya mencari kostum ketoprak, banyak kostum yang gak matching dengan jalan ceritanya jadi saya juga harus searching kostum agar cerita, tata rias dan kostumnya cocok, “ ujar Didik Ninik Thowok ketika ditemui seusai pementasan ketoprak berlangsung. Sampek ingtay yang diperankan oleh Didik Ninik Thowok sendiri adalah sebuah cerita dari negeri Tiongkok yang edisi Maret 2012 . 7


LiputanAcara

Cuplikan adegan pementasan ketoprak Sampek Ingtay

mengangkat kisah tentang kesetaraan gender dimana sekolah-sekolah pada masa lampau didaratan Tiongkok hanya menerima murid laki-laki saja. Ingtay seorang gadis Tionghoa rela menyamar menjadi laki-laki agar dapat bersekolah. Inti dari ketoprak sampek ingtay yang dibawakan dengan humor khas Didik Ninik Thowok, Yu Beruk dan kawan-kawan ini adalah bahwa sebuah sistem pembelajaran dan mendapatkan ilmu pengetahuan seharusnya dapat dilakukan dengan bebas dan tidak dibatasi sesuatu apapun termasuk gender. Biaya sekolah

Suasana jalan Ketandan yang dipadati pengunjung

8 . PesonaWisata Magz

yang mahal juga bukan menjadi alasan utama para pelajar meninggalkan bangku sekolahnya diusia dini. Proses latihan pementasan ketoprak sampek ingtay selama dua minggu ini nyatanya mampu membawa penonton menikmati alur cerita yang ringan namun sarat dengan nilai edukasi yang selama ini mulai dilupakan oleh masyarakat yang tinggal dikota pelajar ini. Kemeriahan even pekan budaya Tionghoa ditutup dengan rangkaian kegiatan dragon night festival yang diadakan pada tanggal 6 Februari malam. Tak kurang dari 12 grup Liong Samsi dan 22 kelompok seni dari berbagai wilayah turut meramaikan penutupan pekan budaya Tionghoa yang menampilkan arak-arakan naga disepanjang malioboro mulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali dan berakhir di Titik Nol Kilometer. Dragon night festival kali ini selain sebagai ajang perhelatan penutupan pekan budaya Tionghoa dalam menyambut tahun naga air, juga tercatat sebagai naga terbesar pemecah rekor muri tahun 2010 yang memilikii berat 1,2 ton yang berhasil diperagakan dengan apik dan atraktif oleh Batalyon Infanteri 403 Wirasada Pratista Kentungan yang dimainkan oleh 200 orang personil. Arak-arakan Liong Samsi ditarikan dengan 42 tongkat. Â Masing-masing tongkat dibawa oleh dua personil tentara. Pada saat naga menari mengejar bola, tentara lain tanpa henti memainkan musik dengan simbal dan

gong besar sehingga naga terlihat semakin beringas bergerak. 25 tentara yang membawa naga berwarna putih berulang kali melakukan gerakan akrobatik yang teratur dan dinamis, sang naga seolah begitu hidup. Para tentara dari Kodim 403terlihat membuat kuda-kuda yang mampu mengikat lima personel lainnya untuk leluasa melakukan gerakan memutar. Formasi ini membuat kepala naga tampak tenang dan badan serta ekor mengibas di atas tanah. Sebagai pereda amuk naga, disela atraksi liong samsi muncul barisan puluhan gadis cantik dari kelompok Natya Lakshita sanggar tari milik seniman Didik Ninik Thowok yang dibalut pakaian layaknya putri kerjaaan Cina. Dipandu seorang waria yang dengan tongkatnya gadis itu memainkan atraksi kipas mengikuti musik menghentak. Para pengunjung yang sejak sore hari memadati area malioboro tampak antusias menyaksikan atraksi Liong Samsi dan berbagai kesenian lain yang setiap tahunya selalu ditunggu masyarakat meskipun untuk menyaksikan berbagai atraksi yang berlangsung selama satu jam tersebut tak jarang warga masyarakat harus berdesak-desakan dengan para pengunjung lainya. Pawai karnaval  yang memperebutkan Tropi Raja Keraton dan uang senilai Rp 27 juta ini dimeriahkan oleh pembagian kue keranjang dan ditutup dengan pertunjukan kembang api dititik nol kilometer yang disambut meriah oleh anak-anak, orang tua dan para remaja yang menyaksikan pertunjukkan kembang api didekat patung naga yang sedang diarak. 

Text: Ina Foto: Aditya


Release

Panorama Group Peduli Pendidikan Sebagai bentuk kepedulian Panorama Group akan dunia pendidikan, maka pada sabtu 18 Februari 2012 lalu telah diadakan aksi social berupa pemberian buku-buku gratis untuk para siswa SD Bugisan yang bertempat di sekitar lokasi wisata camdi Plaosan, Kalasan Yogyakarta, aksi peduli akan dunia pendidikan sendiri merupakan rangkaian bagian acara Panorama Meeting Conference (PMC), sebuah acara meeting tahunan yang diadakan Panorama Group beserta seluruh perwakilan cabang perusahaan dari seluruh Indonesia yang pada tahun ini diadakan di Yogyakarta, meeting PMC ini selain bertujuan untuk membahas hal-hal demi kemajuan Panorama Grop, acara ini juga digelar untuk meningkatkan rasa solidaritas dan kekompakan bagi seluruh karyawan Panorama Grop yang kantor cabangnya tersebar di berbagai daerah. Untuk itulah ketua team Panitia PMC kali ini Tri Agung Pramono Adhi yang menjabat selaku Branch Manager Panorama Yogyakarta membuat beberapa kegiatan yang diharapkan akan membuat fresh para peserta PMC, beberapa game-game serta permainan menarik dibuat selama kegiatan berlangsung, tidak usai sanpai disitu, acara dilanjut dengan gala dinner yang diiringi music gamelan dan lagu-lagu keroncong, permainan alat music perkusi rampak jimbe yang dimainkan oleh para peserta PMC dengan arahan seorang pemandu terdengar apik dan harmonis menutup acara PMC malam itu. Tb.Aria

LiputanAcara

www.cangkringan.com

Independent Marketing Office Wisma Hartono Lt.3 Jl. Jend. Sudirman No.59 Yogyakarta Telp: +6274-9695885

Jl. Lingkar Selatan no.110 Yogyakarta Tlp: (0274) 384543 / 389912 Fax (0274) 411818 Email: rosin_jogja@yahoo.com Bb Pin: 26889E06


LiputanUtama

KEGIATAN DAN HASIL RAKERNAS II PHRI Makassar, 9 -11 Februari 2012

Menparekraf Mari Elka Pangestu selaku keynote speaker dalam Rakernas Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) II menyatakan bahwa pemerintah daerah harus memiliki perencanaan pariwisata yang menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan dengan tahapan-tahapan yg jelas. Hal ini diperlukan guna mendapatkan dukungan dari pihak pemerintah pusat ataupun investasi dari pihak swasta. Pada kesempatan ini Menparekraf juga menyatakan pasar wisatawan lokal sebagai aspek pariwisata yang menjanjikan.

R

apimnas (Rapat Pimpinan Nasional) dan Rakernas (Rapat Kerja Nasional) II PHRI yang dilaksanakani Hotel GRAND CLARION Makassar tanggal 9 – 11 Februari 2012 dihadiri oleh 27 BPD dan BPC PHRI dari seluruh Indonesia. Ada 5 BPD / BPC PHRI yang tidak hadir antara lain Papua, Aceh, dan lain-lain. Total jumlah peserta dan peninjau Rakrenas II PHRI mencapai 500 orang. BPD PHRI DIY mengutus 4 (empat) orang yakni Herman Tony dan Deddy Eryono Pranowo sebagai peserta, Karnilasari dan Totok Sapto Widodo sebagai peninjau. Tetapi Totok SW terpaksa membatalkan keberangkatannya karena harus mewakili Hotel CAKRA KUSUMA yang dikelolanya untuk menerima sertifikat hotel bintang bersama dengan beberapa hotel bintang lainnya di DIY tanggal 9 Februari 2012. Rapimnas PHRI yang dilaksana10 . PesonaWisata Magz

kan tanggal 9 Februari 2012 dihadiri oleh para Ketua dan Sekretaris BPD PHRI dari seluruh Indonesia dan langsung dipimpin oleh Ibu SB. Wiryanti Sukamdani selaku Ketua Umum bersama dengan pengurus BPP PHRI. Rapimnas terutama membahas isu-isu aktual dan krusial yang selanjutnya disepakati untuk menjadi bahan Rapat Komisi A (Organisasi) dan Komisi B (Program) dalam Rakernas PHRI esok harinya. Rapimnas ditutup dengan jamuan makan malam bersama dengan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, selaku tuan rumah serta dimeriahkan dengan pementasan tarian kolaborasi 4 suku di Sulsel. Gubernur yang amat peduli akan perkembangan pariwisata di daerahnya ini menyumbangkan dua buah lagu dalam acara makan malam tersebut. Rakernas II PHRI 2011 yang bertemakan “Penguatan Peran PHRI Dalam Membangun Daerah Untuk Kemajuan

Ekonomi Nasional” dibuka secara resmi oleh Menteri Parekraf - Mari E. Pangestu dengan disaksikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan – Syahrul Yasin Limpo dan Ketua Umum BPP PHRI – SB. Wiryanti Sukandani. Selanjutnya, Menteri Parekratif menjadi keynote speaker dalam seminar ½ hari di mana dia menyampaikan struktur baru dari Kementrian Parekraf. Dan, meminta agar PHRI mengambil peran dalam menjembatani pemenrintah daerah dan usaha pariwisata di bidang hotel dan restoran. Khususnya dalam hal menciptakan destinasi wisata yang nyaman bagi wisatawan dan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan. Selain itu, ia pun mengajak PHRI untuk peduli akan statistik pariwisata yang sering kali menimbulkan tanda tanya. Misalnya kontribusi hotel selalu dikatakan amat signifikan dalam penerimaan pajak padahal tidaklah demikian menurut


LiputanUtama kannya terkait pemberian ijin pembangunan hotel baru di daerah-daerah. d. Perlu terus diupayakan pembentukan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) di tingakt Propinsi maupun Kota/Kabupaten. Terkait hal tersebut BPP PHRI diminta untuk Menteri pariwisata & Ekonomi kreatif Mar’i Elka Pangestu saat membuka RAKERNAS PHRI membuat semacam statistik yang ada. Nah, ini menarik guideline agar ada kesamaan langkah BPD-BPD PHRI dalam menyikapi untuk ditelaah lebih lanjut ! Rakernas PHRI II 2012 di Makas- pembentukan BPPD di wilayahnya sar ini telah menghasilkan sejumlah masing-masing. e. Perlu ada kordinasi dan sinkkesepakatan yang menjadi program ronisi antara kegiatan BPD PHRI di kerja PHRI KE depanantara lain : a. Melakukan penggalangan dana daerah dan kegiatan antar bidang di dengan mengangkat Anggota Luar BPP PHRI. f. Di tiap-tiap BPD PHRI perlu Biasa seperti para Supplier Hotel dan Restoran yang selanjutnya menjadi diupayakan adanya data base tentang Sponsor berbagai kegiatan PHRI yang daftar anggota PHRI, jumlah kamar, berskala lokal, nasional bahkan inter- jumlah tamu, tingkat hunian kamar, nasional. Untuk maksud tersebut BPP pemberian diskon harga kamar bagi anggota, event-event yang dilaksanaPHRI akan membuat juklak-nya. b. Perlu dibentuk Tim Pengupahan kan dan lain-lain. Akan diberikan di tingkat BPP dan BPD PHRI uuntuk formulir yang harus diisi BPD-BPD mengantisipasi konflik terkait pen- sehingga BPP dan seluruh BPD PHRI gupahan meskipun senyatanya ”take memiliki data base yang sama. Data home pay” karyawan hotel selalu di base tersebut amat penting jika PHRI atas Upah Minimum Propinsi/Sekto- ingin menyuarakan kepentingannya seperti meminta pemerintah untuk ral. c. Mengusulkan kepada pemerin- menghentikan sementara pemberian tah (daerah/pusat) agar PHRI menjadi ijin pendirian hotel baru. g. Perlu diadakan kerjasama antara salah satu pihak yang dimintai masuBPP dan BPD PHRI dengan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pengumpulan statistik pariwisata. h. Media komunikasi anggota PHRI seluruh Indonesia akan dioptimalkan dan dimaksimalkan melalui website Wakil ketua PHRI BPD DIY Herman Toni berpose sesaat dengan gubernur Sulsel yang telah dibuat

BPP PHRI yakni www.phrionline. com. i. Perlu disosialisasikan program BPPI dan BPPD; j. Kementrian Parekraf perlu didorong untuk membuat standarisasi restoran. k. Perlu dicermati perkembangan program klasifikasi dan sertifikasi hotel dan restoran. Perlu diberikan masukan/usulan kepada pemerintah terkait penyusunan peraturan tentang sertifikasi usaha pariwisata yang sedang dibuat. Menurut UU Pariwisata No. 10 Tahun 2009 sertifikasi usaha akan dilaksanakan oleh lembaga mandiri. l. Perlu dilakukan kerjasama PHRI dan MUI terkait penyusunan UU tentang Label Halal. Rakernas ditutup dengan jamuan makan malam di Rumah Jabatan Walikota Makassar yang dimeriahkan dengan Tarian Tradisional dari Suku Mandar - salah satu suku di Sulsel. Pada kesempatan itu pula dilaksanakan pemberian penghargaan kepada beberapa BPD PHRI masing-masing dengan kategori : SULSEL : Paling aktif memberikan informasi tentang perkembangan dan kegiatan PHRI di wilayahnya SUMUT : Paling aktif melaksanakan pembinaan terhadap anggota PHRI di wilayahnya JATENG : Paling aktif melaksanakan klasifikasi hotel anggota PHRI di wilayahNYA JABAR : Paling tertib dalam hal penyetoran iuran anggota di wilayahnya JATIM : Paling pertama membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah Propinsi Hari terakhir rakernas (11/2) diisi dengan kegiatan ‘city tour’ dengan mengunjungi Benteng Rotterdam sebagai salah satu situs ternama di Sulsel, Pusat Belanja Somba Opu dan Trans Studio. Foto dan text: Herman Tony

edisi Maret 2012 . 11


KabarAktual

JOGJA AIR SHOW 2012 Kawasan Pantai Selatan Siap Menjadi Alternatif Objek Wisata Dirgantara

A

khir pekan lalu, Minggu (12/2) ada pemandangan dan keramaian yang tidak biasa dipantai selatan bantul, hal ini menjadi pemandangan menarik dikawasan pantai depok dan pantai parangtritis yang dipadati wisatawan untuk menyaksikan festival dirgantara Jogja Air Show yang diadakan Dinas Pariwisata Propinsi DIY bekerjasama dengan pemda bantul dan didukung oleh TNI Angkatan Udara Lanud Adisucipto sejak tanggal 1012 Februari. Festival kedirgantaraan jogja air show yang telah memasuki event penyelenggaraan ke 7 kali ini diikuti 11 komunitas dirgantara yang datang dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sulawesi Tengah, Bali dan Kalimantan Timur yang hadir untuk memeriahkan event olahraga dirgantara yang diikuti dan dimeriahkan oleh penampilan 279 atlet aerosport yang terdiri dari 100 atlet paralayang dan gantole, 30 atlet paramotor, 56 atlet aeromodeling, 12 . PesonaWisata Magz

12 penerbang microlight dan 8 orang atlet terjun payung. Gelaran jogja air show tahun 2012 ini menghadirkan 6 olahraga dirgantara, antara lain aeromodeling, paramotor, paralayang, gantole, trike dan fixwing. Bukan hanya para atlet aero sport saja yang dapat menikmati keindahan pantai parangtritis dan pantai depok dengan menggunakan gantole, paralayang dan paramotor. Para pengunjung dan wisatawan pun dapat ikut terbang layang bersama pilot-pilot handal dari Jogja Flying Club dalam rangkaian kegiatan joy flight. “Ini adalah kesempatan pertama saya mencoba terbang bersama pilot dalam penerbangan joy flight dalam jogja air show kali ini. Sebelumnya saya tidak pernah mencoba olahraga aerosport semacam ini, tetapi setelah mencoba rasanya saya mendapat pengalaman berharga menikmati panorama pantai dari udara,� Ujar Rosyid, wisatawan asal Semarang ketika ditemui bersama pengunjung lain yang mengikuti joy flight.

“Pemanfaatan angin barat sangat baik untuk olahraga paralayang dan gantole karena olahraga ini membutkan angin dari depan bukan dari belakang. Untuk menerbangkan paralayang dan gantole langkah yang paling tepat adalah melawan arah mata angin agar dapat mengudara dengan maksimal,� tutur Alfari Widyasmara, ketua panitia Fasi jogja. Kesan yang timbul bahwa olahraga dirgantara adalah olahraga yang mahal juga tidak sepenuhnya benar, olahraga ini menjadi satu olahraga yang tidak mahal jika para penggemar dan penikmat olahraga ini mengikuti sekolah aerosport. Sekolah ini menyediakan beragam fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang keahlian dan keterampilan dalam melakukan variasi olahraga dirgantara jika peserta memiliki prestasi, pemerintah daerah setempat akan membantu dan mendukung penuh dalam hal pengadaan alat-alat olahraga aerosport. Hari terakhir perhelatan jogja air show 2012 sejumlah atraksi aeromodeling, paralayang dan paramotor mampu membius para pengunjung yang antusias menyaksikan para penerbang yang dengan bebas hilir mudik terbang bebas diangkasa membawa spirit dan semangat kebe-


Kabar Aktual perencanaan infrastuktur landasan pacu bagi olahraga trike, paramotor, paralayang dan fixwing, dinas pariwisata berencana akan menambah luas area pendaratan menjadi 1000 meter. Panjang landasan saat ini dinilai kurang memenuhi standar karena saat ini landasan pacu hanya 450 meter sementara panjang ideal yang diperlukan adalah 800 meter, dengan menambah panjang landasan pacu yang digunakan untuk melakukan pendaratan diharapkan akan semakin banyak mendatangkan para wisatawan mancanegara untuk melakukan kegiatan olahraga dirgantara dilokasi pantai ini dengan aman dan nyaman. Alfari Widyasmara saat menjawab pertanyaan dari media dalam jumpa pers Jogja Air Show 2012

basan yang diusung masing-masing peserta aerosport. Hal yang tidak kalah menarik dalam penutupan jogja air show kali ini adalah terciptanya rekor baru menerbangkan pesawat radio control (RC) dalam jumlah terbanyak yaitu 22 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua. Dalam menerbangkan pesawat radio control yang terpenting adalah koordinasi antar peserta agar pesawat yang dikemudikan tidak saling bertabrakan di udara dan jatuh. Pada event pemecahan rekor muri tersebut secara serentak pesawat mini yang terbang diatas pantai depok mendarat serentak didepan para tamu undangan yang hadir pada saat itu. Antusias para pengunjung dari tahun ke tahun untuk menyaksikan pertunjukan jogja air show semakin meningkat. Jika tahun lalu target pengunjung mencapi 23 ribu , tahun ini Dinas Pariwisata Propinsi mengharapkan target pengunjung lebih dari tahun lalu atau minimal sama dengan pengunjung pada tahun lalu. Sementara itu,M. Tazbir Abdullah, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi DIY mengatakan bahwa event jogja air show selain sebagai promosi wisata pantai selatan sekaligus sebagai ajang pembuktian pada para wisatawan yang akan berkunjung ke kota jogja bahwa

jogja tidak hanya kaya dengan wisata kuliner dan wisata seni budaya tetapi juga memiliki potensi wisata yang tidak kalah menarik yaitu potensi wisata dirgantara. “Event ini kami adakan untuk mempersiapkan dan mempubikasikan bantul sebagai kawasan wisata dirgantara. Kedepan tidak hanya target wisata nasional saja yang kita inginkan tapi juga sekaligus penerbang strike an strikenya target wisatawan inter- Rosyid, salaholaseohrarangag gan tole berpose di dep ang cab atlet nasional yang dapat menikmati keindahan dan melakukan olahraga dirgantara dipantai depok, parangtritis dan parangkusumo,� terang Tazbir dengan nada yang cukup bersemangat. Wisata dirgantara dikawasan pantai selatan ini digadang-gadang menjadi salah satu objek wisata dirgantara satu-satunya di Indonesia yang memiliki fasilitas infrastuktur yang dinilai cukup memadai untuk kegiatan olahraga udara ini. Kondisi angin barat yang cukup bersahabat bagi para pecinta olahraga paralayang, terjun payung dan paramotor menjadi salah satu keunggulan yang dapat dipromosikan pada para wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke pantai selatan yang menjadi ikon Detik-detik menje lang spot landing pariwisata kota bantul ini. dari salah satu pes erta cabang parala yang Untuk meningkatkan kualitas

Teks : Ina Foto : Aditya

edisi Maret 2012 . 13


Liputan

Pembukaan Kantor Konsulat Czech Republik Di Yogyakarta Bertempat di Royal Ambarukmo Palace Hotel, Yogyakarta, Kamis(9/2) malam, kantor Konsulat Czech Republik resmi dibuka.Peresmian ini ditandai dengan pembubuhan tanda tangan dari Gubernur D.I.Y, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang disaksikan oleh Duta Besar Republik Czech untuk Indonesia, H.E Thomas Smetanka.

D

ibukanya kantor konsulat itu, menurut Thomas merupakan bagian dari upaya memperlancar hubungan kerja sama antara Republik Ceko dan Indonesia, khususnya Yogyakarta dalam berbagai bidang baik dalam segi bisnis, pendidikan maupun budaya. Hal ini di tegaskan pula oleh Hermawan Kertajaya, pakar pemasaran sekaligus konsul kehormatan Republik Ceko yang juga hadir saat itu, bahwa sudah cukup lama Indonesia menjalin kerja sama dengan Republik Ceko, terutama dalam segi bisnis. Dan pemerintah Ceko menilai ekonomi kreatif di Indonesia, terutama Yogya, memiliki potensi yang besar. “Dibukanya kantor konsulat ini merupakan hasil observasi dan studi mendalam yang cukup lama terhadap hubungan kedua negara,” ujar Hermawan. Dan hasilnya, pemerintah ceko menilai Indonesia, terutama di Yogya memiliki potensi bisnis yang cukup menjanjikan. Potensi ini dipertegas oleh Jan Janda selaku Atase Comercial Czech Republik, dalam pidatonya saat acara Special Diner Business Gathering di hotel bintang lima itu. Ia sangat meyakini bahwa dengan dibukanya kantor Konsulat Republik Ceko di Yogyakarta akan sangat membantu perkembangan ekonomi bagi kedua negara. Karena menurutnya, membuka kantor konsulat di Yogya akan mempermudah komunikasi antara pemerintah Ceko dan pemerintah D.I.Y dalam membahas persoalan 14 . PesonaWisata Magz

Foto bersama dalam acara Special Diner Business Gathering di Pendopo Ambarukmo Palace Hotel

ekonomi serta sektor lainnya. Sri Sultan juga menjelaskan, bahwa kedepannya kantor perwakilan Ceko ini tak hanya untuk pejabat negara atau daerah, tetapi juga akan dibuka akses untuk masyarakat umum yang ingin mencari informasi mengenai pendidikan, kebudayaan dan sebagainya. Selain itu Sri Sultan juga menginformasikan tentang rencana kunjungan Presiden Republik Ceko, Vaclav Klaus pada bulan Juli mendatang. “Saya tidak tahu tentang agenda kunjungan Presiden Republik Ceko di Indonesia, karena itu agenda dari pemerintah pusat, saya hanya diberitahu bahwa Presiden Republik Ceko akan berkunjung ke Jakarta dan Yogyakarta”, terangnya dalam Jumpa Pers sesaat setelah acara usai. Foto dan text: Aditya


Liputan

Malam Puncak HUT PHRI BPD DIY “Guyub Rukun Mbangun Pariwisoto Ngayogyokarto Istimewa”

B

ukan tanpa alasan jika taggline diatas dipilih sebagai tema malam puncak perayaan HUT PHRI BPD DIY yang ke 43, mengingat besarnya minat investor yang menanamkan investasi mereka dalam bisnis perhotelan di Yogyakarta, maka dengan maraknya kehadiran hotel-hotel baru di yogya otomatis akan menciptakan iklim persaingan yang ketat, tercatat 23 hotel baru yang siap berdiri di Yogya dengan kekuatan 3000 kamar akan menjadi “rival” ke 47 hotel yang terlebih dulu ada dengan kapasitas keseluruhan kamar berjumlah 11.000, maka prediksi yang ada saat ini adalah jumlah hotel secara keseluruhan di Yogya dengan kategori mulai bintang 1 hingga bintang 5 adalah 70 hotel dengan kekuatan 14 ribuan kamar. Menyikapi hal tesebut BPD PHRI mengangkat tema “ Guyup Rukun Mbangun Pariwisata Yogyakarta Istimewa” dalam acara HUT yang ke 43 yang di gelar di Cakra Kusuma Hotel pada 26 Februari 2012, hal tersebut bertujuan untuk menjalin kekompakan antar para pelaku dunia pariwisata serta tidak menjadikan

persaingan yang makin tajam sebuah potensi perusak hubungan dan kerukunan antar pelaku bisnis perhotelan di Yogya yang telah berlangsung baik selama ini , “Bukan persaingan tidak sehat yang kita harapkan, tapi mari kita bersama berfikir dan menciptakan hal-hal baru dalam pariwisata di Yogya ini, sehingga jatah kue yang harus di bagi ini semakin besar” , demikan salah satu kalimat yang disampaikan ketua PHRI BPD DIY Istidjab dalam pidato pembukaan acara, lebih jauh kepala dinas pariwisata provinsi DIY M.Tazbir menambahkan dalam kata sambutannya bahwa Yogyakarta masih memiliki peluang sangat besar dalam potensi pariwisata, yang perlu dilakukan adalah terus mengembangkan potensi tersebut dan hal ini perlu dilakukan bersama-sama oleh semua kalangan baik pemerintah, pengusaha yang menanamkan investasinya di yogya dan seluruh masyarakat.

Beragam acara digelar dalam rangka memperingati Acara HUT PHRI BPD DIY antara lain Culinary Competition dengan pesertanya para General Manager Hotel yang ada di Yogya, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran budaya seni Jathilan pada malam puncak HUT PHRI DIY, yang menarik dari seni jathilan yang dipertunjukan pada malam puncak tersebut adalah seluruh pemain jathilan itu terdiri dari para General Manager beberapa hotel yang ada di Yogya, mereka menghibur dan mengajak beberapa tamu undangan yang hadir seperti walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Kadinpar M.Tazbir Abdulah, Ketua PHRI DIY Istidjab untuk turut serta menari. Foto dan text: Tb. Aria

edisi Maret 2012 . 15


Liputan Wisata

Baluran National Park Sepotong Africa di Taman Nasional Baluran

Panorama savana dengan latar belakang gunung Baluran

Pantat panas, mata perih dan tulang serasa remuk-remuk setelah di hajar kurang lebih 10 jam duduk di bangku bis ekonomi jurusan Surabaya – Probolinggo dan Probolinggo arah Banyuwangi melalui Situbondo terbayar sudah dengan pemandangan savanna dan hijaunya Gunung Baluran pukul 07.00 pagi, perjalanan menempuh Jarak dari Surabaya ke Baluran sekitar 255 km terasa tidak berarti saat kita melihat panorama yang terpampang di depan kami. 16 . PesonaWisata Magz

S

epanjang jalan menuju Penginapan Bengkol, kami masih duduk di mobil sambil terantuk-antuk karena jalanan beraspal rusak, tetapi kali ini lebih berasa menyenangkan karena hanya 12 KM lagi akan menemui Savana. Sepanjang jalan mata serasa di manjakan oleh musang yang tiba-tiba berlari menyebrangi jalanan, ayam hutan yang berkokok di pinggir jalan, beberapa hewan kecil seperti tupai yang berlari-lari menerobos masuk ke dalam semak-semak. Baluran adalah taman nasional yang memiliki Savana terluas di pulau Jawa. Taman nasional dengan luas sekitar 25.000 hektare ini terdiri dari 444 jenis tanaman, 26 jenis binatang mamalia dan 176 jenis burung. Banyak yang mengatakan kalau Savana di Baluran mirip dengan Savana yang ada di Africa. Well‌.karena gak pernah juga me-

lihat Savana di Africa, menurut saya savanna di Baluran cukuplah menyenangkan. Primadona di taman nasional Baluran adalah Banteng Jawa, Menurut pak Hendrik ( salah satu petugas di Baluran), banteng adalah hewan yang sangat sensitive, sehingga untuk menemukannya mungkin butuh waktu yang lebih panjang dan keberuntungan. Banteng juga hewan yang sangat pembersih, kalau hewan-hewan lain cuek minum dan berkubang di kubangan Lumpur, tidak demikian dengan banteng. Setelah sampai di Bengkol, matahari pagi masih menyinari Savana, warna savanna yang mulai kecoklatan menjadi hangat dan menyenangkan. Beberapa pengunjung berkumpul di pinggiran savanna untuk memotret monyet dan beberapa binatang lainnya. Di Bengkol ada penginapan yang di kelola oleh petugas perhutani, kamarnya lumayan bersih dan ditutupi jaring-jaring kawat untuk menghindari monyet-monyet nakal. Saya menempati kamar di lantai 2, dari kamar ini, kita bisa melihat jalanan masuk dan monyet-monyet yang berkeliaran bebas di halaman penginapan. Konyolnya sewaktu kita akan berangkat dari Surabaya, seorang temen yang kebetulan datang lebih dulu, memberi info tidak ada makanan di Baluran. Beuh‌.kita langsung panik, beli mie instan dan segala tetek bengek makanan lainnya, padahal di bengkol walaupun seadanya tapi tetap aja ada yang jualan mie instan, biscuit atau minuman, Cuma kalau mau makan nasi kita mesti pesan dengan petugas


Liputan Wisata atau jalan 3 km ke arah pantai. Intinya gak mungkinlah kelaparan dan berat- berat bawa ransom dari kota. Setelah pesan makanan, tukar baju dan cuci muka, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pantai Bama. Dari Bengkol ke Bama sekitar 3 km berjalan kaki melalui aspal rusak. Kiri kanan savanna luas membentang dengan background gunung Baluran, gunung welirang dan Ijen. Punggung gunung yang pagi tadi masih berselimut kabut perlahan mulai kelihatan dengan semangkin tingginya matahari,ditemani pak Kasman salah seorang pemandu yang ada disini, kami menuju pantai Bama. Sepanjang jalan kami bertemu sekelompok burung merak betina dan jantan. Sekedar info, di awal musim penghujan ada satu titik di Savana yang di penuhi oleh kupukupu, saking penuhnya kupu-kupu bahkan jalanan akan tertutup oleh sayap-sayap mereka. Ada juga ular, biasanya ular di Baluran adalah jenis Kobra atau Phyton, setelah 3 km berjalan, akhirnya kami sampai di pantai Bama, disini kita dapat melakuka kegiatan sport water seperti Kano, snorkeling atau diving bisa menjadi pilihan, Saya hanya mencoba untuk kano, cukup menarik dan meluluh lantak-

Wartawati Pe

sona Wisata M agz saat mencoba kano

ta temui

ng dapat ki

Rusa liar ya

a sang pemandu

Wartawati Pesona Wisata Magz bersam

Wartawati Pesona Wisata Magz berpose bersama para wisatawan di pantai Bama

kan lengan, Padahal cuman kanoing sekitar 15-20 menit mungkin. Di pantai Bama ini terdapat terumbu karang, yang sayangnya sebagian rusak karena di terjang arus deras. Karena pantai ini terletak di bagian utara, gelombang tidaklah kuat, tetapi arus di bawah laut cukup keras karena bentuknya yang berupa selat. Sedikit ke tengah kita bisa menemukan palung dengan kedalaman lebih dari 1000 M. Di sekitar pantai juga bisa ditemui hutan mangrove yang cukup bagus dan bersih, tidak seperti kebanyakan hutan mangrove yang akar-akarnya kayak jari setan-setan, akarakar mangrove di sini bersih dan tidak berbau amis. Ketika kita kembali dari pantai Bama menuju Bengkol dengan jalur yang berbeda dengan keberangkatan, kali ini melalui hutan, kita menemukan pantai kecil yang sepi. Saya sempat berfikir kalau ini hidden beach banget. tidak ada manusia sama sekali, batu-batu besar berwarna hitam di bibir pantai, dan pasir kecoklatan yang terasa lembut ketika beradu dengan kaki, pantai dengan ombak tenang berwarna kebiru-biruan. Untuk melihat ž dari luas hutan Baluran, sebenarnya kita bisa menaiki gardu pandang, tetapi kita memilih untuk melihat binatang dan sunset di savanna sore-sore. Dari kejauhan sekumpulan rusa jantan dan betina mengelilingi kubangan air. Gunung Baluran sendiri adalah gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi, jadi sebenarnya kita bisa mendakinya, tapi‌jangan ajak saya mendaki heheehe. Tinggi gunung Baluran sekitar 1240 diatas permukaan laut dan sebaiknya ketika mendaki ditemani oleh petugas. Waktu terbaik untuk mendaki sekitar april – oktober ketika musim panas datang, jika menjelang malam udara terasa lebih dingin, namun menurut peemandu kami bulan depan udara dingin akan di gantikan dengan rasa panas yang amat sangat dan perlahan savanna akan berubah menjadi kuning kecoklatan, saat itulah Baluran dikatakan mirip seperti Africa. Hmmmmm bagaimana kalau kita buktikan di bulan September atau Oktober nanti ? Foto dan text: Noni Khairani

edisi Maret 2012 . 17


GalleryAcara

SOFT OPENING THE EDELWEISS HOTEL YOGYAKARTA

The Edelweiss Hotel Yogyakarta menyelenggarakan acara soft opening pada hari Selasa tgl 21 Februari 2012, kehadiran The Edelweiss hotel yang merupakan city hotel dan memiliki 9 lantai yang terdiri dari 95 kamar dengan klasifikasi 94 kamar superior , 1 The Edelweiss Suite dan ruangan meeting dengan kapasitas 30 orang,diharapkan akan meramaikan hotel-hotel baru di Yogyakarta yang akan memenuhi kebutuhan bagi pengguna hotel baik dari segi standar dan bujet. Setelah grand opening nanti The Edelweiss Hotel akan memiliki Penambahan fasilitas lainnya seperti swimming pool, Pool Bar dan Business Center yang akan menambah kenyamanan para costumer. The Edelweiss Hotel yang belokasi di Jl. Gejayan di bangun di atas lahan seluas 754 m2 engan design konsep modern minimalis bertemakan “green building” . Penambahan vertikal garden dibagian entrance bangunan, menjadi ciri khas dari green bulding, konsep“bangunan hijau” merupakan solusi kami untuk menjawab permasalahan ruang dan bangunan dimasa datang, karena dengan melalui “bangunan hijau” lah, keserasian hubungan manusia dengan alam masih dapat terjaga dan The Edelweiss Hotel Yogyakarta berharap dapat berkontribusi dalam bangunan hijau khususnya di Yogjakarta. Tb.Aria

ASTI Gelar Seminar

Sosialisasi pentingnya standarisasi SPA di Yogyakarta Bertempat di JBN Amazing Hall Jl.Yos Sudarso, Yogyakarta Kamis 16 Februari 2012 ASTI (Asosiasi Spa Terapis Indonesia) bekerjasama dengan Dinas Budaya & Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan Seminar dengan tema  “ADA APA DENGAN PERATURAN SPA BERLISENSI DAN TERAPIS BERSERTIFIKAT?”  selain kepala dinas pariwisata provinsi DIY Tazbir, S.H, M.Hum yang menjadi pembicara, dalam acara ini hadir juga para produsen kosmetika, pemilik SPA, klinik  kecantikan dan salon serta para tenaga terapis untuk dapat memahami dengan benar tentang SPA dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Seminar berisikan tentang sosialisasi pentingnya standarisasi tentang SPA di Yogyakarta, yaitu setiap usaha SPA harus mempunyai lisensi resmi & para terapis yang bekerja pun harus dilengkapi dengan sertifikat yang diberikan setelah lulus uji kompetensi, karena kedepannya SPA akan dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata di Yogyakarta Acara ditutup dengan pembagian cindera mata kepada tamu undangan & pengurus ASTI dan dilanjutkan dengan acara jamuan makan siang, ajang ramah tamah antara pengurus ASTI, Dinas yang terkait, tamu undangan & juga pembagian sertifikat kepada semua peserta yang hadir. Tb.Aria 18 . PesonaWisata Magz


GalleryAcara

AUDIENSI MANAGEMENT ROS IN HOTEL DENGAN GUBERNUR DIY Pada tanggal 24 Januari Managemen Ros In Hotel Yogyakarta melakukan audiensi dengan Gubernur D.I.Y Sri Sultan HB X,mohon doa restu dan melaporkan perkembangan bisnis Ros In Hotel setelah Grand Opening sejak 22 juli 2011.Sejak Juli sampai dengan Desember 2011 tingkat hunian rata rata mencapai 70 % ujar Ign Soedjarwo Selaku General Manager. Dengan pertumbuhan Hotel hotel yang meningkat dua tahun terakhir ini para pengelola hotel dituntut untuk meningkatkan kegiatan promosi dan pemasaran untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dalam negeri maupun luar negeri ke D.I.Y. D.I.Y memiliki keunggulan dan kelebihan daripada Bali karena disamping memiliki obyek-obyek wisata yang menarik juga potensial bidang budaya pendidikan dan kerajinan. Dengan rencana akan dibangun Bandara internasional di Kulon Progo yang memilik saran dan fasilitas yang lebih baik diharapkan pertumbuhan pariwisata D.I.Y akan berkembang pesat. Tb.Aria

PHRI & ASITA BPD DIY

Gelar pertemuan dalam rangka membahas rencana kegiatan Jogja Travel Mart 2012 Bertempat di sebuah resto, PHRI & ASITA BPD DIY menggelar pertemuan guna membahas rencana kegiatan Jogja Travel Mart (JTM) yang pada tahun merupakan kali ketiga diadakan di Yogya. Selain membahas tekhnis pelaksanaan JTM yang akan berlangsung pada bulan Mei 2012. Acara yang dihadiri oleh ketua PHRI Yogya Istidjab Danunegoro, wakil ketua PHRI Yogya Herman Toni, ketua BP2KY Dedy Ernowo, ketua ASITA Yogya Edwin Hima beserta jajarannya dan Pemred Pesona Wisata Magazine Tb. Aria, juga membahas berbagai isu-isu aktual penting lainnya dalam dunia pariwisata Yogya. Acara pertemuan di tutup dengan pemberian Cinderamata dari pengurus ASITA kepada Pengurus PHRI yang diserahkan secara simbolik oleh ketua ASITA Yogya Edwin Hima kepada Ketua PHRI BPD DIY Istidjab Danunegoro. Tb.Aria edisi Maret 2012 . 19


Aktual

Sertifikasi Klasifikasi/Re-Klasifikasi Bintang Hotel Se-DIY Wujud Jaminan Mutu Bagi Konsumen

Foto bersama para perwakilan hotel penerima sertifikat klasifikasi bintang

S

ebagai kota seni dan budaya, tak heran jika Yogyakarta menjadi destinasi wisata yang dikunjungi ribuan, bahkan jutaan wisatawan baik lokal maupun internasional tiap tahunnya. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung, jelas pemerintah daerah harus memikirkan tentang mutu pelayanan dari sarana dan prasarana serta infrastruktur yang memadai demi menunjang kenyamanan tamu-tamunya. Salah satunya sarana akomodasi bagi para wisatawan yang ingin tinggal lebih lama di kota ini, terutama wisatawan asing. Terdapat banyak pilihan jenis sarana akomodasi di Yogya, mulai dari home stay, losmen, serta hotel. Masing-masing memiliki rate harga yang beragam, sesuai dengan fasilitas yang disediakan. Namun, sampai saat ini hotel masih menjadi pilihan utama untuk akomodasi para wisatawan. Untuk itu, tak heran para pengusaha hotel berlomba-lomba menawarkan fasilitas terbaik demi menarik konsumen. Namun, ada kalanya konsumen di kecewakan oleh hotel tempat mereka menginap dikarenakan fasilitas 20 . PesonaWisata Magz

yang tidak sesuai dengan harga yang harus mereka bayar. Menyikapi hal ini kementrian pariwisata, bekerja sama dengan dinas pariwisata Prov. DIY, Dept. Kesehatan, PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) pusat, dan BPD PHRI Yogyakarta, memutuskan untuk melakukan klasifikasi untuk hotelhotel yang ada di DIY. Klasifikasi ini akan membedakan kelas atau rate tiap hotel yang ada, mulai dari kelas melati, bintang 1, hingga bintang 5. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Istijab selaku ketua BPD PHRI, dalam pidatonya saat membuka acara penyerahan sertifikasi klasifikasi/re-klasifikasi bintang hotel di Hotel Ros In, Yogyakarta, Kamis (9/2) lalu, bahwa untuk mendapatkan sertifikat klasifikasi ini, tiap pengusaha hotel harus memenuhi beberapa persyaratan yang diberikan oleh tim monitoring. Seperti menunjukkan surat-surat perijinan bangunan (IMB), kelayakan bangunan, kelengkapan fasilitas, sampai ke sektor keamanan dan kesehatan lingkungannya serta keramahan para karyawan terhadap tamu.


Aktual Dari klasifikasi ini, tambah Istijab, nantinya akan dapat di tentukan pula mengenai rate harga kamar tiap hotel dan ini akan memudahkan wisatawan memilih hotel untuk mereka menginap. “Bila rate harganya sudah ada, nantinya akan memudahkan para wisatawan dalam menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.� Dalam acara yang dihadiri oleh 21 perwakilan dari tiap hotel yang mendapat sertifikat klasifikasi, tampak Bapak M. Tazbir Abdullah selaku Kepala Dinas Pariwisata Prov. D.I.Y, yang mengatakan bahwa untuk meningkatkan mutu pariwisata di Yogya, harus terjalin sinergi antara pemerintah dengan para pelaku bisnis pariwisata, khususnya hotel. “Pemerintah harus berjalan secara pararel dengan pelaku bisnis dunia pariwisata, khususnya hotel untuk dapat memajukan pariwisata di Yogyakarta,� ujarnya. Masih menurut Tazbir, bahwa selain dengan pelaku bisnis pariwisata, pemerintah juga akan bersinergi dengan pihak Kepolisian demi menciptakan suasana aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Text dan foto: Aditya Istijab, Ketua BPD PHRI, Yogyakarta

Soedjarwo, GM Ros In Hotel saat menerima ucapan selamat dari Kadinbudpar DIY M.Tazbir sesaat usai menerima sertifikat

edisi Maret 2012 . 21


Mereka Berbicara

Butet Kertaradjasa

Mental Proyek dan Mental Komisi MEMBUAT PARIWISATA DIY BERJALAN LAMBAN Selain dikenal sebagai kota pelajar, yogyakarta juga terkenal dengan pariwisata seni dan budaya yang cukup kental jika dibandingkan dengan kota-kota lain. yogya memiliki nilai historis dan akar budaya yang terus dilestarikan secara turun temurun, maka tak heran jika dikota ini banyak seniman-seniman besar mulai dari seniman lukis, patung, tari dan lain sebagainya memilih tinggal dikota berhati nyaman ini. Namun keunikan seni tradisi dan budaya yang dimiliki kota yogya rupanya berbanding terbalik dengan kehidupan para seniman yang menjadi kaum minoritas dikota yang mengusung ikon pariwisata seni dan budaya.

22 . PesonaWisata Magz

H

al ini ditegaskan Butet Kertaredjasa seniman asal kota yogya yang aktif menekuni dunia teater sejak tahun 1978 dan terkenal dengan pementasan monolog matinya toekang kritik yang berhasil dipentaskan dibeberapa kota besar tahun 2006 silam. “Kondisi pariwisata dikota yogya ini masih kurang, banyak hal yang harus diperbaiki. Satu hal penting yang harus segera dibenahi jika pariwisata yogya ingin bersaing dengan daerah-daerah lain adalah mental masyarakat yang harus dibangun terlebih dahulu,� ujar Butet dengan raut wajah santai namun tetap terlihat serius ini ketika ditemui di rumah makan miliknya yang terletak dijalan tirtodipuran. Sektor penting dalam pengembangan industri pariwisata terletak pada masyarakat. Selama masyarakat yogya tidak sadar wisata dan tidak menganggap sektor pariwisata sebagai tumpuan kehidupan, rasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembangkan industri pariwisata dikota ini. Butet mengatakan, jika masyarakat tidak sadar wisata dan menjadikan industri ini ladang mata pencaharian mereka dengan demikian tidak akan muncul satu sikap yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan untuk datang kekota yogya. Upaya pemerintah untuk meningkatkan pariwisata dengan berbagai cara patut diacungi jempol, namun jika upaya peningkatan sektor industri pariwisata hanya berhenti pada tingkat pengadaan infrastuktur dilokasi pariwisata tanpa membangun mentalitas dan rasa sadar wisata pada masyarakat sama saja melakukan hal yang sia-sia. Contoh nyata potret buram industri pariwisata kota yogya yang semakin tampak adalah adanya permainan komisi dalam industri pariwisata yag semakin meningkat dan menjadi ironi tersendiri ditengah upaya pemerintah mempromosikan yogyakarta sebagai kota pariwisata. “Permainan komisi itu tumbuh secara bertahap mulai dari outlet industri kecil dan menengah hingga tingkat para penguasa. Berapa banyak pengusaha dibidang jasa, kuliner dan para pengrajin


Mereka Berbicara

yang nasibnya semakin tertindas karena ulah para guide yang bekerja sesuai dengan komisi yang diberikan padanya,� terang anak ke lima dari tujuh bersaudara keluarga seniman Bagong Kussudiardja. Budaya pemberian komisi yang semakin merajalela tersebut dapat mempengaruhi citra pariwisata kota yogya. Para pemandu wisata yang ada dipusat-pusat perbelanjaan kota seperti di malioboro mall dan sebagainya hanya akan mengantar para wisatawan ke pusat oleh-oleh dan pengrajin yang telah memberikan komisi pada para pemandu wisata tersebut. Usaha rumah makan pun tidak kalah ironisnya, banyak rumah –rumah makan yang berada dilokasi wisata dikenakan pajak 10 persen. Secara tidak langsung hal ini telah membutikan bahwa pemerintah belum mencanangkan gerakan sadar wisata. Keberadaaan pajak rumah makan justru akan membebani konsumen. Sama halnya dengan kehidupan para seniman yang tidak jauh tertindasnya dengan kondisi dilapangan yang kini dijejali para pemandu wisata yang lebih memilih permainan komisi didalam sektor industri pariwisata. Nasib seniman lukis contohnya, ketika karya seorang pelukis masuk kedalam art shop, ini adalah

gambaran nyata kehidupan seorang seniman yang memperihatinkan. Karya seni lukis yang dibuat dengan seluruh ide kreatif, daya dan energi yang dimiliki untuk menciptakan suatu karya yang bernilai seni tinggi ketika masuk dalam art shop juga akan dipotong komisi 30 persen. Jika kemudian para seniman bersikap apatis itu bukan tanpa sebab dan alasan yang jelas. Para seniman berpandangan bahwa pemerintah tidak betul-betul berorientasi pada kegiatan yang mendukung seni dan budaya. Semua hanya dilihat dan diukur dengan mengedepankan mental-mental proyek sehingga sektor pariwisata tidak dapat bertumbuh dengan baik. Dengan sikap apatis yang dimiliki para seniman saat ini akhirnya memunculkan fenomena artis residence yang saat ini banyak dilakukan oleh para seniman sebagai proyek berkesenian ditempat tinggalnya. Bahwa seorang seniman tidak perlu dan harus pergi keluar negeri untuk memamerkan karyanya karena semua hal mulai dari kegiatan berkesenian yag sederhana dapat dibangun dikota ini. Lambanya perkembangan sektor industri pariwisata dikota yogya dilatarbelakangi ketidakjelian dan ketidak cermatan pemerintah dalam mengelola potensi pariwisata yang jika dimaksimalkan dengan baik akan

terus bertumbuh dan berkembang. Salah satu contoh sektor pariwisata yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah karena pertumbuhanya yang cukup baik sampai saat ini adalah potensi wisata pada desa-desa wisata seperti kasongan, kotagede dan manding yang terus bergeliat melakukan produksi kerajinan meski tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Menurut Butet, pemerintah dalam hal ini melalui Dinas Pariwisata harus jeli melihat potensi wisata yang bertumbuh dan kemudian mendorongnya dengan cara mendukung dan memfasilitasi kebutuhan pengembangan para pengrajin dilokasi wisata tersebut agar masyarakat dapat hidup lebih sejahtera melalui sektor pariwisata. Banyak lokasi-lokasi wisata dikota yogya yang belum terkelola secara maksimal, seperti kampung seniman yang terletak di kampung nitiprayan. Apabila pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata mau memaksimalkan potensi kampung seniman yang terletak dikota bantul ini, tidak mustahil jika nantinya kampung seniman menjadi satu lokasi wisata favorit bagi wisatawan asing dan domestik karena kampung seniman nitiprayan tidak kalah dengan lokasi wisata di ubud bali. Pariwisata identik dengan satu upaya promosi yang mutlak dilakukan. edisi Maret 2012 . 23


Mereka Berbicara Sinergi yang masih dirasakan kurang optimal antara pemerintah dan stake holder di industri pariwisata membuat upaya promosi yang dilakukan belum maksimal. Sebuah destinasi (tujuan lokasi wisata) sebelum dipromosikan terlebih dahulu harus dikelola dan dipersiapkan baik dari segi infrastruktur dan mental masyarakat disekitar lokasi wisata. Hal-hal semacam ini yang sering dilupakan, yang terjadi saat ini kan industri pariwisata menjual keunikan masyarakat yogya dengan cara mengkandangkan keunikan dan ciri khas budaya masyarakat sekitar disatu tempat. Pemred Pesona WisataMagz Aria dan Butet Kertaredjasa Promosi melalui event paridan keseharian masyarakat Yogya yang natural, mewisata dari skala lokal hingga internasional yang dilakulihat mereka berlatih tarian, memainkan beragam alat kan nyatanya belum mampu mendongkrak kunjungan musik tradisional, melihat bagaimana para pengrapariwisata dikota yogya. Para wisatawan hanya tertarik jin gerabah dan perak bekerja, tontonan semacam ini berkunjung ketika ada penyelenggaraan event-event yang sebenarnya diinginkan para wisatawan ketika pariwisata, setelah event tersebut usai, wisatawan kemberkunjung Yogyakarta, selain menjadi satu pengalabali meninggalkan yogya dan beralih ke lokasi wisata man yang unik, hal seperti ini tidak mudah ditemui didaerah lain. Hal ini terjadi karena event pariwisata ditempat wisata lain selain Yogya. Alangkah baiknya dikota yogya belum mampu jika keberadaan desa-desa wisata tersebut didukung membuat para wisatawan terdengan keberadaan home stay agar para wisatawan dautama wisatawan asing mampat tinggal dan merasakan kehidupan seperti layaknya pu tinggal dikota ini jauh masyarakat yang tinggal dilokasi desa wisata tersebut. lebih lama. Untuk memCiri dan keunikan masyarakat seperti ini yang harus buat para wisatawan dadibiarkan tumbuh secara alami tanpa perlu dipoles, pat tinggal dan berwisadikemas dan diletakkan dalam suatu wadah untuk meta lebih lama dibutuhkan narik perhatian para wisatawan. sebuah strategi. “Bali terkenal dan dikenal dengan kehidupan yang Keaslian gaya hidup eksotik dan natural, yogya sebagai kota tujuan wisatamasyarakat di Yogypun dapat demikian karena yogya memiliki tradisi dan alah yang membuat para budaya yang tidak dimiliki daerah-daerah lain. Kenwisatawan rela menghabiskan dalanya terletak pada seberapa jauh pemerintah serius waktu untuk berkunjung menggarap dan memfasilitasi setiap elemen pada inkesini, keteguhan dustri pariwisata agar bertumbuh dengan baik,� pamasyarakatnya daparnya menutup pembicaraan. lam memegang teguh tradisi, adat Foto dan text: Windy Anggraina dan budaya pulalah yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk mengena akan budaya 24 . PesonaWisata Magz


Tokoh Kita

Paul Amron Yuwono

Seniman Asal Yogya yang 20 tahun malang melintang di negeri Paman Sam

Dalam sebuah proses acara Inagurasi Presiden Amerika Serikat Barack Obama, semua pihak di gedung putih terlihat sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, namun siapa sangka dari sekian banyak orang yang sibuk mempersiapkan Inagurasi presiden di White House itu, terdapat sesosok pria asal Yogyakarta yang juga tampak sibuk, Paul Amron Yuwono namanya, apa yang dia lakukan di tengah kesibukan inagurasi presiden Negara adidaya tersebut? Dalam sebuah kesempatan Pesona Wisata Magazine berhasil melakukan wawancara dengannya, berikut petikan wawancaranya kami hadirkan.

S

uasana nyaman dan tenang langsung terasa saat memasuki sebuah hotel butik yang terletak di daerah Prawirotaman, sesaat kemudian seorang laki-laki datang menghampiri, senyum ramahnya terkembang saat menyapa Pesona Wisata, “Apa kabar… gimana tidak sulit mencari alamat hotel saya kan” ujar Paul, begitulah pria yang memeliki penampilan eksentrik itu dipanggil dalam kesehariannya, tidak lama berselang Paul mengajak Pesona Wisata memasuki sebuah bangunan besar berbentuk joglo yang terletak di tepi swimming pool, “Monggo-monggo kita ngobrol disini aja, mau minum apa” Paul menawarkan, setelah memesan minuman dan beberapa cemilan kami pun terlibat perbincangan sederhana, saling menanyakan kabar, tidak lama berselang seorang waiter datang membawa minuman

26 . PesonaWisata Magz

dan makanan kecil yang kami pesan, kami pun melanjutkan perbincangan kami. Pesona Wisata Magazine Bagaimana mas Paul, apakah betah di Yogya? Soalnya kan selama ini Mas Paul tinggal di AS, tentu ada perbedaannya kan? Paul Hahaha…kalau perbedaan yang langsung terasa pastinya cuaca yah, Kalau dibilang enakan mana, yah jelas di Yogya donk, biar bagaimana pun saya kan asli orang Indonesia dan dari Jawa, jadi yang namanya di kampung halaman pasti lebih enak dong. Pesona Wisata Magazine Saya dengar anda baru kembali dari USA, Berapa lama anda stay di USA?

Paul Kurang lebih sekitar 20 tahun, disana saya tinggal di San Francisco Pesona Wisata Magazine Wow cukup lama yah, apa yang anda lakukan disana? Paul Awalnya saya sekolah ambil bahasa inggris di Singapore, kemudian saya mendapatkan beasiswa study di Oklahoma USA, saat itu saya ambil dua jurusan Sekaligus, yang pertama saya ambil komunikasi yang menitik beratkan pada drama, Tv & Sound, yang satu lagi saya ambil seni rupa , sambil kuliah saya juga saat itu nyambi bekerja jadi wartawan di beberapa news paper di sana, yah lumayan kan buat tambahan uang saku hahaha..


Tokoh Kita Pean di film bejudul Milk.

Paul with the children of President Obama

Paul with Obama Sister Maya Soetoro

Pesona Wisata Magazine Nah kalau anda ternyata menemukan bakat dan kegemaran anda akan dunia seni, lalu ketika acara persiapan inagurasi Presiden USA Barack Obama, apakah saat itu diadakan acara kesenian untuk mengisi acara tersebut? Karena konon anda saat itu juga berada di gedung putih dan melakukan suatu persiapan? Paul Jadi ceritanya begini, jauh sebelum Barack Obama terpilih menjadi Presiden USA, saya sudah lebih dulu berteman baik dengan adiknya Obama yaitu Maya Soetoro, kehadiran saya di White House karena saat itu Maya meminta saya untuk menjadi stylishnya. Pesona Wisata Magazine Lho anda juga menguasai bidang make up dan tata rias? Paul Yes..saya senang mempelajari segala hal, selain hoby menulis, melukis dan menari, saya Juga mempelajari hal-hal lain seperti make up, dalam kesenian saya juga mempelajari tarian-tarian tradisional seperti tari Bali, tari bedoyo dan sebagainya, jadi saya ini apa aja mau mas Hahaha..

Paul with the secretary of First Lady Michelle Obama

Pesona Wisata Magazine Anda ambil seni rupa? Apakah anda memang suka seni? Terus anda sendiri kan saya dengar banyak sekali melakukan aktivitas dan melibatkan diri pada dunia kesenian, nah bisa ceritakan awal mulanya? Paul Alasan ambil jurusanseni rupa karena Saya memang sangat senang akan dunia seni dan ada minat untuk mendalaminya, di USA saya sering nonton opera atau drama musical, kemudian saya juga tertarik pada tari-tarian, makanya saya mencari komunitas-komunitas seni disana dan kebetulan pada suatu saat sedang diadakan audisi broadway musical , saya mencoba untuk ikut audisi tersebut dan ternyata lulus, sejak saat itulah selain kuliah, saya mulai mengisi hari-hari saya di USA dari satu panggung ke panggung pertunjukan drama lainnya, beberapa kali saya juga sempat mencicipi dunia seni peran di beberapa film Hollywood, di tahun 2007 meski sebagai figuran saya sempat beradu acting dengan actor Sean

Pesona Wisata Magazine Paul anda kan sekian lama di USA dan juga aktif berkesenian, apakah anda juga Memperkenalkan kesenian dan budaya Indonesia di amerika? Paul Tentu saja saya melakukannya, malah sering sekali, kebetulan karena Amerika merupakan negara dengan warga negaranya yang terdiri dari berbagai bangsa dan ras,maka disana ada momentmoment tertentu untuk memberikan waktu bagi para warga Negara maupun ras bangsa lainnya untuk membuat pertunjukan dan memperkenalkan kebudayaan mereka di sana. Pesona Wisata Magazine Termasuk Indonesia? Paul Betul sekali, di USA saya sering sekali membuat acara-acara yang intinya memperkenalkan kebudayaan Indonesia, mungkin hampir setiap 3 atau 4 bulan sekali, tapi kalau yang event-event besarnya mungkin setiap

tanggal 17 Agustus yang merupakan hari kemerdekaan bangsa kita, kita melakukan berbagi aksi pertunjukan seni dan budaya yang berasal dari bumi nusantara. Moment tersebut diberi nama Indo day. Pesona Wisata Magazine Dengan pihak mana anda bekerjasama dalam penggarapan pertunjukan kebudayaan Indonesia di sana? Paul Tentunya dengan bebagai pihak, seperti dengan KBRI Indonesia disana, para pengusaha Indonesia yang stay di USA dan menjadi sponsor bahkan dengan pihak pemerintah Amerika sendiri, tidak jarang saya ikut melibatkan beberapa seniman tari Indonesia termasuk penari sekaliber mas Didik “Ninik Thowokâ€? dan beberapa seniman pemain gamelan yang saya datangkan langsung dari Indonesia. Pesona Wisata Magazine Anda kan sekian lama tinggal di USA dan aktif melakukan berbagai kegiatan promosi akan budaya bangsa kita bersama berbagai pihak disana, menurut anda sendiri, sejauh mana support pemerintah kita dan sudah tepatkah konsep promosi akan pariwisata dan budaya kita di sana? Paul Hmmm‌kalau bicara sejauh mana support pemerintah kita, kalau support sih ada, tapi kalau saya pribadi mengatakan masih terasa sangat kurang yah, karena kalau boleh jujur saya lebih banyak bermain dengan pihak sponsor dalam penggrapan event-event promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia di sana. Pesona Wisata Magazine Suport yang anda rasakan kurang itu misalnya dalam hal apa? Paul Ya misalnya saat kita membuat acara kemudian kita mencarikan sponsor untuk akomodasi para seniman yang akan kita datangkan dari Indonesia, kemudian saat kita mau mendatangkan seniman-seniman besar dari Indonesia, mbok seharusnya pemerintah Indonesia bisa support dengan mencarikan sponsor misalnya tiket pesawatkah, kemudian birokrasi dipermudah dong, tapi ini kan tidak, salah satu contoh, ketika kita mengundang para seniman Lukis untuk pameran di luar negeri, kita mencarikan sponsor untuk transportasi dan akomodasi mereka, tapi yang jadi kendala adalah saat para pelukis itu kembali ke tanah air, semua lukisan yang mereka bawa dari Indonesia untuk mereka pamerkan di luar negeri saat masuk kembali ke sini harus

edisi Maret 2012 . 27


Tokoh Kita kwalitas apa yang ditampilkan juga maksimal, jangan setengahsetengah, tapi jarang kan pemerintah mengajak seniman-seniman sekelas mereka untuk berkolaborasi dalam event Internasional, padahal orangorang asing banyak yang dating dan mempelajari kebudayaan kita dari para seniman-seniman yang ada disini, kenapa kita sendiri tidak bisa mengapreciate lebih para senimanseniman kita.

Paul membawa nini towok ke San Francisco

Pesona Wisata Magazine Apa yang membuat anda kembali ke tanah air setelah lama malang melintang di negeri Paman Sam?

Paul with I Nyoman Sura & Kartika Efendi

Paul Saya kembali ke tanah air karena disini ada hotel yang merupakan bisnis milik keluarga dan saat ini tenaga serta fikiran saya dibutuhkan diperusahaan ini, selain itu saya merasa kalau ide dan pemikiran saya juga dibutuhkan negeri saya sendiri dalam hal promosi pariwisata dan pelestarian budayanya. Pesona Wisata Magazine Selain bisnis keluarga yang membutuhkan fikiran anda, tadi anda menyebutkan bahwa anda merasa kalau yenaga dan fikiran anda juga dibutuhkan di tanah air untuk mengembangkan potensi pariwisata dan pelestarian budaya, apa yang akan anda lakukan untuk itu? Exhibition koleksi batik almarhumah ibu Obama di Washington DC

kena bea cukai, nah ini kan tidak logis, kalau mereka harus membayar bea cukai lukisan yang mereka bawa, harus bayar berapa puluh juta untuk sekian puluh lukisan yang nota benenya adalah hasil karya mereka sendiri? Ya akhirnya banyak para pelukis yang meninggalkan barang lukisan karya mereka di kantor bea cukai, maka jadilah kantor bea cukai “Galery barang seni tak bertuan�, padahal mereka semua membawa nama bangsa Indonesia lho disana. Pesona Wisata Magazine Kemudian selain itu apalagi? Paul Selain itu, kalau ada kesempatan untuk mengirim duta atau perwakilan pariwisata dan kebudayaan, manfaatkan moment tersebut dengan baik dan tepat, contohnya saat mengirim penari, kenapa sih pemerintah tidak menurunkan penaripenari professional sekaliber mas Didik “Ninik Thowok�, kemudian I Nyoman Sura dari Bali kemudian kalau music ka nada composer music kontemporer traditional sekelas mas Jaduk Ferianto, sehingga

28 . PesonaWisata Magz

Paul Kadang orang berfikir harus melakukan sesuatu yang besar jika ingin ada perubahan, padahal segala sesuatu dimulai dari yang kecil, bagaimana kita dapat melakukanj hal yang besar kalau hal yang kecil saja kita tidak dapat memulainya, saya memulainya dari hotel saya sendiri, tamu-tamu yang menginap di hotel saya kebetulan mayoritas adalah orang asing, saya berusaha melakukan komunikasi dengan mereka, saya tawarkan pada mereka untuk tidak hanya berkunjung ke lokasi wisata, namun saya ajak mereka ke galeri-galeri seni serta mengenal para seniman local yang ada di Yogyakarta, sehingga tamu saya yang tadinya berniat hanya bekunjung di Yogya 2 atau 3 hari, rata-rata akhirnya mereka jadi extend bisa sampai 1 minggu bahkan lebih. Pesona Wisata Magazine Bukannya itu menjadi bagian dari strategy bisnis Hotel anda? Karena semakin lama tamu menginap di hotel anda tentunya merekan akan mengeluarkan biaya lebih untuk hotel anda. Paul Betul sekali, saya tidak mau munafik mengatakan bahwa bisnis kami tidak membutuhkan pemasukan lebih, tapi strategy yang saya terapkan mampu membuat mereka extend stay di Yogya, setelah saya ajak mereka untuk mengenal dan berinteraksi lebih jauh

dengan para seniman-seniman local disini, rata-rata tamu asing saya yang kebanyakan berasal dari eropa dan sebagian asia mengatakan jika waktu 2 atau 3 minggu terlalu singkat bagi mereka untuk sebuah pengalaman yang mereka dapatkan di yogya, menjelajahi lokasi wisata, berkunjung ke gallery-galery seni serta mengenal lebih jauh kehidupan natural masyrakat Yogya dan memiliki kedekatan emosinal dengan para seniman-seniman Yogya merupakan sebuah pengelaman tersendiri bagi mereka. Pesona Wisata Magazine Jadi anda berusaha membuat para tamu anda yang mayoritas orang asing tidak hanya tahu lokasi wisata di yogya, tapi lebih jauh membuat mereka juga mengenal para seniman lokal di Yogya? Paul Ya tentu saja, karena harapan saya saat mereka kembali ke negaranya nanti, mereka dapat bercerita tentang Yogya bukan hanya tentang lokasi wisata apa saja yang ada di sini, tapi mereka dapat bercerita siapa saja seniman besar maupun local yang ada disini beserta bagaimana mereka menjalani hidup, sebuah pengalaman dan memiliki hubungan emosional dengan seseorang akan membuat mereka rindu pada suatu hal yaitu kembali ke Yogyakarta. Pesona Wisata Magazine Mungkinkah anda kelak bersinergi dengan pemerintah dalam hal ini melalui Dinas Kebudayaan & pariwisata? Paul Tentu saja, justru saya sangat menantikan saat-saat itu tiba, karena membangun potensi pariwisata dan memperkenalkan budaya kita, dibutuhkan sinergi dan kerjasama semua pihak, dan saya kira kita pasti dan harus mampu dalam hal tersebut. Urainya sambil tersenyum menutup sesi wawancara dengan Pesona Wisata Magz di sore itu. Tb. Aria


Pesona Kuliner

Bu Peni “Gatot” 37 Tahun Mempertahankan Kuliner Tradisional Jawa

Yogyakarta, sebagai kota Budaya memang menyimpan banyak keanekaragaman kesenian budaya. Mulai dari tarian, lukisan, hingga kuliner yang memiliki cita rasa tersendiri bagi penikmatnya. Salah satunya adalah “Tiga Sekawan” Gatot,Tiwul dan Cenil. Bagi masyarakat asli Jogja mungkin sudah tak asing lagi dengan nama ini. Ya, ketiganya merupakan jajanan khas kota Jogja. Di sebut “tiga sekawan” karena tiga jenis makanan ini memang dijual “satu paket” oleh tiap penjualnya. Namun jika si pembeli hanya menginginkan salah satu atau dua dari tiga makanan ini, sang penjual akan dengan senang hati tetap melayaninya.

W

alaupun makanan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, namun penikmatnya masih cukup banyak. Alasannya, selain mengenyangkan karena mengandung karbohidrat, harganya pun cukup murah yaitu Rp 2500,-/bungkus. Untuk mencari penjual Gatot pun tak sulit, karena jajanan lawas ini dijual di hampir tiap pasar tradisional di kota Pelajar ini. Salah satunya adalah Bu Peni “Gatot” yang berjualan Gatot sejak 37 Bu Peni “Gatot” tahun yang lalu di sekitar jalan AM.Sangaji Yogyakarta, tak jauh dari pasar tradisional Kranggan. Menurut Bu Peni, awalnya hanya sedikit orang yang menjual panganan ini. Namun seiring waktu dan makin banyaknya penikmat Gatot, mulai bertambah banyak pula para penjualnya.

lah dikupas kemudian di parut baru setelah itu di kukus. Cara penyajian kedua panganan ini sama yaitu dengan ditaburi kelapa parut diatasnya. Setelah perekonomian Indonesia mulai berkembang, maka panganan ini pun beralih fungsi menjadi jajanan pasar, yang di tambah dengan satu jenis makanan lagi yaitu Cenil. Cenil terbuat dari tepung tapioka yang dicampur air kemudian dikukus hingga menjadi kenyal.

Sedikit diceritakannya tentang sejarah Gatot, pada awalnya gatot dan tiwul merupakan salah satu makanan pokok alternatif zaman itu. Karena saat itu Indonesia baru merdeka dan perekonomian belum stabil, harga beras masih dianggap mahal, maka rakyat mencari alternatif sumber makanan pokok alternatif, yaitu dari singkong. Untuk membuat Gatot, bahan utamanya singkong yang telah dikupas direndam dengan air, kemudian di kukus, dan untuk memakannya sedikit di campur gula merah dan kelapa parut. Untuk tiwul, cara pengolahannya agak berbeda, yaitu Gatot Bu Peni, cita rasanya memikat pelanggan singkong yang te-

Menurut beberapa teman sesama pedagang di daerah itu, mengatakan bahwa Bu Peni lah penjual gatot terlama yang masih bertahan menjual jajanan itu, hingga orang menyebutnya Bu Peni “Gatot”. Tak heran jika pelanggannya pun cukup banyak, tak hanya dari daerah sekitar, namun juga dari berbagai daerah di Jogja.

Masih menurut bu Peni, harga Gatot dan Tiwul pun mengalami banyak perubahan, mulai dari 1 benggol (uang zaman pemerintahan Netherland Indische), 25 sen, 200 rupiah hingga sekarang 2500 rupiah per bungkusnya. Ya, selama 37 tahun Ia berjualan Gatot dan “kawannya” itu, telah banyak juga suka duka yang dialaminya, mulai dari perubahan cuaca, gempa bumi, hingga yang terakhir saat erupsi merapi tahun 2010 lalu. Uniknya, walau dengan keadaan yang seperti itu, Ia yang di bantu oleh dua orang anaknya, Rini dan Riyanto, tetap berjualan. Alasannya, karena menurut Bu Peni saat keadaan buruk akan banyak toko dan warung yang tutup dan orang akan sulit mencari makanan, maka dari itu ia berinisiatif untuk tetap berjualan.

Nah, bagi anda “pemburu” kuliner tradisional daerah dan sedang berada di Jogja, tak ada salahnya untuk mencoba panganan ini sebelum anda kembali ke kota asal. Foto dan Text: Aditya

edisi Maret 2012 . 29


Seni&Budaya

Group Karawitan SMP Negeri 1 Bantul Ukir Prestasi Dengan Seni

D

ewasa ini kesenian dan budaya asing yang masuk ke negeri ini semakin tak terbendung lagi, banyak kaum remaja yang notabenenya sebagai generasi penerus bangsa “terkontaminasi” dengan hal-hal negatif yang secara langsung maupun tak langsung terbawa masuk bersama kebudayaan “import” tersebut. Mereka cenderung menyukai hal-hal yang berbau modern dan melupakan tradisi budaya dan kesenian warisan leluhurnya. Akibatnya, kesenian dan tradisi budaya tuan rumah terancam punah karena tak ada re-generasi yang akan melestarikannya di bumi nusantara ini. Namun, di tengah keadaan yang semakin mengkhawatirkan ini, ternyata masih ada sekelompok remaja belia yang berusaha melestarikan kesenian asli daerahnya, yakni siswa-siswi dari SMP Negeri 1 Bantul. Dengan bangga dan gigih mereka terus mempelajari dan mempromosikan kesenian tradisional daerahnya dengan mengikuti banyak event dan acara-acara baik tingkat lokal maupun nasional yang akhirnya membawa mereka sebagai Juara 1 Tingkat Propinsi pada ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLSSN) tahun 2011 lalu. Di temui di ruang kerjanya, di SMP Negeri 1 Bantul, Drs. H Bambang Edy Sulistyana MPd, selaku Kepala Sekolah mengatakan bahwa prestasi yang di peroleh oleh oleh siswa-siswinya itu merupakan hasil dari kerja keras dan perjuangan panjang seluruh warga sekolah, 30 . PesonaWisata Magz

baik siswa maupun guru yang membimbing mereka serta bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bantul yang senantiasa membantu dalam mempromosikan kelompok seni SMP 1 Bantul, terutama pada kelompok seni karawitannya. Di katakannya pula bahwa alasan Ia mengangkat kesenian tradisional sebagai mata pelajaran wajib non akademik dikarenakan banyaknya sekolah-sekolah yang menonjolkan prestasi akademiknya namun mengenyampingkan sisi non akademiknya. Padahal menurutnya pendidikan non akademik merupakan bagian dari penilaian mutu pendidikan itu sendiri. “Menilai mutu pendidikan tak hanya dilihat dari kemampuan akademik siswa saja, namun harus di lihat kemampuan non akademiknya. Jika keduanya seimbang, maka baru bisa dikatakan pendidikan yang bermutu“, terang Bambang. Dijelaskannya pula bahwa pendidikan non akademik juga menjadi faktor penting dalam dunia pendidikan di karenakan dapat memacu kreatifitas si anak itu sendiri. Seperti yang di contohkannya bahwa seorang pemain gamelan di nilai memiliki kecerdasan tersendiri, karena ia harus dapat mengkolaborasikan antara musik tradisional dengan musik modern dengan aransemen yang mereka ciptakan sendiri. Tak hanya itu saja, seseorang yang bermain kesenian karawitan, menurut Bambang dapat sekaligus mempelajari nilai-nilai Adhi Luhung, yaitu wawasan budi pekerti yang terkandung di dalamnya. Misalnya saja, dalam kesenian karawitan ada tradisi bahwa pemain tidak boleh


Seni &Budaya melangkahi alat musik gamelannya. Hal ini mengajarkan untuk dapat menghargai apa yang mereka cintai. Dalam hal prestasi, SMP N 1 Bantul telah cukup banyak membuat bangga dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Bantul baik dalam segi akademik maupun non akademik. Tak heran jika sekolah Pak Bambang, Kepala Sekolah SMP N 1 Bantul ini mampu menembus predikat Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI). Beberapa prestasi akademik yang pernah diraih sekolah binaan Bambang ini antara lain, memperoleh medali emas pada Olympiade Biologi Nasional yang diselenggarakan Depdiknas, juara satu Tingkat Propinsi pada Olimpiade MIPA yang diselenggarakan SMA Negeri 9 Yogyakarta dan lain sebagainya. Seperti yang dikatakan di awal oleh Bambang, bahwa mutu pendidikan juga di nilai dari prestasi non akademik, hal ini dibuktikan oleh prestasi non akademik yang tak kalah banyak dari prestasi akademiknya, antara lain dari kelompok vokal group yang sejak tahun 2010-2011 banyak meraih juara dalam berbagai ajang pelombaan, salah satunya menjadi finalis tingkat nasional pada FLSN 2011 di Makasar. Tak kalah membanggakan dari kelompok Vokal group, kelompok seni karawitan pun ikut mengharumkan nama sekolah dan derah Bantul dengan meraih juara VI tingkat Nasional dalam FLSN, Juara II tingkat Propinsi dalam lomba yang diselenggarakan Dispora Prop. DIY, dan Juara I tingkat kabupaten serta banyak lagi. Namun, ekstra kurikuler karawitan SMP N 1 Bantul ini terlihat paling menonjol, karena kelompok kesenian ini sering mendapat kehormatan untuk pembukaan acaraacara penting yang diadakan baik oleh instansi pemerintah maupun non pemerintahan. Salah satunya sebagai pembuka dalam acara Science Camp antar RSBI tingkat Nasional pada 13-14 Februari lalu di Solo. “Suatu kebanggaan buat kami jika mendapat undangan untuk pembukaan acara-acara baik yang diadakan pemerintah maupun non pemerintah”, ujar Garin, salah satu anggota group karawitan SMP N 1 Bantul. Ia menceritakan bahwa awalnya Ia tidak menyukai musik gamelan. “Musiknya pelan banget,maraki ngantuk (bikin ngantuk-

red), Mas,” ujarnya dengan polos. Namun setelah Ia mendaftarkan diri di SMP N 1 ini, Ia melihat sendiri bagaimana kakak seniornya memainkan alat musik gamelan dengan penuh penghayatan dan lembut, kemudian timbul rasa penasaran dan Ia pun memutuskan untuk bergabung dalam kelompok kesenian itu. Dari situ Ia dan kawan-kawan satu groupnya berusaha melakukan inovasi pada musik gamelan, tujuannya tak lain untuk menampik animo tentang musik gamelan yang menurut banyak orang membuat ngantuk itu. “Kami membuat inovasi dengan mengkolaborasikan musik tradisional dengan musik modern. Misalnya pada lagu yang berjudul Abang-abang Wus Raino, dalam versi aslinya, lagu ini di mainkan pelan dan lembut, namun kami ubah sedikit aransemennya agar lebih terdengar nge-bit. Salah satu caranya dengan menambahkan satu alat musik Siter di dalamnya,” terang Garin dengan jelas. Usaha itu ternyata tak sia-sia. Karena musik inovasi ini terbukti dapat membuat penonton ikut bergoyang saat menyaksikan show mereka. “Kami sendiri tak menyangka usaha keras kami membuahkan hasil yang baik,” ujar Estu salah satu dari 5 anggota pemain gamelan dalam group karawitan itu menambahkan. Oleh karena banyaknya prestasi yang di peroleh oleh sekolah ini, tak heran banyak sekolah-sekolah lain yang berkunjung untuk melakukan study banding di SMP N 1 Bantul. “Kami selalu menerima kunjungan dari sekolah-sekolah lain dalam program study banding seminggu sekali di hari Sabtu, tak hanya dari wilayah Yogya, namun dari berbagai daerah di luar Yogya.” ujar Bambang. Ia juga mengatakan bahwa harapannya untuk masa mendatang agar seluruh institusi pendidikan di Indonesia dapat mengangkat kesenian serta budaya daerahnya melalui kegiatan ekstra kurikulernya. Karena jika siswa mereka dapat berprestasi dengan baik, itu akan membantu kelestarian kesenian dan budaya tradisional daerahnya masing-masing. Dan bagi siswa yang berprestasi pun tentu pihak sekolah serta pemerintah tidak menutup mata, akan ada penghargaan bagi prestasinya. Salah satunya pemberian beasiswa seperti yang telah di berikan pada siswa-siswi SMP N 1 Bantul atas prestasinya, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Foto dan text: Aditya

Menghayati saat lati han, bukti keseriusan dalam berkesenian

edisi Maret 2012 . 31


WisataSejarah

Museum Sejarah Jakarta Lokasi Wisata Bernuansa Edukasi Sejarah dan Budaya Menilik kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah berusia lebih dari setengah abad ini tak lepas dari perjalanan panjang dan perjuangan para pahlawan dalam prosesnya. Selama lebih dari 350 tahun bangsa ini tak henti melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda dan bangsa-bangsa lainnya termasuk Jepang yang begitu gigih menebarkan peperangan untuk merebut tanah pertiwi hingga akhirnya proklamasi dikumandangkan pada 17 agustus 1945 oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Sejarah panjang tentang perjuangan bangsa ini tak hanya terukir di benak para Veteran yang dulu berperan dalam proses perjuangan hingga kemerdekaan, tetapi juga terpahat di beberapa prasasti dan teronggok di sudut-sudut kota serta bangunan-bangunan bersejarah yang saat ini menjadi saksi bisu perjalanan Ibu Pertiwi. Dibangun pada tahun 1707 dan diresmikan di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeck (1710), Museum sejarah Jakarta menjadi salah satu dari beberapa bangunan yang menyimpan sejarah perjuangan Indonesia, khususnya di Jakarta. Museum Sejarah Jakarta sendiri berawal dari Museum Oud Batavia (Batavia Lama) yang lokasinya di Jl. Pintu Besar Utara no. 27 Jakarta (kini bernama Museum Wayang) diresmikan tahun 1936. Kemudian pada masa kemerdekaan, museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama yang dinaungi oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia, selanjutnya di tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan

32 . PesonaWisata Magz

diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin. Berlokasi di Jalan Taman Fatahillah no. 1 Jakarta Barat, Museum yang lebih di kenal dengan sebutan museum Fatahillah ini menyimpan tak kurang dari 23.000 buah koleksi benda sejarah yang berasal dari Museum Djakarta Lama, hasil pengadaan Pemerintah DKI Jakarta, hasil ekskavasi (penggalian arkeologi), serta sumbangan perorangan maupun institusi. Koleksi Museum Sejarah Jakarta ini terdiri dari beragam jenis bahan material, mulai dari yang sejenis maupun yang campuran, seperti logam, batu, kayu, kaca, Kristal, kertas, keramik, gerabah, kulit, dan tulang. Namun ada beberapa koleksi yang menjadi unggulan museum ini, diantaranya Meriam Si Jagur, Pemisah ruangan bergaya Baroque dari abad-18, pedang eksekusi, perabotan masyarakat prasejarah, prasasti arca dan beragam senja-


Wisata Sejarah

Pelukis jalanan yang banyak terdapat di sekitar lokasi wisata museum sejarah Jakarta

ta tradisional. Masih menjadi salah satu koleksi unggulannya, di bagian belakang gedung ini terdapat patung Dewa Hermes, yang dalam mitologi Yunani merupakan putra Dewa Zeus dengan Peri Maya. Hermes merupakan pesuruh dan pembawa berita, terutama berita dari Dewa Zeus. Selain itu Ia juga dikenal sebagai Dewa pelindung para gembala dan pedagang. Hermes merupakan Dewa yang cerdas, dan lincah gerak geriknya. Hal ini terlihat dari model patungnya yang menampilkan posisi Hermes sedang berlari, pada kakinya terdapat sayap kecil (melambangkan kecepatan) dan ditangannya memegang tongkat yang dililit dua ekor ular sebagai lambang perdagangan. Menurut sejarahnya, patung ini dulunya milik seorang pedagang berkebangsaan Jerman bernama Karl Wilhelm Stolz, yang kemudian menjadi warga negara Belanda. Patung ini Ia beli di Hamburg, Jerman sekitar tahun 1920-an. Kemudian pada tahun 1930, setelah istrinya wafat, Ia menjual tokonya yang berada di Jl. Veteran, Batavia dan menyumbangkan patung tersebut pada pemerintah Batavia sebagai rasa terima kasih karena telah memberikan kesempatan padanya untuk berdagang di Batavia. Awalnya patung ini diletakkan di jembatan harmoni, namun dengan mempertimbangkan faktor keamanan-

Museum Wayang

nya, patung berbahan perunggu ini di pindahkan ke belakang Museum Sejarah Jakarta pada tahun 2000. Sebagai gantinya, dibuatkan sebuah replika oleh pematung asal Yogyakarta bernama Arsono, dan diletakkan di jembatan Harmoni. Memasuki pintu utama, wisatawan akan melihat kemegahan bangunan ini melalui pintu yang besar dan tebal yang terbuat dari bahan kayu jati. Menuju sisi kiri di dalam bangunan, terdapat panggung setinggi kurang lebih 1 meter dengan diorama tentang proses hukuman gantung bagi terdakwa pada masa pemerintahan Hindia Belanda di atasnya. Selain diorama tadi, terdapat ruang pengadilan di lantai dua dari bangunan ini, wisatawan dapat melihat meja pengadilan yang pada masanya dulu digunakan sebagai meja persidangan bagi para tahanan perang dan penduduk pribumi serta etnis tionghoa yang menurut pemerintah Hindia Belanda dianggap bersalah karena menentang mereka, di lantai dua, terdapat aula yang di dindingnya terdapat 3 lukisan yang menceritakan tentang proses peradilan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dari aula tersebut, dibagian depan tepatnya, terlihat banyak jendela besar tempat para pejabat hindia Belanda menyaksikan proses pembantaian yang dilakukan pada penduduk pribumi dan etnis tionghoa di Stadhuis Plain (Taman Fatahillah sekarang). Namun sekarang, wisatawan tak lagi menyaksikan pemandangan ngeri itu jika berdiri di jendela tersebut, melainkan pemanedisi Maret 2012 . 33


WisataSejarah dangan kota tua dengan bangunan-bangunan bersejarah bergaya eropa lama yang eksotis. Stadhuis Plain sendiri merupakan Taman Air Mancur, airnya berasal dari sungai Ciliwung yang ditampung di pancuran kemudian dialirkan melalui gorong-gorong/pipa. Juga airnya digunakan untuk kebutuhan hari-hari seperti memasak, minum, dan mandi masyarakat Batavia, tak terkecuali orang Belanda dan Inggris yang berada di Batavia pada saat itu. Kini, suasana di Taman Fatahillah sudah berubah, bermacammacam jenis dagangan digelar di halaman ini. Mulai dari panganan khas Jakarta seperti kerak telor dan panganan daerah lain, pernak pernik aksesoris pria dan wanita, baju, sepatu, hingga seniman lukis dan tattoo berjajar membaur dengan pengunjung yang ramai mendatangi tempat ini. Tak hanya itu saja, beberapa kelompok musisi jalanan juga hadir disini, mulai dari yang beraliran pop, rock, reggae, sampai tradisional. Ketika matahari sampai di ufuk barat, jangan berfikir bahwa acara telah usai dan bergegas pulang, karena semakin malam justru makin banyak pengunjung yang kebanyakan kaum muda. Ditambah kehadiran para “atlet� sepeda BMX dan Skateboard yang memamerkan aksinya menambah suasana malam kawasan bersejarah ini semakin hangat, apalagi jika memesan secangkir kopi sebagai “teman� dalam menyaksikan aksi mereka. Wisata berbasis edukasi, mungkin sebutan yang tepat bagi wisatawan yang hendak menambah wawasan terutama bidang sejarah jika berkunjung kekawasan Kota Tua ini Text dan foto : Aditya

34 . PesonaWisata Magz


Pesona Wisata Magazine Edisi 04  

Terbitan Maret 2012