Issuu on Google+

6


Andante Musim Gugur, 1998

Aku selalu memastikan ada satu celah di kamarku— satu inci di pintu, atau mungkin bahkan di jendela. Nenekku mengajariku bahwa jika seseorang meninggal dalam tidur, rohnya perlu jalan keluar, atau roh itu akan selamanya terperangkap di dalam kamar. Dua tahun yang lalu, tengah berbaring di ranjang, aku mendengar suara di luar pintuku. Suara itu cukup sayup untuk diabaikan, tetapi begitu terdengar, ia bersembunyi dalam pikiran-pikiranku. Apa yang tak bisa lagi kudengar dengan telingaku, kudengar dengan benakku, dan ini sudah cukup untuk membuatku terus terjaga hingga terbit matahari. Akhirnya, aku terpaksa menutup pintuku.

o o o o o

7


Jumat itu hujan turun sepanjang hari. Perjalanan pulang menjadi siksaan menembus terlalu banyak air di sebuah kota yang terlalu banyak mau. Bumper mobilku nanti harus diperbaiki sedikit, mungkin lima puluh dolar. Telingakulah yang menanggung kerusakan yang lebih parah. Saat aku tiba di rumah, hujan sudah mereda menjadi gerimis halus. Setelah menjejalkan pakaianku ke mesin pengering, aku merebahkan badan di ranjang, meminum segelas air sambil membuka-buka sebuah buku seni yang besarnya mencari perhatian. Bruegel. Lanskap dengan Kejatuhan Icarus. Aku meneguk sesapan terakhir, meletakkan gelas yang setengah kosong di nakas, lalu memejamkan mata. Jendela kubiarkan terbuka sedikit, tidak hanya agar aku bisa mendengar hujan, tetapi agar aku bisa merasakan angin semilir dari kota. Aku berbaring di sana lebih dari satu jam, mata terkatup namun benak terjaga, membayangkan tetes-tetes mungil hujan memecah di keningku. Segera saja pikiran-pikiranku mulai tenggelam, perlahan bagai sehelai bulu yang jatuh, menyamarkan kedamaian yang terlambat datang. Lalu suara itu kembali. Aku bisa mendengarnya dari balik pintu yang tertutup, bahkan dengan

8


suara hujan. Untuk sesaat, aku mengira aku hanya mengkhayalkannya. Seandainya saja begitu. Perlahan-lahan aku bangkit berdiri dan menaikkan tirai. Tetes-tetes hujan mengumpul seperti sekian banyak laba-laba kecil di permukaan jendela. Mereka merayap lambat menuruni permukaan licin, menyentuh bingkai, dan menghilang. Pagi besok pasti akan lembap lagi. Aku berbalik, menjentik saklar lampu halogen di meja tulisku, dan memakai sandal rumahku. Lampu itu menyoroti sebuah foto mungil berbingkai. Ayahku dalam tuksedo, ibuku tersenyum, dua-duanya berbalut usia muda dalam warna hitam putih, kemudaan yang sekarang terasa asing bagiku. Mulanya, kukira suara itu datang dari ruang tengah. Aku keluar, menutup pintu tanpa suara di belakangku. Semua sepatu ada di sana. Bahkan sepatu bot hujan yang berat milik ayahku. Sepatu-sepatu itu kering. Suara itu datang dari ruang duduk, beberapa langkah menyusur lorong. Sepertinya ayahku. Kudapati diriku ingin mengabaikan suara itu, ingin berbalik kembali ke kamarku dan mendengarkan hujan. Tapi aku terus berjalan. Lorong ini kebanggaan ibuku. Dengan penuh sayang dia menyebut lorong ini Ruang Kemasyhuran Mishima, sebuah tempat pemujaan untuk keunggulan suami dan 9


putranya. Aku selalu merasa itu terlalu pamer—foto-foto berbingkai, plakat-plakat, kliping surat kabar menutupi dinding kanan dan kiri. Bila ada temanku yang mampir, biasanya aku agak malu berjalan melalui lorong ini bersama mereka. Tetapi, sejak tahun terakhirku di sekolah menengah, aku semakin sibuk, dan jarang sekali harus mencemaskan soal tamu. Sejak itu pula lampu di lorong jarang menyala. Ayahku sedang duduk, sendirian, di sofa di ruang duduk. Dia seperti patung pualam dalam kegelapan— suatu sosok hitam tak bergerak yang membentuk siluet berlatar temaram malam. Aku berdiri di luar bidang pandangnya, berdiri di pertengahan lorong, memperhatikan tanpa mendengarkan. Mulanya kukira TV yang berbicara—kilasan berita bisbol tampak di layar—tetapi TV disetel bisu. Ayahku mengangkat satu tangan, memberi isyarat ke ruang yang kosong. Suatu senandika dalam drama yang telah terlupakan. Aku berdiri di sana lebih dari satu jam, tanpa berucap kata, hanya mengamati ayahku berbicara kepada dirinya sendiri. Aku tidak tahu apa yang dia katakan. Aku tidak ingin tahu.

o o o o o

10


Aku ingat piano paling cantik yang pernah kulihat. Tentu saja kami punya piano di rumah, tetapi piano kami itu sama sekali tidak seperti piano Steinway putih di Balai Konser Bunka Kaikan Tokyo. Steinway itu berdiri laksana seekor angsa yang gagah—tutupnya terangkat bagai sayap yang sangat kuat, kaki-kaki yang ramping dengan anggun menyangga kerangkanya yang seputih salju. Usiaku baru sembilan tahun waktu itu, terlalu muda untuk memahami Mozart sepenuhnya, tetapi aku menatap takjub ketika sang pianis berayun dengan setiap nada. Namun, yang paling kuingat bukan apa yang kulihat di panggung. Aku ingat wanita Jepang yang mungil itu, yang duduk empat kursi dariku. Dia mencondongkan badan ke depan, mungkin karena dia bungkuk, atau mungkin hanya supaya bisa melihat piano itu lebih jelas. Dia memakai kimono berwarna biru langit—samudra masa muda yang sehalus sutra pada sebuah boneka Jepang yang antik. Pada nada pertama, aku melihat wajahnya yang keriputan itu sontak berseri, matanya yang berbentuk buah badam memejam, dan senyumnya membentuk gelambir-gelambir kecil di kedua pipinya. Dia tidak pernah membuka matanya lagi. Bahkan tidak untuk bertepuk tangan, bahkan tidak untuk pergi pulang. 11


Aku ingat aku merasa bangga akan ayahku, dalam tuksedo hitamnya yang elegan, membungkuk saat penonton bertepuk memuji sambil berdiri. Ibuku, dengan mata basah, mengangkatku ke pundak. Ayahku tersenyum—mungkin untukku, mungkin untuk ibuku, atau mungkin untuk sang boneka bisu dalam kimono biru. Aku ingat aku berpikir, untuk kali pertama, bahwa aku mengerti apa arti kebesaran.

o o o o o Aku terbangun pada Sabtu pagi, bukan di ranjangku, melainkan di lorong. Rupanya aku jatuh tertidur sewaktu mengamati ayahku. Aku langsung malu, hati bertanyatanya apakah ayahku melihatku menggeletak telentang di lantai kayu itu. Anehnya aku merasa bersalah. Aku berdiri dan melihat ruang duduk sekilas—TV masih menyala, tetapi sofa kosong. Di luar, hujan masih turun. “Apa kau bergadang menonton TV lagi?” tanya ibuku begitu muncul dari kamarnya. Mata ibuku di pagi hari selalu buram—usia telah banyak sekali menggerogotinya dalam beberapa tahun terakhir ini. Aku ragu, melirik sofa lagi. Aku mengangguk.

12


“Yah, ini akhir minggu, jadi Mama rasa tidak apaapa.” Ibuku menyunggingkan senyum terpaksa lalu berbelok menuju dapur. “Papa di mana?” tanyaku. Ibuku menoleh, mata menatap ke bawah tanpa menyambut mataku. Aku memandang cincin perak di jari telunjukku, dia memandang jam di atas sofa. Aku bisa melihat pantulan yang kabur—dia tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamatanya. Kami terkunci dalam suatu emosi yang terpaut tak selaras, tak mampu menjadi yang pertama bereaksi. Ibuku mengangkat muka. Berjalan. Papa sedang keluar berjalan-jalan. Aku mengatupkan mataku saat ibuku melangkah menjauh.

o o o o o Dulu ayahku sering bercerita kepadaku bahwa aku belajar berjalan dengan telingaku. Pada suatu malam, dia mendudukkan putranya yang masih bayi di atas tutup piano, menyentuhkan bunyi ke kulit halus sang bayi. Segera saja, kaki-kaki mungil itu berjalan mondarmandir di permukaan yang hitam. Aku belajar berjalan dengan mengikuti tempo andante ayahku.

13


Pada ulang tahunku yang kedelapan belas, dia bertanya apakah aku mau keluar berjalan-jalan. Entah kenapa, aku menolak. Wajahnya berubah bingung, dan aku bertanya-tanya apakah dia mendengar jawabanku. Tidak, ulangku. Dia mengangguk. Tetapi saat aku berbalik, dia bertanya lagi, apakah kau mau keluar berjalan-jalan, Jonathan? Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana, jadi tanpa menoleh, aku melangkah pergi. Kadang aku penasaran apakah dia tahu apa artinya itu.

o o o o o Aku melewatkan sore itu dengan membantu ibuku membeli bahan-bahan makanan. Makan malam hari Sabtu adalah satu-satunya waktu kami bertiga duduk bersama dalam satu ruangan. Aku di sekolah sepanjang minggu, dan walaupun aku hanya pulang dari Julliard pada akhir minggu, itu saja sudah cukup menyusahkan rasanya. Kadang di saat aku tidak sibuk, aku berbohong. Sampai dua bulan yang lalu, hari Minggu juga hari istimewa—kami biasa ke gereja bersama-sama. Tetapi, ibuku dan aku memutuskan bahwa itu terlalu merepotkan, dan selain itu, sepertinya ayahku sudah tidak percaya pada Tuhan lagi. Jadi, tinggallah Sabtu. Satu jam di hari Sabtu. 14


Mama koki yang hebat, bukan hanya karena masakan itu sendiri, tetapi karena kecermatan yang dia tuangkan ke dalamnya. Tiga tahun yang lalu, saat umurku enam belas, aku di-skors dari sekolah karena merokok di kamar kecil. Kukira aku akan kelaparan malam itu, tetapi Mama membawakan hidangan ringan ke kamarku. Salmon. Salmon asap, katanya. Dia tampak cantik sekali malam itu. Empat puluh satu tahun terasa salah untuk sosok tanpa cela wanita jangkung ini, untuk raut wajahnya yang dihiasi keriput namun cerah. Aku ingat aku mendengar ayahku memainkan Tchaikovsky beberapa hari kemudian. Itulah kali terakhir ada yang menyentuh Steinway di ruang piano kami. Hidangan semakin buruk dari tahun ke tahun, tetapi segera saja, aku bahkan tidak peduli apa yang kami santap. Kadang, sepertinya ibuku memasak hanya supaya memasak; aku makan hanya supaya makan; dan kami di sana, hanya supaya di sana. Toko bahan makanan itu boleh dibilang menjadi Ruang Kemasyhuran-ku sendiri. Di setiap lorong, setiap rak, aku melihat masa laluku dalam kotakkotak kecil, kaleng-kaleng, dan botol-botol. Bagian mi mengingatkanku akan ayahku saat tiba-tiba tidak nyaman memakai sumpit. Daging babi, ibuku yang sakit berhari-hari karena masalah pencernaan. Dan kopi, 15


malam-malam ketika ayahku biasa duduk bersamaku, memainkan piano, dan minum hanya setelah setiap lagu selesai. Kenangan-kenanganku menjadi makanan kalengan—tempat berlindung satu-satunya untuk semua kenangan itu, sebuah toko makanan kecil. Bach sedang dimainkan saat kami memilih tisu toilet.

o o o o o Dua minggu yang lalu di Julliard. Aku bermain empat jam berturut-turut, tidak satu kali pun berhenti, untuk minum air pun tidak. Hanya aku dan piano Samick itu di ruang latihan B—aku menyumpah-nyumpahi jemariku, Samick mendengarkan setiap kata pedasku dengan sabar. Sesudah percakapan apa pun di telepon dengan orangtuaku, aku akan ada di sana, di ruang B, bermain sampai ujung-ujung jemariku memar. Dunia ini membutuhkan lebih banyak pianis gila, kata instrukturku, yang pada suatu hari memergokiku. Aku menyembunyikan jemariku, tetapi rasa sakit itu terus bertahan bersama kord yang terakhir. Profesor Meszaros tersenyum, lalu duduk di sampingku. Dia pembimbingku, tetapi entah mengapa aku merasa canggung dengan kehadirannya. Mungkin karena antusiasmenya yang 16


tak tertaklukkan, atau mungkin bahkan karena aksen Hungarianya yang kental. Lima tahun yang lalu, jauh sebelum aku mempertimbangkan masuk Julliard, dia memainkan harpsikord di Konservatorium Musik New England. Ayahku pernah tampil bersamanya, bertahuntahun yang lalu. “Mainkan sesuatu untukku... tapi kurangi kemarahan itu,� katanya. Dia menjauh ke samping, menyerahkan komando atas bilah-bilah tuts itu kepadaku. Aku mulai memainkan Beethoven, Sonata No. 8 untuk Piano. Ujung-ujung jemariku yang memar menelan rasa sakit saat meluncur di atas tuts. Sang profesor berbisik, kau memiliki jemari ayahmu. Aku memejamkan mata, dan menikmati rasa sakit itu.

o o o o o Selagi bermobil pulang dari supermarket, aku sadar ibuku mencuri-curi pandang ke arahku. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku terus menujukan pandanganku ke jendela supaya tidak memergokinya. Ayahku tidak di rumah saat kami kembali. Aku bisa merasakan kecemasan pada wajah murung ibuku, tetapi aku menghiburnya hanya dengan kebisuan. 17


Sementara ibuku memasak, aku duduk di kursi meja makan, mengamatinya bergerak dari satu konter ke konter lain. Aku senang memperhatikannya bekerja di dapur. Matanya kembali dipenuhi kehidupan yang sudah terlupakan, tangan-tangannya dengan kegesitan yang sekarang langka. Dalam ingatanku, kedua tangannya selalu putih, dan kecemerlangan tangan-tangan itu dilipatgandakan oleh karya indah yang dihasilkan. Kami biasa membuat bangau-bangau origami bersama, dan aku ingat aku berpikir bahwa tangan ibuku lebih putih daripada lembar-lembar kertas putih kecil yang kami pakai. Tetapi usia telah memunculkan pembuluhpembuluh darah yang berkesan sakit, dan semakin jarang ibuku memakai tangannya, semakin jelek tangantangan itu jadinya. Bahkan bangau terakhir yang kami buat, yang tergencet di sela halaman-halaman buku di salah satu rak, pasti sudah menguning termakan waktu.

o o o o o Aku tahu ibuku diam-diam ingin aku membantu, tetapi aku hanya duduk di kursi itu lebih dari satu jam, memperhatikan dia bekerja, mengamati bagaimana dirinya dulu. Di saat mataku tak mampu, imajinasiku mengisi. 18


Aku membantunya menyiapkan meja begitu urusan memasak selesai. Daging ikan hiu, kerang, anggur. Kami siap agak lebih awal daripada yang diperkirakan. Kami berdua duduk di depan meja makan, hidangan makan malam mengepul-ngepul, menanti tanpa bersuara. Sesekali, mata ibuku jatuh pada kursi yang kosong, dan bila aku tidak senang menatapnya, mataku juga tertuju ke sana. “Aku sedang menimbang-nimbang untuk cuti kuliah satu tahun,” kataku. Aku tidak benar-benar berencana begitu, itu hanya sesuatu untuk diucapkan. Ibuku mengangguk. “Mungkin aku akan kembali ke Jepang selama satu tahun … Bahasa Jepangku benar-benar mulai berantakan akhir-akhir ini,” lanjutku. Dia mengangguk lagi, tetapi aku bisa melihat bahwa dia tidak senang. “Jika uang jadi masalah, maksudku dengan tagihan pengobatan dan sebagainya, aku bisa menumpang dengan teman dan mencari pekerjaan. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk jauh dari musik. Siapa tahu, Ma, mungkin aku akan menemukan sesuatu yang baru.” Dia tidak menjawab. Aku mendapati diriku berharap bahwa ayahku tidak akan pernah kembali.

o o o o o 19


Bel pintu berdering, hanya satu kali, dan aku tahu itu ayahku. Aku berjalan melewati lorong dan membukakan pintu. Ayahku berdiri meringkukkan bahu, basah kuyup oleh hujan. Dia membawa pulang setengah cuaca bersamanya. Waktunya makan malam, kata ayahku. Dia membungkuk untuk melepaskan sepatu bot hujannya. Tetapi dia hanya meraba-raba. Aku berpikir akan menolongnya, tetapi memutuskan bahwa lebih baik membiarkannya mencoba saja. “Papa pergi ke mana tadi?” tanyaku. Dia tidak menjawab, hanya meneruskan meraba-raba sepatu botnya. Hujan telah meluruskan ikal rambutnya yang perak panjang. Dia masih pria yang sangat tampan. Dia tampak seperti aktor dari film New Wave Prancis—jas hujan hitam licin, sikap tak acuh seorang seniman. Namun, ketika dia jatuh di undakan pintu, kakinya tersandung, ketampanannya sirna selamanya. Dia seperti anak kecil tak berdaya yang tidak mampu mengikat tali sepatunya. “Sini, kubantu,” kataku, sambil mencuri sepatu bot itu dari jemarinya yang kurus menua. Sepatu itu lepas dengan satu tarikan saja. Dia tertawa. Tiba-tiba aku ingin tertawa, tertawa bersamanya, duduk di sana, atau mungkin di luar dalam guyuran hujan, dan hanya tertawa 20


bersamanya. Tetapi aku tidak sanggup. Aku bahkan tidak sanggup tersenyum. Aku hanya menegakkan badan dan bertanya lagi, “Papa pergi ke mana tadi?� Perlahan-lahan dia bangkit, meletakkan satu tangan di bahuku untuk menopang diri. Waktunya makan malam, katanya.

o o o o o Ketika ayahku sudah menghabiskan makanannya, dia menuang segelas wiski untuk dirinya sendiri. Aku menatap ibuku, yang hampir tidak menyantap apa-apa. Pandangan ibuku menari-nari di suatu tempat yang jauh dari kami. Tempat yang lebih indah, kuharap. Rambutnya sudah banyak sekali beruban. Mereka berdua sudah salah meletakkan kemudaan mereka, dan mereka sekarang sama-sama terlalu letih untuk mencarinya lagi. Aku memperhatikan ayahku menghabiskan minumannya dalam satu tenggakan besar. Menit-menit berlalu di jam dinding; tahun-tahun berlalu di antara kami bertiga. Salmon tadi enak sekali, kata ayahku. Ibuku tersenyum. Aku ingin memberi tahu ayahku bahwa itu daging ikan hiu, tetapi dia hanya akan bingung lagi.

21


Ibuku bertanya apakah dia ingin tambah dan dia tidak menjawab. “Tadi itu salmon asap, Pa,” kataku. “Ingat waktu Mama membuatkanku salmon asap itu?” Di sudut mataku, aku melihat ibuku mengerutkan kening. Ayahku menuang segelas wiski lagi. Dengan membisu dia bersulang ke udara dan menenggak sampai habis. Es berdenting di gelas kristal itu. Pedih rasanya duduk dan melihatnya minum gelas demi gelas, jadi aku menutup pintu benakku untuknya, persis seperti aku akan selalu menutup pintu kamarku untuk meredam suaranya. Bila itu kulakukan, ayahku hanya sebernyawa mangkuk buah di meja. “Pa, aku akan pergi ke Jepang,” kataku sambil melihat ibuku, bukan ayahku. “Mungkin aku akan bertemu Tn. Saro … Papa ingat dia? Ma, Mama ingat dia, kan?” Ibuku memalingkan muka. Aku berbicara sendiri. “Tn. Saro sangat menyukai Steinway kita, ingat? Suatu kali, waktu Papa sedang bermain di acara perjamuan gubernur, dia bergurau bahwa dia akan mencuri piano kita. Dia berkata mungkin pianonyalah yang membuat si pemain hebat.”

22


Tidak ada yang mendengarkan, jadi aku berpurapura menjadi hadirinku sendiri, tertawa kepada diriku sendiri. Pasti seperti inilah perasaan ayahku, pikirku. Aku melihat ke seberang meja, menatap ayahku yang matanya mengembara tanpa bergerak. Wajah ibuku tertoleh ke arahku. “Mungkin aku akan membawa piano itu,” kataku kepada Mama. “Aku bisa memberikannya saja kepada Tn. Saro sebagai hadiah …” Hentikan, ucap ibuku dengan matanya. Lagi pula ayahku tidak mendengarkan. “Kita jual saja piano itu, Ma. Tidak ada gunanya disimpan terus di sini. Tidak ada lagi yang memainkannya. Kenapa berpegang terus pada sesuatu bila pemiliknya jelas-jelas sudah melepaskannya?” Aku berhenti. Aku memandang ayahku, yang sudah menghabiskan setengah botol. Aku tahu bahwa beberapa menit lagi, aku bisa meninggalkan meja, meninggalkan rumah ini, dan tidak pernah kembali lagi. Ayahku mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja, mula-mula dengan halus, lalu semakin lama semakin keras.

o o o o o

23


Dua tahun yang lalu, satu tahun sebelum aku masuk Julliard, keluarga Lille mengadakan acara perjamuan dan resital untuk beberapa cendekiawan musik yang berkunjung dari London Barat. Banyak dari komunitas musik klasik New York dan Boston hadir. Semua kursi terisi, dan ayahku menjadi atraksi utama. Dia sudah dua bulan lebih tidak bermain, karena alasan-alasan pribadi yang saat itu tidak kuketahui, dan tentunya tidak diketahui semua orang lain dalam komunitas musik. Umurku waktu itu enam belas tahun dan ayahku lima puluh satu. Dia memainkan gubahan yang dia tulis sewaktu usianya tiga puluhan. Sebuah sonata yang indah untuk piano berjudul Hana-bi. Dia sudah menampilkan karya itu dalam beberapa kesempatan sebelumnya—kali pertama di Jerman, lalu masing-masing satu kali di Paris dan Jepang. Ini debut karya itu di Amerika. Ketika dia berjalan di panggung, hadirin bertepuk tangan seadanya, meski mata mereka menjeritkan kekaguman. Ayahku duduk di depan piano, rambutnya disisir rapi ke belakang, usia memancarkan kearifan di setiap kerutan. Tetapi saat aku menontonnya, mendengarkan musiknya meletupkan tarikan napas kagum, suatu kesenduan yang tak kentara menyentuhku. Semua yang 24


kutahu tentang ayahku adalah apa yang kulihat pada dirinya di panggung, atau dengan kehadiran sebuah piano. Ketika aku memandang berkeliling, aku melihat bahwa aku berbagi dirinya dengan banyak orang lain. Aku tidak melihat apa pun yang tidak mereka lihat, dan tidak mendengar apa pun yang tidak mereka dengar. Aku merasakan sengatan dalam dadaku. Itulah perjumpaan pertamaku dengan patah hati. Itu penampilan terakhir ayahku di depan umum. Dia berhenti di tengah-tengah karyanya, tidak mampu melanjutkan.

o o o o o Sesudah menghabiskan botol wiski itu, ayahku meninggalkan meja dan berjalan ke ruang duduk. Ibuku menatapku dengan mata kecewa. Aku bisa melihat satu kerutan lagi menggeliut di bawah matanya, sehelai lagi rambut hitam berubah kelabu. Aku harus pergi. Ayahku duduk di sofa. Aku melambaikan tangan, memberi isyarat tanpa maksud. Aku mendekat dan melambaikan tanganku lagi. Matanya memandang melampauiku. Rasa perih tiba-tiba menghunjam ujungujung jemariku, dan aku berbalik, memunggunginya.

25


Aku bertanya-tanya apakah dia sekarang bereaksi, tepat di saat aku tidak sanggup melihatnya lagi. Aku menimbang akan meninggalkan apartemen itu. Aku akan menyetir kembali ke sekolah, mungkin menghabiskan sisa akhir minggu itu di ruang latihan. Atau mungkin aku bisa pergi ke Tisch dan merokok dengan beberapa teman. Aku kembali ke kamarku dan duduk di lantai, mendongak memandang jendela. Hujan sudah hampir berhenti. Perjalanan pulang tidak akan terlalu berat. Aku memejamkan mata, dan dalam kegelapan itu aku bisa melihat jemari ayahku berpendar.

o o o o o Satu jam kemudian, aku mendapati diriku berada di tempat yang tak asing namun telah terlupakan. Piano itu tampak seperti mayat besar, terbaring di bawah selembar kain putih yang memualkan. Kutarik kain itu, perlahan-lahan, memastikan debu tidak akan terhambur. Steinway hitam itu berdiri di sana di bawahnya, cantik seperti biasa. Kemegahannya terawetkan setelah meski hampir tiga tahun telantar. Tiba-tiba aku teringat Steinway putih di Tokyo. Ini angsa hitam kami, harta kami yang terabaikan. 26


Bilah-bilah tuts itu putih cemerlang, seolah tak ternoda oleh sentuhan manusia. Aku meluncurkan satu jari di atas permukaan, merasakan kehalusannya yang dingin. Aku perlu beberapa menit untuk membiasakan diri dengan kursinya. Aku memainkan tangga nada, hampir tak terdengar. Yang luar biasa, piano ini masih tepat nadanya. Lembar partitur masih tersandar di penyangga, seolah selama ini sesosok hantu memainkannya. Aku memulai Mozart, Sonata pada nada dasar D, Andante. Piano bernyanyi lembut, memenuhi ruangan, dan rumah, untuk kali pertama setelah bertahun-tahun. Tetapi aku salah memainkannya. Aku memainkan dengan keras penuh amarah, seperti lari sprint, bukan berjalan. Setiap nada menyembunyikan mata menua ibuku, rambutnya yang memutih, keningnya yang tegang. Aku ingin nada itu menyembunyikan ayahku— bagaimana dia mengulang-ulang kalimat, bagaimana dia berbicara sendiri di malam hari, bagaimana dia duduk termangu.

o o o o o

27


Ibuku sudah tidak dapur lagi ketika aku keluar dari ruang piano. Mungkin dia di tempat tidurnya. Dia mendengarku bermain. Ayahku juga, kurasa, tetapi ayahku masih duduk di sofa, kedua kaki naik ke meja rendah. Dia menatap kosong ke TV yang mati. “Aku pernah memainkan lagu itu di sebuah resital,� ujarku. Pandangan ayahku mengembara sebelum berhenti padaku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya tatapan hampa. “Waktu itu permainanku lebih baik.�

o o o o o Hujan sudah berhenti. Aku berbelok ke Spring Street, ingin mencari rokok. Seorang gadis yang kukencani di sekolah menengah sedang duduk di pinggiran jalan bersama beberapa cowok yang lebih tua. Dia tidak melihatku, dan aku lega. Dulu dia biasa berkata bahwa dia mencintai sang seniman dalam diriku. Kurasa selain itu tidak banyak yang dia cintai. Aku memutuskan untuk membeli saja sebungkus, jadi aku berjalan dua blok ke sebuah bar di Thompson Street. Sesudah membayar untuk sebungkus rokok

28


Camel dan secangkir kopi, aku duduk di satu-satunya meja luar yang kosong. Malam yang ramai. Di seberang jalan berdiri toko buku Barnes and Nobles. Sudah agak lama aku tidak ke sana. Ada satu cabangnya di sebelah Julliard, tetapi aku berhenti pergi begitu musim resital dimulai lagi. Satu minggu, aku duduk di bagian‘kesehatan dan kedokteran’, membaca setiap buku sialan tentang penyakit Alzheimer. Aku menyusuri jalan-jalan di Soho selama lebih dari satu jam, berpapasan dengan wajah-wajah yang kukenal baik tetapi tidak satu kali pun berhenti untuk mengobrol. Pada saat itulah aku merasakan sesuatu yang menyerupai kesadaran, sesuatu yang meresahkan sekaligus menenangkan. Aku tidak ingin di sini, di kota ini, lagi. Dan aku tidak ingin lagi bermain piano. Sebentar saja pun tidak. Aku memikirkan sebuah tempat tanpa musik— tempat ayahku tak lebih dari seorang ayah.

o o o o o Sudah hampir tengah malam ketika aku pulang. Kukira aku di pintu yang salah. Itu benar gedung kami, lantai 12, tetapi segalanya berbeda. Aku bisa mendengar piano. 29


Aku bergegas ke dalam, dan memandang ke seberang lorong ke arah ruang piano. Itu bukan Steinway kami. Musik itu datang dari ruang duduk. Suatu perasaan dÊjà vu yang aneh—persis seperti malam sebelumnya, aku berdiri di lorong, memandang ke arah ruang duduk dengan rasa takut yang amat sangat. Aku menyalakan lampu lorong. Foto-foto. Hitam putih. Warna-warna kabur. Medali-medali, plakat-plakat. Musik semakin keras dengan setiap langkah, dan aku gemetar karena gugup. Yang kudengar bukan benar-benar piano. Itu hanya stereo, yang memutar rekaman lama. Ayahku duduk di lantai dengan punggung tersandar di sofa. Aku memandang berkeliling. Ibuku mungkin sedang tidur sekarang. Tanpa tahu apakah ayahku terjaga atau tidak, aku berjalan ke sampingnya. Tampak ketenangan di wajahnya, bukan ketenangan bodoh orang yang sakit, melainkan ketenteraman sejuk seorang seniman. Dia terjaga, tetapi matanya terpejam. Rekaman itu jelas dibuat terlalu dekat dengan piano. Beberapa nada yang keras terdengar pecah. Aku duduk di sebelahnya, berhati-hati agar tidak mengejutkannya dari kedamaiannya. Tetapi dia berbicara sebelum aku sempat memejamkan mataku. 30


“Apa yang kaudengar?” Aku tidak tahu apakah dia sedang berbicara kepadaku. Dia tidak membuka matanya, tidak menggerakkan wajahnya sama sekali. Aku menatap membisu, tidak tahu harus berbuat apa. “Apa yang kaudengar, Jonathan?” ulangnya. “Ini Fur Elise, Pa,” jawabku. “Mama merekam Papa memainkan lagu ini pada hari ulang tahunku yang ketiga belas.” Sekarang aku bernapas berat, mendadak merasa terbekap. Aku ingin tinggal, dan pada saat yang sama, aku ingin menghilang. “Apa yang kaudengar?” ulangnya. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah mendengar jawabanku kali pertama tadi. Aku tetap memejamkan mata. Aku merasakan lengannya menempel lenganku, napasnya yang halus berdenyut pelan di telingaku. Pengeras suara mengembuskan nada demi nada. Aku mendengarkan. Aku mendengarkan jemari ayahku menari di atas tuts, aku mendengarkan ibuku tersenyum manis dalam cahaya sore, aku mendengarkan diriku duduk di pangkuan hangat ayahku. “Aku mendengar piano,” kataku. “Jonathan, katakan kepada Papa apa yang kaudengar.” “Aku mendengar Papa bermain piano.”

31


Pada saat itu, lagu berakhir. Nada terakhir bertahan, rekaman berlanjut tanpa suara. “Apa yang kaudengar?” Aku membuka mata sejenak untuk menatapnya. Dia tidak mendengar apa-apa. Dia terperangkap dalam satu momen, satu celah mungil dalam waktu. “Aku mendengar Papa bernapas,” ucapku.

*

32


Tablo 6 32