Issuu on Google+


I S K A D E R SALAM Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan semesata alam, sholawat beserta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita baginda Muhammad Saw.

Penasehat : Husnul Amal Mas’ud, Prabowo Wiratmoko Jati.

Alhamdulillah, setelah melewati berbagai proses akhirnya majalah “La Kosbah : membangun benteng kreatifitas” dapat diterbitkan dengan tujuan membangun kreatifitas dan daya nalar semua warga NU di Maroko, mengembangkan gagasan, wacana keilmuan dan intelektualitas. oleh karnanya, media La Kosbah sebagai wadah penampung daya kreatifitas yang berbentuk tulisan yang dibingkai dengan sebuah kajian.

Pembina: Muannif Ridwan

Pada edisi pertama, kami mengambil tema kajian tentang “ HAJI”. Ritual ibadah tahunan ini tak habis-habisnya menjadi topik pembicaraan, yang memebrikan berbagai muatan pesan dari beberapa dimensi sehingga tak lekang dan selalu hangat dalam perbincangan khususnya pada bulan Dzulhijah.

Pemimpin redaksi : Dwi Anggraeni.

Tema utama kali ini merupakan pemaparan tentang haji dari aspek sejarah dan kebahasaan, ibadah haji sangat kental kaitannya dengan masa lampau, dan hikmah yang terkandung di dalamnnya merupakan manifestasi perjuangan penuh makna dari pada manusia pilihanNya.

Redaktur pelaksana : Khoirun Nasihin. Keuangan : Muhammad Nurul Alim Sidang Redaksi : Mahfudz Daud Syahid, Aqiel Maiyatullah.

Selanjutnya adalah pembahasan ritual- ritual ibadah haji dari berbagai dimensi dan muatan yang terkandung didalamnya, berbagai muatan pesan baik secara eksplisit maupun implisit. Prosesi yang dilalui dalam ritual ibadah haji merupakan rangkaian gerak kehidupan secara total, yang akhirnya menjadi pengalaman hidup spiritual yang mengakar secara universal. Dalam kajian selanjutnya pembahasan tentang ibadah haji sebagai penyempurnaan rukun Islam, serta esensinya secara global merupakan persatuan umat islam diseluruh dunia. Hal ini sangat erat relasinya dengan politisasi sholat berjamaah yang mana secara makro dapat mengumpulkan semua manusia dalam satu rangkain sebagai cerminan akurat dari kestupaduan umat muslim yang hebat. Sholat Jama’ah mengumpukan manusia, menyatukan mereka dalam satu barisan untuk berjalan dalam satu tujuan.

Editor : Durrotul Yatimah

Pembahasan ibadah haji erat relasinya dengan Kurban, bentuk pengorbanan harta sebagai persembahan kepada sang pencipta dan ras berbagi terhadap sesama mengandung muatan pertumbuhan ekonomi, yang mana jika setiap tahun minimal 10 persen yang berkurban maka lahan peternakan akan terus berkembang dan dapat menjadi asset penting dalam pertumbuhan ekonomi.

Desain & Lay out : KusnadiEl-Ghezwa

Pembahasan selanjutnya mengenai tokoh sebagai, figur yang patut diteladani dan cerminan kehidupan yang akan selalu dikenang.

Kontributor: PCINU Maroko

Simfoni kehidupan tak lepas dari sebuah kisah, cerita dan untaian kata. Sebagi perwujudan kerativitas seni yang akan mewarnai La Kosbah. Akhirnya semoga bisa memberikan manfaat dan pencerahan kepada semua pembaca. Salam Nahdloh Tim redaksi


Haji; upaya menggagas rekonsiliasi Oleh: Durrotul Yatimah Mahasiswi s2 Institut Darul Hadits-Rabat. Pengantar Apa yang bisa ditawarkan sejarah?. Ia penuh lebam, kusam dan noda-noda lusuh. Ia syarat senyum dan euforia kesuksesan. Ia juga menawarkan ambisi dan hasrat yang menyala-nyala. Ia pun syarat air mata. Sejarah semacam kue bakwan, campur aduk riuh redam. Al-Quran tahu betul psikologi berpikir manusia. Otak manusia, meskipun punya konstelasi rumit dan perlu banyak program untuk membenahi satu tugas sederhana ini ternyata punya pola khas yang unik. Manusia mudah terhanyut dalam tuturan kisah. Hikmah akan mudah meresap jika dibalut dalam alur dongeng. Sajian kisah yang mengisi hampir sepertiga isi Alquran diperuntukkan agar manusia mudah meneladani nilai yang di kandung. Dilanjutkan dengan puluhan ayat yang menerangkan agar manusia berpikir, merenung dan mengambil pelajaran dari apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. Ibadah haji pun, kental dengan muatan sejarah. Di setiap ritual yang dilakukan tersimpan kaitan erat dengan masa lampau. Karenanya, kali ini penulis berusaha untuk menyajikan ibadah haji di tinjau dari perspeksi kebahasaan sekaligus sejarah dan muatan hikmah yang terkandung di dalamnya dan sumbangsihnya terhadap masa depan umat Islam.

Dalam Lisan Al-Arab, masdar kh-j-j dengan mengkasrahkan huruf kha dimaknai sebagai isim haiah, yang artinya pelaksanaan ibadah haji cukup satu kali seumur hidup. Maka tentunya tak sesuai dengan apa yang telah di teladankan oleh Nabi jika kemampuan istitaah material kita di wujudkan dengan mengulang lagi ibadah yang statusnya kini sudah beralih sunnah karena selama hayat kewajiban menaikan ibadah haji cukup dilakukan sekali saja. Sepulang dari tanah haram, setelah mengisi kembali spirit keimanan selama pelaksanaan ibadah haji. Seseorang di tuntut untuk berlaku cerdas dalam bertindak; utamanya menyangkut persoalan membelanjakan harta. Dalam konteks Islam, harta yang dimiliki seseorang tak hanya melulu milik dia, akan tetapi ada hak-hak orang lain yang sengaja dititipkan Tuhan kepadanya. Karenanya zakat dan shadaqah disyariatkan sebagai solusi dari Sang Khalik untuk mengatur alur perputaran harta sekaligus sarana untuk pembersihan diri. QS At-Taubah ayat 103 menyebutkan dengan gamblang tentang nilai luhur ini: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”. Pemanfaatan harta pribadi dengan tidak memperhatikan pengimplementasian ayat diatas akan berakibat buruk bagi sistem perekonomian dan distribusi kekayaan dalam suatu masyarakat. Dalam tatanan social yang sehat, antara golongan miskin dan golongan berpunya perbandingannya seimbang, selain itu kalangan pemilik harta punya iktikad baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekelilingnya. Mengalih fungsikan harta yang sedianya akan digunakan untuk menunaikan ibadah haji sunnah untuk biaya pendidikan bagi golongan tak berpunya adalah solusi efektif untuk memajukan peradaban suatu bangsa, sekaligus ajang pembuktian bahwa kemanusiaan masih ada. Lalu bukankah mereka yang tak pandai memanfaatkan harta yang diamanatkan kepadanya, tak layak diberi tanggungjawab atas pengelolaan harta tersebut. Kecerdasan sosial yang terinspirasi dari buah perenungan atas pemaknaan ibadah haji yang hakiki akan membuat sebuah komunitas yang terhindar dari gelar masyarakat safiih seperti yang sekarang banyak diidap oleh banyak komunitas di berbagai belahan dunia sebagai akibat dari sistem ekonomi kapitalis dan liberal.

Aspek kebahasaan Selain bermakna al-Qasdu atau menyengaja, ada banyak makna kebahasaan terhadap kata hajja-yahujju; Al-Zabidy dalam Taj Al-Arus menyebutkan masdar hajja bisa berarti memeriksa, mengetes untuk pengobatan . Dari sini bisa kita simpulkan bahwa pelaksanaan ibadah ini punya tujuan tersendiri yaitu menguji kesiapan dan keimanan masing-masing pribadi yang akan melaksanakan haji. Pelaksanaan manasik haji juga secara khusus mensyaratkan kesiapan atau ‘Istithaah’. Dalam berbagai konteksnya istitaah bisa diartikan siap secara fisik, material, mental dan spiritualitas. Tanpa kesiapan yang matang dalam ranah spiritual, seseorang bisa limbung ketika dihadapkan pada kondisi saat jutaan manusia yang bermacam perangainya berkumpul bersama dalam satu tempat dan waktu untuk aktivitas dan ritual yang sama.

Haji dan tauhid Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dalam Jami’nya sebuah hadits berstatus hasan gharib namun dalam riwayat lain yang datang dari Imam Ahmad berstatus hasan yang berbunyi: Disini kita bisa melihat nuasa siklikal yang ingin di perlihatkan dari penyelenggaraan ibadah haji. Bahwa merujuk Sabda Nabi, doa terbaik yang bisa di lantukankan dalam momen Arafat ternyata justru doa yang sama yang mengumandang dari lisan nabi-nabi terdahulu. Nabi Muhammad, sekali lagi ingin menunjukkan bahwa ketauhidan kita adalah satu, sama persis dengan apa dibawa oleh para utusan generasi awal. Lalu, apa guna berselisih tentang mereka. Dan lebih pasnya lagi; jika tauhid umat Muhammad adalah satu, kenapa musti tak rela dengan sedikit perbedaan di ranah syariat.

Ibadah haji menjadi teristimewa karena Allah berkenan menjadikannya salah satu nama surah dalam Al-Quran (Al-Hajj). Dari 5 rukun Islam yang ditetapkan, hanya rukun ke-5 yaitu haji ke Baitullah yang diabadikan menjadi nama surat di Al-Quran. Pastinya ada hikmah yang hendak Allah beritahukan kepada umat Muhammad. Terdiri dari ayat 78 ayat, Ia unik karena ayat-ayatnya diturunkan di kedua kota suci, Makkah dan Madinah. Dinamai surat ini Al Hajj, karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syiar-syiar Allah, faidah dan hikmah-hikmah disyariatkannya haji. Meski begitu dalam surat ini juga disebutkan tentang ketauhidan dan bukti-bukti kekuasaan Allah, ini menunjukkan bahwa pensyariatan haji mengandung nilai-nilai luhur yang bahkan sampai hari ini pun banyak yang belum kita ketahui maqasid didalamnya. Peletakan ayat-ayat tentang keimanan berdampingan dengan ayat-ayat tentang manasikul hajj tentunya bukan suatu kebetulan yang tak disengaja.

Kesatuan menjadi krusial adanya jika mengobservasi kembali kondisi terkini umat Islam di berbagai belahan dunia. Perpecahan yang meruncing antar sekte atau madzhab seringkali melupakan esensi bahwa yang mereka baca 5 kali sehari tiap akhir shalat adalah syahadat yang sama; mengesakan Tuhan yang Tunggal dan bersaksi atas rasul yang sama.

Special Edition, November 2012 -

01

Agama ini sangat mengakomodir perbedaan; Al-Quran berkali-kali menegaskan tentang hal ini. Dalam Al-Quran terdapat tak kurang dari 59 ayat yang memuat kalimat kh-l-fa dan turunannya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perbedaan mustahil tak terjadi. Terlebih dalam penerapan syariat Islam. Kondisi geografis, sosiologi masyarat dan pola pikir suatu kaum akan sangat berpengaruh

Special Edition, November 2012 -

02


dalam menentukan hasil sebuah ijtihad. Apalagi jika menengok pada ranah fikih dimana Islam akan nampak jelas sekali keluwesan dan fleksibilitasnya. Karenanya berpikir kerdil dan melibas habis semua jenis perbedaan yang muncul justru malah akan melahirkan petaka. Tudingan sesat atau pentakfiran yang sering kita dengar gaungnya di banyak media cetak atau internet yang ditujukan kepada aliran atau kelompok yang bersebrangan pendapat kiranya perlu dikaji kembali apakah memang layak untuk di lakukan oleh umat nabi terakhir yang inti ajarannya adalah penyempurnaan akhlak. Rasul sendiri sudah menegaskan bahwa keberadaannya berada pada posisi juru penyempurna bagi perilaku dan akhlak umat Islam. Eksistensi Nabi Muhammad adalah penjaga bagi keberlangsungan kemanusiaan. Al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya pada hadits no. 25 bab orangorang bertaubat dan mendirikan shalat sebuah hadits riwayat Ibn Umar: “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengatakan Laa Ilaha Illa Allah, sesungguhnya orang yang mengatakan demikian telah selamat harta dan jiwanya kecuali atas apa-apa yang hak dan jaminannya pada Allah.” Rekonsiliasi Mina Ada yang sakral di Mina. di sana, para Hujjaj diwajibkan menginap 2 malam bagi mereka yang mengambil nafar awal, atau 3 malam bagi yang ingin menyempurnakan. Tak ada hal lain yang diwajibkan bagi para hujjaj di Mina selain berjalan sebentar menuju jamarat untuk menunaikan keharusan melempar pada 3 tugu, ulaa, wustha dan Aqabah. Selepas itu mereka di sunnahkan memperbanyak zikir dan doa. Namun, setelah menjalankan manasik di Arafah dan melempar jumrah, esensi haji ternyata belum usai. Di Mina, Tuhan menawarkan masa depan. Selama tiga hari berturut-turut, umat Islam dari segala penjuru dunia berkumpul bersama. Lalu, tidakkah momen ini begitu pas untuk menjalin komunikasi dan silaturrahmi dengan sesama saudara seiman. Dengan duduk bersama dan saling membagi cerita, tentu jalan untuk perbaikan di masa mendatang bisa diretas. Karenanya episode bermalam selama tiga hari di Mina inilah sesungguhnya puncak dari ibadah haji. Berhaji tidak hanya mengembalikan kesadaran religius antara agama-agama Ibrahim, tetapi lebih luas lagi kepada tradisi kemanusiaan sepanjang sejarah. Melaksanakan haji berarti mengembalikan ingatan panjang tentang persaudaraan umat manusia secara universal yang telah banyak dilupakan. Di Mina, mereka yang sunni atau syiah, mereka yang Maliki atau Syafi’i, mereka yang tradisional atau liberal semua berkumpul dalam satu tempat dan dimensi waktu yang sama. Tentu hal ini bisa menjadi sebuah momen hebat untuk saling membagi pemahaman dan bertabayun. Ini adalah waktu yang tepat untuk membangun pola pikir open minded yang tak melulu mendahulukan pema-

Special Edition, November 2012 -

03

haman pribadi namun juga menyertakan nuasa membuka diri menghormati keyakinan kelompok lain. Dan bukankah kesatuan tetap bisa dibina dalam berbedaan?. Allah berfirman dalam surat Al-Hajj 8: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya”. Dalam ayat ini ada poin penting yang ingin Allah tanamkan pada kita terkait dengan cara membangun relasi yang baik antar sesama pemeluk agama Islam. Jika kita cermati lebih dalam, sejatinya konflik yang sering muncul antar aliran dalam Islam sendiri lebih banyak terjadi pada kalangan grass root yang indikasinya disebabkan oleh ketidaktahuan dan pelabelan negatif terhadap suatu hal tanpa ada upaya mempelajari dan observasi terlebih dahulu. Sangat disayangkan jika yang menjadi akar suatu permasalahan ternyata cuma soal tak punya dalil dan ilmu yang mumpuni. Oleh karenanya momen mabit di Mina adalah ajang tatap muka serta rekonsiliasi pemimpin dan delegasi umat Islam di dunia agar bisa bersama-sama merumuskan suatu konsepsi tentang toleransi sebagai bahan wacana untuk masyarakat muslim di negara masing-masing. Hajjan Mabruron Buah termanis dari ibadah haji adalah gelar mabrur. Bahkan doa paling indah yang bisa dipinta jemaah haji manapun dari Rabbnya adalah satu “Allahumma Urzuqna Hajjan Mabruran wa Sa’yan Masykuran wa Tijaratan Lan Tabura”. Mabrur merupakan derivasi dari kata birr . Dalam Al-Quran penggunaan kata birr banyak di gunakan dalam konteks ibadah sosial. Firman-Nya: ‘’Kalian belum mencapai kebaikan (al-birr) hingga mampu mendermakan sebagian harta yang kalian cintai.’’ (QS Ali Imran: 92). Dalam ayat lain disebutkan: ”Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat- malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang- orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang nenepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS Albaqarah: 177). Bahkan dalam riwayat, Rasulullah ditanya, ‘’Apa makna mabrur?’’ Dijawab, ‘’Suka memberi makan (bantuan sosial) dan lemah lembut dalam bicara.’’ (HR Ahmad). Sekali lagi Al-Quran ingin mengingatkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa lepas dari konteks komunal yang melingkupinya. Sehingga bisa disimpulkan jika gelar mabrur yang merupakan anugrah bagi pelaku haji yang sempurna adalah pengejawantahan dari upaya untuk kembali pada kemanusiaan, maka seyogyanya tak perlu terlalu ngoyo mengejar titel haji atau hajjah, toh kita bisa menjadi mabrur setiap hari dengan menjadi peka pada persoalan-persoalan sosial yang terjadi di masyarakat dan mengaplikasian konsep birr pada setiap kata dan laku. Penutup Ibadah haji adalah cermin, tempat berkaca pada kilasan sejarah. Haji adalah pelajaran untuk merenung, membaca kembali, ia penuh dengan simbol-simbol untuk di napak tilasi. Karena umat Islam sekarang terlampau sering lupa, pada nilai-nilai historik yang diajarkan umat-umat terdahulu. Haji adalah membaca ulang sejarah. Seperti Al-Quran yang lembar-lembarnya banyak diisi kisah umat yang lalu untuk diambil teladan, haji pun berotasi pada kutub yang sama. Ia menawarkan sebentuk pengelanaan pada jejak-jejak masa lampau. Untuk kemudian menyerap kembali nilai yang ditinggalkan. Mengambil inti ketaatan, meraup benih pengorbanan, dan menggengam erat pengabdian abadi pada Sang Maha Mencipta.

Special Edition, November 2012 -

04


kan baik yang mencakup fisik maupun mental. Disamping itu Ibadah haji memiliki muatan vertikal dan horizontal sehingga ibadah haji memiliki tujuan dari berbagai dimensi theologis, historis, humanis, sosiologis, pisikologis, politis, idelogis dan sebagainya. Sebagai mana makna dari firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 28 “ supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat dan menginggat allah pada hari yang ditentukan.”

Oleh: Dewi Anggraeni

Haji secara eptimlogi “al qasd” yakni menuju, menyengaja atau mengunjungi. Sedangkan secara terminology menurut kitab-kitab fikih ialah: menuju ka’bah untuk melaksanakan ritual ibadah tertentu pada waktu tertentu tedengan syarat-sayarat dan rukun-rukun tertentu . Imam Taqi Uddin menegaskan diwajibkan ketika melaksanakan haji dengan niat secara absolut menghadap allah swt mendekatkan diri kepada-Nya, melepaskan diri dari segala sifat keduniaan yang merupakan sebab tertolaknya ibadah haji.

Pendahuluan Pada bulan dzulhijah, tanah suci kembali dibanjiri oleh jutaan umat islam dari seluruh pelosok dunia. Mereka berbondong-bondong mendatangi baitullah guna memenuhi panggilan illahi. Ibadah haji bukan merupakan rihlah tahuan semata bagi umat islam di seluruh dunia, ritual ibadah haji merupakan perintah ibadah yang bersifat tawqifi tanpa ada unsur ijtihad manusia di dalamnya. Ibadah haji merupakan penyempuraan keimanan sesorang, karna ibadah haji termasuk rukun islam terakhir. Aktivitas ibadah haji mencakup ritual- ritual ibadah jasmani dan ruhani, merupakan bukti pengorbanan sang hamba baik berupa fisik maupun materi. Melihat fakta yang ada, Negara Indonesia setiap tahunnya mengirimkan Jemaah haji terbanyak sedunia, menurut data yang ada dari tahun ke tahun jumlah jemaah haji meningkat baik yang menggunakan jalur pemerintahan yang bersifat umum maupun yang bersifat” khusus” (red.ONH Plus). Disini penulis melihat, Masyarakat Indonesia terbilang kaya yang mana dengan biyaya yang terus meningkat setiap tahunnya jumlah Jemaah haji ditanah air pun semakin mengingkat. Lantas bagiamana dengan problematika yang sedang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, disekeliling kita masih banyak kemiskinan, krisis moral, korupsi, dan lain sebagainya. Baru-baru ini berbagai media memberitakan kekecewaan para Jemaah haji yang tidak jadi berangkat melalu jalur “ khusus” karna mereka tidak memiliki izin resmi dari pemerintah. Belum lagi berita mengenai Jemaah haji Indonesia yang melakukan pencurian di tanah suci. ironis memang, keakuan manusia mengikiskan esensi sebuah ibadah yang pada hakekatnya menggapai ridho illahi dan kebahagiaan manusia itu sendiri. Dari problematika hingga akhirnya menjadi polemic. padahal syariat telah memberikan solusi dengan menanamkan nilai-nilai sebuah ibadah baik yang berupa ibadah mahdoh ( vertical) maupun yang bersifat horizontal (ghoiru mahdoh). Esensi Ibadah Haji Bertolak dari penyempuraan rukun islam maka setiap muslim senantiasa berpacu agar dapat memenuhi panggilan melaksanakan ibadah haji. lebih jauh dari sekedar penyempurnaan rukun islam, ibadah haji menyimpan makna esoteris dalam setiap ritual yang dilaku-

Special Edition, November 2012 -

05

lebih luas dari pada itu, ibadah haji, menurut pemahaman Ali Syari’ati dalam kitabnya “Al Faridatul Khomishoh", merupakan kepulangan manusia kepada Allah yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai dan fakta-fakta. Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk 'berkembang'. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada-Nya . Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non-ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk nyata atau simbolik dan semuanya, pada akhirnya mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan universal. Nilai-Nilai Esoteris Ritual Ibadah Haji Ibadah haji terdiri dari rangkain-rangkain ritual yang saling berkesinambungan, merupakan warisan tardisi turun-temurun yang didalamnya terdapat pesan baik secara eksplist maupun inplisit yang kerap mendekati makna esoteris. Muatan nilai-nilai yang terismpan dalam ibadah haji itulah yang akan mengantarkan kepada sejatinya manusia sebagai hamba, dan mahluk sosial. Diantara ritual dalam ibadah haji ialah: Ihram : Disinilah pijakan pertama kali ritual ibadah haji di mulai, meliputi mandi sunah, mengenakan pakaian ihram, niat dan sholat sunah 2 rakaat. Niat merupakan pilar bagi semua ibadah. Maka tidak salah jika nilai sebuah ibadah tergatung pada niatnya dan kesempurnaan ibadah terletak pada prakeknya. Dalam Ihram terdapat makna esoteric yang dinukil dari makna dialog antara imam Ali Zainal Abidin dengan salah seorang sahabat beliau As Syabili. Suatu ketika imam As Syabili ditanya “ apakah engkau telah melakukan haji, kemudian ketika sampai dimiqat mandi sunah sebelum mengenakan pakain ihram dan berniat?”. As Syabili menjawab :” ia wahai cucu rasulullah”. Imam Ali Zainal Abidin kemudian melanjutkan “apakah ketika engkau mandi sebelum mengenakan pakaian ihram, dengan sepenuh hati engkau membersihkan dari dari semua kotoran yang bersifat duniawi, dan membasuhnya dengan tobat. Kemudian ketika kau mengenakan pakaian ihram kemudian berniat untuk melakukan haji kau melepaskan semua perjanjian dengan manusia dan melakasanakan perjanjian dengan tuhan, kau menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Sep-

Special Edition, November 2012 -

06


erti seorang bayi yang terlahir dengan fitrohnya, sebagai mana simbol warna yang engkau gunakan dan engkau pergi menziarahi rumah-Nya semata-mata mengharapkan ridho-Nya. Ketika engkau sholat didepan ka’bah apakah engkau benar-benar berdialog dengan sang pencipta, tanpa ada unsur lain selain-Nya dan engkau benar-benar merasa dirumah-Nya. Kau melihat masjid haram menyaksikan keagungan Allah Swt. Saat itu pula kau mengaharamkan dirimu dari segala bentuk maksiat. Saat dimana lisan mu mengucap talbiyah dengan sepenuh hati kau menyambut undangan dari sang pencipta untuk menggapai ketaqwaan. Jika kau tidak memaknai itu semua maka kau belum melakukan ibadah haji.” Dari dialog diatas dapat kita tarik makna Ihram secara esoteris dan dapat kita simpulkan, dalam Ihram terdapat berbagai muatan nilai berupa theologis bahwa esensi haji absolut sebagai bentuk panghambaan kepada sang pencipta, dengan niat pengesaan tanpa elemen-elemen duniawi. Sementara dari dimensi pisikologis setiap manusia akan merasakan gejolak jiwa ketika bertemu dengan yang disukainya, baik berupa perasaan senang, khawatir, takut dan lain sebagainya. Seperti hal nya ketika Ihram saat melepas semua pakaian berjahit dan berniat melakukan haji dengan segala bentuk ritual yang disyariatkan, berbagia rasa berbaur dalam hati manusia. Hingga mencapai sebuah puncak pengalaman spiritual manusia yang bersifat universal. Thawaf: yakni mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Al Qur’an menyebutkan Ka’bah merupakan rumah yang pertama kali dibagun (lht surat Al-Imran:96), Pelatakan batu pertama oleh nabi Ibrahim As pada central bumi berdasarkan ilham ilahi, Ka’bah secara vertikal satu titik dengan baitul ma’mur yakni tempat dimana para malaikat bertawaf. Sains telah mengungkap sebuah fakta bahwa Ka’bah terletak di central bumi, sebagi simbol rotasi alam semesta dimana matahari sebagai pusat tata surya dikeliling oleh pelanet-pelanet. Disebutkan dalam riwayat bahwa ritual thawaf pertama kali dilakukan oleh nabi Adam As. Sebagi bentuk tobat kepada Allah Swt. Ka’bah dikelilingi oleh jutaan umat muslim diseluruh dunia dengan membentuk putaran yang memusat pada satu titik, dengan penuh pengharapan, kerendahan diri dan penyucian jiwa. Semua manusia ketika berthawaf memusatkan gerakan kepada Ka’bah meski himpitan dan desakan tak dapat dihindari. Thawaf merupakan syimbol perjuangan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menyatukan langkah dan memusatkan hati kepada eksisensi sang pencipta. Sehingga ketika ideology manusia terpusat pada eksistensi sang pencipta maka segala elemen yang ada mengitari pusatnya dan keridhoan Allah Swt lah merupakan hadiah terindah dalam kehidupan. Sa’i: secara literal berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah selama tujuh kali putaran, banyak para ulama menafsirkan makna dibalik angka tujuh, diantaranya tujuh lapisan langin dan bumi, namun apapun makna dibalik itu semua, ritual Sa’i dengan tujuh kali putaran bersifat tawqifi dan hakikat sebenarnya hanya diketahui oleh sang pencipta. Sa’i memiliki syimbol eskistensi perjuangan hidup manusia bahwa kehidupan selalu bergerak dan usaha merupakan bukti dari pada pergerakan hidup. Secara historis Sa’i dilakukan pertama kali oleh seorang perempuan yang bernama Siti Hajar, beliau berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa selama tujuh kali, guna mencari air

Special Edition, November 2012 -

07

untuk sang buah hati yakni Ismail As. Kala itu mereka berdua berada padang pasir yang tandus tanpa oase maupun pepohonan. Demi bertahan hidup sang buah hati, sang ibu bersusah payah mencari air, karna airlah merupakan sumber kehidupan. “ Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu”(QS.Al Anbiya:30) Hemat penulis, disini ada hal yang menarik untuk disimak. Ada simbol perempuan dalam perjuangan, kasih sayang dan tanggung jawab. Ketika ia sendirian tanpa seorang suami, hanya berdua dengan sang buah hati yang saat itu tak henti-henti menangis, dengan kondisi fisik yang lemah hingga tak dapat memberikan ASI, sosok Hajar begitu kuat dengan segala keterbatasn fisik ia mampu berlari-lari mencari sumber kehidupan, satu dua kali bahkan sampai tiga kali hingga tujuh kali dia tak putus asa terus dan terus berlari hingga akhirnya ia menemukan pancaran air dari kaki sang bayi. Dalam kelemahan seorang perempuan terdapat harapan serta semangat yang kuat dan bukti dari pada kasih sayang seorang ibu kepada sang buah hati segala pengorbanan akan ia perjuangkan. Tokoh Siti Hajar mewakili sosial kultural saat itu dimana kedudukan wanita dipandang rendah, dan identitas Hajar sebagai budak dari kasta rendah, yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat kala itu. Namun Allah Swt melalu sosok Siti Hajar mengangkat derajat perempuan tanpa memandang identitas sosial semua sama dihadapan sang pencipta. Bukti ketaatan perempuan sebagai seorang istri, yang ditinggalkan suaminya dipandang pasir yang tandus masih terkenang sampai saat, bukti dari perjuangan seorang ibu untuk sang buah hati kini menjadi ritual suci dalam ibadah haji. Air zam-zam sampai saat ini terus mengalir, bersih dan penuh berkah mengisyaratkan bahwa layaknya manusia mencari sumber kehidupan yang bersih, halal sehingga memberikan keberkahan. makna esoteris lain dari sa’i ialah laykanya manusia melepaskan dirinya dari rasa takut dan hanya berharap kepada Allah Swt. Wuquf Arafah: wuquf merupakan pilar utama dari ibadah haji sebagai mana sabda Rasulluallah Saw.” Al haju arafah” . Wuquf di Arafah merupakn ritual yang paling sakral dalam prosesi ibadah haji. Wuquf secara eptimologi yakni berdiam diri. Dalam ayat-ayat al qur’an terdapat banyak kolerasi antara haji dengan mengingat Allah Swt. Dalam surat Al Baqarah ayat 199-203 disebutkan esensi ibadah haji secara berurutan yakni mengingat Allah Swt. Sehingga wuquf memiliki makna berdiam diri dipadang yang luas untuk mengingat Allah Swt. dengan berdoa dan berkontemplasi memaknai hakikat siapa diri ini dan kemana akan kembali. Wuquf memiliki pesan elgaliter semua manusia dari seluruh penjuru dunia, tanpa memandang ras, suku, martabat, tahta, bahasa dan lain sebagainya. Mereka berada dalam satu tempat yang sama, dengan satu kain pakaian yang sama, dibawah sengatan sinar matahari, semua sama-sama bermunajat kepada Allah Swt. Tak ada yang membedakan satu sama lainnya dihadapan Allah Swt. Kecuali ketakwaan. Semua manusia akan berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Wuquf merupakan gambaran hari mahsyar, dimana kelak seluruh manusia dikumpulkan dibawah sengatan matahari tanpa sehalai kain, hanya amal merekalah yang menentukan. Sebagai mana Allah Swt. Berfirman dalam surat Al Syu’ura:88-89 “Hari di mana harta dan anak-anak tak akan berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang

Special Edition, November 2012 -

08


bersih. Dan di hari itu didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka kepada orang- orang yang sesat)”. Pesan wuquf dari dimensi pisikologis, ketika manusia merasa satu perasaan, memiliki persamaan maka akan menimbulkan rasa saling memiliki, saling mengasihi dan menimbulkan persaudaraan. Dari persaudaraan ini lah timbul persatuan. Dalam skala besar makna persatuan umat muslim diseluruh dunia merupakan sumber kekuatan Islam. Wuquf memberikan cerminan humanism terhadap sesama, ketika kita memahami hakikat maka semua sama tak ada status. Kelas yang memetakan derajat manusia. Hanya ketaqwaanlah yang membedakan mahluk dihadapan sang pencipta. Disamping itu wuquf merupakan manifestasi kebahagiaan manusia, dengan menanamkan nilai-nilai wuquf manusia maka akan terrealisasi ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Karna hakikat hidup dengan mengingat Allah Swt kita tahu siapa sejatinya diri kita. Melempar jumroh: yakni melempar tujuh kali batu di mina pada tiga tempat yakni jumrah aqobah, wusto dan ula. Melempar jumroh merupakan simbol pengusir syetan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Ketika beliau hendak melaksanakan perintah Allah Swt. Untuk menyembelih Nabi Ismail As. Melempar jumroh memiliki makna pembersihan sifat-sifat kesetanan dalam diri manusia, keegoistikan dan simbol nyata bahwa setan merupakan musuh manusia artinya pelemparan batu yang berkali-kali dan dalam tempat yang berbeda, mengisyaratkan bahwa dengan segala macam cara syetan akan mengajak anak cucu adam dan menyesatkannya dari jalan yang lurus. Makna esetoris dari melempar jumroh pembebasan hati manusia dari hawa nafsu dan menjauhi perintah syetan, menuju kepada ketaatan yang hakiki. Berqurban: Secara eptimologi yakni dekat atau mendekatan diri. Dalam Haji berqurban berarti mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyembelihan ternak yang merupakan simbol kepatuhan dan ketaatan sebagai salah satu bentuk ketaqwaan kepada Allah Swt.

miskin atau dimiskinkan oleh struktur sosialnya merupakan komitmen utama Islam. Menyembelih hewan adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang menyesatkan dan yang seringkali tidak peka dan tak peduli terhadap penderitaan orang lain. Prosesi terakhir dalam ritual ibadah haji ialah tahalul, yang merupakan rasa syukur dan pembersihan jiwa dari hal-hal yang kotor, memotong rambut dari sebagaian anggota badan merupakan simbol membersihkan jiwa. Penutup Haji bukan hanya merupakan ritual tahunan semata, bukan pula sebagai rihlah tahunan. Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang menyimpan muatan nilai ibadah secara vertikal dan horizontal. Segala bentuk pengerboanan baik berupa fisik dan materi dalam menggapai kesempuranaan ibadah dan penyempurnaan rukun Islam, sangat disayangkan jika pulang ketanah air hanya sekedar menyandang sebutan “haji” setelah melalu proses panjang perjalanan spiritualitas manusia secara universal. Makna yang yang ada dalam ibadah haji baik secara ekpilist maupun inplisit dan esoteris inilah selayaknya diaplikasikan oleh umat muslim dalam kehidupan sehari-hari. Dalam segala bentuk ibadah apapun jika nilai-nilainya tertanam dalam pribadi muslim maka segala problematika kehidupan akan dapat terpecahkan, karna sejatinya pribadi muslim itu sendiri sebagai solusi. Prosesi yang telah dilalui dalam ritual ibadah haji merupakan rangkaian gerak kehidupan secara total, yang akhirnya menjadi pengalaman hidup spiritual yang mengakar secara universal. Semoga dengan mengaplikasikan segala nilai-nilai ritual ibadah haji. Para haji bisa menjadi haji mabrur serta menjadi agen-agen perubahan social. Yang dapat mewujudkan cita-cita bangsa serta menanamkan nilai-nilai yang termaktub dalam idelogi bangsa.

Dimensi historis qurban merupakan puncak pengorbanan tertinggi dari bapa pada nabi setelah melewati fase-fase ujian dan cobaan yang begitu berat, sampai akhirnya nabi Ibrahim As. Dapat melewati segala proses tersebut. Nabi Ibrahim sebagai simbol seorang ayah yang merelakan anaknya di kurbankan, padahal sang buah hati sangat disayanginya, sejak kecil ikatan seorang ayah dengan anaknya terpisahkan, ketika menginjak dewasa nabi Ibrahim As. Harus mempersembahkan sang buah hatinya kepada sang pencipta. Artinya kurban merupakan totalitas kepasrahan, kerelaan seorang hamba. Dan merupakan persembahan terbaik dari seorang hamba. Karna persembahan terbaik itulah yang akan diterima oleh Allah Swt. Sebagaimana dikisahkan oleh kedua anak Adam, Qabil dan Habil (lihat. Qs. Al Maidah:29) Selain itu, kurban adalah simbol perjuangan manusia mewujudkan solidaritas sosial-ekonomi demi kesejahteraan bersama. Rasyid Ridho menyatakan, bahwa: “ ibadah qurban melambangkan perjuangan kebenaran yang menuntut tingkat kesabaran, ketabahan dan pengorbanan yang tinggi”. Pandangan ini mengajak kita untuk menaruh perhatian yang tinggi kepada dimensi moral d an perjuangan kemanusiaan ini. Dan semua harus terus diperjuangkan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial. Kepemihakan Islam terhadap komunitas manusia yang

Special Edition, November 2012 -

09

Special Edition, November 2012-

10


nomor satu dalam urusan ternak. Kita tidak perlu menguasai nuklir untuk mengendalikan dunia, cukup menguasai separuh produksi daging dunia, negara-negara lain sudah repot kalau kita ngambek. Bayangkan! Berapa juta lapangan pekerjaan yang akan terbentuk jika ada 6 juta ekor kambing atau sapi yang disembelih setiap hari raya kurban?. Tidak terbayangkan banyaknya, dan pastinya akan menjadi solusi alternatif dalam penanggulangan pengangguran di bumi Indonesia yang katanya mencapai puluhan juta itu . Dan efek domino dampak ekonomi dari kurban ini bisa panjang sekali. Bukan cuma peternakan, juga industri pengalengan daging (karena jelas daging-daging itu over supply saat hari raya kurban dan harus dikalengkan), distribusi, pakan ternak, termasuk manfaat bagi penduduk kelas bawah (miskin), mereka bisa memperoleh konsumsi daging sepanjang tahun.

Faktor Economy Neglect dari Pelaksanaan Kurban Oleh: Muhammad Nur Alim Mahasiswa S1 Universitas Imam Nafie, Tanger. Indonesia memiliki total 202,8 juta penduduk beragama Islam (88% dari total populasi), dari angka tersebut, jika mengacu pada rilis data kelas menengah Indonesia, maka setidaknya ada 60 juta penduduk Islam kelas menengah di Indonesia. Ciri khas penduduk menengah itu, punya pendapatan tetap dan mampu memenuhi kebutuhan premier, sekunder bahkan tersier. Memang banyak definisinya dan sering menjadi perdebatan , tapi saya tidak akan menghabiskan waktu untuk membahas definisi, kita gunakan saja definisi keluarga menengah versi modifikasi.

Asupan gizi mereka membaik, anak-anak mereka bisa lebih kuat , cerdas dan pintar. Bayangkan jika 6 juta kambing dilepas di Jakarta, maka dia akan memenuhi setiap jalanan ibu kota terbesar ini. Selalu ada 'misteri' dari setiap perintah Tuhan dalam agama kita. Puasa, tidak pernah sesederhana itu. Shalat, juga tidak pernah sesederhana itu. apalagi untuk perintah yang melibatkan kemaslahatan orang lain seperti tolong menolong, zakat, infaq dan berkurban. Rasa-rasanya, jika ada yang mau memikirkan, itu boleh jadi lebih kongkret dan nyata memperbaiki ekonomi umat dibanding kita berdiskusi lama tentang urusan lain yang tidak berujung dan sedikit maslahatnya.

Penduduk kelas menengah adalah keluarga yang memiliki penghasilan 2 s/d 11 juta/bulan (dengan anggota keluarga ayah, ibu, dan 2 anak). Inilah golongan menengah. Menurut proyeksi Financial Times, penduduk Indonesia yang mengeluarkan konsumsi rata-rata 45 juta-135 juta/tahun akan mencapai 58% di tahun 2020, separuh lebih. Sekarang kita beralih tentang prosentase jumlah binatang kurban yang dipotong .untuk tahun lalu, berapa jumlah kambing dan sapi yang dipotong untuk kurban?. Jawabannya tidak TERDATA. Ini akan menjadi kritikan untuk lembaga survey dan khususnya umat Islam Indonesia yang kurang kritis dan menyepelekan informasi seperti ini pada era sekarang. Tapi jika mengacu pada data beberapa lembaga amil zakat nasional, lantas memperhitungkan yang dipotong-potong di masjid atau lembaga informal, maka sekali lagi perkiraan saya, tidak akan lebih dari 200.000 ekor (di luar yang dipotong oleh jamaah haji di Arab Saudi). Apakah jumlah 200 ribu itu banyak? Sedikit sekali. Itu hanya 0,33% dari angka total 60 juta penduduk kelas menengah Islam Indonesia. Apa yang akan terjadi jika kita berhasil menanamkan kebiasaan berkurban di umat Islam kita?. Tidak usah muluk-muluk semua jadi berkurban, katakanlah 10% saja berkorban (atau setiap rumah satu ekor seperti kebiasaan di Maroko), maka kita akan punya 6.000.000 ekor kambing atau sapi yg dipotong setiap tahun. Sungguh angka yang fantastis. Dengan diikuti pola kebijakan pemerintah yang tepat, pemberdayaan para peternak lokal, insentif, dan sebagainya, bangsa ini bisa jadi bangsa Special Edition, November 2012 -

11

IN MEMORIAM 1000 DAY OF ABDURRAHMAN "GUSDUR" WAHID PASSED AWAY Special Edition, November 2012 -

12


lan yang paling utama. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata; Ditanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: 'Amal apakah yang paling utama?. Beliau menjawab: Iman kepada Allah dan rasulNya. Kemudian ditanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: Al Jihad fii sabiilillah. Kemudian ditanya lagi: Kemudian apa lagi? Beliau menjawab: Hajjun mabrur . Ibadah haji merupakan fase “Providable” bagi seorang muslim. Bagaimana tidak? haji merupakan bagian ke-5 dari rukun Islam. Tidak sempurna keislaman seseorang sampai ia mampu untuk menunaikan haji. Bahkan, Allah akan mencatat pahala orang yang pergi haji untuk orang lain yang sudah meninggal. Tentu, dengan syarat orang itu sudah melaksanakan haji untuk dirinya sendiri. Dalam hadits disebutkan bahwa seorang wanita bertanya kepada rasulullah saw : “Ya Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah terhadap para hamba-Nya tentang haji, diturunkan ketika ayahku sudah dalam keadaan sangat tua. Ia tidak dapat tegak (mapan) berada di atas punggung binatang tunggangannya. Apakah saya boleh menghajikan untuknya?”. Nabi menjawab : “Ya”. Hal itu terjadi pada haji wada’. (HR. Shohih Muslim)“.

IBADAH HAJI ; Menuju Kesempurnaan dan Persatuan Oleh: Muannif Ridwan Mahasiswa s1 Universitas Imama Nafie-Tanger. Haji menurut harfiah mempunyai arti menyengaja, menuju atau mengunjungi. Menurut istilah syara', haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalanamalan ibadah tertentu pula . Haji disyariatkan dalam Islam pada tahun ke 9 H, dan merupakan rukun terakhir dari rukun Islam yang lima. Allah berfirman dalam Al-Qur’an : “ Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Al- Imran : 97) Disyariatkannya ibadah haji, tidak lain mengandung beberapa hikmah dan pembelajaran bagi umat Islam. Diantaranya ialah apa yang termaktub pada judul diatas, yaitu sebagai proses menuju kesempurnaan dan persatuan umat Islam. Jika demikian, dapat dipahami bahwa ibadah haji mempunyai nilai urgent dalam membangun perkembangan social humanity maupun faith religious masyarakat muslim. Seorang misionaris Kristen, Richard Barton (1821- 1890) pernah berkata : “Saya telah melihat ritual keagamaan di banyak bagian bumi, tapi saya belum pernah melihat apa yang paling bermartabat dan berpengaruh daripada yang pernah kulihat disini (padang Arafah)”. Tentu, kita pasti ingat bagaimana bapak, Ibu, ataupun keluarga terdekat kita berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk bisa berangkat ke Mekkah demi menunaikan ibadah haji. Bahkan, mereka rela untuk menunggu giliran pemberangkatan selama kurang lebih 4-5 tahun. Hal itu dilakukan, tidak lain karena kerinduan mereka akan sebuah ritual yang melambangkan kepasrahan total pada Sang Khalik, baik itu dalam bentuk jasmani dan rohani. Umat Islam harus menyadari Syiar “labbaikallahumma labbaik” dalam haji, sebagai bentuk proses pemasrahan diri untuk lebih konsisten dalam menjalankan ibadah. Sehingga tidak terdengar lagi kasus orang muslim yang sudah haji, namun tidak mengerjakan shalat, enggan mengeluarkan zakat, berjudi, minum khamr, korupsi, suap menyuap dan mengerjakan perbuatan nista lainnya. Syiar “labbaikallahumma labbaik” adalah sebuah slogan kuat untuk melaksanakan jihad yang paling besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Maka, tidaklah mengherankan jika Rasulullah mengatakan bahwa haji mabrur termasuk dari ama-

Special Edition, November 2012 -

13

Ibadah haji sebagai slogan persatuan umat Islam Tidak diragukan lagi, bahwa haji merupakan simbol persatuan umat Islam. Ketika sekumpulan manusia berkumpul di padang arafah tanpa melihat perbedaan ras, suku, warna kulit, status, dan martabat. Mereka disatukan oleh sebuah ideologi agama yang kuat dan bersifat mengikat antara satu dengan lainnya. Sebuah fenomena yang menggambarkan bahwa umat Islam adalah satu umat. Allah berfirman dalam surah al- Mu’minun ayat 52 yang artinya : "Sesungguhnya ini, adalah umat kamu, umat yang satu. Dan Aku (Allah) adalah Rab (Tuhan)mu, maka bertakwalah kepada-Ku (Allah). ” Rasulullah saw sebagai pemimpin ulung sangat memahami pentingnya arti sebuah persatuan antar umat Islam. Dan Ibadah haji merupakan momentum yang sangat tepat untuk menyampaikan risalah persatuan, mengingat umat Islam dari berbagai suku dan negara berkumpul pada hari tersebut. Bahkan pada awal sejarah Islam, rasululullah menggunakan momentum haji untuk menyampaikan risalah Islam kepada suku yang berasal dari luar arab. Dalam hadits disebutkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda di tengah hari Tasyriq: “Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa Tuhanmu itu satu, bapakmu juga satu, ketahuilah tidak ada kelebihan orang arab atas orang selain arab, tidak pula orang merah atas orang hitam atau orang hitam atas orang merah kecuali karena ketaqwaannya. Maka, sebuah hal yang tabu jika ada seorang muslim yang memandang rendah muslim lainnya karena ia berkulit hitam, bermata sipit, miskin atau karena ia mempunyai status warga negara lain. Bahkan lebih disayangkan lagi, ketika ideologi persatuan umat diselewengkan menjadi ideologi untuk kepentingan politik praktis, yang nantinya akan membawa umat Islam terjerat dalam arus destabilisme sosial masyarakat. Domingo Badia Leblish (1766 - 1818), seorang misionaris Kristen berkata : “Setiap orang tidak akan bisa menggambarkan fenomena yang terjadi dalam haji secara global, kecuali setelah berdiri di gunung Arafah. Disana terdapat kerumunan manusia yang tidak bisa dihitung dengan angka, berasal dari semua bangsa, dan warna. Mereka datang untuk menyembah Allah meskipun bahaya dan kengerian senantiasa menemani. Disana, orang Qafqaz mengulurkan tangannya pada orang Habsyah, Afrika, Hindia, dan Ajami’. Mereka dapat merasakan arti persaudaraan dengan orang Barbar dari Marakech. Mereka menganggap semuanya adalah saudara dan anggota keluarga”.

Special Edition, November 2012 -

14


akukan penyelidikan dan penggalian yang terus menerus sesuai dengan pandangan akal pikirannya. Dalil ini pula yang akan membawa kepada pengetahuan yang benar sesuai dengan ketentuan dalam Al-Qurán.

Al-Kasyfu An Manahiji al-Adillah Fi Aqaid al-Millah (Membedah Metodologi Dalil dalam Teologi Agama) Oleh :Khoerun Nasihin Mahasiswa s1 Universitas Imam Nafie-Tanger. Dalam rangka mengenang 8 abad wafatnya seorang ulama besar asal Maroko, Ibnu Rusyd, yang mempunyai pengaruh besar pada kebangkitan Eropa kisaran abad 12-13 M, Markaz Dirasat alWihdah al-Arabiyah mencanangkan program untuk pembedahan kembali buku-buku karya Ibnu Rusyd. Program ini berada di bawah pimpinan langsung ilmuwan sekaligus pemikir asal Maroko Muhammad Abid al-Jabiri. Diantara buku yang diterbitkan adalah buku Al-Kasyfu An Manahiji al-Adillah Fi Aqaid al-Millah yang ditulis oleh Ibnu Rusyd sebagai kritik nalar terhadap kelompok ahli kalam yang menyebar luas kala itu. Buku ini terasa istimewa karena pada terbitan edisi ini, yang memberikan kata pendahuluan dan syarah adalah Muhammad Abid Al- jabiri, ketua program pengajaran di Markaz. Buku ini merupakan kritik nalar Ibnu rusyd terhadap Ilmu Kalam, dan madzhab Asy’ari pada khususnya. Di akhir fase nanti, penulis berkesimpulan bahwa pendapat para ahli kalam adalah nihil dan tidak cocok untuk diterapkan sebagai pengajaran bagi masyarakat awam maupun ulama. Berkenaan dengan pengkhususan madzhab Asy’ari sebagai objek utama, bukan dikarenakan sifatnya sebagai salah satu kelompok kalamiyah, yang bertentangan dengan kelompok kalamiyah yang lain atau dengan penulis sendiri. Melainkan karena pada waktu itu, madzhab Asy’ari sedang berada dalam sebuah fase pengembangan menyeluruh dalam bidang ilmu kalam. Adapun tema atau inti buku yang ingin disampaikan oleh penulis, kita dapat melihatnya dari sampul buku tersebut, yang mengindikasikan bahwasanya penulis menolak dan membantah metodeologi yang digunakan ahli kalam sebagai sebuah ideologi absolut. Permasalahan yang berkaitan dengan ketuhanan didalam metodeologi mereka (khususnya teologi Asy’ari), dikupas dan dibantah oleh Ibnu Rusyd dengan menggunakan dalil naqli maupun dalil aqli. Seperti nalarisasi ‘Hudutsu al- alam’ untuk mengetahui keberadaan Tuhan, penulis mengatakan bahwa teori ini tidak sesuai dengan tujuan (maqshad) yang diinginkan oleh syariat. Dan sebagai gantinya, Ibnu Rusyd menawarkan sebuah metode yang dikenal dengan sebutan Dalil ‘Inayah wa Dalil Ikhtira. Dalil Inayah yakni dalil yang mengemukakan bahwa alam dan seluruh kejadian di dalamnya, seperti siang dan malam, matahari dan bulan, semuanya menunjukkan tentang penciptaan yang teratur dan rapi, berdasarkan atas ilmu dan kebijaksanaan. Dalil ini mendorong orang untuk mel-

Special Edition, November 2012 -

15

Sedangkan dalil Ikhtira’, merupakan asumsi yang menunjukkan bahwa penciptaan alam dan makhluk di dalamnya tampak jelas dalam gejalagejala yang dimiliki makluk hidup, semakin tinggi tingkatan makhluk hidup itu, semakin tinggi pula berbagai macam kegiatan dan pekerjaannya. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan, sebab apabila terjadi secara kebetulan tentu saja tingkatan hidup ini tidak berbeda-beda. Inilah yang menunjukkan bahwa semuanya ada yang menciptakan dan mengaturnya. Dalil ini sesuai dengan syariat Islam, dimana banyak ayat yang menunjukkan perintah untuk memikirkan seluruh kejadian di alam ini. Dalam buku ini, pembaca akan menemukan beberapa kesulitan. Hal itu dikarenakan penulis menggunakan beberapa istilah teologis dalam tulisannya, seperti Jawharul Fardi, al-Ardhu, alTauhid wal al-Adlu, al-Wa’du wal Wa’ied ‘inda Muktazilah, dalil al-Inayah wa al-Ikhtira. Selain itu, pembaca juga dituntut untuk bisa membedakan antara mantiq, filsafat, & ilmu kalam. Sebab penulis mengkritisi metode teologi ahli kalam dengan memberikan respon positif terhadap metode teologi ahli mantiq dan filsafat. Pendapat ini akan kita temukan dalam bab al-Ilmu wa al-Mantiq Aqrabu ila ad- Din min Aqawil al-Mutakallimin (Ilmu dan Mantiq lebih dekat kepada agama daripada perkataan ahli kalam). Namun, kesulitan itu terasa ringan dan mudah jika kita menyimak kata pengantar & syarah (penjelasan) buku, yang tersusun dengan susunan penulisan yang harmonis antara bagian satu dengan bagian lainnya. Serta penggunaan pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya bahasa arab yang mudah dipahami. Buku ini layak untuk dibaca bagi pelajar islam, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di negeri Maroko, mengingat penulis dan pensyarah buku berasal dari negeri yang berjuluk 1000 benteng ini. Khusus bagi pelajar islam Indonesia, dalam buku ini mereka akan menemukan sebuah kritik nalar yang sistematik terhadap teologi Asy’ari, teologi yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Special Edition, November 2012 -

16


dalam seminggu mereka bisa khatam satu kali. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang kebanyakan, bahkan oleh orang yang hafal al-Qur’an sekalipun.

Oleh: Tasfiyatul Fikriyyah Mahasiswi s1 Universitas Imam Nafie-Tanger. Selain sebagai figur sentral, keberadaan ulama bagi kita juga dijadikan sebagai rujukan dan panutan. Sebagai Waratsatul Anbiaya’, maka kita tidak hanya perlu mengikuti fatwa dan uswatun hasanahnya, tetapi juga perlu kita ketahui kepribadiannya. Untuk dapat kita jadikan landasan dan pijakan yang layak dicontoh ahlaqul karimahnya. Selain dikenal dengan sebutan Kota Kretek, Kudus juga dikenal sebagai Kota Religius atau lebih mendasar lagi dikenal dengan sebutan Kota Santri. Pasalnya, banyak di antara santri yang menuntut ilmu di kota yang kharismatik yang menjadi panutan masyarakat sekitar Kudus. Kudus adalah kota yang unik dan menarik. Unik karena ia merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang mengambil nama dari bahasa Arab Qudus yang berarti suci. Menarik karena di kota ini pula terdapat beberapa tempat peninggalan seja-rah seperti Masjid al Manar atau al Aqsha (yang kemudian lebih populer dengan sebutan Masjid Menara Kudus), makam Sunan Kudus, makan Sunan Muria dan Masjid Muria yang berdiri kokoh di puncak gunung. Di antara sekian banyak ulama di kota Kudus banyak ulama di kota Kudus yang menjadi tauladan bagi masyarakat adalah beliau Almarhum wal Maghfur-lah KH. Arwani Amin. Sekitar lebih 100 meter di sebelah selatan Masjid Menara Kudus, tepatnya di Desa Madureksan, Kerjasan, dulu tersebutlah pasangan keluarga shaleh yang sangat mencintai al-Qur’an. Pasangan keluarga ini adalah KH. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah. KH. Amin Sa’id ini sangat dikenal di Kudus Barat (kulon:bhs.jawa) terutama di kalangan santri, karena beliau memiliki sebuah toko kitab yang cukup dikenal, yaitu toko kitab Al-Amin. Dari hasil berdagang inilah, kehidupan keluarga mereka tercukupi. Yang menarik adalah, meski keduanya (H. Amin Sa’id dan istrinya) tidak hafal al-Qur’an, namun mereka sangat gemar membaca al-Qur’an. Kegemarannya membaca al-Qur’an ini, hingga Special Edition, November 2012 -

17

Dalam pernikahan yang di ridhoi Allah ini, mereka dikarunai 12 orang jumlahnya, terdiri dari 6 putra dan 6 putri, berikut urutannya: 1. Muzaimah 2. KH. Arwani 3. Farkhan 4. Shalikhah 5. H. Abdul Muqsith 6. Khafidz 7. Ahmad Da’in 8. Ahmad Malikh 9. I’anah 10. Ni’mah 11. Muflikhah 12. Ulya dari dokumen catatan tentang silsilah keluarga Arwani dapat diketahui bahwa silsilah beliau dari pihak Ibu melalui garis keturunan orang tua perempuan sampai pada tingkat ketujuh, dengan urutan sebagai berikut: 1. Arwani. 2. Wanifah. 3. Rosimah. 4. Sawijah. 5. Habibah. 6. Mursyid. 7. Jonggrang. 8. Pangeran Diponegoro. Sedangkan data yang ada mengenai silsilah keluarga KH. Arwani dari pihak ayah tidak banyak, hanya sampai di tingkat buyut (ayahnya kakek), dengan urutan sebagai berikut: H. Amin said adalahanak KH. Imam Kharomain, salah seorang tokoh ulama terkemuka diKudus yang cukup di segani dan di hormati. Anak-anak KH. ImamKharomain berjumlah 7 orang, yaitu: Marzuki, Rumani, Seni, KH. Muslim, H. Amin Said, Hasna dan H. Ahmad. Mbah yai Arwani rohimahullah lahir

pada hari Selasa Keliwon jam 11.00 WIB, tanggal 5 Ra-jab 1323 H. bertepatan dengan tanggal 5 September 1905 M dengan nama Arwan tanpa akhi-ran “i”, baru setelah pulangnya beliau dari haji berubah nama belia menjadi KH. Arwani Amin, nama Amin bukan sebutan atau julukan yang seperti pada Nabi Muhammad yakni yang dapat di percaya, namun nama Amin di ambil dari nama Ayah beliau. Akan tetapi pantas juga beliau mendapat gelar Al – Amin karena sifat beliau yang sangat mulia, sejak kecil memang beliau terkenal dengan kesopanan dan kelembutannya. Sepulang dari haji mbah Arwani oleh masyarakat sekitarnya lebih populer di panggil dengan sebutan kang kaji, dan pada perkembangan berikutnya ia di juluki sebagai Kyai sae. Julukan itu melekat pada dirinya sehubungan dengan kebiasaan beliau yang selalu menjawab atau menanggapi dengan kata-kata sae…-sae…yang berarti baik…-baik…, apabila kepadanya se-sorang menyatakan buah pikiran atau pendapatnya. Selain itu juga karena beliau tidak suka membeberkan aib orang lain, disamping tidak suka mengucapkan katakata makian dan apalagi mengumpat dengan kata - kata kotor. Pendidikan beliau di mulai di Madrasah “Mu’awanatul Muslimin”-Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Beliau masuk di madrasah ini sewaktu berumur 7 tahun. Madrasah ini meru-pakan madrasah tertua yang ada di Kudus yang didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Salah satu pimpinan madrasah ini di awal-awal didirikannya adalah KH. Abdullah Sa-jad. Semenjak kecil Arwani mempunyai bakat atau keahlian dalam bidang seni baca al Qur’an dan menulis Khot (tulis arab). Memasuki usia remaja, Arwani meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu. Berbekal doa restu dari kedua orang tuSpecial Edition, November 2012 -

18


anya. Kegiatan safari ini beliau mulai dari pesantren Jamsaren Solo, Tebu Ireng, dan Krapyak Yogyakarta sebagai lahan pencarian ilmu. Pesantren-pesantren tersebut sangatlah tepat sebagai pilihannya, sebab kridibilitas kyai Idris, Kyai Hasyim As’ari dan Kyai Munawir yang memimpin masing-masing pondok tersebut sudah tidak di sangsikan lagi. Dari tangan merekalah telah lahir ulama-ulama yang berkualitas tinggi. Di dalam dunia pesantren beliau Arwani telah banyak menguasai disiplin ilmu yang di pelajarinya, seperti Nahwu, Sorof, Fiqih, Usul Fiqih, Balaghoh, Mantiq, Ilmu Tajwid dan Qiro’ah, Ilmu Tafsir, Khadits, Tasawuf, Falaq, Wasathi dan Ta’dil.

Oleh: Afif Husen Mahasiswa s1 Universitas Imam NafiTanger

Pada tahun 1935 KH. Arwani menikah dengan Naqiyul Khud di waktu beliau masih menun-tut ilmu di pesantren Krapyak Yogyakarta, memasuki tahun keenam beliau nyantri di sana. Bu Naqi adalah puteri dari KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri. Pasangan ini termasuk lama mempunyai keturunan. Selang beberapa tahun kemudian barulah lahir anak yang pertama lalu disusul anak – anak beri-kutnya. Hingga beliau di karuniai 4 orang anak, dua putrid dan dua putra.

Politisasi Jam’ah begitu sangat sakral dan istimewa eksistensinya, sebagai penjawantahan dari ekspresi dan dialog ketauhidan sebagai mahkluk ber Tuhan. Selain itu, sebagai penetrasi dari system canggih dengan kerumitanya yang di bungkus dalam aktifitas yang terkesan ‘simpel ‘. Itulah sholat. Termasuk bagian dari rukun islam, yang bila mana sesuatu tanpa porsi rukun, maka di pastikan akan roboh, rusak dan hancurlah sebuah tatanan. Ini tidak guyon, hingga perintah untuk mendirika sholat di titahkan langsung oleh Tuhan, seakan seperti kado berharga sebagai ucapan selamat untuk nabi Muhammad SAW dan ummatnya. Ia bagaikan tiang yang menegakkan sebuah bangunan. Itulah sholat

Putri pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua putri beliau ini menginggal dunia sewaktu masih bayi. Yang tinggal sampai kini adalah kedua putra beliau yang kelak meneruskan perjuangan KH. Arwani Amin dalam mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau adalah KH. Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH. Ulil Albab Arwani (Gus Bab). Beliau mbah yai arwani dikenal karena Pondok Huffadh Yanbu’ul Qur’an yang didirikannya, menjadi tujuan para santri yang ingin belajar menghafal al-Qur’an dan belajar Qira’at Sab’ah. Selain itu, beliau juga seorang mursyid (pimpinan) Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah yang mempunyai ribuan jama’ah.

Sholat dari berbagai aspek Sholat dari banyak definisi banyak diartikan sebatas ibadah horizontal antara hamba dan Tuhanya. Sebagai perintah ‘wajib’ dari kesimpulan kesimpulan teks, dari mereka komunitas fiqih. Sebagai aktivitas ibadah mistik, bagi mereka yang awam . Sebagai pundi pundi pahala, guna mengantarkan ke cahaya surga dan menjauhkan dari lorong-lorong neraka, bagi mereka para mental mental ekonom yang segala sesuatunya di kalkulasikan. Itulah sholat Dimensi nyentriknya sholat Berkelompok atau bersama sama, mengandung deskripsi persatuan dan kesatuan. Kekuatan yang semulanya hanya se ‘util’ dapat berefolusi menjadi kekuatan kekuatan dahsyat. Yang awalnya pengecut bisa bermetafosis menjadi gatut kaca, superman ataupun wiro sableng. Di pahami mendalam, sholat memiliki nilai niai multidimensi yang banyak tak di mengerti banyak orang. Tak melulu mengandung konsepsi spritual, melainkan termsuk di dalamnya konsepsi sosial ( muamalah ). Karena dalam islam, ajaran ajaran yang bersifat spiritual senantiasa diselipkan prinsip prinsip sosial. Di antarnya, itulah sholat. Sholat pada dasaranya ialah ibadah murni (ibadah mahdhoh ), namun jika di kaitkan dengan dimensi jama’ah, jelas ibadah ini telah memasuki ruang sosial. Yang nampaknya bersifat privasi, tetapi di sisi lain mengandung muatan muatan politis sosial. Dalam jangka waktu 20 tahun, nabi Muhammad Saw. telah berhasil mempersatukan berbagai kelompok yang telah terpisah pisah dalam koridor suku, ras, batas territorial, agama dsb. Seluruh semenanjung arab telah berada dalam satu bendera islam hanya dalam waktu 30 tahunan. Arab islam menjadi kekuatan baru yang di ketahui telah menyiutkan keperkasaan dan kekuatan besar lainya. Romawi di barat, dan rusia di tumur. Karenanya ide tentang jama’ah bukanlah ide remeh temeh tanpa nilai. Antara sholat dan jama’ah adalah cerminan akurat dari kestupaduan yang hebat.

Selama hidup beliau mempunyai hasil karya, antara lain: 1. Faidhil Barokaat fii Sab’il Qiro’at. Kitab ini terdiri dari 30 juz, dengan menggunakan tulisan tangan beliau sendiri. 2. Risalah Mubarokah. Kitab ini berisi tuntunan praktis bagi para murid atau pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah. Kitab ini di terbitkan oleh percetakan Menara. Setelah sekian lama berjuang untuk agama, masyarakat, dan negaranya, akhirnya beliau pun harus kembali menghadap ke haribaan-Nya. Beliau wafat pada 1 Oktober 1994 M. yang bertepatan dengan 25 Rabi’ul Akhir 1415 H. dalam usia 92 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an yang sampai sekarang masih ramai dengan peziarah dan lantunan ayat – ayat Al – Quran dari santri pondok Yanbu’. Beliau juga di sebut sebagai “PENJAGA WAHYU DARI KUDUS”, karena sangat perhatian dengan Al-Quran, dalam membaca Al-Quran sungguh tartil walaupun hafalan beliau sudah lancar di dada. Semenjak pondok “Yanbu’ul Qur’an” berdiri semua santri harus membaca dan menghafal Al- Quran harus tartil tidak boleh terlalu cepat. Beliau pun berwasiat salah satunya ialah “jangan bacaan Al-Quran untukku jika tidak tartil”. Kedua putra beliau beserta istri dari kedua putranya sampai dengan cucu-cucu beliau semua penghafal Al-Quran. Special Edition, November 2012 -

19

Misi jama’ah Berjama’ah dengan sholat memiiki misi untuk selalu membangun nilai nilai kebersamaan dan kekompakan. Ketika seseorang dalam shof ( barisan ) jama’ah, maka secara kesadaran tanpa intruksi, akan di tuntut merapihkan, meluruskan dan menertibkan barisan. Dalam barisan, seorang jama’ah akan berada pada derajat dan dimensi yang sejajar satu dengan yang lainya. Artinya apapun profesi, kedudukan maupun embel -embel lainya akan melebur tak berarti. Tersisa hanya kwalitas ketakwaanya sebagai pembeda.

Special Edition, November 2012 -

20


Sholat berjama’ah adalah media terefektif dalam menghimpun kekuatan dan potensi. Konsekwensi logis dari di anjurkannya jama’ah adalah digiringnya masyarakat untuk berkumpul dalam sebuah kegiatan bernama sholat. Nilai ini bisa di investasikan sebagai aset berharga yang memiliki potensi besar. Sebagai ajang silaturahmi, musyawarah, rapat dsb, yang tentunya ini akan bermanfaat demi kebaikan dan kesejahteraan pribadi dan masyarakat. Jama’ah mengumpukan manusia, menyatukan mereka dalam satu barisan untuk berjalan dalam satu tujuan. Tentativ yang terabaikan Sholat mengimpun kekuatan dari lini paling kecil hingga besar. Prakteknya, dalam sehari ummat islam bisa berjumpa lima kali rotasi dalam sholat wajib harian ( mushola ), dan ini bisa di jadikan moment moment berharga sebagai ajang perbaikan tanpa henti dalam ruang masyarakat kecil atau blok. Step selanjutnya dalam dimensi mingguan, masyarakat muslim dalam lingkup yang lebih besar. Antar desa atau kecamatan misalnya, bisa berkumpul dalam ritual sholat jum’at yang mana ini pun bisa di jadikan forum- forum manfaat lainya. Dalam dimensi tahunan, masyarakat antar kabupaten atau provinsi bisa di pertemukan dalam moment ritual jama’ah sholat Idul Adha dan Idul Fitri. Dan terakhir, dalam lingkup paling luasnya, masyarakat dari seluruh penjuru dunia dapat di pertemukan dalam ritual sekaligus rukun iman terakhir. Jama’ah Haji. Tentativnya, bahwa dari sholat wajib 5 waktu, adalah titik star paling kecil, dengan bidikan masyarakat blok ( dari tetangga ke tetangga ). Meningkat setelahnya jama’ah jum’atan dengan lingkup antar desa atau kecamatan. Meningkat selanjutnaya lagi, sholat Idul Adha atau Idul Fitri dengan lingkup yang semakin besar. Kabupaten atau provinsi. Dan terakhir adalah jama’ah haji dengan lingkup antar Negara. Luarrr biasssaa Sholat dengan teknik jama’ahya, menjadi forum dengan berjuta potensi. Dari lingkup paling mikro ( dusun ) hingga makro ( antar Negara ) dapat terjangkau, asalkan kesadaran pribadi dan pemahaman luesnya menjadi syarat wajib guna tercapainya manfaat jama’ah ini. Bahwa berjama’ah tak hanya sebagai ritual monoton dan stagnan antar hamba dengan Tuhanya saja. Terlebih sebatas menggugurkan kewajiban dan pengharapan dari tambahan tambahan pahala sholat berjama’ah. Mestinya islam dalam metodelogi jama’ahnya bisa meruncingkan kesatuan ukhuwah. Karena begitu ironis kenapa hanya dalam ritual saja kita satu gerakan, satu takbiran, sedangkan kontras dengan realitas setelah ‘salam’. Negara Negara yang berpenghuni mayoritas musim, seharusnya menjadi kekuatan besar dalam pergelakan dunia. Bukannya memalukkan seperti kenyataannya. Tercerai berai, nempel dan sering ngemis ngemis di kaki Negara Negara barat. Ajaran ajaran agama kita, serat dengan nilai- nilai luhur politis yang sangat mampu menghantarkan pemeluknya menjadi komunitas yang pasti di segani, kokoh dan kuat. Berjama’ah dalam sholat memiliki kandungan politis sitematis yang luar biasa, yang sayangnya terabaikan mubadzir. Cukup dengan sholat berjama’ah, bisa menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk menghimpun dan mengekspresikan kekuatan dan ide- ide nyata yang di tumpuk dari kaidah jama’ah. Dengan intensitas pertemuan yang rutin semacam ini, dapat di bayangkan betapa besar dan kokohnya potensi persatuan di kalangan ummat islam. Berpolitis, bersatu dan bersinergi dengan sholat berjama’ah, untuk menjadi satu kesatuan yang kokoh. Bukankah Rasulallah SAW marah besar ketika orang orang meninggalkan jama’ah “ Demi dzat yang menguasi diriku, aku benar benar bermaksud mememrintahkan untuk memecah mecah kayu. Kemudian, di lantunkan azan untuk sholat tersebut. Kemudian, aku perintahkan seorang laki laki ( untuk memimpin sholat ). Kemudian ia memimpin (sholat ) orang orang. Kemudian aku berpisah ( dari mereka dan pergi )kepada orang orang ( yang tidak ikut berjama’ah ). Kemudian aku bakar rumah mereka. ( H.R Al bukhori no. 44 )

Special Edition, November 2012 -

21

Oleh : Kusnadi El Ghezwa “Ide dan pemikiran ente itu bener-bener cemerlang Nif…andai saja kamu hidup di zaman Imam Syafi’I, Imam Hambali atau Imam Malik dan Imam Hanafi tentu kamu akan menjadi fuqoha terkenal yang kedudukannya gak jauh beda dengan mereka”,Begitulah temanku mencoba bercanda pagi itu. Saat aku selesai memakai sepatu dan merapikan bajuku, dua madah pelajaran pagi ini sudah kupersiapkan didalam tasku, Hadits Soheh Muslim dan kitab Bidayatul Mujtahid. Kitab Bidayatul Mujtahid adalah salah satu kitab favoritku, begitu juga dengan syekh Muhammad Romli pengajar kitab tersebut adalah salah satu dosen yang aku segani. Hampir semua penjelasannya aku catat rapi dalam bukuku dan ku abadikan, beliau betul-betul mengusai isinya sehingga ketika beliau menjelaskan begitu luwes seolah yang berbicara di hadapan mahasiswa bukanlah Syekh Muhammad Romli lagi melainkan salah satu dari empat madzhab yang hadir di tengah-tengah mahasiswa. Didalam kitab tersebut pembahasannya terfokus pada seputar hukum fikih yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Perbedaan pendapat di tengah-tengah para ulama adalah suatu hal yang biasa dan tidak asing lagi bagi para pelajar yang memperdalam kajian kitab tersebut. Meski mereka berbeda pendapat dalam suatu pokok permasalahan namun mereka tetap berjalan beriringan dan bergandengan di atas ajaran kitab suci Al Quran dan Sunah Rasul-Nya. Sungguh suatu rahmat yang sangat besar bagi saya bisa mengkaji dan memperdalamnya. Minimal kita faham terhadap hujah atau dalil yang dijadikan landasan mereka dalam menentukan ijtihad sehingga tidak mudah menyalahkan perbedaan pendapat orang lain ketika sudah kembali di tengah masyarakat yang semakin kompleks. Setelah semuanya siap kami pun segera turun dari asrama menuju kampus, sesekali kami saling melempar tanya jawab mengenai pelajaran yang sudah dipelajari. "Apa hukumnya wali nikah menurut Imam Maliki?" Andi teman sekelasku mengawali tanya jawab itu dengan memberikan pertanyan yang simpel kepadaku. Setiap langkah terukir indah bersama lembaran cerita bersama teman-temanku di tanah para wali yang penuh sejarah nan sejuk dan tenang ini. Keindahan pagi dengan kehangatan cahaya mentari yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata semakain menambah kenikmatan perbincangan kita. Subhanallah, maha suci Allah sang Pencipta yang maha indah, seniman yang maha agung, raja dari segala raja.

Special Edition, November 2012 -

22


Setiap hari aktivitasku disibukan dengan sebatang pena dan berkelahi dengan buku-buku pelajaranku, belajar berorganisasi adalah salah satu kegiatan yang kutekuni untuk mengisi kekosongan waktu sembari sesekali bersilaturrahmi dengan para asatidz mahgriby untuk mempererat tali sillaturrahmi antara pelajar dan pengajar. Disisi lain untuk menjaga keharuman nama pelajar Indonesia di mata mereka. Saya, teman-teman dan semua pelajar Indonesia yang menghabiskan waktunya untuk menggali ilmu di negeri para wali ini terkenal dengan kepintaran, kecerdasan, kebaikan dan kesopan santunannya, hampir semua pelajar disini bisa dikatakan unggul dan berpretasi sehingga semua dosen sangat bangga. Seiring berputarnya waktu tanpa terasa teman-temanku telah menyelesaikan program master dan doktornya, karena merasa sudah mendapatkan modal yang cukup, banyak diantara kami yang pulang ketanah air mengabdikan dirinya di tengah masyarakatnya dengan meninggalkan keharuman jejak-jejak langkah kakinya yang mulia. Tibalah saatnya para generasi baru menggantikan kedudukan selanjutnya, meneruskan perjuangan kakak-kakak kelasnya, sementara aku masih betah disitu meneruskan program masterku bersama teman-teman baru. Jumlah pelajar Indonesia tahun ini mengalami penurunan 10 persen, tahun sebelumnya mencapai 80 pelajar dan sekarang hanya 72 pelajar. Sementara pelajar baru yang menempuh master ada 10 semuanya sepakat dan satu tujuan untuk mendaftar di fakultas yang sama pula yaitu di ‘’Universitas Oranggenah’’ Tetuan. sebuah kampus impian dan kebanggan bagi para pelajar yang ingin melanjutkan program masternya, disamping terkenal juga telah teruji mampu mencetak sarjana-sarjana yang handal, berkualitas dan siap di terjunkan di tengah masyarakat. Aku adalah salah satu dari 10 pelajar tersebut. Alhamdulillah beasiswa yang kami dapatkan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kami memiliki sebuah asrama di kota ini, tepatnya di Martil. Orang-orang disini sangat ramah. Tetangga-tetangga satu komplek biasanya berkumpul sore-sore. Selalu ada aja hal menarik yang dibahas. Sore itu, ada seorang tetanggaku, namanya Mr. Robert, lelaki setengah baya yang masih giat dalam lembaga sosial, Ia juga salah satu dosen bahasa Perancis di kampus kami. Ia adalah seorang yang alim. Selalu menenteng kitab sucinya kemana pun ia pergi. Berkata seperti Nabi, hampir tak ada cacat dalam setiap perkataannya. Apapun masalah yang menimpanya Ia tetap sabar. Sore itu cuaca masih menyisakan panas. Jalanan berdebu, Mr. Robert berjalan disekitar halaman rumahnya. Diantara ratusan anak didiknya Ia memiliki dua mahasiswa kesayangan. Keduanya berasal dari Negara yang berbeda, Ahmad Nurhuda adalah salah satu pelajar yang baik nasibnya meski kecerdasan berfikirnya lambat dan minimnya nilai prestasi yang diraihnya namun Ia sangat di perhatikan dan disayangi oleh Mr.Robert karena perangainya yang baik dan memiliki ahlak yang terpuji. Satunya lagi adalah seorang pemuda berkulit putih dan berambut lurus berbadan tinggi namanya Abdullah, disamping mendapatkan beasiswa tinggi dari negaranya Malaysia dia juga mendapatkan beasiswa dari Maroko yang sama tingginya. Itu semua berkat kecerdasan dan keunggulan prestasinya selama belajar di Maroko, namun ada yang disayangkan dibalik kepandaiannya, ia sering acuh tak acuh dengan temannya, sombong di depan dosen dan meremehkan teman. Meski keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda namun Mr. Robert sangat menyangi mereka, ia tidak pernah membeda-bedakan dan membanding-bandingkan di antara mereka semuanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama oleh Mr. Robert. Rutinitas sehari-harinya mengajar dikampus dan malamnya memberikan pelajaran bahasa

Special Edition, November 2012 -

23

Perancis secara cuma-cuma kepada dua pemuda tersebut karena masih sulitnya mereka berdua untuk berbica Perancis dan seminggu sekali ia pergi ke gereja untuk beribadah. Tapi alangkah kagetnya dia sore itu mendapat kabar kalau salah satu dari murid kesayangannya telah pergi meningalkan kampus entah kemana perginya, tanpa memberikan pesan ataupun kabar sebelumnya. "Bagaimana dengan kuliahnya, bagaimana dengan kursus bahasa Perancisnya dan bagaimana dengan tanggung jawabnya terhadap pelajaran yang Ia tinggalkan’’, gumamnya dalam hati dengan penuh kekhawatiran. Sambil mengusap air matanya ia mendekatiku yang dari tadi memperhatikannya dan tibatiba ia berkata. "Bersabarlah terhadap ujian Tuhan yang datang menimpa kita karena ujian Tuhan bukan hanya berupa kesedihan, kekurangan ataupun penyakitan namun kesenangan, kepintaran dan kemegahan juga merupakan ujian dari Tuhan, mampukah kita menghadapinya, mengembannya dan menggunakan kelebihan-kelebihan yang Tuhan berikan kepada kita kepada jalan yang semestinya.’’ Jelasnya kepadaku.. Melihat keadaan itu tak terasa mataku mendung ingin menitikkan air mata, ditengah-tengah keheningan tiba-tiba datanglah Abdullah mahasiswa kesayangannya asal Malaysia. Ia mendekati dosennya dengan terburu-buru dan mencoba menanyakan peristiwa yang tengah terjadi. “Ada apa Pak?” “Ahmad telah pergi” “pergi kemana pak?” “Aku juga tak tahu pastinya, tiba-tiba aku ditelepon oleh teman yang sekampus dengannya dan memberitahukanku tentang keadaanya” Matanya tak henti menitikkan air mata. Sesekali ia batuk karena memang Mr. Robert sudah lama mengidap penyakit batuk dan asma. Ia tampak sedih sore itu. “Apakah tuan mau mencoba untuk menjelaskan peristiwa ini ke pihak kampus?” Aku mencoba menawarinya solusi supaya tidak terjadi salah paham antara Ahmad Nurhuda dengan pihak kampus. Ia kemudian menatapku dan perlahan beranjak berdiri. Ia memegang pundakku. “Mr.Anif, segala sesuatu kejadian sudah ada dalam fikiran Tuhan. Ia telah lama merancang segalanya. Tuhan itu penyayang. Tuhan itu penyabar. Ia mungkin sedang menguji kesabaranku, kesabaranmu dan kesabarannya jua. Yakinlah, Tuhan selalu memberi yang terbaik. Tuhan tak pernah salah. Akan ada rancangan terbaik untuk kita. Termasuk pula untuk mahasiswa kesayanganku. Namun satu hal yang perlu kau tahu bahwa Ahmad adalah seorang yang baik budinya, baik ahlaknya dan terpuji sifatnya. Sebelumnya Ia juga tidak pernah melakukan hal semacam ini dan aku yakin kepergiannya itu pasti mempunyai alasan tersendiri, alasan yang terbaik baginya. Namun sebaik-baik alasannya tetap saja ini adalah sebuah aib di mata para dosennya karena telah meninggalkan kampus tanpa izin dan secara otomatis bisa berdampak pada teman-teman lainnya khususnya yang dari Indonesia. Aku berharap semuanya kan baik-baik saja, semoga program mastermu cepet selesai dengan hasil yang memuaskan minimal bisa menutupi kekhilafan temanmu”, jelasnya panjang lebar. "ya Pak", tanpa jeda waktu yang lama kujawab perbincangan itu dengan simpel. Begitulah Mr. Robert, betapa Ia adalah seorang yang baik, dia selalu membantu kami, selama sepengetahuanku sekalipun Ia tak pernah membuat orang sakit hati. Ia sangat rukun dalam bertetangga. Segala sesuatu yang terjadi selalu Ia yakini adalah keinginan Tuhan. Sehingga dengan itu ia bisa ikhlas dan selalu tersenyum.

Special Edition, November 2012 -

24


Begitu pula dengan tetangga-tetangga yang lain. Semua baik-baik saja, semua sangat ramah dan tak pernah menggunjing kami ataupun Mr.Robert. Meskipun kami adalah pendatang mereka tak pernah menyinggung dan menyepelekan kami. Tapi seketika itu semua berubah. Para dosen dikampusku tak lagi ramah kepada kami. Pelajar pribumi juga mulai mengernyitkan dahi setiap melihat pelajar Indonesia. Orang di sini mulai enggan berteman dan menjauh dari kami. Semua berawal dari tragedi kepergiannya Ahmad yang menghilang tanpa jejak. Para dosen beranggapan bahwa Ia manusia yang tidak tahu terimakasih dan tidak mau menggunakan waktu sebaik-baiknya, semua dosen paham betul bahwa Ahmad adalah pelajar yang prestasinya rendah namun mereka telah memberinya sesuatu yang terbaik baginya agar belajarnya terus semangat. Namun sebagai balasannya Ia malah kabur dari kampus seolah tidak punya tanggungan dan beban. Perbuatannya telah mengecewakan hati para dosennya karena telah menyepelekan perhatiannya kepada Ahmad. Semenjak itulah para dosen sakit hati karena merasa kampusnya telah dibuat mainan oleh pelajar yang kurang sungguh-sungguh. Bagaikan kilat berita tersebut menyebar begitu cepat ke berbagai kampus ternama di Maroko. Imbasnya para pelajar Indonesia kini tak lagi mendapatkan perhatian dan kepedulian dari mereka dan kampus. Waktu yang terus berputar seperti boneka yang telah meninabobokanku tanpa terasa 1 tahun telah berlalu. Sore itu matahari menyingsing di ufuk barat membuat bayangan semu memantul melewati celah-celah jendela asramaku, angin berhembus syahdu memberikan seribu makna, sesekali ranting-ranting pohon dibelakang asramaku saling menyentuh karena belaian angin yang malu-malu, aku tertunduk seorang diri di kamar asramaku menyelami kata demi kata kitab yang aku baca, Al Hikam karya Ibnu Ato`ilah adalah kitab yang selalu menemani hari-hari sepiku. Meski ribuan doa telah kupanjatkan namun hasilnya tetaps aja nihil, disana sini pelajar Indonesia menjadi buah bibir di kalangan para dosen, setiap kali ada mahasiswa baru yang ingin mendaftar ke universitas Oranggenah prosesnya selalu di persulit dan menyebalkan. Seolah mereka sedang membalas kekecewaannya tentang peristiwa 1 tahun yang silam. Aku sendiri tak tahu kenapa orang yang beriman, memiliki pendidikan dan beragama Islam sifatnya kurang bisa toleran, sulitnya memaafkan dan dengan mudahnya mengklaim orang lain negatif. "Jika sudah ketahuan jeleknya maka semua juga pasti jelek, sudah mending tidak usah menerima pelajar Indonesia lagi yang hobinya bermalas-malasan dan tidak mau menggunakan kesempatannya dengan sebaik-baiknya’’, cetus salah satu dosen di depan dosen lainnya. Karena sulitnya memasuki kampus tersebut, banyak dari teman-temanku yang putus asa hingga akhirnya mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk mendaftar ke kampus lain yang tentunya lebih aman dan nyaman. Sementara teman-temanku yang satu kampus denganku di universitas Orangenah juga mulai merasakan kejenuhan karena nilai yang didapat selalu kurang dari targetnya padahal mereka sudah belajar semaksimal mungkin dan yakin seyakin-yakinnya kalau jawaban yang ditulis sesuai dengan soal. Di antara mereka ahirnya banyak yang memilih untuk pindah ke kampus lainnya, kecuali Slamet ia memutuskan pulang ke tanah air karena ibunya sakit-sakitan dan tidak ada yang merawatnya karena dialah anak semata wayang di keluarganya. Besoknya Slamet sudah bersiap-siap menuju bandara dengan menenteng koper hitamnya, aku dan Zainal mebawakan bungkusan dan tas gendongnya mengantarkannya ke Bandara Casablanca. Di bandara, izin dan passport semuanya sudah beres tibalah detik-detik perpi-

Special Edition, November 2012 -

25

sahan kami dengan Slamet. "Met, hati-hati dan salam buat ibu dan bapakmu dirumah’’, ucapku sambil memeluk tubuhnya yang kurus dan tinggi. "Kalo ada salah yang disengaja atau tidak tolong di maafin yah Met, hati-hati dijalan, ’’ susul Zainal setelah ku melepaskan pelukannya. Kami berdua mengucapkan salam perpisahan dan melambai-lambaikan tangan kepadanya sampai bayangan Slamet menghilang dari pandangan mata kami. "Duduk dulu Nif, ane mau minum’’ ujar Zainal yang dari tadi bibirnya kering menahan haus untungnya Ia membawa minuman yang dibeli sebelum berangkat. Sambil menunggu Ia minum akupun duduk disebelahnya. Sebuah kursi terbuat dari aluminium yang panjangnya memuat lima orang berjejer. Beberapa waktu kemudian seorang perempuan duduk disampingku. Perempuan kulit putih dengan tinggi sedikit lebih dari badanku. Rambutnya berwarna hitam tebal, matanya lebar dan bibirnya agak tipis. Aku seksama memperhatikannya karena Ia duduk hanya beberapa senti saja disebelahku. Ia tersenyum tatkala pandangan kami tepat berhadapan. Senyumnya manis sekali. “Hello”, Ia menyapaku. Aku pun tersenyum dan membalas “Hello”. Kami pun mulai berbincang-bincang dengan bahasa Inggris. Ia orang Mongol dan nampaknya juga masih belum bisa berbahasa Inggris dengan baik. “Mau kemana Tuan?”. “Mau kembali ke Tetouan, baru saja kami berdua mengantarkan temanku balik ketanah air Indonesia”. “Ow, kenapa harus balik?”. “Mungkin sudah saatnya Ia harus balik Non, masalahnya hanya gara-gara merasa kesulitan dan dipersulit belajarnya akhirnya ia memutuskan pulang melanjutkan kuliahnya di Indonesia sekalian merawat Ibunya yang sedang sakit. Kalo Nona mau kemana?”, aku mencoba bertanya. “Saya mau balik ke Mongol. Saya seorang pelajar juga disini, tapi saya mengambil jurusan Koki alias masak-memasak dan sekarang sudah selesai” Ucapnya sambil tersenyum. “kamu temannya Arif?”, Ucapnya lagi sambil memandang wajahku. Aku bingung kenapa ia tahu Arif. “Arif yang mana?”, Aku pura2 tidak tahu. “Arif yang badannya tinggi agak gemuk, mukanya bundar, Ia orang Indonesia” Ia nampak polos dalam berbicara. Namun aku kaget kenapa ia bisa tahu nama temanku?. Sepengetahuanku Arif itu kuper, suka berdiam diri dikamar dan paling ogah berteman dengan perempuan non muslim. Kenapa Arif bisa kenal?. Penasaranku terjawab setelah ia menyatakan dirinya kalau dia itu muslim. “Memang aku sebelumnya beragama Kristen namun semenjak mengenal Arif banyak sekali perubahan pada diriku terutama pada agamaku”. Aku kaget mendengar penjelasannya, tak menyangka kalau Arif bisa menunjukan jalan hidupnya ke arah yang benar. “Meski Arif keliatan kuper dan pendiam tapi Ia sangat baik padaku. Dia sering membantuku membayarkan tagihan listrik dan mengajariku cara menawar ketika belanja dipasar kebetulan asramaku juga dekat dengan asrama kalian hanya saja kita baru kali ini bertemu. Akupun tahu kalau sekarang dia juga berhenti kuliah lantaran dosennya yang killer dan kurang toleransi, makanya Ia memilih pindah ke kampus lain. Ternyata Ia pindah karena menjadi korban kekecewaan akibat ulah kakak kelasnya yang dulu pernah meninggalkan kampus tanpa sepengetahuan dosennya. Tentunya bukan hanya Arif yang jadi korban semua ini tapi aku yakin kamu dan teman-temanmu juga termasuk bagian dari korban kekecewaan

Special Edition, November 2012 -

26


tersebut.. iya kan?”. Jelasnya panjang lebar. Sambil meyakinkan pembicaraanya bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. ‘’Dan begitulah orang di sini. Terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dan mudah mengklaim orang lain jelek. Apakah hanya gara-gara satu murid jelek terus semuanya juga jelek? Apakah setiap orang yang datang dari negara yang sama juga sudah pasti kelakuannya sama?. Kalau memang benar bukankah memaafkan adalah hal yang lebih mulia? Bukankah sesama muslim itu saudara dan harus saling hormat menghormati?. Namun kenapa mereka tetap saja menyimpan rasa kebencian dan kekecewaan dalam hatinya? Aku selalu bertanya seperti itu. Bahkan aku pernah membuat artikel seperti itu di koran. Aku dikritik oleh banyak pihak. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari sebuah kebenaran. Kebenaran yang sulit sekali disini. Kebenaran yang mungkin hanya dimiliki Tuhan. Itulah sebabnya aku memilih kembali ke Mongol setelah aku selesai belajar dari pada membuka restorant disini.’’ Tuturnya lagi dengan nada emosi.

Oleh: Nur Fitriani Fatihah

Aku hanya tertegun mendengar penjelasannya. Matanya berkaca-kaca. Ia nampak sedih harus meninggalkan kekasihnya dan cita-citanya yang berencana ingin membangun restoran di tengah kota ini setelah selesainya dari kuliah. Ia pun melanjutkan pembicaraannya, “Buat apa agama dipertaruhkan kalo toh pada akhirnya perpecahan terjadi karena agama. Apa lebih baik tidak ada saja agama tersebut. Cukup kita meletakkan tuhan dihati kita dan berdo’a dalam kamar sendiri. Mengunci pintu rapat-rapat?, meski aku baru masuk Islam kemaren tapi aku selalu mendapatkan pelajaran agama dari semenjak kecil. Kebetulan ayah saya adalah seorang pendeta yang taat. Ia selalu menjunjung tinggi Tuhan. Ia selalu mengajarkan bahwa Tuhan itu baik, Tuhan itu selalu tersenyum dan Tuhan tak pernah diam. Lantas apakah dengan ada kejadian seperti ini kita lantas menyalahkan semuanya. Karena saya pun sekarang begitu tahu tentang Islam. Saya banyak belajar membaca di buku-buku. Islam itu agama yang baik. Semua agama juga baik.’’ Matanya berkaca-kaca, waktu pun harus memisahkan kami. Sebelum meninggalkan kami dia memberikan kartu identitasnya kepadaku. Sungguh sosok yang begitu tegar dan berpandangan luas. Seandainya setiap orang berfikiran seperti Nona ini dan berkelakuan seperti Mr. Robert tentunya dunia ini akan damai, tak ada kekecewaan dan tak ada tangis yang akhirnya merobek hati. Semua saling rangkul, mendukung dan melengkapi antara satu dengan yang lainnya.Hidup pun pasti terasa indah dan bahagia. Aku pun berjalan meninggalkan Nona itu dan berharap semoga usahanya tak ada yang sia-sia. Dan semoga ia baik-baik saja.

Special Edition, November 2012 -

27

Seperti angin yang berterbangan ke segala arah Seperti air yang mengalir Dan seperti gersang nya OASE kehidupan Tak terpelik rasa penyesalan dalam hidup Karena hidup begitu sederhan Tapi terkadang itu menjadi kencang Sekencang daun yang selalu yang selalu tertiup angin Dan sekencang ombak laut di malam hari Lalu dimanakah tempat berlabuh itu? Tempat yang tak akan berujung Terkadang harus ada jurang yang curam Dan ada kalanya kita harus berdiri di atasnya dan akan jatuh dalam satu tendangan saja Lalu di manakah hidup ini berlabuh? Biarlah segalanya berjalan Biarlah segalanya terlewati pada saatnya Dan tak ada waktu untuk berkeluh kesah Tapi yang ada hanya untuk menatap masa depan yang cerah

Special Edition, November 2012 -

28



Buletin La Kosbah Edisi Perdana November 2012