Issuu on Google+


L iteratur P erkantas J awa T imur


S AC R E D R H Y T HMS ( I r a m a K ud us ) Mengarahkan Hidup Kita Bagi Transformasi Rohani oleh Ruth Haley Barton Originally published by InterVarsity Press as Sacred Rhythms by Ruth Haley Barton Copyright Š 2006 by Ruth Haley Barton Translated and printed by permission of InterVarsity Press P.O. Box 1400, Downers Grove, IL 60515-1426, USA Alih Bahasa: Paksi Ekanto Putro Editor: Milhan K. Santoso, Bayu Pandu Purwadianto Penata Letak: Milhan K. Santoso Desain Sampul: Meliana S. Dewi Hak cipta terjemahan Indonesia: Literatur Perkantas Jawa Timur Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Telp. (031) 8413047, 8435582; Faks. (031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jatim adalah sebuah divisi pelayanan literatur di bawah naungan Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) Jawa Timur. Perkantas Jawa Timur adalah sebuah kegerakan yang melayani siswa, mahasiswa, dan alumni di sekolah dan universitas di Jawa Timur. Perkantas Jatim adalah bagian dari Perkantas Indonesia. Perkantas sendiri adalah anggota dari pergerakan International Fellowship of Evangelical Students (IFES). Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan yang ada secara lokal maupun regional di Jawa Timur dapat menghubungi melalui e-mail: pktas.jatim@gmail.com, atau mengunjungi Website Perkantas Jatim di www.perkantasjatim.org

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) ISBN: 978-602-18547-4-7 Cetakan Pertama: April 2013 Hak cipta di tangan penerbit. Seluruh atau sebagian dari isi buku ini tidak boleh diperbanyak, disimpan dalam bentuk yang dapat dikutip, atau ditransmisi dalam bentuk apa pun seperti elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman, dlsb. tanpa ijin dari penerbit.


D A F TA R I S I Kata Pengantar......................................................................... 7

1 KERINDUAN AKAN SESUATU YANG LEBIH: Sebuah Undangan Menuju Transformasi Rohani...................... 17 2 SOLITUDE: Menyediakan Ruang bagi Allah........................... 29 3 KITAB SUCI: Menjumpai Allah Melalui Lectio Divina............. 47 4 DOA: Memperdalam Keintiman dengan Allah......................... 65 5 MENGHORMATI TUBUH: Kerohanian Darah dan Daging..... 83 6 PEMERIKSAAN DIRI: Membawa Seluruh Hidup di Hadapan Allah.................................................................. 97 7 PENCARIAN HIKMAT: Mengenali dan Merespons Hadirat Allah........................................................................ 119 8 SABAT: Menjaga Keseimbangan Irama Kerja dan Istirahat...... 141 9 ATURAN HIDUP: Menumbuhkan Irama bagi Terjadinya Transformasi Rohani............................................. 159 Sebuah Catatan Ucapan Syukur................................................ 181 Lampiran A: Menempuh Perjalanan Bersama............................ 183 Lampiran B: Memimpin Sebuah Kelompok Pengalaman............ 198 Lampiran C: Memilih Disiplin Rohani yang Sesuai dengan Kebutuhan Kita.............................. 201 Catatan..................................................................................... 204


K ATA

P E N G A N TA R Seseorang dapat memulai pencarian (rohani) dengan menemukan hasrat hatinya, baik secara personal maupun komunal. Roh mengungkapkan diri melalui harapan kita yang tulus bagi diri kita sendiri dan dunia. Seberapa besarkah nyala api dari hasrat akan hubungan kasih dengan Tuhan, dengan orang lain, dengan dunia? Apakah kita sadar bahwa mengingini dan mencari Tuhan adalah sebuah pilihan yang selalu tersedia bagi kita? ELIZABETH D. REYER

B

ertahun-tahun yang lalu, saya hadir di sebuah rapat staf sebuah gereja yang saya layani; tujuan dari rapat itu adalah membahas bagaimana kami bisa menarik lebih banyak orang masuk ke dalam gereja. Pada satu titik, seseorang mengukur persyaratan keanggotaan gereja yang sudah dipersiapkan dan mengajukan penemuan yang mengejutkan di mana jumlah kehadiran antara lima sampai sembilan kali per minggu menjadi syarat bagi mereka yang ingin menjadi anggota gereja! Secara lahiriah, saya berupaya mendukung tujuan rapat itu, tetapi secara batiniah saya menjerit, Siapa yang mau mendaftar untuk ini? Saya sadar akan SKK (Sindrom Kelelahan Kristen) dalam hidup saya sendiri dan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika hal yang sama terjadi pada orang lain. Kesadaran yang menyeruak pada saat itu membuat saya mulai lebih


8 | S AC R E D R H Y T H M S

jujur ​​tentang betapa hidup kekristenan saya telah tereduksi. Sementara saya berusaha lebih keras dan melakukan lebih banyak, ternyata ada kehampaan menganga di dalam batin di mana tak satu pun aktivitas, baik kristiani maupun sekuler, yang bisa mengisinya. Sama sekali tidak ada bedanya bahwa saya sudah menjadi orang Kristen selama hidup saya, bahwa saya sudah bergabung dalam pelayanan Kristen sejak saya memasuki usia dewasa awal, atau bahwa saya selama ini sibuk melayani di setiap kesempatan yang dianugerahkan Allah demi tujuan mulia. Semakin saya menolak mengakui kerinduan akan suatu hal yang lebih, semakin mendalam dan meluaslah kekosongan itu jadinya—hingga hampir menelan saya. Di tengah-tengah segala kekeringan itu, sulit bagi saya membayangkan apa yang Yesus maksudkan ketika Ia berfirman, “Aku datang, supaya mereka memunyai hidup, dan memunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh. 10:10b). Tanggapan terbaik saya atas semua khotbah dan renungan yang memakai ayat ini adalah bersikap sinis. Bagi saya, hidup kekristenan rasanya jauh dari itu. Sulit untuk tahu kepada siapa harus berbicara tentang realitas yang menggelisahkan ini. Kehidupan di dalam dan di sekitar komunitas Kristen kurang membantu kita memerhatikan kerinduan-kerinduan semacam ini, untuk percaya bahwa jauh di kedalaman batin ada sesuatu yang harus didengar. Atau, untuk memberi harapan bahwa kerinduan terdalam semacam ini bisa membawa kita ke suatu tempat yang baik. Pada satu waktu, kerinduan batin kita yang terdalam dienyahkan sebagai sebuah idealisme belaka—perkara semacam itu ada di luar jangkauan wilayah yang nyaman. Di waktu lain, kecemasan atau ketidaknyamanan terselubung muncul dalam bentuk ekspresi-ekspresi kemanusiaan kita. Penekanan pada kejatuhan manusia oleh banyak kalangan agama membuat kita sulit mengerti apakah ada sesuatu di dalam diri kita yang masih bisa dipercaya. Terkadang, bahasa yang menggambarkan kerinduan hati digunakan untuk mengaduk-aduk emosi orang banyak, tetapi seringkali apa yang diberikan berlimpah pada awalnya justru ditemukan kosong pada akhirnya. Kerinduan kita akan kasih dipenuhi dalam hubungan yang bersifat saling


K ATA P E N G A N TA R

| 9

mengambil untung dan berisiko hancur berantakan di bawah tekanan. Kerinduan kita akan kesembuhan dan transformasi dipenuhi dengan pesan-pesan motivasi pengembangan diri yang membuat kita terinspirasi sejenak, tetapi terbebani oleh tekanan untuk mencoba memperbaiki diri dengan teknik atau keterampilan baru. Kerinduan kita akan pandangan hidup yang efektif seringkali dipenuhi dengan makin banyaknya aktivitas, yang sayangnya menjadi penyebab dari banyak tekanan dan kerenggangan yang terjadi di budaya Barat. Respons awal saya terhadap kesadaran akan kerinduan ini adalah dengan mencoba memperbaiki jadwal, yaitu belajar berkata tidak dengan lebih tegas dan mengadopsi alat manajemen waktu terbaru. Tetapi, ada saatnya ketika hasrat begitu mendalam sehingga memperbaiki jadwal saja tidak cukup. Akhirnya, saya melepaskan semua upaya itu. Saya membuat pilihan untuk secara radikal menyusun ulang hidup demi mendengar kerinduan batin terdalam dan mengatur hidup bagi pencarian rohani. Ini adalah saat-saat mengungkapkan keterbukaan, saat-saat mempertanyakan hampir segala hal, saat-saat membiarkan berbagai perangkap hidup—terutama hidup rohani saya—berguguran sampai terlihat kerinduan terdalam, yang tertanam di dalam esensi kemanusiaan kita, mulai terungkap dalam segala keindahan dan kekuatan murninya. Kerinduan akan makna, kerinduan akan kasih, kerinduan akan perubahan yang mendalam dan fundamental, kerinduan akan pandangan hidup yang efektif, kerinduan untuk berhubungan secara nyata, dan bahkan naluriah, dengan Pribadi yang melampaui diri kita—kerinduan-kerinduan inilah yang mengarahkan saya untuk mencari praktik-praktik rohani dan membangun irama kehidupan yang menjanjikan sesuatu yang lebih. MEMBUKA MISTERI TRANSFORMASI ROHANI

Mungkin salah satu hal paling mendasar yang perlu kita pahami tentang transformasi rohani bahwa hal itu penuh misteri. Kita terbuka untuk mengalaminya tetapi kita tidak bisa melakukannya sendiri. Paulus menyinggung hal ini dalam surat-suratnya dengan menggunakan dua metafora. Yang pertama adalah proses di mana embrio terbentuk di dalam


10 | S AC R E D R H Y T H M S

rahim ibunya: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal. 4:19). Keajaiban dari pemahaman tentangnya, pembentukan dari embrio dan proses kelahiran itu sendiri bersifat alami tetapi juga penuh misteri. Meski saya pernah mengandung dan melahirkan tiga anak, meski saya mengagumi foto-foto embrio yang terbentuk di rahim ibunya, meski saya berpikir bahwa saya banyak mengerti fakta-fakta kehidupan, namun ada sesuatu yang berada di sepanjang proses itu akan tetap menjadi misteri bagi saya, sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan atau ciptakan. Keajaiban proses persalinan selalu adalah sebuah mujizat. Itu adalah pekerjaan Tuhan. Setiap detiknya. Hal yang sama terjadi pada proses metamorfosis. Dalam Roma 12:2a, Paulus mengacu pada proses ini ketika ia berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah (metamorphoo) oleh pembaruan budimu…” Kata Yunani metamorphoo berarti “metamorfosis”: sebuah proses di mana seekor ulat memasuki gelapnya kepompong, kemudian muncul dan berubah menjadi sesuatu yang hampir tidak bisa dikenali lagi. Perubahan ini begitu agung, di mana si ulat melampaui eksistensi sebelumnya untuk mengambil bentuk yang sama sekali lain dan dengan kapasitas yang sama sekali berbeda. Saya ragu apakah si ulat memiliki pemahaman tentang proses itu atau tentang produk akhirnya. Sesuatu yang bersifat jauh lebih mendasar sedang bekerja. Sesuatu yang berada di dalam esensi makhluk kecil ini berkata, Sekaranglah waktunya. Dan si ulat menuruti desakan batin yang tak terjelaskan itu, lalu masuk ke dalam kepompong. Kedua metafora ini menempatkan proses transformasi rohani tepat dalam kategori yang kita sebut misteri: sesuatu yang berada di luar jangkauan aktivitas manusia normal dan pemahaman yang hanya dapat dimengerti melalui wahyu ilahi dan dikerjakan oleh aktivitas ilahi. Apa artinya hal ini bagi kita yang rindu mengalami proses transformasi rohani yang lebih penuh dan konkret? Artinya, entah apapun yang kita pikir bahwa kita mungkin mengetahuinya, keputusan memberi diri untuk mengalami transformasi rohani membawa kita ke ujung dari segala


K ATA P E N G A N TA R

| 11

hal yang kita ketahui dan berhadapan dengan apa yang tidak kita ketahui. Meskipun wajar bagi setiap orang yang telah ditebus untuk mengalami transformasi rohani, namun hal tersebut akan selalu menjadi misteri bagi kita. Adalah satu hal untuk mampu memperbaiki dan mengendalikan perilaku eksternal; tetapi, mengalami pergeseran dahsyat secara internal yang mengubah cara saya hidup di dalam dunia adalah hal yang sama sekali berbeda—dari seekor ulat yang merayap di atas perut saya, menjadi kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya menuju ke langit. Itu adalah jenis perubahan yang hanya sanggup dilakukan oleh Allah. Pada akhirnya, ini adalah hal yang paling bisa kita katakan tentang transformasi rohani: Saya tidak bisa mengubah diri saya sendiri, atau diri siapa pun. Apa yang bisa saya lakukan adalah menciptakan kondisi di mana transformasi rohani dapat terjadi, yaitu dengan mengembangkan dan mempertahankan irama praktik rohani yang membuat saya terbuka dan tersedia bagi Allah. SEBUAH PERJALANAN PENCARIAN

Ketika kita terhubung dengan kerinduan terdalam kita (bukan sekadar terusik oleh manifestasi di permukaannya), serangkaian pilihan yang berbeda terbuka. Lebih dari sekadar termotivasi oleh rasa bersalah atau kewajiban—seperti “Saya harus melakukan saat teduh” atau “Saya harus lebih banyak berdoa”—kita justru terdorong untuk mencari cara hidup yang sesuai dengan hasrat terdalam kita. Terkadang, hal ini terasa berisiko dan seringkali membuka serangkaian pertanyaan baru tetapi inilah arti sesungguhnya dari transformasi rohani: memilih cara hidup yang membuka diri bagi kehadiran Allah pada tempat di mana hasrat paling murni dan kerinduan paling dalam kita berada. Penemuan-penemuan ini terbuka bagi kita ketika kita jujur ​​dalam menyatakan hal-hal yang tidak efektif, sehingga kita dapat menyusun cara hidup yang lebih cocok dengan hasrat terdalam kita. Perjalanan dimulai ketika kita belajar untuk memerhatikan hasrat kita di hadapan Allah, membiarkan hasrat itu menjadi dorongan untuk memperdalam perjalanan rohani kita. Ini adalah substansi dari bab pertama


12 | S AC R E D R H Y T H M S

dan tidak boleh dianggap remeh atau dibaca dengan cepat sebagai pendahulu dari disiplin-disiplin sesudahnya. Jika kita melewatkan bagian dari proses ini, usaha kita tidak akan lebih dari sekadar sebuah program yang berlandaskan dorongan eksternal atau motivasi yang dangkal. Tetaplah bergumul dengan bab ini selama yang Anda perlukan untuk membangun dasar yang kokoh di dalam diri Anda, untuk menemukan apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan. Baru setelah kita memiliki hasrat yang kokoh dan menyatakannya di hadirat Allah, kita siap dibimbing masuk ke dalam praktik-praktik rohani yang akan membuka diri kita untuk menerima apa yang dirindukan hati kita. Pergerakan dari hasrat batin menjadi disiplin rohani adalah penting: Hal yang membentuk tindakan kita pada dasarnya juga membentuk hasrat kita. Hasrat batin membuat kita bertindak dan ketika kita bertindak maka apa yang kita lakukan akan mengarahkan kita, entah pada integrasi atau disintegrasi yang lebih besar dalam kepribadian, pikiran, dan tubuh kita—dan pada penguatan atau penghancuran hubungan kita dengan Allah, orang lain, serta dunia. Kebiasaan dan disiplin yang kita gunakan untuk membentuk hasratlah yang menjadi dasar bagi kerohanian kita.1

Setiap bab berikutnya memberi panduan praktis untuk memasuki berbagai disiplin utama dari iman Kristen, sehingga semuanya terkait dengan hasrat paling konsisten dan kuat dari jiwa manusia. Pada akhir setiap bab terdapat bagian praktik yang memberi panduan konkret untuk mengalami masing-masing disiplin, sehingga Anda bisa mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika Anda adalah jenis orang yang tidak bisa membaca seluruh isi buku, silahkan saja; namun, faedah terbesar akan datang ketika Anda membaca kembali seluruh bagian perlahanlahan dan benar-benar mempraktikkan setiap disiplin selama yang Anda perlukan sampai terasa nyaman dengan disiplin itu dan mengalaminya sebagai ekspresi alami dari keintiman Anda dengan Tuhan. Buku ini bukan, juga tidak akan bisa menjadi, sebuah kitab lengkap dari segala jenis disiplin rohani yang telah digunakan para pencari rohani di sepanjang sejarah umat manusia. Disiplin rohani yang dieksplorasi di


K ATA P E N G A N TA R

| 13

sini adalah disiplin paling mendasar dan paling dibutuhkan sebagai langkah awal—seperti langkah-langkah dasar sebuah tarian atau melodi dasar sebuah lagu. Setelah menjelajahi gerakan-gerakan dasar ini dalam hubungan kita dengan Allah, bab sembilan memberi kesempatan untuk menempatkannya bersama-sama secara khusus, sehingga kita bergerak melebihi pendekatan yang acak dan serampangan dalam kehidupan rohani. Dalam tradisi Kristen, pengaturan terstruktur dari praktik rohani ini disebut sebagai “aturan hidup.” Aturan hidup adalah cara menyusun hidup di sekitar nilai-nilai, praktik-praktik, dan hubungan-hubungan yang membuat kita tetap terbuka dan tersedia bagi karya transformasi rohani yang hanya sanggup dikerjakan oleh Allah. Singkatnya, aturan hidup menyediakan struktur dan ruang bagi pertumbuhan kita. Seekor ulat harus menyerahkan kehidupan yang selama ini ia kenal Ungkapan “irama rohani” adalah dan berserah pada misteri dalam cara lain dalam membantu memtransformasi. Hal ini lahir dari proses bahas konsep penting ini, karena perubahan bentuk, dengan sayapmemberi kelegaan atas beberapa sayap yang memberinya kebebasan pendekatan kehidupan rohani yang untuk terbang.... Aturan hidup berat dan kaku seperti yang dialami memberi kita jalan untuk masuk ke banyak orang. Istilah ini mengacu dalam proses transformasi pribadi pada kesan irama alami dari cipseumur hidup. Disiplin rohaninya taan: peristiwa pasang dan surut membantu kita melepaskan “manusia lama” yang sudah akrab tetapi gelombang laut, yang terus datang membatasi, dan memungkinkan dan pergi tetapi penuh variasi dan “manusia baru” kita di dalam Kristus kreativitas tak terbatas. Ketetapan untuk dibentuk—yaitu, manusia sejati pergantian musim, sekaligus keinyang secara alami tertarik kepada dahan dan variasi baru yang memeterang Allah. sona kita setiap saat. Irama yang MARJORIE THOMPSON, SOULFEAST indah, yang membuat musik dan tarian menjadi suatu pengalaman paling menyenangkan dan spontan yang kita nikmati, meskipun penguasaan tangga nada dan gerakan dasar tetap diperlukan jika kita ingin benarbenar menikmatinya.


14 | S AC R E D R H Y T H M S

Disiplin rohani adalah komponen dasar dari irama keintiman dengan Tuhan, yang memelihara dan merawat jiwa, membuat kita tetap terbuka dan tersedia bagi inisiatif Allah yang mengejutkan dalam hidup kita. Setelah mempelajari disiplin-disiplin itu, ada kreativitas tak terbatas dalam menempatkannya bersama-sama dalam sebuah irama yang cocok bagi kita dan kebebasan untuk menambahkan disiplin serta elemen kreatif lainnya. SEBUAH AJAKAN BAGI KOMUNITAS

Meskipun penekanan buku ini adalah pada disiplin rohani pribadi, namun perjalanan rohani tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Kitab Suci menjelaskan hal ini, tetapi kehidupan Yesus secara khusus memberi kita teladan menakjubkan. Pada awal pelayanan Yesus, setelah berdoa dan mendengarkan Allah sepanjang malam, Ia membentuk sebuah komunitas kecil yang terdiri dari dua belas murid—“…orangorang yang dikehendaki-Nya…” demikian kata Kitab Suci. Ia memilih mereka pertama-tama “…untuk menyertai Dia…” (Mrk. 3:13-14) dan kemudian, untuk melakukan pelayanan. Ajakan Yesus bagi mereka pertama-tama adalah untuk berada bersama dengan-Nya dalam komunitas, dibentuk oleh pengajaran dan kepemimpinan-Nya, dan Ia pun tetap setia terhadap hubungan ini sampai akhir hidup-Nya. Komitmen kita pada komunitas dan persahabatan rohani di dalam komunitas adalah sebuah disiplin yang sangat penting bagi kehidupan rohani. Persahabatan rohani bukanlah hubungan sosial yang tercipta demi acara makan siang atau bermain golf. Bukan hubungan rekan sejawat yang berfokus utama pada masalah pekerjaan atau proyek pelayanan. Ini bukan hubungan swadaya yang berfokus pada pemecahan masalah atau membangun akuntabilitas. Bahkan, bukan pula kelompok belajar Alkitab. Relasi ini terutama berfokus pada hubungan kita dengan Tuhan dalam konteks hasrat kita akan Dia. Dengan teman seperjalanan semacam itu, kita berbagi hasrat terdalam hati kita, sehingga kita bisa menopang satu sama lain dalam mengatur kehidupan dengan cara yang sesuai dengan apa yang paling diinginkan oleh hati kita. Bersama-sama, kita menghormati cara Tuhan mempertemukan kita dalam konteks praktik rohani


K ATA P E N G A N TA R

| 15

yang membantu kita untuk menemukan-Nya. Komunitas adalah sebuah unsur penting dari proses pembentukan yang akan dibahas sebagai tema di sepanjang buku ini. Selain itu, Anda juga diajak untuk mengalami komunitas dengan memilih seorang atau dua orang teman atau bahkan sebuah kelompok kecil dengan siapa Anda menempuh perjalanan ini, dengan menggunakan panduan yang diberikan dalam lampiran “Menempuh Perjalanan Bersama.� Lampiran ini akan memandu Anda dalam mengalami setiap disiplin rohani bersama-sama orang lain dan menyediakan pertanyaan untuk membantu mendiskusikan pengalaman Anda. Dengan demikian, disiplin rohani membentuk dasar bagi interaksi Anda dengan orang lain dalam komunitas. Dan kehidupan Anda dalam komunitas menjadi tempat yang aman untuk melatih pola dan perilaku yang membawa perubahan yang sesungguhnya. Jika Anda memiliki teman-teman yang terlihat memiliki kapasitas dan hasrat yang sama untuk memasuki perjalanan rohani lebih dalam, ajaklah mereka bergabung dengan Anda sehingga tak seorang pun dari Anda harus menempuh perjalanan ini sendirian. Ada saat-saat dalam hidup ketika kita berseru dalam hati, Aku tidak peduli apa yang orang lain katakan; kehidupan Kristen pasti lebih dari ini! Buku ini adalah untuk Anda yang berada pada saat-saat hidup seperti itu. Ini adalah tentang mendengar Yesus berbicara langsung pada saat-saat seperti itu dengan bisikan penuh pengertian dan harapan: “Ada hasrat di dalam dirimu yang begitu dalam, murni, dan terhubung pada siapa arti dirimu sesungguhnya; itu adalah hasrat yang ingin Kupenuhi—dan bukan hanya secukupnya, tetapi berlimpah-limpah.� Biarlah Yesus Kristus sendiri yang menemui kita di tempat pencarian rohani kita.


1

K ERINDUAN YA N G L E B I H

AKAN

S E S U AT U

Sebuah Undangan Menuju Transformasi Rohani Alasan kita tidak dapat melihat Tuhan adalah karena lemahnya kerinduan kita. M E I S T E R E C K H A RT

S

alah satu hal yang masih mengejutkan saya, dalam hidup saya sejauh ini adalah bagaimana, kapan, serta dengan kuasa apa kerinduan hati saya teraduk. Pada waktu-waktu tertentu, hal itu dapat diprediksi—waktu di mana saya lelah karena perjalanan dan merindukan rumah serta keluarga, waktu di mana saya terlalu sibuk dan rindu berada bersama Allah dan hanya untuk Allah itu sendiri, dan waktu di musim liburan ketika saya lapar akan pengalaman yang lebih mendalam tentang makna dari segala sesuatu ini. Pada beberapa hal, saya sudah terbiasa dengan kerinduan semacam ini dan tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya. Tetapi, ada saat-saat lain ketika kerinduan menyergap saya dengan satu kekuatan yang tampaknya lebih dari segala sesuatu yang ada pada saat itu; keadaan itu mencetuskan kesadaran saya bahwa sesuatu yang ada di dalam diri saya menuntut perhatian saya. Meski pengalaman kerinduan dan has-


18 | S AC R E D R H Y T H M S

rat itu seringkali terasa pahit sekaligus manis, hal itu mengingatkan saya bahwa saya hidup dengan cara yang saya ingini. Beberapa tahun lalu, putri kami Bethany merayakan ulang tahunnya yang kelima belas. Saat itu bulan September pada tahun pertamanya di sekolah menengah dan ia ingin mengadakan pesta bersama lima puluh sahabat terdekatnya. (Itu setelah ia dengan cermat dan saksama menyisir serta memilah dari daftar tujuh puluh lima orang!) Sementara memang agak menakutkan berpikir tentang mengadakan pesta pertama di tahun itu untuk lima puluh anak seusia sekolah menengah pertama, itu adalah apa yang Bethany inginkan oleh karena itu seluruh keluarga kami berlomba-lomba membantunya. Kakak Bethany, Charity (yang duduk di bangku sekolah menengah atas waktu itu), menghimpun teman-temannya untuk mengatur dan menjadi juri kompetisi karaoke. Sangat keren. Saya mempersiapkan dan menyajikan makanan. Suami saya, Chris, berpatroli di seluruh ruangan untuk mencegah para tamu membawa obat terlarang di dalam pesta. Si bungsu, Haley, hanya berusaha untuk menjauh atau mengacaukan pesta. Pada suatu waktu di malam itu, saya terjaga pada kenyataan bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi, sesuatu yang terhubung dengan kerinduan terdalam hati saya. Ketika anak-anak sedang berbaris di jalur antrean makanan dan mengambil hamburger serta hot dog, mereka semua sangat sopan. Tetapi, ada seorang anak muda yang ekspresi rasa hormatnya begitu tulus sampai-sampai saya berhenti dari apa yang saya lakukan dan memerhatikannya. Ia berkata, “Terima kasih karena mengizinkan kami berpesta di sini, Nyonya Barton. Ini sangat menyenangkan!” Saya mendongak, menatap matanya, dan berkata, “Terima kasih kembali. Kami benar-benar senang menyambut kalian!” Dia berhenti menuangkan saus, membalas tatapan saya, dan berkata dengan ragu, “Benarkah?” Seolah-olah ia tidak terbiasa disambut dengan hangat. Tanggapan yang polos digabung dengan ketidakpercayaan dan ketakjuban itu begitu manis hingga membuat saya terkesiap oleh kesadaran dan tiba-tiba saya melihat hidup saya dengan cara yang belum pernah


K er i nd uan akan S es uat u yang L e b i h

| 19

saya lihat sebelumnya. Sesuatu yang ada di dalam diri saya bangkit berdiri dan berkata, “Inilah arti hidupku.” Inilah bagaimana rasanya berada di sini daripada selalu merindukan sesuatu yang lain di sana. Inilah arti hidupku yang kuhidupi di dalam Allah. Momentum itu berlalu secepat kedatangannya, salah satu dari sekian banyak hal yang membuat malam itu menyenangkan. Seluruh keluarga kami telah bersatu untuk melakukan sesuatu yang istimewa bagi salah seorang dari kami dan rasanya menyenangkan. Ketika pesta berakhir, kami merebahkan diri di ruang keluarga, benar-benar kelelahan, dan merenungkan kembali malam itu. Kami tertawa tentang kontes karaoke itu dan memberi komentar siapa yang bisa menyanyi dan siapa yang tidak. Kami melihat-lihat sekilas pada kado-kado yang diterima Bethany. Kami berbincang tentang bagaimana bersukacitanya semua orang dan bagaimana mereka menunjukkan penghargaan juga kesantunan. Dan pikiran itu datang lagi: Inilah diriku yang terbaik. Inilah diri yang kuinginkan untuk semakin menjadi lebih dan lebih lagi, oleh kasih karunia Allah. Inilah saat-saat yang ingin kuingat di ranjang kematianku sambil berkata, “Itulah alasan mengapa aku diciptakan.” Kemudian, hal itu menyergap saya—yaitu, kerinduan saya. Sebuah doa yang menggenang dari kedalaman diri saya, sebuah doa yang begitu penuh hasrat sampai hampir tak sanggup terkatakan: “Ya Allah, berilah aku saat-saat seperti ini lagi—saat-saat ketika aku sepenuhnya hadir bagiMu dan orang lain dalam kasih. Saat-saat di mana aku terhubung dengan apa yang paling murni dan paling autentik di dalam diriku dan mampu merespons kehadiran-Mu di tempat itu. Aku ingin menjalani hidupku dengan cara di mana ada lebih banyak lagi hal seperti ini!” Ada saat-saat lain juga, ketika kerinduan teraduk-aduk. Pernah ada musim panas yang menakutkan ketika saya berusia empat puluh tahun. Ketika hari ulang tahun saya hampir tiba dan pesta sedang direncanakan, saya sadar bahwa saya tidak ingin pesta di mana semua orang berkeliling sambil memegang minuman dan berbasa-basi. Kali ini, kerinduan akan kasihlah yang mengejutkan saya. Ketika saya sungguh-sungguh mendengarkan, saya menyadari bahwa yang paling saya inginkan adalah mem-


20 | S AC R E D R H Y T H M S

beri dan menerima kasih—sungguh—pada hari itu. Saya ingin berada bersama teman-teman dan keluarga. Saya ingin punya waktu. Saya ingin berbagi dari hati terdalam, dan mengetahui bahwa kami saling melihat dan saling mendengar serta menyatakan lewat kata-kata betapa kami berarti bagi satu sama lain. Betapa mengejutkannya melihat bahwa di balik segala kebisingan dan aktivitas “dewasa” saya, keinginan yang sederhana dan lembut itu terus teraduk. Dan itulah yang kami lakukan. Kami membatalkan pestanya dan sebagai gantinya saya memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu sepanjang hari secara pribadi dengan orang-orang yang paling berharga bagi saya: sarapan, makan siang, makan malam, dan semua waktu di selaselanya! Betapa indah hari itu—satu hari penuh akan kasih yang diberikan dan diterima. Lalu, ada saat-saat ketika saya sadar akan kehancuran saya dan suatu kerinduan akan perubahan mendasar yang nyata merintih di dalam diri saya. Dalam satu musim hidup saya, saya mengalami pengkhianatan yang begitu mendalam hingga untuk beberapa lama saya hampir tidak sanggup berhubungan dengan siapa pun di luar lingkaran paling intim saya, yaitu keluarga dan teman. Sementara saya mengalami perasaan marah dan dendam, sedih dan duka, ternyata ada kerinduan yang lebih mendalam—kerinduan untuk dipulihkan. Saya sadar bahwa saya telah berpaling ke dalam diri dan menutup hati. Ketidakpercayaan dan kecurigaan telah membuat saya berhati keras dan menarik diri dari pergaulan sosial. Saya mendapati diri saya sedang menangis dan meminta Tuhan untuk mengerjakan sesuatu di dalam saya yang tidak bisa saya kerjakan bagi diri saya sendiri. Sesuatu yang akan memampukan saya lagi, sekali lagi, untuk memberi diri kepada Allah dan kepada orang lain—sejenis kepercayaan yang saya kenal sebelum terjadinya pengkhianatan itu. Terlepas dari rasa pedih yang saya alami, saya tidak ingin hidup selamanya dalam keadaan keras hati dan rusak. Untuk pertama kalinya, doa si pemungut cukai—yang diucapkan oleh seseorang yang hancur hati di hari-hari Kristus di bumi—mulai terucap doa dengan sendirinya di dalam diri saya tanpa diminta: Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku orang ber-


K er i nd uan akan S es uat u yang L e b i h

| 21

dosa ini. Aku tahu bahwa segala hal yang perlu dibereskan dalam diriku, Tuhan akan membereskannya, karena aku tidak mampu membereskannya sendiri. MENAMAI HASRAT KITA DALAM HADIRAT KRISTUS

Kapankah terakhir kali Anda merasakannya—maksudnya, kerinduan Anda sendiri? Kerinduan Anda akan kasih, kerinduan Anda akan Allah, kerinduan Anda untuk menjalani hidup sebagaimana dimaksudkan untuk dihidupi di dalam Allah? Kapankah terakhir kalinya Anda merasakan kerinduan akan pemulihan dan perubahan mendasar yang merintih di dalam diri Anda? Jangan terburu-buru melewatkan pertanyaan ini; ini mungkin pertanyaan paling penting yang pernah Anda tanyakan. Tetapi, saya tahu ini sulit. Dalam lingkup kehidupan rohani, kita lebih terbiasa membungkam hasrat dan menjauhkan diri darinya, karena kita curiga dan takut pada kekuatannya. Bukankah ada sesuatu yang lebih baik yang bisa saya lakukan dengan waktu saya? Demikian kita bertanya kepada diri sendiri. Sesuatu yang kurang berbahaya dan lebih bisa dipastikan? Sesuatu yang tidak mementingkan diri sendiri dan lebih rohani? Selain itu, hasrat adalah sesuatu yang mudah berubah-ubah. Bukankah hasrat saya mengarah langsung pada dusta manusia dan dorongan dosa? Bagaimana jika hasrat itu menguasai saya dan mendorong saya ke jalan di mana saya tidak seharusnya berada? Lebih parah lagi, bagaimana jika saya memerhatikan kerinduan dan hasrat dalam diri saya, lalu membiarkan diri saya benar-benar menyelaminya, hanya untuk menemukan bahwa keinginan-keinginan itu tidak dapat dipenuhi? Lalu, apa yang akan saya lakukan? Bagaimana saya bisa hidup dengan hasrat yang terjaga dan hidup daripada hasrat yang tertidur dan ditekan? Ini adalah beberapa pertanyaan terdalam dari jiwa manusia dan pertanyaan-pertanyaan ini menolak segala jawaban yang terlalu menyederhanakan. Di tengah-tengah rasa tidak nyaman saya sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan tajam seperti itu, saya mendapati secara mengejutkan sekaligus meneguhkan. Ketika kita masuk ke dalam cerita Alkitab dan me-


22 | S AC R E D R H Y T H M S

nemukan bahwa Yesus sendiri secara rutin mengajukan pertanyaan kepada orang-orang di mana pertanyaan tersebut akan menolong mereka untuk berhubungan dengan hasrat mereka dan menamai hasrat itu di hadapanNya. Dia sering mencetuskan fokus dan kejelasan dalam interaksinya dengan orang-orang yang lapar rohani dengan bertanya kepada mereka, “Apa yang kau inginkan? Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Pertanyaan semacam itu memiliki kuasa untuk menarik refleksi yang sangat jujur dan men​​dalam dari orang-orang yang mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut, serta membuka jalan bagi Kristus untuk memimpin mereka ke tingkat kebenaran rohani dan pemulihan yang lebih dalam. Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan Bartimeus yang buta di jalanan kota Yeriko, misalnya, pertanyaan tentang kerinduan menjadi titik pusatnya. Kita tidak tahu berapa lama Bartimeus sudah menghabiskan hari-harinya mengemis di pinggir jalan, tetapi pada hari itu Bartimeus mendengar bahwa Yesus lewat dan dia merasakan adanya kemungkinan pembaruan rohani yang baru. Mungkin Yesus dapat berbuat sesuatu baginya yang tidak bisa diperbuat orang lain. Mungkin Yesus bisa melakukan apa yang ia sudah harapkan dan mimpikan sekian lama. Tapi, pada hari itu kota begitu bising dan ramai. Pasti akan sulit untuk mendapatkan perhatian siapa pun, apalagi Orang sesibuk dan sepenting Guru muda yang sedang populer ini yang tampaknya selalu dikelilingi oleh murid-murid dan para penanya. Untuk mendapatkan perhatian Yesus dari segala hiruk-pikuk kerumunan, Bartimeus harus menjangkau jauh ke dalam, menjamah tempat kebutuhan dan hasrat terdalam manusia, lalu menjerit dari tempat itu. “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Dan Yesus mendengarnya pada hari itu, lebih dari semua suara lain yang juga berteriak-teriak demi mendapatkan perhatian-Nya. Kejujuran, keputusasaan, dan kemanusiawian dari jeritan itu benar-benar merebut perhatian. Orang-orang di sekelilingnya malu oleh ekspresi jujur akan kebutuhan semacam itu dan berusaha membungkamnya, tetapi tangisan jiwa Bartimaeus begitu menarik perhatian Yesus sampai-sampai menghentikan-Nya di tengah jalan. Dia berhenti di tengah jalan dan memanggil Bartimeus. Saat mereka berdiri berhadapan, Yesus mengajukan perta-


K er i nd uan akan S es uat u yang L e b i h

| 23

nyaan yang meminta Bartimeus untuk menamai keinginannya: “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Sekarang, seandainya saya ada di posisi Bartimaeus, saya mungkin tidak sabar dengan pertanyaan yang jawabannya begitu jelas. “Apa maksud-Mu, ‘Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Bukankah sudah jelas? Selain itu, ini mulai terdengar agak pribadi, bukan? Kita belum seakrab itu!” Tetapi di tingkat berbeda, tingkat di mana perjalanan rohani sedang tersingkap, itu adalah pertanyaan yang menembus ke inti keberadaan kita. Dan itu memang sangat, sangat pribadi. Pertanyaan itu membawa kita berhadapan muka dengan muka dengan sisi manusiawi kita, kerentanan kita, dan kebutuhan kita. Jika kita mengizinkannya, pertanyaan itu akan menelanjangi lapisan kepura-puraan dan kedangkalan kita demi mengungkap apa yang paling sejati di dalam diri kita. Dan itu adalah tempat yang sangat lembut. Hasrat Anda untuk lebih lagi menikmati Allah daripada saat ini, kerinduan Anda akan kasih, kebutuhan Anda akan tingkat transformasi rohani yang lebih dalam daripada yang Anda alami sejauh ini adalah hal yang paling sejati tentang Anda. Anda mungkin berpikir bahwa luka atau dosa Anda adalah hal paling sejati tentang diri Anda. Atau mungkin berpikir bahwa bakat Anda, tipe kepribadian Anda, jabatan karir Anda, identitas Anda sebagai suami atau istri, ibu atau ayah, entah bagaimana, mendefinisikan diri Anda. Namun dalam kenyataannya, hasrat Anda akan Allah dan kapasitas Anda untuk menjangkau lebih lagi Allah daripada yang ada saat inilah yang merupakan esensi terdalam diri Anda. Ada sebuah tempat di dalam setiap kita yang hakikatnya bersifat rohani, tempat di mana Roh Allah dan roh kita menyaksikan tentang identitas paling sejati dari diri kita. Di sinilah Roh Allah tinggal bersama roh kita dan di sinilah hasrat paling sejati kita dikenali. Dari tempat inilah kita berseru kepada Allah akan persekutuan yang lebih mendalam dengan Dia dan orang lain. HASRAT MANUSIA SEBAGAI AWAL PERJALANAN ROHANI

Ketika kita memerhatikan kerinduan kita dan mengizinkan pertanyaan-per-


24 | S AC R E D R H Y T H M S

tanyaan tentang kerinduan kita mengupas lapisan luar definisi diri kita, kita memasuki dinamika terdalam kehidupan rohani. Proses teradukaduknya hasrat rohani menunjukkan bahwa Roh Allah telah bekerja di dalam kita, yang menarik kita kepada-Nya. Kita mengasihi Allah karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita merindukan Allah karena Ia terlebih dahulu merindukan kita. Kita menjangkau Allah karena Ia terlebih dahulu menjangkau kita. Tidak ada apa pun dalam kehidupan rohani yang berasal dari diri kita. Semuanya berasal dari Allah. Jadi, kehidupan rohani berawal dari tempat yang paling tidak disangka-sangka ini. Kehidupan rohani dimulai dengan kerinduan yang mengaduk-aduk di dalam batin kita, di lapisan bawah kebisingan, aktivitas, dan dorongan kehidupan kita. Tetapi tidaklah selalu nyaman untuk mengakui kerinduan semacam itu. Dan arah ke mana pengakuan semacam itu akan membawa kita, adalah berbeda-beda bagi setiap orang. Ketika Yakobus dan Yohanes (dan kemudian ibu mereka) menjawab pertanyaan Yesus tentang keinginan mereka supaya mereka diberi posisi penting di Kerajaan-Nya—yang seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang lagi di sebelah kiri-Nya—jawaban itu mengemukakan ambisi palsu yang merusak mereka dan komunitas para murid. Demikian pula, ada hasrat dalam diri kita yang berlawanan dengan kehidupan Roh di dalam diri kita—hasrat-hasrat yang berakar pada ambisi egois, kesombongan, nafsu, rasa takut, pengasingan diri, dan banyak lagi motif yang tak terdeteksi. Hasrat-hasrat ini mengintai di dalam setiap diri kita dan itulah alasan mengapa memberi perhatian terhadap hasrat rasanya seperti membuka kotak Pandora. Tetapi adalah lebih berisiko untuk menolak mengakui apa yang nyata terjadi di dalam batin kita. Karena entah kita mengakuinya atau tidak, dinamika ini sedang bekerja memegang kendali bawah sadar kita. Semakin lama kita membungkamnya, kekuatannya justru bertambah kuat. Betapa jauh lebih aman bagi kita dan semua orang di sekitar kita, jika kita membuka hasrat-hasrat kita di hadapan Yesus dan membiarkan-Nya menolong kita untuk memilah-milahnya. Sebagaimana demikian mengganggu karena dipaparkan dengan cara semacam ini, terkadang justru inilah yang kita butuhkan. Sehingga Yesus


K er i nd uan akan S es uat u yang L e b i h

| 25

dapat dengan lembut menanggalkan apa yang salah dan apa yang merusak di dalam hasrat kita dan mengobarkan hasrat-hasrat yang baik dan benar. Dengan mendengarkan respons Yesus pada Yakobus dan Yohanes, Anda dapat merasakan belas kasih dan cinta-Nya bagi mereka. “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (Mat. 20:22). Kemampuan para murid untuk menjadi jujur seperti ini ​​terhadap Yesus mengenai dinamika batin yang teraduk dalam diri mereka adalah jenis keintiman baru yang membuka jalan bagiNya untuk memulai proses mengarahkan ke dalam kebenaran dari apa yang tidak benar dalam diri mereka. Seseorang bisa melihat bahwa komentar dan pertanyaan tajam seperti itu mulai melepaskan murid-murid dari keinginan yang tidak sejati. Jika mereka tidak pernah jujur ​​dengan Yesus tentang apa yang terjadi di dalam batin, hasrat-hasrat mereka yang gelap akan bekerja di bawah tanah dan mungkin akan menghancurkan hubungan mereka dengan murid-murid lain serta pelayanan mereka. Membuka hasrat kita di hadapan Allah—bahkan ketika kita tidak yakin mana yang benar dan mana yang salah—adalah menghinakan diri, tetapi hal itu akan memberi Allah kesempatan untuk menolong kita memilah semuanya itu. Ada kemungkinan lain. Terkadang, ketika membuka hasrat kita di hadapan Kristus, kita mendapati bahwa diri kita perlu membedakan yang mana bagian kita dan yang mana bagian Allah dalam proses menjalani hidup sesuai dengan hasrat terdalam hati kita. Ketika Yesus bertemu dengan orang lumpuh di Kolam Betesda, pertanyaan-Nya tentang hasrat manusia bahkan lebih runcing. Ia bertanya dalam Yohanes 5:6: “Maukah engkau sembuh?” Dengan kata lain, Seberapa besar kau menginginkannya? Apakah kau begitu menginginkannya sehingga bersedia melakukan sesuatu untuk memperolehnya? SEBERAPA BESAR KAU MENGINGINKANNYA?

Saya telah menghabiskan banyak waktu di pinggir lapangan sepak bola anak-anak dan menyaksikan segala macam kejengkelan para orang tua. Tetapi, begitu seringnya sekelumit kebenaran menampakkan diri di tempat


26 | S AC R E D R H Y T H M S

tak terduga ini. Suatu hari, seorang ayah yang sombong berteriak pada dua anak perempuan kelas empat sekolah dasar yang sedang berebut bola demi tim mereka. Dalam upayanya untuk memotivasi, ia berteriak (di antara berbagai hal lain yang ia lakukan), “Seberapa besar kau menginginkan bolanya? Kau harus benar-benar menginginkannya!” Meskipun saya merasa terganggu dengan emosi tak terkendali dari seorang dewasa dalam permainan anak-anak, saya terpana oleh kebenaran yang terkandung dalam pernyataannya. Kedalaman dari sebuah hasrat berhubungan erat dengan hasil yang kita peroleh dalam hidup. Seringkali, orang-orang yang meraih apa yang mereka inginkan dalam hidup bukanlah mereka yang paling berbakat, paling pandai, atau yang memiliki peluang paling besar. Seringkali, yang berhasil adalah mereka yang paling merasakan sebesar apa mereka menginginkan apa pun yang mereka inginkan; mereka adalah orang-orang yang secara konsisten menolak untuk dihalangi oleh rintangan-rintangan, di mana banyak dari kita mengizinkannya untuk menjadi alasan. Orang lumpuh itu punya banyak alasan: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, Semakin autentik hasrat-hasrat kita, orang lain sudah turun mendahului semakin mereka menyentuh identitas aku.” Kata Yesus kepadanya: “Bakita dan juga realitas Allah di jantung ngunlah, angkatlah tilammu dan keberadaan kita. Hasrat paling berjalanlah.” (Yoh. 5:7,8). Kemuautentik kita bersumber dari sumur dian orang lumpuh itu menjangkau batin terdalam di mana kerinduan ke dalam dirinya di mana hasrat dan akan Allah mengalir dengan bebas. iman yang mendalam berada, lalu PHILLIP SHELDRAKE, BEFRIENDING melakukan apa yang diperintahkan OUR DESIRES kepadanya. Dan kebersediaannya untuk mengikuti hasrat hatinya membuka jalan baginya untuk mengalami kuasa penyembuhan Yesus. Interaksi Yesus dengan orang-orang yang berelasi dengan-Nya selama keberadaan-Nya di bumi, menjelaskan bahwa hasrat dan kemauan untuk menamai hasrat itu di hadapan Kristus adalah unsur pencetus kehidupan


K er i nd uan akan S es uat u yang L e b i h

| 27

rohani. Ini adalah salah satu motivator terkuat bagi hidup yang konsisten dijalani secara sadar dan terfokus. Lebih dari itu, kemauan untuk membuka wilayah yang lembut dan terkadang bergejolak ini di hadapan Kristus adalah bagian dari keintiman yang kita cari. Hal ini menciptakan kemungkinan bagi Kristus untuk berada bersama-sama kita dengan cara yang memenuhi kebutuhan paling sejati kita. Hal ini memampukan kita untuk bangkit dari tempat kita di pinggir jalan, menjadi berada tepat di jalan menuju transformasi rohani dan mengikuti Kristus. PRAKTIK

Duduklah dalam posisi nyaman yang memungkinkan Anda tetap terjaga. Tariklah napas dalam-dalam pada saat ini sebagai cara melepaskan ketegangan yang mungkin menggenggam Anda dan sadarilah kehadiran Allah, yang lebih dekat daripada napas Anda sendiri. Izinkan diri Anda menikmati kehadiran Allah dalam keheningan selama beberapa saat. Ketika Anda merasa siap, bayangkan diri Anda berada dalam kisah Bartimeus seperti yang ada di Markus 10:46-52 atau bayangkan diri Anda berada di wilayah kebutuhan Anda sendiri. Bacalah cerita itu perlahan-lahan, sambil melihat diri Anda sebagai orang yang membutuhkan sesuatu dari Kristus dan berteriak memanggil-Nya dari kerumunan yang ramai. Bagaimana Anda mendekati-Nya atau berupaya mendapatkan perhatianNya? Kata-kata apa yang Anda gunakan? Emosi apa yang Anda rasakan? Bayangkan bahwa dalam menanggapi seruan Anda, Yesus berpaling kepada Anda. Sekarang Anda saling berhadapan satu sama lain. Biarkan diri Anda menyadari sepenuhnya bahwa Anda mendapatkan perhatian sempurna dari Yesus (karena Anda memang mendapatkannya!) dan mendengar pertanyaan-Nya tertuju kepada Anda: “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?� Jangan takut akan adanya emosi; penting bagi Anda membiarkan diri merasakan seberapa dalam kerinduan Anda. Anda mungkin perlu duduk merenungkan pertanyaan itu dan respons Anda selama beberapa saat sebelum Anda sepenuhnya berhubungan dengan hasrat hati Anda atau sepenuhnya sanggup mengungkapkannya. Ulangi pertanyaan ini dan


28 | S AC R E D R H Y T H M S

jawabannya selama waktu yang Anda butuhkan. Anda mungkin ingin pergi berjalan-jalan dulu dengan pertanyaan ini, rebahan di atas rumput dan merasakan kehangatan matahari, meringkuk di bawah selimut, mencatat tanggapan Anda dalam jurnal, atau terlibat penuh dalam tulismenulis ataupun melakukan ekspresi artistik. Jika Anda memilih mencatatnya ke dalam jurnal, mungkin membantu kalau memulai dengan pernyataan “Tuhan, yang paling aku butuhkan/ inginkan dari-Mu saat ini adalah…”dan biarkan pikiran Anda mengalir. Dengarkan respons Kristus. Jangan merasa seolah-olah Anda harus melakukan sesuatu; cukuplah menikmati keintiman dan kekayaan yang menghampiri, ketika kita mampu menjadi “apa adanya” di hadapan Allah.



Sacred Rhythms - Irama Kudus : Mengarahkan Hidup Kita Bagi Transformasi Rohani