Page 1

Musafir


Musafir Diandra jahas Malik

Š MALIKA PUBLISHING 2018 All right reserved

Desain : Tim Jurnalistik Malika

Editor : Tim Jurnalistik Malika

Cetakan 1, April 2018


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� Lantunan ayat suci Al Qur’an terdengar syahdu. Suara tersebut berasal dari music box, hatinya begitu terenyuh seakan jiwa terbang ke angkasa beserta jasadnya. Kabar bahagia telah datang dari ayah dan ibunya

yang

mengatakan Humaira

berada bahwa

di

esok

london, mereka

Inggris. akan

Mereka

menjemput

dan adik-adik untuk tour ke Bogor. Humaira

dan kedua adiknya tidak sabar menantikan hari esok. Hari yang dinantikan pun tiba. Keesokan harinya ayah dan ibu tiba di Makassar, tepatnya di rumah Bu Maudy Sakina & pak Abdullah, yang tiada lain ialah nenek & kakek dari Humaira. Karena di sanalah Humaira dan kedua adiknya tinggal sekaligus bersekolah. Sebelum beangkat, Humaira beserta kedua

1


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” adiknya berpamitan terlebih dahulu kepada nenek & kakek. Seolah akan pergi jauh dan lama, tiga bersaudara itu begitu erat dan rindu memeluk nenek dan kakek mereka. “Humaira,

ingat

pesan

kakek.

Jangan

terlalu

keasyikan menikmati permainannya, tetaplah selalu ingat shalat, dan jangan lupa jaga adik-adik mu dengan baik”. Kata Kakek seraya mengusap kepala Humaira, Cucunya. “terima kasih atas nasehat nya, kek”. Balas Humaira sambil menundukan kepala. Selang beberapa saat, keluarga kecil itu

segera

menaiki mobil. Ketika dalam perjalanan, Humaira sangat

menikmati

kebersamaan

mereka

& keluarga yang 2


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” sangat jarang dirasakan, karena keluarga kecil itu jarang memiliki waktu bersama selain hari libur. “aku berharap, semoga keharmonisan ini akan tetap terjalin antara kami sekeluarga”. Gumam Humaira dalam hati. Sesampainya di lokasi pariwisata, mereka disambut baik oleh para pelayan. Tempatnya begitu indah dan hamparan pegunungan membuat hati ketiga bersaudara itu begitu terpukau. kemudian

Humaira & adik-adinya

menghampiri

arena permainan yang bernama “junggleland”. Ketika memasuki

arena, mata Humaira langsung tertuju pada

roller koster , sedangkan

adik perempuannya yaitu

Amanda Hadi, ia begitu menikmati mobil sari roti.

3


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Kumandang adzan terdengar syahdu. Lalu Humaira & keluarganya

pergi ke mushola untuk

shalat dzuhur

berjama’ah, kemudian dilanjutkan makan siang. Usai makan siang, Rizki Hadi, yang merupakan adik lelaki Humaira

mengusulkan untuk memasuki Rumah

Hantu. Rasa takut pun datang menghampiri. Namun genggaman tangan ayah & pelukan cinta ibu telah ampuh mengusir rasa takutnya. “Humaira.. ketulusan, akan tetap

kasih sayang, dan cinta ini,

menyelimuti hatimu”. Ucap Ayah pada

Humaira dengan penuh kasih sayang. “terimakasih.. Ayah, atas segala hal

yang telah

ayah berikan untuk ku” Jawab Humaira diiringi senyuman bahagia. “Kami anak-anak yang paling beruntung

4


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” di dunia ini.. memiliki keluarga yang bahagia seperti ini. Terimakasih.. ayah” lanjutnya. Setelah

selesai

menikmati

semua

permainan,

keluarga kecil itu bergegas menaiki mobil menuju ke penginapan yang telah di pesan sebelumnya oleh ayah. “Selamat sore pak, Selamat datang di Hotel kami. Apakah anda Bapak Sofyan Hadi?” Sapa seorang pelayan hotel sambil menjabat tangan ayah. ” ya.. betul. Saya

telah memesan 2 kamar hotel

untuk 1 malam” Jawab Ayah. Kemudian pelayan mengantar mereka ke kamar tidur masing-masing, tepatnya di lantai 3. Selang dua hari setelah menikmati liburan tersebut,

5


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” keluarga

kecil

itu

bersiap-siap

untuk

kembali

ke

Makassar. Saat dalam perjalanan pulang, Amanda si Bungsu berbisik pada Humaira. ”kak humaira, aku pengen, banget beli oleh-oleh untuk nenek dan kakek. Pasti mereka seneng”. Ucap Amanda pelan, sambil mengarahkan wajahnya ke arah Humaira. ”Ia Dek, Ayah & ibu sudah membelikan oleh-oleh tadi, sesuatu yang istimewa untuk nenek & kakek”. Setelah beberapa jam kemudian, mereka akhirnya tida di rumah. Tidak terasa, kehangatan keluarga kecil itu sudah

6


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” berlalu. Esok harinya, ayah dan ibu kembali ke london, untuk bekerja. Meski orangtua mereka tidak setiap waktu berada di samping mereka. Mereka tetap bersyukur karena masih bisa merasakan limpahan cinta & kasih sayang, terutama dari kakek & nenek mereka yang setiap hari mendidik serta menyayangi mereka dengan begitu tulus. Malam harinya, ba’da maghrib. Humaira beserta adik–adiknya

melakukan rutinitas harian mereka yaitu

membaca Al-Qur’an. Di pertengahan malam, kakeknya jatuh pingsan tak sadarkan diri. Kemudian

dibawa ke

rumah sakit. Usai diperiksa, “maaf , benarkah ini dengan ibu Maudi Sakina ??”. kata seorang dokter. Raut wajahnya terlihat tidak 7


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” bagus. ”ya, saya isterinya Dok, bagaimana keadaan suami saya ??”. Tanya nenek. “Ya Allah! Semoga.. Kakek baik-baik saja” Gumam Humaira. ”ada beberapa hal

yang harus saya sampaikan,

suami ibu mengidap penyakit Maag yang sudah kronis”. Kata dokter itu menjelaskan. Sontak Humaira segera menjatuhkan diri dalam pelukan neneknya. “yang tabah ya Nek, mungkin ini semua adalah ujian.” ***

8


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� Seminggu lebih sudah berlalu. Sakit yang diderita Kakeknya humaira tak kunjung sembuh. Beberapa rumah sakit telah didatangi. Namun hasilnya nihil. Dalam keadaan seperti itu, mereka terus tawakkal/ berserah

diri

menenangkan

kepada hati

Sang

walaupun

Maha

Khalik,

mereka

saling

sama-sama

bersedih. Suatu

malam,

Ibu

Humaira

datang.

Namun

keadaannya tidak begitu baik. Ia datang dalam keadaan luka parah akibat kecelakaan saat dalam perjalanan. Tanpa Ayah. Kondisi kakek yang melemah tidak cukup kuat untuk menerima informasi yang mengejutkan. Akhirnya kakek kembali jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

9


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Namun saat siuman kakek memohon untuk pulang. Saat tiba di Rumah. “Humaira, Rizky, Amanda, ingatlah selalu pesanpesan yang telah kakek berikan,

jaga

diri & jagalah

selalu Nenek kalian dengan baik”. Kata kakek. Semua

keluarga

menunduk.

Kilauan

airmata

berjatuhan dari bola-bola mata yang sembam itu. Ditengah lantunan bacaan surah Yaasin, wajah pasi itu

masih

mampu

menampakkan

senyuman

penuh

wibawa. Di akhir surat YaaSiin, takdir berkata lain, Kakek menghembuskan

nafas

terakhirnya

tepat

pada

hari

Jum’at. Kehadiran kakek begitu membekas dalam sanubari.

10


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� waktu demi waktu , hari demi hari silih berganti. *** Acara khaul

Kakek digelar di rumah mendiang,

masyarakat setempat pun ikut serta dalam acara tahlil bersama. Ada salah satu teman dekat Humaira yaitu

lelaki

super yang biasa dijuluki Lady Killer di sekolahnya yang bernama Furqon. Furqon merupakan kakak kelas Humaira yang pernah menolong Humaira beberapa waktu lalu. �Humaira,

saya

turut

berduka

cita

atas

meninggalnya kakekmu. Semoga diterima disisi-NYA dan semoga kamu ikhlas & tabah dalam menerima cobaan ini. Keluarga, Harta dan segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Yang Mahakuasa. Jangan bersedih saat Ia

11


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” mengambilnya kembali.” Kata Furqon. “Aaamiin.. terimakasih kak”. Jawab Humaira. *** Hari libur sekolah sudah berakhir. Kini kembali pada rutinitas biasanya yaitu rutinitas di pagi hari menyiapkan perlengkapan sekolah untuknya, serta untuk kedua adiknya. Dua bulan kemudian .... Saat itu ada acara Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diadakan di sekolah. tiba-tiba saja Bapak Mukhtar, Guru bahasa Arab Humaira datang menghampirinya. “Humaira, apakah kamu bersedia menjadi MC ????” Kata Pak Mukhtar.

12


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Humaira kemudian berpikir sejenak. “Ra, menurutku,

kamu terima saja tawaranPak

Mukhtar. Karena kesempatan belum tentu datang untuk kedua kalinya”. Gumam furqon yang berada tepat di samping Humaira. “Baik pak, saya bersedia, Insya Allah saya bisa”. Jawab Humaira. Furqon tersenyum sambil menunjukkan jempolnya ke arah humaira. “siiip” kata Furqon diiringi senyum menawan. Humaira tersenyum. “ya, selagi kita mampu dan mau berusaha yang terbaik, untuk apa jual mahal??? Hehehe…”.

13


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Tiba saatnya beraksi sebagai MC di acara mauled Nabi. Ketika ayah nya

Humaira membacakan uraian acara, yang

datang

ke

sekolah

ada untuk

menemuinya. Humaira sambil

terus

terus merasa

membacakan resah

rangkaian

memikirkan

acara tentang

kedatangan Ayahnya yang begitu mendadak. Usai acara. Humaira menghampiri Ayahnya. Ayah segera merangkulnya dan berkata: ”Nak.. jaga dirimu dengan baik, terus pertahankan prestasimu, Ayah bangga punya anak sepertimu. Carilah wawasan seluasluasnya. Maafkan Ayah. Mungkin lain kali Ayah akan ke sini”

14


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Humaira termenung. “maksud Ayah apa ???

,

Mengapa Ayah bicara seperti itu??? Rumah ini juga milik ayah…. Kenapa Ayah seolah sungkan datang kesini ???? ini…” kata Humaira. Matanya mulai berkilatan basah dan wajahnya memerah. “Ayah…”

humaira

meraih

dan

menggenggam

tangan Ayahnya dengan erat. Ayahnya melepaskan genggaman tangan Humaira, lalu

pergi

melangkahkan kakinya. Kemudian segera

meluncur jauh dengan mobilnya. Deraian air mata Humaira terus mengalir tak bisa ditahan-tahan. “ada apa ini ???”. gumam Humaira, ia hanya mampu bertanya-tanya dan hatinya kian gundah 15


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” diterpa prasangka negative. “Relakan nak.. Ayah dan Ibumu sudah resmi bercerai”. Kata Nenek. Sepulang dari sekolah. mendengar kabar pilu nan mengejutkan itu Amanda & Rizky menangis tersedu– sedu. Humairapun segera merangkul kedua adiknya. Sementara itu, Ibu mereka hanya mampu menatap ketiga anaknya penuh rasa sedih. Airmatanya kian deras berlinangan. Tak kuasa menahan sedih, ia kembali ke kamarnya. *** Perceraian antara Ayah dan ibunya

membuat hati

merasa hampa. Segala kenangan indah bersama Ayah

16


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” dan Ibu mereka seakan lenyap terkikis oleh peristiwa itu. Kini hanya ada poret-potret kenangan yang semakin membuat hati mereka hancur saat melihat album foto keluarga yang sedang tersenyum bahagia. “itu semua hanya menjadi kenangan. Entah ini mimpi atau bukan. Tapi aku berharap ini hanya mimpi. Aku berharap, saat terbangun… semuanya baik-baik saja”. Gumam Humaira. Kini, 4 bulan telah berlalu. Saat ini humaira tengah duduk di Kelas X SMA. Rangkaian cobaan hidup yang menerpanya, membuat prestasi–prestasi Humaira kini semakin menurun. Derita yang dihadapinya membuat

slama ini

Humaira lebih sering murung & menyendiri.

Meskipun begitu, ia tetap harus menunjukkan wajah ceria

17


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� dihadapan keluarga, teman-teman dan terutama nenek dan kedua adiknya. Karena airmatanya hanya akan menambah duka bagi banyak orang. Jadi, tidak ada pilihan lain selain tetap ceria. Tidak mendengar

cukup kabar

sampai yang

disitu.

begitu

Suatu

hari

menyakitkan.

ia

salah

seorang diantara ibu-ibu, yakni tetangganya yang selalu menggosipkan bahwa Humaira anak haram.

Kabar itu

membuat Humaira semakin terpukul. Namun ia tidak berani bertanya pada nenek maupun Ibunya karena takut melukai perasaan mereka. Kian hari, ucapan yang ia dengar dari tetangga semakin perih. Ada yang mengatakan bahwa Humaira bukanlah putri kandung Ayahnya, yaitu Sofyan

18


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Hadi. Tak dapat dibendung lagi segala kesedihannya. Suatu hari, ada gurunya yang ternyata diam-diam memperhatikan Humaira. Melihat prestasi yang anjlok dan sikap Humaira yang kurang focus dalam pelajaran membuat guru itu penasaran dan mendekati Humaira. “Nak… ada apa?”. Tanya Bu Zaskia. “tidak bu.. tidak ada apa-apa”. Jawab Humaira sembari menyembunyikan mata sembam dan wajah memerahnya. Bu

Zaskia

menyentuh

pundaknya,

kemudian

berlalu. Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan

19


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” sapu tangan. “Airmatamu terlalu mahal untuk menangisi problema hidup yang tidak seberapa.. dibandingkan kasihsayang banyak orang di sekitarmu”. Kata Pemuda itu. “kak Furqon ???”. Humaira terkejut melihat Furqon tiba-tiba ada di hadapannya. Furqon hanya tersenyum simpul dan pergi. Beberapa hari kemudian. Ibu Humaira duduk tepat di samping putrinya yang tengah sibuk menyiapkan peralatan sekolah untuk adik-adiknya. “Nak.. ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu begitu murung.”. kata Ibu “ah… itu perasaan ibu saja. Humaira baik-baik saja

20


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” bu.” Jawab Humaira. “uhm.. kemarin Ibu Gurumu, Bu Zaskia datang kesini.” Kata ibu.. dengan nada memancing. “hah??? Masa sih bu?” Balas Humaira agak terkejut. “sepertinya kecemasan Bu Zaskia sama dengan ibu..”. lanjut Ibunya. “ah..

ibu

berlebihan”

balas

Humaira

sambil

memamerkan senyuman. Semakin

Humaira

mengelak

dan

menghindar,

ibunya semakin curiga. Tidak sanggup membendung segala luapan duka dalam hatinya, Humaira reflex mengatakan segala isi hatinya. Diantaranya tentang informasi yang ia dengar dari tetangga.

21


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Dengan

airmata

mengucur

deras,

sang

ibu

memeluk humaira dengan erat.. tangis Humaira pun semakin menjadi-jadi. Kemudian

ibu

segera menyeka airmata yang

membanjir di pipi Humaira, dan mengatakan: “nak.. jangan dengarkan mereka. Kamu putri Ibu yang baik.. bukan anak haram. Nak, maafkan ibu.. maaf karena merahasiakan

segalanya

kepadamu

sampai

usiamu

sebesar ini. Maafkan ibu nak, ibu hanya tidak pernah siap melihat dukamu. Ayah begitu menyayangimu, kalian begitu dekat.. manamungkin kami tega mengatakan bahwa Ayahmu bukan ayah kandungmu. Manamungkin ibu tega mengatakan bahwa sebelumnya ibu pernah menikah… dan..”.

22


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” “ibu….”. teriak Humaira, tubuhnya terkulai lemas di pelukan sang Ibu. Seakan tidak ingin mendengar lanjutan kisahnya. Seakan ingin menutup rapat-rapat lubang telinganya. Ibunya sangat memahami perasaan Humaira. Ia segera menghentikan ucapannya dan terus memeluk puterinya. *** 7 tahun sudah berlalu. Setelah lulus dari SMA, Humaira melanjutkan study nya ke jenjang yang lebih tinggi, dengan mengambil jurusan Kedokteran. Deretan ujian hidup yang menerpanya selama ini membuat ia bangkit dari kesedihan, ia ingin membuktikan kepada semua orang

bahwa dirinya mampu. Setelah jadi

23


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” sarjana dengan nilai tertinggi & mendapatkan beberapa penghargaan, ia pun menjadi wanita yang sukses dalam bidang

kedokteran.

Dengan

kegigihan

dan

ketekunannya, kini Humaira mampu menanggung biaya pendidikkan sekolah kedua adiknya yaitu Amanda dan Rizky. Suatu hari saat sedang bertugas di Rumah Sakit, tiba –tiba Hand Phone Humaira berdering. Ternyata panggilan dari Ibunya. “assalamu’alaikum,

ibu?

Ada

apa

bu?”

Sapa

Humaira dengan lembut. “Wa’alaikumussalam.

nak,

bisa

kan

hari

ini

pulangnya dipercepat?? Di rumah ada tamu yang ingin bertemu kamu”. Kata Ibu. Nadanya terdengar 24


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” gugup. “siapa bu?”. Humaira semakin penasaran. “ada yang mau melamar. pokoknya kamu segera pulang ya,”. Ibu kemudian menutup telfonnya. Sesampainya di rumah, ia sangat terkejut ketika melihat sesosok pria dengan wajah rupawan. Seakanakan hatinya bergejolak tiada henti. “Bu, Nek, lelaki itu siapa ?” ucap Humaira dengan pelan. Nenek tersenyum. “nak, itu adalah calon suami yang akan menjadi imam kamu”. Jawab ibu. Entah apa yang terjadi. Seketika Humaira 25


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� berderai air mata. “tapi nek, aku masih belum siap untuk

menikah,

lagi pula belum kenal betul dengannya, maafkan Humaira nek.� Kata Humaira. Refleks ia berlari ke kamar. Ada beberapa alasan kenapa ia tak bisa menerima nya, ia akui bahwa pria itu tampan dan rupawan, tapi ia masih

trauma

dengan

kejadian

terdahulu

yang

menimpanya ketika ayah dan ibunya berpisah. Trauma yang menimpa nya selalu terngiang dalam

benak

hatinya. Seiring dengan berjalannya waktu, rasa trauma yang dialaminya itu telah sirna. Itu semua karena Allah SWT. Yang telah menuntunya ke arah yag lebih baik, juga berkat nenek yang selalu menasehati dan men-

26


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta”

support-nya. ”Nak, kematian, rizki dan jodoh, itu semua telah diatur oleh Allah. jika kita menginginkan pendamping hidup yang

bisa membimbing kita ke jalan yang lebih

baik maka kita nya yang harus keimanan, ketakwaan

di pertingkatkan lagi

serta akhlak kita yang harus

diperbaiki..” “tapi nek, mungkin waktu itu Humaira salah karena menolak Mas Fadhli..”. jawab Humaira “Lho.. kenapa bilang begitu??” “benar kata orang, perempuan itu tidak boleh sembarangan

menolak

lamaran..”.

kata

Humaira.

Airmatanya meleleh.

27


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” “nak.. wanita memang tidak boleh sembarangan menerima dan menolak lamaran. Itu yang benar.” Kata nenek sambil tersenyum. “tapi nek.. kata orang kalau sudah menolak itu akan sulit dapat jodoh. Contohnya sekarang.. Humaira..” “usst.. siapa yang bilang begitu nak??”. Kata nenek. Humaira hanya menunduk. “kamu itu wanita yang hebat, mandiri dan punya identitas sendiri.. kamu sekarang sudah menjadi dokter yang ahli..” “tapi nek.. ada yang bilang bahwa semakin tinggi tingkat pendidikkan wanita itu semakin sulit dapat jodoh karena laki-laki jadi takut..”

28


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” “loh..loh..loh… siapa yang bilang begitu???”. Nenek kembali menyikap wajah Humaira yang menunduk. “nak, setinggi apapun pendidikkan seorang wanita ia tetaplah bilal dalam rumah tangga.. yang harus nurut sama suaminya sebagai imam, dan kamu faham itu kan??’ “iya nek.. semakin Humaira banyak belajar dan mengenyam pendidikkan, Humaira semakin memahami jati diri seorang wanita yang sebenarnya, bahkan Humaira berpendidikkan untuk menjadi partner rumah tangga yang baik untuk suami, menjadi isteri, menantu sekaligus ibu yang baik..”. “nah.. ini baru cucu nenek.. Bu dokter yang Cantik ..”. kata nenek memeluk Humaira erat. Dan Itulah moment yang selalu membuat

29


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� Humaira merasa bahagia, karena ia selalu berada di antara orang-orang tersayang. Beberapa bulan kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke tanah

suci Mekkah untuk menunaikan ibadah

Haji bersama nenek dan ibunya tercinta. Namun

sebelum

berangkat,

ada

kabar

mengejutkan yang datang dari pihak Rumah sakit di Semarang, tempat Humaira bekerja.

Informaasi itu

menyatakan bahwa Humaira tidak bisa berangkat Ibadah Haji sebelum mempertanggungjawabkan perbuatannya. Di

malam

syukuran

itu,

suasana

berubah

mencekam. Semua orang gelisah, terutama Humaira. Ia sibuk berfikir

dan

mengingat

tentang

kesalahan30


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta� kesalahan apa yang ia buat. Terlebih pihak rumah sakit mengatakan

bahwa

Humaira

akan

dikeluarkan

dari

Rumah sakit. Namun berita itu tidak lebih membuat

dilemma selain penghentian pemberangkatannya ke Tanah Suci. Terlebih, nenek bersikeras untuk tidak berhaji tanpa Humaira. Esok hari tiba. Tepat pada pukul 20.00 malam jum’at.

Usai

mengaji

bersama

tiba-tiba

ada

yang

mengetuk pintu. Ternyata itu adalah petugas Rumah sakit yang hendak membawa Humaira ke Rumah sakit. Humaira tidak mampu menolak, terlebih si petugas begitu acuh dan ganas. Ibu, nenek dan Rizki begitu tegang. Kecuali 31


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Amanda

yang

tetap

sibuk

dengan

tugas-tugas

kampusnya. Namun saat Humaira hendak berangkat ke Rumah sakit bersama petugas, Amanda baru tersadar dan segera

menghampiri

bersikeras

untuk

kakaknya

mengantar

tersebut.

Humaira

Amanda

namun

Ibu

melarangnya. Sesampainya

di

rumah

sakit.

Suasana

begitu

tegang. Namun anehnya, ada banyak hiasan bungabunga di sekitar rumah sakit. Sejenak Humaira berfikir dan berkata dalam hati. “ah… aneh, apa pihak rumah sakit begitu bahagia mengeluarkan dan memfitnah aku. Kok seperti mau merayakan kepergianku..?” Airmatanya berderai tanpa kompromi. Ia berfikir kemana-mana..

termasuk

memikirkan

bagaimana

ia

32


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” menghidupi keluarganya jika dikeluarkan pihak rumah sakit. Terlebih lagi nama baiknya akan tercoreng karena ia dikeluarkan atas dasar perbuatan.. “apalah” ia sendiri bahkan sulit memikirkannya. Tanpa

pikir

panjang,

saat

Humaira

berada

dihadapan Pak Haryono, pemilik rumah sakit tersebut, Humaira langsung menghampiri dan menuntut keadilan. Tentunya dengan cara ala Humaira, tenang dan baik-baik. “pak.. mohon maafkan saya jika kinerja saya selama ini kurang bagus. Maafkan saya pak, tapi tolong beritahu saya

apa

kesalahan

saya

sehingga

bapak

ingin

mengeluarkan saya. “sudah cukup..!!” kata Pak haryono “Saya tidak mau dengar kata-kata kamu. Sekarang dengarkan saya

33


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” baik-baik.. Humaira, kesalahan kamu adalah..” kalimatnya agak tertahan.. Sesuai perintah, Humaira tidak berkata-kata. Ia hanya merunduk pilu. “kamu tahu?? Karena ulah kamu itu sekarang berakibat fatal. kamu sudah membuat anak saya dalam keadaan kritis ..” Humaira terhenyak. Pikirannya merayapi kejadian demi kejadian. Ia heran, yang ia tahu Fikri yaitu putera Pak Haryono yang masih berusia 10 tahun bahkan dalam keadaan sehat di depan matanya. Namun ia kembali mencar-cari kesalahannya. “pak.. mohon maaf, tapi siapa yang kritis???”. Kata Humaira sambil mengarahkan pandangannya ke 34


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” arah Fikri, anak pak Haryono yang tengah duduk manis di samping ibunya. “sudah saya katakan, anak saya sekarang kritis gara-gara kamu!!!” sergah pak Haryono. “kamu harus bertanggung jawab Humaira” ”bapak.. mohon maafkan saya jika saya bersalah”. Humaira menangis. Terlihat dari kejauhan nenek, ibu dan kedua adiknya tergopoh-gopoh masuk ke gedung rumah sakit. “pak.. saya janji.. jika memang saya penyebabnya, saya akan bertanggungjawab.. saya akan mengobatinya.” Lanjut Humaira, sambil menyeka airmatanya. Suaranya makin serak.

35


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” “sungguh???” kata pak Haryono “iya pak.. saya sungguh-sungguh”. Jawab Humaira “berarti

kamu

mau

jadi

menantu

saya..

nak

Humaira??” Tanya pak Haryono. Humaira terkejut. Begitupun semua orang. “maksud bapak??”. Humaira semakin terkejut saat melihat sosok pemuda dengan mengenakan Jas putih ala dokter muncul diantara Humaira dan pak haryono. “jadi, Humaira.. sekarang kamu resmi dikeluarkan dari Rumah sakit ini ..”. kata pemuda yang wajahnya yang begitu familiar dimata Humaira. “Kak Furqon ???”. Humaira terkejut dan penuh Tanya. “kenapa kakak ada disini? Dan..”

36


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” “Kamu dikeluarkan dari rumah sakit ini, dan beralih profesi menjadi isteriku, menantu ayahku dan menjadi ibu untuk anak-anakku. Kamu bersedia kan? Menjadi obat sekaligus dokter dalam keluarga kita??”. Lanjut Furqon. Seperti dulu.. dengan senyuman menawan bak pujangga dari surga. Semua orang memasang wajah gembira, dan mereka bergantian menunjukkan fakta acting mereka. Termasuk pak Haryono, para dokter dan seluruh staff rumah sakit. Nenek dan Ibu tak kalah bingung. Humaira

diam

membisu.

Kemudian

nenek

menghampiri dan merangkulnya. “sebentar..”.

kata

Humaira.

“bisa

kalian 37


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” jelaskan semua ini padaku ??? nek? Kak Furqon?? Pak Haryno??” “nak, bukankah

rangkaian

kejadian

ini

sudah

jelas???”. Kata pak Haryono menghampirinya. “nak… Jadilah menantu bapak, isteri yang baik untuk Furqon, anak sulung bapak.. dan Jadilah Dokter hebat di keluarga kita, sebelum kalian berhaji.. alangkah baiknya kalian menikah. Maafkan bapak mempermainkan emosimu 2 hari ini.. tapi ini semua ide bapak dan Furqon.. mohon dimaafkan.. ya. Terserah kamu mau marah atau apa, yang jelas kamu sudah berjanji akan bertanggungjawab karena membuat anak saya merana dan kristis karena begitu mencintai kamu sampai-sampai menangis bermingguminggu saat mendengar kamu dilamar dan kini ia semakin kritis hingga melesat jauh dari Amerika ke 38


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” Indo hanya untuk segera melamar kamu .. hehehe”. Kata pak Haryono diiringi tawa renyah. “maafkan nenek juga nak, membuat kesepakatan dengan pak Haryono di belakangmu.. tapi mau apa lagi???

Orangtua

mana

yang

tidak

jatuh

hati

mendapatkan lamaran dari pemuda baik ini.. hehehe..” kata nenek sambil menepuk pundak Furqon. “nenek kira, nak Furqon ini dulu bercanda saat bilang mau jadi menantu nenek..” “sejak SMA, sebenarnya aku sudah memesan Dek Humaira ke Nenek… tapi nenek tidak menganggapku serius maaf yaa”. Kata Furqon. Tiba-tiba adayang datang. “Humaiara….” Ucap seorang lelaki tua yang 39


Diandra Jahas Malik “Musafir Cinta” tiba-tiba datang itu. Semua

orang

menoleh

ke

arah

suara

yang

memanggil Humaira. Humaira

terkejut..

senyumnya

tumpah

diiringi

butiran airmata… ia segera berlari ke arah lelaki tua itu.. dan merangkulnya penuh kerinduan. “Humaira… anak ayah…”. Kata lelaki itu yang tidak lain ialah pak Sofyan Hadi, ayah Humaira.

The End Tentang Penulis DIANDRA JAHAS MALIK” lahir di Pandeglang, 29 September 2000. Lulus dari SDN KADURONYOK 01 pada tahun 2013 dan pada tahun 2016 lulus dari MTs AL-IHYA. Saat ini bersekolah di MA AL-IHYA Kaduronyok, kelas XI MIA2. HOBBY : Menulis, membaca & berkreasi CITA-CITA : Dokter Ahli Gizi MOTTO : Untuk menjadi sukses itu harus memutuskan dengan tepat apa yang diinginkan, tulis, dan buat suatu planning untuk mencapainya.

40


“Tanpa luka dan airmata, kita tidak akan bisa

merasakan nikmatnya kebahagiaan, Indahnya perjuangan & manisnya kasih sayang Sang Pencipta. Kala luka & airmata terhapus tuntas oleh keikhlasan cinta hingga berbuah Surga.� –NahraMalik-

Musafir cinta  
Musafir cinta  
Advertisement