Page 1

DUTA RIMBA MAJALAH PERHUTANI

NO. 49 • TH. 8 • JANUARI - FEBRUARI • 2014

M A JA L A H

P E R H U TA N I

SOSOK RIMBA

Endang Suraningsih

“ Keberanian Perhutani Out of the Box, Kurang” RIMBA KHUSUS

Gajimu Bukan Demomu WARISAN RIMBA EDISI NO. 49 • TH 8 • NOVEMBER -DESEMBER 2013

Berharap Tuah Air Nganget Kenduran RIMBA KULINER

Balik Jonegoro Kangen Soto Cicik Ciamik

RESTRUKTURISASI ORGANISASI

SUPER BODY


SalamRedaksi

Pengarah Bambang Sukmananto Direktur Utama Perum Perhutani

Dua Hot Isu

Dok. Humas PHT

ISSN: 2337-6791

Penanggung Jawab Hari Priyanto Sekretaris Perusahaan

Pemimpin Redaksi Susetiyaningsih Sastroprawiro Kepala Biro Komunikasi Perusahaan

Sekretaris Redaksi Ruddy Purnama

Redaktur Dadang Kadarsyah • Maria Dyah • Lusia Diana

Tata Usaha M. Agus • Media Indah • Adehika • Guritno

Perwakilan Kepala Seksi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah Kepala Seksi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Timur Kepala Seksi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Barat & Banten

Desain & Layout Tim Duta Rimba Art Works

Alamat Redaksi Humas Perhutani Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 10 Jl. Gatot Subroto Senayan Jakarta Pusat Telp: 021 - 5721 282, Fax: 021 - 5733 616 E-mail: redaksi@perumperhutani.com www.perumperhutani.com

Naskah & Advertensi DUTA RIMBA adalah majalah dua bulanan yang diterbitkan Perum Perhutani untuk berbagi informasi korporasi kepada internal dan para pihak. Redaksi menerima tulisan, artikel, naskah, dan foto-foto menarik yang sesuai dengan visi dan misi tema penerbitan DUTA RIMBA edisi berikutnya. Artikel ditulis dengan spasi ganda, maksimal lima halaman dan dikirim melalui e-mail (softcopy). Redaksi berhak melakukan editing sesuai dengan kebutuhan penerbitan. Iklan dan advertorial pada majalah DUTA RIMBA mendapatkan diskon menarik.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

P

embaca yang budiman. Memasuki tahun 2014 kita dihadapkan dengan suana keprihatinan atas terjadinya sejumlah bencana. Mulai dari banjir, gunung meletus dan tanah longsor terjadi di mana-mna. Kejadian tersebut selain menorehkan keprihatinan, juga membangkitkan rasa kesetiakawanan untuk saling berbagi meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena musibah. Sekalipun dalam suanana keprihatinan, memasuki tahun 2014, kita juga mencatat banyak hal kemajuan, khususnya pada lingkup mikro Perhutani. Pada awal tahun ini, selain perusahaan menaikkan gaji karyawan, juga melakukan restrukturisasi organisasi. Bila sebelumnya struktur organisai Perum Perhutani berbasis pada tanaman (plantation), struktur organisasi yang baru berbasis pada industrialisasi. Dalam struktur yang baru, baik tanaman, industri, dan pemasaran justru dilakukan penguatan. Dua isu penting tersebut sengaja kami tampilkan pada Duta Rimba edisi kali ini. Restrukturisasi organisasi Perum Perhutani kami sajikan dalam Rimba Utama, agar bisa memberikan pencerahan kepada seluruh karyawan Perum Perhutani. Sementara untuk kenaikan gaji, kami sajikan dalam Rimba Khusus, sebagai bagian dari sosialisasi komitmen korporat untuk terus-menerus meningkatkan kesejahteraan karyawan. Selain Rimba Utama dan Rimba Khusus, pada edisi ini juga kami sajikan obsesi Perhutani ke depan dalam rubrik benah diri. Dalam rangkaian transformasi korporat, Perhutani ke depan harus menjadi super body, dengan anak-anak perusahaan sebagai ujung tombak untuk menangguk keuntungan. Dengan cara begini, Perhutani akan bisa lebih fokus menyediakan bahan baku industri dan lingkungan Untuk memperkaya khasanah pengetahuan, juga kami sajikan rubrik Ensiklo yang mengupas tanaman asli Australia, Eukaliptus. Sementara bila anda dan buah hati anda kurang sehat coba gunakan Forest Care, produk minyak kayu putih Perhutani yang tersaji dalam rubrik Bisnis Rimba. Sementara bagi anda yang hobi dengan wisata kuliner jangan lewatkan soto Cicik Ciamik dari Bojonegoro, yang dikupas lengkap dalam rubrik Rimba Kuliner. Dan, bila anda mendambakan suasana damai dan tenang jangan lewatkan Rubrik Wisata Rimba. Disana anda bisa berpetualang di Curug Genting yang alami nan eksotis. Sambil menikmati sajian edisi ini, kami ucapkan selamat sukses. Semoga Tuhan yang Maha Esa selalu meridloi. Amien • DR

DUTA Rimba 1


semairimba

SALAM REDAKSI BENAH DIRI • Perhutani Super Body

1 4

PRIMA RIMBA • Struktur Baru, Kultur Baru

6

RIMBA UTAMA • • • • • •

10

Relokasi dengan Cita Rasa Baru 10 24Jam yang Menentukan 14 Dari Divisi Hingga General Manajer 18 Kayu Jati Estate Mengikuti Jejak Toyota 22 Target Komersial Kayu dan Non Kayu Berpacu Mendongkrak Rp 4,5 Triliun 26 Restrukturisasi Menuntun Lahirnya Prakarsa 30

RIMBA KHUSUS • Gajimu Bukan Demomu 34 • Golden Shake Hand 38 • Reward and Punishment Kick Off-nya 2014 40

SOSOK RIMBA • Endang Suraningsih “Mengangkat Human Capital Index Indonesia dengan Semangat Merah Putih” LINTAS RIMBA LENSA • Saka Wanabakti Dedikasi Bagimu Bumi

56

OPINI • Manajemen Intensif

34

44 50

44

62

WARISAN RIMBA • Berharap Tuah Air Nganget Kenduruhan

66

ENSIKLO RIMBA • Eukaliptus Flora Khas Australia

70

RIMBA DAYA • Sutoko dan Gulo Klopo

74

BISNIS RIMBA • Forest Care Tahan lama, Sensasinya Seketika

78

WISATA RIMBA • Curug Genting, Potensi yang Tersembunyi

84

POJOK KPH • KPH Randublatung Berpotensi Jadi Kawasan Jati Estate

84

88

RESENSI • Berawal dari Sebuah Toilet

90

INOVASI • Getah Premium Tingkatkan Produksi Penyaringan Getah 300%

92

RIMBA KULINER • Balik Jonegoro Kangen “Soto Cicik” Ciamik 94 2 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


POSRIMBA Pohon Kayu Putih

Perum Perhutani memiliki Industri

22 Februari 2014 (Stempel pos/Jasa Kurir).

Salam, Perum Perhutani.

Plywood yang letaknya di Kecamatan Pare,

Panitia juga tidak memungut biaya apapun

Saya mencari bibit / pohon jadi

Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

dalam Lomba Menulis Cerpen Hutan dan

untuk jenis kayu putih. Apakah Perhutani

Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa

Lingkungan (LMCHL).

mempunyainya dan berapa harganya?

menghubungi Kantor KPH Kediri di alamat

Terima kasih.

berikut: Jl Hasanudin No 27 Kediri, Telp: Doni

Selamat mengikuti lomba. Kami tunggu naskah tulisannya.

(0354) 682709, 692782.

cdonnington@XXX.com

Ajuan PKL

Pertanyaan

Perum Perhutani memang mengembangkan beberapa jenis tanaman termasuk kayu putih.

Saya mahasiswa Biologi, ingin

Saya ingin bertanya mengenai lomba

menanyakan, apakah Perum Perhutani

cerpen hutan dan lingkungan. Bagaimana

di setiap kotanya membuka kesempatan

Untuk mendapatkan informasi

cara mendaftarnya? Apakah saya bisa

untuk PKL? Saya berminat belajar banyak

yang lebih lengkap, Saudara dapat

langsung mengirimkan naskah cerpen

tentang hutan. Sekadar bantu-bantu

menghubungi Puslitbang SDH Perum

saya ke alamat yang tertera? Bolehkah

di lapangan juga tidak apa-apa, yang

Perhutani di alamat: Jl Wonosari, Batokan,

naskah dikirim melalui jasa pos dan

penting saya bisa belajar tentang program

Cepu, Jawa Tengah, Telp: (0269) 421233,

sejenisnya? Adakah biaya untuk mengikuti

kehutanan. Terima kasih.

421883.

lomba ini? Saya sangat mengharapkan

Dwi Eliana deliana19@XXX.com

balasan pesan ini. Terima kasih. Dian Lestari

Kantor Pabrik Sengon Kediri

dianlestari_302@XXX.com

Sebelumnya kami mohon maaf, karena tidak bisa memberikan keterangan

Untuk mengikuti lomba tersebut,

Salam sukses untuk Perhutani.

lengkap. Hal itu dikarenakan Saudara tidak

Saya ingin bertanya, di mana

Saudara cukup mengirimkan naskah

mencantumkan asal daerah dan lokasi

lokasi kantor atau pabrik sengon milik

cerpen ke alamat yang tertera pada

tujuan PKL yang dimaksud.

Perum Perhutani untuk wilayah Kediri?

poster atau pengumuman di website

Terimakasih.

www.perumperhutani.com. Naskah boleh

lebih lengkap, silakan menghubungi bagian

dikirim melalui jasa pengiriman apa saja,

SDM Kantor Pusat Perum Perhutani di

dengan catatan telah sampai di tempat

nomor telepon (021) 5721282 dengan

sebelum tanggal penutupan lomba yaitu

ekstensi 912.

Ruston ruston.junaidi@XXX.com

Untuk mendapatkan informasi yang

Perum Perhutani meraih Bronze Winner Kategori The Best State Own Enterprise In House Magazine (InMA) Bengkulu. PERHUTANI (8/2) – Perum

ajang penghargaan bagi desain sampul

Perhutani meraih Bronze Winner Kategori

muka terbaik media cetak komersial atau

The Best State Own Enterprise In House

Indonesia Print Media Award (IPMA)

Magazine( InMA) edisi 44 Januari –

maupun intenal atau Indonesia Magazine

Pebruari 2013 yang diserahkan langsung

Award (InMA).

oleh Ketua Umum SPS Pusat, Dahlan Iskan

Direktur Eksekutif SPS Pusat Asmono

yang juga sebagai Menteri BUMN di Ball

Wikan mengatakan, antusias peserta dari

Room Hotel Santika – Bengkulu. Sabtu.

tahun ke tahun dinilai semakin tinggi.

Pagelaran IPMA dan InMA menjadi

Terlihat dari jumlah entri IPMA dan InMA

dari 58 lembaga. Indonesia Print Media Award (IPMA)

puncak rangkaian kegiatan SPS pada awal

yang diterima panitia semakin bertambah,

memasuki tahun ke lima, pertama digelar

tahun 2014 yang mengiringi kegiatan Hari

di tahun 2013 jumlah entri IPMA sebanyak

di Jakarta tahun 2010 dan untuk ke 3

Pers Nasional (HPN).

671 karya, dan entri InMA sebanyak 149

kalinya diselenggarakan bagi sampul muka

karya.Total entri IPMA tahun ini mencapai

majalah internal koorporasi dan lembaga

Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat bagi

749 karya dari 202 perusahaan pers,

sejak tahun 2012 dengan titel In House

industri media dan kehumasan merupakan

sedangkan entri InMA totalnya 201 karya

Magazine Award (InMA).• DR

Forum prestisius tahunan yang digelar

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 3


BENAHDIRI

Perhutani Perum Perhutani ke depan harus menjadi Super Body sehingga bisa fokus menyiapkan sumber bahan baku industri dan menjaga lingkungan. Perhutani tidak boleh memikirkan terlalu banyak mencari uang. Untuk mencari banyak uang biar dilakukan oleh anakanak perusahaan. Melalui cara demikian perhutani akan mampu membangun sektor kehutanan secara maksimal.

U

Dok. Humas PHT

paya untuk melakukan Perhutani akan menjadi super body perubahan Perum sebagai usaha bisnis di bidang Perhutani terus kehutananan. Perhutani sekarang dilakukan. Sesuai terlalu besar. Kalau terlalu gemuk, dengan rencana jadinya kurang lincah. Lemaknya jangka panjang perusahaan, banyak, sementara tugasnya korporat mencoba mentransformasi seabrek. Mulai diberi tugas publik, dari proses bisnis yang berbasis kesejahteraan , kesejahteran internal pada tanaman (plantation) menuju maupun eksternal. Dan, juga proses bisnis industri. Plantation dan bagaimana Perhutani bisa menjaga industri itu memiliki pola pikir yang lingkungan. Itu membutuhkan cost, berbeda, sehingga harus berubah. sehingga harus dipisah. Perhutani yang memiliki struktur Sebagai super body, Perhutani organisasi berdasarkan tanaman akan fokus menyiapkan sumber tentunya sudah tidak cocok lagi, bahan baku industri dan lingkungan. sehingga harus ditransform supaya Perhutani tidak memikirkan mencari sesuai dengan tujuan perusahaan uang terlalu banyak. Yang mencari agar industri itu menjadi lokomotif, uang itu nantinya anak-anak Bambang Sukmananto untuk menarik gerbong di perusahaan. Dan pendapatan anak Direktur Utama Perum Perhutani belakangnnya. Karena itu industri perusahaan nantinya masuk ke harus prima, sehingga organisasi Perhutani. Nah, dari pendapatan Perhutani meski disiapkan sebaik- baiknya. itulah Perhutani akan membangun hutan, memperbaiki Tentu yang menjadi pertanyaan, perubahan macam kesejahteraan, lingkungan, dan tugas-tugas negara untuk apa yang harus dilakukan oleh Perhutani? Kalau industri itu publik. arahnya efisiensi, produktivitas, dan unit bisnis tersendiri, Sekarang yang sedang kita bangun PT PAK. Mulai sehingga saya mulai dari pemasaran dan industri itu Maret atau April produksi lagi. Di Trenggalek. Perusahaan dipisah. Yang pertama ada Direktorat Komersial kayu dan itu sudah lama tidak pernah untung dan tidak pernah Direktorat Komersialan non Kayu. Namanya komersial, diurus. Sekarang mulai kita urus dan 80% sudah selesai. apalagi non kayu. Disitu urutan-urutan bisnisnya ; industri, Kemudian PT Palawi, yang selama ini tidak diurus, sehingga pengolahan, efisiensi, dan produktivitas. Itu saya kira rugi terus. Ini harus diperbaiki dan harus dikembangkan. lokomotif jangka panjang. Bagaimana perusahaan ini PT Palawi mengembangkan mikro hidro. PT Palawi mentransform secara cepat pendapatan korporat ini bekerja sama dengan perusahaan lainnya. PT Palawi Terus kalau sudah industri kemana? Kalau industri tentu yang mengeloloa Mikro Hidro bisa bekerja sama dengan tidak boleh begitu-begitu saja. Dalam jangka panjang perusahaan lain. Palawi harus sehat dan bisa berkembang.

4 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Kemudian BUMN HL juga harus bekrkembang. Anak perusahan ini dulunya pemegang sahamnya banyak dan setelah diakuisisi saham Perhutani menjadi 52%. Sisanya milik PT Jasa Tirta 1 dan Jasa Tirta 2. Perusahaan ini sesungguhnya tidak mencari untung. Karena bakti usaha, tugas dari Kementerian BUMN untuk bisa memanfaatkan dana BUMN lainnya untuk menanam pohon di luar wilayah hutan. Atau menanam pohon di lahan masyarakat. Begitu ke depan juga melakukan optimalisasi pabrikpabrik Perhutani. Pabrik besar di malang 95% sudah selesai. Sekarang sedang komisioning. Pabrik ini akan jadi anak perusahaan sendiri digabung dengan delapan pabrik gondorukem lainnya. Sekarang ini masih di bawah direktorat industri. Ke depan harus jadi anak perusahaan sendiri. Begitu pula kayu. Nanti akan jadi satelit-satelit perusahaan dan akan kita kembangkan. Realitas semacam itu yang mendasari Perhutani mengubah struktur organisasi agar dapat menampung seluruh kegiatan. Dimana industri begitu cepat dan kompleks. Tidak bisa cara kerja orang-orang plantation sehingga harus dipisah, karena kulturnya berbeda. Perubahan struktur organisasi itu intinya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan eksternal Perhutani sendiri, dimana persaingan begitu tajam. Bila tidak dilakukan perubahan Perhutani tidak akan bisa hidup untuk jangka panjang. Dengan perubahan struktur, hidup menjadi segar, pegawainya sejahtera, percaya diri menghadapi kompetisi yang makin tajam. Perubahan struktur organisasi ini juga sangat kontekstual bila dikaitkan dengan zona kawasan perdagangan bebas ASEAN . Dalam era tersebut kompetisi cukup ketat. Dimana sistim perdagangannya sudah sedemikian maju. Sememtara, Perhutani masih kuno sekali. Mulai dari sistem HRD-nya, sistem managemen, sistem informasi, sistem pelayanannya sudah tidak sesuai dengan standar. Berjualan asal laku. Bukan menjual dalam konteks menfasilitasi konsumen. Kalau konsumen protes didiamkan saja. Sekarang tak bisa seperti itu. Perubahan struktur itu dalan rangka mencegah agar sistem yang kuno tersebut terus – menerus dilanggengkan. AFTA itu nanti kaitannya dengan SDM. Dimana SDM dan barang bebas keluar-masuk tanpa pajak. Kalau kita tidak antisipasi semuanya bisa bablas. Orang bisa investasi ke Indonesia. Itu bisa jadi masalah kalau kita tidak siap-siap. Karena itu, struktur organisasi harus berubah. Yang bisa cepat tanggap, mandiri, dan birokrasinya lebih efisien. Dimana, kewenangan-kewenangan yang ada akan diserahkan di lapangan. Sekarang ini mau beli lampu harus minta ijin dari kepala unit. Atau kalau untuk urusan tertentu harus ke Jakarta. Cara semacam itu sudah tidak jamannya lagi .

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Perubahan struktur organiasi ini akan berdampak terhadap pengelolaan perusahaan secara keseluruhan. Mulai dari sistem keuangan berubah dengan on line. Sistem gaji juga diubah. Sistem pengadaan barang juga berubah. Ujungn-ujungnnya penataan SDM harus dilakukan. Ini kompleks, tetapi harus dijalani. Struktur organisasi ini sesungguhnya hanya tool (alat) saja bagi perusahaan untuk mengklasifikasi dan mewadahi seluruh operasional Perusahaan. Namun apakah struktur itu bisa efektif atau tidak tergantung pada orang-orang yang ada dalam struktur itu untuk menggerakkan organisasi. Disinilah dalam konteks organisasi secara keseluruhan, perubahan struktur itu akan efektif jika diikuti dengan perubahan kultur dari seluruh karyawan. Untuk mencapai visi dan misi perusahaan yang baru tentu membutuhkan cara kerja dan kultur baru juga. Untuk menjamin struktur organisasi yang baru itu efektif, maka pengisian pejabat yang menduduki struktur yang baru sangat penting. Untuk menjamin obyektivitas dalam pengisian pejabat, manajemen membuat daftar list. Dimana pengisian struktur ini nantinya berdasarkan kompetensinya. Kemudian kita buat rangking. Dan untuk menentukan rangking ini ada persyaratannya antara lain; Berapa lama sudah menjabat, mendapat skor dalam bentuk persentase. Jabatan apa saja yang pernah dijabat dan seterusnya. Kemudian keluarlah skor secara keseluruhan. Kemudian dari situ juga dilakukan fit and proper tes. Dari situ lahirlah daftar urutan orang, sebagai dasar untuk menentukan secara administrasi layak menjabat. Kemudian setelah secara administrasi layak, di cek kompetensinya. Direksi menilai. Si A cocoknya di mana, si B cocoknya dimana, begitu pula si C dan seterusnya . Tapi ada juga yang tidak cocok di mana-mana. Mungkin untuk sementara tidak cocok menjadi pejabat sehingga harus diistirahatkan sebagai warning. Jangan kalau kerja seenaknya. Karena nanti berbasis kinerja. Organisasi Ini merupakan paket, sehingga harus dievaluasi. Begitu juga yang menjalankan organisasi juga haus kita evaluasi. Termasuk nama organisasi di lapangan . Tugas-tugasnya di tambah atau dikurangi. Begitu pula diskripsi tugasnya tentu harus berubah. Sementara untuk orangnya tergantung. Untuk mengisi struktur ini bisa juga dilakukan dari luar secara selektif. Sistem keuangan sekarang ini memang lagi berubah. Untuk mengisi keuangan bisa direkrut dari luar. Begitu pula Perencanaan dan pengembangan bisnis harus direkrut dari luar. Kalau dari dalam tidak ada yang pas, sehingga harus diambil dari luar. Semua itu dilakukan agar struktur organissi baru ini semakin lincah dan gesit untuk mewujudkan proses industrialisasi. Semoga • DR

DUTA Rimba 5


primarimba

Struktur Baru,

Kultur Baru Berpacu dalam waktu. Itulah gambaran langkah Perum Perhutani dalam melakukan perubahan. Tak hanya dalam tataran wacana, tetapi juga implementasi. Tak hanya sekedar menyusun roap map transformasi, hingga menjadi dokumen perusahaan. Yang tidak kalah pentingnnya bagaimana menjabarkan roap map tersebut dalam bentuk aksi-aksi korporat yang melibatkan seluruh karyawan baik di tingkat pusat hingga ke daerah.

T

entu bukanlah persoalan sederhana untuk melakukan aksi-aksi korporasi bagi seluruh elemen yang ada di perusahan kehutanan ini. Apalagi dengan melibatkan karyawan sebanyak 24.000 orang. Ibarat sebuah orkesta, tak hanya dibutuhkan seorang dirijen untuk mengharmoniskan irama musik yang mendayu-dayu hingga enak didengar. Yang tak kalah pentingnnya bagaimana ribuan SDM tersebut memiliki kapasitas dan kualitas untuk memainkan alat musik yang demikian beragam. Ibarat sebuah orkesta, memang banyak alat-alat musik yang tersedia , untuk melahirkan alunan musik yang enak didengar dan diresapi. Namun bila alat musik tersebut tidak dimainkan oleh pemain yang memiliki kapasitas dan kualitas yang memadai. Apalagi, permainnan mereka tidak dikoordinasikan secara

6 DUTA Rimba Dok. Humas PHT

apik, bisa menimbulkan suara gaduh yang memekakkan telinga. Dalam melakukan perubahan, Perum Perhutani memang telah menabuh genderang transformasi. Di sektor tanaman misalnya, Perhutani mulai meninggalkan pola tanam secara konvensional. Begitu menanam diserahkan pada sabda alam. Justru dalam trasnsformasi di sektor tanaman, Perhutani mencoba melakukan intensifikasi untuk menggenjot produksi. “Kita bukan mengejar luasnya tanaman tetapi produktifitasnya rendah. Ke depan kita pilih tanaman 50 Ha atau 24 Ha dengan out put yang sama,� kata Dr Mustoha Iskandar (Duta Rimba No 48, November-Desember 2013) Sementara di sektor hilir, Perhutani tengah berpacu dengan industrialisasi yang berbasis hasil hutan. Melalui industrialisasi ini diharapkan akan bisa menciptakan banyak nilai tambah. Tidak saja dalam mendongkrak pendapatan

perusahaan, tetapi juga dalam mencipatkan kesehjahteraan masyarakat sekitar hutan, baik melalui penciptaan lapangan kerja, mata rantai perekonomian masyarakat dan nilai tambah lainnya baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Untuk mesinergikan dua transformasi tersebut menjadi tantangan Perhutani ke depan. Mengapa demikian? Karena sektor tanam dan industri itu memiliki kultur yang berbeda. Bila sektor industri itu dibutuhkan kultur yang cepat, efektif, efisien, produktivitas yang tinggi dan unit bisnis tersendiri. Sementara di sektor tanaman membutuhkan kultur kesabaran, ketekunan, kerajinan, sejalan sifat tanaman yang tumbuh dan berkembang membutuhkan waktu lama. Misalnya 20 s/d 40 tahun. Untuk mewadahi dua kegiatan utama tersebut, kini Perhutani melakukan restrukturisasi organisasi.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 7


Organisasi yang sebelumnya hanya mewadahi kegiatan perhutani yang berbasis tanaman kiranya sudah tidak memadai lagi. Untuk mewadai kegiatan Perhutani di bidang industrialisasi, dibutuhkan wadah tersendiri yang terintegrasi dengan struktur organisasi yang ada di Perhutani. Untuk merancang restrukturisasi organisasi baru agar bisa mewadai kegiatan tanaman dan industrialiasi tentu bukanlah masalah sederhana. Beberapa pertanyaan yang muncul sering menggelayuti sebuah korporasi yang akan melakukan restrukturisasi organisasi, seberapa afektifkah struktur organisasi yang baru itu untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Pertanyaan semacam itu tak hanya muncul dalam benak pimpinan top manajemen, tetapi juga seluruh pekerja yang ada di perusahaan. Seperti misalnya, Apakah organisasi perusahaan nantinya tidak gemuk?. Apakah perusahaan mampu mendapatkan talent untuk mengisi struktur organisasi perusahan? Apakah ada kerajaan-kerajaan kecil dalam organisasi perusahaan? Bagaimana agar ada komunikasi antara direktorat yang satu dengan derektorat yang lain lain? Bagaimana agar struktur yang baru bukan hanya formalitas? Apa akibat dari penempatan pekerja yang tidak tepat bagi pekerja maupun organisasi? Apa yang menghambat produktivitas pekerja? Bagaima merangsang pekerja untuk menggenjot kinerjanya? Bagaimana merancang uraian pekerjaan (job describtion) agar lebih efektif ? Bagaimana agar sasaran organisasi dapat dicapai lewat pembagian tugas yang telah ditentukan? Pertanyaan –pertanyaan semacam itu tentu sah-sah saja terjadi, sebagai sebuah proses dialetika untuk mencari format yang

8 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

primarimba

lebih produktif bagi pertumbuhan korporat di masa mendatang. Namun untuk merancang struktur organisasi baru Perhutani banyak aspek yang dipertimbangkan. Antara lain bagaimana kaitannya struktur yang baru dengan misi dan visi Perhutani yang kini tengah bertransformasi menuju perusahaan yang berbasis industri kehutanan. Selanjutnya , rancangan susunan organisasi yang baru disusun setelah perusahaan merumuskan bisnis proses utama untuk mencapai sasaran organisasi. susunan organisasi yang baru juga mempertimbangkan bakat dan kemampuan yang dimiliki pekerja. Mempertimbangkan aspek umur ketika menempatkan pekerja pada jabatan-jabatan tertentu. Dilakukan self-assesment kepada pekerja yang akan menempati jabatan baru, agar mereka memahami jabatan yang diemban itu masih relevan dengan bakat dan talenta mereka. Dan, tentu yang terakhir disampikan kepada para pekerja bahwa posisi yang akan ditawarkan pada pekerja bisa tidak sesuai dengan bakat dan talentanya. Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian baik secara posisi maupun

tugas yang ada pada perusahaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun. Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya minimal dua orang untuk mencapai sebuah tujuan. Namun ada pula yang memberikan tafsir struktur organisasi adalah bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal. Sekalipun demikian struktur organisasi bukanlah sebuah formalisme. Struktur organisasi yang efektif adalah yang operasional bisa diimplementasikan oleh sebuah perusahaan . Sebagai satu kesatuan dari organissi, struktur organisasi menurut Swieringa dan Wierdsma (1992) adalah tubuh manusia, maka kepribadian, jiwa atau budaya adalah cara-cara anggota organisasi tersebut saling berhubungan, nilai nilai yang dianut dan keyakinankeyakinan yang dimiliki. Budaya ini menentukan aturan-aturan tidak tertulis dalam kehidupan sehari-hari organisasi. Dari kerangka berfikir semacam itu, restrukturisasi organisasi Perum Perhutani yang baru digulirkan. Selain untuk menjawab transformasi

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

korporat, pada sisi lain juga mempertimbangkan kaidah-kaidah organisasi yang efektif dan efisien. Selain menjadi wadah formal bagi seluruh karyawan untuk menjalankan organisasi, pada sisi lain diharapkan mampu menggerakkan perusahaan mencapai visi dan misi perusahaan yang kini tengah bertranformasi menjadi industri yang berbasis produk hutan. Untuk memperkuat transformasi di Perhutani, struktur organisasi Perhutani tetap masih mempertahakan satuan organisasi yang ada yang masih relevan, khususnya di sektor tanaman. Namun untuk mewadai semangat transformasi, Perhutani juga menginovasi satuan organisasi yang ada agar lebih dinamis merespon lingkungan bisnis yang terus berubah. Dalam struktur organisasi yang baru bidang pengelolaan sumber daya hutan sebagai backbone perusahaan dan bidang pengelolaan bisnis komersial dipisah secara tegas. Pemisahan tersebut bertujuan agar penanganan bisnis lebih fokus dan mendapatkan nilai tambah lebih besar melalui proses pelayanan yang dipercepat. Konsekwensi dari transformasi di

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

hulu dan hilir ini adalah perubahan pola pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan psesialisasi SDM. Penyiapan kapasitas SDM khusus untuk bisnis dimulai dengan bekerjasama dengan lembaga pendidikan bisnis. Sekalipun terjadi pemisahan secara tegas hingga melahirkan direktorat kemersialisasi Kayu dan Direktorat non kayu, dalam restrukturisasi organisasi ini, Perhutani tetap mempertahankan struktur organisasi yang ramping. Bila sebelumnya terdapat enam direktorat, kini masih tetap dipertahankan jumlah direktorat tersebut , tetapi dengan fokus pada komersialisasi produk hutan. Langkah Perhutani ini mirip dengan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan besar yang ingin fokus pada bidang tertentu. Ambilah contoh Pertamina, yang ingin fokus pada bisnis mainstream, membentuk direktur gas yang betugas untuk meningkatkan komersialisasi gas produk Pertamina. Strategi bisnis semacam itu ternyata cukup efektif bagi BUMN ini untuk menggenjot kinerja di sektor Gas. Hal ini ditandai dengan terbangunnya pipanisasi dan regasifikasi Arun-

Belawan, FSRU Teluk Jakarta, FSRU Jawa Tengah, Pipanisasi SemarangGresik. Fakta semacam ini tentu juga akan terjadi di Perhutani. Dengan Direktorat Komersialisasi non kayu, tentu diharapkan akan bisa menggenjot produksi gondorukem dan terpentin dengan mengolah getah pinus tidak hanya di Jawa tetapi juga mungkin di luar Jawa. Pengembangan pariwisata dan optimalisasi aset Perhutani yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Begitu pula dengan direktorat kayu, tentu akan bisa menggenjot kinerja produksi kayu dan pemasaran kayu olahan pada industri Kayu Cepu, Industri Kayu Brumbung, Industri Kayu Gresik, Industri Plywood dan lain sebagainya. Gambaran semacam itu, kiranya bukanlah sebuah mimpi bagi Perhutani. Karena itu restrukturisasi organisasi yang dilakukan pada 2014 memiliki arti strategis bagi korporasi. Apalagi dengan restrukturisasi tersebut juga sudah ditindaklanjuti dengan penempatan orang-orang yang cakap untuk menduduki pos-pos baru hasil restrukturisasi. • DR

DUTA Rimba 9


Dok. Humas PHT

RIMBAutama

10 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Terdapat dua direktorat baru dalam struktur organisasi baru Perum Perhutani. Direktorat Komersial Kayu dan Direktorat Komersial Non Kayu. Dua direktorat itu untuk memperkuat transformasi bisnis Perhutani yang berbasis tanaman (plantations) menuju bisnis yang berbasis industri. Melalui penggabungan industri dan pemasaran dan kemudian dipisah secara komoditi kayu dan non kayu, Perhutani akan fokus menjadikan industri sebagai lokomotif untuk menarik gerbong di belakangnnya untuk membangun sektor kehutanan.

Relokasi dengan

Cita Rasa Baru

L

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

embaran baru tahun 2014, dibuka oleh perum Perhutani dengan berbagai aksi korporasi. Selain menaikkan gaji para karyawannya, perusahaan pelat merah ini juga melakukan reorganisasi. Langkah ini selain refleksi semangat perubahan yang menggebu-nggebu di tubuh perusahaan ini, juga merupakan tindak lanjut dari transformasi korporat, dari bisnis yang berbasis pada tanaman (plantation) menuju bisnis yang berbasis industri. Meski reorganisasi ini hanya relokasi struktur dan pejabatnya, tapi ada kesan kuat reorganisasi ini untuk menyatukan indusri dan pemasaran

dalam direktorat komersial, sementara fokusnya pada komoditi. Sehingga komersialiasi produk hutan ini melahirkan Direktorat Komersial Kayu dan Direktorat Komersial Non Kayu . Langkah Perhutani ini mirip dengan yang dilakukan oleh BUMNBUMN lainnya untuk mereorganisasi perusahaan agar bisa fokus pada bidang atau sub bidang tertentu. PT Pertamina Pesero yang juga akan fokus pada bisnis gas disamping bisnis BBM membentuk Direktorat Gas dengan tugas melakukan komersialiasi gas di midstream. Hal yang sama juga dilakukan Perbankan yang membentuk direktorat atau divisi yang khusus

DUTA Rimba 11


rimbaUTAMA

menangani UKM melalui kredit mikro. Selain untuk mendukung program pemerintah dalam memberdayakan UKM, pada sisi lain kredit mikro ini juga menjanjikan pundi-pundi pendapatan dan keuntungan yang menjanjikan bagi sektor perbankan. Berawal dari Transformasi Namun sebagai korporat yang memiliki rencana jangka panjang (RJP), langkah Perhutani untuk melakukan restrukturisasi organisasi hingga melahirkan struktur organisasi baru, bukanlah sekedar mengiktui trend bisnis yang lagi populer dewasa ini. Bagi Perhutani reorganisasi ini bukanlah seperti membalik telapak tangan. Struktur organisasi baru perusahan ini melalui proses yang cukup panjang. Bila dilacak lebih jauh restrukturisasi ini diawali oleh Program Transformasi Bisnis Perum Perhutani Edisi I Tanggal 29 November 2010, yang kemudian disusul dengan Surat Menteri BUMN No. S.351/MBU/2013 tanggal 30 April 2013, yang mengintruksikan Direksi Perum Perhutani untuk

12 DUTA Rimba

mengkaji Struktur Organisasi dalam rangka lebih mendukung kegiatan pengembangan usaha perusahaan. Sejak intruksi tersebut, Perhutani meminta jasa konsultan untuk melakukan kajian tentang organisasi dengan tema “Transformasi Menuju Perhutani Unggul yang diselesaikan 25 Juni 2013. Dalam kajian tersebut konsultan telah memberikan masukan tentang “Kerangka Dasar Bagan Struktur Organisasi Perum Perhutani”. Dari rekomendasi konsultan tersebut, kemudian dilakukan langkah secara maraton. Mulai dari lokakarya resktruturisasi organisasi Perum Perhutani di Hotel Pitagiri (Jakarta 4 s/d 5 September 2013), pertimbangan Dewan Pengawas, serta kajian bagan struktur organisasi dan Job discription Perhutani oleh konsultan. Melalui rangkaian panjang diskusi di tingkat manajemen, Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengeluarkan Keputusan Direksi No 007/KPTS/ DIR/2014 , tertanggal 13 Januari 2014 tentang struktur organisasi Perum

Perhutani. Dalam struktur organisasi baru, bidang pengelolaan sumberdaya hutan sebagai backbone perusahaan dan bidang pengelolaan bisnis komersial dipisahkan secara tegas. Bambang Sukmananto menyatakan bahwa pemisahan tersebut bertujuan agar penanganan bisnis lebih fokus dan mendapatkan nilai tambah lebih besar melalui proses pelayanan yang dipercepat. Konsekuensi transformasi hulu dan hilir ini adalah perubahan pola pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan spesialisasi SDM. Penyiapan kapasitas SDM khusus untuk bisnis dimulai dengan bekerjasama dengan lembaga bisnis Universitas Prasetya Mulia Berdasarkan profilnya, kegiatan operasi bisnis perusahaan dikelompokkan; aktivitas utama (core activity) dalam bentuk pengelolaan sumber daya hutan (SDH), aktivitas bisnis (Business Activity) dan aktivitas pendukung (Enabler). Dari pengelompokan itu dibentuk divisi-divisi agar perusahaan dapat mengerahkan segala potensi dan sumber daya yang dimiliki dengan strategi bisnis yang fokus dalam mendukung pengembangan usaha. Sementara berdasarkan struktur organisasi perusahaan dikelompokkan dalam lima kelompok satuan unit organisasi yaitu; kantor Pusat, divisi regional (Divisi regional I Jateng, Dev Reg II Jatim dan Dev Reg III Jabar dan Banten), Divisi Komersial (Divisi Komersial kayu, Divisi Industri Kayu), Divisi industri Gondorukem, Terpentin, Derivat dan Minyak Kayu Putih, Divisi Wisata dan Agribisnis dan Divisi Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset), Pusat Pendidikan dan Pengembangan SDM serta Pusat Penelitian dan Pengembangan perum Perhutani Adapun unit organisasi ini ada yang berkedudukan di Jakarta dan di daerah yang tersebar di Pulau jawa

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


sebagai terlihat dalam Tabel: Kedudukan Unit Organisasi Perum Perhutani

No

Kota

Unit Organisasi

1.

Jakarta

- - -

Kantor pusat Perhutani Divisi Wisata dan Agribisnis Divisi Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset

2.

Bandung

-

Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten

3

Semarang

- - -

Divisi Regional I Jawa Tengah Divisi Komersial Kayu Divisi Gondorukem Terpentin, Derivat dan Minyak Kayu Putih

4

Surabaya

- -

Divisi Regional II Jawa Timur Divisi Industri Kayu

5

Madiun

-

Pusat Pendidikan dan Pengembangan SDM

6

Cepu

-

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perum Perhutani

Dalam melakukan restrukturisasi, Perum perhutani Tidak menghancurkan struktur organisasi yang lama. Mereka masih tetap mempertahankan struktur organisasi yang masih tetap relevan bagi kebutuhan perusahaan untuk menjamin kontinuitas. Namun sebagai perusahaan yang mengusung perubahan, khususnya dalam memperkuat lini bisnis dan industri agar bisa menjadi lokomotif untuk menarik gerbong perusahaan lainnya, juga menyatukan industri dan pemasaran dan membedakan pada komoditinya. Indusrti dan pemasaran itu ditarik dari unit usaha di daerah, ke depan akan ditangani oleh Direktorat Komersial Kayu dan Direktorat Non Kayu. Momentum Menggenjot Kinerja Restrukturisasi kali ini menurut Bambang Sukmananto sesungguhnya hanya realokasi saja, meskipun dilakukan secara fundamental. Dimana dengan restrukturisasi organisasi ini, Perum Perhutani tetap mempertahankan jumlah direktorat sebanyak enam, sama dengan struktur organisasi lama. Bahkan tidak hanya itu, dari sisi pejabat yang harus menempati stuktur yang baru juga tak ada penambahan. “Memang ada pejabat

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

baru, tetapi secara keseluruhan masih tetap sama.” Memang sebagaimana diingatkan oleh Bambang Sukmananto, struktur organisasi ini hanyalah sebuah tool (alat). Yang akan menentukan apakah struktur organisasi yang baru itu nantinya operasional dalam implementasinya, akan sangat bergantung pada orang-orang yang menempati struktur tersebut. Karena itu, benar apa yang dikatakan Swieringa dan Wierdsma (1992), struktur organisasi bukanlah sebuah formalisme. Struktur organisasi yang efektif adalah yang operasional bisa diimplementasikan oleh organisasi sebuah perusahaan. Sebagai satu kesatuan dari organisasi, struktur organisasi adalah tubuh manusia, maka kepribadian , jiwa atau budaya adalah cara-cara anggota organisasi tersebut saling berhubungan, nilai-nilai yang dianut dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki. Budaya ini menentukan aturan-aturan tidak tertulis dalam kehidupan sehari-hari organisasi. Perubahan struktur organisasi ini seharusnya menjadi momentum bagi seluruh jajaran perhutani untuk menggenjot kinerja perusahaan. Bila selama ini kita terfokus pada bisnis yang berbasis pada tanaman, sebagaimana dirasakan saat ini.

Struktur organisasi yang efektif adalah yang operasional bisa diimplementasikan oleh organisasi sebuah perusahaan. Dengan struktur organisasi yang baru memberikan penekanan pada aspek komersial, sesungguhnya terbuka peluang untuk menggenjot kinerja, baik dari sisi kinerja investasi, operasional dan keuangan. Struktur organisasi ini diharapkan bisa memberikan harapan bagi seluruh insan Perhutani. Coba saja anda lihat rancangan road map direktorat komersial non kayu. Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur komersial Non Kayu Mohamad Soebagja, direktorat Non kayu yang membidangi tiga divisi. Dimana devisi Gondorukem, Terpentin, Derivat dan Kayu Putih , ingin menggenjot produksi getah pinus dari 100 ribu ton pada 2014 menjadi 150 ribu ton pada 2015. Tak hanya getah pinus di Jawa, tetapi juga dari luar Jawa terutama di Aceh. “Bila dimungkinkan kita bisa beli getah dan bikin pabrik gondorukem di luar Jawa,” tegasnya Hal yang sama tentu juga tengah disiapkan oleh Direktorat Kayu, yang dikomandani oleh Mustoha Iskandar sebagai Direktur Komersial Kayu. Beberapa langkah yang disiapkan oleh perhutani untuk menggenjot industrialisasi dan pemasaran, memperlihatkan jalan lapang makin membentang bagi perusahaan ini untuk mengubah performancenya sebagai perusahaan yang merubah haluan untuk menjadi perusahaan dengan industri kehutanan terdepan di Indonesia. Semoga • DR

DUTA Rimba 13


rimbaUTAMA

24

Jam yang

Menentukan

A

da perasaan lega di kalangan jajaran manajemen Perum Perhutani di pertengahan Januari 2014. Setelah melakukan restrukturisasi organisasi melalui struktur organisasi baru, jajaran direksi dengan cepat mampu melakukan pengisian formasi struktur organisasi secara efektif dan efisien Untuk pengisian struktur baru di jajaran direksi, sebagaimana dijelaskan oleh Dirut Perhutani Bambang Sukmananto hanya mengganti seorang direktur SDM dan Umum dari Achmad Fachroji kepada penggantinya Teguh Hadi Siswanto. Sementara yang lain tetap dipertahankan, sementara jabatannya yang direlokasi. Seperti contoh, Mustoha Iskandar yang sebelumnya Direktur Pengelolaan Sumber Daya Hutan dan Pengembangan Usaha Hutan Rakyat (PSDH dan PUHR) dimutasi menjadi Direktur Komersial Kayu. Untuk menggantikan posisi Direktur PSDA ditunjuk Heru Siswanto. Dari hasil relokasi dewan direksi, komposisi direksi baru Perum Perhutani sesuai dengan struktur organisasi yang baru sebagai berikut.

14 DUTA Rimba

Bila pengisian jabatan membutuhkan waktu berbulan-bulan dan bocor kemana-mana. Sebuah terobosan dilakukan oleh Perum Perhutani untuk mengisi jabatan-jabatan dalam struktur organisasi yang baru 2014. Pengisian ini dilakukan hanya dalam waktu 24 jam. Begitu ditetapkan, dipanggil dan diserahterimakan hanya dalam waktu sehari semalam. Tak ada yang bocor. Susunan Direksi Perum Perhutani No

Jabatan

Personil

1.

Direktur Utama

Bambang Sukmananto

2.

Direktur Pengembangan Sumber Daya Hutan

Heru Siswanto

3.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis

Tedjo Rumekso

4.

Direktur Komersial Kayu

Mustoha Iskandar

5.

Direktur Non Kayu

Mohamad Soebagja

6.

Direktur SDM dan Umum

Teguh Hadi Siswanto

7.

Direktur Keuangan

Morgan Sharif Lumban Batu

Serah terima jabatan telah dilaksanakan di kantor pusat perhutani, Senin, 13 Januari 2014, setelah sebelumnya didahului rapat Dewan Pengawas. Direktur Utama Perhutani, Bambang Sukmananto dalam sambutan serah terima jabatan menyatakan bahwa, timnya

harus solid, mulai tahun 2014 Perum Perhutani mendapatkan tugas cukup berat untuk target-target capaian kinerja, dan kesejahteraan karyawan akan menjadi salah satu target utama. Semua sistem di Perum Perhutani harus berubah terutama sistem kepegawaian, keuangan,

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 15


rimbaUTAMA

pengadaan barang dan jasa yang terbuka serta sistem pemasaran baru. Direksi yang baru saja terbentuk, segera melakukan kerja keras untuk mengisi struktur organisasi yang baru. Untuk menghilangkan like and dislike, penunjukkan pejabat baru sebagaimana dijelaskan Direktur SDM dan Umum Teguh Hadi Siswanto, untuk mengisi struktur yang ada melalui manajemen promosi mutasi karyawan. Diawali dengan menyusun daftar list. Dimana penempatan pejabat untuk mengisi sruktur organisasi yang baru didasarkan pada kompetensinya. Kemudian dibuat rangking. Kegiatan ini diawali dengan menghimpun data administrasi (Database A) seperti, masa kerja dalam jenjang jabatan terakhir , masa kerja , frekuensi, penghargaan dan pengurangan dari disiplin. Dari Database A tersebut dilanjutkan dengan mengumpulkan Database B berupa hasil penilaian kinerja dan hasil pengukuran kompetensi. Dari database A kemudian dilanjutkan untuk mengidentifikasi profil individu calon pejabat dan dari database B dilanjutkan dengan talent pool. Dari penelusuran itu kemudian dikeluarkan rangking daftar calon pejabat dalam daftar 1 untuk dilakukan fit and proper test untuk menguji bobot kualitas dari masing-masing calon pejabat, mulai

16 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Diawali dengan menyusun daftar list. Dimana penempatan pejabat untuk mengisi sruktur organisasi yang baru didasarkan pada kompetensinya.

dari integritas, prestasi, kemampuan beradaptasi hingga antusias kerjanya hingga menghasilkan Daftar 2. Dari proses penyaringan semacam itu maka dilanjutkan dengan menyusun daftar urut kandidat untuk dilakukan assesment untuk kemudian dilakukan daftar promosi dan mutasi. Kemudian setelah secara administrasi layak, di cek kompetensinya. Direksi menilai. Si A cocoknya di mana, si B cocoknya dimana, begitu pula si C dan seterusnya . Tapi ada juga yang tidak cocok di mana-mana. Mungkin untuk sementara tidak cocok menjadi pejabat sehingga harus diistirahatkan ini juga sebagai warning. Jangan kalau kerja seenaknya. Karena nanti berbasis kinerja. Bagi pejabat yang diistirahatkan dikasih waktu enam bulan. Supaya pada masa transisi ini ada perubahan. Kalau enam bulan tidak perform, ya harus berhenti. Dalam masa enam bulan itu juga diberi pengayaan. Tergantung. Orang jujur tetapi tak punya greget. Jadi yang penting harus berubah. Kalau nunggu-nunggu perintah tentu tak akan jalan-jalan.

Sebagaimana dijelaskan Teguh dalam menentukan para pejabat semuanya dinilai. Mulai dari disiplin dan penghargaan ada skalanya. Untuk disiplin misalnya, belum pernah mendapat hukuman disiplin (0%), pernah mendapat hukuman ringan (5%), pernah mendapat hukuman sedang (10%) dan pernah mendapat hukuman berat (20%). Sementara untuk penghargaan skalanya; presiden (20%), menteri/ direksi (15%), Kepala unit/gubernur (10%) dan bupati (5%) Yang menarik bila sebelumnya penentukan dan penempatan para pejabat pada pos yang baru dilaksanakan memakan waktu berbulan-bulan dan bertele-tele, hingga bocor ke mana-mana. Kali ini manajemen mampu memutus, menyerahterimakan jabatan tersebut hanya dalam waktu 24 jam. Dan, tidak ada yang bocor. “Kalau pun bocor hanya 5% saja. Sementara 95% tidak ada yang bocor,� tegas Bambang. Mulusnya penempatan para pejabat untuk menduduki struktur organisasi baru, tentu tidak lepas karena mekanisme rapat itu diatur secara tertib. Sebagaimana dijelaskan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


manajemen masing-masing pejabat di hadapan direksi. Formasi jabatan pada Struktur Organisasi baru Perum Perhutani untuk jenjang 1A dan 1B sesuai Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani sebagai berikut: Formasi pejabat Baru Perum Perhutani

Mereka ini menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk memastikan transformasi bisnis betul-betul berjalan.

Dok. Humas PHT

oleh Teguh, rapat dilakukan secara steril. Peserta rapat, baik direksi, sekretaris perusahan dan Asisten Direktur SDM dan organisasi, sebagai Sekretaris Komite Executive dilarang meninggalkan ruang rapat sebelum berita acara rapat ditandatangani, tanpa alasan yang jelas. Semua alat komunikasi dimatikan atau di silent dan diletakkan di meja selama rapat penempatan pejabat. “Bilamana terpaksa harus meninggalkan ruang rapat, misalnya ke toilet atau ada tamu penting, maka alat komunikasi harus ditinggal di ruang rapat,” tambah Teguh. Sterilisasi rapat agar kedap terhadap pengaruh dari luar, termasuk semua dokumen bahan rapat dikembalikan kepada sekretais Komite Executive setelah rapat selesai. Begitu juga setelah rapat dinyatakan selesai dan berita acara hasil keputusan rapat dibuat, maka segenap peserta rapat harus menandatangani berita acara hasil rapat. Tata tertib yang begitu ketat untuk mensterilkan rapat eksekutif penempatan SDM itu yang membuat penempatan jabatan untuk mengisi formasi struktur organisasi yang baru itu tak menimbulkan gejolak dan ribut-ribut. “Semua berlangsung mulus,” tegas Bambang Penentuan dan serah terima para pejabat di tingkat midle manajemen kali ini merupakan yang tercepat dalam sejarah perhutani. Ini tentu sebuah terobosan, yang kiranya menjadi model di masa mendatang. Selain menghemat energi juga biaya. Inilah sebuah bentuk kongkrit dari debirokratisasi, efisiensi dan efektivitas. Begitu diputus, sehari berikutnya langsung bisa diserahterimakan. Tepatnya jumat, 17 Januari 2014, selain telah dilakukan penetapan pejabat pada posisi struktur organisasi baru sekaligus penandatanganan kontrak

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Penetapan pejabat pada Struktur Organisasi baru merupakan tanda dimulainya era baru Perhutani ke arah industrialisasi yang nantinya akan didukung oleh satelit-satelit unit bisnis. Namun, untuk memastikan apakah struktur yang baru mampu menopang transformasi bisnis Perum Perhutani tak bisa take for granted. Para pejabat di level midle management itu harus bekerja keras. Mereka ini menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk memastikan transformasi bisnis betulbetul berjalan. Untuk itu, sebagaimana diungkapkan Teguh untuk tiga bulan pertama akan dilakukan pendampingan, agar mereka yang mendapat amanah dari perusahaan itu bisa menjalankan tugas dan fungsinya untuk mencapai visi dan misi perusahaan. “Jadi tidak ujug-ujug, sehingga harus ada supervisi,” tambah Teguh

Selain itu, perhutani juga akan melakukan evaluasi pada enam bulan pertama setelah dilantik. Evaluasi ini diperlukan, kareka efektifnya struktur organisasi itu tergantung pada pejabat yang menggerakan struktur organiaasi. Bisa saja selama enam bulan pertama ini ada pejabat yang bisa langsung tancap gas untuk melakukan perubahan. Tapi bisa juga ada pejabat yang masih stagnan. Ini tentu harus dicari apa penyebabnya. Bisa saja strukturnya yang kurang tepat, baik dari sisi job discribtions. Mungkin perlu ditambah atau dikurangi agar lebih efektif. Jadi evaluasi ini bukan dimaksudkan semata-mata untuk mengganti pejabat. Yang lebih penting bagaimana untuk mendorong para pejabat bekerja secara maksimal dan kreatif, sehingga dipastikan struktur organisasi ini efektif untuk menggerakkan transformasi • DR

DUTA Rimba 17


rimbaUTAMA

Dok. Humas KPH BOJONEGORO

Begitu luas dan kompleksnya bisnis Perum Perhutani, restrukturisasi organisasi yang dilakukan oleh perusahaan dilakukan secara divisional. Untuk mengakomodir wilayah usaha yang demikian luas, maka dibentuklah divisi regional untuk menangani sektor tanaman. Sementara untuk menangani bisnis Perhutani yang beragam, dibentuklah devisi berdasarkan komoditi, agar lebih fokus untuk melakukan komersialisasi komoditi Perhutani

18 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dari Divisi Hingga

General Manajer

R

estrukturisasi organisasi Perum Perhutani pada 2014, hampir mirip dengan struktur organisasi perusahaan modern yang berbasis industri. Struktur organisasi yang baru ini mungkin tak terbayangkan sebelumnya, ketika perusahaan ini masih hanya berbasis pada plantation (tananam). Namun, ketika perusahaan ini mengibarkan transformasi untuk menjadi perusahaan industri yang berbasis produk hutan. Maka perusahaan ini mulai menfokuskan perhatiannya pada pengelolaan lini bisnis di berbagai industri dan mendesentralisasikan wewenangnya dalam pengambil keputusan. “Ini tentu menjadi tantangan bagi para pemimpin daerah, dalam merespon

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

perkembangan baru, untuk berbacu dalam waktu menggenjot kinerjanya,� tegas Bambang Sukmananto, direktur utama Perum Perhutani. Struktur Organisasi Divisional Dalam kerangka mengembangkan lini bisnis dengan berbagai produk kehutanan, bisa dipahami bila kemudian Perhutani mengubah struktur organisasi yang berbasis tanaman menjadi struktur organisasi yang terdiri dari beberapa divisi. Tiap divisi dapat beroperasi sendiri-sendiri di bawah pengarahan kepala divisinya yang bertanggung jawah langsung kepada Direksi. Perubahan tersebut membuktikan bahwa perusahaan ini tengah bertransformasi menuju perusahaan industri yang berbasis produk kehutanan.

Divisi secara umum dalam sebuah organisasi banyak dijelaskan sebagai sebuah sub unit yang terdiri dari kumpulan atau departemen dengan berbagai tanggung jawab untuk menghasilkan barang atau jasa baru. Hadirnya divisi-divisi baru dalam struktur organisasi baru Perhutani, tentu tidak lepas agar perusahaan ini lebih fokus, dan lebih lincah dalam mengembangkan industri perusahaan ini Tentu ada banyak keuntungan struktur organisasi divisional bila dibanding organisasi yang lain. Sebagaimana dijelaskan Samuel C Certo & J Paul Peter dalam Strategic Management, Mc-Graw-Hill (1990), keuntungan itu antara lain; koordinasi antara fungsi menjadi lebih mudah dan cepat, mempunyai fleksibilitas pada struktur perusahaan, spesialisasi pada setiap divisi dapat dipertahankan. Selain itu, struktur organisasi ini banyak disenangi oleh karyawan, karena menjamin kesempatan karir lebih terbuka, menimbulkan kompetisi di dalam organisasi dan beban direksi berkurang sehingga mempunyai waktu untuk pengambilan keputusan strategis. Namun, struktur organisasi divisional ini juga ada kekurangannya antara lain; turunnya komunikasi antara spesialis fungsional, potensial menimbulkan persaingan antara divisi dan pendelegasian yang besar dapat menimbulkan masalah. Memang tidak ada sistem yang sempurna. Namun, dengan pilihan Perhutani akan memasuki industrialisasi, yang membutuhkan cara kerja baru yang efisien, produktif dan unit usaha tersendiri, maka struktur organisasi divisional ini kiranya yang paling cocok bagi Perhutani. Untuk melihat ruang lingkup divisi-divisi yang ada di Perhutani dapat dilihat dalam tabel berikut

DUTA Rimba 19


rimbaUTAMA Ruang Lingkup Bisnis Perhutani

No

Nama Unit Organisasi

Ruang Lingkup Kegiatan Bisnis

1.

Kantor Pusat

Memberikan layanan kepada Divisi Regional, Divisi Komersial beserta jajaran organisasi di bawahnya (KPH/Kesatuan Pemangkuan Hutan, KBM/Kesatuan Bisnis Mandiri), Pusat Pendidikan dan Pengembangan SDM serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Perum Perhutani dalam bentuk perumusan strategi dan kebijakan perusahaan, pembinaan dalam bentuk perumusan dan penyediaan pedoman-pedoman kerja, penyediaan standar-standar, pengendalian manajemen serta pengembangan perusahaan.

2.

Divisi Regional

Menjalankan kegiatan operasi bisnis hulu dalam bentuk pengelolaan sumberdaya hutan berdasarkan prinsip Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) untuk menyeimbangkan dan mengoptimalkan fungsi serta manfaat sosial, lingkungan dan menghasilkan laba bagi perusahaan.

3.

Divisi Komersial Kayu

Menjalankan kegiatan operasi bisnis hilir melalui perdagangan (trading) kayu log (kayu bundar) hasil produksi kawasan hutan Perum Perhutani untuk menciptakan nilai sebesarbesarnya guna mendukung pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

4.

Divisi Industri Kayu

Menjalankan kegiatan operasi bisnis hilir melalui kegiatan operasi pengolahan hasil hutan kayu log hasil produksi kawasan hutan Perum Perhutani atau yang berasal dari luar kawasan Perum Perhutani menjadi hasil olahan untuk penambahan nilai setinggi-tingginya guna mendukung pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

5.

Divisi Industri Gondorukem, Terpentin, Derivat dan Minyak Kayu Putih

Menjalankan kegiatan operasi bisnis hilir melalui kegiatan operasi pengolahan hasil hutan non kayu berupa getah pinus untuk menghasilkan gondorukem, terpentin dan derivatnya serta pengolahan daun kayu putih untuk menghasilkan minyak kayu putih, untuk menciptakan nilai setinggi-tingginya guna mendukung pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

6

Divisi Wisata dan Agribisnis

menjalankan kegiatan operasi bisnis hilir melalui kegiatan operasi pemanfaatan potensi alam dan sumberdaya lahan hutan melalui kegiatan ekowisata, jasa lingkungan lainnya dan kegiatan agribisnis baik kegiatan trading maupun industri hasil-hasil agribisnis, diutamakan yang berasal dari kawasan hutan Perum Perhutani untuk menciptakan nilai setinggitingginya guna mendukung pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

7

Divisi Pemanfaatan dan Optimalisasi Aset

Menjalankan kegiatan operasi bisnis hilir melalui kegiatan operasi pemanfaatan dan pengelolaan aset perusahaan dalam bentuk usaha-usaha produktif baik usaha properti, penyediaan jasa dan kegiatan lain terkait dengan proses optimalisasi aset perusahaan untuk menciptakan nilai setinggi-tingginya guna mendukung pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

8

Pusat Pendidikan dan Pengembangan SDM

Memberikan layanan teknis terkait pemetaan potensi dan kompetensi serta proses pendidikan dan pengembangan SDM untuk membangun kapasitas dan kompetensi SDM serta melakukan usaha-usaha produktif melalui pemanfaatan potensi aset dan sumberdaya yang dimilikinya untuk menghasilkan produk jasa yang bernilai tinggi guna mendukung pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

9

Pusat Penelitian dan Pengembangan perum perhutani

Melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk mengawal kebijakan perusahaan dalam rangka menghasilkan produk unggul, melakukan inovasi dan penyempurnaan standar-standar, prosedur, teknologi, metoda, model serta pengetahuan guna meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan keunggulan.

Dari enam divisi tersebut terdapat lima devisi di sektor hilir dan tiga di sektor hulu, yaitu Divisi regional I Jawa Tengah, Divisi Regional Ii Jawa Timur dan Divisi Regional II Jawa Barat & Banten . Pada divisi regional itu kata Teguh Hadi Siswanto, Direktur SDM dan Umum, dilakukan penguatan agar lebih fokus dalam mengurus masalah

20 DUTA Rimba

tanaman. Mulai dari pembibitan, penananam, perawatan hingga memanen itu menjadi tugas divisi regional. Divisi regional tidak dibebani pemasaran, sebagaimana pada unit bisnis, yang kini sudah digantikan oleh divisi regional Dalam divisi regional itu dipimpin oleh kepala divisi dilengkapi perangkat organisasi untuk

menangani fungsi; perencanaan SDH, pembinaan SDH, produksi, perlindungan SDH dan kelola sosial, SDM Umum, sarana dan prasarana, keuangan, sekretaris divisi dan pengendalian kinerja, pelaporanan manajemen TI. Masing-masing divisi regional terbagi atas satuan organisasi Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) yang dipimpin oleh

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


administratur untuk melakukan kegiatan operasional pengelolaan SDA sesuai wilayah kerjanya.

GM ini merupakan ujung tombak perhutani dalam menggerakan linis bisnis. Di tangan mereka inilah, sesungguhnya, target bisnis Perhutani akan bisa diraih. Mereka inilah yang memimpin pabrik itu, cerobongnnya bisa mengepul untuk menghasilkan produktivitas yang bermutu tinggi. Begitu banyaknya divisi, dan GM

Talent Kepemimpinan Korporasi Sementara divisi non regional dalam menajalankan tugasnya dibantu General manajer (GM) yang bertugas untuk memimpin Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM). Adapun GMGM dalam struktur organiasi Perum Perhutani sebagai berikut:

ini, ke depan Perhutani bukanlah hanya sebagai tempat yang nyaman untuk mengembangkan karir. Bahkan menurut Teguh, Perhutani ke depan juga menjadi tempat menyemaian kader-kader pimpinan bisnis baik untuk internal maupun disumbangkan bagi kepemimpinan bisnis di perusahaan lainnya. Sebuah dampak positif dari struktur organisasi divisional. • DR

General Manajer Perum Perhutani

No

Nama General Manager

A

Divisi Komersial kayu

Tempat Kedudukan

1.

GM KBM Komersial Kayu I Jawa Tengah

Cepu

2.

GM KBM Komersial Kayu II Jawa Timur

Surabaya

3 B

GM KBM Komersial Kayu III

Jawa Barat

Divisi Industri Kayu 4.

GM KBM Indusrtri Kayu I Jawa Tengah

Semarang

5.

GM KBM Industri Kayu II Jawa Timur

Gresik

C

Divisi Gondorukem, Terpentin, derivat dan Minyak Kayu Putih 6

GM KBM Industri Gondorukem, Terpentin dan Derivat

Pemalang

7.

GM KBM Industri Gondorukem Terpentin I Jawa Tengah

Mranggen

8.

GM KBM Industri Gondorukem, Terpentin II Jawa Timur

Surabaya

9

GM KBM Industri Gondorukem, Terpentin III Jawa Barat dan Banten

Bandung

10

GM KBM Industri Minyak Kayu Putih

Surabaya

D

Divisi Pariwisata dan Agribisnis 11.

GM KBM Wisata dan Jasling

Bandung

12.

GM KBM Wisata Jasling II

Surabaya

13

GM KBM Agribisnis I Jawa Tengah

Semarang

14

GM KBM Agribisnis II Jawa Timur

Surabaya

15

GM KBM Agribisnis III Jawa barat dan Banten

Bandung

Divisi Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset

E 16.

GM KBM Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset I Jateng

Semarang

17.

GM KBM Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset Ii Jatim

Surabaya

18

GM KBM Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset III Jawa Barat dan Banten

Bandung

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 21


Dok. Humas PHT

rimbaUTAMA

22 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Inspirasi

Pasar Otomotif untuk Kayu Jati

Dalam restrukturisasi organisasi perum Pertani, nampak ada penguatan di sektor hilir. Setidaknya ada lima divisi yang menangani komersialisasi komoditi hutan. Ini menandakan sebuah era baru Perhutani, untuk menjadikan industri di sektor kehutaan untuk menjadi lokomotif perusahaan, untuk menarik gerbong di belakangnya.

T

entu yang menjadi pertanyaan, bagaimana positioning sektor hulu, khususnya dalam memperkuat bisnis inti Perhutani? Dalam restrukturisasi Perhutani, sektor Hulu juga dilakukan penguatan. Dengan adanya divisi regional 1 jawa Tengah, divisi regional 2 Jawa Timur dan divisi regional 3 Jawa Barat, menggantikan unitunit yang ada, mereka ini akan fokus untuk mengurus tanaman. Divisi ini akan fokus untuk melakukan penyemaian, menanam,

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

mengamankan dan memungut hasil hutan . “Mereka itu kini tak boleh jualan. Untuk pemasaran akan ditangani divisi komersial kayu. Mereka ini akan menerima dan mendrive nilai tambah produk kayu tersebut. Sehingga dengan fokus mereka bisa meningkatkan pendapatan,” tegas Teguh Hadi Siswanto, Direktur SDM dan Umum Perum Perhutani. Teguh mencontohkan, ketika dirinya sebagai kepala Unit I jawa Tengah, banyak hal yang tak bisa ditangani. Mulai dari tanam sampai

DUTA Rimba 23


industri dan pemasaran ditangani unit. Meski dibantu oleh kepalakepala biro ada yang tak tersentuh. Degan adanya divisi komersial akan lebih fokus misalnya menganalisa harga rata-rata kayu, tren dan harga kayu, yang ini tentu akan berpengaruh dalam meningkatkan nilai tambah. Bahkan tidak hanya itu, dengan adanya Direktorat Komersial Kayu, memungkinkan perusahaan ini melakukan riset pasar, untuk mengetahui berapa kebutuhan kayu di pasar, jenis dan kualitas kayu macam apa saja yang dibutuhkan oleh mereka. Melalui riset pasar ini juga bisa menjadi masukan bagi produksi kayu Perum perhutani. “Untuk apa kita kita menanam kayu jati sampai 50 tahun. Kalau pasar hanya membutuhkan kayu jati 10 tahun misalnya. Lebih baik kita menanam kayu sesuai dengan kebutuhan pasar,” tambah Direktur Komersial Kayu Mustoha Iskandar Masalahnya bagaimana mensinergikan antara divisi regional dengan divisi komersial. Di komersial tak bisa melakukan apa-apa, kalau di hulu produknya lemah. Jadi harus ada tata hubungan kerja yang baik, yang akan dijembatani oleh divisi pengendalian kinerja. “Divisi pengendalian ini yang harus mensinergikan divisi regional dengan di divisi komersial,” tegas Teguh. Pada divisi regional ini terdapat bisnis utama di perhutani. Sehingga tanamannya harus bagus, sehingga mereka diharapkan bisa melakukan inovasi untuk memproduksi kayu dengan kualitas tinggi dengan umur pendek. Perhutani sudah memiliki JPP umur 10 tahun dengan produktivitas tinggi . “Bahkan jika perlu ke depan kita memiliki Jati Estate. Jadi jangan hanya hutan dan kebun jati,” tambah Teguh Dengan divisi regional ini, di hulu makin fokus. Tanaman,

24 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

rimbaUTAMA

pemeliharaan, keamanan tanaman menjadi lebih bagus. Jadi dalam core bisnis Perhutani ke depan, kayu itu ada yang dipanen umur 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun dan 60 tahun . Itu tergantung daerah dan kondisinya. Kalau daerahnya rawan dipanen 10 tahun, sehingga masyarakat bisa menanam lagi. Mengikuti Bisnis Otomotif Jadi bisnis perhutani itu bisa mengikuti bisnis Toyota. Untuk memenuhi mobil premium diproduksi Alphard, Camry dan Altis. Untuk menengah ke bawah diproduksi Vios, Terios dan Avanza. “Hal yang sama tentu bisa dilakukan di perhutani untuk produk kayu jati. Jati 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun dan seterusnya.” Kalau dulu fungsi penanam dan penjualan itu jadi satu, sekarang ini sudah dipecah. Dulu unit dan KPH itu bisa melakukan jualan, sekarang

sudah tidak bisa lagi setelah diubah menjadi divisi regional. Begitu pula direktur itu nantinya hanya akan memberikan arahan kebijakan, bukan operasional lagi. Dengan struktur organisasi divisional, direktur memiliki kesempatn untuk memikirkan bagaimana mengembangkan korporasi . Ada waktu untuk mendevelop pengembangan usaha. Setiap bulan para direktur itu harus melakukan koordinasi dengan para kepala divisi untuk mengevaluasi operasional perusahaan di lapangan. Dengan koordinasi ini mereka akan terpacu untuk menggenjot kinerja pada divisinya masing-masing, sehingga ini memang menjadi masalah bersama. Disini kompetisi juga makin ketat, sehingga perusahaan harus menyiapkan talent-talent kepemimpinan tidak hanya untuk Perhutani, tetapi juga untuk korporasi yang lain. Perhutani sekarang ini

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

memiliki delapan kepala divisi dan 18 general manager (GM). Mereka ini memang merupakan kader-kader tangguh. Inilah sebagaimana diungkapkan Teguh, menjadi tantangan Perhutani di masa depan. Dulu perhutani memiliki GM di Jawa Tengah, seakan kekuasaanya seperti seluruh di Jawa Tengah. Namun GM ini sekarang lebih fokus mengendalikan Kelompok Bisnis Mandiri (KBM), yang tentu harus disiapkan aturan, tata kerja dan juklak mana yang boleh mana yang tidak, dan mereka dikasih kesempatan untuk berinovasi untuk memberikan nilai tambah. GM itu bekerja dengan para manager. Namun untuk bisa meningkatkan pendapatan tentu menjadi tugas GM . Seperti dalam melakukan penjualan produk industri, apakah dilakukan lelang, kontrak , penjualan langsung, mana yang menguntungkan korporasi. “Target yang diberikan perhutani kepada GM adalah target minimal. Kalau kurang tidak boleh. Itu akan kita evaluasi setiap enam bulan dan nantinya akan kita matrikulasikan lagi,” tegas Teguh. Dalam konteks ini tak ada belas kasihan lagi. Kalau mereka salah kita istirahatkan . Nanti kalau sudah membaik kita tempatkan lagi. Dan sekarang ini antara Pusdik dan Puslit

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

itu sama. Mereka bisa kemana-mana asalkan bisa memberikan yang terbaik. Orang di Pusdik dan Puslit bisa ditarik di lapangan, sehingga mereka itu nantinya bisa memiliki model mengajar, meniliti seperti ketika mengajar dan meneliti bisa lebih optimal. Menggenjot Tanaman Menggenjot sektor hulu, sesungguhnya telah dilakukan jauh sebelum restrukturisasi organisasi Perum Perhutani. Hal ini terlihat dari luasan dan biaya tanam yang terus meningkat dari tahun ke tahun harus dikeluarkan oleh Perum perhutani. Dari sisi luas tanam, ada peningkatan lebih dari 20% lahan Perhutani yang ditanami setiap tahunnya. Bila pada 2012 luas lahan yang ditanami Perhutani mencapai 42,70 Ha, maka pada tahun 2014 mencapai 55,95 Ha. Sementara dari sisi biaya juga tak kepalang tanggaung juga digenjot. Bila biaya tanam kayu jati dan rimba silin pada 2012 sebesar Rp 2.545.000 per hektar. Pada 2014 digenjot hampir dua kali lipat menjadi Rp 4.700.000. Begitu pula non silin jati dan rimba non silin dari Rp 2.545.000 (2012) menjadi Rp 3.645.000 per hektar pada 2014. Begitu pula biaya pemeliharaan,

bila pada 2012 biaya pemeliharaan sekitar Rp 515.500 per hektar. Pada 2014 ditingkatkan menjadi Rp 864.000 per hektar. Kenaikan rupiah tersebut, selain untuk menyesuaikan angka inflasi tiap tahun yang bergerak sekitar 5 s/d 7%, pada sisi lain juga mencerminkan komitmen perusahaan untuk melakukan intensifikasi dan meningkatkan produktivitas di sektor tanaman. Dengan standar pembiayaan dinaikkan. Ibarat orang makin bergizi. Karena perusahaan menginginkan sasaran produktivitas itu naik. Kalau gizinya kurang bagus jadinya kuruskurus Beberapa langkah yang dilakukan Perhutani untuk menggenjot sektor tanaman itu tentu tidak lepas untuk memenuhi proyeksi penanaman redisain, dimana ke depan perhutani harus memiliki tanaman jati seluas 600.000 Ha, sengon 40.000 Ha, Karet 20.000 Ha dan Kayu putih 20.000 Ha. Jumlah tanaman sebesar itu, ke depan harus dikelola secara intensif. Bukan nanam seabrek-abrek kemudian diserahkan kepada alam. Biarlah sabda alam saja yang ngurus. Tapi ya itu tadi ada kepentingan dikelola secara intensif ada untuk kepentingan covering di Jawa. Karena kalau kita tanam 10.000 Ha saja nanti diteriaki, kenapa masih ada yang kosong-kosong. Itu tetap kita lakukan, tetapi ada dalam kerangka covering area. Untuk kerjasama dengan masyarakat, dengan pihak lain dan lain sebagainya Dengan restrukturisasi organisasi, yang menempatkan sektor hulu, dibawah naungan divisi regional, menggantikan unit yang ada di daerah, sesungguhnya merefleksikan keinginan korporat agar devisi regional lebih fokus dalam mengelola tanaman agar bisa mengikuti jejak bisnis Toyota. Bukan begitu. • DR

DUTA Rimba 25


rimbaUTAMA

Target Komersial Kayu dan Non Kayu

Berpacu Mendongkrak Rp 4,5 Triliun

26 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Direktorat Komersial Kayu dan Direktorat Komersial Non Kayu langsung tancap gas untuk menggenjot pendapatan Perhutani. Sebagai direktorat baru hasil restrukturisasi organisasi mematok target untuk menopang target pendapatan korporasi Rp 4,5 triliun. Sebuah optimisme baru untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

S

eakan tak ada waktu istirahat. Setelah dideklarasikan restrukturisasi organiasi Perum Perhutani pada awal tahun 2014, baik direktorat Komersial Kayu maupun Direktorat Komersial Non Kayu langsung tancap gas. Kedua direktorat ini langsung mematok target, untuk menopang pendapatan perusahaan. Dari target pendapatan Perum Perhutani pada 2014 sebesar Rp 4.5 triliun, Direktorat Komersial Kayu mematok target pendapatan sebesar Rp 2,2 triliun. Sementara untuk Direktorat Komersial Non Kayu sebesar Rp 2,27 triliun Bila target ini bisa terpenuhi, teguh Hadi Siswanto memperkirakan, kalau pendapatan Perhutani sekitar Rp 4,5 triliun, dan kemudian katakan pengeluaran sekitar Rp 4 triliun, pada 2014 akan ada keuntungan perusahaan sekitar Rp 500 miliar. Sebuah jumlah yang tentu akan menandai babak baru restrukturisasi organisasi Perum perhutani yang akan fokus baik pada sisi hilir maupun sisi hulu. Kenaikannya sekitar 15 s/d 20%. Tentu yang menjadi pertanyaan bagaimana skenario pencapaian target pendapatan dari masingmasing direktorat ini. Pada direktorat komersial Kayu, sebagaimana dijelaskan Mustoha Iskandar, direkturnya, pendapatan sebesar Rp 2,2 miliar itu akan ditopang

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

pendapatan dari penjualan kayu sebesar Rp 1,6 triliun dan industri kayu sebesar Rp 600 miliar. Sementara untuk Direktorat Komersial Non Kayu, target pendapatan Rp 2,27 triliun itu akan ditopang 65% dari gondorukem dan Derivat, 22% dari wisata, 10,5% dari optimalisasi aset dan 2,5% dari minyak kayu putih. “Non Kayu ini pada 2013 sudah menyumbang sekitar 51% pendapatan perusahaan,” tegas Mohammad Soebagja, Direktur Komersialan non Kayu perum Perhutani Komersial Kayu Lantas bagaimana, skenario pencapain target pendapatan itu bisa diperoleh. Dari Direkrtorat Kayu untuk mengenjot target penjualan, akan memetakan industri yang menggunakan kayu Perhutani. Baik industri besar, sedang maupun kecil. Berapa sesungguhnya mereka membutuhkan kayu Perhutani? “Kita tiap tahunnya kan sudah tahu, Si A sekian, Si B sekian, Si C sekian dan seterusnya. Memang disitu ada trader. Ke depan trader ini harus dikurangi. Karena banyak hal-hal yang mustahil itu terjadi di situ. Atau dia menjadi distributor saja secara resmi. Toh mereka selama ini menjadi Good Fathernya pengusahapengusaha kecil,” tegas Mustoha Secara sistem sesungguhnya sudah bagus. Tetapi yang jadi masalah, bagaimana implementasinya

tak ada distorsi. Ada barcode, on line system, ada loket. Itu semua harus jadi dan dilaksanakan. Sementara untuk tenaga pemasaran perlu diberikan insentif dalam bentuk fee marketing. Fee ini diberikan supaya mereka tidak mencari fee sendiri-sendiri. Dimana-mana orang penjualan itu ada fee-nya. Melalui sistem ini akan menciptakan karyawan-karyawan pemasaran yang berorientasi pada perusahaan, bukan pada buyer (pembeli). Sistem fee ini untuk membangun loyalitas mereka dengan memberikan insentif. Dengan sistem barcode, on line, loket itu tidak memungkinkan orang main-main. “Kalau ada yang main-main, akan saya copot, “ tegas Mustoha. Saatnya karyawan Perhutani itu melayani pembeli. Bukan dilayani pembeli. Sehingga ini butuh perubahan mindset dari seluruh karyawan. Dimana pembeli itu adalah raja. Kalau makan di restoran, orang Perhutani yang harus membayar. Selain itu, juga harus ada kontrol harga. Artinya market intelijen juga harus operasional. Berapa sesungguhnya harga yang wajar harus ditetapkan. Sementara dari aspek legal, Direktorat ini juga akan membuat format kontrak baku (standar kontrak). Siapapun nanti yang menangani baik kontrak maupun perjanjian kerja sama formatnya seperti itu. “Seperti di bank-bank itu tak bisa sembarang mengkoreksi. Kalau setuju tanda tangan, kalau tidak setuju ya tidak usah tanda tangan,” tambah Mustoha.Melalui kontrak baku ini, bila terjadi masalah, posisi Perhutani menjadi kuat. Tidak selalu dalam posisi kalah. Selain itu Direktorart Komersial Kayu akan menggandeng konsultan untuk mensurvey berapa sesungguhnya need dari demand produk-produk kayu. Mulai dari

DUTA Rimba 27


rimbaUTAMA

volumenya, kebutuhan kayu sepuluhdua puluh tahun mendatang. Dari situ Perhutani harus mengikuti kemauan pasar itu. Kalau butuhnya kayu A1, tentu tidak perlu menanam kayu sampai 30 tahun. “8 s/d 10 tahun saja sudah bisa menghasilkan A 1, kenapa harus menanam yang 20 tahun yang telah keduluan oleh pencuri. Kita ke depan menanam sesuai dengan permintaan pasar kan? “ tegas Mustoha. Kalau Perhutani sudah bisa mengetahui maunya pasar, maka produksi kayu baru mengikuti. Demand untuk 10-20 tahun ke depan seperti apa? Kalau tak perlu kayu-kayu yang begitu bagus, buat apa? Mungkin ada yang betul-betul berkualitas, tetapi untuk ceruk pasar. “Ya kita ambil yang daun-daunnya sudah tua itu untuk keperluan ceruk pasar. Sudah kita pelihara puluhan tahun, tetapi pasarnya tidak ada, untuk apa? 40 tahun, 60 tahun ngapain. Nanti didahului oleh pencuri. Padahal kita sudah capek menjaga. Seperti Jatirogo umurnya 100 tahun,

28 DUTA Rimba

Perhutani memiliki delapan pabrik dan satu untuk derivat terpentin. Selama ini pengelolaan pabrik ini belum maksimal, sehingga ke depan harus ditangani oleh ahli-ahli industri. ujungnnya juga dicuri juga. Capek. ” Survey kayu ini nantinya bukan hanya untuk pasar domestik, tetapi juga untuk pasar luar negeri, karena Perhutani memiliki pasar luar negeri. Pasar luar negeri itu untuk jati 10 tahun ke depan itu, seperti apa? “Kita harus ngikuti, kalau tidak buat apa kita nanam sudah puluhan tahun, tetapi tak ada pembelinya juga,” Komersial Non Kayu Di non Kayu, Perhutani akan fokus untuk meningkatkan nilai tambah Gondorukem. Perhutani memiliki delapan pabrik dan satu untuk derivat terpentin. Selama ini pengelolaan pabrik ini belum maksimal, sehingga ke depan harus ditangani oleh ahli-ahli

industri. Begitu Tarpentin, ternyata SNI ini belum mendapat respon yang positif dari pasar dunia. Untuk menangani ini agar produk terpentin ini mendapat nilai yang maksimal di pasar dunia, Direktorat Komersial Non Kayu tak segansegan menggunakan konsultan asing dari Belanda untuk meningkatkan nilai derivat. Konsultan ini untuk membantu meningkatkan kualitas terpentin sebagaimana yang dihasilkan Eropa dan China, agar nilai tambahnya maksimal. Gondorukem dan Terpentin itu yang ada di Indonesia dan Vietnam di Asia Tenggara. Selama ini kalau kita bicara Gondorukem, Perhutani hanya memanfaatkan getah-getah pinus di Jawa.” Kenapa kita tidak

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


memanfaatkan getah-getah pinus di Aceh. Dan saya sudah mulai beli getah pinus dari Medan dan Sulawesi tahun ini ,” Tegas M Soebagja, Direktur Komersial Non Kayu. Ke depan pabrik-pabrik Gondorukem Perhutani itu akan mengolah getah-getah pinus Indonesia. PDGT ini terbesar di Asean. Tapi untuk PDGT masih mencoba untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selama ini Indonesia masih impor dari Jerman dan China untuk pembuatan cat, lem , kertas dan alat-alat sound system. Selama ini kita mengolah getah 100.000 ton, untuk memproduksi 72.000 ton gondorukem , terpentin 14.000 ton . Ke depan seluruh pabrik itu pada 2015 harus bisa mengolah 150.000 ton getah pinus untuk memproduksi 92.000 ton gondorukem dan terpentinnya 17.500 ton terpentin. “Untuk itu, Perhutani akan memaksimalkan getah pinus dari internal Perhutani plus dari luar Jawa,” tambah Soebagja. Untuk menggenjot gondorukem dan terpentin in tidak menutup kemungkinan untuk membuka pabrik Gondorukem di luar Jawa. Dengan langkah progresif ini diharapkan gondorukem dan derivatnya itu pada 2015 bisa memasok 70% dari total pendapatan non kayu. “Sekarang Gondorukem baru memasok 65%.” Sementara untuk Optimalisasi aset (Opset),dengan dibentuknya Devisi Opset, maka ke depan juga menjanjikan pundi-pundi perusahaan . “Masak Perhutani kalah dengan PT KAI, PT Pos. Bahkan di Pos itu, Opset itu telah menjadi salah satu direktorat sendiri, menangani properti. Kalau lihat di Bandung, Kantor Pos mana yang tidak dioptimalkan asetnya,” tambah Soebagja. Peluang Perhutani untuk mengoptimalkan aset seharusnya jauh lebih prospektif. Contoh di Bojonegoro, Perhutani memiliki 40

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

M Soebagja, Direktur Komersial Non Kayu.

Ha tanah, yang bisa dibuat lebih komersial. Hanya saja sebagaimana diakui Subagja, masih banyak tanah-tanah Perhutani yang belum bersertifikat. “Saya mikir sederhana saja sepanjang Banten –Jawa Timur itu nanti ada nempel Indomaret di TPK Perhutani.” Sementara untuk Wisata tentu akan fokus di Jawa Barat. Kenapa? Karena animo untuk wisata yang lebih besar itu di Jawa Barat. Khususnya wisatawan dari Jakarta itu banyak yang lari ke Bandung. Untuk itu dalam rangka meningkatkan pelayanan, akan digenjot pembangunan infrastruktur wisata, hospitility, food and beverage, sehinga wisatawan akan merasa betah dan rindu dengan destinasi wisata Perhutani. Kelengkapankelengkapan di sebuah resort itu yang harus digenjot. Perhutani memiliki banyak destinasi wisata. Untuk resort setidaknya ada sembilan. Untuk menggenjot sektor wisata, Direktorat Komersial Non Kayu akan melakukan mapping, mau dibawa kemana

wisata Perhutani ini ke depan. Jangan sampai saling membunuh antara sesama wisata Perhutani. Tetapi wisata Perhutani ini menjadi komplementer antara wisata yang satu dengan lainnya. “Kalau saya ke Cikole, saya butuh lagi harus ke Ciwideuy. Jangan sampai sudah sampai ke Cikole, tidak perlu lagi ke Ciwide. Kalau di Cikole punya A, dan Ciwideuy punya B. Kurang pas kalau sudah sampai di Cikole tidak mampir ke Ciwideuy,” tegas Soebagja. Selain itu , Perhutani ini memiliki penangkaran Rusa, buaya dan lain sebagainya. Namun Perhutani belum melakukan budidaya buaya maupun Rusa. Kalau budidaya, tentunya Perhutani ke depan bisa menjual kulit buaya. Dari beberapa skenario yang tergambar dari Direktorat Komersial Kayu dan Direktorat Komersial Non Kayu, memperlihatkan dengan restrukturisasi organisasi baru, Perhutani makin fokus. Bila ini bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin kinerja korporasi akan semakin melesat. • DR

DUTA Rimba 29


rimbaUTAMA

Restrukturisasi

Menuntun Lahirnya

Prakarsa

30 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Meski belum bisa dijadikan tolok ukur. Prakarsa dan pikiran-pikiran kreaktif Perhutani di daerah, dalam merespon restrukturisasi organisasi bisa menjadi modal awal meningkatkan kinerja perusahaan menuju Perhutani Excellence

R

uang Pertemuan Tectona Perhutani Divisi Regional II Jawa Timur, awal Februari tampak lain dari biasanya. Ruangan ini penuh dengaan para rimbawan. Dari raut wajah yang memadati ruangan tersebut terpantul sebuah keceriaan. Sebuah awal yang cukup bagus bagi korporat yang tengah gencar menggulirkan transformasi. Keceriaan itu dipicu oleh penyerahan Surat Keputusan (SK) Mutasi dan Promosi jabatan sebagai tindak lanjut dari restrukturisasi organisasi Perum Perhutani yang digulirkan sejak pertengahan Januari 2004. Setidaknya terdapat 70 pejabat yang menerima SK tersebut. Mereka ini pejabat setingkat kepala seksi. Namun ada beberapa mutasi setingkat kepala biro. Juga ada yang mutasi di luar Divisi Regional Jawa Timur “Pelaksanaan ini sebagai konsekuensi dari penerapan diberlakukannya surat keputusan organisasi yang baru. Organisasi bergerak hidup untuk menyesuaikan dengan harapan perusahaan,” tegas Kepala Divisi Regional Jawa Timur Imam Sandjojo, usai menyerahkan surat keputusan tersebut. Hal serupa tentu juga terjadi di divisi lainnya, baik pada divisi regional maupun non regional, menyusul hadirnya stuktur organisasi yang baru Perhutani. Dengan struktur organisasi yang baru, Perum Perhutani siap untuk mengimplementasikan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

transformasi baik di hulu dan hilir menuju Perhutani Excellence. Dalam struktur organisasi yang baru, memang banyak mengisi jabatan baru di Perhutani. Seperti contoh pada pengisian jabatan baru pada jenjang 2A dan 2B setidaknya terdapat 170 orang pejabat. Namun pengisian pejabat itu bukan berarti menambah total pejabat yang ada. Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto, dalam struktur organisasi yang baru tak ada penambahan jumlah pejabat. Kalau pun ada restrukturisasi itu sesungguhnya hanya relokasi (tukar tempat), agar lebih fokus untuk mencapai target dan sasaran perusahaan. Tentu yang menarik, ibarat sebuah gelombang baru, restrukturisasi organisasi Perum Perhutani yang baru ini juga sangat terasa di Perhutani di Daerah. Di unit yang sekarang digantikan divisi regional, tak hanya dari sisi pejabat yang berubah, tetapi juga fungsinya. Bila dahulu Unit Perhutani bisa melakukan semua hal, mulai dari produksi dan pemasaran, sekarang ini, mereka hanya diminta fokus pada menyemai, menanam, menjaga, dan memanen hasil. Sementara untuk pemasaran diserahkan pada Divisi Komersial, baik itu Komersial Kayu, maupun Non Kayu. Dengan fokus menanam, tentu akan memberi peluang Divisi Regional kelak akan mampu melakukan deversifikasi kualitas produk kayu. Ambilah contoh

untuk kayu jati, mereka kelak bisa menghasilkan kayu jati umur 10, 20, 30, 40 tahun dan seterusnya, sesuai dengan tuntutan pasar. “Keinginan kita bagaimana divisi regional itu kelak mampu menumbuhkan Jati Estate, hingga bisnisnya seperti bisnis Toyota,” tegas Teguh Hadi Siswanto Direktur SDM dan Umum. Yang menarik, tentu bagaimana Perhutani di daerah merespon perubahan struktur organisasi sesuai dengan fungsinya masing-masing untuk menggenjot kinerja. Ini tentu menjadi masalah krusial. Mengapa demikian? Apalah artinya sebuah perubahan struktur organisasi bila tidak diikuti dengan peningkatan kinerja. Restrukturisasi organisasi Perum Perhutani menjadi struktur organissi divisional tentu tidak lepas agar perusahaan lebih fokus untuk bisa memberikan nilai tambah kepada perusahaan. Memang masih terlalu dini untuk menilai respon terhadap restrukturisasi organisasi ini dalam memacu semangat dan kinerja di lapis bawah. Namun bila kita mengaca pada respon yang dilakukan oleh Direktorat di atasnya yang cukup cepat untuk menyiapkan roap map direktoratnya, tentu tidak salah bila kecepatan Perhutani di lapis bawah itu juga perlu disorot. Karena target-target yang ditentukan pada level direktorat itu, keberhasilannya akan ditentukan pada lapis bawah. Sekalipun belum bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai seberapa besar geliat Perhutani di daerah dalam mewujudkan visi dan misi perusahaan, ada tanda-tanda awal yang bisa menjadi harapan bagi Perhutani di masa mendatang. Ibarat 100 hari pasca restrukturirasi organisasi, mulai nampak manajemen di lapis bawah melakukan konsolidasi untuk menyiapkan diri menggenjot kinerja Perhutani. Seperti para rimbawan dari rayon

DUTA Rimba 31


rimbaUTAMA III yang terdiri dari KPH Mojokerto, Jombang, Kediri, Blitar, dan Nganjuk melakukan penguatan internal secara menyeluruh untuk menghadapi tahun 2014 menyelenggarakan semacam rapat kerja di KPH Mojokerto akhir Januari. Dalam rapat kerja ini mereka sepakat untuk menggenjot kinerja masing-masing KPH dalam memproduksi hasil hutan. Di KPH Mojokerto sendiri misalnya, untuk mengejar target kayu tahun 2014 mereka melaksanakan pelatihan kerja tebangan ramah lingkungan. Dalam pelatihan yang diikuti sekitar 125 orang itu mereka mendapat pembekalan untuk lebih memperhatikan elemen ramah lingkungan dengan tujuan meminimalisir dampak negatif akibat adanya kegiatan pemanenan serta menetapkan manajemen keselamatan kerja (SMK3) Target produksi kayu KPH Mojokerto tahun 2014 sebesar 17.461 M3. “Kondisi sumberdaya hutan yang menurun, menjadi komitmen kita untuk tetap semangat memberikan yang terbaik, memaksimalkan pendapatan dari produksi tebangan kayu jati sesuai target dengan mengedepankan aspek hukum, aspek teknis dan organisasi serta aspek biaya dan sarana prasarana”, tegas Widhi Tjahjanto, Administratur Mojokerto. Hal yang sama juga dilakukan oleh Administratur Perhutani Bojonegoro. Dalam selamatan dimulainya pelaksanaan pekerjaan tahun 2014 kantor Perhutani Bojonegoro, mereka sepakat untuk mewujudkan pengelolaan hutan menuju Perhutani Bojonegoro Excellence. Apalagi dengan dinaikannya gaji karyawan pada awal tahun 2014 akan dijadikan momentum untuk terus menggenjot kinerja karyawan Perhutani Bojonegoro . “Kita harus siap meningkatkan kinerja dalam

32 DUTA Rimba

pengelolaan hutan menuju Perhutani Bojonegoro Excellence,” tegas Anggar Widiyatmoko, administratur Perhutani Bojonegoro. Untuk menggenjot kinerja Perhutani juga terlihat di KPH Kedu Selatan. Untuk memudahkan pengangkutan getah pinus dan kayu tebangan, KPH ini menjalin kerja sama mitra angkutan . Mitra angkutan yang dipilih itu telah melewati seleksi. Administratur Perhutani Kedu Selatan,  Toni Suratno menyatakan  bahwa tahun 2014 rencana produksi getah pinus 12.309.000  kg  dan  rencana   produksi kayu 8.011,91 M3. Oleh karena itu harus didukung  dengan kerjasama  yang baik dan armada yang memadai. Diharapkan  jumlah armada harus sesuai dengan perjanjian yang disepakati dan terjalin komunikasi yang baik dengan asper karena menyangkut sisa persediaan. Realisasi  angkutan getah pinus tahun 2013 tercapai 77 % dengan sisa persediaan di akhir tahun 2,81 % dan realisasi angkutan tebangan kayu tercapai 97 % dengan sisa persediaan

di akhir tahun 478,37 M3. Memang banyak aksi-aksi dan pemikiran kreaktif dari berbagai daerah untuk mewujudkan visi dan misi Perhutani 2025, Perhutani Excellence. Bila Jawa Barat akan fokus pada pariwisata dan agroforestri dan Jawa Timur fokus di kayu, Jawa Tengah akan fokus pada sektor non kayu. Menurut Widianto, Kepala Biro Perencanaan dan Pengembangan Perum Perhutani Divisi Regional I Jateng, industri nonkayu yang dikembangkan adalah olahan dari hasil produksi pohon hutan di antaranya pengolahan getah pinus dan minyak kayu putih. Untuk pengelolaan, selain menyiapkan teknologi, pihaknya tetap bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). “Masyarakat sekitar hutan bisa memanfaatkan sela-sela pepohonan untuk tanaman palawija atau emponempon. Di Grobogan, pada 2012 ada 4.000 hektar lahan dengan hasil Rp 40 miliar dan tahun 2013 ada 2.500

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Perhutani yang tengah bertranformasi menuju perusahaan yang berbasis industri, ke depan bisnis perusahaan ini bisa beraneka ragam. hektar dengan hasil Rp 22 miliar,� ungkapnya. Pilihan Jawa Tengah tersebut tentu bisa dipahami, karena non kayu merupakan bisnis masa depan Perum Perhutani. Getah pinus yang tersebar di Jawa Tengah dan minyak kayu putih, memang menjanjikan nilai ekonom yang cukup tinggi untuk mendongkrak pundi-pundi perusahaan. Pilihan ini tentu akan mendukung program Direktorat Non Kayu yang ingin meningkatkan pengolahan pinus kayu dari 100.000 ton menjadi 150.000 ton pada 2015. Bila divisi baik regional maupun non regional, cepat melakukan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

berbagai terobosan mulai dari hal yang sederhana, hingga pada terobosan yang lebih kompleks, tentu ini memberikan gambaran bahwa restrukturisasi organisasi yang dilakukan oleh Perhutani sudah on the track. Tidak saja dalam merancang direktorat maupun subsub organisasi, tetapi juga dalam menempatkan talent-talentnya dalam menduduki posisi penting perusahaan. Prakarsa dan pikiran-pikiran kreaktif dari daerah untuk mendukung transformasi Perhutani jelas menjadi modal yang sangat berharga bagi perusahaan . Itu semua merupakan bagian dari transformasi bisnis yang cukup mendasar berkait dengan sikap dan perilaku insan Perhutani Transformasi binis itu sejalan dengan apa yang dikatakan Endang Suraningsih, Kepala Kampus LPP Yogyakarta, dimana transformasi bisnis pada dasanya adalah program percepatan pembaharuan perusahaan yang fundamental,

sifatnya strategis dan meliputi pendekatan holistik yang terdiri dari empat dimensi transformasi, yaitu manajemen, strategi, struktural dan kultural. Untuk mempercepat proses perubahan, tentu harus disiapkan roap map yang jelas destinasi dan batasan waktunya, dengan implementasi pada empat dimensi transformasi tersebut ke dalam program-program kongkrit. Sekalipun belum bisa diukur, prakarsa dan pikiran-pikiran kreaktif karyawan Perhutani di berbagai daerah bagaimana dikelola oleh korporat agar lebih produktif dan memiliki signifikansi terhadap pencapaian kinerja perusahaan. Karena itu, bisa dipahami bila manajemen dalam penempatan pejabat-pejabat baru pada level menejemen menengah ini akan dilakukan pendampingan, untuk memastikan mereka yang mendapat amanah ini memang orang orang yang tepat untuk mengendalikan perusahaan Proses pendampingan ini tentu cukup strategis bagi kepentingan perusahaan. Perhutani yang tengah bertranformasi menuju perusahaan yang berbasis industri, ke depan bisnis perusahaan ini bisa beraneka ragam. Tak hanya produksi kayu, tetapi juga kayu olahan, produk kimia, minuman, retail, properti, energi, jasa dan lain sebagainya. Dalam posisi semacam itu, tak berlebihan bila restrukturisasi organisasi ini merupakan jembatan emas bagi Perhutani, sebagaimana digambarkan oleh Dirut Perhutani Bambang Sukmananto, agar Perhutani ke depan menjadi super body. Dimana usaha Perhutani yang demikian kompleks kelak akan dijalankan oleh anak-anak perusahaan. Dimana Perhutani hanya akan fokus menyediakan bahan baku industri yang berbasis hutan. • DR

DUTA Rimba 33


RIMBAkhusus

Gajimu

Dok. Humas PHT

Bukan Demomu

34 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Benarkah kenaikan gaji Perum Perhutani 2014 dipicu oleh demo para karyawan? Tidak benar !!!. Kenaikan gaji telah menjadi program manajemen, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Kenaikan gaji setiap tahun telah menjadi roap map perusahaan. Karena itu ada demo maupun tidak ada demo, gaji tetap naik setiap tahunnya. Hanya saja, tentu besarannya tergantung pada kondisi dan kemampuan perusahaan.

L

embaran baru tahun 2014 Perum Perhutani dibuka antara lain dengan kenaikan gaji para karyawan. Memang kenaikan itu belum memuaskan semua pihak. Maklumlah, kenaikan gaji itu belum menyentuh level pimpinan menengah ke atas. Kenaikan gaji kali ini baru menyentuh karyawan di lapis menengah ke bawah. Ada semangat untuk melakukan penyetaraan gaji dengan UMR (upah minimum regional). Sehingga untuk karyawan di daerah, banyak dirasakan sebagai sebuah”berkah”. Bayangkan kenaikan gaji karyawan di Pati, Jawa Tengah yang sebelumnya gajinya sekitar Rp 1,6 juta, sekarang naik menjadi Rp 2,4 juta. Naik 50%. Namun, untuk mereka yang gajinya sudah tinggi, sebagaimana di DKI, yang memang UMR-nya jauh lebih besar, kenaikkannya tentu tidak sama dengan mereka yang bekerja di Perhutani di daerah. “Jadi gaji ini juga untuk memenuhi kesetaraan. Di daerah yang UMR-nya kecil, kenaikan gajinya sangat signifikan. Sementara di DKI yang UMR-nya sudah cukup besar, kenaikannya biasa-biasa saja,” tegas Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto.

Banyak Disyukuri Karyawan Sekalipun belum menyentuh level manajemen ke atas, kenaikan gaji 2014 ini banyak disyukuri oleh

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

para karyawan. Di Bojonegoro misalnya, kenaikan ini dijadikan momentum untuk meningkatkan kinerja karyawan. Dalam syukuran dimulainya pelaksanaan pekerjaan tahun 2014 di KPH Bojonegoro, Anggar Widyatmoko, Administratur Bojonegoro, menyerukan , dengan naiknya gaji semua karyawan Perhutani secara otomatis pengeluaran Perhutani juga mengalami kenaikan luar biasa. Untuk itu, Anggar juga mengajak karyawan untuk selalu memperlihatkan gairah keunggulan dan berusaha keras untuk hasil yang terbaik sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan sehingga tercapai kepuasan seluruh pemangku kepentingan dalam mencapai tujuan “Perhutani KPH Bojonegoro Ekselen”. Memang tidak semua prosentase besaran kenaikan gaji pada 2014 sama. Mengapa demikian? Sebagaimana Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2014, yang disetujui oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Perhutani bisa menaikkan gaji sebesar 15%. Dengan mempertimbangkan inflasi, yang sempat menyentuh di atas 7%, kenaikan gaji sebesar 15% itu sangat kecil bagi karyawan golongan bawah, sehingga manajemen menempuh kebijakan untuk menspread (menyebar) kenaikan tersebut secara proporsional khususnya kepada

karyawan golongan bawah. Langkah ini ditempuh, agar gap gaji antara karyawan golongan bawah dengan karyawan golongan tinggi makin mengecil. Golongan karyawan perum Perhutani diklasifikasikan antara lain; A1 untuk lulusan SD, A3 lulusan SMP dan A4 untuk SMA ke atas.. “Kenaikan yang tinggi diprioritaskan untuk mereka golongan yang terkecil,” tegas Teguh Hadi Siswanto, Direktur SDM dan Umum Perum Perhutani. Tidak Benar Karena Demo Untuk itu tidak benar, kalau kenaikan gaji karyawan 2014 itu karena tekanan demo dari karyawan Perhutani. Sebagai realitas di bidang ketenaga-kerjaan, sebelum kenaikan gaji 2014 yang diberlakukan per 1 Januari memang marak terjadi demo di berbagai tempat seperti di kementerian BUMN, Kementerian Kehutanan dan di gedung DPR RI, untuk menuntut kenaikan gaji. Sebelum demo, pihak manajemen pun sesungguhnya sudah mensoalisasikan kenaikan gaji dengan serikat pekerja. Dimana kenaikan gaji 2014 merupakan sebuah program manajemen yang telah dituangkan dalam RKAP 2014. Jadi ada demo maupun tidak demo kenaikan gaji akan tetap dilakukan. Bagi Bambang Sukmananto, kenaikan gaji karyawan itu telah menjadi komitmennya ketika diberi

DUTA Rimba 35


amanah untuk mengomandani Perum Perhutani. Bagi dirinya kenaikan gaji itu merupakan bagian dari upaya untuk mensejahterakan karyawan. Komitmen itu dilandasi oleh nilainilai 4 P (peduli perusahaan, peduli karyawan, peduli tanaman dan peduli sosial). Sebagai Dirut, Bambang tak ingin nilai-nilai 4P itu hanya menjadi slogan. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mensosialisasikan 4P agar menjadi tatanan nilai dan kultur perusahaan. 4 P juga tak dilaksanakan secara bertahap, tetapi serentak untuk mewujudkan Perhutani sebagi institusi bisnis yang sehat dan sustainable. (Duta Rimba No 44, 2013) Implikasinya jelas. Setelah karyawan peduli terhadap perusahaan, saatnya perusahaan melanjutkan kepeduliannya terhadap karyawan. Karyawan yang telah menunjukkan kesungguhannya untuk meningkatkan kinerja perusahaan, kiranya layak ikut menikmati hasil . Tak Hanya 2014 Ketika menjabat Dirut Perhutani, tak hanya pada tahun 2014, ia menaikkan gaji. Belum genap setahun memimpin Perhutani, pada tahun 2013 telah menaikan gaji pokok hingga 10%. Kenaikan gaji pokok tersebut dalam implementasinya bervariasi antara 0-15%. Mengapa ada yang nol?. Direksi kenaikan 0 persen. Kenaikan gaji direksi BUMN bukan ditentukan oleh direksi, tetapi oleh pemegang saham, yang dalam hal ini diwakili Dewan pengawas. Pada 2013, untuk pejabat kenaikannya 2,5%, selanjutnya untuk eselon di bawahnya 5%, 10% hingga 15% bagi karyawan yang paling bawah. Pola kenaikan gaji pada 2013 itu tampaknya juga diterapkan pada 2014. Dimana untuk pejabat setingkat kepala biro ke atas tidak naik. “Untuk kepala seksi ada yang

36 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

rimbakhusus

untuk memperjuangkan kenaikan gaji karyawan. Karena kenaikan gaji karyawan itu juga bisa untuk mendongkrak produktivitas. Sekarang tantangannya, bagaimana kenaikan gaji bisa mendongkrak kinerja perusahaan. Semua itu tergantung pada seluruh karyawan

naik, tetapi ada yang tidak naik,” tambah Bambang Bedanya bila dibanding dengan 2013, kenaikan gaji pada 2014, kenaikannya sudah berkualitas. Yang dinaikkan bukan gaji pokoknya, tetapi kenaikannya berdasarkan kinerja dan prestasi dan unsur kesetaraan. Kenaikan Gaji karyawan Perum Perhutani

No.

Indikator

2013

2014

1.

Kenaikan

10%

15%

2.

Komponen

Gaji Pokok

Insentif

3.

Sasaran

Seluruh karyawan kecuali direksi

Level Pekerja menengh ke bawah. Sementara untuk levek ke atas, mulai Kepala Biro tidak naik

4.

Kenaikan per karyawan

0 s/d 15%

5 s/d 50%

Kenaikan ini haruslah dipandang sebagai bukti komitmen dari direksi untuk melaksanakan 4 P. Kalau karyawan sudah peduli terhadap perusahaan sehingga perusahaan bisa tumbuh dan meningkatkan kinerjanya , maka perusahaan juga harus peduli terhadap karyawannya. Jika di masa mendatang pendapatan perusahaan membaik, menjadi tanggung jawab direksi

untuk menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kepedulian terhadap perusahaan. Penuhi Harapan karyawan Sebagaimana ditambahkan Adrian Bestari, Kepala Biro Pelayanan SDM dan Hubungan Industrial Kantor Pusat Perum Perhutani, kenaikan gaji 2014 itu telah memenuhi harapan karyawan yang menghendaki gaji

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

perusahaan. “Dalam soal itu saya tak main-main. Kalau ada yang melanggar akan saya tindak,” tegas Mustoha.

karyawan Perhutani minimal Rp 2.250.000. “Kini gaji karyawan perhutani paling rendah sebesar Rp 2,6 juta,” tambah Adrian ketika mendampingi Direktur SDM dan Umum saat menerima Duta Rimba. Tentu pertanyaan yang muncul. Setelah kenaikan gaji pada 2014, bagaimana dengan tahun depan? “Sejak sekarang sudah saya perintahkan untuk dihitung. Kalau harus naik dari pos mana kenaikan itu bisa dilakukan. Sementara untuk besarannya akan dilihat sejauh mana kinerja perusahan tahun ini,” tegas Bambang. Memang harus jauh-jauh hari memperhitungkan kenaikan gaji karyawan untuk 2015. Menaikkan gaji karyawan BUMN tidak bisa seperti membalik telapak tangan. Kenaikan itu harus dituangkan dalam RKAP perum Perhutani 2015 yang disusun pada 2014. RKAP tersebut harus mendapat persetujuan tidak saja oleh Dewan pengawas, tetapi juga Kementerian BUMN, sebagai pembina Perum Perhutani. Hanya saja sebagaimana ditegaskan Dirut Perhutani, kenaikan gaji pada 2015 tentu tidak seperti pada 2013 dan 2014. Bila selama ini

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

pejabat belum bisa dinaikkan, ke depan saatnya seluruh karyawan perhutani baik dari golongan terendah hingga yang tertinggi bisa naik semua. Selain itu, kenaikan gaji karyawan dilakukan berdasarkan basis kinerja. Gaji seorang kepala biro dengan kepala biro lainnya tidak sama. Yang membedakan nantinya adalah kinerja masing-masing. Begitu pula gaji di bidang pemasaran tentu juga berbeda dengan gaji di bidang lain. Dimana-mana gaji karyawan di bidang pemasaran jauh lebih tinggi bila dibanding dengan gaji karyawan di divisi lainnya. Ini karena manyangkut fee marketing, untuk memacu penjualan. “Pada tahun ini, kami dari Direktorat Komersial Kayu akan menformalkan fee marketing bagi para tenaga pemasaran. Dengan kebijakan ini, nantinya para tenaga pemasaran tak boleh menerima fee dari pelanggan atau pembeli,” tegas Mustoha Iskandar, Direktur Komersial Kayu. Namun, pihaknya juga akan tegas kepada tenagga pemasaran yang masih mencari-cari tambahan pendapatan di luar fee marketing yang akan ditetapkan oleh

Tingkatkan Kinerja Setelah kenaikan gaji, saatnya perusahaan juga meminta kepada karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Karena kalau kinerja karyawan tidak bisa digenjot di pastikan tahun depan tak akan bisa menaikan gaji. Itu artinya karyawan sendiri yang bakal merugi jika tidak meningkatkan kinerjanya. Setelah menaikkan gaji, Perhutani juga memberlakukan Perhutani Bersih. Dimana karyawan Perhutani dilarang menerima upeti. Kebijakan ini tentu tak boleh hanya jadi wacana. Dengan dicukupi gajinya, mereka tak boleh lagi menerima upeti dari mana pun. Kalau sudah dicukupi, tetapi masih tetap menerima upeti, Bambang meminta untuk keluar saja dari perhutani. Direksi tentunya tidak strik. Namun upaya untuk melarang upeti, paling tidak untuk mengurangi kebocoran. Korupsi itu beraneka macam. Korupsi Rp 1.000 tentu kecil. Namun kalau dilakukan oleh 23.000 karyawan setiap hari bisa merugikan keuangan perusahaan sebesar Rp 23 juta . Dengan Perhutani bersih paling tidak sudah mengurangi kerugian Dengan gaji yang berbasis kinerja, bisa menjadi pembeda. Kalau karyawan bekerja keras. Gaji dasarnya sama, tetapi insentifnya tentu berbeda dengan karyawan yang biasa-biasa saja. Disinilah kompetensi berlaku. Bagi manajemen, masalah gaji itu menjadi prioritas. Transformasi yang dilakukan oleh Perhutani. Tak ada artinya bila gaji para karyawan tidak naik-naik. Gaji menduduki prioritas penting bagi karyawan di lapangan. Karena itu manajemen akan terus membuktikan komitmennya.• DR

DUTA Rimba 37


rimbakhusus

Golden

Shake Hand K ompetisi tak bisa dihindari lagi. Apalagi dengan era pasar bebas ASEAN yang akan berlaku 2015. Persaingan tak hanya terjadi antara negara dengan negara. Perusahaan dengan perusahaan. Pada era itu persaingan terjadi antara invidu dengan individu. Dalam pasar bebas arus barang dan jasa bebas masuk dan keluar. Hanya SDM yang berkompeten yang akan memenangkan persaingan. Kondisi semacam itu juga dirasakan oleh SDM di sektor industri kehutanan. Kalau SDM Perhutani tak mampu meningkatkan kompetensinya, bukan tidak mungkin kondisi semacam itu bisa ditempati oleh SDM dari manca negara. Gambaran semacam itu yang mendasari perlunya dilaksanakan program Golden Shake Hand. Industri di perhutani terus terang masih merupakan warisan birokrasi, sehingga harga pokok produksi (HPP) bila dihitung per pegawai sangat tinggi, sehingga ke depan dipastikan Perhutani tak akan mampu bersaing. “Kalau di swasta memilih kayu bisa dilakukan gantian. Di kita itu konsepnya jadi pegawai, sehingga produknya kurang kompetitif,” tegas Teguh Hadi Siswanto, Direktur SDM dan Umum. Dalam kaitan dengan Golden Shake Hand untuk tahap awal

38 DUTA Rimba

Perhutani akan fokus ke industri. Di industri, karyawan yang tinggal dua tahun pensiun atau mendekati pensiun akan dikasih penawaran yang menarik. “ Kita akan kasih pesangon lebih besar dari pada bekerja selama menunggu.” Mereka tak dirugikan. Kalau misalnya menunggu 2 tahun dengan 24 bulan gaji. Bisa saja diberikan tawaran 27 gaji dibayar di depan. Langkah ini akan mempercepat proses kompetisi Perhutani di era pasar bebas ini. Pertama, kalau mereka ditarik dan pindahkan, keahlian mereka itu hanya mengasah, mengelap, tetapi tidak bisa menanam. Mereka bisa mati ngenes kalau dipindah ke tanaman. Mereka akan ditawari. Tetapi untuk kader-kader yang berpotensi tidak akan perkenankan untuk mundur. “Mereka yang sudah kita bina, tetapi tak bisa tumbuh, karena sayang dengan korporasi . Sudah mengabdi sekian tahun, tetapi kok industrinya tidak maju-maju. Supaya maju, saya mengajukan pensiun dini. Kasarnya supaya perusahaan bisa tertata dengan baik.” Formulasi Golden Shake Hand, telah banyak dilaksanakan di berbagai korporasi-korporasi besar untuk meningkatkan persaingan. Hal ini juga pernah dilakukan manager satu miliar Tanri Abeng ketika mengendalikan usaha Group Bakrie. Ketika itu di kantor pusat grup Bakrie memiliki 500 karyawan

Peluang Perhutani menjadi perusahaan besar hingga bisa menampung karyawan lebih besar lagi sangat dimungkinkan, bila bisa melewati program ini dengan baik.

dengan sekala usaha yang terbatas. Untuk mengefisienkan operasional bisnis, perusahaan merampingkan karyawan separonya dengan program Golden Shake Hand Kala itu banyak kritik dari media terhadap Tanri. Kenapa perusahaan sebesar Bakrie melakukan PHK. Apakah kebijakan itu tak akan memberikan beban kepada masyarakat. Terhadap kritikan semacam itu Tanri membantah. Golden Shake Hand itu merupakan langkah untuk mengefisienkan Grup Bakrie. Kalau grup ini mem-PHK 250 orang, kemudian perusahaan menjadi efisien dan tumbuh dan berkembang, maka untuk sepuluh tahun lagi bisa merekrut karyawan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

20 kali lipat dari yang diberhentikan. Hal ini terbukti sepuluh tahun ke mudian Bakrie bisa merekrut 5.000 karyawan hingga total karyawannya sekarang mencapai 70.000 karyawan. Tanri Abeng meyakini, pada dasarnya para pekerja itu profesional. Kalau mereka diperlakukan secara manusiawi, dengan ditawarkan kompensasi yang memungkinkan mereka bisa bertahan dan berkembang di tempat lain, mereka bisa menerima. Model apa yang dilakukan oleh Tanri ini, kiranya tepat dilakukan di Perhutani Mereka yang kelak mendapat tawaran golden shke hand, tentu memiliki anak dan cucu. “Bila Perhutani nanti makin kompetitif,

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

tumbuh dan bekembang, perusahaan ini nantinya bisa menjadi tempat bekerja generasi penerus mereka, mulai dari anak dan cucunya. Prinsipnya semua mengikuti prosedur yang berlaku. “ tegas Teguh Golden Shake Hand ini akan dimulai pada 2014. Perusahaan sudah menganggarkan dalam RKAP. Mereka yang di industri tinggal 2 tahun pensiun dimuliakan. Dari pada mereka dipindahkan di Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) di Cepu, tentu lebih membingungkan lagi bagi mereka Peluang Perhutani menjadi perusahaan besar hingga bisa menampung karyawan lebih besar lagi sangat dimungkinkan, bila bisa melewati program ini dengan

baik. Peluang ini digambarkan oleh Teguh. Perhutani ini merupakan perusahaan kehutanan terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan ini tidak menutup operasi di Aceh, luar negeri atau dimana pun. Artinya tinggal bagaimana bersaing dan menegakkan aturan dan menempatkan orang-orang yang pantas di sana. ‘Kita bangun ke dalam dulu, baru nanti kita mensejajarkan dengan perusahaan lain. Supaya bisa bersaing.” Disinilah butuh kesadaran tinggi dari seluruh karyawan. “Kalau prusahaan ini berkembang ke depan minimal anak cucu kita bisa mendapat lapangan kerja. Toh mereka pensiun juga dapat,” tambah Teguh. Karena itu jangan lewatkan tawaran program ini. • DR

DUTA Rimba 39


rimbakhusus

Reward And Punishment

Dok. Humas PHT

Kick Off- nya 2014

40 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Tahun 2014 menjadi Momentum bagi Perhutani dalam menata SDM untuk menopang transformasi korporat. Reward and Punishment akan diberlakukan. Mereka yang berprestasi tentu akan mendapat penghargaan baik materiil maupun non materiil. Tapi bagi mereka yang tak bisa berubah, tentu akan mendapatkan punishment. Karena itu jangan lewatkan untuk terus menggenjot kinerja.

K

eputusan di bidang bisnis tak bisa dilakukan seperti membalik telapak tangan. Semuanya tentu harus direncanakan secara detail. Tak bisa sembarangan. Sekali salah mengambil keputusan, banyak dampak ikutan yang terjadi. Tak hanya dari sisi investasi, operasional dan finansial. Hal emacam itu juga terjadi di perhutani. Setiap keputusan penting, pasti sudah direncanakan dengan penuh perhitungan Seperti dalam menaikkan gaji 2014 sebesar 15%. Itu sudah jauh-jauh hari direncakan pada tahun 2013. Gaji itu sudah dianggarkan dalam rencana Kerja Anggaran perusahaan (RKAP) 2014. Bahkan rencana itu sudah melalui persetujuan Kementerian BUMN sebagai pemegang saham. Kenaikan gaji itu tak bisa dilakukan senaknnya, apalagi karena tekanan-tekanan tertentu dari pihak luar. Disesuaikan Keuangan Perusahaan Kenaikan gaji itu juga disesuaikan dengan proyeksi pendapatan perusahaan. Karena dalam sistem manajemen yang rasional, kenaikan baru bisa dilaksanakan bila ada tambahan pendapatan. Sebagaimana pepatah, tidak boleh besar pasak dari pada tiang. Bila ini yang terjadi, kenaikan gaji bisa menjadi “bumerang” bagi perusahaan. Sebagai sebuah perusahaan,

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

kenaikan gaji berbeda dengan negara, yang pengeluarannya di topang oleh pendapatan pajak dari masyarakat. Bila negara dalam lima tahun terakhir ini begitu mudah menaikkan gaji, baik dalam bentuk gaji pokok dan renumerasi, karena penerimaan pajak dalam lima tahun terakhir ini cukup signifikan. Untuk renumerasi bagi PNS, negara berani mengalokasikan Rp 40 triliun dalam APBN, sepuluh kali lipat dari pendapatan Perum Perhutani. Hal ini bisa terjadi, karena penerimaan pajak hampir menyentuh angka Rp 1.000 triliun. Tapi bagaimana dengan karyawan Perhutani sebagai entitas bisnis yang kehidupannya tidak ditopang sebagaimana PNS yang diambilkan dari APBN. Tentunya untuk menaikkan gaji karyawan Perhutani, hanya bisa diandalkan dari penerimaan korporat. Agar perusahaan sehat, tentu harus ada hitung-hitungannya. Harus ada rasio kenaikan gaji dengan rasio kenaikan pendapatan secara proporsional. Bila tidak proporsional, perusahaan dalam kondisi lampu merah. Namun, sebaliknya, jika pendapatan perhutani bisa terus digenjot secara maksimal, kenaikan gaji karyawan Perhutani tentu bisa lebih likwid dibanding dengan kenaikan gaji PNS. Banyak perusahaan yang mampu menggaji karyawannya berkali lipat bila dibanding gaji PNS, karena kinerja keuangannya sangat maksimal.

Kondisi demikian juga bisa berlaku di Perhutani. Syaratnya tentu dari pendapatannya Reward & Punishment Dari total kenaikan gaji 2014 sebesar 15% diprioritaskan bagi golongan yang terbawah agar gajinya minimal rata-rata karyawan Perhutani sebesar Rp 2,6 juta. Dengan kenaikan gaji ini manajemen berharap karyawan yang di PP itu bisa memberikan kontribusi yang lebih baik lagi. Artinya, gaji sudah dipenuhi sehingga direksi menuntut kinerja mereka harus lebih baik lagi. Dalam kontek ini akan ada reward and punishment. Kick ofnya pada 2014. Siapa yang bekerja baik akan mendapat apresiasi. Yang kurang dibina, baru dimatrikulasi, dan kalau yang tidak bisa, akan ditangani dengan skema golden shake hand. “ Dalam rangka memanusiakan orang, tetapi korporasi tidak dirugikan. Jadi kick off-nya 2014,” tegas Teguh Hadi Siswanto, Direktur SDM dan Umum Perum Perhutani Kenaikan ini tidak berlaku untuk semua karyawan. Hanya sampai kepala seksi. Kepala biro ke atas tidak naik. Kenaikannya tidak sama 15% dari anggaran. Kenaikannya di sebar secara proporsional. Semakin ke atas semakin kecil, Mungkin di ADM hanya 5% dari gaji pokok. Demikian seterusnya. Dalam kontek ini, Teguh berharap kepada seluruh karyawan untuk lebih menyayangi perusahaan.

DUTA Rimba 41


Dok. Humas PHT

rimbakhusus

Mereka harus saling memuliakan di antara mereka yang mengurus korporasi dan karyawan. Ini penting untuk membangun trust. “Saya trust kepada karyawan saya, dan karyawan trust kepada pimpinannya. Ini yang perlu. Kalau ada hal-hal yang perlu kita diskusikan sudah ada salurannya seperti Serikat pekerja. Dan peranan Serikat Pekerja itu akan kita tingkatkan. Di setiap unit setiap bulan lembaga kerja sama (LKS) Bipartrit melakukan pertemuan untuk menampung apa keluhan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan,” jelas teguh . Dalam rangka demokrasi , manajemen akan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengartikulasikan kepentingannya. Akan tetapi ke depan bagaimana mengatur korporasi ini agar lebih baik. Mereka akan kita besarkan, tetapi dengan tugas pokok dan fungsinya. Direksi juga akan punya waktu untuk meningkatkan kesejahteraan, bisa berkreasi, dan meningkatkan gaji. Direksi juga bareng-bareng membangun trust bersama, sehingga visi Perhutani 2020 bisa tercapai. Tetapi kalau ada kondisi yang kurang produktif itu tak akan tercapai. “ Kalau ini

42 DUTA Rimba

Tahun 2014 menjadi tolok ukur perusahaan. Manajemen sudah memenuhi gaji minimal sesuai dengan permintaan mereka. dibangun, selain kerja sama , saling membesarkan, saling memuliakan. Kita juga senang dikritik, karena mereka juga sayang. Kalau hanya disanjung, kemudian dilempar dengan bilang bagus. Kita butuh kritik yang konstruktif berdasarkan kewenangan masing-masing.” Tahun 2014 menjadi tolok ukur perusahaan. Manajemen sudah memenuhi gaji minimal sesuai dengan permintaan mereka. Masalahnya sekarang, kinerjanya seperti apa? Gaji minimal Rp 2,250.000. Dan tahun ini perusahaan akan mengangkat 3000 karyawan. Sebanyak 1.600 reguler dan 1.400 melalui test. Ini sudah luar biasa. Tinggal bagaimana mereka bekerja dan berkarya. Karena perusahaan bisa membayar mereka kalau mereka juga bekerja. Sebagaimana umumnya gaji di Perhutani setahun sebanyak 12 kali plus satu kali THR. Total gaji 2013 mencapai 33% total pengeluaran perusahaan. Ini kurang sehat.

Mestinya meningkatkan pendapatan baru pengeluaran. Sekarang rasio gaji terhadap pengeluaran perusahaan tengah menuju di angka 20 s/d 25%. Pada 2014 perusahaan mencoba di angka 24,3%. “ Kemarin kita main di angka Rp 4 triliun, sekarang pendapatan sudah main di angka Rp 4,5 triliun. Pengeluaran kita Rp 4 triliun sehingga ada margin Rp 500 miliar.” tambah Teguh Jumlah Karyawan Perhutani sebesar 22.583 karyawan, turun dari 24.000 karyawan. Ini bisa turun karena kebijakan zero growth. Perusahan tak melakukan perekrutan, sekalipun ada yang pensiun . Namun bila kebijakan itu terus dilanjutkan , tentu bisa menyebabkan kurang sehat. Peluang Makin Terbuka Kondisi semacam itu juga terjadi di berbagai perusahaan besar lainnya. Untuk menekan jumlah karyawan di berlakukan zero growth. Hal ini dirasakan oleh

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Pertamina misalnya. Untuk sampai pada jumlah karyawan sekitar 15.000 beberapa tahun tidak melakukan rekruitmen. Akibatnya karyawan Pertaminna didominasi oleh karyawan dengan umur 45 tahun ke atas. Kondisi demikian tentu sangat mengkhawatirkan dari sisi kaderisasi, khususnya di bidang teknik perminyakan dan gas. Menyadari kesalahan tersebut, dalam lima tahun terakhir ini, Pertamina merekrut secara besarbesaran tenaga profesional baik fresh graduate maupun yang telah berpengalaman dari luar. Kondisi demikian kiranya yang akan dilakukan Perhutani, khususnya dalam merekrut orang dari luar dari para ahli sesuai dengan standarstandar yang disepakati. Prosesnya tentu me lewati kompetensi dan masa percobaan. Untuk segera terbang, rimbawan tentu tahunya hanya menanam. Kalau kita bicara IT tentu tidak bisa. “ Oleh karena itu tolong dipahami untuk hal-hal semacam ini, bukan orang-orang yang sejak kecil di Perhutani kok . Tetapi memang sesuai keahlinya. Sekarang aturannya tengah kita siapkan untuk mempercepat proses. Kalau aturannya belum ada kan salah. Siapa sih orang yang bisa masuk ke gondorukem dan derivat. Yang bisa orang teknik kimia. Kalau tidak disiapkan aturannya . Kita kerja sekian tahun (gajinya-red) sekian. Dia baru masuk saja sudah sekian. Inikan harus kita siapkan dan aturannya seperti apa. Dasarnya kompetensi, makanya ada pengembangan melalui CBRM ,” tegas teguh. Merekut karyawan non perhutani tentu dimungkinkan, karena bisnis Perhutani sekarang ini macammacam. Misalnya ada divisi opset (Optimalisasi Aset)t itu luar biasa. Mereka akan menjadi lokomotif Perhutani, dan aset perusahaan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Bukan tidak mungkin, Perhutani kelak memiliki hotel dan restoran di lokasilokasi wana wisata dalam memperkuat hospitility destinasi wisata Perhutani. tersebar di seluruh pulau Jawa. Aset ini sejak dari Dulu tak pernah diurus. Yang diurus tahunya hutan. Ke depan Perhutani mengurus hutan, hotel, wisata, produk kimia yang tentu harus dikelola oleh ahli-ahlinya. Lalu bagaimana aturannya. Seperti tahun depan Perhutani akan membangun pabrik Porang yang ada di Blora. Sebanyak 700 hektar disiapkan. Ini butuh orang kimia. Tak bisa orang biasa di taruh di sana. Seperti Porang ini, nantinya akan menjadi anak perusahaan, dan para ahli itu akan ditempatkan di sana. Itu semua dilakukan agar pengkaderan di dalam tidak mandeg di satu tempat. “ Mereka akan kita uji di anak-anak perusahan. Ini butuh waktu sekitar 5 tahun,” tambah Teguh. Ini sebuah tantangan sekaligus peluang. Tantangan yang terbesar dalam proses transformasi di bidang SDM ini, bagaimana internal perhutani mau menerima kehadiran para profesional yang berasal dari latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam yang signifikan terhadap bisnis Perhutani. Apakah mereka siap menerima kehadiran orang-orang non perhutani yang memiliki multi tasking ini mampu men-chalenge dirinya untuk

berkompetisi. Kalau ini bisa mereka terima, tentu akan terjadi akulturasi budaya perusahaan yang dinamis hingga mendorong semua pihak untuk menggenjot kinerja Perhutani. Di balik tantangan tersebut, peluang Perhutani menjadi raksasa baru di bidang industri berbasis produk hutan akan semakin terbuka. Bukan hal mustahil bila optimalisasi aset dari Banten hingga Jawa Timur nantinya akan berderet Indomart dan Alfamart, hasil kerja sama perhutani dengan perusahaan retail. Bukan tidak mungkin, Perhutani kelak memiliki hotel dan restoran di lokasi-lokasi wana wisata dalam memperkuat hospitility destinasi wisata Perhutani. Bukan tidak mungkin Perhutani tak hanya memiliki Hutan jati, tetapi juga jati estate. Kondisi demikian sudah banyak dibuktikan oleh perusahaanperusahaan yang berhasil melakukan optimalisasi aset. Ambilah contoh. PT Pos yang bisnisnya nyaris bangkrut dengan revolusi internet, kini justru mengalami kebangkitan, ketika mampu mengoptimalkan aset-aset perusahaan. Berapa hotel dan estate yang mereka bangun di berbagai daerah, mampu menjadi pundi-pundi perusahaan. PT Pos yang dikenal sebagai perusahaan jasa pengiriman surat kini telah bertranformasi menjadi perusahaan logistik kelas dunia. Beberapa gambaran tersebut memperlihatkan, peluang Perhutani untuk bisa bangkit menjadi raksasa di bidang industri kehutanan sangat terbuka. Tinggal masalahnya, bagaimana seluruh insan perhutani mau membuka diri, inilah menjadi kuncinya. Selain siap menerima kehadiran sesuatu yang baru, pada sisi lain kenaikan gaji 2014 ini harus menjadi momentum bagi seluruh insan Perhutani untuk menggenjot kinerjanya . Semoga • DR

DUTA Rimba 43


SOSOKrimba

Endang

Suraningsih “Keberanian Perhutani Kurang” Sosok “kepala sekolah” yang satu ini menarik perhatian karena kemurahan senyumnya pada semua orang. Selalu ada pembelajaran baru dari dirinya yang menarik untuk digali dan menjadi berita. Apalagi, sosok perempuan cucu mandor Perhutani KPH Gundih kelahiran Solo, Jawa Tengah, ini dikenal pekerja keras, dinamis, supel, dan selalu ramah kepada siapa saja. Namanya banyak dikenal di lingkungan BUMN Industri Primer karena perannya membantu melakukan transformasi Sumberdaya Manusia.

44 DUTA Rimba

T

elah bekerjasama dengan Perhutani untuk menyiapkan sistem Competency Based Human Resource Management (CBHRM) sejak tahun 2011, tentu Endang Suraningsih memiliki kesan tersendiri. Ditengah kesibukannya mengisi sesi Forum Keuangan BUMN Perkebunan di Bali yang padat, Duta Rimba berhasil mewawancarai Kepala Kampus Lembaga Pendidikan Perkebunan tersebut secara online. Simak petikan pemikiran dari wawancaranya.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 45


SOSOKrimba Mengapa tertarik bidang pendidikan sumberdaya manusia

Apa kesannya ketika mendengar tentang Perhutani Perhutani mengingatkan saya pada kenangan masa kecil. Sebuah perjalanan jauh melewati pohonpohon besar yang begitu indah di daerah Gundih Jawa Tengah. Kakek saya dari ibu adalah salah satu Mandor Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih pada jamannya. Saya bangga menjadi cucu Mandor Perhutani. Dari garis ayah, kakek buyut saya dulu Sinder Pabrik Gula Tasikmadu pada jaman Belanda. Entah mengapa rasanya saya kembali berinteraksi dengan latar belakang kedua nenek moyang ketika bekerja di lingkungan perkebunan dan kehutanan seperti sekarang ini.

Faktanya tentang BUMN plat merah ini apa Dalam bayangan saya beberapa

46 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Kalau kita memperhatikan hasil survei Global Competitiveness Report (World Economic Forum) yang berbasis di Jenewa, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2001-2010), peringkat Human Capital Index Indonesia, belum bergerak dari peringkat 50-an. Masih di bawah Jepang, Korea selatan dan China. Bahkan kita masih jauh tertinggal dengan Singapura yang berdasarkan hasil survey tahun 2013 menduduki peringkat 3 dunia, Malaysia di peringkat 22 dan Thailand peringkat 44, sementara negara kita Indonesia ini masih di peringkat 53. Keprihatinan ini mendorongsaya untuk berkontribusi. Landasannya semangat Merah Putih melalui pendampingan program capacity building untuk mempersiapkan sumberdaya manusia di BUMN menjadi pelaku bisnis kelas dunia.

Saya bangga menjadi cucu Mandor Perhutani. Dari garis ayah, kakek buyut saya dulu Sinder Pabrik Gula Tasikmadu pada jaman Belanda. tahun lalu, Perhutani adalah perusahaan besar pengelola hutan se Jawa dengan kesejahteraan karyawan yang bagus.Ketika LPP mendapat kesempatan bekerjasama dengan Perhutani, tentu saya bersemangat dan antusias sekali. Jelas Perhutani adalah perusahaan besar,kaya akan sumberdaya alam melimpah ruah, sekaligus sebuah institusi yang mempunyai amanah mulia untuk memelihara paru-paru

dunia. Hanya saja, ketika mengenal Perhutani lebih jauh, nampaknya belum semua sumberdaya yang dimiliki terkelola optimal. Mengingat efektivitas kinerja sebuah Badan Usaha tidak bisa dilepaskan dari sumberdaya manusia sebagai penggerak utamanya, maka berbekal pengalaman LPP dalam mendampingi BUMN-BUMN Perkebunan maupun Perkebunan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

Besar Swasta lainnya, kesempatan untuk bekerjasama dengan Perhutani menjadi tantangan tersendiri dalam mengelola sumberdaya manusia melalui pembangunan sistem terpadu berbasis kompetensi.

Potret sumberdaya manusia Perhutani seperti apa Secara umum kekuatan sumberdaya manusia Perhutani pada semua strata jabatan “Potensi Dasar atau Kecerdasan Umumnya relatif tinggi”. Ini sebuah indikasi bahwa karyawan memiliki kapasitas yang besar untuk dikembangkan, sehingga potensi yang dimiliki memungkinkan untuk didorong aktualisasinya ke dalam kompetensi kinerja. Selain itu, kompetensi teknisnya atau hard competency di bidang kehutanan, lebih khusus lagi aspek hulu budidaya hutan sangat bagus. Oleh karena itu, kompetensi yang terkait dengan pengelolaan tugas teknis dan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

rutin, relatif baik. Kelebihan-kelebihan lain, pada masing-masing strata tidak sama, sehingga diperlukan desain program pengembangan yang berbeda pada setiap strata jabatan.

Apakah masih ada kelemahannya Kelemahan di semua strata justru terletak pada kompetensi nonteknis atau soft competency terutama pada kelompok kompetensi kepemimpinanatau managing people.Kasus-kasus seperti ini antara lain tampak pada kemampuan menghandle situasi atau masalah, efektivitas komunikasi untuk pencapaian tujuan, maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan organisasi dan bisnis. Pada strata yang lebih atas, kompetensi yang terkait dengan aspek-aspek strategis, tampak sedikit perlu peningkatan lagi

khususnya terkait Sense of Business dan Business Development. Ini bisa diterjemahkan bahwa keberanian untuk “out of the box” kurang, masih nyaman dengan business as usual. Kompetensi manajerial masih perlu dikembangkan terutama kedalaman dan keselarasan level tindakan, eksplorasi berbagai sisi pertimbangan maupun cara memitigasi risiko yang mungkin terjadi. Hal-hal yang perlu ditingkatkan pada setiap strata juga berbeda, sehingga memang pengelolaan kompetensinya harus diselaraskan dengan kebutuhan pengembangan masing-masing strata dan arah bisnis perusahaan.

Bagaimana mengisi Struktur Organisasi baru dengan tanpa kendala Saya pikir seperti yang terjadi di Perusahaan lainnya, semakin tinggi sebuah jabatan harus semakin

DUTA Rimba 47


SOSOKrimba selektif pemilihan calon pejabat untuk posisi strategis. Kecuali perusahaan sudah menerapkan sistem Talent Managementyang efektif untuk mempersiapkan suksesi. Potensi sumberdaya manusia di Perhutani yang baik, menjadi modal untuk dikembangkan. Pada posisiposisi sesuai Struktur Organisasi yang baru, harus didasarkan pada hasil assessment jabatan-jabatan yang terkait dengan aktivitas utama yaitu pengelolaan sumberdaya hutan. Prediksi saya, relatif mudah mendapatkan calon, namun tampaknya tidak akan mudah menemukan calon yang handal untuk aktivitas bisnis. Mengapa, karena hal tersebut terkait dengan area yang masih perlu dikembangkan, yang sudah kita diskusikan sebelumnya tadi. Hanya saja yang kritikal di sini adalah penyediaan materi atau contentyang relevan dengan arah bisnis perusahaan dan ketepatan metodologi yang digunakan.

Menurut Dahlan Iskan (DR 45-Maret April 2013), transformasi di tubuh Perhutani untuk berubah dari kultur birokrat ke kultur korporat kurang cepat, seharusnya bisa lebih cepat dari ini. Semua harus dimulai dari atas. Bagaimana pendapat ibu. Perubahan dari atas sudah mulai terlihat. Sebenarnya transformasi sumberdaya manusia bisa dilakukan dengan dua pendekatan, pertama dari technical-side dan humansidenya sendiri. Pada sisi teknis bisa difasilitasi dengan implementasi sistem pengelolaan sumberdaya manusia terpadu berbasis kompetensi yang telah dimiliki Perhutani secara konsisten. Sistem ini mulai dari rekrutmen, pengukuran Competency Level Indeks, training need analysis, program development,

48 DUTA Rimba

Saya senang Perhutani banyak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, hanya saja perlu akselerasi di beberapa area,

assessment centre, perencanaan karier dan suksesi yang mengarah pada talent management, pengelolaan kinerja sampai dengan remunerasi yang berbasis kinerja dan kompetensi.Sekali lagi perangkat ini Perhutani sudah punya. Selain itu juga harus didukung implementasi sistem manajemen, dimana prosedur kerja harus dijalankan secara disiplin pada semua strata jabatan.Dari human-side, Perhutani perlu mengembangkan pemimpin-pemimpin transformasional, yaitu pemimpin yang visioner, mampu membuka wawasan dan menstimulasi intelektual, sehingga cerdas berbisnis namun bisa menjadi teladan dalam perilaku etika dan moralitasnya. Mengawal perubahan budaya perusahaan melalui pengembangan tata nilai dalam perilaku kerja. Selain itu, pemimpin transformasional juga mampu menginspirasi anggota perusahaan untuk bekerja ekstra keras (extra effort) dalam pencapaian tujuan perusahaan.

Apakah ada perubahan signifikan di Perhutani, menurut Ibu bagaimana Perubahan struktur organisasi dengan pengelompokan aktivitas utama dalam pengelolaan

sumberdaya hutan, aktivitas bisnis dan aktivitas pendukung, sebenarnya ada hal kritikal yang perlu dicermati, yaitu keselarasan (alignment) proses bisnis dengan penetapan Key Performance Indicator (KPI) yang tepat untuk mengungkit kinerja, sehingga terhindar konfliks kepentingan sektoral seperti saling menyalahkan antar unit kerja. Pengembangan sumberdaya manusia pada level strategis dengan Program Pengembangan Manajerial yang telah dilakukan, tentu akan berkontribusi dalam pengisian gap pada area manajerial, semoga ini memberikan kontribusi konkrit pada kinerja. Saya senang Perhutani banyak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, hanya saja perlu akselerasi di beberapa area, mengingat turbulensi lingkungan bisnis yang terjadi saat ini dan ke depan akan semakin cepat. Perubahan lingkungan bisnis harus dicermati, agar kinerja perusahaan terus meningkat, daya saing dan daya tumbuh perusahaan terjaga dengan baik, nilai perusahaan bertambah, sehingga kelangsungan usaha terus berjalan.

Kebutuhan Perhutani selanjutnya untuk transformasi apa lagi Transformasi bisnis pada dasarnya adalah program percepatan pembaharuan perusahaan yang fundamental, sifatnya strategis dan meliputi pendekatan holistik yang terdiri dari empat dimensi transformasi, yaitu manajemen, strategi, struktural dan kultural.Untuk mempercepat proses perubahan, tentu harus disiapkan road map yang jelas destinasi dan batasan waktunya, dengan implementasipada empat dimensi transformasi tersebut ke dalam program-program konkrit.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Peta sumberdaya manusia untuk mendukung transformasi ini bagaimana Potensi yang dimiliki sumberdaya manusia Perhutani, sekali lagi saya sampaikan cukup baik.Ini menjadi modal untuk dikembangkan. Dalam konteks industri hilir, akselerasi kesiapan kompetensi sumberdaya manusia Perhutani memang menjadi kritikal, terutama di bidang pemasaran dalam penetapan segmentasi pasar, target pasar, posisi produk di benak konsumen maupun menggarap bauran pemasarannya seperti Product, Price, Promotion, Place atau dikenal dengan istilah empat P. Harus pula didukung oleh sistem pemasaran handal berbasis teknologi informasi.

Tentu saya sangat berharap Integrated Competency BasedHuman Resources Management System sebagai alat yang sudah dimiliki oleh Perhutani terus diimplementasikan, dilakukan updating mengikuti perkembangan perusahaan. Demikian juga revitalisasi Pusat Pendidikan dan Pengembangan Sumberdaya manusia yang dimiliki Perhutani juga berlanjut. Saya yakin apabila komitmen manajemen tinggi maka tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Saya berharap BUMN Indonesia dapat melakukan akselerasi di berbagai dimensi agar mampu berlaga di kompetisi dunia. Apalagi Masyarakat Ekonomi Asia atau MEA segera kita masuki, kesiapan berbisnis di regional menjadi indikator awal keberhasilan untuk berlaga di level dunia. Dan saya yakin ini bisa dicapai apabila sumberdaya manusia di perusahaan kita itu terus dikembangkan kompetensi dan dimensi-dimensinya. • DR/Soe

Dok. Pribadi

Harapan terhadap Perhutani kedepan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Gagah Namun Tetap Feminim DR. Endang Suraningsih, MM Psi.menjabat sebagai Kepala Kampus LPP Yogyakarta sejak April 2011. Doktor bidang Psikologi Industri dan Organisasi dari UGM Yogyakarta ini menjadi konsultan bagi semua BUMN Perkebunan Indonesia, BNPB & Australian-Indonesia for Distater Reduction (AIFDR), selain aktif membantu perusahaan perkebunan swasta Indonesia lainnya. Ibu dari dua orang putra ini punya hobi membaca, hampir seluruh buku dilalapnya. Penggemar dan kolektor semua buku John Maxwell dan penulis inspiratif Stephen Covey. Tak heran jika rumahnya lebih mirip gudang buku ketimbang rumah pejabat. Perempuan lembut ini semasa mahasiswa tercatat sebagai anggota resimen mahasiswa YON 1 UGM Yogyakarta dan aktif di Mapala Psikologi di kampusnya. Barangkali olahraga ini yang membuatnya tampak selalu gagah namun tetap feminim.

DUTA Rimba 49


lintasrimba

Perlindungan Bagi

Dok. XXXXXXXXXXXXXX

Raja Hutan Jawa

Bandung - Belakangan ini, warga Desa Alam Endah di kaki Gunung Patuha, Ciwidey, Kabupaten Bandung, resah. Empat anjing milik penduduk dilaporkan lenyap, dan mereka menemukan tetesan darah serta bulu anjing berceceran. Tuduhan tertuju ke macan tutul yang menghuni kawasan hutan di seberang jalan. Sigit Ibrahim, koordinator pengasuh di Pusat Rehabilitasi Satwa Aspinall Foundation Ciwidey, yang mendapatkan laporan dari Desa Alam Endah justeru senang. Sebab, macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) kini berstatus kritis atau di ambang kepunahan. Sehingga, ia pun mengatakan, “Jika ada macan tutul, artinya lingkungan sekitar baik.” Konflik warga dengan kucing besar itu memang kerap terjadi. Sehingga, akhir Januari 2014, puluhan perwakilan dari Perhutani, Perkebunan, Taman Nasional, kebun binatang, serta aktivis lingkungan dan satwa liar, membahas strategi dan

50 DUTA Rimba

rencana aksi konservasi macan tutul Jawa. Konferensi di Hotel Taman Safari Cisarua, Bogor, Jawa Barat, yang dibuka Menhut Zulkifli Hasan tersebut merumuskan dan memberi masukan terhadap rencana konservasi yang telah dibuat pemerintah. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan, Novianto Bambang, mengatakan, ada enam target yang diharapkan tercapai mulai 2016. Pertama, mempertahankan macan tutul hidup di alam dengan jumlah tetap atau bertambah. Kedua, habitat macan tutul tidak berkurang. “Selanjutnya, membangun infrastruktur dan meningkatkan kapasitas Kementerian Kehutanan dalam pemantauan dan evaluasi upaya konservasi macan tutul,” kata dia. Peneliti Utama di Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Badan Litbang Kementerian Kehutanan, Hendra Gunawan, mengatakan,

konflik manusia dengan macan tutul cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir. Dari satu kasus pada 2001 menjadi 16 kasus pada 2011. Adapun sepanjang 2012, ada lima laporan kasus gangguan macan tutul yang keluar dari hutan dan masuk perkampungan. Beberapa kasus dari laporan media massa yang dikumpulkan Forum Konservasi Satwa Liar (FOKSI) adalah penangkapan macan oleh warga di kaki Gunung Syawal, Ciamis, Jawa Barat, pada 2011. Kemudian di Kalapagunung, Kuningan, pada Oktober 2012, dan seekor macan yang kemudian mati setelah terjerat perangkap babi hutan di Desa Kuta Agung, Dayeuhluhur, Cilacap. Tahun lalu, ada juga seekor macan yang masuk kandang unggas dan ditangkap warga kampung Dukuh Duplak, Desa Tempur, di kaki pegunungan Muria, Jawa Tengah. Hendra, yang blusukan meneliti macan tutul di Jawa Barat dan Jawa tengah sejak 1986, mengatakan, macan tutul keluar hutan bukan hanya karena kekurangan mangsa, tetapi juga akibat perebutan wilayah kekuasaan. Fakta temuannya, semua macan tutul yang keluar dari habitatnya itu berjenis kelamin jantan yang siap kawin dengan umur 2-2,5 tahun atau lebih. Dari pemetaan dan riset selama 2010, diperkirakan macan tutul tersebar di 75 lokasi di pegunungan Jawa Barat hingga Banten. Sebagian besar menyebar di hutan hujan tropis pegunungan berketinggian 1.000 meter dari permukaan laut (mdpl). Selebihnya hidup di hutan hujan tropis dataran rendah yang kurang dari 1.000 mdpl, hutan tanaman pinus, mahoni, dan kayu rimba campuran. “Hampir semua gunung di Jawa Barat bermacan tutul,” ujarnya. Ancaman hidup satwa ini di Jawa Barat berkisar 15 persen. Tingkatnya lebih rendah daripada di Jawa Tengah, yang mencapai 44 persen. Bisa

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


dipahami karena 80 persen hutan di Jawa Tengah jenis produksi, yang ditanam untuk ditebang Perhutani. Di Jawa Tengah, Hendra menemukan 48 lokasi tinggal macan. Terbanyak di daerah hutan pinus, lalu jati, hutan alam pegunungan, hutan tanaman campuran, dan hutan alam dataran rendah. Sementara ini, Hendra baru menghitung jumlah populasi macan tutul di Jawa Tengah dengan metode campuran, yakni survei dan pemodelan. Berdasarkan inventarisasi, jumlahnya 234-383 ekor. Adapun dari

hasil pemodelan spasial, jumlahnya 240-400 ekor. Jumlah populasi itu belum termasuk angka kelahiran dan kematian macan tutul karena masih sulit menghitungnya. Tindakan sekarang yang mendesak, kata Hendra, adalah menyelamatkan macan yang turun dari lereng gunung. Caranya dengan mempertahankan luasan habitat hingga menambah area jelajahnya. Macan jantan yang paling tinggi jelajahnya, mencapai luasan teritori 400 hektare. “Semakin besar tubuh predator,

Pembuatan Bibit Pinus Vegetatif

Kurang lebih 70 orang berkumpul di Petak 66a RPH Lumbir BKPH Lumbir KPH Banyumas Barat, 19 November 2013. Mereka terdiri dari seluruh Asper, KRPH, Mandor Tanam, dan Mandor Pesemaian yang bertugas di wilayah KPH Banyumas Barat. Di hari itu, mereka semua mengikuti pelatihan pembuatan bibit pinus vegetatif dengan sistem “BAJOS”.

Dok. Humas PHT

Sistem “BAJOS”

BAJOS adalah pola pembuatan bibit pinus vegetatif yang dikembangkan Perhutani khususnya di Banyumas. Nama Bajos sendiri diambil dari para penemu metode tersebut yaitu Budi (Adm KPH Banyumas Timur), Ahmad (Asper di KPH Banyumas Timur), Bejo (KRPH di KPH Banyumas Timur), Sarno (Mandor di KPH Banyumas Timur). Pembuatan bibit pinus vegetatif sistem bajos sejatinya hampir sama dengan teknik mencangkok. Perbedaannya, teknik mencangkok menggunakan media tanah dan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Ir. Erwin,MM. Administratur KKPH Banyumas Barat membuat bibit pinus dengan cara “BAJOS”

kulit pada batang pohon yang akan dicangkok dibersihkan sampai kambiumnya bersih, sedangkan sistem Bajos tidak menggunakan tanah. Caranya cukup dengan dibuka kulitnya saja di bawah percabangan ranting dengan jarak 1-2 cm tanpa membersihkan kambium. Pelatihan tersebut terbagi menjadi dua termin. Teori dan praktik. Sebagai pemateri pada pelatihan ini adalah Masroni (Kaur Tanaman KPH

daya jelajahnya juga luas,” katanya. Skenario lain, pemerintah harus menyediakan tempat suaka (sanctuary) seperti badak Sumatera di Lampung. Luas area hutan yang dibutuhkan untuk suaka macan tutul di Jawa idealnya 600-1.000 hektare. Menurut Hendra, area jelajah macan tutul di kawasan suaka bisa dipersempit hanya sekitar 50 hektare. Caranya dengan menyediakan banyak hewan mangsa, seperti babi hutan atau rusa, sebagai sajian utama untuk Sang Raja. • Sumber: Koran Tempo, 12 Februari 2014, Hal.12

Banyumas Barat), dibantu Purwanto (Staf tanaman KPH Banyumas Barat). Usai penyampaian materi secara teori, langsung dilakukan praktik pembuatan bibit vegetatif sistem Bajos. Di dalam kegiatan praktik, tanaman pinus dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama kulit pohon cukup dikupas saja tanpa menggunakan perlakuan apapun. Kelompok kedua menggunakan perlakuan air kelapa dan jeruk nipis yang sudah dicampur dengan perbandingan 3:2 (300 cc air kelapa 200cc air jeruk nipis). Dan kelompok ketiga menggunakan perangsang akar Roton F. Lalu dibiarkan sampai kurang lebih tiga bulan hingga keluar atau muncul akar pada kalus. Di dalam pelatihan ini masing-masing peserta diminta membuat 50 bibit dan supaya melakukan percobaan dengan pohon pinus yang ada di resort masingmasing. Diskusi praktik dipandu oleh Kasi PSDHL, Heri Nur Afandi, S.Hut. Ia menyampaikan, praktik ini merupakan tindak lanjut yang dilakukan di KPH Banyumas Timur. Hasil praktik itu akan selalu diamati oleh Asper, Kaur Tanaman, secara periodik (minggu, bulan) sampai bibit siap tanam dan hasilnya dilaporkan ke KPH. • (Sp- Hum.Mj-ada)

DUTA Rimba 51


lintasrimba

Jokowi Tanam Pohon

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) bersama Bupati Bogor Rahmat Yasin dan Kepala Perhutani Divisi 1 Jawa Barat Dadang Hendaris, melakukan penanaman pohon di Desa Telaga Warna, kawasan Telaga Saat, Kabupaten Bogor, Selasa 4 Januari 2014. Penanaman ini merupakan upaya memerbaiki kualitas lingkungan di hulu Jakarta yang bisa membantu mencegah banjir Jakarta. Telaga Saat sendiri merupakan hulu dari Sungai Ciliwung yang mengalir ke Jakarta. Dadang Hendaris mengatakan, Daerah Aliran Sungai Ciliwung memiliki luas 36.000 hektare yang seluas 2.000 hektare di antaranya terdiri dari kawasan hutan konservasi yang dikelola Perhutani. “Kawasan hutan produksi bukan hutan lindung seluas 1.893 hektare, 5,5 persen dari luas DAS tersebut. Ditambah 5,8 hektare adalah di hulu Ciliwung, yaitu di Telaga Saat,” katanya. Dadang mengatakan, tutupan lahan yang ada di kawasan hutan baik konservasi maupun produksi adalah 11 persen lebih. Meskipun hutan produksi, Perum Perhutani tidak ada kegiatan-

di Hulu Ciliwung kegiatan yang merugikan kawasan hutan lindung. Selain itu, dari 1.893 hektare tersebut terdapat pohonpohon yang fungsi hidrolisnya masih bagus. Namun sebanyak 200 hektare, dikatakannya perlu ada pengkayaan. “Tapi tegakan pohonnya kurang sehingga harus kami perbaiki. Dari hamparan 1.893 hektare ini, ada 1000 di Hambalang,” katanya. Rahmat Yasin, menyebut, kejadian banjir yang terjadi kali ini merupakan kelemahan dan kesalahan dalam mengelola alam. Masyarakat banyak yang kurang menyadari bahwa alam untuk dimanfaatkan. Ia mengatakan, persoalan banjir juga terkait masalah struktural dan kultural. “Apa yang harus kita bangun, perbuat dan lakukan untuk bisa meminimalisir luapan air yang melimpah ke Jakarta sehingga Jakarta tidak sanggup mewadahi air itu yang akhirnya meluap kemana-mana,” kata Rahmat.

Berita Satu Online, 04 Februari 2014, 15.45 WIB

(27/1/2014). Di kesempatan itu, Zulkifli mengatakan, bencana alam dapat diminimalkan dengan memperbanyak ruang terbuka hijau. Maka, ia mengimbau Pemerintah Daerah lebih menggiatkan budaya menanam. “ Idealnya setiap daerah memiliki kawasan hutan 30 persen dari luas

wilayahnya agar mampu mencegah terjadinya bencana alam,” katanya. Bantuan tersebut bernilai Rp 1.024 miliar berupa bantuan kebun bibit rakyat sebanyak 20 unit senilai Rp 1 miliar dan Pengembangan Perhutanan Masyarakat Pedesaan Berbasis Kompetensi senilai Rp 350 juta. Lahan hutan di Jawa Tengah rata-rata hanya 20 persen dari luas kawasan. Sementara di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, menurut dia lebih parah lagi karena hanya tersisa sekitar 5 persen saja. Maka, ia mengapresiasi kebijakan Kabupaten Kendal yang bekerjasama dengan Perhutani KPH Kendal Regional Jawa Tengah dengan program tanamnya “Sak Uwong Sak Uwit ( Satu Orang Satu Pohon, red)”. • DR

Menhut Tanam

Jati Plus Perhutani Di sela safari kunjungan kerjanya bersama Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan melakukan tutup tanam 2013 dan pelihara tanaman JPP (Jati Plus Perhutani) Silin di petak 8 c RPH Trayu BKPH Boja KPH Kendal, 27 Januari 2014. Pohon JPP yang ditanam Menhut merupakan pohon JPP ke 14.708.882. Sebelumnya, Menhut Zulkifli Hasan memberikan berbagai bentuk bantuan CSR kepada masyarakat dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan di Desa Darupono Kecamatan Kaliwungu Selatan wilayah Perum Perhutani KPH Kendal regional Jawa Tengah

52 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

ke-14.708.882

Rahmat juga mengungkapkan, pihaknya memiliki tiga larangan untuk masyarakat Bogor, yaitu tak boleh menghuni bantaran Ciliwung, tak boleh membuang sampah di sungai, dan harus sadar bahwa Ciliwung menjadi sumber kehidupan masyarakat. Selain itu, dikatakannya, normalisasi penyerapan air bukan hanya dilakukan dengan penanaman pohon linear dengan membongkar pembangunan villa di kawasan Puncak, karena banjir akan tetap ke Jakarta. Sehingga, harus berbanding terbalik penanaman pohon dengan pembangunan villa. Sementara itu, Jokowi mengatakan dengan singkat, persoalan banjir ini sudah jelas begitupun jalan keluarnya. “Kita tidak mau terus menyalahkan, tapi kita harus fokus pada menyelesaikan masalah,” pungkasnya. Bersama beberapa tokoh yang hadir, Jokowi lalu menanam pohon kayu putih di tepi Telaga Saat. • Sumber:

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


KPH Banyumas Barat

Raih Kinerja Terbaik III se-Jawa Tengah

Dok. Humas PHT

Banyumas - Awal tahun 2014, KPH Banyumas Barat mendapatkan penghargaan dan tropi sebagai Kinerja Terbaik III se-Unit I Jawa Tengah. Penghargaan tersebut diserahkan tanggal 6 Januari 2014 di gedung Rimba Graha Perhutani Unit I Jawa Tengah. Tropy diserahkan langsung oleh Kepala Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah, Ir Teguh Hadi Siswanto, dan diterima oleh Adm KPH Banyumas Timur Dr.Ir, Budi Widodo, MP yang mewakili Administratur/KKPH Banyumas Barat, Ir.Erwin, MM yang saat itu sedang melaksanakan Ibadah Umroh. Menurut Kepala Tata Usaha KPH Banyumas Barat, Thomas Purwoko, SH, keberhasilan meraih predikat Kinerja Terbaik III itu antara lain karena terjalinnya kerja sama dan komitmen bersama dari seluruh karyawan untuk melaksanakan efisiensi anggaran. Sehingga, di tahun 2013 mereka dapat menekan biaya pengeluaran hingga 94% dari anggaran yang tersedia. Di tahun 2014, mereka berrencana

Perhutani Raih Chemical Engineering Award 2014 Perhutani meraih Chemical Engineering Award 2014 kategori Kedaulatan Teknologi pada acara Konvensi Insiyur Kimia. Penghargaan tersebut diterima Direktur Komersial Non Kayu, Moch. Soebagja, di sela-sela acara Konvensi Badan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia, di Gedung Utama PT Pertamina (Persero), Rabu 12 Februari 2014. Soebagja mengaku bangga menerima penghargaan kategori inovasi bisnis dan akan menjadikannya motivasi untuk mengembangkan lebih jauh aspek-aspek pengelolaan hutan yang berguna bagi masyarakat. Sementara Ketua Badan Kejuruan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

akan meningkatkan penghematan anggaran, sehingga pengeluaran dapat ditekan hingga di bawah 90%, dengan harapan perusahaan memiliki laba lebih besar. Di saat bersamaan, Kanit I Jawa tengah juga berkenan memberikan Piagam penghargaan dan uang pembinaan terhadap karyawan yang berprestasi tingkat unit I Jawa tengah

dan untuk KPH Banyumas Barat karyawan yang berprestasi itu adalah Suratman (Asper/KBKPH Wanareja Asper Rimba), Sugeng (KRPH Dayeuhluhur KRPH Rimba), Taslim (Mandor pesemaian Rimba terbaik I), Tarko (Mandor Tanaman terbaik III), Purwanto (SP Tanaman terbaik III), Sumarno (SP Umum), dan Solehan (SP Perencanaan) • Hms Byb

Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII), Nanang Untung, dalam sambutannya mengatakan, BKKPII memberikan penghargaan kepada Perhutani karena dianggap telah secara nyata memberikan sumbangsih kemandirian insinyur dan merupakan perusahaan yang mampu menjaga kedaulatan teknologi melalui pine complex industry yang mengolah gondorukem dan produk turunannya. Gondorukem dan Terpentin merupakan produk non kayu unggulan dengan nilai ekonomis tinggi berkisar US$ 2000-2500 per ton. Perhutani telah mendirikan Pabrik Derivatif Gondorukem Terpentin (PDGT) di Pemalang Jawa Tengah (tahap commissioning) yang mampu mengolah 2500 ton per

tahun dan merupakan PDGT terbesar se-Asia Tenggara. Pendapatan perusahaan dari bisnis non kayu tercatat mencapai Rp 2.1 Triliun untuk tahun 2013. • @Hms Pusat

Jabar Targetkan Luas Lahan Kedelai Naik Tahun ini, Pemprov Jabar menargetkan perluasan area lahan tanaman kedelai naik 52% menjadi 94.897 hektare dari luas lahan kedelai pada 2013 yang 62.415 hektare. Kasubag Program dan Perencanaan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Diperta) Jabar Mochamad Ramdhani mengatakan, target peluasan area tanam kedelai ini untuk mendongkrak produksi kedelai.

DUTA Rimba 53


lintasrimba “Secara keseluruhan produksi kedelai tahun lalu masih dalam tahap pendataan. Kemungkinan target produksi tidak tercapai karena tidak didukung cuaca. Musim kemarau basah membuat petani lebih memilih menanam padi,” katanya, Minggu (2/2). Dengan tambahan lahan pertanian kedelai tersebut, Jabar diproyeksi dapat memproduksi 146.789 ton kedelai biji kering per tahun, atau naik 50% dibandingkan

54 DUTA Rimba

tahun, menjadi dua kali panen setahun, dengan harapan dapat memperbanyak hasil produksi dan penghitungan luas tanam dua kali lipat sesuai dengan banyak panen dalam satu luas tanam. Saat ini pusat pertanian kedelai di Jabar didominasi kawasan Indramayu, Sukabumi, dan Garut. Beberapa kawasan mulai terlihat meningkat, semisal Sumedang, Cianjur, Majalengka, dan Ciamis. • Sumber: Bisnis Indonesia, 3 Februari 2014, Hal 26

Perhutani Mojokerto Bantu Air Bersih Pengungsi Erupsi Kelud

Dok. Humas PHT

Minimnya fasilitas air bersih untuk MCK membuat para pengungsi erupsi Kelud harus rela antri bahkan berdesakan, untuk mendapatkan giliran. Salah seorang pengungsi asal Kandangan, Asan, mengaku dirinya bersama anaknya pun terpaksa cukup membasuh muka dan sikat gigi untuk berhemat air. “Maunya mandi karena badan terasa lengket, tapi mau apa lagi, air terbatas dan harus bergantian,” ujar Asan. Menanggapi minimnya ketersediaan air bersih di lokasi pengungsian itu, Administratur/ KKPH Mojokerto yang juga Komandan Siaga Bencana Perhutani Mojokerto, Widhi Tjahjanto, mengirimkan armada truk tangki air bersih ke pengungsian bersama tim relawan. Relawan Siaga Bencana Perhutani KPH Mojokerto berkolaborasi dengan PMI dan Lembaga Penanggulangan Bencana & Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBPI NU) Mojokerto, 17 Februari 2014, mengirimkan bantuan armada truk tanki air bersih di Posko Pengungsi Brumbung, daerah Besowo, Posko Kepung, daerah Manggis, dan Posko Kandangan / Rumah Dinas Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH)

target produksi pada 2013 sebesar 97.448 ton biji kering kedelai. Mekanismenya dilakukan dengan cara mengarahkan petani untuk bertani di lahan kering, mengoptimalkan lahan tidur milik masyarakat, serta memanfaatkan lahan kosong milik perusahaan kehutanan (Perhutani) sesuai ketentuan. Selain itu, perluasan luas tanam dilakukan dengan meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali panen dalam satu

Kandangan masuk wilayah Perum Perhutani KPH Kediri. Widhi menganggap bantuan ini hanya bisa memenuhi sebagian kecil kebutuhan air bersih pengungsi. “Tetapi kalau memang dibutuhkan, kita akan berkoordinasi dengan KPH lain yang mempunyai armada truk tangki air untuk bersinergi membantu korban erupsi,” kata suami seorang dokter gigi ini.

“Kebetulan hari ini (Senin, red) digelar rapat koordinasi penanganan bencana pasca erupsi Gunung Kelud di Kantor Divisi Regional Jawa Timur, Surabaya”, tambah Widhi. Dari Posko Utama Kantor Perhutani KPH Kediri dikabarkan, selain masih minimnya fasilitas air bersih dan MCK, kebutuhan lain berupa pakaian, keperluan mandi, selimut, perlengkapan bayi, makanan bayi, pampers maupun susu formula serta lauk pauk untuk diolah di dapur umum Posko BKPH Pare, juga minim. Sedangkan mie instan dan air mineral sudah cukup. Sementara itu bantuan dari segenap keluarga rimbawan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur terus mengalir. Sesuai arahan Kadivre Jatim, Iman Sandjojo, donasi dan bantuan dari Rayon I, II dan III diarahkan ke KPH Kediri, sedangkan dari Rayon IV dan V diarahkan ke KPH Blitar, untuk selanjutnya oleh Tim Relawan Perhutani didistribusikan kepada para korban erupsi Gunung Kelud. • Hms Mojokerto / Eko Eswe, Editor: DK. Rizal

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Menhut dan Menko Perekonomian Tinjau Pabrik Kayu Lapis Perhutani Menhut Zulkifli Hasan bersama Menko Perekonomian Hatta Radjasa melaksanakan kunjungan kerja meninjau pabrik Perhutani Plywood Industry di Desa Gedangsewu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin 20 Januari

2014. Pabrik plywood (kayu lapis) milik Perhutani tersebut diresmikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan tahun 2013, dibangun di atas lahan seluas 9 hektare dengan kapasitas produksi mencapai empat ribu meter kubik per bulan. Sembilan puluh persen bahan baku kayu lapis berupa kayu sengon berasal dari kawasan hutan di wilayah Kabupaten Kediri. Sehingga,

Cinta Hutan dari Taman

Bacaan Kampung Cibedug Bogor

Desa Suka Tani Kecamatan Sukaraja Bogor yang berbatasan dengan perumahan mewah di tepi tol Ciawi, Sabtu 11 Januari 2014 pagi, riuh rendah oleh suara anak-anak dan ibu-ibu. Mereka tengah antri untuk mendaftar menjadi anggota taman bacaan. Saat itu bertepatan dengan pembukaan Taman Bacaan “Kampung Jati” oleh Walikota Bogor terpilih Bima Arya Sugiarto, didampingi Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto, sesaat setelah kegiatan bersepeda oleh Perhutani KPH Bogor. Taman bacaan itu merupakan sumbangan Bambang Sukmananto. Ide sederhananya muncul saat Bambang menjalankan hobi bersepeda menelusuri kampungkampung sekitar Bogor dan melihat

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

kurangnya akses anak-anak pada buku bacaan dibandingkan game digital. Maka, berbekal tiga ribu buku koleksinya yang menumpuk, rumahnya di kampung Cibedug-Pabuaran RT 01 RW 04 Desa Suka Tani pun disulap menjadi taman bacaan bagi warga desa Sukatani. Bima Arya dalam sambutannya mengatakan, “Ada dua  hal yang sangat menentukan dalam perjalanan hidup seseorang, yaitu buku dan alam. Buku untuk mengasah otak dan logika, sementara alam untuk membentuk empati dan nurani. Di taman bacaan ‘Kampung Jati’ dua-duanya ada, buku dan alam.” • Hms Pusat / Editor:  DK Rizal)

kehadiran pabrik itu berdampak positif dalam meningkatkan taraf kesejahteraan dan perekonomian warga sekitar. Di kesempatan tersebut Menko Perekonomian Hatta Radjasa didampingi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerahkan dana sharing produksi kayu untuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) wilayah KPH Kediri, Madiun dan Banyuwangi Utara. • Sumber: Antara, 21 Januari 2014, 15.21 WIB

Perhutani Blitar Bantu Korban Gunung Kelud Tim Penangulangan Bencana Alam (PBA) Perhutani Blitar, 15 Februari 2014, siapkan bahan makanan, minuman, masker dan kendaraan truk untuk membantu mengangkut masyarakat yang mengungsi dari erupsi Gunung Kelud. Tim Penanggulangan Bencana Alam Perhutani Blitar mendirikan 3 Posko Siaga Bencana, yaitu Posko Utama di Kantor Perhutani KPH Blitar, Posko I di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wlingi yang wilayah kerjanya yaitu Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Penataran dan Gandusari berada di sekitar Gunung Kelud dan terdampak langsung bencana, serta Posko II di BKPH Rejotangan yang terhimbas, yaitu di RPH Sumberingin merupakan wilayah aliran lahar Gunung Kelud. Tim Penanggulangan Bencana Alam KPH Blitar langsung bergerak dengan fokus utama menyelamatkan jiwa manusia terutama petugas Perhutani yang rumahnya masuk kawasan rawan bencana. Administratur Perum Perhutani Blitar, Haris Suseno, mengucapkan terima kasih kepada semua personel Tim Penanggulangan Bencana Alam Perhutani Blitar yang telah bekerja dengan baik dan sigap dalam bertugas. • Hms Blitar/Romi.Y

DUTA Rimba 55


Saka Wanabakti

DEDIKASI BAGIMU BUMI

Memakmurkan bumi adalah panggilan nurani. Siapa yang peduli, hatinya penuh nur Illahi

56 DUTA Rimba

NO. 49 • TH. 8 • November-desember • 2013


LENSA

Apabila alam belum sempurna keindahannya Menjadi Tugas kita untuk menghiasinya

NO. 49 • TH. 8 • November-desember • 2013

DUTA Rimba 57


Alam makin tua dan sering murka Merawat bumi tak akan lapuk di makan usia

58 DUTA Rimba

NO. 49 • TH. 8 • November-desember • 2013


Ada seribu jalan menuju ke roma Melestarikan bumi bisa sejuta cara

NO. 49 • TH. 8 • November-desember • 2013

DUTA Rimba 59


Air hujan bisa menjadi berkah Bila volumenya besar bisa jadi petaka Namun bila berkurang bisa kemarau dan kekeringan Jagalah hutan , agar air hujan menjadi teman

60 DUTA Rimba

NO. 49 • TH. 8 • November-desember • 2013


Tanamkan kecintaan pada bumi pada anak negeri Mereka ini pewaris alam semesta Di tangan mereka bumi akan lestari Sehingga anak bangsa bisa berkarya

NO. 49 • TH. 8 • November-desember • 2013

DUTA Rimba 61


opini

Manajemen Intensif Oleh: Bambang Budhiarto *)

Tergelitik oleh anekdot yang menyebutkan bahwa rimbawan kalah piawai dari penggembala itik. Sebab, penggembala selalu tahu persis jumlah itiknya walau itik yang ia gembalakan selalu bergerak. Sebaliknya, rimbawan kerap kali tak tahu persis jumlah pohon yang ia kelola kendati pohon-pohon itu tidak pernah bergerak dari tempatnya. Nah, apanya yang perlu dibenahi?

62 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

K

ita mahfum, masalah yang diemban Perhutani dalam mengelola hutan di Pulau Jawa demikian kompleks. Apalagi, pengelolaan hutan itu harus dapat memenuhi dan menyelesaikan persoalan SEL (Sosial, Ekonomi, Lingkungan) atau istilah kerennya 3P (Planet, People, Profit). Maka, untuk menyukseskan tugas tersebut perlu kemauan, kemampuan, dan kontinuitas atau terus menerus. Istilahnya adalah 3M (Mau, Mampu, dan Militan). Berdasarkan pengamatan pada data, khususnya di wilayah kerja Unit II Jawa Timur, selalu terlihat kekurangan. Misalnya pada tanaman. Walau hasil prosentase tumbuh tanaman di Jawa Timur selalu di atas dari angka yang ditargetkan, tetapi tak semua mencapai 100 persen. Tanah kosong selalu terjadi walau terus dikurangi dengan rangkaian kegiatan penanaman. Selain itu,

gangguan keamanan dan kerugian juga selalu timbul walau kegiatan patroli terus dilakukan, bahkan dengan dukungan aparat yang berwajib berdasarkan permintaan bantuan pengamanan. Juga masih ada beberapa bidang lagi yang memerlukan perbaikan, semisal SDM (Sumber Daya Manusia), produksi,

industri, trading dan pemasaran, serta penyelesaian masalah tenurial. Problematika Menyikapi fenomena tersebut, pertanyaan yang pertama timbul adalah, “Mengapa terjadi kondisi yang kurang sempurna seperti di atas?” Secara spontan, jawabannya pasti adalah, “Kualitas manajemen perlu ditingkatkan!” Lho, padahal menurut manajemen, selama ini pihak manajemen telah melakukan apa yang digariskan oleh Pak Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan “Kerja, Kerja, Kerja!” Kalimat Pak Dahlan itu disempurnakan sedikit agar berhasil dan selamat, yaitu “Kerja fokus, Kerja terampil dan ikhlas, serta Kerja benar!” Artinya, langkah 3M sudah dilakukan untuk menggarap sektor SEL atau 3P itu. Tetapi hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Mengapa demikian? Mungkin perlu kita melihat ke belakang, apakah perencanaannya sudah sesuai dengan kebutuhan kondisi saat ini agar link and match dengan bidang teknis kehutanan, serta apakah sektor SDM dan Keuangan betul-betul telah terakomodasi dengan baik, sehingga setelah diaplikasikan dapat memberikan hasil yang optimal dan dapat menjawab kebutuhan kondisi terkini. Langkah Sebagaimana telah kita ketahui, Perum Perhutani sudah berbuat

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

banyak untuk dapat mengoptimalkan hasil produksinya, semisal dengan penyiapan bibit jati unggul bertajuk JPP (jati Plus Perhutani), bibit Pinus Bocor Getah, bibit Kayu Putih Unggul, serta pembangunan industri-industri kayu maupun non kayu. Semua itu diharapkan akan mendukung usaha untuk mendulang nilai tambah yang tinggi. Pada pelaksanaan penanaman, dicanangkan kegiatan “Silvikultur intensif” atau yang dikenal dengan istilah “Silin”. Hasilnya telah dibuktikan pada uji coba di KPH Ngawi. Jati Plus Perhutani yang berumur 8 tahun, dari hasil yang ditebang terdapat 150 meter kubik per hektar, dengan harga jual sekitar 300 juta rupiah. Pencapaian itu bahkan seharusnya dapat lebih tinggi, karena saat penebangan masih disisakan tegakan sejumlah 25

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

pohon per hektar. Mengingat empiris hasil-hasil kelola hutan yang belum optimal dan mengadopsi silin, disimpulkan bahwa segala bidang perlu dikembangkan dengan intensif, mulai dari perencanaan, tanaman, produksi, industri, pemasaran, hingga keamanan. Muara akhirnya adalah Manajemen Intensif. Jika itu dilakukan, dapat dipastikan hasil yang akan diperoleh juga intensif dan optimal. Sehubungan hutan yang dikelola Perhutani lumayan luas, yaitu 2,4 juta hektar, Manajemen Intensif belum dapat dilakukan lewat sebuah gerakan yang serentak dan singkat. Namun Manajemen Intensif sudah harus mulai dirintis secara kontinyu setiap tahun, dengan tahapan uji coba unit kecil tetapi menyeluruh. Misalnya, di tiap RPH cukup

diterapkan pada satu petak saja. Sehingga jika digabung se-BKPH, se-KPH, se-Unit, hingga sePerhutani, sudah akan didapat lahan yang lumayan banyak. Dan untuk menggapai pendapatan hingga 10 triliun rupiah per tahun menjadi bukan perkara yang sulit, dengan asumsi harga konservatif jati sebesar 2 juta rupiah per meter kubik dan produktivitas 150 meter kubik per hektar. Maka, dengan daur rata-rata 30 tahun, hanya perlu kawasan hutan produksi sejumlah sekitar satu juta hektar (10 Triliun = 10 Triliun/2 juta, -equiv 5.000.000 meter kubik equiv 5000.000/150 hektar equiv 33.333 hektar, daur rata-rata dibuat 30 tahun, hanya perlu 999.990 hektar yang dibulatkan menjadi 1 juta hektar). Itu baru dari core satu bidang saja. Apalagi jika intensifikasi Pinus

DUTA Rimba 63


Manifestasi Beberapa bulan lalu, ada undangan workshop di Fakultas Kehutanan UGM yang menghadirkan pakar-pakar UGM dan IPB, dengan inti bahasan optimalisasi Sumber Daya Hutan. Di sana banyak disampaikan intensifikasi teknikteknik kehutanan dan pemuliaan namun hasil yang diperoleh masih kurang optimal. Pada kesempatan itu saya hanya sedikit menyempurnakan, bahwa menurut saya semua upaya itu sudah bagus, hanya kurang satu saja yaitu “Kurang Aman”. Sehingga, perlu segera ditemukan jalan keluar agar semua yang diinvestasikan utuh sampai panen dan menguntungkan. Agar hasilnya sesuai harapan, perlu segera aplikasi dari perencanaan yang mengakomodasi keperluan kekinian secara link and match. Mulai rancangan Fisik, SDM dan biaya, sampai monev-nya. Dari pengamatan, selain yang sudah baikbaik ada juga yang kurang dan hal itu berpengaruh besar pada hasil, yaitu Pengamanan yang diupayakan agar dapat mandiri. Covering pengamanan area khususnya di Unit

64 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Bocor Getah dikembangkan. Sebab, dari data Kebun Penelitian Pinus Garahan Jember diketahui produktivitas getahnya mencapai 20 gram per hari per pohon atau 6 kg per pohon per tahun. Berdasarkan penelitian KSPH II Madiun, dengan tingkat kerapatan tegakan sedang rata-rata mencapai 375 pohon per hektar, sehingga produktivitas hutan Pinus Bocor Getah dapat mencapai 2,25 ton per hektar per tahun. Apabila total kapasitas Pabrik Gondorukem dan Terpentin (PGT) di Perhutani mencapai 120.000 ton, hanya perlu sekitar 53.000 hektar kawasan hutan. Selain Pinus Bocor Getah, masih banyak lagi bidang lain yang dapat dikembangkan secara intensif.

II Jawa Timur, jika luas wilayah dibagi habis dengan SDM, didapat angka 126 hektar per orang. Sedangkan 30 persen SDM bertugas di kantor sehingga covering area menjadi 164 hektar per orang. Idealnya 50 hektar (7 hm x 7 hm) per 4 orang. Jika optimalisasi covering area yang ideal itu berani untuk diujicobakan (seharusnya berani), selain didapat hasil optimal juga dapat mematahkan anekdot yang terdapat pada prolog di atas. Tentu syaratnya SDM yang ditugaskan ini wajib melalui seleksi yang diutamakan pada Fisik, Mental dan Kejujuran, serta dilengkapi Alat Pengamanan Diri (APD) termasuk Alkom dan Pos Jaga. Untuk mengefisienkan biaya, dapat dikombinasikan dengan peran penempatan anggota LMDH yang selama ini sudah menikmati sharing dari hutan pangkuannya, walau perannya belum optimal karena masih adanya pencurian kayu yang dijaga. Penempatan personel dalam petak uji coba dimaksud, hendaknya mengelompok berdekatan dalam

satuan luas 200 hektar guna memudahkan perbantuan. Berawal dari kegiatan percontohan kecil ini, manajemen intensif dapat diwujudkan serta dapat memacu kegiatan-kegiatan lain menuju intensifikasi guna mendapatkan hasil yang optimal. Agar ada goresan sejarah uji coba manajemen intensif (sementara ini diberlakukan pada Silvikultur dan Keamanan), perlu dilakukan Cut Off oleh Personel atau Pejabat Kunci. Guna merangsang minat, perlu sosialisasi tentang Reward and Punishment dan Standard Operating Procedure yang jelas serta dilaksanakan secara konsisten, yang sebelumnya dirumuskan melalui temu publik untuk mendapatkan masukan yang memberikan manfaat dan keuntungan semua pihak. Tulisan ini dimaksudkan untuk menggugah pencapaian yang lebih baik, sehingga dapat menyenangkan semua pihak, dan mewujudkan Perhutani Lestari dalam Sinergi dan Harmoni. n *) Penulis adalah Mantan Kepala Unit II Perum Perhutani Jawa Timur

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 65


warisanrimba

Berharap Tuah Air Nganget

Kenduruhan Setiap hari, banyak orang mendatangi pemandian air hangat Nganget, Tuban, Jawa Timur. Mereka berasal dari berbagai daerah. Sebab, air hangat di lokasi wana wisata ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Berharap penyakit mereka bisa sembuh, selain datang untuk berendam, tak sedikit pengunjung mengambil air panas itu untuk minum dan dibawa pulang.

D

i Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ada dua lokasi pemandian air panas yang lebih dikenal sebagai tempat wisata air panas jujugan. Keduanya adalah pemandian air panas Prataan yang berlokasi di Kecamatan Parengan, dan pemandian air panas Dermawuharjo di Kecamatan Semanding. Namun, di balik ketenaran dua tempat wisata air panas di atas, masih tersimpan sejumlah tempat pemandian air panas yang belum terlalu akrab di telinga warga Tuban. Salah satunya adalah Wanawisata Terapi Sumber Air Panas Nganget. Konon, Nganget adalah nama yang diberikan warga sekitar, karena daya tarik utamanya memang airnya yang hangat. Wanawisata Nganget terletak di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruhan, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Wanawisata Nganget berada di tengah

66 DUTA Rimba

hutan. Lokasi persis wanawisata Nganget berada di petak 33 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kejuron, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bangilan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jatirogo. BKPH Bangilan dikenal dengan kelas hutan Lapangan Dengan Tujuan Istimewa (LDTI) seluas 0,3 Hektare. Berdasarkan informasi, keberadaan sumber air panas Nganget ini sebenarnya sudah lama diketahui oleh warga Kenduruhan dan sekitarnya. Banyak orang sudah mendatangi Nganget dan merendam diri di sana. Namun, baru tahun 2007 Nganget ditetapkan secara resmi sebagai objek wisata dan dibuka untuk umum. Dasar penetapan sebagai obyek wisata adalah mengingat lokasi ini sangat berpotensi untuk dikembangkan, baik dari aspek ekologi, ekonomi, maupun sosial. Saat ini, untuk mencapai tempat ini memang masih sedikit sulit. Akses

jalan masuk ke Nganget sepanjang kurang lebih 3 km dari jalan poros desa Sidorejo-Bangilan masih berupa jalan makadam dan belum merupakan jalan aspal. Kesulitan akan bertambah jika musim penghujan, yaitu kondisi jalan cenderung berlumpur dan licin. Namun, para pengunjung menyebut, sulitnya akses jalan akan langsung terbayar dengan keasrian dan suasana penuh relaksasi di lokasi wisata Nganget. Secara pengelolaan, lokasi wisata ini memang terlihat sangat sederhana. Namun di sinilah justeru letak istimewanya. Sebab, hal itu membuat lokasi wanawisata Nganget lebih terasa dekat dengan alam. Rimbunnya pepohonan di sekitar tempat pemandian air panas pun menambah elok pemandangan, dan menambah suasana asri. Suasana relaksasi saat merendam diri di dalam air hangat dan melihat pemandangan alam serta menikmati kicauan burung, akan membuat betah para

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

pengunjung saat berada di Nganget. Kendati Nganget berada di wilayah hutan yang dikelolanya, saat ini Perum Perhutani KPH Jatirogo menyerahkan sebagian tanggung jawab pengelolaannya kepada masyarakat sekitar melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonorejo Desa Sidorejo dan LMDH Jambangan. Pelibatan masyarakat setempat dalam sebagian pengelolaan wana wisata ini bertujuan agar Nganget sebagai lokasi wisata bisa memberikan kontribusi untuk pendapatan Pemerintahan Desa setempat. Selain itu, juga untuk mendorong tumbuhnya kesadaran

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

akan pelestarian sumber air panas itu sekaligus hutan yang berada di sekelilingnya.

Berharap Tuah Mata air panas Nganget mengalir sepanjang tahun. Rata-rata suhu airnya sekitar 50° Celcius – 60° Celcius. Suhu tersebut cukup ideal karena air di dalam kisaran suhu ini sangat cocok untuk berendam sebagai terapi penyembuhan maupun relaksasi. Meskipun wanawisata ini terkesan tidak terawat dan penampilannya terlihat apa adanya, Nganget selalu ramai pengunjung. Faktanya, wanawisata sumber air

panas Nganget telah memberikan masukan pendapatan yang lumayan menjanjikan bagi pemerintah setempat. Sejak dibuka untuk umum secara resmi tanggal 28 November 2007 jumlah pengunjung di wanawisata bernuansa religius Nganget kian hari semakin bertambah banyak. Buktinya, menurut data yang dicatat BKPH Bangilan, rata-rata pengunjung Nganget per bulan dapat mencapai 1.260 orang (tidak termasuk masyarakat lokal). Mereka berasal dari kota-kota di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah yang berada di sekitar Nganget, semisal Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban,

DUTA Rimba 67


Dok. Humas PHT

warisanrimba

Bojonegoro, Blora, Rembang, Pati, Purwodadi, dan Kudus. Pengunjung terbanyak Nganget didominasi oleh orang tua yang ingin berobat (sekitar 60%), kalangan muda (30%), dan anak-anak (10%). Prosentase jumlah pengunjung yang didominasi oleh orang tua ini kian menunjukkan, tujuan terbesar para pengunjung datang ke Nganget adalah karena ingin berobat. Hal itu dikuatkan oleh pernyataan Humas Perhutani Jatirogo, Yasmuri. Menurut dia, setiap harinya ratarata 50 sampai 70 orang datang berkunjung ke Nganget. “Pada malam Jumat Pon serta hari libur, jumlah pengunjung bisa meningkat dua kali lipat bahkan lebih, mas,” ujar Yasmuri kepada Duta Rimba. Yasmuri mengungkapkan, masyarakat sekitar percaya air panas Nganget lebih bertuah pada malam Jumat Pon dibandingkan hari-hari lainnya. “Biasanya para pengunjung yang datang dengan tujuan untuk

68 DUTA Rimba

melakukan terapi, kebanyakan memilih malam Jumat Pon,” jelasnya. Tuah dari sumber air panas Nganget dipercaya bisa menyembuhkan ragam penyakit semisal stroke, reumatik, penyakit kulit, gatal-gatal, bahkan hingga ke penyakit dalam, serta sejumlah keluhan akibat tidak normalnya peredaran darah atau aktivitas organ tubuh yang lain. Pengunjung melakukan “proses penyembuhan” dari segala macam penyakit itu dengan mandi di sendang (telaga) Nganget, serta mengambil air untuk diminum ketika pulang. Tentu saja semua itu diiringi dengan aktivitas berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa, baik saat berada di lokasi Sendang Nganget maupun di setiap tempat mereka berada. ”Saya sudah keempat kalinya datang ke sini. Sakit stroke yang menjangkit di tubuh saya lambat laun kini sudah mengalami banyak kemajuan dan mendekati sembuh. Padahal enam bulan yang lalu saya

divonis oleh pihak medis Kabupaten Pati akan sulit sembuhnya. Alhamdulillah dengan pasrah dan berdoa serta 4 kali malam Jumat Pon berendam di Sendang Nganget ini, ada perubahan besar,” kata Warsinah (40) asal Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Tak Butuh Banyak Biaya Tak perlu banyak biaya dikeluarkan pengunjung untuk bisa menikmati hangatnya “air bertuah” di wanawisata Nganget. Tidak ada tiket masuk yang dikenakan. Pengunjung hanya dikenakan biaya retribusi parkir sebesar Rp 3.500 untuk sepeda motor dan Rp 7.500 untuk mobil. Jika butuh terapi khusus ataupun mengambil air untuk dibawa pulang, pengunjung hanya diwajibkan mengisi kotak yang terdapat di lokasi air panas Nganget dengan jumlah yang tidak ditentukan. Apabila butuh waktu agak lebih lama bahkan jika hendak bermalam,

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


pengunjung tak perlu cemas harus beristirahat di mana. Di lokasi ini telah disediakan tempat penginapan dengan biaya sangat murah. Kisarannya Rp 5.000 sampai Rp 10.000 untuk sehari semalam. Namun, ada ganjalan untuk pengunjung yang menggunakan angkutan umum. Sebab, tidak ada rute angkutan umum yang siap mengantarkan pengunjung sampai ke lokasi wanawisata ini. Yang ada adalah jasa ojek sepeda motor. Maka, pengunjung harus rela membayar ongkos yang lumayan mahal untuk jasa ojek dari Kota Kecamatan Bangilan. Bahkan jika datang dari arah Jatirogo ataupun Kenduruhan, pengunjung harus merogoh kocek lebih dalam lagi, lantaran jarak tempuhnya yang lebih jauh. Namun, bagi sebagian besar pengunjung, apalah artinya uang sejumlah itu dalam rangka mengusahakan kesembuhan dan kesehatan. Sebab, mereka memang percaya akan hal itu. Penemuan tempat religius ini oleh Perum Perhutani KPH Jatirogo sebenarnya sudah lama. Namun karena letaknya tak jauh dari lokasi Wanawisata Mandi Air Hangat di Kecamatan Parengan dan tempat pemandian penderita Kusta di Kecamatan Singgahan atau keduanya berada di wilayah Pemangkuan KPH Parengan, tempat ini kurang diminati oleh pengunjung lokal. Wanawisata Nganget dapat ditempuh dari Kota Tuban menuju Jatirogo dengan jarak sekitar 50 km, lalu perjalanan dapat dilanjutkan ke arah Kota Bojonegoro, tepatnya masuk desa Jambangan sekitar 5 km, kemudian menuju ke pintu gerbang Wanawisata Nganget masuk desa Sidorejo sekitar 2,5 km, dan dilanjutkan menuju lokasi sekitar 1,5 km. Topografi yang datar memudahkan wisatawan untuk mengunjungi Wanawisata Ini.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Dilingkupi Legenda Seperti juga lokasi wisata lain yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat, ada legenda yang melingkupi wanawisata air panas Nganget. Legenda rakyat tentang wisata Nganget ini, menurut masyarakat sekitar lokasi, menceritakan tentang kisah perjalanan salah satu anggota Wali Songo, yaitu Sunan Bonang dari pesisir pantai Tuban. Pada zaman itu ada seorang bromocorah yang berasal dari Kadipaten Demak, Jawa Tengah, bernama Blancak Ngilo. Ia terkenal akan kesaktiannya. Di dalam cerita legenda ini diceritakan, suatu ketika Blancak Ngilo bersama gerombolannya sedang mengembara ke wilayah timur dari Demak. Di dalam pengembaraan itu, mereka singgah ke Jatirogo hingga menyusuri desa-desa di sekitar hutan di daerah kecamatan ini. Tetapi, dalam perjalanannya itu ia mendengar bahwa saat itu Sunan Bonang sedang dalam perjalanan untuk mengejarnya. Sunan Bonang melakukan pengejaran terhadap Blancak Ngilo, karena semua aktifitas sang bromocorah sehari-hari dinilai kalangan wali saat itu sebagai bertentangan dengan syariat islam yang sedang dikembangkan oleh wali sembilan. Maka, demi mendengar ia sedang dikejar oleh Sunan Bonang, Blancak Ngilo pun menempuh perjalanan melewati hutan yang penuh belukar. Dan perburuan pun kemudian memasuki kawasan hutan yang kini masuk wilayah Tuban tersebut. Di saat perburuan memasuki hutan ini, kelompok Sunan Bonang kehilangan jejak Blancak Ngilo. Sementara waktu shalat telah tiba. Mereka pun berhenti untuk melaksanakan shalat. Namun, saat itu Sunan Bonang dan rombongannya kesulitan mencari

air untuk berwudlu. Kemudian Sunan Bonang pun menancapkan tongkatnya ke tanah. Lalu tongkat itu dicabut kembali sehingga terdapat sebuah lubang di tanah. Dengan izin ALLAH, keluarlah dari lubang itu air hangat sehingga dapat dipakai untuk berwudlu oleh Sunan Bonang beserta pengikutnya. Dari sinilah cerita ini akhirnya berkembang di masyarakat hingga sekarang. Air hangat yang keluar dari lubang di lokasi ini kemudian dikenal dengan nama Sumber Nganget. Tetapi, yang aneh daya bau belerang air hangat Nganget ini tidak setajam sumber air hangat di lokasi-lokasi lain. Mungkin karena keanehan inilah, maka sumber air panas Nganget ini dinilai sangat bertuah oleh pengunjung. Dan kabar itu pun tersebar dan kini kian santer saja terdengar. ”Jika ingin mendapatkan berkah dari Allah, maka sebagai syarat selanjutnya harus anak-anak kecil laki-laki yang ada di situ yang mengambilkannya,” tutur Mbah Kasrah (84) juru kunci yang berasal dari Dusun Dopyak, Desa Bangilan, Kecamatan Bangilan. Anak-anak kecil laki-laki yang dimaksud tersebut adalah sekelompok anak kecil yang biasa “mangkal” di daerah ini. Mereka berasal dari dua desa di sekitar Nganget. Dua Desa tersebut adalah Dusun Kedungjambangan, Desa Tanggung, Kecamatan Bangilan, serta Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruhan. Karena Pengunjung sudah memahami soal ini, rata-rata pengunjung pun meminta bantuan mereka untuk mengambilkan air Nganget untuk kemudian mereka bawa pulang, dengan memberi imbalan berupa uang seihlasnya kepada anak-anak tersebut. Dan suasana hangat penuh keakraban di tengah kehangatan air Nganget pun kian terasa. • DR

DUTA Rimba 69


ensikloRIMBA

Dok. Humas PHT

Eukaliptus Flora Khas Australia

70 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Eukaliptus adalah salah satu flora khas benua Australia. Selain di Australia, tumbuhan ini juga bisa kita temukan di wilayah Papua Nugini dan Philipina. Apa saja hal menarik dari tumbuhan ini?

N

ama Eukaliptus (Eucalyptus) berasal dari bahasa Yunani: ευκάλυπτος yang berarti “tertutupi dengan baik”. Nama Latinnya adalah Ecalyptus globules (Myrtaceae). Pohon eukaliptus bisa mencapai ketinggian 100 meter (330 kaki). Pohonnya berwarna abu-abu kebiruan dan daunnya berwarna hijau. Anggota genus pohon ini dapat ditemukan hampir di seluruh Australia, karena telah beradaptasi dengan iklim di benua terkecil di dunia tersebut. Bahkan tidak ada satu benua pun yang dapat digambarkan dengan sebuah genus pohon seperti layaknya Australia dengan eukaliptusnya. Menurut Andrew Chevallier, pohon ini merupakan salah satu flora khas benua Australia. Sampai sekarang, terdapat lebih dari 700 jenis Eukaliptus yang kebanyakan merupakan jenis asli dari Australia. Di antara 700 jenis itu, beberapa juga dapat ditemukan di Papua Nugini, Indonesia, dan Filipina. Eukaliptus merupakan tumbuhan dalam kelas minyak kayu putih. Daunnya mengandung minyak asiri dan aroma yang tidak disukai nyamuk. Eukaliptus tidak membutuhkan perawatan khusus, dan tanaman ini sangat menyukai sinar matahari serta air yang cukup. Pohon Eukaliptus juga memiliki bentuk yang cukup indah. Ujung-

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

ujungnya tumbuh mirip payung, cabang-cabang pohon mendongak meninggi secara berirama. Hampir semua jenis Eukaliptus dapat berdaptasi dengan iklim muson. Beberapa jenis di antaranya bahkan dapat bertahan hidup di musim yang sangat kering, misalnya jenis-jenis yang telah dibudidayakan yaitu Eucalyptus alba, Eucalyptus camaldulensis, Eucalyptus citriodora, Eucalyptus deglupta. Keempat jenis eukaliptus tersebut adalah jenis yang beradaptasi pada habitat hutan hujan dataran rendah dan hutan pegunungan rendah, pada ketinggian hingga 1800 meter dari permukaan laut, dengan curah hujan tahunan 2500-5000 mm, suhu minimum rata-rata 230 dan maksimum 310 di dataran rendah, dan suhu minimum rata-rata 130 dan maksimum 290 di pegunungan. Daun Eukaliptus banyak mengandung minyak esensial. Minyak esensial yang didapat dari daun Eukaliptus mengandung senyawa yang merupakan disinfektan alami yang kuat dan dapat menjadi racun bagi binatang yang memakannya dalam jumlah banyak. Namun, beberapa jenis herbivora marsupialia, terutama koala dan beberapa oposum, toleran terhadap minyak tersebut sehingga dapat memakan daun-daunan eukaliptus. Kebanyakan Eukaliptus tidak tahan suhu dingin, mereka hanya tahan hingga suhu sekitar -3 °C

hingga -5 °C. Saat cuaca panas, minyak Eukaliptus yang menguap dapat memberi kesan kabut biru. Tetapi selain kesan yang indah, minyak Eukaliptus itu juga sangat mudah terbakar. Bahkan beberapa pohon telah diketahui dapat meledak. Dan api yang terdapat di pohon Eukaliptus yang terbakar dapat dengan mudah menyebar. Juga dahan dan ranting Eukaliptus jatuh yang mati dengan mudah dapat terbakar. Namun, uniknya Eukaliptus berkembang cepat setelah kebakaran. Hal itu terlihat, misalnya setelah kebakaran hutan Canberra tahun 2003, berhektar-hektar spesies pohon impor mati, tetapi dalam beberapa minggu kemudian pohonpohon Eukaliptus mengeluarkan bibit-bibit yang sehat.

Penting Secara Ekonomi Satu hal yang perlu diperhatikan, beberapa spesies Eukaliptus memiliki sifat menjatuhkan dahan saat mereka tumbuh. Hutan Eukaliptus biasa penuh dengan dahan yang mati. Perlu diwaspadai karena Australian Ghost Gum Eucalyptus papuana banyak menyebabkan penebang pohon tewas akibat tertimpa dahannya. Dan banyak juga orang yang tewas karena berkemah di bawah pohon ini. Sebabnya sama, karena tertimpa dahan. Eukaliptus memiliki banyak kegunaan yang membuat mereka menjadi pohon yang penting secara ekonomi. Di Indonesia, pohon eukaliptus terdapat di tempattempat tertentu saja. Pohon ini antara lain ditanam di daerah Porsea, Sumatera Utara untuk kepentingan industri pulp (bubur kertas). Di antara jenis-jenis Eukaliptus lain, jenis Karri dan Eucalyptus melliodora merupakan jenis yang paling terkenal. Sebab, keduanya merupakan jenis yang cepat tumbuh

DUTA Rimba 71


ensikloRIMBA dan kayunya banyak memiliki kegunaan bagi ekonomi dan industri. Kayunya dapat digunakan sebagai hiasan, timber, kayu bakar, dan kayu pulp. Minyak Eukaliptus siap didestilasi kukus dari daunnya, dan dapat digunakan sebagai pembersih, dan pewangi. Ia juga digunakan dalam jumlah kecil untuk campuran suplemen makanan, terutama permen, cough drops, dan decongestants. Minyak Eukaliptus juga memiliki sifat menolak serangga, dan telah digunakan sebagai bahan untuk produk penolak nyamuk komersial. Bukan hanya itu. Nektar dari beberapa Eukaliptus menghasilkan madu monofloral berkualitas tinggi. Suku Aborigin bahkan menggunakan Eukaliptus sebagai teman untuk berburu. Sebab, daun dari ghost gum digunakan oleh Suku Aborigin untuk menangkap ikan. Membasahi daunnya dalam air dapat melepas pelumpuh yang melumpuhkan ikan sementara. Eukaliptus juga digunakan untuk membuat digeridoo, sebuah instrumen musik udara yang dipopulerkan oleh orang Aborigin di Australia. Ada hal yang menarik lain. Surat kabar the Daily Mail terbitan 23 Oktober 2013 melaporkan, ada beberapa peneliti yang telah menemukan emas di pohon gum trees (pohon para) atau Eukaliptus yang terletak di Jazirah Eyre, di dekat kota Wudinna, Australia Selatan. Saat itu, para peneliti melakukan penelitian pada 2 tempat, di Kalgoorlie (Australia Barat) serta di Barns (Australia Selatan). Para peneliti yang berasal dari lembaga CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization) mendapatkan butiran emas halus diangkut dari dalam tanah yang berasal dari akar pohon Eukaliptus yang telah hidup dan tumbuh di

72 DUTA Rimba

jazirah, yang kemudian menyebar di kulit, daun, dan ranting pohon. Eukaliptus memang menyerap banyak air dari tanah melalui proses transpirasi. Oleh karena itu, mereka kerap kali ditanam di banyak tempat untuk mengurangi water table dan salinasi tanah. Melalui sinar X, para peneliti dapat memperoleh butiran emas yang memiliki diameter seperlima dari sehelai rambut yang ada pada daun pohon para. Banyak peneliti yang memercayai, emas tersebut diserap oleh air sehingga disebar oleh sari-sari ke seluruh pohon. Adanya penumpukan emas di ranting, akar, batang dapat juga dimaknai bahwa emas tersebut beracun bagi pohon tersebut. Sehingga, tumpukan emas itu dipindahkan sampai ke permukaan supaya dapat mengurangi reaksi kimia. Menemukan emas dari dalam pohon bukan merupakan hal yang baru bagi para ilmuwan, tetapi cara emas yang dapat masuk hingga puncak pohon, para ilmuwan belum ada yang dapat menjelaskannya. Dr.Mel Lintern yang menjadi pemimpin proyek yang bernilai jutaan dolar di Australia berpendapat bila hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk menghemat biaya eksplorasi perusahaan tambang. Dr. Mel telah melakukan penelitian selama 8 tahun, dengan emas yang sangat sedikit sekali di

pohon tersebut. emas yang telah dikumpulkan dari 500 pohon hanya cukup untuk membuat satu cincin kawin saja. Menurut Dr. Mel, kadar emas yang terdapat dalam pohon ini mempunyai kualitas emas yang sangat bagus.

Obat Tradisional Pertumbuhan Eukaliptus banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat tumbuh seperti: kerapatan tegakan, karakteristik umur tegakan, faktor iklim (temperatur, presipitasi, kecepatan angina, dan kelembaban udara), serta faktor tanah (sifat fisik, komposisi bahan kimia, dan komponen mikrobiologi tanah). Diameter merupakan salah satu dimensi pohon yang paling sering digunakan sebagai parameter pertumbuhan. Pertumbuhan diameter dipengaruhi oleh faktor-faktor yang memengaruhi fotosintesis. Pertumbuhan diameter berlangsung apabila keperluan hasil fotosintesis untuk respirasi, penggantian daun, pertumbuhan akar dan tinggi telah terpenuhi. Eukaliptus juga dikenal sebagai salah satu tanaman pengusir nyamuk karena aromanya yang bagi manusia mampu merelaksasi. Center for Disease Control and Prevention misalnya, merekomendasikan minyak lemon Eucalyptus sebagai repelan (obat anti nyamuk). Hasil studi menunjukkan, minyak lemon

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Eucalyptus mampu menangkal nyamuk selama 6 jam. Sama dengan jika kita menggunakan DEET (N-diethyl-3-methylbenzamide). Kesimpulannya, geraniol dan minyak lemon eucalyptus adalah pilihan terbaik seabgai obat atau krim anti nyamuk. Pohon ini tumbuh dan hidup di daerah tropis dan subtropik, tetapi jenis pohon ini sangat menyerap air. Sehingga, akan menguntungkan jika pohon ini ditanam di daerah rawa. Kemampuan Eukaliptus menyerap air akan mengurangi risiko penyakit malaria. Tetapi tentu saja yang paling dikenal adalah daun Eukaliptus yang dipanen untuk dibuat minyak obat. Daun Eukaliptus mengandung cineol hingga 80%. Kandungan isi lainnya adalah Flavonoid, tannin dan resin. Khasiat Eukaliptus antara lain sebagai antiseptic (pembasmi kuman), ekspektoran, serta pelancar darah lokal. Orang Aborigin menggunakan obat dari Eukaliptus untuk menyembuhkan infeksi dan demam. Sekarang, obat dari Eukaliptus itu dipakai di seluruh dunia. Manfaat lain adalah sebagai antispetik yang sangat menolong untuk menyembuhkan dingin, flu, dan sakit tenggorokan. Eukaliptus adalah ekspektoran yang sangat kuat, cocok untuk infeksi, termasuk bronkhitis dan pneumonia. Minyak ekaliptus juga berkhasiat sebagai bahan penghangat yang digunakan pada kulit atau tangan, juga untuk mengatasi infeksi. Minyak eukaliptus juga bisa digunakan sebagai obat rematik. Sekarang obat dari ekaliptus juga sudah diproses secara modern. Misalnya dikemas dalam bentuk kapsul. Selain diambil manfaat dari kayu dan daunnya, pohon Eukaliptus berguna menghadapi ancaman erosi dan mengatasi lahan kritis. • DR

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Myrtales

Famili : Myrtaceae Upafamili : Genus : Eucalyptus L'Hér Spesies : Deglupta

DUTA Rimba 73


Dok. Humas PHT

rimbaDAYA

74 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Sutoko

dan Gulo Klopo

B

litar, salah satu kota di bagian selatan Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, letak Kota Blitar sekitar 167 km di selatan Surabaya. Blitar berada tepat di kaki Gunung Kelud. Dengan ketinggian 156 meter diatas permukaan laut, Blitar bersuhu udara rata-rata 24 derajat celcius. Blitar terkenal dengan ragam keunikan. Mulai dari jajanan khas yaitu onde-onde, hingga gulo klopo atau gula kelapa. Masyarakat kerap mengenal gulo klopo dengan sebutan Gulo Jowo dan ada juga yang menyebutnya Gula Merah. Warna gula kelapa memang cokelat kemerahan. Usaha industri kecil dan rumah tangga gula kelapa memang merupakan salah satu pilar utama di Kabupaten Blitar. Sebab, industri gula kelapa di Blitar selalu mampu menunjukkan kestabilan usaha dan produksinya dari waktu ke waktu, bahkan semakin dinikmati serta memberikan nilai tambah tersendiri. Umumnya gula kelapa berbentuk mangkok tertelungkup, tetapi banyak juga yang berbentuk lain semisal bundar kecil dan persegi.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Usaha keras menjadi kunci keberhasilan. Usaha keras juga yang mengantarkan Sutoko, perajin gula kelapa asli Blitar, kini menangguk penghasilan jutaan rupiah per bulan. Seperti apa perjalanan usahanya? Biasanya gula kelapa yang sangat mudah mencair jika dipanaskan itu digunakan ibu rumah tangga sebagai sarana penyedap masakan. Kendati terlihat mudah, cara membuat gula kelapa sangat membutuhkan keahlian khusus. Mula-mula, perajin gula harus mengumpulkan air nira kelapa dengan memanjat pohon kelapa. Air nira yang ditelah dikumpulkan lalu disaring dan dimasukkan ke dalam satu wadah untuk mendapatkan air nira yang bersih. Setelah itu air nira direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, cairan nira tersebut didinginkan hingga sekitar 3 hingga 4 jam dan berubah warna menjadi adonan cokelat. Adonan itu lalu dimasukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari batok tempurung kelapa yang dibelah dua. Cetakan

juga bisa dibuat dari lingkaran ruas bambu yang dipotong horizontal. Adonan dalam cetakan itu lalu dibiarkan selama satu malam hingga membeku dan mengeras. Setelah itu barulah adonan ini dilepaskan dari cetakan. Dan gula merah pun siap dijual.

Usaha Keluarga Salah satu perajin dan pengusaha gulo klopo di Blitar adalah Sutoko. Warga asli Blitar ini sudah puluhan tahun menggeluti usaha pembuatan gula kelapa alias Gula Jawa. Usaha tersebut memang usaha turun temurun yang sejak lama dijalankan keluarga besarnya di Desa Karang Bendo, Kecamatan ponggok, Kabupaten Blitar. Tepatnya tahun 1995 usaha keluarga itu pun diteruskan Sutoko.

DUTA Rimba 75


Dok. Humas PHT

rimbaDAYA

Didukung istri tercinta, Siti Musrofah, Sutoko mengembangkan usaha ini. Sedikit demi sedikit pasangan itu membangun usaha mereka. Pasang-surut dalam berusaha menjadi penghias likaliku jalan mereka. Apalagi di awal pengembangan usaha yang bertepatan dengan saat krisis ekonomi dan moneter melanda negeri ini. Usaha yang ia rintis bersama sang istri juga tak luput menemui kendala modal. Bagi Sutoko, asalkan ada modal ia dapat mengembangkan usahanya ke arah yang lebih baik lagi. Misalnya dengan menjadi pengepul yang hanya menampung hasil dari para penyadap di sekitarnya, lalu memproduksi gula kelapa dengan model, bentuk, kemasan, serta merek sendiri, kemudian menambah usaha di bidang lain dengan beternak sapi. Terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia dan sebagian

76 DUTA Rimba

negara Asia lain di paruh akhir tahun 1990-an itu membuat naiknya nilai mata uang dolar terhadap rupiah. Hal itu menimbulkan krisis ekonomi besar-besaran yang terjadi secara merata di seluruh wilayah Nusantara. Nilai tukar rupiah menjadi turun, membuat harga-harga barang naik tak terkendali. Wilayah Blitar tak luput terkena imbas krisis tersebut. Salah satu dampaknya, hutanhutan jati pun habis dijarah warga karena kebutuhan pokok semakin meningkat tajam.

Aktifis LMDH Penjarahan hutan jati jelas merugikan BUMN Kehutanan, yaitu Perhutani. Menyikapi hal itu, Perhutani pun giat mengadakan pertemuan yang mengundang tokoh-tokoh masyarakat di masing-masing daerah. Pertemuanpertemuan tersebut digelar guna

membicarakan pembentukan lembaga yang mengelola masyarakat desa di lingkungan sekitar hutan untuk memberdayakan masyarakat agar turut menjaga dan melindungi hutan dari aksi penjarahan. Blitar menjadi salah satu wilayah tempat pembentukan lembaga tersebut. Pertemuan pun semakin rutin dilakukan. Juga bertempat di wilayah lain di Jawa Timur, yaitu Kediri. Akhirnya, tahun 2001 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonotani Manunggal dibentuk. Lembaga ini merupakan Binaan Perhutani Blitar. Tetapi, pembentukannya tidak lepas dari campur tangan perangkat desa serta petani dan anggota masyarakat lainnya. Selain perajin dan pengusaha gula kelapa, anggota LMDH Wonotani Manunggal di antaranya adalah petani buah pepaya, nanas, peternak sapi, dan ber-tumpangsari.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

Sutoko yang awalnya hanya berpendapatan sekitar delapan ratus ribu rupiah per bulan, kini penghasilannya sudah bisa mencapai 3 - 5 juta rupiah per bulan. Sejak awal, Sutoko sudah rajin mengikuti pertemuan-pertemuan yang digelar terkait pembentukan LMDH. Ia dikenal cukup aktif. Oleh karena itu, atas inisiatif pengurus dan anggota LMDH yang lain, Sutoko pun dipercaya sebagai pengurus di Seksi Pengembangan Hasil Produksi, khususnya produksi gula kelapa yang ada di wilayahnya, Desa Karang Bendo, Kecamatan ponggok, Kabupaten Blitar. Isu klasiknya, karena Sutoko memang sudah mengurus gula kelapa secara turun temurun dari keluarga besarnya, sehingga dipercaya telah menguasai seluk beluk bisnis bumbu pemanis itu. Bagi Sutoko, kepercayaan guna mengurus pengembangan dan hasil produksi mereka itu merupakan amanah luar biasa. Seiring perjalanan waktu, anggota LMDH Wonotani Manunggal semakin banyak. Semula LMDH ini beranggotakan kurang lebih 300 orang. Saat ini anggotanya sudah mencapai 600 orang. Sutoko sebagai pengurus LMDH pun mengoordinasi sekitar 82 orang anggota, khususnya penyadap gula kelapa. Sebagai BUMN yang mendirikan LMDH, Perum Perhutani cukup rutin dalam mengatur pertemuan

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

anggota. Pertemuan yang mengundang segenap pengurus LMDH, perangkat desa, maupun karyawan Perhutani itu sendiri digelar setiap 35 hari sekali. Fungsinya agar dapat mengontrol dan mencari jalan penyelasaian terhadap masalah yang terjadi di lingkungan sekitar hutan. Sedangkan pertemuan rutin dengan seluruh anggota LMDH sewajarnya dilakukan 6 bulan hingga setahun sekali.

Mitra Binaan Usaha gulo klopo tentu sangat bergantung pada kelangsungan pohon kelapa. Kelapa tentu membutuhkan pupuk untuk merangsang pertumbuhannya. Hal itu pun terus diupayakan oleh Sutoko. Perhutani menjadi satu jalannya. Demi memaksimalkan pertumbuhan pohon dan tanaman kelapa yang berada di sekitar hutan, Perhutani sesekali memberikan bantuan berupa pupuk cair sebanyak 5 tanki. Pupuk itu lalu dibagikan secara merata ke seluruh anggota LMDH. Selain bantuan dari Perhutani tersebut, Sutoko mengaku belum pernah mendapatkan bantuan

berupa barang ataupun pinjaman lunak maupun berbunga dari lembaga perbankan manapun. Pernah suatu kali ia ditawari rekannya untuk meminjam pada sebuah bank di daerahnya dengan iming-iming bunga rendah dan persyaratan yang mudah. Tetapi, kenyataannya sangat bertolakbelakang. Pinjaman yang dimaksud sangat sulit didapat. Selain bunga yang tinggi, persyaratannya pun sangat sulit. Akhirnya, Sutoko menyerah dan tak berniat mencari pinjaman lagi. Kini, Sutoko dan istri dapat sedikit bernafas lega. Dengan usaha keras, Sutoko yang awalnya hanya berpendapatan sekitar delapan ratus ribu rupiah per bulan, kini penghasilannya sudah bisa mencapai 3 - 5 juta rupiah per bulan. Sebab, harga gula kelapa saat ini sudah mencapai Rp 8.200. Selain pendapatan berbentuk uang, ia juga sudah beternak sapi dan kini memelihara 5 ekor. Itulah Sutoko dan gulo klopo hasil usahanya. Ketekunannya dalam berorganisasi dan mengelola usaha sungguh sangat pantas dijadikan teladan. Seiring niat baiknya dalam mengembangkan usaha menuju kondisi yang lebih baik lagi. • DR

DUTA Rimba 77


bisnisrimba

Forest Care

Tahan lama, Sensasinya Seketika

78 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Bila anda ngantuk, hidung tersumbat, sakit kepala dan mabuk di perjalanan. Gunakan “Forest Care”. Selain sensasi aroma/kehangatan terasa seketika, anda akan segera merasakan manfaatnya Selain bermutu tinggi, juga terjangkau oleh kantong anda.

M

inyak kayu putih merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari proses penyulingan daun tanaman kayu putih. Potensi pasar untuk produksi minyak kayu putih masih cukup besar. Apalagi, tanaman kayu putih punya banyak sisi positif untuk dibudidaya. Sebab, dilihat dari aspek budi daya, tanaman ini tidak memerlukan persyaratan tempat tumbuh yang spesifik. Bahkan ia mampu tumbuh pada lahan kritis. Dari aspek pasar, data menunjukkan saat ini masih terdapat ketimpangan yang cukup signifikan antara permintaan dan kemampuan produksi minyak kayu putih. Sejauh ini, kebutuhan minyak kayu putih di dalam negeri belum dapat dicukupi karena jumlah produsen sedikit dan kemampuan produksi terbatas. Produsen minyak kayu putih yang saat ini telah ada, antara lain adalah Perum Perhutani, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIY, industri rakyat di Kepulauan Maluku, dan beberapa sumber kecil lainnya. Pada umumnya produsen-produsen tersebut menjual minyak kayu putih dalam bentuk curah kepada para distributor yang lalu menyuplai ke industri minyak kayu putih kemasan dan produk turunannya. Sedikitnya jumlah pemain industri minyak kayu putih antara lain dikatakan General Manager PT Surabaya Indah Permai, Sidoarjo, Benny Kusuma. PT Surabaya Indah Permai adalah pabrikan yang sejak

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

tahun 2006 memproduksi Safe Care Aromatherapy, minyak kayu putih roll on pertama di Indonesia. Safe Care Aromatherapy adalah turunan dari perusahaan minyak kayu putih Cap Gajah, yang sempat mekar menjadi minyak kayu putih Cap Gading. Menurut dia, produk mereka nyaris bermain sendirian di bisnis minyak angin aromaterapi. “Hampir 100 persen menguasai pangsa pasar di Indonesia,” katanya seperti dikutip suaramerdeka.com. Namun, penguasaan pasar itu terjadi karena tidak ada kompetitor di pasar minyak angin aromatherapy. “Sayangnya, pada kurun 2012, kami hanya mampu mendapatkan 65 persen pasar di Indonesia,” imbuh dia seperti dikutip suaramerdeka. com. Ia menambahkan, fakta itu membuat mereka menggenjot angka produksinya di tahun berikutnya. Tren beberapa tahun terakhir menunjukkan, harga minyak kayu putih curah dari produsen ke distibutor cukup tinggi, antrian pembelian cukup banyak, dan bahkan tak semua order dapat terlayani. Kondisi ini memberikan kesan mubazir jika produsen minyak kayu putih (penyulingan) juga masuk ke industri pengemasan dan produk turunannya. Benarkah demikian? Coba kita lihat lebih jauh peluang yang ada pada industri pengemasan minyak kayu putih. Pertama, kebutuhan akan produk minyak kayu putih kemasan relatif tinggi seiring pertumbuhan angka kelahiran bayi dan jumlah balita, bahkan jumlah orang tua yang

terbiasa menggunakan minyak kayu putih. Kedua, Perum Perhutani mengelola hutan kayu putih dan memiliki pabrik penyulingan sendiri yang didukung SDM handal dan berpengalaman, serta tata organisasi yang sudah mapan. Hal itu akan menjamin kontinuitas suplai dan kualitas minyak kayu putih. Ketiga, tren pasar menunjukkan, produk minyak kayu putih mulai berkembang, baik dalam hal spesifikasi produk, serta bentuk dan ukuran kemasan. Varian produk yang ada di pasar saat ini antara lain adalah minyak kayu putih, minyak kayu putih aromatherapy, minyak telon, minyak angin aromatherapy kemasan roll on, minyak urut, dan varian lain. Secara umum, respon pasar terhadap pengembangan varian turunan minyak kayu putih dinilai menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari singkatnya waktu yang dibutuhkan oleh produsen untuk memperkenalkan beberapa varian produk baru sampai produk itu dikenal dan diterima masyarakat, semisal yang terjadi pada produk minyak kayu putih aromatherapy Cap Lang dan minyak angin aromatherapy roll on merek Safe Care dan Fresh Care.

Menghadirkan Forest Care Melihat peluang tersebut, Perhutani Divre Jateng melalui KBM INK, sejak tahun 2012 mencoba merintis usaha pengemasan minyak kayu putih. Setelah melalui serangkaian tahapan persiapan,

DUTA Rimba 79


bisnisrimba Product Positioning / Point of Difference produk minyak kayu putih Forest Care adalah sebuah produk minyak kayu putih dengan kehangatan yang tahan lebih lama.

termasuk pertimbangan atas hasil kuesioner, Focus Group Discussion, dan uji laboratorium, Pabrik Pengemasan Minyak Kayu Putih (PPMKP KBM INK Unit I) pun berhasil memproduksi minyak kayu putih kemasan 60 ml, minyak telon kemasan 60 ml, dan minyak angin aromaterapi roll on kemasan 10 ml dengan varian lemon, green tea, hot, dan original. Semua itu diluncurkan dengan mengusung merek “Forest Care” dan “Hutan Jawa”. Pemilihan nama Minyak Kayu Putih Hutan Jawa dan Minyak Angin Aromatherapy Forest Care sebagai merek diharapkan mampu membentuk identitas yang kuat bahwa produk-produk ini berkaitan langsung dengan hutan dan Perum Perhutani sebagai Pengelola Hutan Lestari di Pulau Jawa, sehingga merupakan jaminan atas mutu bahan baku dan produk yang dihasilkannya. Pabrik PPMKP sendiri telah lulus audit Sarpra dari BPOM Jawa Tengah dan dinyatakan memenuhi ketentuan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Produk dan bahan yang digunakan juga telah diujikan ke Laboratorium Fakultas Farmasi UGM, dan didaftarkan ke BPOM RI dengan ijin edar No POM TR 135 673 341, POM TR 135 673 441,

80 DUTA Rimba

angin “Forest Care” memiliki sensasi aroma/kehangatan yang terasa seketika. Satu lagi keunggulan Minyak Angin Aromatherapy “Forest Care”, yaitu ia merupakan minyak angin aromatherapy bermutu tinggi dengan harga terjangkau.

Segmentasi Pasar

POM QD 135 611 891, POM QD 135 611 901, POM QD 135 611 911 dan POM QD 135 611 881. Berdasarkan spesifikasi produk, Minyak Kayu Putih “Hutan Jawa” merupakan produk minyak kayu putih kemasan dengan atribut antara lain sebagai obat masuk angin, kembung, dengan kehangatan yang tahan lebih lama dibandingkan produk sejenis lainnya. Minyak kayu putih “Hutan Jawa” diproduksi dari daun kayu putih pilihan, diindikasikan dengan kandungan cineol yang tinggi. Sedangkan Minyak Telon “Hutan Jawa” merupakan produk minyak telon dengan atribut antara lain sebagai minyak yang berkhasiat menghangatkan kulit bayi dan menghilangkan perut kembung. Minyak telon “Huta Jawa” memiliki aroma kelembutan yang khas, kelembaban yang tahan lama, dan tidak lengket di kulit. Sementara Minyak Angin Aromatherapy “Forest Care”, merupakan produk minyak angin dengan atribut antara lain sebagai minyak angin bermutu dengan khasiat efek relaksasi, menghilangkan kantuk, melegakan hidung tersumbat, meringankan sakit kepala dan mabuk perjalanan. Minyak

Pada prinsipnya, konsumen yang menjadi target produk minyak kayu putih ini adalah pasar masal (mass market). Artinya produk tersebut diperuntukkan untuk seluruh masyarakat umum. Sedangkan Product Positioning / Point of Difference produk minyak kayu putih Forest Care adalah sebuah produk minyak kayu putih dengan kehangatan yang tahan lebih lama atau produk minyak kayu putih yang superior dalam hal daya tahan kehangatan, dibandingkan produk serupa lainnya. Juga menghadirkan efek menyegarkan seketika (terasa saat itu juga, red), berkualitas tinggi, dengan harga yang terjangkau. Sedangkan point of difference minyak telon Hutan Jawa adalah aroma yang alami, kehangatan tahan lama, dan tidak lengket. Karena segmen pasar “Forest Care” akan diarahkan pada pasar massal (mass market) atau semua lapisan masyarakat yang membutuhkan, konsumen yang menjadi terget produk ini adalah konsumen yang peduli dengan mutu produk namun dengan harga yang terjangkau. Sehingga, “Forest Care” akan menjadi produk alternatif bagi konsumen yang menggunakan produk bermutu seperti “Safe Care”, namun dengan harga yang lebih terjangkau. Produk minyak kayu putih “Hutan Jawa” dan Minyak Angin Aromatherapy “Forest Care” telah diformulasikan sedemikian rupa dengan konsep product positioning

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


dan segmentasi pasar yang jelas sehingga diharapkan mampu menjadi produk unggulan yang laku dan diterima di pasar. Beberapa artikel di media massa cetak dan elektronik menunjukkan, produk minyak kayu putih yang populer di masyarakat saat ini adalah minyak kayu putih Cap Lang, Konicare dan Cap Gajah. Uniknya, tidak satupun di antara para produsen tersebut yang mempunyai sumber bahan baku tanaman kayu putih dan pabrik penyulingan tersendiri. Hal itu tentu berbeda dengan Perum Perhutani yang punya sumber bahan baku melimpah serta memiliki pabrik penyulingan. Kendati begitu, para produsen itu toh optimis mampu menguasai pasar minyak kayu putih. Data juga menunjukkan, lebih dari 10 juta botol minyak angin/minyak kayu putih terjual setiap tahunnya. Artinya, potensi pasarnya masih sangat terbuka dengan pemain yang tidak terlalu banyak. Misalnya, PT Global Success Chain selaku produsen minyak angin Aromatherapy dan kayu putih roll on Safe Care yang menyatakan optimistis bisa menguasai pasar nasional. Optimisme itu dilontarkan oleh General Manager Sales PT Global Success Chain, Benny Kusuma, seperti dikutip www.republika. co.id. Ia optimis, dengan kapasitas produksi 1 juta botol setiap tahun, pihaknya mampu menguasai 40 persen pangsa pasar minyak kayu putih nasional. Kata Benny dikutip www.republika.co.id, hingga saat ini distribusi penjualan produk Safe Care sekitar 70 persen membidik pangsa pasar medical channel, 20 persen pada modern market, dan 10 persen pasar tradisional. Di sisi lain, sebuah studi kasus yang dilakukan puslitsosekhut di Kabupaten Sukabumi menunjukkan, rerata permintaan MKP oleh rumah

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

1. Tangki Bahan baku. 2. Mesin Filling. 3. Penampung bahan siap kemas. 4. Tangki Miring. 5. Tabung filter.

1.

2.

3.

4.

5.

tangga per bulan adalah 39 botol setara dengan 2.201 ml. Hal itu berarti satu jenis ukuran dan merek dagang berpeluang dibeli sebanyak 39 botol setara dengan 2.201 ml per bulan oleh rumah tangga. Saat ini, dua belas jenis ukuran

dan sembilan merek dagang memperebutkan peluang pasar tersebut. Ukuran botol yang mendominasi permintaan rumah tangga adalah 15 ml, 30 ml, 60 ml dan 120 ml. Masing-masing ukuran tersebut saat ini didominasi oleh

DUTA Rimba 81


bisnisrimba merek Cap Lang, Sidola, Dragon, dan Konicare. Harganya berkisar antara Rp 91,63 hingga Rp 227,50 per ml. Menggunakan model persamaan regresi linier berganda, hasil studi menunjukkan harga MKP dan promosi MKP di TV memengaruhi permintaan MKP oleh rumah tangga secara signifikan. Nilai elastisitas harga MKP cenderung lebih besar dari satu. Hal itu berarti jika harga MKP meningkat atau menurun sebesar 1%, maka permintaan MKP oleh rumah tangga per bulan dapat diharapkan menurun atau meningkat dengan jumlah yang lebih besar. Di dalam kasus Sukabumi, jumlah permintaan tersebut adalah sebesar 1,71%. Hasil penelitian sebagaimana dikutip dari laman www. puslitsosekhut.web.id tersebut menunjukkan, promosi MKP di TV yang secara signifikan berhubungan positif mengindikasikan bahwa permintaan MKP oleh rumah tangga per bulan dapat diharapkan meningkat dengan adanya promosi yang mana dalam kasus Sukabumi sebesar 3.372 ml.

Minyak Angin Aromaterapi Sejauh ini, minyak angin aromatherapy yang beredar di pasar didominasi oleh merek “Safe Care” dan “Fresh Care”. “Safe Care” pada umumnya dipersepsikan sebagai perintis produk minyak angin aromatherapy di Indonesia dengan kualitas tinggi dan harga relatif mahal, sedangkan “Fresh Care” merupakan produk serupa yang mempunyai varian sangat beragam, kemasan menarik dan didukung promosi yang sangat intensif. Paragraf-paragraf di atas sejatinya hanyalah sepenggal kutipan dari draft business plan produk Minyak Kayu Putih “Hutan Jawa” dan Minyak Angin Aromatherapy “Forest Care” yang sedang dirintis

82 DUTA Rimba

Sebagai rintisan bisnis baru, sangat wajar jika “Forest Care” dan “Hutan Jawa” memiliki kekurangan dan kelemahan. Banyak hal yang harus dipelajari, dari hal teknis sampai manajerial. Perum Perhutani Divre Jawa Tengah. Mendengar istilah business plan atau proposal bisnis, pertanyaan spontan yang akan selalu muncul adalah “bisakah itu semua terwujudkan? Sebab, setiap rencana selalu menjanjikan keuntungan, namun bagaimana dengan faktanya? Bukankah banyak fakta yang menunjukkan rintisan bisnis baru berakhir dengan kegagalan? Menjawab pertanyaanpertanyaan bernada keraguan itu, dengan berbekal perencanaan bisnis yang matang dan semangat untuk memberikan kontribusi positif bagi perusahaan, PPMKP INK Unit I Jawa Tengah tetap optimis untuk mengembangkan bisnis pengemasan kayu putih. Untuk merealisasikan peluang bisnis tersebut, terdapat istilah “ketentuan dan syarat berlaku”. Di antara banyak hal yang dimaksud dalam catatan “ketentuan dan syarat berlaku” itu di antaranya adalah keseriusan, totalitas (rencana produksi yang cukup besar, promosi yang gencar, sistem distibusi yang tepat), sinkronisasi kebijakan dan

alignment antar fungsi. Dengan dukungan pemenuhan syarat dan ketentuan tersebut, “Forest Care” dan “Hutan Jawa” akan siap bersaing di pasaran dengan harga yang kompetitif. Sebagai rintisan bisnis baru, sangat wajar jika “Forest Care” dan “Hutan Jawa” memiliki kekurangan dan kelemahan. Banyak hal yang harus dipelajari, dari hal teknis sampai manajerial. Terlebih karakter bisnis produk (siap pakai) sangat berbeda dengan bisnis komoditi (bahan setengah jadi semisal minyak kayu putih curah, gondorukem, terpentin) yang telah ada selama ini. Terlepas dari itu semua, PPMKPKBM INK Unit I berkeyakinan dan menancapkan sebuah tekad, “Kalau Cap Lang bisa besar, Konicare bisa dikenal, Fresh Care bisa popular, kenapa produk kita tidak bisa?” Nah, untuk mendukungnya, ayo tumbuhkan rasa bangga dan cinta produk sendiri dengan menggunakan, mempromosikan atau memasarkan “Forest Care” dan “Hutan Jawa”. • DR

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

DUTA Rimba 83


wisatarimba

Curug Genting,

Potensi

Dok. Humas PHT

yang Tersembunyi

84 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Curug Genting adalah salah satu potensi wisata alam milik Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Di masa lampau, Curug Genting sempat populer, tak hanya dikenal wisatawan lokal saja. Sayang, sejak tahun 2009, Curug Genting  tak lagi dikelola oleh Pemerintah dengan berbagai alasan. Hal itu mengundang banyak tanda tanya. Kini, lokasi wisata alam air terjun itu pun seakan berubah menjadi tempat asing yang terisolasi.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

C

urug Genting sesungguhnya merupakan lokasi yang menjanjikan pemandangan alam menarik. Nama Curug Genting diambil dari dua fenomena alam yang terdapat di lokasi ini, yaitu Curug (Air Terjun) dan Genting (Gua). Sebab, di lokasi ini selain terdapat air terjun yang dinamai Curug Genting, juga terdapat gua alam dengan kedalaman lebih kurang 17 meter. Di dalam gua tersebut mengalir air bersih yang melalui sela-sela bebatuan yang berserakan. Sungguh keindahan dan pesona tersendiri. Namun, pesona utama wana wisata Curug Genting tentulah air terjun. Air tejun Curug Genting terpampang megah dengan ketinggian 40 meter. Disekeliling air terjun ini, terhampar pula hutan pinus yang asri. Deburan air yang jatuh ditingkahi hawa segar khas hutan pinus senantiasa di sana menanti wisatawan yang penuh dahaga akan indah alam luas. Udara di sekitarnya yang masih segar dan lingkungan alam pedesaan alami yang menghijau mengelilinginya, membuat Curug Genting sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi keluarga yang menyenangkan. Wana wisata Curug Genting ini berada di petak 49 derajat hutan lindung tertutup (HLT) Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kembanglangit, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandar. Wana wisata ini memiliki total luas sekitar 7 hektare dan dikelola lewat kerja sama antara Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur dengan Pemerintah Kabupaten Batang. Secara ekografi, wana wisata Curug Genting terletak di Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa

Tengah, tepatnya kurang lebih 38 km ke arah selatan dari Kota Batang. Untuk menuju ke lokasi wana wisata ini, wisatawan dapat menempuh rute dari Batang-Bandar-Blado sejauh 25 km. Setelah itu, kemudian menyusuri jalan desa beraspal dari Blado menuju Bawang sejauh 5 km. Atau bisa juga menempuh perjalanan dari Kota Banjarnegara lewat Singamerta Kecamatan Sigaluh, Madukara, Pagetan, dan Pejawaran. Perjalanan melewati rute tersebut jika menggunakan kendaraan bermotor dengan kecepatan 60 kilometer perjam akan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Setiba di Bawang, wisatawan dapat dengan mudah mencapai lokasi wana wisata Curug Genting. Selanjutnya, wisatawan harus berjalan kaki menuruni 500 anak tangga untuk menuju ke lokasi curug. Tetapi, perjalanan wisatawan ke curug ini tak akan terasa melelahkan, karena di kanan-kiri jalan terhampar pemandangan alam berupa hutan yang asri dan berhawa sejuk. Udara yang segar pun dengan leluasa dapat segera dihirup dan mengisi paru-paru. Sesampai di Curug Genting, para wisatawan dapat melepas lelah sejenak. Air yang mengalir di curug ini berasal dari hutan di wilayah pegunungan utara. Segarnya uap air yang timbul dari deburan air terjun akan segera wiasatawan rasakan. Bahkan, jika wisatawan berada terlalu dekat dengan curug tersebut, uap air tersebut akan membuat pakaian menjadi basah. Tentu saja hal ini menambah suasana segar dan nyaman yang memang telah tercipta.

Potensi Tersembunyi Satu hal yang menarik dari lokasi wana wisata ini adalah suasananya yang sunyi. Tempatnya memang tersembunyi dan di sekelilingnya

DUTA Rimba 85


Dok. Humas PHT

wisatarimba

masih sepi dari aktivitas ramai. Jika bukan di hari Minggu atau hari libur lainnya, tak banyak orang akan datang ke sana. Bahkan, boleh dikatakan agak sulit bertemu orang di sana jika bukan di hari libur. Sehingga, wana wisata ini kerap dikatakan sebagai potensi wisata yang tersembunyi, kalau tidak boleh dikatakan terbengkalai. Padahal, potensinya sesungguhnya cukup besar. Inilah yang kini menjadi pekerjaan rumah Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur dan Pemerintah Kabupaten Batang. Yaitu mengangkat potensi yang tersembunyi ini hingga terlihat dan menarik minat banyak wisatawan untuk berkunjung. Sebab, saat ini pun kaum muda masih kerap mengunjungi Wana Wisata Curug Genting kendati masih menjadi potensi tersembunyi. Setidaknya, menurut Kepala Urusan Lingkungan KPH Pekalongan

86 DUTA Rimba

Timur, Khaerudin, di hari-hari libur biasanya kaum muda datang ke Curug Genting karena ingin sekadar melepas lelah. “Sembari melepas hasrat juga,” ujar Khaerudin sambil tertawa kepada Duta Rimba. Perjalanan menuju air terjun memang terasa membutuhkan perjuangan. Maka, untuk mempermudah pengunjung turun demi menikmati keindahan air terjun, selain telah membangun tangga setinggi sekitar 500 anak tangga, pihak pengelola juga menyediakan shelter sebagai tempat beristirahat sambil menikmati keindahan alam yang masih alami. Sepanjang perjalanan turun menuju ke Curug Genting, pengunjung akan menyusuri dinding-dinding batu yang tinggi dan rawan, sehingga terdapat peringatan agar tidak menyentuh batu dinding ketika berjalan. Lokasinya yang di dataran tinggi yang dikelilingi hutan pinus

asri membuat hawa dingin akan sangat terasa manakala wisatawan berada di lokasi wana wisata Curug Genting. Di samping air terjunnya masih asli dan alami, air Curug Genting juga sangat dingin sampai menusuk tulang. Karena itu, kepada wisatawan yang akan berkunjung ke wana wisata ini disarankan untuk mengenakan jaket atau baju yang agak tebal. Meskipun saat ini tak banyak orang yang mengetahui tentang keberadaannya, toh keindahan Curug Genting masih tetap bisa dinikmati wisatawan. Walaupun mungkin para wisatawan perlu sedikit berjuang untuk menuju lokasi curug, karena jalan yang dilewati penuh dengan belukar liar dan rimbun hingga hampir menutupi badan jalan setapak yang telah ada, namun keindahan yang tersaji di Curug Genting tetap memberikan pesona tersendiri bagi pengunjungnya.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Dok. Humas PHT

Sedikit menjauh dari curug dan kemudian menengadah ke atas, wisatawan akan dapat melihat efek pembiasan cahaya matahari seperti pelangi berwarna merah, kuning, hijau. Kehadiran bianglala itu di sana sungguh sangat menenteramkan hati. Kondisi Curug Genting pun masih tetap natural. Hal itu terbukti dengan masih adanya hewan semisal lutung liar yang bergelantungan dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Bahkan, jika beruntung, wisatawan dapat juga melihat elang Jawa yang bertengger di dahan pohon yang ada di sepanjang jalan. Suasana alam seperti itulah yang biasanya banyak dicari pelancong dari kota besar.

Nilai Edukasi Tak hanya alami, wana wisata Curug Genting juga memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi. Nilai itu antara lain sudah terlihat dari

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

pintu gerbang bergapura. Gapura berwujud wajah Betara Kala yang mulutnya menganga. Mulut menganga itulah yang berfungsi sebagai pintu masuk. Gapura Betara Kala ini dilengkapi dengan aksara Jawa di bagian pelipisnya yang bertuliskan “Wening Manjing Gapuro Tunggal”. Tulisan tersebut merupakan sebuah sengkalan atau penandaan waktu yang biasa digunakan oleh orang Jawa Kuno. Betara Kala yang mulutnya menganga itu juga memiliki filosofi tersendiri. Kala yang juga berarti waktu dengan mulutnya yang menganga itu berarti pula bahwa ketika kita melangkah memasuki gapura tersebut, pada prinsipnya kita telah masuk ke dalam mulut Sang Kala, dan kita telah termakan oleh waktu. Intinya, di dalam setiap langkah kita akan termakan oleh Sang Kala (waktu), dan waktu kita untuk hidup akan semakin berkurang.

Sedikit melangkah melewati pintu gerbang Betara Kala, wisatawan akan melihat sebuah bangunan seperti bekas kolam yang telah tertutup oleh rimbunnya semak belukar. Kendati terlihat tak terawat dan tertutupi belukar, namun keberadaannya juga memancing eksotisme tersendiri. Sejumlah anak muda yang mengunjungi wana wisata Curug Genting pun kerap memanfaatkannya untuk berfoto. Di dekat lokasi Curug Genting juga terdapat Curug Mrawu yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Aliran air dari kedua curug ini nantinya akan menyatu dan menjadi sumber air utama bagi Sungai Mrawu, salah satu anak Sungai Serayu. Pengalaman menyusuri wana wisata Curug Genting akan menjadi sebuah torehan tersendiri bagi wisatawan. Keindahan alami yang memesona namun tersembunyi di antara belukar kedamaian. Hmm... • DR

DUTA Rimba 87


pojokkph

KPH Randublatung

Berpotensi

Jadi Kawasan Jati Estate

Dok. Humas PHT

KPH Randublatung disebut-sebut sebagai salah satu KPH andalan Perhutani Divre Jawa Tengah. Sebab, produksi kayu jati di KPH ini tinggi. Namun, KPH Randublatung juga menjadi salah satu KPH yang mengalami gangguan keamanan terbesar akibat pencurian kayu. Bila KPH ini mampu melewati masa-masa sulit, dan fokus menggenjot produksi berpotensi menjadi kawasan Jati Estate.

K

esatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung memiliki wilayah hutan seluas 32.438,70 Ha. Wilayah seluas itu meliputi kawasan hutan yang secara administratif berada di Kabupaten Blora (31.736,00 Ha atau 97,83 persen) dan Kabupaten

88 DUTA Rimba

Grobogan (702,70 Ha atau 2,17 persen). Seluas 30.695,79 Ha atau 94 persen dari seluruh luas kawasan hutannya merupakan kawasan hutan untuk penghasilan kayu yang hampir semuanya baik untuk perusahaan tebang habis, Perhutani. Sedangkan 913,38 Hektare (3 persen) lagi merupakan kawasan

hutan bukan untuk penghasilan kayu jati dan kawasan hutan bukan untuk penghasilan termasuk alur seluas 854,93 Hektare (3 persen). KPH ini dikelilingi oleh empat KPH lain yaitu KPH Blora di sebelah utara, KPH Cepu di sebelah timur, KPH Ngawi (Divre Jawa Timur) di sebelah selatan, dan KPH Gundih di sebelah barat.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Secara topografi, KPH Randublatung terdiri dari 20 persen lahan datar, landai (60 persen), dan bergelombang (20 persen). Ia berada di ketinggian 10 – 250 m dpl. Berdasarkan Geologi, kondisinya terdiri dari batu liat, batu kapur, dan napal. Wilayah KPH Randublatung terletak pada ketinggian 10 – 250 meter di atas permukaan laut. Terletak pada daerah aliran sungai Lusi dan Bengawan Solo dengan topografi lapangan bervariasi mulai dari datar, miring, berombak, curam serta bergelombang. Wilayah ini memiliki delapan macam tanah yang menjadi bagian dari lima tipe tanah yang dijumpai. Kelima tipe tanah tersebut adalah aluvial (fisiografi dataran), litosal, regosol dan mediteran (fisiografi bukit lipatan) serta grumusol (fisiografi dataran dan bukit lipatan). KPH Randublatung menjadi salah satu andalan Divre Jateng karena jumlah produksinya tinggi. Misalnya terlihat dari produksi tahun 2012. Kala itu, jati mencapai 3.413 m3, mahoni 93 m3, dan totalnya 3.506 m3. Kebangkitan KPH Randublatung ini juga seiring dengan kebijakan korporat untuk menggenjot sektor hulu Perhutani, dengan membentuk divisi regional I Jawa Tengah menggantikan unit I Perhutani. Bila KPH ini mampu melakukan penguatan dalam budidaya tanaman, khususnya jati, bukan tidak mungkin kawasan ini menjadi salah satu andalan Perhutani untuk menjadi Jati Estate. Sebuah tahapan lebih lanjut dari intensifikasi tanaman yang kini tengah digencarkan oleh Perhutani. Dengan divisi baru tersebut KPH Randublatung bisa lebih fokus meningkatkan produksi kayu , tanpa harus memikirkan pemasaran, karena hal itu sudah ditangani oleh divisi komersial kayu maupun divisi komersial industri kayu.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Kawasan hutan KPH Randublatung terbagi dua Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan (SKPH) yaitu SKPH Randublatung Utara dan SKPH Randublatung Selatan. Masingmasing SKPH terdiri dari tiga Bagian Hutan (BH) yang masing-masing memiliki dua Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH). Dan di KPH ini terdapat 44 Resort Polisi Hutan (RPH). Masing-masing RPH punya pelaksana lapangan untuk kegiatan tanaman, pemeliharaan, penjarangan, keamanan, pembantu penyuluh / sosial, dan pembantu. Pembagian wilayah KPH Randublatung adalah BH Doplang (5801.50 Ha), BH Bekutuk (4818.50 Ha), BH Ngliron (6235.80 Ha), 282.20 Ha alur 282.20 ha (SKPH Randublatung Utara 17138.00 Ha), BH Randublatung (5110.10 Ha), BH Banyuurip (5044.30 Ha), BH Banglean (4885.20 Ha), serta 286.50 Ha alur (SKPH Randublatung Selatan 15326.100 Ha). Dengan tujuh bulan basah dan dan lima bulan kering, tipe iklim menurut Scmidt dan Fergusson pada KPH Randublatung adalah tipe C/D (quation index = 71 %) atau tipe C agak lembab (quation index antara 60 – 100 %). Curah hujan relatif banyak jatuh di bulan Nopember – Maret, paling banyak pada bulan Desember dan Januari. Sedangkan bulan paling kering adalah bulan Agustus, curah hujan relatif sedikit terjadi pada bulan April – Oktober. Di wilayah kerja Perhutani Divre Jawa Tengah, KPH Randublatung mengalami gangguan keamanan terbesar akibat pencurian kayu. Intensitasnya membengkak seiring bergulirnya masa transisi reformasi di Indonesia. Namun, sedikit demi sedikit hal itu telah coba untuk ditertibkan. Tingginya angka pencurian ini antara lain disebabkan kemiskinan penduduk di sekitar hutan akibat

Tingginya angka pencurian ini antara lain disebabkan kemiskinan penduduk di sekitar hutan akibat kecilnya angka kepemilikan lahan pertanian. Di lain pihak, hampir setengah wilayahnya merupakan kawasan hutan jati yang bernilai tinggi. kecilnya angka kepemilikan lahan pertanian. Di lain pihak, hampir setengah wilayahnya merupakan kawasan hutan jati yang bernilai tinggi. Kondisi ini diperparah dengan pendapat umum yang berkembang di masyarakat setempat, bahwa hutan adalah warisan nenek moyang. Pandangan yang telah membudaya ini memberikan sikap yang sangat toleran terhadap pribadi yang melakukan pencurian kayu daripada mengambil barang orang lain. Namun toleransi semacam itu tak bisa dibiarkan bersemai dalam hati masyarakat lingkar hutan. Sudah saatnya pula KPH Randublatung mengambil inisiatif untuk melibatkan partisipasi masyarakat sekitar dengan progam pemberdayaan. Bila masyarakat berdaya, denga kehadiran KPH ini, maka pencurian akan berkurang, dan masyarakat merasakan manfaat dengan kehadiran KPH ini. Disinilah tantangan terbesar yang dihadapi oleh KPH ini untuk bisa menjadi kawasan Jati Estate. Dibutuhkan kerja-kerja kreaktif untuk memberdayakan masyarakat lingkar hutan yang terintegrasi dengan program-program KPH. Semoga. • DR

DUTA Rimba 89


resensirimba Judul : Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia Penulis : Hadi M Djuraid Tahun Terbit : 2013 Penerbit : PT Mediasuara Shakti-BUMN Track Tebal Hal : 336 halaman

Berawal

dari Sebuah

T

oilet banyak dipersepsikan hanyalah sebuah tempat untuk membuang air kecil maupun air besar. Sekalipun demikian,ada beraneka ragam sosok toilet. Ada toilet yang jorok, kotor, tidak terawat,rapi dan bersih. Bahkan bila diteliti secara cermat, toilet itu bisa beribu wajah. Mulai yang terjorok hingga yang terbersih Namun dari beribu wajah toilet yang ada di dekat kita, ada yang cukup monumental. Toilet menjadi icon transformasi bagi sebuah korporat. Karena dari toilet itu bisa diketahui seberapa jauh mind side para penghuninya mau melakukan perubahan. Dari toilet itulah transformasi fundamental bisa diurai dan diimplementasikan hingga menghasilkan karya besar. Hal semacam itudirasakan oleh IgnasiusJonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI).Ketika ia mengawali sebagai petinggi di perusahaan transportasi, boleh dibilang PT KAI lagi meredup, bahkan terancam bangkrut. Pelayanan kepada masyarakat terus memburuk, perusahaan didera rugi, mental karyawan juga terpuruk Ibarat seperti benang kusut.

90 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Toilet

Dari mana harus memulai untuk membangkitkan KAI yang tengah sekarat.Jonan yang tak memiliki pengalaman mengelola Kereta Api, hanya menggunakan pengalaman kegemarannya naik kereta api luar negeri, ia mulai mencatat dan mencermati bagaimana pelayanan terhadap penumpang, kondisi stasiun, manajemen dan profesionalisme petugas. Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi KAI, Jonan tak perlu berfikir mulukmuluk dengan kerangka teoriterori akademis. Sebagaimana digambarkan Dahlan Iskhan, Meneg BUMN dalam Prolog buku ini, ia memulai melakukan transformasi dengan membenahi toilet di rangkaian kereta. Untuk membenahi toilet ini Jonan sempat bertanya kepada pejabat yang bertangung jawab terhadap kebersihan toilet. Apakah toilet bisa diubah menjadi lebih bersih dan sehat? Jawaban yang diberikan sangat mengejutkan: tidak bisa karena sudah sejak dahulu seperti itu. Sebuah jawaban yang menggambarkan “mindset” dan kultur yang jauh dari orientasi melayani (hal 49) Dari situlah, perbaikan tolilet

digenjot habis-habisan. Hasilnya di seluruh rangkaian kerata api jarak menengah dan jauh, toiletnya bersih dan wangi. Air pun tersedia sesuai kebutuhan, lengkap dengan sabun cair Awalnya para penumpang terheran-heran melihat toilet kereta api bersih dan wangi. Apa gerangan yang terjadi di KAI? Namun lamalama para penumpang kereta api mendapat kesan, kereta api mulai berubah. Pujian datang dari berbagai penjuru. Media baik cetak, online dan elektronik mengulas habis perubahan di kereta api. Ibarat gadis tua yang tengah di make over,banyak penumpang yang “kesemsem”. Namun yang paling fundamental dari semua itu, PT KAI mulai mengalami perubahan “mind side”. Sebuah perubahan sikap mental yang paling susah dalam sejarah transformasi. Tak hanya PTKAI yang merasakan susahnya merubah “mind side” para karyawannya. Perusahaanperusahaan besar semacam Pertamina, PLN, perbankan, yang telah berhasil melakukan perubahan, pernah mengalami betapa hal tersulit dalam transformasi itu adalah merubah “mind side” Bila sebelumnya“mind

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


side”karyawan kereta api pada “product oriented”, melalui perbaikan toilet bergeser ke “customer friendly”. Pergeseran sikap dan mental untuk melayani pelanggan yang membuat kereta api bisa merebut kembali hati masyarakat pengguna transportasi. Kereta menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan. Fakta semacam itu yang menjelaskan, kenapa jalur-jalur kereta api yang telah ”mati” kini hidup kembali? Seperti misalnya jalur Bogor-Sukabumi, Sukabumi-Cianjur, dan daerah-daerah lain. Itu semua terjadi karena pelayanan Kereta api yang makin prima. Di tengah ancaman kemacetan, kereta api memberikan kepastian pelayanan dan tepat waktu sampai tujuan. Bila sebelumnya kereta api selalu merugi, sekalipun selalu menarik penumpang sebanyak-banyaknya hingga melebihi kapasitas. Kini, dengan menerapkan aturan “one seat one passenger” dan tiket dijual berdasarkan kapasitas kereta serta seluruh penumpang harus duduk, ternyataPT KAI justru mendapatkan laba. Kerugian yang terus menerus mendera kereta api beberapa waktu yang lalu, bukan disebabkan karena sepinya penumpang. Salah satunya karena banyaknya kebocoran dalam penjualan tiket. Penumpang berjubel di atas kereta api, karena ternyata banyak yang tidak memberi dan memiliki tiket. Untuk dapat naik di atas kereta, banyak di antara mereka yang memilih memberikan “salam tempel” kepada petugas kereta api atau masinis. Begitu pula dengan calo yang sebelumnya banyak berkeliaran di stasiun. Ternyata keberadaan para calo itu karena bekerja sama dengan “orang dalam”

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Pada salah satu kesempatan, Jonan pernah bertemu dengan seorang bankir yang merupakan teman lamanya. Saat itu sang bankir menceritakan bahwa ada beberapa mantan kepada daerah operasi dan kepala divisi regional yang memiliki deposito belasan miliar (126-127) Fakta semacam itu tentu sangat mengherankan. Di tengah kondisi PT KAI yang terpuruk, kondisi sarana dan prasarana sudah tua dan merugi. Ada beberapa pejabat yang bisa kaya di tengah kegetiran tersebut. Jonan merupakan sosok fenomena dalam transformasi PT KAI. Tak hanya dalam melakukan transformasi kultural, tetapi juga transformasi bisnis yang bisa dilihat dari perolehan keuntungan perushaaan yang terus melesat tiap tahunnya. Ia tak lagi mengandalkan pendapatan PT KAI dari angkutan penumpang, tetapi juga menggunakan waktu-waktu luang bagi rel kereta api untuk mengangkut barang. Kereta kini menjadi pilihan angkutan logistik paling murah di tengah angkutan jalan raya yang makin padat dan macet. Jonan yang selalu berpenampilan bersahaja, menurut CEO dan Founder MarkplusInc,Hermawan kartajaya, menggolongkan Dirut KAI sebagai pemimpin 3.0. Bila pemimpin tipe 1.0 adalah pemimpin yang mementingkan kesuksesan diri sendiri dengan orientasi pada perintah dan intruksi. Sedangkan pemimpin tipe 2.0 adalah pemimpin yang memperlakukan karyawan layaknya “customer” sehingga harus disenangkan. Tapi Jonan merupakan sosok pemimpin dengan “human spirit”. Para direksi, manajer, staf dan karyawan pada umumnya mengikuti apa yang dikehendaki karena mereka melihat pemimpinnya

mengedepankan kejujuran, besih, amanah dan kerja keras. Ia disegani bukan ditakuti. Dari buku Jonan ini mengajarkan sebuah kearifan. Bahkan transformasi korporat tak harus dimulai dengan konsep dan kerangka teoritik yang njlimet. Perubahan itu bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana, dan bisa dilaksanakan siapa saja. Bayangkan dengan memperbaiki toilet kereta api, PT KAI mampu merebut kembali hati masyarakat Indonesia, sebuah pelajaran yang mengingatkansebuah buku legendaris “Small is beatiful”. Dalam transformasi korporat, yang tak kalah pentingnnya adalah hadirnya role model (keteladanan) dari para pemimpin. Anak buah mau berubah, kalau melihat pemimpinnya “human spirit” sebuah kekuatan yang memitigasi seluruh karyawan untuk berubah. Mitigasi disini tentu janganlah dibayangkan seperti bagaimana menghadapi tsunami, gunung meletus, banjir dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah sikap pemimpin yang jujur, bersih, amanah dan kerja keras. Sikap semacam itu mempunyai kekuatan yang jauh lebih dahsyat ketimbang sebuah magma di gunung berapi untuk menggerakan tim manajemen. Bagaimana anak buah mau bergerak dan mendukung pimpinannya, bila kebijakan yang diputuskan oleh pemimpin terselipi oleh agendaagenda pribadi. Disinilah Buku Jonan ini memiliki ”human spirit” bagi sebuah korporasi yang tengah melakukan transformasi. Tak hanya penting dibaca bagi kalangan midle manajemen, tetapi juga dari top manajemen. Banyak kearifan yang tampaknya remeh-temeh, tetapi justru dari situ, kunci-kunci keberhasilan untuk menggulirkan transformasi ada di sana. • DR

DUTA Rimba 91


inovasi

U

ntuk mendongkrak pemdapatan non kayu Perhutani, gondorukem dan terpentin menjadi salah satu primadona. Dari gondorukem dan terpentin memasok 65% pendapatan non kayu. Tak heran bila untuk meningkatkan pendapatan dari kedua komoditas tersebut korporat kini terus mendorong program pembuatan getah premium agar bisa meningkatkan kualitas produksi gondorukem dan terpentin. Progam getah premium ini digulirkan manajemen perusahaan sejak tahun 2013. Program ini sejalan dengan transformasi korporat baik di sektor hulu maupun hilir Perhutani. Program getah premium ini merupakan hasil karya para rimbawan sebagai salah satu peningkatan efektivitas proses produksi gondorukem dan terpentin. Melalui program ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dari bisnis non kayu Getah Pinus merupakan salah satu hasil hutan non kayu andalan Perum Perhutani. Sejalan dengsan restrukturisasi organisasi Perhutani 2014, gondorukem dan terpentin kini ditangani oleh salah satu divisi pada Direktorat Komersial Non Kayu, yaitu Divisi Gondorukem dan Terpentin. Inovasi di bidang pengolahan getah pinus tentu akan sangat signifikan bagi direktorat ini, dimana ke depannya tak hanya akan mengolah getah pinus dari Jawa saja, tetapi juga dari luar Jawa, seperti getah pinus dari Aceh . Getah mutu I Premium tersebut diharapkan mampu mengasilkan rendemen minimal 94 %. Dengan nilai rendemen tersebut akan meningkatkan produktivitas proses pemasakkan dan efisiensi dalam proses produksi. Berdasarkan pengamatan dalam proses penyaringan getah premium yang

92 DUTA Rimba

Getah Premium Tingkatkan produksi Penyaringan Getah

300% telah dilakukan di KPH Banyuwangi Utara, dalam setiap 100 Kg getah pinus (Input), akan menghasilkan kurang lebih 76 Kg getah mutu I Premium (76%), 21 Kg getah mutu I dan 3 kg kotoran. Berdasarkan pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa, setiap 1 Kg getah yang disetorkan oleh penyadap akan dihasilkan 0,030 Kg/ 30 gram kotoran per Kg getah. Sehingga apabila diperhitungkan dengan target produksi KPH Banyuwangi Utara tahun 2013 sebesar 433 ton, maka kotoran yang dihasilkan sebesar kurang lebih 12,9 Ton. Secara lebih jelas proses tersebut dapat diketahui dalam gambar berikut ini.

melakukan penyaringan dibandingkan dengan cara manual, dimana sistem kerjanya dengan memanfaatkan gaya sentrifugal dari putaran drum yang akan menekan getah keluar dari drum saring. Getah pinus yang memiliki viskositas atau kekentalan yang tinggi diperlukan tekanan yang besar dalam penyaringan, sehingga apabila hanya mengandalkan gaya gravitasi akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Operasional alat penyaring getah mekanik tersebut cukup mudah yaitu dengan menuangkan getah pada alat penyaring (drum) dan memutar pedal secara perlahan. Pedal tersebut akan terhubung dengan rantai dan

Dalam proses pembuatan getah premium di KPH Banyuwangi Utara telah menggunakan alat saring getah mekanik (ALSANIK). Alat mekanik tersebut cukup efektif dalam

beberapa tuas yang akan memutar drum penyaring di dalam alat. Getah yang telah tersaring akan disalurkan langsung melalui pipa ke dalam wadah getah yang telah dipersiapkan.

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Perbandingan Penggunaan Alat Saring Getah Manual dan Mekanik

Inovasi di bidang penyaringan getah pinus ini jelas merupakan sebuah terobosan di bidang teknologi pengolahan getah Proses Kegiatan Penyaringan Getah Pinus Secara teknis pembuatan getah premium diawali dengan pemilihan getah yang disetorkan oleh penyadap ke TPG dimana dihindari getah yang berasal dari kerokan, memiliki kotoran terlalu banyak dan kandungan air yang terlalu tinggi. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan menggunakan alat saring getah mekanik. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyaringan yang menghasilkan 1 drum (125 kg) getah premium kurang lebih 20 menit, setiap kali penyaringan mampu menyaring 20-25 kg getah, dan dibutuhkan 5-6 kali untuk memenuhi satu drum penuh getah premium. Setelah dilakukan beberapa kali penuangan dan penyaringan, getah mutu I yang berbentuk gumpalan dan kotoran akan tersisa dalam drum dan akan dipisahkan untuk diolah kembali menjadi getah mutu I, sementara kotoran akan dipisahkan dan dibuang. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk operasional alat tersebut cukup dua orang, satu orang bertugas menuang getah dan memindahkan hasil saring sedangkan seorang lagi bertugas memutar alat. Dalam satu hari produktivitas yang dihasilkan kurang lebih 1,8 ton dengan 5 jam kerja untuk satu alat. Dibandingkan dengan penyaringan manual, menggunakan alat sadap mekanik terdapat beberapa keunggulan antara lain yaitu :

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Alat tersebut dibuat dengan menggunakan drum bekas lem dan dilengkapi dengan tuas pemutar, untuk drum dalam menggunakan rangka besi cor dan dibalut kawat casa ukuran 0,5 cm. Untuk pemeliharaan cukup dengan membuka drum penyaring dan membersihkan dari kotoran yang tersisa, untuk getah yang menempel pada kawat casa dibersihkan dengan cara dijemur dan diusap dengan minyak tanah. Dari tabel tersebut memperlihatkan, melalui Program getah Premium tersebut, selain menghasilkan getah pinus yang berkualitas (premium). Pada sisi lain juga mampu meningkatkan produksi penyaringan getah lebih dari tiga kali lipat. Bila memakai peralatan manual setiap hari hanya mampu menyaring 535 Kg. Maka dengan penyaringan alsanik mampu memproduksi 1.875 Kg getah per hari Dalam proses produksi produksi getah mutu I Premium memang tidak lepas dari pola penyadap untuk menghasil getah yang bersih, sehingga akan mendukung proses produksi getah premium di PGT. Kegiatan sosialisasi dan pembinaan dari mandor juga tetap diperlukan untuk mensukseskan kegiatan tersebut. Dengan adanya alat sadap mekanik (ALSANIK) tersebut diharapkan dapat mempercepat proses produksi getah pinus mutu I Premium di TPG sehingga efektifitas

rantai produksi getah pinus menjadi gondorukem dan terpentin dapat meningkat. Inovasi di bidang penyaringan getah pinus ini jelas merupakan sebuah terobosan di bidang teknologi pengolahan getah. Inovasi ini sebaiknya perlu terus disempurnakan agar bisa memberikan nilai tambah yang terbaik bagi manajemen. Dan bila inovasi ini sudah sempurna perlu kiranya di daftarkan ke hak paten, agar ke depan bisa menjadi unggulan komperatif bagi Perhutani untuk menghasilkan gondorukem dan tarpentin. Kebutuhan gondorukem dan tarpentin dunia kini memang terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang makin menggeliat. Namun persaingan juga begitu ketat. Tak hanya Indonesia (Perhutani) yang mampu memproduksi gondorukem dan tarpenting, tetapi di negara lain seperti Vietnam dan China, kini juga memperebutkan ceruk pasar. Inovasi dalam penyaringan gondorukem dan terpentin itu menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dalam bisnis ini. Pembeli atau importir kini sudah berubah perilakunya dalam memenuhi kebutuhan komoditas. Selain masalah harga, mereka juga menginginkan produk yang prima. Karena itu selamat dengan inovasi getah premium. • (Arsis Sulistyono, S.Hut, MM, Wakil Administratur KPH Banyuwangi Utara)

DUTA Rimba 93


Dok. Humas PHT

RIMBAKULINER

94 DUTA Rimba

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


Balik Jonegoro

Kangen

“Soto Cicik” Ciamik

B

ojonegoro, yang juga sering disebut Jonegoro, mememang memiliki banyak ciri khas. Tak hanya batik yang motifnya sudah “go international” dikenal luar di manca negara. Dari sisi kuliner, kota ini memiliki hidangan berkuah yang tak ada di kota lainnya. Salah satunya soto Memang hidangan berkuah Soto, merupakan salah satu hidangan khas Indonesia yang sangat popular dan membuat para penikmatnya ketagihan untuk terus menikmati. Beberapa daerah memiliki ciri khas soto masing-masing. Ada soto Betawi, soto Bogor, soto Kudus, soto Ambengan (Madura) dan lain sebagainya Selain itu, masih ada satu lagi soto santan Cicik yang lezat, harum serta menggugah selera. Soto itu khas Bojonegoro. “Soto Cicik” namanya. Soto itu dahulunya lebih terkenal dengan Nama “Soto Ayam Rajawali” yang memang sudah terkenal se-Antero Bojonegoro, bahkan hingga ke seluruh penjuru nusantara. Soto Ayam ini dahulu terletak di Jl. Rajawali, Bojonegoro. Dirintis oleh Bu Mar dan beroperasi belasan tahun. Namun seiring dengan perjalanan waktu, usaha soto ini oleh Bu Mar diwariskan kepada menantu

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014

Ada banyak soto. Namun yang ciamik tak bisa diperoleh di sembarang tempat. Hanya di Bojonegoro, Jawa Timur, soto Ciamik itu bisa dinikmati. Tak berlebihan, bila orang yang pernah tinggal di Kabupaten yang berbatasan dengan Tuban, selalu “kangen” kembali ke kota tersebut untuk menikmati “Soto Cicik” Ciamik. perempuan yaitu Bu Cicik. Ketika dilanjutkan oleh menentunya itu, Soto ayam ini berpindah ke Jalan Teuku Umar, tepatnya di depan Kantor Pertanahan, Bojonegoro, hingga terkenal dengan nama “Soto Cicik” Soto Ayam Cicik ini rasanya berbeda dari kebanyakan soto lainnya. Ciri khasnya ada pada warna kuah yang putih pekat kemudian irisan daging ayam, irisan telor rebus dan cambah. Agar lebih nikmat ditambah dengan perasan jeruk nipis, kecap, sambal, bawang goreng dan kerupuk. Untuk penyajiannya nasi atau lontong langsung dicampur dengan kuahnya dalam satu mangkok. Kekhasan lain dari soto ini dalam memberikan pelayanan kepada pelanggannya. Dandanan (busana dan make up) pemilik warung soto ini berbeda dari pemilik warung lainnya. Cicik bahkan sangat memperhatikan

penampilannya ketika melayani pembeli. Oleh karena itu, masyarakat Jonegoro punya julukan untuk sang pemilikya itu Bakule Kenes. Letaknya yang strategis membuat pemilik warung “Soto Cicik” ini banyak dicari para pelanggan yang tetap setia untuk menyantap soto lezatnya. Warung soto ini buka setiap hari kecuali tanggal merah dari pukul 06.30 hingga 16.30 WIB sore. Ditangan Ibu Cicik, pemilik warung “Soto Cicik”, soto yang berbahan dasar brambang, bawang putih, bawang merah, kemiri, kunyit, merica serta air kaldu ayam, santan dan beberapa bumbu lainnya diubah menjadi soto luar biasa yang memikat hati banyak pelanggan. Aromanya yang khas membuat lidah segera mencicipinya. Buat anda pecinta soto, soto yang satu ini jangan sampai kelewatan. Dalam sehari, cicik biasanya

DUTA Rimba 95


RIMBAKULINER

Omzetnya pun tak tanggungtanggung. Cicik mampu mendapatkan Rp.25 Juta hingga Rp. 50 Juta dalam sebulan. bisa menghabiskan sebanyak 600 piring dengan 3 kali masak, yaitu sekali masak 200 piring pada pagi, siang dan sore hari. Harganya pun bervariasi dari yang hanya soto ayam tanpa campuran Rp.10.000,- hingga dengan berbagai campuran misalnya ati ampela dan lain sebagainya Rp.25.000. Harga-harga tersebut belum termasuk minuman. Mulai dari teh tawar hingga minuman segar lainnya Omzetnya pun tak tanggungtanggung. Cicik mampu mendapatkan Rp.25 Juta hingga Rp. 50 Juta dalam sebulan. Hal itu merupakan hal yang sangat luar biasa bagi seorang pedagang soto seperti cicik. Cicik pun kini tak hanya sendiri. Dia dibantu oleh 5 orang tenaga yang tinggal disekitar tempat jualannya. Harapan cicik pun tak mulukmuluk. Cicik ingin usahanya maju dan membuka cabang diberbagai tempat serta ciri khasnya tidak hilang, yaitu soto ayam santan yang lezat dan keramah-tamahan cicik sang pemilik “Soto Cicik” yang ciamik tetap melekat dan diingat di hati para pelanggannya. Karena itu datanglah ke Bojonegoro untuk mewujudkan kangen anda dengan “soto Cicik” yang ciamik”. • DR

96 DUTA Rimba

Resep

“Soto Cicik”

Ciamik

“Kekenesan” penjualnya dalam melayani pelanggannya membuat “Soto Cicik” makin ciamik menggoyang lidah penikmatnya. Apalagi, cara penyajian soto ini dengan mencampur nasi atau lontong dan kuahnya dalam satu mangkok, mengingatkan kenangan lama tentang “ngiras” di pasar tradisional. Karena itu bila anda ke Bojonegoro, jangan lewatkan mampir di “Soto Cicik”, untuk mengobati rasa kangen dengan kota penuh kenangan.

“Soto Cicik” Jalan Teuku Umar, depan Kantor Pertanahan Bojonegoro, Jawa Tengah

Bahan • Daging ayam • Telur • Cambah • Santan • Gula • Garam • Bawang merah • Bawang Putih • Daun Jeruk • Air Bumbu Halus • Kemiri • Merica • Kunyit Saus dan Penyedap • Kecap • Sambal • Bawang goreng • Kerupuk

NO. 50 • TH. 9 • januari - februari • 2014


DUTA RIMBA MAJALAH PERHUTANI

NO. 49 • TH. 8 • JANUARI - FEBRUARI • 2014

M A JA L A H

P E R H U TA N I

SOSOK RIMBA

Endang Suraningsih

“ Keberanian Perhutani Out of the Box, Kurang” RIMBA KHUSUS

Gajimu Bukan Demomu WARISAN RIMBA EDISI NO. 49 • TH 8 • NOVEMBER -DESEMBER 2013

Berharap Tuah Air Nganget Kenduran RIMBA KULINER

Balik Jonegoro Kangen Soto Cicik Ciamik

RESTRUKTURISASI ORGANISASI

SUPER BODY

Majalah Duta Rimba 50 Jan Feb 2014  

Majalah Duta Rimba 50 Jan Feb 2014