Issuu on Google+


MINGGU, 23 OKTOBER 2011

HALAMAN 10

Bijak Menghasilkan Keputusan Bijak Sebagian dari banyaknya keputusan yang kita buat setiap hari, ada yang berakhir dengan baik, sedangkan yang lainnya tidak. Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat keputusan yang lebih baik? Seberapa baikkah kemampuan Anda dalam membuat keputusan? Pernahkah Anda bertanya-tanya, "Apa yang terjadi seandainya aku ...?" -- terutama saat Anda tidak mendapatkan hasil yang Anda harapkan? Barangkali Anda tidak pernah menyadari bahwa Alkitab adalah sebuah buku tentang membuat keputusan-keputusan bijak. Bukan hanya itu, Alkitab juga penuh dengan contoh-contoh keputusan yang baik dan buruk, serta akibat keputusan-keputusan tersebut. Alkitab menunjukkan keputusan-keputusan yang baik, sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar, yang mengarah kepada hasil-hasil yang baik. Apabila Anda membuat keputusan-keputusan emosional yang berdasarkan amarah, hawa nafsu, dan keegoisan, Anda sebaiknya siap-siap menerima hasil-hasil yang buruk. Alkitab menyingkapkan satu prinsip yang berlaku di semua bidang kehidupan: Anda menuai apa yang Anda tabur (Galatia 6:7). Kadang-kadang, korelasi langsung ini tidak jelas, tetapi semakin kita dewasa, hasil keputusan kita semakin jelas. Jika Anda melihat Alkitab sebagai buku pegangan dalam pembuatan keputusan, Anda akan menemukan banyak petunjuk yang berguna. Jika Anda ingin membuat pilihan-pilihan yang benar, Anda dapat menyelamatkan diri Anda sendiri dari banyak masalah; apalagi jika Anda lebih mencermati contoh-contoh yang tercatat di dalam firman Allah. Misalnya, cerita tentang Kain ketika dia mengambil keputusan yang buruk, dan akhirnya menuai hidup yang penuh kutukan dan sengsara (Kejadian 4:5-13). Atau, Saul yang mengambil keputusan di luar yang sudah ditetapkan Tuhan Allah. Karena keputusannya yang salah tersebut, Saul hidup dalam depresi, mencari pertolongan dari seorang peramal, berupaya melakukan pembunuhan yang justru berujung pada kematiannya sendiri. Keputusan yang salah sangat merugikan dirinya (Samuel 13:8-14). Apakah contoh-contoh tersebut relevan dengan kita pada masa kini? Mungkin contoh tersebut tampak jauh dan di luar konteks dunia modern kita. Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa prinsip-prinsip itu tetap berlaku. Jangan lupa bahwa kita ada untuk suatu tujuan. Allah menciptakan kita dengan sebuah harapan bahwa suatu hari nanti kita menjadi bagian dari keluargaNya. Belajar membuat keputusan-keputusan bijak berdasarkan perintah-perintah Allah adalah sebuah pelajaran utama yang perlu dipelajari setiap orang.

Allah memberi tahu kita untuk tidak "bersandar kepada pengertianmu sendiri" (Amsal 3:5). "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12) Lalu, bagaimana kita belajar membuat keputusan yang bijak? Kunci untuk membuat keputusan yang benar. 1. Mencari hikmat. Kita bisa membuat pilihan yang benar dengan lebih mudah, jika kita mencari hikmat. "Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian." (Amsal 4:7) Kita dibanjiri dengan pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan. Namun, nilai-nilai pokok tidak berubah. Belajar menunjukkan rasa hormat kepada Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, adalah hal mendasar bagi keberhasilan hidup. Bacalah wejangan hikmat dalam Kitab Amsal, dan pakailah itu sebagai pedoman sehari-hari, untuk mendapatkan pengertian dan pengetahuan, kemudian terapkan itu dalam proses pengambilan keputusan. 2. Menaati Allah. Setelah kehidupan yang penuh berkat dan kenyamanan, yang membuat Salomo mengalami berbagai kebahagiaan dan keberhasilan, dia merangkum apa yang telah dipelajarinya. Kesimpulan berdasarkan pengalaman yang dialaminya seumur hidup adalah: "...Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." (Pengkhotbah 12:13) Yesus dari Nazaret mengajar para muridNya pelajaran sejenis: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) Yesus Kristus dan Salomo tahu bahwa hal-hal jasmaniah yang tampaknya paling penting bagi kita, tidak semuanya signifikan dalam waktu yang lama. Pada akhirnya, menaati dan menyenangkan Allah adalah intinya. Itulah satu-satunya cara, agar kita mampu menjalani hidup yang benar-benar berguna dan produktif. Kita harus mengingat hal ini saat kita membuat keputusan. 3. Mengembangkan hubungan yang sehat. Keseluruhan Alkitab berbicara mengenai hubungan. Allah menghendaki kita untuk menjadi bagian dari keluarga-

Nya. Dia menghendaki kita untuk belajar bekerja bersama-sama, dan saling bergandengan tangan dalam damai dan kasih. Beberapa misteri terbesar dari kehidupan, disingkapkan dalam proses belajar untuk bekerja bersama-sama, yang menuntut kesabaran, hormat, dan kerja keras untuk membangun persahabatan. Memiliki teman untuk mendukung dan memberi inspirasi kepada Anda, bisa menjadi pertolongan yang luar biasa untuk menolong Anda membuat pilihan yang benar. Sering kali, dengan mencurahkan isi hati kepada sahabat atau seseorang yang Anda hormati, Anda bisa melihat jalan yang lebih jelas. Di sisi lain, sebagian hubungan bisa berbahaya. "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33b) Berada di antara orang-orang yang salah, akan memengaruhi penilaian Anda dan menuntun kepada keputusankeputusan yang buruk. 4. Aturlah hidup Anda. Para atlet menyadari bahwa untuk meraih prestasi hebat, mereka perlu berlatih dan bertindak. Sebagian orang yang ingin bertanding di Olimpiade atau bermain olah raga profesional, mendedikasikan diri mereka untuk melaksanakan jadwal latihan dengan ketat. Rasul Paulus menyoroti gaya hidup seorang atlet, sebagai analogi untuk menunjukkan bahwa orang Kristen harus berusaha sungguh-sungguh, untuk memiliki hidup saleh: "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Kor. 9:27) Di dunia yang mudah terikat dengan permainan, makanan, alkohol, pekerjaan, atau kemalasan, masuk akal untuk mencermati bagaimana kita mengatur waktu kita. Proses membuat pilihan yang benar meliputi menetapkan dan mengorganisasikan tujuan, kemudian mengerjakannya. 5. Temukan pekerjaan yang berarti. "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja." (Amsal 14:23) Allah memberi kita pikiran yang sanggup menemukan hal-hal yang mengagumkan, salah satunya dirangsang melalui pemecahan masalah dan pembangunan. Melakukan sesuatu yang bermanfaat, dapat membuat Anda menemukan arti dalam hidup dan melewati hari dengan cepat. Sebagian orang yang sedang mengerjakan proyek yang menantang, lupa waktu dan bahkan mereka bisa lupa untuk makan dan tidur. Ingatlah bahwa Allah memberikan kepada manusia, 6 hari untuk bekerja dan satu hari untuk beristirahat. Ini menunjukkan maksud Pencipta kita, agar kita produktif. Membuat pilihan yang beBERSAMBUNG KE HLM. 11



Warta Jemaat GPIA Immanuel, 23 Oktober 2011