Page 1

Nasional

Leha

RESENSI BUKU

By. R. Fardinan

Tiga Periode Air Tulang Ibu "Menjernihkan mata air doa/ puisi-puisiku terasa tiada bertulang" versi Indonesia. "purifying spring of prayer/ my poems seem bony less" versi English, demikian persembahan singkat untuk amak, Helmi Wirda, oleh penyair Air Tulang Ibu, Zelfeni Wimra. Buku dwi bahasa (versi Indonesia dan english) ini tanpa kata pengantar di dalamnya. Butuh berhari-hari untuk melahap Air Tulang Ibu, meresapi dalam renungan, apa benar yang diinginkan oleh Zelfeni Wimra dalam Air Tulang Ibu. Hasilnya bahwa setiap karya kembali kepada pengarangnya, sedangkan pembaca tetap menafsirkan sesuai dengan apa yang ditangkapnya. Memang tidak asing lagi dalam tangkapan telinga kita, kalau karya sudah dilepas kepada pembaca maka pengarangnya dianggap sudah tiada. Anggapan ini tidaklah mutlak. Tetap saja menurut pikiran saya harus ada campur tangan sang pencipta karya. Air Tulang Ibu dalam buku ini menjadi tiga periode: Periode Air. Periode Tulang. Periode

80

/Desember 2012

Judul Penulis Tahun terbit Penerbit Halaman Resensiator

: Air Tulang Ibu : Zelfeni Wimra : Agustus 2012 : PusakataPublishing : xii+102 halaman : Alizar Tanjung

Ibu. Artinya kalau ingin menganalisa isi buku lebih mendalam, pembahasannya mesti dikelompokkan menurut periode, kemudian baru diambil benang merahnya, yang menurut saya mengarah kepada "ibu". Benang merah inilah yang dipegang oleh para penganalisa, pembaca, pengkritik. Benar atau tidaknya, mutlaknya tetap ada pada pencipta karya. Kalau dilihat dari sisi pengarangnya, Zelfeni Wimra adalah prosais sekaligus cerpenis yang karya-karyanya telah beredar secara nasional. Dan puisi-puisi yang dikumpulkan dalam Air Tulang Ibu dapat dikatakan puisi-puisi yang telah diorbitkan. Lalu apa yang menarik dari buku ini. Pertama, saya ingin meluncurkan pertanyaan kepada pembaca. Apakah sebelumnya kita ada membaca buku puisi orang Minang yang ditulis dalam dua versi: versi English dan versi Indonesia? Kalau puisi yang sifatnya buku puisi tunggal belum saya temukan. Sisi dwi bahasa Air Tulang Ibu ini cukup menarik bagi pembaca. Bagi orang yang memang paham bahasa Indonesia tentu tidak menjadi persoalan, tetapi bagi pembaca yang memang bukan orang Indonesia tentu ini cukup membantu. Terutama para mahasiswa luar yang mengambil studi sastra di Indonesia, mereka yang ingin memahami teks puisi Indonesia telah dibantu dengan adanya buku puisi versi English yang diterjemahkan oleh orang Indonesia yang mengerti kebudayaan Indonesia itu sendiri, khususnya Minang. Papa Rusli pernah menuturkan, seharusnya kita di Sumbar ini memang harus ada

penerjemah. Sehingga bukubuku yang berbahasa Indonesia yang dilahirkan oleh orang Minang dapat dibaca oleh orangorang luar negeri. Selama ini itu yang kurang dari kita di Minang. Sedangkan buku-buku luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia begitu banyak. Hal ini bukan karena tidak adanya para sastrawan yang cakap berbahasa inggris. Orang minang banyak yang paham dan mengerti bahasa inggris, tetapi yang mau melakukan pekerjaan penerjemaah itulah yang jarang dari Minang. Sehingga karya-karya Indonesia sulit terbaca oleh pihak luar. Versi english Air Tulang Ibu diterjemahkan oleh: Ali Akbar dari studi sastra Universitas Bungg Hatta. Benny Sumarna dari Unand. Heru Joni Putra dari sastra Unand. Nofel Nofiardi lulusan Sastra Bung Hatta, dosen IAIN IB Padang. Fitra Yanti Zelfeni dari IAIN IB Padang. Hadirnya versi english kalau kita merujuk kepada perkataan Papa, bahwa Minang memiliki potensi-potensi penerjemah yang sanggup berbuat. Orang yang sanggup berbuat inilah yang kita harapkan untuk pengembangan sastra terjemahan ke depannya. kedua, buku puisi Air Tulang Ibu, ada hal yang menarik dalam buku puisi, garapan dari ide dasar dalam kepala penulisnya, hal itu dapat ditemukan dalam puisi "tempat menahan airmata". Sementara usia memamah nyawa/ kita coba jadi orang riang/ terbahak di rumpun lobak sawi/ pada kepal nasi di licin daun pisang/minyak sambal dan butir-butir rimbang/ kita santap jerih mencangkul bumi// ndeh, kenangan itu berkali-kali/ mengusik perantauanku/ mencangkungi ubun-ubunku/ menumbuk

sunyi tempurung kepala/ kiranya telah sampai kabarnya kepadamu/ di sinilah, pada liang tulang paling dingin/antara selaput gendang dan retina/ aku telah terbiasa menahan airmata/// 20062011 (hal. 11) Rantau yang jauh dalam renungan penulisnya, walau kampung itu berjarak dekat tetapi ada yang terasa menjauh, ada sesuatu yang dirasakan bahwa rantau yang tidak akan kembali kepada pangkal makna asal. Pesakitan batin ini kemudian mengambil peran dalam pergolakan ide dalam kepala. Kita juga akan menemukan dalam puisi "ladang tulang ibu". "mari menyemai daging di perutku/ aku punya tujuh lapis kulit, selaut darah,/ sebidang ladang tempat menanam tulang,"/ pinta ibu pada bapak/ api menyala di patahan sumsumnya/ ibu berdarah// aku pun tumbuh di ladang ibu/ bersama hujan yang dipiuh bapak/ dari kulit ari badannya/ dari perih dagingnya// "lapis kulit, kepal daging,/ dan gemulung uratmu/ berasal dari luka,"/// padangpanjang, desember 2000 (hal. 33). Saya pernah membaca sebuah risalah bahwa nabi ditanya oleh seseorang tentang urusan siapa yang didahulukan dari ibu atau bapak. Nabi menjawab "ibumu". Jawaban ibumu diberikan oleh nabi. Sedangkan bapakmu pada jawaban yang keempat. Barangkali ini menjadi jawaban saya dari puisi "ladang tulang ibu". Selebihnya kembali kepada pembaca. Pembaca tentu juga mempunyai cara masing-masing untuk menikmatinya.*** Padang, 2012

/Desember 2012

81


Nasional

Leha

RESENSI BUKU

By. R. Fardinan

Album Cerpen Penulis Muda Sumbar

Judul Penulis Tahun terbit Penerbit Jumlah hal. Resensiator

: Akar Anak Tebu : Zelfeni Wimra, dkk : 2012 : PusakataPublishing : xii+172 halaman : Alizar Tanjung

"Tradisi bakaba, badendang, bariwayat, tampaknya terus menjiwai segenap pilihan masyarakat Minang hari ini dalam memindahkan turunan nilai moral yang mereka anut. Karakter sastra sebagai media penyampai pesan yang sarat kearifan baik secara lisan maupun tulisan selalu tampak difungsikan. Tanpa diminta, dilatih, maupun diprogramkan secara

82

/Desember 2012

konstitusional, semangat bersastra tetap tumbuh, jelas dan tegas, semangat mengolah hikmah dalam cerita, bermain narasi dan metafora, adalah jiwa Minangkabau. Dari jiwa inilah lahir anak-anak kebudayaan. Di antaranya para sastrawan (prosaik dan penyair). Inilah barangkali jawaban sementara saya terhadap pertanyaan mengapa cerpen masih ditulis di ranah Minang ini?" Demikianlah tutur Abel Tasman (budayawan) dalam potongan kata pengantar kumpulan cerpen Akar Anak Tebu. Potongan komentar yang

juga tertera di cover belakang buku cerpen. Semangat yang dikeluarkan oleh Abel Tasman tidak terlepas dari keberadaan para prosais dalam buku cerpen Akar Anak Tebu yang terdiri dari 17 cerpenis Sumbar. Sebelum masuk lebih jauh ke transfer Akar Anak Tebu Sampai Sastrawan, penulis ingin kita membuka, melihat-lihat halaman demi halaman, judul demi judul, teknik demi teknik, gaya demi gaya tutur para prosais. Cerpencerpen dalam Akar Anak Tebu memiliki gaya tutur yang unik dari masing-masing para penulis cerpen.

Sebahagian dari cerpen ini sudah pernah saya baca di media masa dan sebagian memang belum saya baca di media (bukan karena belum pernah dipublikasikan melainkan karena keterbatasan jangkauan penulis) saya tuntaskan membacanya dalam beberapa hari ini. Ketika membuka lembaran demi lembaran cerpen pertama yang saya baca adalah Minang cerpen Abdullah Khusairi. Gaya jurnalistik yang dibawa cerpen ini berbeda-beda dengan cerpen lain. Minang menggugat persoalan penambangan batubara di Sawahlunto yang menelan korban. Korban ini lebih mirip penyerahan darah. Penyerahan darah ini ditutup dengan kematian Minang yang dilindas oleh truk pengangkut batubara. Membaca cerpen Delvy Yandra saya menemukan teknik yang memang hanya dimiliki oleh sedikit teknik tutur prosais Sumbar. Gnome menarik dalam menempatkan teks dan deskripsi. Kelihaian dalam mendeskripsikan teks membuat cerpen menjadi hidup. Delvy Yandra dalam Gnome mengambil latar luar negeri seperti cerpen-cerpen Delvy yang lainnya, menghidupkan latar asing bagi para penulis yang tidak hadir langsung di sana, merupakan sebuah kerumitan. Akan tetapi Delvy dapat dikatakan cukup berhasil untuk menghadirkannya. Cerpen yang berlatar asing juga dimunculan oleh Ka'bati dengan cerpen berjudul "Sambal" yang berlatar di korea. Maya Lestari GF dengan cerpennya Klein Scheveningen mengambil setting cerita antara Jawa dan Belanda. Membaca cerpen Romi Zarman dengan judul Tebu yang Tumbuh di Pinggir Bibir, pembaca diajak bermain dengan

simbol-simbol yang liar. Penulis diajak untuk berimaji kemudian dibenturkan kepada fakta. Demikian juga dengan cerpencerpen lainnya yang terhimpun dalam Akar Anak Tebu. Semangat cerpen-cerpennya hidup dalam pemiliknya. Kalau dahulu tradisi bakaba, badendang (maratok), Minang lebih cendrung dengan tradisi lisan. Kita mengenal yang namanya rabab pasisiah, bailau, randai. Sekarang tradisi itu dilahirkan dalam bentuk teks (tulisan) yang namanya penulisan karya sastra (cerpen, puisi, novel). Semangat inilah yang dikatakan oleh Abel Tasman, mengapa cerpen masih ditulis di ranah Minang ini? Hal yang menarik dari buku cerpen Akar Anak Tebu di antaranya adalah para penulisnya. Para cerpenis yang terhimpun dalam buku cerpen Akar Anak Tebu adalah para cerpenis muda Sumbar: Abdullah Khusairi, Ade Efdira (Ragdi F Daye), Alizar Tanjung, Delvi Yandra, Farizal Sikumbang, Fitra Yanti Zelfeni, Halfika Padma, Iggoy El Fitra, Kabati, Maghriza Novita Syahti, Maya Lestari Gf, Pinto Anugrah, Reno Wulan Sari, Romi Zarman, Yetti A Ka, Yudhistira, Zelfeni Wimra. Kenapa para penulis muda sumbar, kenapa tidak golongan yang memang sudah memiliki tabungan umur yang cukup? Bahwa Akar Anak Tebu lahir tidak lain dan tidak bukan, karena ingin memberikan apresiasi kepada para penulis Sumbar yang bak mata air di musim kering dan musim hujan. Prosais dan penyair terus berlahiran di Sumbar. Kelahiran para prosais tidak atas pengaruh dari komunitas, prosais Sumbar lahir atas pencarian sendirisendiri dengan meja risetnya sendiri-sendiri. Ada atau tidak adanya komunitas para prosais

akan tetap berlahiran. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya lahir penulis muda yang berdiri dengan karyanya secara otodidak. Bahkan cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku cerpen Akar Anak Tebu adalah cerpencerpen yangg memang ditulis oleh prosais yang karyakaryanya tersebar di media lokal dan nasional. Dan cerpencerpen yang dimuat di buku cerpen Akar Anak Tebu sebagian besar juga telah tersebar di media lokal dan nasional. Salah seorang sastrawan Sumbar pernah mengatakan para sastrawan (prosais) Sumbar ini seperti para pemain bola Brasil. Pemain-pemainnya banyak yang hebat-hebat. Masuk klub-klub besar Eropa. Tetapi klub yang hebat di Brasil apa? Pertanyaan ini mirip dengan kondisi para prosais Sumbar. Artinya sebuah apresiasi besar ada keinginan untuk mengumpulkan prosais Sumbar dalam bentuk antologi bersama setelah beberapa tahun belakangan tidak ada antologi cerpen bersama. Tentunya ini semangat positif bagi apresiasi karya sastra ke depannya. Bukan tidak mungkin diadakan setiap tahunnya antologi cerpen sastrawan Sumbar. Bahkan itu akan sangat mungkin jika dari para sastrawan saling menyokong kegiatan ini. Jika antologi cerpen dapat dilaksanakan dengan baik, penulis percaya dan yakin akan terlaksana pula anugrah (entah apa itu) bagi para sastrawan Sumbar. Dengan demikian hasrat-hasrat yang diwariskan dari tradisi lisan ke tradisi tulisan akan terus hidup bak hidupnya kaktus, tidak terpengaruh dengan panas dan hujan.***Padang, 2012

/Desember 2012

83


Dari/Ke Nagari

Pacu Itiak

PERMAINAN ANAK NAGARI YANG LESTARI

D

i beberapa daerah, itiak (bebek) hanya sekedar menjadi binatang ternak. Untuk petelur dan ada yang untuk konsumsi pribadi. Tapi, di Payakumbuh, ratusan itiak menjadi atlet. Para itiak ini dipuja ketika tampil layaknya atlet di sebuah pertandingan olah raga. September tahun ini, bulan yang berarti bagi itiak di Payakumbuh. Sejak 15 September lalu, pacu itiak kembali digelar hingga dua Desember mendatang.

84

/Desember 2012

Pacu itiak merupakan agenda tahunan masyarakat Payokumbuah yang sudah tercantum dalam kalender pariwisata. Sejarah Pacu Itiak Pacu itiak punya sejarah yang menarik. Menurut Datuak rajo Enda, Ketua Persatuan Olahraga Terbang Itiak (Porti), tahun 1928, ada seorang peternak itiak bernama Urakan, berasal dari Sicincin. Dia punya iItiak yang

sangat banyak ketika itu. Pada suatu hari, dia melihat beberapa itiaknya beterbangan. Ia coba menangkap itiak yang bisa terbang itu, lalu dibawanya ke dataran yang lebih tinggi dan dilemparkannya ke arah yang lebih rendah. Ternyata, itiak tersebut bisa terbang. Itu di luar dugaan Urakan dan masyarakat ketika itu. Kemudian, Urakan menceritakan peristiwa itiak terbang itu ke teman-temannya di

warung. Ia malah ditertawakan. Tidak ada yang percaya dengan ungkapannya. Lalu, ia coba meyakinkan teman-temannya itu dengan menerbangkan itiak tersebut di tengah labuah. Setelah melihat itu, barulah mereka percaya. Mulai saat itu, mereka tertarik dengan itiak terbang dan mulai menyenanginya. Tiap sore, mereka berkumpul dengan membawa itiak-itiaknya, lalu diterbangkan. Pada tahun 1930, mereka mulai melombakan itiak tersebut. Saat itu, perlombaan digelar untuk mengisi acara nagari, seperti batagak gala dan alek nagari lainnya. Itu terus berlanjut. Sampai pada tahun 1980, permainan anak nagari ini mulai dibina oleh Dinas Pariwisata Payakumbuh. Tepatnya tahun 1983, ditetapkanlah kalender pacu itiiak dalam agenda pariwisata Kota Payakumbuh. Terdaftar 12 gelanggang di 12 kenagarian tempat pacu dilaksanakan. Mulai saat itu, pacu itiak digelar tiap bulan Juli. Tapi tahun ini berbeda karena Juli kemarin disambut oleh bulan puasa. Teknis Pacu “Meski pacu itiiak sudah dibina oleh Dinas Pariwisata, tapi pelaksanaannya tetap diserahkan kepada masyarakat. Pacu iitiak dilaksanakan selama 12 minggu berturut-turut dengan urutan gelanggang sesuai kesepakatan. Pacu itiiak digelar akhir pekan, Sabtu dan Minggu,” ujar Datuak Rajo Enda. Masing-masing gelanggang punya pengurus sendiri. Ketika tiba saatnya perlombaan di suatu gelanggang, maka pengurus gelanggang itulah yang akan mempersiapkan segala halnya. Dari 12 gelanggang, enam berada di Kota dan enam berada di Kabupaten. Gelannggang yang di kota, mendapat bantuan dana dari Pemko Rp 4 juta per gelanggang. Sementara yang di kabupaten tidak menentu.

Gelanggang yang boleh ikut, hanya gelanggang yang punya itiak pacu minimal 25 ekor. Tiap ajangnya, dalam satu kali pertandingan, akan ada 300 itiak yang akan berpacu. Layaknya atlet lari, itiak ini juga merebutkan beberapa kejuaraan. Ada jarak 800, 1000, 1200, 1400 dan 1600. Itiak yang akan dilombakan punya spesifikasi per ekornya. Itiak yang untuk kejuaraan 800 meter, tidak bisa diikutkan dalam kejuaraan 1000 meter. Untuk pacu jarak 800 meter, peserta harus membayar uang pendaftaran Rp 2 ribu dengan hadiah 60 persen dari uang pendaftaran keseluruhan. Jarak 1000 biaya pendaftarannya Rp5 ribu dengan hadiah juga 60 persen. Kalau jarak 1200, itu bebas, karena hadiahnya sesuai dengan berapa insert yang dibayar peserta. Begitu juga dengan jarak 1400, uang pendaftarannya sebesar Rp15 ribu. Berbeda dengan jarak yang lain, jarak 1600 hadiahnya 100 persen dari biaya pendaftaran, yakni Rp20 ribu per peserta. Perawatan Itiak Bagi masyarakat yang ingin ikut dalam pacu ini, harus mempersiapkan itiak yang masih muda. Artinya belum pernah bertelur. “Kisaran umur 3 bulan itu sudah bias dipakai. Kalau yang sudah penah bertelur itukan lemaknya sudah banyak,” ungkap Sardinal, seorang peserta yang sekaligus ketua gelanggang Tunggua Kubang. Sardinal menjelaskan, itiak yang akan dijadikan atlet harus diatur makannya. Biasanya satu sampai dua kali dalam sehari, ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan berat badan.

Beratnya harus satu kilogram. Selain makanan pkoknya, padi, itiak juga diberi vitamin. Dua hari sebelum kompetisi dimulai, para atlet bersayap ini mesti kualifikasi dulu di sirkuit (gelanggang). Untuk menentukan, jarak mana yang bias diikutinya. Setelah itu, baru bias ikut sesuai dengan hasil tadi. Para itiak ini, tak ubahnya seperti atlet lari. Agar ototnya tidak kaku, mereka mendapat pijatan dari orang tuannya tiap hari. “Karena, itiak yang menjadi bintang di lapangan, bias dihargai antara Rp800 ribu – Rp4 juta,” tambah Sardinal. Begitulah, pacu itiak berawal dari permainan anak nagari yang mampu bertahan hingga saat ini. Semua berkat kesadaran masyarakat dan perhatian dari pemerintah. [Arjuna Nusantara]

/Desember 2012

85


Bintang di Langik Minang

TAN MALAKA, SJAHRIR DAN HATTA TRIO MINANGKABAU BERSEBERANGAN JALAN OLEH MUHAMMAD ILHAM

Ah .... sungguh "rahim" Minangkabau pantas berbahagia. Minangkabau yang egaliter mampu melahirkan figur-figur avant garde dalam sejarah pergerakan Indonesia yang tak-lah seragam seumpama Tan Malaka, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. Mereka bertiga ini didaulat sebagai bagian dari Bapak Revolusi Indonesia selain Soekarno. Tan Malaka yang dari Pandan Gadang, Hatta dari Batuhampar dan Syahrir yang juga kakak Rohana Koedoes dari Koto Gadang ini samasama egois. Selalu berselisih paham tentang bagaimana memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Mrazek pernah menarasikan bagaimana "egoisme ideologis" mereka bertiga ketika diskusi mengenai "arah masa depan" republik tercinta. Berawal di Berlin Jerman, di rumah salah seorang dedengkot komunis Hindia Belanda pada tahun 1920-an, Darsono namanya. Di rumah Darsono ini,

86

/Desember 2012

tiga anak muda mereka bertemu dan berdebat panas. Mohammad Hatta sengaja datang dari Belanda. Tan Malaka juga. Tan berapi-api menjelaskan komunisme yang dasarnya demokrasi tulen. ”Bukankah komunisme itu mengesahkan diktator, Bung? Karl Marx menyebut diktator proletariat,” Hatta, 20 tahun, menyela. ”Itu hanya ada pada masa peralihan,” Tan menukas. Dia melanjutkan, ”Peralihan kekuasaan kapitalis ke tangan masyarakat. Kaum buruh merintis jalan ke arah sosialisme dan komunisme yang terselenggara untuk orang banyak di bawah pimpinan badan-badan masyarakat. Jadi bukan diktator orang-seorang.” Dalam bukunya "Memoir", Mohammad Hatta menceritakan kembali percakapan itu. Dalam buku itu Hatta setuju pada pandangan Tan, yang lebih tua tujuh tahun. Bahkan ia mengomentarinya: jika begitu Tan pasti tak setuju dengan cara otoriter

Joseph Stalin memimpin Rusia. Dan itulah perseteruan ideologis duo Minang ini. Hatta sangat menentang komunisme. Ia menganjurkan koperasi dalam menegakkan ekonomi Indonesia. Sebaliknya, Tan percaya, jika digabung, Pan-Islamisme dan komunisme bisa menjadikan Indonesia digdaya. Hatta dan Tan sudah seperti musuh. Hatta buka kartu kenapa ia selalu curiga dan menentang Tan. Hatta menganggap Tan selalu meremehkannya. ”Dia selalu menganggap kami (Soekarno-Hatta) anak ingusan,” katanya. Hatta, sebetulnya sudah tak senang kepada Tan sejak di Amsterdam. Pada 1927, setahun setelah ”pemberontakan” Partai Komunis Indonesia yang gagal, Hatta meminta tokoh-tokoh komunis menyerahkan pimpinan revolusi kepada tokoh nasionalis. Berbeda dengan Semaun, Ketua PKI, yang langsung teken ketika disodori deklarasi itu, Tan menolak.

Penolakan itulah yang ditafsirkan Hatta sewaktu berbicara dengan Soekarno sebagai sikap sentimen Tan kepadanya. Padahal, Tan Malaka hanyalah berpandangan bahwa pemimpin revolusi tak boleh dipegang orang selain komunis. Perbedaan itu melekat hingga Indonesia merdeka. Pada 23 September 1945, sebuah rapat digelar di rumah Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo. Hatta menawari Tan ikut dalam pemerintahan. ”Tidak, dua (Soekarno-Hatta) sudah tepat. Saya bantu dari belakang saja,” kata Tan. Hatta menganggap penolakan itu sebagai keengganan senior dipimpin orang yang lebih muda. Tak mengherankan ketika Soekarno keceplosan membuat testamen lisan yang isinya akan menyerahkan kekuasaan kepada Tan jika ia ditangkap sekutu, Hatta menolaknya. Ia menambah tiga nama: Sjahrir, Iwa Koesoema Soemantri, dan Wongsonegoro. ”Agar mewakili semua kelompok,” katanya. Selain dengan Hatta, Tan Malaka juga berselisih paham dengan Sutan Sjahrir, yang juga berasal dari Minang. Menurut Adam Malik dalam Mengabdi Republik (1978), pada awal-awal kemerdekaan Sjahrir menolak bergabung dengan pemerintahan karena belum yakin masyarakat Indonesia menerima sepenuhnya proklamasi Soekarno-Hatta. Setelah yakin Indonesia merdeka secara de jure, Sjahrir—yang menganut ideologi sosialdemokrat—ikut mempertahankan dengan cara yang berbeda. Ketika Belanda akan kembali menghidupkan pemerintah jajahan Hindia, ia ”merapat” ke kubu Inggris-Amerika sebagai ”penguasa” baru nusantara. Sekutu memilih Sjahrir sebagai juru runding karena menganggap ”Bung Kecil” itu berpikiran modern dan disukai Belanda. Sjahrir kemudian gencar mengampanyekan politik diplomasi. Dalam kampanyenya, seperti tertuang dalam pamflet Perjuangan Kita, Sjahrir telaktelak menyatakan akan menyingkirkan semua kolaborator Jepang. Tentu saja ini menohok Soekarno-Hatta. Juga Jenderal Soedirman sebagai salah satu pemimpin tentara Pasukan Pembela Tanah Air (Peta)

bentukan Jepang. Perselisihan makin runcing ketika Sjahrir menjadi perdana menteri dan mengubah sistem politik dari presidensial menjadi parlementer. Praktis ia dan Amir Syarifuddin yang berkuasa. Meski tak banyak komentar lisan, dalam Demokrasi Kita, Wakil Presiden Hatta mengecam perubahan itu. ”Kabinet parlementer tak bisa bertanggung jawab sesuai dengan fungsinya,” katanya. Jenderal Soedirman lebih jengkel lagi. Ia pun merapat ke kubu Tan Malaka yang sudah lebih dulu menentang ide Sjahrir. Maka, pada akhir medio 1940, muncul tiga dwitunggal yang punya jalan masing-masing menghadapi politik pecah belah Belanda: Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir, dan Soedirman-Tan Malaka. ”Jika ulah Sjahrir itu makin mengancam persatuan kita, saya tak segan mengambil kebijaksaan sendiri,” kata Soedirman kepada Adam Malik. Soedirman dan Tan Malaka lalu mengumpulkan seluruh elemen politik di Purwokerto, Jawa Tengah. Pertemuan ini menghasilkan faksi Persatuan Perjuangan yang kongresnya dihadiri 141 wakil pelbagai kubu. Dalam silang-sengkarut itu muncul orang Minang lain yang terkenal sebagai politisi-cumsejarawan: Muhammad Yamin. Ia aktif di Persatuan, tapi sering jalan dengan sikapnya sendiri. Tanpa konsultasi dengan pimpinan Persatuan, Yamin gencar mengkritik secara terbuka politik diplomasi Sjahrir. Sikap frontal Yamin ini kian memanaskan situasi yang berakhir dengan mundurnya

”Bukankah komunisme itu mengesahkan diktator, Bung? Karl Marx menyebut diktator proletariat,” Hatta

Sjahrir dari kursi perdana menteri pada 28 Februari 1946. Situasi adem itu tak berlangsung lama. Tak lama kemudian Soekarno kembali menunjuk Sjahrir melanjutkan diplomasi. Keputusan ini membuat kubu Soedirman-Tan kembali meradang. Saking marahnya, para pemuda Persatuan sempat menembaki mobil Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin yang akan masuk Istana Negara. Bahkan saling tangkap pun terjadi. Amir memerintahkan tentara menangkap Tan dan tokoh Persatuan lain. Soedirman membalasnya dengan memerintahkan pasukan Peta menangkap Sjahrir. Kedua kubu sama-sama membebaskan sandera ketika Soekarno turun tangan. Tapi konflik tak begitu saja reda, sehingga Tan terbunuh di Kediri pada Februari 1949. Sejarawan Harry A. Poeze berpendapat, perbedaan trio Minang itu karena mereka lahir dari lingkungan yang berbeda, meski sama-sama belajar Marxisme dan mendapat pendidikan Belanda. Secara adat Tan seorang raja tapi miskin secara ekonomi, sedangkan HattaSjahrir kelas menengah secara ekonomi. Tan orang udik, Hatta dari Bukittinggi dan Sjahrir dari Padangpanjang dari keluarga pedagang. Meski sama-sama dibuang, Hatta-Sjahrir masih menerima penghasilan. Sedangkan Tan tak punya pendapatan pasti dalam pelarian, hidupnya susah, dan ia berteman dengan penyakit, bahkan bergaul dengan romusha di Banten Selatan. Pasase hidup yang membuatnya kian mantap menjadi Marxis dimulai ketika mengajar di sebuah perusahaan perkebunan Belanda di Deli. Ia melihat langsung bagaimana orang sebangsanya ditindas menjalani kuli kontrak. Berbeda dengan Hatta, kendati sering berseberangan, hubungan pribadi Tan dengan Sjahrir relatif bagus. Menurut Poeze, Sjahrir pernah dua kali menawari seniornya itu memimpin Partai Sosialis Indonesia. Seperti biasa, Tan menolak. ***Sumber utama diolah dari: Alfian (1981), Mrazek (1991) dan Poetze (1994).

/Desember 2012

87


Nan Tasirek

Ujuang Kukuak Oleh Zelfeni Wimra

Apabila ayam sudah berkokok, biasanya, didekatkan maknanya kepada penanda bahwa hari sudah pagi. Apabila hari sudah pagi, berarti kegiatan hidup yang baru segera dimulai. Saatnya pergi bekerja, mencari rezeki. Akan tetapi, rupanya, ayam berkokok tidak hanya pada pagi hari. Tengah malam pun, sering pula terdengar ayam berkokok. Apalagi di siang hari. Apalagi di tengah gelanggang aduan. Barangkali hanya pada beberapa tempat yang padat penduduk di mana memelihara ayam ditakuti masyarakatnya sebagai binatang penyebar virus flu burung, jarang terdengar ayam berkokok. Lantas, karena apa ayam berkokok? Pertanyaan ini meniru

88

/Desember 2012

cara orang bijak seperti filusuf berpikir. Apakah kokok itu semata insting ayam saja; alamiah; dan hukum alamnya memang begitu? Atau ada sesuatu di belakang, di balik, atau di ujung kokok ayam itu? Di ranah Minang ini ada istilah “bak ayam bakukuak di ateh paga”(seperti ayam bekokok di atas pagar). Ini biasanya di pakai untuk menyindir seorang anak remaja yang sudah mulai suka mencari tempat tinggi, di mana dia mudah dilihat dan dirinya juga leluasa melepas pandangan. Ayam melakukan itu karena dua kemungkinan: pertama untuk melihat lawan jenis yang sudah biasa ditaklukkan, dan kedua melihat lawan laga. Artinya, ketika

ayam berkokok di atas pagar, tempat yang tinggi, maka ujung dari kokoknya itu adalah dua hal itu tadi. Entah apa pula yang merahasia di belakang, di balik, dan di ujung kokok ayam di tengah malam? Kalau di siang hari barangkali penanda peralihan waktu. Di tengah gelanggang aduan, jelas penanda dirinya sudah siap berlaga, melawan siapa saja. Di depan pintu kandang barangkali tengah menunggu sesayak dedak, padi, atau jagung dari tuan. Selain kokoknya, isyarat alam yang ada pada ayam juga muncul pada beberapa idiom Minang lain. Misalnya, pada beberapa lirik lagu/ dendang: ayam den lapeh (ayamku lepas); Kinantan panaiak

nan lah ilang/ janjang nan indak baluluak lai (ayam berbulu putih itu sudah tiada, jenjang yang biasa dinaikinya tiada lagi menyisakan jejak [luluk/lumpur]; bak ayam pulang ka pautan (seperti ayam pulang ke tali tempat terpaut); ayam baranak itiak (ayam beranak itik); iyo sarik ba ayam putiah/ kok indak sikok alang manyemba (sungguh sulit memiliki ayam putih/jikapun bukan sikok, elang menyambar). Demikian akrab simbolsimbol budaya Minang yang muncul di lirik lagu atau dendang dengan idiom ayam. Tapi kokok tinggal pada ayam. Paham dipulangkan pada orang banyak. Cara membaca orang Minang terhadap yang tasirek (tersirat) dapat tantangan. Kokok dimaknai saja dengan gelagat yang mencolok. Sebuah perilaku yang mengundang perhatian orang banyak. Mari melirik ke jalanjalan. Ke setiap simpang yang dihiasi baliho bergambar manusia beserta tulisan yang menggambarkan betapa manusia pada gambar itu adalah seorang yang prihatin melihat betapa buruknya keadaan di kota

kita. Seolah gambar itu ingin pula berkokok seperti ayam: “Pikirkanlah saya. Saya bisa memperbaiki keadaan ini!” entah benar entah tidak, tapi kesadaran kolektif orang sekota berkata: “Kami sudah tahu ujung kokok Anda!” Tidak jauh dari baliho itu, lihat pula ke badan jalan yang direncanakan akan diperlebar untuk mempermudah arus kendaraan jika suatu ketika nanti malang tak dapat ditolak, tsunami menghantam kota ini. Badan jalan itu, sudah akan diperbaiki sejak kurang lebih tiga tahun lalu. Akan tetapi, mengapa belum juga kunjung selesai? Kesadaran kolektif masyarakat kota juga paham, “Kami tahu ujung kokok Anda! Andai diselesaikan segera, tentu selesai pula aliran anggaran untuk kami selaku pekerja.” Juga tidak jauh dari badan jalan yang hanya bisa dilintasi oleh sepeda motor itu, beberapa bangunan sekolah berdiri kokoh. Pada sisi vertikal dindingnya juga terpampang baliho bertuliskan betapa pentingnya pendidikan. Sekolah kami mampu memuaskan kebutuhan kalian akan pendidikan. Sekolah yang belum lama

ini baru saja menerima murid baru. Masih terngiang dengung keluhan para orang tua yang seperti terpekik berucap: “Asal anak kami bisa, tidak pun bias masuk sekolah negeri, masuk sekolah swasta pun tak apa. Biarlah kami terbayar mahal!” begitu optimis mereka. Mereka ikhlas membayar antara delapan sampai sepuluh juta rupiah demi anak mereka yang mau masuk sekolah dasar. Antara kokok seekor ayam dan kalimat-kalimat penuh janji yang tertulis pada baliho-baliho dan tersirat pada badan jalan itu, sesungguh terdapat perbedaan yang jauh. Akan tetapi, dalam proses pemaknaannya, terdapat sebuah garis singgung: ujung-ujung dari kokok dengan ujung-ujung dari baliho sama-sama menyiratkan iktikad. Bagi seekor ayam, itikad itu mungkin sesayak padi, seekor betina, atau lawan tanding. Sementara bagi pembuat baliho, itikad itu barangkali hanya perhatian orang banyak. Sebab orang banyak sangat diperlukan untuk mengubah keadaan. Mudah-mudahan ini kokok sejenis ini berujung pada kebaikan[]

/Desember 2012

89


SENI Kiprah

Papa Rusli Marzuki Saria

SAYA BANGGA JADI PENYAIR The old soldier never die. Sebuah ungkapan heroik dari MacArthur itu berlaku sejalan dengan Papa Rusli Marzuki Saria. Seorang penyair, mantan anggota Mobrig (sekarang Brimob), juga pernah melakoni peran penting pada gerakan PRRI. Laki-laki itu menyambut ramah, ketika Saga bertandang ke rumahnya, di Gang Bangka No. 13, Wisma Warta. Sebuah komplek yang berdampingan dengan sebuah perguruan tinggi ternama di Padang, Universitas Bung Hatta.

90

/Desember 2012

Papa, begitu banyak orang memanggilnya. Tua muda. Ia senang dipanggil demikian. “Agar tetap terasa muda. Sebab Saya selalu ingin bersama orang muda. Sakit sedikit, bertemu orang muda saya sembuh. Orang muda itu punya energi besar,” begitu ungkap maestro sastra ini suatu waktu. Papa mengajak Saga naik ke lantai dua rumahnya. Lantai dua itu menawan mata, dengan rakrak buku yang berjejer di timur, utara, barat kamar. Saga melihat deretan nama di antaranya Che Guevara, Orhan Pamuk. Foto-foto masa muda Papa dan dua lukisan

yang menggantung di sisi barat. Sebuah sketsa hitam tergantung di dinding. Sketsa itu hanya menampakkan kepala dengan warna hitam total. Garis lengkung wajah dan rambut yang menyatakan bahwa itu sketsa Papa sendiri. Deretan gulungan koran di timur dinding, bergulung besarbesar. Gulungan-gulungan koran itu berjejer rapi, susunan dari lembaran-lembaran puisi koran: Kompas, Tempo, Padang Ekspress, Haluan, Singgalang, dan lain-lain. "Papa harus membeli empat koran seminggu. Dua koran

nasional: Tempo, Kompas. Dua koran lokal: Padang Ekspress, Haluan. Menghabiskan uang lebih kurang 18 ribu seminggu," kelakarnya. "Kalau tidak bagaimana mau membaca kepenyairan," lanjut Papa. Kami sama-sama tertawa. Sosok penyair asal Kamang ini memang tidak asing lagi. Telah ratusan puisi lahir dari tangannya. Salah satunya termaktub dalam buku Mangkutak di Negeri Prosa Liris. Hingga hari ini, ia jarang absen dalam kegiatan-kegiatan yang bertajuk kebudayaan. Saga mengamati ruang privat Papa, tidak ada yang begitu spesial selain dari ruang yang lebih tepatnya dikatakan dengan gudang buku. Sebuah komputer kerja menyala dengan sebuah kipas angin putar. Tempat tidur, rangkap di ruang kerja. Papa memang telah mulai menggemari buku saat usia sekolah. Proses kepenyairan Papa dimulai dari semangat guru bahasa Indonesia yang ditularkan kepada Papa semasa bersekolah di SMA di Bukittinggi. "Datuk Batuah Nurdin Yaqub, orang Dilam, guru SMA Papa. Dia orang hebat. Dia yang menularkan kepada Papa," ujar Papa. Dilam itu negeri kecil Kabupaten Solok, dekat Sirukam. Kami melanjutkan bincangbincang sastra. Papa bersandar di kaki tempat tidur di ruang privat, lutut kanan naik, kaki kiri bersilonjor. Satu majalah Saga edisi perdana 2012 diletakkan di lantai dengan cover terbuka. Menurut sumber yang Saga kumpulkan, Papa bangga sebagai seorang penyair sebab disebutkan dalam al Quran. Apa pendapat Papa? Mantan Agen Polisi Kepala (Brimob) tidak langsung menjawab. Beliau malah berdiri. Ternyata Papa Rusli mengambil alQur'an terjemahan dan membukakan surat As-syu'ara. "Al-Qur'an berbicara tentang puisi dalam surat Makkiyah, Q.S. As-Syuara (26): 224, 225, 226, 227. Pada zaman jahiliiyah, sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, para penyair berlahiran. Para penyair berlomba di pasar Ukhaz.

melaksanakan festival syair (puisi). Penyair yang menang diberikan hadiah. Syair-syair digantungkan di dinding Ka'bah. Para penyair ini penyair bebas. Mereka mabukmabukkan serupa Sapardi dan Sutardji. Para penyair menikmati tarian perempuan. Pergi ke pesta malam. Berzina. Jadi penyairpenyair inilah yang dikatakan Allah penyair yang pendusta,” ungkap Papa sembari tertawa kecil. Mantan anggota DPRD tingkat II ini menuturkan, penyair yang dilarang adalah penyair yang melenguh sepanjang lembah, mereka menyatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman. Jadi sebenarnya al Quran tidak melarang bersyair. “Saya bangga menjadi penyair karena penyair disebutkan dalam al Quran, sedangkan juru dakwah, juru politik saja tidak ada disebutkan secara khusus dalam al-Qur'an,” jelas Papa. Ia pun memaparkan seputar penyair yang plin-plan, sebentar berpihak kepada Nabi sebentar berpihak kepada musuh. Tetapi di masa Nabi ada seorang penyair yang dipanggil Nabi. Penyair itu diminta bersyair memberi semangat para tentara. Semangat tentara membara. Nabi memberikan jubah beliau kepada ahli syair itu. Papa mengeluarkan android keluaran salah satu pemilik ternama yang menguasai pasar jenis tablet. Meski sudah berusia lanjut, penerima hadiah sastra 1997 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dengan buku puisinya Sembilu Darah, tetap updated dengan teknologi. Inilah yang menjadi salah keunikan pada diri Papa. Pada android itu dihidupkan muratal pembacaan ayat al-Qur'an. "Penyair-penyair sebelum Nabi mengharapkan imbalan. Dia tamutamu terhormat kerajaan," ungkap Papa. Proses kepenyairan Papa apakah ada hubungan dengan ayat (teks) al Quran? "Sebagai orang Islam tentu," ujar mantan Redaktur Haluan ini yang memutuskan menjadi

wartawan semenjak Mei 1969. Kemudian tidak ada tambahan dari Papa. Papa sang maestro puisi Sumbar malah kembali berdiri untuk mengambil kumpulan puisi Parewa, kemudian membukakan halaman sajak, menyerahkan kepada Saga. Puisi inilah yang menjadi jawaban Papa terhadap pertanyaan Saga: PADA HARI INI PADA JANTUNG HARI pada hari ini pada jantung hari terbeliak mata pemberontakwahai, aku tidak beranjak! Muhammadku, anak suku Qurais itu yang tidak disusukan ibunya sudah lama menyampaikan pesan dari langit. aku di sini menunjuk ke hati dalam rinai hipokrasi. 1965 Inspirasi puisi-puisi Papa? "Saya suka berjalan. Puisi Saya banyak lahir sambil mengudara. Puisi Saya ada yang lahir di Ujungpandang, Makasar, Padang tentu saja. Puisi-puisi Saya juga lahir ketika berpergian ke Paris, Berlin. Puisi-puisi Saya juga lahir ketika pembebasan Tim-Tim," ujar pemilik buku puisi Pada Hari Ini, Pada Jantung Hari yang diterbitkan oleh Genta Padang. Papa memang telah lama melintang, ke pelosok-pelosok negeri, sebagai bentuk tanggungjawab beliau sebagai wartawan dan penyair. Arah kepenyairan Indonesia sekarang? "Setelah Tardji apa yang baru?" Tanya Papa ke Saga yang seolah pertanyaan itu ditujukan kepada setiap penyair di Sumatera Barat. Tardji melahirkan O Amuk Kapak. "Masalahnya menyair membutuhkan eksperimen, sekarang apa yang baru di Indonesia. Setelah Sutardji lahir Afrizal Malna. Banyak muncul kepenyairan yang mirip Afrizal Malna. Mardi Luhung di

/Desember 2012

91


Biografi Singkat Papa Papa lahir di Kamang, Bukittinggi 26 Februari 1936. Menamatkan SMA bag. A pada 1957. Sedangkan dunia kepenyairan papa sudah dirintis dari 1957. Pada tahun 1957 Papa telah menulis majalah Indonesia, Konfrontasi, Panji Masyarakat, Budaya Jaya, Mimbar, Basis, Horison, dan suratsurat kabar di Padang. Papa telah menerbitkan buku sajak Pada Hari Ini, Pada Jantung Hari (Penerbit Genta Padang). Antologi Munumen Safari (Penerbit Genta Padang, 1996), Ada Ratap Ada Sunyi (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Tema-tema Kecil (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Sendiri-sendiri, Sebaris-sebaris, dan Sajak-sajak Bulan Pebruari (Penerbit Puisi Indonesia, Jakarta, 1976), Sembilu Darah (Lima kumpulan sajak, Dewan Kesenian Sumbar dan pustaka Sastra, Jakarta, 1996), Parewa, Mangkutak di Negeri Prosa Liris. Mantan Redaktur Haluan yang sangat apresiatif terhadap para penyair-penyair muda ini pernah mengunjungi Malaysia, Bangkok, Singapura, Australia (Townsvils, Cairs), Jerman Barat (Frankfurt, Koln, Munich, Berlin Barat, Hamburg. Menerima hadiah sastra 1997 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dengan kumpulan sajak Sembilu Darah. Mantan Agen Polisi Kepala (Brimob). Pernah menjabat sebagai anggota DPRD tingkat II Padang[]

antaranya," ujar Papa sambil membuka lembaran-lembaran puisi Sembilu Darah. "Nirwan Dewanto pernah menuturkan kepenyairan Lampung, kalau membaca puisipuisi yang dilahirkan di Lampung seolah itu hanya dilahirkan dari seorang Isbedy S. Padahal penyair di Lampung juga banyak. Hal ini sebab komunitas, melahirkan puisi yang seragam. Sekarang setelah Afrizal Malna siapa lagi?� Papa menambahkan, bersyukur kita di Sumatera Barat memiliki corak masing-masing dalam berkarya. Kita memang tetap berkumpul dalam ruang diskusi, kedai kopi, tetapi berkarya tetap dengan cara sendiri-sendiri. Memiliki ruang privasi masing-masing. Sebab itu puisi kita di Sumatera Barat tidak seragam. Harapan Papa terhadap dunia kepenyairan ke depan? 92

/Desember 2012

"Kita seharusnya bisa melakukan eksperimen sendiri di atas meja masing-masing. Sekarang apakah ada percobaanpercobaan seperti itu. Jangan sampai terjadi penyeragaman akibat bahaya budaya komunitas. Menyair membutuhkan eksperimen. Sekarang puisi-puisi lirik sudah mulai ditinggalkan. Kemudian mulai berkembang puisi-esai. Puisi esai sebenarnya dari lama sudah ada, hanya saja baru sekarang dinaikkan namanya. Diantaranya Denny JA." Papa mengeluarkan kumpulan esai terbaru Denny JA. Karya Papa yang terbaru? Saga mengkonfirmasi karya papa yang terbaru. Penyair yang karya-karyanya telah beredar di Koran lokal dan nasional ini, mengambil lembaran-lembaran print karya terbaru di atas rak buku. Meski sudah tua sajaksajak Papa tetap menetas dari cangkang telur. Sajak haritua

diselesaikan Papa Oktober 2012. Hari Tua Hari tua laut bernyanyi kasih Sayang gelombang badai palung berpusarpusar pecahkan ombakmu ke dadaku di malam tak berbintang renta kucing jantan mengembara di pasarpasar cinta! aphrodite yang mengembara jelita pemalu di balik kerudung malamku teman zeus tempat mabuk pengembara apheus bernyanyi keluh kesah terabai dulu cinta anak sekolah di halaman sekolah pulang balik dari pintu erbang pagar tinggi gedung berkejar berlari sampai lelah

impian remaja berbungabunga di tangga lonceng masuk kelas dan sorak-sorai laut dan ombaknya melambai-lambai dermaga 2012 Sebagai pertanyaan penutup Saga meminta pendapat papa terhadap pekanbudaya di Sumatera Barat? Ditanya soal Pekan Budaya Sumatera Barat, Papa enggan berkomentar panjang lebar. Beliau menarik nafas panjang dengan posisi masih bersandar di kaki tempat tidur. "Pekanbudaya sekarang kan sudah dialihkan ke daerah-daerah. Kemarin dilaksanakan di Solok. Tujuannya untuk menaikkan kesenian tradisional. Tapi masih banyak kesenian tradisi yang belum tergarap dengan baik. Seperti Bailau, Rampak. Terutama seni tradisi yang belum tersentuh oleh Islam.� “Pekan budaya sekarang tidak melibatkan seniman. Sekarang pecan budaya proyek Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Sekarang sudah di bawah pemerintah daerah, tetapi pelaksanaannya jangan asalasalan," ungkap Papa. Maklum yang namanya proyek tentu orientasinya terlaksana, berkualitas atau tidaknya adalah usulan lain. Ketika Saga konfirmasi ke Papa tentang keberadaan DKSB beserta personilpersonilnya yang sekarang. "DKSB tidak dapat berbuat banyak. Meski sudah berulang pun ke Gubernuran, tidak mendapatkan apa-apa," jawab Papa yang sekarang genap berusia 76 Tahun. Ternyata waktu dua jam terasa amat singkat. Papa kembali melepas keberangkatan Saga seperti sediakala Papa menerima Saga.[]Alizar Tanjung

/Desember 2012

93


SENI Wawancara

Rencana Induk Kebudayaan Sumbar S

duduknya masalah kebangsaan ambil duduk lesehan di bagi generasi. Kebudayaan jumud atas karpet, pukul 19.39 (ikut-ikutan) akibat dari tidak (23/10), kami berbincang duduknya masalah kebangsaan. mulai dari soal politik. Gaya Kebudayaan yang diinginkan kepemimpinan kepala daerah semakin mundur. Kebudayaan mulai dari gubernuran, bupati, jumud yang naik tahta, ujar Abel walikota, dinas: Gaya Tasman. kepemimpinan Djokowi. Gaya Abel menuturkan, kuncinya kepemimpin kepala daerah adalah terletak pada pendidikan Surabaya yang membawa kota itu di negeri ini. Pendidikan tidak menjadi kota bersih padahal mempunyai tujuan yang jelas, sebelumnya Surabaya dikenal orientasinya apa, visi dan misinya dengan kota yang benar-benar tidak jelas. Pendidikan tidak jauh dari harapan. Gaya mampu memetakan tujuan kepemimpinan Amran Nur, dengan baik. Pendidikan sekarang Walikota Sawahlunto, membawa masih meraba-raba. Indonesia Sawahlunto dengan pariwisata memiliki mata pelajaran paling bangkit dari kota hampir mati. banyak, jam belajar paling Gaya kepemimpinan Alek Nurdin banyak, Indek Developer di Palembang yang memajukan pendidikan 124, setingkat di Palembang. Hingga pembicaraan bawah Vietnam. Hal yang itu mengerucut terhadap diajarkan oleh sekolah tidak jelas persoalan kebudayaan dan ujung pangkalnya. pendidikan di masing-masing “Alangkah lucunya negeri ini, daerah di Indonesia. tamat SD, SMP/MTS, SMA/MA, Berbicara soal kebudayaan tidak jelas mau jadi apa. Tidak kami kembali ke beranda, mempunyai cita-cita yang jelas. udaranya lebih sejuk, suasananya Ketika siswa ditanya, 'tamat SMA lebih santai, di timur tampak mau jadi apa.' Jawaban bukit yang masih perawan “P siswa, 'belum tahu mau yang Su eka jadi apa?', 'pikir-pikir mendindingBelimbing. m nb dulu mau kuliah Sebagai pelaku ko jebar ud cerita kebudayaan dan Tu ns la tid ay dimana.',” Abel Tasman sambil praktisi yang sekarang vis jua epns ak a duduk bersila di duduk di DPRD yang i, mnn ya teras. tentunya juga sebagai isiya, . Dia pengambil keputusan, , menambahkan, apa pendabat Abel alangkah berbedanya Tasman terhadap dengan pendidikan luar kebudayaan dewasa ini? negeri. Pendidikan luar negeri Apalagi banyaknya munculnya tidak memiliki mata pelajaran generasi muda yang ikut-ikutan sebanyak di Indonesia. Jam dalam berkebudayaan. Kita dapat belajarnya tidak sebanyak jam melihat pengaruh dari gaya belajar Indonesia. Amerika Korea, di antaranya. Serikat negara maju yang "Problem kebangsaaan. pendidikannya memang diakui. Problem kebangsaanlah yang Korea mendapat tempat nomor menjadi masalahnya. Tidak 94

/Desember 2012

dua di dunia, kualitas pendidikannya. Tetapi memang mereka mempelajari sesuatu itu dengan serius (fokus). Sebagai contoh orang luar kalau mempelajari ilmu Geografis memang matang olehnya. Sehingga kalau mereka berpergian kemana saja mereka tidak tersesat. Baru saja keluar dari BIM mereka sudah meminta masuk hutan. Tetapi mereka tidak tersesat. Orang Indonesia kalau dilepaskan di Kota Padang ini sudah hilang akal mereka. Kalau ingin membenahi bangsa benahi pendidikan. Bagaimana dengan persoalan kebudayaan yang diambil alih oleh pemerintah? “Bagaimana akan duduk persoalan kebudayaan kalau pendidikannya saja tidak duduk? Dahulu persoalan kebudayaan digabungkan dengan pariwisata. Kebudayaan saja tidak duduk oleh pemerintah. Bagaimana mungkin kebudayaan akan berdiri. Sekarang kebudayaan digabung kembali ke dinas pendidikan. Kemudian dinas pariwisata juga telah berdiri sendiri. Tetapi pelaksanaannya di Sumbar, soal kebudayaan masih terpisah dari pendidikan,” ungkap Abel Tasman. Sambil memandang bukit hitam bersama gelap di timur, Abel Tasman menuturkan, kebudayaan itu adalah alam moral. Kebudayaan itu adalah alam pikiran. Sekarang sebagai contohnya orang mengatakan kalau randai, talempong, silat, itu adalah kebudayaan. Padahal randai, telompong, silat, itu adalah bagian dari produk kebududayaan. Ini bukti kebudayaan tidak duduk.

Sangat disayangkan oleh anggota DPRD ini, menurut dia, sekarang kebudayaan berjarak dari orang awam dan pemerintah. Para pelaku kebudayaan juga berjarak dengan pemerintah. Banyak para penulis puisi, cerpen, tetapi hanya dinikmati oleh para penulis dan orang-orang yang sama. Sedangkan orang awam tidak menikmatinya. Pemerintah juga tidak mau tahu. “Saya dahulu serius mengurus persoalan pustaka, gizi, kesehatan. Sebab ciri dari negarai maju adalah pustaka, gizi kesehatan. Kalau gizi kurang bagaimana akan berkebudayaan,” ujarnya. Apa yang dibutuhkan oleh kebudayaan? Menurut Abel Tasman, bangsa ini harus memiliki strategi kebudayaan. Telah sejak lama disampaikan Bung Hatta bangsa ini harus memiliki blue print kebudayaan. Para pelaku kebudayaan yang bermain di lembaga kebudayaan harus mampu memetakan kebudayaaan: Tujuan kebudayaan itu apa. Orientasi kebudaaan itu apa. Visi dan misi kebudayaan itu apa. Apa yang hendak dicapai dari kebudayaan. Kalau kebudayaan itu tidak ada efeknya apa. Manfaat kebudayaan itu apa bagi kemajuan bangsa. “Apalagi kalau berbicara soal anggaran yang mesti dialokasikan untuk kebudayaan. Mereka yang meminta diangggarkan mesti dengan konsep strategi kebudayaan yang jelas agar dapat dipertanggung-jawabkan dan diusulkan pada rapat perancangan anggaran. Apalagi seperti DKSB anggaran berdasarkan SK dari gubernur. Jadi mesti ditentukan pula posisi anggarannya sebab tidak ada di APBD. Datangnya untuk pengusulan anggaran itu tidak cukup dengan sekali datang. Kalau tidak tembus satu, dua kali, gak juga tembus datang untuk ketiga kali. Intinya komunikasi dan lobi. Tidak cukup hanya dengan satu kali dating," tegasnya. Solusinya bagi dunia pendidikan biar kebudayaan

berkembang, menurut Abel Tasman, Pendidikan mesti membuat orang dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan membuat orang menjadi memiliki kemauan tinggi, pandai membuat keputusan, mandiri, minat bacanya menjadi tinggi. Pendidikan mesti mampu memetakan bakat, potensi, citacita. Sedangkan sekarang pendidikan nasional tidak mampu memetakannya. Kemudian menanam terhadap pentingnya berbahasa ibu.. Menurutnya, paham kebangsaan itu salah satunya dengan berbahasa. Cinta bahasa bangsa sendiri. Kalau bahasa Indonesia sudah dapat dicintai dan dikuasai dengan baik, bahasa lain akan dengan mudah dikuasai. Kemudian mesti fokus dengan sains, sejarah, humaniora. Bangsa Indonesia dahulu buruburu memangkas pendidikan Belanda. Padahal M. Natsir, Agus Salam, sederetan tokoh lainnya tamatan sekolah di pendidikan milik Belanda, tetapi mereka tetap berjiwa nasional. Pendidikan Belanda mampu membuat siswanya menguasai 4 bahasa. Mestinya tamat SMA sekarang juga dapat menguasai 4 bahasa. Kenapa hal yang begini yang dipangkas. Seharusnya dibuatkan pemetaan pendidikan. Dimana letak kurangnya itu yang ditambah. Puat peta perbandingan. “Sekarang kita bertanya-tanya tentang kebudayaan. Kalau ingin kebudayaan hidup bahasa kasarnya kekuasaan harus direbut. Negara maju di dunia hal pertama yang dibenahi adalah pendidikan, kemudian kesehatan. Barulah kebudayaan. Tidak terlena dengan apology," ujar Abel Tasman. Berbicara lebih spesifik terhadap solusi kebudayaan di sumbar, Abel Tasman menekankan, meskinya harus mau berkaca ke daerah-daerah yang memang telah maju kebudayaannya. Kita bisa berbenah dari daerah. Kuncinya kepala daerah, kampus, media, ormas, harus berbenah. Benahi pendidikan, tatanan sosial kemasyarakatan. Jalankan fungsi keluarga, fungsi LKAN.

Pegang tiga teori perubahan dalam kebudayaan, agar kebudayaan hidup. 1. Teori perubahan politik, teori perubahan jangka pendek. Hal ini bisa terjadi sewaktuwaktu. Jaraknya dalam 5 tahun. 2. Teori perubahan ekonomi, jangka menengah. 3. Teori perubahan kebudayaan, teori perubahan jangka panjang. Perubahan itu berlangsung setidaknya dalam waktu 25 tahun, itu pun kalau dilaksanakan dari saat ini. Berbicara sastra (kebudayaan) itu sesuatu yang mewah. kalau ingin berbicara kebudayaan urusan perut harus tuntas, pendidikan dapat diakses. Pendapat Abel Tasman tentang Pekanbudaya? “Pekanbudaya Sumbar tidak jelas konsepnya. Tujuannya, visi, misi, capainnya tidak jelas. Acara seputar itu ke itu saja, seremonial yang sifatnya tahunan. Pelaksana dan penanggungjawabnya pemerintah. Mestinya dalam mengonsep harus melibatkan para seniman, budayawan, penggiat ( simpatisan). Persoalannya pada komunikasi. Harus ada komunikasi yang bersinergi. barulah akan tumbuh kesadaran berkebudayaan. Ada pembahasan yang serius,” Ujar Abel Tasman. Dia juga menambahkan dan mempertanyakan persoalannya kebudayaan sekarang ini, dimana data kemunitas kebudayaan, konkrit dari eksistensi kebudayaan. Kalaupun seniman dan budayawan diundang berpartisipasi dalam kebudayaan, sifatnya menjadi personal. “Tentu lagi-lagi ini persoalan lain," ujar Abel Tasman. Kami mencukupkan pembicaraan. "Suasana di sini sangat nyaman," ujar saya. Perumahan Bukit Belimbing Indah memang didampingi dengan bukit yang indah yang masih perawan di daerah timur. Tidak terasa jam telpon genggam saya sudah menunjukkan 22.24. Kami menutup pembicaran. Mengucapkan salam perpisahan. Jalan-jalan Belimbing-Kelawi telah sepi. Gorengan pinggir jalan sudah banyak yang tutup[] Alizar Tanjung /Desember 2012

95


SENI Nasional

INVENTARISASI KARYA DAN MEMBESARKAN ULAMA SECARA NASIONAL

Ulama dulu punya kharisma. Mereka punya kebesaran di mata umat. Terasa benar, mereka pewaris Nabi. Kebesarannya tidak berdiri sendiri. Mereka juga dibesarkan karena bersikap membesarkan sesama ulama.

96

/Desember 2012

Seorang ulama dalam membesarkan selain dirinya, sering menyebut dirinya “haqir” (rendah), “faqir” (tak ada apaapanya) dan “jahil” (kurang berilmu) tak sebanding dengan temannya yang satu bila diminta

dirinya berfatwa. Yang hebat itu disebut temannya yang ulama pula. Sebaliknya ia sendiri dibesarkan pula oleh temannya yang ulama juga dibesarkan umatnya, karena memang mereka punya kekayaan ilmu (ulama),

bijaksana (hukama) dan lebih dari itu mereka “santun dengan ilmu dan hikmahnya” (hulama) sejuk fatwanya. Karenanya ulama dahulu tempat minta fatwa. Tak ada kesan politik di balik fatwanya. Mereka tulus berfatwa. Karena itu fatwanya diterima dan diperintahkan penghulu/ datuk untuk dilaksanakan masyarakat di kaumnya, bila fatwa sudah dilaksanakan, diteliti kemudian oleh cadik pandai, untuk melihat fatwa itu merugikan atau menguntungkan/ bermanfaat. Fakta ini menggambarkan sinergitas fungsionaris tali tigo sapilin di Minangkabau dalam menerapkan agama dengan adat dan meningkatkan ketahanan masyarakat. Inventarisasi dan Seminar Karya Ulama Kebesaran ulama di Minang dulu tidak saja pada sikap keberilmuan (ilmu), kebijaksanaan (hikmah) dan kesantunannya (halim), tetapi ia besar kerena karyanya. Rujukan umat tidak saja pada fatwanya secara oral, tetapi juga merujuk kepada buku – buku yang ditulisnya. Justru mereka banyak menulis (tentang berbagai bidang keilmuan/ sain juga sastra puisi – prosa), meskipun alat mesin tulis dan kertas terbatas dan zaman penjajah lagi yang kondisi tidak kondusif untuk menulis. Buku karya ulama Minang yang diwariskan itu, masih banyak tersimpan, dipetikan dan dikeramatkan oleh kolektor masyarakat teradisional terutama keluarga ulama dan keluarga pada murid ulama, di samping sebagian sudah pindah tangan ke kolektor pribadi dan kelompok dalam negeri dan kolektor asing di luar negeri. Pada kolektor tradisional buku karya ulama itu tidak

terbaca karena tidak keluar kecuali pada kolektor pribadi dan kelompok dibuat berbicara dan mengefektifkan kembali isinya menjadi fatwa. Para kolektor pribadi dan kelompok yang berbasis di berbagai lembaga penelitian, getol melakukan inventarisasi. Yang

Suites Bandung, Senen-Rabu, 1517 Oktober 2012, yang dilaksanakan Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan yang dipimpin Choirul Fuad Yusuf itu. Seminar yang mengundang para peneliti lektur dan ulama termasuk yang menaruh perhatian besar terhadap naskah

agak menyedihkan Perguruan Tinggi hampir tak punya perhatian mengoleksi buku karya tulis ulama di perpustakaan yang merupakan jantung perbguruan tinggi itu. Ternyata fenomena itu tidak saja di Sumatera Barat, juga di luar Sumatera Barat. Kita tersentak dengan event Seminar Hasil Penelitian "Inventarisasi Karya Ulama di Lembaga Pendidikan" di Hotel Marbella

klasik karya ulama se-nusantara. Hasil penelitian dan inventarisasi karya ulama yang diseminarkan adalah dari 6 wilayah di Indonesia yakni: (1) ulama Minangkabau (Sumatera Barat) diteliti Nurman Kholis dan E.Badri Yunardi, (2) ulama Kalimantan Selatan diteliti Abdan Syukri dan Thantawi Djauhari, (3) ulama Sulawesi Selatan diteliti Ridwan Bustamam dan Ahmad Rahman, (4) ulama

/Desember 2012

97


Sumatera Utara diteliti Nur Rahmah, (5) ulama Jawa Tengah diteliti Alfan Firmanto dan Syartibi, dan (6) ulama Aceh diteliti Fakhriati dan Retno Kartini. Event seminar karya ulama tadi membangunkan kita, betapa banyak karya ulama Minangkabau apalagi karya ulama nusantara yang kita belum melakukan inventarisasinya dan belum melakukan content analysis. Perguruan tinggi kita terutama di Sumatera Barat masih belum menaruh perhatian kecuali orang perorang yang menaruh perhatian yang berbasis di sana, atau yang memfungsikan diri sebagai peneliti dan kolektor (pribadi dan kelompok) yang meski pun ada yang berbasis di Perguruan tinggi. Namun perguruan tinggi belum mengoleksi buku ulama. Sebenarnya mengoleksi buku karya ulama tidak saja menunjukkan perhatian terhadap dunia ilmu tetapi juga berarti bagian dari upaya membesarkan ulama. Karena upaya mengoleksi dan menganalisis karya ulama ini seperti yang dilakukan Balitbang Lektur Kementerian Agama yang diseminarkan itu, dipujikan, karena, upaya itu tidak saja membuat karya ulama itu kembali berbicara sebagai bagian warisan fatwanya kepada umat tetapi juga bermakna membesarkan ulama. Penting segera mengoleksi karya ulama, karena sebentar lagi lenyap bersama lenyapnya atau dimakan rayapnya peti penyimpanan karya ulama pada kolektor tradisional di nagari/ desa-desa itu. Rusdi Ramli, dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya – Adab IAIN Imam Bonjol menganjurkan, “patut kito pasomokan mencari buku karya ulama itu” di perguruan tinggi, di samping dipujikan sudah ada kelompok dan atau pribadi yang sudah memulai menginventaris

98

/Desember 2012

karya ulama sejak tahun 1980 seperti gerakan inventarisasi warisan inetelektual ulama (buku karya ulama: cetak dan manuskrip) di Islamic Centre Sumatera Barat (ICSB) dipimpin Sanusi Latif ketika itu Rektor IAIN Imam Bonjol merangkap direktur ICSB, dirangsang dengan penelitian kontent analisis 37 karya HAKA 1988 didanai Toyota Foundation yang saya satu di antara penelitinya. Gerakan berikutnya lebih getol di Jakarta dikomandoi Oman berbasis di UIN di di Unand digerakan Yusuf, dkk, seiring dengan gerakan Balitbang Lektur Jakarta ketika itu dipimpin Prof. Dr. Maidir Harun, terakhir (2009) lahir pula generasi baru ditandai berdirinya lembaga SNI (Studi Naskah Islam) yang dipimpin YY Dt.Rajo Bagindo dioperasionalkan 9 orang anggota dikoordinasikan Apria Putra dkk seorang anak muda cerdas tamatan sarjana sastra arab Fakultas Ilmu Budaya – Adab IAIN Imam Bonjol. Misi mereka membuktikan Minang gudang ulama dan menginventaris warisan kayanya (ilmiah dan sastra: cetak dan manuskrip) beriringan dengan upaya membesarkan ulama. Keberlanjutan ulama dengan mengoleksi dan merujuk karyanya Sekarang ulama dengan kharismanya seperti dulu memang sudah langka. Jangan pula sampai langka pula karya-karyanya (ilmiah dan sastra) yang pernah mereka tulis, lantaran kita tidak memelihara dan mengoleksinya. Mengenai kelangkaan ulama, justru satu persatu mereka sudah tuwuffiya (diwafatkan). Meski ulama sudah banyak yang wafat, pada hakekatnya mereka serta merta tak hilang- sirna. Mereka tetap ada, pengganti mereka ada karya tulis mereka yang sarat dengan fatwa, hanya menunggu

kita dan ahli untuk mengeluarkan dan mensosialisasikan fatwanya itu. Kita saja kita rasanya yang kurang peduli mengoleksi dan menjadikan karya ulama itu sebagai sumber. Karya HAMKA saja disebut-sebut tak digunakan menjadi referensi di pasca sarjanan perguruan tinggi agama Islam, apalagi buku karya ulama sebelum HAMKA. Yang lebih ironis lagi di perguruan tinggi kita, coba cermati seberapa banyak dosen menjadikan sumber buku temannya yang hampir 100 buku terbit tiap tahun pada perguruan tinggi negeri di Sumbar. Mahasiswa dan pembimbingnya pun dalam menulis karya ilmiah memandang tak berbobot menjadikan karya dosennya sebagai sumber. Peringkat Strata S-1 dan Pasca (S-2 dan S-3) lebih mendang ilmiah merujuk buku luar negeri (arab dan ingris) dan atau kitab gundul yang sesungguhnya tak lebih hebat dan lebih ilmiah dibanding buku ulama dan dosen kita. Fenomena penghargaan terhadap karya ulama seperti ini disebut Mestika Zed sebagai menyedihkan, justru di luar negeri karya ulama kita ini menjadi rujukan utama dalam studi Islam. Dimungkinkan tak menghargainya karena tak tahu isinya. Tak tahunya isinya karena tak memilikinya. Tak memilikinya karena tidak menginventarisnya dan perpustakaan di perguruan tinggi ini tak mengoleksinya. Karenanya pula lebih penting aksi menghimpun dan mengoleksi karya ulama dibanding hanya mengeluh: ulama langka!. Kata Yan Abdullah, selalu mengeluh “ulama langka” adalah sudah paham klasik dan sikap tradisional, sama artinya talk only no action. Artinya harus ada aksi membesarkan ulama. Kita harus berupaya dan tidak boleh hanya mengeluh tanpa berbuat. Undang

/Desember 2012

99


banyak ilmunya tentang ini ialah Buya Mawardi, Buya Haroun alMaaniy di Padang Panjang, temuilah beliau. Tapi saya sebagai wartawan diajari juga pintar, tak mau membuang kesempatan berjumpa sumber (ulama). Cerita punya cerita panjang lebar, informasi tergali juga. Buya tergiring tanpa disadari ke sisi persoalan yang ingin saya cari di samping saya harus menemui buya yang ditunjuknya sebagai sumber hebat lainnya. Akhirnya saya membuat berita juga sesuai penugasan redaksi pelaksana.

teman-teman, berburu dengan waktu, lakukan action, kontak semua teman yg serius, sharing pendapat dan berfikir, minta “sedakah waktu dan pikiran mereka”. Buya Masoed Abidin, Yan Abdullah dan saya menawarkan: ...kita buat group...bersedekah waktu dan pemikiran. Dengan bismillah...kita buat group "membesarkan Ulama Mengatasi Kelangkaannya", meski harus di facebook misalnya, dan itu sudah dibuat dan ramai, sila berpartisipasi. Justru untuk situasi generasi sekarang penting mewarisi sikap ulama dulu menghargai teman. Sesama kawan (ulama) saling membesarkan. Fenomena sekarang, ada sesuatu yang hilang yakni sikap santun dan saling membesarkan, yang muncul sesama kita saling meruntuhkan, saling merendahkan, saling melecehkan dan membunuh karakter. Karakter buruk ini sangat fenomenal. Kalau boleh kita saja yang besar dan mau dibesarkan, beda sekali dengan ulama dulu suka manggadangkan kawan, tak menyebut dirinya berilmu, tetapi faqir (miskin) dan haqir (lemah) dalam berilmu. Itu sikap tulus ulama, Syech/ Inyiak/Tuanku/ Buya-buya dulu.

100

/Desember 2012

Pembentukan karakter generasi kita sekarang, perlu perwujudan kerinduan kita pada nilai yang dicontohkan ulama perwaris nabi ini. Upaya mencari kerinduan ini, pernah sudah dimulai group penulis cerpen SKU.Haluan dulu tahun 1980-han, kompak membuat novela mini tetang 20 ulama Sumbar dan diterbitkan menjadi buku 1981. Sekarang saya berupaya tetap menulis ulama, setelah ditularkan sikap ini kepada mahasiswa sejarah, tahun ini seperti sebelumnya Museum Negeri yang dipimpin Muasri sejak bu Ita dulu, bertekad menerbitkan buku 1000 ulama secara beredisi, tahun ini akan terbit buku riwayat hidup ulama untuk buku ke-2. Tak lain tak bukan...ingin mewariskan nilai kebesaran ulama, agar generasi kita meniru sikap rendah hati besar jiwa, senang menyebut teman lebih, menyebut dirinya tak berilmu dibanding teman meski ia diakui gudang ilmu. Masih tentang sikap ulama ini, ada pengalaman lain, pernah saya sebagai wartawan, ketika saya ditugaskan mewawancarai Buya Datuk Palimo Kayo, beliau berkata: onde...nak, buya ndak banyak ilmu tentang ilmu Islam ini. Yang

Mewarisi nilai menghargai teman dari ulama Beda sekali dengan kita sekarang, kalau ada orang minta temannya menjadi nara sumber, ia bilang temannya itu tidak ada apa-apanya, disebut kepalanya tak berisi, seolah yang besar dirinya sendiri pintar sedunia. Tak ada orang besar selain dirinya, terselip maksud ia promosikan diri sendiri, agar ia sendiri yang diundang menjadi nara sumber. Fenomena karakter ini sebagai orang berilmu, ada yang hilang dan kalah yakni kehilangan sikap suka “menghargai orang”. Duski Samad pernah mencatat, tentang perbincangan saling membesarkan antar tokoh dalam fenomena sikap ulama dulu, seperti benar kata slogan sesama bis kota: “dilarang saling mendahului!”. Kita bersikap suka mendahului, tak mau memberi kesempatan kawan hendak dahulu, meski kita sendiri tidak kencang untuk dahulu. Belajar dari karakter/ kepribadian ulama dahulu, Rusdi Ramli mencatat, ulama itu memang mulai dari darinya.

Mereka santun dan babudi, kalau ada sumbang saran kepada umara' (pemerintah) terasa tulus. Pandai benar bersanding antara ulama dan umara, bagi kekuatan bangsa. Rupanya mensiasati sikap ini ulama dulu sudah sampai ke tingkat ulama (gudang ilmu) yang hukama (bijaksana) dan hulama (santun) dimungkinkan tingkatan al'allamah. Lintas perspektif pengetahuannya luas, bijaksana dan santun. Tapi ulamapun dipandang sudah tinggi dan mulia sebagai pewaris Nabi, dan hamba Allah yang paling takut pada Allah. Dalam masyarakat ulama dibesarkan, dan ulama pun saling membesarkan. Perlu kita tiru sikap itu, tak perlu perang mulut menyatakan kita paling hebat, dan memandang orang kecil. Kearifan lokal Minangkabau juga mengisayaratkan, yang ber sikap “mansur (main sendiri)” dan “membesarkan diri sendiri” itu tak bisa gadang. Dalam khazanah lama: Gadang balambuak, tinggi bajujuang. Mari kita jujung tinggi dan kita tiru sikap mulia ulama suka membesark an teman, kita kumpul karya ulama dan karya para penulis Minang dari dulu sampai sekarang sebagai bagian kebesaran Minang. Ini bagian sikap membesarkan ulama dan para pewaris dan yang mewariskan khazanah intelektual, budayawan dan sastrawan. Siapa yang membesarkan orang besar

dahulu, pada gilirannya besak ia akan dibesarkan generasi berikutnya. Amanat Islam “man rahima ruhima” (siapa yang menyayangi ia disayangi). SAGA01

Gadan balamb g tinggui ak, bajujua ng

/Desember 2012

101

Majalah saga edisi ii (halaman 80 101)  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you