Page 1

Rakyat Bergerak Membangun Daulat

Pidato Politik Ketua BP PERGERAKAN Oleh: Sapei Rusin

Pengantar Laporan Pertanggungjawaban Badan Pelaksana PERGERAKAN Disampaikan pada Persidangan Kongres III PERGERAKAN Bandung, 5-10 Desember 2011

1|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011


Assalamualaikum. Wr.Wb Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua Saudara-saudara peserta sidang kongres yang saya hormati, pertama-tama mari kita panjatkan syukur pada hadirat Tuhan YME atas limpahan nikmat dan berkahnya untuk kita semua sehingga kita dapat berkumpul bersama di tempat ini dalam keadaan sehat wal afiat. Saya juga ingin manghaturkan ucapan terimakasih atas kehadiran saudara-saudara pada Kongres III PERGERAKAN ini. Sungguh ini satu kehormatan yang luar biasa bagi kami selaku penyelenggara. Kehadiran saudara-saudara pun saya maknai sebagai bentuk perhatian, kesungghunan dan komitmen yang kuat terhadap masa depan gerakan rakyat pada umumnya dan masa depan organsiasi PERGERAKAN pada khususnya. Kenapa saya katakan demikian? Karena kehadiran saudara-saudara pada kongres ini tentunya merupakan sumber kekuatan kehendak dan pikiran yang merupakan fondasi bagi tercapainya berbagai pemufakatan mengenai arah, strategi dan tahapan perjuangan organsiasi PERGERAKAN kedepan. Saudara-saudara, Saya betul-betul merasa terhormat dapat berdiri dihadapan saudarasaudara semua. Para kaum pemberontak, mereka yang senantiasa memberontak pada setiap bentuk ketidakadilan. Saya tahu betul bahwa sebagian besar waktu dalam hidup saudara-saudara dicurahkan dengan kesungguhan hati untuk melakukan perlawanan-perlawanan, penyadaranpenyadaran, pengorganisiran-pengorganisiran rakyat yang menjadai korban dari corak pengurusan negara yang kapitalistik. Tentu apa yang telah saya lakukan tidak sebanding dengan apa yang telah saudara-saudara semua lakukan. Hanya rasa tanggungjawab dan tekad yang dipandu utopia untuk mewujudkan masyarakat yang setara yang terbebas dari segala bentuk penghisapan manusia oleh manusia lainya yang memberi alasan dan keberanian bagi saya untuk hadir ditengah-tengah dan berbicara dihadapan saudara-saudara semua. Karena saya yakin betul bahwa organisasi PERGERAKAN ini tidaklah lahir dari kekosongan. Sekali lagi tidak lahir dari kekosongan. PERGERAKAN terlahir dari suatu kebulatan tekad dan dari suatu kesungguhan yang diperas dari keresahan, ketidaksenangan, ketidakpuasan dan mungkin kemarahan kita masing-masing dalam memandang kondisi kehidupan masyarakat. Kebulatan tekad kita semua tersebut tentunya dipandu oleh suatu cita-cita, suatu mimpi atau suatu imagi. Seperti halnya kebulatan tekad para perintis dan penggerak Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang dipandu oleh utopia akan terbebasnya bangsa Indonesia dari kolonialisme. Momentum seperti Kongres semacam inilah yang saya harapkan dapat terus menyegarkan, menghidupkan dan mengkristalkan kebulatan tekad kita bersama. Inilah kesempatan kita untuk menegaskan ulang dan menyadarinya secara bersama-sama, apa sesungguhnya utopi, mimpi atau cita-cita yang memandu kebulatan tekad kita itu? Saudara-saudara sekalian, kenapa saya berharap demikian? Karena saya yakin bahwa tantangan yang kita hadapi dari hari kehari semakin besar. Tanpa kebulatan tekad yang kuat dan tanpa panduan yang jelas, saya yakin kita hanya akan bergerak-gerik tanpa arah, tanpa makna dan tentunya tanpa hasil sesuai dengan yang kita harapkan dalam alam batin dan alam fikir kita mengenai keadilan sosial dan kesejahteraan umum. Kini, negara yang semestinya bertanggungjawab dalam melindungi dan mensejahterakan rakyat malah semakin terperosok dibawah kekuasaan pasar dan tentunya dibawah kontrol kekuasaan para pemilik modal. Dari hari ke hari negara dikondisikan, ditekan dan dituntut untuk melepaskan berbagai penguasan sumberdaya ekonomi pada sektor privat atas nama kebutuhan pemenuhan biaya pembangunan. Deregulasi atau pengurangan kontrol negara terus dilakukan melalui berbagai amandemen, pembuatan undang-undang baru bahkan sampai pada penciptaan rezim boneka kapitalis. Targetnya adalah agar mekanisme pasar bekerja secara optimal. Para pemilik modal semakin leluasa untuk melanggengkan monopli penguasaan aset dan mengakumlasi 2|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011


keuntungan. Tentunya dengan cara menghisap para kaum pekerja dan menyingkirkan rakyat dari sumber-sumber penghidupannya. Dalam Indonesia yang semakin kapitalistik, tidak mengherankan jika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa jika pada kenyataannya jumlah akumlasi kekayaan 40 orang Indonesia yang dilansir harian Kompas (28/11/2011) mencapai angka US$ 85,1 miliar lebih atau setara dengan dari 766 trliyun rupiah (memakai kurs dollar setara 9.000 rupiah). Jumlah ini lebih dari setengah jumlah APBN tahun 2011 sebesar Rp 1.202 triliun. Angka ini juga setara dengan tiga kali lipat jumlah belanja untuk subsidi pendidikan pada tahun 2011 yang berjumlah Rp 248,978 triliun dan lebih dari 20 kali lipat jumlah total berbagai subsidi seperti: subsidi pangan (Rp 15,267 triliun), subsidi pupuk (Rp 16,277 triliun), subsidi benih (Rp 120 miliar) subsidi bunga kredit (Rp 2,618 triliun). atau 10% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun yang sama. Dan juga tidak mengherankan jika penguasaan asing terhadap sumberdaya alam Indonesia mencapai 80%. Karena sistem pasar mengkondisikan modal dapat keluar masuk seenaknya. Modal tidak pernah membangun solidaritas sosial suadara-saudara. Tetapi modal hanya membangun kompetisi brutal dimana yang menang semakin berkuasa dan yang kalah ditinggalkan dalam penderitaan! Siapa mereka yang tergusur dan tertinggal dalam penderitaan saudara-sadaura? Mereka adalah 32 juta petani Indonesia yang berada pada status buruh tani karena tidak memiliki tanah. Mereka adalah 90 juta petani lainnya yang merupakan petani subsisten atau petani gurem. Mereka adalah 2,8 juta keluarga nelayan tangkap yang hidupnya berada dalam jeratan para cukong, tengkulak dan rentenir. Mereka adalah 65% dari 34,51 juta orang yang bekerja di sektor formal tetapi sesungguhnya merupakan pekerja kontrak dan outsourcing yang tidak memiliki jaminan masa depan, perlindungan pendidikan, kesehatan dan jaminan masa tuanya. Merekalah yang sesungguhnya mencucurkan keringatnya, mengerahkan segala tenaganya untuk bekerja banting tulang. Tetapi dalam corak produksi yang kapitalistik mereka hanyalah dijadikan sapi perahan bagi pemupukan keuntungan para pemilik modal. Sementara mereka tetap tergusur dan lapar! Masyarakat adat? Saudara-saudara, apalagi jika kita menelisik lebih dalam situasi yang dihadapi para kaum perempuan pekerja Indonesia. Mereka harus menghadapi situasi penyingkiran bahkan penistaan derajat kemanusiaan sejak di rumah tangganya, di tempat-tempat kerjanya hingga ruang-ruang publik. Dalam menjalankan tugasnya untuk melahirkan generasi penerus bangsa, perlindungan bagi mereka sangatlah rendah. Hal ini ditunjukan dengan tingkat kematian ibu dan anak di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di ASEAN. Di samping itu, masih sekitar 3-4 juta perempuan mengalami tindakan kekerasan setiap tahunnya. Sepanjang tahun 1998-2011 saja Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat terdapat 93.960 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Ini berarti setiap harinya ada 20 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Dalam ruang-ruang produksi, kesempatan mereka untuk bekerja pun masihlah sangat kecil. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat partisipasi perempuan dalam dunia kerja masih 49%. Jauh tertinggal dari angka partisipasi laki-laki yang mencapai angka partisipasi 80,2%. Saudara-suadara yang saya hormati, Menghadapi itu semua, tentu kita tidak bisa mengandalkan para pemimpin dalam rezim yang kapitalistik dan liberal ini saudara-saudara. Para pimpinan yang bibirnya senantiasa basah oleh kata-kata demokrasi tetapi luput dari kesungguhan hati dan pikiran untuk benar-benar memajukan kesejahteraan umum. Penyusunan kebijakan bukan lagi semata-mata demi kesejahteraan umum. Melainkan kalkulasi untung rugi bagi kepentingan kelompok elit berkuasa dan kepentingan para pemilik modal. Transaksi pasar kini bekerja dalam ranah politik. Pembayar tertinggi lah yang berhak mendapatkan jasa pelayanan terbaik. Pemilu pun sebagai media bagi penyaluran kedaulatan rakyat telah mewujud menjadi mesin penghasil orangorang yang tidak berkarakter. Proses desentralsiasi administrasi dan politik yang hakikatnya untuk mendekatkan pelayanan umum pada rakyat, kini menciptakan pimpinan-pimpinan daerah yang 3|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011


korup, ekspolitasi sumberdaya alam secara besar-besar atas nama memacu pendapatan daerah dengan mengabaikan hak-hak masyarakat adat dan keberlanjutan layanan alam untuk generasi saat ini dan generasi-generasi selanjutanya. Tentu saja ini bukan barang baru untuk kita. Ini semua bukan penderitaan baru. Puluhan bahkan ratusan tahun sudah dirasakan bangsa ini, sejak feodalisme, kolonialisme, imperalisme, dan kapitalisme berurat-akar di tanah ini. Dan kita berdiri di sini bukan untuk mewarisi penderitaanpenderitaaan itu. Kita disini untuk mewarisi perlawanan atas penderitaan itu. Lalu apa yang harus kita lakukan saudara-saudara? Menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengulangi dan menegaskan lagi apa yang sudah saya sampaikan pada bagian awal pidato saya ini. Yaitu pemantapan cita-cita bersama kita. Pemantapan apa yang menjadi mimpi kita sesungguhnya. Pengokohan keyakinan yang mengikatkan dan memandu kehendak kita satu dengan yang lainnya. Inilah yang pertama, utama dan sekaligus menjadi fondasi untuk langkah-langkah kita saudarasaudara sekalian. Apa sesungguhnya yang menjadi cita-cita kita saudara-saudara sekalian? Sepanjang perjalanan saya bersama saudara-saudara semua saya berusaha menyelami, memahami dan menangkap apa yang ada dalam relung-relung batin dan pikiran saudara-saudara sekalian. Saya sampaikan pada kesempatan ini bahwa kita bercita-cita untuk mewujudkan suatu kehidupan masyarakat yang setiap orang per orangnya dengan sepenuh hati dan kekuatannya mampu bekerja mencari nafkah dan produktif bagi pencapaian kebahagiaannya secara lahir batin tanpa merampas hasil kerja sesamanya. Sehingga kekayaan dan hasil produksi harus dikembalikan ke kepemilikan bersama untuk kesejahteraan bersama, untuk kepentingan umum dan memajukan kesetaraan manusia. Dengan kata lain, ekonomi-politik yang hendak diperjuangkan PERGERAKAN adalah tatanan yang dibangun dalam kultur dan etos ekonomi-politik baru yang mengatur corak, watak, dan perilaku ekonomi-politik yang mengubah watak individualistis dan bercorak kapitalistik menjadi watak kolektif dan bercorak sosialistik. Dalam tatanan seperti itu, kebebasan yang dimiliki oleh setiap kita dalam menggerakkan potensi dirinya untuk mempertinggi derajat kemanusiaan tidak ditujukan hanya untuk pencapaian kepuasan individualnya semata. Karena pada saat yang sama ia harus memenuhi kepuasan orangorang lain dalam kolektifnya. Demikian selanjutnya pada kolektif yang lebih besar, derajat kemanusiaan tertinggi tidak mungkin dicapai oleh satu kolektif kecil dengan mengabaikan kolektifkolektif lainnya. Demikian jugalah kaum PERGERAKAN meyakini dan memperlakukan kebebasan yang dimilikinya, sebagai alas prinsip yang membedakan jalan kaumnya dari yang lain, sebagai panduan untuk menghadapi ajaran dan sistem yang dilawannya. Inilah saudara-saudara, yang dimaksud sebagai kemandirian ekonomi. Inilah jalan yang harus kita tempuh untuk melawan kapitalisme ekonomi. Tak ada pilihan lain, dalam tiga tahun ke depan kita harus membangun ekonomi mandiri sebagai ukuran dari watak kolektif dan corak sosialistik! Saudara-saudara yang saya hormati, Cita-cita tersebut dapat kita kejar dan wujudkan melalui jalan pembangunan kemampuan rakyat secara terus menerus hingga memiliki kedaulatan sejati dalam mengendalikan jalannya roda perpolitikan dan perekonomian negara ini. Dengan kata lain, memperjuangkan cita-cita tersebut ditempuh melalui palagan perlawanan dan pertempuran politik demokratik yang bertumpu pada persatuan rakyat sadar dan teorganisir untuk merebut kekuasaan negara dari kontrol kepentingan para pemilik modal. Pilihan jalan yang saya sampaikan ini merupakan penegasan ulang atas pilihan yang kita bahas dan kita rumuskan pada Kongres Pertama PERGERAKAN yang dipandu oleh hasil analisa dan dipaparkan dalam pidato politik saudara Dianto Bachriadi selaku Ketua BP PERGERAKAN pendahulu saya. Rumusan dan kesadaran tersebut sekaligus menjadi pemandu bagi saya untuk menjalankan 4|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011


tanggungjawab saya selaku Ketua BP PERGERAKAN selama ini. Tentu tidak mudah saudara-saudara menempuh jalan ini. Berbagai gangguan, keputusasaan dan godaan yang menelisik sisi kelemahan serta sisi keliaran dan kerakusan dalam diri kita masing-masing senantiasa merongrong. Suatu proses transmisi nilai-nilai apolitis yang berlangsung lama dan sistematis begitu membekas di tengah-tengah masyarakat bahkan di tengah-tengah kita. Sikap ketidakpercayaan politik dan keputusasaan akan terjadinya perubahan dan masa depan yang lebih baik merupakan situasi psikologis yang diidap oleh mayoritas rakyat dan bahkan mengendap dalam alam bawah sadar kita masing-masing. Mari kita dobrak keputusasaan ini saudara-saudara! Mari kita enyahkan keraguan ini saudara-saudara! Hidup rakyat! Jadi saudara-saudara yang saya cintai, perjuangan kita tidak lagi sekedar diletakkan sebagai upaya untuk mendorong perubahan kebijakan publik atau sekedar terlibat di dalam proses pembentukan kebijakan publik, tetapi menjadi bagian dari manuver-manuver politik kolektiv rakyat sadar dan terorganisir yang selama ini terpinggirkan untuk menggeser kekuasaan atau tegasnya untuk merebut kekuasaan. Dengan kata lain, cara perjuangan kita bukanlah proyek politik individu! Sekali lagi bukanlah sebagai proyek politik individu! Tetapi suatu kerja kolektif dari kelas rakyat yang memang sangat berkepentingan terhadap perubahan-perubahan. Jika pada masa lalu pengorganisasian rakyat lebih banyak ditujukan untuk menggalang kekuatan penekan kepada rejim dan seringkali sifatnya adalah pengorganisasian yang bersifat jangka pendek dan berbasis pada kasus, maka saat ini kerja-kerja pengorganisasian rakyat harus “diteruskan� sebagai pembentuk basis-basis dari gerakan sosial yang bertujuan untuk menggalang kekuatan bagi perubahan sosial. Kerja-kerja pengorganisasian yang berawal dari cita-cita untuk menyelesaikan kasus harus diperlebar jangkauannya kepada pengorganisasian kepentingan yang berbasis kepada pengelompokan sosial, baik berbasis wilayah maupun yang berbasis kelas. Dengan demikian ikatan rakyat dengan organisasi perjuangannya bukanlah ikatan pragmatisme antara organisasi dengan anggotanya. bukanlah ikatan kesementaraan pada penyelesaian kasus semata. Tetapi organsiasi mewujud menjadi rumah bersama sebagai basis pelaksanaan atau praktek atas nilai-nilai, cara-cara, hubungan-hubungan sosial-ekonomi-politik yang kita cita-citakan. Sehingga hubungan-hubungan kita dalam berorganisasi tidak hanya hidup ketika kita berdemonstrasi, hanya hidup di ruang-ruang pertemuan atau hanya hidup ketika kita dalam tekanan dan ancaman. Tetapi apa yang dicita-citakan serta jalan dan cara yang diyakini oleh organisasi senantiasa hidup di setiap sudut kehidupan dalam rumah-rumah kita, dalam cara-cara kita berkonsumsi, dalam cara-cara kita berproduksi, dalam cara-cara kita berniaga, dalam kerja-kerja politik kita dan dalam membangun hubugan-hubungan sosial. Inilah yang kita bayangkan sebagai daulat politik. Dimana relasi kuasa sejatinya berada dalam kolektif yang mewujud dalam organisasi rakyat. Kedaulatan politik bukan hanya harus direbut dari tangan rejim kapitalis. Melainkan harus dibangun di dalam sistem kolektif organisasi yang kuat. Dengan demikian saya yakin tiga tahun mendatang kita akan melangsungkan sebuah kongres rakyat. Kongres yang mempertemukan kaum buruh, tani, nelayan, perempuan, masyarakat adat, sebagai kebulatan perjuangan setiap kolektif di dalamnya. Kongres daulat rakyat. Saudara-saudara yang saya cintai, Hanya dengan jalan dan cara seperti itu saya bisa yakin bahwa perjuangan kita dapat menemukan kemenangan sejatinya. Hanya dengan pemandu dan jalan seperti itu kita dapat mewujudkan keadilan yang sejati dalam masyarakat Indonesia. Yaitu keadilan dalam hubungan-hubungan antar manusia untuk saling memberi dan saling menerima. Yaitu keadilan dalam hubungan setiap manusia dengan masyarakatnya dimana setiap orang mencurahkan segala daya upayanya untuk turut memajukan kemakmuran serta kesejahteraan bersama sebagai tujuan mutlak dari bermasyarakat. Yaitu keadilan dalam membagikan segala kemajuan, kenikmatan, kekayaan, kemakmuran secara rata dan merata menurut keselarasan sifat dan tingkat perbedaan rohaniah dan badaniah para warganya. Dimana perbedaan sifat dan tingkat rohaniah dan badaniah 5|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011


ini tidak diselewengkan menjadi pembenaran terjadinya ketimpangan dan kesenjangan. Tetapi diperuntukkan bagi kepentingan-kepentingan diberlakukannya tindakan-tindakan khusus untuk melindungi dan memajukan pihak-pihak yang lemah mengingat adanya perbedaan secara kodrati manusia, sekalipun pada hakekatnya adalah sama. Sebelum saya sampai pada bagian penutup adari pidato politik saya ini, perkenankan saya secara singkat memberikan penjelasan mengenai apa yang telah kita capai dan dengan cara apa kita meraih itu semua. Sementara mengenai penjelasan lebih rinci mengenai apa-apa yang telah dilakukan oleh Badan Pelaskana dapat saudara-saudara pelajari pada bagian Penjelasan Umum Laporan Pertanggungjawaban yang tidak terpisahkan dari dokumen pidato politik ini. Dan saya kira dokumen itu sudah ada ditangan saudara-saudara sekalian. Saudara-saudara yang saya hormati, merujuk pada apa yang dimandatkan oleh Garis-Garis Besar Haluan Program (GBHP) PERGERAKAN 2008-2011, saya mengerahkan segala daya upaya untuk memperkuat organisasi-organsasi rakyat sehingga memiliki platform yang jelas untuk diperjuangkan, memiliki keanggotaan yang definitif dan solid, memiliki kepemimpinan dan kader-kader yang kuat, memiliki pengaruh politik, dan mampu mengembangkan basis produksi untuk membangun kedaulatan ekonomi. Selain itu saudara-saudara sekalian, saya pun ambil bagian dalam mempelopori upaya-upaya pembangunan solidaritas, sinergi dan persatuan gerakan rakyat. Suatu persatuan gerakan rakyat yang mencerminkan terjadinya kerja kolektif, terjadinya konsolidasi arah perjuangan, agenda dan strategi ekonomi-politik organisasi. Dan yang terkahir saya pun mendorong terbangunya proses produksi dan re-produksi pengetahuan yang berbasis pada praktek dan dinamika gerakan rakyat, tersusunya berbagai konsepsi dan panduan mengenai strategi dan taktik untuk memperkuat agenda perjuangan rakyat, serta terdokumentasikannya gagasan-gagasan perubahan sosial-ekonomi-politik. Saudara-saudara yang saya hormati, kalau saudara-saudara bertanya pada saya apa hasil dan dampak dari upaya-upaya itu semua, maka jawabannya akan sangat tergantung pada kondisi dan konteks awal dari masing-masing organisasi rakyat. Jika organsiasi sedang pada tahap pengembangan basis-basis pengorgansiasian, kepeloporan dan kepemimpinannya dalam kancah gerakan, maka upaya tersebut berdampak pada percepatan dan pengokohan peran-peran organsiasi tersebut. Seperti halnya HAPSARI, SPP, FSBKU dan FSPBI yang memang menghasilkan terbentuknya organisasi-organsiasi baru, menghidupkan kembali organsiasi-organisasi yang sudah terbentuk tapi dalam keadaan “hidup segan mati pun tak mau� serta meneguhkan dan mempromosikan organsiasiorgansiasi yang baru tumbuh. Jika kondisi organisasi dalam keadaan stagnan atau krisis, upayaupaya langsung dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan kader, fasilitasi proses konsolidasi untuk restrukturisasi, pengembangan basis produksi kolektif, pengembangan sistem informasi dan lain sebagainya. Sementara itu saudara-saudara sekalian, dalam konteks upaya pengorganisasian dalam rute transformasi organisasi PERGERAKAN menjadi satu organsiasi persatuan perjuangan rakyat yang berwatak konfederatif dari berbagai federasi-federasi nasional, saat ini telah terbangun fedeasi nasional serikat perempuan, petani, buruh dan nelayan. Hasil ini dicapai melalui sejumlah langkah konsolidasi sektoral dan wilayah. Salah satu upaya yang dilakukan dan saudara-saudara ikuti secara langsung sebagai bagian dari rangkaian Kongres III PERGERAKAN ini adalah penyelenggaraan konferensi-konferensi nasional perempuan, petani, buruh dan nelayan. Agenda tersebut merupakan upaya pengerucutan atas upaya-upaya sebelumnya yang dilakukan sepanjang periode kepengurusan saya. Upaya-upaya untuk membangun proses produksi dan re-produksi sampai saat ini telah menghasilkan draft-draft konsepsi untuk menjadi landasan dan panduan organsiasi PERGERAKAN kedepan. Draft-draft konsepsi yang dimaksud dan saya harapkan menjadi materi bahasan dalam kongres ini antara lain: draft manifesto keadilan agraria, manifesto industrialsiasi nasional, maninfesto ekonomi Pergerakan dan panduan pengembangan basis ekonomi organsiasi rakyat.

6|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011


Draft-draft tersebut sesungguhnya masih jauh dari sempurna. Tapi setidaknya ini menjadi dasar untuk proses penyempurnaan lebih lanjut. Saudara-saudara yang saya hormati, sekali lagi saya sampaikan bahwa penjelasan tersebut sifatnya sangat umum. Untuk lebih jelasnya, dapat dipelajari lebih lanjut pada dokumen Laporan Pertanggungjawaban Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011. Demikian apa yang dapat dan penting saya sampaikan melalui pidato politik ini sebagai pengantar, sebagai pembuka dari penjelasan laporan pertanggungjawaban saya selaku Ketua BP PERGERAKAN. Dalam hal melaksanaan mandat-mandat yang diberikan pada saya, tentunya masih banyak kekurangan yang dapat ditemukan dalam berbagai hal. Semua itu terjadi karena keterbatasan dan kelemahan yang ada pada diri saya pribadi. Terimakasiha atas perhatiannya. Terimakasih atas kesabarannya untuk mendengarkan kalimat demi kalimat yang saya utarakan. Mohon maaf atas segala kekeliruan. Akhirnya, sudah sepatutnya saya menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya pada seluruh anggota Dewan Pengarah PERGERAKAN periode 2008-2011 yang telah bersama-sama mengawal dan membangun organisasi ini. Kepada seluruh anggota PERGERAKAN yang telah menitipan harapan dan kepercayaannya. Tentunya tidak lupa juga penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan pada kawan-kawan yang setia menemani dan mendukung saya untuk menjalankan tugas-tugas sebagai Ketua Badan Pelaksana. Sekian. Wassalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh. Selamat siang salam sejahtera untuk kita semua.

7|LPJ Ketua BP PERGERAKAN 2008-2011

Pidato Politik Ketua BP Pergerakan  

Pengantar Laporan Pertanggungjawaban Badan Pelaksana PERGERAKAN Disampaikan pada Persidangan Kongres III PERGERAKAN Bandung, 5-10 Desember 2...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you