Issuu on Google+

Orangutan Diary Desember 2011

Jalan   Panjang   Menuju   Keadilan   Orangutan   COP  

Isu pembantaian orangutan yang menyeruak di media massa tidak datang tiba-tiba atau pun sekedar mengalihkan isu lain. Isu itu adalah fakta kasus kriminal yang ditemukan di lapangan oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP). Dan semua itu atas proses yang panjang. Tim lapangan, tim eksekusi, tim multimedia, tim kampanye COP yang seluruhnya tersebar di di Kalimantan, Jawa dan Sumatera bersinergi menggali fakta hingga fakta-fakta kekejaman terhadap orangutan tersebut diproses oleh hukum. Berikut kronologis kekejaman terhadap orangutan yang ditemukan tim di lapangan:

28 Mei 2006: Kekejaman dilakukan oleh PT. Globalindo Alam Perkasa (Musim Mas Group) yang menyebabkan kematian satu orangutan . Agustus 2006: Para pekerja Kerry Sawit 2 (Wilmar Group) memukuli wajah anak orangutan dan memotong jari tengah dan jari manisnya di semua tangan kanan dan kiri, hingga akhirnya mati. April 2007: Para pekerja PT. Agrobukit (Goodhope Asia) mencangkul kepala induk orangutan dan memasukkannya ke dalam peti. 5 September 2010: Ditemukan satu bayi orangutan yang dipelihara oleh masyarakat desa Pamalian. Induk orangutan ini sudah dibunuh bersama dengan dua orangutan dewasa lainnya. Lambatnya respon dari pihak berwenang

untuk menyetujui operasi evakuasi telah menyebabkan kematian bayi ini. 27 April 2011: Tengkorak orangutan ditemukan kira – kira 50 meter dari kawasan konsesi PT. Tunas Agro Subur Kencana 3 (TASK 3). Menurut masyarakat setempat, orangutan diburu dan dibunuh oleh mandor PT. TASK 3 yang bernama Maksian. 24 Juli 2011: Tim COP mengevakuasi dua bayi orangutan yang dipelihara di dalam camp PT. Sabhantara Rawi Sentosa (SRS). Induk dari bayi orangutan ini sudah dibunuh. Satu jari tangan kanan orangutan tersebut putus. 20 Agustus 2011: Orangutan tewas ditembak dan masih tersangkut di atas pohon di PT. Sarana Titian Permata 2

  www.orangutanprotection.com  


Orangutan Diary

COP   6 September 2011: Empat kerangka orangutan ditemukan di dalam kawasan konsesi PT. Sarana Titian Permata, anak perusahaan Wilmar Group di Kalimantan Tengah. 29 Oktober 2011: Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman menerima penyerahan warga atas kerangka yang diduga milik orangutan dari kawasan PT. Khaleda. 3 November 2011: orangutan jantan dewasa ditemukan babak belur dan terbaring di pinggir jalan utama perkebunan kelapa sawit PT Khaleda.  

Setelah penemuan fakta-fakta tersebut, tim COP segera melaporkannya ke BKSDA setempat. Namun seringkali laporan yang disampaikan oleh tim COP tidak segera diproses oleh BKSDA. Agar kasus demi kasus dapat diusut dengan tuntas, tim COP tak berhenti sampai tahap pelaporan ke BKSDA, tim COP membagikan fakta informasi yang ditemukan di lapangan kepada media dan masyrakat. Untuk kasus pembantaian orangutan di Kalimantan  

Timur dan Kalimantan Tengah, tim melakukan aksi demonstrasi di Jakarta. Pada 15 November 2011 di depan istana Negara, 22 November di depan kedutaan Malaysia dan 7 Desember di depan Bundaran Hotel Indonesia. Tak berhenti sampai disitu, tim pun melakukan konferensi pers di Yogyakarta dan Jakarta. Hingga akhirnya informasi fakta tentang kekejaman terhadap orangutan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah menjadi isu nasional, bahkan internasional. Bukti-bukti yang didokumentasikan COP berupa foto dan video dapat dijamin keakuratan posisi dan waktu kejadian berlangsung karena menggunakan teknologi terkini. Bukti-bukti tersebut juga digunakan oleh pihak kepolisian saat proses penyidikan. Namun hingga kini belum ada tindakan nyata dari Kementerian Kehutanan pada pelaporan kasus pembantaian orangutan di Kalimantan Tengah. Sementara untuk kasus dugaan pembantaian orangutan di

COP  

Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kini sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Tenggarong. Polisi menangkap empat tersangka, yakni Manager PT Khaleda Agroprima Malindo (KAM) Puah Chuan dan karyawannya, Widiantoro serta dua karyawan pabrik PT KAM.Dan hingga kini polisi terus memburu keberadaan mantan General Manager (GM) PT KAM Aru Mugem yang diduga ikut terlibat dalam kasus pembantaian orangutan di Desa Puan Cepak. Para tersangka akan dijerat oleh Pasal 21 ayat (2) huruf a dan b junto Pasal 40 ayat (2) Undangundang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 juta. Semoga pidana hukum untuk para tersangka kasus kekejaman terhadap orangutan ini dapat ditegakkan seadil-adilnya. (COP)

Centre for Orangutan Protection (COP) fokus terhadap penyelamatan orangutan dan habitatnya. COP bekerja dimanapun orangutan membutuhkan pertolongan. COP mengkampanyekan penghentian segera terhadap penghancuran hutan tropis dan pembantaian orangutan. Orangutan Diary hadir sebagai penjembatan antara Anda dan     orangutan-orangutan yang berhasil diselamatkan atau pun yang dibantu oleh COP. Anda dapat berpartisipasi dalam penyelamatan orangutan dan habitatnya, kirim email ke: orangutanborneo@mac.com

  www.orangutanprotection.com  

Jalan   Panjang   Menuju   Keadilan   Orangutan    

Orangutan Diary


COP  

COP  

Follow  us  on  twitter:  @orangufriends  

Orangutan Diary

!!!"#$%&'()%&*$#)+,)-#&",#./

Good News untuk Orangutan Kaltim Oleh: Fian Khairunnisa Apakah Anda masih ingat, bayi orangutan yang bernama Sydney? Kami mengevakuasinya bersama dengan satu orangutan muda lainnya dari perkebunan kelapa sawit PT. Sabhantara Rawi Sentosa (SRS) anak perusahaan dari Makin Group di Muara Wahau, Kalimantan Timur, pada 24 Juli 2011 lalu. Sayangnya, dalam operasi tersebut, induk orangutan telanjur tewas karena disiksa para pekerja perkebunan. Dan ketika kami mengecek mayatnya, jari induk orangutan tersebut terputus. Berita baik hari ini adalah dua orang pekerja dari anak perusahaan PT. Makin Group tersebut sudah ditahan polisi sejak 2 Desember 2011. Mereka sedang diinterogasi untuk

menentukan, apakah mereka melakukannya atas perintah manajemen atau kemauan sendiri. Jika terbukti bahwa mereka melakukannya atas perintah manajemen, maka penangkapan para manager akan dilakukan, seperti yang telah dilakukan atas para manager Metro Kajang Holdings Berhad di Muara Kaman. Kabar baik pun datang dari masyarakat di Kalimantan Timur. Setelah berita pembantaian orangutan tersebar luas di masyarakat Kaltim, sepertinya dengan tidak langsung telah menanamkan kesadaran masyarakat akan perlindungan orangutan. Buktinya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)

Tenggarong, Kalimantan Timur 'kebanjiran' orangutan yang diserahkan oleh masyarakat. Ketika tim Ape Crusader Centre for Orangutan Protection (COP) mengecek ke sana, ada empat individu orangutan dan satu owa. Sebelumnya ada enam individu orangutan. Dua di antaranya masih bayi dan harus mendapat perawatan khusus, maka oleh BKSDA dua bayi orangutan tersebut diserahkan ke Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Samboja untuk mendapatkan perawatan. Centre for Orangutan Protection mengucapkan terima kasih atas dukungan Anda. Saatnya kita menegakkan hukum.

APE   Defender   adalah   tim   COP   yang   bermarkas   di   Kalimantan   Tengah.   APE   Defender   mengorganisir   masyarakat   untuk   bersama-­‐sama   mempertahankan   hutan.   APE   Warrior   merupakan   tim   COP   yang   bermarkas   di   Yogyakarta,   bertugas   meliputi   Jawa   dan   Sumatera.   APE       Crusader   merupakan   tim   respon   cepat   COP,   bermarkas   di   Kalimantan   Timur.   APE   Crusader   menjadi   garda   terdepan   dalam   penyelamatan   orangutan  korban  perusakan  hutan  maupun  yang  dipelihara  secara  illegal   oleh  masyarakat  

  www.orangutanprotection.com  


Orangutan Diary

Tempat Tidur Baru Untuk Anne dan Karno Oleh: Daniek Hendarto

Kebun Binatang Ragunan di Jakarta merupakan kebun binatang dengan koleksi orangutan terbanyak di Indonesia, yakni sebanyak 55 orangutan. Anne dan Karno adalah orangutan betina berumur sembilan tahun yang menghuni Kebun Binatang Ragunan. Bagian depan kandang Annne dan Karno berupa kandang terbuka untuk bermain pada siang hari dan bagian belakang berupa kandang tertutup untuk tidur disaat malam tiba.

COP  

Kandang tidur beralaskan kantai semen menemani Anne dan Karno sepanjang malam. Tim APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP) bersama para sukarelawan prihatin melihat kondisi kandang mereka. Karenanya kami membuatkan tempat tidur gantung (hammock) untuk Anne dan Karno. Bahan hammock terbuat dari selang bekas yang diperoleh dari bantuan dinas pemadam kebakaran Jakarta Utara dan Jakarta Timur secara gratis.

Kami bekerja penuh semangat. Ada yang memotong selang, menganyam selang, memasang baut, mengebor dan menarik selang supaya tetap tegang. Tempat tidur baru yang sangat sederhana buat Anne dan Karno, namun setidaknya bisa menggantikan sarang pohon yang tidak bisa mereka rasakan seperti di habitat aslinya. Untuk Anne dan Karno, “Selamat menikmati hammock buatan kami. Semoga mimpi indah.”

 

Souljah pun Peduli Orangutan

COP  

  www.orangutanprotection.com  

Sebagai duta Centre for Orangutan Protection (COP), Souljah melibatkan COP pada aksi panggung dan event Souljah. Pada 3 November lalu, COP berbagi informasi mengenai isu-isu perlindungan orangutan kepada Bradda Souljah (sebutan untuk fans Souljah) di Jakarta, pada acara anniversary Bradda Souljah yang ke-3. Acara sangat ramai, Bradda Souljah pun sangat antusias dengan kehadiran stand COP di tengahtengah dentuman musik reggae. Mereka menyatakan kepeduliannya terhadap orangutan dan sepakat untuk bersamasama menjaga kelestarian orangutan. (COP)


Orangutan Diary Edisi Desember 2011