Issuu on Google+

Mading Gazeb

SENIN 13 JUNI 2011 Contact : 085255508935 Email : gazebo@staiskutim.ac.id

Lembaga Pers Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kabupaten Kutai Timur

Edisi 11/Tahun 1

Mencerahkan Untuk menggerakkan

PESTA DEMOKRASI STAIS MINIM PEMINAT

Majalah Gazebo Edisi 3 Segera Terbit Berpartisipasi silahkan kirimkan Artikel, Cerpen, Opini, Resensi atau Puisi ke email: gazebo@staiskutim.ac.id

perberbeda-perbedaan tersebut disatukan dalam sebuah bangsa yaitu bangsa Indonesia. Perbedaan itu luntur dan mencampur dengan adanya rasa cinta tanah air dalam jiwa patriotisme terhadap bangsa Indonesia. Dimasa sekarang dimana sebuah perbedaan bukan lagi menjadi sebuah ajang untuk saling membeda-bedakan. Namun rasa cinta tanah air dan jiwa patriotisme yang semakin minim dan luntur. Hal ini dikarenakan oleh banyak hal diantaranya adalah lunturnya kepercayaan terhadap pemerintahan bangsa ini. Wacana yang sedang marak dengan berbagai tindak pembangkangan terhadap bangsa ini

Lunturnya Jiwa Patriotisme Bangsa Bangsa Indonesia yang merupakan sebuah bangsa yang besar, bangsa yang majemuk dengan berbagai sudut pandang perbedaan suku, ras, agama dan sebagainya. Berbagai macam perbedaan yang disatukan dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia. Dengan sebuah semboyan luhur pemersatu bangsa “Bhineka Tunggal Ika” berbedabeda tetapi tetap satu jua. Maksud dari semboyan ini ialah sebagai sebuah semboyan pemersatu berbagai bentuk sudut pandang perbedaan yang ada. Kemudian

Gazebo News-Dengan habisnya masa kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) Kutai Timur periode 2010/2011, kemarin (16/06) Panitia Pemilu Raya Mahasiswa (PRM) STAIS mengadakan pemilihan secara langsung Presiden BEM periode 2011/2012 di Gazebo dua STAIS. Acara yang diagendakan mulai jam 08.00 ini molor sampai jam 9.00, hal ini terjadi karena masih sedikitnya para mahasiswa yang datang untuk memberikan hak suaranya. Menurut Ali Basuki, ketua panitia, sedikitnya mahasiswa yang datang karena mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. “Saya melihat antusias mahasiswa STAIS untuk mengikuti pesta demokrasi ini sangat kurang karena mayoritas mahasiswanya adalah pekerja, jadi mereka tidak mempunyai waktu untuk hal ini”, ujar Ali Basuki. Pesta demokrasi yang sempat tertunda selama satu minggu

Bermodalkan Semangat Tanpa Duit

Gazebo News-Pandai berbahasa Inggris kini menjadi sesuatu yang popular dikalangan anak sekolah. Orang tua pun tak segan-segan merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah untuk kursus berbahasa Inggris. Berbeda dengan di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) Kutai Timur , belajar Bahasa Inggris tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Diawali dari ide kreatif salah satu mahasiswa STAIS untuk belajar bersama dan membuat study club. Ide ini pun disambut dengan senang hati oleh mahasiswa lain yang gemar belajar bahasa Inggris. Belajar bersama ini bukan bagian dari Unit Kerja Mahasiswa (UKM) maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), kegiatan ini semata-mata hanya untuk mengisi waktu luang mahasiswa dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus menyalurkan kemampuan berbahasa Inggris salah seorang mahasiswa yang menjadi pelopor beserta guru dari kegiatan itu. Bermodalkan buku panduan modul dan keahlian Berbahasa Inggrisnya ia dengan gigih menyalurkan ilmunya tersebut. Pandai berbicara bahasa inggris dengan baik dan benar merupakan visi dari kegiatan tersebut. Tak pandang latar belakang, semuanya sama rata, belajar dari awal.” Walaupun pesertanya tidak banyak namun yang terpenting adalah antusias untuk bisa berbahasa Inggris”, ujar Yusuf. Sistem dan mutu pengajaran yang disampaikan Yusuf pun tak jauh beda bahkan sama saja dengan apa yang di ajarkan di kursus-kursus speaking bahasa Inggris yang membutuhkan biaya berkisar ratusan ribu rupiah lainnya. Yang membedakan yaitu rungan pembelajarannya, jika kursus pada umumnya di dalam ruangan tertutup bahkan ada yang ber-AC, berbeda dengan belajar bahasa Inggris dengan Yusuf yang hanya di gazebo kampus STAIS yang terbuka.

karena pada awalnya calonnya hanya satu dan tidak sesuai dengan AD/ART BEM STAIS ini akhirnya dapat berjalan dengan lancer, yang diikuti dua kandidat, yaitu muchtar dan Guruh Suseno. Sebelum proses pemilihan dilakukan, para kandidat calon Presiden BEM terlebih dahulu diperkenankan menyampaikan visi misinya serta tanya jawab dengan para mahasiswa pemilih tetap untuk beberapa saat. Terlihat sangat luar biasa visi misi dari dua kandidat, karena dua-duanya mempunyai tujuan untuk memajukan STAIS Kutai Timur. Ada yang sangat menarik ketika dua kandidat diberi pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan apabila kalah dalam pencalonan, kedua kandidat pun menjawab siap menerima kekalahan dan akan mendukung progam kerja Presiden BEM yang terpilih. Setelah selesai penyampaian visi misi dan tanya jawab, kemudian dimulailah acara pemilihan

seperti halnya munculnya faham NII dan terorisme yang merajalela. Kegiatan terorisme yang pada awalnya merupakan sebuah wacana yang muncul dari Timur Tengah dengan menggaris besarkan sebuah faham agama yaitu faham jihad. Di Indonesia sendiri istilah tersebut menjadi semakin popular di khalayak ramai akhir-akhir ini. Tindak terorisme tidak lagi mengacu kepada pengeboman terhadap turis asing maupun bangsa asing yang singgah di Indonesia dan dianggap kafir dan wajib dibinasakan. Pemerintahan pun menjadi target sasaran aksi mereka. Bahkan Polisi yang notabenenya sebagai aparatur keamanan bangsa menjadi incaran teroris ini. Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan bagi bangsa Indonesia. Bukan lagi meneruskan perjuangan para

dengan cara mencontreng dari pada nama calon presiden BEM. Proses pencontrengan ini pun berlangsung hingga pukul 14.00 wita dan dilanjutkan dengan perhitungan suara. Dari 370 daftar pemilih tetap (mahasiswa aktif di STAIS), ternyata hanya 86 yang memberikan hak suaranya. Setelah perhitungan suara selesai, ternyata muchtar yang memenangkan pemilihan, dengan 54 suara, sementara Guruh Suseno mendapatkan 23 suara, dan yang abstaint 9 suara. Ketika ditemui setelah kemenangan ini, muchtar mengatakan akan menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan maksimal. “Saya akan melaksanakan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya yang mengacu pada AD/ART BEM STAIS dan sesuai dengan visi misi STAIS Kutai Timur”, kata muchtar.

Muh. Hamzah, Mahasiswa semester IV

Pahlawan di masa lalu utuk membangun Negara, namun malah terjadi hal sebaliknya yaitu adanya upaya-upaya untuk menghancurhan ketertiban tatanan bangsa ini. Pada dasarnya keadaan seperti ini terjadi karena lunturnya rasa cinta tanah air dan jiwa patriotism terhadap bangsa Indonesia. Hal ini karena kurang adanya pemahaman terhadap penumbuhan rasa cinta tanah air dan jiwa patriotism bangsa. Pada tingkat pendidikan konsep dan upaya untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan jiwa patriotism yang diberikan ialah dengan memberikan materi Pancasila dan Kewarganegaraan. Nur Muhabibudin, Mahasiswa Semester II

FOKUS

KENAPA KITA HARUS MEMBACA

Sudah lebih dari sepuluh kali majalah dinding ini terbit, sudah banyak tulisan dan ide-ide dari teman-teman yang tercurah, semua itu bukan tanpa tujuan dan tanpa makna, justru di dalamnya banyak sekali manfaat yang bisa diambil tentang berbagai pengetahuan. Jerih payah pengurus LPM serta para penulis yang telah meluangkan waktunya demi terbitnya mading ini tidak harus dibayar dengan uang atau, semuanya bekerja dengan tulus tanpa pamrih, satu yang mungkin mereka harapkan, terciptanya sebuah kampus dengan nuansa ilmiah yang kental, berpengetahuan luas, munculnya cendekiawan-cendekiawan muda yang bisa dibanggakan. Namun rasanya ada sesuatu yang kurang, majalah dan madding yang terbit terasa hampa, seolah bertepuk sebelah tangan, gayung tak bersambut, jerih payah mereka seolah tak ada guna, madding yang ditempel setiap minggu tak pernah mendapat respon positif dari para pembaca, sepi, lengang, kertas mading yang sebenarnya penuh dengan ide-ide segar seolah hanya menjadi hiasan dinding Wiwi Widyana, belaka, kusut dan akhirnya jatuh Mahasiswa Semester II terhembus angin.

Kenapa hal tersebut terjadi? Apakah karena mahasiswa sudah terlalu pandai sehingga tidak butuh sodoran ide-ide baru? Ataukah karena para penulis yang kurang terkenal? Ataukah karena sajian yang kurang menarik? Sebagai pemeluk Islam, agama yang begitu getol menggemborkan pentingnya ilmu dan pengetahuan, mestinya hal tersebut tidak boleh terjadi, sejenak kita kaji apa yang sebenarnya disampaikan oleh Al-Qur’an, kitab suci tuntunan kita, wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca, memahami dan selalu menambah pengetahuan, dalam banyak ayat lain juga disinggung tentang hal tersebut, hal ini menunjukkan betapa pentingnya membaca, karena dengan membaca tentu pengetahuan akan bertambah. Dalam banyak hadits juga dianjurkan hal tersebut, betapa tingginya derajat mereka yang berilmu dibanding orang-orang bodoh disekelilingnya. Dalam kehidupan nyata juga bisa dilihat betapa pengetahuan mempunyai peranan penting dalam kehidupan, sebuah contoh nyata bagaimana upah seorang tukang lebih tinggi daripada kuli/pembantunya, gaji direktur

Redaksi Gazebo menerima tulisan dalam bentuk artikel, opini, cerpen atau cerita bersambung. Tulisan max 1250 karakter. Kirim ke email: gazebo@staiskutim.ac.id atau langsung diserahkan ke Nur Habibudin - 085742989690

jauh di atas gaji pegawai biasa, seorang guru lebih terhormat disbanding tukang kebun, sudah pasti hal tersebut tidak lain Karena perbedaan ilmu dan pengetahuan mereka. Akal pasti lebih unggul daripada okol (tenaga), orang yang menggunakan otak akan bisa mengendalikan orang yang Cuma menggunakan otot. Dimanapun orang pandai akan selalu mengalahkan orang bodoh. Kalau manusia ingin menang, unggul, terhormat, sukses, sudah barang tentu ilmu dan pengetahuan harus ia dapatkan sebanyak mungkin, dan darimana ilmu dan pengetahuan bisa didapat kalau kita tidak mau membaca? Membaca buku, membaca tulisan, ide-ide, membaca situasi, membaca peluang dan sebagainya. Jadi apa alasan kita untuk tidak mau membaca?? Kecuali kalau seseorang ingin menjadi si dungu tanpa pengetahuan, hanya bisa dikendalikan dan tidak mungkin bisa mengendalikan. Cuma bisa jadi wayang, tidak mungkin bisa jadi dalang. Abdul Basith, Mahasiswa Semester VIII

Iklan Mading/Majalah Gazebo Hub. 085250295089


Mading Edisi 11