Issuu on Google+


surat pembaca Muhammad Jerri [Semester III] Isinya sudah lumayan cerdas dan terinci, bahasanya nyaman dan mudah dipahami, tapi kalau boleh ditambah donk cerita para pejuang Islam atau orang-orang saleh yang kaya akan hikmah dan nasehat untuk dijadikan referensi untuk diaplikasikan dikehidupan kita sehari-hari.

Husnul Khatimah [Semester VII] Maju terus LPM gazebo !!!!!!!!!!! an-nahdia harus lebih kompak dan kuatkan komitmen supaya an-nahdia bisa menjadi salah satu UKM yang bisa membanggakan STAIS dan untuk temanteman al-ahli untuk mengembalikan baju seragam bola inventaris BEM.

Fitri [Semester I] Terbitnya majalah gazebo sangatlah bagus namun kurang pembuktian, karena apa yang tertera di majalah gazebo kemarn sampe sekarang tidak ada yang Nampak jadi harapan saya smoga terbitnya majalah gazebo berikutnya lebih berkualitas dan bermanfaat bagi si pembaca memiliki motivasi yang lebih baik demi terciptanya STAIS is the best.

Mahasiswa [Semester satu] Saya mengharapkan STAIS bukan hanya sekolah tinggi agama islam saja.

Suriansyah [Semester VII] Untuk petugas perpustakaan harap bukanya tepat waktu, karena terkadang mu meminjam maupun mengembalikan maupun mengembalikan buku tapi perpustakaannya masih tutup.

Untuk komentar, kritik, dan saran, bisa di kirim via sms ke 085255508935/081347234142, atau e-mail ke: majalahgazebo@staiskutim.ac.id INFO WEBSITE http://www.staiskutim.ac.id http://www.perpustakaanstais.com http://digital.perpustakaanstais.com http://gazebo.staiskutim.ac.id

INFO EMAIL admin@staiskutim.ac.id perpus@staiskutim.ac.id tarbiyah@staiskutim.ac.id bem@staiskutim.ac.id mikwa@staiskutim.ac.id labkom@staiskutim.ac.id

Salam Redaksi Salam sejahtera buat anda semua para pembaca setia Majalah Gazebo, tentunya anda semua sudah tidak sabar menanti terbitnya majalah yang kita banggakan ini, setelah sukses dengan terbitan edisi perdana beberapa bulan lalu, kami segenap pengurus majalah Gazebo bekerja keras dengan berusaha meluangkan waktu diantara kesibukan masing-masing, teman-teman pengurus ini sebenarnya hanyalah sekumpulan mahasiswa biasa yang berusaha menggali kreatifitas baik dari diri sendiri maupun dari teman-teman lain yang mungkin punya bakat dan kemauan dalam hal tulis menulis, menuangkan pengetahuan serta pemikirannya lewat tinta dengan harapan bisa memberi manfaat bagi mereka yang mau membaca dan belajar. Meski keterbatasan waktu ditengah kesibukan kuliah serta bekerja, para pengurus berusaha memikul tanggung jawab yang sudah dibebankan kepada masing-masing individu, tidak ada dari mereka yang mengeluh, sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan respon positif dari teman-teman yang lain, mereka masih terkesan dingin menanggapi tawaran dari pengurus untuk mencurahkan pemikiran mereka di majalah ini,hanya sedikit yang tampak optimis, padahal salah satu tujuan dari diterbitkannya majalah ini adalah menumbuhkan semangat belajar dari teman-teman mahasiswa, semoga dengan terbitnya majalah Gazebo Edisi kedua ini semakin banyak dari pembaca yang memberikan masukan kepada kami baik berupa pemikiran, saran dan kritik yang sangat kami butuhkan demi kemajuan bersama dan menjadikan majalah ini sebagai majalah yang professional dan berkualitas. Ahirnya, mewakili segenap pengurus Majalah Gazebo Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur saya mengucapkan selamat membaca, selamat menyelami samudera pengetahuan dan semoga kita semua menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama, tak lupa kami menunggu munculnya cendekiawan-cendekiawan baru yang mampu memberikan corak perubahan dalam nuansa berpikir kritis. Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


daftar isi AKSI SOSIAL BEM

SAMBUT SUMPAH PEMUDA SANGATTA-Dalam menyambut datangnya hari sumpah pemuda, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIS Kutai Timur, menggelar aksi damai

... 4

MENUJU GENERASI Ulul Albab MELALUI PENDIDIKAN ISLAM Dewasa ini di dunia pendidikan Islam, menurut Syafi’i Ma’arif (IRCiSoD, 2004), telah muncul dua pola pemikiran yang kontradiktif. Keduanya mengambil bentuk yang berbeda, ... 8

TEOLOGI PEMBEBASAN PAULO FREIRE DALAM

PARADIGMA PENDIDIKAN KRITIS

Paulo Freire adalah pemikir revolusioner dalam bidang kependidikan yang lahir akhir abad ke-20. Sebagai tokoh dan pengusung pendidikan pembebasan, freire dikenal sebagai seorang pemikir produktif dan aktivis pendidikan yang kritis. Sikap kritis Freire dapat dilihat atas ... 14

KONSEPSI TEOLOGIS BENCANA ALAM Bangsa Indonesia sedang berduka, bencana bertubi-tubi menghampiri bangsa yang berpopulasi terpadat keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat ini. Belum tuntas penyelesaian satu bencana, bangsa ini harus ... 17

Ide Pemikiran Sebagai Reinterpretasi

Ajaran Agama Islam

Buku Ijtihad Islam Liberal berisi pikiran-pikiran keislaman yang cendrung berbeda dan tampak tidak lazim dari kebanyakan pemikiran mainstream (mayoritas) umat islam dari berbagai kalangan. Petikan kata”liberal” disini tidak dapat diasumsikan sebagai sebuah kekebasan yang kebablasan. Namun lebih kepada sebuah penegasan akan ... 21

Sebuah Kisah

Tapak Jalan Impian Oleh: Ali Basuki (Mahasiswa Semester III)

Baca di halaman

24

Menu Untuk Anda

3

Menu

Edisi 2/Vol.I/Des 2010 Warta Kampus . . . . . . . . . 4 Kajian Utama . . . . . . . . . . . . . . 8 Wawancara . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Kajian Tokoh . . . . . . . . . . . . . . . . . 14 Opini . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17 Resensi . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20 Cerpen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 23 Puisi . . . . . . . . . . . . . . . . . . 31 Gallery . . . . . . . . . . . . . . . 32 Pojok . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34 PENDIDIKAN WAH-WAHAN

Proyek SBI/RSBI tidak lain hanyalah proyek “wahwahan” yang hanya mengedepankan target “mewahmewahan” sebagai imbas dari keterkaguman kita yang berlebihan terhadap sekolah-sekolah luar negeri yang dianggap ... 34

Pelindung: Prof. Dr. Hj. Siti Muri’ah, Pendiri/ Pembina: Hariyono, M.Si, Pengarah: Imam Hanafie, M.A., Mustatho’, M.Pd.I, Pimpinan Redaksi: Abdul Basith, Sekretaris Redaksi: Dahniar, Redaktur Pelaksana: M. Khoirul Faizin, Editor: Randi M. Gumilang, Mawardi, Layout: Moch. Khoirul Faizin, Design: Zidni, Desk Artikel: M. Akhyar, Koord. Reporter: Mukhtar, Staf Redaksi: Novi Mirnani, Nurul Rokhim, Meybe Violita Tomagola, Nita Yuni Lestari, Reskiani, Sirkulasi: Dedi Arman, Hadi Supranoto, Tata Usaha: Husnul Khotimah, Alamat Redaksi: Jl. APT. Pranoto Sangatta Kutai Timur 75611, Telp: 085255508935, Kontak Person: Abdul Basith (0813-4723-4142) Website: http:// gazebo.staiskutim.ac.id, Email: majalahgazebo@ staiskutim.ac.id. Nomor ISSN: 2086-9061 Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


4

WARTA KAMPUS

Mengabarkan untuk kemajuan

AKSI SOSIAL BEM

SAMBUT SUMPAH PEMUDA

SANGATTA-Dalam menyambut datangnya hari sumpah pemuda, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIS Kutai Timur, menggelar aksi damai di perempatan Jalan Yos Sudarso I, sabtu (27/10) lalu. Aksi yang dimotori oleh Muchtar, Fauzan, dan Hadi Supranoto ini, keberangkatannya diawali dengan berjalan kaki dari kampus STAIS menuju ke perempatan simpang Bontang. Aksi dengan Tema “Sumbangsih Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik” mengundang perhatian masyarakat Sangatta, khususnya para pengguna jalan, pasalnya kegiatan ini tidak hanya mengkritik, melainkan memberikan tips-tips kepada masyarakat Sangatta tentang mendidik anak yang baik secara islami. Dalam orasinya, para orator dengan lantang mennyuarakan tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik secara islami, diiringi dengan nyanyian Mars dan Himne STAIS serta lagu Indonesia Raya oleh masa. Ada sekitar Dua Puluh Lima orang yang mengikuti aksi ini, mereka bersemangat dalam menyampaikan orasinya. Ini dilakukan sebagai wujud kepedulian mahasiswa STAIS terhadap perkembangan moral

anak ataupun remaja khususnya di Sangatta Kutai Timur. Mereka beralasan bahwa ini perlu dilakukan karena melihat banyaknya moral remaja dan anakanak yang semakin memprihatinkan akhir-akhihr ini. “Sebagai suatu Perguruan Tinggi Islam, sudah sewajarnya STAIS mempunyai tanggung jawab terhadap perkembangan moral anak-anak bangsa. Dengan aksi semacam ini paling tidak sedikit menunjukkan peran kami sebagai Mahasiswa STAIS. Generasi yang mempunyai kepribadian baik, moral yang baik niscaya ke depan akan mampu membawa bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Sebagai seorang Mahasiswa, saya berharap teman-teman tidak hanya berhenti sampai di sini dalam memberikan sumbangsihnya kepada bangsa”, kata Muchtar, sebagai Korlap aksi tersebut. Sekitar 2 jam melakukan aksinya, ada yang unik dari rentetan aksi tersebut yang tak biasa dilakukan, yaitu sebelum masa membubarkan diri, mereka melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Nasrudin smester I, “mari kita berdoa untuk kebaikan dan kemajuan bangsa Indonesia”. ucap Nasruddin sebelum memimpin doa.***mchtr.

STUDIUM GENERAL STAIS Tawaran Islam Untuk Menjawab Tantangan Masa Depan

SANGATTA - Sekolah Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) Kutai Timur mengadakan stadium general ke-IV, selasa (26/10) di gedung Serba Guna Bukit Pelangi. Studium General dengan bertemakan “Tawaran Islam Untuk Menjawab Tantangan Masa Depan” ini dihadiri oleh sekitar 400 orang, terdiri dari Mahasiswa STAIS, Ormas, OKP, tokoh-tokoh agama, pejabat pemerintahan, dan siswa/i dari berbagai Sekolah Tingkat Atas (SMA) atau sederajat. Wakil Bupati Kutai Timur bapak Ardiansyah Sulaiman hadir dalam acara ini. Stadium general ini diawali dengan sambutan oleh Ketua STAIS Kutai Timur Prof. Dr. Hj. Siti Muri’ah, dalam sambutannya beliau mengatakan tentang beberapa hal terkait dengan Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


WARTA KAMPUS perkembangan STAIS selama 4 tahun berjalan. Antara lain administrasi dan infrastruktur STAIS. Kemudian sambutan dilanjutkan oleh bapak Ardiansyah Sulaiman (wakil Bupati Kutim), dan sekaligus membuka acara Stadium General. Ketika memberikan sambutan, beliau menyinggung tentang kebijakan-kebijakan pemerintah Kutim yang berkaitan dengan pendidikan. Antara lain pemerintah Kutim telah menganggarkan 20 persen dari APBD untuk pendidikan, membebaskan biaya pendidikan baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. “Ini bagian dari keseriusan dan perhatian pemerintah tentang pendidikan, mungkin hanya di Kutai Timur sebuah perguruan tinggi yang bebas biaya. Pemerintah berharap dengan membebaskan biaya pendidikan, masyarakat Kutai Timur yang tidak mampu juga berkesempatan

untuk mengenyam pendidikan. Dengan masyarakat yang mayoritas mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, maka kemajuan Kutai Timur pun akan semakin pesat”, kata beliau dalam sambutannya. Setelah panjang lebar memberikan sambutan, kemudian beliau membuka acara tersebut. “Dengan membaca bismillahirrahmanirrahim secara resmi Studium General yang bertema Tawaran Islam Untuk Menjawab Tantangan Masa Depan, saya buka”, lanjutnya setelah memberikan sambutan. Acara dilanjutkan dengan orasi ilmiah yang dibawakan oleh Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rektor UIN Malang. Seperti tema kegiatan yang diangkat, beliau menawarkan tentang poin-poin penting dalam mempelajari dan mendalami islam, diantaranya pertama, mengajak kita kaya, kaya akan ilmu pengetahuan.

5

Kedua, mengajak untuk memiliki pribadi yang unggul, seperti tauhid, dapat dipercaya dan mempunyai hati pikiran yang bersih. Ketiga, mencetak masyarakat yang setara dan keadilan. Keempat, memberikan tuntunan membangun spiritual (banyak berzdikir). Kelima, mengajari amal soleh. “Sebenarnya, jika dipersempit lagi dan dikaitkan dengan pendidikan, islam mengajarkan kita tentang tiga hal ilmu, yaitu ilmu sosial, ilmu alam dan ilmu filsafat”, kata beliau sela-sela orasi ilmiahnya. Lebih lanjut beliau mengatakan sebagai perguruan tinggi islam, STAIS harus mampu bagaimana mengembangkan pendidikan islam di saat ini dan mendatang. Sebagai penutup acara bapak Drs. H. Sobirin Bagus (anggota DPRD Kutim) memimpin doa bersama. ***muchtar

JELANG LULUS, Semester VII Laksanakan PPL “Penempatan peserta PPL disebar ke Sekolah Menengah Pertama (SMP/sederajat) dan Sekolah Tingkat Atas (SMA/sederajat) di seluruh kecamatan se Kutai Timur”

Inilah salah satu metode mengajar yang dilakukan oleh Yanti. Memahami keadaan siswa adalah hal penting untuk bisa menentukan metode mengajar.

Husnul Khotimah, mahasiswi Praktek Pengalaman Lapangan (PPL), saat memberikan materi pelajaran PAI pada siswa/i SMK Hasanuddin Sangatta - Kutim

STAIS News- Pagi sudah beranjak, siang belum sepenuhnya turun di kampus STAIS Kutai Timur, di pekarangan kampus di sana-sini telah tampak ramai kelompok-kelompok mahasiswa STAIS Kutim yang hendak melaksanakan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Mereka berseragam lengkap dengan almamater warna cream kebanggan kampus. Selasa (2/11) merupakan hari pertama pelaksanaan PPL yang merupakan tugas wajib bagi mereka yang telah duduk di semester 7. PPL sendiri ditujukan dalam rangka aplikasi teori-teori pedagogic yang telah didapat mahasiswa selama perkuliahan. PPL pada tahun akademik 2010/2011 ini merupakan paket mercusuar yang baru dilaksanakan pertama kalinya oleh STAIS Kutim. Pasalnya kampus STAIS Kutim sendiri baru berusia tiga tahun setengah, hal ini berarti usia tertinggi semester di STAIS Kutim baru sampai smester VII. PPL STAIS Kutim angkatan pertama diikuti oleh sekitar 120 orang mahasiswa/i sesuai jumlah total mahasiswa semsester IV di STAIS Kutim. Peserta PPL disebar acak dari tiga kelas semester IV; kelas regular pagi, siang dan kelas weekend. Terkait penempatan peserta PPL, Khusnul Wardan ketika dikonfirmasi dikantornya mengatakan bahwa penempatan peserta PPL disebar ke Sekolah Menengah Pertama (SMP/sederajat) dan Sekolah Tingkat Atas (SMA/sederajat) di seluruh kecamatan se Kutai Timur. “Penempatan peserta PPL ini disesuaikan berdasarkan tempat tinggal dan lokasi terdekat dengan para peserta PPL, hingga mahsiswa dapat mudah menjangkaunya”. “Mahasiswa yang tinggal di kecamatan Sangkulirang tentu akan kesulitan jika lokasi Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


6

Mengabarkan untuk kemajuan

PPLnya ditentukan di Sangatta ataupun sebaliknya”, Tutur Wardan. PPL STAIS Kutim sendiri dilaksanakan selama 30 hari terhitung mulai tanggal 2-30 september 2010. Kontribusi PPL bagi mahasiswa adalah untuk membantu mahasiswa dalam rangka bersosialisi dan melatih profesionalitas keilmuan yang mereka dapatkan di kampus. PPL akan sangat membantu terhadap kemajuan, kemampuan dan kematangan para mahasiswa yang nantinya akan menjadi seorang guru. PPL merupakan ajang latihan untuk menjadi seorang guru. “Dengan adanya PPL ini mahasiswa akan terbantu melatih kemampuannya sebelum benarbenar terjun ke masayarakat”, ungkap Faozan Razak (presiden BEM STAIS Kutim) yang juga mengambil PPL pada tahun 2010 ini.**muchtar

MENEGUHKAN KARAKTER

KEPEMIMPINAN MAHASISWA

Gazebo News- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) Kutai Timur pada Sabtu (20/11) mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). LDK dilaksanakan sebagai bentuk

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

program kerja BEM STAIS Kutim sekaligus dalam rangka membekali kader-kader generasi pengurus BEM STAIS dengan kemampuan kepemimpinan yang memadai. LDK I tahun 2010 yang dilaksanakan bertempat di Gazebo

STAIS Kutim ini diikuti oleh sekitar 30 mahasiwa, yang terdiri dari unsur pengurus BEM dan dari luar BEM. LDK I tahun 2010 diadakan selama dua hari ini Sabtu-Minggu (20-21/11) mengangkat tema


WARTA KAMPUS Unit Kegiatan Mahasiswa

UKM. PENDIDIKAN

ULUL ALBAB Membentuk generasi berakhlak dan berfikir untuk pembaharuan. ttd Pengurus UKM. Ulul Albab ”Membangun Kader Leadership Mahasiswa Untuk Mempersiapkan Pemimpin-Pemimpin Masa Depan”. Pelatihan dasar kepemimpinan ini menyajikan materi tentang, tipologi kepemimpinan, tehnik berdiskusi, tehnik retorika, kepemimpinan Nabi Muhammad saw, dan problem soulving (tehnik mengatasi masalah). Materi disampaikan oleh para dosen STAIS diantaranya Musthato’, Imam Hanafie, Mustofa Luthfi, Khusnul Wardan, dan Surono Achmad. Dalam sambutannya, ketua panitia Hadi Supranoto menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan pertama kalinya diadakan oleh BEM STAIS Kutim, jadi mungkin sangat banyak kekurangankekurangan. “saya selaku ketua panitia, mewakili atas nama panitia mohon maaf yang sebesarbesarnya apabila terdapat banyak kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini”, tambahanya dalam sambutan. Presiden BEM, yang dalam hal ini diwakili oleh Mukhtar Sekretaris Jendral BEM mengatakan LDK ini bagian dari upaya peningkatan kinerja BEM dan

7

Segera Launching

FORUM GAZEBO Apa itu Forum Gazebo? Forum Gazebo adalah sebuah website yang berjalan pada Lokal Area Network. Untuk mengaksessnya anda tidak perlu membayar (free), dan tidak mengharuskan anda untuk tergabung dalam keanggotaan Lab. Komputer. Ada apa di Forum Gazebo? Dalam Forum Gazebo akan dibahas topiktopik yang menurut Redaksi Majalah Gazebo layak untuk diperbincangkan. Anda juga bisa membuat topik sendiri yang menurut anda layak untuk diperbincangkan. Selain itu Forum Gazebo juga sebagai sarana mahasiswa untuk mengirim karya tulis pada Redaksi Majalah Gazebo.

sekaligus membentuk kader-kader yang mampu menjadi seorang pemimpin. LDK ini juga merupakan tindak lanjut dari progam kerja BEM periode 2010/2011. “kami harapkan para teman-teman mahasiswa yang mengikuti pelatihan ini, nantinya akan mampu dan mau mendedikasikan dirinya untuk kemajuan STAIS ke depan”, ujar Mukhtar. Pada kesempatan yang sama Imam Hanafie, Ketua Jurusan menghimbau agar para peserta

benar-benar mengikuti LDK dengan serius. Katanya, dengan mengikuti pelatihan tersebut nantinya akan menjadi modal dasar tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin. “sesuai dengan tema yang diangkat, bahwa tujuan spesifik dari kegiatan ini adalah untuk membentuk mahasiswa, agar mampu menjadi seorang pemimpin dalam lingkup yang lebih luas, seperti halnya memimpin suatu organisasi” tandas Imam dalam sambutannya.**muchtar

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


8

aRTIKEL UTAMA

Membuka cakrawala fikir

MENUJU GENERASI Ulul Albab MELALUI PENDIDIKAN ISLAM Dewasa ini di dunia pendidikan Islam, menurut Syafi’i Ma’arif (IRCiSoD, 2004), telah muncul dua pola pemikiran yang kontradiktif. Keduanya mengambil bentuk yang berbeda, baik pada aspek materi, sistem pendidikan, atau dalam bentuk kelembagaan sekalipun. Dua model yang dimaksud adalah pendidikan Islam yang bercorak tradisionalis (ketimuran), yang dalam perkembangannya lebih menekankan aspek doktrinernormatif yang cenderung ekslusif-apologetis, dan pendidikan Islam yang modernis (ala Barat) yang dalam perkembagannya ditengarai mulai kehilangan ruh-ruh mendasarnya (transendental). Munculnya dua model pendidikan tersebut, mengakibatkan terjadinya ambivalensi orientasi pendidikan Islam, yang salah satu dampak negatifnya adalah adanya paradigma dualisme-dikotomis dalam sistem pendidikan. Pertanyaanya, bagaimanakah semestinya pendidikan Islam berperan ideal dalam pembentukan generasi muslim masa depan?, mengingat ditangan generasi pemuda muslimlah peradaban bangsa ini diemban. Pada dasarnya, konsep pendidikan Islam mempunyai sifat yang dinamis yang akan selalu berkembang seiring perjalanan waktu dan berkembangnya kebutuhan manusia. Maka sebuah lembaga pendidikan Islam akan dapat diterima dan berkembang dengan baik serta mampu memberikan andil dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara jika lembaga tersebut mampu menyediakan kebutuhan umat dan menghadirkan sebuah masa depan pendidikan Islam yang menjanjikan. Untuk memenuhi kebutuhan umat akan pendidikan Islam maka perlu ada dinamisasi dan reorientasi lembaga pendidikan Islam secara terus menerus. Begitu pula yang harus dilakukan oleh civitas akademika dan seluruh pihak yang terkait dengan pendidikan Islam jika menginginkan peran lembaga pendidikan Islam yang lebih besar dalam merubah peradaban umat. Serta pendidikan berfungsi sebagai barometer kemajuan sebuah bangsa, termasuk di dalamnya pendidikan Islam. Sebuah konsep pendidikan berparadigma AlQur’an pernah ditawarkan oleh Imam Suprayogo. Konsep ini memiliki empat hal pokok sebagai unsur dari sebuah pendidikan yang Islami. Pembahasan dalam konsep tersebut ialah (1) membacakan ayat-ayat Allah, maksudnya bahawa anak didik dan pendidik harus mampu untuk membaca ayat-ayat Allah yang terdapat pada al-Qur’an (qauliyah) serta juga mampu membaca ayat-ayat Allah yang terhampar di alam semesta (kauniyah) karena dari observasi itulah akan muncul ilmu pengetahuan, (2) mensucikan (tazkiyah), dalam mendidik guru dan tenaga pengajar tidak hanya melakukan tranformasi ilmu pengetahuan saja tetapi juga harus mengisi hati atau bathin dari anak didik dengan cara memperdalam spiritualitas melalui dzikir, sholat, puasa dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, (3) mengajarkan Kitab (al-Qur’an) dan (4) mengajarkan hikmah. Ulul Albab sebagai Tujuan Pendidikan Islam Tinjauan filosofis Tarbiyah Ulu al-Albab melihat bahwa manusia yang disebut ulu al-albab adalah sosok Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

manusia yang mengedepankan dzikir, fikir dan amal sholeh. Ia memiliki ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang M. Zamrony, M.Pd cerdas, hati yang lembut dan semangat jiwa Dosen Tarbiyah STAIS Kutim pejuang (jihad di jalan Pemahaman yang kuat Allah). Manusia ulu alalbab adalah manusia terhadap agama akan yang bertauhid dan melahirkan motivasi untuk karenanya ia berkeyakinan bahwa semua terlibat dalam pendidikan, makhluk adalah sama karena semakin tinggi dan tiada yang yang pemahaman tentang lebih tinggi kecuali ia memiliki kemuliaan agama maka pendidikan yang disebabkan ia akan dijadikan sebagai memiliki ilmu, iman dan amal sholeh kebutuhan, khususnya (taqwa) (Suprayugo, anjuran menuntut ilmu Imam.(eds). 2004). dalam agama Islam Harapan dari konsep Tarbiyah ulul bagi setiap muslim albab adalah akan dan muslimat. Karena terbentuk pribadi yang cerdas secara identitas ulul-albab intelektual (IQ), disamdapat dibentuk lewat ping itu cerdas seproses pendidikan yang cara emosional (EQ) dengan spiritual (SQ). dipola. Pola pendidikan Inilah antara lain yang dimaksudkan bagian dari kepribadian ulul albab yang adalah pendidikan yang akan dibangun dan mampu membangun dan dikembangkan UIN mengembangkan dzikir, Malang. Keberhasilan fikr dan amal shaleh. hidup bagi penyandang ulul-albab bukan terletak pada jumlah kekayaan, kekuasaan, sahabat dan sanjungan yang diperoleh, melainkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akherat. Di dunia ini tidak sedikit orang kaya, berkuasa dan disanjung orang ternayata tidak selamat dan juga tidak bahagia. Ulul-albab diberikan oleh Allah SWT. Rizki yang halal, mungkin juga berpengaruh tetapi tetap selamat dan bahagia. Penyandang ulul-albab selalu berpihak dan cara kerja yang shaleh, artinya yang benar, lurus tepat atau professional. Maka, amal shaleh yang dilakukan oleh ulul-albab selalu disenangi oleh manusia dan bahkan oleh Allah SWT. Ulul-albab meyakini kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat, agama dan pendidikan. Tiga dimensi kehidupan itu harus memperoleh perhatian secara seimbang dan tidak dibenarkan hanya memprioritaskan salah satunya. Keberuntungan di dunia harus berdampak pada kehidupan akhirat dan tidak justru sebaliknya. Demikian pula kesehatan jasmani ruhani memberi dampak positif pula pada kesehatan ruhani. Keuntungan material bisa jadi berdampak positif pada kesehatan jasmani, akan tetapi jika diperoleh dengan


ARTIKEL UTAMA cara yang tidak halal akan berdampak pada kesehatan ruhani. Pemahaman yang kuat terhadap agama akan melahirkan motivasi untuk terlibat dalam pendidikan, karena semakin tinggi pemahaman tentang agama maka pendidikan akan dijadikan sebagai kebutuhan, khususnya anjuran menuntut ilmu dalam agama Islam bagi setiap muslim dan muslimat. Karena identitas ulul-albab dapat dibentuk lewat proses pendidikan yang dipola. Pola pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan yang mampu membangun dan mengembangkan dzikir, fikr dan amal shaleh. Komunitas yang berjiwa dan berwatak ulu al-albab adalah komunitas yang berorientasi hanya mencari ridlo Allah semata. Segala kegiatan mendidik, belajar dan bekerja adalah sarana mencapai tujuan yaitu ridho Allah SWT, bukan karena jabatan, rizki dan kedudukan di mata manusia yang bersifat meteri Tarbiyah ulu al-albab bentuk riilnya adalah penggabungan antara pesantren dan perguruan tinggi. Sebab telah kita ketahui bagaimana keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan agama Islam yang telah lama berdiri melahirkan manusia yang mengedepankan dzikir. Begitu juga dengan perguruan tinggi yang menghasilkan manusia yang mengedepankan fikir, dan atas keduanya akan melahirkan amal shaleh. Keberhasilan hidup bagi penyandang ulu al-albab adalah keselamatan di dunia dan akhirat. Ulu al-albab meyakini kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat. Kedua dimensi haris memperoleh perhatian yang seimbang. Melalui dzikir, fakir dan amal shaleh pendidikan ulu al-albab mengantarkan seseorang menjadi manusia terbaik sehat jasmani dan ruhani. Dan tarbiyah ulul albab dikatakan berhasil jika mampu mengantar seseorang memiliki identitas sebagai berikut: 1. Berilmu pengetahuan luas 2. Penglihatan yang tajam 3. Bercorak cerdas 4. Berhati lembut 5. Bersemangat juang tinggi karena Allah SWT. Orientasi Tarbiyah Ulu al-Albab dirumuskan dalam sebuah kalimat perintah : Kunu uli ilmu, kunu uli nuha, kunu uli albab, wa jahidu fi allah haqqa jihadih. Ulu al-albab berpandangan bahwa jika seseorang telah menguasai ilmu pengetahuan, cerdas, berpandangan luas dan piranti yang lembut serta mau berjuang di

9

jalan Allah, insya Allah akan mampu melakukan amal shaleh. Konsep amal shaleh diartikan sebagai bekerja secara lurus, tepat, benar atau professional. Dalam pelaksanaanya Tarbiyah Ulu al-Albab memiliki berbagai pendekatan sesuai dengan rumusan yang dimiliki yaitu dzikr, fikr dan amal shaleh. Dzikr dilakukan dalam bentuk sholat jama’ah, khotmul alqur’an, puasa sunah dan memperbayak membaca dzikr (kalimah thayyibah). Pendekatan fikr dilakukan melalui pendekatan riset terbimbing. Artinya mahasiswa diberi tanggung jawab untuk mengembangkan keilmuan yang dimiliki dengan melakukan riset. Sehingga pendidikan ulu alalbab lebih merupakan kegiatan riset terbimbing oleh dosen. Sebagai ciri khas dari perguruan tinggi adalah melakukan riset dan menemukan sesuatu yang baru. Sedangkan amal shaleh haruslah merangkum tiga dimensi yaitu Profesional, transenden atau pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan bagi kehidupan pada umumnya. Dalam melakukan amal shaleh terdapat dua pendekatan, pertama pendekatan keteladanan dengan cara ibda’ bi nafsika; mulai dari diri sendiri. Dan kedua berkenaan dengan pengembangan pemikiran melalui pendekatan kebebasan, keterbukaan dan bertanggung jawab. Sehingga penerapan dan pengembangan keilmuan dapat dilakukan oleh siapa saja, dan seluruh hasil pemikiran dihargai. Dan prinsip terbuka menjadikan manusia ulu al-albab menjadikannya memiliki daya nalar dan kritis. Konsep pendidikan Ulu al-Albab dalam upaya pengembangan pendidikan Islam di Indonesia mendatang pada dasarnya menginginkan dekonstruksi atas dikotomi keilmuan yang ada di lembaga pendidikan Islam. Karena tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan ilmu umum, justru keduanya harus diintegrasikan dalam sebuah proses pendidikan sehingga akan menghasilkan alumni yang tidak saja pandai tetapi juga alim dalam bidang agama. Oleh sebagai penutup patut kita perhatikan pendapat dari Albert Enstein yang menyatakan bahwa “agama tanpa bantuan ilmu pengetahuan akan lumpuh dan gagal mencapai tujuannya yang mulia, dan sebaliknya ilmu pengetahuan tanpa bantuan agama akan buta dan gagal pula melihat tujuannya yang sejati“.Wa’Alluhu a‘lamu

REORIENTASI PENDIDIKAN ISLAM

UNTUK MASA DEPAN Mujiburrahman, M.Ag

Membahas Pendidikan Islam berarti membicarakan konsep Islam tentang pendidikan. Di dalam agama Islam arti pendidikan mencakup aspek ta’lim dan ta’dib, yaitu menyangkut proses transfer ilmu dan ketrampilan untuk memenuhi hajat hidup, dan menyangkut aspek beradab atau berbudi pekerti. Prinsip ini harus berlaku di segala situasi dan kondisi lingkungan

sosial dan di waktu segala kebutuhan manusia baik yang primer maupun yang sekunder meningkat, maupun pada zaman dimana hegemoni dimana materialisme tampak. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang begitu cepat, pendidikan Islam akan tetap bertahan dalam relevansinya dengan ajaran Islam. Bagi komunitas muslim pen-

didikan Islam bukan sekedar mendidik aspek relegius yang menyangkut hubungan dengan Allah saja, tetapi karena Islam adalah agama peradaban, mempunyai sistem akidah, ibadah dan sistem hidup yang menyeluruh untuk manusia, maka pendidikan Islam berorientasi pada kemajuan dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Agama dan ilmu keduanya berupa prinsip dan amal

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


10

Membuka cakrawala fikir

sistem dan kehidupan orang-orang Islam dahulu, mereka yakin betapa perlunya ilmu untuk masyarakat, peradaban, dan sumbangan mereka amat besar dalam berbagai bidang ilmu dan metode kajian ilmiah. Namun mereka sekali-kali tidak pernah lupa akan ajaran agama, nilai, ahlak dan tazkiyatun nafsi. Pendidikan Islam sebenarnya mempunyai misi untuk mendidik peserta didik untuk memiliki ilmu, dengan ilmunya mampu menempatkan fungsi al-afidah secara sempurna. Tidak melakukan penyimpangan syari’ dan berlaku baik menurut norma-norma Islam. Jalur pendidikan Islam yang berfungsi mendidik dapat ditempuh melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. (RI, 2003, 11) Semua pedagogis Islam ini harus diserahkan pada ahlinya yang tepat, terutama bidang pelaksana, jangan sampai lemah dalam kompetensi. Karena keberhasilan dalam mendidik al-af’idah yang dimulai pada usia dini dan tingkat dasar merupakan langkah mendidik yang paling fundamental dalam membentuk pribadi muslim dan karakter bangsa. Pengembangan Pendidikan Islam Menuju Era Global Adalah suatu keniscayaan bahwa kehadiran lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dalam berbagai jenis dan jenjang pendidikan itu sesungguhnya sangat diharapkan oleh berbagai pihak, terutama umat Islam. Bahkan kini terasa sebagai kebutuhan yang sangat mendesak terutama bagi kalangan muslim kelas menengah ke atas yang secara kuantitatif terus meningkat belakangan ini. Fenomena sosial yang sangat menarik ini mestinya bisa dijadikan tema sentral kalangan pengelola lembaga pendidikan Islam dalam melakukan pembaharuan dan pengembangannya. Namun yang kita saksikan justru sebaliknya, di berbagai tempat banyak lembaga pendidikan Islam terutama yang tergolong “kelas pinggiran” satu persatu mengalami penyusutan karena kehilangan kepercayaan dari umat maupun peminatnya. Sementara itu lembaga-lembaga pendidikan yang latar belakang keagamaannya berbeda namun dikelola secara profesional dan menempatkannya pada konteks kemasyarakatan yang lebih luas, memperlihatkan perkembangan yang demikian pesat, sehingga keberadaannya semakin kokoh. Kenyataan itu secara tidak langsung menuntut para pengelola pendidikan Islam untuk lebih yang bersifat rasional dan lebih berorienMajalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

tasi kepada kebutuhan masyarakat luas. Apalagi sekarang ini, yang menjadi mainstream pemikiran pendidikan adalah mempersiapkan sumber daya manusia di masa mendatang dan bukan semata-mata sebagai alat untuk membangun pengaruh politik atau alat dakwah dalam arti sempit. Kalau persepsi yang terakhir ini yang dijadikan acuan untuk tetap bertahan, maka boleh jadi pendidikan bukan saja tidak menolong masa depan peserta didik, tetapi lebih jauh kebalikan dari itu, yaitu dinilai sebagai perbuatan yang merugikan. Oleh karena itu, persoalan dunia pendidikan sebenarnya termasuk peka dan rawan. Pendidikan yang tidak didasarkan pada orientasi yang jelas dapat mengakibatkan kegagalan dalam hidup secara berantai dari generasi ke generasi.(A.Malik Fajar, 2006,10) Kurang tertariknya masyarakat untuk memilih lembaga-lembaga pendidikan Islam sebenarnya bukan karena telah terjadi pergeseran nilai atau ikatan keagamaannya yang memulai memudar, melainkan karena sebagian besar kurang menjanjikan masa depan dan kurang responsif terhadap pertimbangan masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan, yaitu nilai (agama), status sosial dan cita-cita. Masyarakat yang berpendidikan akan semakin beragam pertimbangannya dalam memilih pendidikan bagi anakanaknya. Hal ini berbeda dengan kondisi tempo dulu yang masih serba terbatas dan terbelakang. Tempo dulu, pendidikan lebih merupakan model untuk pembentukan maupun pewarisan nilai-nilai keagamaan dan tradisi masyarakatnya. Artinya, kalau anaknya sudah mempunyai sikap positif dalam beragama dan dalam memelihara tradisi masyarakatnya, maka pendidikan dinilai sudah menjalankan misinya. Tentang seberapa jauh persoalan keterkaitan dengan kepentingan ekonomi, sudah semakin terdidik dan terbuka, pada umumnya lebih rasional, pragmatis dan berfikir jangka panjang dan karenanya pula. Ketiga aspek tersebut (nilai, status sosial dan cita-cita) dijadikan pertimbangan secara bersamasama. Bahkan, dua pertimbangan terakhir (status sosial dan cita-cita) cenderung lebih dominan. Sebenarnya komitmen masyarakat kita terhadap nilai-nilai agamanya masih cukup tinggi. Bahkan ada kecenderungan meningkat. Hal ini terkait tatkala muncul pendidikan Islam yang dinilai bermutu dan cukup menjanjikan, maka mereka akan menjadikannya sebagai pilihan pertama. Sebagai contoh

dikemukakan disini, seperti kehadiran sekolah-sekolah pada perguruan Al-Azhar di Jakarta, Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 di Malang, dan SMA Muhammadiyah 1 di Yogyakarta yang setiap tahun ajaran baru selalu dipadati calon siswa dan siswi. Terhadap lembaga pendidikan seperti ini, ternyata daya beli masyarakat tinggi walaupun biaya pendidikannya cukup tinggi. Pemerintah nampaknya tidak keberatan dan tidak membatasi upaya-upaya pengembangan lembaga-lembaga pendidikan yang menyandang ciriciri khas itu. Bahkan pemerintah merekomendasikan sebagai salah satu model “sekolah unggulan”. Pengembangan pendidikan Islam bukanlah pekerjaan sederhana, karena memerlukan adanya perencanaan secara terpadu dan menyeluruh. Dalam hal ini, perencanaan berfungsi membantu memfokuskan pada sasaran, pengalokasian dan kontinunitasnya serta sebagai suatu proses berfikir untuk menentukan apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, siapa yang mengerjakannya dan kapan dilaksanakannya. Maka perencanaan juga memerlukan adanya kejelasan terhadap masa depan yang akan dicapai atau dijanjikannya. Oleh karena itu dalam perencanaan ada semboyan bahwa luck is the result of good planning, and good planning is the result of information well applied.(Ibid) Selain perencanaan yang baik dan tepat, Menurut A. Malik Fajar (1999, 12), untuk pendidikan Islam yang lebih baik juga perlu didukung dengan kegiatan “riset dan evaluasi”. Dalam kajian A. Malik Fajar ini, riset dan evaluasi pendidikan merupakan empirical inquiry yang dapat dijadikan landasan pengembangan secara bijak. Sayangnya, kegiatan riset dan evaluasi pendidikan Islam itu sampai sekarang belum ada yang menekuninya, meskipun dalam berbagai pembicaraan dan diskusi seputar pembinaan dan pengembangan pendidikan Islam sering disebut-sebut perlunya umat Islam memiliki “lembaga riset dan evaluasi pendidikan” atau Research and Development (R&D)”. Maka pertanyaannya kapan umat Islam yang kaya dengan lembaga-lembaga pendidikannya itu memiliki lembaga riset dan pengembangan pendidikan Islam yang tangguh dan mumpuni. Bukankah kita sudah memiliki modalnya baik yang berupa tenaga ahli maupun yang berupa kelembagaan (pondok pesantren, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi). Pertanyaanpertanyaan itulah barangkali yang segera dijawab. Wa’alu A’lamu


ARTIKEL UTAMA

H

ampir setengah abad, wacana pendidikan yang membebaskan telah digagas oleh Paulo Freire – ideolog pendidikan untuk pembebasan dari Brazil. Melalui magnum opus-nya (Pedagogy of Opressed, 1970), Freire menggagas bahwa semestinya dari pendidikanlah manusia dapat terbebaskan yakni mengenal diri, orang lain dan memilih masa depannya secara kritis. Namun apa lacur pendidikan justru menjadi candu, masyarakat semakin teralinasi dalam jenjang dan pilihan pendidikan yang telah ia tempuh. Di Indonesia alih-alih dunia pendidikan menjadi praktik pembabas, pendidikan kita justru memasung anak didiknya dalam jenjang-jenjang pengetahuan yang didrop langsung dari pusat melalui system yang sangat kaku dan jauh dari demokratis. Sikap kritis terhadap Praktek dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia yang membelenggu ini sebenarnya telah menjadi pemikiran banyak pihak, termasuk di dalamnya pemerintah melalui dinas pendidikan Nasional. Seperti diketahui melalui UU SISDIKNAS pasal 28 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah mengatur penjenjangan pendidikan ke dalam tiga satuan pendidikan, yakni pendidikan dasar (SD dan SMP), pendidikan menengah (SMA/SMK) dan pendidikan tingggi. Penjenjangan satuan pendidikan ini disesuaikan berdasar tingkat perkembangan peserta didik. Penjenjangan pendidikan pada dasarnya adalah usaha operasionalisasi dari tujuan pendidikan secara umum. Tujuan penjenjangan sendiri bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dalam penjenjangan pendidikan ini, pendidikan tinggi di tengah kesangsian dan keharusan pendidikan menjadi praktik pembebas, menduduki posisi yang sangat strategis. Perguruan Tinggi merupakan keharusan dalam menggenapkan proses pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung dari jenjang Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan pendidikan Menengah (SMA/ SMK). Pertanyannya mampukah perguruan Tinggi di Indonesia menjawab skeptisme public terhadap dunia pendidikan saat ini, dan bagaimana peran perguruan tinggi berperan sebagai pembebas bagi bangsa ini?. Unsur Pembebas dari Perguruan Tinggi Sampai saat ini perguruan tinggi dapat dinilai menjadi satu-satunya ujung tombak terdepan dalam melakukan transformasi social di Indonesia. Tugastugas transformasi sosial-politik dan pendidikan diemban semenjak perguruan tinggi ada di Indonesia yakni pada tahun 1902. Mahasiswa sebagai satu element didalamnya adalah kelas progresif dan dinamis yang mengembang tugas perubahan “agent of change”. Sejarah Perguruan Tinggi dengan mahasiswa di dalamnya adalah sejarah perubahan bangsa. Mahasiswa sebagai sumber daya manusia siap melakukan “praktisi” teori, sekaligus bertanggung jawab untuk terjun langsung di masyarakat. Ada beberapa pertimbangan nilai untuk mengatakan bahwa perguruan tinggi merupakan kesempatan emas untuk merasakan pendidikan yang membebaskan, yakni pertama, penyusunan kurikulum di Perguruan Tinggi berlandas pada kebutuhan pendidikan yang disesuaikan dengan nilai lokal dalam rangka menjawab problem-problem kemasyarakatan. Mahasiswa sebagai partisipan aktif dari proses pendidikan adalah input yang akan menjadi problem solver bagi masyarakat dan diharapkan bisa terus berperan akfif dalam prosesproses transformasi masyarakat. Kedua, perguruan

11

Perguruan Tinggi Dan Upaya Menggapai Pendidikan Yang Membebaskan Mustatho’, M.Pd.I

tinggi mempunyai kultur dan potensi ilmiah yang berbeda secara diametric dengan jenjang pendidikan di bawahnya. Setiap detail proses dan penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi mewajibkan pertanggungjawaban ilmiah dari setiap unsurnya. Ketiga, Mahasiswa dan dosen memiliki kebebasan mimbar akademik yang sama. Manifetasi dari upaya ini adalah mengembangkan kelompok-kelompok kritis dosen dan mahasiswa dan memberi ruang yang selebar-lebarnya bagi mereka untuk berekspresi dalam ranah ilmiah. Keempat, dalam proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi mengarah kepada model pembelajaran partisipatoris yang active learning. Tenaga pendidik di Perguruan Tinggi hanya berfungsi sebagai fasilitator bagi transformasi keilmuan, sementara pusat belajarnya adalah mahasiswa (students centre). Kelima, perguruan tinggi mempunyai tridharma yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Unsure terakhir ini sekaligus memupus kemungkinan alienasi peserta didik dari masyarakatnya. Mereka yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berangkat dari masyarakat semestinya berpulang kembali ke masyarakat dengan tanggung jawab yang lebih besar yakni sebagai agent perubahan. Terakhir, selamat mengemban amanah, Gunakan kesempatan kuliah di STAIS Kutai Timur sebaik mungkin untuk menjadi lulusan seperti yang dicita-citakan.amin. Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


12

Ekslusif

WAWANCARA

Wawancara Majalah Gazebo dengan Pembantu Ketua III, Bpk. Haryono, M.Si

“Geliat Kemahasiswaan STAIS Kutim” Sejauh mana peran bagian kemahasiswaan STAIS dalam pelaksanaan kegiatan dan program-programnya? Di STAIS Kutim ini ada 3 orang yang membantu ketua, Yakni PK I bagian Kurikulum, PK II bagian sarana prasarana & Keuangan dan PK III membantu ketua bagian Kemahasiswaan. Saya selaku PK III yang bertugas dalam bidang kemahasiswaan, utamanya dalam hal pembinaan dan pengembangan mahasiswa, selama ini berpegang pada buku panduan, perubahan dan perkebangan PTI (Perguruan Tinggi Islam) di Indonesia. Karena di STAIS Kutim ini masih tahap awal dalam hal keberlangsungan kegiatan akademik, berikut kemahasiswaannya, maka yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan minat dan kemauan dari para mahaiswa. Dalam hal ini yakni diwujudkan dalam pembentukan UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahaiswa). Untuk saat ini UKM yang telah dikembangkan adalah bidang Olahraga, Seni-Budaya dan Pendidikan. Dalam hal ini UKM yang telah ada harus dikembangkan lebih dahulu. Setelah UKM tersebut terbentuk maka selanjutnya adalah mengisi UKM tersebut, yakni dengan jalan menempatkan personil-personil yang tepat di dalamnya. Dan UKM lainnya juga harus dibentuk, semisal UKM Pramuka, MAPALA dan lainnya. Pada dasarnya banyak UKM lain yang memang harus dibentuk, namun oleh karena ini adalah awal maka yang menjadi prioritas adalah UKM yang banyak diminati oleh para mahasiswa. Seperti Olahraga, Seni – Budaya, Da’wah dan Pendidikan. Dan hal tersebut juga merupakan hal yang urgent bagi perkembangan kemahasiswaan. Strategi ke depan, kita harus memberikan dorongan/motivasi, terutama bagi para Dosen. Dan memang harus dilibatkan dalam usaha pengembangan kemahasiswaan di STAIS. Hal ini didasari pada situasi kita yang masih awal dan memang kondisi kita yang berbeda dengan PTI lainnya, seperti yang ada di Pulau Jawa maupun Sulawesi. Para Dosen juga harus melakukan pendampingan serta bimbingan dalam hal pengembangan kemahasiswaan. Karena apabila tidak dilakukan pendampingan, kita tidak mampu untuk mengembangkan bidang kemahasiswaan ini. Oleh karena nya, setiap kegiatan mahasiswa itu harus diarsipkan, agar ada data yang jelas untuk dijadikan Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

pegangan. Dan yang demikian adalah langkah strategis dalam pengembangan kemahaiswaan. Kemudian mengenai program bagian kemahaiswaan sendiri, yakni setelah pembentukan UKM. Maka setiap setahu sekali diadakan pergantian dan pembentukan kepengurusan BEM yang baru. Karena BEM itu adalah tolak ukur dari, apa saja program yang ada/telah disusun, program apa saja yang sudah terlaksana, program apa yang belum terlaksana dan apa kendala apa yang dihadapi. Kemudian akan dievaluasi oleh bagian kemahasiswaan. Seperti pada periode BEM yang lalu, kendalanya adalah sumber daya, maka solusinya ialah melaksanakan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan pengurus BEM. Seperti pelatihan Jurnalistik dan pelatihan ke-organisasian, kemudian langkah strategis berikutnya adalah diadakannya studi banding. Seperti misan kemarin sudah dilaksanakan LKD (Latihan Kepemimpinan Dasar), maka selanjutnya adalah studi banding. Dan hal ini hanya menunggu waktu saja. Kemudian juga jurnalistik, dimana harus ada pelatihan kemudian akction dan itu pun harus tetap didampingi. Dari sekian program yang telah dilakukan, bagaimana bapak melihat progress dari kegiatan mahasiswa di STAIS ini? Sejauh ini yang saya lihat sudah berjalan efektif di antaranya, berkaitan dengan kegiatan UKM Olahraga. Di STAIS Kutim saya lihat banyak mahaiswa yang gemar dengan kegiatan olahraga, seperti futsal, tennis meja, bulu tangkis & volli, aktivitas-aktivitas tersebut terlihat semarak. Kemudian di Gazebo sering saya lihat pertemuan-pertemuan, kajian-kajian yang sudah bermunculan. Kemudian Seni Budaya & Da’wah juga ikut menyemarakan aktivitas kampus, dimana setiap malam jum’at diadakan kegaiatan habsyian. Kemudian dari pihak lembaga juga telah menyambut baik geliat kegiatan mahasiswa yang ada, dimana rencana nya dalam waktu dekat akan dibelikan 1 set peralatan musik/qasidah. Kemudian selanjut nya akan dicarikan pelatih. Untuk bidang olahraga sendiri, terlihat lebih kompeten dikarenakan memang para mahasiswa memiliki minat yang besar kearah sana. Untuk itu saran saya, segala bentuk aktivitas yang berpotensi untuk mengembangkan minat dan bakat mahasiswa itu harus ada planning yang jelas. Selain melakukan perekrutan para mahasiswa yang memiliki minat dan bakat itu juga perlu dilatih secara intens dan dilibatkan dalam event-event yang diadakan dikampus ini. Dan tidak hanya terpaku pada moment disnatalis, namun bisa saja dalam bentuk perlombaan “memperebutkan piala PK III”. Dilihat dari program yang telah berjalan, bila dibandingkan dengan STAIS Kutim sebagai Lembaga Pendidikan Islam, ada pihak yang menilai bahwa program kegiatan yang telah berjalan ini belum bisa mencirikan citra dari STAIS sendiri. Menurut Bapak langkah seperti apa yang perlu diambil dalam upaya pencitraan STAIS ke depan? Dalam usaha membentuk yang namanya citra “Sosial Images” terhadap perguruan tinggi islam khususnya, lebih banyak mengacu pada “tradisi ilmiah yang menghidupkan nuansa akademik, serta seni dan da’wah”.


WAWANCARA Dan hal ini saya lihat sudah mulai berjalan, ini saya lihat ketika mulai banyaknya diskusi ilmiah yang diadakan dikampus, oleh para mahasiswa dimana focus kajian tentang keislaman serta situasi social ke indonesiaan. Dan juga tentu mengangkat hal-hal yang selama ini dianggap paradoks. Seperti ketika saya diundang untuk kajian keislaman mengenai feminimisme. Mulai dari kegiatan olahraga, seni budaya – da’wah, serta kajian ilmiah, ini sudah cukup memberikan citra bagi STAIS, mengingat kita bisa mengukur usia STAIS yang masih awal. Dan hal yang paling baik adalah bagaimana membentuk pola pikir, seni budaya – da’wah dan pendidikan yang di ilhami semangat keagamaan. Bahkan jika memungkinkan kegiatan olahraga pun dikemas dalam semangat keislaman. Jadi, proses pencitraan kegiatan di STAIS ini sudah mengarah pada nuansa-nuansa yang bersifat keislaman sebagai trade mark kita? Ya, memang sudah mengarah kearah sana. Jadi, untuk mahasiswa STAIS sendiri, kita sudah sering ber-sosialisasi. Dimana setiap tahun diadakan sosialisasi keberbagai sekolah SMA/SMK/ MA di seluruh wilayah kecamatan di Kab. Kutai Timur. Sosialisasi ini dilakukan dalam bentuk presentasi langsung lapangan dan pengiriman brosur-brosur penerimaan mahasiswa baru ke sekolah-sekolah. Setelah melihat kegiatan kemahasiswaan di STAIS yang sudah mulai menggeliat, strategi apa yang akan bapak terapkan untuk mendukung kemajuan & perkembangan kemahasiswaan? Pihak akademik akan selalu memberikan dukungan untuk mahasiswa dalam mengembangkan berbagai aktivitas kampus. Hal ini ditunjukan dengan penyediaan sarana-prasarana. BEM sendiri untuk tahun ini mendapatkan dana anggran sebesar 50 juta. Dana tersebut terbilang besar, bila mengingat usia berdirinya kamps ini. Maka, hal yang harus terjadi adalah”gayung bersambut”, dana sudah ada, jadi tinggal merumuskan serta menjalankan program kerja sebaik mungkin. Selain itu juga, BEM diberikan lokasi, ruangan dan kelengkapan operasional (computer). Untuk UKM Seni –Budaya sendiri, rencana nya akan dibelikan peralatan musik yang besaran harganya sekitar 90 juta. Kemudian UKM pendidikan juga didukung melalui pengadaan buku yang lebih banyak sebagai

sarana untuk peningkatan kualitas intelektual serta nalar kritis mahasiswa. Termasuk juga pengadaan fasilitas internet dan TV BEM.. Kesemuannya itu adalah langkah strategis dari lembaga dalam upaya pengembangan bidang kemahaiswaan. Hal yang patut diingat juga bahwa, fasilitas, sarana & dana itu tidak lantas dapat hadir secara langsung. Tapi melalui proses dan waktu, sehingga keberadaannya harus digunakan sebaik mungkin. Serta tidak hanya di habiskan untuk kegiatan semata, namun juga dipergunakan untuk penyediaan invetaris BEM itu sendiri. Setelah fasislitas, Sarana dan Dana terpenuhi, maka selanjutnya yang kita lihat adalah langkah ke depan. Langkah apa yang akan diambil bagian kemahaiswaan dalam upaya pengembangan jangka panjang? Jangka panjang nya begini, mempersiapkan SDM yang terkait dengan UKM yang ada. Oleh karenanya setiap tahu dilakukan perekrutan mahasiswa yang minat dan bakat. Kemudian bagi mereka yang sudah masuk dalam struktur organisasi BEM/UKM akan diberikan pelatihan lanjutan untuk peningkatan kualitas kerja, sehingga berikutnya akan terjadi proses regenerasi pengurus serta kemampuan yang ter-transpormasikan dari para pengurus lama ke pengurus yang baru. Sebenarnya, yang ditotalitaskan adalah pada BEM yang ada. Sehingga BEM dapat mengkader mahasiswa yang ada, untuk kemudian menciptakan sebuah lapangan persaingan dalam organisasi kerja didalam organisasi bentukannya (UKM-UKM). Dalam RAKER BEM, harus jelas. Dimana kegiatan-kegiatan strategis harus diadakan sebagai sarana pemberdayaan UKM. Dan BEM punya jalan untuk itu, dimana UKM harus dijalankan. Mengingat segala jkelengkapan nya sudah disediakan dan dana nya sudah diberikan. Sekarang, program BEM itu seperti apa ? kemudian analisis programnya bagaimana ? setelah itu BEM mampu apa tidak melaksanakannya ? memantau UKMUKM, Program nya berbenturan atau tidak ?. Persaingan dalam UKM itu bagus dan akan semakin meriah dengan beragamnya kegiatan yang diadakan. Saya ingatkan, Raker itu merupakan tolak ukur dari dari kegiatan BEM itu sendiri. Jika Raker itu sudah matang tentang kegiatannya, waktu pelaksanaannya, anggaran dana nya, maka BEM hanya ting-

13

gal mengontrol setiap UKM yang ada. Jika kualitas SDM kurang memadai, maka dapat dilakukan pelatihan. Seperti Jurnalistik, yang dapat dilakukan dengan memanggil nara sumber atau pakar jurnalistik. Atau dengan membeli berbagai produk jurnalisti, sebagai bahan referensi dan pengayaan wawasan jurnalistik. Hal yang utama dalam menjalankan organisasi adalah menentukan skala prioritas dari programprogram dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Serta secara internal membangun jalur komunikasi yang baik antara elemen-elemen yang ada dalam BEM itu sendiri. Sebagai Wakil Ketua bidang kemahasiswaan, apa motivasi yang bisa bapak berikan untuk para mahasiswa agar dapat terus menegembangkan kegiatan kemahasiswaannya di STAIS ini? Motivasi yang bisa saya berikan adalah, para mahasiswa harus selalu beraktivitas dan berkarya. Organisasi tanpa aktivitas, maka tidak akan muncul apa-apa. BEM hanya logo dan UKM hanya nama, jika tidak ada aktivitas yang dilakukan dan karya yang dihasilkan. Mahasiswa harus selalu membuat kegiatan yang positif terhadap perubahan. Oleh karena nya setiap mahasiswa yang dating menemui saya, selalu saya dorong untuk membuat kegaiatan, dan saya akan selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil. Untuk mahasiswa segalanya kita(lembaga) lakukan, oleh karenanya dana dari lembaga itu kita tarik, agar lebih mudah untuk digunakan. Karena jika masih melalui lembaga maka proses pencairannya cukup memakan waktu, dimana ada proses atau jalur birokrasi yang cukup panjang. Hal yang demikian bukan maksud untuk mempersulit, namun memang sebagai langkah kehati-hatian penggunaan dana dari lembaga. Namun, setelah dana alokasi untuk kegiatan kemahasiswaan ini dipegang secara tersendiri oleh bagian kemahasiswaan, maka akan lebih mudah untuk disalurkan untuk berbagai program yang djalankan, serta kegiatan yang dilakukan. Bahkan kadang, penyaluran dana ini hanya melalui telpon atau sms, dan langsung saya transfer. Sehingga tidak harus melalui propsan pengajuan yang cukup memakan waktu. Akan tetapi syarat dan ketentuan dari kegiatan yang dilaksanakan harus rasional dan dijalankan secara propesional.(Sangatta, 03 Desember 2010 RMG ) Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


14

KAJIAN TOKOH

Pesan untuk kita

TEOLOGI PEMBEBASAN PAULO FREIRE DALAM

PARADIGMA PENDIDIKAN KRITIS Surono Achmad, M.S.I

Paulo Freire menyumbangkan filsafat pendidikan yang datang bukan hanya dari pendekatan yang klasik dari Plato, tetapi juga dari para pemikir Marxis dan anti kolonialis. Malah, dalam banyak cara , bukunya Pendidikan Kaum Tertindas dapat dibaca sebagai perluasan dari atau jawaban terhadap buku Frantz Fanon, The Wretched of the Earth, yang memberikan penekanan yang kuat tentang perlunya memberikan penduduk pribumi pendidikan yang baru dan modern (jadi bukan yang tradisional) dan anti kolonial (artinya, bukan semata-mata perluasan budaya para kolonis). http://id.wikipedia.org PROLOG Paulo Freire adalah pemikir revolusioner dalam bidang kependidikan yang lahir akhir abad ke-20. Sebagai tokoh dan pengusung pendidikan pembebasan, freire dikenal sebagai seorang pemikir produktif dan aktivis pendidikan yang kritis. Sikap kritis Freire dapat dilihat atas koreksi dan kritiknya terhadap pemikiran dan praktek pendidikan yang dikonsepkan dan diwariskan oleh paham tradisional yang cenderung pada pengalihan ide-ide konseptual dari satu generasi ke generasi berikutnya secara mekanistis. Bagi Freire, konsepsi pendidikan kaum tradisionalis tidak lebih semacam ”bejana kosong” atau museum yang menyimpan ide-ide konseptual yang sudah terbentuk untuk ditransfer kepada generasi berikutnya. Freire mengkritik konsep pendidikan tradisional dan menyebut model pendidikan tersebut seperti ”bank” (banking concept education), yang memposisikan peserta didik hanya beraktivitas seputar menerima pengetahuan, mencatat, dan menghafal. Model pendidikan jenis ini dianggap sebagai bentuk kekuasaan guru yang dominatif dan “angkuh”, karena tidak ada proses komunikasi timbal-balik dan tidak ada ruang demokratis untuk saling mengkritisi. Alhasil, guru dan murid berada pada posisi yang tidak berimbang. Freire kembali menegaskan, bahwa seolah-olah pengetahuan adalah “anugerah” yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa, alias «bodoh». Pendidikan yang ditransfer dari generasi ke generasi tidak ubahnya suatu upaya untuk melegitimasi Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

kemapanan status quo (kaum elite) yang menjadi pelaku dalam drama penindasan. Keprihatinan Friere terhadap kaum tertindas telah mendorong dirinya untuk mengantisipasi persoalan tersebut demi masa depan. Freire menganggap, bahwa bentuk penindasan apapun bentuk dan alasannya adalah tidak manusiawi, dan menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi), sehingga menyalahi kodrat manusia. MENGENAL FREIRE LEBIH DEKAT Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Recife, Brazil. Ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas. Freire mulai belajar di Universitas Recife pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum, tetapi ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benarbenar berpraktik dalam bidang tersebut. Sebaliknya, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah, mengajar bahasa Portugis. Pada 1944 ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan gurunya. Mereka berdua bekerja bersama selama hidupnya sementara istrinya juga membesarkan kelima anak mereka. Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife). Selama bekerja itu, terutama ke-

tika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan. (Dalam kasus Freire, ini merupakan campuran Marxisme dengan agama Kristen). Perlu dicatat bahwa di Brazil pada saat itu, melek huruf merupakan syarat untuk ikut memilih dalam pemilu. Pada 1961, ia diangkat sebagai direktur dari departemen Perluasan Budaya dari Universitas Recife, dan pada 1962 ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya, ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Sebagai tanggapan terhadap eksperimen ini, pemerintah Brazil menyetujui dibentuknya ribuat lingkaran budaya di seluruh negeri. Pada 1964, sebuah kudeta militer mengakhiri upaya itu, dan menyebabkan Freire dipenjarakan selama 70 hari atas tuduhan menjadi pengkhianat. Setelah mengasingkan diri untuk waktu singkat di Bolivia, Freire bekerja di Chili selama lima tahun untuk Gerakan Pembaruan Agraria Demokratis Kristen. Pada 1967, Freire menerbitkan bukunya yang pertama, Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan. Buku ini disambut dengan baik, dan Freire ditawari jabatan sebagai profesor tamu di Harvard pada 1969. Tahun sebelumnya, ia menulis bukunya yang paling terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970. Buku itu baru diterbitkan di Brazil pada 1974 (karena perseteruan politik antara serangkaian pemerintahan diktatur militer yang otoriter dengan Freire yang Kristen sosialis ketika Jenderal Ernesto Geisel mengambil alih kekuasaan di Brazil dan memulai proses liberalisasi. Setelah setahun di Cambridge, Freire pindah ke Jenewa, Swiss untuk bekerja sebagai penasihat pendidikan khusus di Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Pada masa itu Freire bertindak sebagai penasihat untuk pembaruan pendidikan di bekas koloni-koloni Portugis di Afrika, khususnya Guinea Bissau dan Mozambik. Pada 1979, ia dapat kembali ke Brazil, dan pindah kembali ke sana pada 1980. Freire bergabung dengan Partai Buruh (Brazil (PT) di kota São Paulo, dan bertindak sebagai penyelia untuk proyek melek huruf dewasa dari 1980 hingga 1986. Ketika PT menang dalam pemilupemilu munisipal pada 1986, Freire


KAJIAN TOKOH diangkat menjadi Sekretaris Pendidikan untuk São Paulo. Pada 1986, istrinya Elza meninggal dunia, dan Freire menikahi Maria Araújo Freire, yang melanjutkan dengan pekerjaan pendidikannya sendiri yang radikal. Pada 1991, didirikanlah Institut Paulo Freire di São Paulo untuk memperluas dan menguraikan teori-teorinya tentang pendidikan rakyat. Institut ini menyimpan semua arsip Freire. Freire meninggal dunia karena serangan jantung pada 2 Mei 1997. TEOLOGI PEMBEBASAN; BERAWAL DARI PENINDASAN MENUJU PERUBAHAN SOSIAL Pendidikan pembebasan, secara konseptual sering dikaitkan dengan upaya-upaya atau program-program pendidikan berbasis kerakyatan yang dikaitkan dengan program pendidikan sebagaimana didengungkan oleh Paulo Freire. Paulo Freire adalah seorang cendekiawan Katolik berkebangsaan Brazil yang membuat konsepsi, bahwa pendidikan yang dibutuhkan sekarang adalah pendidikan yang menjadikan manusia sebagai sentral bagi perubahan sosial (central of social change), bahkan mampu mengarahkan dan mengendalikan perubahan itu. Menurut Freire, sejatinya akhir dari pendidikan pembebasan adalah pendidikan yang memanusiakan. Pendapat Freire tersebut tidaklah berlebihan, sebab kala itu pendidikan di Brazil telah menjadi alat penindasan dari kekuasaan untuk membiarkan rakyat dalam keterbelakangan dan ketidaksadaran, sehingga rakyat terkungkung dalam penderitaan dan ketertindasan. Keprihatinan Friere terhadap kaum tertindas (oppressed) telah mendorong dirinya untuk mengantisipasi persoalan tersebut demi masa depan kemanusian. Menurutnya, kaum tertindas yang menginternalisasi citra diri kaum penindas dan menyesuaikan diri dengan jalan pikiran mereka akan membawa rasa takut yang berat. Padahal kebebasan menghendaki mereka untuk menolak citra diri tersebut, dan harus menggatinya dengan perasaan bebas serta tanggungjawab. Kata Friere, kebebasan hanya bisa “direbut” bukan “dihadiahkan”.� Freire menyadari, bahwa pendidikan yang berguna adalah pendidikan yang menyadarkan sikap kritis terhadap dunia dan kemudian mengarahkan perubahannya. Dalam menghadapi dunia, pendidikan diarahkan tidak hanya pada kemampuan retorika yang bersifat verbal, akan tetapi juga mengarah kepada pendidikan kelakuan yang bertumpu pada kemampuan profe-

sional. Untuk memiliki kemampuan itu tentunya harus dirangsang sikap kritis terhadap kenyataan-kenyataan di sekelilingnya dan berbekal dengan sikap kritis, maka akan ditemukan berbagai yang dialaminya sendiri dan masyarakatnya. Dengan sistem pendidikan yang membumi dan berpihak pada rakyatlah perdebatan tentang struktur sosial masyarakat akan tejadi. Dalam praktek pendidikan yang menindas, struktur sosial justru tidak pernah didiskusikan karena tidak dianggap sebagai masalah yang perlu dipecahkan. Sebaliknya, struktur sosial tersebut justru dibuat menjadi tidak jelas dengan berbagai cara yang mengakibatkan massa memiliki kesadaran yang ‘salah’ (Freire,1989:175). Bukan jamannya lagi sistem pendidikan yang selama ini diterapkan, sebab sistem pendidikan yang mengelabui rakyat terhadap realitas sosial sebenarnya malah akan menjadi bom waktu yang akan meledak tiba-tiba tanpa arah. Rasa frustasi yang menumpuk dan tidak terpecahkan melalui pendidikan akan membuat pendidikan itu sendiri tidak berarti. Sistem pendidikan yang membumi dan berpihak pada rakyat dengan praktek-praktek yang ilmiah, demokratis dan murah adalah suatu keharusan sekarang. Walaupun persoalannya kemudian siapkah kita untuk meneriakkan tuntutan ini kepada penguasa. Karena semakin yakin bagi kita bahwa kebijakan ekonomi yang terus membebek pada modal asing tidak akan pernah menciptakan sistem pendidikan yang berpihak pada rakyat tertindas. Berangkat dari sinilah Freire menyadari, bahwa pendidikan dan perubahan sosial diibaratkan dua sisi mata uang. Artinya, pendidikan dan perubahan sosial tidak dapat dipisahkan dan bersifat saling terkait dan mempengaruhi (mutual simbiosis). Dalam konteks yang demikian, perubahan kiranya tidak dapat terwujud tanpa diawali dengan pendidikan. Begitu pula sebaliknya, pendidikan yang baik tidak akan terwujud bila tidak ada perubahan. Hal tersebut sepenuhnya diakui oleh Freire, bahwa pendidikan dapat membangkitkan kesadaran diri (conscientization) manusia sebagai subjek. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut, manusia dapat memerankan sebagai seorang pembebas bagi manusia lain. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun di atas basis relasi intersubjektif, maka masyarakat dapat memain-

15

kan peranan dalam rekonstruksi sosial baru yang lebih demokratis. Hal tersebut, yang dijadikan sebagai dasar konsep politik dan pendidikan Freire yang melandaskan pemikiran filosofisnya, yakni manusia yang terbebaskan (liberated humanity). Teologi pembebasan Paulo Freire tersebut terlihat atas pengakuannya terahadap eksistensi manusia sebagai mahluk yang berharkat, bermartabat, dan sebagai mahluk yang utuh. Manusia sebagai mahluk Tuhan seharusnya memiliki kesadaran dan semangat untuk selalu menumpas kebatilan. Kesadaran akan kemerdekaan dan kebebasan ini muncul, karena penderitaan yang dialami oleh kaum tertindas. Hal tersebut menunjukkan, bahwa Paulo Freire sangat berperan dalam menyumbangkan filsafat pendidikan yang datang bukan hanya dari pendekatan yang klasik dari Plato, tetapi juga dari para pemikir Marxis dan anti kolonialis. Malah, dalam banyak cara , bukunya Pendidikan Kaum Tertindas dapat dibaca sebagai perluasan dari atau jawaban terhadap buku Frantz Fanon, The Wretched of the Earth, yang memberikan penekanan yang kuat tentang perlunya memberikan penduduk pribumi pendidikan yang baru dan modern (jadi bukan yang tradisional) dan anti kolonial (artinya, bukan semata-mata perluasan budaya para kolonis). (www.wikipedia.com) PETA PEMIKIRAN PENDIDIKAN FREIRE �Giroux dan Arnowitz dalam karya monumentalnya, Education Idiologies memetakan tiga ideologi (aliran) pendidikan yang dewasa ini berkembang. Pertama, paradigma konservatif. Penganut aliran ini berpendapat, bahwa ketidaksesuaian derajat dalam masyarakat merupakan suatu ketentuan dari Tuhan. Oleh karenanya, itu adalah sesuatu yang mustahil dapat dihindarkan, karena hal tersebut adalah ketentuan sejarah dan takdir dari Tuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Perubahan sosial, bagi aliran ini bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan sosial hanya akan membuat manusia lebih sengsara. Berangkat dari pandangan yang demikian, kaum konservatif menganggap rakyat tidak memiliki kuasa untuk merubah kondisi mereka. Kedua, paradigma pemikiran liberal. Penganut aliran ini menyakini, bahwa sesungguhnya ada masalah di masyarakat, tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. PengaMajalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


Pesan untuk kita

nut mazhab ini lebih menekankan ”reformasi kosmetik” (nampak luar saja) meminjam istilah Qamaruzzaman. Pendidikan hanya sekedar project oriented, dan kurang bahkan tidak menyentuh pada ranah peningkatan Sumber Daya Manusia. Ketiga, paradigma kritis. Pendidikan bagi penganut mazhab ini tidak lebih merupakan arena perjuangan politik. Jika kaum konservatif, pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan moderat, maka kaum kritisme ini lebih menghendaki struktur secara fundamental dalam politik dan ekonomi masyarakat di mana pendidikan berada. Bagi Freire, tiga paradigma pendidikan tersebut membawa dampak pada tiga karakter kesadaran manusia. Pertama, kasadaran magis, yaitu suatu kesadaran masyarakat tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Milsanya, masyarakat miskin tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan mereka. Dalam konteks pendidikan, jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah, maka proses belajar mengajar, maka menurut Freire disebut sebagai pendidikan fatalistis. Pendidikan lebih merupakan proses menirukan, di mana siswa mengikuti secara buta perkataan dan pandangan guru, tanpa ada mekanisme memahami makna ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif dikategorikan dalam kesadaran magis ini. Kedua, kesadaran naif. Kesadaran model ini lebih melihat aspek manusia, sebagai akar penyebab problematika masyarakat. Dalam kesadaran ini, masalah etika, kreativitas need for achievement dianggap sebagai suatu perubahan sosial. Jadi, dalam menganalisis mengapa masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena salah masyarakat itu sendiri, misalnya malas, tidak berusaha dan lain sebagainya. Oleh karena itu, manpower development adalah suatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam konteks yang demikian, tidak mempertanyakan lagi sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar dan merupakan faktor given. Sehubungan dengan hal tersebut, tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk dan beradaptasi dengan sistem yang benar tersebut. Paradigma kaum moMajalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

dernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dimasukkan dalam kesadaran naif. Ketiga, kesadaran kritis. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktir sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari blaim the victim dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistem sosial, politik , ekonomi dan budaya, dan dampaknya bagi masyarakat. Bila ditelaah, mainstrem pemikiran Freire dapat dikategori dalam lingkup ketiga, yaitu paradigma pendidikan kritis dengan mengambil bentuk kesadaran kritis. Paradigma kritis dalam pendidikan melatih murid agar mampu mengidentifikasi ”ketidakadilan” dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu menganalisis bagai sistem dan struktur itu bekerja serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah penciptaan ruang dan keselamatan agar peserta didik terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Freire telah berajasa menciptakan model teori pendidikan yang benar-benar mengaitkan antara teori kritis-radikal dengan tuntutan perjuangan yang juga radikal (Giroux, 2007: 3). Tuntutan ini disebut radikal, karena komitmen perjuangannya yang tinggi untuk melawan suatu dominasi. Dominasi yang dimaksudkan adalah bentuk penyelewengan kekuasaan secara sewenang-wenang oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain. Oleh sebab itu, kesadaran kritis menjadi titik tolak pemikiran pembebasan Freire. Tanpa kesadaran kritis rakyat bahwa mereka sedang ditindas oleh kekuasaan, tak mungkin pembebasan itu dapat dilakukan. Karena itu, konsep pendidikan Freire ditujukan untuk membuka kesadaran kritis rakyat itu melalui pemberantasan buta huruf dan pendampingan langsung dikalangan rakyat tertindas. Upaya membuka kesadaran kritis rakyat itu, dimata

(Ilustrasi, commons.wikimedia.org)

16

kekuasaan rupanya lebih dipandang sebagai suatu ”gerakan politik” ketimbang suatu gerakan yang mencerdaskan rakyat. Karena itu, pada tahun 1964 Freire diusir oleh pemerintah untuk meninggalkan Brazil. Pendidikan pembebasan, menurut Freire adalah pendidikan yang membawa masyarakat dari kondisi ”masyarakat kerucut” (submerged society) kepada masyarakat terbuka (open society). Epilog Pendidikan pembabasan Paulo Freire pada dasanya adalah bentuk penyadaran atas diri seseorang atau komunitas tertentu dari rasa takut akan kemerdekaan (fear of freedom). Melalui penolakan atas penguasaan, penjinaan dan penindasan, maka pendidikan kaum tertindas secara langsung dan riil pada gilirannya akan lahir pengakuan akan pentingnya peran proses penyadaran (konsientisasi). Konsep pendidikan Freire ini terlihat memiliki akar filosofis, yakni manusia yang terbebaskan (liberated humanity), dan berpijak pada penghargaan terhadap manusia sebagai sosok yang utuh. Oleh karenanya, perlawanan Freire terhadap bentuk penindasan, gagasannya tentang hubungan kritik ideologi dan gerakan masa yang dilandasi semangat ideologi masyarakat saat itu dijadikan sebagai kekuatan untuk mengikis segala bentuk penindasan yang menjadi teologi pembebasan Freire.


opini

Apa kata mereka?

17

KONSEPSI TEOLOGIS BENCANA ALAM Andi Muhammad Fauzan Razak

Bangsa Indonesia sedang berduka, bencana bertubitubi menghampiri bangsa yang berpopulasi terpadat keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat ini. Belum tuntas penyelesaian satu bencana, bangsa ini harus menghadapi bencana lainnya. Rentetan bencana yang dimulai dari Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 yang menelan korban sekitar 200.000 penduduk, disusul tsunami Laut Selatan melanda Pantai Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sejumlah 92 orang masih belum diketemukan setelah tsunami yang menelan korban jiwa 656 orang ini. Belum sembuh luka di Banda Aceh, dan tsunami laut selatan jawa, pada Senin 4 Oktober 2010 Banjir Bandang Melanda di kecamatan Wasior Papua barat, sejumlah 120 orang hilang, 14 ditemukan dalam keadaan luka-luka, 535 luka ringan, 185 mengalami luka berat dan 154 ditemukan tewas (okezone, 11/10/2010). Bencana lain adalah Tsunami di Mentawai Sumatera Barat, dan yang paling baru bencana yang melanda Yogyakarta yakni bencana letusan gunung Merapi di Sleman Yogyakarta. Kemudian dari sini muncul Pertanyaan, apakah musibah yang menghampiri negeri ini adalah satu bencana yang memang diakibatkan oleh murkanya alam yang diakibatkan perbuatan manusia, ataukah ada alasan lain?. Bagaimana juga manusia memaknai bencana yang menimpa mereka?. Jawaban atas persoalan ini semestinya dikembalikan kepada pola hubungan manusia dengan alam. Jika ditelisik dari sejarah, persoalan bencana alam

adalah persoalan kuno, setua usia manusia di dunia. Manusia selalu dihadapkan pada persoalan bagaimana memecahkan teka-teki dunia, termasuk didalamnya bencana alam menjadi teka-teki yang tidak pernah terjawabkan dan tiada akhir bagi manusia. Menurut penulis, disaat manusia mengalami kegamangan atas penyebab dan bagaimana seharusnya bersikap terhadap bencana dan teka-teki dunia yang tidak terpecahkan lainnya, solusi agama bisa menjadi oase dipadang tandus, agama mampu mengobati luka-luka dan kekecewaan-kekecewaan atas beban yang manusia hadapi. Oleh karena itu, menurut penulis faktor penyebab bencana dan bagaimana manusia bersikap atasnya semestinya dikembalikan kepada solusi yang ditawarkan agama, yakni prespektif agama tentang relasi manusia dengan alamnya. Manusia sebagai Penyebab Manusia beragama semestinya memaknai keberadaannya di dunia ini sebagaimana agama memberikan prespektif kepadanya. Bagaimana tujuan diciptakannya manusia dan alam semesta semestinya dipulangkan menurut penilaian agama. Islam menyebut alam dunia ini dengan “mazra’ah� artinya ladang. Ladang bagi manusia adalah tool to life, alat untuk menjalani kehidupan. Dunia bukan menjadi tujuan akhir dari kehidupan manusia. Manusia hanya mengelola, mengolah dan menggunakannya menuju kebaikan. Manusia adalah pengelola alam; baik dan buruk kon-

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


18

Apa kata mereka?

disi alam berpulang pada sikap dan bagaimana manusia memposisikan diri. Hal inilah yang tertera jelas di dalam Firman Allah surat Ar-Rum;41: “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar kembali ke jalan yang benar. Bencana yang terjadi di Negara ini tidak luput dari tindakan-tindakan manusia yang melampaui batas, Manusia yang tidak dapat mengendalikan keinginannya dan selalu mengikuti hawa nafsu akan menyebabkan fenomena alam keluar dari keteraturan. Hawa nafsu manusia ini menurut Malinowski timbul karena manusia memiliki kebutuhan (dalam Saifuddin : 2005) Seperti diketahui kebutuhan individu yang satu dengan yang lainnya jelas berbeda, begitu juga cara meresponnya. Ada yang ingin serba instan (ingin cepat) yang nantinya mengakibatkan anomali, tetapi ada juga individu yang konformitas atau mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh norma agama maupun undang-undang. Masing-masing kelompok individu melakukan aktifitas untuk merespon kebutuhannya sebagaimana ia dikelompokkan. Individu yang ingin serba instan melakukan kerja sama dengan relasi-relasinya guna merespon kebutuhan mereka dengan cara mereka. Masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhannya secara instan atau di luar aturan yang telah ditetapkan inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan. Keadaan tidak

seimbang kemudian menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam. Fenomena ketidak-seimbangan ini dapat ditelusuri dari budaya penguasa yang ingin serba instan atau ingin memperoleh hasil dengan cara di luar aturan yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan oleh penguasa guna memenuhi kebutuhan dirinya dan relasi-relasinya. Misalnya banyak penguasa yang memberikan izin penebangan hutan yang tidak diikuti dengan penanaman kembali pohon dan kontrol yang ketat (misalnya, mana yang boleh ditebang dan mana yang tidak boleh, serta batas wilayah yang diizinkan). Dapat diperkirakan akibat tindakan penguasa tersebut menyebabkan terjadinya banjir, tanah longsor, atau berkurangnya populasi binatang yang dilindungi. Kejadian ini terjadi pada beberapa daerah dan banyak menelan koraban jiwa, rumah dan peralatan hancur, serta banyak tanaman dan hewan yang mati. Hingga bencana pun menyebar dimana-mana. Sikap yang mesti dilakukan oleh manusia saat ini adalah usaha prefentif agar bencana tidak datang lebih besar lagi. Bencana yang sudah terjadi menjadi pembelajaran agar manusia mau mencintai dan lebih memelihara alamnya, menjaganya tetap hijau dengan jalan merawat, menjaga dan melestarikannya, Teguran yang Allah berikan lewat bencana yang terjadi saat ini adalah peringatan kepada kita semua agar selalu kembali kepada jalan Allah swt.

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA Oleh : Abdul Basith Nenek Minah memetik 3 buah kakao [cokelat] senilai Rp. 2.000 di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan [RSA], akibat perbuatannya itu ia diganjar Pengadilan Negeri Purwokerto Jawa Tengahdengan hukuman 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan tiga bulan. Saat kejadian ini berlangsung kita melihat betapa hukum dan keadilan begitu kokoh ditegakkan, pengadilan tampak sakral dan sangat berwibawa, tp apakah memang benar demikian kenyataannya? Sementara di sisi lain kita melihat bagaimana kasus anggodo, gayus si pengemplang pajak, dan masih banyak lagi yang lain, para terdakwa tampak begitu perkasa, sementara pengadilan terlihat tidak berdaya menghadapi mereka. Saat kita masih duduk di bangku sekolah, kita di anjurkan untuk mampu mengenyam pendidikan seluas mungkin, bahkan pemerintah mencanangkan wajib belajar 12 tahun, apa tujuannya? Tentu agar kita semua menjadi orangorang yang pintar, bukan menjadi generasi-generasi bangsa yang bodoh, tapi setelah generasi bangsa ini banyak yang pintar, pemerintah dan bangsa ini seolah kebingungan menghadapi mereka, kenapa? Mungkin karena kepintaran mereka tak terkendali, kepandaian yang

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

mereka dapatkan selama masa pendidikan dulu benar-benar mereka manfa’atkan, sayangnya tidak hanya dalam hal-hal yang positif, mereka yang pandai tentang hukum berusaha mencari celah dari hukum itu sendiri demi keuntungan pribadi. Inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: 1. Harta. Kekayaan yang dimiliki seseorang bisa menjadi senjata ampuh dan sangat potensial untuk menjadikan seseorang kebal terhadap hukum salah satu contohnya adalah kasus korupsi proyek pemetaan dan pemotretan areal hutan antara Departemen Hutan dan PT Mapindo Parama, Mohammad “Bob� Hasan . PN Jakpus menjatuhkan hukuman dua tahun penjara potong masa tahanan dan menetapkan terpidana tetap dalam status tahanan rumah. Bagaimana bisa sebuah kasus yang merugikan negara milyaran rupiah tetapi hukumannya hanya tahanan rumah, dan prosesnya pun berjalan begitu cepat. Masyarakat dengan mudah melihat bahwa kekayaanlah yang menyebabkan Bob Hasan lolos dari hukuman penjara. Kemampuannya menyewa pengacara tangguh dengan tarif mahal yang dapat memen-

tahkan dakwaan kejaksaan, hanya dimiliki oleh orang-orang dengan tingkat kekayaan tinggi. 2. Jabatan. Dalam kenyataannya seseorang yang memiliki jabatan tinggi dalam pemerintahan di negara kita ini sudah barang tentu sangat sulit terjerat hukum, mereka seolah begitu mudahnya bisa berkelit ketika menghadapi masaalah-masalah yang berkenaan dengan hukum, berbeda jauh dengan masyarakat biasa, para pekerja, buruh, dan lain-lain yang ketika mereka terbukti melanggar aturan maka tidak akan ada yang bisa mereka lakukan selain menerima putusan pengadilan, saat mereka menghadapi meja hijau spontan peluh dan keringat pun bercucuran menghadapi kenyataan betapa sakralnya ruang pengadilan, betapa berwibawanya wajah-wajah para Hakim, sementara di lain pihak mereka yang memiliki jabatan bisa memandang pengadilan dengan sebelah mata, seolah hanya bersandiwara. 3. Nepotisme. Hubungan persahabatan, hubungan kekeluargaan sering kali membuat seseorang lolos dari jeratan hukum, seseorang yang telah didakwa melakukan sebuah kesalahan akan tetapi karena dia mempunyai hubungan khusus dengan para aparat penegak hu-


opini Kepemimpinan Tukang Angon Bebek WARISAN KI HAJAR DEWANTARA Oleh: Cak Fahru

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Saka, berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hajar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (Bapak Pendidikan Nasional)

yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Salah satu warisan Ki Hajar Dewantoro adalah konsep kepemimpinannya dalam bahasa jawa kuno yaitu ”ing ngarso sung tulodo ing madya mangun karso”. Marilah kita coba gali konsep tahap kepemimpinan berbahasa jawa kuno tersebut. Tahap pertama dari kepemimpinan adalah ing ngarso sung tulodo, maksudnya yaitu bahwa menjadi seorang seorang kum bisa saja lepas dari kesalahannya dengan banpemimpin harus tuan mereka. oleh karena itu sering kali kita jumpai bisa memberikan oang-orang yang berusaha menjalin hubungan contoh di depan, spesial dengan para pejabat maupun dengan aparat memberikan conpenegak hukum, dan tidak jarang mereka berani toh terlebih daberkorban uang pada awalnya dengan tujuan agar hulu, contoh atau mereka bisa mencari celah dari hukum itu sendiri uswah yang hasdemi keuntungan pribadi karena seseorang terseanah kepada yang but berkecimpung dengan usaha-usaha yang tidak dipimpinnya. legal. Kemudian taCoba kita bandingkan dengan penegakan huhap kepemimpinan kum dalam islam, dalam sebuah haditsnya Nabi yang kedua yaitu Muhammad bersabda yang artinya: “demi Tuhan, ing madya mangun andai saja Fatimah binti Muhammad mencuri maka karso, yaitu bahwa pasti akan aku potong tangannya”. Sabda Nabi ini menjadi seorang merupakan sebuah statemen yang sangat tegas, pemimpin harus meski kata-katanya singkat tetapi mengandung berani untuk tidak pengertian dari sebuah konsep hukum yang sanmenjadi siapagat mulia, Nabi menjelaskan bahwa dalam islam siapa, dalam arti hukum di atas segalanya, semua manusia sama dia hanya menjadi dalam pandangan hukum, antara orang yang bersome one among harta, mereka yang punya jabatan tinggi, mereka others dia hanya yang ditokohkan, maupun rakyat jelata, tidak ada menjadi seseorang yang diistimewakan dan tidak ada yang diremehdiantara orang kan. Bahkan dengan tegas Nabi mengatakan andai lain. Tidak terkeFatimah anak perempuan beliau sendiri melakukan nal tidak apa-apa, kesalahan maka pasti akan beliau tindak dengan tidak di junjung tegas menurut hukum yang ada sesuai dengan ketidak dipuji tidak salahannya. Konsep keadilan yang ditegaskan oleh masalah tetap enNabi ini memberikan rasa aman dan tentram di joy, pokoknya dia hati umat islam kala itu, tidak ada rasa iri maupun hanya menjadi sesakit hati disebabkan oleh hukum yang berlaku, seorang, itu namatapi bisakah di Negara Indonesia ini diberlakukan nya membangun demikian? Sementara moral dari bangsa ini seperti karsa itulah ing yang sudah kita ketahui bersama, banyak dari mermadya mangun eka yang sangat mengerti tentang aturan-aturan karso. Sangatlah hukum tidak berusaha menegakkannya, dan justru sukar mencari berusaha mencari celah didalamnya demi kepentinfigur seorang pegan pribadi. mimpin yang ber-

19

sedia untuk menjadi orang yang hanya mau menjadi seseorang saja. Rasulullah, para nabi dan sahabat itu salah satu contoh pemimpinpemimpin yang masuk kualifikasi ing ngarso sung tulodo ing madya mangun karso. Menjadi pemimpin yang demikian kan resikonya kalau seumpama mau ke warung untuk membeli makanan, minuman atau sebatang rokok sekalipun ya harus mau berangkat ke warung sendiri dan mencari warung sendiri. Disapa orang senang dan ketika tidak disapa orang juga tidak apa-apa ( tetap senang). Tapi kalau misal orang sudah terlanjur terkenal punya pangkat/jabatan atau apapun kan jika tidak disapa orang bisa sakit hati. Orang betawi bilang ”gile ni orang, belum tau gue siapa” gitu kan?. Jadi untuk menjadi seorang pemimpin itu tahapnya bukan dari anggota DPRD terus naik menjadi DPR RI terus menuju ke puncak kursi kepresidenan. Tapi dari di depan bergerak ke tengah-tengah orang ”to be just someone” hanya menjadi seseorang diantara orang lain terus ke belakang. Puncak kepemimpinan adalah ketika seorang pemimpin berani hanya berdiri dibelakang orang-orang. Dan dibelakang itu tidak akan pernah kena kamera namanya aja dibelakang. Padahal sesungguhnya yang berdiri dibelakanglah yang paling hebat dari sekian sekian orang yang berdiri didepanya. Makanya dalam kehidupan rumah tangga seorang istri disebut sebagai teman belakang karena sesungguhnya sang istrilah yang mengatur rumah tangga dan mengurus keluarga. meski toh suami dalam hierarki keluarga sebagai pemimpin tertinggi dalam rumah tangga. Nah model kepemimpinan seperti ini mirip seorang tukang angon bebek yang selalu berdiri dibelakang mengatur bebeknya. Menjadi seorang pemimpin tidak harus seorang ahli agama, seorang kyai, seorang tokoh besar, tekhnokrat, ahli nuklir, ataupun pakar komputer. Tapi yang menjadi seorang pemimpin bisa jadi dari pedagang rokok, pedagang bakso keliling, petani, tukang sol sepatu ataupun seorang ponijo sekalipun asalkan dia punya kemampuan untuk manajemen, kemampuan mengayomi, kemampuan meramu terhadap yang dipimpinya maka dia lah yang pantas untuk menjadi pemimpin sehingga dapat melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Semoga kampus STAIS ini menjadi rahim yang bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak biasa-biasa saja tapi luar baisa.amin...

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


20

resensi

TEORI KRITIK SOSIAL Dalam karangan Heru Nugroho tentang menumbuhkan ide-ide kritis di jelaskan bahwa pemikiran kritis yang berakar pada teori-teori kritik social bukan merupakan hal yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan seharihari. Karena sebagian orang mengatakan bahwa pemikiran kritis sangat mewah untuk dikembangkan di Negara kita ini, karena mereka beranggapan bahwa yang paling penting dalam kehidupan adalah bagaimana dapat menciptakan kehidupan ekonomi dan dapat menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan, pendapat seperti itu tidak salah. Tetapi pandangan ini jika tidak disertai dengan perspektif kritis maka kehidupan social tidak ada artinya dan masyarakat tidak berdaya dan jauh dari kondisi demokratis, akibatnya akan timbul kebodohan dan ketimpangan social, jadi sebagai Negara Indonesia harus membumikan pemikiran kritis yang berakar pada teori-teori kritik social dalam rangka ikut serta berpartisipasi mengambangkan pembangunan yang demokrasi. Kalau kita lihat dari pemerintahan orde baru, kata demokrasi yang sering dilontarkan oleh pejabat kala itu hanya berupa percaturan politik di Indonesia, sama dengan di era pemerintahan presiden soeharto turun dari kursi empuknya itu karena adanya demokrasi, beda dengan pada masa orde pemerintahan presiden gusdur, dia mengharapkan bahwa kran demokrasi harus benar-benar mengalir kelapisan masyarakat supaya masyarakat berhak untuk berpendapat Dengan adan-

ya demokrasi keterbukaan akan kritik juga merupakan syarat dari Negara kita ini sehingga aspirasi masyarakat dapat muncul dipermukaan dan dapat dijadikan landasan kebijakan pemerintahan demi kemakmuran nasional. Oleh karena itu pemikiran kritis harus di bumikan dan dimunculkan dipermukaan umum, bukan dibumihanguskan dan dibelenggu, justru kita harus tegakkan supaya aspirasi masyarakat dapat tersalurkan dan sebagai sarana control atas demokrasi yang berlaku di pemerintahan. Pengarang Buku Judul Buku Jumlah halaman Tahun Terbit Penerbit Peresensi

: Heru Nugroho : Menumbuhkan Ide-ide Kritis : 198 + XIV : 2003 : Pustaka Pelajar : Dedi Arman

Arah Ideologi Marxisme Buku karya seorang rohaniwan yang bernama Prof.dr. Frans Magnis-suseno SJ. Kelahiran 1936 di Eckersdorf, Jerman. Tinggal di Indonesia sejak 1961, beliau adalah guru Filsafat sosial di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Driyakarta di Jakarta, guru besar di Fakultas Paska Sarjana Universitas Indonesia, pernah menjadi tamu di universitas di Innsbruck “universitas teologi”, kemudian mendapatkan gelar Doctor dari sebuah desertasi “Normative Voraussetzungen im Denken des jungen Marx (18431848) yang dikeluarkan Universitas Munchen. Melahirkan lebih dari 300 buku ilmiah beberapa diantaranya; Etika Jawa. Sebuah analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa (1984, Gramedia); Etika Politik. Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaran Modern (1987, Gramedia); Mencari Makna Kebangsaan (1998, Kanisius). Karl Marx adalah sorang pemikir yang sangat revolusioner pada jamannya. memperjuangkan Buruh dan juga karena pemikiran beliaulah beberapa perubahan besar terjadi di berbagai negara. satunya negara Indonesia (PKI), Vietnam, Kemudian dampak yang terbesar dari ide itu adalah lahirnya Lenin atau pengusa Tiga benua dengan ideologi komunisnya, dan beberapa lagi. Buku dengan ciri yang khas, mengungkapkan nilainilai tinggi dua buah ideologi yang menjadi titik tumpu awal di beberapa negara besar. Dengan kritik-kritiknya menguaraikan aspek-aspek dan mungkin sebagian khalayak belum mengetahuinya. Kemudian membandingkan keduanya sehingga terpapar kelebihan serta kekurangan. Terdapat keunikan dalam buku ini. Dalam penguraian hal-hal tentang Marxis dapat mudah dipahami karena Prof. Dr. Frans Magnis-Suseno SJ dengan alurnya membawa kita untuk lebih mudah dalam memahami Revolusionersm Marx, yang terpapar Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

dari waktu ke waktu sampai terwujud sejarah dari Marxisme di bagian-bagian sebuah ideologi filsafat. Dalam buku ini mengagkat sejumlah segi-segi ideologis. Perkembangan pemikiran Sosialis Karl marx sampai Perang Dunia I, yang di dahului pemikiran sosialis dipadu oleh perjalanan intelektualnya menjadi guru ploletariat internasional dan kemudian membaku menjadi “Marxisme” pada perselisihan revisionalisme. Sebuah catatan penting untuk buku ini. Kritik- seorang Franz Magnis-Suseno belum membuka secara jelas dari solusi sosialisme yang mengangkat kesejateraan maupun sistem adikuasa dengan prinsip kemajuan---nya di dalam pemerintahan. Nilai dari penulis bagi pembaca. Praktisi seperti beliau memiliki tinjauan yang luas kemudian kesan yang dapat saya ambil dari buku ini sangatlah banyak salah satunya sejarah dan kronlogi seorang Marx terbuka mendalam. Sebagai catatan penutup. Buku ini patut untuk di pe-


resensi lajari. dengan kedua pandangan diatas sulusi yang tepat adalah kita kembalikan semua kepada Agama, dan agama Islam-lah yang tepat karena hukum dalam Islam tidak hanya besifat kedua ideologi tersebut tetapi memfasilitasi kedunya dengan tidak memihak. Karena hakikat manusia adalah seorang yang memiliki hak pribadi juga sangat menjunjung tinggi hak orang lain.

Judul Buku Penulis Peresensi Penerbit Cetakan Ketujuh Jumlah Halaman

21

: PEMIKIRAN KARL MARX “Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme” : FRAZ MAGNIS-SUSENO : Hadi Supranoto : PT Gramedia Pustaka Utama : September 2005 : 144 + XVI

Ide Pemikiran Sebagai Reinterpretasi Ajaran Agama Islam Buku Ijtihad Islam Liberal berisi Judul Buku : IJTIHAD ISLAM LIBERAL pikiran-pikiran keislaman yang cendrung berbeda dan tampak tidak lazim dari ke “ Upaya Merumuskan Keberagamaan banyakan pemikiran mainstream (mayori yang Dinamis “. tas) umat islam dari berbagai kalangan. Pengarang / Penyusun : Jaringan Islam Liberal Petikan kata”liberal” disini tidak dapat Penerbit : Jaringan Islam Liberal diasumsikan sebagai sebuah kekebasan Kota terbit : Jakarta yang kebablasan. Namun lebih kepada sebuah penegasan akan dimensi kebebasan Tahun terbit : 2005 berpikir dan penerawangan kembali akan Cetakan : Pertama nilai-nilai dasar ajaran islam. Kemudian Tebal : 290 + X melihat relevansi historis masa lampau Resentator : Randi Muhammad Gumilang serta realitas kekinian dari efektivitas ajaran islam dalam menjawab tantangan zaman. Buku ini dibagi atas dua bagian, yakni bagian kolom dan wawancara. Bagian Kolom berisi bahasan-bahasan yang terkait dengan berbagai aspek kehidupan manusia dan islam tentu nya, seperti masalah Al-qur’an, poitik, demokrasi, pluralism, gender dan berbagai gagasan pemikiran dari para aktivis Islam Liberal. Sebut saja nama-nama seperti Ulil abshar – Abdalla, Syaiful Muzani, M. Guntur Ramli, Abd Moqsith Sazali, Luthfi Assyaukanie, Nong darol Mahmada, dsb. Islam laksana sebuah super market (pasar raya/besar) dimana didalam nya lam. Negara islam yang selalu mengedepankan contoh terdapat puluhan bahkan ratusan kios yang menawarkonsep masyarakat madani, seperti ketika rasulullah kan produk (tafsir) islam. Disetiap kios yang berbedaSAW. Masih hidup dan memimpin ummat. Dengan sebeda, Ada yang menawarkan islam ala Gus Dur, ada gala keterangan keadilan, kearifan serta kebijaksanaan islam ala Cak Nur dan tak ketinggalan Islam ala Impor. beliau tatkala memimpin ummat serta memimpin maSebut saja Islam ala Hasan Hanafi, Sayyid Qutb, Yusuf syarakat kota madinah. Maka lahirlah asumsi dimata Al-Qadrawi, Ali syari’ati,dsb. Dari sekian banyak penpublik sekarang khususnya para “perindu Khilafah” gunjung kios-kios tafsir Islam yang menjamur dalam . Berangkat dari keterangan tersebut maka lahirlah pasar raya tersebut, kebanyakan para pengunjung nya pertanyaan-pertanyaan besar yang akan menggugat adalah anak muda. Anak muda yang punya semangat eksistensi dari gagasan Negara islam ini. Khilafah yang besar untuk terus mengkaji dan menjelajahi lautan bagaimana ? sistem kenegaraan islam yang bagaimana pasar raya islam yang penuh dengan hal-hal yang ? ada apa dibalik keinginan besar para pendukung mereka anggap baru. Dengan modal intelektual , kritis khilafah yang menghidupkan kembali jasad bentuk dan berpendirian teguh, para anak muda ini siap unNegara Islam ini ? apa tujuan nya ?....(Khilafah Islam: tuk mengarungi pasar raya tafsir islam yang dijajakan. khilafah yang mana ?). Sampai diperoleh sebuah pemahaman yang bertahan Kritik atas jilbab menjadi sebuah diskus yang panlama dan tertanam kokoh dalam pribadi mereka sebjang dan tak cukup dengan argument “jilbab itu bagian agai muslim. Sebagai mana mereka mempelajari dan syari’at agama” dan” mengenakan jilbab itu artinya memendalami islam yang autentik dengan akal yang dinnutup aurat”. Ada apa dengan jilbab ? mengapa jilbab gin serta penalaran yang matang……,(Pasar Raya Tafsir yang notabene adalah sebuah simbol identitas keisladan Perahu Nuh). man (perempuan) malah dijadikan sebuah gerakan Pertanyaan besar atas gagasan Negara Islam “Khila“politisasi”. Apa dasar teologis dan historis dari jilbab fah” ! Negara islam yang mencerminkan kesempurnaan dalam perkembangan pemikiran islam ? bagaimana sebuah tata-kelola kenegaraan yang berlandaskan iskonteks jilbab terhadap terhadap situasi kekinian ? Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


22

resensi

masih harus kah jilbab diwajibkan ?......,(Kritik atas Jilbab). Poligami adalah bahan diskusi yang tak habis diperdebatkan. Oleh siapan pun, kapan pun dan dimana pun. Poligami seakan menjadi momok menakutkan bagi kalangan yang kontra, disisi lain ia menjadi sebuah bagian ngawur dari pemahaman akan tafsiran atas rujukan ayat Qur’an Oleh mereka yang pro-poligami. Darinya lahir berbagai pandangan tentang status hukum poligami dalam islam. Bahkan kadang ada yang semberono mengatakan nya sebagai bagian dari Sunnah Rasul, Sebagai anjuran/seruan yang membolehkan ber-poligami. Sedangkan yang lain mencoba menelaah makna tersurat dan makna tersirat dari ayat al-Qur’an tersebut, sehingga diperoleh sebuah pemaknaan yang tepat akan isi dan kandungan al-Qur’an. Dan hal yang demikian memperjelas keyakinan bahwa Islam bukanlah agama yang otoriter serta memelihara parktik warisan budaya Patriarkhi. Karena kenyataan nya, islam datang dengan syarat serta aturan yang ketat terkait dengan persoalan poligami ini, dan bagi sejumlah pemikir muslim hal tersebut mustahil untuk dapat dipenuhi seseorang yang hendak ber-pologami…… (Meneguhkan Kembali Gerakan Anti-Poligami). Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji perlu di Tinjau Kembali. Hal utama yang melatar belakangi dari munculnya gagasan mengenai peninjauan kembali pelaksanaan ibadah haji tak lain ialah karena adanya kesulitan yang luar biasa yang dihadapi oleh para Jama’ah Haji khususnya. Sebagaimana diketahui, hampir setiap tahun pelaksanaan nya selalu memakan korban jiwa. Banyak faktor dari penyebab terjadinya kekacauan tersebut, diataranya ialah kapasitas tempat pelaksanaan ibadah haji sudah tidak mampu untuk menampung jumlah jama’ah yang kian tahun, kian bertambah. Dan hal ini bersumber pada pemahaman akan waktu pelaksanaan ibadah haji (QS. Al-Baqarah 2 : 197). Masjidil Haram, kondisinya sangat padat pada saat waktu pelaksanaan ibadah haji tiba, hampir 3 juta orang berada disitu. Diamana kesemuannya datang dari berbagai belahan dunia, dengan satu tujuan yang sama yakni ber-Haji. Dalam menyikapi kenyataan diatas muncul suatu gagasan yang menawarkan solusi apik pelaksanaan ibadah haji, yakni kebolehan waktu pelaksanaan nya berbeda (lebih longgar) dari waktu pada umumnya lima hari dalam bulan Dzulhijjah (tanggal 9-13). Gagasan ini mengutarakan tentang kebolehan waktu ibadah haji yang dapat dilaksanakan pada 3 bulan yang dimaklumi (syawal, Dzulqa’dah dan Dzuhijjah)….. (Masdar F. Mas’udi) Labelisasi Haram, Jangan Labelisasi Halal. Sekelumit unek-unek tersebut mencuat menyusul maraknya kasus-kasus kesangsian kan Halal atau Haram nya produk makanan yang beredar di masyarakat. Dalam pertimbangan tentang kuantitas antara halal dan haram produk makanan yang beredar perlu di kritisi kembali. Hal ini dilandasi oleh fakta bahwa ternyata di dunia ini lebih banyak makanan yang halal, ketimbang makanan yang haram. Selain itu labelisasi halal yang diterapkan oleh MUI sarat akan muatan politis. Diamana para pengusaha makanan dituntut untuk membeli label Halal tersebut, jika ingin hasil produksi nya aman beredar dipasaran. Dalam kasus lain Ajinomoto misalnya, MUI menyatakan keharamannya. Namun lain hal

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

nya dengan Gus Dur yang menyatakan tidak haram. Pada dasarnya Gus Dur ingin memberikan sebuah pelajaran akan multi tafsir atas suatu persoalan hukum dalam islam, dimana tidak ada otoritas mutlak yang berkuasa atas persoalan keagamaan ummat. Berangkat dari hal tersebut maka ada sebuah gagasan tentang Labelisasi Halal,No ! Labelisasi haram, yes ! …..( Imam Nakha’I & Abd Moqsith Gazali) Fakta Empiris Nikah Beda Agama. Indonesia sebagai Negara yang beragam dalam hal suku, bahasa dan Agama menampakkan sebuah bentuk yang unik dalam perbauran nya di lingkup sosial kemasyarakatan. Sebagai fakta empiris dari kenberagaman tersebut maka lahirlah fenomena “Pernikahan Beda Agama ;Red-PBA). Dibeberapa daerah ditanah air, PBA seakan bukan menjadi suatu hal yang aneh dan mungkin telah menjadi satu hal yang lumrah. Seperti misal, di Yogyakarta, Manado, Pontianak,dsb. Hal yang demikian dimungkinkan karena, “keinginan yang kuat untuk membina Rumah Tangga namun harus berbenturan dengan tembok kokoh Agama”, maka lahirlah sebuah jalan lain, yakni PBA. Dari sisi teologis, orang Islam akan akan menutup diri terhadap kasus PBA. Hal ini didasari oleh (QS. Al-Baqarah 2:221), khususnya bagi para muslimah yang hendak menikah dengan laki-laki non-muslim. Namun demikian, fakta dilapangan berbicara lain, PBA tidak lantas melahirkan sebuah malapetaka, malah ia memberikan data autentik akan prosentasi dari keberpihakan keturunan (anak) dari hasil PBA ini unuk memeluk Islam……(Nur yamin Aini). Perempuan Boleh Mengimami Laki-laki. Jum’at bersejarah dan penuh kontroversi yang di pimpin oleh Dr. Amina Wadud (Imam & Khatib) yang dilaksanakan di Gereja Anglikan, Manhattan, New York, USA. Menjadi sebuah perdebatan yang heboh dan membangkitkan kembali debat tentang kebolehan seorang Perempuan menjadi Imam dalam Shalat. Hampir semua literature keislaman dan hampir semua ulama berpendapat bahwa Perempuan tidak boleh menjadi Imam atas Lakilaki, dalam shalat bahkan dalam segala segi kehidupan. Pendapat ini telah tertanam jauh dalam diri ummat Islam, bahkan dalam diri kaum perempaun itu sendiri. Budaya Patriarkhi begitu kental dalam ketetapan hukum islam, sehingga menempatkan perempuan dikelas dua dalam statusnya di dunia & akhirat. Padahal pandagan yang demikian tidak sepenuhnya benar, hal ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak perempuan mempunyai keampuan yang tak kalah dari laki-laki. Baik itu dalam hal dunia, maupun akhirat (agama). Salah satu dasar kuat akan kebolehan perempuan menjadi Imam atas laki-laki ialah hadits yang datang dari Umi Waraqah yang lebih kuat sanad maupun matan hadits nya….(Husein Muhammad & Nur Rofi’ah). Kekurangan dari buku ini ialah rangkaian gagasan nya hanya merupakan gagasan awal (singkat), karena memang ia adalah hasil tulisan-tulisan diberbagai media dan tempat, serta hasil wawancara singkat anatara para aktivis JIL dengan para tokoh-tokoh tersebut. Dari buku ini anda akan membuka kembali wawasan berpikir yang selama ini mandek dan terkesan mencukupi diri secara sepihak, saran bagi anada yang mungkin kurang sepakat dengan gagasan-gagasan yang ada dalam buku ini sebaiknya membawa serta literature pendamping (Qur’an terjemah, Tafsir, Kitab Hadits,dsb.)


n e p

r e c

23

“Apapun, Kecuali Dia” Gak usah di jawab. Aku sedang tak ingin peduli dengan kisah mu. Yang penting kamu tahu arti seseorang itu buat kita.

Rabu, 3 September 2008 obat, jam di dinding kamarku memperingatkan bahwa ini sudah sangat larut. Putaran jam yang sudah tak ku pedulikan lagi menunjukan pukul 02.00 dini hari. Tapi kantuk tak datang menemani malam ini. Mataku tak ingin berhenti menangis. Hatiku masih terus teriris. Sakit ini sangat menyiksa, hingga ku tak tahan lagi untuk hidup lebih lama. Semua ini tak bisa kupercaya. Meski mati adalah hal paling menyiksa, namun aku rela menjalaninya asal siksa ini berhenti. Sakit ini lenyap. Ku tak mampu lagi……

S

Kamu pasti ingin tau kenapa. Baiklah, gak perlu memohon begitu. Aku akan ceritakan semua sebab musabab dari semua ini. Bukan karena aku baik dan pengertian. Aku sedang tak ingin baik. Hatiku sudah hancur, aku tak bisa berbaik hati kini. Bila aku ceritakan ini, itu karena aku ingin ada yang tau. Mungkin ada baiknya bila kuberbagi. Sapa tau bila aku tak ada esok. Setidaknya kalian tau alasannya. Sehingga pihak-pihak yang merasa harus tau tak perlu merepotkan kalian. Begini sobat, Punyakah kau seseorang yang begitu sangat kau sayangi? Gak usah di jawab. Aku sedang tak ingin peduli dengan kisah mu. Yang penting kamu tahu arti seseorang itu buat kita. Ya! Kamu benar. Sangat berarti, bahkan mungkin lebih berarti dari hidup kita sendiri. Dan.. Kamu tentu paham sekali bagaimana efeknya bila kita kehilangan seseorang tersebut. Dan, sialnya aku sedang merasakan efek kehilangan tersebut. Sebut saja namanya ana, ia segalanya bagiku. Tak perlu ku jelaskan deskripsi “segalanya” itu. Bila kau banyak membaca, mendengar, menonton apapun

yang berbau asmara, cinta, kasih, dan sebagainya. Kau pasti paham bagaimana perasaanku padanya. Baiklah, karena kau memaksa, akan ku ceritakan sedikit tentangnya. Ku akui ia memang tak sangat cantik. Tapi jauh dari cap jelek. Ia pun tak sangat pintar, lumayan lah… dan ia memang baik walau banyak yang sebaik dia. Tapi aku sangat saying (atau apapun istilah-nya) padnya. Rasa itu bukan tercipta karena hal2 yng ku sebut di atas. Tapi rasa ini mendarah daging karena kebersamaan. Kami mengenal sangat lama, terbiasa bersama, tak pernah berpisah. Kami adalah satu. Jadi tak heran bila ikatan kami begitu kuat. Dan kami sepakat menyebutnya cinta. Sejak kesepakatan itu kami tak berjarak. Dialah segalanya bagiku, jantung hatiku, pemacu detak jantungku, pengalir darahku, pemicu fikirku. Aku tak akan hidup tanpanya. Dan sejak itu hidupku bahagia…. Ah, cukup ku ceritakan tentangnya. Aku semakin tersayat bila mengenang masa-masa itu. Toh kaupun sudah mahfum dengan maksudku…… Sobat, ternyata ceritaku tak berakhir di situ. Tidak seperti cerita cinderela, putri salju, dan sebangsanya yang cerita di tutup dengan kalimat “akhirnya mereka bahagia selamanya….”. Cerita kami berlanjut, berlanjut mengenaskan. Atau lebih tepatnya berakhir mengenaskan. Beberapa jam tad sms penghancur hidupku ia kirim. Pesan singkat yang tak sesingkat biasanya itu berkesimpulan bahwa kami harus akhiri hubungan kami. Dan kau tak akan menyangka alasan yang ia berikan….. Ia di jodohkan!. Kamu tak salah dengar sobat. Baiklah, ku ulangi sekali lagi.. Ia di jodohkan.

Kau benar, memang alasan itu sangat aneh di masa kini. Tapi… aku tak peduli dengan alasan. Apapun alasannya, aku kehilangan dia. Itu yang tak ku inginkan…. Di awal tadi aku sudah ceritakan bagaimana hancurnya hatiku. Aku tak perlu mengulanginya lagi, kini aku akan ceritakan reaksi ku atas semua ini. Aku akan akhiri semua ini. Ketika ku katakan semua, artinya memang semua. Ya, aku akan akhiri hidupku. Toh semua memang sudah berakhir. Kecuali nafas dan detak jantungku… buat apa lagi aku bernafas dan mendetakan jantung bila aku tak punya alasan untuk itu semua. Tak ada gunanya lagi aku hidup. (hapeku berdering) Tunggu sebentar sobat, ada sms sepertinya. Aku akan kembali segera setelah membacanya….. ~~~ Maaf membuatmu menunggu, Sobat….. Sepertinya ada sedikit perubahan dalam rencanaku. Barusan, sahabatku sms. Ku rasa sarannya patut di coba… walau aku tak sepenuhnya yakin. Bahkan bisa di bilang memang tak yakin. Tapi aku harus hargai sahabatku ini, walau ku fikir ini hanya menunda rencanaku saja. Ia menyarankan aku meminta tolong… sebelumnya ku tak berfikir bahwa ada yang bisa menolong. Tapi sahabatku yakin ada yang bisa menolong. Bahkan sahabatku menjulukinya sebagai “maha penolong”. Ya, excatcly!. Dia juga menyebutnya tuhan. Okay, karena sudah larut malam. Dan aku tak sedang ingin tidur. Apa salahnya ku pinta pertolongan sekarang. Bukankah ia maha pendengar, kapanpun dan di Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


24 manapun. Apalagi saat-saat seperti ini. Setahu ku pendengarannya lebih tajam lagi…. Baikalah, tuhan… ku yakin kau mendengarku. Tak usah aku banyak kata lagi. Kau tau lebih dari siapapun tentang apa yang kurasa. Dan jika aku meminta kini, kau tau betapa ku serius dan bersungguh-sungguh. Aku tidak akan pernah bercanda denganmu. Dengar ini tuhan, aku rela kehilangan apapun dalam hidupku. Tolong catat ini, apapun!. Tapi janganlah kau ambil dia dariku. Kaupun sangat tau kenapa…. Tak ada yang sulit bagimu, apalagi mustahil. Ku mohon dengan sangat. Kamis, 4 September 2008 jaib! Kau tak salah dengar sobat, ya! Ajaib!

A

cerpen Kau tau? Tiba-tiba dia menemuiku tadi. Secara tiba-tiba pula ia bilang menyesali apa yang terjadi kemarin malam. Ia tau ia gegabah, tak berfikir panjang dan sebutan-sebutan untuk orang yang terlalu cepat mengambil keputusan lainnya. Dan entah bagaimana, ia mau kami balikan lagi. Sebenarnya ia jelaskan apa yang terjadi kemarin hingga tadi. Tapi bagiku itu tak penting…. Yang terpenting. Dia kembali!. Okay,okay, aku memang harus berterima kasih pada tuhan. Aku tak mungkin menyangkal ini semua karenanya. Nanti aku akan bangun tengah malam, dan aku akan berterima kasih padanya. Tapi itu nanti saja. Sekarang aku mau tidur dulu…. Aku ingin menikmati tidur dalam kebahagiaan lagi.

Jumat, 5 November 2008 obat, aku tak tau apa yang bisa ku katakan sekarang. Argh…. Mungkin ini saatnya. Aku benar-benar akan akhiri hidupku. Bukan, dia tak ingin tinggalkan ku lagi… berkat doaku... Pintaku… dan semua terkabul. Tapi, tuhan benar-benar mendengar semuanya. Ketika ku bilang, ambil apapun kecuali sesorang itu, tuhan benar-benar mengambil sesuatu dariku. Ia mengambil ibuku!. Ya, hari ini sebuah kecelakaan mengambilnya, merenggutnya….

S

Kini ku sadari, ada yang lebih berharga.. Yang tak ku sadar. Tapi semua terlambat. Saatnya ku pergi. Selamat tinggal sobat. By: Mukti Anam Mahasiswa Semester III

setetspun ia seka karena kedua tangannya sibuk menggenggam erat pegangan gerobak. Gerobak itu berisi 6 karung besar yang berisi serbuk limbah meubel. 2 meter di depannya jalan mulai menanjak, demi melihat itu ia mengambil napas panjang dan lebih mencondongkan tubuhnya. Mengambil kuda-kuda untuk menaklukan tanjakan itu. Ia pandang sejenak titik tertinggi tanjakan, menandai targetnya. menyemangati dirinya, ia Oleh: Ali Basuki (Mahasiswa Semester III) katakan dalam hatinya “ayo ri, di puncak itu kamu boleh istirahat. Ya, sedikit lagi!”. Tepat ketika udara penuh sesak masuk ke paru-parunya, ia mulai mempercepat laju jalannya, kini ia berlari. Berlari menuju puncak. Pemuda itu mulai memperlambat larinya, mengerem laju jalannya dan ber(Ilustrasi : atiqahnurghaziyah1924.blogspot.com) henti di titik tertinggi tanjakan yang baru saja ia lalui itu. Ketika ia memarkir groKala itu siang mencapai puncaknya, awan sama baknya di pinggir jalanan ia merasakan sekali tiada seperti enggan terpanggang matahari. seluruh badannya sakit. Kelelahan yang ia tahan dari Jalanan yang tak terguyur hujan selama sminggu tadi menggumpal menjadi satu menyerangnya. Belum tertutupi debu halus. siap berterbangan begitu ada lagi tenggorokanya yang kering kerontang. Seakan inkendaraan yang melintas. di hari yang tak ramah itu gin menghibur tubuhnya yang kelelahan, ia hempasseorang pemuda terlihat melintas menyusuri jalanan. kan tubuhnya rebah di pinggir jalan yang di tumbuhi Kedua tangannya menggenggam pegangan gerobak. rumput liar. Bayangan grobaknya melindungi ia dari Di bahunya melilit tali yang terhubung dengan gerosengat matahari yang baru disadari begitu menyiksa. bak di belakakngnya. Dengan mencodongkan tubuhNapasnya panjang-panjang naik turun. nya, pemuda itu seperti memaksa gerobak penuh Seorang tua paruh baya yang sejak tadi mengikarung-karung gemuk itu untuk mengikutinya. peluh kutinya di belakang baru selesai menaiki tanjakan. Ia deras keluar dari tiap pori-pori tubuhnya. Namun tak

Tapak Jalan Impian

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


cerpen duduk di samping pemuda itu. Ia lepas topi bututnya, meyeka keringat di wajah keriputnya, dan ikut menarik napas panjang kelelahan. Mata tuanya iba memandang pemuda itu. ada rasa bersalah di hatinya. Rasa bersalah itu lbih menyiksa daripada kelelahan yang ia tanggung tiap hari ini. Rasa bersalah yang membuatnya bercucuran air mata di tiap doa tengah malamnya. “Maafkan aku nak..” katanya setengah mengguman. “Untuk apa pak?” Tanya pemuda itu tak mengerti sambil mengalihkan pandangan ke orang tua itu. “Seharusnya kamu melanjutkan pendidikanmu, bukannya bekerja seperti ini. ini salah bapak. Tak bisa membiayaimu.” Ujar sang bapak penuh rasa bersalah. “Bapak ini ngomong apa sih?” Pemuda itu berlagak tak mengerti. Sang bapak tak menjawab. Ia teringat kembali kejadian-kejadian setahun lalu. Saat usaha yang selama ini menghidupi keluarganya gulung tikar. ia harus gonta-ganti pekerjaan bersama istrinya demi menghidupi ketiga anak mereka. Sampai akhirnya ia menambil keputuan berani untuk merantau jauh ke daerah lain yang lebih menjajikan. Dan ia ajak anak sulungnya untuk membantunya. Ketika itu anaknya telah tamat SMA. Bagaimanapun ia harus bertahan hidup. “Sudahlah pak, ini memang tugasku sebagi anak lelaki tertua di keluarga kita” pemuda itu ingin menenangkan ayahnya. “Lagipula, aku bisa melanjutkan kuliah lagi ketika usaha kita ini membuahkan hasil.” Ujar pemuda itu lagi sambil tersenyum. Tak terasa sudah setengah jam mereka beristirahat. Pemuda itu bangkit dan bersiap melanjutkan

25 perjalanan pulang. “Ayo pak, bisa-bisa kita kesoren di jalan nanti” kata pemuda itu sambil melaju. Jalanan kini relative lebih mudah, jalurnya kini menurun. Sehingga karung-karung berisi bahan bakar mereka memproduksi tahu itu menjadi ringan. …………… “Hei” suara itu di ikuti sikutan ringan ke bahu ari. Tak ayal ari tersadar dari lamunan masa lalunya, ia tergagap “eh. iya?” “namumu udah di panggil tuh” kini ari benar-benar tersadar dari lamunan masa 5 tahun yang lalu. ari pandang sekelilingnya. Orang yang memenuhi ball room seakan mencari-cari seseorang. Dan orang yang mereka cari adalah ia. Kini gilirannya untuk melangkah bangga ke depan. Di atas panggung kehormatan telah menunggu orang-orang terhormat siap menggeser tali yang menjuntai di tutup kepalanya. Hari ini, cit-citanya akan tercapai. Ia akan menyandang gelar sarjana. ya, sarjana. Maka, ari segera melangkah mantap. Ia pandang salah satu hadirin di bangku terdepan. Bangku untuk para orang tua atau kerabat lulusan terbaik. di sana, bapaknya yang semakin menua. Menatapnya bangga, senyumnya mengembang, jelas sekali ia tengah sangat berbahagia matanya berkaca-kaca. Orang tua itu sangat bangga dengan pria yang berjalan ke panggung itu. Pria yang selama lima tahun ini bersama-samanya menarik gerobak di tengah hari itu, Terbangun lebih cepat dari ayam manapun, belajar lebih keras dari siapapun di malam harinya. Kini telah mencapai tujuannya, membuat bangga dirinya. “Kau harta paling berhargaku ari,” batinnya. “Aku bahagia melihat mimpimu terwujud, tak akan ku sesali hidup yang kejam ini” batinnya lagi.

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


26


Gallery

27

Aku dan STAIS STAI Sangatta bukan hanya sekedar nama, selalu berusaha tingkatkan mutu & kualitas melalui bebagai kegiatan seminar dll. di pelopori oleh Ibu Ketua Prof. Dr. Hj. Siti Muri’ah yang punya semboyan tak kenal lelah “faidza faroghta fanshob� jika selesai sebuah aktifitas bergegaslah dengan aktifitas lain. Foto petinggi STAIS usai acara syukuran akreditasi dan seminar pendidikan.

tampak cantik dan elegan, bukan maksud untuk sombong atau bergaya, para Mahasiswi yang tergabung dalam UKM Rebana An-Nahdiyah ini berpose dengan PeDe nya untuk sebuah tujuan mulia,(menarik minat mahasiswi baru pada kesenian Islami serta mengingatkan bahwa untuk tampil cantik tidak perlu membuka aurat)

di bawah komando Kabag Umper para Civitas Akademika STAIS ditempa menjadi pribadi mandiri & ihlas, semua tak harus diukur dengan materi. meski bercucur peluh, tetap ceria dan semangat tanamkan budi baik, ciptakan kampus yang hijau dan asri, dari kita, untuk kita, dan untuk generasi setelah kita.


28 Aku dan STAIS Mereka bukan berebut mencari ikan. tapi ini tradisi lama yang tetap harus dipertahankan, sejak awal berdirinya STAIS dan semoga selamanya, gotong royong dan kebersamaan antara mahasiswa, dosen dan karyawan untuk mewujudkan lingkungan kampus yang asri, pembersihan lokasi Gazebo baru. Sebuah pelajaran bagi generasi selanjutnya bahwa semua tak ada yang instan, butuh cucuran keringat.

kenangan peristiwa Program Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (PROSPEK) IV STAIS Kutim, para calon mahasiswi ini dengan patuh mendengarkan arahan dari seniornya, meski mungkin bermacam perasaan berkecamuk dalam hati mereka, senang, kagum, sedih, benci, jengkel, capek, dll, tapi pada ahirnya mereka semua pasti tersenyum haru setiap kali teringat.

salah satu bentuk aplikasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, para mahasiswa STAIS turun jalan kobarkan semangat pendidikan pada memori sumpah pemuda dengan harapan semoga jiwa-jiwa muda Kutai Timur tumbuh menjadi sosok intelektual yang dinamis dan jauh dari kebodohan.

Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


POJOK

29

Pendidikan Wah-Wahan Oleh: Imam Hanafie, M.A.*)

Proyek SBI/RSBI tidak lain hanyalah proyek “wah-wahan” yang hanya mengedepankan target “mewah-mewahan” sebagai imbas dari keterkaguman kita yang berlebihan terhadap sekolah-sekolah luar negeri yang dianggap maju seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru dan lain-lain, Belakangan ini energi dunia pendidikan kita disibukkan dengan kontroversi mengenai perlu tidaknya pemerintah melanjutkan proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). SBI itu sendiri rencananya dirancang sebagai sekolah nasional yang menyiapkan peserta didik berbasis Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia berkualitas Internasional dan lulusannya berdaya saing Internasional. Cita-cita yang terbilang “wah” itu hendak diwujudkan dengan mematok standar internasional yang antara lain diindikasikan dengan: (1) Menerapkan KTSP yang dikembangkan dari standart isi, standar kompetensi kelulusan dan kompetensi dasar yang diperkaya dengan muatan Internasional. (2) Menerapkan proses pembelajaran dalam Bahasa Inggris, minimal untuk mata pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris. (3) mengadopsi buku teks yang dipakai SBI (negara maju). (4) Menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang ada di dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). (5) Pendidik dan tenaga kependidikan memenuhi standart kompetensi yang ditentukan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). (6) Sarana/prasarana memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP), dan (7) Penilaian memenuhi standar nasional dan Internasional. Upaya mewujudkan SBI/RSBI itu sebenarnya memiliki landasan yang cukup kuat karena diundangkan dalam UndangUndang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pasal 50 ayat (3), yang menyatakan “Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyeleng-

garakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”. Karena itulah beberapa daerah mulai berlombalomba mewujudkan sekolah yang terbilang “wah” ini karena memang UU Sisdiknas mewajibkan setiap kabupaten/kota untuk mengembangkan sedikitnya satu satuan pendidikan yaitu minimal satu SD, SMP, SMK, dan SMA yang dikemas dengan aroma internasional. Akan tetapi siapa sangka jika cita-cita untuk mewujudkan sekolah “wah” yang super mewah ini diindikasikan akan menambah makin runyamnya dunia pendidikan di tanah air. Proyek SBI/RSI ini selanjutnya banyak menuai kritik dari beberapa pakar pendidikan, tidak saja diusulkan untuk dikaji ulang, bahkan ada yang mendesak agar dihentikan karena hanya akan memperlebar jurang diskriminasi antara masyarakat miskin dan kaya, dikarenakan sangat mahalnya biaya yang harus dibayar orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di RSBI/SBI ini. Padahal dalam Pasal 5 ayat (1) UU Sisdiknas itu sendiri sudah jelas dinyatakan bahwa “Setiap warga mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. Pertanyaannya, warga negara yang mana yang diberi hak untuk menikmati SBI/RSI itu, apakah hanya anak-anak yang orangtuanya berkantong tebal saja? Bagaimanakah dengan anak-anak yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi? Itulah sederet pertanyaan yang harus dapat dijawab oleh mereka yang getol mendorong perwujudan SBI/RSBI. Proyek SBI/RSBI tidak lain hanyalah Majalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010


30

POJOK

proyek “wah-wahan” yang hanya mengedepankan target “mewah-mewahan” sebagai imbas dari keterkaguman kita yang berlebihan terhadap sekolah-sekolah luar negeri yang dianggap maju seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru dan lain-lain, sehingga kita latah melabeli sekolah “wah” itu dengan aroma “internasional”. Di mana letak ciri khas internasionalnya? Apakah hanya karena fasilitasnya yang serba lengkap, modern, ruang kelasnya ber-AC, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, dan manajemennya bersertifikat ISO, tapi kurikulumnya tetap menggunakan kurikulum pendidikan nasional? Begitulah, tanpa disadari kita telah terjebak dalam perangkap pendidikan aromatik-aksesorial semata. Menurut pakar pendidikan, Darmaningtyas, setidak-tidaknya ada beberapa alasan mengapa SBI/RSBI dipandang perlu untuk dihentikan: Pertama, sangat mahalnya biaya pendidikan sehingga tidak terjangkau, padahal sekolah itu adalah sekolah negeri yang semestinya terbuka untuk umum, bukan hanya untuk kalangan berduit saja. Kedua, kualitasnya yang rendah dan pengelolaan keuangan yang amat tertutup, tidak transparan, dan hanya diketahui oleh kepala sekolah dan kroninya bahkan guru pun tidak mengetahui lalu lintas keuangan di sekolahnya. Ketiga, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar memaksa siswa mengeluarkan energi ekstra untuk mencerna pelajaran yang disampaikan guru, padahal kemampuan berbahasa Inggris siswa terbatas, di mana hal ini justru akan mendegradasi mutu pendidika nasional. Keempat, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar akan memarginalkan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan khususnya bahasa daerah. Ini tentu bertentangan dengan pasal 31 ayat (3) mengenai amanat untuk menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional maupun pasal 32 ayat (2) yang mengamanatkan negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Kelima, penyelenggaraan SBI yang cenderung eksklusif dan mahal hanya akan menyingkirkan anak-anak yang berlatarbelakang ekonomi rendah. Hal ini bertentangan dengan Pasal 5 ayat (1) UU Sisdiknas, yang menyatakan “Setiap warga mempunyai hak yang sama untuk memMajalah Gazebo Edisi 2/Vol.I/Desember 2010

peroleh pendidikan yang bermutu”. Keenam, adanya ketidakjelasan konsep “taraf internasional” yang dikehendaki SBI/RSBI, tidak jelas maunya berkiblat ke negara mana? Padahal masing-masing negara memiliki sistem pendidikan yang tidak seragam; masing-masing memiliki keunggulan yang tidak bisa dibandingkan satu dengan lainnya. Ketujuh, RSBI dan SBI menjadi pintu terbuka bagi masuknya intervensi asing ke dalam sistem pendidikan nasional. Dengan alasan mengesahkan label “internasional”, sekolah-sekolah tersebut wajib menggunakan buku-buku terbitan negara-negara semisal Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru untuk mata pelajaran tertentu. Dan kedelapan, RSBI dan SBI ini telah menutup akses masyarakat luas terhadap layanan pendidikan yang bermutu lantaran uang menjadi dasar penerimaan murid baru. Banyak calon murid yang nilainya bagus tidak berani mendaftar ke sekolah yang berlabel RSBI/SBI karena biaya sekolahnya amat tinggi, baik uang sumbangan maupun SPP per bulanny. Jika demikian, SBI/RSBI itu tidak lain hanyalah proyek latah-latahan yang hanya mengedepankan kemasan mewah-mewahan dengan menguntit model-model pendidikan asing agar dapat menampilkan aroma “bertaraf internasional” tapi sebenarnya bermutu rendah dan memarginalisir anakanak Indonesia yang cerdas tapi kurang beruntung secara ekonomi. Memang, SBI/ RSBI dicanangkan dengan tujuan mendorong daerah untuk mengembangkan sekolah bertaraf internasional itu, bahwa SBI perlu agar lulusan kita dapat sejajar dengan lulusan negara-negara maju. Tujuan inipun sebenarnya dapat dicapai dengan tanpa label “internasional” sepanjang proses pembelajarannya benar dan tidak terlalu banyak intervensi kepentingan politik. Sebelum ada pelabelan internasional, sudah banyak sekolah yang lulusannya langsung melanjutkan ke negara-negara maju dan mereka lulus dengan baik. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama, meskipun tidak berlabel “internasional”. Dengan kata lain, kualitas bertaraf internasional tidak terletak pada label dan segala macam aroma “internasional”-nya, tetapi pada proses pembelajaran yang benar. Wallahu ’Alam. *) Pengarah Majalah Gazebo dan Ketua Jurusan Tarbiyah STAIS Kutai Timur


Jar Si Utuh PERPUSTAKAAN STAIS Perbanyak referensi keilmuan anda dengan membaca koleksi buku-buku digital milik perpustakaan STAIS. Untuk menikmatinya dapat dilakukan dengan mudah, tinggal aksess webnya cari buku yang dinginkan, kemudian baca sesuka-mu. GAK PAKAI DAFTAR . . .! http://digital.perpustakaanstais.com

Setelah selama sembilan bulan vakum, akhirnya LPM STAIS sukses menerbitkan majalah Gazebo untuk pertama kalinya. - Karena memang 9 bulan waktu yang ideal untuk melahirkan... - Nyaman pang pandir haja..., Sorang uyuh... Dalam tiga kali pertandingan, FC Al-Ahly STAIS selalu menderita kekalahan. Innallaha ma’ash shobirin... Dari beberapa nama akhirnya forum LPM menyepakati nama “Gazebo” sebagai nama majalah kita. Daripada Gubuk... Sebentar lagi ada mahasiswa baru, ada PROSPEK dan ada pula KDBM. Siap-siap tebar pesona, Siap-siap mencari “Kaplingan” Wal ai.... Mahasiswa stais tempo dulu kalau kuliah lesehan. Sekarang sambil fesbukan...



MAJALAH GAZEBOO EDISI II