Page 9

KAMIS - SELASA

PELANGI BABEL

15 - 20 MARET 2018

Polisi Hanya Berikan Teguran Operasi Keselamatan Menumbing 2018 Satlantas Polres Babar Bagi Helm & Cokelat

MUNTOK- Operasi Keselamatan Menumbing yang dilakukan Satuan Lalu Lintas Polres Bangka Barat (Satlantas Babar) beberapa hari belakangan terus digelar di sejumlah titik. Hasilnya, tak sedikit pengendara yang terjaring razia petugas. Beberapa diantaranya melakukan pelanggaran karena tidak menggunakan helm dan melanggar rambu lalu lintas. Namun mayoritas pelanggar tidak ditilang, hanya diberikan teguran dan peringatan dari petugas terutama bagi pengendara yang pelanggarannya masih dalam batas normal. Selain itu, Operasi Keselamatan Menumbing 2018 yang dilaksanakan selama 21 hari ini pun diwarnai giat preventif dengan memberikan brosur dan stiker bagi pengendara yang sedang melintas di sepanjang jalan Taman Lokomotif Muntok, Rabu (07/3/2018) lalu. Pantauan wartawan, tidak hanya Anggota Lalu Lintas, puluhan Polisi Cilik asuhan Satlantas Polres Bangka Barat bersama Polwan Polres Bangka Barat juga memberikan helm

9

Pelayanan Kesehatan Lansia di Babel Jadi Prioritas Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia Dinkes Dorong Puskesmas ‘Santun Lansia’

dan cokelat kepada pengendara yang melintasi jalan tersebut terutama bagi pengendara yang membawa anak kecil yang tidak menggunakan helm saat berkendara. Masyarakat yang melewati jalan tersebut menyambut baik adanya pembagian brosur dan sticker Operasi Keselamatan Menumbing 2018 terutama orang tua yang membawa anak mereka saat berkendara. Dengan adanya pembagian helm dan cokelat kepada anakanak membuat mereka lebih nyaman dan mereka tidak takut dengan kehadiran Polisi di tengah-tengah mereka. Tidak sedikit pula ditemukan pengendara dewasa yang tidak menggunakan helm saat berkendara. Kasatlantas Polres Bangka Barat AKP. Surya Dharma

S.IK seizin Kapolres Bangka Barat AKBP Firman Andreanto, S.H., S.IK, M.Si menjelaskan, kegiatan tersebut lebih mengutamakan teguran bagi pengendara yang pelanggarannya masih dalam batas normal. Dengan Bantuan Pocil Bangka Barat dan kehadiran Polwan di tengah-tengah masyarakat, lanjutnya, dapat membuat suasana menjadi tidak tegang dan takut terutama bagi anak-anak kecil yang sedang melintas. “Kami akan mengutamakan teguran bagi pengendara dan akan terus menyuarakan tentang Operasi Keselamatan Menumbing 2018 agar masyarakat melengkapi kelengkapan perorangan dan kelengkapan surat-surat kendaraannya”, pungkas AKP. Surya Dharma. (*/stf)

PANGKALPINANG- Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus mendorong dan mengupayakan peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar bagi para warga lanjut usia (lansia). Salah satunya dengan Puskesmas ‘Santun Lansia’. Oleh karena itu, fasilitas kesehatan di Bangka Belitung harus memperhatikan semua aspek geriatri secara paripurna, terpadu, dan terintegrasi secara profesional dan berkualitas. “Puskesmas sebagai unit terdepan dalam pelayanan kesehatan, diharapkan mampu melakukan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif tingkat dasar bagi lanjut usia,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mulyono Susanto, Jumat (09/03). “Hingga tahun 2017, 34 dari 62 puskesmas yang ada di Babel sudah menerapkan program san-

tun lansia ini. Sementara puskesmas dengan posyandu lansia aktif sudah mencapai 100 persen, dengan total 533 posyandu di 389 desa. Berdasarkan data, jumlah lansia enam puluh tahun ke atas di Babel pada tahun 2017 sebesar 118.878 dan yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 44.362 (39,49 persen). Target nasional tahun 2017 sebesar 35 persen dan target 2018 meningkat menjadi 50 persen,” jelasnya. Mulyono menandaskan, pemberian pelayanan kesehatan kepada para lansia menjadi prioritas. Dimulai dari hal yang seder-

hana, seperti menyediakan akses masuk yang sesuai dengan kriteria untuk lansia. “Misalnya, siapkan pegangan khusus untuk memudahkannya saat berjalan. Selain tersedia fasilitas kursi roda, harus ada jalan khusus untuk kursi roda tersebut,” jelas Mulyono. Pada dasarnya, penyakit yang diderita lansia jarang dengan diagnosis tunggal, melainkan multidiagnosis. “Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, sekitar 34,6 persen lansia menderita satu penyakit; 28 persen dengan dua penyakit; 14,6 persen dengan tiga penyakit; 6,2

persen dengan empat penyakit; 2,3 persen dengan lima penyakit; 0,8 persen dengan enam penyakit; dan sisanya dengan tujuh penyakit atau lebih,” rincinya. Lebih lanjut, Mulyono menjelaskan bahwa penanganan kasus penyakit seperti ini tidaklah mudah. “Selain multidiagnosis, penyakit pada lansia umumnya merupakan penyakit degeneratif dan kronis. Penanganannya membutuhkan waktu lama dan biaya tinggi sehingga akan menjadi beban sangat besar bagi masyarakat dan pemerintah, termasuk bagi program Jaminan Kesehatan Nasional,” jelasnya. “Tingginya jumlah populasi lanjut usia menjadi tantangan pembangunan. Jika tidak ditangani dengan baik, tentunya akan menjadi masalah kesehatan. Diperlukan program pelayanan kesehatan lanjut usia yang terencana dan pembinaan kesehatan pada kelompok pra lanjut usia dan lanjut usia sejak dini, salah satunya puskesmas santun lansia,” pungkas Mulyono. (ril/*)

Wisata Digital Masuk Babel  

Media Satya Laskar pelangi

Wisata Digital Masuk Babel  

Media Satya Laskar pelangi

Advertisement