Page 1

“.... carilah, maka kamu akan mendapat.....” Lukas 11:9

MINGGU, 03 JULI 2011

Mengasihi Allah “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Mazmur 73:25-26 Kabar baik dari Injil bukan saja Allah mengasihi kita, tetapi juga kita dapat mengasihi-Nya. Ia memerintahkan kita untuk mengasihi-Nya lebih dari segala sesuatu yang lain. Ia tahu kita mau melayani, mematuhi, dan mengikuti Pribadi yang kita kasihi. Mengasihi Allah melibatkan kasih sayang, yaitu, berperannya emosi. Apakah Anda dipenuhi oleh emosi yang meluapluap karena Anda mengingat kebesaranNya pada saat Anda menyembah Dia? Apakah Anda pada saat-saat tertentu menitikkan air mata karena Anda menyadari pengorbanan-Nya untuk menebus dosa-

KEPEDULIAN Ada dua narasi Alkitab tentang perilaku orang kaya terhadap sesamanya. Pertama, Lukas 16:19-31 yang melukiskan tingkah laku orang kaya dengan gaya hidup yang ditandai oleh suasana pesta pora dan kemewahan setiap hari. Sementara di pintu gerbang rumahnya duduk seorang pengemis yang sangat miskin dan kelaparan bernama Lazarus. Lazarus hanya makan dari sisa-sisa roti yang dibuang di lantai. Sebagai alat pembersih tangan bagi para tamu setelah acara pesta selesai. Apa orang kaya itu tidak pernah melihat dan mengenal Lazarus? Ia melihat dan mengenalnya, karena selalu duduk di depan rumahnya. Tetapi ia telah mengeraskan hatinya. Pesan utama dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus ini, sebenarnya bukan menyalahkan seseorang sukses dan menjadi kaya. Sebab para bapa leluhur Israel juga merupakan orang-orang kaya seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi yang menjadi persoalan utama dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaannya; dan bagaimana pula seseorang memperlakukan sesamanya yang sedang menderita. Kedua, Markus: 10:17-31, ketika Yesus dalam hikmat-Nya memberikan ujian, yang memaksa pemuda kaya untuk memilih antara kekayaan dunia dan kekayaan sorgawi. "Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah

dosa Anda? Apakah ada perasaan kagum dan heran yang dalam di hati Anda saat Anda membaca firman-Nya dan berdoa di saat teduh Anda? Mengasihi Allah melibatkan tergeraknya pikiran. Pelajari, baca, dan selidikilah firman Tuhan yang dinyatakan-Nya. Anda adalah seorang murid dan pelajar tentang siapa Kristus sebenarnya dan apa yang ingin dilakukan-Nya dalam hidup Anda. Mengasihi Allah melibatkan kemauan. Anda melakukan apa yang diperintahkanNya, tanpa memperhatikan apakah Anda menyukai-Nya atau mengerti semua artinya. Murid-murid meninggalkan harta benda mereka dan mengikuti Kristus jauh sebelum mereka mengasihi dan mengenalNya sepenuhnya. Itulah panggilan hidup yang sebaiknya Anda tiru sekarang. Allah menghendaki Anda untuk mengasihi-Nya. Ia memerintahkannya kepada Anda. Anda dapat melakukannya karena walaupun Anda tersandung dan gagal, Ia mengasihi Anda. Jika Anda mengetahuinya, Anda seharusnya memperbarui kesetiaan Anda kepada Juru Selamat yang

sangat mengasihi anak-anak-Nya. Gerakkanlah batinku, ya Allah. Janganlah biarkan aku kehilangan perasaan heran dan kagum terhadap kehadiran-Mu.

Aku" (Markus 10: 21). Ternyata pemuda itu gagal menghadapi kemelut ini, membalikkan punggungnya dari Sang Guru, dan pergi dengan sedih. Pemimpin muda yang kaya ini sudah mendekati kerajaan, tetapi gagal memasukinya, karena dia tidak menempatkan Allah sebagai yang terutama, walupun harus menyerahkan harta benda yang mahal harganya. Pesan yang hendak disampaikan dalam ayat ini adalah: manusia diharapkan tidak diperhamba harta atau kekayaannya. Manusia seharusnya menghindarkan diri dari ketamakan dalam mencari harta dunia, tapi secara lebih serius harus lebih mementingkan pencarian harta sorgawi. Firman Tuhan adalah pedang bermata dua. Saudaraku, mungkin ada orang Kristen yang mengaku "percaya" pada Yesus Kristus, menerima ajaran-Nya, penyembahan dan pujian di gereja, budaya spiritual, kelimpahan berkat dan urapan. Tetapi saudaraku, begitu bicara wawasan hidup sesuai ajaran Yesus Kristus yang meletakkan semua isu duniawi di dalam konteks kekekalan, "Juallah hartamu untuk orang miskin atau bantulah orang menderita" yakni perlakuan kasih kepada sesama sesuai ajaran Yesus... ya, saudaraku, mereka mengacuhkannya atau menolaknya. Pada saat ada bencana di mana-mana, kita melihat tayangannya, melihat penderitaanya, hati kita tersentuh. Cukupkah? Tuhan berfirman: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi sedang yang diminta ada

padamu." (Amsal 3:28) Winston Churchill merumuskan ajaran tersebut dengan pernyataan: "We make a living by what we get, but we make a life by what we give." Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan (kepada orang lain). Yon Maryono

“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka aku akan meluputkannya. Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” Mazmur 91:14 Charles Stanley

PERHIASAN DAN HIDUP Uang bisa menyebabkan kegelisahan dalam hidup, dan dapat mengantarkan kita ke dalam alam maut sebelum waktunya. - Plautus Di antara penemuan reruntuhan Pompeli ada seorang wanita yang sedang mengumpulkan cincin, gelang, dan barang berharga lainnya ke dalam celemeknya. Beberapa orang kaya sadar akan bahaya yang akan terjadi. Mereka kabur meninggalkan semua barang-barang tersebut di belakang karena barang tersebut tidak berharga bila dibandingkan dengan hidup mereka. Namun, wanita ini berharap bisa menyelamatkan keduanya dan menunda waktu untuk melarikan diri. Sayang, akhirnya ia tertindih dalam reruntuhan! Perhiasan dan hidupnya pun hilang. (W. B. K.)

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Mat 16:26 Xavier Quentin Pranata


MINGGU, 03 JULI 2011

SIMPLE Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik. Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tersebut, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja. Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah." Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marahmarah. Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku." Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja. Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh kedalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."Dan ada yang menjawab: "Cari di

KUASA DOA "Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna." Kolose 1:9 Monica lahir dan dibesarkan oleh keluarga Kristen yang tinggal di Tagaste, Afrika Utara. Ia dinikahkan dengan seorang penyembah berhala. Suaminya selalu mengkritik kesalehan Monica. Meskipun demikian, Monica selalu setia mendoakan suaminya (Akhirnya doanya dijawab setahun sebelum Monica meninggal. Suaminya bertobat). Monica melahirkan 3 anak. Anaknya yang sulung bernama Agustinus di kemudian hari banyak dikenang orang. Sewaktu muda, Agustinus dikenal sebagai anak yang suka memberontak. Pada usia 15 tahun ia sudah kumpul kebo dengan seorang wanita. Agustinus muda menekuni filsafat Manicheism yang meyakini ada dua Pencipta. Pertama, Tuhan yang menciptakan semua hal yang baik. Kedua, Roh Jahat yang menciptakan semua hal yang buruk. Para

rumput yang paling tinggi."Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana." Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat. Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat. Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja. Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit." Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah atau memiliki secukupnya saja. Deisy

pengikutnya yakin bahwa kedua "Pencipta" ini kedudukannya setara. Agustinus mempelajari ilmu retorika dan mulai berkelana dari kota ke kota untuk mengajar dan berpidato. Ketika sampai di Milan, Italia, ia mendengar khotbah Ambrose yang menyadarkannya kembali pada Kristus. Beberapa tahun kemudian, Agustinus dibimbing oleh Ambrose, lalu dibaptis pada usia 33 tahun. Ia meninggalkan pasangan kumpul kebonya dan bertekad melayani Tuhan. Yang menarik, pertobatan Agustinus ini tidak lepas dari peran Monica, ibunya. Selama Agustinus menjadi 'domba yang hilang', Monica selalu setia mendoakan anaknya. Beberapa tahun setelah pertobatan Agustinus, Monica meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia berkata kepada Agustinus, "Nak, di dunia ini tidak ada yang menyamai sukacitaku. Aku tidak punya keinginan lain lagi karena sekarang semua pengharapanku sudah terpenuhi." Apakah saat ini Anda sedang mendoakan seseorang? Jangan cepat putus asa. Ingatlah Monica yang berdoa selama lebih dari 15 tahun dan akhirnya Tuhan doanya dijawab. Jika saat ini Tuhan belum menjawab Anda, bukan berarti Dia tidak mendengarkan doa Anda. Purnawan Kristanto

Jaring Laba-laba "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami." 2 Korintus 4:17 Tumbuh di pertanian merupakan sebuah petualangan besar bagi saya. Saudarasaudara perempuan saya dan saya senang melompat dari kasau-kasau gudang, membuat benteng-benteng dari jerami, dan merangkak masuk ke dalam tempat penyimpaian bahan makanan. Saya menaiki tangga menuju loteng jerami, melalui jaring laba-laba yang tebal, yang bergantung seperti permen kapas yang terentang dari satu tempat ke tempat lain. Laba-laba itu tidak mengganggu saya, jadi saya terus naik menembus jaring labalaba itu. Jaring-jaring yang tipis melekat pada tubuh saya, tetapi saya tertawa— dengan sekali kibasan tangan, jaring-jaring itu lepas. Seseorang pernah berkata, "Tuhan, tolong kami mengibaskan permasalahan yang mengikat kami seperti rantai, seperti mengibaskan jaring laba-laba." Oh, betapa seringnya kita merasa terikat dengan permasalahan-permasalahan kita. Tidakkah akan lebih baik jika kita dapat menganggap semua pencobaan kita sama ringannya dan sama sementaranya seperti jaring laba-laba? Tentu saja kita dapat! Permasalahan apa pun yang membebani kita— keraguan atau kecemasan, rasa tidak aman atau rasa takut—bukanlah rantai yang mengikat kita. Semuanya itu seringan bulu bila dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang. Dengan sebuah kibasan doa dan pujian yang keluar dari hati seorang anak maka Allah dapat memutuskan jaring laba-laba mana pun yang berusaha mengikat kita. Tuhan yang mengatasi segalanya, aku hampir tidak dapat memahami kemuliaan abadi yang menantiku di sorga. Tolong aku untuk mengerti bahwa permasalahanku di dunia ini benar-benar ringan dan bersifat sementara. Buatlah aku mengetahui bahwa semua itu dapat memberikan upah yang besar bagiku serta kemuliaan dan hormat bagi Anak-Mu. Beri aku hati seorang anak dan tolong aku untuk dapat mengibaskan permasalahan yang sering kali terasa seperti rantai yang mengikat sama seperti aku mengibaskan jaring labalaba. Joni Eareckson Tada

SOPIR BUS Seperti biasanya, setiap hari Minggu pagi orang-orang datang ke gereja dan langsung memilih tempat duduk di bangku bagian belakang. Demikian juga dengan pagi ini, kecuali seorang pendatang baru yang langsung menuju ke bangku paling depan. Setelah kebaktian, Pendeta memberi salam kepada pendatang baru ini sambil bertanya mengapa ia duduk di bangku paling depan. "Saya seorang sopir bus," jawabnya, "dan saya datang untuk belajar dari anda bagaimana caranya membuat orang-orang berebut duduk di bangku yang paling belakang."


MINGGU, 03 JULI 2011

HALAMAN 3

LAHIR Berkat kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, telah lahir: MONICA 22 Juni 2011 Putri dari Sdr. David & Ny. Lia Budhi Kami mengucapkan selamat berbahagia.

Perjamuan Kudus

Pada hari Minggu ini, 03 Juli, ibadah kita di Perniagaan akan disertai dengan Sakramen Perjamuan Kudus. Dan Minggu selanjutnya, 10 Juli akan diadakan di Taman Duta Mas. Demikian untuk diketahui.

external Pada tanggal 27 sampai dengan 30 Juni 2011, Ibu Pdt. Hanna Budhi beserta para alumni Sekolah Tinggi Teologia Tawangmangu dari gereja kita menghadiri Reuni STT Tawangmangu - Solo Jawa Tengah

Komisi Sekolah Minggu mengadakan Rekreasi ke Taman Safari - Cisarua, Sabtu, 25 Juni 2011

Bawalah dalam doa syafaat kita bagi kesembuhan saudara/i kita seiman yang kini sedang mengalami sakit, yaitu: # Karma Gunawan - RS Pluit # Yetty Sudirgo - RS Siloam # Elis # Watni


MINGGU, 03 JULI 2011

HALAMAN 4

HUBUNGAN DENGAN KELUARGA PASANGAN Apa utang saya kepada keluarga mertua? Itu adalah pertanyaan yang menarik. Cara lain untuk mengatakannya adalah "Sebagai menantu, apa yang diminta dari saya? Apa saja kewajiban-kewajiban saya, entah saya menyukainya atau tidak, yang berkaitan dengan orang tua pasangan (mertua) saya?" Katakanlah begini, sepertinya ini bukanlah hubungan yang hangat atau santai. Sepertinya, mertua Anda merupakan beban dalam hidup Anda. Di satu sisi, Anda mungkin merasa terjebak antara mencoba menyenangkan mereka (atau mencoba untuk tidak menyinggung mereka), dan di sisi lain Anda hanya ingin menjadi diri sendiri atau ingin memiliki "ruang" untuk diri Anda sendiri. Prinsip pertama yang berlaku di sini adalah, jika Anda orang Kristen, maka Anda perlu menunjukkan karakter Kristen dengan konsisten kepada mertua -- seperti yang Anda lakukan kepada orang lain. Tindakan Anda tidak mengabaikan kenyataan apakah mertua Anda orang yang "sulit", suka mengendalikan dan memanipulasi, memiliki disfungsi secara emosi atau mental, atau tidak seiman. Hal ini mungkin menjadi tantangan yang benarbenar sulit. Masalahnya adalah mereka bukan "orang lain". Mereka memunyai hubungan genetik, sejarah, dan dinamika psikologis yang kompleks dengan pasangan Anda. Jika Anda memunyai perbedaan pendapat dengan mertua Anda, pasangan Anda akan merasa terjebak di antara orangtuanya dan Anda. Sementara itu, Anda sendiri memunyai kewajiban kepada mertua, pasangan, dan anak-anak, jika Anda sudah memunyai anak. Ada pepatah kuno yang mengatakan, "Good fences make good neighbors" (pagar yang baik membuat hubungan dengan tetangga juga baik), artinya lebih baik mengurusi urusan keluarga sendiri. Terapkanlah hal ini, jika Anda merasa keluarga pasangan Anda telah mengganggu kehidupan pernikahan Anda. Bersama pasangan Anda, buatlah batasan-batasan yang masuk akal; beritahukanlah hal ini, agar keluarga mertua dengan tegas dan sopan menghormati batasan-batasan Anda dan pasangan Anda. "Hormatilah" ayah dan ibumu� (Keluaran 20:12) harus diperlihatkan kepada mereka dalam bentuk kesabaran, kebaikan, kelembutan, dan rasa hormat. Hal ini juga berlaku kepada mertua. Anda bahkan mungkin tidak menyukai mereka, tetapi Anda sebaiknya memilih untuk bertindak dengan sikap yang penuh kasih kepada mereka. Sebagai contoh, Anda memutuskan untuk mengikuti tradisi mereka mencari telur Paskah, meskipun sebenarnya Anda tidak mau anak-anak Anda mengira bahwa kelinci Paskah itu benar-benar nyata. Sebisa mungkin, cobalah untuk menikmati acara keluarga, bahkan jika Anda mengikutinya dengan tetap mengingatkan anak-anak tentang makna sebenarnya dari hari besar itu. Ketika Anda menikah, Anda juga men-

jadi bagian dari keluarga lain dengan serangkaian harapan mereka. Anda perlu mengenali dan menghormatinya -- dalam batasan-batasan tertentu. Apakah batasan-batasan itu? Berikut ini tiga hal yang bukan merupakan arti dari "menghormati mertua Anda". 1. Menghormati mertua tidak berarti Anda harus mengubur semua perasaan, keinginan, kesenangan, dan kebutuhan Anda untuk "melakukan segala sesuatu sesuai cara mereka." 2. Menghormati mertua tidak berarti Anda mengizinkan mereka untuk tidak menghormati, mengendalikan, atau memanipulasi Anda demi tujuan pribadi mereka. 3. Menghormati mertua tidak mengharuskan Anda untuk "menaati" semua permintaan "orang tua" atau tuntutan mereka yang tidak masuk akal. Hal ini sering terjadi dalam beberapa kasus hubungan antara menantu dan mertua. Terkadang tanggapan yang paling menunjukkan rasa hormat adalah mengatakan "tidak" dengan hati-hati tetapi tegas. Jika Anda membiarkan mertua Anda memecah belah, memanipulasi, atau mengendalikan Anda dengan diam-diam untuk menuruti permintaannya yang tidak masuk akal, emosional, dan tidak pantas, hal tersebut tidak menunjukkan kasih Kristen. Konflik-konflik dengan mertua bertumbuh lebih rumit, ketika seorang pasangan lebih memihak kepada orang tuanya daripada pasangannya. Pasangan Anda mungkin merasa tidak berdaya atau "dikeroyok". Masalah mertua sebenarnya tidak sebesar masalah pernikahan itu sendiri. Jika seorang pasangan masih bergantung pada orang tuanya, persoalan itu perlu dibicarakan secara langsung. Jika seorang pasangan menyalahkan mertua karena perselisihan yang mereka alami, hal ini juga perlu dibicarakan. Jika Anda telah terlibat dalam perang dingin (atau cukup meledak-ledak) dengan mertua Anda -- dan mungkin juga dengan pasangan Anda -- tentang masalah yang rumit ini, jangan biarkan hal ini semakin menghancurkan pernikahan Anda. Lakukanlah hal-hal yang sehat dan carilah konselor Kristen. (t/Uly) Phillip J. Swihart

Pelaksanaan Lalu Firman Tuhan kepadaku: “sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku." Yeremia 1:12 Hampir dalam setiap keadaan, Anda mempunyai kepercayaan terhadap atasan Anda. Anda percaya apa yang dikatakannya, dan Anda bertindak sesuai dengan apa yang ia perintahkan kepada Anda. Jika ia berjanji akan menaikkan gaji Anda, Anda tidak lagi mengajukan pertanyaan kepadanya. Juga, Anda dan perkataan Anda adalah satu. Anda didukung oleh kata-kata Anda dan janji-janji Anda. Jika kata-kata Anda tidak dapat dipercaya maka pribadi Anda pun tidak dapat dipercaya. Firman Allah dengan pribadi Allah itu adalah satu. Apabila Firman Allah itu tidak dapat diandalkan, maka Tuhan pun tidak dapat diandalkan juga. Namun Tuhan benar-benar dapat diandalkan! Tuhan berdiri teguh di atas firmanNya! Tuhan mendukung sepenuhnya janjijanji yang telah disampaikan-Nya kepada manusia. Anda pun mengenal Yesus melalui Firman Tuhan. Yesus memperkenalkan kita kepada Allah Bapa. Maka Anda pun mulai bertindak sesuai dengan yang tertera dalam Firman Tuhan. Anda menguji tindakan itu apakah sesuai dengan Firman Tuhan atau tidak. Setelah melakukan apa yang tertera dalam Firman Tuhan itu, maka Anda pun akan merasa biasa saja, tidak beda dengan Anda melakukan perintah atasan Anda di mana Anda bekerja. Pengakuan: Saya percaya kepada Tuhan. Saya bertindak sesuai dengan Firman Tuhan-Tuhan menilik saya supaya saya melakukan firman-Nya dalam hidup saya. Kenneth E. Hagin

BUKU KESUKAAN IBU Seorang jemaat wanita minta di-bezuk (dikunjungi) oleh Pendetanya. Pendeta itu datang ke rumah jemaat itu dan duduk di tepi ranjangnya sambil mendengar keluh kesah wanita tersebut. Setelah mendengar "sharing" wanita tadi, pendeta itu berkata, "Saya yakin anda pasti akan mendapat penghiburan dan kekuatan dari beberapa ayat Alkitab yang akan saya bacakan untuk anda. Bisakah saya pinjam Alkitab ibu?" Dengan suara manis, wanita itu memanggil anaknya yang masih kecil, yang sedang bermain di ruang sebelah dan berkata, "Sayang, coba ambilkan buku kesayangan Ibu." Tanpa tanya lagi anak itu mengambil Majalah TV Media dan menyerahkannya kepada ibunya....


MINGGU, 03 JULI 2011

HALAMAN 5

TANGGUNG JAWAB ANAK KEPADA ORANG TUA Salah satu dari Sepuluh Hukum Tuhan adalah "Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu." (Keluaran 20:12) Sebenarnya apakah makna "hormat" di sini? 1. Hormat berarti bersikap santun dan patuh terhadap orang tua. Di dalam hukum Taurat, tertera perintah yang mengharuskan orang Israel menjatuhkan sanksi berat (kematian) kepada anak yang mengutuki orang tuanya -- "Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri." (Imamat 20:9) 2. Hormat berarti bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua. Tuhan Yesus menegur orang Yahudi, yang menyelewengkan perintah Tuhan akan persembahan atas dasar ketidakrelaan memenuhi kebutuhan orang tua (Matius 15:3-6). Juga, sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia meminta Yohanes untuk memelihara Maria, ibu-Nya (Yohanes 19: 26-27). Semua ini memperlihatkan bahwa Tuhan menginginkan kita untuk bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua kita. Namun, kita juga harus memahami batas hormat kepada orang tua, sebab perin-

20 BERKAT 1. Mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13) 2. Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19) 3. Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7) 4. Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom 12:3) 5. Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, dan 11:32) 6. Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4) 7. Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14) 8. Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5) 9. Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat

tah ini diberikan bukan tanpa batas. 1. Kendati kita harus patuh kepada orang tua, namun kepatuhan kita tidak boleh melebihi kepatuhan kepada Tuhan sendiri. Firman Tuhan mengingatkan, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:37) 2. Walaupun keluarga jasmaniah adalah penting, namun bagi Tuhan terpenting adalah keluarga rohaniah. Pada waktu Tuhan tengah mengajar, ibu dan saudara Tuhan Yesus datang mengunjungi-Nya. Tuhan menegaskan, "Siapakah ibu-Ku dan siapakah saudara-saudara-Ku? Sebab siapa pun yang melakukan kehendak berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:2123) 10. Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7) 11. Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1) 12. Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1) 13. Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5) 14. Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14) 15. Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11) 16. Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21) 17. Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom 8:31) 18. Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33; 2:12)

bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku... dialah ibu-Ku." (Matius 12:46-50) 3. Tanggung jawab kepada orang tua lebih bersifat fisik ketimbang emosional. Anak berkewajiban memelihara kelangsungan hidup orang tua ketika orang tua tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya. Namun, anak tidak berkewajiban membuat orang tua senang secara membabi buta; menyenangkan orang tua memunyai batasnya. Firman Tuhan mencatat, "Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, 'Tuhan, izinkanlah aku pergi terlebih dahulu menguburkan ayahku.' Tetapi Yesus berkata kepadanya, 'Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka'." (Matius 8:21-22) 4. Setelah kita menikah, kita harus mengutamakan keluarga sendiri tanpa harus melepaskan tanggung jawab kita sebagai anak kepada orang tua. Itu sebabnya Tuhan berfirman, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kejadian 2:24) Harus ada sebuah tindak pemisahan dan prioritas, sehingga keluarga yang baru dapat berdiri dengan mandiri. [Sama halnya dengan menghormati orang tua kita, kita pun semestinya menghormati mertua kita. Mereka adalah orang tua kita juga, Red.]. TELAGA 19. Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom 8:37) 20. Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33) "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" (Mazmur 46:11a) NN

Handel Pintu Terimpirasi dari Firman Tuhan Wahyu 3:20, “Lihat, Yesus berdiri di muka pintu dan mengetok..,� Kurt yang orang Jerman membuat sebuah lukisan, ketika Yesus mengetuk pintu rumah. Anda pernah melihat lukisan tersebut? Kurt baru tersadar, karena lukisan tersebut tidak mempunyai handel pintu. Kok bisa seorang pelukis ulung melukis pintu tanpa hendelnya. Dia sangat risau. Lukisan-lukisannya sudah terjual begitu banyak, dan dengan sangat gundah dia ingin menarik kembali lukisanlukisannya. Hati kecil berbisik baca kembali Firman Tuhan Wahyu.3:20, “jikalau ada orang yang mendengarkan suara-Ku dan membukakan pintu...�. Ternyata Kurt tidak salah dengan lukisan karena Yesus tidak pernah memaksa seseorang atas kehendaknya karena itu pintu tersebut tidak memiliki handel bagian luarnya. Bukalah pintu hati kita untuk Yesus. Yesus akan masuk mendapatkan kita dan Yesus makan bersamasama dengan kita, dan kita bersama-sama dengan Yesus. Berbahagia kita yang diundang oleh Yesus di dalam kerajaan Nya. As


Ny. Sandra

Ny. Sandra


MINGGU, 03 JULI 2011

Kuat VS Lemah

Ada seorang anak kecil yang membutuhkan uang Rp. 300.000 untuk membeli sepeda baru. Ia sudah berhari-hari berdoa, tetapi belum ada jawaban. Akhirnya, dia memutuskan untuk menulis surat permintaan dan mengirimkannya kepada Tuhan. Pada sampul surat dia menuliskan "Kepada Yth. TUHAN di sorga." Tentu saja alamat ini membingungkan Pak Pos. Akhirnya, Pak Pos memutuskan untuk meneruskan surat itu kepada Presiden. Saat membaca surat itu, Presiden merasa terharu. Dia lalu memerintahkan stafnya untuk memenuhi permintaan itu. Tetapi staf Presiden memutuskan hanya akan memberi uang Rp. 100.000, mereka menilai bahwa uang sejumlah itu sudah cukup banyak untuk ukuran anak kecil. Seminggu kemudian, Presiden kembali menerima surat dari anak itu yang juga di tujukan kepada TUHAN di sorga. Surat itu berbunyi, "Terima kasih Tuhan karena sudah mengabulkan doaku. Tetapi, lain kali kalau mengirimkan uang, jangan lewat pemerintah, ya. Seperti biasa, mereka mengkorupsi uang. Saya yakin bahwa Engkau mengirim uang Rp. 300.000, tetapi saya hanya menerima Rp. 100.000. (di sadur dari Purnawan Kristanto.) Kisah di atas hanya cerita fiksi, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi kita. Kecenderungan orang ketika ia mulai berkuasa, itulah kesempatan untuk berbuat seenaknya tanpa memikirkan kesusahan orang lain. Hukum alam mengajar siapa yang kuat itulah yang akan menjadi penguasa. Dan tidak sedikit orang yang bertindak dengan semena-mena terhadap orang-orang yang lemah. Bahkan lebih lagi ada yang berusaha mengambil keuntungan dari orang-orang yang lemah. Mungkin ada yang tidak memanfaatkan orang lemah untuk kepentingannya sendiri, tetapi memandang rendah dan lebih memilih untuk menghakimi dan merendahkan orang lemah dari pada menolong dan memberkati. Sikap-sikap seperti ini bertolak belakang dengan ajaran Tuhan Yesus, siapa yang ingin menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan. Paulus menasihatkan suatu pelajaran yang mulia bagi kita semua. "Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (Rm. 15:1-2). Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Tuhan Yesus yang berkata: "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Bagian ayat yang di sampaikan oleh Paulus memberi pelajaran kepada kita mengenai dua hal.

HALAMAN 8 Pertama kita jangan menutup mata dengan kesusahan orang lain. Ada banyak orang bersikap acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain. Tidak peduli terhadap orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Bahkan kadang dengan teman dan saudara sendiri pun tidak mau tahu. Apakah ini menjadi sikap orang percaya? Betapa sedihnya Tuhan Yesus ketika Ia melihat kita sebagai anak-anakNya menutup mata dengan kesusahan orang lain. Amsal menasihatkan demikian: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orangorang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "pergilah dan kembalilah, besok akan ku beri," sedangkan yang diminta ada padamu." (Ams. 3:27-28). Tuhan sudah memberkati kita dengan kekayaan, ketrampilan, karunia-karunia. Jikalau kita mau membagikan anugerah yang sudah Tuhan berikan kepada orang lain yang membuat orang di bangun, bukankah hal itu perbuatan mulia? Tidak ada sesuatu yang berarti, kecuali kita menjadi sebab baik bagi orang lain. Dengan tegas Yakobus juga berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yak. 4:17). Marilah kita peka dengan kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan orang lain. Berbuat baik adalah merupakan kesempatan. Saya percaya akan ada saatnya kita ingin berbuat baik, tetapi sudah tidak ada waktu lagi. Untuk itu marilah kita gunakan kesempatan-kesempatan yang ada untuk berbuat baik dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Yang kedua kita belajar agar tidak mementingkan diri sendiri. Senangkah kita jika ada orang berkata kepada kita seperti ini: "dasar orang egois?" Tentunya

kita akan tersinggung dan mungkin bisa marah. Predikat "egois" hanya pantas di berikan kepada orang yang tidak peduli terhadap kesusahan orang lain, orang yang pelit, orang yang mencari keuntungannya sendiri, orang yang mementingkan diri sendiri, orang yang selalu ingin menang sendiri, orang yang ingin mendapatkan apa yang diinginkannya dengan menghalalkan segala cara, orang yang tidak mau berkorban, orang yang tidak mau dirugikan. Dan intinya adalah orang yang memusatkan hidupnya kepada dirinya sendiri itulah orang yang "egois." Saya tertarik dengan filosofi hidup orang Jawa. Menurut falsafah hidup orang Jawa, seseorang akan disebut lengkap/ sempurna hidupnya, jika sudah memiliki lima hal. Lima hal tersebut jika di singkat dan di terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah seperti ini: - Memiliki pasangan hidup - Mempunyai rumah/tempat tinggal - Mendapatkan intelektual; - Mempunyai Kekuasaan; dan - harus bisa membagikan pengalaman hidup kepada orang lain. Pelajaran yang sungguh berharga jika kita mau menerapkan bagian yang terakhir dari filosofi orang Jawa. Kalau saudara tidak ingin mendapat predikat sebagai "orang segois" bagikanlah apa yang saudara miliki. Tidak harus uang. Tetapi keterampilan-keterampilan yang ada, agar orang-orang yang saudara bagi dapat dibangun, dan akhirnya dapat bertumbuh bersama-sama. Jadi pada dasarnya adalah marilah kita belajar untuk memikirkan kesenangan orang lain, agar kita menjadi berkat bagi sesama. Jika saudara merasa orang yang kuat, maka itu adalah kesempatan untuk menolong yang lemah. Tuhan Yesus memberkati!! Sujud Prasetio

Kasihilah Orang Lain, Berikanlah Upah terhadap Hasil Kerja

rus mendasarkan pujian Anda pada kebenaran. Inilah cara yang saya gunakan untuk mendorong dan menuntun orang lain: Hargailah orang lain Pujilah usaha Berikanlah upah terhadap hasil kerja Saya menggunakan metode itu terhadap semua orang, termasuk diri sendiri. Dan tidak peduli di mana saya gagal atau berapa kesalahan yang saya buat, saya tidak membiarkannya menurunkan rasa harga diri saya sebagai seorang manusia. Seperti yang dikatakan pepatah, "Allah memakai orang-orang yang gagal—karena tidak ada orang jenis lain lagi". Failing Forward

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.� Matius 25:23 Para pendidik di Amerika Serikat telah mencari-cari cara untuk meningkatkan nilai tes para siswa. Satu teori populer menyatakan bahwa cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan anak-anak adalah meningkatkan rasa harga diri mereka karena orang-orang yang sangat berhasil cenderung mempunyai rasa harga diri yang tinggi. Tetapi, para peneliti telah menemukan bahwa hanya membangun ego anakanak menghasilkan banyak sifat negatif: kemasabodohan terhadap keunggulan, ketidakmampuan untuk mengatasi kesukaran, dan keagresifan terhadap orangorang yang mengkritik mereka. Begini, saya sangat menghargai .sikap memuji orang lain, khususnya anak-anak. Tetapi saya juga percaya bahwa Anda ha-

Money is not everything Money can buy house but not home. Money can buy bed but not sleep . Money can buy clock but not time . Money can buy book but not knowledge Money can buy food but not appetite Money can buy position but not respect Money can buy blood but not life . Money can buy medicine but not health Money can buy insurance but not safety Money can buy jokes but not happiness. Money can buy insurance, but not safety


MINGGU, 03 JULI 2011

HALAMAN 9

Makan Daging-Nya, Minum Darah-Nya "Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu" Yohanes 6:53 Makan daging dan darah manusia?! Astaganaga!! Tidak salah?! Sejak awal pun kata-kata Tuhan Yesus ini memang sudah mengundang perdebatan dan keheranan luar biasa. Para murid berkomentar: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yohanes 6:60). Dan, orang-orang Yahudi bereaksi: "Bagaimana Ia dapat memberikan darah-Nya untuk dimakan?” (Yohanes 6:52). Bisa dimengerti. Makan daging dan darah manusia bukan hanya tidak masuk akal, tapi juga sangat menusuk kesadaran religiositas mereka. Bagi orang Yahudi darah adalah sesuatu yang sakral dan tabu. Darah melambangkan kehidupan. Itu adalah hak eksklusif Allah sepenuhnya. Pantang dimakan, pantang diminum. Menawarkan darah sendiri untuk diminum, bahkan menjadikannya prasyarat untuk mempunyai "hidup" seperti dikatakan Tuhan Yesus adalah penghujatan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Yang hukumannya satu saja: Mati. Begitu juga bagi orang-orang Romawi. Makan "daging" dan minum "darah" merupakan kebiadaban yang luar biasa, dan tidak dapat ditolerir terjadi di wilayah Pax Romana. Ada dua tuduhan yang memicu resistensi orang-orang Romawi terhadap kekristenan. Pertama, orang Kristen dianggap sebagai kelompok kultus yang mengajarkan amoralitas. Amoralitas? Ya! Sebab katanya, orangorang ini diajari untuk saling mencintai di antara sesamanya sendiri. Saudara dengan saudara. Orangtua dengan anak. Teman dengan teman. Belum lagi, katanya pula, setiap selesai menjalankan upacara keagamaan mereka kerap saling bertukar cium. Nah, apa lagi namanya ini kalau bukan gejala-gejala incest, salah satu bentuk amoralitas yang paling keji? Kedua, orang-orang Kristen didakwa mempraktikkan kanibalisme. Kanibalisme? Ya! Sebab katanya, dalam ritual keagamaan mereka yang paling khidmat, Imam mereka pernah berkata begini: "Inilah tubuh-Ku, makanlah! Inilah darah-Ku, minumlah!" Tuduhan-tuduhan itu sebenarnya semata-mata hanya berdasarkan pendengaran. Bukan berdasarkan bukti nyata yang kelihatan. Tapi begitulah, rupanya sejak dulu pun sikap manusia acap terbentuk karena desas-desus; tidak perlu menunggu bukti-bukti nyata. "Katanya" sudah cukup untuk mengobarkan prasangka buruk, antipati, dan kebencian; cukup untuk menjatuhkan "hukuman", tanpa peradilan. Bagi kita sekarang kata-kata Tuhan Yesus, "makan daging-Ku" dan "minum darah-Ku" tentu tidak lagi menimbulkan shock luar biasa, seperti yang dialami oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Romawi tempo doeloe. Itu ungkapan "idiom". Sama dengan misalnya, tanah tumpah darah, darah daging, darah biru, dan naik darah. Pula, kata-kata itu rutin kita dengar setiap kali merayakan sakramen Perjamuan Kudus.

Tetapi masalahnya justru terbalik. Karena kita telah terbiasa mendengarnya, katakata itu malah jadi kehilangan "gregetnya". Tidak merangsang kita untuk dengan serius menelusuri maknanya. Kita biarkan bagai angin lalu. Padahal, Tuhan Yesus mengucapkan itu tentu tidak dengan sembarangan. Dia hendak mengungkapkan relasi yang Dia kehendaki antara Diri-Nya dengan para pengikut-Nya—kita sekalian. Jadi, penting sekali kita memahami apa maknanya bagi kita, dan apa implikasinya dalam hidup kita. Injil Yohanes menempatkan kata-kata itu dalam konteks percakapan yang berkembang setelah Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang (Yohanes 6:1-15). Orang banyak rupanya sangat takjub dengan peristiwa itu. Mereka pun lantas

Hina Jadi Mulia “Tinggalkanlah anak-anak yatimmu, aku akan menghidupi mereka; biarlah janda-jandamu menaruh kepercayaan padaku.” Yeremia 49:11 Tanpa diundang, kematian dapat menghampiri hidup seseorang. Kapan saja, di mana saja dalam kondisi apa saja, seseorang dapat dipanggil pulang oleh sang Khalik. Dan, hal inilah yang dialami oleh Betsy Holton ketika suami yang dikasihinya menghadap Tuhan. Betsy Holton adalah seorang yang sangat mencintai Tuhan dan juga suaminya. Namun apa mau dikata, kematian tetap memisahkan mereka. Dari penikahan mereka, Tuhan menghadirkan sembilan orang anak. Keluarga ini miskin secara materi—tidak punya sesuatu yang dapat diandalkan. Harta benda tidak punya, sehingga ketika sang suami meninggal dunia tidak ada bekal yang ia tinggalkan. Ia hanya meninggalkan sembilan orang anak dan sebuah Alkitab. Dalam suasana miskin seperti itu, suatu hari para tetangga menyarankan agar Betsy menitipkan anaknya kepada yang membutuhkan. Tujuannya untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Di satu sisi ini

mengejar-ngejar Dia dengan maksud menjadikan-Nya sebagai "Raja" (baca: Mesias) yang memang sedang mereka nanti-nantikan kedatangan-Nya (Yohanes 6:22-24). Tetapi Tuhan Yesus tidak tergerak. Dia tahu apa sebenarnya yang ada di lubuk hati mereka. Karena itu kata-Nya, "Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti dan kamu kenyang. Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 6:26, 27). Dalam konteks inilah, Tuhan Yesus berbicara mengenai "makanan yang tidak dapat binasa": "ROTI HIDUP". "Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya ..." (Yohanes 6:51). Tuhan Yesus mengumpamakan diriNya sebagai "roti". Itulah yang Dia berikan kepada para murid-Nya. Daging-Nya sendiri. Darah-Nya sendiri. Tubuh-Nya sendiri. Dan seperti "roti" bagi manusia (dalam konteks Indonesia: "Nasi"), begitulah esensi relasi yang Dia kehendaki terjadi antara Dia dengan para murid-Nya. Dia tidak mau hanya menjadi seorang "guru" yang mengajarkan suatu ajaran agama baru. Atau, sekadar menjadi "nabi" yang memberitakan Firman Allah. Dialah Firman itu sendiri. Tidak cukup hanya didengar. Tidak cukup hanya disebut-sebut. Harus dihidupi dan menghidupi. Dia adalah "roti hidup". Dia adalah "makanan" kita. "Minuman" kita. Sang Pemberi kehidupan. Sumber kekuatan. Karena itu, Dia tidak "di sana" dan kita "di sini". Tapi, seperti roti menyatu dalam tubuh, "Dia di dalam kita, dan kita di dalam Dia". Dan, "Di mana Aku ada", kata-Nya, "di situ pelayan-Ku akan berada" (Yohanes 12;26). Eka Darmaputera merupakan saran yang dapat meringankan. Namun, di sisi lain ia sangat tersiksa dan naluri keibuannya menolak hal ini. Ia sangat sedih jika anak-anaknya harus dititipkan untuk dipelihara orang lain. Namun, di sisi lain ia tak punya daya, tak punya modal untuk memelihara anak-anak tersebut. Dalam kekalutan hidup, suatu saat ia membaca firman Tuhan dalam Yeremia 49:11. Firman Tuhan itu berbunyi: "Tinggalkanlah anak-anak yatimmu, aku akan menghidupi mereka; biarlah janda-jandamu menaruh kepercayaan padaku!" Lalu apa yang terjadi kemudian? Benar kata firman Tuhan tersebut. Firman itu digenapi dalam perjalanan hidup Betsy. Salah satu dari sembilan anaknya menjadi orang yang dipakai Tuhan untuk menggemparkan Eropa dan Amerika. Ia adalah Dwight L. Moody, seorang hamba Tuhan yang dipakai dengan heran. Kuasa kegelapan digemparkan dan jiwa-jiwa yang tersesat direbutnya untuk dibawa ke Kerajaan Allah. Siapa nyana bahwa salah seorang anak dari perempuan miskin ini menjadi hamba Tuhan yang diurapi? Di tangan Allah yang hina menjadi mulia – yang terabaikan menjadi perhatian. Maka, bersandarlah pada Tuhan dan firman-Nya. Manati I Zega


MINGGU, 03 JULI 2011

HALAMAN 10

Ketika Hal Baik Terjadi Pada Orang Jahat Mungkin beberapa dari kita pernah membaca buku karangan seorang rabbi Yahudi yang cukup populer, Harold Kushner, "When Bad Things Happen to Good People". Dari judulnya saja kita bisa memperkirakan isinya: buku ini bermaksud membantu orang untuk memahami mengapa hal-hal yang buruk atau negatif terjadi dalam hidupnya, sementara ia merasa dirinya tidak pernah melakukan kejahatan apapun. Saya rasa sudah banyak tulisan dan kotbah yang membantu menguatkan orang-orang yang mengalami musibah maupun tekanan, mencoba menjelaskan mengapa penderitaan tetap harus dialami oleh "orang baik", itulah sebabnya judul ini saya angkat, karena ini adalah sebuah tema pergumulan hidup yang lain, yaitu: bagaimana jika hal baik terjadi pada orang jahat? Banyak orang mungkin bertanya, mengapa masih banyak koruptor yang hidup enak? Mereka bahkan bisa melakukan ibadah keagamaan tanpa rasa bersalah. Mengapa para pengusaha yang melakukan kecurangan bisnis sepertinya menikmati segalanya, dan bisa tetap rajin beribadah sesuai keyakinan mereka masingmasing, bahkan terlihat begitu saleh di depan banyak orang. Kita persempit lagi contohnya. Di sekitar kita, mungkin ada tetangga yang suka gosip, tapi hidupnya nyaman. Di kantor, ada orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan, tidak bijaksana, tidak menjadi teladan karena suka datang terlambat padahal rumah dekat, pandai memainkan jurus kodok (jilat atas, injak bawah, sepak kiri-kanan) tapi mendapatkan promosi untuk menduduki jabatan yang tinggi. Sementara kita melihat orang yang idealis, berpegang pada nilai dan prinsip, karirnya tidak secepat para "kodok" tersebut dan mungkin bahkan dizalimi oleh mereka. Tema tulisan ini adalah sebuah pengakuan jujur akan suatu hal yang seharusnya tidak boleh ada di hati kita: sikap iri hati. "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan ma-

nusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain...� (Mazmur 73:2-5). Dalam benak kita sudah terpola suatu konsep yaitu bahwa orang baik seharusnya bernasib baik dan orang jahat bernasib buruk. Maka jika kemalangan menimpa orang-orang yang kita pandang baik kita akan sangat bersimpati dan jika menimpa pada orang jahat, kita akan berkata, "sudah karmanya", atau "menuai apa yang dia tabur.". Nah, ketika ternyata keberuntungan dialami orang yang jahat, "rasa keadilan" kita mulai terganggu.

Mengakui Kuasa Allah dalam Doa

mengatakan bahwa kalau kita sakit atau sedang dirundung masalah datanglah kepada Tuhan dalam doa. Kita menyadari bahwa ada suatu Kuasa yang mampu melepaskan kita dari belenggu yang mengikat kita yaitu Allah. Namun dari kebanyakan orang yang mengaku sudah berdoa untuk sakitnya atau untuk masalahnya, tetapi kesembuhan atau jalan keluarnya tidak mereka temukan, lantas apa yang menjadi penyebabnya? Ada dua hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh kemenangan, sembuh dari sakit penyakit dan keluar dari masalah melalui doa-doa kita:

"Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." Matius 6:8 Perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini hendak mengajarkan kepada kita tentang bagaimana caranya berdoa. Kalimat ini juga mau menyatakan tentang Kuasa Allah. Kuasa Allah yang menembus batas sampai kedalaman hati dan pikiran manusia. Ketika kita sakit secara jasmani atau sakit secara rohani, seringkali kita bawa dalam doa-doa kita, bahkan orang sering

Apakah Anda mengalaminya? Saya mengalaminya dan karena itulah saya ingin berbagi. Mazmur 73 menunjukkan bagaimana Asaf dengan jujur juga mengemukakan isi hatinya, dengan kesadaran bahwa nyaris ia tergelincir, yaitu jatuh ke dalam dosa iri hati, akibat rasa tidak terima melihat orang jahat menikmati kebahagiaan, dan Allah sepertinya tidak bertindak apa-apa. Kita marah, sakit hati, dan orang yang membuat kita kepahitan toh tenangtenang saja dan kita rugi sendiri. Mazmur 73 yang luar biasa memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan tahu isi hati kita, Tuhan juga tahu bagaimana kita terluka dengan semua ketidakadilan yang kita alami. Lalu bagaimana kita bisa pulih? Mazmur 73 memberikan jawabannya: "Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekatMu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun

Mengakui Kuasa Allah. Fokuskan diri kita pada Kuasa Allah dan akui dengan sungguh bahwa Kuasa Allah saja yang mampu menyembuhkan kita dari sakit penyakit. Jangan fokuskan pikiran kita pada penyakit yang sedang

aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.� (Mazmur 73: 21-26) Dengan selalu tinggal di hadirat Tuhan, kita akan sadar bahwa di luar sana semua kesia-siaan. Ingatlah bahwa kebahagiaan orang fasik semu. Memang dengan kemampuan sendiri kita tidak bisa menghibur diri. Kita perlu Roh Kudus untuk menuntun kita sampai kita bisa melihat segala sesuatu dengan kaca mata Tuhan. Nah ketika cara pandang kita berubah, kita akan bisa menjadi pribadi yang bahagia dan bersyukur. Makin kita masuk ke hadirat Tuhan, makin kita hidup dalam pimpinan Roh, makin dunia tidak lagi menjadi fokus kita (Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan). Ijinkan Allah memproses kita untuk membawa kita ke tingkat kerohanian yang selanjutnya. Maka, dalam kondisi emosi seperti apapun, jangan Anda merasa terdakwa, tetapi apapun suasana hati Anda tetap datang kepada Tuhan, tetap setia membaca Firman dan berdoa. Jujurlah dengan keadaan kita tetapi jangan bersembunyi seperti Adam setelah berbuat dosa, karena bukan kebaikan yang melayakkan kita datang ke hadirat-Nya tetapi melalui darah Anak Domba. Makin kita mengenal kemuliaan Allah, dunia makin tidak bermakna. Ketika obsesi kita tidak lagi pada jabatan, kekayaan dan sebagainya, kita bisa berseru, "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya." Kita akan sadar, tanpa memiliki Allah di dalam hidup mereka, orang-orang fasik meski nampaknya memiliki seluruh dunia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada yang lebih mahal selain memiliki dan dimiliki oleh Allah, dan bukankah hal itu adalah hak istimewa mereka yang telah ditebus oleh Kristus? Imelda Seloadji kita derita. Kita tidak perlu menceritakan lagi penyakit yang sedang kita derita, karena sebenarnya Allah telah mengetahui apa yang akan kita sampaikan kepada Allah sebelum kita mengucapkannya. Daripada berkata, "Ya Tuhan, aku sakit", lebih baik kita berkata, "Ya Tuhan, Engkaulah sumber kekuatanku dan keselamatanku". Hikmat Allah Allah memiliki hikmat untuk memecahkan setiap masalah, Ia memiliki kuasa untuk meraih setiap kemenangan. Untuk hal ini kita dapat belajar dari Nabi Daud yang selalu bersikap positif dalam doanya, sehingga ia mampu berkata pada akhir doanya dalam Mazmur 23:6, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa". Puji R.


MINGGU, 03 JULI 2011

HALAMAN 11

Kerajaan yang di Dalam “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Lukas 17:21 Banyak orang mengira bahwa penyebab timbulnya penderitaan dalam kehidupannya adalah sesuatu yang berada di luar dirinya, apakah itu kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan, orang-orang yang menimbulkan kesulitan, kondisi sekitar yang tidak mendukung, atau sesuatu dari luar yang mengancam kehidupannya. Karenanya, banyak orang terfokus pada hal-hal di luar dirinya, dan mencoba menyelesaikan persoalan-persoalan di luar dirinya dengan berbagai cara. Hal yang telah kita sebutkan di atas juga terjadi pada orang-orang Yahudi di zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi beranggapan bahwa penderitaan mereka disebabkan mereka dikuasai dan ditekan oleh bangsa Roma. Oleh sebab itu, mereka berharap datangnya seorang juruselamat yang akan melepaskan mereka dari perbudakan bangsa Roma. Ketika Tuhan Yesus datang dan memberitakan pada mereka kerajaan sorga, yaitu suatu kerajaan yang bukan "dari dunia ini", maka mereka menolak-Nya. Mereka berharap suatu kerajaan jasmani, seperti kerajaan Daud, yang akan mengusir semua musuh-musuh mereka, terutama bangsa Roma yang saat itu berkuasa. Jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya manusia menyukai dan terfokus pada hal-hal yang dapat dilihat oleh mata jasmani mereka. Memang manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang terlihat oleh mata jasmani. Manusia tidak suka hal-hal yang tidak terlihat, sama seperti bangsa Israel di zaman nabi Samuel. Mereka meminta seorang raja manusia yang jelas terlihat oleh mata jasmani mereka, yang dapat memimpin mereka dalam peperangan dan membebaskan mereka dari segala persoalan mereka. Dengan permintaan ini, sesungguhnya mereka telah menolak Raja yang tidak terlihat yaitu Tuhan, Allah Israel sendiri. Tetapi Tuhan Yesus datang dan membukakan pada kita bahwa baik persoalan kita yang sesungguhnya, maupun solusi atas persoalan kita itu, semuanya ada di dalam diri kita. Persoalan kita yang sesungguhnya adalah hati kita yang licik ini, bahkan dikatakan lebih licik dari segala sesuatu (Yeremia 17:9). Hati kita inilah yang menajiskan kita (Matius 15:19-20). Inilah yang merupakan persoalan kita sesungguhnya. Namun, Tuhan Yesus juga mengungkapkan bahwa jawaban atas persoalan kita itu ada di dalam diri kita juga. Jawaban atas persoalan kita adalah kerajaan sorga yang ada di dalam diri kita. Lukas 17 yang telah kita kutip di atas menegaskan, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Terjemahan bahasa Indonesia "di antara" ini, berasal dari kata Yunani "entos". Kata Yunani "entos" sebenarnya berarti "di dalam". Selain di dalam Lukas 17:21, kata Yunani "entos" ini hanya dipakai satu kali lagi yaitu di dalam Matius 23:26. Di dalam Matius 23:26, Tuhan Yesus menggunakan kata "entos" ketika Ia berkata, “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam (entos) cawan itu, maka sebelah

luarnya juga akan bersih”. Kita tahu bahwa arti suatu kata ditentukan oleh bagaimana ia digunakan, atau bagaimana penggunaannya. Di dalam Matius 23:26, "entos" digunakan sedemikian sehingga tidak mungkin seseorang menerjemahkannya menjadi "di antara", seperti yang terdapat dalam terjemahan bahasa Indonesia pada Lukas 17:21. Sesuai penggunaannya di dalam Matius 23:26, kita pasti menerjemahkan "entos" menjadi "di dalam". Oleh karena itu, terjemahan yang tepat dari Lukas 17:21 adalah, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu”. Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu", Ia katakan hal ini bukan kepada murid-murid-Nya atau kepada orang yang telah percaya pada-Nya. Namun, Ia mengatakannya kepada orang-orang Farisi, yang jelas-jelas menentang-Nya. Jadi, kita dapat simpulkan bahwa kerajaan Allah itu ada di dalam diri setiap orang, entah orang itu sudah percaya Tuhan atau belum. Tentu saja, bagi orang yang belum percaya Tuhan, kerajaan sorga yang di dalam mereka tidak memberi pengaruh apa-apa atas kehidupannya. Tetapi yang sedang kita permasalahkan di sini adalah bahwa jawaban dari persoalan setiap manusia, ada di dalam diri mereka sendiri. Jika seseorang telah sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus dan mengalami lahir baru, serta menyadari bahwa kerajaan sorga itu ada di dalam dirinya, bahkan bertumbuh terus dalam pengenalannya akan kerajaan sorga, maka kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga itu akan membereskan kenajisan hatinya. Kerajaan sorga itu seperti ragi yang akan mengkhamirkan seluruh adonan. Artinya, kerajaan sorga itu pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh keberadaan orang tersebut. Jika seseorang telah dipenuhi dan dipengaruhi secara total oleh kerajaan sorga, maka persoalan orang tersebut sudah selesai. Demikianlah cara Tuhan menyelesaikan persoalan manusia. Ia menyelesaikannya dari dalam, oleh kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga. Telah kita sebutkan di atas, bahwa persoalan manusia adalah hatinya yang licik, yang pada gilirannya menajiskan seluruh keberadaannya. Hati manusia yang licik ini tidak dapat diselesaikan dan dibereskan dengan melakukan rutinitas agamawi, dengan teori-teori atau doktrin-dok-

trin apapun juga, dengan pendidikan dan peraturan-peraturan apapun juga, bahkan penjara-penjara pun tidak mampu mengubah hati manusia. Hati manusia hanya dapat dibereskan oleh kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga. Dan kerajaan sorga itu ada di dalam diri setiap orang. Siapakah raja di dalam kerajaan sorga ini? Ketika Pilatus bertanya pada Yesus, “... Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini...". (Yohanes 18:37). Yesus adalah raja di dalam kerajaan sorga. Walaupun orangorang Yahudi menolak-Nya, tetapi siapapun yang menerima-Nya, akan mengalami kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga itu. Kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga inilah yang akan menyelesaikan persoalan manusia. Datanglah kerajaan-Mu, Amin. GEMA SION MINISTRY

Mencari Enaknya Sendiri Terence Reynolds, warga negara Amerika Serikat yang bermaksud jalan-jalan ke Eropa dengan gratis, berusaha menyusup ke dalam bagasi pesawat DC-10 milik sebuah perusahaan penerbangan sipil Jerman Barat yang akan terbang dari Miami, Amerika Serikat, ke Frankfurt. Tetapi, nasib Reynolds memang sial. Ia mungkin tidak memperhitungkan udara dingin yang terjadi apabila pesawat udara terbang tinggi melintasi lautan Atlantik. Ketika pesawat itu mendarat di Jerman Barat, Reynolds ditemukan sudah meninggal dunia membeku, karena suhu di dalam ruang bagasi bisa mencapai minus 45 hingga 50 derajat Celcius di bawah nol. Polisi yang datang memeriksa kejadian ini berkesimpulan, bahwa Reynolds bermaksud mengunjungi negara Jerman secara gratis. Polisi menemukan berbagai tiket pesawat udara yang menghubungkan beberapa kota di Amerika Serikat dan juga yang menuju Bahama dan Karibia dalam saku Reynolds. Ia mungkin sudah kehabisan uang padahal ia ingin mengunjungi Eropa. Banyak juga orang-orang yang berpikiran seperti Reynolds ini. Mereka hanya mau cari enaknya sendiri.

"Rancangan orang rajin sematamata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesagesa hanya akan mengalami kekurangan" Amsal 21:5 Timotius Adi Tan Sepulang dari gereja di hari Minggu, seorang anak laki-laki tiba-tiba mengatakan pada ibunya, "Ma... kalau sudah besar aku mau jadi pendeta saja ah." "Boleh saja, Nak," kata ibunya, "tapi mengapa kamu tiba-tiba ingin jadi pendeta?" lanjut ibunya pengin tahu karena anak itu biasanya sangat nakal. "Begini, Ma," kata si anak, "biar bagaimanapun, aku kan tetap saja harus ke gereja tiap Minggu, jadi kupikir akan lebih menyenangkan kalau bisa berdiri di mimbar dan berteriak-teriak daripada harus duduk tenang dan mendengarkan saja."


MINGGU, 03 JULI 2011

Renungkanlah Firman "Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman: 'Coba lihat ke langit, hitunglah bintangbintang, jika engkau dapat menghitungnya.' Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.' Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" Kejadian 15:5-6 Sulitkah Anda mempercayai firman Tuhan? Bukan hanya menyetujuinya secara mental, melainkan sesungguhnya percaya bahwa pernyataannya akan berhasil bagi Anda? Saya pernah merasa demikian. Adakalanya janji-janji dalam Firman membingungkan pikiran saya. Pernah terjadi ketika saya merasa sedemikian terpukul dan keadaan sekitar saya tampak sangat buruk sehingga sulit bagi saya untuk percaya bahwa saya "lebih dari pemenang' walaupun saya tahu Tuhan bersabda demikian. Apakah yang Anda lakukan bila pikiran Anda bingung terhadap janji-janji Tuhan? Renungkanlah janji itu. Renungan alkitablah berarti memikirkan dan membayangkan tentang firman Tuhan. Itu berarti mempertimbangkan dengan teliti suatu ayat tertentu dan menerapkannya pada keadaan Anda sampai ayat itu meninggalkan kesan yang langgeng pada kesadaran Anda. Jenis renungan itu dapat mempengaruhi hidup Anda. Secara harfiah itu dapat mengubahkan pikiran Anda. Itulah yang terjadi pada Abram. Ketika Tuhan memberitahukan kepadanya bahwa dia akan menjadi bapa dari sebuah bangsa, dia sudah lanjut usia. Sa-

Menghakimi Orang Lain "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi" Matius 7:1 Perintah Yesus sehubungan dengan menghakimi orang lain sederhana sekali: Dia berkata, "Jangan." Rata-rata orang Kristen adalah pribadi yang kecamannya paling menusuk hati. Kecaman adalah salah satu kegiatan biasa dari manusia, tetapi dalam alam rohani tidak ada hasil yang dicapai dengan kecaman. Akibat dari kecaman ialah terbaginya kekuatan dari orang yang dikecam. Roh Kuduslah satusatunya Pribadi yang tepat untuk mengecam, dan Dia sajalah yang sanggup menunjukkan kesalahan tanpa menyakiti dan melukai. Mustahil untuk menjalin persekutuan dengan Allah bila Anda ada dalam suasana hati yang suka mengecam. Kecaman cenderung membuat Anda kasar, ingin membalas dendam dan kejam, serta meninggalkan kesan pada diri Anda bahwa Anda lebih unggul dari orang lain. Yesus berkata bahwa sebagai murid-Nya Anda

HALAMAN 12 ra, istrinya, juga sudah tua. Apalagi wanita ini mandul sepanjang hidupnya. Bagaimana sepasang suami istri tua dan mandul dapat mempunyai anak -apalagi sebuah bangsa yang sarat dengan anak-anak? Abram bahkan tidak dapat membayangkan hal itu. Tetapi Tuhan mengetahui pergumulan Abram, jadi Dia memberi Abram sebuah gambaran dari janji itu untuk direnungkan. Dia membawa Abram keluar pada malam yang berbintang, menyuruhnya menengadah ke langit lalu berkata, ''Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Dapatkah Anda membayangkan Abram menatap bintang-bintang itu sambil mencoba menghitung jumlahnya? Sambil mata hatinya dipenuhi dengan janji Tuhan? Itulah maknanya renungan. Meluangkan waktu untuk membayangkan janji Tuhan sampai itu menjadi kenyataan dalam diri Anda. Renungan itu luar biasa ampuhnya, dan dengan memusatkan perhatian pada janji-janji Alkitab yang telah diberikan Tuhan, Anda dapat memberdayakannya dalam hidup Anda tepat seperti sudah diberdayakan Abram dalam hidupnya. Janganlah hanya sekadar membaca Firman. Renungkanlah itu hari ini. Kenneth

harus mengembangkan watak yang tidak suka mencela. Ini takkan terjadi dengan segera tetapi harus dikembangkan seiring dengan waktu. Anda harus terus waspada terhadap apa pun yang menyebabkan Anda menyangka diri Anda unggul. Hidup saya tidak luput dari penyelidikan yang tajam yang dilakukan oleh Yesus. Jika saya melihat selumbar kecil di mata Anda, itu berarti saya mempunyai balok di mata saya sendiri (lihat Matius 7:3-5). Setiap kesalahan yang saya lihat pada Anda, Allah menemukannya dalam diri saya. Setiap kali saya menghakimi, saya menyalahkan diri saya sendiri (lihat Roma 2:17-24). Berhentilah menggunakan tongkat pengukur bagi orang lain. Selalu paling sedikit ada satu fakta tambahan, yang tidak kita ketahui, dalam situasi setiap orang. Tindakan pertama yang dilakukan Allah ialah membersihkan kita secara cermat. Setelah itu. tidak ada kemungkinan kesombongan yang masih tersisa dalam diri kita. Saya tidak akan kehilangan harapan terhadap seseorang, setelah memahami hal yang terdapat dalam diri saya di luar anugerah Allah. Oswald Chambers

Menggenapi Kehendak Allah Mengapa dalam Alkitab sering dikatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus atau yang telah terjadi pada diri-Nya adalah untuk menggenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (17:12; 19:24, 28,36)? Penggenapan Kitab Suci ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bukanlah tokoh yang tiba-tiba muncul tanpa diduga, melainkan bahwa Dialah penggenapan Tokoh Mesias yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus telah menggenapi kehendak Allah bukan hanya melalui kematianNya, tetapi juga melalui seluruh kehidupanNya (Ibrani 10:7, 9). Hal ini terlihat dari banyaknya kesesuaian antara kehidupan Tuhan Yesus dengan apa yang telah lebih dulu dituliskan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Perhatikan bahwa saat menjelaskan kepada dua orang murid Tuhan Yesus yang sedang menuju ke Emaus tentang kemesiasan-Nya, Tuhan Yesus memanfaatkan ajaran seluruh Alkitab Perjanjian Lama. Tuhan Yesus telah meninggalkan teladan bagi kita dalam hal melaksanakan kehendak Allah. Teladan Tuhan Yesus itu perlu kita tiru. Untuk bisa mengikuti teladan Tuhan Yesus, kita harus berusaha untuk mengerti kehendak Allah (Efesus 5:17) serta berjuang untuk melaksanakan kehendak Allah tersebut. Melakukan kehendak Allah harus menjadi prioritas kita (Matius 6:33). Untuk bisa mengerti kehendak Allah, tidak ada jalan lain selain kita harus berusaha memahami ajaran Kitab Suci serta bergumul dalam doa. Walaupun melakukan kehendak Allah itu tidak mudah dan kita harus menghadapi berbagai tantangan, melakukan kehendak Allah akan menghasilkan damai sejahtera. [p]

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Matius 6:33 Gema

SALAH AYAT Resepsi pernikahan baru saja dimulai dan pembawa acara akan membacakan ucapan-ucapan selamat yang disampaikan melalui surat ataupun telegram. Seorang teman baik dari pengantin wanita, ingin sekali menyatakan suka citanya atas pernikahan itu, namun dia nggak mau ngeluarin duit banyak untuk beli kado. Akhirnya teman itu memutuskan untuk mengirim telegram yang isinya sebuah ayat Alkitab. Dia mengambil ayat 1 Yohanes 4:18 yang petikannya berbunyi: "Di dalam kasih tidak ada ketakutan." Namun dia sungguh tidak beruntung, karena operator telegram lupa menuliskan angka 1 di depan kata Yohanes. Setiap undangan yang hadir dalam resepsi pernikahan tersebut terkejut saat mendengar pembawa acara membacakan ayat Yohanes 4:18 yang berbunyi: “sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.�

Warta Jemaat GPIA Immanuel, 03 Juli 2011  
Warta Jemaat GPIA Immanuel, 03 Juli 2011  

Untuk Kalangan sendiri

Advertisement