Issuu on Google+

Bem Laksanakan Outing Class

Tangani Kasus Ahmadiyah

di Teluk Lombok

MADING INI DIRENCANAKAN AKAN DIDISTRIBUSIKAN KE KAMPUS-KAMPUS LAIN MENGGUNAKAN MEDIA INTERNET

GAZEBO NEWS-Untuk menghilangkan stress dan kejenuhan, kemarin (15/02) segenap civitas akademik STAIS mengadakan outing class di pantai teluk lombok. Kegiatan tersebut merupakan yang kedua kalinya diadakan, sehabis smester semenjak berdirinya STAIS. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 30 orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan karyawan beserta beberapa pimpinan STAIS. Menurut ketua panitia, Surono Ahmad, outing class diadakan untuk membina hubungan antara mahasiswa dan para dosen serta pimpinan. “Mudah-mudahan kegiatan ini bermanfaat dan bisa menyegarkan pikiran kita semua serta menjadi momen untuk membina keakraban antara dosen dan mahasiswa, untuk bersama-sama membangun STAIS ke depan”, ujarnya. Dalam outing class tersebut diisi dengan perlombaan-perlombaan, seperti lomba futsal, balap karung, lari kelereng dan lain-lain. Perlombaan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa, melainkan juga diikuti oleh dosen dan karyawan. Perlombaan tersebut terlihat sangat menarik dan menyenangkan, pasalnya antara mahasiswa dan dosen berlomba dengan sportif untuk menjadi juara, walaupun disertai dengan canda tawa. Di sisi lain, kekompakan dan keikhlasan yang luar biasa dari para mahasiswi yang sedang membakar ikan dan menyiapkan makanan untuk para peserta outing class. Pada pukul 13.00 makanan pun siap disajikan, perlombaan dihentikan kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama. Dalam acara seremoni sebelum makan ketua STAIS Prof. Dr. Hj. Siti Muri’ah memberikan pengantar untuk motivasi kepada para mahasiswa, dosen dan karyawan. Beliau menyampaikan tentang tantangan dan tanggung jawab segenap civitas akademik STAIS ke depan yang semakin besar. “Setelah empat tahun berdiri, STAIS mendapatkan nilai akreditasi B, namun ini tidak menjadikan kita bangga dan santai-santai, melainkan minimal ke depan harus bisa mempertahankan nilai tersebut, bahkan kalu bisa meningkat menjadi nilai A. STAIS mempunyai tantangan yang lebih besar, jadi para segenap akademik harus bekerja bersama-sama untuk menjaga nama baik almamater serta memperjuangkannya agar lebih maju”, kata Siti Muri’ah.

berikan solusi yang terbaik, diantaranya dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri pada tahun 2008. Namun dengan terbitnya SKB tersebut, dinilai belum mampu mengatasi masalah ahmadiyah, karena pemerintah kurang sungguh-sungguh dalam penerapannya. Ahmadiyah yang cenderung menyiarkan dakwahnya terkesan dibiarkan, akhirnya mengundang masyarakat untuk main hakim sendiri. Berdasar pada

Instruksi presiden jadi solusi Oleh: Muchtar (SEKJEN BEM STAIS)

A sifat kekeluargaan akan menumbuhkan semangat kebersamaan foto/ali basuki

untuk menjadi seorang juara perlu semangat dan kerja keras foto/ali basuki

dengan kebersamaan akan menumbuhkan semangat perjuangan foto/ali basuki

pendapat para tokoh agama dalam penyelesaian kasus ini, ahmadiyah harus dibubarkan atau membentuk sebuah agama sendiri yang tidak mengatasnamakan islam, karena ajaran ahmadiyah menyimpang dari islam. Sebagai tindak lanjut dari pendapat para tokoh agama, hendaknya presiden SBY memberikan Instruksi/ Kepres kepada ahmadiyah untuk membentuk sebuah agama baru yang tidak mengatasnamakan islam, sebab dengan instruksi presiden

lembaga yang bertanggung jawab menangani kasus ahmadiyah niscaya akan menagani masalah ini dengan serius. Kemudian langkah selannjutnya yaitu dibentuknya undang-undang yang mengatur tentang ahmadiyah agar tidak menyebarkan ajarannya kepada masyarakat, serta memberikan aturan kepada masyarakat agar tidak memusuhi dan bertindak anarkis terhadap ahmadiyah. Pemerintah juga harus menunjuk para tokoh agama dan masyarakat,

Menanggapi konflik Ahmadiyah Ahmadiyah merupakan sekte dalam islam yang berawal dari abad 20 tepatnya pada tahun 1889, akar dari ahmadiyah ini sendiri adalah keyakinan akan datangnya akhir zaman. Sekte ini didirikan oleh Mirzah Ghulam Ahmad seorang pemimpin rohani Islam di Pakistan saat itu. Dalam perkembangannya Ahmadiyah sangat pesat terutam di eropa dan afrika ini disebabkan runtuhnya kekhalifaan usmaniyah kemudian dikuasainya ka’bah di mekkah oleh keluarga saud, hal ini menyebabkan islam menderita di tengah kolonialisme barat, selain itu terdapat gerakan pembaharuan pan-islamisme yang dipelopori oleh Jamaluddin Al-afghani mengaskan bahwa islam tidak harus berbentuk kekhalifaan, sehingga muncullah banyak gerakan islam yang bermacam-macam bentuknya seperti salafi, mujadidi, tarikat, dsb. Sehingga situasi umat muslim sangat tidak jelas harus menginduk kemana? kondisi dunia seolah mendekati kiamat karena itulah ketika Mirzah Ghulam Ah-

hmadiyah, agama yang sampai saat ini menjadi perdebatan dan menurut beberapa tokoh menjadi sumber terjadinya kekerasan. Mulai dari tahun 2007 sampai saat ini sudah terjadi lebih dari puluhan kasus kekerasan yang menghilangkan nyawa garagara ahmadiyah. Mulai dari kasus di bogor, jawa tengah dan akhirakhir ini di cikeusik pandeglang banten, yang menghilangkan tiga nyawa dan lima orang luka-luka. Menurut beberapa tokoh, kejadian tersebut karena kurang puasnya terhadap pemerintah yang terkesan lamban, bahkan membiarkan ahmadiyah menyebarkan alirannya. Namun yang menjadi pertanyaan di sini adalah apakah dengan banyaknya kasus kekerasan dengan alasan bahwa ahmadiyah aliran sesat

sampai saat ini bisa teratasi?. Apakah dengan kekerasan dapat menyelesaikan suatu persoalan? Sudah lama kasus kekerasan karena ahmadiyah sering terjadi di Indonesia, namun sampai saat ini, persoalan tersebut belum menemui titik terang untuk ditemukan solusinya. Mengenai keyakinan ahmadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan fatwa kepada ahmadiyah sebagai aliran sesat dengan alasan antara lain mengacu pada sebagian isi dari tadzkirah, kitab umat ahmadiyah. Diantaranya, Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Rosul ““Dan katakanlah, Hai manusia sesungguhnya saya rasul Allah kepada kamu sekalian.” (Tadzkirah, hal 352), kemudian Ahmadiyah juga mengklaim Tadzkirah (kitab

karangan sebagai kitab suci yang paling benar: “Sesungghuhnya kami telah menurunkan kitab suci Tadzkirah ini dekat dengan Qadhian (India). Dan dengan kebenaran kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.” (Tadzkirah, hal 637), (sumber: inilah.com). H.M. Jamaluddin, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam, yang juga menjadi pengamat ahmadiyah juga mencatat bahwa dalam buku memperbaiki kesalahan (judul asli Eik Ghalthi Ka Izalalah), yang ditulis sendiri oleh mirza gulam ahmad, disebutkan bahwa mirza mengaku menjadi perwujudan dari Nabi Muhammad saw. (A. Yogaswara, Heboh Ahmadiyah: 2008). Dalam menangani kasus ahmadiyah tersebut, pemerintah telah mencoba mem-

mulai dari pusat hingga RT untuk bersama-sama saling mengawasi perkembangan ahmadiyah dan masyarakat agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang melanggar aturan. Pemerintah juga harus memberitahukan/menginformasikan kepada masyarakat tentang keberadaan ahmadiyah setelahnya agar tidak terjadi kesalah pahaman atau perselisihan lagi yang menimbulkan perlakuan anarkis.

Redaksi Gazebo menerima tulisan, dari pembaca untuk di terbitkan di media ini atau majalah Gazebo. Kirim tulisan ke email ini faizinempok32@yahoo.com

mad mengakui dirinya sebagai pembaharu Islam dan mendapat wahyu, hal ini sangat menarik bagi umat muslim yang membutuhkan kepastian pemimpin rohani. Dalam perkembangannya ahmadiyah terbagi atas dua sekte yaitu jemaah ahmadiyah di Lahore dan jemaah ahmadiyah di qadyan, secara prinsipil tidak ada perbedaan dari keduanya hanya saja jemaah Lahore tidak menganggap Mirzah Ghulam Ahmad sebagai nabi tapi sebagai pembaharu saja. Saat ini jumlah jemaat ahmadiyah mencapai 150 juta orang. Ajaran ahmadiyah dianggap sesat dikarenakan para penganut ajaran ini menganggap bahwa pembaharu mereka Mirzah Ghulam Ahmad adalah nabi padahal dalam ajaran islam menyebutkan bahwa nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan sebagian menganggap dia sebagai Messiah atau dalam islam disebut al-mahdi, padahal dalam ajaran islam disebutkan bahwa imam mahdi adalah pemimpin di akhir zaman yang memusnahkan salah satu

musuh terbesar islam yaitu Dajjal, namun dalam sejarah tidak ada satupun dokumentasi atau saksi bahwa Mirzah ghulam ahmad melawan salah satu musuh terbesar islam Selain itu banyak sekali kejanggalan seperti para wanitanya dilarang nikah selain dengan golongan mereka, selain itu mereka menganggap selain jemaat mereka tidak akan masuk surga, bahkan dalam kitab tadskirah dinyatakan bahwa selain golongan yang ikut pada Mirsah ghulam adalah babi. Buya Hamka (alm) seorang Majelis Ulama Islam (MUI) sudah memfatwakan bahwa ajaran Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. Namun sangat disayangkan menanggapi hal ini banyak aktifis islam yang menggunakan kekerasan bahkan sampai terjadi pembunuhan padahal itu hanya menambah masalah itu sendiri bahkan dari golongan Ahmadiyah menganggap yang dibunuh itu mati syahid. Dalam al-qur’an sendiri Allah berfirman yang artinya “janganlah membunuh sesorang karena itu

haram bagi Allah kecuali dengan kebenaran” inilah yang disalah artikan, jika kita betul-betul memahami bahwa membunuh itu adalah menutup pintu tobat bagi seseorang, makanya sangat diharamkan. Rasulullah sendiri mengajarkan kita untuk bertoleransi beliau mengajarkan kita untuk menggunakan kekerasan hanya pada saat untuk mempertahankan diri, beliau sudah mengajarkan bagaimana berahlak yang baik serta cara meluluhkan hati orang yang sudah jauh jatuh kedalam kesesatan dengan cara dakwah yang baik dan memberikan pemahaman kepada mereka dengan cara dakwah yang sabar, janganlah menganggap kita suci ketika melakukan kekerasan dan pembunuhan dengan hawa nafsu tanpa berusaha menggunakan jalan dakwah Rasulullah yang baik dan sabar, tapi jangan juga diam inilah mengapa islam itu mewajibkan “Amar ma’ruf nahi mungkar”. Oleh : Muhammad Hamzah

Mahasiswa Semester IV


Mading Edisi 1