Issuu on Google+


Pujian untuk Gods at War Kyle Idleman mengerti di mana posisi kita berada dan di mana kita dapat hidup dalam pertolongan Allah. Tulisan Kyle begitu mendalam sekaligus praktis. Dia berkomitmen untuk menolong kita dalam melangkah di jalan yang benar. Jika Anda membutuhkan sebuah pertolongan dalam perjalanan Anda, dia akan mengarahkan Anda ke sosok Pribadi yang sangat tepat. Max Lucado, pendeta dari Oak Hills Church dan penulis buku laris Berhala itu licik. Tidaklah selalu mudah untuk mengidentifikasi siapa atau apa yang kita tempatkan lebih utama daripada Tuhan. Tetapi, kita masih saja melakukannya setiap hari. Gods at War akan menolong Anda untuk menghancurkan berhala-berhala yang merampok Anda dari hidup yang Allah ingin Anda jalani. Craig Groeschel, pendeta senior dari LifeChurch.tv Jangan hanya melihat buku ini—tetapi bacalah sekarang juga! Katakata Kyle akan menggali dalam-dalam untuk menyingkapkan ilahilah palsu yang menjauhkan kita dari Allah yang sejati. Di setiap halaman, ada pembebasan yang dinantikan. Lee Strobel, penulis buku laris versi New York Times Kyle akan menantang bahkan orang-orang Kristen yang paling taat untuk memeriksa kembali hubungan pribadi mereka dengan Kristus. Mike Huckabee, mantan gubenur dari Arkansas Ilah-ilah zaman sekarang jauh lebih memikat daripada sebelumnya, karena mereka menawarkan rasa nyaman, kekayaan, dan kebahagiaan. Kyle Idleman memperlengkapi kita untuk mampu membunuh hama pendusta yang menggoda hati. Bersiap-siaplah untuk berperang. Mark Batterson, pendeta utama dari Gereja National Community di Washington, DC


Kyle Idleman lebih mirip dengan seorang ahli bedah jantung daripada seorang pengarang buku. Ia menyelidiki apa yang ada di dalam diri kita dan menawarkan nasihat praktis serta alkitabiah yang dapat mentransformasi cara kita menghadapi peperangan iman dalam hidup sehari-hari. Dave Stone, pendeta senior dari Gereja Southeast Christian Kyle Idleman memangkas habis semua omong kosong dan membawa kita langsung kepada apa yang paling penting secara spiritual. Dalam Gods at War, ia tidak saja menggambarkan apa saja hal yang kita tempatkan lebih utama daripada Tuhan, tetapi bagaimana kita bisa menempatkan Tuhan kembali sebagai yang utama. Karya yang membangkitkan dan menginsyafkan ini memiliki pesan sangat penting bagi zaman kita. Jud Wilhite, pendeta senior dari Gereja Central Christian di Las Vegas Ambillah buku ini hanya jika Anda sudah merasa letih dengan kekalahan terus-menerus dalam pertempuran iman, jika Anda sudah jemu dengan perban, dan jika Anda sudah siap untuk menerima kemenangan yang sejati. Anda tidak akan menyelesaikan buku ini dan tetap menjadi orang yang sama. Ann Voskamp, penulis One Thousand Gifts


Pujian untuk Not a Fan Meskipun pesan dari penulis merupakan tantangan langsung bagi para pembaca, Idleman tetap memberi humor dan bukan dengan gaya bertutur yang menghakimi dan menyalahkan. Ia mengambil tema lama dan mengemas ulang dengan kebijaksanaan alami serta relevan dengan abad kedua puluh satu. Inti dari pesan yang jelas ini bisa lenyap kalau sekadar menjadi satu lagi slogan yang tertempel di kaos. Tetapi, jika para pembaca terkait erat dengan inti pesan ini sampai kepada maknanya yang lebih dalam, mereka akan sanggup mengevaluasi ulang segala sesuatu, dari kehidupan karir sampai relasi mereka. Sebuah bacaan yang menyegarkan untuk mengisi kembali energi orang-orang Kristen yang apatis. Publishers Weekly Not a Fan menyatakan sebuah pesan alkitabiah yang esensial bagi semua orang yang hidup dalam budaya yang dipenuhi gerombolan fans dan kekurangan komitmen sejati. Relevant Magazine Not a Fan melakukan pekerjaan hebat dalam menjelaskan secara tepat apa yang dimaksud dengan membayar harga dalam mengikuti Yesus. Perbincangan tentang ketaatan yang sungguh-sungguh kepada Kristus sebagai harga yang harus dibayar ini disajikan dengan cara yang langsung sekaligus jujur. Christian Book Previews Not a Fan adalah sebuah buku yang harus dibaca oleh orang Kristen dan secara rutin dibaca kembali. Ketika membaca naskah ini, saya tidak dapat berhenti membacanya terus hingga selesai. Ini adalah pesan yang paling TERKINI untuk gereja di zaman ini dan harapan saya adalah setiap orang percaya yang membaca buku ini akan menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati. Christine Caine, pendiri dari the A21 Campaign


L iteratur P erkantas J awa T imur


G od s a t Wa r ( Ilah -I l a h D a l a m Pe p e r a nga n) Mengalahkan Berhala-Berhala Yang Ingin Merebut Hati Anda oleh Kyle Idleman

Copyright Š 2013 by City on a Hill Studio, LLC Originally published in the U.S.A. under the title: Gods at War Published by arrangement with Thomas Nelson, a division of HarperCollins Christian Publishing, Inc All rights reserved Alih Bahasa: Paksi Ekanto Putro Editor: Milhan K. Santoso, Bayu Pandu Purwadianto Penata Letak: Milhan K. Santoso Desain Sampul:Vici Arif Wicaksono Hak cipta terjemahan Indonesia: Literatur Perkantas Jawa Timur Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Telp. (031) 8413047, 8435582; Faks. (031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jatim adalah sebuah divisi pelayanan literatur di bawah naungan Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) Jawa Timur. Perkantas Jawa Timur adalah sebuah kegerakan yang melayani siswa, mahasiswa, dan alumni di sekolah dan universitas di Jawa Timur. Perkantas Jatim adalah bagian dari Perkantas Indonesia. Perkantas sendiri adalah anggota dari pergerakan International Fellowship of Evangelical Students (IFES). Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan yang ada secara lokal maupun regional di Jawa Timur dapat menghubungi melalui e-mail: pktas.jatim@gmail.com, atau mengunjungi Website Perkantas Jatim di www.perkantasjatim.org

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) ISBN: 978-602-1302-00-2 Cetakan Pertama: Januari 2014

Hak cipta di tangan penerbit. Seluruh atau sebagian dari isi buku ini tidak boleh diperbanyak, disimpan dalam bentuk yang dapat dikutip, atau ditransmisi dalam bentuk apa pun seperti elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman, dlsb. tanpa izin dari penerbit.


Untuk istri saya, DesiRae: Pemberian yang sedemikian indah yang membuat hati saya mengasihi Sang Pemberi lebih lagi Untuk Rob Suggs: Bakat Anda hanya mampu disamai oleh kerendahan hati dan belas kasih Anda. Terima kasih untuk segala kontribusi dan kemitraan Anda yang tak ternilai dalam menulis buku ini. Soli Deo Gloria


daftar isi

kata pengantar........................................................................................................... 11 bagian 1: ilah-ilah dalam peperangan bab 1 penyembahan berhala adalah persoalan utama...............19 bab 2 medan perang para allah............................................................35 bab 3 allah yang cemburu........................................................................49 bab 4 memanggil semua allah...............................................................63 bagian 2: bait kesenangan duniawi bab 5 allah makanan.................................................................................91 bab 6 allah seks...........................................................................................109 bab 7 allah hiburan....................................................................................129 bagian 3: bait kekuasaan bab 8 allah kesuksesan............................................................................147 bab 9 allah uang..........................................................................................169 bab 10 allah prestasi...................................................................................189 bagian 4: bait cinta bab 11 allah cinta romantis.......................................................................213 bab 12 allah keluarga..................................................................................233 bab 13 allah keakuan...................................................................................257 catatan-catatan.......................................................................................................... 271


kata pengantar

Ini adalah percakapan biasa dengan putri saya yang berumur delapan tahun, Morgan, sebelum beranjak tidur. Tetapi, percakapan itu mengubah hidup dan gereja saya. Saya sedang duduk di ranjangnya untuk doa bersama sebelum tidur. Tetapi, ia punya kejutan buat saya sebelum kami berdoa. Ia sudah meluangkan waktu untuk menghafal ayat dan ia ingin membacakannya bagi saya. “Ayah,” katanya, “apakah Ayah mau mendengarku menghafalkan Sepuluh Perintah Allah?” “Kau menghafalkan semuanya?” Seulas senyum bangga mengembang di wajahnya. “Wow,” kata saya sambil tersenyum. “Biar Ayah dengar.” Saya berbaring mendekatinya dan mendengarkan, sementara Morgan berjuang mengucapkan kesepuluh perintah sampai selesai, yaitu perintah Allah di atas loh batu yang dicatat dalam Keluaran 20. Ia melakukan hal itu dengan cara menyanyikannya dalam sebuah lagu: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku... Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun...” Dan seterusnya, sampai habis. Setelah ia selesai, insting mengajar saya muncul. Saya berkata, “Morgan, itu luar biasa! Sekarang, biar ayah bertanya, apakah kamu pernah melanggar salah satu dari perintah itu?” Ia tersenyum lagi. Kali ini bukanlah senyum malu-malu karena


12

g o d s at wa r

merasa bersalah. Lebih seperti senyum yang saya berikan pada istri ketika ia bertanya tentang asinan semangka yang seharusnya ada di kotak makan anak-anak. Saya bisa lihat betapa Morgan memikirkan sebuah jawaban yang jujur tanpa mengundang tuduhan terhadap dirinya. Saya memutuskan untuk membantu. “Hm, begini,” kata saya, sambil menggosok-gosok dagu. “Apakah kamu pernah berbohong?” Ia mengangguk perlahan. “Apakah kamu pernah sangat mengingini kepunyaan orang lain sampai-sampai kamu berharap orang itu seharusnya tidak usah memilikinya?” Ia mengangguk, terlihat memahami bahwa ia sudah berdosa karena iri hati. Saya terus mendesak. “Ayah tahu kamu tidak pernah membunuh siapa pun, Morgan. Tetapi, apakah kamu pernah merasa sangat, sangat marah pada seseorang di dalam hatimu? Sebegitu marahnya sampai-sampai—pada saat itu—kamu membenci orang itu?” “Morgan, apakah kamu pernah, mungkin... ah, seperti... tidak menghormati ayah atau ibumu?” Kami berdua tahu jawabannya. Semua ini tidak berjalan sebagaimana yang ia kehendaki pada mulanya. Tetapi, yah, itulah yang terjadi kalau Anda terjebak dengan seorang pendeta yang kebetulan adalah ayah Anda. Ia menghela napas, yang segera saya sadari. Itu adalah respons yang sama yang saya terima dari seseorang ketika ia tidak lagi berminat pada khotbah saya. Bagi saya, itu tandanya saya harus berhenti berkhotbah dan mulai menawarkan ajakan. Sebelum saya punya kesempatan, mata Morgan menyala terang dan ia berkata, “Ayah, aku tahu satu perintah yang tidak pernah kulanggar! Aku tidak pernah membuat patung berhala.” Betapa saya benar-benar, maksud saya benar-benar, ingin menanggapi hal itu! Saya ingin memberitahu putri saya, bahwa yang terjadi justru kebalikannya. Itu adalah satu perintah yang paling sering kita semua langgar. Saya ingin memberitahu putri saya apa yang pernah dikatakan


Kata Pengantar

13

Martin Luther—bahwa Anda tidak akan pernah bisa melanggar sembilan perintah lainnya tanpa terlebih dulu melanggar perintah yang pertama. Tetapi, ketika saya mendekati putri kecil saya, saya putuskan bahwa yang terbaik adalah menyimpan pelajaran teologi itu untuk keesokan harinya. Kami berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah mengutus Yesus untuk memikul semua dosa dan rasa bersalah kami. Saat saya pergi, saya memberinya senyuman dan sebuah ciuman di dahi, lalu berkata betapa saya bangga padanya karena berhasil menghafal Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, sementara saya berjalan menuruni tangga, saya bertanya-tanya betapa banyak orang yang melihat persoalan penyembahan berhala ini tepat seperti cara Morgan memandangnya. Mungkin mereka menganggap Sepuluh Perintah Allah sebagai salah satu daftar periksa. Seperti aturan yang tertempel di kolam renang umum— dilarang berlari-lari di pinggir kolam renang, dilarang menyelam di tempat-tempat yang dangkal, atau dilarang buang air kecil di dalam kolam. Sebuah daftar peraturan yang panjang. Dan bagian tentang penyembahan berhala biasanya dilewati dengan cepat, karena mereka pikir mereka sudah tahu intinya. Selain itu, seluruh persoalan penyembahan berhala kelihatan seperti persoalan yang sudah kuno. Perintah itu untuk masa lalu, bukan masa kini. Benar, bukan? Demikian juga dengan ribuan lebih referensi mengenai penyembahan berhala di dalam Alkitab, bukankah semua itu sudah kadaluwarsa? Kita sudah tidak melihat lagi ada orang yang berlutut di depan patung emas atau bersujud menyembah sebuah gambar. Bukankah penyembahan berhala sudah ketinggalan zaman, seperti halnya disket, televisi monokrom, dan mesin ketik? Bukankah kita sudah meninggalkannya? Penyembahan berhala terlihat begitu primitif. Begitu tidak relevan lagi untuk dibicarakan pada masa ini. Apakah buku mengenai penyembahan berhala masih diperlukan? Mengapa tidak sekalian saja membuat buku tentang tarian pengundang hujan atau tukang sihir? Padahal, penyembahan berhala adalah persoalan utama dalam Alkitab dan hal itu saja seharusnya sudah membangkitkan kewaspadaan


14

g o d s at wa r

kita. Penyembahan berhala tercatat di semua kitab. Lebih dari lima puluh hukum dalam lima kitab pertama ditujukan bagi persoalan ini. Dalam budaya Yudaisme, penyembahan berhala adalah salah satu dari lima dosa yang dijatuhi hukuman mati. Meninjau iman dan hidup saya melalui kacamata penyembahan berhala telah membangun kembali hubungan saya dengan Tuhan dari bawah ke atas. Saat kami membahas lebih banyak lagi tentang hal ini, banyak orang di gereja kami pun menyatakan hal yang sama. Memahami pentingnya persoalan ini menjadi pemicu perubahan besar. Saat kita melihat hidup melalui kacamata ini, menjadi jelas bahwa ada sebuah pertempuran yang sedang berkecamuk. Para ilah sedang berperang dan kekuatan mereka tidak boleh diremehkan. Ilah-ilah ini berperang demi merebut takhta di hati Anda dan ada banyak hal yang sedang dipertaruhkan. Segala sesuatu tentang diri saya, segalanya yang saya lakukan, semua hubungan yang saya bangun, semua hal yang saya harapkan atau impikan atau bahkan inginkan untuk terjadi, bergantung dari ilah mana yang memenangkan pertempuran. Perang yang paling mematikan adalah perang yang tidak pernah kita sadari keberadaannya. Saya bisa paham kalau putri kecil saya yang berumur delapan tahun belum memahami makna perintah itu, tetapi masalahnya adalah ternyata kebanyakan orang dewasa pun tidak memahaminya juga. Saya bertanya-tanya berapa banyak dari kita yang melakukan apa yang Morgan lakukan, yaitu percaya bahwa mereka bisa mencentang perintah mana yang tidak mereka langgar tetapi selamanya menganggap remeh larangan tentang penyembahan berhala. Bagaimana kalau semua ini bukan tentang menyembah patung? Bagaimana kalau ilah-ilah zaman sekarang bukanlah dewa-dewi kosmis yang memiliki nama-nama aneh? Bagaimana kalau mereka sudah mengambil bentuk dan identitas yang begitu wajar, sehingga kita bahkan tidak mampu lagi mengenali mereka sebagai ilah-ilah asing? Bagaimana kalau ternyata kita sudah “berlutut� dan “menyembah� ilah-ilah itu dengan imajinasi, uang, search engine internet, serta jadwal-jadwal kita?


Kata Pengantar

15

Bagaimana kalau saya memberitahu Anda bahwa setiap dosa yang sedang Anda gumuli, setiap keputusasaan yang sedang mendera Anda, bahkan setiap momentum hidup tanpa arah tujuan yang sedang Anda jalani disebabkan oleh penyembahan berhala?


bagi an 1

ilah-ilah dalam peperangan


bab 1

penyembahan berhala adalah persoalan utama Penyembahan berhala adalah masalah serius dalam Alkitab, masalah yang dominan dalam kehidupan pribadi kita, dan tidak relevan bagi perkiraan kita yang keliru. — Os Guinness

Bayangkan seorang lelaki yang menderita batuk berkepanjangan. Penyakit batuk ini membuatnya terjaga di tengah malam dan menginterupsinya saat melakukan percakapan apa pun, setidaknya selama lebih dari satu atau dua menit. Batuknya tak kenal henti sehingga dia pergi ke dokter. Sang dokter melakukan pemeriksaan. Hasilnya, kanker paru-paru. Sekarang, bayangkan sang dokter sadar betapa beratnya menyampaikan berita ini bagi lelaki itu. Jadi, dokter itu tidak memberitahu si pasien tentang penyakit kankernya. Bukannya memberitahu si pasien, sang dokter justru memberikan resep beberapa obat batuk berdosis tinggi dan berkata kepada si pasien bahwa ia pasti akan sembuh dengan cepat. Lelaki itu gembira mendengar hasil pemeriksaan itu. Dan, tentu saja, lelaki itu tidur lebih nyenyak malam itu. Obat batuk sirup itu jelas telah menyelesaikan masalahnya. Padahal, sementara itu, perlahan-lahan kanker sedang menggerogoti tubuhnya. Sebagai seorang guru dan pemimpin gereja, saya berbicara dengan banyak orang setiap minggu yang menderita batuk.


20

g o d s at wa r

Sakit hati. Stres. Pergumulan. Terbelit dusta. Terbelit hawa nafsu. Boros. Khawatir. Putus asa. Dalam permenungan. Menghindar. Mencari jawaban. Mereka datang kepada saya dan berbagi pergumulan-pergumulan mereka. Mereka menumpahkan frustrasi mereka. Mereka mengungkapkan keputusasaan mereka. Mereka membuka luka batin mereka. Mereka mengakui dosa-dosa mereka. Ketika saya berbicara dengan orang-orang tersebut, mereka menunjukkan kepada saya apa yang menurut mereka adalah masalahnya. Mereka berpikir, mereka sudah memahami akar masalahnya. Tetapi batuk mereka tidak kunjung sembuh. Tetapi, inilah yang saya dapati: orang-orang itu sedang berbicara tentang gejalanya, bukannya penyakit yang sebenarnya—masalah sesungguhnya—yang adalah selalu tentang penyembahan berhala. STUDI KASUS 1: Ini Bukan Masalah Uang Ketika saya tiba di kantor, saya melihat bahwa orang itu sudah ada di sana, duduk di luar kantor saya. Saya menebak, dia pasti sudah ada di sana selama lima belas menit. Saya memandang orang itu sebagai jenis orang yang tidak pernah terlambat seumur hidupnya. Orang itu mengenakan pakaian dan sepatu yang harganya di luar jangkauan saya. Bagi saya, tampaknya sayalah yang justru harus menunggunya, mungkin untuk memperoleh nasihat bisnis tingkat tinggi. Saya tersenyum pada diri sendiri mengetahui bahwa dia


penyembahan berhala adalah persoalan utama

21

mungkin sedang memikirkan hal yang sama. Tetap saja, ada sesuatu dari diri orang tersebut yang terlihat tidak pas dengan penampilannya yang rapi. Hal apa yang janggal pada dirinya? Itu dia. Matanya. Ada kekhawatiran tersembunyi di kedua matanya. Itu bukan sorot mata penuh percaya diri dari seseorang yang sukses dalam bisnis. Saya mempersilakan dia masuk dan duduk. Ia tidak berbasa-basi dan langsung berbicara pada intinya. Mudah sekali memahami bahwa dia bukan jenis orang yang terbiasa berbicara langsung, tanpa basa-basi. “Saya mengkhawatirkan keluarga saya,” ia berkata dengan helaan yang berat. “Tentang keluarga Anda? Apakah itu alasan mengapa Anda datang kemari?” “Hmm, bukan. Tentu saja, ini sebenarnya tentang diri saya sendiri. Saya mengkhawatirkan tentang apa yang mungkin sudah saya perbuat kepada mereka. Masa depan mereka. Nama baik kami.” Ia menceritakan kisah yang pendek dan tidak manis. Pihak IRS (biro pajak Amerika Serikat) mendapati orang itu menggelapkan pajak, dalam jumlah besar. Saya tidak yakin apa yang harus saya katakan padanya. Tampaknya dia mengerti betapa serius persoalan ini. Tentu saja, saya tidak memberi orang ini nasihat hukum. Tetapi, saya bisa mengerti bahwa ini bukan saja tentang fakta bahwa orang itu terperangkap dalam masalah hukum; ini lebih mengarah bahwa orang itu memerlukan pijakan tentang apa yang sudah ia perbuat. Kami duduk tanpa berbicara selama beberapa saat. Akhirnya, dia menatap saya dan berkata, “Hal yang terus-menerus saya pikirkan—dan saya tidak mengerti jawabannya—adalah mengapa semua ini terjadi.” “Maksud Anda, selain masalah keuangan?” Ia tertawa sinis. “Masalah keuangan? Kyle, saya tidak butuh uangnya. Saya tidak butuh uang itu sekeping pun; saya lebih dari sekadar seorang miliarder. Saya bisa langsung pergi ke akuntan saya, melunasi pajak itu dengan segera, bahkan memberi lebih da-


22

g o d s at wa r

ripada itu, dan masih tetap bisa menjalani hidup dengan nyaman tanpa pernah merasakan perbedaan secuil pun. Dan seberapa pun jumlah yang saya tunggak dari pemerintah? Saya pasti akan sanggup membayarnya.” Saya tidak hidup dalam “dunia” semacam itu, tetapi saya tetap tersenyum dan mengangguk-angguk, berpura-pura paham. “Oke. Jadi, kalau masalahnya bukan tentang keuangan, lalu menurut ‘teori’ terbaik Anda, apa masalahnya?” Matanya bertemu dengan mata saya. Kemudian, ia menerawang jauh ke balik jendela. Matahari menyinari wajahnya dan saya bisa melihat berkas-berkas lembut air di kedua pelupuk matanya. “Itulah maksud saya, Kyle. Saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak mengerti. Ini sungguh-sungguh bodoh dan saya biasanya tidak melakukan tindakan bodoh. Saya tidak membuat keputusan bodoh tentang uang atau apa pun yang lainnya. Dan, dengar ini—” Ia menatap tajam pada saya. “Saya tahu saya orang berdosa. Saya tahu itu. Tak masalah bagi saya menyebut hal ini apa adanya: dosa. Dosa besar. Tetapi, mengapa dosa ini? Mengapa dosa yang tak perlu ini?” Kami membicarakannya. Kami berbicara tentang istrinya, keluarganya, latar belakang hidupnya, dan segala sesuatu yang telah memengaruhinya. Yang saya ingin untuk dia lihat adalah dosa tidak bermula dari ruang hampa. Dosa biasanya bermula dari bibit-bibit yang tertanam entah di suatu tempat. Kami perlu sedikit lagi menggali di bawah lapisan permukaan. “Anda bilang tadi bahwa uang bukanlah masalahnya,” kata saya. “Tetapi, uang, sebagai dasarnya, ternyata sangat penting bagi Anda. Apakah Anda setuju dengan hal itu?” “Tentu saja. Itu jelas.” “Cukup penting sampai-sampai Anda bisa menggambarkannya sebagai motivasi utama Anda, sebagai tujuan besar Anda?” Ia memikirkannya sejenak. “Yah. Sejujurnya demikian.” “Sebagai tuhan?” Untuk sesaat, ia tidak memahami pertanyaan saya. Kemudian, ia menghela nafas perlahan. Saya bisa melihat jawabannya tertulis dengan jelas di wajahnya.


penyembahan berhala adalah persoalan utama

23

“Tidak selalu seperti itu,” katanya. “Tidak, tidak pernah seperti itu, pada mulanya. Tujuan Anda bisa menjadi tuhan Anda. Anda mulai melayani tujuan itu, hidup baginya, dan berkorban untuknya. Pada awalnya, yang terjadi adalah uanglah yang melayani Anda. Tetapi, pada titik-titik tertentu, tidakkah Anda berpikir bahwa kemudian Anda bertukar peran?” “Saya tidak pernah memikirkannya dengan cara demikian.” STUDI KASUS 2: Bukan Masalah Penting Dia adalah seorang perempuan muda yang bertumbuh di gereja kami. Keluarganya ingin saya bertemu dan berbicara dengannya. Mereka cemas, karena perempuan itu akan pindah dan tinggal bersama pacarnya, yang bukan seorang Kristen. Ini pasti menyenangkan. Saya meneleponnya dua kali dan meninggalkan pesan, tapi dia tidak membalas telepon saya. Tiga kali saya menelepon, ia mengangkatnya. Ia tahu mengapa saya meneleponnya dan bersiap untuk menertawai saya. “Saya tidak percaya orangtua saya terlalu membesar-besarkan hal ini,” katanya dengan nada tawa tak percaya. Saya bisa membayangkan wajahnya yang acuh. Dalam benaknya, semua ini hanyalah seperti sebuah batuk ringan dan tidak perlu dikhawatirkan. “Oke, saya menghargai Anda mau berbicara dengan saya selama beberapa menit. Tetapi, saya harus bertanya, apakah mungkin bagi Anda untuk membalik keadaannya?” “Apa maksud Anda?” “Bahwa sebenarnya bukan orangtua Anda yang terlalu membesar-besarkan sesuatu, melainkan Andalah yang sedang meremehkan sesuatu?” Kembali lagi, ia tertawa tak percaya. “Ini bukan soal besar,” katanya lagi. “Apakah Anda keberatan saya memberitahu Anda mengapa saya berpikir demikian?” Dia menghela napas dalam-dalam, selanjutnya memberi saya ba-


24

g o d s at wa r

nyak perkiraan tentang semua alasan yang ia pikir akan saya utarakan. Saya menyelanya dengan sebuah pertanyaan. “Sudahkah Anda mempertimbangkan tentang seberapa besar harga yang harus Anda bayar jika Anda hendak tinggal bersama pacar Anda?” “Maksud Anda tentang biaya apartemennya?” “Bukan, saya tidak sedang berbicara tentang uang. Maksud saya tentang bagaimana perasaan keluarga Anda dan tekanan yang akan Anda terima dari mereka. Itu juga harga yang harus Anda bayarkan?” “Yah, saya pikir memang demikian tetapi itu masalah mereka.” “Dan, bagaimana hal ini akan berakibat pada pernikahan Anda di masa depan?” “Saya bahkan tidak tahu apakah kami akan menikah,” cetusnya. “Saya tidak sedang berbicara tentang Anda akan menikah dengannya, karena secara statistik, Anda jelas tidak akan menikah dengannya.” Ia mengerti apa yang menjadi tujuan pembicaraan saya, tetapi saya mendesaknya lebih jauh lagi. “Seberapa besar harga yang akan ditanggung oleh suami masa depan Anda? Seberapa mahal ia harus membayar akibat keputusan Anda ini?” Dia berhenti dan mempertimbangkan pertanyaan saya ini. Saya terus melakukan perhitungan pada berbagai aspek yang menunjukkan bahwa ini adalah sebuah keputusan besar, karena akibatnya jauh lebih mahal daripada yang ia sadari. “Jadi, inilah saran saya. Jika Anda bersedia untuk membayar harganya, maka tentu saja hal ini cukup penting bagi Anda. Jika Anda rela memikul semua akibat ini, berarti hal ini tentunya sangat penting bagi Anda.” Saya membawanya untuk hening sejenak dan akhirnya saya menyatakan maksud saya dengan jelas. “Ketika saya melihat semua pengorbanan yang bersedia Anda lakukan dan fakta bahwa Anda bersedia mengabaikan segala yang Tuhan katakan mengenai hal ini, jelaslah bagi saya bahwa Anda sudah menjadikan hubungan ini sebagai berhala Anda.”


penyembahan berhala adalah persoalan utama

25

“Apa maksud perkataan Anda?” “Sebuah berhala adalah sesuatu yang kita kejar dan untuknya kita berkorban. Saya melihat dalam situasi Anda, ada Tuhan di satu sisi mengatakan satu hal dan pacar Anda di sisi lain mengatakan hal lain. Dan Anda memilih pacar Anda lebih daripada Tuhan. Alkitab menamai hal itu sebagai penyembahan berhala dan ini adalah masalah besar.” Kali ini, tidak ada tawa bernada tak percaya. Ia mengaku, “Saya tidak pernah berpikir demikian.” STUDI KASUS 3: Pergumulan Rahasia Ia datang terlambat sekitar lima atau sepuluh menit. Ia bertanya apakah kami bisa berbincang selama beberapa menit dan saya sarankan kami bertemu sambil minum kopi. Tetapi ia ingin bertemu di sebuah “tempat yang lebih sepi.” Sehingga kami sepakat bahwa kantor saya menjadi tempat itu. Ia tiba di kantor saya dan berhenti sejenak di depan pintu, seakan-akan tidak yakin apakah ingin memenuhi janji pertemuan kami. “Silahkan masuk.” Saya tersenyum dan bergerak mendekati sebuah kursi. Ia menanggapi senyuman saya dengan sebuah senyuman juga. Ia duduk dan bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia agak enggan. Ia melipat tangannya, sambil memijat-mijat siku kanannya dengan perlahan. Saya tebak ia seumuran dengan saya. Pertengahan tiga puluhan dan seorang lelaki pada umumnya. Ia belum memberitahu saya apa yang akan kami bicarakan dalam pertemuan ini, tetapi saya tahu. Perbincangan yang akan kami lakukan sudah menjadi tema yang sangat akrab. Saya menanyakan beberapa pertanyaan umum mengenai pekerjaannya, dari mana ia berasal, dan apa pun yang dapat memecah kebekuan demi menciptakan suasana yang lebih santai. Setelah kami melakukannya selama beberapa menit, ia akhirnya membicarakan persoalan yang penting. Saya bisa bilang bahwa hal itu membutuhkan seluruh keberanian yang mampu dikumpulkannya


26

g o d s at wa r

sekadar demi melepaskan sebuah rahasia yang lama tersimpan. “Saya... ehm... saya pikir saya kecanduan pornografi atau yah, semacam itulah,” katanya tergagap-gagap. Ia melihat ke bawah. “Oke. Begini, Anda bukanlah orang pertama yang berjalan ke sini dan duduk di kursi itu dan mengatakan kalimat itu. Berapa lama Anda sudah bergumul dengan hal ini?” Ia menceritakan kisahnya, dimulai saat ia berusia dua belas tahun dan melihat gambar-gambar tak pantas dengan beberapa kawan lelakinya—di majalah-majalah yang diselundupkan lewat kloset ayah seorang teman. Pertama-tama, dia merasa jengah dengan gambar-gambar semacam itu. Gambar-gambar itu menancap di benaknya dan tidak mau pergi, kemudian gambar-gambar itu mulai memanggilnya. Gambar-gambar yang dengan jelas bisa dia bayangkan selama bertahun-tahun kemudian. Ia membicarakan tentang kebenciannya pada internet. Ia menggambarkan internet seakan-akan adalah musuh abadinya. “Di masa lalu, orang harus pergi ke toko-toko untuk membeli hal-hal semacam itu,” katanya. “Toko-toko jelek dengan jendela yang seluruhnya dicat. Tempattempat murahan dan lusuh. Saya tidak pernah punya keberanian untuk memasuki toko-toko semacam itu.” “Tetapi, internet bisa menyembunyikan identitas.” “Tepat sekali,” katanya. “Semuanya sangat mudah. Segala jenis gambar, segala jenis video, semuanya itu ada di ujung jari Anda. Sesederhana itu. Pemuasan instan, kapan pun Anda merasakan godaan yang paling halus.” Orang ini berkata-kata dengan nada keletihan dari seorang budak yang selama dua puluh tahun telah menyerah memperjuangkan rencana melarikan diri. “Apa yang seharusnya saya lakukan,” katanya, “mematikan komputer? Saya bergantung pada internet seperti semua orang lainnya. Saya butuh internet untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya membutuhkannya untuk menyelesaikan segala sesuatu. Bahkan, kalau saya hanya menggunakan telepon seluler, gambar-gambar itu


penyembahan berhala adalah persoalan utama

27

pun pasti akan bisa masuk di sana. Nyalakan saja televisi dan akan ada sejuta petunjuk untuk mengarah ke sana. Haruskah saya hanya menonton saluran Disney Channel saja?” Menurutnya, dia tidak tahu kontribusi apa yang bisa berdampak pada hidupnya, khususnya relasi yang dimilikinya. Tetapi ia tampaknya mengerti, setidak-tidaknya meskipun sedikit, bagaimana pornografi mengubah caranya memandang dan berinteraksi dengan seorang perempuan. “Masalahnya adalah,” katanya, “Anda mengerti bahwa pada mulanya hanya sedikit. Itu saja. Hanya sedikit. Tetapi gambar itu tidak pernah berlalu dan Anda harus memuaskan keinginan itu. Lalu seiring berjalannya waktu, Anda harus memuaskannya lebih dan lebih lagi. Anda tahu maksud saya?” “Saya tahu.” Ada keheningan. Saya yakin dia sedang menantikan saya untuk memberikan nasihat yang sama yang pernah dia dengar selama bertahun-tahun sebelumnya: Aturlah sebuah penyaring laman di browser internet Anda. Bergabunglah dengan komunitas yang dapat mendukung pemulihan Anda. Carilah seorang rekan berbagi yang dapat dipercaya. Kuasailah mata Anda. Semuanya itu adalah saran yang sangat membantu tetapi saya tahu dia sudah mencoba semuanya berulang kali; kalau semua itu berhasil, dia pasti tidak akan duduk di depan saya saat ini. Yang saya ketahui adalah, ada sesosok ilah yang harus disingkirkan dari takhtanya dan sebelum hal itu dilakukan dia akan terus menderita. Dia tidak akan pernah menikmati keintiman dalam hubungan. Dia pasti akan terus bergumul untuk memiliki hubungan akrab dengan Tuhan. “Selama ini Anda berpikir bahwa masalah Anda adalah hawa nafsu, namun sesungguhnya yang menjadi masalah Anda adalah penyembahan. Pertanyaan yang harus Anda jawab setiap hari adalah, ‘Apakah saya akan menyembah Tuhan atau apakah saya akan menyembah seks?’” Dia tidak berkata apa pun secara verbal untuk meresponsnya tetapi ekspresi di wajahnya berkata, “Saya tidak pernah memikirkan hal semacam itu sebelumnya.”


28

g o d s at wa r

Apa Yang Tersembunyi Di Dalam Penyembahan berhala bukan sekadar salah satu dari bermacam-macam dosa; justru penyembahan berhala adalah sebuah dosa besar dari mana semua dosa yang lain berasal. Jadi jika Anda mulai menyibak ke dalam pergumulan apa pun yang sedang Anda hadapi, pada akhirnya dibalik itu Anda akan menemukan satu ilah palsu. Sebelum ilah itu disingkirkan dan Tuhan Allah mengambil tempat yang layak bagi-Nya, maka Anda tidak akan memperoleh kemenangan. Penyembahan berhala bukan sekadar sebuah masalah; penyembahan berhala adalah masalah sesungguhnya. Semua jalan mengarah pada konsep ilah palsu yang buram dan berlebihan. Dengan melihat hidup dari lapisan luarnya saja, maka Anda tidak akan pernah melihat masalah sesungguhnya; galilah sedikit lebih dalam dan Anda akan mulai melihat bahwa penyembahan berhala adalah masalahnya, terbungkus dalam mantel bercat indah. Ada ratusan juta ragam gejala yang berbeda tetapi persoalannya selalu adalah penyembahan berhala. Itulah alasan mengapa ketika Musa berada di Gunung Sinai dan menerima Sepuluh Perintah dari Allah, maka perintah yang pertama adalah, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Kel. 20:2-3). Ketika Tuhan memberikan perintah ini kepada masa Musa, bangsa Israel telah akrab dengan banyak ilah asing. Umat Israel telah mengalami lebih dari empat ratus tahun berada di negeri Mesir sebagai budak. Mesir dipenuhi dengan banyak dewa. Mereka telah mengambil-alih negeri tetangga mereka—secara harfiah. Bangsa Mesir sudah memiliki dewa-dewa lokal di setiap distrik. Mesir adalah sekeranjang es krim yang penuh dengan dewa-dewa. Anda bisa memilih dan mengambil rasa apa pun yang Anda suka. Paradigma Alkitab berbeda. Ketika kita mendengar Allah berfirman, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (terjemahan dalam NIV ‘before me’),” kita sering mengartikannya sebagai sebuah tingkatan: Allah selalu berada di tempat pertama. Tetapi se-


penyembahan berhala adalah persoalan utama

29

sungguhnya tidak ada tempat bagi yang lain. Tuhan tidak berminat untuk bersaing dengan ilah lain atau menjadi yang pertama dari sekian banyak dewa. Allah tidak bersedia menjadi bagian dalam tingkatan apa pun. Ia tidak menyatakan “before me” sebagai “sebelum Aku”. Pemahaman yang lebih tepat dari bahasa Ibrani bagi istilah “before me” itu adalah “di hadapan-Ku.” Allah menolak untuk duduk di puncak bagan organisasi. Dialah organisasinya. Dia tidak tertarik menjadi presiden direktur sebuah perusahaan. Dialah perusahaannya. Dan hidup Anda tidak akan berfungsi dengan baik sampai semua pemimpin departemen lainnya yang ada di meja ruang rapat direksi hati Anda itu dipecat. Dia adalah Allah dan tidak ada pelamar lain yang berhak menduduki jabatan itu. Tidak ada allah-allah parsial, tidak ada allah-allah honorer, tidak ada allah-allah sementara, tidak ada allah-allah pembantu regional. Allah tidak menyatakan semua ini karena Ia merasa tidak aman secara psikologis, melainkan karena inilah jalan yang benar dalam alam semesta yang adalah ciptaan-Nya. Hanya ada satu Allah yang memiliki dan menggerakkannya. Hanya satu Allah yang merancangnya dan hanya satu Allah yang mengerti bagaimana menjalankannya. Dialah satu-satunya Allah yang mampu menolong kita, mengarahkan kita, memuaskan kita, dan menyelamatkan kita. Ketika kita membaca Kitab Keluaran 20, kita bisa melihat bahwa satu-satunya Allah yang benar tidak ingin ada allah-allah lain atau allah-allah pengganti. Jadi, Allah memberitahu bangsa Israel untuk menghancurkan kuil-kuil penyembahan berhala; hapuskan itu. Semua aktivitas allah asing lainnya ditiadakan. Ia memastikan bahwa umat-Nya memahami bahwa Ia adalah satu-satunya Allah. Ia adalah Tuhan Allah sejati. Anda mungkin berpikir, “Terima kasih Pak, untuk pelajaran sejarahnya tetapi itu kan terjadi di zaman dulu. Lagipula, sekarang di zaman kita, masalahnya bukanlah bahwa orang-orang menyembah banyak dewa; masalahnya sekarang adalah orang-orang tidak menyembah allah apa pun.”


30

g o d s at wa r

Namun saya menduga bahwa daftar kita tentang allah-allah yang kita sembah di zaman sekarang ternyata jauh lebih panjang daripada allah-allah mereka di zaman dulu. Hanya karena kita memanggil mereka dengan nama-nama yang berbeda, hal itu tidak mengubah fakta tentang siapa sesungguhnya mereka. Kita mungkin tidak punya dewa perdagangan, dewa pertanian, dewa seks, atau dewa perburuan. Tetapi yang ada pada kita adalah portofolio, mobil, hiburan ‘orang dewasa,’ dan olahraga. Kalau semua itu terlihat seperti sebuah berhala, dan berbunyi seperti sebuah berhala, berarti... Yah, Anda bisa saja menamainya dengan batuk sebagai ganti menyebutnya kanker. Tetapi mengubah namanya tidak membuatnya kurang berbahaya. Mendandani Berhala Salah satu masalah kita dalam mengidentifikasi berhala adalah identitas mereka tidak lagi menunjukkan jerat-jerat keagamaan seperti biasanya; mereka biasanya juga seringkali tidak menunjukkan tanda-tanda yang salah. Apakah Allah menentang kesenangan? Seks? Uang? Kekuasaan? Hal-hal ini bukanlah salah secara moral, melainkan tak bermoral; semuanya itu netral secara moral, kecuali jika menunjukkan lain. Anda bisa saja sedang melayani sesuatu yang sebenarnya, terlihat sangat patut dihargai. Bisa saja itu adalah keluarga atau karir. Bisa saja itu adalah niat baik. Anda pun bisa saja sedang memberi makan mereka yang lapar dan menyembuhkan mereka yang sakit. Semua itu adalah hal-hal yang baik. Masalahnya adalah tepat pada saat sesuatu mulai mengambil tempat Allah, pada saat sesuatu menjadi tujuan bagi dirinya sendiri, dan bukannya sesuatu yang diserahkan di bawah takhta Allah, maka pada saat itulah sesuatu itu menjadi sebuah berhala. Ketika sesuatu atau seseorang menggantikan Tuhan Allah dalam menempati posisi kemuliaan dalam hidup kita, maka orang itu atau sesuatu itu secara definitif menjadi allah kita. Jadi untuk mengidentifikasi


penyembahan berhala adalah persoalan utama

31

allah-allah yang berperang dalam hidup Anda, amatilah apa yang sedang Anda buat. Ingatlah perintah Allah bagi Anda. Pertama: jangan ada allah lain. Kedua: jangan membuat apapun untuk sujud menyembah atau beribadah kepadanya. Kebijaksanaan besar yang terkandung dari perintah kedua itu adalah apa pun di dunia ini bisa dibentuk menjadi sebuah berhala dan karenanya bisa menjadi allah palsu, jika ditempatkan secara keliru di puncak hati kita. Ini adalah penyembahan berhala buatan sendiri: pilih saja salah satu dari gudang dewa-dewa kita, campurkan bahan-bahan yang tepat, dan Anda sudah menciptakan allah Anda sendiri. Ketika Allah memberi Musa Sepuluh Perintah-Nya di atas Gunung Sinai, umat Israel yang sedang menunggu di bawah gunung merengek-rengek, karena Musa terlalu lama menurut mereka. Musa meninggalkan saudaranya, Harun, untuk memimpin bangsa Israel, namun bangsa itu mulai meminta sesosok dewa untuk memimpin mereka. Mereka mengumpulkan emas dari setiap orang, meleburnya di atas api, dan membuat sebuah patung lembu emas untuk disembah. Agak ironis, bukan? Tepat pada momen yang sama ketika Allah memerintahkan Musa untuk tidak membuat patung yang menyerupai apa pun di hadapan-Nya, umat Israel yang sedang menunggu di bawah gunung justru sedang menegakkan sesosok dewa. Di bagian Alkitab terkemudian, berikut ini adalah refleksi atas apa yang telah dilakukan bangsa Israel pada saat itu: “Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Allah mulia mereka dengan patung sapi jantan pemakan rumput.� (Mzm. 106:19-20) Itu bukan pertukaran yang bagus. Mereka menukar Sang Allah Pencipta dengan sebuah dewa yang mereka ciptakan sendiri. Apakah kita berbeda dengan mereka? Kita pun menukar tempat Allah dengan patung-patung buatan kita sendiri. Rumah yang terus-menerus kita perindah.


32

g o d s at wa r

Promosi jabatan yang memberi kita fasilitas kantor pribadi. Pengakuan dari sebuah komunitas. Tim yang memenangkan berbagai kejuaraan. Tubuh yang terjaga dengan indah dan sehat. Kita bekerja keras untuk membentuk dan membuat patung-patung lembu emas kita sendiri. Saya tahu apa yang Anda pikirkan. “Anda bisa saja berkata demikian tentang apa pun. Anda dapat mengambil contoh mana pun, perbuatan yang membuat seseorang mengabdikan dirinya untuk hal itu, dan menjadikannya sebuah penyembahan berhala.” Tepat. Segala sesuatu bisa menjadi sebuah berhala, ketika hal itu menjadi pengganti terhadap Allah dalam hidup kita. Untuk menggambarkan konsep ini dengan lebih jelas, perhatikanlah ini. Apa pun yang berubah menjadi tujuan atau kekuatan pendorong dalam hidup Anda memiliki kemungkinan besar untuk menjadi tindakan penyembahan berhala pada titik tertentu. Pikirkan tentang apa yang selama ini Anda kejar dan ciptakan, kemudian tanyakan kepada diri sendiri, ‘Mengapa?’ Jika Anda ketagihan makanan, mengapa demikian? Jika Anda memiliki sesuatu yang menjadi “pemicu kemarahan” yang membuat Anda cenderung jengkel dengan cepat, mengapa demikian? Jika Anda berencana untuk pergi shopping pada akhir minggu ini, meskipun Anda sedang terlilit utang, mengapa demikian? Jika Anda menghabiskan berjam-jam memperbaiki mobil dan mendekorasi rumah, mengapa demikian? Untuk dapat melihat hal-hal ini sebagai sebuah bentuk penyembahan berhala, kita perlu memiliki gambaran baru tentang konsep penyembahan berhala. Buanglah gagasan tentang patung lembu emas atau arca-arca kecil bertangan banyak itu. Bahkan, untuk sesaat saja, singkirkan seluruh gagasan tentang penyembahan berhala sebagai sebuah daftar berisi sepuluh larangan. Latihan berikut ini mungkin terlihat agak aneh tetapi tetaplah


penyembahan berhala adalah persoalan utama

33

bersama dengan saya. Saya ingin Anda membayangkan kembali sebuah tindakan penyembahan berhala sebagai sebuah pohon. Lihatlah di dalam pikiran Anda: salah satu pohon ek terbesar yang umurnya bahkan jauh lebih tua daripada sang waktu itu sendiri. Pohon yang memiliki cabang-cabang mengagumkan dan berpencaran ke segala arah. Cabang-cabang yang bertumbuh dari cabang-cabang sebelumnya. Dan ketika terjadi erosi, di tepian sungai atau di dekat aliran airnya, Anda bisa melihat betapa dalam dan kuat akar-akarnya. Bayangkan pohon penyembahan berhala ini memiliki banyak cabang dan pada masing-masing cabang bergantung sesuatu. Dari salah satu cabang bergantung sebuah guci emas. Pada cabang yang lain bertumbuhlah segala jenis makanan; segala jenis makanan lezat yang bisa dibayangkan berkembang dari ranting cabang itu. Pada cabang yang lain terbentuklah sesuatu yang datar dan bundar, dan ketika Anda melihatnya lebih dekat, Anda bisa melihat bahwa itu adalah sebuah cermin. Cermin itu menunjukkan refleksi ideal diri Anda sendiri. Namun, ada juga cabang yang bertumbuh dalam bentuk ukiran yang sempurna. Anda mengikuti alur asal muasalnya, kemudian menyadari bahwa itu adalah citra dari dua manusia, saling terjalin dalam pelukan sensual. Salah satu cabang menghasilkan buah berupa macam-macam kunci---yang satu kunci mobil mewah, yang lainnya kunci sebuah rumah pantai di kawasan bergengsi di Florida. Pohon yang cukup janggal. Pohon itu memiliki banyak cabang lainnya, dan pada masing-masing cabang bergantung sebuah benda aneh yang terlihat layak dikoleksi. Inilah intinya: penyembahan berhala adalah sebuah pohon dari mana segala dosa dan pergumulan kita berasal. Penyembahan berhala selalu menjadi inti persoalannya. Penyembahan berhala adalah batang pohonnya, dan semua masalah yang lain hanyalah cabang-cabangnya.


Not A Fan (Bukan Seorang Penggemar) Menjadi Seorang Pengikut Yesus Yang Berkomitmen Dengan Sepenuhnya Kyle Idleman Apakah Anda seorang penggemar ataukah seorang pengikut? Kamus mendefiniskan kata penggemar sebagai “seorang pengagum yang bersemangat.” Mereka ingin berada cukup dekat dengan Yesus untuk mendapatkan semua manfaatnya, tetapi tidak terlalu dekat juga sehingga mereka tidak harus mengorbankan apa pun. Para penggemar mungkin adalah orang-orang yang tidak pernah absen ke gereja, fasih dalam berdoa, dan selalu memberi persembahan. Tetapi apakah jenis hubungan seperti itu yang diinginkan Yesus dari Anda? Sayangnya... Yesus tidak pernah tertarik untuk memiliki banyak pengagum berat dan bukanlah penggemar yang ia cari. Not a Fan akan menantang Anda untuk menyadari apa arti sesungguhnya menjadi orang Kristen. Dengan berbagai pernyataan langsung dan tajam, Kyle mengundang Anda untuk melihat secara jujur bagaimana relasi Anda dengan Yesus. Panggilan-Nya untuk mengikut Dia terasa begitu radikal bagi kita, tetapi itulah yang diinginkan Yesus bagi setiap orang percaya. “Tulisan Kyle begitu mendalam sekaligus praktis.” —MAX LUCADO, pendeta dari Oak Hills Church Info lengkapnya kunjungi: www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus) Bagaimana Jika Pertanyaannya, Bukan Tentang Siapa Yang Akan Anda Nikahi, Tetapi Mengapa Anda Menikah? Gary Thomas Bagaimana menemukan pasangan hidup yang tepat? Bagaimana kalau pacaran bukanlah tentang menemukan “belahan jiwa.” Tetapi tentang melayani orang yang paling anda kasihi? Bagaimana kalau jatuh cinta bukanlah alasan yang cukup tepat untuk menikah? JANGAN MENIKAH SEBELUM ANDA MEMBACA BUKU INI Dalam The Sacred Search, Gary Thomas menantang Anda untuk berpikir lebih dari sekadar mencari “soul mate”, namun lebih dari itu, mulailah mencari “sole mate”— seseorang yang akan berjalan bersama-sama dengan Anda dalam perjalanan rohani. Lagipula, kalau Anda tidak tahu mengapa Anda menikah, Anda tidak akan tahu siapa yang akan Anda nikahi. The Sacred Search mencetuskan visi untuk membangun hubungan di sekitar misi rohani yang sama—dan menciptakan sebuah pernikahan yang memiliki nilai kekekalan tepat di jantungnya. “Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun sebelum berkata ‘Saya bersedia’ di altar pernikahan.” —Michelle Anthony, Family Ministry Architect bagi David C Cook Info lengkapnya kunjungi: www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


Seven Days That Divide The World (Tujuh Hari yang Membagi Dunia) Permulaan Dunia Menurut Kitab Kejadian dan Sains John C. Lennox Apakah bumi terbentuk melalui proses evolusi? Apakah 7 hari itu bermakna literal seminggu atau serangkaian periode waktu? Jika saya percaya bahwa bumi berusia 4,5 miliar tahun, apakah itu berarti saya menyangkali otoritas Alkitab? Dalam menanggapi kontroversi yang terus berkelanjutan seputar penafsiran dari narasi penciptaan dalam Kitab Kejadian, Prof. John Lennox mengajukan metode ringkas dalam membaca dan menafsirkan Kitab Kejadian tanpa meninggalkan prinsip sains maupun Alkitab. Dilengkapi dengan berbagai contoh dari sejarah, eksplorasi singkat tetapi menyeluruh dari berbagai penafsiran, dan melihat signifikansi khusus dalam penciptaan umat manusia, Dia menunjukkan bahwa orang Kristen dapat merengkuh sains modern juga tetap setia pada Alkitab. Dia bergerak mengatasi tanggapan sederhana seputar kontroversi penciptaan dengan menegaskan bahwa Kitab Kejadian mengajarkan kita jauh lebih banyak tentang Allah dan maksud Allah dalam penciptaan daripada sekadar kontroversi tentang bumi. Info lengkapnya kunjungi: www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org


Healing Is A Choice (Pemulihan Adalah Sebuah Pilihan) 10 Pilihan yang Akan Mengubah Hidup Anda & 10 Kebohongan yang Dapat Menghambat Pemulihan Stephen Arterburn Apakah anda ingin mengalami pemulihan? Kuasa untuk memulihkan–secara fisik, mental, emosi, rohani–ada dalam tangan Tuhan. Tetapi pilihan untuk dipulihkan ada dalam tangan Anda. Setiap orang, dalam berbagai tingkatan, butuh pemulihan. Anda mungkin sudah berulang kali, selama bertahun-tahun berdoa untuk mendapatkan pemulihan. Mungkin Anda sudah begitu lama hidup dalam rasa sakit sehingga Anda sudah terbiasa dengan hidup seperti itu. Mungkin Anda mulai ragu apakah Allah bisa menghilangkan penderitaan ini. Stephen Arterburn menawarkan 10 pilihan penting untuk mendapatkan pemulihan. Mengambil semua pilihan ini berarti menolak kebohongan yang sering kita katakan pada diri kita sendiri. Semua pilihan ini bukanlah sarana untuk menghasilkan mujizat, tetapi berupa perjalanan yang Allah ingin Anda lakukan. Allah bisa dan akan berjalan bersama Anda. Tetapi Anda harus melangkah dulu dan memilih untuk melepaskan rasa sakit itu dan mengizinkan proses pemulihannya dimulai. Info lengkapnya kunjungi: www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org



GODS AT WAR - Ilah-Ilah Dalam Peperangan