Page 1

“Budaya kita menempatkan seks di pusat identitas dan kepuasan kita. Tapi Ed Shaw menemukan bahwa tinggal dalam Allah yang ada di Injil merupakan suatu kepuasan yang lebih besar dan identitas yang lebih kaya dari apa pun yang bisa kita ciptakan bagi diri sendiri. Melawan pilihan yang salah antara menerima homoseksualitas atau mengabaikannya, dia memberi kita kategori “orang yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis tapi ada dalam Kristus.” Dengan demikian dia menunjukkan kuasa Injil dalam menarik kita keluar dari segala dosa kita dan menolak godaan yang ada. Kesetiaan pada kebenaran dan kasih yang berhikmat dalam buku ini merupakan hal yang sangat kita butuhkan hari ini.” Michael Horton, profesor teologi, Westminster Seminary

“Ed Shaw menemukan halangan utama bagi etika seks Kristen dalam budaya hari ini. Bukan karena budaya telah melihat argumen orang Kristen dan meragukannya, tapi budaya tidak bisa membayangkan ada alternatif bagi otonomi seks. Dalam buku ini, Shaw menunjukkan secara pastoral dan bijak bagaimana menerapkan visi Kristen tentang pernikahan dan seksualitas pada orang-orang tertarik pada sesama jenis. Buku ini bisa menjadi sarana pemuridan bagi seluruh gereja sehingga kita bisa saling menanggung beban sesama.” Russell D. Moore, presiden, Ethics & Religious Liberty Commission

“Sebagai orang Kristen yang juga memiliki ketertarikan pada sesama jenis, saya ingin menjelaskannya secara berbeda dari yang Ed Shaw lakukan dalam buku ini. Tapi saya tetap memuji penjelasannya yang alkitabiah, semangat injili, kerendahan hati dalam membuka diri, dan dipenuhi cinta kasih pastoral dalam mempertahankan etika seks Kristen tradisional. Hidup dan pengajaran Ed Shaw adalah variasi yang luar biasa yang sudah ada di sepanjang sejarah gereja, yang umumnya disebut sebagai, kelajangan yang kudus. Kiranya orang-orang seperti dia bisa semakin banyak!” Wesley Hill, asisten profesor, Trinity School for Ministry

“Kisah dan perspektif yang Ed Shaw bagikan di buku ini sangatlah tulus, meyakinkan dan jujur. Dia memberi sumbangsih yang besar pada pembahasan tentang ketertarikan pada sesama jenis. Saya sangat senang bisa membaca buku ini dan sangat merekomendasi buku ini.” Amy Orr-Ewing, direktur program, Oxford Centre for Christian Apologetics


“Same-Sex Attraction and the Church adalah buku yang harus dibaca oleh semua orang Kristen. Pendeta Shaw menghidupi apa artinya untuk menerapkan iman di tengah fakta-fakta ketertarikan sesama jenis yang tidak diinginkan, tidak dipilih, dan terkadang tak tergoyahkan. Buku yang luar biasa ini menyentuh hati tiap pembacanya, mewujudkan suatu pemahaman positif tentang pengorbanan dari kehidupan Kristen..... saya suka sekali buku ini” Rosaria Butterfield, penulis, The Secret Thoughts of An Unlikely Convert

“Ide utama dari buku Ed Shaw cukup sederhana: gereja harus membuat perintah Alkitab tentang seksualitas terlihat masuk akal kembali. Dia memanggil kita semua untuk bertobat dan dengan bijaksana menunjukkan cara yang lebih baik untuk berperang melawan dosa, untuk memahami orang-orang yang menderita dan untuk memberitakan kebenaran dengan rahmat. Bahkan mereka yang tidak setuju dengan setiap titik dan judul dari buku ini akan menemukan sesuatu yang mendorong dan menantang di hampir setiap halamannya. Saya sangat merekomendasikan buku yang jelas, berani, dan penuh cinta kasih ini. ” Justin Taylor, penulis, The Final Days of Jesus

“Shaw membongkar tentang sembilan kesalahan gereja yang perlu diperbaiki untuk dapat menyatakan bahwa kesetiaan hidup Kristen dan kehidupan melajang adalah hal yang masuk akal. Ini adalah buku terbaik yang tersedia untuk membantu para pelayan di gereja dalam mendampingi secara aktif orang-orang di antara kita yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis.” David Dunham, Leadership Journal

“Ed Shaw telah menuliskannya dengan bijak dan menolong mengenai hal yang saya anggap sebagai masalah pemuridan terbesar yang dihadapi gereja: seksualitas dan identitas dalam Kristus. Ini adalah buku untuk seluruh tubuh Kristus, bukan hanya mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis. Shaw menganalisa secara akurat sembilan kesalahan umum gereja-gereja kita saat ini yang telah merusak pandangan alkitabiah tentang seksualitas dan membuatnya tampak tidak masuk akal. Namun buku ini membuat saya berpengharapan dan optimis bahwa gereja sanggup dan harus mengganti keyakinankeyakinan palsu mereka dengan kebenaran yang memberi hidup dan cinta.” Betsy Childs Howard, The Gospel Coalition


L iteratur P erkantas J awa T imur


Same-Sex Attraction and the Church Homoseksualitas, Gereja, dan Alkitab oleh Ed Shaw Copyright Š 2015 by Ed Shaw All rights reserved. This translation of The Plausibility Problem first published 2015 is published by arrangement with Inter-Varsity Press, London, England. Alih Bahasa:Tim Literatur Perkantas Jatim Editor: James Yanuar Penata Letak: Milhan K. Santoso Desain Sampul:Vici Arif Wicaksono Hak cipta terjemahan Indonesia: Literatur Perkantas Jawa Timur Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Telp. (031) 8413047, 8435582; Faks. (031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jatim adalah sebuah divisi pelayanan literatur di bawah naungan Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) Jawa Timur. Perkantas Jawa Timur adalah sebuah kegerakan yang melayani siswa, mahasiswa, dan alumni di sekolah dan universitas di Jawa Timur. Perkantas Jatim adalah bagian dari Perkantas Indonesia. Perkantas sendiri adalah anggota dari pergerakan International Fellowship of Evangelical Students (IFES). Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan yang ada secara lokal maupun regional di Jawa Timur dapat menghubungi melalui e-mail: pktas.jatim@gmail.com, atau mengunjungi Website Perkantas Jatim di www.perkantasjatim.org

ISBN: 978-602-1302-26-2 Cetakan Pertama: April 2016

Hak cipta di tangan penerbit. Seluruh atau sebagian dari isi buku ini tidak boleh diperbanyak, disimpan dalam bentuk yang dapat dikutip, atau ditransmisi dalam bentuk apa pun seperti elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman, dlsb. tanpa izin dari penerbit.


Kepada Ibu & Ayah Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa mengikuti Yesus adalah hal yang masuk akal


D A FTA R I S I Kata Pengantar oleh Vaughan Roberts / 9 1. Masalah yang Masuk Akal / 13 2. Masalah yang Masuk Akal dan Saya / 23 Kesalahan #1: “Indentitas Anda adalah Seksualitas Anda” / 31 Kesalahan #2: “Sebuah Keluarga adalah Mama, Papa, dan Anak” / 41 Kesalahan #3: “Jika Anda Dilahirkan Gay, Maka Jadi Gay Tidaklah Salah” / 51 Kesalahan #4: “Jika Itu Membuat Anda Bahagia, Itu Pasti Benar!” / 61 Kesalahan #5: “Keintiman Sejati Ditemukan Dalam Seks” / 71 Kesalahan #6: “Pria dan Wanita Itu Setara dan Bisa Ditukar-tukar” / 81 Kesalahan #7: “Kesalehan Itu Berbentuk Heteroseksual” / 95 Kesalahan #8: “Melajang Itu Buruk Bagi Anda” / 107 Kesalahan #9: “Penderitaan Itu Harus Dihindari” / 117 Kesimpulan / 131 Lampiran 1: Kemasukakalan dalam Penafsiran Alkitab Tradisional / 137 Lampiran 2: Kemasukakalan dalam Penafsiran Alkitab yang Baru / 155 Ucapan Terima Kasih / 165 Bacaan Rekomendasi / 167 Catatan-Catatan / 169


K ATA P E N G A N TA R oleh Vaughan Roberts

S

aya bisa membayangkan sebagian orang menggerutu ketika mereka membaca judul yang netral tetapi kemudian menemukan bahwa buku ini termasuk salah satu dari sekian banyak buku tetang kekristenan dan homoseksualitas. Jika respons Anda seperti itu dan Anda baru membaca kalimat di atas, bisakah saya meminta Anda untuk tidak berhenti di sini? Ini adalah buku yang penting, salah satu buku paling penting yang pernah saya baca dalam beberapa tahun ini. Saya sendiri sering meremehkan pengantar berlebihan yang ditulis oleh temannya penulis, tetapi saya ingin menegaskan bahwa saya serius dengan apa yang saya tulis sekarang. Ini bukan sekadar buku kaum konservatif yang ditujukan kepada orang percaya yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis, dan kemudian mendorong kita untuk mempertahankan ajaran Alkitab dalam subjek tersebut. Buku ini ingin menantang setiap orang percaya untuk mengubah pemikiran dan perilakunya secara menyeluruh. Izinkan saya memberitahu alasan saya sangat menyukai buku ini. Pertama, buku ini memiliki kepekaan. Peka secara pastoral, karena ditulis oleh seseorang yang mau menceritakan pengalamannya tertarik pada sesama jenis. Kejujurannya menceritakan apa yang dia rasakan sangat melegakan. Dia memahami hal ini. Ini penting bagi kita yang


10

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

berada dalam keadaan yang sama. Tetapi yang sama pentingnya, Ed Shaw peka secara budaya. Dia mengakui bahwa meskipun banyak dari orang Kristen mengaku percaya Alkitab sebagai otoritas tertinggi, namun berhala-berhala zaman kita, disadari atau tidak, memiliki pengaruh yang lebih besar pada sikap etis mereka daripada penafsiran Alkitab. Pikiran bukan hanya telah teralihkan oleh penafsiran-penafsiran yang baru, tetapi hati telah tertawan oleh pemahaman individualisme. Dunia dan seringkali juga gereja, dimana ekspresi diri dan kepuasan diri telah menjadi nilai yang umum dipegang, pemikiran Kristen ortodoks mengenai homoseksualitas terasa tidak lagi bisa dipertahankan dan bahkan dianggap tidak bermoral. Dalam konteks ini, hanya sedikit orang yang bisa diyakinkan oleh kebenaran dari pengajaran tersebut, tidak peduli seberapa baik argumentasi Alkitab yang diberikan, kecuali mereka diyakinkan bahwa itu masuk akal. Ed Shaw mengerti bahwa ini menuntut sebuah buku yang tidak hanya memfokuskan pikiran pada penafsiran beberapa teks utama, tetapi juga mengarah pada hati dan keyakinan-keyakinan yang ada di baliknya, yang seringkali tidak disadari. Kekhasan kedua dari buku ini adalah buku ini sangat positif. Ed mengatakan bahwa pendekatan “Katakan Tidak!� kepada masalah homoseksual sudah tidak lagi meyakinkan–mungkin sejak awal juga tidak pernah. Dia sebaliknya menawarkan kita sebuah pandangan positif tentang kemungkinan adanya kehidupan yang memuaskan dan hidup dalam persekutuan dengan Kristus bagi orang-orang Kristen yang memiliki ketertarikan sesama jenis, meskipun itu berarti tidak melakukan hubungan seks dan menikah. Tentu akan ada penderitaan, tetapi bisakah kita berharap yang sebaliknya dalam mengikuti Dia yang memasuki kemuliaan-Nya melalui penyaliban dan memanggil para murid-Nya mengikuti jalan yang sama dengan menyangkal diri dan memikul salib? Apa yang diminta dari kita untuk dibuang tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang diberikan kepada kita, sekarang maupun di masa yang akan datang. Hidup bersama Kristus memang mencakup penderitaan, semua relasi


KATA P E N GA NTA R

11

juga demikian, tetapi tidak ditentukan oleh apa yang ditolak melainkan tentang apa atau, siapa, yang dipercaya. Mengatakan “tidak” didahului dan dibungkus oleh “ya” yang kita katakan kepada Kristus, sebagai tanggapan atas kasih-Nya yang mengatakan “YA” kepada kita. Dia datang untuk memberi kita kehidupan, bukan dengan kehidupan tapi kematian, dan Dia mati untuk mewujudkan itu. Kita mungkin mengalami apa yang Ed sebut sebagai “kejadian di lantai dapur”-nya, dimana segala sesuatu terlihat kelam, tetapi dalam Kristus dan segala kemuliaan yang Allah berikan kepada kita dalam Dia, kita memiliki alasan yang cukup untuk bangkit dari lantai itu, bertahan dan bersukacita. Dia memanggil kita bukan menjadi dingin dan kaku, tetapi memiliki iman yang dipenuhi sukacita saat dalam kesedihan dan pengharapan saat dalam penderitaan. Alasan terakhir mengapa saya menyukai buku ini adalah buku ini terasa “nendang.” Nadanya tidak pernah agresif atau mendominasi, tetapi Anda bisa merasakan hasrat dan frustrasi yang benar dari sang penulis. Tujuan buku ini ditulis bukan bagi orang-orang liberal yang berkompromi tetapi bagi orang-orang Injili, kaumnya sendiri. Daripada hanya menuduh orang lain tidak berdasarkan Alkitab, kita perlu menilai tradisi kita sendiri dengan standar firman Allah. Bukankah saat kita menolak berhala hedonisme dan relativisme, kita malah sering bersenang-senang dengan diri sendiri, sebuah berhala modern yang dipuja oleh semua orang? Maka, seringkali hasilnya adalah rusaknya kekristenan yang sejati, yang tidak memberi ruang untuk mahalnya pengorbanan Yesus dan meninggikan diri kita sendiri di tempat tertinggi, bukannya Allah yang hidup. Dan melalui sikap kita yang menolak revolusi seks, bukankah kita malah meninggikan pernikahan dan keluarga sampai mengorbankan dan mengabaikan pandangan Alkitab tentang gereja sebagai keluarga Allah dan ketunggalannya, apakah itu pilihan atau tidak, sebagai panggilan yang positif? Perdebatan hari ini tentang homoseksualitas dalam gereja memberi kita kesempatan untuk mengenali dan bertobat dari “langkah-langkah yang salah,” yang membuat hidup jadi tidak masuk


akal dijalani bagi sebagian dari sesama kita orang percaya. Dari sudut pandang dunia, panggilan Kristus untuk melakukan pemuridan sepenuh hati dan berkorban terlihat sangat tidak masuk akal dan menarik bagi semua orang, tidak peduli apa yang menjadi kecenderungan orientasi seksual mereka atau keadaan mereka saat itu. Jika kita sendiri ingin bertahan dalam kehidupan pemuridan dan menarik orang lain untuk bergabung bersama kita, maka kita harus menunjukkan bahwa apa yang ditawarkan bukan serangkaian aturan, tetapi suatu hubungan dinamis dengan Allah yang hidup. Kita tidak pernah bisa menjalani hidup seperti itu dengan menyendiri, tetapi sebagai orang Kristen, kita tidak sendirian. Kita mengenal Allah sebagai Bapa kita, yang dalam kasih-Nya berdaulat atas segala sesuatu dan sedang bekerja di dalam dan melalui peristiwa tersulit serta berbagai aspek kehidupan demi kebaikan kita dan kemuliaan-Nya. Kita mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, Dia yang meminta kita untuk memikul salib dan mengikut Dia, sudah lebih dahulu memberi nyawa-Nya bagi kita dan telah memberi kepada kita jauh lebih besar dari yang Dia tuntut dari kita. Dan kita mengenal Roh Kudus sebagai Penghibur, Dia yang menyertai di setiap langkah kita dan memanggil kita ke dalam kehidupan yang dalam dan intim, bersatu bersama Kristus dan bersekutu dengan gereja. Ketika hidup dijalani dengan Allah sebagai pusat, maka kehidupan Kristen bukan hanya masuk akal tetapi luar biasa. Vaughan Roberts St Ebbe’s Church, Oxford


1

......................................................................

M ASAL AH YAN G MAS UK AKAL

PETER Ini Peter, berusia tujuh belas tahun. Dia orang Kristen yang sungguhsungguh dan anggota komisi pemuda gereja yang antusias. Anak laki-laki tertua dari seorang penatua dan koordinator sekolah minggu gereja. Dia bermain gitar listrik dalam ibadah yang memakai band, memimpin Persekutuan Kristen di sekolahnya, berprestasi secara akademis, dan dikenal luas sebagai perenang berbakat di kompetisi lokal. Dia jenis pemuda Kristen berambisi kuat yang meyakinkan banyak orang bahwa gereja memiliki masa depan. Tetapi di awal masa remaja, Peter sangat tertarik pada pria lain. Apa yang dia harap hanya suatu musim yang akan berlalu, tidaklah berlalu–meskipun sudah berdoa dan berusaha keras untuk menyukai wanita. Dia menjadi ahli berpura-pura heteroseksual, tetapi di persekutuan pemuda dia mengabaikan perhatian beberapa wanita dan berusaha keras terlihat tidak tertarik pada salah satu pemuda di situ. Persekutuan pemuda di situ sangat membanggakan diri mereka akan pengajaran Alkitab yang baik. Maka para pemimpinnya sangat


14

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

serius dalam tanggung jawab mereka, terutama ketika menjelaskan tradisi ajaran mengenai seks dan relasi. Peter berulang kali diberitahu bahwa seks hanya dilakukan oleh pria dan wanita dalam pernikahan. Saat itu dia diajar untuk menolak godaan berhubungan seks dalam pikiran dan perbuatan. Contohnya, dia diajarkan apa yang harus dilakukan ketika dia tertarik secara seksual terhadap seorang wanita– bahwa tidak salah menyukai keindahan, tetapi bahaya jika melihatnya berkali-kali, dan pikiran yang berkelana akibat melihat hal tersebut. Namun masalahnya dia tertarik pada pria, jadi melihat wanita saja sudah tidak menarik baginya–dia dilumpuhkan oleh rasa bersalah yang dihasilkan akibat melihat pria yang dia sukai ganti baju di ruang ganti gereja minggu lalu. Karena yang dia ketahui tentang homoseksualitas adalah itu salah dan tidak diperbolehkan oleh orang Kristen seperti dia. Tetapi Peter sangat ingin berhubungan seks. Dia dibesarkan dalam budaya yang paling meninggikan seks sejak zaman sebelum kekristenan. Kehidupan remaja ya seperti itu, berdasar pada majalah yang dia baca, acara TV yang dia tonton, dan percakapan yang terjadi di ruang ganti. Itu menunjukkan kamu sudah dewasa. Itu yang membuat kamu jadi pria sejati. Bahkan di persekutuan pemudanya, seks dibicarakan sebagai pengalaman yang amat sangat luar biasa. Pasangan pemuda yang baru menikah dalam tim kepemimpinan pemuda baru-baru ini diwawancara dan membagikan betapa bersyukurnya mereka karena menahan diri melakukan seks sampai menikah. Ketika bicara kepada para pemuda dalam sesi khusus pria, sang suami mengatakan bahwa seks merupakan pengalaman terbaik yang pernah dialaminya–Allah begitu baik telah menciptakan sesuatu yang begitu nikmat. Seks akan sebaik itu bagi mereka juga–jika mereka menahan diri sampai menikah. Namun Peter tidak akan pernah bisa berhubungan seks, jika dia memegang apa yang baru saja pria itu katakan, jika dia mau hidup dalam terang ajaran Alkitab. Dan itu tidaklah masuk akal (setidaknya) bagi Peter yang baru berusia tujuh belas tahun. Seks ada di mana-mana. Hasratnya untuk berhubungan seks sangatlah kuat. Dan gerejanya mengatakan tidak untuk itu–selamanya.


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL

15

Di saat yang sama majalah-majalah, acara TV, dan percakapan di ruang ganti, menyuruh dia untuk menuruti perasaannya. Acara TV kesayangannya memiliki tokoh gay yang disukainya dan dia ingin seperti itu–tokoh tersebut sama sekali tidak malu atas seksualitasnya dan banyak sekali berhubungan seks. Pencarian diam-diam di Google memperlihatkan kepadanya bahwa ada orang Kristen yang melihat hubungan gay yang permanen, stabil, dan setia dibenarkan oleh Allah. Ternyata ada kemungkinan dia bisa mendapatkan seks yang diinginkannya. Dan tetap jadi Kristen. Dia menginginkan keduanya. JANE Sekarang Jane. Dia berumur tiga puluhan akhir. Dia mengalami serangkaian hubungan yang menyakitkan dengan pria–termasuk pernikahan singkat yang berakhir karena suaminya selingkuh. Dia menjadi Kristen setelah itu dan mengabdikan dirinya dalam kehidupan gereja. Dia menyajikan kopi, penyambut tamu, dan memimpin pemberian makan bagi tunawisma. Pada ibadah Natal tahun lalu, dia memberi kesaksian sebagai orang yang hidupnya telah diubah secara total oleh Yesus. Dia adalah kisah sukses gereja itu. Namun, selain gereja yang telah jadi keluarganya, persahabatan eratnya dengan seorang wanita non Kristen di tempat kerja telah menjadi pendukung utama hidupnya beberapa tahun belakangan ini, dan hubungan mereka baru-baru ini menjadi hubungan seksual. Jane sendiri terkejut. Setiap orang memerhatikan bahwa sekarang dia terlihat lebih bahagia–kelompok kecilnya memuji Allah karena telah menjawab doa-doa mereka untuknya (meski tidak tahu alasan di baliknya). Gereja Jane sangat menentang “penikahan” gay yang didengungkan baru-baru ini. Petisi Coalition for Marriage diberitakan secara luas. Jane sebelumnya tidak tahu kalau hubungan sesama jenis itu salah. Maka dia pergi ke rumah pendeta untuk meminta nasihat bagi “teman Kristen”-nya yang baru saja terlibat secara seksual dengan rekan sesama jenis. Pendeta itu menegaskan pentingnya pertobatan dan memutuskan hubungan dari teman Kristennya itu jika temannya tidak segera


16

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

mengubah perilakunya. Jane terpuruk. Hal yang paling diinginkannya dalam hidup adalah hidup bersama seseorang yang dia cintai dan yang mencintai dia juga. Saat meninggalkan rumah pendeta itu, dia melihat istri dan anak-anak pendeta itu memasak di dapur, dan rindu memiliki kehidupan rumah tangga yang tenang. Dia selalu ingin punya anak dan senang terlibat dalam kehidupan anak-anak pacar perempuannya dari relasi sebelumnya. Apa yang sebelumnya begitu dimimpikannya akhirnya bisa jadi kenyataan. Namun jika dia melakukan seperti yang pendeta itu telah katakan kepadanya, dia harus mengakhiri hubungannya dengan pacar perempuannya itu. Mengakhiri relasi terbaik yang pernah dimilikinya. Dan itu terlihat begitu tidak masuk akal. Pendetanya begitu tidak masuk akal menyuruh dia meninggalkan apa yang pendeta sendiri miliki. Mengapa dia bisa mengatakan sesuatu yang terasa benar begitu salah. Dia tahu apa yang akan dikatakan pacarnya. Pacarnya sangat menghormati “sisi rohani� Jane, tetapi akan menyuruh mengabaikan apa yang pendetanya katakan. Dan nasihatnya akan lebih kuat karena didukung oleh apa yang dia tawarkan. Rumah bersama, kehidupan berkeluarga, akhir dari kesepian, afeksi fisik yang sangat dibutuhkan Jane. Dengan kepergian pacarnya, Jane harus kembali ke tempat tinggal satu kasur, kunjungan yang menyakitkan dan tidak rutin ke keluarga-keluarga jemaat gereja untuk makan siang hari Minggu, hidup melajang, dan menantikan Damai di gereja karena di situ satu-satunya tempat di mana dia bisa mendapatkan sentuhan fisik. RESPONS KITA Orang-orang seperti Peter dan Jane-lah dalam gereja kita yang menyebabkan banyak orang Injili kehilangan keyakinan mereka pada pengajaran Alkitab tentang seks dan pernikahan. Orang-orang seperti merekalah yang telah menggoda sejumlah orang Injili untuk “menjadi liberal� dalam pandangannya tentang homoseksualitas. Anda mungkin salah satunya. Bagaimana Anda bisa memandang mata Peter dan me-


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL

17

nyuruhnya tidak boleh berhubungan seks selamanya? Bagaimana kita bisa meminta Jane untuk tidak lagi memiliki relasi yang membuatnya bahagia? Bagi mereka semua itu kelihatan tidak mungkin. Bagi kita juga tidak terdengar masuk akal. Dan yang juga tidak membantu mereka dan kita adalah standar tanggapan kaum Injili terhadap apa yang sedang mereka hadapi. Kita pada dasarnya mengadopsi slogan dari lagu anti narkoba tahun 1980an: “Katakan tidak!� Seringkali hanya itulah yang kita katakan–ditambah dengan teks-teks bukti Alkitab jika ada orang yang keberatan: Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian. (Im. 18:22) Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. (Im. 20:13) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. (Rm. 1:26-27) Tidak tahukah Saudara bahwa orang yang melakukan hal semacam itu tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah menipu diri sendiri. Orang yang tidak bermoral, yang menyembah berhala, yang berzinah, atau orang homoseks, tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Demikian juga pencuri atau orang yang serakah, pemabuk, pemfitnah, atau perampok. (1 Kor. 6:9 FAYH) Tetapi hukum itu bukanlah bagi kita yang telah diselamatkan Allah, melainkan bagi orang berdosa yang membenci Allah, yang berhati pemberon-


18

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

tak, yang mengutuk dan menyumpahi orang, yang menyerang ibu bapa sendiri, dan yang membunuh. Jadi, hukum itu dibuat untuk menyatakan bahwa orang yang keji dan tidak bermoral adalah orang berdosa, yaitu orang homoseks, penculik, pendusta, dan semua orang yang menentang Berita Kesukaan dari Allah yang mulia, yang mengutus aku. (1 Tim. 1:910 FAYH)

Dulunya cara seperti ini meyakinkan. Dulunya ini merupakan argumen paling masuk akal yang dilakukan kebanyakan orang. Menjadi Injili selalu berarti mempertahankan kebenaran dari “Kitab Suci yang diinspirasikan dari Allah sesuai dengan apa yang sejak awal mulanya diberikan dan berotoritas tertinggi atas segala hal yang terkait dengan iman dan perbuatan.”1 Dan bicara mengenai homoseksualitas, Alkitab sangat jelas. Orang Injili suka kejelasan, dan ayat-ayat itu sudah lebih dari jelas bagi banyak orang, selama bertahun-tahun. Kita semua tahu di mana kita berpijak. Namun keadaan sudah tidak sama lagi. Segala sesuatu sudah berubah. Meskipun generasi orang Kristen Injili yang lebih tua masih terikat dengan tradisi pengajaran gereja, generasi yang lebih muda sudah lama meninggalkannya. Saya sudah bicara kepada banyak pendeta yang berusia empat puluh dan lima puluh tahun yang tetap mempertahankan apa yang selalu diajarkan gereja–tetapi hampir semua mengatakan anak-anak mereka tidak memahami posisi mereka dalam hal ini. Anda mungkin termasuk dalam generasi yang lebih muda ini. Generasi yang mengubah pikiran mereka tentang homoseksualitas saat ini, melakukannya bukan karena mereka merevisi pendapat mereka tentang konteks budaya dari kitab Imamat, makna dari “yang tak wajar” dalam Roma 1, natur dari praktik homoseksual dalam surat Korintus, atau terjemahan istilah Yunani-nya dalam 1 Timotius, tetapi apa yang dituntut dari mereka terlihat tidak mungkin dilakukan. Manusia, bukan teologinya yang memperkuat penolakan terhadap etika Kristen tradisional. Peter dan Jane–dan orang-orang seperti merekalah–bukan orang Ibrani dan Yunani. Banyak dari kita yang tidak menyukai perubahan realita ini–tetapi


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL

19

inilah realita yang harus kita hadapi. Coba tanya di sekitar Anda dan Anda akan menjumpainya di mana-mana. Saya terus menerus mendengar tentang orang-orang Kristen yang tertarik pada sesama jenis yang melihat apa yang Alkitab minta sudah tidak mungkin dilakukan pada dunia sekarang ini. Dan ketika mereka sudah berkesimpulan seperti itu, mereka akan mencari buku, khotbah, teolog yang mengizinkan mereka mengabaikan apa yang Alkitab ajarkan. Sesudah itu teman-teman, keluarga, dan gereja-gereja akan mengikuti mereka–karena mencintai dan prihatin kepada mereka. Dalam wilayah kemasukakalan secara praktis bukan dalam hal eksegesis Alkitab, dimana segalanya telah berubah di tahun-tahun belakangan ini. Itulah alasan situasinya berubah begitu cepat–tidak peduli kita suka atau tidak. RESPONS PETER DAN JANE Dan lalu saya menebak kemungkinan terbesar yang akan terjadi pada Peter dan Jane (kecuali kita berusaha lebih baik dalam menolong mereka). Peter akan masuk universitas dan masuk ke dunia yang mudah menerima ketertarikannya pada sesama jenis. Dan sebuah persahabatan dengan seorang pria akan bertumbuh menjadi sesuatu yang lain, dan temanteman Kristen-nya tidak tahu harus bilang apa. Pelayan mahasiswa di gereja yang “benar� yang dikirim untuk menemuinya karena disuruh pembina pemudanya mungkin mengatakan sesuatu, tetapi lebih mudah bagi Peter untuk pindah gereja dan mencari gereja Injili yang mau tutup mata, atau yang sudah menyetujui homoseksualitas. Dan para pemuda lain dalam persekutuan pemuda yang kesulitan memahami apa yang sedang terjadi, akan pergi menemui pacar laki-lakinya, melihat Peter sangat bahagia, dan mereka juga akan berubah pikiran–suatu respons yang akan menjangkiti seluruh jemaat gerejanya. Jane tidak lagi pergi ke gerejanya. Dia sudah diminta untuk meninggalkan sesuatu yang terlalu besar. Dia akan tinggal bersama pacar perempuannya dan namanya akan langsung dihapus dari daftar pelayanan. Pembicaraan tentang dia di kelompok kecil akan menghasilkan kesunyian yang memalukan, tetapi di luar pertemuan itu, sejumlah orang


20

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

akan menyimpulkan sangatlah baik Jane bisa bahagia dan heran dengan cara gereja memperlakukannya. Ketika bertemu dengan dia dan pacarnya beserta anak-anak mereka di taman lokal bisa meyakinkan banyak orang bahwa kebersamaan mereka sekarang adalah sesuatu yang seharusnya tidak dikutuk gereja tetapi didukung, bahkan memberkati. Coba lihat betapa mereka saling mengasihi! Bukankah itu yang paling mungkin terjadi bukan? Itulah yang bisa dikatakan pasti terjadi pada mereka. Dan kita sulit menyalahkan mereka. Hal paling tidak masuk akal yang diminta kepada mereka adalah meninggalkan hubungan sesama jenis mereka dan seumur hidup melajang. Pesan dasar gereja Injili kepada mereka: “Katakan tidak!” sepertinya sudah tidak punya banyak kredibilitas lagi. Banyak dari kita bahkan sudah malu menyuruh mereka seperti itu. Kedengarannya sangat tidak sehat. Sudah tidak berpengaruh di dunia sekarang ini–malah menghasilkan rasa heran bagi banyak orang. Melinda Selmys (orang Katolik yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis) menjelaskan hal ini dengan baik: Melajang secara negatif, jenis melajang karena perkataan “Engkau harus begitu” selalu gagal memengaruhi dunia postmodern karena terdengar gila. Orang umumnya akan makan segala hal yang dianggap “najis” oleh agama mereka atau “tidak sehat” oleh dokter mereka ketika diperhadapkan dengan kelaparan. Dalam kebanyakan kasus, ini bahkan tidak dilakukan secara sukarela. Kecuali Anda memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan manusia maka Anda tidak mungkin melaparkan diri sampai mati. Sama seperti itu, kecuali Anda memiliki karakter yang sedemikian kuat menyerupai orang “stoa” super, maka Anda tidak akan mampu menanggung kelaparan sosial yang dituntut tindakan melajang yang negatif dalam dunia masa kini.2

Kita perlu memiliki tanggapan yang tidak sekadar mengatakan “Katakan saja tidak!” Itu sudah tidak punya kekuatan dalam dunia modern kita. Kehidupan melajang yang kita tuntut pada Peter dan Jane hari ini mungkin dilakukan di masa lalu–tetapi sudah tidak masuk akal di masa sekarang. Itu tidak cukup untuk meyakinkan Peter dan Jane


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL

21

dan orang-orang yang, sudah sewajarnya, memiliki keprihatinan pada mereka. Itulah yang akan terjadi sebelum kita menyelesaikan apa yang saya sebut ... MASALAH YANG MASUK AKAL Kita memiliki masalah yang masuk akal: apa yang Alkitab ajarkan terdengar begitu tidak mungkin bagi banyak orang hari ini. Sehingga (masuk akal) jika itu ditolak di banyak tempat. Banyak pemimpin terkenal di gereja kita sudah membelot. Sejumlah besar pemimpin dan gereja utama lainnya yang diam seharusnya mempersiapkan kita menghadapi semakin ditolaknya ajaran Alkitab tentang seks hanya dalam pernikahan, dan pernikahan adalah persatuan seumur hidup antara pria dan wanita. Anda mungkin saja sudah hampir mengubah pandangan Anda. Apa yang bisa kita lakukan mengenai hal ini? Inilah tujuan buku ini ditulis. Premis dasar buku ini sederhana: kita harus membuat apa yang diperintahkan Alkitab menjadi kelihatan mungkin lagi. Kita perlu mengingatkan diri kita, dan mengingatkan Peter dan Jane, bahwa Yesus pernah berkata seperti ini kepada kita semua: Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yoh. 10:10)

Dan Yesus selalu bicara benar. Jika itu tidak terdengar mungkin, maka masuk akal bagi orang-orang seperti Peter dan Jane pada hari ini, itu bukan karena Yesus yang salah, tetapi kita yang salah. SOLUSINYA Di sini semuanya mulai terlihat positif! Karena ternyata, alasan ajaran Alkitab tentang homoseksualitas terdengar begitu tidak masuk akal adalah karena sejumlah kesalahan yang diambil gereja selama bertahun-tahun dan berbagai hal duniawi yang telah membentuk orang Injili selama ini. Perbaiki kesalahan kita, sesudah itu apa yang Yesus katakan tentang


22

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

seks dan relasi akan menjadi lebih masuk akal, dan sekali lagi terdengar seperti hidup yang penuh. Dan itu adalah kabar baik bagi kita semua. Inilah yang berusaha dilakukan oleh buku ini: menunjukkan semua kesalahan-kesalahan yang dilakukan agar kita bisa menyingkirkan masalah kemungkinan ini. Kita bisa melakukannya dalam cara-cara yang menguntungkan orang-orang seperti Peter dan Jane, dan juga seluruh gereja. Karena semua kesalahan tersebut tidak hanya merusak jemaat gereja kita yang memiliki ketertarikan sesama jenis tetapi melumpuhkan kita semua. Kita harus bertobat dari cara-cara yang kita lakukan, meskipun tidak sengaja, sehingga membuat cara Yesus terdengar buruk, bukannya cara terbaik untuk menjalani kehidupan manusia.


2

......................................................................

MASALAH YANG MASUK AKAL DAN SAYA

SEBUAH PENGAKUAN PRIBADI Sebelum kita membahas kesalahan-kesalahan, saya perlu membuat pengakuan pribadi. Saya menulis buku ini sebagai seorang Kristen Injili yang pernah mengalami ketertarikan sesama jenis. Sejak awal remaja, hasrat seksual saya terfokus pada beberapa orang yang memiliki jenis kelamin yang sama. Apa yang saya kira hanyalah keadaan masa remaja (saya membaca Bridehead Revisited)1 tidak pernah berubah dan saya terus menerus tertarik pada sesama jenis sampai pertengahan/akhir usia tiga puluhan, meskipun saya telah berusaha keras dan berdoa untuk berubah. Maka masalah yang masuk akal adalah masalah saya juga. Ini bukan salah seorang “teman saya� yang mengalaminya (walaupun saya punya banyak teman yang mengalaminya)–ini adalah masalah yang saya alami setiap hari dalam hidup saya. Dan saya bisa mengatakan kepada Anda bahwa ini adalah masalah yang pelik bagi orang Kristen Injili. Saya percaya bahwa Alkitab diinspirasi oleh Allah (tanpa salah dan berotoritas) bagi manusia yang dicipta dan ditebus-Nya. Melalui


24

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

tulisan di dalamnya, Allah Bapa yang kasih memberitahu saya segala sesuatu yang perlu saya ketahui tentang segala sesuatu yang penting bagi Dia (2 Tim. 3:16-17). Dan segala tulisan itu berbicara dengan sangat jelas bahwa praktik homoseksual adalah salah dihadapan-Nya–perhatikan teks-teks bukti di bab sebelumnya. Saya sangat yakin akan hal ini, meskipun saya memiliki ketertarikan sesama jenis dan ada orang-orang yang berkata kepada saya bahwa Allah sebenarnya tidak mengatakan itu, atau Dia sekarang berubah pikiran. Tapi bukan ayat-ayat terkenal itu yang bagi saya paling meyakinkan. Saya sedang bersama teman saya Wes Hill (sesama orang Kristen yang tertarik pada sesama jenis) ketika dia menulis hal di bawah ini: Pada akhirnya, hal yang menguatkan saya menjalani jalan yang saya pilih bukanlah teks-teks bukti dari Alkitab atau tradisi pengajaran gereja yang melawan praktik homoseksual. Sebaliknya melalui teks, tradisi, dan pengajaran yang saya lihat dalam kisah nyata tentang apa yang Allah telah lakukan dalam Yesus Kristus–dan seluruh perspektif hidup dan dunia yang mengalir dari kisah itu, yang diungkapkan secara pasti dalam Alkitab. Seperti sebuah potongan puzzle yang akhirnya diletakkan pada tempatnya, demikian juga dengan penolakan Alkitab dan gereja terhadap perilaku homoseksual bisa dimengerti–potongan itu berkata benar, seperti kata J. B. Phillips tentang Perjanjian Baru–yaitu ketika saya melihatnya seperti sebuah potongan dalam kisah Kristen yang lebih besar. Saya bisa keluar dari perilaku homoseksual karena kekuatan dari kisah Alkitab.2

Apakah Anda ingin melihat teks-teks dan pengajaran-pengajaran tersebut dari perspektif yang lebih lengkap? Anda bisa membaca hal ini dibahas dalam Lampiran 1 di akhir buku ini sekarang, atau lebih baik lagi ketika Anda sudah selesai membaca buku ini. Baca beberapa pembahasan yang lebih lengkap mengenai hal ini dalam daftar “Bacaan Rekomendasi”. Semakin saya menyelidiki keseluruhan kisah Alkitab dan keseluruhan sejarah gereja, keyakinan saya semakin kuat bahwa seks hanya diperuntukkan di dalam pernikahan seorang pria dan seorang wanita. Membaca beberapa tulisan kaum revisionis yang baru-baru ini


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL DAN S AYA

25

diterbitkan malah hanya memperkuat keyakinan saya ini. Setiap kali saya dalam posisi bertahan, berharap ada suatu penafsiran Alkitab baru yang bisa meyakinkan saya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya (baca Lampiran 2 di halaman 154 mengenai alasan saya menemukan semua tafsiran tersebut tidak meyakinkan). Namun, berbarengan dengan keyakinan yang semakin kuat ini, setiap hari dalam kehidupan saya sebagai orang dewasa, saya menemukan diri saya semakin tertarik secara seksual kepada pria tampan tertentu. Fakta bahwa saya belum pernah tidur dengan pria manapun sama sekali tidak membantu karena Yesus juga menolak khayalan seks dalam Khotbah Di Bukit (Mat. 5:27-28). Saya mungkin tidak secara harfiah berhubungan seks dengan pria, tetapi saya membayangkan diri saya berhubungan seks dengan banyak pria selama bertahun-tahun. Sepertinya ada jurang yang besar antara apa yang saya percaya secara intelektual dan apa yang memang saya rasakan dan pikirkan setiap hari. KONTEKS YANG BERUBAH Di tahun 1990-an hal seperti itu sudah sulit untuk dihadapi. Saat itu adalah saat saya pertama kali berurusan dengan seksualitas saya. Masalah rasa bersalah, kurangnya kepastian, yang dihasilkan oleh seksualitas saya sering mendatangkan bencana bagi saya selama bertahun-tahun窶電an terkadang hampir menghancurkan saya secara rohani. Dalam kesendirian, saya sering berpikir apakah berusaha hidup dalam terang pengajaran Alkitab masih mungkin dilakukan. Saya tidak mengatakan kepada siapa pun mengenai ketertarikan sesama jenis saya ini sampai usia dua puluhan akhir. Namun yang membantu adalah pada masa itu menjalani gaya hidup homoseksual jelas bukan hidup yang diperbolehkan bagi orang Kristen Injili seperti saya. Meskipun anggota staf dari universitas Injili saya pernah menerbitkan buku yang memberikan pendekatan baru dan liberal, dia hampir sendirian yang menyuarakan masalah ini pada masa itu. Tidak seorang pun dalam persekutuan mahasiswa universitas atau gereja Anglikan saya di Durham yang mau mendukung secara


26

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

terang-terangan pendekatan dia terhadap Alkitab. Teman-teman Kristen saya bersatu menolak apa yang ditulisnya. Batasan yang diberikan kepada saya waktu itu sangatlah jelas–melajang dan setiap hari berjuang menghindari pelanggaran seksual sekecil apa pun dalam pikiran maupun perbuatan saya (Ef. 5:3). Aturan “Katakan tidak!” belum ditinggalkan– masih memiliki sedikit kekuatan. Dan meskipun saya menemukan akibat dari kejelasan itu sangatlah sulit, tidak adanya ambiguitas sangatlah membantu. Itu membuat pilihan yang saya ambil terlihat masuk akal. Seperti yang sudah kita lihat, segala sesuatu sangat berbeda hari ini. Ini sangat terlihat dalam dunia di luar gereja Kristen, dimana komunitas gay bukan lagi menjadi minoritas tetapi semakin memiliki peran yang berpengaruh dalam kehidupan publik utama. Ini bisa terjadi dalam kurun waktu di bawah dua puluh tahun. Namun perubahan juga terjadi dalam gereja Injili–meskipun dalam tempo yang sedikit berbeda. Seperti yang dikatakan ahli etika Russell Moore, kita adalah “kereta pelan revolusi seksual.”3 Bahkan di dalam kalangan kita, pandangan teman universitas saya di atas sekarang telah diikuti oleh sejumlah kaum revisionis yang berasal dari golongan Injili. Sekarang ada pemimpin Injili seperti Steve Chalke dan Rob Bell yang bicara positif tentang relasi seksual sesama jenis yang permanen, setia, dan stabil. Sebagian malah mengatakan bahwa saya bisa “menikahi” pria dalam gereja yang jadi idaman saya. Bahkan saya bisa jadi pendeta dengan perbuatan itu! Menurut sebagian orang sekarang saya bisa melakukan semuanya. Pesan mereka telah berlawanan penuh: “Katakan Ya!” Ini tercermin dalam perubahan perilaku dari beberapa teman dan keluarga Kristen saya juga. Sebagian orang, dulunya memiliki pandangan teologis yang sama dengan saya, sekarang berkata bahwa saya tidak perlu berpegang lagi pada ajaran Alkitab. Ketika menjawab saya masih mau, mereka berkata mereka akan membantu saya untuk berubah dan menyadari betapa kita sudah salah menafsirkan dan/atau menerapkan ayat-ayat tersebut pada homoseksualitas hari ini. Dan ini sangatlah menggoda! Saya sangat ingin tetap menjadi orang Kristen Injili dan tetap terlibat dalam hubungan dengan seorang pria


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL DAN S AYA

27

tampan yang ada di samping saya. Itu adalah kemungkinan yang sangat menarik. Tidak perlu lagi menyangkal diri–sebaliknya, saya bisa memuaskan diri dan tetap diberkati oleh Yesus! Itu adalah situasi samasama menang. Betapa masuk akalnya membayangkan hidup seperti itu dan betapa sulitnya membayangkan hidup sebaliknya, sendirian. Dunia di luar gereja pasti akan menerima saya–tetapi sekarang saudarasaudara saya dalam Kristus juga mau menerima ini. Jadi, lingkungan tempat saya berusaha setia pada ajaran tradisi gereja sekarang semakin sulit dari sebelumnya. Dan itu membuat hidup saya semakin sulit dari sebelumnya. Coba pikirkan sejenak tentang godaan dosa terbesar Anda. Hal yang Allah minta Anda tidak memikirkan atau melakukannya, tetapi Anda terus memikirkan atau melakukannya. Coba pikir betapa semua usaha Anda untuk mengatakan “Tidak!” akan sangat dilemahkan jika tiba-tiba Anda diberitahu semua itu tidak lagi salah, atau setidaknya, ada beberapa orang yang mulai memberi keraguan dalam pikiran Anda. Ketika dicobai lagi, segalanya akan lebih menantang bukan? Mengapa menolak memikirkan atau melakukannya lagi jika itu bukan lagi dosa? Yesus sendiri tidak keberatan–Yesus sendiri menyetujuinya! Selamat datang di tantangan terbesar dalam hidup saya. Melihat satu dekade yang lalu hidup yang saya jalani sekarang pasti akan didukung sepenuhnya oleh komunitas Injili. Saya tahu bahwa relasi seksual yang permanen, stabil, dan setia dengan seorang pria pasti akan berdampak serius pada keanggotaan saya dalam gereja. Jadi saat itu, jauh lebih mudah untuk tidak melihatnya sebagai pilihan. Sekarang kemungkinannya terus dibuka. Sering kali terlihat sangat masuk akal dan sangat menarik. SEBUAH DUNIA YANG BERBEDA Coba bayangkan betapa sulitnya jika Anda adalah orang Kristen yang memiliki ketertarikan sesama jenis beberapa dekade yang lalu atau lebih muda dari saya. Saya tertolong karena terbiasa dengan batasanbatasan yang jelas dari evangelikalisme masa lalu. Saya membangun


28

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

hidup saya di sekeliling mereka dan (hampir setiap kali) menerima dukungan kasih untuk melakukannya dan peringatan lembut untuk terus di dalamnya. Namun jika saya dibesarkan di masa sekarang, saya takut saya jarang mendapat bantuan seperti itu. Banyak gereja dan organisasi Injili (mungkin Anda termasuk menjadi bagian di dalamnya) masih berdiam diri menghadapi masalah ini, karena takut disebut homofobia dan menghalangi penginjilan mereka. Dengan keberdiaman diri mereka yang seharusnya memberikan pelayanan pastoral, maka tak terelakkan para pemuda Injili yang mengalami ketertarikan sesama jenis, merasa jijik melihat ketidakpekaan beberapa kelompok masyarakat konservatif, akan mengikuti arus pandangan yang liberal dan memegang pandangan yang permisif dari beberapa orang Kristen lainnya. Ini sepertinya tidak bisa dihentikan. Sulit dipercaya tanpa jangkar ajaran Alkitab yang jelas, mereka bisa menolak hal ini dan berjalan ke arah yang berlawanan. Dan inilah salah satu alasan saya menulis buku ini. Untuk mengingatkan saya bahwa tetap bertahan pada ajaran Alkitab masihlah masuk akal dan berharap bisa meyakinkan sebagian orang Injili yang juga mengalami ketertarikan sesama jenis. Orang-orang seperti Peter dan Jane. Mungkin Anda juga. Kita perlu membangun bangunan yang masuk akal agar kita bisa hidup dalam terang ajaran Alkitab yang jelas. Namun kita tidak bisa melakukannya sendirian. Itu karena panggilan hidup orang Kristen yang tertarik pada sesama jenis baru bisa terlihat masuk akal jika kita semua membantu membangun kembali bangunan yang masuk akal itu, dengan mengakui dan mengarahkan ulang gereja-gereja kita dari semua kesalahan yang pernah dilakukan dan inilah yang akan dibahas dalam sisa buku ini. Tanpa usaha bersama, kita tidak akan pernah berhasil. Inilah salah satu alasan utama mengapa saya menulis buku ini: mengajak pendukung aktif gereja yang lain untuk menguatkan saudara-saudari kita yang mengalami ketertarikan sesama jenis. Maka apa yang akan dibahas selanjutnya berkaitan dengan kita semua. Maka Anda bisa mengerti ketika orang Kristen yang tertarik pa-


MAS A L A H YA N G MAS U K AK AL DAN S AYA

29

da sesama jenis mengambil identitas dan gaya hidup gay, itu dalam pengertian tertentu adalah kesalahan kita juga, bukan hanya mereka. Tanggapan kita bukan hanya menggelengkan kepala dengan sedih dan meminta mereka untuk bertobat, tetapi juga mengintrospeksi diri, mungkin perilaku dan tindakan kita telah mendorong mereka mengambil keputusan seperti itu. Saya tidak menghilangkan tanggung jawab dari mereka, tetapi saya menantang seluruh gereja untuk menerima tanggung jawab mereka. Ajukan pertanyaan ini pada diri kita: apakah kita perlu secara aktif bertobat terhadap hal-hal tertentu? Ingat katakata yang memicu pertobatan dari Martin Luther: “Tidak ada pendosa lebih besar dari orang Kristen.” Menurut saya ini sangat terlihat dalam hal ini, dan saya akan berusaha menjelaskan apa saja yang perlu kita ubah dalam buku ini. Anda perlu bersiap untuk mengoreksi kepercayaan dan perilaku Anda sendiri dari bacaan selanjutnya–dan menilai apakah gereja Anda sendiri membantu atau menghalangi orang-orang Kristen yang tertarik pada sesama jenis di antara Anda. Saya akan mengakhiri setiap bab dengan pertanyaan yang bisa membantu Anda melakukan hal ini. PENGAKUAN PRIBADI LAINNYA Masalah yang masuk akal ini jelas merupakan masalah pribadi dan emosi yang mendalam bagi saya! Saya perlu lebih dulu minta maaf jika ini terdengar seperti saya sedang bersiap untuk menyerang dan menyinggung Anda. Saya memang merasa sangat terlibat dalam masalah ini, dan Anda perlu waspada agar saya tidak melakukannya terlalu jauh. Inilah alasannya saya secara rutin memasukkan sudut pandang orang lain–saya tidak ingin buku ini hanya sekadar pandangan pribadi semata–maka saya mengutip perkataan mereka juga. Tetapi saat ini saya harap Anda sudah mulai merasakan bahwa ini adalah masalah yang pribadi dan emosional bagi Anda juga. Mungkin awalnya Anda pikir ini hanyalah masalah sekelompok kecil orang dalam gereja Injili tetapi inilah yang harus kita bereskan–bukan demi sedikit orang tetapi demi kebaikan kita bersama. Jika Anda pernah ber-


30

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

harap masalah ketertarikan sesama jenis atau orang yang tertarik pada sesama jenis akan berlalu begitu saja, maka saya harap Anda bisa sadar sekarang bahwa itu tidak akan terjadi. Oleh karena itu saya mendorong Anda untuk memikirkannya dengan membangun, dan menolong mereka secara lebih berbelas kasih, ingat bahwa Allah juga ingin agar gereja-Nya semakin serupa dengan Anak-Nya yang sempurna melalui masalah-masalah kontroversial dan orang-orang ini.


KESALAHAN #1

......................................................................

“ I DE NTI TAS AND A A DAL AH S E KS U ALI TAS ANDA.”

PERMAINAN KATA? Teman Kristen saya baru-baru ini menceritakan pengalaman ketertarikannya pada sesama jenis kepada saudara-saudara seiman di gerejanya. Sesudah itu dia dikonfrontasi dengan pertanyaan ini dari seorang yang lebih muda: “Kamu ingin bilang kamu gay?” Iya, di satu sisi itulah yang ingin dia sampaikan. Ini cara paling mudah untuk mengatakannya–menggunakan istilah yang kita semua kenal hari ini. Jika kita mengatakan bahwa kita mengalami ketertarikan pada sesama jenis, itu sedikit sulit dipahami oleh orang-orang masa kini–maksud dia apa? Dia telah membuat bingung sebagian orang. Teman saya memilih kata-katanya dengan hati-hati. Dan saya juga demikian–baik dalam kehidupan sehari-hari saya dan ketika menulis buku ini. Mengatakan, “Saya gay,” di satu sisi, adalah cara tercepat menjelaskan orientasi seks saya dalam dunia kita hari ini. Orang langsung paham apa yang saya maksud. Namun masalahnya mereka tidak paham. Mereka akan menyamakan perkataan saya, “Saya gay!” dengan gaya hidup dan identitas gay yang saya jalani. Ini tidak saya lakukan.


32

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

Mereka berharap saya tidak lama lagi akan memperkenalkan pasangan saya, Brian, kepada mereka atau senang memakcomblangkan saya dengan teman gay mereka, Barry. Saya tidak mau ini. Pernyataan saya perlu dijelaskan lebih lanjut sehingga sebenarnya lebih mudah menggunakan istilah lain (dan bukan saya saja orang Kristen yang melakukan ini).1 Tentu, sebagian orang langsung mencium rasa malu dalam katakata yang agak kabur ini–tetapi saya hanya ingin mengatakannya secara lebih efektif. Jika saya berkata, “Saya gay!” orang pikir mereka sudah paham yang saya maksudkan dan tidak mengajukan banyak pertanyaan lagi. Namun jika saya berkata, “Saya mengalami ketertarikan sesama jenis!” mereka akan bingung dan mengajukan pertanyaan lanjutan kepada saya. Ini memungkinkan saya untuk menjelaskan secara lebih akurat apa yang ingin saya katakan tentang seksualitas saya. Saya pikir ini adalah salah satu bidang kehidupan dimana akurasi sangatlah penting. Ini sangat membantu dalam menghadapi stereotip yang menghujani Anda ketika Anda mengatakan tertarik pada sesama jenis. Apa pun yang bisa membuat orang bertanya mengenai Anda bukannya berpikir mereka sudah tahu jenis manusia apa Anda, akan memberi kesempatan kepada Anda untuk menjelaskan kepribadian dan seksualitas Anda yang unik secara wajar. Saya begitu heran melihat orang-orang memperlakukan saya dalam kungkungan stereotip bukan sebagai seorang individu karena saya mau lebih terbuka mengenai seksualitas saya–istilah apa pun yang membuat orang berpikir lebih luas adalah hal yang baik. Itu juga membantu membatasi kesempatan untuk melontarkan kata-kata yang tidak pantas. IDENTITAS ITU PENTING Bukan “hantu” yang berusaha saya hindari, tetapi identitas lain yang bisa menggantikan identitas dasar saya sebagai orang Kristen, karena hal yang paling menentukan siapa saya dalam hidup ini bukanlah seksualitas saya melainkan status saya–dalam Kristus–sebagai anak Allah. Bukankah status baru yang tidak layak kita dapatkan adalah hal


K E S A L A HA N # 1

33

paling indah ketika menjadi seorang Kristen? Diangkat anak ke dalam keluarga Allah melalui percaya kepada Anak-Nya Yesus. Herannya, Yohanes mengawali Injilnya dengan tawaran ini: Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. (Yoh. 1:12-13)

Kitab Injil ini mengatakan bahwa saya–dalam Yesus–adalah anak Allah. Itulah sebabnya saya bisa memanggil-Nya Bapa. Itulah sebabnya saya bisa memanggil Yesus saudara saya. Inilah yang ditegaskan oleh Roh-Nya ketika berdiam di dalam saya. Inilah siapa saya sebenarnya: anak yang dikasihi Allah. Dan berpikir seperti ini sangatlah penting dalam menjalani kehidupan Kristen. Mengapa? Coba dengarkan apa yang dikatakan pendeta Kevin DeYoung: Jika saya perlu meringkas etika Perjanjian Baru dalam satu kalimat, inilah yang akan saya katakan: jadilah diri Anda sendiri. Ini mungkin terdengar aneh, hampir bidat, karena budaya kita juga menekankan untuk menjadi diri sendiri. Namun seperti banyak kesalahan besar dalam dunia ini, ini mewakili kebenaran yang telah sangat diselewengkan. Ketika orang berkata, “Tenang, kamu memang dilahirkan seperti itu” atau “Jangan jadi orang lain, jadi dirimu sendiri,” mereka sedang mengatakan hal yang sangat alkitabiah. Allah memang ingin Anda jadi diri sendiri. Dia memang ingin Anda menunjukkan diri Anda yang sebenarnya. Namun “Anda” yang Dia maksudkan adalah “Anda” yang sudah dalam anugerah, bukan karena natur. Anda perlu membaca ulang kalimat terakhir karena perbedaan antara hidup dalam dosa dan hidup dalam kebenaran tergantung pada pemahaman akan kalimat itu dengan benar. Allah tidak berkata, “Tenang, kamu memang dilahirkan seperti itu.” Tetapi Dia berkata, “Kabar baiknya, kamu seperti itu karena dilahirkan kembali.”2


34

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

Siapa Ed Shaw yang sebenarnya? Bukan Ed Shaw seperti yang dikatakan oleh masyarakat sekitar saya. Bukan Ed Shaw menurut saya sendiri. Namun Ed Shaw seperti yang dilihat dan ditentukan oleh Allah sebagai anak-Nya! Itulah identitas yang ingin saya perdengarkan kepada orang-orang di sekitar saya. Dan inilah alasan saya perlu sering melihat diri saya sendiri. Mengapa? Karena ini cara terbaik menunjukkan siapa saya, karena ini adalah identitas yang dibentuk oleh Allah, bukan manusia. Orang mulai disebut homoseksual pada abad 19 (filsuf Michel Foucault melacak penggunaan awalnya dalam artikel yang diterbitkan tahun 18703). Penggunaan istilah “gay” untuk merujuk diri sendiri baru muncul kemudian–satu atau dua generasi yang lalu, istilah ini hanya merujuk pada nama wanita atau perasaan gembira yang Anda tunjukkan hari itu. Seperti semua bahasa manusia, istilah ini kemudian berubah makna dan pasti akan berubah lagi seiring waktu. Namun yang tidak akan pernah berubah adalah status saya sebagai anak Allah. Efesus 1 berkata bahwa saya sudah dilihat Allah seperti itu sebelum dunia diciptakan. “Anak Allah” adalah identitas permanen yang Dia pilih secara pribadi bagi saya, dan hasilnya, ini merupakan cara akurat untuk menentukan siapa saya. Identitas ini haruslah menjadi yang utama. Jika identitas ini tertanam dalam hati saya, maka itu bisa membantu saya. Izinkan saya menunjukkan caranya. Kemarin saya mencari sebuah trailer film dimana pria yang saya sukai beberapa setengah telanjang. Saat saya bertobat pada Allah Bapa sesudahnya, apa yang iblis katakan pada saya? “Inilah kamu yang sebenarnya! Pria yang menghabiskan waktu mengumbar nafsu terhadap ketelanjangan seorang pria lain. Masih mau menyebut diri Kristen? Pasti tidak mungkin, karena kamu suka melakukan hal ini!” Di mana serangan si jahat diarahkan? Langsung kepada identitas saya! Di situlah pertempuran terberat terjadi, dan itulah alasan saya harus sekuat mungkin mempertahankan identitas saya dalam Kristus. Kemarin saya perlu terus menerus berkata kepada diri saya, “Ini bukan kamu yang sebenarnya! Kamu adalah anak Allah. Allah sudah membuat kamu seperti itu melalui kematian Yesus.


K E S A L A HA N # 1

35

Kamu tidak boleh melakukan apa yang baru saja kamu lakukan–tetapi itu tidak mengubah siapa kamu!” Setiap hari sepanjang hidup saya, saya perlu mengatakan hal tersebut. Dan tentu Anda juga. Semua ini penting karena kita perlu menghidupi identitas yang orang lain berikan kepada kita, atau yang kita berikan kepada diri sendiri. Semua identitas itu bisa mengikat hidup kita dengan kuat. Orang yang berulang kali diberitahu atau berpikir: “Kamu bodoh!” atau “Kamu jelek!” mulai berperilaku seolah-olah itu benar–terkadang meski banyak bukti mengatakan sebaliknya. Kata-kata memiliki kekuatan untuk membentuk kita, mengubah kita. Oleh karena itu hal yang ingin saya dengar dan pikirkan sepanjang waktu adalah “Kamu anak Allah!” bukan “Saya gay!” Saya tidak mengatakan bahwa orang menjadi tertarik pada sesama jenis karena diberitahu bahwa mereka gay–atau akan berhenti jika tidak diberitahu seperti itu. Namun, menurut saya orang Kristen tidak boleh mengambil itu sebagai identitasnya. Saya punya banyak teman Injili yang sudah mengalami hal ini tetapi tidak mengikuti gaya hidup dan identitas gay secara penuh. Namun saya khawatir terhadap dampak pastoral negatif dari keputusan seperti ini (mereka juga mungkin khawatir terhadap dampak negatif dari keputusan saya terhadap penginjilan).4 Menurut saya itu bisa menghalangi keterbukaan kita akan kemungkinan terjadinya perubahan. Saya memiliki banyak teman yang bisa bersaksi tentang hal ini–bahwa melihat identitas mereka sebagai gay telah mengurung mereka dalam batasan yang diberikan manusia sehingga membatasi pengharapan mereka akan apa yang bisa Allah lakukan dalam kehidupan mereka, memperkecil harapan mereka untuk perubahan. Saya melihat segala sesuatu yang menghalangi pengharapan saya akan kuasa Injil adalah sesuatu yang ingin saya jauhi secepat mungkin. Maka, menurut saya, orang Kristen perlu hati-hati melakukan hal apa pun yang bisa mengakarkan identitas mereka pada seksualitas mereka. Kita perlu melawan budaya dalam hal ini: identitas kita harus berakar kuat dalam Kristus.


36

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

ORANG BERDOSA ATAU ORANG KUDUS? Kesalahan teologis apa yang telah dilakukan gereja Injili dalam hal ini? Apa Anda tidak bisa melihatnya? Ini kesalahannya: sebagian orang Injili berada dalam bahaya karena secara umum sering melihat diri sendiri sebagai orang berdosa daripada orang kudus. Lebih melihat diri mereka sebagai orang yang terus memberontak melawan Allah daripada statusnya yang permanen sebagai anak Allah. Banyak orang mungkin langsung khawatir mendengar saya bicara seperti ini. Maka saya perlu menegaskan: kita harus sadar betul akan rea-litas dosa yang menyentuh segala hal. Sebagai tanggapan terhadap dunia yang menolak keberadaan dosa sebagai suatu realitas, dan banyak gereja sedikit bicara tentang dosa, maka kita perlu banyak bicara tentang pemberontakan manusia melawan Allah yang telah menciptakan kita. Gereja Anda perlu bicara lebih banyak tentang dosa bukannya menguranginya. Ini dikarenakan Alkitab berulang kali menegur usaha kita yang terus menerus mau menggantikan Allah dengan berhala-berhala yang mengizinkan kita memuja diri sendiri. Ketika kita membagikan Injil kepada teman-teman nonKristen, mereka sangat perlu memahami bahwa dosa adalah masalah terbesar kita, agar mereka bisa melihat secara penuh kekayaan jawaban Allah yang indah atas hal tersebut, melalui inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Namun dalam gereja-gereja Injili lainnya kita perlu mengakui bahwa banyak orang yang sudah lama jadi orang percaya masih melihat diri mereka terutama sebagai orang berdosa bukannya anak Allah yang telah diampuni. Bahayanya adalah kita akan lebih banyak memberi waktu untuk bicara tentang kesalahan kita daripada segala hal yang Allah telah lakukan untuk membenarkan kita dalam Kristus. Ibadah gereja diawali doa pengakuan dosa, tetapi jika ini disalahpahami akan memberi kesan bahwa kita adalah orang berdosa yang sedang berusaha kembali kepada Allah dengan harapan bisa masuk lagi ke dalam kitab kehidupan-Nya. Kita tidak banyak bicara tentang status kita yang secara permanen berubah ketika pertama kali memercayai Yesus. Bah-


K E S A L A HA N # 1

37

wa saya tidak perlu lagi berusaha kembali mendapatkan keselamatan dalam Yesus. Saya sekarang hidup di hadapan Dia sepanjang waktu. Survei singkat dari Perjanjian Baru akan menunjukkan bahwa orangorang percaya dikatakan orang berdosa hanya sekali (1 Tim. 1:15–dan Paulus jelas tidak melihatnya sebagai sebuah identitas). Ajaran yang diabaikan sampai terjadi hal ini adalah ajaran tentang persatuan kita dengan Kristus: kebenaran luar biasa bahwa saya sekarang memiliki identitas Dia sehingga bisa berdiri di hadapan Allah selamanya. Saya satu dengan Dia. Baca Efesus 1 sekali lagi dan lihat berapa kali hal ini muncul dan segala akibat indah yang keluar dari realitas ini. Kita perlu lebih banyak bicara tentang kebenaran ini. Maka, walaupun kita butuh gereja yang tidak mengabaikan realitas dosa seperti yang ada dalam Injil dan hidup kita, kita juga butuh gereja yang mendorong jemaatnya untuk meletakkan identitas mereka yang utama sebagai anak Allah. Saya sering menemukan bahwa ibadah gereja malah lebih menekankan dosa saya, bukannya Juruselamat saya, yang menjadi identitas saya. Sehingga ketika saya pulang dari ibadah, saya lebih diingatkan tentang ketertarikan sesama jenis saya daripada status saya yang baru dalam Kristus. Ibadah-ibadah seperti ini tanpa sengaja telah mendorong saya untuk lebih memikirkan cinta saya kepada beberapa pria daripada memikirkan kasih Allah kepada saya. Saya perlu mendengar pesan Alkitab yang lebih seimbang. Pesan yang membuat saya sadar akan dosa saya, terus mendorong saya untuk bertobat (1 Yoh. 1:8-10), dan menghalangi dosa saya menjadi identitas saya. Namun yang terutama saya perlu diingatkan tentang siapa saya dalam Kristus. Saya perlu mendengar perkataan seperti ini, “Kamu bukan apa yang kamu inginkan. Identitas kamu ditentukan oleh firman Allah.�5 Kata-kata seperti itulah yang mengingatkan saya bahwa sebagai orang Kristen saya masih mungkin mengalami ketertarikan sesama jenis. Dan ketika saya tidak berfokus pada apa yang firman Allah katakan tentang saya saat itu, saya merasa tidak ada jalan keluar dan identitas saya kembali diikat dengan dosa saya: berhubungan seks dengan pria yang sering saya mimpikan.


38

S AM E - S E X AT T R ACTI O N AN D TH E C H U R C H

KEPERCAYAAN DIRI DALAM KRISTUS Gereja kita (termasuk gereja yang saya layani) perlu menerima tantangan yang diberikan oleh Mark Yarhouse: Hal yang bisa gereja bantu–tidak peduli apakah seseorang berubah orientasi seks atau tidak–adalah masalah identitas. Kita mengakui bahwa identitas gay sangat menarik bagi mereka yang bergumul dengan ketertarikan terhadap sesama jenis, apalagi ketika mereka tidak melihat pilihan lain dari komunitas iman mereka. Oleh karena itu kita bisa mengembangkan identitas alternatif yang didasarkan pada kebenaran Alkitab dan berpusat pada pribadi dan karya Kristus. Kita juga bisa melihat hidup kita sendiri, apakah kita sudah siap untuk menjalani hidup yang membuat Kristus sebagai identitas utama kita, tidak peduli apakah kita mengalami ketertarikan sesama jenis atau tidak.6

Jika identitas utama yang disarankan oleh semua gereja kepada semua jemaatnya adalah identitas kita bersama dalam Kristus, ini bisa berpengaruh besar dalam usaha kita menyelesaikan masalah kemungkinan ini dibanding hal lainnya. Pada umumnya Anda cenderung melihat atau menggambarkan diri Anda sebagai apa? Sebagai ibu atau ayah, sebagai seorang yang sudah menikah atau lajang, seorang akuntan atau seniman, seorang yang gagal atau berhasil, seorang gay atau normal? Anda perlu mulai melihat diri Anda terutama sekali seperti Allah melihat Anda–membiarkan Dia yang menentukan identitas Anda. Bagaimana Dia melakukannya? Allah Pencipta dan Penebus Anda berkata Anda adalah anak-Nya yang dijadikan tak bercacat cela (Ef. 1:4-5), menyebut Anda saudaraNya (Ibr. 2:11), ahli waris-Nya (Gal. 4:7), berharga dan mulia di mataNya (Yes. 43:4), segambar dengan Dia (Kej. 1:27). Saya mengawali hari saya dengan membaca ayat-ayat ini untuk memperkuat apa yang saya sebut sebagai “kepercayaan diri dalam Kristus”–untuk mengingatkan saya tentang siapa saya sebenarnya, orang yang dipersatukan dengan Yesus, gambar Allah yang sempurna. Untuk meletakkan identitas diri saya di dalam Dia.


K E S A L A HA N # 1

39

Di dalam gereja tempat saya melayani sebagai pendeta, kami saling membantu melakukan hal di atas, memastikan semua ibadah kami selalu memperkuat “kepercayaan diri dalam Kristus.� Terkadang kami memulai pertemuan dengan sebuah ayat Alkitab yang mengingatkan tentang identitas baru kami dalam Kristus, kami memilih lagu-lagu yang memampukan kami untuk mensyukuri status permanen kami dalam keluarga Allah, kami mengakui dosa kami, mengingat bahwa semua dosa itu tidak menghentikan Allah untuk mengasihi kita dalam Kristus–kami melakukan segala sesuatu, semua hal, yang bisa mengakarkan identitas kami, siapa kami dalam Kristus, sesuai dengan apa yang firman Allah katakan. Hasilnya, ketika saya meninggalkan ibadah, saya lebih diingatkan tentang status baru saya dalam Kristus bukannya ketertarikan saya terhadap sesama jenis. PERTANYAAN PENERAPAN Bagaimana kita semua bisa memastikan identitas kita didasarkan pada firman Allah–dan bukan oleh dunia di sekitar kita?


Counterfeit Gods (Allah-Allah Palsu)

Janji-janji Kosong dari Uang, Seks, dan Kekuasaan serta Harapan yang Terpenting Timothy Keller Kesuksesan, uang, cinta sejati, dan kehidupan yang selalu Anda rindukan. Sebagian besar dari kita meletakkan iman kita dalam hal-hal tersebut, kita percaya bahwa hal-hal tersebut bisa membawa kita kepada kebahagiaan. Keruntuhan ekonomi yang terjadi belakangan ini telah menghancurkan berbagai impian yang telah dibangun. Tidak heran banyak dari kita yang merasa terhilang, kesepian, putus asa, dan marah. Sesungguhnya kita telah membuat hal-hal yang baik menjadi allah-allah kecil kita – allah-allah yang tidak bisa memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Hanya ada satu Allah yang bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan kita – dan sekarang adalah waktu yang paling baik untuk bertemu dengan Dia kembali, atau mungkin untuk pertama kalinya. Alkitab berkata bahwa hati manusia adalah “pabrik berhala,” membuat halhal baik menjadi berhala yang mengatur kita. Keller menerapkan pendekatan khasnya untuk menunjukkan kita bagaimana pemahaman yang tepat terhadap Alkitab bisa menyingkapkan kebenaran dari iman kita dan kerinduan hati kita terdalam. Pesan yang berkuasa ini akan memperkuat reputasi Keller sebagai seorang pendeta dan pemikir yang kritis. Buku ini ditulis pada waktu yang penting sekali – bagi orang-orang beriman maupun yang skeptis. Info lengkapnya kunjungi: www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


The End of Me

(Akhir dari Ke-AKU-an) Hidup yang Dijungkirbalikkan Saat Mengikut Yesus Kyle Idleman Akhir dari Ke-AKU-an Anda barulah sebuah permulaan... Apakah Anda terkadang bingung dengan ajaran Yesus yang di luar kebiasaan? Apakah Anda benar-benar mengerti apa yang Yesus inginkan sebenarnya? Penulis buku laris, Kyle Idleman mengungkapkan bahwa kunci kepada hidup berkelimpahan yang Yesus janjikan ber-ada pada hidup yang mengalir dari dalam-keluar seperti yang Yesus hidupi. Kyle membedah Khotbah Yesus di Bukit dan membongkar banyak kebenaran yang berlawanan dengan prinsip dunia di sepanjang Alkitab, seperti dihancurkan supaya dijadikan utuh, berduka cita adalah jalan menuju kebahagiaan, dan kekosongan dibutuhkan untuk mengalami kepenuhan sejati. Ketika Anda mulai menjalani prinsip-prinsip yang paradoks dan radikal ini, Anda akan menemukan bagaimana Yesus mulai mentransformasi hidup Anda pada akhirnya. Hanya ketika Anda sampai pada akhir dari ke-AKU-an Anda dan mati terhadap diri sendiri, Anda akan mengalami kehidupan yang utuh, diberkati, dan menerima seluruh kelimpahan hidup yang Yesus janjikan. Info lengkapnya kunjungi: www.literaturperkantas.com Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org

SAME-SEX ATTRACTION AND THE CHURCH - Homoseksualitas, Gereja, dan Alkitab  

Ketika ada orang Kristen yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis, bagaimana gereja seharusnya meresponsnya? Pendeta Ed Shaw adalah seo...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you