Page 1

Didah Elfauzi Malik

Dendam Cinta


Dendam Cinta Š MALIKA PUBLISHING 2017 All right reserved

Desain : Tim Jurnalistik Malika

Editor : Tim Jurnalistik Malika

Cetakan 1, November 2017


Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Di

larang

menguntip

atau

memperbanyak

sebagian

atau

seluruhnya isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA Pasal 2 UU No. 19 tahun 2002 Hak cipta merupakan hak eksklusif

bagi pencipta atau

pemegang hak ciptauntuk mengumumkan atau memeperbanyak coptaanya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan di lahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perunadang-undangan yang berlaku. Ketentuan pidana Pasal 72 UU. No. 19 tahun 2002 Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagai mana di maksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) di pidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau / denda paling sedikit RP 1.000.000 (Satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan / atau denda paling banyak RP 5.000.000.000 (Lima miliar rupiah). Barang

siapa

dengan

sengaja

menyiarkan,

memamerkan,

mengedarkan, atau menjual pada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atu hak terkait sebagai mana di maksud pada ayat (1) di pidana dengan pidana penjara paling lama (5) tahun dan/atau denda paling banyak RP 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta�

Dendam Cinta Oleh

:

Didah

Elfauzi Malik

1


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Pagi itu suasana kelas tampak hening tanpa suara. Rupanya di depan sudah ada pak Rudi tengah menulis pelajaran matematika yang

telah memenuhi setengah

bagian dari white board. Sementara siswa tengah sibuk menulis pelajaran, tiba-tiba terdengar suara seorang

cowok memanggil pak Rudi. "Hmmm... pak saya mau izin ke belakang dulu, bentar doang kok". Gumam Si Denis sambil mengunyah permen karet di mulutnya. "Iya tapi jang......" "Oke

pak,

makasih"

teriak

Denis

memotong

pembicaraan pak Rudi yang belum selesai berbicara sambil berlari dengan gayanya yang belagu dan sangat tidak sopan. 2


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Pak Rudi hanya menggeleng-geleng kepala sambil meneruskan menulis. Selalu saja begitu, Teman-teman Denis memang sudah tidak heran melihat kelakuannya yang semakain hari semakin bikin geleng-geleng kepala. 20 menit berlalu. Pak Rudi telah selesai menulis dan kembali duduk di tempat duduknya. Mendadak ia teringat sesuatu. "O iya bapak baru ingat, sudah 20 menit si Denis kok nggak balik-balik yah, ke kamar mandi kok lama banget". Kata pak Rudi sambil memandang ke arah pintu. "Udah

biasa

pak,

palingan

bolos

lagi kayak

biasanaya, Denis kan ahlinya bolos" jawab Dito sambil meneruskan menulis.

3


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Memang Bukan hal baru bagi seorang Denis untuk membolos. Mungkin hampir setiap hari dia bolos. Tapi hukuman dan teguran sepertinya sudah tidak ampuh untuk menghadapi cowok itu. Tak terasa bel istirahat berbunyi nyaring. Semua siswa berhamburan ke luar kelas, tapi tidak dengan Laila yang berbeda kelas dengan Denis. Gadis manis nan ayu itu justru mengeluarkan buku dari dalam tas, lalu membacanya. Itu memang kebiasannya setiap hari, ada saja yang ia baca saat waktu luang di kelas atau di luar kelas. Laila adalah siswa terpandai di kelasnya. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai gadis yang ramah dan mau berteman dengan siapa pun. Tidak heran, banyak teman-temannya senang bergaul dengannya dan bisa dibilang Laila adalah siswa favorite di sekolah. 4


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Tentu ini berbanding terbalik dengan Denis si cowok ekstrim itu. Beberapa hari kemudian, saat bel pulang sekolah berbunyi semua siswa beranjak meninggalkan sekolah. Nampak Laila berjalan menuju gerbang sekolah. Dahinya mengkerut dan mata memandang ke bawah. Tangannya nampak menggenggam buku yang diletakan di atas kepalanya

menahan

terik

matahari

yang

begitu

menyengat seperti menusuk kulit. Dari kejauhan, Laila mendengar keramaian dari arah tempat parkir. Tanpa fikir panjang ia lekas menuju tempat parkir dengan perasaan heran. Ternyata keributan itu akibat ulah Denis, kakak kelasnya yang

terkenal sebagai siswa pembangkang

yang kembali berulah. Ia ketahuan hendak mengempesi

5


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� ban motor dan mengotori jok motor pak Darma yang terparkir di tempat parkir sekolah. "Ini ke sekian kalinya kamu berulah, Denis. Bapak tidak bisa mentoleran lagi sikap kamu yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang kamu perbuat ini. Kamu sudah kelas XII dan sebentar lagi menghadapi ujian. Jika kelakuan kamu terus begini, bagaimana kamu bisa lulus ??" Tegas pak kepsek memperingatkan Denis, disaksikan oleh beberapa dewan guru dan siswa. Tetap

saja

Denis

tidak

bereaksi.

Ia

justru

memasang wajah tak peduli seolah tidak terjadi apa-apa. "Apaan sih pak. Gitu aja lebay!! " jawab Denis dengan nada bicara datar. 6


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� "Kamu

sudah

keterlaluan,

besok

bapak

akan

panggil orangtua kamu !! mereka harus tahu apa yang anaknya lakukan di sekolah, biar mereka yang akan menegur dan menghukum kamu jika perlu" pak kepsek terlihat marah lalu pergi. Semua siswa yang menyaksikan kejadian itu lalu menyoraki Denis, mereka tampak kesal dan benci dengan kelakuan Denis. Dengan perasaan kesal dan malu, Denis lekas berjalan ke luar gerbang lalu berdiri di tepi jalan menunggu angkot datang. Memang biasanya ia pulang dengan angkutan umum. Denis berdiri dengan wajah kesal dan marah, disertai kedua tangannya yang dilipat di atas perut. Tibatiba

seorang

gadis

anggun

nan

manis

7


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� menghampirinya dengan senyuman manis bak gula aren. "Assalamu'alaikum kak, lagi nunggu angkot yah?" Sapa Lailla dengan suara Lemah lembut dan begitu menyentuh jiwa. Mendengar suara lembut itu Denis hanya menoleh. Ia begitu tertegun dengan indahnya salam dari seorang gadis anggun yang kini berada di sampingnya. Namun, karena gengsi ia tidak berbicara sepatah katapun. Ia justru kembali mengalihkan pandangannya, tetap dengan ekspresi kesal. Tanpa mempedulikan reaksi dari Denis, Lailla kembali berbicara . "Kamu hebat, suatu hari nanti aku yakin kamu pasti jadi orang yang sukses. InsyaAllah."

8


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Denis semakin terkesan dengan kata-kata yang dilontarkan Lailla. Selama ini tidak pernah ada orang yang mengatakan hal yang demikian itu kepadanya, selebih dari orang yang belum ia kenal. Semua orang jengkel dan pastinya tidak suka dengan sikap dan perilakunya selama ini. Kebanyakan mereka mncemooh dirinya. "kenapa gadis itu justru memujiku?", itulah yang tersirat dalam fikiran Denis kala itu. Hatinya bergejolak, fikirannya kacau tidak karuan, tanpa henti ia memikirkan apa yang dikatakan gadis manis itu. Ketika menjelang tidur pun hal itu terus mengganggu fikirannya, sampai terbawa dalam mimpi. ***

9


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Inilah

Denis

sekarang.

Kalimat

manis

yang

diucapkan Lailla membuka cerita baru dalam sejarah hidupnya. Pagi itu ada yang berbeda dengan Denis, ia bangun di kala sang fajar belum menampakan dirinya di ufuk timur. Ia segera mengambil air wudhu dan lekas melakukan sholat subuh. Hal yang hampir tidak pernah lagi ia lakukan selama ini. Ia larut dalam tangis di setiap sujudnya. Tangisannya pecah saat teringat perilakuperilaku tidak pantas yang selama ini ia lakukan. Teringat milyaran butir air mata yang dicucurkan ayah dan ibunya selama

ini,

membuatnya

semakin

dendam

untuk

menebus setiap kekhilafannya di masa lalu. Ia begitu dendam untuk menjadi manusia yang lebih baik.

10


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� "Ampuni aku ya Allah, ampuni hamba-Mu yang berdosa ini, jangan biarkan hamba terlalu berlarut-larut dalam dosa yang berkepanjangan. Ampuni aku ya Allah". Itulah segelintir do'a dan penyesalan Denis sembari menangis tersedu-sedu. Rupanya perkataan Lailla yang hanya beberapa kata di siang itu telah membuat Denis tersadar. Ia bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik. sosok Lailla telah menjadi insfirasi terbesarnya kala itu. Singkat cerita, beberapa bulan berlalu. Perubahan Denis semakin hari kian berubah drastis, bak berubah 360 derajat. Cowok yang dulunya begitu tidak disukai temantemannya, kini bermetamorfosis menjadi cowok ramah, sopan, dan berteman dengan banyak orang. Hal yang lebih

mengejutkan,

pada

semester

terakhir 11


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta�

studynya di SMA, ia berhasil mengukir prestasi yang mengejutkan banyak orang. Tak ada yang menyangka memang, tapi inilah yang terjadi. Perubahan ini tidak lain karena sosok Lailla yang menjadi motivatornya sejak di siang itu. Hari demi hari berlalu, tak terasa Denis telah menyelesaikan pendidikannya di SMA. Ia berhasil meraih penghargaan sebagai siswa dengan nilai ujian terbaik kala itu. Karena itu lah ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Oxford University Amerika Serikat. Namun sebelum pergi ke luar negeri, ayahnya yaitu bapak Tora Iskandar Atmaja memberikan kabar yang tak pernah ia duga.

12


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� "Nak, sebelum kamu pergi merantau, bapak ingin memberi tahu sesuatu. Sebenarnya bapak membuat rencana untuk menjodohkanmu dengan putri teman bapak yang bernama Lailla, ini dia fotonya". Seraya menunjukkan foto Lailla yang tersenyum manis di hadapan kamera. Denis terkejut bukan kepalang, "apakah ini nyata??, aku dijodohkan dengan wanita yang telah merubah hidupku" fikir Denis dalam hati. Mengetahui kenyataan itu, bertambahlah semangat Denis. Ia bertekad akan pulang dengan membawa kesuksesan dan mempersembahkannya untuk keluarga tercinta dan tak lupa sosok bidadari tak bersayap yang menjadi inspiratornya, Lailla.

13


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Meninggalkan

kisah

Denis

yang

menempuh

pendidikan di luar negeri dan mengukir kesuksesan disana, Lailla masih duduk di bangku Kelas XI SMA. Lailla tidak tahu, bahwasanya perkataannnya kala itu telah membuat perubahan besar dalam hidup seseorang. Ia pun tak tahu bahwa cowok angkuh yang dulu ia sapa di tepi jalan itu telah dijodohkan dengannya tanpa ia ketahui. Waktu terus berjalan, kini Lailla telah lulus SMA. Ia berniat ingin melanjutkan pendidikkannya di perguruan tinggi. Pagi itu Lailla duduk termenung di teras rumah dengan ditemani secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng panas buatan sang mama.

14


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Rupanya

ia

memikirkan

kemana

ia

akan

melanjutkan perguruan tingginya. Di tengah lamunannya, ia dikejutkan dengan kehadiran sang ayah yang datang tiba-tiba. "Ada apa nak, dari tadi bapak lihat kamu melamun saja. Sepertinya ada yang difikirkan, ada apa?". Tanya pak Didit seraya ikut duduk di samping Lailla. "Begini pak, Illa bingung harus kuliah dimana, apa bapak ada saran?" Ucap Lailla yang justeru balik bertanya. Di rumah Lailla memang biasa dipanggil Illa, mungkin seperti panggilan sayang. "Bapak serahkan semuanya sama kamu, apapun keputusan kamu akan selalu bapak dukung" jawab pak Didit. 15


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� "Nanti Illa fikirkan lagi" dengan nada lesu Lailla menjawab. Ayah dan anak itu terdiam sejenak, sepertinya pak Didit

ingin

mengatakan

sesuatu

tapi

ragu

mengatakannya. "Illa, bapak mau ngomong sesuatu," ujar pak Didit terbata-bata. Lailla

heran.

Biasanya

jika

ingin

mengatakan

sesuatu, ayahnya akan langsung berbicara tanpa basabasi. "Ada apa pak?" Lailla penasaran. "Begini, bapak berencana menjodohkan kamu dengan anak teman bapak, yaitu pak Tora. sebenarnya ide ini sudah tercetus beberapa tahun yang lalu, tapi bapak

menunggu

waktu

yang

tepat

untuk 16


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� menyampaikan ini sama kamu. Mungkin kamu sudah kenal dengan pak Tora, dulu dia sering datang kesini. Bapak harap kamu tidak keberatan". Pak Tora adalah rekan lama pak Didit, rupanya Lailla hendak dijodohkan dengan salah satu anaknya. "Loh, tapi kan Lailla mau kuliah pak? dan Bapak sudah mengizinkan. Kenapa tiba-tiba Lailla dijodohkan?" Tegas Lailla dengan wajah seolah tak percaya. "Iya bapak tahu, tapi bapak tidak meminta kamu untuk menikah dalam waktu dekat. Ini hanya perjodohan saja, kalian boleh menikah kapanpun. Mungkin kamu ingin menyelesaikan kuliahmu dulu, itu tak masalah." Jawab pak Didit mencoba menjelaskan.

17


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� "Iya pak, Lailla akan mempertimbangkannya lagi". Ujar Lailla. Dua minggu berlalu setelah perbincangan itu. Lailla telah

menemukan

Universitas

pilihannya.

Ia

masuk

Universitas ternama di kotanya. Hari ini hari pertamanya masuk kampus. Tetapi di hari pertamanya kuliah ia justru terlambat datang ke kampus. Lailla berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya, tiba-tiba.. "Bruk..!!"... Rupanya ia menabrak seorang cowok tampan yang ternyata adalah seniornya. Kertas-kertas yang

digenggamnya

dan

kertas

cowok

itu

jatuh

berserakan di lantai. "Uh.. kenapa harus nabrak sih, kan aku lagi buru-

18


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� buru" ujar Lailla dalam hati seraya meraih kertas-kertas yang berserakan di lantai. "Maaf kak.. maaf, saya nggak sengaja, saya lagi buru-buru. Permisi kak." Ujar Lailla kepada cowok itu sembari memberikan kertas milik si cowok yang ia ambil dari lantai kemudian berlari menuju kelasnya. Si cowok tak berkata sedikitpun, ia hanya terkejut melihat kelakuan Lailla yang menurutnya sedikit aneh. Setelah kelas berakhir ia langsung pulang. Malam harinya,

ia

perkuliahan

memeriksa siang

dan

tadi.

Di

membuka sela-sela

buku-buku bukunya,

ia

menemukan sebuah formulir yang berisikan sebuah identitas seseorang. Tertulis..

19


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” “… Nama Lengkap

: DAVID ISKANDAR ATMAJA

Tempat, Tanggal Lahir: Bandung, 01 Juni 1998 Nama Ayah

: Tora Iskandar Atmaja

Nama Ibu

: Nining Apriyani …”

Ia mengira bahwa itu adalah formulir milik cowok tampan yang ia tabrak tadi pagi di kampus. Yang membuat Lailla terkejut adalah nama TORA ISKANDAR ATMAJA yang tertulis sebagai ayah dari cowok yang bernama David itu. Yang dia tahu, nama Tora adalah nama teman ayahnya yang putranya akan dijodohkan dengannya. "Itu berarti cowok tadi pagi itu adalah cowok yang akan dijodohkan denganku". Fikir Lailla dalam hati.

20


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Tak disangka, pagi ini ia bertemu dengan cowok yang akan menjadi calon suaminya. Rupanya ia tak tahu bahwa pak Tora tidak hanya memliki seorang putra, tapi dua putra yaitu Denis dan David. Dan ia juga salah mengira tentang perjodohan ini. Lailla mengira bahwa David yang dijodohkan dengannya, ia tak tahu sebetulnya Denis lah pria yang ayahnya maksud, bukan David. Hari demi hari berlalu, tetap dengan anggapan bahwa David lah jodohnya nanti. Sementara Denis telah mencapai karier yang gemilang di negeri sebrang. Seraya terus menunggu harinya tiba. Menunggu hari dimana ia bisa bertemu dan

21


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� mempersunting sang bidadari yang selalu ia rindukan, Lailla. Tetapi di sisi lain, Semakin hari Lailla semakin merasa kagum dengan sosok David yang menjadi seniornya di kampus. Begitupun dengan David, ia seperti terpanah

dengan

kepribadian

Lailla

yang

menarik.

Rupanya kedekatan mereka bukan hanya kedekatan biasa, ternyata mereka menyimpan rasa satu sama lain, bahkan sampai mereka memutuskan untuk menuju ke jenjang yang serius yaitu pernikahan. David tak pernah tahu bahwa gadis yang kini ia cintai adalah gadis yang kini juga dicintai kakaknya dan bahkan telah dijodohkan oleh kedua orangtuanya.

22


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Begitupun dengan Lailla, ia juga tak pernah sadar ternyata ia salah mengira tentang pria yang dijodohkan dengannya. Namun kini ia benar-benar jatuh cinta pada David, adik dari Denis. Pada suatu hari, David meminta izin kepada ayahnya untuk melamar seorang wanita untuk dijadikan isteri. Karena tidak tahu bahwa gadis yang dimaksud adalah Lailla, pak Tora tentu langsung mengizinkannya. "InsyaAllah

dalam

waktu

dekat

David

akan

melamar seorang gadis pak, saya mohon do'a dan mudah-mudahan bapak bisa menemani saya untuk melamar gadis pilihan David itu" pernyataan David dengan nada sangat lembut.

23


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Sang ayah membalas dengan senyum lebar seraya berkata "tentu saja boleh nak, bapak senang sekali. Tetapi, bapak harap kamu bisa bersabar, karena bapak ingin kakakmu dahulu yang menikah". Kebetulan esok hari Denis akan kembali ke tanah air dengan tujuan untuk meresmikan hubungannya dengan Lailla. "Besok kakakmu akan pulang, bapak minta kamu menemani bapak untuk melamar gadis pilihan bapak untuk Denis" sang ayah kembali menegaskan. Dan tibalah saatnya, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hati Denis bukan hanya berbunga-bunga, tetapi

juga

berkecamuk

antara

senang

dan

tak

menyangka. Hari ini ia akan bertemu dengan Lailla. 24


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Tetapi karena ada suatu masalah yang mendadak, Denis tidak pergi bersama dengan Ayah dan adiknya. Ia pergi menyusul. Ketika hendak menyusul ayah dan adiknya ke rumah Lailla, ia tidak sengaja masuk ke kamar adiknya yang telah lama tidak ia lihat. Alangkah terkejutnya Denis ketika di kamar adik yang sangat ia cintai penuh dengan foto-foto gadis cantik yang hendak ia temui hari ini, yaitu Lailla. Tidak hanya foto, tetapi juga puisi-puisi indah yang tersusun rapih dalam deretan kertas yang tertempel di dinding di atas meja belajar. Hatinya hancur berkepingkeping, tak bersisa. Tubuhnya lemas seolah tanpa darah.

25


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� "Mengapa

harus

lailla,

mengapa

aku

harus

mencintai gadis yang sama dengan adikku sendiri..? apa rencana-Mu dibalik ini semua ya Allah" Tak sadar air matanya meluncur deras tanpa pamit, tubuh kekar nan gagah kala itu seolah meleleh bak batangan lilin yang meleleh setelah sumbunya terbakar api. Namun dalam kesedihan yang begitu mendalam, ia mencoba menguatkan diri dan tetap datang ke rumah Lailla yang telah ditunggu. Sementara itu, David sangat bersemangat karena ia akan pergi bertemu dengan calon kakak iparnya, yaitu calon isteri Denis. "Silahkan duduk pak Tora dan nak David. Senang sekali hari ini kalian bisa datang kesini. Tapi dimana 26


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Denis, kenapa calon pengantinnya tidak ikut?". Pak Didit mempersilahkan duduk dengan nada humor setelah David dan ayahnya sampai dan masuk ke rumahnya. "Iya terimakasih banyak, kami juga senang akhirnya bisa datang ke sini. Kebetulan Denis masih ada urusan di luar. Maklum lah, semalam ia baru tiba di rumah, tapi sebentar lagi ia akan menyusul ke sini". Jawab pak Tora menjelaskan. "Oh begitu". "Begini pak, sesuai dengan obrolan kita semalam di telfon, saya kesini bertujuan untuk mengenalkan anak saya Denis dan putri bapak, sekaligus memastikan hubungan mereka. Tapi saya tidak melihat putri bapak, kemana yah?". Pak Tora kembali bertanya seraya 27


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� melihat ke beberapa arah, memastikan keberadaan Laila yang belum terlihat keluar. "Iya tentu ..." Belum selesai pak Didit menjelaskan, terlihat

wanita datang dengan menenteng nampan

disertai tiga buah cangkir yang berisikan kopi panas. "Nah ini dia orangnya datang, ini lah puteri saya yang akan menjadi menantu bapak sebentar lagi" Sembari menunjukkan sebaris giginya, Pak Didit mencoba mengenalkan Lailla kepada pak Tora. Terkejut bukan kepalang, David hanya melohok menyaksikan bahwa ternyata wanita yang akan menjadi isteri kakaknya adalah wanita yang ia cintai dan juga akan ia persunting. Hatinya gundah gulana, Banyak tanda tanya besar dalam otaknya. "Apa ini? Kenapa ini 28


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� terjadi? apa Lailla telah mengetahui bahwa ia dijodohkan dengan kakakku??. Lalu apabila demikian, mengapa Lailla waktu

itu

menerima

cintaku.

Apa

Lailla

hanya

mempermainkanku saja?. Astaghfirullah. Ya Allah apa rencanamu kali ini,?". Itulah segelintir tanda tanya dalam hatinya. Tak ada rasa yang lebih membingungkan dari perasaan David saat itu, kilatan petir seperti tengah menyambar hatinya. Sementara itu, Lailla hanya tersenyum-senyum mendengar perbincangan ayahnya dengan pak Tora. Rupanya ia mengira bahwa pak Tora datang untuk membawa lamaran untuknya atas nama David, pria yang ia cintai.

29


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Ia tidak mengetahui ternyata yang akan ia nikahi adalah kakak dari David, yaitu Denis yang saat itu terlambat datang. Tidak lama kemudian, terdengar ucapan salam seorang pria

dengan suara

lesu

dari luar rumah.

"Assalamu'alaikum..!!". Suara Denis mengucapkan salam dengan wajah lesu dan mata yang sedikit bengkak akibat menangis ketika di rumah. Lalu disambut dengan jawaban salam dari semua orang yang ada di dalam rumah. "Wah sepertinya nak Denis sudah datang". Bisik pak Didit, kemudian disusul dengan teriakannya dengan nada keras. "Silahkan masuk nak!.".

30


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Lekas masuklah Denis dengan wajah yang amat lesu. Begitu melihat wajah cantik Lailla. Hatinya seperti melihat

rembulan

diantara

malam

yang

gelap,

kerinduannya selama bertahun-tahun pun hilang seketika. Sekejap Hati kecilnya berbicara... "Ya Allah, begitu indah ciptaan-Mu,

Lailla

ada

di

hadapanku

sekarang,

penantianku selama bertahun-tahun akhirnya terbayarkan hari ini. Kumohon lindungi selalu gadis ini". Namun kembali ia tersadar bahwa Lailla bukan miliknya. Lailla dan David saling mencintai, sungguh tak patut jika ia harus merusak kebahagiaan dua insan yang tengah dirundung asmara itu.

31


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Sementara itu Lailla seperti tak asing dengan wajah Denis, sepertinya dulu ia pernah melihat wajah itu. "Bukankah dia adalah cowok nakal yang menjadi kakak kelasku dulu, yang sempat aku sapa di samping jalan waktu itu. Wah ternyata sekarang ia nampak gagah dan mapan. Tapi apa hubungannaya dengan keluarga David?". Gumamnya dalam hati seraya bertanya-tanya. "Denis, kenalkan ini Lailla. Wanita yang akan menikah denganmu. Dan Lailla, kenalkan ini Denis anak bapak, dialah pria yang dijodokan denganmu". Ujar pak Tora mencoba saling mengenalkan Lailla dan Denis. Tapi sepertinya ekspresi Lailla tidak menunjukan wajah kebahagiaan, justru ia tampak bingung.

32


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” "Apa

maksudnya?,

bukankah

David

yang

dijodohkan denganku, kenapa justru Kak Denis yang akan menikahiku.

Sebenarnya

ada

apa?".

Lailla

tampak

kebingungan. "Apa maksudmu Lailla, Denis lah orangnya. Bukan David". Jawab Pak Didit, sang ayah justru lebih bingung. "Tapi selama ini Lailla mengira David lah orang itu.” Kata lailla. Kemudian sisanya ia ucapkan hanya dalam hati “..Dan Lailla juga mencintai David. Kami sudah dekat selama ini pak". Airmata Lailla tak terbendung, seketika berjatuhan. Suasana tampak mencekam saat itu, semua pihak merasa salah paham satu sama lain. Lailla merasa 33


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� dibohongi oleh David. David pun begitu, ia mengira Lailla hanya mempermainkannya. Tapi dengan bijaksana, Denis memberanikan diri meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. "Baiklah,

saya

akan

menjelaskan

apa

yang

sebenarnya terjadi, sebelum semua orang terus-menerus salah faham dan saling menyalahkan. Lailla, mungkin kamu masih ingat denganku, pria yang dulu kau sapa di tepi jalan itu. Aku orang itu. Aku orang yang dijodohkan denganmu. Tapi adikku sama sekali tidak mengetahui tentang perjodohanku denganmu. Dia hanya tau aku dijodohkan dengan seseorang tapi dia tidak tahu bahwa kamulah orangnya. Jadi kamu jangan salah faham terhadapnya, aku tahu kalian saling mencintai, jadi aku harap kalian bisa saling memahami". Dengan 34


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� terbata-bata Denis mencoba membuka pembicaraan dengan Lailla dan disaksikan oleh keluarganya. "Tapi jika mereka menikah, bagaimana denganmu nak, apa kamu ikhlas?". Tanya pak Tora kapada Denis dengan rasa iba. Denis membalas dengan senyuman, seraya berkata "Sebenarnya Denis telah mempunyai calon pak, jadi Denis tak ada masalah dengan pernikahan David dan Lailla". Hatinya menjerit tak setuju saat mengatakan hal itu. Badai besar seperti tengah melanda hatinya saat itu. Tetapi Seketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, sekedar untuk menghibur sang ayah. Karena

pengakuan

dari

Denis,

akhirnya

35


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� kesalahpahaman bisa teratasi. Dan rencana pernikahan David dan Lailla akan segera dilakukan. Setibanya di Rumah, David menemukan sebuah tas tergeletak

di

kamarnya.

Karena

penasaran,

ia

lalu

membuka tas tersebut. Terdapat sebuah buku tebal dengan cover yang bertuliskan "DIARY BOOK" dan terdapat

nama

kecil

dibawahnya

"Denis

Iskandar".

Rupanya itu adalah buku Diary sang kakak. Lembar demi lembar ia baca dengan sepenuh hati. Tak terasa tetesan air matanya telah membasahi helaian buku tersebut. Apa yang ada dalam buku itu hingga membuat David menangis saat membaca buku tersebut. "Kenapa kak Denis melakukan ini?, ternyata dia juga mencintai Lailla, dan telah mendambakan Laila

36


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� selama

bertahun-tahun

lamanya.

Kenapa

dengan

mudahnya merelakan gadis impiannya?". Rasa haru dan sedih tak dapat ia bendung. Ternyata buku tersebut berisi curahan hati Denis selama

berkuliah

di

Amerika.

Curahan

cinta

dan

kerinduan Denis kepada Lailla tertuang dalam buku harian itu. Pantas saja David sampai tidak bisa menahan airmatanya saat membaca buku tersebut. Keesokan harinya, nampak Denis sedang duduk di teras rumah dengan wajah yang suram, tatapannya kosong seolah tanpa titik fokus. Ia Seperti sedang memikul beban yang sangat berat. Pantas saja begitu, ia merasa

perjuangannya

kesuksesan

seperti

selama

terbuang

ini

dalam

percuma.

mengejar

Karena

37


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� tujuan awalnya bertekad untuk menjadi orang hebat adalah karena sosok Lailla. Tapi kini Lailla sudah hampir menikah dengan adiknya. Belum lagi apa yang harus ia katakan kepada ayahnya jika memintanya untuk segera menikah, karena kebenarannya memang Denis belum punya calon. Apa yang dikatakannya saat itu hanya untuk menghibur ayahnya. Tiba-tiba adiknya datang dan langsung duduk bersama Denis. "Kak..!" Sapa David kepada kakaknya yang tengah duduk melamun. "Hhh..i..iya..!". jawab Denis. "Apa benar kak Denis sudah punya calon isteri di

38


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Amerika?". Tanya David seolah mengetahui sesuatu. "ten.. Tentu saja benar, memang kenapa?�. Denis menjawab dengan kalimat yang sedikit gugup. "Kakak

tidak

usah

bohong,

aku

tahu

yang

sebenarnya, aku tahu kalau kakak sangat mencintai Lailla. Dan Lailla adalah wanita yang telah memotivasi kakak selama ini". Sambil menahan tangis, David menjelaskan apa yang ada di benaknya. Denis sangat terkejut dengan apa yang David katakan, bagaimana bisa david mengetahui semua ini. Belum

sempat

Denis

menjelaskan,

David

kembali

mengatakan sesuatu. "Kenapa kak Denis melakukan ini, aku tahu sekarang

kakak

sedang

menahan

sakit

yang 39


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� teramat dalam. Kenapa kakak rela menyerahkan sebagian kebahagiaan terbesar hanya untukku. Ini sangat tidak adil kak !!". Denis membalasnya dengan senyuman, "Adikku, apa kamu tahu kenapa kakak melakukan ini? Apa kamu tahu, dengan dasar apa kakak rela mengorbankan kebahagiaan yang selama ini sangat kakak nantikan?". David hanya menatap Denis dengan tatapan penuh tanya. "Karena kamu adalah adikku. Coba kamu ingat beberapa tahun lalu, saat kakak masih sekolah SMA. Kakak hampir saja dihukum berat oleh bapak karena ketahuan membawa pil penenang ke sekolah. Bapak sampai dipanggil dewan guru dan mendapat

40


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� peringatan keras. Tapi dengan beraninya kamu mengaku kepada bapak bahwa pil tersebut adalah milikmu yang tak sengaja terbawa oleh kakak. Kakak menyaksikan sendiri bapak menampar wajahmu dengan sangat keras, kamu rela dihukum atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan. Karena itu kamu diasramakan. Mulai saat itu

kakak

berjanji

akan

melakukan

apapun

untuk

membalas kebaikanmu, rasanya penuh dendam.. dendam cinta yang tulus untuk adikku, dan mungkin inilah saatnya, inilah saatnya kamu mendapatkan kebahagiaan dari pengorbanan kakak". Denis mencoba menerawang kisahnya beberapa tahun lalu. Wajahnya kembali dibasahi air mata. David tak kuasa menahan tangisnya. "Tapi apa yang aku lakukan saat itu tidak sebanding dengan 41


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� apa yang kakak berikan kepadaku saat ini, karena kakak memberikan seseorang yang akan menemaniku sampai akhir hayat!". "Jika

memang

begitu,

apa

salahnya?.

Karena

ketulusanmu lebih besar dari apapun yang ada di dunia ini adikku". "Dan apa kakak tahu apa yang membutku begitu menyayangimu lebih dari diriku sendiri?? sampai aku rela ditampar bapak saat itu?. Itu karena dendamku untuk membalas kebaikanmu‌ karena beberapa tahun sebelum itu. Mungkin kakak masih ingat saat suatu malam kita pergi mengaji di surau kampung sebelah. Saat hendak pulang,

sandalku

hilang

dan

kakak

meminjamkan

sandalmu untuk aku pakai. Walaupun jaraknya

42


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� sangat jauh, tapi kakak rela berjalan kaki sampai kaki kakak terluka dan berlumuran banyak darah. Itu semua demi aku. Sejak saat itu juga aku sadar arti sebuah persaudaraan. Momen itu selalu aku ingat sampai sekarang". Kata David penuh dendam, dendam Cinta nan tulus lagi suci. Mendengar cerita tersebut, Denis justru tertawa kecil sembari mengelap airmata di pipinya. Tak lama kemudian kedua kakak beradik itu saling berpelukan dengan rona kebahagiaan. *** Tiba saatnya hari pernikahan digelar. Saat itu pengantin wanita tengah duduk di hadapan cermin, wajah cantiknya nampak semakin cantik diantara 43


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� kelopak bunga melati yang menebarkan aroma khas pengantin. Sudah

4

jam

berlalu.

Seharusnya

Keluarga

mempelai pria datang pada jam 08.00 pagi, namun menjelang dzuhur pun masih belum datang. Suasana di rumah semakin gaduh. Nampak pak Didit begitu gelisah berjalan mondar-mandir sambil berusaha menghubungi keluarga besannya, Pak Tora. Lailla menunduk layu. Saat

itu

ibu

menghampiri

dan

mengelus

pundaknya. “Mungkin, mereka tidak akan datang Bu..� desis Lailla, ia bermaksud mencopoti riasannya..

44


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” “lailla !!!! hentikan..” kata Ibu seraya memegang kedua pundaknya. “Lailla..” Ibu melihat butiran bening meleleh di kedua mata puterinya. “Lailla…”. Ibu merangkulnya. Kemudian terdengar bunyi mobil mendarat di halaman rumah mereka. “Alhamdulillah….”

Semua

orang

berbisik

lega

memuji asma-Nya. “nah.. itu calon suamimu sudah tiba Lailla..” kata Ibu kembali mengelus pundak puterinya. “kamu tunggu disini yah, nanti ibu akan menjemputmu saat aqad usai”.

45


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” Selang beberapa menit… terdengar sorak “sah” Lailla tersenyum lega. Ibu

datang,

namun

wajahnya

agak

berbeda.

Kemudian Lailla diboyong ke ruang aqad. Tersentak. Lailla kaget. Ia melihat sosok Denis dikalungi

bunga

melati

tengah

duduk

dihadapan

penghulu. “Ibu..” Desis Lailla.. Tubuhnya terkulai lemas. Usapan tangan Ibunya kembali memberi kekuatan pada tubuhnya yang gontai. “Ibu.. dimana David..???” “duduklah nak..”. kata ibu seraya mendudukkan Lailla di samping Denish.

46


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” Lailla tertegun. Lemas, pucat dan bingung. Denish hanya menunduk, lesu. Kemudian Ibu berbisik di telinga lailla. “Lailla.. Denish kini resmi menjadi suamimu” Dengan

canggung,

Lailla

menyalami

Denish,

kemudian lanjut menyalami orangtua mereka. Airmata tak tertahankan. Terus berjatuhan di pipi Lailla. Seolah merasakan apa yang Lailla rasakan. Denish tak kalah emosional. Ia hanya mampu diam membisu… “maaf Kak.. Lailla ke kamar dulu.” Kata Lailla, kemudian berlari ke kamarnya.

47


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” Dari Kejauhan, Denish menatapnya penuh rasa iba. “Lailla… “. Ibunya Denish, yang kini menjadi mertua Lailla datang bersama Ibunya Lailla. Duduk di samping Lailla yang terbaring lesu diiringi isakan tangis. “Lailla.. maafkan Ibu nak, maafkan kami, maafkan Putera Ibu..”. Kata Ibu mertuanya. “Lailla.. sebenarnya tadi subuh David sudah bersiap-siap, ia bahkan paling semangat menyuruh kami berdandan. Tapi…” Tangis Lailla makin pecah. “Nak.. entah apa yang ada dalam fikiran David.. ia berangkat ke Jerman dengan hanya meninggalkan secarik surat agar kami tetap melaksanakan pernikahan. Maafkan kami nak, Denish bahkan sampai mengejar adiknya ke

48


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta� Bandara..

namun

terlambat..

David

sudah

tidak

di

bandara.. maafkan kami nak� Lailla diantara

tetap

tumpukan

diam. bantal.

Membenamkan Isakan

wajahnya

tangisnya

begitu

menyayat hati. Ibu mertua Lailla meninggalkan kamar. Sambil terus menyeka airmatanya. Dengan sentuhan lembut, Ibu Lailla berusaha menenangkan hati puterinya. “nak, biarlah kini garis takdir memutarbalikkan kisah cintamu. Namun satu hal yang perlu kau tahu, seindah apapun kisah cintamu di masa lalu, sebesar apapun cintamu pada kekasihmu, kini suamimu yang paling berhak atas cintamu. Bahkan lebih berhak dari ibumu sendiri. Ibu tahu bagaimana 49


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” perasaanmu nak.. ibu mengerti.” Ucap Ibu Lailla pada puterinya sambil memeluk erat Lailla. Lailla kian terisak. Amarah dan nuraninya terus berperang. Antara marah dan ikhlas.. tinggal menunggu titik final saja untuk menentukan pemenangnya. “Lailla.. puteriku, yang ibu rawat penuh cinta sejak kecil.

Cinta

adalah

amanah.

Ibu

tidak

pernah

menyalahkan cintamu, karena Allah yang memberikan perasaan

itu

maka

Dia

juga

lah

yang

mampu

mengambilnya kembali.. ikhlaskan apa yang sudah terjadi nak. Satu hal yang pasti, kini Denis adalah suamimu, tidak akan ada kesulitan jika Allah ridha.. mungkin ini adalah rencana-Nya. Tersenyumlah nak.” *** 50


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” 5 bulan sudah berlalu. Lailla menjadi isteri yang ta’at

dan

Canggung,

baik ia

untuk selalu

Denis.

Namun

Denis

selalu

mengira

bahwa

Lailla

hanya

mencintai David. David yang entah kini berada dimana. “Kak Denis..”. Sapa Lailla. Sebelum

berangkat

bekerja,

Lailla

selalu

menyiapkan sarapan dan memakaikan dasi di kerah suaminya. Namun Denis tak pernah sekalipun berani memandang wajah Lailla. Begitu ada jarak yang jauh diantara mereka. “Kak…”. Lailla memanggil Denis. Denis menoleh. Kemudian Lailla menyerahkan dompet Denis yang

51


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” tertinggal. Sambil berkata “apa kakak menikahiku hanya untuk memenuhi tanggung jawab saja????” Denis terhenyak. “maksud Kamu ???” “apa Kak Denis tidak pernah mencintai Lailla???”. Tanya Lailla. Sejenak Denis berfikir bahwa Lailla menanyakan itu agar Denis mengatakan “ya”s dan menceraikan Lailla. Denis tidak menjawab dan langsung pergi. Airmata mengalir di kedua mata Lailla. Waktu terus bergulir, hingga suatu hari David kembali. Ia bersikap sangat ramah dan bahagia. Namun yang ia dapati hanyalah wajah kakaknya yang begitu murung dan sedih, begitupun dengan Lailla.

52


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” Suatu hari, di hari ulang tahun Denis. Lailla mempersiapkan kejutan untuk suaminya. Namun terjadi salah faham sehingga Denis memutuskan untuk pergi ke luar kota. Ia hanya meninggalkan surat untuk Lailla. “Lailla… maafkan kakak. Kakak tidak pernah mencintaimu. David lah yang sangat mencintaimu. Kakak menikahimu hanya atas dasar tanggungjawab karena kakak tidak ingin mempermalukan kamu dan keluarga kita. Kini David sudah kembali, kakak percaya.. kamu akan bahagia mulai saat ini.” “PEMBOHONG !!!!!!!!!!!!!!!”. teriak Lailla, kemudian ia segera berlari mengejar mobil Denis yang kian melaju cepat. “kak Denis !!!!!!!!!!!!!!!!!”. teriak Lailla “Jegerrrrrrrrrrrrrrrr….”

Lailla

yang

berlari

dalam

keadaan panik di jalan raya tiba-tiba tersenggol motor

53


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” dan kakinya terpeleset hingga jatuh terguling-guling ke arah sungai. Dari kejauhan David memanggil. “Lailla !!!!!!!!” Berbarengan dengan itu, dalam perjalanan Denis menemukan secarik kertas di saku jas nya. “Suamiku tersayang… kini Lailla tahu yang sebenarnya. Maafkan Lailla karena sudah negative thinking terhadap kakak. Untung David menyerahkan diary kak Denis pada Lailla, kemarin. Sekarang Lailla tahu betapa kakak sangat mencintai Lailla. Kak.. Lailla Juga mencintai Kakak.. Lailla ingin menjadi isteri yang baik untuk kakak. Apa selama ini Lailla belum sempurna??? Sehingga kakak begitu acuh pada Lailla??. Kak, Kini Lailla sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi pada David, kini sepenuhnya hati Lailla Cuma untuk Kak Denis.. suami Lailla. Cinta itu tumbuh sejak Kakak mengucapkan kalimah Ijab Qabul, menikahi Lailla.. Kakak…..”

Belum selesai Denis membaca surat tersebut, ia langsung memutar arah mobilnya. Namun di tengah

54


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” perjalanan ia mendapati kerumunan.. salah satu di antaranya adalah David. Denis langsung Keluar dan menghampiri kerumunan itu..

The End”

55


Didah El-Fauzi Malik “Dendam Cinta” TENTANG PENULIS

“DIDAH EL-FAUZI MALIK” lahir di pandeglang, 03 Juni 2001. Lulus dari SDN KADURONYOK 01 pada tahun 2013 dan pada tahun 2016 lulus dari MTs AL-IHYA. Saat ini bersekolah di MA ALIHYA Kaduronyok, Kelas XI MIA2. HOBBY : “membaca” CITA-CITA : Dosen / pengajar MOTTO : pelajari,bagi, dan amalkan

56


Didah Elfauzi Malik

“Lailla‌ maafkan kakak. Kakak tidak pernah mencintaimu. David lah yang sangat mencintaimu. Kakak menikahimu hanya atas dasar tanggungjawab karena kakak tidak ingin mempermalukan kamu dan keluarga kita. Kini David sudah kembali, kakak percaya.. kamu akan bahagia mulai saat ini.â€? - Denish

Dendam Cinta

Dendam Cinta  

romantis, keluarga,

Dendam Cinta  

romantis, keluarga,

Advertisement