Issuu on Google+

STIGMA FOUNDATION

(BICARA DARI DALAM DIRI & HATI) ISI : •

Penyakit Kelamin Pada Perempuan

Soal Seks, Perempuan Terpinggirgan

ODHA Perempuan Beresiko Kanker Dubur

BIDADARI E D I S I

-

4

Penyakit Kelamin Pada Perempuan Jika anda diduga memiliki masalah yang berhubungan dengan penyakit kewanitaan apakah itu periode mentsruasi yang tidak teratur, masalah hormonal atau penyakit yang disebakan hubungan seksual (STD), sebaiknya selalu periksakan ke dokter. Ini penting untuk mengetahui gejala yang ditimbulkan dan juga untuk mendapatkan informasi mengenai masalah kesehatan seksual yang banyak wanita hadapi, bagaimana mencegahnya dan bagaimana melindungi diri. Karena masih ada stigma mengenai kesehatan seksual, banyak wanita menghindari pergi ke dokter padahal penghindaran ini dapat mempengaruhi kesehatan serius termasuk kesuburan.

dengan cervical smear atau screening kesehatan seksual. Yakinlah untuk memeriksa secara teratur setidaknya satu kali setiap tiga tahun. Berhenti merokok karena penelitian menemukan hubungan antara merokok dan kanker vulva dan gunakan kondom.

Berikut beberapa penyakit umum yang wanita hadapi dan cara menjamin kesehatan kewanitaan tetap sehat: HPV Human papillomavirus (HPV) adalah salah satu infeksi virus yang disebabkan oleh hubungan seksual paling umum. Sebagian besar penyakit ini tidak begitu berbahaya tetapi jika test smear nampak tidak normal, dokter akan menyarankan untuk test lab. Cara untuk mengatetahui HPV adalah

PID Pelvic Inflammatory Disease (PID) mempangaruhi satu dari 10 wanita dan jika dibiarkan akan menyebabkan ketidaksuburan. Gejala yang mungkin timbul pinggul sakit saat hubungan seks, pendarah yang tidak teratur

atau perubahan bau pada vagina. Segera periksa ke dokter jika anda menemukan gejala itu. Penyakit ini dapat dengan mudah disembuhkan dengan antibiotik .Upaya pencegahan PID adalah lakukan seks yang aman dan memeriksakan secara teratur. Kadang -kadang gejala tidak begitu jelas ampai semua terlambat. BV Bacterial vaginosis adalah salah satu infeksi vagina yang paling umum diantara wanita diusia beranak. Penyakit ini sering dianggap hanya infeksi karena memiliki gejala yang sangat umum dengan infeksi biasa. Gejala dari ketidakseimbangan bakteri dalam vagina termasuk gatal, aroma amis dan perubahan dalam vagina. Jangan biarkan gejala-gejala tersebut dan yakinlah untuk diperiksa dan disembuhkan dengan baik. Jika dibiarkan, ini akan meningkat resiko berkembang menjadi PID

(Sumber : Joane forum humas, Forum

Soal Seks, Perempuan Terpinggirkan Pada zaman lampau, di kebanyakan budaya, perilaku seksual yang diterima berdasar pada premis yang menyebutkan bahwa pria butuh dan berhak atas seks, sementara kesenangan atas seksual pada perempuan harus dinomorduakan setelah si pria terpenuhi kebutuhan seksualnya dan kegiatan reproduksi dilaksanakan. Konsekuensinya, seksualitas pada perempuan menjadi sangat terkait dengan yang namanya kegiatan reproduksi semata. Demikian diungkapkan Dr. Nalini Muhdi, Sp.KJ (K) saat simposium kedokteran seksual di Surabaya. Nilai-nilai yang hidup di abad ke-19 ini jelas mendesakkan banyak tabu dan larangan bagi perempuan. Perempuan pada dasarnya hanyalah alat untuk men-

gamankan kelangsungan hidup manusia lewat prokreasi dan memenuhi kesenangan pria. Karena itu, hanya demi kesehatan seksual prialah semua kegiatan seks itu berjalan. Namun di zaman modern ini perempuan mulai menyadari bahwa dirinya setara dengan pria, termasuk dalam kehidupan rumah tangga dan perannya sebagai orangtua. Hak-hak sosialnya, tanggung jawabnya, profesinya, serta keuangan sudah otonom disadari menjadi miliknya. Juga adanya sudut pandang baru mengénai fungsi seksual mereka dan tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan prokreasi atau pembentukan manusia baru, melainkan merupakan kegiatan rekreasi untuk mendapatkan kepuasan. Perempuan juga berhak untuk memilih dan menolak hamil, dan hak untuk mendapatkan kepuasan atau kesenangan seksual, Saat ini, kesadaràn dan pengetahuan akan fungsi seksual secara dramatis berubah meningkat. Secara umum, seksualitas perempuan

baru mulai berkembang dan memuncak di tengah usia 30-an. Akibatnya kapasitas mereka orgasme di usia-usia dewasa cukup tinggi dan besar daripada saat muda. Sayang, perilaku antiseksual atas diri perempuan di beragam budaya masih saja hidup. Perempuan masih mendapat perlakuan negatif secara seksual. Akibatnya, ketika perempuan komplain atas hidup seksualnya atau mengalami disfungsi seksual, mereka jarang atau bahkan sulit membuka diri bahkan terhadap psikiater sekalipun. Tak hanya itu saja, kesadaran, imajinasi, dan pikiran atas seks tidak begitu menggelegar, yang menyebabkan menurunnya gairah seks. Payahnya, hal semacam secara kultural masih diterima. Sekarang ini disfungsi seksual yang dialami kebanyakan perempuan merupakan hasil dari tidak memadainya pendidikan seksual. (sumber : senior)


ODHA Perempuan Beresiko Kanker Dubur

Stigma foundation JL H Nawi I No I A Gandaria Selatan, Fatmawati—Jakarta 12420 Phone/Fax : +62217651501 Email : our_stigma@yahoo.com Blog : www.stigma-foundation.blogspot.com

Kemungkinan perempuan HIV positif terserang kanker dua kali lebih besar dibanding perempuan negatif. Hal tersebut berdasarkan penelitian Nancy Hessol MSPH dan Interagency HIV Study (WIHS). Kanker tersebut muncul karena dipicu oleh infeksi virus papiloma pada manusia (HPV)

PRO EQUALITY Faktanya ... Nancy dari Universitas California di San Francisco melakukan penelitian terhadap 470 perempuan HIV positif dan 185 perempuan negatif. Perempuan yang diteliti rata-rata berusia 31-50 tahun. Separuh diantaranya pernah berhubungan seks anal. Dari penelitian ini diketahui bahwa perempuan yang belum melakukan seks anal terkena kanker dubur karena mereka pernah mendapatkan infeksi HPV pada vagina atau rahim. Nancy menemukan perbedaan antara perempuan HIV positif dengan perempuan yang HIV negatif. diketahui 80% perempuan HIV-positif memiliki bukti infeksi HPV di dubur, dibandingkan 50% perempuan HIV-negatif. Perempuan HIV-positif 40% lebih mungkin memiliki AIN (anal intraepithelial neoplasia) grade rendah dan tiga kali lebih mungkin mengalami AIN grade tinggi dibandingkan perempuan HIV-negatif. Secara keseluruhan, 16% HIV-positif perempuan memiliki AIN grade rendah atau grade tinggi. HPV HPV (human papilloma virus) atau virus papiloma pada manusia. HPV dapat diketahui dengan berkonsultasi dengan dokter dan melakukan penelitian terhadap displasia atau kutil kelamin. Untuk medeteksinya kanker dubur, bisa dilakukan tes Pap

(Pap smear). Metode ini mudah dilakukan karena hanya menggunakan kain penyeka yang diusapkan ke daerah yang ingin diperiksa. Kain tersebut akan memungut sel. Sel kemudian dilumurkan pada kaca untuk kemudian diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Pencegahan dan Pengobatan Meskipun HPV sulit dicegah, namun bukan berarti virus ini tidak bisa dicegah sama

sekali. Menggunakan kondom bisa meminimalisir pertumbuhan HPV/. Namun, karena kondom hanya menutup sedikit permukaan kelamin HPV masih bisa menular. Pengobatan HPV bisa dilakukan dengan menggunakan Vaksin bernama Gardasil yang penggunaannya disetujui di AS pada 2006. Namun vaksin tersebut belum diuji coba atau disetujui untuk orang terinfeksi

HIV. Cara lain menggunakan obat 5-FU (5-fluorourasil) dan interferon alfa. 5FU. Selain itu AS juga mengesahkan penggunaan imikuimod, untuk mengobati kutil kelamin. Sidofovir, juga dapat membantu memerangi HPV. Jika belum terlalu parah, HPV bisa diberantas dengan membakar melalui jarum listrik (kauterisasi listrik) atau laser. Cara lain dengan membekukannya dengan nitrogen cair, memotongnya secara bedah dan mengobatinya dengan zat kimia. Cara tersebut sebagai alternatif karena HPV bisa diberantas dengan kekebalan tubuh meskipun orang tersebut masih dapat tertular lagi. Karena sulitnya untuk memberantas HPV agar tidak menyebabkan kanker dubur, banyak ahli menyarankan agar orang yang aktif secara seksual mungkin sebaiknya melakukan tes Pap secara berkala pada vagina dan/atau dubur. Dengan mengetahui sejak dini, akan bisa dilakukan apakah dibutuhkan pengobatan secara serius atau tidak. Dengan begitu, resiko yang lebih parah akan bisa dihindari. (Sumber : Dwi Aris Subakti, Jakarta, Satu Dunia)

- Tim LITBANG STIGMA -


BIDADARI-edisi 4