Issuu on Google+


Pujian untuk Christ the controversialist “Setiap orang Kristen yang bijak perlu membaca penjelasan klasik mengenai inti aliran injili. Meskipun ditulis lebih dari empat puluh tahun yang lalu, pesan utamanya masih berlaku bahkan lebih dibutuhkan pada hari ini daripada di waktu yang sebelumnya. John Stott menjelaskan secara persuasif, murah hati, jelas, dan dengan pemahaman yang tajam mengenai apa artinya untuk setia bagi Yesus Kristus. Ini adalah buku yang luar biasa.” Christopher Ash, Direktur Cornhill Training Course, Proclamation Trust “Saya masih ingat dengan jelas membaca buku ini dalam versi paling awal empat puluh tahun yang lalu. Buku ini berisi serangkaian argumentasi yang luar biasa sehingga mendorong saya untuk menyerahkan hidup saya kepada Kristus tidak lama kemudian di tahun yang sama. Terima kasih John untuk semua pemahaman yang berguna dari saat itu.” Dr. Andrew Fergusson, penulis dan mantan Ketua Divisi Komunikasi, Christian Medical Fellowship “Menurut saya, ini bukan hanya salah satu buku terbaik dari John Stott, tetapi salah satu buku yang paling penting dalam dekade terakhir. Dalam dunia yang semakin menolak konsep kebenaran dan gereja yang sering ditandai oleh ketidakpedulian terhadap doktrin, maka permohonan buku ini untuk tunduk pada pengajaran Kristus tentang keyakinan-keyakinan inti dan teladan-Nya dalam menyatakan keyakinan-keyakinan tersebut sangatlah dibutuhkan.” Vaughan Roberts, Rektor St Ebbes, Oxford “Ini adalah buku khas Stott—jelas, alkitabiah, menunjukkan hasrat yang kuat, dalam, dan berpusat pada Kristus. Sebuah pembelaan berotoritas mengenai kekristenan injili yang berdasarkan Alkitab dan historis. Dengan menganalisa perdebatan Yesus dan orang Farisi serta Saduki di zaman-Nya, Stott menunjukkan dengan jelas distorsi yang sama dari versi modernnya. Mendalam, jelas, dan menarik. Buku ini relevan bagi perdebatan masa kini sama seperti ketika pertama kali diterbitkan.” John Wyatt, Profesor Emeritus Neonatal Paediatrics di University College London Convention


L i t e r at u r P e r k a n ta s J awa Ti mu r


Ch r i s t T he C ont rov e r s ia l is t

(Kristu s San g K o n tro vers i a l i s ) Meneladani Pelayanan dan Pengajaran Yesus yang Radikal oleh John Stott Copyright © John Stott 1970.This edition © John Stott’s Literary Executors 2013 All rights reserved. This translation of ‘But I Say To You…’ first published in 1970 as Christ the Controversialist, first published in this format in 2013 is published by arrangement with Inter-Varsity Press, Nottingham, United Kingdom. Alih Bahasa: Paksi Ekanto Putro Editor: Milhan K. Santoso Penata Letak: Milhan K. Santoso Desain Sampul:Vici Arif Wicaksono Hak cipta terjemahan Indonesia: Literatur Perkantas Jawa Timur Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Telp. (031) 8413047, 8435582; Faks. (031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jatim adalah sebuah divisi pelayanan literatur di bawah naungan Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas) Jawa Timur. Perkantas Jawa Timur adalah sebuah kegerakan yang melayani siswa, mahasiswa, dan alumni di sekolah dan universitas di Jawa Timur. Perkantas Jatim adalah bagian dari Perkantas Indonesia. Perkantas sendiri adalah anggota dari perge-rakan International Fellowship of Evangelical Students (IFES). Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan yang ada secara lokal maupun regional di Jawa Timur dapat menghubungi melalui e-mail: pktas.jatim@gmail.com, atau mengunjungi Website Perkantas Jatim di www.perkantasjatim.org

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) ISBN: 978-602-18547-9-2 Cetakan Pertama: Maret 2014 Hak cipta di tangan penerbit. Seluruh atau sebagian dari isi buku ini tidak boleh diperbanyak, disimpan dalam bentuk yang dapat dikutip, atau ditransmisi dalam bentuk apa pun seperti elektronik, mekanik, fotokopi, rekaman, dlsb. tanpa ijin dari penerbit.


D a f ta r I s i Pendahuluan oleh Jonathan Lamb.............................................

7

Kata Pengantar..........................................................................

11

BAGIAN SATU: FONDASI

1. Sebuah Panggilan untuk Menjelaskan................................

15

2. Mengapa ‘Injili’..............................................................

27

BAGIAN DUA: Kontroversi

3. Agama........................................................................... Natural atau Supranatural?

43

4. Otoritas......................................................................... Tradisi atau Alkitab?

63

5. Alkitab........................................................................... Tujuan atau Sarana?

83

6. Keselamatan................................................................... Jasa atau Belas Kasih?

103

7. Moralitas........................................................................ Lahiriah atau Batiniah?

131

8. Ibadah........................................................................... Mulut atau Hati?

165

9. Tanggung Jawab............................................................. Menarik Diri atau Terlibat?

181

10. Ambisi........................................................................... Kemuliaan Kita atau Allah?

201

Catatan Tambahan.................................................................... Yesus, Guru dan Tuhan Kita

221

Catatan-Catatan........................................................................

229


pendahuluan

S

aya pertama kali membaca buku yang menusuk ini pada waktu saya menjadi mahasiswa tingkat pertama tahun 1970. Saya memasuki suatu dunia yang sama sekali baru bagi saya. Menghadapi chaplain universitas yang memiliki pandangan tentang Alkitab yang sangat berbeda. Menghadapi banyak kelompok agama yang memusuhi klaim keunikan Kristus, dan menghadapi sesama kaum injili yang bergumul untuk bekerjasama karena berdebat mengenai masalah-masalah sekunder. Tulisan Stott ini merupakan terang bagi mahasiswa baru yang sedang kebingungan. Stott menjelaskan roh zaman itu, tetapi yang mengherankan, setelah membaca ulang buku ini empat puluh tahun kemudian, buku ini lebih relevan bagi masa kini. Stott memiliki pandangan ke depan yang sangat luar biasa dan bisa dilihat dari begitu banyak inisiatif yang dilakukannya. Semuanya sekarang sudah menghasilkan buah di seluruh dunia. Buah yang sama juga terlihat dalam buku ini, termasuk antisipasinya terhadap toleransi yang terlalu toleran, kemajuan sekularisasi, keterlibatan yang lebih besar dari Islam, tantangan bagi supremasi Alkitab dalam gereja, hilangnya sentralitas salib Kristus, dan pentingnya kaum injili untuk menghidupi kebenaran bukan hanya memercayainya.


8 | Ch rist t h e cont roversialist

Maka untuk masa sekarang, tetap diperlukan usaha untuk mengonfrontasi. Kaum injili hari ini sedang hidup dalam lingkungan yang dikuasai oleh pemikiran pluralisme, sehingga mempertahankan keyakinan kita mengenai kebenaran injili semakin menantang. Di sebagian besar wilayah dunia, sekarang termasuk juga dunia Barat, terdapat propaganda antikristen yang besar di media. Di dalam komunitas Kristen, hilangnya sentralitas Kristus dan Alkitab sudah menjadi tantangan khas yang besar bagi kesehatan dan pertumbuhan gereja. Tidak hanya itu, kita juga perlu mengonfrontasi secara bijaksana. Tulisan Stott ini membantu kita menemukan secara lebih tepat pertempuran mana yang harus dihadapi dan masalah mana yang perlu diperjelas. Dia dengan cekatan menunjukan masalah mana yang utama dan mana yang bisa disampingkan dulu. Jika kita merasa bahwa kita selalu berada di sisi yang benar dalam suatu kontroversi, maka kita akan menemukan bahwa pemahaman dan sudut pandang Alkitab dari Stott bisa menjadi kritik terhadap berbagai aspek dari kaum injili masa kini. Selanjutnya, kita perlu untuk mengkonfrontasi secara anggun. Stott dikenal di seluruh dunia bukan hanya sebagai pembela kebenaran injili yang berani dan terang-terangan, tetapi juga seorang yang memiliki kerendahan hati dan keanggunan yang luar biasa. Salah satu nilai yang istimewa dari judul buku ini adalah buku ini membentuk bagaimana seharusnya orang Kristen terlibat dalam kontroversi, dan ini memang sangat dibutuhkan di zaman di mana suara-suara kaum injili seringkali terdengar tidak menyenangkan, di mana cara kita membela kebenaran terkadang membuat komitmen kita terhadap kebenaran itu terlihat seperti kebohongan. Saya sering terperangah melihat cara Stott menunjukkan kualitas kepemimpinan yang luar biasa dari seorang yang memiliki pemikiran yang kuat dan hati yang lembut. Seperti dalam edisi pertama, buku ini juga membawa doa kerendahan hati dalam bagian kata pengantarnya: ‘Kiranya Allah mengampuni ketidaksempurnaan buku ini, menolong agar kesalahan buku ini tidak membahayakan seorang pun dan memakai kebenaran buku ini


P EN DAH U L UAN

| 9

untuk menjadi berkat bagi banyak orang.’ Sejak kata-kata itu ditulis Stott, ratusan ribu orang percaya mendapat berkat besar dari tulisan dan teladan hidupnya, maka kita berdoa agar penerbitan ulang buku ini bisa membawa berkat kepada generasi pembaca yang baru di seluruh dunia.

Jonathan Lamb Direktur, Langham Preaching Oxford, UK Mei 2013


k ata pengantar

J

udul buku ini adalah ‘Kristus Sang Kontroversialis.’ John Stott bermaksud menunjukkan Yesus Kristus sebagai tokoh yang kontroversial, tetapi Yesus Kristus sebagai tokoh yang terlibat dalam kontroversi. Sebagian besar percakapan publik Kristus terjadi dalam bentuk perdebatan dengan para pemimpin agama Palestina di masa itu. Mereka tidak setuju dengan Dia dan Dia tidak setuju dengan mereka. Tujuan Stott dalam mempelajari semua keterlibatan Yesus dalam kontroversi adalah untuk menjelaskan masalah yang sedang diperdebatkan, menunjukkan bahwa semua kontroversi itu adalah masalah yang penting di tahun 1970-an dan terus penting pada hari ini. Stott juga ingin menjelaskan bahwa posisi yang Kristus adopsi dalam setiap perdebatan adalah posisi yang harus diambil oleh setiap orang Kristen ‘injili.’ Dia menjelaskan mengapa menurut dia pembahasan ini diperlukan dalam dua bab awal, yang akan kita sebut sebagai bagian Fondasi. Pada bagian pertama dia berusaha membela tugas dari pendefinisian teologis. Ketika dia menulis tentang hal ini, tugas pendefinisian bukan merupakan tugas yang populer, demikian juga sampai hari ini. Dunia non Kristen terserap dalam semangat pragmatisme dan sangat tidak senang dengan cara berteologi gereja yang tidak praktis. Dan di sebagian gereja pada masa kini semangat yang sama masih


12 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

berkuasa. Banyak yang tidak lagi berharap mengusahakan adanya suatu kejelasan doktrinal, apalagi kesepakatan doktrinal. Oleh karena itu John Stott berusaha menunjukkan akar dari permusuhan terhadap pendefinisian teologis ini, dan berargumentasi bahwa kita harus terus mengusahakan dan tidak boleh mengabaikan tugas ini. Dalam bagian kedua dari Fondasi, dia membuat semacam permohonan bagi kekristenan ‘injili.’ Ini dia lakukan setelah menekankan perlunya definisi teologis. Dia mendorong agar kita mendefinisikan kekristenan ‘secara injili.’ Fokus Stott ada pada kebenaran, secara khusus posisi doktrinal yang dipegang oleh orang-orang Kristen yang menyebut diri ‘injili.’ Sebutan apa yang kita pakai atau orang lain berikan pada kita kecil artinya dibanding dengan doktrin-doktrin besar yang melaluinya berusaha kita hidupi, dan apakah doktrindoktrin itu benar atau tidak. Semua doktrin yang kita pegang umumnya dikenal sebagai ‘iman injili.’ Apakah sebutan ini tepat bukan masalah utama. Hal terpenting adalah substansinya bukan gayanya. Dan menurut John Stott, substansinya adalah kekristenan yang biblikal, orisinal, dan fundamental. Dia percaya (dengan yakin dan dia berharap, dengan kerendahan hati) iman ini adalah iman sejati Kristus, seperti yang Dia ajarkan pada para murid dan terutama yang Dia bela dengan melawan para musuh dan pencela. Bab-bab setelah Fondasi membahas tentang kontroversi-kontroversi yang Kristus lakukan. John Stott tidak berusaha membahas secara terperinci, tetapi berfokus pada topik-topik utama perdebatan yang (menurut dia) sangat dominan di zaman Kristus dan masih sampai hari ini. Oleh karena itu, dia memilih membahas pertanyaanpertanyaan dasar seperti karakter dari Allah orang Kristen dan agama Kristen, otoritas dan tujuan dari Alkitab, jalan keselamatan, jenis moralitas dan ibadah yang diterima oleh Allah, natur dari tanggung jawab dan ambisi Kristen. Di setiap masalah dasar itu Yesus Kristus tidak setuju dengan pengajaran orang Farisi dan Saduki, dan dalam setiap masalah dasar itu orang Kristen ‘injili’ tidak setuju dengan tren gereja masa kini. Seperti itulah argumentasi yang John Stott jabarkan,


k ata p e n g a n ta r

| 13

dan ketika kita menyatukan semua kebenaran yang Kristus tekankan dalam semua kontroversi itu, hasilnya adalah suatu penjelasan yang cukup komprehensif tentang apa artinya ‘agama injili.’ Tema dari buku ini sudah ada dan dimatangkan dalam pikiran John Stott sejak beberapa tahun lalu. Dia memulainya dalam bentuk serangkaian khotbah di All Souls Church tahun 1962 dan kemudian dikembangkan di tahun 1968/9. Dia juga memberikan serangkaian ceramah populer dengan judul ‘Christ the Controversialist’ di Edinburgh, November 1968 (untuk Edinburgh Evangelical Council) dan di Auckland, Mei 1969 (untuk New Zealand Evangelical Alliance). Orang-orang yang dipercaya untuk menangani tulisan John Stott percaya bahwa buku ini memiliki relevansi yang berlanjut sehingga mereka menerbitkan ulang dalam edisi baru. Kami berterima kasih pada Canon David Stone atas keahliannya mengedit buku ini bagi pembaca abad dua puluh satu. Dengan edisi baru maka beberapa penerapan yang sudah tidak relevan telah dihilangkan. Namun kami berhati-hati dengan tidak menghilangkan atau mengencerkan setiap tantangan yang Stott ajukan bagi pemikiran dan praktik orang Kristen. Kami juga tidak menambah materi baru, tidak mengira-ngira jika Stott masih hidup bagaimana dia akan berinteraksi dengan masalah dan penulis hari ini. Kami menggemakan kembali apa yang John Stott tulis dalam kata pengantar awal: ‘Sekarang, saya melepas buku ini dengan doa yang sungguh agar kiranya Allah mengampuni ketidaksempurnaan buku ini, menolong agar kesalahan buku ini tidak membahayakan seorangpun dan memakai kebenaran buku ini untuk menjadi berkat bagi banyak orang.’


B AGI A N S AT U

FONDASI


1 S ebuah Panggil an untuk M enjel ask an

T

ujuan dari buku ini sederhana. Buku ini ingin menjelaskan bahwa kekristenan ‘injili’ adalah Kekristenan sejati—otentik, benar, orisinal, dan murni—dan menunjukkan semua itu dari pengajaran Yesus Kristus sendiri. Usaha untuk menjelaskan dan mendirikan suatu kekristenan seperti itu pasti tidak bisa diterima oleh semua orang–jauh dari kenyataan! Maka izinkan saya kali ini untuk menjawab beberapa kritik yang mungkin muncul. 1. Permusuhan Terhadap Dogmatisme Penolakan pertama terhadap tema buku ini bisa muncul dari permusuhan terhadap dogmatisme. Semangat zaman ini sangat bermusuhan terhadap orang-orang yang menyatakan pendapat mereka secara jelas dan memegangnya dengan kuat. Orang yang memiliki keyakinan, tidak peduli betapa pintar, tulus, dan rendah hati orang itu, pasti akan disebut fanatik. Hari ini orang yang berpikiran hebat adalah orang yang berpikiran luas dan terbuka—cukup luas untuk menyerap setiap ide baru yang dihadirkan di hadapannya dan cukup terbuka untuk melakukan itu selamanya. Untuk menjawab hal tersebut, kita perlu mengatakan bahwa iman


16 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

Kristen intinya adalah dogmatik, karena mengklaim sebagai iman yang diwahyukan. Jika kekristenan hanya sekumpulan ide manusia, maka dogmatika pasti tidak mendapat tempat. Tetapi jika (seperti yang diklaim orang Kristen) Allah telah berbicara—baik di masa lalu melalui para nabi maupun di masa kini melalui Anak-Nya1— apa salahnya kita percaya bahwa Allah memang telah berbicara dan mendorong orang lain untuk memercayainya juga? Jika memang ada Firman Allah yang bisa dibaca dan diterima pada hari ini, maka mengabaikannya merupakan suatu kebodohan dan kesalahan. Tentu saja fakta bahwa Allah telah berbicara dan apa yang Dia katakan telah ditulis dalam sebuah buku, tidak berarti orang Kristen mengetahui segala sesuatu. Kita terkadang memberi kesan bahwa kita tahu segala sesuatu—jika itu yang terjadi kita perlu minta pengampunan atas keangkuhan kita. Sebagai contoh, kita bisa melihat apa yang Yohanes katakan dalam surat pertamanya, ‘tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak.’2 Di Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri kepada Musa secara luar biasa. Namun Musa mengerti dengan jelas bahwa Tuhan baru mulai ‘memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu...’3 Rasul Paulus juga menyatakan hal yang sama dimana dia menyamakan pengetahuan kita yang parsial sekarang ini dengan perkataan kanak-kanak.4 Jika Musa dalam Perjanjian Lama, Yohanes dan Paulus dalam Perjanjian Baru, mengakui dengan rendah hati ada banyak yang mereka tidak tahu tentang kebenaran, maka siapa kita jika kita mengklaim mengetahui semuanya? Kita perlu disadarkan oleh perkataan Yesus: ‘Engkau tidak perlu mengetahui...’5 Dia sedang merujuk pada masa dan waktu ‘yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.’ Tetapi prinsip yang sama bisa diterapkan dalam semua wilayah lain dari kebenaran. Batasan pengetahuan kita jelas, bukan dengan apa yang kita putuskan ingin kita ketahui, tetapi dengan apa yang Tuhan putuskan untuk diwahyukan pada kita. Mungkin pernyataan paling seimbang mengenai hal ini ada di akhir Kitab Ulangan dalam Perjanjian Lama: ‘Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah


S e b ua h Pa n g g i l a n u n t u k M e n j e l a s k a n

| 17

bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya...’6 Di ayat itu seluruh kebenaran dibagi menjadi dua bagian, ‘hal-hal yang tersembunyi’ dan ‘hal-hal yang dinyatakan.’ Kita diberitahu bahwa hal-hal yang tersembunyi adalah milik Allah. Dan karena hal-hal tersebut milik Allah dan Dia telah memutuskan untuk tidak mewahyukannya pada kita, maka kita tidak boleh memaksakan hal-hal tersebut kepada Allah tetapi puas dengan menyerahkan semuanya pada Allah. Sebaliknya, hal-hal yang dinyatakan, adalah ‘bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya.’ Artinya, karena itu telah diberikan Allah bagi kita dan menjadi milik kita, maka Dia ingin kita memiliki hal-hal tersebut dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Maka maksud Allah adalah agar kita menikmati apa yang menjadi bagian kita (karena Dia telah mewahyukannya), dan tidak mengkhawatirkan apa yang menjadi bagian-Nya (karena Dia tidak mewahyukannya). Kita perlu memahami dengan jelas tentang apa yang telah diwahyukan dan mengakui ketidaktahuan kita tentang apa yang tidak diwahyukan. Kombinasi Kristen dari dogmatisme dan agnotisisme inilah yang sulit kita jelaskan. Masalah muncul ketika kita mengizinkan dogmatisme kita memasuki wilayah ‘hal-hal yang tersembunyi’ atau agnotisisme kita mengacaukan ‘hal-hal yang diwahyukan.’ Kita harus bisa membedakan antara kedua wilayah kebenaran ini, hal-hal yang tersembunyi dan hal-hal yang diwahyukan. Kedewasaan ditunjukkan oleh pengakuan kita bahwa ‘saya tidak tahu’ tentang suatu hal dan mengatakan ‘saya tahu’ mengenai suatu hal lainnya—jika pengakuan ketidaktahuan itu adalah mengenai hal-hal yang tersembunyi dan klaim pengetahuan kita adalah mengenai hal-hal yang diwahyukan. Maka dogmatisme Kristen adalah (dan memang seharusnya) dibatasi. Ini berbeda jauh dari klaim mengetahui segala sesuatu. Tetapi terkait dengan apa yang telah diwahyukan secara jelas dalam Alkitab, semua orang Kristen tidak boleh ragu. Perjanjian Baru penuh dengan penegasan yang dimulai dengan kata ‘kami tahu,’ ‘kami yakin,’ ‘kami tidak ragu.’ Lihat saja surat pertama Yohanes, di dalamnya kata kerja ‘mengetahui’ muncul empat puluh kali. Kemunculan itu menun-


18 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

jukkan kepastian yang mendatangkan sukacita yang sedihnya sudah hilang di banyak bagian gereja pada hari ini dan perlu dirasakan kembali. Seperti yang pernah ditulis oleh Profesor James Stewart, ‘Beranggapan bahwa untuk rendah hati maka kita harus menyingkirkan keyakinan adalah suatu kesalahan. G. K. Chesterton pernah menulis kata-kata bijak tentang apa yang dia sebut sebagai ‘kesalahpahaman tentang sikap rendah hati’ … ‘Hari ini kita menderita akibat bersikap rendah hati pada tempat yang salah.’’7 Dia ingin mengatakan bahwa kita harus mengakui semua keterbatasan kita terkait dengan memahami kebenaran tetapi tidak boleh meragukan realitas dari kebenaran itu sendiri. Masalahnya yang terjadi adalah kebalikannya. Seperti yang Chesterton katakan, ‘Kita sedang menghasilkan suatu ras manusia yang secara mentalitas terlalu sopan untuk memercayai tabel perkalian.’ Profesor Stewart menjelaskan lebih lanjut, ‘kita harus selalu bersikap rendah hati tetapi tidak boleh meragukan Injil.’ Definisi kamus yang menjelaskan dogma sebagai ‘pernyataan pendapat yang sombong’ adalah salah besar. Menjadi dogmatik tidak harus berarti sombong. Dengan kata lain, berpikiran terbuka dan luas, yang begitu dihargai di masa kita ini, tidak selalu merupakan sesuatu yang baik. Kita memang harus berpikiran terbuka terhadap segala hal tidak dikatakan secara jelas dalam Alkitab, dan memiliki pikiran yang mau menerima sehingga pemahaman kita tentang wahyu Allah bisa terus diperdalam. Kita juga harus membedakan antara esensi dari suatu doktrin dan cara pemahaman dan penjelasan kita yang tidak sempurna. Tetapi pada waktu pengajaran Alkitab berbicara secara jelas, maka terus mempertahankan pikiran terbuka bukanlah tanda kedewasaan tetapi kekanak-kanakan. Mereka yang tidak bisa menetapkan pikiran tentang apa yang harus dipercaya, adalah orang-orang yang ‘diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran,’ dan oleh Paulus disebut sebagai ‘anak-anak.’8 Dan orang-orang yang ‘selalu ingin diajar tetapi tidak pernah dapat mengenal kebenaran’9 merupakan sifat dari ‘masa yang sukar’ di mana kita hidup.


S e b ua h Pa n g g i l a n u n t u k M e n j e l a s k a n

| 19

2. Permusuhan Terhadap Kontroversi Cara kedua di mana semangat zaman bersikap bermusuhan terhadap pembahasan buku ini adalah permusuhan zaman modern ini terhadap kontroversi. Kita diberitahu bahwa bersikap dogmatik adalah sesuatu yang buruk. Tetapi menurut seorang kritikus, ‘jika Anda harus bersikap dogmatik, simpan untuk diri Anda sendiri. Pegang definisi Anda sendiri (jika Anda memaksa mau bersikap seperti itu), dan biarkan orang lain memegang definisi mereka sendiri. Bersikaplah toleran. Pikirkan urusan Anda sendiri, dan biarkan semua orang lain memikirkan urusan mereka sendiri.’ Cara lain mengekspresikan sudut pandang ini adalah mendorong kita untuk bersikap positif, jika perlu bersikap dogmatik yang positif, tetapi jangan pernah bersikap negatif. Kita diberitahu untuk ‘menyatakan apa yang kita percaya, tetapi jangan melawan apa yang dipercaya orang lain.’ Alkitab tidak bisa menerima pendekatan ini karena seorang pemimpin Kristen tidak hanya harus ‘berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat’ tetapi juga harus ‘sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.’10 Perlawanan terhadap intoleransi secara alami muncul dari ketidaksukaan terhadap dogmatisme. Keduanya memang berjalan bersamaan. Sangat mudah untuk menoleransi semua pendapat orang lain jika kita sendiri tidak memiliki pandangan yang kuat. Tetapi ini tidak bisa kita ikuti. Kita perlu membedakan antara pikiran yang toleran dan semangat yang toleran. Orang Kristen harus selalu memiliki semangat yang toleran—mengasihi, memahami, mengampuni dan sabar dengan semua orang, memberi mereka waktu, dan mengizinkan keraguan mereka, karena kasih yang sejati ‘menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.’11 Tetapi bagaimana kita bisa memiliki pikiran yang toleran terhadap apa yang telah secara jelas Allah wahyukan sebagai sesuatu yang salah? Semua orang yang berpikiran sehat pasti menghindari kontroversi, dan kita harus menjauhi perdebatan. Paulus menulis ‘hindarilah


20 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh, dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran.’12 Pasti ada sesuatu yang salah dalam diri kita jika kita menyenangi kontroversi. Kita tidak boleh langsung terlibat dalam sebuah perdebatan. Kita juga harus berhati-hati agar tidak meninggalkan segala jenis kepahitan. Kontroversi yang dilakukan dalam semangat perseteruan, yang berakhir dengan penghinaan dan pelecehan pribadi, sudah banyak mengotori perjalanan sejarah gereja. Tetapi kontroversi itu sendiri tidak bisa kita hindari. ‘Membela dan meneguhkan Berita Injil’13 merupakan bagian dari panggilan Allah kepada kita. Mungkin cara terbaik untuk mendukung klaim bahwa kontroversi adalah keharusan yang tidak menyenangkan adalah dengan mengingat bahwa Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah seorang kontroversialis. Dia tidak ‘berpikiran luas’ dalam pengertian mau mengikuti setiap pandangan dalam setiap masalah. Sebaliknya, dan akan kita lihat dalam bab-bab selanjutnya dari buku ini, Dia sering terlibat dalam perdebatan dengan para pemimpin agama di zaman-Nya, ahli Taurat dan orang Farisi, pendukung Herodes dan orang Saduki. Dia mengklaim bahwa Dia adalah kebenaran, dan Dia datang untuk menyaksikan kebenaran, serta kebenaran itu akan membebaskan para pengikut-Nya.14 Kesetiaan-Nya pada kebenaran membuat Dia tidak takut untuk bertentangan secara publik dengan pernyataan resmi (jika menurut Dia itu salah), membongkar kesalahan, dan memperingatkan para murid-Nya tentang para guru palsu.15 Dia juga tidak malu-malu dalam menggunakan istilah, menyebut mereka ‘orang buta yang menuntun orang buta,’ ‘serigala berbulu domba,’ ‘kuburan yang dilabur putih’ bahkan ‘ular beludak.’16 Bukan hanya Yesus saja. Surat-surat Perjanjian Baru menunjukkan dengan jelas bahwa para rasul juga adalah orang-orang kontroversialis. Contohnya surat Yudas mendorong para pembacanya ‘supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.’17 Sama seperti Tuan dan Tuhannya, mereka perlu memperingatkan jemaat terhadap para guru palsu dan


S e b ua h Pa n g g i l a n u n t u k M e n j e l a s k a n

| 21

mendorong mereka untuk berdiri teguh dalam kebenaran. Hal ini terkadang dianggap tidak sejalan dengan kasih. Tetapi coba lihat Yohanes, yang dikenal sebagai rasul kasih. Dari dia kita menerima pernyataan yang indah bahwa Allah adalah kasih, dan semua suratnya dipenuhi dengan permohonan agar orang Kristen saling mengasihi satu sama lain. Namun dia juga menyatakan dengan tegas bahwa siapa pun yang menyangkal Yesus sebagai Kristus adalah seorang pembohong, penipu dan antikristus.18 Paulus juga melakukan hal yang mirip dalam 1 Korintus 13, di sana dia memberi kita hymne agung untuk mengasihi dan menegaskan bahwa kasih merupakan tanda tertinggi dari kepenuhan Roh Kudus. Dia juga menyatakan kutukan terhadap semua orang yang mendistorsi Injil kasih karunia Allah.19 Dalam generasi kita, kita sudah jauh dari hasrat yang kuat bagi kebenaran seperti yang ditunjukkan oleh Kristus dan para rasul-Nya. Tetapi jika kita mengasihi kemuliaan Allah lebih dari segalanya, dan jika kita peduli bagi kekekalan orang lain lebih dari segalanya, maka kita pasti lebih dari segalanya akan siap untuk terlibat dalam kontroversi ketika kebenaran Injil dipertaruhkan. Perintahnya jelas. Kita harus ‘teguh berpegang pada kebenaran dalam kasih.’20 Kita tidak boleh mengurangi kebenaran demi kasih atau mengurangi kasih demi kebenaran, tetapi berusaha menyeimbangkan keduanya. 3. Panggilan Untuk Bersatu Argumentasi ketiga yang dipakai untuk mendefinisikan iman Kristen secara terlalu jelas atau terlalu sempit adalah dengan mendasarkannya pada situasi kita di dunia pada hari ini. Kita diingatkan bahwa gereja di Barat secara perlahan kehilangan pengaruhnya di banyak tempat. Bukan hanya ledakan tingkat pertumbuhan penduduk melampaui tingkat pertobatan, tetapi kekuatan yang menolak Kekristenan sedang bertumbuh lebih kuat. Dalam beberapa wilayah, Islam mengklaim telah memenangkan lebih banyak petobat daripada Kekristenan. Agama-agama kuno di Timur mengalami kebangkitan jumlah pengikut di negara-negara di mana, bersamaan dengan komitmen yang kuat terha-


22 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

dap nasionalisme, Kekristenan ditolak sebagai agama dari negara asing. Selain itu ada sekularisme yang kuat di dunia modern, menarik semua individu dan masyarakat ke dalam pusat kekuatannya. Maka, menurut argumen ini, melihat pertentangan yang kuat terhadap agama Kristen, kita harus bersatu. Kita tidak bisa lagi memiliki perbedaan. Kita sedang berjuang untuk bertahan hidup. Permohonan bagi kesatuan ini sangatlah mengharukan dan kita tidak boleh mengabaikannya. Permohonan tersebut banyak yang bisa kita setujui. Sebagian dari perbedaan kita bukan hanya tidak perlu, tetapi juga menghina Allah dan menghalangi pemberitaan Injil. Saya percaya kesatuan terlihat dari gereja merupakan sesuatu yang benar menurut Alkitab dan secara praktik bisa diharapkan, dan kita harus secara aktif mengusahakannya. Pada waktu yang sama kita perlu bertanya pada diri sendiri sebuah pertanyaan yang sederhana namun penting. Jika kita bisa menghadapi orang-orang yang memusuhi Kristus dengan orang Kristen yang bersatu, jenis Kekristenan apa yang akan kita promosikan? Satu-satunya senjata yang dikalahkan oleh musuh Injil adalah Injil itu sendiri. Adalah sebuah tragedi jika kita membuang satu-satunya senjata yang efektif dalam persenjataan kita. Kekristenan yang bersatu tetapi bukan Kekristenan yang sejati tidak bisa menang terhadap kekuatan non Kristen, tetapi pasti akan dikalahkan olehnya. 4. Semangat Ekumenisme Pengaruh masa kini keempat yang memusuhi pembahasan buku ini adalah semangat ekumenisme. Dengan mengatakan ini, saya tidak bermaksud mengutuk semua usaha yang dilakukan orang-orang dalam gerakan ekumenis untuk menarik semua orang Kristen semakin dekat satu sama lain. Sebaliknya, banyak yang telah dicapai sehingga kita bisa saling memahami dan proyek-proyek seperti Christian Aid adalah baik dan benar. Saya ingin menjelaskan apa yang mungkin bisa disebut ‘sikap ekumenis.’ Menurut sudut pandang ini, tidak ada individu atau gereja yang memiliki monopoli terhadap kebenaran. Sebaliknya, semua orang Kristen, tidak peduli apa pandangan mereka, me-


S e b ua h Pa n g g i l a n u n t u k M e n j e l a s k a n

| 23

miliki ‘pemahaman’ khas mereka kepada kebenaran dan oleh karena itu memiliki ‘kontribusi’ khas mereka bagi kehidupan bersama gereja. Orang-orang yang berpegang pada sudut pandang ini menantikan suatu hari ketika semua orang Kristen dan gereja bisa berkumpul bersama dan mengumpulkan apa yang bisa mereka berikan. Banyak yang melihat hasil yang bercampur baur ini, dan sulit untuk dibayangkan, sebagai tujuan akhirnya. Dengan sikap seperti ini, maka hasrat injili tertentu untuk mendefinisikan beberapa kebenaran dalam cara yang tidak memperhitungkan yang lain haruslah dilihat sebagai usaha yang salah arah dan merusak. Pendekatan yang benar bagi orang Kristen yang tidak setuju dengan yang lain bukanlah untuk mengabaikan, atau menutupi, atau meminimalis perbedaan mereka, tetapi memperdebatkannya. Lihat Gereja Katolik Roma sebagai contoh. Saya sulit melihat orang Protestan dan Katolik Roma bisa bersatu dalam tindakan ibadah atau kesaksian bersama. Alasannya? Karena itu memberi kesan kepada orang-orang yang sedang memperhatikan kita bahwa perbedaan kita sebenarnya sudah berakhir. Orang biasa di jalan mungkin bisa berkata ‘Coba lihat, mereka sekarang bisa berdoa dan memberitakan Injil bersama, tetapi mengapa mereka masih berbeda?’ Pertunjukkan kesatuan seperti itu adalah permainan sandiwara. Pertunjukkan seperti itu bukan kehidupan nyata di dunia. Kita jelas harus bersyukur bisa melihat kekakuan yang semakin kurang dan kepekaan Alkitab yang semakin kuat dalam Gereja Katolik Roma. Akibatnya banyak individu dalam gereja Katolik Roma bisa memegang kebenaran Alkitab secara lebih kuat dari sebelumnya, dan sebagian merasa perlu meninggalkan gereja mereka. Perubahan di tahun-tahun belakangan ini terkait dengan Alkitab dalam gereja membuat tidak seorang pun bisa menebak hasil akhirnya akan seperti apa. Kita berdoa agar dengan bimbingan Allah yang terjadi adalah sebuah perubahan biblikal yang penuh. Namun di beberapa tempat, muncul kecenderungan yang berlawanan. Liberalisme teologis yang radikal ditemukan di banyak wilayah Protestan. Kemungkinan ketiga adalah kemenangan akan di-


24 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

raih mereka yang menentang perubahan itu. Kita perlu mengakui bahwa, sejalan dengan klaim Roma bahwa gereja Katolik Roma adalah semper eadem (selalu sama), tidak ada satu pun dogma gereja ini yang secara resmi di definisi ulang. Ini secara logis sejalan dengan klaim gereja Roma akan infabilitas gereja. Jika sebuah ucapan adalah infalibel, maka ucapan itu tidak bisa diubah. Maka kita perlu mengatakan bahwa definisi ulang atau pernyataan ulang apa pun yang ada tidak berisi penolakan eksplisit apa pun terhadap pernyataan atau definisi apa pun dari masa lalu. Tidak ada pengakuan publik apa pun tentang dosa dan kesalahan masa lalu, meskipun hal tersebut, bagi gereja dan individu merupakan kondisi utama bagi rekonsiliasi. Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan gereja Katolik Roma pada hari ini terlihat berayun dari sisi progresif ke konservatif, ini menunjukkan ketegangan internal dari gereja tersebut. Terkadang muncul kata-kata dukungan yang menimbulkan harapan kita bahwa Roma akan mengizinkan Alkitab untuk menghakimi dan mengubah gereja itu. Tapi harapan kecil itu kemudian dipadamkan oleh pernyataan lain yang mengembalikan kita ke tempat semula. Hal yang dibutuhkan oleh Protestan dan Katolik Roma bukanlah pertunjukan kesatuan yang prematur, tetapi sebuah ‘dialog’ yang terus terang dan serius. Sebagian orang Protestan menganggap usaha untuk melakukan percakapan dengan orang Katolik Roma adalah sesuatu yang terlalu berlebihan, tetapi tidak perlu sampai seperti itu. Kata kerja Yunani yang menjadi asal usul dari kata dialog digunakan dalam kitab Kisah Para Rasul untuk menunjukkan tindakan bernalar dengan orang-orang menggunakan Kitab Suci. Kegunaan dialog bagi orang Protestan ada dua: pertama, dengan mendengarkan secara seksama mereka bisa memahami apa yang ingin dikatakan orang Katolik Roma, dan terhindar dari perdebatan tidak perlu, dan kedua, agar mereka bisa bersaksi secara jelas dan tegas mengenai kebenaran Alkitab seperti yang diizinkan Tuhan untuk mereka pahami. Hal esensial dalam dialog seperti itu adalah agar kita mengetahui dengan tepat apa yang sedang kita bicarakan. Dua orang tidak bisa


S e b ua h Pa n g g i l a n u n t u k M e n j e l a s k a n

| 25

memahami keyakinan satu sama lain jika mereka tidak terlebih dahulu memakai waktu dan usaha untuk mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka percaya. Banyak diskusi yang gagal dari awal karena kurangnya pemahaman tersebut. Ada banyak orang yang lebih memilih untuk menjalani pertempuran intelektual dalam situasi yang disebut oleh Dr. Francis L. Patton sebagai ‘situasi berkabut’: Hal yang dibutuhkan adalah istilah yang diperjelas, bukan dikaburkan. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyingkirkan kabut yang ada. Permusuhan terhadap dogmatisme, kontrovesi, kecintaan terhadap toleransi, dan berusaha untuk bersatu, dan semangat ekumenisme— semua itu adalah sebagian dari kecenderungan modern yang memusuhi tujuan dari tulisan buku ini. Tetapi gereja Kristen, universal dan lokal, dimaksudkan Allah sebagai gereja yang bersaksi. Gereja adalah ‘tiang penopang dan dasar kebenaran.’21 Paulus menggambarkan kebenaran yang diwahyukan sebagai sebuah bagunan, dan panggilan gereja adalah menjadi ‘dasar’ nya (menahan dengan kuat agar tidak bergeser) dan ‘tiang penopang’ nya (menopangnya agar semua bisa melihat). Tidak peduli seberapa besar permusuhan semangat zaman ini terhadap pernyataan kebenaran yang lugas, gereja tidak memiliki kebebasan untuk menolak tugas yang telah Tuhan berikan kepadanya ini.


B AGI A N DUA

KONTROV ER SI


3 A ga m a Natural atau Supranatural?

G

ambaran yang populer tentang Kristus sebagai ‘Yesus yang lemah lembut dan rendah hati’ jelas tidak tepat. Ini adalah penggambaran yang keliru. Memang, Ia penuh dengan rasa iba, belas kasih, dan kelemahlembutan. Tetapi, Ia juga tidak menahan diri ketika tiba waktunya untuk menyingkap kesalahan dan mengungkap perbuatan dosa, khususnya dosa kemunafikan. Kristus adalah seorang yang kontroversialis. Para penulis Alkitab memperlihatkan betapa Ia kerap berdebat dengan para pemimpin agama di masa-Nya. Tujuan dari mempelajari kontroversi-kontroversi yang dibuat-Nya adalah untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip yang menjadi dasar dari tindakan-Nya adalah juga prinsip-prinsip yang perlu kita pertahankan hari-hari ini. Kontroversi pertama yang akan kita simak berasal dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan kaum Saduki mengenai kebangkitan. Hal ini sangat relevan dengan masa di mana kita hidup, karena menyoroti persoalan pokok mengenai apakah agama bersifat natural atau supranatural. Sebenarnya, persoalan ini berkembang lebih meluas. Persoalan ini tidak saja menyangkut tentang agama seperti apa agama Kristen itu, melainkan Allah seperti apa yang disembah oleh orang Kristen itu. Jadi, ini jelas perkara yang mendasar.


44 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

Kaum Saduki dan Rekan-Rekan Sepaham Mereka dari Dunia Modern Tetapi, sebelum kita menyimak pertanyaan kaum Saduki, kita harus melihat siapa itu kaum Saduki sesungguhnya. Mereka adalah sekelompok kecil orang Yahudi yang berpengaruh. Akar mereka bisa dirunut dari masa-masa dinasti Makabe, satu abad atau lebih sebelum Masehi. Sebagian besar mereka tinggal di Yerusalem dan berpendidikan tinggi, kaya, serta aristokratik. Keluarga-keluarga imam besar adalah orang-orang Saduki, dengan demikian Lukas dengan tepat menyatakan ‘orang-orang dari mazhab Saduki’ sebagai ‘Imam Besar dan pengikut-pengikutnya’.1 Meskipun secara politis berpengaruh, tetapi mereka tidak populer, karena mereka berkolaborasi dengan pihak otoritas penjajah Romawi. Secara teologis, mereka konservatif. Mereka menerima hukum yang tertulis (sekalipun dengan cara yang sangat formal) dan menolak ‘tradisi nenek moyang’ yang begitu dipuja oleh kaum Farisi. Demikianlah, ‘kaum Farisi memiliki doktrin yang terperinci mengenai kekekalan, kebangkitan, malaikat, setan, sorga, neraka, periode antara kematian dan kebangkitan, serta kedatangan kerajaan Mesianik, yang dalam semuanya itu kaum Saduki bersikap agnostik.’2 Flavius Josephus, sejarawan Yahudi pada abad pertama, memberikan penjelasan ringkas tentang perbedaan antara dua kelompok ini. Ia menulis, kaum Farisi ‘meyakini bahwa roh memiliki hakikat kekekalan di dalamnya,’ sedangkan kaum Saduki ‘menyingkirkan keyakinan tentang kebakaan roh,’ dan mengajarkan hal yang sebaliknya, ‘bahwa roh mati bersamaan dengan matinya tubuh.’3 Perbedaan basis teologis antara kaum Farisi dan kaum Saduki ini juga dicatat dengan cermat dalam Injil. Markus menggambarkan kaum Saduki sebagai orang-orang yang ‘yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan.’4 Senada dengan itu, Lukas memberi keterangan di dalam Kisah Para Rasul: ‘Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.’5 Oleh karena itu, kita bisa menganggap kaum Saduki sebagai ‘mo-


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 45

dernis.’ Meskipun dalam hal teologis mereka bersikap konservatif, sebab mereka juga mengakui otoritas kitab Musa, namun mereka buta terhadap kuasa dari Allah yang hidup, yang disingkapkan oleh kitab itu. Mereka menyangkali hal supranatural. Di masa kini, pihak yang serupa dengan mereka adalah orangorang yang telah terpikat dengan roh materialisme ilmiah. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kaum Saduki era modern: ‘Bukankah ilmu pengetahuan sudah menunjukkan bahwa alam semesta ternyata adalah sebuah sistem tertutup dan mekanistik, dan dengan demikian menghabisi setiap kebutuhan akan adanya Allah?’ ‘Bukankah pengalaman manusiawi sudah bisa dijelaskan sepenuhnya dalam kaidah proses-proses natural, sehingga dengan demikian kita harus menolak adanya kemungkinan apa pun mengenai sesuatu yang supranatural?’ ‘Bukankah agama itu sendiri adalah sebuah fenomena natural, yang dibentuk sebagian oleh efek-efek fisiologis dan sebagian lagi karena penyebab-penyebab psikologis, sehingga membuktikan bahwa agama bukanlah tentang eksistensi Allah yang dipercaya, melainkan terbentuk sebagai akibat dari kekacauan neurologis kimiawi otak saja dari orang-orang yang percaya adanya Allah?’ ‘Bahkan, kalau pun kita masih percaya pada Allah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta, tentu saja sekarang kita harus menyingkirkan gagasan kuno bahwa Allah secara supranatural telah berperan dalam sejarah manusia, apalagi sampai sekarang masih menjalankan peran-Nya?’ Semua ini adalah jenis-jenis pertanyaan yang diajukan oleh kaum Saduki modern. Kita menemukan cara bagaimana menjawab pertanyaan mereka dengan melihat bagaimana Yesus menjawab pertanyaan para pendahulu mereka. Dulu, kaum Saduki datang kepada Yesus dan berkata: ‘Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita...’6 Kita lihat bahwa mereka merujuk sebuah ayat yang kita ketahui sebagai hukum Musa di Perjanjian Lama (yaitu hukum yang mereka junjung tinggi) dan bahwa mereka meyakini pesan itu tetap dapat diaplikasikan bagi masa tersebut (‘Musa menuliskan perintah ini untuk kita....’).


46 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

Hukum yang mereka kutip itu secara khusus menegaskan bahwa seorang perempuan yang menjanda dan tidak memiliki anak dilarang menikah dengan ‘seorang asing di luar keluarga,’ tetapi haruslah ia menikah dengan saudara iparnya, yaitu saudara dari suaminya yang telah mati supaya ia ‘membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.’ Inilah yang menjadi latar belakang bagi pertanyaan kaum Saduki. Markus menceritakannya demikian: Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan (kebangkitan, sebagaimana yang diimplikasikan kaum Saduki, yaitu yang dipercayai kaum Farisi, tetapi yang tidak mereka percayai), bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.

Kaum Saduki jelas berpikir betapa cerdiknya mereka. Mereka menyangka bahwa contoh kasus itu telah menelanjangi kejanggalan dari doktrin kebangkitan. Mereka bermaksud menunjukkan betapa menggelikannya doktrin itu. Mereka berpendapat bahwa kehidupan memunculkan begitu banyak anomali, sehingga untuk membayangkan bahwa anomali itu akan terus berlanjut sampai pada kekekalan yang lebih panjang setelah kematian jelas berada di luar akal sehat. Kehidupan setelah kematian pasti hanya akan memperbesar skala dari masalah kehidupan saat ini. Ambil saja contoh dari perempuan ini. Ia akan diklaim sebagai istri dari tujuh orang lelaki. Semua lelaki itu akan mengaku diri sebagai suaminya. Apakah perempuan itu harus menolak mereka semua (yang berarti ia akan bertindak tidak adil) atau hanya memilih salah satu dari mereka (yang tidak akan mudah diterima oleh keenam lelaki lainnya)? Atau, haruskah ia menjadi istri dari semua ketujuh lelaki itu pada saat bersamaan? Kaum Saduki


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 47

membayangkan bahwa masalah yang mereka ajukan tidak memiliki jalan keluar. Mereka pikir mereka sudah berhasil menjebak Yesus. Yesus memulai dan mengakhiri perkataan-Nya dengan pernyataan tegas terhadap kesalahan mereka. ‘Kamu sesat,’ kata-Nya (Mrk. 12:24). ‘Kamu benar-benar sesat’ (Mrk. 12:27). Harus saya akui bahwa keterusterangan Yesus sangat melegakan bagi saya. Yesus tidak memuji mereka, sebagaimana yang mungkin kita lakukan, karena telah menangkap aspek penting dari kebenaran atau karena telah memberi kontribusi berharga bagi debat teologis yang relevan. Tidak. Mereka benar-benar sesat. Kemudian, Ia menjelaskan mengapa Ia menyebut mereka sesat. Kata-Nya, mereka sesat karena mereka tidak mengerti. Para aristokrat, imam, dan pemimpin bangsa Israel yang berpendidikan tinggi ini, yang percaya pada hukum Musa dan menganggap diri mereka sangat bijak, ternyata tidak sanggup memahami dua kebenaran: ‘... kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah’ (ay. 24). Mereka tidak mengerti Kitab Suci, karena itu mereka salah memahami kebangkitan. Tetapi, yang menjadi akarnya adalah ketidakmengertian mereka akan kuasa Allah. Kita akan melihat akar dari kesalahan mereka menurut urutan ini (meskipun Yesus membahasnya dalam urutan yang sebaliknya). Ini artinya kita harus mengesampingkan sejenak ayat 25. Tidak Mengerti Kitab Suci Kita tidak akan membahas hal ini secara detail, karena supremasi Kitab Suci akan menjadi topik dari bab berikutnya. Tetapi, ketidakmengertian akan Kitab Suci adalah persoalan yang dibahas di sini. Secara umum, Yesus melacak kesalahan kaum Saduki pada ketidakmengertian mereka terhadap Kitab Suci. Dengan cara yang sama, sebagian besar kesalahan yang terjadi di gereja hari-hari ini, khususnya yang mengarah pada kontroversi yang tak perlu, adalah akibat dari ketidakmengertian atau kurangnya rasa hormat terhadap Alkitab. Sangat penting untuk dicatat bahwa dalam perdebatan-Nya dengan


48 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

orang-orang Farisi dan Saduki, Yesus menjunjung tinggi Kitab Suci sebagai otoritas dalam perdebatan dan hakim terakhir dari perbantahan. Ketika orang mendatangi-Nya dengan sebuah pertanyaan, biasanya Ia akan langsung menanggapi dengan menanyai mereka balik dengan pertanyaan yang merujuk pada Kitab Suci. Sebagai contoh, ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada-Nya tentang hidup yang kekal, Ia menjawab, ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?’8 Lagi, ketika kaum Farisi bertanya tentang pandangan-Nya mengenai perceraian, Ia langsung menanggapi ‘Tidakkah kamu baca ...?’9 dan ‘Apa perintah Musa kepada kamu?’10 Sama dengan yang Ia katakan kepada orang-orang Saduki di sini. ‘... tidakkah kamu baca dalam kitab Musa...?’ tanya-Nya. Ini adalah dasar yang sama bagi mereka. Mereka mengutip Kitab Suci; Ia mengutip Kitab Suci. Mereka merujuk kepada Musa; Ia juga merujuk kepada Musa. Namun, dengan melakukannya, Ia menarik perhatian pada ketidakmengertian mereka, yang begitu besarnya sampai-sampai menjadikan mereka sesat. Secara khusus, Ia mengutip kitab Keluaran 3:6, dari sebuah ayat tentang semak duri yang menyala, di mana Allah berkata kepada Musa bahwa Ia adalah ‘Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.’ Dengan menggambarkan diri-Nya seperti ini, tambah Yesus, mendatangkan implikasi atas kebangkitan orang-orang itu, sebab ‘Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup’ (ay. 26, 27). Poin pertama yang patut dicatat adalah persoalan pokoknya bukan sekadar tentang kehidupan dari ketiga tokoh itu, melainkan kebangkitan dari ketiganya. Kristus mengawali jawaban-Nya dengan kalimat ‘tentang bangkitnya orang-orang mati’ (ay. 26). Ini dikarenakan, menurut Alkitab, seorang manusia adalah kombinasi dari tubuh dan roh, yang hakikat akhirnya tidak dapat dipenuhkan hanya dengan kekekalan roh saja, melainkan harus juga melibatkan kebangkitan tubuh. Lalu, ada lagi poin kedua yang harus dipertimbangkan. Apakah argumen Kristus tepat? Anda bisa berpikir bahwa bagi Allah untuk menyatakan diri-Nya sendiri sebagai ‘Allah Abraham, Allah Ishak,


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 49

dan Allah Yakub’ memiliki implikasi tidak lebih dari bahwa Ia adalah Allah dari sejarah, Allah yang mengungkapkan diri-Nya sendiri di sepanjang tiga generasi itu. Teetapi, tidak demikian. Kalimat itu memiliki arti lebih dari ini, bahkan jauh lebih dalam lagi. Argumen ini tidak sekadar berdasar pada kalimat ‘Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub,’ apalagi pada bentuk kata kerja dan kalimat ‘Akulah’ atau ‘I am’ dalam bahasa Inggris (karena bahasa Ibrani tidak memiliki bentuk kata kerja), melainkan pada seluruh konteks di mana kalimat ini berada. Allah yang sedang berbicara adalah Allah yang kekal, yaitu Allah yang ada dengan sendirinya dan menyatakan diri sebagai ‘Akulah Aku’ (‘I am that I am’) serta kekal sebagai Allah yang mengikat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia telah mengadakan dengan Abraham ‘... perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu,’11 yang kemudian Ia tegaskan pada Ishak dan Yakub. Lebih jauh lagi, perjanjian-Nya terlalu luas untuk bisa digenapi dalam masa hidup mereka, dan mereka menyadari hal itu. Menurut penulis surat Ibrani, ‘mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini,’ yaitu orang-orang yang ‘dengan rindu mencari suatu tanah air.’12 Jadi, ketika Allah menyatakan diri-Nya sendiri kepada Musa sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, maksud-Nya bukan hanya bahwa Ia adalah Allah selama berabad-abad sebelumnya, melainkan bahwa Ia masih tetap Allah mereka sampai akhir zaman. Allah yang menepati janji-Nya bagi mereka dan menjaga mereka dengan kasih-Nya yang tak berkesudahan. Allah yang telah mengadakan perjanjian di masa lalu adalah Allah yang akan menggenapinya dalam kekekalan. ‘Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup,’ dan Lukas mencatat, ‘sebab di hadapan Dia semua orang hidup.’13 Seluruh maksud Allah menciptakan dan memilih bagi-Nya sebuah bangsa adalah supaya mereka hidup bagi-Nya—karena itu, sungguh menggelikan kalau percaya bahwa rencana Allah bisa digagalkan oleh kematian! Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub adalah satusatunya Allah yang hidup, dan Allah yang hidup adalah Allah atas


50 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

orang-orang yang hidup. Dengan demikian, ini menjadi jawaban pertama yang Yesus berikan atas pertanyaan kaum Saduki. Mereka tidak mengerti Kitab Suci. Sebagaimana Lukas mencatatnya: ‘Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri.’14 Namun, di tengah-tengah segala kesombongan besar mereka akan kesetiaan terhadap Musa, mereka ternyata telah menolak apa yang dikatakan sendiri oleh Musa. Pikiran mereka sudah dibutakan oleh prasangka atau rasionalisme atau budaya Yunani yang telah mereka serap. Mereka tidak lagi tunduk pada pewahyuan Allah. Tidak Mengerti Kuasa Allah Namun, akar kesalahan dari kesesatan kaum Saduki adalah ketidakmengertian mereka akan kuasa Allah. Mereka tampaknya benar-benar berpikir bahwa pertanyaan mereka mengenai hukum Musa akan cukup untuk menggulingkan fakta kebangkitan. Mereka berpendapat bahwa masalah-masalah yang dapat ditimbulkan oleh kehidupan setelah kematian akan membuat kehidupan semacam itu benar-benar tidak masuk akal. Mereka berharap bahwa kisah mereka tentang perempuan yang menikah dengan tujuh suami akan membuat fakta kebangkitan sebagai bahan tertawaan di depan umum; kita bahkan hampir bisa mendengar mereka menahan tawa. Namun, kita pun tergoda untuk menertawakan betapa naifnya mereka. Karena, dasar dari argumen mereka adalah asumsi yang keliru bahwa kalau saja ada kehidupan setelah kematian serta kebangkitan, maka kehidupan semacam itu akan menjadi kehidupan yang sama dengan kehidupan sebelum kematian. Kaum Saduki tidak mengerti bahwa Allah bisa dengan mudahnya menciptakan hakikat kehidupan yang baru dan berbeda, di mana permasalahan hidup duniawi yang tak terselesaikan akan diselesaikan. Mereka merendahkan kuasa Allah. Kaum Farisi mungkin juga merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Saduki, karena konsep orangorang Farisi tentang kehidupan setelah kematian sangat bersifat mate-


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 51

rial. Sebagai contoh, ‘bumi akan secara pasti memulihkan yang mati, yang telah kembali padanya, demi memelihara mereka, tanpa mengadakan perubahan pada bentuknya, tetapi sebagaimana ia menerima, demikianlah ia akan memulihkannya.’15 Karena itu, ‘mengemukakan teka-teki mengenai kebangkitan adalah sebuah permainan favorit dari kaum Saduki dan seringkali menimbulkan rasa malu bagi kaum Farisi.’16 Tetapi, pertanyaan semacam itu tidak akan mempermalukan Yesus, karena Ia tahu bahwa kehidupan setelah kebangkitan oleh kuasa Allah akan jauh berbeda hakikatnya. Menurut Lukas, Yesus menjelaskannya demikian: ‘Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.’17 Di sini, Yesus mengikuti pemikiran Yahudi dan membagi sejarah menjadi dua masa, yaitu masa kini dan masa depan, ‘dunia ini’ dan ‘dunia yang lain itu.’ Ia berlanjut dengan menekankan bahwa kehidupan di dunia yang lain itu akan sangat berbeda dari kehidupan di dunia saat ini. ‘Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan.’ Sebaliknya, ‘mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati (bukan karena mereka sendiri layak, melainkan oleh karena anugerah Allah maka mereka ‘dipandang layak’), tidak kawin dan tidak dikawinkan.’ Mengapa tidak kawin dan tidak dikawinkan? Karena, ‘mereka tidak dapat mati lagi.’ Bagaimana bisa? Karena, ‘mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.’ Dengan kata lain, zaman baru akan dihuni oleh makhluk-makhluk baru yang menjalani sebuah kehidupan baru dengan kondisi-kondisi hidup yang baru. Manusia akan menjadi seperti malaikat. Yang fana akan menjadi kekal. Meminjam frasa dari rasul Paulus, mereka ‘akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa.’18 Sebagai akibatnya, kebutuhan untuk memperbanyak umat manusia tidak lagi


52 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

diperlukan. Perintah penciptaan untuk ‘beranak cuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi’19 akan selesai. Dan, karena reproduksi adalah salah satu tujuan utama dari perkawinan, maka manusia tidak perlu lagi kawin. Tidak berarti kasih akan berhenti, karena ‘kasih tidak berkesudahan.’ Tetapi, seksualitas akan menjadi transenden, dan hubungan pribadi tidak akan bersifat eksklusif maupun terekspresi secara fisik. Dan, semua ini—kehidupan baru di bawah kondisi-kondisi baru di sebuah zaman baru—akan tergenapi oleh kuasa Allah, yang terhadapnya kaum Saduki tidak mengerti. Debat Kontemporer Kaum Saduki memiliki banyak generasi penerus, yang sama cerdik sekaligus bodohnya. Beberapa dari mereka mengajukan argumen dengan istilah-istilah yang hampir identik. Mereka membuat sindiran tajam tentang fakta kebangkitan untuk mendiskreditkannya. Mereka membicarakannya dalam istilah-istilah yang sangat bersifat material, seakan-akan ‘kebangkitan’ serupa dengan ‘kesadaran.’ Mereka membayangkan bahwa yang dimaksudkan orang-orang Kristen dengan kebangkitan adalah rekonstruksi material yang ajaib dari tubuh jasmani di mana kehidupan akan berjalan seperti sebelumnya. Mereka berlanjut dengan mengajukan pertanyaan skeptis tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang tubuh jasmaninya terpecah-pecah menjadi jutaan bit atau yang abu hasil kremasinya sudah berserakan ke empat penjuru angin. Mereka menduga bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan menjadikan orang-orang Kristen malu dan membuat mereka menghapus doktrin kebangkitan sebagai sebuah keganjilan saja! Mereka tidak pernah mampu memahami bahwa tubuh kebangkitan, menurut Perjanjian Baru, walaupun memiliki kesamaan dengan tubuh jasmani, namun juga berbeda, dibangkitkan menjadi baru dan mulia oleh kuasa Allah. Kita bisa membayangkan Paulus mengecam mereka atas gagasan kasar yang mereka lontarkan dengan cara yang sama seperti ketika ia menghardik jemaat di Korintus yang bertanya


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 53

kepadanya, ‘Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?’ ‘Betapa bodohnya!’ jawab Paulus. ‘Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri... Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.’20 Orang-orang Saduki modern lainnya adalah kaum materialis-ilmiah yang saya sebutkan sebelumnya. Pandangan mereka terhadap kenyataan dibatasi pada apa yang bisa dipahami oleh panca indera. Mereka menolak segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Mereka percaya bahwa alam semesta adalah sebuah sistem tertutup yang mampu-menjelaskan-dirinya-sendiri dan digerakkan oleh hukum-hukum ‘alam.’ Bagi mereka, hal ini memiliki dua konsekuensi. Pertama-tama, mereka tidak dapat menemukan tempat bagi Allah. Pada abad-abad awal zaman sains, sudah menjadi kebiasaan untuk membedakan hukum alam dengan tindakan ilahi. Yang pertama menjelaskan apa yang kita observasi, sementara masih tetap memberikan tempat bagi Allah di wilayah-wilayah di mana hukum alam tidak (atau, belum) mampu jelaskan. Menurut sudut pandang ini, Allah pencipta dianggap sekadar sebagai ‘God of the gaps’ (semacam ‘Allah yang mengisi celah pemahaman antara apa yang mampu dijelaskan sains dengan apa yang tidak’). Salah satu contoh terbaik mengenai istilah ini dicatat dalam sebuah surat yang ditulis Isaac Newton kepada Kepala Kolesenya di Cambridge: ‘rotasi harian planet-planet tidak diakibatkan oleh gravitasi, melainkan diperlukan sebuah tangan ilahi untuk menggerakkannya.’21 Dengan kata lain, ‘hukum alam’ (dalam hal ini, hukum gravitasi) bertanggung jawab atas mengorbitnya bumi


54 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

mengitari matahari, tetapi ‘Allah’ adalah pihak yang bertanggung jawab atas rotasi bumi pada sumbunya. Namun, hal ini menimbulkan persoalan. Jika Allah hanya menempati celah pemahaman (gap), berarti seiring penemuan sains bertambah dan celah-celah pemahaman itu berkurang, maka Allah secara bertahap akan tersingkir keluar dari alam semesta yang diciptakan-Nya sendiri. Tetapi, Allah umat Kristen tidak pernah sekadar ‘Allah pengisi celah pemahaman,’ meskipun banyak orang Kristen yang memahami-Nya dengan cara demikian. Ketika Marquis de Laplace ‘dicemooh oleh Napoleon karena tidak menyebutkan Allah dalam risalah terkenalnya mengenai mekanika benda-benda angkasa,’ Laplace tepat ketika menjawab, ‘Sir, saya tidak memerlukan hipotesis semacam itu.’22 Apa yang Laplace tolak dengan pernyataannya bukanlah Allah, melainkan menggunakan Allah sebagai pengisi celah pemahaman mengenai apa yang tidak diketahui secara ilmiah. Karena alasan yang sama, Uskup Samuel Wilberforce keliru. Dalam debatnya dengan T. H. Huxley pada sebuah pertemuan termasyur yang digelar British Association di Oxford pada tahun 1860, menggambarkan teori evolusi Darwin sebagai ‘sebuah upaya untuk menggulingkan Allah.’23 Teori itu tidak bermaksud melakukan hal semacam itu, apalagi berhasil dalam percobaannya. Sebagian karena orang-orang Kristen seringkali keliru dalam mempertahankan wilayah tertentu dari serangan ’sains’ demi melindunginya untuk ‘Allah,’ sehingga fakta mengenai Allah telah disisihkan oleh banyak ilmuwan—seperti contoh, Julian Huxley: ‘Konsep Allah sebagai sesosok makhluk berpribadi supranatural hanyalah sebuah penjelasan untuk mengisi celah pemahaman, yang diajukan untuk menjembatani adanya celah pemahaman pada masa pemikiran pra-ilmiah.’24 Tentu saja, kita harus sepakat dengan Profesor Donald Mackay bahwa ‘perdebatan ini pantas diakhiri, karena ini bukanlah perselisihan antara sains dengan kekristenan sama sekali, melainkan antara pandangan yang salah dengan pandangan salah lainnya.’25 Lalu, ada kesimpulan deduktif kedua yang dipetik kaum materialisilmiah dari pandangan mereka terhadap alam semesta yang diatur oleh


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 55

‘hukum-hukum alam.’ Kesimpulan itu adalah penolakan atas kemungkinan sekecil apa pun terhadap ‘yang supranatural.’ ‘Mukjizat tidak dapat terjadi,’ kata mereka. Jadi, ‘mukjizat tidak terjadi.’ Jika mereka mengklaim diri sebagai orang-orang Kristen, maka ‘kekristenan’ mereka sepenuhnya kering dari mukjizat. Bagaimana kita bisa menjawab kritik semacam ini, yang pertamatama melenyapkan Allah dari yang natural, dan kemudian berlanjut menyingkirkan sekaligus yang supranatural? Kita harus mengulangi perkataan Kristus: ‘Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti kuasa Allah.’ Untuk mengawalinya, Allah di dalam Alkitab adalah Allah atas alam, satu-satunya yang memberi dan terus memberi alam ini keteraturan secara konsisten. Teori Allah sebagai pengisi celah pemahaman adalah cara yang mudah untuk menjelaskan apa yang tak terjelaskan. Teori ini menarik garis batas arbitrer antara apa yang bisa dengan apa yang tidak bisa (pada saat ini) dijelaskan secara rasional dan ilmiah, kemudian berpegang pada Allah terhadap perkara yang tidak dapat dijelaskan serta menyingkirkan-Nya dari perkara yang dapat dijelaskan. Jika konsep kita mengenai Allah adalah sekeji ini, berarti kita pantas menerima kecaman pedas Julian Huxley: ‘Hipotesis ilahi tidak lagi memiliki nilai pragmatis bagi penafsiran atau pemahaman atas alam ini, dan seringkali justru menjadi penghalang dari penafsiran yang lebih baik serta lebih benar. Secara operasional, Allah mulai tidak menyerupai penguasa, melainkan sebuah senyuman terakhir Cheshire Cat kosmis yang semakin memudar.’26 Kebenarannya adalah tak seorang Kristen yang alkitabiah dapat menerima pembedaan antara hukum alam dengan tindakan ilahi yang menjadi akar dari segala kesalahpahaman ini. Karena hukum alam bukanlah alternatif pengganti dari tindakan ilahi, melainkan sebuah cara untuk merujuk kepada tindakan ilahi itu. Hukum ‘alam’ hanya menggambarkan bentuk keseragaman yang telah diteliti oleh para ilmuwan. Dan umat Kristen menghubungkan keseragaman ini dengan hakikat Allah yang tidak pernah berubah. Lebih lanjut, mampu menjelaskan sebuah proses secara ilmiah bukan berarti secara mut-


56 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

lak mampu menjelaskan hakikat Allah; melainkan, (mengutip kalimat terkenal dari seorang pakar astronomi Jerman, Johannes Kepler) mampu ‘berpikir menurut pola pikir Allah’ dan mulai memahami jalan-jalan-Nya. Alkitab sendiri harus menjadi pelindung bagi kita dari menganggap Allah sekadar sebagai pengisi celah pemahaman ilmiah atau pengawas pergerakan mesin alam. Karena Allah dalam Alkitab tidak berada di celah-celah pemahaman, melainkan di segala tempat, entah tempat itu terlihat berisi atau kosong. ‘”Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi?” demikianlah firman TUHAN.’27 Dan, proses alam tidak lagi dipotret sebagai sebuah mekanisme otomatis, melainkan terkait dengan aktivitas pribadi-Nya. Demikianlah, Allah melalui Kristus ‘... menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan ...,’28 sehingga ‘... segala sesuatu ada di dalam Dia.’29 Apa yang benar bagi seluruh alam semesta ini juga benar mengenai planet di mana kita hidup. ‘Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.’30 Dan Ia telah berjanji bahwa, ‘Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.’31 Yesus sendiri dapat mengafirmasi dalam Khotbah-Nya di atas Bukit bahwa Allah Bapa ‘yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.’32 Ia adalah Allah di sepanjang sejarah sekaligus juga Allah yang empunya alam. Ia mengawasi migrasi sukusuku dan menetapkan batas bangsa-bangsa. Ia ‘memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu,’33 supaya ‘di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.’34 Ia juga memberikan hidup pada rantai terendah dari ciptaan. Ia memberi makanan pada binatang dan burungburung, serta pakaian bagi bunga-bunga di padang. Ini adalah benar bahwa semuanya ini adalah ungkapan bahasa prailmiah—bahkan, terkesan naif. Semuanya ini menghapuskan penyebab kedua dari apa pun itu dan menjelaskan eksistensi serta keberlanjutan segala sesuatu, dari yang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah,


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 57

sebagai aktivitas langsung dari Allah yang hidup. Namun ini juga benar, bahwa cara pandang ilmiah dan alkitabiah terhadap alam tidak saling bertentangan; keduanya saling melengkapi. Masing-masing menjelaskan sesuatu yang tidak dijelaskan oleh yang lainnya. Kita harus memilih sepakat dengan Profesor Charles Coulson: ‘Entah apakah Allah ada dalam seluruh Alam, tanpa menjadi pengisi celah pemahaman ilmiah, atau Ia sama sekali tidak ada. Jika kita tidak bisa membawa Allah masuk di ujung sains, berarti Ia pasti ada di sana sejak dari mulanya, dan terus berada di sepanjang jalurnya. Kita telah berbuat salah dengan menciptakan antitesis tajam apa pun antara sains dan agama. Tidak ada jalan keluar lain dari kebuntuan kita selain menegaskan bahwa sains adalah salah satu aspek dari kehadiran Allah...’ Setelah kita jelas mengenai hal ini, kita tahu bagaimana melawan kaum Saduki masa kini: ‘Pada persoalan pokok inilah umat Kristen membedakan dirinya dari kaum humanis-ilmiah,’ demikian komentar Profesor Coulson. ‘Ini tidak berarti menolak aspek sains mereka: melainkan, ini berarti menyesali kepicikan berpikir mereka... Penyangkalan terhadap keberadaan Allah biasanya praktis sebagai hasil dari menutup salah satu mata. Mungkin inilah alasannya mengapa Allah memberi kita dua mata.’ Jadi Allah yang diungkapkan dalam Alkitab bukanlah seorang pesulap atau pembuat keajaiban, yang setiap tindakan-Nya adalah mukjizat. Ia secara normal bekerja menurut tata-aturan alamiah yang Ia tegakkan sendiri. Pada saat yang sama, Ia tidak dibatasi oleh alam atau hukum-hukum alam. Sangat menggelikan kalau menganggap bahwa ciptaan kini mampu mengontrol Sang Pencipta. Ia sanggup melangkah keluar dari keseragaman alam yang diciptakannya, dan Alkitab menyatakan bahwa kadangkala Ia melakukannya. Mukjizatmukjizat ini tidak tersebar secara merata di sepanjang Kitab Suci, melainkan tampil dalam kelompok-kelompok. Tujuan khususnya adalah membuktikan sebuah tahap baru dari penyingkapan-diri Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Melalui tindakan spesifik dan supranatural atas keselamatan, pewahyuan, dan penghakiman, Allah


58 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

melakukan ‘keterlibatan kreatif ’ pada dunia yang diciptakan-Nya. Kekristenan sebagai Agama Kebangkitan Sebagai contoh adalah fakta kebangkitan, karena ini adalah pokok persoalan dengan kaum Saduki. Proses natural yang telah Allah tetapkan, sebagian dari penciptaan dan sebagian dari penghukuman, adalah kelahiran, pertumbuhan, penuaan, kematian, dan pembusukan. Ini adalah siklus alam. Manusia juga termasuk dalam proses ini: ‘... sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.’35 Karena itu, ‘kebangkitan’ adalah sebuah konsep yang sangat supranatural. Pada kebangkitan Kristus, proses pembusukan fisik dari alam tidak hanya ditahan atau dibalik, melainkan diubah. Alih-alih terurai menjadi debu, tubuhNya bertransformasi menjadi tubuh yang baru dan penuh kemuliaan bagi Roh-Nya. Kebangkitan Yesus dinyatakan dalam Perjanjian Baru sebagai manifestasi dahsyat dari kuasa supranatural Allah. Doa Paulus begi jemaat di Efesus supaya Ia menjadikan mata hati mereka terang agar mereka mengerti kebesaran yang tak terbandingkan dari kuasa Allah—kuasa ‘yang sama yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati...’ Berarti, kekristenan dalam esensinya yang paling mendalam adalah sebuah agama kebangkitan. Konsep kebangkitan berada tepat di jantungnya. Jika Anda menyingkirkannya, kekristenan hancur. Izinkan saya menunjukkan apa yang saya maksud dengan hal ini. Perjanjian Baru berbicara tentang setidak-tidaknya tiga peristiwa kebangkitan yang berbeda. Pertama, kebangkitan Kristus. Sekitar 36 jam setelah kematianNya, Roh-Nya (yang sebelumnya berada di Hades, yaitu tempat tinggal bagi yang telah mati) dan tubuh-Nya (yang dibaringkan di dalam makam batu) dipersatukan kembali. Pada waktu yang sama, tubuhNya ‘dibangkitkan.’ Itu berarti tubuh-Nya diubahkan menjadi apa yang Paulus katakan sebagai ‘tubuh-Nya yang mulia,’37 dengan kuasa yang baru dan tak terpahami. Dalam kebangkitan ini, tubuh Kristus keluar dari makam batu, menembus pintu-pintu yang tertutup, tam-


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 59

pak di depan murid-murid, menghilang, dan akhirnya, menentang hukum gravitasi, terangkat ke sorga. Kedua, kebangkitan tubuh. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kebangkitan Yesus dari kematian memberi bukti dan pola dari kebangkitan tubuh kita di akhir zaman. Karena Ia sudah bangkit, demikian juga kita akan bangkit—dalam fakta dan cara yang sama. Rasul Paulus cukup jelas mengenai hal ini: ‘Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah (yaitu, Adam), demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi (yaitu, Kristus).’38 Dan ketika Kristus datang kembali, Ia ‘akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.’ Pada hari besar kedatangan Kristus kembali dan kebangkitan kita itu, kita akan menerima tubuh kemuliaan seperti tubuh-Nya. Ketiga, kebangkitan orang-orang berdosa. Dengan menegaskan bahwa kekristenan adalah agama kebangkitan, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang-orang Kristen hanya melihat kilas balik pada 2.000 tahun yang lalu pada kebangkitan Yesus Kristus dan ke depan di akhir zaman ketika kebangkitan semua orang mati terjadi. Antara kebangkitan Kristus di masa lalu dan kebangkitan tubuh di masa depan, ada kebangkitan lain yang terjadi—pada masa kini dan bersifat rohani (meskipun tak kurang supranatural), yaitu kebangkitan orang-orang berdosa. Yesus sendiri berbicara tentang menerima hidup kekal sebagai sebuah perpindahan dari kematian kepada hidup yang kekal, sebuah kebangkitan dari kematian: ‘Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.’39 Rasul Paulus menjelaskan hal ini lebih lanjut: ‘Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu... Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang


60 | C h r i s t t h e c o n t r o v e r s i a l i s t

dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan—dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga...’40 Apakah sesungguhnya kebangkitan ketiga ini? Apakah ini hanya deskripsi yang dibesar-besarkan dan berlebihan mengenai apa yang terjadi ketika seseorang membuka lembaran hidup baru? Tentu saja tidak. Kebangkitan yang terjadi oleh kuasa Allah sangat berbeda dengan perubahan yang terjadi oleh usaha manusia! Apa yang dikatakan Injil bahwa proses ‘menjadi seorang Kristen’ sesungguhnya adalah sebuah kebangkitan dari kematian, sebuah pembebasan dari kuburan rohani yang menjadi tujuan akhir dari segala dosa dan kesalahan kita. Ini adalah anugerah hidup baru, yaitu ‘hidup kekal.’ Sebuah bentuk kehidupan yang dihidupi dalam persekutuan dengan Allah, yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang ‘dibangkitkan dari kematian.’ Ini berarti diselamatkan dari kematian, dibangkitkan untuk hidup, dan diangkat ke sorga. Ini adalah sebuah mukjizat, peristiwa yang sama supranaturalnya dan ilahi sebagaimana kebangkitan tubuh. Ini tidak bertentangan dengan alam, melainkan melampaui alam, karena tak seorang pun dari kita yang sanggup bangkit sendiri dari kematian atau memberi diri kita sendiri kehidupan baru. Setelah dibangkitkan dari kematian rohani oleh Allah, seorang Kristen menjalani hidup dalam hidupnya yang baru. Kemudian, setelah ‘dibangkitkan bersama dengan Kristus,’ kita diperintahkan untuk mencari ‘perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.’41 Ketiga jenis kebangkitan ini adalah bagian vital dari Injil yang diberitakan oleh Paulus. Ketiganya juga bisa dilacak dari pengajaran Yesus. ‘Anak Manusia harus... dibunuh,’ kata-Nya, ‘dan dibangkitkan pada hari ketiga.’42 Dengan cara yang sama, setiap manusia juga akan bangkit pada akhir zaman. Bahkan, ‘tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya.’ Sementara itu, ‘... Anak


Ag a m a : N at u r a l ata u Sup r a n at u r a l ?

| 61

menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya,’43 yaitu dengan membangkitkan orang-orang yang mati secara rohani karena dosa menuju kepada hidup kekal. Lebih lanjut, ketiga kebangkitan ini adalah peristiwa ajaib, supranatural, dan terjadi oleh kuasa Allah. Dengan demikian, ‘betapa hebat kuasa-Nya’44 yang membangkitkan Kristus dari kematian. Adalah ‘kuasa kebangkitan-Nya’45 yang Paulus kehendaki untuk alami dan yang tersedia pula bagi setiap orang percaya. Kuasa ini adalah ‘kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya,’ di mana merupakan kuasa yang sama dengan ‘yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.’46 Gereja Yesus Kristus menghadapi krisis iman yang besar pada hari-hari ini. Yang dipertaruhkan adalah karakter penting dari agama Kristen: apakah kekristenan adalah natural atau supranatural? Berbagai upaya telah dilakukan untuk melenyapkan supranaturalisme dari kekristenan, untuk merekonstruksi sebuah kekristenan yang tanpa mukjizat-mukjizat. Tetapi, upaya-upaya ini gagal sekaligus salah-arah. Anda tidak bisa merekonstruksi sesuatu yang pada mulanya sudah Anda hancurkan terlebih dahulu. Kekristenan yang otentik—kekristenan yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul-Nya—adalah kekristenan yang supranatural. Ini bukanlah sebuah agama yang penuh dengan daftar pahala dan dosa yang jinak serta lembut, ditambah sedikit bumbu gairah agamawi. Sebaliknya, ini adalah sebuah agama kebangkitan, yaitu kehidupan yang dijalani dalam kuasa Allah. Kuasa yang membangkitkan Kristus dari kematian dan yang suatu hari akan membangkitkan kita sungguh sanggup memberi kita kehidupan baru, mengubahkan diri kita, apa yang kita lakukan, dan bagaimana kita melakukannya. Dilema kuno antara Yesus Kristus dan kaum Saduki masih terjadi sampai hari ini. ‘Tidak ada kebangkitan,’ kata orang Saduki modern yang sinis. Baginya Yesus Kristus menjawab, ‘Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.’


Transforming Discipleship (Pemuridan yang Mengubahkan) Membuat Beberapa Murid yang Serupa Kristus Dalam Waktu Bersamaan Greg Ogden MENGAPA BANYAK ORANG KRISTEN TIDAK SEPERTI KRISTUS?

Banyak jemaat gereja mengeluhkan bahwa gereja mereka tidak memiliki rancangan jangka panjang untuk pemuridan dan pertumbuhan rohani mereka. Di sisi lain, banyak pemimpin gereja meratapi kurangnya sumber daya untuk mempercepat pertumbuh gereja dan sedikit pelayan yang mau melayani dalam program-program gereja. Akar masalah dari kurangnya pertumbuhan gereja sangat mungkin tidak disebabkan oleh kurangnya kepedulian terhadap jemaat tetapi mungkin lebih disebabkan karena tidak efektif memuridkan jemaat yang sudah dimiliki dan membentuk mereka menjadi pengikut Kristus yang berkomitmen. Dalam Transforming Discipleship, Greg Ogden memperkenalkan visinya tentang pemuridan, ia menekankan bahwa solusi tidak akan didapat melalui program yang berskala besar dan menguras banyak sumber daya. Sebaliknya, ia menunjukkan kebutuhan gereja akan pemuridan dan menghidupkan kembali metode Yesus dalam membawa perubahan hidup, dengan berinvestasi hanya pada beberapa orang pada waktu bersamaan. Dan menunjukkan bagaimana pemuridan dapat mereplikasi dirinya sendiri dengan dampak yang berkelanjutan dari generasi ke generasi. Info lengkapnya kunjungi: www.perkantasjatim.org Literatur Perkantas Jawa Timur Jl. Tenggilis Mejoyo KA-10, Surabaya 60292 Tlp. (031) 8435582, 8413047; Faks.(031) 8418639 E-mail: literatur.jatim@gmail.com, www.perkantasjatim.org



Christ The Controversialist - Kristus Sang Kontroversialis