Issuu on Google+

outlet | Edisi24 | 29 Okt-12 Nop 2008

NEWENTRY

5

Ponsel Ramah Lingkungan foto-foto: NET

Mobile Phone Patnership Initiative (MPPI) baru saja mengumumkan ada sekitar 50 juta ton limbah beracun dari ponsel mengancam bumi. Untuk itu vendor besar pun dituntut membuat ponsel yang lebih ramah lingkungan.

S

eperti yang dialami Apple menjelang peluncuran iPhone, Apple sempat kalang kabut karena mendapat kado dari aktivis pecinta lingkungan, Greenpeace. Para aktivis tersebut mengirimkan selebaran yang berisi analisis para ilmuwan tentang produk iPhone yang kurang ramah lingkungan. Dalam sebuah video yang diupload dariYouTube dan diposting pada situs Greenpeace, seorang ilmuwan bernama David Santillo mengklaim bahwa iPhone ternyata mengandung material bromine, chlorine dan Phthalates, dalam level yang berbahaya. Zat kimiawi tersebut sering digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas materi plastik. Pihak Apple pun segera me-redesain komponen baru. Sejak itu, isu tentang produk yang ramah

lingkungan pun menjadi bahan perbincangan dimana-mana. Karenanya, tak heran belakangan banyak produk diluncurkan dengan embelembel kampanye ramah lingkungan. Samsung, misalnya, telah memulai aksi peduli lingkungan ini dengan mengkampanyekan Go Green untuk beberapa tipe ponsel keluaran terbarunya. Raksasa ponsel asal Korea itu merilis seriW510 dan F268.Yang istimewa, salah satu bahan untuk membuat lapisan plastik ponsel tersebut adalah tanaman jagung. Selain Samsung, pabrikan ponsel lainnya, seperti LG, menjamin pada beberapa ponsel yang akan dirilis akhir tahun ini dijamin tidak mengandung bahan yang disinyalir berbahaya bagi alam seperti PVC (polyvinyl chloride) dan BFRs (brominated flame retardant). Nantinya secara global, mereka akan menghentikan pemakaian PVC dan BFRs di tahun 2010 pada seluruh produknya. Upaya serupa juga dilakukan Nokia. Selaku pemimpin pasar, demi menarik simpati pecinta lingkungan, vendor ini sempat merilis yakni Nokia 3110 Evolve, yang terbalut dan berisi bahan-bahan ramah lingkungan karena tidak mengandung racun berbahaya. Nokia mengklaim 65 hingga 80 persen ponselnya dapat didaur ulang setelah tak dipakai lagi. Kebijakan Nokia ini kemudian menjalar ke 85 negara yang berkait langsung dengan produsen pusat di Finlandia, mulai pengecer, pabrikan lokal, dan bahkan operator telepon yang menjadi mitra.

Nokia pun melakukan penghematan energi pada alat komunikasinya.Vendor ini mengklaim lebih dari 90 persen ponsel yang dijual kini lebih hemat energi, karena masa mengisi baterai diperpendek. Nokia menghitung, sepanjang 2003-2006 berhasil meningkatkan efisiensi energi yang digunakan Nokia di seluruh dunia sebesar 3,5 persen.

PonselHijauBerbahanDasarJagung Peduli dengan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Salah satunya dengan menggunakan produk yang ramah lingkungan. Samsung baru-baru ini mengeluarkan ponsel untuk pengguna yang peduli dengan lingkungan hidup. Ponsel dengan seri E200 Eco ini memiliki casing yang terbuat dari bioplastic yang berbahan dasar dari tanaman jagung. Selain casing,

W510. Ponsel ramah lingkungan pertama milik Samsung

Teknologi Medical Imaging pada Ponsel Dalam dunia kesehatan modern, teknologi medical imaging memegang peranan dalam menganalisa bagian tubuh pasiennya secara cepat dan tepat. Beberapa teknologi medical imaging yang sering kita jumpai adalah ultrasonography (USG) dan X-ray.

B

anyak sekali penyakit berbahaya yang bisa dideteksi lebih dini menggunakan teknologi medical imaging. Hanya saja, sering kali penderita tidak memeriksakan dirinya dengan medical imaging karena terbentur biaya yang mahal atau tidak punya waktu untuk menjalani pemeriksaan. University of California, Berkeley, Amerika Serikat, sedang mengembangkan teknologi medical imaging yang dapat diterapkan pada perangkat mobile, seperti ponsel. Dengan makin banyaknya orang yang menggunakan perangkat mobile, termasuk ponsel, sudah pasti teknologi medical imaging dapat membantu banyak orang. Masalah seperti biaya dan waktu bisa dijawab dengan terobosan ini. Tapi bukan hal mudah menerapkan medical imaging di perangkat mobile karena ini membutuhkan keberadaan hardware dan software yang baru. Sebutlah kamera, layar dan chip khusus untuk mendukung medical imaging. Karena itu pula pihak University of California akan menggandeng banyak pihak, termasuk vendor ponsel dan software developer, untuk mewujudkan proyek ini. Beberapa waktu lalu pihak universitas sudah menge-

luarkan contoh ponsel yang dilengkapi teknologi mobile medical imaging. Hanya saja produk prototype ini masih mendukung satu fitur saja, yaitu USG. Demo ini mendapat respon bagus dari banyak pihak untuk ikut bergabung mengembangkan teknologi ini. Beberapa yang sudah menyatakan komitmennya adalah U.S. National Institutes of Health (NIH), Israeli Science Foundation (ISF) dan Florida Hospital. Riset teknologi ini sudah pasti menyedot banyak uang, dan pastinya ini juga berimbas pada harga perangkat jika dipasarkan nantinya. Harapan mereka sebenarnya ingin membuat harga teknologi mobile medical imaging dapat dijangkau oleh semua kalangan. Untuk mengatasi hal ini, selain melakukan banyak lobi untuk menjalin kerjsama dengan banyak pihak, University of California juga berupaya mengembangkan teknologi baru di mobile medical imaging. Dengan kondisi yang ada sekarang, mobile medical imaging diharapkan dapat terwujud 3 sampai 5 tahun mendatang. Itu juga masih di Amerika dulu, belum pasar global. (yen/berbagai sumber)

komponen inti handphone masih menggunakan material biasa. Namun Samsung menghindari penggunaan zat kimia yang berbahaya semaksimal mungkin . Ponsel ini juga akan membunyikan alarm untuk mengingatkan pengguna agar mencabut charger ketika ponsel telah terisi penuh. Dengan fitur tersebut, pemborosan energi akan semakin berkurang. Meski pun desain ponsel ini terlihat kuno dan ketinggalan zaman, Samsung telah memberikan contoh positif yang pasti akan diikuti oleh vendor besar lainnya.

Ponsel Kertas Ramah Lingkungan Berbeda dari baterai konvensional yang kaku dan tebal, baterai berbahan kertas memiliki dimensi sangat tipis dan lentur. Pengguna bahkan boleh menggunting baterai tersebut dan membentuknya sesuai kebutuhan. Baterai kertas ini bahkan bisa ditumpuk dan direkatkan untuk memperoleh suplai daya lebih besar, tambah profesor biologi dan kimia Rensselaer Polytechnic Institute, New York, Robert Linhardt, anggota tim pengembang baterai berbahan kertas tersebut. Tim pengembang mengungkapkan, baterai berbahan kertas ideal sebagai sumber daya peranti penyimpan data storage alat-alat elektronik masa depan. Ketika menggunakan baterai berbahan kertas, alat elektronik bisa didesain setipis dan ser i n g a n mungkin. Bukan tidak mungkin, alat elektronik tersebut juga memiliki kelenturan tinggi. Para ilmuwan menjelaskan, baterai berbahan kertas ini bekerja mirip baterai Lithium-Ion konvensional. Berbeda dari baterai Lithium-Ion konvensional yang mengandalkan kombinasi sel-sel, baterai kertas memiliki sel terintegrasi. Baterai lentur ini menggunakan kertas yang ditanami electrolyte dan carbon nanotube. Electrolyte berfungsi sebagai penyalur daya, carbon nanotube sebagai elektrode, dan kertas sebagai pemisah. Prototipe awal baterai berbahan kertas memiliki daya 2,5 volt. (yen/berbagai sumber)


New Entri