Issuu on Google+

1

Prosiding Laporan

Temu Nasional

Penanggulangan Kemiskinan 2013

Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Mendukung Sinergi Multipihak untuk Pengembangan Usaha Mikro 30 Oktober – 01 November 2013, Balai Tirta, Universitas Indonesia, Depok

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


3

Laporan

Temu Nasional

Penanggulangan Kemiskinan 2013

Peran Strategis Perguruan TTinggi inggi dalam Mendukung Sinergi Multipihak untuk Pengembangan Usaha Mikro 30 Oktober – 01 November 2013, Balai Tirta, Universitas Indonesia, Depok

www.sinergi-indonesia.org

www.indonesiafightpoverty.com Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


4

Daftar Isi

Ringkasan Eksekutif........................................................................................................................7 Latar Belakang ..........................................................................................................................8 Tujuan Acara .............................................................................................................................10 Rangkaian Acara .......................................................................................................................11 Rangkaian Agenda Pra Temu Nasional .......................................................................................12 Peserta ......................................................................................................................................12 Publikasi ...................................................................................................................................12 Perlengkapan Penunjang ...........................................................................................................13 Profil Keynote Speech......................................................................................................................14 Profil Panelis...................................................................................................................................16 Profil Fasilitator ..............................................................................................................................20 Pra Temunas...................................................................................................................................22 Pembuka........................................................................................................................................23 Media Gathering dan Malam Pembukaan........................................................................................24 Malam Pembukaan dan Keynote Forum...........................................................................................25 Hari Ke – 1, Rabu 30 Oktober 2013 Malam Pembukaan dan Keynote Forum ...............................25 1. Laporan Panitia oleh: Dewi Hutabarat ............................................................................25 2. Welcoming Speech : oleh Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD(K) .................................................26 3. Opening Ceremony oleh: Prof. Subroto............................................................................28 4. Keynote Speech oleh : Dr. HS. Dillon................................................................................29

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


5

5. Keynote Speech oleh: Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo.........................................................31 6. Keynote Speech oleh: Sulaiman Arief Arianto....................................................................37 7. Keynote Speech oleh: Drs. Bambang Ismawan, MS...........................................................40 8. Galeri Foto Malam Pembukaan........................................................................................41 Hari ke-2, Kamis 31 Oktober 2013.............................................................................................43 Plenary 1 “Fasilitasi :Pemetaan Masalah – Solusi (General)”....................................................43 Plenary 2 “Referensi dari Pemerintah dalam Upaya Mengembangkan Usaha Mikro”................44 Plenary 3 “Referensi dukungan yang sudah ada dalam masyarakat untuk Usaha Mikro”..........57 Plenary 4 “Ekonomi Indonesia: Untuk dan Dari Rakyat?”........................................................77 Plenary 5 “Referensi Internasional : Sinergi Mendukung Usaha Mikro di Wilayah Regional dan Global”..............................................................................................................108 Breakout Season 1 Pedesaan.................................................................................................142 Breakout Season 2 Perkotaan................................................................................................144 Breakout Season 3 Pesisir......................................................................................................146 Breakout Season 4 Enterpreneur............................................................................................148 Plenary 6 “Galeri Foto”.........................................................................................................151 Daftar Peserta Temu Nasional 2013.................................................................................................153 Daftar Dukungan Dari Berbagai Pihak.............................................................................................160 Laporan Keuangan Temu Nasional 2013.........................................................................................165

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


6

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


7

Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 ini adalah yang kedua, tahun lalu pada awal Desember Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan dilaksanakan untuk pertama kalinya. Di antara dua Temunas, rangkaian pertemuan yang lebih kecil dilaksanakan di berbagai waktu dan tempat. Dari mulai diskusi kecil 2-3 orang, hingga pertemuan yang melibatkan multi pihak. Semua adalah dalam rangka semakin menggelombangkan GERAKAN dalam membangun sinergi untuk menanggulangi kemiskinan. Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan sengaja diagendakan setiap tahun, agar setiap mereka yang memiliki kepedulian, yang telah menggerakkan seluruh kemauan kemampuan dan sumberdaya yang dimilikinya untuk ikut menanggulangi kemiskinan, dapat saling mengenal, saling bertukar dan berbagi referensi, berjejaring, bekerja sama, saling menguatkan. Temu Nasional adalah wadah yang diadakan agar memungkinkan terbangunnya iklim untuk saling bersinergi. Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 sebagai bagian dari proses membangun gerakan bersinergi menanggulangi kemiskinan, mengumpulkan lebih dari 100 penggerak dalam masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Indonesia tercinta, dan dari latar belakang yang beragam. Ada sedikitnya 38 Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, Koperasi, Lembaga Keuangan Mikro, Lembaga Amil Zakat, Korporat perbankan, energi, kelompok tani, pelajar mahasiswa. Datang dari sedikitnya 31 kabupaten kota dan 17 provinsi, dari Aceh, Medan, Lubuk Linggau, Palembang, Jambi, Bengkulu, Pasaman barat, Luwuk Banggai Sulawesi, Gorontalo, Samarinda, Pontianak, Bali, Madura, Adonara Flores Timur, dan berbagai kota di Jawa. Yang juga membesarkan hati, Temu Nasional 2013 juga diperkaya dengan referensi dari kawan-kawan regional, Senator dari Filipina Bam Aquino dan aktivis pemberdayaan masyarakat Laina Greene yang berkebangsaan Singapore namun telah berpengalaman di 47 negara. Tema bahasan Temu Nasional ini adalah fokus mengembangkan sinergi multi pihak untuk mendukung usaha mikro. Sebagaimana kita bersama ketahui, kawankawan pengusaha berskala mikro ini mencakup 92% dari seluruh unit usaha di Indonesia. Bila digabung dengan usaha berskala kecil, maka menjadi 99% dari seluruh unit usaha.

RingkasanEksekutif

Menguatkan usaha mikro adalah “pintu masuk� strategis untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat berkelanjutan. Penguatan tentunya dilakukan dengan bersinergi berbagai elemen dalam masyarakat, termasuk pemerintah, perbankan, regulasi, dan elemen-elemen lainnya. Fokus menguatkan usaha mikro ini telah dibangun dalam berbagai dialog dengan multi pihak sepanjang tahun ini, dan akan dilanjutkan sepanjang tahun ke depan. Temu Nasional ini adalah semacam melting pot, tempat berkumpul berbagai elemen, untuk saling membangun semangat dan strategi, membangun sinergi untuk mendukung usaha mikro, menanggulangi kemiskinan. Dalam Temu Nasional 2013 selain sesi panel untuk berbagi referensi juga dilakanakan break out session atau diskusi tematik, dimana peserta dibagi dalam 4 kelompok: perkotaan, perdesaan, pesisir/kepulauan, dan micro social enterprise. Diskusi kelompok menghasilkan rekomendasi terkait hal-hal yang dipandang paling penting untuk diberi perhatian untuk menguatkan usaha mikro di perkotaan, perdesaan, pesisir/kepulauan, dan untuk micro social enterprise. Diselenggarakan berkolaborasi dengan Universitas Indonesia, dan didukung oleh Pertamina Foundation, Perusahaan Gas Negara, Indika Energy, Bank BTPN, Tanoto Foundation, Datascrip dan Triputra Investindo Arya. Dukungan juga diberikan oleh Direktorat Kemitraan dan Inkubasi Bisnis Universitas Indonesia, lembaga UKM Center FEUI dan rekan-rekan mahasiswa Universitas Indonesia. Dari Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan diharapkan tumbuh dan semakin berkembang gerakan bersinergi untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan keberdayaan masyarakat berkelanjutan. Berbagai nisiatif yang dikembangkan oleh setiap penggerak masyarakat yang hadir dalam Temu Nasional ini nantinya akan menjadi bahan belajar lebih lanjut bagi berbagai pihak dan diharapkan tahun depan akan makin banyak penggerak masyarakat yang ikut ambil bagian berbagi dan berjejaring, sehingga gerakan bersinergi dalam menanggulangi kemiskinan akan makin besar bergelombang untuk memastikan peningkatan keberdayaan masyarakat dapat berdampak berkelanjutan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


8

Latar Belakang

Tahun lalu Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan oleh Aksi Sinergi Untuk Indonesia (AKSI UI) telah mengumpulkan peserta dari berbagai belahan Indonesia. Total yang hadir sedikitnya adalah 134 peserta, di antaranya adalah perwakilan dari 86 Perguruan Tinggi, 9 Lembaga Swadaya Masyarakat dan 12 dari pihak-pihak lain seperti pemerhati dan korporasi, dari ujung Aceh hingga Papua. Temunas tahun lalu dimaksudkan untuk membawa ke permukaan panggilan sejarah bagi Perguruan Tinggi untuk tidak hanya berfungsi teknis dalam upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, namun lebih kepada fungsi strategis untuk mendorong terjadinya sinergi di wilayah masing-masing. Untuk menanggulangi kemiskinan yang masih masif dan luas di negara kita dibutuhkan kerjasama multipihak agar upaya dapat dilaksanakan secara multi dimensi. Sementara itu, tiap-tiap karakter kewilayahan melahirkan “karakter kemiskinan� yang berbeda-beda. Oleh karena itu, upaya penanggulangan kemiskinan yang sungguhsungguh dapat membawa dampak peningkatan keberdayaan masyarakat yang berkelanjutan harus didorong di tiap-tiap kewilayahan dan melibatkan multi pihak di wilayah tersebut. Di sinilah peran Perguruan Tinggi diharapkan dapat mengedepan. Perguruan Tinggi yang berposisi strategis dalam masyarakat memungkinan untuk membuka dialog hingga kerjasama riil di lapang, untuk upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan keberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Kerjasama dan sinergi multipihak yang lebih mampu mendorong dampak berkelanjutan disadari semua pihak sangat penting untuk dilaksanakan, namun masih banyak kendala untuk memulai, mengembangkan dan mengefektifkan sinergi di berbagai aspek dan dimensinya. Perguruan Tinggi diharap mampu mencairkan kebekuan komunikasi, mengembangkan dialog lintas kelembagaan dan lintas bidang, mendukung dengan pandangan-pandangan akademis dan riset-riset yang diperlukan, dan tidak kurang pentingnya adalah mendorong keterlibatan mahasiswa dalam berbagai upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, sehingga mahasiswa menjadi generasi yang memiliki kelekatan dengan dimensi sosial dan kepedulian terhadap masalah masyarakatnya dan bangsanya.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


9

Kerangka Acuan

Salah satu potensi besar yang telah ada dan secara mandiri berkembang dalam anggota masyarakat yang tergolong miskin adalah usaha mikro. Sebagaimana didefinisikan oleh World Economic Forum, usaha mikro adalah “the economically active poor�, atau mereka yang miskin tetapi aktif secara ekonomi. Mereka adalah kelompok usaha informal yang dengan kemandiriannya berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarganya. Di Indonesia, lapisan pengusaha mikro meliputi tak kurang dari 92% unit usaha dari total seluruh unit usaha di Indonesia, atau sekitar 51 juta unit usaha. Bila digabung dengan usaha kecil, menjadi 98% dari seluruh total unit usaha. Sementara usaha menengah dan besar hanya 2% saja. Namun demikian, pada kenyataannya dukungan yang sistematis dan masif bagi pengembangan usaha mikro masih sangat terbatas. Padahal, mendukung 51 juta usaha mikro sangat strategis untuk menguatkan lapisan bawah masyarakat kita. Bayangkan, bila dengan dukungan yang baik, dalam setahun ada 10% saja unit usaha mikro yang menambah karyawannya 1 orang, itu berarti ada 5 jutaan tenaga kerja terserap. Potensi yang sangat besar dari usaha mikro adalah karakternya yang secara alamiah mandiri, tahan banting, inisiatif dan kreatifitas tinggi. Mendukung usaha mikro haruslah berarti mengembangkan kekuatan awal mereka ini. Mendukung usaha mikro berarti memungkinkan adanya ecosystem yang menunjang agar mereka dapat memiliki akses yang luas untuk berkembang. Membangun ecosystem tentu saja melibatkan keterlibatan dari multi bidang, multi kelembagaan, dan upaya yang dilaksanakan di berbagai aspek dan lapisan.

Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 menggaris-bawahi hal-hal di atas sebagai fokus dalam upaya meningkatkan keberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, dimana Perguruan Tinggi dapat sama-sama kita jadikan semacam poros untuk kerjasama sinergi multipihak yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan karakter wilayah, jenis usaha mikro, dan kekuatan masyarakat yang telah ada dan tumbuh di masing-masing wilayah tersebut. Dalam Temunas 2013 ini berbagai pihak yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan, Perguruan Tinggi, Usaha Mikro, dan Pemberdayaan Masyarakat, diharapkan dapat bertemu dan saling berbagi pelajaran, masukan, dan membuka dialog untuk mendorong terjadinya sinergi strategis bagi pengembangan usaha mikro di wilayah masing-masing. Juga akan ada referensi internasional untuk membantu kita memiliki gambaran lebih luas dalam menghasilkan rekomendasi di akhir Temunas, untuk bagaimana sinergi strategis bagi pengembangan usaha mikro dapat sungguh-sungguh dilaksanakan secara nyata di sepanjang sisa 2013 hingga 2014 nanti. Tahun depan, Temunas Penanggulangan Kemiskinan 2014 diharapkan sudah akan berisi best practices bagaimana sinergi yang telah dikembangkan di berbagai wilayah di Indonesia, dan bagaimana kita dapat saling menyempurnakan, sehingga usaha mikro akhirnya betul-betul mendapatkan dukungan dan penguatan yang sudah semestinya mereka dapatkan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


10

Kerangka Acuan Tujuan Acara 1. Mengajak Perguruan Tinggi, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) atau Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) yang ada di tiap Perguruan Tinggi, untuk menjadi system integrator di wilayahnya masing-masing, dalam penanggulangan kemiskinan dan peningkatan keberdayaan masyarakat berkelanjutan, dengan mendorong adanya sinergi multipihak untuk mendukung usaha mikro di wilayahnya masing-masing. 2. Menyediakan forum bagi berbagai pihak yang terkait dengan usaha mikro dan upaya-upaya untuk mendukung dan mengembangkannya, untuk dapat saling bertukar pengalaman, saling belajar, pertukaran pemikiran, dan membangun jejaring di antara berbagai pihak tersebut, agar potensi bekerjasama dan sinergis di antara berbagai pihak semakin terbuka, sehingga makin memperkuat ecosystem pendukung bagi usaha mikro. 3. Adanya formulasi bentuk-bentuk kerjasama sinergis dan strategis yang nyata untuk mendukung pengembangan usaha mikro di berbagai wilayah sesuai dengan karakter yang berkembang di masing-masing wilayah, sebagai bagian penting dari upaya menanggulangi kemiskinan di wilayah tersebut, dan meningkatkan keberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Temu Nasional ini juga memiliki tujuan-tujuan sekunder yaitu untuk: • Penyediaan wadah bagi berbagai stakeholder untuk bertemu, berbagi pengalaman yang saling menginspirasi dan memotivasi guna merumuskan langkah-langkah kongkrit selanjutnya. • Melibatkan berbagai media untuk turut meluaskan pemahaman peran Perguruan Tinggi ini kepada masyarakat luas, sekaligus membangun kembali kebersamaan dan sinergi multi pihak secara luas dalam menanggulangi kemiskinan di Indonesia, dengan fokus utama adalah sinergi untuk mendukung usaha mikro dalam berbagai bentuknya. • Pada akhirnya merumuskan formulasi bentuk-bentuk sinergi nyata untuk mendukung usaha mikro di empat jenis karakter kewilayahan: perdesaan, perkotaan, pesisir, dan wilayah kepulauan. Dalam formulasi bentuk-bentuk sinergi tersebut terpetakan peran dan fungsi dari berbagai pemangku-kepentingan, dan terutama peran dan fungsi Perguruan Tinggi sebagai system integrator yang memungkinkan kerjasama sinergis dapat terlaksana dengan maksimal.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


11

Kerangka Acuan Rangkaian Acara 1. Malam Pembukaan a. Keynote Forum b. Rangkaian Pokok-Pokok Pemikiran Peserta TemuNas 2. Sesi-sesi • Sesi I • Sesi II • Sesi III • Sesi IV • Sesi V • Sesi VI

• Sesi VII

• Sesi VIII

: Plenary 1 - Fasilitasi : Pemetaan masalah – solusi (general) : Plenary 2 - Referensi dari Pemerintah dalam Upaya Mengembangkan Usaha Mikro : Plenary 3 - Referensi dukungan yang sudah ada dalam masyarakat untuk Usaha Mikro : Plenary 4 - Mengenal Social Solidarity Economy dan Kebutuhan Bersinergi : Plenary 5 - Referensi dari Regional: Sinergi Mendukung Usaha Mikro di beberapa negara : Break-out Session 1 Penajaman masalah dan solusi yang paling mendesak dan dapat segera diatasi secara sinergi, serta mengidentifikasi pihak mana saja yang perlu bersinergi untuk itu. : Break-out Session 2 Formulasi MODEL SINERGI untuk mendukung Usaha Mikro dari masing-masing kelompok : Break-out Session 3 Elaborasi RENCANA TINDAK LANJUT masing-masing kelompok untuk Pembangunan Sinergi Mendukung Usaha Mikro berdasarkan Model Sinergi (yang telah dibangun) dan situasi daerah Breakout Session Peserta Temunas dibagi dalam 4 kelompok sesuai dengan kondisi kewilayahan dari atau bidang keahlian peserta, yaitu kelompok: - Kelompok Perdesaan - Kelompok Pesisir/Kepulauan (Pantai pulau besar) - Kelompok Perkotaan - Micro Social Enterprises Masing-masing kelompok akan berdiskusi sesuai tema dan output yang diharapkan adalah fokus formulasi penggalangan sinergi untuk mendukung usaha mikro pada karakter kewilayahan masing-masing kelompok.

• Sesi IX

: Plenary 6 - Presentasi dan Diskusi Model Model Sinergi dan Penyusunan Rekomendasi Temunas

3. Perumusan dan Rekomendasi - koordinasi dan kompilasi rencana tindak lanjut

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


12

Kerangka Acuan Rangkaian Agenda Pra Temunas Acara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan ini lebih dulu diawali oleh serangkaian agenda seiring dengan tahap sosialisasi menjelang acara itu sendiri, yaitu: 1.

Sosialisasi dengan berbagai simpul Perguruan Tinggi

2.

Berjejaring dengan berbagai lembaga yang terkait dengan Usaha Mikro dan Penanggulangan Kemiskinan.

3.

Leader’s High Tea: merupakan forum diskusi dan ajang penyamaan pandangan di antara para tokoh yang dipandang memiliki kapasitas di kalangan Perguruan Tinggi dan Pengembangan Usaha Mikro, serta stakeholders lain yang terkait dalam upaya Mendukung Usaha Mikro dan Penanggulangan Kemiskinan.

4.

Diskusi Media: merupakan forum diskusi yang mengundang kalangan media untuk bersama-sama mendukung dan mengembangkan sinergi untuk mendukung Usaha Mikro di berbagai wilayah di tanah air Indonesia, dalam kerangka besar penanggulangan kemiskinan dan peningkatan keberdayaan masyarakat berkelanjutan di Indonesia. Diskusi diharapkan juga dapat memberikan masukan terhadap pengelolaan isu dan diseminasi nilai kebersamaan dan sinergi dalam masyarakat.

Peserta • • • • • • • •

Rektor, Dekan dan Direktur LPPM/DRPM Perguruan Tinggi Asosiasi/Perkumpulan berbagai bentuk Usaha Mikro Badan Pemerintah terkait Pengembangan Usaha Mikro dan Penanggulangan Kemiskinan NGO/LSM lokal daerah/regional/nasional terkait Usaha Mikro dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Kelompok/Komunitas ekonomi mandiri masyarakat Individu dan kelompok2 informal Pendukung Usaha Mikro, Penggiat/Penggerak Keberdayaan Masyarakat Media lokal, nasional dan jurnalisme warga Publik dan Mahasiswa pemerhati Usaha Mikro, Pemberdayaan Masyarakat, Penanggulangan Kemiskinan

Publikasi 1. Pra Acara • Penyebaran informasi dalam bentuk email yang diperbaharui dari waktu ke waktu kepada 8000an alamat email dan nomor fax yang ada dalam database Sinergi Indonesia, yang meliputi calon-calon peserta yang dituju. • Penyebaran informasi dan gagasan melalui berbagai event mitra. • Pengumuman di Website, Media Sosial. • Penyebaran undangan dan proposal pada elemen-elemen kunci masyarakat. 2. Selama Acara Buku Program Dukungan Media: a. Diskusi Media b. Press Release c. Interview eksklusif dengan Keynote Speakers dan Narasumber 3. Pasca Acara • Seluruh materi, Prosiding, dan dokumentasi jalannya Temunas, dapat diakses oleh umum kapan saja melalui www.sinergi-indonesia.org/temunasional2013. • Akan diterbitkan Laporan Temunas 2013 yang dapat diakses di website, juga dicetak sesuai dengan pemesanan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


13

Kerangka Acuan Perlengkapan Penunjang

Ruang Diskusi Media

Baliho Publikasi

Ruang Breakout Session

Baliho Logo Peserta & Sponsor

Spanduk Publikasi

Baliho Peta Sebaran Peserta Temunas

Goody Bag Peserta yang berisi Notebook, Pulpen, Buku Program dan Profil Penyelenggara Temunas

Proses Registrasi

Kaos

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


14

Profil Keynote Speaker

Prof. DR. Dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M.Epid, FINASIM Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Penelitian, Pengembangan dan Kerjasama Industri. Siti Setiati, Lahir di Bandung 15 Oktober 1961, adalah pengajar di Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mendapatkan gelar Dokter, Spesialis, Magister Ilmu Epidemiologi dan Doktor dari Universitas Indonesia. Menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (IPD), Ketua Program Pendidikan Berkelanjutan PAPDI, Kepala Bidang I Perhimpunan Gerontologi Medik, Ketua Pusat Informasi (PP) Ilmu penyakit Dalam FKUI, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah The Indonesian Journal of Internal Medicine (Acta Medica Indonesiana). Saat ini beliau adalah Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerjasama Industri. Aktif dalam publikasi ilmiah berupa jurnal serta presentasi di berbagai seminar/simposium baik internasional maupun nasional. Sudah menulis lebih dari 52 buah buku dan di 42 buah jurnal baik nasional maupun internasional.

Prof.Dr.Subroto Pemrakarsa dan Ketua Dewan Pembina Aksi Sinergi Untuk Indonesia, Guru Besar FEUI, Ekonom Pemrakarsa dan Ketua Pembina Aksi Sinergi Untuk Indonesia ini adalah salah satu tokoh nasional besar dengan kontribusinya pada Negara dalam berbagai peran. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koperasi dari tahun 1973-1978, Menteri Pertambangan dan Energi dari tahun 1978-1988 dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) selama dua periode dari tahun 1988 hingga 1994. Beliau merampungkan jenjang pendidikan S1 dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di tahun 1952, kemudian mengantungi gelar Master of Arts dari McGill University dan Doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Beliau menerima penghargaan Das Grosse Verdienstkruz Mit Stern Und Schulterband Honour dari Mantan Presiden Jerman Karl Carstens, juga Satya Lencana Penegak, Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI dan Bintang Mahaputra Adiprana (II) dari Republik Indonesia. Pernah menjadi Rektor Universitas Pancasila pada tahun 1996 hingga tahun 2004, kini beliau adalah Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Universitas Pancasila.

Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo Guru Besar, Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta Prof.Dr.M. Dawam Rahardjo lahir di Solo pada tanggal 20 April 1942. Menamatkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (1969), saat ini beliau menjabat sebagai Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta (Universitas Petrolium Indonesia) dari tahun 2009 sampai sekarang. Ia dikenal luas sebagai ekonom dan tokoh agama. Ia telah banyak menulis buku-buku baik tentang ekonomi maupun tentang agama Islam. Selain itu, Dawam juga dikenal sebagai seorang sosok multidimensi, karena ia adalah seorang ahli ekonomi, pengusaha, budayawan, cendekiawan, juga aktifis LSM, pemikir Islam dan juga penafsir. Beliau juga memimpin Lembaga Ekonomi dan Keuangan Syarikat Islam Indonesia, Ketua Yayasan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), dan President Director The International Institute of Islamic Thought Indonesia (IIIT-Indonesia).

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


15

Profil Keynote Speaker

HS. Dillon Utusan Khusus Presiden RI untuk Penanggulangan Kemiskinan Dr. Harbrinderjit Singh Dillon, atau yang lebih dikenal sebagai HS Dillon adalah Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan. Pernah menjadi Direktur Kemitraan untuk Reformasi Pemerintahan, beliau sebelumnya juga menjabat berbagai posisi dalam pemerintahan di Indonesia, seperti Asisten Menteri Pertanian dan Komisaris Komnas HAM. Menempuh pendidikan di Cornell University dan meraih gelar PhD di bidang ekonomi pertanian selain juga mempelajari perdagangan internasional, pembangunan, pengelolaan sumber daya dan sosiologi pembangunan. Kini juga aktif dalam bidang pemberantasan korupsi.

Sulaiman Arief Arianto Direktur Komersial Bisnis BRI Lahir di Boyolali pada tahun 1958. Beliau diangkat sebagai Direktur Bisnis Komersial pada tanggal 12 Oktober 2009, setelah sebelumnya menjabat sebagai Direktur UMKM Bisnis sejak 30 Mei 2006. Sulaiman Arif memulai karir perbankan dengan BRI pada tahun 1983 dan menjabat berbagai posisi termasuk Regional Manager Kantor Wilayah BRI Jakarta dan Kantor BRI Denpasar Daerah, Kepala Divisi Agribisnis, dan Kepala Divisi Bisnis Umum. Beliau lulus dengan gelar sarjana di bidang Peternakan dari Universitas Pertanian Bogor (IPB), Bogor pada tahun 1981 dan gelar MBA dari University of New Orleans, Amerika Serikat pada tahun 1991. Beliau mewakili BRI di beberapa organisasi seperti APRACA, Penasehat PBB untuk Sistem Keuangan Inklusif dan Mikro Jaringan Keuangan. Dia adalah pembicara tamu di beberapa seminar internasional UMKM, termasuk Asian Banking Forum (Jakarta), APEC SME Working Group (Bali), Konferensi Teknologi Keuangan (Singapura), Keberlanjutan Keuangan Mikro, APRACA (Kunming), APO Forum, microbanking & Manajemen Risiko Bengkel (Beijing), dan Asia Pacific Regional Microcredit Summit (Bali). Dia mewakili BRI dalam beberapa konferensi investor di Amerika Serikat, Hongkong, dan Singapura.

Drs. Bambang Ismawan, MS

Pendiri dan Ketua Dewan Pengurus Sinergi Indonesia, Ketua Pembina Yayasan Binaswadaya, Sekjen Gerakan Masyarakat Pengembangan Keuangan Mikro, Social Enterpreneur Pemrakarsa dan Ketua Dewan Pengurus Yayasan Aksi Sinergi Untuk Indonesia ini juga adalah Ketua Pembina Yayasan Bina Swadaya, salah satu pelopor lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia. Beliau adalah juga pendiri dan Sekretaris Jendral Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro (Gema PKM), dan merupakan salah satu pendiri dan pernah menjadi pengurus HKTI (Himpunan Komunitas Tani Indonesia). Beliau adalah penggerak berbagai kegiatan mandiri masyarakat dan pemberdayaan ekonomi mikro. Penerima Social Entrepreneurship Award pertama di Indonesia dari Ernst & Young, beliau dikenal sebagai Bapak wirausaha sosial dan ribuan kelompok mandiri masyarakat di Indonesia. Saat ini beliau aktif berbicara di berbagai seminar nasional maupun internasional tentang kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, ekonomi mikro, social enterpreneurship dan pemberdayaan masyarakat.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


16

Profil Panelis Prof.Bambang Brodjonegoro, Ph.D Wakil Menteri Keuangan RI Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, Ph.D. adalah wakil menteri keuangan Republik Indonesia. Sebelumnya beliau sudah sangat dikenal sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI. Beliau memyelesaikan Strata 1 di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia pada 1990. Konsentrasi bidang studi yang ditekuni adalah Ekonomi Pembangunan dan Ekonomi Regional. Setahun berikutnya, Beliau melanjutkan pendidikan formal tingkat magister (1991 - 1993) pada University of Illinois at Urbana-Champaign, USA, sekaligus melanjutkan program doktoral di universitas yang sama hingga 1995. Beberapa penghargaan yang pernah beliau dapatkan diantaranya adalah, Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia 1989, Academic Scholarship awarded by the Indonesian Government - HEDP, Agustus 1991 - Desember 1995, Visiting Fellow, The Institute of East Asian Studies, Thammasat University, Thailand, Maret 1999, ISEAS-World Bank Research Fellowship Award (as Visiting Research Fellow), The Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, Maret - Juni 1999, Eisenhower Fellowships, The Single Region Program – Southeast Asia, USA, September – November 2002 dan Visiting Fellow, The Indonesia Project – Australian National University (ANU), Canberra, Australia, Desember 2004.

Ir. Isa Rachmatarwata, M. Math (Mewakili Prof. Bambang Brodjonegoro, Ph.D) Ketua Tim Perumusan Kebijakan Sektor Keuangan Isa Rachmatawarta sebelum menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI, adalah Kepala Biro Perasuransian, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Kementerian Keuangan (2006–2012), Kepala Subdirektorat Pengembangan dan Pelayanan Informasi, Direktorat Dana Pensiun, Ditjen Lembaga Keuangan, Departemen Keuangan (2002–2006), Ketua Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah, Departemen Keuangan (2004–2005), Kepala Subdirektorat Pemeriksaan dan Pelayanan, Direktorat Dana Pensiun, Ditjen Lembaga Keuangan, Departemen Keuangan (2001 – 2002).

Ir. Gatot Murdjito, MS Ketua Flipmas Yogyakarta Ir. Gatot Murdjito, MS adalah seorang akademisi dan pakar dari Universitas Gadjah Mada bidang Peternakan yang sebagian hidupnya didedikasikan untuk pemberdayaan masyarakat. Gelar sarjana beliau dapatkan di Universitas Gadjah Mada dengan fokus Animal Husbandry pada tahun 1973, dan gelar masternya di UGM juga dengan fokus Agriculture, pada tahun 1989. Ia adalah pemrakarsa dari Flipmas Yogyakarta, sebuah forum yang mengemban misi mengintegrasikan dan mensinergikan kemahiran akademik, humanistik dan kearifan lokal. Selain itu beliau juga dipercaya menjadi tim pakar di DP2M Dirjen Dikti Kemdiknas. Dengan ketekunan dan prestasinya, beliau mendapatkan penghargaan pada tahun 1999 berupa piagam penghargaan Pimpinan DPR-RI, DPR-MPR RI-Government.

Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana, MS Dekan FISIP Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana, MS adalah sosok akademisi yang fokus pada pemberdayaan masyarakat. Sebagai Dekan Fisip Universitas Brawijaya, Malang ini memberi perhatian khusus pada pemberdayaan masyarakat khususnya pada penanggulangan kemiskinan. Salah satu langkah kongkrit perhatian ini adalah beliau bersama dengan Gubernur Jawa Timur dan Rektor Universitas Brawijaya mendirikan Magister Kajian Kemiskinan. Menamatkan Strata 1 Bidang Ekonomi Peternakan Universitas Brawijaya (1982), lalu melanjutkan Magisternya dengan jurusan yang berbeda dari strata 1 nya, yaitu jurusan Sosiologi, Universitas Padjadjaran (1992), lalu dilanjutkan gelar Doktornya dengan bidang yang sama yaitu Sosiologi pada tahun 2001 di Universitas Padjajaran, Bandung. Beliau juga aktif mensinergikan berbagai pihak di wilayah Jawa Timur khususnya Malang dan sekitarnya, yaitu antara Perguruan Tinggi, LSM, Pemerintahan, dan lembaga-lembaga lainya untuk saling berjejaring mengupayakan penanggulangan kemiskinan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


17

Profil Panelis DR. Ir. Choirul Djamhari, MSc. Deputi Bidang Pengembangan & Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah DR. Ir. Choirul Djamhari, MSc, Ph. D merupakan sosok yang tidak asing lagi dalam dunia birokrasi pemerintahan, khususnya pada Kementrian Koperasi dan UKM. Beliau Saat ini menjabat sebagai Deputi Menteri Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM RI, dan beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama Perum Jamkrindo (Jaminan Kredit Indonesia). Ditengah kesibukan beliau menjadi Deputi Menteri Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha, beliau juga merupakan Dosen Pasca Sarjana/Penguji Program Pasca Sarjana di UI, IPB, Perbanas dan IBN (Sejak tahun 1996), dan beliau juga merupakan wakil ketua komite kebijakan kredit usaha rakyat pokja ekonomi, lembaga ketahanan nasional (Lemhannas). Pria kelahiran Yogyakarta, 25 April 1957, menamatkan S1 nya di Universtas Gadjah Mada pada tahun 1982, dan menyelesiakan magisternya di University of Wisconsin - Madison, USA pada tahun 1991, dan melanjutkan S3 nya di McGill University, Montreal, Canada pada tahun 1996.

Masril Koto Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis (LKMA) Prima Tani Masril Koto, berasal dari Agam Sumatera Utara, mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani pada tahun 2003. Ia sadar bahwa masalah utama petani adalah modal, dan tak bisa dipecahkan oleh perbankan. Maka, tercetus ide untuk membuat “bank petani� untuk memenuhi kebutuhan modal mereka. LKMA Prima Tani berhasil dia bentuk dengan penjualan saham Rp 100.000 per lembar kepada ratusan petani, dan terus melakukan inovasi. Kini beragam produk tabungan atau pinjaman berbasis kebutuhan langsung petani secara spesifik ditelurkan LKMA seperti; tabungan ibu hamil, tabungan pajak motor untuk pengojek, dan tabungan pendidikan anak. Cita-cita Masril sederhana saja: ingin memajukan petani dan tak ingin mereka terus-menerus dieksploitasi, terutama saat menjelang pemilihan umum. Kini dia dan para petani di sana telah membangun 300 unit LKMA (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis) di seluruh Sumatera Barat. Setiap unit rata-rata memiliki asset hingga 1 Miliar Rupiah. Masril Koto menerima berbagai penghargaan antara lain sebagai Ashoka Social Entrepreneur 2010-1011, Kategori Sosial Kemasyarakatan dan Kewirausahaan dari Indonesia Berprestasi Award (2010), dan Danamon Award 2010.

Titik Hartini Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) Titik Hartini adalah Direktur Eksekutif Association for Community Empowerment (ACE), Jakarta, dan mantan Direktur Eksekutif Nasional dari Association for Women in Small Business Assistance (ASPPUK). Master dari Women Studies Universitas Indonesia ini berpengalaman lebih dari 18 tahun dalam merancang, memimpin serta mengelola penerapan dan evaluasi berbagai program dan proyek, termasuk membangun dan mengelola kegiatan operasional yang kompleks. Dalam karirnya, Titik Hartini telah bekerja sama dengan badan-badan pemerintah serta membangun jejaring dengan beragam pemangku kepentingan di banyak kabupaten dan provinsi di Indonesia, juga terlibat dengan sejumlah donor multilateral and bilateral, antara lain Ford Foundation, PSF World Bank, UNDP dan Exxon Foundation.

Silverius Oscar Onte Pendiri Telapak, Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) Oscar Unggul atau lebih dikenal dengan Onte yang berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara ini menamatkan gelar sarjana nya di Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara (1989-1998). Pada tahun 1998 Onte mewujudkan langkah konkritnya atas keprihatinanya pada kerusakan alam dengan mendirikan LSM Yascita (Yayasan Cinta Alam). Sebagai langkah awal, ia mulai melakukan investigasi terhadap kerusakan lingkungan hutan akibat pembalakan liar. Bermula dari aktif melakukan kampanye dan advokasi, membendung niat para pelaku pembalakan liar, akhirnya ia menggalang masyarakat membentuk community logging. Melalui community logging bentukannya, Onte berhasil menyatukan masyarakat yang semula terpecah belah hingga terhimpun menjadi satu melalui wadah Koperasi Hutan Jaya Lestari Indonesia (KHJLI). Di sini beliau mengajak mengelola hutan jati dengan cara lestari yang diatur melalui koperasi. Berkat ketekunan dan kecintaanya pada alam beliau mendapatkan beberapa penghargaan yaitu diantaranya adalah Conde Nast Traveler Environmental Award, New York, Amerika Serikat (2008), Social Entrepreneur of The Year 2008 Ernst and Young (2008) dan Young Global Leader di tahun 2009.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


18

Profil Panelis Prof. Dr. Ir. Eriyatno, MSAE Guru Besar Institut Pertanian Bogor Prof.Dr.Ir. Eriyatno, MSAE adalah Guru Besar di Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Beliau mendapatkan gelar Sarjana Mekanisasi Pertanian pada tahun 1972 di IPB. Pascasarjana dilaksanakan di Michigan State University-USA, dan mendapat gelar M.Sc di tahun 1976 dan Ph.D di tahun 1979 di bidang Agricultural and System Engineering. Cukup aktif dalam dunia riset dan penulisan, buku ilmiah yang telah ditulis dan diterbitkan oleh IPB Press adalah Ilmu Sistem (1998) dan Riset Kebijakan (2007). Di IPB, beliau pernah menjadi Dekan Fateta dan Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan. Sementara di birokrasi pemerintahan beliau pernah menjabat Kepala Regional I BAPPENAS, Staf ahli Menko Ekuin, dan Deputi PembiayaanKementerian Koperasi dan UKM. Saat ini, beliau adalah anggota The International Society of System Science dan menjadi editor Journal of System Research and Behevioral Science. Sekarang beliau mengelola jaringan pakar melalui Policy Research Experts-Network (PRE-Net), dan aktif di bidang pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro (MFI) untuk pedesaan dan pertanian. Juga aktif dalam gerakan Social Solidarity Economy di Indonesia.

Drs. H. A. Kholiq Arif, M.Si Bupati Wonosobo Drs. H. A. Kholiq Arif, M.Si adalah Bupati Wonosobo yang sukses menggerakan masyarakat dalam memberdayakan Usaha Masyarakat Kecil dan Menengah (UMKM) di Wonosobo. Sebelum menjabat sebagai Bupati, beliau pernah mejadi wartawan Jawa Pos dari tahun 1992 sampai tahun 2000. Aktif mendorong masyarakat Wonosobo untuk berdikari dengan Usaha Mikro, pada tahun 2012 Drs. H. A. Kholiq Arif, M.Si mendapat penghargaan Satya Lencana Wirakarya Pembangunan Bidang Koperasi dan UKM dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dalam peringatan Hari Koperasi ke-66. Penghargaan ini diberikan karena program Bapak Kholiq yang secara gencar memberdayakan usaha masyarakat dari yang mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Wonosobo.

Prof. Dr. Muhammad Zen Wakil Rektor II Universitas Maritim Ali Haji Prof. Dr. Mohammad Zen merupakan Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH dan saat ini menjabat sebagai wakil Rektor II. Selain staff pengajar di Universitas Maritim Raja Ali Haji yang merupakan satu-satunya Universitas Negeri di Kepulauan Riau, dan satu-satunya Universitas Negeri di bidang Maritim, beliau juga seorang pemerhati dibidang kelautan dan perikanan. Beliau hadir sebagai pembicara di TEMUNAS ini mewakili dari kepulauan Indonesia yang kaya akan sumber daya laut.

Sri Palupi Ecosoc Rights Sri Palupi adalah seorang peneliti di Institute for Ecosoc Rights, sebelumnya beliau adalah Direktur Eksekutif di Institute for Ecosoc Rights. Wanita kelahiran Madiun, 29 Januari 1965 ini merupakan sosok yang aktif dalam menulis artikel tentang kota, buruh migran, HAM, dan kemiskinan di media nasional. Sri Palupi menamatkan Sarjana Pertanian, di Intitut Pertanian Bogor dengan fokus di bidang studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan (sosial ekonomi). Pada tahun 1989-1990 beliau pernah menjadi asisten peneliti pada Pusat Studi Pembangunan, IPB untuk studi tentang perhutanan sosial. Pada tahun 1990-1993, beliau merupakan staf pengajar pada Universitas Soegijapranata Semarang, sekretaris lembaga penelitian dan juga merupakan kepala Pusat Studi Wanita di Universitas tersebut. Pada tahun 1996-2002 beliau merupakan koordinator divisi riset Institute Sosial Jakarta (1996 – 2000), dan juga sebagai koordinator divisi Pendidikan dan Pelatihan Institut Sosial Jakarta (2001 – Maret 2002). Sering mengadakan pelatihan hak ekonomi, sosial, budaya, pelatihan investigasi pelanggaran HAM dan sering menjadi narasumber untuk topik-topik HAM, Buruh Migran, dan Kemiskinan. Pada tahun 2005 mendapatkan penghargaan dari Atmajaya sebagai Pejuang Kemanusiaan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


19

Profil Panelis Dr. Prasetyantoko Dekan Fakultas Ilmu Bisnis Administrasi & Komunikasi, Universitas Katholik Atmajaya Seorang Ekonom di Strategic Indonesia, gelar sarjana diperolehnya dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia memperoleh Ph.D di bidang Ekonomi dari Ecole Normale Supérieure (ENS) – Lyon, sementara gelar Masternya diperolehnya dari Université de Science et Technologies de Lille (USTL) Lille 1, keduanya di Perancis. Saat ini ia adalah dosen tetap di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, dan Dekan dari Fakultas Ilmu Bisnis Administrasi dan Komunikasi. Prasetyantoko adalah anggota Dewan Ahli NABIL (Pembangunan Nasional) Foundation pada 2008- 2012 dan sekarang menjadi anggota peneliti untuk Proyek Bersama Harvard Kennedy School of Government (HKS), Harvard University dan Rajawali Foundation. Dia juga kolumnis di berbagai media nasional dan banyak dikutip oleh media.

Ari Sutanti Manajer Program British Council Ari Sutanti merupakan Manajer Program Senior di British Council Indonesia. Beliau bergabung dengan British Council Indonesia pada pertengahan 2006 dan sejak itu ia mengembangkan dan mengelola berbagai program di berbagai bidang seperti: kewirausahaan sosial, green economy, eco-entrepreneurship, Good Governance, Community Development dan Sustainability and Climate Change Education. Sebelum bergabung dengan Britisch Council sempat bekerja di Bank Dunia (2005-2006) sebagai Social Development Specialist yang melaksanakan riset, memonitor project, mengelola dana perwalian dan publikasi. Sebelumnya pernah bekerja di Pembangunan Daerah sebagai konsultan pengembangan sosial untuk PPK (Program Pengembangan Kecamatan, sering dikenal dengan PNPM). Sempat memulai kariernya sebagai wartawan di voice of America, ia menamatkan gelar sarjana nya di bidang komunikasi massa pada tahun 1998, di Universitas Indonesia, ia juga merupakan salah satu perwakilan dari pemuda Indonesia untuk The Youth Conference on Social Development pada tahun 1998 di Jepang yang diadakan oleh JICA. Gelar Masternya (MA) diraih dalam bidang Hubungan Internasional dan Studi Pembangunan dari School of International Development, University of East Anglia, Inggris yang di danai oleh British Chevening Award (2004-2005). Saat ini Ari juga berkecimpung dalam IDEAS Indonesia.

Mr. Paolo Benigno “Bam” A. Aquino Jr Senator Philipina Biasa dipanggil Mr.Bam. Saat ini ia menjabat sebagai Senator Philipina, yang membidangi Komite Perdagangan dan Kewirausahaan. Sarjana Ilmu Rekayasa Manajemen dari Ateneo de Manila University (1999), lalu meneruskan jenjang pendidikan hukum di Ateneo de Manila Law School (2001), kemudian melanjutkan ke Harvard University pada Program Pendidikan Eksekutif Kebijakan Publik dan Kepemimpinan (2008). Pengalaman bisnisnya antara lain adalah sebagai President dari Micro Ventures Foundation, dan Micro Ventures Incorporated, dan sebagai President TAYO Foundation. Selain seorang Senator, ia juga adalah seorang Social Enterpreneurship dengan beragam penghargaan telah banyak diraihnya seperti Manila 40 Under 40 Global Development Leader, 2013 (Devex), Ten Outstanding Young Persons of the World Awardee, 2012 (Junior Chamber International), Social Entrepreneur of the Year Co-Awardee, 2011 (Schwab Foundation for Social Entrepreneurs), Ten Outstanding Young Men of the Philippines, 2010 (Philippine Jaycees), GoNegosyo Inspiring Young Entrepreneur, 2010 (GoNegosyo).

Laina Raveendran Greene Profesional Telekomunikasi, Aktivis Pemberdayaan Masyarakat di berbagai negara Eksekutif yang berkarir di dunia telekomunikasi selama 25 tahun ini sangat terinspirasi buku Prof. Muhamad Yunus “Creating a World Without Poverty”, Laina mengabdikan diri untuk mengembangkan bisnis sosial bidang energy dan komunikasi. Melalui riset seksama, dia telah mengembangkan konsep wahana penggandaan manfaat guna pengentasan kemiskinan, khususnya dalam mencapai kemampuan peningkatan skala melalui replikasi. Sebagai seorang warga dunia yang telah tinggal di 4 negara dan berkarya di lebih 40 negara. Laina telah bekerja dengan lembaga profit, LSM, lembaga-lembaga pemerintah dan berbagai badan internasional, ia kini berharap konsep dan karyanya dapat bermanfaat di Indonesia. Kunci kesuksesan dalam pandangannya adalah menyelaraskan kemampuan cipta-bersama (co-creation). Dianugerahi sebagai Women Entrepreneur of the Year 2005 menurut Shree Shakti, sebuah LSM India. Berawal dari keprihatinan, Laina sukses dalam studi hingga ke Harvard Law School. Baginya, kehidupan diri dan keluarganya adalah bukti bahwa pendidikan dan kemampuan membangun kehidupan adalah pemberdayaan sejati, kunci pengentasan kemiskinan. Simak detail tentangnya di www.linkedin.com/in/laina.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


20

Profil Fasilitator Dewi Hutabarat Direktur Eksekutif Aksi Sinergi Untuk Indonesia Setelah berkarir lebih dari 15 tahun di berbagai industri, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya ini pada tahun 2005 mengalihkan fokus perhatiannya ke dunia social development dan kemanusiaan. Ia mendirikan Qalam PR yang mengkhususkan diri pada acara-acara penggalangan dana di samping melaksanakan riset mandiri seputar bidang nirlaba. Dewi pernah menjabat sebagai Direktur Komunikasi di salah satu organisasi kemanusiaan skala nasional dan menyusun strategi komunikasi khusus untuk lembaga kemanusiaan serta membangun Sistem Kelola Modern Donasi Publik yang lalu dikembangkan secara mandiri di bawah bendera Nonprofit Indonesia yang dibidaninya dengan konsep implementasi social development dengan sinergi sebagai strategi utamanya. Dewi menahkodai Aksi Sinergi Untuk Indonesia sejak awal pembangunan konsep dan pendiriannya. Aktif mendalami Social Enterpreneurship dan gerakan Social Solidarity Economy di Indonesia, ia juga terus mengembangkan strategi komunikasi komprehensif untuk menunjang pemberdayaan masyarakat dan Corporate Social Responsibilities. Mendapatkan Social Innovation Award pada World Marketing Summit 2013 oleh Philip Kottler Initiatives.

Benito Lopulalan Program Advisor Aksi Sinergi Untuk Indonesia Konsultan dan fasilitator senior bagi beragam program community development dan social entrepreneurship, berpengalaman sebagai Media Designer and Trainer HSP bagi program-program USAID, sebagai Leader of Consultant Team for Health Service Program-USAID, Fasilitator dan trainer bagi program AIPMNH – AUSAID, berpengalaman lebih dari 20 tahun sebagai reporter dan jurnalis bagi media Internasional ABC (Australian) Radio Network dan AFP (French News Agency), dan aktif menjadi penulis untuk lebih dari 40 media Internasional termasuk Bali Echo, New York Times, International Herald Tribune, Hongkong Standard, Bangkok Post, The Jakarta Globe dsb. Terlibat sejak awal pembentukan Yayasan Aksi Sinergi Untuk Indonesia. Aktif mendalami Social Enterpreneurship, mengembangkan gerakan Social Solidarity Economy di Indonesia, dan mengkombinasikan fungsi media dan komunikasi untuk pemberdayaan masyarakat berkelanjutan.

Ahmad Zainul Hamdi Pengurus Center for Marginalised Communities Studies (CMARS) Pengajar di IAIN Sunan Ampel Surabaya Sekretaris Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, beliau menempuh pendidikan strata 1 hingga meraih gelar doktornya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, berawal dari Fakultas Tarbiyah (kependidikan) dan dilanjutkan di Fakultas Studi Keislaman. Saat ini, ia juga aktif di berbagai organisasi Center for Marginalised Communities Studies (CMARS) Surabaya sebagai Kepala Divisi Penelitian dan Advokasi, serta (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) ISNU Jawa Timur sebagai Wakil Ketua.

Handriyatno Waseso Fasilitator Profesional Lima belas tahun bekerja di ranah pembelajaran orang dewasa dan pengembangan komunitas telah menjadikan Andry sebagai seorang fasilitator profesional untuk berbagai isu kelompok. Ia memiliki kemampuan yang tinggi dalam memfasilitasi dan melakukan pendampingan pada orang yang sedang mempelajari keterampilan soft maupun teknis. Tujuh tahun terakhir dia fokus pada bidang pembangunan, khususnya yang menggunakan pendekatan partisipatoris. Ia telah membantu banyak komuntias yang terpinggirkan untuk memperbaiki tingkat kehidupan mereka. Ia juga seorang pakar dalam merancang program pembangunan berbasis masyarakat khususnya pada bidang-bidang seperti pendidikan umum dan inklusif, pengurangan resiko bencana, perawatan dan pengasuhan pada anak usia dini, kewirausahaan, psikososial, kampanye kesehatan dan nutrisi.

Dewi Meisari Haryanti, SE, MSc Wakil Ketua UKM Center FEUI Dewi Meisari Haryanti, SE, MSc saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan juga Wakil Direktur UKM Center FEUI, lembaga yang fokus pada pemberdayaan usaha Kecil dan Mikro (UKM) serta pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Setelah mendapatkan gelar sarjana dari FEUI, ia aktif terlibat dalam mempromosikan kewirausahaan sebagai Junior Program Manager di UKM Center FEUI dan menjalankan lokakarya kewirausahaan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada tahun 2008 ia berangkat ke Norwegia untuk meneruskan studi di bidang Development and Natural Resource Economics, di Norwegian University of Life Science dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena kemiskinan, analisis dampak kemiskinan, evaluasi program penanggulangan kemiskinan, keuangan mikro, dan model bisnis koperasi. Saat ini ia mendedikasikan dirinya untuk memberdayakan usaha kecil dan mikro melalui peningkatan karakter dan kapasitas kewirausahaan, advokasi berbasis penelitian untuk mempromosikan keuangan mikro, pengembangan industri modal ventura, serta kewirausahaan sosial sebagai cara untuk merealisasikan konsep pembangunan yang inklusif. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Dewi dan pemikirannya, ia bisa dihubungi melalui email di dewi@ukmcenter.org atau akun twitter @dewimeisari.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


21

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


22

Pra Temunas

Leaders’ High Tea Diadakan di Bimasena Club Dharmawangsa pada tanggal 23 Oktober 2013. Dihadiri oleh Prof. Dr. Soebroto, Drs. Bambang Ismawan, Prof. Eriyatno, Dr. Nurmahmudi Ismail, M.Sc., Idham Samudera Bey, Dewi Hutabarat dan Benito Lopulalan.

Diskusi Media Diadakan di Balai Tirta UI pada tanggal 30 November 2013. Dihadiri oleh Prof. Dr. Soebroto, Drs. Bambang Ismawan, Prof. Dr. Dawam Raharjo, Laina Laveendran Grene, Dewi Maesari Haryanti, SE, M.Sc, Masri Koto dan dimoderatiri oleh Benito Lopulalan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


23

Pembukaan

Ceremonial 1. Seluruh Peserta Temunas Berkhidmat Menyanyikan lagu Indonesia Raya 2. Master of Ceremony Ahmad Zainul Hamdi dan 3. Laporan Panitia Dewi Hutabarat Direktur Eksekutif Aksi Sinergi Untuk Indonesia 4. Welcoming Speech Prof. DR. Dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M.Epid, FINASIM Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Penelitian, Pengembangan & Kerjasama Industri 5. Opening Ceremony Prof. Dr. Subroto Ketua Dewan Pembina Aksi Sinergi untuk Indonesia

1

2

3 9

6 4

5

8

7

Keynote Forum 6. 7. 8. 9.

Prof. Dr. M. Dawam Raharjo Guru Besar, Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta HS. Dillon Utusan Khusus Presiden RI untuk Penanggulangan Kemiskinan Sulaiman Arief Arianto Direktur Komersial Bisnis BRI Drs. Bambang Ismawan, MS Ketua Dewan Pengurus Yayasan Aksi Sinergi Untuk Indonesia

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Media Gathering dan Malam Pembukaan

24

Hari Ke -1, Rabu 30 Oktober 2013 Media Gathering Diskusi ini terasa hidup dengan hadirnya narasumber, peserta Temunas, dan media peliput. Narasumber pemberi penjelasan adalah Drs. Bambang Ismawan MS, Prof.Subroto, Pro. Dr. M. Dawam Raharjo, Laina Greene, Masril Koto, Dewi Meisari Haryanti,dipandu oleh Benito Lopulalan. Sedangkan Media peliput adalah ANTV, Neraca, Ekonomi Daerah, Bloomberg TV Indonesia, Okezone, Warta Kota, Monitor Depok, Humas UI, dan Mersela-Wapres.

1

2

3

4 Keterangan 1. 2. 3. 4.

Proses diskusi yang dihadiri oleh Drs. Bambang Ismawan, MS, Prof. Dr. Subroto, Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, Laina Greene, Masril Koto dan dimoderatori oleh Benito Lopulalan Proses diskusi yang dihadiri oleh Dewi Meisari hariyanti, SE, MSc, Drs. Bambang Ismawan, MS, Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, Laina Greene, dan dimoderatori oleh Benito Lopulalan Para peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 yang sedang mengikuti jalan diskusi media Foto bersama para narasumber dalam diskusi media pada Temu Nasional

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


25

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

Hari Ke – 1, Rabu 30 Oktober 2013 Malam Pembukaan dan Keynote Forum 1. Laporan Panitia oleh: Dewi Hutabarat (Direktur Eksekutif Aksi Sinergi Untuk Indonesia) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Para hadirin yang kami hormati, salam sejahtera untuk kita semua. Kita mensyukuri pertemuan kita hari ini, pada temu nasional penanggulangan kemiskinan 2013. Temu nasional ini adalah temu nasional yang kedua, pada tahun lalu sebagian dari kita di ruangan ini telah juga bersama-sama dalam temu nasional penanggulangan kemiskinan yang pertama. Temu nasional memang dilselenggarakan sebagai rangkaian yang diadakan setiap tahun. Diantara dua temunas, rangkaian temuan yang lebih kecil diadakan diberbagai waktu dan tempat. Dari mulai diskusi kecil dua tiga orang hingga pertemuan dengan yang melibatkan multipihak. Semua adalah dalam rangka semakin menggelombangkan gerakan dalam membangun sinergi untuk menanggulangi kemiskinan. Setiap mereka yang memiliki kepedulian, telah menggerakkan seluruh kemauan dan kemampuan sumber daya yang dimilikinya untuk ikut menanggulangi kemiskinan. Sungguh perlu saling mengenal, saling bertukar referensi, berjejaring, bekerja sama, saling menguatkan, dengan kata lain bersinergi. Temunas kali ini sebagai bagian dari proses membangun gerakan bersinergi untuk menanggulangi kemiskinan. Mengumpulkan lebih seratus penggerak dalam masyarakat yang kami kumpulkan dari berbagai penjuru Indonesia tercinta dan dari latar belakang yang berbeda pula. Ada sedikitnya dari 38 Perguruan Tinggi, ada lembaga swadaya masyarakat juga, ada koperasi, Lembaga Keuangan Mikro, Lembaga Amil Zakat, Korporat Perbankan, Korporat Energi, kelompok tani, Pengajar, Mahasiswa dll. Datang dari sedikitnya 31 kabupaten kota, dan 17 provinsi. Dari mulai Aceh, Medan, Lubuk Linggau, Palembang, Jambi, Bengkulu, Pasaman Barat, Luwuk Banggai, Sulawesi, Gorontalo, Samarinda, Pontianak, Bali, Madura, Adonara Flores timur dan berbagai kota di Jawa, dari Jawa yang paling barat sampai yang paling timur. Dan yang juga membesarkan hati, akan ada pula referensi dari kawan-kawan regional, dan akan ada pula senator dari Filipina, Mr. Bam Aquino dan ada aktivis dari pemberdaya masyarakat Lianna Greene yang tadi sudah berbagi juga di diskusi sebelumnya. Semuanya akan bersama-sama kita untuk berbagi referensi. Tema bahasan TEMUNAS kali ini, Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam mendukung sinergi multi pihak untuk pengembangan usaha mikro. Adalah fokus untuk mengembangkan sinergi multi pihak yang mendukung usaha mikro. Sebagaimana kita ketahui bersama kawan-kawan, pengusaha berskala mikro ini mencakup 92% dari seluruh unit usaha di Indonesia. Bila digabung dengan usaha berskala kecil, maka menjadi 99% dari seluruh unti usaha. Maka menguatkan usaha mikro, kira-kira adalah salah satu pintu masuk strategis untuk meningkatkan keberdayakan masyarakat berkelanjutan. Penguatan tentunya dilakukan dengan bersinergi dari berbagai elemen dalam masayarakat. Termasuk Pemerintah, Perbankan, regulasi dan elemen-elemen yang lainnya. Fokus ini telah dibangun dalam berbagai dialog dengan multi pihak sepanjang tahun ini dan yang akan dilanjutkan sepanjang tahun kedepan. Temu nasional ini adalah semacam melting pot, tempat berkumpul berbagai elemen, untuk saling membangun semangat dan strategi, membangun sinergi untuk mendukung usaha mikro dalam menanggulangi kemiskinan. Temu nasional ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Universitas Indonesia, terimakasih Ibu (Kepada Ibu Siti Setiati, Wakil Rektor UI) yang telah hadir. Didukung oleh juga kawan-kawan dari Pertamina Fondation, Perusahaan Gas Negara, INDIKA energi, Bank BTPN, Tanoto Fondation. Kami juga dibantu oleh kawankawan dari paguyuban artis film Indonesia, rekan-rekan mahasiswa Universitas Indonesia, ada juga Lembaga UKM center FEUI dan tentu saja dukungan dari rektorat engkubasi bisnis Universitas Indonesia. Demikaian laporan kami, dan kami menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya bila mana ada hal-hal yang masih kurang sempurna dari penyelenggaran TEMUNAS tahun ini. Bersama-sama kita akan terus melakukan gerakan untuk bersinergi, bekerja sama, berkolaborasi dalam menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Terimakasih.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

26

Saya akan melanjutkan dengan keynotes forum. Yang pertama yang akan menyampaikan keynote adalah Ibu Prof. Dr. Siti Setiati, wakil rektor Universitas Indonesia untuk menyampaikan welcoming speech. Kami persilahkan Ibu!

2. Welcoming Speech : oleh Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD(K) (Wakil Rektor Universitas Indonesia) Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat Malam dan Salam Sejahtera Yang terhormat, hh Dewi Hutabarat (Direktur Eksekutif Aksi Sinergi Untuk Indonesia) hh Prof. Dr. Subroto (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Ketua Dewan Pembina Aksi Sinergi Untuk Indonesia ) hh HS. Dillon (Special Envoy of President RI for Poverty Alleviation) hh Dr. Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia) hh Ir. H. Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta) hh Parman Nataatmaja (President Director PT. Permodalan Nasional Madani) hh Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, Msc (Walikota Depok, Jawa Barat) hh Drs. Bambang Ismawan, MS (Ketua Dewan Pengurus Yayasan AKSI UI) hh Pemerintah Daerah hh Perwakilan dari Lembaga Keuangan Mikro hh Perwakilan dari Asosiasi Usaha Mikro hh Perwakilan dari Perguruan Tinggi hh Dan hadirin sekalian Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur pada Allah, Tuhan YME atas semua berkah dan rahmat yang sudah diberikanNya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul dan bertemu di sini untuk mengikuti pertemuan yg mulia ini. Mengapa saya katakan mulia, karena pertemuan ini memang bertujuan mulia, mencari solusi untuk sebuah permasalahan bangsa yang tidak pernah kunjung selesai hingga kini. Permasalahan kemiskinan kita ketahui bersama merupakan permasalahan di banyak negara, terutama di Indonesia ini. Seperti yang kita ketahui, jumlah penduduk miskin di Indonesia saat ini masih tinggi. Walaupun dari tahun ke tahun jumlah penduduk miskin di Indonesia cenderung menurun, pada bulan Maret 2013 penduduk miskin masih mencapai 28,07 juta orang (11,37 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia). Apakah data ini valid saya tidak tahu pasti, rasanya kok lebih besar dari angka tersebut. Selama periode September 2012-Maret 2013, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,18 juta orang, sementara di daerah perdesaan berkurang 0,35 juta orang. Presentase penduduk miskin berbeda-beda di tiap-tiap wilayah di Indonesia. (Presentase penduduk miskin terbesar pada bulan Maret 2013 berada di Pulau Maluku dan Papua, yaitu sebesar 23,97 persen, sementara presentase penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan, yaitu sebesar 6,37 persen). Kemiskinan di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-beda antar wilayah. Untuk itu, diperlukan upayaupaya penanggulangan kemiskinan yang mungkin berbeda pendekatan dan strateginya, tentunya yang dapat meningkatkan keberdayaan masyarakat secara berkelanjutan di tiap-tiap wilayah. Kemiskinan yang masih luas di Negara kita ini perlu ditanggulangi bersama-sama melalui kerjasama berbagai pihak, termasuk salah satunya adalah dengan Perguruan Tinggi. Bapak Ibu yang saya hormati, Perguruan Tinggi adalah sumber pengetahuan, rumah para Ilmuwan yang mengkaji, mempelajari, dan mendorong perubahan-perubahan positif di masyarakat. Perguruan Tinggi sebenarnya bisa memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi perubahan-perubahan suatu masyarakat di wilayahnya. Peran dan fungsi Perguruan Tinggi dapat diwujudkan dalam bentuk membangun gerakan pembelajaran masyarakat untuk mendorong segera terciptanya transformasi sosial. Selain itu, Perguruan Tinggi pun dapat membuka dialog dan kerjasama dengan masyarakat setempat dalam menggali potensi mereka untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan keberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di wilayah tersebut.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


27

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

Perguruan Tinggi melalui peran Tri Dharma nya dapat menentukan kebijakan-kebijakan yang strategis dalam upaya peningkatan keberdayaan masyarakat di wilayahnya, salah satunya yaitu dengan membantu pengembangan sumber daya masyarakat setempat melalui dukungan dalam usaha mikro karena usaha mikro merupakan salah satu potensi besar dalam menyerap tenaga kerja, dan dapat secara mandiri berkembang dalam masyarakat yang tergolong miskin. Adanya kerjasama dan peran Perguruan Tinggi dalam mendukung usaha mikro di wilayah setempat diharapkan kemiskinan di wilayah tersebut dapat ditanggulangi. Berbagai peran yang dapat dilakukan oleh Perguruan Tinggi dalam mendukung usaha mikro setempat, yaitu seperti: 1. Mengembangkan usaha mikro setempat dengan memanfaatkan keilmuan dan sumberdaya lokal yang ada, serta memberikan pandangan akademis dan riset terkait dengan pengembangan usaha mikro tersebut. 2. Membangun basis-basis pengembangan keilmuan yang relevan bagi kebutuhan masyarakat usaha mikro sesuai perkembangan globalisasi 3. Membantu pengembangan kebijakan strategis terhadap legislatif dan eksekutif serta mengontrol implementasi kebijakan tersebut. 4. Menghidupkan atau mendorong lembaga-lembaga independen dan industri serta pemerintah untuk ikut bekerjasama dalam pengembangan usaha mikro. 5. Mengembangkan desain dan standarisasi kualitas produk usaha mikro. 6. Membuka Training Centre dan Show Room produk usaha mikro Hadirin yang saya hormati, Saya bukan pengusaha, background saya adalah dokter, periset dan pendidik. Namun dari berbagai diskusi dan bacaan, saya tahu bahwa usaha mikro merupakan salah satu potensi besar dan dapat secara mandiri berkembang dalam masyarakat golongan miskin. Usaha mikro inilah usaha yang tahan bantingan, tahan ujian hingga saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), usaha mikro meliputi sekitar 92% unit usaha dari total seluruh unit usaha di Indonesia, atau sekitar 51 juta unit usaha. Bila digabung dengan usaha kecil, menjadi 98% dari seluruh total unit usaha. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mampu menyerap lebih kurang 99,45% lapangan kerja dari total sekitar 76,54 juta pekerja Selain itu, sektor UMKM juga mampu menyediakan sekitar 57% kebutuhan barang dan jasa, 19% kontribusinya terhadap ekspor serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 2-4%. Jadi usaha ini merupakan pilar utama ekonomi Indonesia. Untuk mendukung terjadinya kerjasama sinergis antara Perguruan Tinggi, usaha mikro, dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam menanggulangi kemiskinan, perlu disusun sebuah Rencana Strategis secara serius dan dikawal implementasinya, serta dapat diukur ketercapaiannya. Jadi, kerjasama ini bukan hanya sekedar mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat sesaat saja, melainkan harus berkesinambungan. Di dalam Rencana Strategis (Renstra) tersebut harus terdapat sasaran strategis, program kerja, kegiatan, dan Key Performance Indicator (KPI), agar dapat dinilai kesuksesan tiap kegaitan/program yang telah terlaksana. Harus ada tim yang mengawal Renstra, memonitor dan mengevaluasi, serta menindaklanjuti nya secara terus menerus. Perguruan Tinggi, Usaha Mikro dan masyarakat setempat juga harus bekerjasama dengan pemerintah dan industri. Dengan adanya kerjasama tersebut, tidak hanya masyarakat dan usaha mikro setempat yang mendapakan manfaat, tetapi Perguruan Tinggi pun juga mendapatkannya. Perguruan Tinggi dapat mendorong keterlibatan mahasiswa dalam upaya meningkatkan keberdayaan masyarakat sehingga mahasiswa menjadi generasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah masyarakatnya dan bangsanya. Hal ini dapat memberikan peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan rencana komprehensif melawan kemiskinan dan menjalankan rencana mereka. Kerjasama ini juga dapat menolong generasi produktif Indonesia yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk mengembangkan kemampuan, dan mendapatkan pekerjaan yang bermanfaat. Sehingga, diharapkan masyarakat tersebut dapat memecahkan pembatas yang membatasi mereka untuk keluar dari kemiskinan. Bapak, Ibu, Hadirin yang saya hormati, Sebelum saya akhiri sambutan ini, saya ingin berterimakasih kepada penyelenggara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013, yaitu Yayasan Aksi Sinergi Untuk Indonesia (AKSI UI) yang telah menggagas dan menyelenggarakan Temu Nasional ini, sungguh ini suatu kegiatan yg mulia. Semoga dengan diselenggarakannnya acara ini, kita dapat membuat suatu formulasi bentuk kerjasama yang strategis, bersinergi, dan berkelanjutan untuk mendukung usaha mikro di berbagai wilayah sesuai karakter wilayah masing-masing, sehingga kemiskinan dapat ditanggulangi dan keberdayaan masyarakat dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

28

Sekali lagi, Temu Nasional Penganggulangan Kemiskinan 2013, dengan tema: “Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Mendukung Sinergi Multipihak untuk Pengembangan Usaha Mikro�, perlu dikawal untuk tindak lanjut nya, visi dan sasaran strategis untuk 10 tahun, 5 tahun, 3 tahun yang akan datang. Akhir kata, saya akan tutup sambutan ini dengan Quote dari Nelson Mandela, “Mengatasi kemiskinan bukanlah merupakan suatu kegiatan amal, tetapi merupakan suatu tindakan keadilan. Kemiskinan merupakan buatan manusia. Dengan demikian, kemiskinan dapat diatasi dan dieridikasi juga melalui tindakan manusia. Terkadang kemiskinan bisa jatuh pada generasi yang nantinya akan menjadi generasi yang hebat. Jadi, marilah kita berikan kesempatan besar kepada calon generasi hebat ini untuk berkembang�. Dan manusia itu dapat menjadi sebesar keinginannya. Mestinya tidak ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan, masalahnya sekali lagi harus ada yang fokus, gigih terus mengawal program-program kerja yang akan dikembangkan. Demikian sambutan dari saya. Terimakasih atas perhatian para hadirin sekalian. Wabillahit taufik wal hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD, K.Ger, M.Epid, FINASIM (Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerjasama Industri)

3. Opening Ceremony oleh: Prof. Subroto (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Dewan Pembina Aksi Sinergi untuk Indonesia) Bismillahirrohmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejatera bagi kita semuanya. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian, pertama kali tentu kami ucapkan terimakasih atas kehadiran Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian atas undangan Sinergi Indonesia 2013. Masalah kemiskinan barangkali betul sekali yang dikatakan oleh Pak Dawam, bukan masalah ekonomi saja akan tetapi berdasarkan masalah budaya. Oleh karena itu, di dalam kita memikirkan pemberantasan kemiskinan itu, berarti sebetulnya kita harus mengajak teman-teman kita yang mempunyai disiplin didalam sosiologi, di dalam antropologi, di dalam budaya duduk bersama kita bersama, dengan ekonom-ekonom. Tapi menurut saya, barangkali juga ekonomi bisa memberikan kontribusi di dalam pemecahan masalah kemiskinan. Sekurang-kurangnya adalah menyiapkan tools, menyiapkan peralatan untuk bisa mengurangi kemiskinan. Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, tema nya sekarang itu adalah kemiskinan. Tapi sebetulnya lebih penting kita harus punya dan lebih mendasar lagi masalahnya itu adalah permiskinan. Apa yang menyebabkan kemiskinan itu. Ini yang akan nanti lebih penting. Tapi malam ini temanya lebih pada kemiskinan. Melalui penggunaaa dari mikro finace. Tapi kita menyadari ini adalah salah satu bagian saja dari usaha-usaha kita untuk memberantas kemiskinan. Yang pertama perlu kita sadari ini bukan masalah setahun, dua tahun, tiga tahun yang akan datang ini adalah msalah jangka panjangnya, tantangan bangsa untuk mengatasi kemiskinan jaid kita harus bertempur dan berjuang untuk masa yang lebih lama. Yang kedua adalah kita baru menitik beratkan pada kemiskinan. Bukan permiskinan. Kemiskinan kita lihat kok masih banyak kita saksikan dipinggir jalan, di bawah jembatan, di desa-desa. Ibu-Ibu yang banyak meninggal pada waktu melahirkan anak, anak-anaknya tidak bisa lebih dari lima tahun sudah meninggal. Ini adalah masalah-masalah kemiskinan di Indoensia. Karena apa yang kita belum mampu mengatasi ini, karena yang pertama masalah kemiskinan ini tadi adlah tidak adanya akses dari kelompok ini terhadap alat-alat yang membuat mereka miskin, perlunya mendapatkan dana. Tapi itu saja tidak cukup perlunya ada akses terhadap skill atau keterampilan, perlunya ada akses kepada pengetahuan, perlunya ada akses kepada pengertian pemasaran. Jadi memang salah satu sebab kemiskinan yang kita lihat kok belum sampe dikurangi, meskipun usaha dari pemerintah sudah dilakukan. Akses yang kedua yang kita saksikan banyak sudah usaha-usaha di dalam masyarakat dalam memberantas kemiskinan tetapi jalan sendiri-sendriri. Kita tau mikro finance, tahu perbankan, tau LSM, tapi mereka jalan sendiri-sendiri. Sehingga mereka tahu impactnya kepada negara, kepada bangsa itu adalah tidak teralalu besar. Oleh karena itu, kunci daripada bisanya menemukan mempertemukan lembaga-lembaga yang sudah bergerak di dalam kemiskinan adalah sinergi. Mempertemukan mereka, ada Bank yang sudah

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


29

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

menyediakan dana untuk memberantas kemiskinan. Ada kelompok koperasi, yang membutuhkan dana untuk bisa berkembang, tetapi duanya itu belum bertemu dan itu kita mengusahakan mereka untuk bertemu. Perlunya ada satu LSM yang banyak bergerak di desa-desa ada usaha peningkatan perikanan,pertumbuhan dari pada kelapa, buah-buahan. Tetapi mereka tidak mengerti bagaimana meningkatkan usaha-usaha itu. Disini kita berfikir bagaimana bahwa Universitas itu mempunyai peranan yang besar di dalam kelompoknya masing-masing, di dalam lingkungan masing-masing untuk mempertemukan macam-macam lembaga di dalam masyrakat itu. Jadi peranannya mahasiswa universitas kepada usaha untuk mengumpulkan bersama, untuk mencarikan hubungan satu dengan yang lain, untuk gontong royong, untuk mengatasi masalahmasalah bangsa. Jadi yang harus kita lakukan saat ini adalah memberantas kemiskinan, tetapi kita belum mengatasi permiskinan, yang menyebabkan miskin itu apa-apa. Dan saya kira tadi kita banyak ngomong, tidak hanya masalah ekonomi, tidak ada masalah politik tapi yang banyak sebetulnya kemiskinan itu adalah budaya, masalah sikap bangsa, masalah ketangguhan bangsa, masalah tahan bantingnya bangsa, masalah yang mengenai disiplin. Jadi itu masalah-masalah budaya. Inilah yang sekarang harus kita tangani dalam waktu-waktu yang akan datang. Aktivitas di dalam periode kita secara sadar baru mengupas, memperbesar, mempertinggi kerja sama di dalam lembagalembaga untuk bisa mengatasinya. Jadi Ibu Siti, tadi kita mengatakan Aksi Sinergi Untuk Indonesia, tapi peranan Universitas Indonesia besar disini. Dan itulah karna malam hari ini yang sebetulnya kita timbulkan semangat itu. Dengan demikian, Temu Nasional yang kedua kita nyatakan terbuka dan mudah-mudahan semoga berhasil. Marilah kita doakan kepada Tuhan Yang Maha Esa, usaha daripada bangsa untuk mengatasinya. Banyakan dari pada kita itu pesimis, tidak bisa bangsa semacam itu bisa kita bangun. Hanya korupsi yang tidak karuan dan gontokgontokan yang hanya sehingga lalu menimbulkan semacam pesimisme, tapi jangan lupa pada waktu kita menyatakan merdeka, atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Jadi di dalam itu kita harus percaya, YES! Jadi bangsa kita itu bisa menjadi bangsa besar. Tapi untuk menajdi bangsa besar itu, kita harus punya kemauan, keyakinan untuk membuat bangsa besar. Tidak akan datang begitu saja, tetapi bisa diusahakan. Di dalam waktu-waktu yang lalu kita sempat menggali apa yang dinamakan kearifan nasional. Kadang-kadang itu melihat kiri dengan pendekatan rasio, tenaga kerja dan penduduk yang tidak terdidik semacamnya itu butuh saat-saat sekarang. Orang tua kita itu pernah mengatakan kalian jangan pernah putus asa. Lagu Erlangga di Kediri membuat suatu ramalan, ramalan Joyoboyo, pada waktu itu beliau mengatakan negara ini mengalami siklus 700 tahunan. 700 pertama adalah Sriwijaya tahun 700, siklus 700 yang kedua 1400 M zamannya Mojopahit, siklus 700 berikutnya adalah abad ke-21, inilah yang mestinya dikatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi ini tidak hanya datang begitu saja, harus kita usahakan untuk menyongsong hari depan itu. Dan ini saya kira AKSI UI, Bapak Rahman dan Bapak Bambang Rahadjo yang ingin kita tanamkan jangka panjang kita bertemu, kita mohon kepada Allah, SWT kita diberikan ridho rahmat untuk mencapainya. Dengan ini petemuan kita, kita buka dan harapannya akan sukses, terimakasih atas perhatiannya!

4. Keynote Speech oleh : Dr. HS. Dillon (Utusan Khusus Presiden RI untuk Penanggulangan Kemiskinan). Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Mendukung Sinergi Multipihak untuk Pengembangan Usaha Mikro Excellencies, Profesores, para hadirin yang saya muliakan, Selamat malam, Saya bersyukur kehadirat Illahi Rabbi berada dalam majelis cendekia yang bernurani ini. Satu tahun yang lalu kita berkumpul di sini membahas peran Perguruan Tinggi dalam penanggulangan kemiskinan. Kali ini pembahasan difokuskan pada peran strategis Perguruan Tinggi mendukung sinergi multipihak untuk pengembangan usaha mikro. Hal ini sesungguhnya merupakan sisi sangat penting dari penanggulangan kemiskinan sebagai anak tangga pertama yang dipergunakan rakyat perdesaan yang sudah siap naik kelas. Usaha mikro berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja yang masih minim pengetahuan dan keterampilannya, sedemikian juga dalam peningkatan pendapatan pada tingkat akar rumput oleh karena itu peningkatan kapasitas usaha mikro merupakan strategi yang efektif untuk penanggulangan kemiskinan. Undang-Undang mendefinisikan usaha mikro sebagai usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki asset maksimum 50 juta rupiah dengan omset maksimum 300 juta rupiah. Pada tahun 2012 diperkirakan ada sebanyak 55,8 juta usaha mikro di Indonesia yang mempekerjakan

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

30

99,8 juta tenaga kerja, sementara 48% rakyat masih tergolong miskin atau rawan keadaannya. Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi kemiskinan, hingga saat ini diperkirakan sekitar 100 triliun rupiah dialokasikan pemerintah setiap tahun melalui berbagai program yang tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga. Diperkirakan kita kini membutuhkan sekitar 70 juta rupiah untuk mengeluarkan satu orang dari kemiskinan, sementara negara lain di Asia hanya membutuhkan 50 juta rupiah; dengan demikian efektifitas dan efisiensi upaya-upaya penanggulangan kemiskinan kita masih dapat ditingkatkan dengan mendaya-gunakan segenap arsenal kebijakan yang tersedia. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan sarana yang paling tepat untuk mewujudkan demokrasi ekonomi karena mempunyai ciri-ciri kemandirian, kebersamaan, kekeluargaan, dan keterbukaan serta bertumpu pada akar rumput. UMKM yang maju dan tangguh secara langsung akan meningkatkan pendapatan masyarakat banyak. Kelompok ini telah terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisis ekonomi pada masa yang lalu. Ketika sektor ekonomi formal dengan perusahaan besar tumbang diterpa badai krisis moneter pada tahun 2008, kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah tetap berjaya, dan bahkan tetap menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini antara lain disebabkan karena para pelaku usaha mikro pada umumnya berkarakter jujur, termasuk dalam soal pengembalian hutang dan ulet. Selain itu UMKM tidak tergantung pada pasokan bahan dari luar karena mengandalkan bahan-bahan lokal. Meskipun demikian UMKM belum dapat menjadi penghela kesejahteraan warga bangsa seperti yang diharapkan para pendiri bangsa meskipun pemerintah selama ini sudah melaksanakan berbagai program penguatan UMKM. Otonomi Daerah sesungguhnya membuka peluang-peluang baru bagi UMKM baik dalam hal perluasan dan pengembangan usaha maupun pemasaran. Sedangkan pada tingkat regional dan internasional, interaksi ekonomi antar negara yang semakin intensif melalui kegiatan perdagangan membuka peluang pemasaran yang lebih besar bahkan dapat dikatakan tidak terbatas. Peluang-peluang baru tersebut belum dapat dikapitalisasi oleh UMKM selama ini karena kelemahan dalam berbagai hal. UMKM masih terus dihadapkan pada permasalahan-permasalahan klasik seperti produktivitas yang rendah, kemampuan manajerial dan pemasaran yang lemah, serta kekurangan permodalan. Hal ini menunjukkan bahwa kita belum secara “all out” berupaya menguatkan UMKM sehingga dapat bersaing dengan jenisjenis usaha lainnya. Salah satu bukti adalah selama satu dekade belakangan ini, secara keseluruhan kredit perbankan telah tumbuh sekitar 20 persen per tahun, akan tetapi proporsi yang jatuh ke tangan UMKM tidak lebih 20 persen dari total kredit yang disalurkan. Terkesan bahwa sektor perbankan masih tetap lebih senang menyalurkan kreditnya kepada perusahaan-perusahaan besar swasta dan BUMN. Sektor UMKM khususnya kelompok usaha mikro masih saja dipandang sebelah mata karena dianggap tidak “bankable” dengan alasan antara lain tidak memiliki jaminan yang memadai seperti dipersyaratkan. Pemerintah sekarang ini menyalurkan Kredit Untuk Rakyat (KUR) sebagai salah satu upaya memperkuat permodalan UMKM. Hingga akhir Agustus 2013 KUR yang sudah disalurkan melalui bank-bank nasional dan bank-bank pembangunan daerah sudah sebesar 45,877 triliun rupiah kepada 9,26 juta debitur. Dengan demikian, kalau benar KUR ini tepat sasaran, baru sekitar 25 persen usaha mikro yang tersentuh kredit murah dari pemerintah. Bagian terbesar dari kredit tersebut diberikan kepada mereka yang bergerak di sektor perdagangan yaitu sebesar 26,29 triliun, diikuti mereka yang berusaha di sektor pertanian sebesar 8,7 triliun rupiah. Hampir setengah dari KUR tersebut disalurkan di Jawa yaitu sebesar 47 persen. Hal ini berarti bahwa masih diperlukan upaya-upaya khusus untuk menyebar-luaskan kredit kepada usaha mikro di luar Jawa sebagai salah satu perwujudan membangun Indonesia yang dicita-citakan melalui penekanan kesenjangan antar-daerah. Perguruan Tinggi dapat memainkan peran yang besar dalam upaya penguatan berbagai matra UMKM. Yang dapat secara langsung membantu UMKM adalah pembentukan “inkubator bisnis” di lingkungan Perguruan Tinggi sebagai sarana hand holding mendampingi UMKM dalam menapak tangga penguatan kemampuan dan keunggulan usaha. Dengan inkubator bisnis Perguruan Tinggi dapat membantu meningkatkan kemampuan manajerial dan kemampuan pemasaran UMKM melalui pelatihan-pelatihan yang dibarengi hands on experience sehingga dapat secara jeli menemu-kenali dan memanfaatkan peluang pemasaran yang muncul.Selain membantu UMKM menggapai program pemerintah yang menyediakan kredit, Perguruan Tinggi juga dapat memperkenalkan teknologi baru yang tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kegiatan. Dengan dukungan seperti ini UMKM akan dapat terus melakukan perbaikan atau “continuous improvement” – kaizen – sehingga akan mampu melakukan pernyesuaian-

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


31

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

penyesuaian yang diperlukan menghadapi perubahan dan tuntutan lingkungan strategis yang terus berubah. Penguatan UMKM dapat pula dilakukan melaluipengkaitan dengan kuliah kerja nyata (KKN) yang bersifat khusus atau KKN Tematik. Melalui program ini mahasiswa secara langsung mendampingi para pelaku UMKM dalam menjalankan semua kegiatan usaha mereka. Secara teknis, beberapa mahasiswa dengan latarbelakang keilmuan yang berbeda ditugaskan mendampingi beberapa atau satu kelompok usaha mikro. Setiap mahasiswa kemudian ditugaskan pertama-tama menganalisis dan menilai kondisi UMKM sesuai bidang ilmunya, dan selanjutnya merancang dan mengimplementasikan strategi dan langkahlangkah perbaikan. Dengan demikian UMKM diharapkan akan memperoleh akses yang lebih baik pada seluruh program pemerintah, mulai dari pengurusan izin, penarikan kredit, sampai ke pemanfaatannya. Disadari sepenuhnya bahwa perubahan dan perbaikan tidak akan serta merta terjadi, oleh karena itu program ini harus dirancang dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Kelompok-kelompok UMKM perlu didampingi secara terus-menerus selama beberapa waktu oleh beberapa angkatan KKN Tematik. Dengan demikian pada akhir masa pendampingan, UMKM diharapkan sudah mempunyai kemampuan yang cukup untuk berkembang dan bersaing dengan berbagai jenis usaha lainnya. Misi Perguruan Tinggi untuk membantu UMKM baru akan dapat dilaksanakan secara optimal manakala Perguruan Tinggi bertekad penuh menjalankan khittohnya sebagai pusat budaya bangsa. Perguruan Tinggi harus pertama-tama mampu menciptakan masyarakat akademis yang berkarakter dan menjunjung tinggi kebenaran dan integritas, serta menyemaikan nilai-nilai kejuangan, kepeloporan, dan pengabdian. Dapat dipastikan bahwa bersenjatakan konsistensi keberpihakan dan dinamika dosen-dosen muda yang digandengkan dengan para professor sebagai jangkar nilai, Perguruan Tinggi akan dapat secara nyata meningkatkan daya-saing dan harkat UMKM di Tanah Air tercinta ini dalam waktu yang tidak terlalu lama – in the foreseable future. Merdeka!

5. Keynote Speech oleh: Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo (Guru Besar, Rektor Universitas Petroleum 45 Yogyakarta) Perjalanan Panjang Memberantas Kemiskinan dalam Perspektif Sejarah Oleh: M. Dawam Rahardjo Kemiskinan, sebagai gejala dalam kehidupan manusia yang menimbulkan kesadaran sebagai tantangan di kalangan elite yang melahirkan gagasan besar untuk menanggulanginya baru muncul pada abad 19 sebagai reaksi terhadap gagasan yang muncul pada abad 19 yang menitik-beratkan pada gagasan untuk mencapai kemakmuran bangsa (the wealth of nation). Pada abad 18, gagasan yag muncul adalah bahwa kemakmuran bangsa akan dicapai apabila setiap individu diberi kebebasan untuk bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri. Hipotesanya adalah jika setiap orang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, maka kemakmuran masyarakat akan dengan sendirinya tercapai. Dengan perkataan lain, kemiskinan akan terhapus dalam kebebasan berusaha. Gagasan itu berasal dari Adam Smith (1773-1790) melalui bukunya “The Wealth of Nation: The Inquiry into the Wealth of Nation� (1776), yang kemudian disebut sebagai kapitalisme. Tapi kapitalisme dinilai akhir-akhir ini oleh ekonom kontemporer Amerika, Robert Hessen dianggap sebagai salah kaprah dalam penyebutan (misnomer), dan ia lebih suka menyebutnya sebagai individualisme ekonomi (economic individualism) yang dilawankan dengan gagasan kolektivisme. Walaupun demikian gagasan Smith itu lebih lazim disebut sebagai kebebasan ekonomi (economic liberalism). Dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang pemikir lain, Robert Malthus (1766-1834), melihat suatu gejala kecenderungan ke arah kemiskinan atau kemerosotan kesejahteraan keluarga yang disebabkan oleh perkembangan jumlah penduduk mengikuti deret ukur yang tidak diimbangi dengan perkembangan produksi pangan mengikuti deret hitung. Asumsinya tentang hubungan antara penduduk dan kemiskinan itu adalah bahwa, peningkatan kesejahteraan akan mendorong keluarga untuk menambah jumlah anak. Tapi dengan lahirnya lebih banyak anak yang menambah jumlah penduduk akan mengurangi tingkat kesejahteraan keluarga, dan karena itu ia menganjurkan pengendalian diri berdasarkan nilai moral (moral restraint). Karena itu solusi terhadap masalah kemiskinan adalah mengurangi tingkat penduduk dengan pengendalian diri atau mengimbanginya dengan peningkatan produksi pangan. Tapi pemikir yang lain, David Ricardo (1772-1823), berpendapat bahwa peningkatan produksi pangan dibatasi oleh ketersediaan lahan yang subur, sehingga Mathus dan Ricardo tetap melihat bayang-bayang kemiskinan dalam perkembangan ekonomi dan masyarakat. Tapi dalam realitas sejarah, produksi pangan dapat ditingkatkan secara optimal yang dibarengi dengan pengendalian pertumbuhan penduduk, karena kekhawatiran tentang

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

32

kemerosotan kesejahteraan keluarga yang menjadi kesadaran masyarakat pada umumnya. Sementara itu, sebagaimana diasumsikan oleh Smith, telah terjadi pertumbuhan ekonomi, sebagai hasil dari proses industrialisasi pada abad ke 19. Tapi justru dalam proses industrialisasi itu telah lahir kemiskinan massal. Sebabnya adalah tingkat upah yang rendah di satu pihak dan meningkatnya kebutuhan hidup di lain pihak, yang mencakup kesehatan dan pendidikan. Kemiskinan itu terjadi terutama di daerah perkotaan dalam masyarakat industri. Kemiskinan juga terjadi di daerah perdesaan di kalangan petani kecil, karena kekurangan modal, sehingga mengalami kesulitan dalam bertani. Dalam waktu yang bersamaan telah terjadi bencana alam berupa badai salju yang menghentikan kegiatan bertani. Akibatnya terjadi kemiskinan massal pula, di daerah perdesaan. Sebagai akibat dari merosotnya produksi pangan, maka harga pangan di daerah perkotaan meningkat yang tidak terjangkau oleh buruh yang berpendapatan rendah. Sebagai respon terhadap kemiskinan itu timbul rasa solidaritas yang bersumber dari ajaran moral Kristen. Di daerah perkotaan Robert Owen (1771-1858) seorang industrialis tekstil yang semula menolak doktrin gereja, tetapi belakangan kembali kepada ajaran moral Kristen itu melahirkan tiga gagasan untuk menanggulamngi kemiskinan. Gagasan pertama bersumber dari rasa kemanusiaan terhadap kondisi buruh yang sangat mngenaskan sebagaimana dilukiskan oleh novelis Charles Dickens (1812-1870). Atas prakarsanya, ia meningkatkan upah buruh, menganjurkan larangan memakai tenaga kerja anak-anak yang murah, menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak dan remaja, memperbaiki kondisi kerja dan menyediakan perumahan sehat di lingkungan pabrik guna menghapus perkampungan kumuh kaum buruh. Langkah Owen itu merupakan cikal bakal dari gagasan “tanggung-jawab sosial perusahaan” (Corporate Social Responsibiliy atau CSR) dewasa ini. Gagasan kedua, adalah membentuk komunitas kepemilikan bersama (community of common ownership) di daerah perdesaan, tetapi bukan di Inggris, melainkan di benua baru AS yang merupakan cikal bakal dari program pengembangan masyarakat (community development) untuk mencapai kesejahteraan bersama. Ketiga, ketika telah kembali ke Inggris, ia mengambil prakarsa membentuk usaha bersama menyediakan kebutuhan konsumsi bagi kaum buruh. Oleh pengikutnya, yang membentuk “Rochdale Society of Equitable Pioneers” pada tahun 1844 di kalangan aktivis buruh dikembangkan prinsip-prinsip usaha bersama guna memenuhi kebutuhan bersama, khususnya konsumsi yang menjadi cikal bakal dari koperasi konsumen. Sementara itu di Jerman, kemiskinan diatasi dengan prakarsa yang juga bersumber dari ajaran moral Kristen tentang solidaritas berdasar nilai persaudaraan (brotherhood). Pertama adalah prakarsa dari kalangan orang-orang kaya yang dermawan untuk memberikan bantuan berupa bahan pangan dan pakaian dan bahkan juga uang tunai kepada orang-orang miskin. Langkah itu diikuti oleh pemimpin pemerintahan kota yang memberikan bantuan yang sama, termasuk bantuan uang yang kini di Indonesia disebut “Bantuan Langsung Tunai” (BLT). Tapi bentuk bantuan yang disebut charity itu, tidak memecahkan akarakar masalah kemiskinan dan bahkan hanya menimbulkan ketergantungan orang miskin kepada bantuan kaum dermawan atau pemerintah saja. Karena itu seorang ekonom Jerman Scultche Delitzch (1808-1883) dan seorang walikota Flammersfeld, Friedrich Herman Raifeissen (1818-1888), mengeluarkan prakarsa mengumpulkan dana dari pemilik uang untuk dipinjamkan kepada petani miskin yang membutuhkan dana untuk bertani. Tetapi dua tokoh itu juga menganjurkan agar kaum petani sendiri juga mengumpulkan dana dengan cara menabung. Kegiatan itu membentuk koperasi simpan pinjam (KSP) atau koperasi kredit (kopdit) yang melembaga dan masih lestari hingga kini. Dengan demikian, maka kemiskinan diatasi dengan kegiatan tolong menolong atas`dasar solidaritas dan menolong diri sendiri (self-help). Bentuk usaha untuk mengatasi kemiskinan itu masih tetap didasarkan kepada prinsip kebebasan atau liberalisme, tetapi tidak dalam bentuk kompetisi melainkan atas dasar solidaritas dan kerja sama yang dilakukan secara sukarela. Pelajaran yang bisa ditarik adalah bahwa pertama, pembatasan kemiskinan melalui bantuan akan cenderung menciptakan ketergantungan orang miskin dan mengurangi semangat swadaya. Kedua, kemiskinan hanya bisa diatasi oleh orang miskin sendiri atas dasar semangat tolong-menolong dan menolong diri sendiri. Ketiga, semangat solidaritas dari yang kaya kepada yang miskin, bisa membentuk pola kerja-sama dalam lembaga koperasi. Dan keempat, bantuan dalam bentuk kredit lebih efektif untuk memberantas kemiskinan, dari pada dalam bantuan hibah. Gagasan koperasi tergolong ke dalam gagasan besar Sosialisme. Tetapi oleh Fredrich Engles (18201885) dinilai sebagai Sosialisme Utopia, karena tidak ada penjelasan mengenai bagaimana mencapai suatu masyarakat sosialis yang dipahami sebagai masyarakat tanpa hak milik perseorangan dan dalam masyarakat komunis tanpa negara (state-less). Berdasarkan dalil Joseph Proudhon (1809-1865) bahwa “hak milik perorangan itu adalah pencurian” (property is theft), maka timbul asumsi bahwa hak milik individu adalah sumber esploitasi yang menimbulkan kemiskinan sebagaimana dirumuskan oleh Karl Marx

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


33

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

(1818-1883) dalam teorinya mengenai nilai lebih (surplus value) yang diambil oleh pemilik modal. Karena itu kemiskinan hanya bisa diberantas melalui penghapusan hak milik perorangan yang digantikan dengan hak milik bersama (collective ownership). Namun realitas sejarah berkebalikan dari pendapat Engels. Sistem koperasi dapat segera direalisasikan, berdasarkan nilai-nilai prinsip yang sederhana sedangkan komunisme sulit dilaksanakan dan bahkan mengalami kegagalan dalam bentuk keruntuhan dari dalam. Sungguhpun begitu sistem sosialis negara sebenarnya telah berhasil memberantas kemiskinan, tetapi masyarakat hanya mencapai kesejahteraan di tingkat rendah, sebagaimana nampak dari angka pendapatan penduduk rata-rata per kapita. Namun sistem sosialis hanya berlaku di beberapa negara saja sedjak Revolusi 17 Oktober, 1917 di Rusia, walaupun dalam kawasan yang luas dan jumlah penduduk yang banyak, khususnya di Rusia, Eropa Timur dan Cina yang baru merdeka pada tahun 1948. Dan sekarang, sesudah terjadinya liberalisasi, Cina dan Rusia muncul sebagai potensi kekuatan perekonomian dunia yang bersaing kuat dengan negara-negara kapitalis. Di antara kedua sistem itu, telah lahir pula sistem ketiga yang disebut sebagai sistem Negara Kesejahteraan (Welfare-State). Pada dasarnya, sistem Negara Kesejahteraan adalah koreksi terhadap kapitalisme yang menimbulkan kemiskinan massal, dengan program-program peningkatan dan pemerataan kesejahteraan berdasarkan prinsip-prinsip keadilan sosial (social justice). Program-program kesejahteraan sendiri sebenarnya bertolak dari gagasan Owen dan langkah-langkahnya untuk meningkatkan upah buruh, memperbaiki kondisi kerja dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pelopor dari program kesejahteraan adalah P.M. Prusia, Otto von Bismark (1871-1890) yang intinya adalah peningkatan upah buruh dan penciptaan berbagai bentuk jaminan dan perlindungan sosial (social insurance dan social protection). Program itu juga menjadi agenda gerakan sosialis dan gerakan buruh di Eropa Kontinental, Inggris dan AS, tanpa menghapus atau merubah secara fundamental, liberalisme ekonomi. Tetapi sistem liberalisme itu dikoreksi, pertama melalui perundang-undangan dan regulasi. Kedua peningkatan peran atau intervensi negara. Tapi, liberalisme yang murni dan aliran kesejahteraan sosial, merupakan dua ideologi yang bersaing dan tarik-menarik, seperti nampak dalam kebijakan ekonomi AS yang didukung oleh Partai Republik di satu pihak dan partai Demokrat di lain pihak. Partai Republik menekankan liberalism ekonomi dan mencegah peranan dan intervensi negara, sedangkan Partai Demokrat menekankan peranan dan intervensi melalui UU dan Peraturan dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan. Partai Republik menyerahkan kondisi dan perkembangan ekonomi melalui mekanisme pasar bebas, sedangkan partai Demokrat memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan mencegah timbulnya kemiskinan. Perbedaan itu sebenarnya dikompromikan dalam Konsensus Washington 1998. Di satu pihak, Konsensus menganjurkan privatisasi dan mekanisme pasar bebas dan membatasi subsidi dan anggaran negara yang besar. Tetapi di lain pihak, negara diberi peran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Tetapi dalam program kesejahteraan itu masih terjadi perbedaan pendapat. Kelompok liberal berpandangan bahwa program kesejahteraan, misalnya asuransi itupun harus dilakukan melalui mekanisme pasar. Sedangkan kelompok Negara Kesejahteraan menekankan pelaksanaan program kesejahteraan oleh negara. Sementara di negara-negara maju berlangsung tarik menarik antara negara dan sektor swasta dalam mempertahankan dan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat di mana kemiskinan dinilai sebagai “kemiskinan minoritas” (minority poverty), negara-negara sedang berkembang masih bergelut dalam masalah kemiskinan massal yang bersifat struktural. Wacana dan persepsi mengenai kemiskinan struktural ini dimulai dengan buku John Kenneth Galbraith (1908-2006), Ketua Dewan Penasehat Ekonomi Presiden AS. John Fizgelard. Kennedy (1917-1963) dalam bukunya “The Nature of Mass Poverty” (1979). Dalam Pandangan lama, kemiskinan dipersepsikan sebagai kondisi yang bersumber pada faktor tunggal. Dalam pandangan liberal, kemiskinan disebabkan karena rendahnya tingkat investasi yang bersumber dari kurangnya modal. Dalam kubu Sosialis, kemiskinan dipahami sebagai kondisi yang disebabkan oleh eksploitasi pemodal terhadap tenaga kerja atau buruh dalam sistem ekonomi suatu negara. Dalam buku Galbraith, dikemukakan 9 sebab-sebab kemiskinan, atau pandangan mengenai sebab terjadinya kemiskinan yaitu; (1) kemiskinan sumberdaya alam, (2) hakekat negara dilihat dari sistem ekonominya, (3) kekurangan modal finansial (4) kekurangan atau rendahnya mutu sumberdaya manusia, (5) sindrom “negara rentan” (soft-state) yang ditandai oleh korupsi yang sudah merupakan sistem atau menjadi “budaya” di lingkungan birokrasi negara (6) nasehat-nasehat yang kelu atau menyesatkan oleh tenaga ahli asing di negara-negara sedang berkembang yang berfikir atas

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

34

dasar kondisi negara maju yang tidak sesuai dengan kondisi negara miskin atau sedang berkembang, (7) faktor etnis yang tidak melahirkan bakat-bakat (8) faktor cuaca yang mempengaruhi kenyamanan bekerja atau kemampuan berproduksi, khususnya pertanian, misalnya kedelai dan gandum hanya bisa tumbuh atau subur di negara-negara dingin atau sub-tropis dan (9) warisan kolonial yang menimbulkan kondisi yang berbeda-beda. Berbagai faktor yang dianggap sebagai sumber kemiskinan Itu memang nampak di berbagai negara miskin atau sedang berkembang, termasuk Indonesia, tetapi dalam derajat dan urgensi yang berbedabeda, sehingga menimbulkan pandangan yang berbeda mengenai strategi pemberantasan kemiskinannya. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya. Tetapi jumlah penduduknya juga banyak sehingga kekayaan per kapitanya rendah. Persepsi mengenai kekayaan alam Indonesia itu mengandung ironi dengan melihat kondisi masyarakat yang miskin. Di samping itu Indonesia menerima warisan kolonial yang kurang menguntungkan. Menurut Galbraith, Inggris meningggalkan warisan kolonial yang lebih baik, khususnya dalam administrasi negara dan pemerintahan dan dalam pendidikan yang melahirkan sumberdaya manusia yang lebih berkualitas. Sebagai akibat eksploitasi kolonial, tingkat pembentukan modal (capital formation) juga kecil, sehingga elit pemerintahan umumnya berpandangan bahwa untuk bisa membangun diperlukan modal asing. Iklim tropis memang sering dianggap sebagai mengganggu kenyamanan kerja. Namun sebaliknya, iklim tropis itu juga memberi peluang untuk bekerja sepanjang tahun, sehingga memanjakan yang tidak melahirkan rasa tantangan. Di masa kolonial, kaum pribumi Nusantara dinilai sebagai malas bekerja. Namun banyak pengamat menilai bahwa penduduk Nusantara adalah para pekerja keras tetapi hasil kerjanya dinikmati oleh bangsa penjajah. Dalam kajian antar negara sering dikemukakan temuan ironis, mengenai gejala bahwa beberapa bangsa Asia telah mencapai kemajuan yang tinggi, padahal miskin sumberdaya alam. Tapi ironi itu dijelaskan dengan teori sumberdaya manusia yang menjelaskan bahwa negara-negara maju itu miskin sumberdaya manusia, tetapi memiliki mutu sumberdaya manusia yang tinggi, karena faktor kebudayaan dan pendidikan. Dari analisis itu timbul pandangan bahwa kunci dari pemberantasan kemiskinan di Indonesia adalah peningkatan mutu sumberdaya manusia, melalui pendidikan, baik di bidang pengetahuan dan teknologi maupun kebudayaan. Perbaikan mutu sumberdaya manusia juga bisa dilakukan melalui peningkatan mutu gizi yang bisa mempengaruhi kecerdasan dan kekuatan bekerja fisik. Para pemimpin pemerintahan sering juga mengemukakan besarnya kekayaan alam Indonesia yang dimaksudkan untuk mengundang modal asing. Tetapi akibatnya timbul pandangan berdasarkan penemuan data, bahwa perekonomian Indonesia dewasa ini dikuasai oleh modal asing. Sejumlah pengamat juga mempertanyakan tentang gejala impor produk-produk pertanian yang sebenarnya dapat dan sudah diproduksi oleh rakyat. Disini timbul wacana mengenai kekeliruan tentang sifat pemerintahan yang ditandai oleh sistem ekonominya yang masih mewarisi dan melanjutkan warisan sistem ekonomi kolonial. Warisan sistem kolonial itu menurut Mohammad Hatta (1902-1980) adalah sistem ekonomi yang berorientasi kepada perekonomian dunia yang mengabaikan pembangunan perekonomian domestik. Perekonomian kolonial bertujuan untuk menghasilkan devisa yang dipakai untuk mengimpor produk-produk asing yang berakibat pengabaikan terhadap pengembangan produk nasional untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Akibatnya adalah tingkat kesejahteraan yang rendah dan ketergantungan pada perekonomian dunia, yang kongkritnya adalah perekonomian negara-negara industri maju bekas penjajah. Sukarno (1901-1970), sebelum kemerdekaan sudah mengemukakan beberapa ciri pokok perekonomian kolonial. Pertama menjadi sumber bahan mentah yang dieksploitasi oleh negara-negara maju. Kedua, menjadi sumber tenaga kerja murah yang dieksploitasi. Ketiga, menjadi pasar bagi produk-produk negara maju. Dan keempat menjadi sasaran penanaman modal asing negara-negara maju. Ciri-ciri itu ternyata masih nampak dalam perekonomian Indonesia yang telah merdeka. Dari analisis itu dapat disimpulkan bahwa faktor utama kemiskinan Indonesia terletak pada sistem ekonominya, sebagaimana diindentifikasi oleh Galbraith. Kemiskinan rakyat Indonesia, sebenarnya telah diketahui sejak akhir abad ke 19, sebagai akibat sistem liberal yang berlaku sejak 1870 yang melahirkan sistem perekonomian berbasis perkebunan besar yang berorientasi pada ekspor, sebagaimana disebut oleh Bung Hatta. Kondisi kemiskinan yang diangkat sebagai isu politik oleh kaum liberal Belanda itu, kemudian direspon dengan kebijakan “Politik Balas Budi� (Etische Politiek) tahun 1904 yang merupakan awal dari program kesejahteraan versi kolonial. Inti dari program kesejahteraan itu adalah pertama, program pendidikan, kedua program irigasi yang menunjang usaha

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


35

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

pertanian untuk menyediakan bahan pangan khususnya beras dan gula. Dan ketiga adalah transmigrasi yang pada dasarnya adalah program pemerataan kependudukan. Namun program peningkatan kesajahteraan itu tidak berhasil untuk menghapuskan kemiskinan, bahkan dalam dasawarsa kedua dan ketiga abad 20 itu ditandai oleh banyak pemberontakan yang dipicu oleh kondisi kemiskinan yang memuncak pada tahun 1930-an yang ditimpali dengan depresi ekonomi sebagai akibat dari tidak lakunya hasil produksi pertanian sehingga terjadi pengangguran massal. Hal ini disebabkan oleh dua faktor. Pertama adalah kebijakan setengah hati. Kedua, bias kepada kepentingan kolonial dan swasta asing. Namun di satu pihak, kaum pribumi, pada pertengahan dasawarsa kedua, telah berhasil mencapai swasembada beras, bahkan berhasil mengekspornya. Realitas ini membantah penilaian birokrat Kolonial Belanda yang menganggap bahwa petani pribumi itu tidak rasional, karena tidak mau berproduksi untuk pasar. Masalahnya adalah bahwa kaum petani pribumi menghadapi kesulitan untuk mengakses sumberdaya atau faktor-faktor produksi, karena hambatan suku bunga tinggi untuk memperoleh kredit, sewa tanah yang mahal dan pajak yang tinggi, yang membentuk mekanisme ekskploitasi. Pengalaman itu disimpulkan dengan anjuran “membalik ujung menjadi pangkal�. Prioritas pembangunan hendaknya diletakkan kepada produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ekspor baru dilakukan setelah dicapai keswasembadaan pangan. Strategi yang diusulkan oleh Hatta di atas sejalan dengan pandangan seorang ekonom Marxis kontemporer dari Mesir, Samir Amin. Menurutnya, pembangunan harus dimulai dengan produksi kebutuhan pokok masyarakat domestik yang melibatkan partisipasi dan penciptaan lapangan kerja yang bersifat massal. Strategi ini mengimplikasikan bahwa pembangunan harus dimulai dengan pemberantasan kemiskinan dengan cara memproduksi bahan-bahan kebutuhan pokok yang menciptakan lapangan kerja yang bersifat massal. Atas dasar pandangan dan pengalaman masa kolonial yang masih berlanjut hingga kini itu, maka strategi yang harus ditempuh untuk memberantas kemiskinan adalah membangun berbasis sumberdaya alam Nusantara yang mencakup sektor pertanian pangan dan perkebunan, kelautan dan kehutanan guna memproduksi kebutuhan pokok masyarakat yang melibatkan partisipasi yang luas kaum petani yang masih mencakup 65% penduduk Indonesia itu. Tapi hambatan utamanya adalah ketersediaan lahan sawah yang selama 10 tahun terakhir dilaporkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) telah mengalami alih fungsi sehingga lahan sawah hanya tinggal 8,1 juta ha. saja, yang diikuti dengan alih pekerjaan 5,04 juta petani yang meninggalkan profesinya di bidang pertanian. Sementara itu, lahan perkebunan, khususnya lahan kelapa sawit telah meningkat melebihi 10 ha. tetapi sebagian besar dikuasai oleh pemodal asing, sehingga perekonomian Indonesia telah kembali ke pola kolonial (re-kolonialisasi) yang berorientasi ekspor yang dikuasai atau didominasi oleh pemodal asing yang bisa memiliki saham mendekati 100% dan bisa memiliki hak guna tanah yang sangat lama sampai 30 tahun. Padahal, dalam pengalaman Malaysia, perkebunan kelapa sawit yang diberikan hak pengelolaannya kepada rakyat, mampu memberantas kemiskinan di antara puak Melayu. Sungguhpun begitu, ladang kering, tanah pekarangan dan lahan krisis masih tersedia lebih luas dari lahan sawah yang beririgasi. Di lain pihak Pemerintah, khususnya Kementarian Pertanian, berpendapat bahwa swasembada pangan, khususnya beras hanya bisa dicapai dengan pencetakan sawah beririgasi yang membutuhkan dana besar, yang berada dalam juridiksi Kementerian Pekerjaan Umum. Selain itu, lahan di sela-sela perkebunan, seperti karet, kelapa dan kelapa sawit sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk tanaman pangan tumpangsari berjenis umbi-umbian, kacang-kacangan dan palawija. Demikian pula lahan di bawah tegakan pohon tahunan, bisa dimanfaatkan dengan tanaman pangan tumpangsari dan peternakan berbagai jenis. Namun tanaman pangan tumpangsari yang bisa dikembangkan adalah umbi-umbian dan kacangkacangan yang bisa tumbuh dimana saja. Kuncinya adalah ketersediaan benih dan bibit, pupuk organik dan teknik penanaman. Namun peluang ini memerlukan kebijakan baru, yaitu pola konsumsi penduduk. Untuk bisa di jual di pasar dan dikonsumsi oleh penduduk sendiri, diperlukan pengolahan. Kebijakasan ini memberi peluang kepada industrialisasi perdesaan berbasis pertanian. Dari hasil pertanian dapat pula diproduksi bahan-bahan energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan. Produksi bahan-bahan energi ini juga memperluas peluang industrialisasi perdesaan yang menciptakan lapangan kerja massal. Pola pangan bisa pula dirubah dengan menggantikan protein dari daging ternak rumansia dan unggas di daratan dengan ikan laut yang terkandung dalam laut yang sebenarnya lebih luas dari daratan. Karena itu produksi pangan harus dialihkan orientasinya ke kelautan. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

36

mengembangan budi daya perikanan berikut dengan industri pengolahannya yang menciptakan lapangan kerja. Sektor kehutanan bisa dikembangkan ke arah produksi ekspor yang disertai dengan produksi pangan tumpangsari sehingga tidak mengabaikan kebutuhan domistik yang bersifat mandiri. Di sektor kehutanan yang harus dikembangkan adalah Eco-investmnent yang bukan saja ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan sumberdaya alam di masa mendatang sehingga mendukung strategi pembangunan yang berkelanjutan. Tapi pengembangan sektor kehutanan itu, agar berfungsi pemberantasan kemiskinan, harus berbasiskan rakyat dalam wadah koperasi. Dengan demikian, maka kunci pemberantasan kemiskinan sesungguhnya adalah kedaulatan rakyat atas sumberdaya alam Nusantara. Namun, kedaulatan itu hanya bisa dicapai jika rakyat memiliki sumber permodalan. Tetapi sistem perbankan konvensional dewasa ini tidak mendukung, bahkan menghindari proyek-proyek pertanian yang dianggap beresiko tinggi. Dengan persepsi yang sesungguhnya merupakan mitos itu, sebagaimana dibuktikan oleh sejarah perekonomian dunia maupun nasional, maka industri asuransi juga menghindari sektor pertanian.Menurut Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, dewasa ini bank pertanian tidak mungkin diwujudkan, karena tidak ada pemilik dana atau investor yang berminat. Karena itu kredit pertanian,sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Dalam menghadapi pembangunan berbasis pertanian, kelautan dan kehutanan rakyat, diperlukan paradigma baru yang menjadi dasar dari pembentukan “bank sosial� (social-bank� yaitu bank yang didasarkan pada nilai (bank based on value). Berbeda dengan perbankan konvensional yang berorientasi ekspansi moneter untuk mencari keuntungan dari jasa perantara keuangan itu, maka bank sosial yang merupakan bank milik rakyat banyak itu, berorientasi pada pemberantasan kemiskinan, inkubasi bisnis dan penciptaan wiraswasta-wiraswasta baru yang inovatif. Dengan perkataan lain, bank sosial mengemban tiga misi, pertama berbasis nilai etika yang berorientasi pada pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan sosial. Kedua, berorientasi pada penciptaan dampak sosial yang positif dan transformasi ekonomi dan masyarakat dari pola kolonial ke nasional dalam menciptakan kedaulatan dan kemandirian ekonomi. Dan ketiga mengandung misi lingkungan hidup (environmental) dan pembangunan yang berkelanjutan. Industrialisasi perdesaan berbasis pangan yang menghasilkan bahan pangan, energi dan bahan baku industri itu, selain berfungsi memberantas kemiskinan di perdesaan, juga menciptakan lapangan kerja yang bisa mencegah penduduk desa untuk meninggalkan profesi bertani yang mendorong urbanisasi dan pencarian pekerjaan di luar negeri sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia), khususnya perempuan yang sangat rawan akan eksploitasi dan kekerasan itu. Dengan pencegahan tenaga kerja keluar desa itu, maka bisa terjadi kelangkaan tenaga buruh murah untuk industri dan perdagangan di perkotaan.Tetapi situasi itu akan memberi peluang kepada peningkatan upah buruh. Dari sudut pemerintah dan perusahaan, untuk menjaga upah tidak melambung terlalu tinggi, sehingga menimbulkan daya saing industri yang lemah, maka pemerintah harus melakukan dua kebijakan nasional. Pertama menurunkan tingkat dan bahkan menghapus inflasi dan memelihara kestabilan harga. Kedua, menciptakan jaminan dan proteksi sosial, serta peningkatan kesejahteraan keluarga, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Dengan kebijakan itu, maka kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan dapat dicegah dan kesejahteraan sosial dapat ditingkatkan. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, baik di perdesaan maupun di perkotaan, maka Indonesia bisa berkembang menjadi pasar yang kuat daya belinya, yang merupakan basis bagi industrialisasi pada umumnya. Pada tingkat ini, maka yang perlu dikembangkan lebih lanjut adalah produksi barang modal, berupa alat dan mesin serta bahan baku industri yang juga memberi peluang bagi penciptaan lapangan pekerjaan baru. Selanjutnya dapat dikembangkan industri yang berorientasi ekspor untuk menghasilkan devisa. Tapi devisa ini tidak dipergunakan untuk mengimpor barang-barang, apalagi barang mewah. Sebab barang mewah itu harus diproduksi oleh industri rakyat yang berbasis seni yang akan menumbuhkan ekonomi kreatif. Urut-urutan prioritas itu, sesuai dengan konsep strategi pembangunan yang diusulkan oleh Samir Amin, tetapi sejalan dengan pengalaman pembangunan dan pencapaian kesejahteraan sosial di Indonesia. Sebagai kesimpulan, hakekat kemiskinan di Indonesia adalah kemiskinan massal dengan sebab-sebab yang bersifat struktural, multi-dimensi dan sistemik. Karena itu penanggulangannya juga harus melalui pendekatan struktural dan multi dimensional. Dan faktor yang harus paling diperhatikan adalah pertama

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


37

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

warisan sistem ekonomi kolonial. Kedua, adalah peningkatan mutu sumberdaya manusia melalui pendidikan dan kesehatan yang berbasis pola gizi. Dan ketiga, penilaian yang tepat mengenai potensi kekayaan alam Indonesia yang berbasis pertanian, kelautan dan kehutanan sebagai basis pembangunan perekonomian Indonesia.

6. Keynote Speech oleh: Sulaiman Arief Arianto (Direktur Komersial Bisnis BRI) “ Pengembangan Usaha Mikro Kecil)

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

38


39

Malam Pembukaan dan Keynote Forum

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

40

7. Keynote Speech oleh: Drs. Bambang Ismawan, MS (Pemrakarsa/Ketua Dewan Pengurus AKSI UI) Selamat malam, salam kasih dan sejahtera, Prof. Subroto yang saya hormati, Pak Dillon, Pak Dawam Pak Sulaiman serta Bapak Ibu saudara sekalian yang berbahagia, tadi Dewi menggelitik saya, saya tahun ini menjadi orang yang berbahagia, karena selama 50 tahun berkecimpung di kegiatan-kegiatan pemberdayaan sekarang saya masih bisa berdiri di sini dan masih berusaha untuk menyumbangkan diri dan saya sangat senang di ajak Pak Broto untuk bergabung di dalam Yayasan Aksi Sinergi Untuk Indonesia, saya membuat paper juga dan bahwasanya ini bisa di baca, bahwa ada begitu banyak yang sudah dikemukakan dan juga saya sebut di sini dan saya tidak perlu mengulang lagi, namun saya ingin mengajak sedikit merefleksikan mengapa kita berada di sini, setidaknya ada 4 kata kunci di belakang saya yaitu pertama penanggulangan kemiskinan, usaha mikro, perguruan tinggi dan sinergi multi pihak. 4 kata kunci itulah yang mengikat kitasaya masih bisa melihat walaupun sudah duduk lama, sudah menempuh jalan yang jauh dari luar kota, saya masih melihat ada semangat, saya akan sebentar saja mengajak bapak ibu sekalian untuk fokus hari ini besok dan lusa mengenai empat poin tadi. Indonesia ini sebenarnya saya melihatnya sebagai satu mata uang dengan dua sisi, sisi yang pertama adalah suatu kabar gembira inflasi kita turun dari 6,5% jadi 3,7%, ketimpangan rendah, inflasi rendah dan mencapai hal-hal yang bagus. Kemudian kita pada tahun 2011 itu kita dapat pengakuan hutang pemerintah turun 25 koma sekian persen, jadi Indonesia so so bagus. Tetapi kemiskinan kronis, kalo kita menggunakan garis kemiskinan 0,7 dolar atau kira-kira 8000 rupiah saat ini, berarti kalo kita punya uang satu harinya 8500, kita bukan orang miskin, sebegitu rendahkah nilai orang Indonesia? makanya orang-orang mengatakan memakai ukuran Bank Dunia dan itu adalah 2 dolar, tapi jika itu dipake angka kemiskinan melonjak jadi 135 juta atau 56% dari seluruh penduduk Indonesia. Sebenarnya angka-angka itu tidak banyak bermanfaat, bermanfaat jika kita mengacu pada UndangUndang No. 20 tahun 2008 tentang usaha mikro kecil dan menengah dan ketika kementrian koperasi menghitung jumlah usaha mikro dan kecil, Dewi tadi melaporkan 92% usaha kecil ada 7% digabungkan jadi ada 99% entitas usaha yang menghidupi kurang lebih 210 juta jiwa di Indonesia, jadi bicara tentang Indonesia adalah bicara mengenai usaha mikro dan usaha kecil karena disanalah kekuatan dan kelemahan kita. Dulu saya kuliah di fakultas ekonomi bilang kalau orang miskin itu the have not setelah saya melayani dan hidup bersama-sama dengan mereka saya tidak percaya itu, orang miskin itu adalah the have little, jika sedikit-sedikit di kumpulkan akan menjadi bukit. Jadi seperti yang Pak Dawam ungkapkan siapa yang mengatasi masalah kemiskinan ya orang miskin itu sendiri, kita harus melayani orang miskin agar mereka bisa keluar dari kemiskinanitu sendiri. Ini ada penelitian dari Mat Syukur 2002, keuntungan usaha mikro setiap bulan adalah 87,3% ini adalah anagka rata-rta dari suatu range, oleh karenaitu dalam usha mikro, unsur finance adalah yang paling penting. Sinergi multipihak, banyak complain di ntr LSM, saya ada di antara mereka, ada kok satu hasil yang bisa memungkinkan orang miskin mengatasi kemiskinan, pada tingkat grssroot muncullah mekanisme keswadayaan. Saya ingat waktu itu di Denmark PBB menyelenggarakan social summit, Bung Hatta mengatakan Denmark adalah koperasi yang sangat maju, di Denmark kalo orang mau mendirikan organisasi jika tujuannya baik,pemerintah serta merta mengatakan “What can I do for you?�. Sebagai suatu gerakan akan tetapi kami sekarang memiliki problem, kami itu lebih suka melihat ke atas daripada ke bawah, lalu kami ini bergeser dari ranah pendidikan bidang publik ke arah bidng yang lebih privat, lalu perguruan tinggi itu lebih suka proyek daripada gerakan. Ini harus kita sadari kalo emang benar, ini harus kita teliti dan kita babat sehebat-hebatnya. Inilah saatnya perguruan tinggi berperan hebat jadi intergritor pembangunan masyarakat, pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan pembangunan Indonesia. Terima Kasih.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

41

8. Galeri Foto Malam Pembukaan

1

2

3

4

5

6

Keterangan 1. Pembukaan Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 2. Laporan Panitia Pelaksana oleh Direktur Eksekutif AKSI UI, Dewi Hutabarat 3. Welcoming Speech oleh Prof. Dr. dr. SitiSetiati, SpPD(K) (Wakil Rektor Universitas Indonesia) 4. Opening Ceremony oleh Prof. Dr. Subroto dalam Temunas 2013 5. Seluruh Peserta dengan khidmat mengheningkan cipta mendoakan pahlawan yang telah gugur 6. Keynote Speech oleh Prof. Dr. M. DawamRahardjo (Guru Besar, Rektor Universitas Petroleum 45)

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Malam Pembukaan dan Keynote Forum

6

42

7

8

9

10

11 Keterangan 6.

12

Keynote Speech oleh HS. Dillon (Utusan Khusus Presiden RI untuk Penanggulangan Kemiskinan) 7. Keynote Speech oleh Sulaiman Arief Arianto (Direktur Komersial Bisnis BRI) 8. Keynote Speech oleh Drs. Bambang Ismawan, MS 9. Pemberian plakat kepada HS. Dillon oleh Prof. Subroto 10. Pemberian plakat kepada Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo oleh Prof. Subroto 11. Pemberian plakat kepada Sulaiman Arief Arianto oleh Prof. Subroto 12. Foto bersama para Keynote Speaker didampingi oleh Direktur Eksekutif AKSI UI Dewi Hutabarat

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary I

43 Hari ke-2, Kamis 31 Oktober 2013 1. Plenary 1 “Fasilitasi :Pemetaan Masalah – Solusi (General)” Fasilitator: Benito Lopulalan

• Acara dibuka oleh bapak Benito pada pukul 08.57 • Menyampaikan ada dua bagian besar acara pada hari ini yaitu plenary dan break out season yang terdiri dari tiga tema besar perkotaan, pesisir dan pedesaan • Gallery of problem dan telah disediakan kertas di setiap meja • Tiap peserta menulis di atas kertas yang disediakan untuk memilih tema mana yang paling penting (perkotaan, pedesaan dan pesisir) • Memperkenalkan fasilitator Sesi Fasilitator: Mba Ari Susanti dan Ahmad Zainul Hamdi • Menyampaikan mengenai break out secara garis besar • Perumusan problem bersama dikertas • Fasilitator meminta para panitia untuk mengumpulkan kertas tersebut untuk ditempelkan di gallery problem pukul 09.08 •

2. Galery Foto Planry 1

Keterangan 1.

Pemetaan masalah dan solusi dari peserta Temunas 2013

2.

Pemetaan masalah dari peserta Temunas 2013

1

2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2

44

Plenary 2 “Referensi dari Pemerintah dalam Upaya Mengembangkan Usaha Mikro” 1. Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana, MS (Dekan FISIP Universitas Brawijaya, Malang) “Perguruan Tinggi Membangun Sinergi”

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


45

Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2 2. Ir. Isa Rachmatarwata, M. Math (Ketua Tim Perumusan Kebijakan Sektor Keuangan, Kementerian Keuangan , Republik Indonesia) �Roadmap Kebijakan Keuangan untuk Memperkuat Usaha Mikro di Indonesia�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

46


47

Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

48


49

Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

50


51

Plenary 2

3. Gatot Murdjito (Flipmas Yogyakarta) “Referensi Sinergi Pemerintah dan Perguruan Tinggi untuk Penanggulangan Kemiskinan di Yogyakarta�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

52


53

Plenary 2

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2

54

4. Sesi diskusi Plenary 2 A. Ibu Mufida (UIN Malik Ibrahim, Malang Jawa Timur) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. saya Mufida dari LP2M Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Mungkin saya ada informasi di sini mungkin juga sharing dengan bapak-bapak di depan, terimakasih bapak moderator! Kami juga ada termasuk ke pesantren yang bapak Darsano maksud. Saya juga anggota bapak di komunitas dosen. Kalau masuk ke pesantren apa yang bapak bilang tadi sudah bagus. Tetapi sebaiknya dimaksudkan juga pesantren disana ada Muhammad Ali yang juga melakukan gebrakan-gebrakan dan kajian fiqih yang bagus pak. kajian fiqih disana sehingga terbentuk mindset dan pengabdian masyarakat santri. Itu sudah masuk implementasi dari kajian fiqih muamalah kontemporer. Itu saya kira akan semakin kuat. Univ. Islam Maliqi Malang itu mempunyai integritas bersama masjid. Kami sudah bersama 16 Perguruan Tinggi Islam, negeri dan swasta di Jawa timur, sudah bekerja sama dengan 1200 masjid. Sudah tahun kedua bagi UIN Malang. Kami memilih BUMKM, maaf pak kami tidak menggunakan kalimat kelinci percobaan, tetapi kami bersama-sama dengan mereka berdiskusi. Ternyata di masjid itu dana yang dipinjam susah kembali. Tetapi melalui BUMKM kembalinya menjadi tertib. Yang terakhir bahwa kok ada subisdi kuota bagi anak-anak untuk mendapatkan beasiswa bidik misi, kami bina dan kami kembalikan ke daerah mereka. Apakah yang kami lakukan ini ada masukan ada kritik terhadap program kami yang lakukan? Baik terimakasih, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. B. Bapak Ardi (Universitas Brawijaya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Sosiologi Kajian kemiskinan) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. nama saya Ardi dari Universitas Brawijaya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Sosiologi Kajian kemiskinan. Pertanyaan saya mengenai tema pertemuan ini. Tentang usaha mikro. Yang pertama Kita tau penanggulangan kemiskinan ini, tentang UMKM sudah berjalan lama dan permasalahan kan sudah kita ketahui. Minimal kita harus tau bagaimana rencana aksi Bapak Darsono dan Bapak Gatot sudah mengawali. Mungkin pertanyaan pertama dari Pak Isa. Sekarangng sudah banyak ada program-program pemerintah dari banyak lembaga keuangan mikro, UMKM seperti koperasi juga lembaga swasta itu seperti apa sinerginatsnya? Trutama sosialisasi ke bawah karena mereka kesulitan dan akses juga. Yang kedua untuk permodalan itu seperti apa? Diluar ini adalah pajak untuk UMKM sperti apa?

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


55

Plenary 2

C. Ibu Magdhalena ini pertemuan yang sangat bagus sekali. Yang pertama dari Bapak Isa Rachmatawarta ini adalah sangat bagus sekali. Ini adalah yang kami harapkan. Bahwa pemerintah punya program penanggulangan kemiskinan yang cukup besar. Seperti yang sudah dikatakan Pak Isa ada empat cluster dalam penanggulangan kemiskinan. Sekarang saatnya untuk bermitra. Mereka butuh bantuan dari bapak ibu sekalian dan PT untuk membangun usahanya dan memanfaatkan teknologi. Saat ini pemerintah sudah menyiapkan dana stimulan agar mereka mandiri. Sekarang sudah kami akseskan dengan bank BRI. Alhamdulillah sudah berjalan baik. itu berkat support dari pak gubernur. Masyarakat sudah tidak kita jadikan lagi sebagai objek. Tetapi sebagi subjek pembangunan. Mereka melakukan usahanya sendiri, mereka berswadaya. Mohon bapak ibu sekalian membantu pemerintah untuk bersinergi. Saran saya kalau bisa Perguruan Tinggi itu untuk pencegahan saya setuju. Kemiskinan itu bukan tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga masyarakat, PT, dan sebagainya. Saya setuju dengan Bapak Gatot Murjito. Respon dari Para Pembicara : • Prof. Darsono (Dekan Fakultas FISIP, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur). Terimakasih Bapak - Ibu sekalian, nampaknya tidak banyak yang disampaikan dari UIN Ibu Mufida ini adalah mungkin informasi. Untuk bidikmisi sudah dua tahun diupayakan. Bidik Misi dapat diperoleh melalui tes SBMPTN dengan jalur ujian. Bahkan setiap tahun itu, 60 kali 2 jadi 120 mahasiswa. serta sudah diupayakan supaya siswa sudah dapat menerima bidik misi dari SMA. Tapi diperlukan sinergis berbagai pihak seperti Universitas dan Pemerintah. Kemudian untuk yang pesantren kita sudah lakukan di daerah Tanjinan, sudah menginterpreneurkan santri denga kuliner. Jaringannya sudah dibentuk dari Jakarta, atau kerja sama yang lainnya. Terimakasih juga dukungan dari ibu tentang konsep pencegahan. Jika seluruh indonesia bisa melakukan itu maka itu tidak akan ada lagi kemiskinan yang mengalir. Jadi dapat mencegah diawal. Jadi bisa kita atasi bersama-sama. Pencegahan itu butuh banyak biaya karena mulai dari menginterpreneurkan pemuda. Perlu pelatihan dan pendampingan. Sehingga butuh biaya yang besar. Mungkin hanya itu, terimakasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. • Gatot Murdjito (Flipmas Yogyakarta) Terimakasih bapak. Jadi saya senang dengan pertanyaan tadi bagaimana kampus dan kemudian pesantren. Bukan hanya vertikal tetapi juga horizontal sehingga santri yang lulus itu juga bisa usaha dengan kehidupan yang lebih baik, pengabdian - pengabdian yang dari dikti itu DP2M juga melibatkan pesantren. Kemudian dari mas Ardi saya senang karena anda generasi muda. Bagaimana bisa mendampingi. Dalam satu kelompok masing-masing anggota punya kebersamaan jadi ini yang saya senang. Jadi apa yang saya lakukan dalam UMKM itu melibatkan ibuibu karena administrasinya lancar. Jadi kenapa? Kalau mereka ga mengangsur, ibu-ibu bisa datang, mereka bisa mengambil apa yang telah mereka angsur. Saya senang bertemu dengan ibu magdalena dan Pak Isa nanti kita bisa diskusi. Teman-teman tau apa yang kita lakuakan, tapi kita bisa padukan. Jadi hanya itu yang bisa kita sampaikan. • Ir. Isa Rachmatarwata, M. Math (Ketua Tim Perumusan Kebijakan Sektor Keuangan, Kementerian Keuangan , Republik Indonesia) Terimakasih Ibu Magdalena. Program pemerintah banyak ya, tetapi kita belum bisa memetakan dananya disini, kemudian usahanya disana. Seperti yang Bapak Gatot bilang di Yogya. Seperti pertamina melakukan di sepuluh titik, nanti BUMN lain melakukan dititik yang sama. Misalnya di BRI melakukan di Yogya, nanti bank lain juga melakukan di sana. Ini lah yang kurang di pemerintahan kita. Ini yang harus kita usahakan membuat peta yang lebih baik. apa nanti ini perlu bersinergi dari kementrian BUMN, menkoinfo dll, untuk memetakan itu. Sejauh ini Perguran Tinggi dipercaya bisa menajdi jembatan dan harapan beliau suapaya bisa diterapkan. Perguran Tinggi yang dipercaya semua pihak sebagai pihak yang masih netral. Kondisi Perguran Tinggi di Indoensia, Jepang dan Target UMKM Jepang. Hal yang bisa dilakukan pergurguruan tinggi adalah membangun database, Track record. Untuk masalah Pajak UMKM : niatnya adalah supaya membantu UMKM tersebut terindentifikasi dengan besaran pajak yang tidak “membunuh” mereka.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 2

56

4. Galeri Foto Plenary 2

1

2

Keterangan 1.

Plenary 2, Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Roadmap Kebijakan Keuangan untuk Memperkuat Usaha Mikro di Indonesia� disampaikan oleh Ir. Isa Rachmatarwata, M. Math (Perwakilan dari Kementerian keuangan RI)

2.

Pemberian plakat kepada para panelis oleh Drs. Bambang Ismawan, MS

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

57 Plenary 3

“Referensi dukungan yang sudah ada dalam masyarakat untuk Usaha Mikro” 1.

Masril Koto (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis) “Akses Permodalan Dari dan Untuk Petani”

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

58


59

Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

60


61

Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

62


Plenary 3

63 2.

Titik Hartini (ASPPUK) “Asosiasi Pendampingan Perempuan Usaha Kecil�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

64


65

Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

66


67

Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

68


Plenary 3

69 3.

Silverius Oscar Onte (Koperasi Hutan Jaya Lestari) “Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

70


71

Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

72


73

Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

74


Plenary 3

75 4. Sesi diskusi Plenary 3 A. Muktiyono Wibowo (BRI Syariah)

Untuk :Bapak Masril Koto, Apa strategi Bapak bisa membuat peminjaman di LKM Agrobisnis Padang bisa menjadi lancar tanpa menunggak? Jawab: Masril Koto (LKM Agribisnis Padang, Sumatera Barat) Dengan menggunakan model aturan (sanksi) sosial, seperti diumumkan lewat speaker masjid, diumumkan si penghutang keturunan anak mamak siapa dan lain-lain, dengan sendirinya mereka akan malu dan akan membayar dengan lancar. Namun jika memang peminjam tidak dapat mengembalikan, maka akan bisa dibayarkan di pembayaran selanjutnya, dengan sanksi yang tidak memberatkan. Statement dari Bapak Silverius Onte untuk mengakhiri sesi ini : Inti dari usaha mikro adalah membangun kelembagaan Statement dari Bapak DR. Ir. Choirul Djamhari, MSc untuk mengakhiri sesi ini Usaha mikro memerlukan peran orang-orang terdidik untuk membangun usaha mikro. Yang terakhir bahwa kok ada subisdi kuota bagi anak-anak untuk mendapatkan beasiswa bidik misi, kami bina dan kami kembalikan ke daerah mereka. Apakah yang kami lakukan ini ada masukan ada kritik terhadap program kami yang lakukan? Baik terimakasih, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. B. Bapak Ardi (Universitas Brawijaya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Sosiologi Kajian kemiskinan) Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. nama saya Ardi dari Universitas Brawijaya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Sosiologi Kajian kemiskinan. Pertanyaan saya mengenai tema pertemuan ini. Tentang usaha mikro. Yang pertama Kita tau penanggulangan kemiskinan ini, tentang UMKM sudah berjalan lama dan permasalahan kan sudah kita ketahui. Minimal kita harus tau bagaimana rencana aksi Bapak Darsono dan Bapak Gatot sudah mengawali. Mungkin pertanyaan pertama dari Pak Isa. Sekarangng sudah banyak ada program-program pemerintah dari banyak lembaga keuangan mikro, UMKM seperti koperasi juga lembaga swasta itu seperti apa sinerginatsnya? Trutama sosialisasi ke bawah karena mereka kesulitan dan akses juga. Yang kedua untuk permodalan itu seperti apa? Diluar ini adalah pajak untuk UMKM sperti apa?

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 3

76

5. Galeri Foto Plenary 3

1

2

3

4 Keterangan 1. 2. 3. 4.

Plenary 3, Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Akses Permodalan Dari Petani dan Untuk Petani” disampaikan oleh Masril Koto (Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis) Plenary 3, Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Asosiasi Member Pendampingan” disampaikan oleh Titik Hartini (ASPPUK) Plenary 3, Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat” disampaikan oleh Silverius Oscar Onte (Koperasi, Hutan Jaya Lestari) Plenary 3, Kamis 31 Oktober 2013.Tema” RoadmapPengembangan Usaha Mikro di Indonesia” disampaikan oleh Choirul Djamhari (KementerianKoperasidan UMKM)

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

77

Plenary 4 “Ekonomi Indonesia: Untuk dan Dari Rakyat?” 1.

Sri Palupi (Ecosoc Rights) “Ekonomi Indonesia: Untuk Rakyat”

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

78


79

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

80


81

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

82


83

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

84


85

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

86


87

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

88


89

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

90


91

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

92


93

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4 2.

Prof. Dr. Ir. Eriyatno, MSAE (Guru Besar Institut Pertanian Bogor) “Mengenal Kembali Ekonomi untuk Rakyat Ala Indonesia�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

94


95

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

96


97

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

98


99

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

100


101

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4 3.

102

Abdul Kholiq Arif (Bupati Wonosobo) “Referensi dari Pemda: Kebijakan Daerah untuk Mendukung Usaha Mikro�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


103

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

104


105

Plenary 4

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4 4.

106

Prof. Dr. Muhammad Zen (Wakil Rektor II Universitas Maritim Raja Ali Haji) “Membangun Kekuatan Masyarakat Di dan Dari Bawah�

Pengalaman di laut china selatan hidup tidak berbahagia, tidak pernah menikmati sekolah, tidak pernah kelaparan, Tidak ada air minum, nomaden. Kondisi ini yang banyak menyebabkan pemikiran masyarakat perkotaan bahwa orang-orng di pedalaman perlu dikasihani. Terdapat beberapa kelompok masyarakat perkotaan yang memberikan bantuan dengan cara membuatkan rumah dan mereka memberikan beras kepada masyarakat pedalaman di laut China Selatan. Masyarakat pedalaman di pesisir ini dikasihani itu agar mereka tinggal di darat. Dalam buku yang saya buat “jangan mendaratkan orang laut, tapi melautkan orang darat� kondisi ini yang seharusnya terjadi, masyarakat pesisir tidak perlu dikasihani. Mereka memang tidak merasakan sekolah, tetapi mereka memiliki pendidikan. Pendidikan itu artinya luas, mereka dapat bertahan hidup. Sikap masyarakat kota yang terkadang mengasihani mayarakat pesisir pedalaman dapat menyebabkan ketergantungan yang terjadi. Jika terjadi miskin ketergantungan, maka tanpa disengaja kita sudah merusak ekosistem masyarakat laut. Konsep pemikirian kita tentang mengasihani orang laut, memberikan bantuan dengan menyebabkan ketergantungan perlu dirubah. Perlu memberikan solusi dengan memberikan bantuan yang solutif bukan memberikan ketergantungan.

4. Sesi Diskusi Plenary 4 a. Budis utamai (KAPAL perempuan) Untuk Prof. Muhammad Zen : Indikator kemiskinan bukan hanya kepemilikin harta. Menurut bapak ada indikasi kemiskinan tidak pada masyarakat laut tersebut. Yang mana yang disebut masyarakat laut? Ada indikasi kemiskinan, anak2 tidak bisa sekolah (turun temurun). Ada sebuah wilayah 6 bulan sekali masyakaratnya pergi. Yang disebut masyarakat laut apakah mereka atau ada yang lain. Jika memang seperti itu, berarti ada indikator kemiskinan terhadap masyarakat laut seperti apa? Respon dari Prof. Dr. Muhammad Zen (Wakil Rektor II Universitas Maritim Raja Ali Haji) : Yang disebut masyarakat laut yang tinggat di surut air laut. Mereka nomaden sebagian sudah ada yang tinggal didarat. Bedanya dengan nelayan, pantai pekerjaan utama, seperti halnya petani yang kedua adalah laut. Kalau orang laut = yang utama adalah laut dan baru petani. Orang laut yang anda ceritakan, kalau mereka masih tergantung dengan pertanian berarti petani. Kalau orang laut itu kehidupannya hanya dari laut. Tidak ada sumber penghasilan dari yang lain, sumber utama dan kedua yaitu laut dan laut. b. Closing statement Prof. Dr. Ir. Eriyatno, MSAE (Guru Besar Institut Pertanian Bogor) Indeksi kemiskinan, indek baru lebih kearah sosial progress index. Didalam diskusi, kita lihat pancasila ada 2 kata yang diulang yaitu keadilan. Ekonomi perbudakan jadikan ekonomi keadilan. Sejahtera dilihat dari sandang, pangan, papan. Bagaimana menyelesaikan persoalan dengan bisnis, malalui SSE menjadi bagian yang baru. Intinya adalah gotong royong. Abdul KholiqArif (Bupati Wonosobo) Keluar dari persoalan kemiskinan harus mampu membikin sistem. Harus mampu mendirikan hal yang ramah pada Hak Asasi. Perlu membangun sistem yang lebih jelas. Sri Palupi (Ecosoc Rights) Aksi membebaskan indonesia dari ekonomi perbudakan. Istilah penanggulanag kemiskinan itu sendiri sangat manipulatif. Jadi, seluruh mekanisme kita mengarahkan pada perbudakan. Semakin kita diarahkan pada persaingan, bukan dalam rangka penanggulangan melainkan perbudakan. Prof. Dr. Muhammad Zen (Wakil Rektor II Universitas Maritim Raja Ali Haji) Kalau memberikan pendidikan pada masyarakat laut, beri kurikulum sesuai konteks wilayah mereka. Kembali pada dunia laut, orang laut tidak pernah kelaparan. Mungkin orang laut bangsa indonesia asli. Penutup dari fasilitator : membangun kerjasama yang lebih luas menyediakan perubahan kepada keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 4

107 5. Galeri Foto Plenary 4

1

2

3

5

4

6

Keterangan 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Plenary 4, Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Ekonomi Indonesia: Untuk Rakyat” disampaikan oleh Sri Palupi (Ecosoc Rights) Plenary 4, Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Mengenal Kembali Ekonomi untuk Rakyat Ala Indonesia” disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Eriyatno, MSAE (Guru Besar Institut Pertanian Bogor) Plenary 4. Kamis 31 Oktober 2013. Tema “Referensi dari Pemda: Kebijakan Daerah untuk Mendukung Usaha Mikro” disampaikan oleh Abdul Kholiq Arif (Bupati Wonosobo) Plenary 4, Kamis 31 Oktober 2013.TemaMembangunKekuatanMasyarakat didandariBawah” disampaikanoleh Prof. Dr. Muhammad Zen (WakilRektor II UMRAH) Pemberian plakat kepada para Panelis Budhis Utami (Institut Kapal Perempuan) memberi tanggapan dalam diskusi plenary

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5 Plenary 5 “Referensi Internasional : Sinergi Mendukung Usaha Mikro di Wilayah Regional dan Global” 1.

Dr. Prasetyantoko (Dekan Fakultas Bisnis Administrasi Universitas Atmajaya, Jakarta) “Pengkajian Fenomena Usaha Mikro Perwakilan Indonesia”

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

108


109

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

110


111

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

112


113

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

114


115

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5 2.

Ari Sutanti (British Council) “ Mengembangkan Social Enterprises di Berbagai Negara�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

116


117

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

118


119

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

120


121

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5 3.

Bam Aquino (Senator Filipina) “Potret Dukungan Usaha Mikro di Filipina�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

122


123

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

124


125

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

126


127

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

128


129

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

130


131

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

132


133

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

134


135 4.

Plenary 5 Laina Greene (Aktivis Pemberdayaaan Masyarakat di berbagai Negara) “Perempuan, Usaha Mikro dan Pemberdayaan Masyarakat�

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

136


137

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

138


139

Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 5

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

140


Plenary 5

141 5. Sesi Diskusi Plenary 5

a. Penanya : Untuk Mr. Bam Aquino Parameter apa yang digunakan untuk membangun usaha mikro di Filipina? Respon dari Mr. Bam : hanya asset saja. Penanya : Sejauh mana peran usaha mikro yang di support oleh kebijakan? Respon dari Mr. Bam : sejauh ini baik, bahkan kami memberdayakan perempuan dengan sangat baik b. Penanya : Untuk Ms. Laina G Bagaiman masalah dalam micro finance? Respon dari Ms. Laina G. : Masalah dukungan kebijakan atau relasi dari para pemilik modal, harus bisa membedakan antara orientasi terhadap profit dan social impact.

6. Galeri Foto Plenary 5

1

3

2

4

5

6

Keterangan 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Tema “Pengkajian Fenomena Usaha Mikro di Seluruh Dunia” disampaikan oleh Dr. Prasetyantoko (Dekan Fakultas Bisnis Administrasi Universitas Atmajaya, Jakarta) Tema “Mengembangkan Micro Social Enterprises di Berbagai Negara” disampaikan oleh Ari Sutanti (British Council) Tema “Perempuan, Usaha Mikro dan Pemberdayaan Masyarakat: Pengalaman di India dan Berbagai Negara Lainnya” disampaikan oleh Laina Greene Tema “Potret Dukungan Usaha Mikro di Filipina” disampaikan oleh Bam Aquino Jr (Senator Philipines) ErlinaSugiarti, S.Pd, ME (Dept. Head Mikro Banking Group, BRI Syariah) memberikan tanggapan dalam diskusi Penyerahan plakat kepada para panelis

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 1

142

1. Break Out Session Pedesaan Daftar Peserta Break Out Session Pedesaan Kelompok: Pedesaan Fasilitator: Ahmad Zainul Hamdi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Nama Liawati Suntiana Yoan Nursari Simanjuntak Yuliana Abdul Wahab I Made Patera Triatmanto Hj. Ame Sukaesih Ayi Srie Yuniawati Hj. Mufidah CH H. DJamaludin A.R Wisnu Wirandanu Ridwan Al Rossid Budyantoro Richi Fillaily Muktiono Wibowo Sapto Kuntoro Tajoell Arifin Hidayat Dwi Suhartanti Anton Haryono Antonius Novenanto Rubianus Hutakemri Ali Samad Hakim Asyhari Ahmad Zaki

Instansi Univ. Brawijaya Univ. Surabaya YSKK Lapkesdam NU Puri Mesari Hotel Univ. Negeri Yogyakarta STIE 11 April Sumedang STIE 11 April Sumedang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Univ. Samudera Langsa Univ. PGRI Adi Buana Surabaya PT RNI (Persero) PT Indika Indonesia Resources PT Bank Syariah PT Integre Quadro Ponpes. Al Huda Univ. Tanjung Pura Univ. Achmad Dahlan Yogyakarta Universitas Sanata Dharma PT Petrosea Tbk UKI Toraja PT Mitra bahtera Segara Sejati Tbk Univ. PGRI Adi Buana Surabaya Univ. Sultan Agung PT Mitra Bahtera Segara Sejati Tbk

2. Hasil Breakout Session Pedesaan a. Wilayah Jawa Timur dan Bali: Ibu Muvida Akan mengadakan sinergi tentang pengembangan UMKM berbasi masjid karena semua anggota kelompok umunya perwakilan NU dan dengan mengembangkan usaha dengan model multikultural b. Jakarta dan Sumedang: Ibu Ame Melakukan kerja sama antara pedagang tahu dan tempe dengan Kopti Kabupaten Sumedang. Harga tidak masalah. Fokus untuk pengusaha tahu di Sumedang c. Kalimantan Bagaimana mencegah kemiskinan di pedesaan, Kalimantan adalah daerah perkebunan, sehingga bagaimana memberdayakan masyarakat sekitar perkebunan Kerja sama antara pemerintah perguruan tinggi di daerah itu. Dana diperoleh dari CSR, dsb.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 1

143

d. Jateng + Jogja: Bapak Tri • Sinergi yang dibangun adalah pengembangasn desa wisata, di daerah Gunung Kidul yaitu melalui goa. Disana merupakan daerah kering dan miskin. • Selama ini yang sudah dikembangkan adalah penataan lokasi, pelatihan pemandu susut goa, pelatihan-pelatihan produk makanan, spesifik makanan khas, pelatihan home stay, outbond, atraksi media, promosi media, produk souvenir (batu putih), kamping ground, danau buatan. Kerja sama dengan kabupaten, PT bersinergi sesuai bidang masing-masing, Ex : Bahasa, Seni dan Budaya. Yang belum bisa dibuat adalah bagaimana pemasarannya.

3. Galeri Foto Break Out Session Pedesaan

1

2

4

3

5

6

Keterangan 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Dr. Dwi Suhartanti, M.Si (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) tengah memberi masukan dalam break-out session 1 Para peserta sedang memberikan solusi dalam break out session pedesaan Para peserta tengah memberikan usulan tentang model-model sinergi untuk mendukung usaha mikro pada break-out session pedesaan Para peserta sedang mendengarkan Rencana Tindak Lanjut dari masing-masing kelompok dalam break-out session pedesaan Para peserta sedang mendengarkan Rencana Tindak Lanjut dari masing-masing kelompok dalam break-out session pedesaan Abdul Wahab (Lakesdam Nu), tengah memberikan tanggapan dalam break-out session Pedesaan

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 2

144

1. Break Out Session Perkotaan Daftar Peserta Break Out Session Perkotaan Kelompok: Perkotaan Fasilitator: Dewi Hutabarat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Nama M. Dzikron AM Ardi Erzawan Subagyo Swat Lie Liliawati Jumroh Kukuh Hery H Hanafiah Fathur Rohman Henson Enjein Manurung Imam Hadi Kurnia

Instansi Univ. Islam Bandung Univ. Brawijaya Universitas Nusantara PGRI Kediri Univ. Kristen Maranatha STIE Mura Lubuk Linggau Univ. Mulawarman PT Bank BRI Syariah Lakpesdam NU Universitas Palembang Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia

2. Hasil Breakout Session Perkotaan • Pemetaan masalah di kota: usaha mikro ada tiga faktor utama a. Motivasi pengembangan usahanya sendiri contohnya dari Jatim yang telah mengembangkan klinik UMKM b. Penertiban PKL contohnya: di Surabaya sudah ada pola dilokalisir dan dikembangkan oleh Pemerintah c. Regulasi = Merebaknya pasar modern sehingga regulasi terkait zoning bisa dikembangkan dengan baik oleh kota, UU pasar tradisional

• Regulasi terkait usaha mikro

3. Galeri Foto Break Out Session Perkotaan

1

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

2


Breakout Session 2

145

3

4

5

Keterangan 1. 2. 3. 4. 5.

Para peserta sedang mendengarkan Rencana Tindak Lanjut dari masing-masing kelompok dalam break-out session perkotaan Ir. M. Dzikron, MT (Universitas Islam Bandung), tengah memberikan tanggapan dalam break-out session Perkotaan Dr. Subagyo, MM (Universitas Nusantara PGRI Kediri), tengah memberikan tanggapan dalam break-out session perkotaan Para Peserta tengah memetakan masalah dan solusi dalam break-out session Perkotaan Para peserta tengah memberikan usulan tentang model-model sinergi untuk mendukung usaha mikro pada break-out session perkotaan

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 3

146

1. Break Out Session Pesisir Daftar Peserta Break Out Session Perkotaan Kelompok: Pesisir Fasilitator: Benito Lopulalan No 1 2 3 4 5 6 7 8

Nama Dedi Haryono Rakhmat Ceha Wiyanto Wiko Saputra Sardiyo Erlina Sugiarti Indah Muljani Zuriah Sitorus

Instansi Univ. Brawijaya Univ. Islam Bandung PT Petrosea Tbk Prakarsa STIE Mura Lubuk Linggau PT Bank BRI Syariah PT Petrosea Tbk Universitas Asahan Medan

2. Hasil Breakout Session Pesisir Potensi masalahnya adalah penurunan produksi kepiting karena adanya kawasan industri di daerah tersebut sehingga banyak kawasan bakau tergusur. Sehingga mereka untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan membangun sinergi untuk advokasi kebijakan yang tidak berpihak kepada nelayan untuk memberikan teknologi baru terutama penanaman bakau. Sinergi yang diperlukan berikutnya adalah masalah keuangan untuk nelayan untuk mendorong mereka agar usaha mereka berjalan dengan baik . Dorongan bagi para nelayan untuk officing (menjual produk lain).

3. Galeri Foto Break Out Session Perkotaan

1

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

2


Breakout Session 3

147

3

4

Keterangan 1. 2. 3. 4.

Sardiyo (STMIK Mura) sedang mengidentifikasi masalah dan solusi Wiko Saputra (Prakarsa), tengah menanggapi dalam break-out Pesisir Benito Lopulalan sedang memfasilitatori jalannya break out session pesisir untuk membahas Dr. Ir. Rakhmat Ceha, M.Eng (Universitas Islam Bandung), tengah memberi tanggapan dalam diskusi break-out session Pesisir

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 4

148

1. Break Out Session Micro Social Enterpreneur Daftar Peserta Break Out Session Micro Social Enterpreneur Kelompok: Micro Social Enterpreneur Fasilitator: Dewi Meisari Hariyanti

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Nama Hendrasmoro Elisabeth Supriharyanti Zulkarnain S H. Musthafa Zuhad Mughni Noor Shodiq Askandar Baedhowi Saiful Alamsyah Bambang Ismawan

Instansi Univ. Ciputra Surabaya Unika Widya Mandala Surabaya IAIN Bengkulu PT Bank BRI Syariah Univ. Islam Malang STAINU Temanggung LKM Center FEUI Bina Swadaya

2. Hasil Breakout Session Micro Social Enterpreneur hh Peninjauan UMKM sendiri = peninjauan terhadap pemilik dan stakeholder hh Kelompok hh Moedel Bisnis Diperlukan dukungan dari: hh hh hh hh hh hh

Peran PT untuk mengembangkan UKM, mengembangkan kurikulum Pemda : regulasi, pembinaan terhadap ukm Pemdampingan = LSM, PT, dll agar bisa memantau UKM Tokoh maayarakat = karena mencakup akar budaya Masing-masing Jejaring = untuk pendampingan

Sinergi yang harus dilakukan: hh Kerjasama PT dengan perusahaan dan pihak lain hh UKM center yang dilakukan oleh UI melakukan kerja sama dengan pemerintah dan beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. Contoh: Penyaluran UKM dan pembinaan kepada UKM itu sendiri emlalui mentoring dan terjun langsung sehingga bisa memberikan penilaian kepada UKM itu sendiri ada empat jenis penilaian. hh Pendampingan: coach

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 4

149 3. Galeri Foto Break Out Session Perkotaan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Breakout Session 4

11

150

12

Keterangan 1.

Hendrasmoro, MDM (Universitas Ciputra Surabaya) tengah memberikan masukan dalam break-out session Micro Social Entrepreneur 2. Para peserta sedang memberikan solusi dalam break-out Session Micro Social Entrepreneur 3. Makan malam pesertaTemunas 4. Dewi Hutabarat (AKSI UI), Masril Koto (LKMA), dan Magdalena (KemenkoKesra) sedang melakukan pembicaraan 5. Drs. H. Zulkarnain, M.Ag (IAIN Bengkulu) sedang memberikan masukan dalam break-out session Micro social enterprise 6. Ir. H. Musthafa Zuhad Mughni (BRI Syariah), tengah memberikan usulan dalam break-out session 7. Wiyanto (Petrosea) Tengah memberikan tanggapan dalam diskusi break-out session Micro social enterprise 8. Drs. Bambang Ismawan, MS memberikan tanggapan dalam break-out session Micro social enterprise 9. Drs. Bambang Ismawan, MS tengah memberikan tanggapan dalam diskusi break-out session 10. Dewi Meisari Haryanti, M.Si (UKM Center FEUI), tengah memandu jalannya diskusi break-out session 11. Drs. Bambang Ismawan, MS tengah memberikan tanggapan dalam diskusi break-out session 12. Drs. Kukuh, M.Pd (Universitas Mulawarman), tengah memberikan tanggapan dalam diskusi break-out session 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 6

151 Galeri Foto Plenary 6

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Plenary 6

11

Keterangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Para Peserta mempresentasikan Model Sinergi dalam Plenary 6 Drs. Triatmanto, M.Si (UniversitasNegeri Yogyakarta) mempresentasikan Model Sinergi dalam Plenary 6 Prof. Dr. Ir. Hidayat, M.P (Universitas Tanjung Pura) mempresentasikan Model Sinergi dalam Plenary 6 Imam Hadi Kurnia (Asosiasi Pedangang Kaki Lima) mempresentasikan Model Sinergi dalam Plenary 6 Syaiful Alamsyah (UKM Center FEUI) mempresentasikan Model Sinergi dalam Plenary 6 Para peserta tengah mendengarkan presentasi Model Sinergi dalam Plenary 6 Wiyanto (Bappeda Banten), tengah mempresentasikan Model Sinergi dalam Plenary 6 Para Peserta tengah mendengarkanp resentasi Model Sinergi dalam Plenary 6 Drs. Bambang Ismawan, MS memberikan Kesan dan Pesan dalam Penutupan Temunas 2013 Prof. Subroto menutup Temunas 2013

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

152


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

153

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

Nama

Lembaga

Telepon

Jabatan

Alamat Kantor

Koordinator Divisi Advokasi dan Pendampingan Komunitas

Jl. Wisnu Wardhana No. 40, Jombang

0321854131

Sekretaris Yayasan

Jl. Teja. Ds. Teja Timur, Kota Pamekasan, Madura

8191370 5528

Ketua Yayasan

Jl. Teja. Ds. Teja Timur, Kota Pamekasan, Madura

Kantor

Email

81556 53220 3

wahab@lakpesdamj ombang.org

81913 70552 8

rasyid130377@gma il.com

81230 61116 9

wiranggaleng.maula @gmail maula.nusantara@y ahoo.com

81318 21383 1

zaki.ichsan@mbss.c o.id

0217416050

85725 65526 5

anazuhrotunnisa@y mail.com

0272552968

87747 88469 1

polmanceper@gmail .com

0218729060

81288 87000 4

irawatihermantyo@g mail.com

(0274) 513301

81578 59691 5

anton.haryono83@y ahoo.com

1

Abdul Wahab

Lakpesdam NU

2

Aby Iskandar

PT Indika Energy Tbk

3

Abdul Rasyid

Rumah Baca Titik Tumbuh Madura

4

Achmad Zubairi

Rumah Baca Titik Tumbuh Madura

5

Ahmad Zaki

PT Mitra Bahtera Segara Sejati Tbk

6

Ana Zuhrotun Nisa

Dompet Dhuafa

Staff Dompet Dhuafa

7

Anas Yusuf Mahmudi

Politeknik Manufaktur Ceper

Direktur

8

Anggraeni Irawati

Yayasan Bina Swadaya

Koordinator Bidang

9

Anton Haryono

Universitas Sanata Dharma

Dosen

10

Antonius Novenanto

PT Petrosea Tbk

11

Ardi Erzawan

Univ. Brawijaya

Mahasiswa

Universitas Brawijaya

12

Asyhari

UNIVERSITA S ISLAM SULTAN AGUNG

Sekretaris LPP Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat

Jl. Raya kaligawe Km.4 Semarang

2465835 84

13

Ayi Srie Yuniawati

STIE 11 April Sumedang

Pembantu Ketua II

Jl. Anggrek- Situ No. 19 Sumedang

0261205524

14

Baedhowi

STAINU Temanggun g

Kepala LP3M STAINU TEMANGGUNG

Jl. Suwandi-Suwardi No. 1, Temanggung Jawa Tengah

2934933 61

8123061 1169

PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk Jln. Ir. H. Juanda No. 50 Perkantoran Ciputat Indah Permai Polteknik Manufaktur Ceper Batur, Tegalrejo, Ceper, Klaten Jawa Tengah Jl. Mekarsari Raya No.15 Mekarsari, Cimanggis-Depok LPPM Universitas Sanata Dharma Jl. Affandi, Mrican, Tromol Pos 29 Yogyakarta 55002

No

Ponsel

81290 53565 6 89677 09152 9 81228 09900 0 85353 11557 7 85292 00067 9

antonius.novenanto @petrosea.com ardhibappeda@yah oo.com saya.asyhari@gmail. com

asrieyuniawati@yah oo.co.id baedhowy@gmail.c om

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

154

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

Nama

Lembaga

Jabatan

Wakil Ketua Pelaksana Harian Bid. Internal, INSTITUT KAPAL Perempuan sosial workers/penggiat jurnalisme warga

15

Budhis Utami

INSTITUT KAPAL Perempuan

16

chelluz pahun

Ecosoc Rights

17

Darsono

Univ. Sebelas Maret

Ketua LPPM

18

Darsono Wisadirana

Univ. Brawijaya

Dekan FISIP Universitas Brawijaya

19

Daiman

Bappeda Prov. Banten

Staff Bappeda Prov. Banten

20

Dedi Haryono

Univ. Brawijaya

Mahasiswa

Alamat Kantor

Jl. Kalibata Timur Raya No.5 RT.03 RW.10, Jakarta Selatan Tebet Timur dalam VIC no 17 jakarta selatan LPPM Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36a Surakarta Jln. Veteran Malang

Telepon

Email

Ponsel

0217988875

81310 10833 4

budhis.utami@kapal perempuan.org

82123 21884 0

cheluz82@gmail.co m

(0271) 632916

81226 28006

darsono.uns.solo@g mail.com

3415757 55

81233 80344

darsono_wisa@ub.a c.id

81337 41584 3

daiman2009@gmail .com

85232 40540 4

de_pmjrhs@yahoo.c om

0217272 425 ext 124

81762 6256

dewimeisari@gmail. com

0217416050

85691 24557 4

dini.khoirinnisa@gm ail.com

Universitas Brawijaya Jln. Veteran Malang LKM Center FEUI Gedung Perpustakaan FEUI lt. dasar Kampus Baru UI Depok Jl. Ir. H. Juanda No. 50 Perkantoran Ciputat Indah Permai

No

Kantor

21

Dewi Meisari Haryanti

LKM Center FEUI

Wakil Kepala

22

Dini Khoirinnisa Arifin

Dompet Dhuafa

Staff Dompet Dhuafa

23

Drs. Kukuh, M.Pd

Univ. Mulawarma n

Kepala Pusat Pemberdayaan dan Pendidikan Masyaraka LPPM UNMUL

Jl.Krayan No 1 Kampus Gunung Kelua Samarinda

0541747432

81253 16041

kukuh_sri@tyahoo.c o.id

24

Dwi Suhartanti

Univ. Achmad Dahlan Yogyakarta

Kepala Pusat Studi Dinamika Sosial

Jl. Kapas No. 9, Semaki Yogyakarta

0274563515

81227 31662 3

dwisuhartantiuad@g mail.com

25

Elisabeth Supriharyanti

Unika Widya Mandala Surabaya

Dosen

Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya

0315678478

81654 26628

elish_2003@yahoo. com

0711580074

82184 51106 0

esh@unsri.ac.id

0215290177 7

81583 33048

erlina.sugiarti@gmai l.com

26

Entis Sutisna Halimi

Univ. Sriwijaya

Ketua Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat

27

Erlina Sugiarti

PT Bank BRI Syariah

Dept. Head Mikro Banking Group

Universitas Sriwijaya Kampus UNSRI Indralaya Jl. Palembang Prabumulih KM. 32 Ogan Ilir Menara Jamsostek Tower Selata Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 28

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

155

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

Nama

Lembaga

Jabatan

Alamat Kantor

Telepon Kantor

No

Ponsel

Email

28

Fathur Rohman

Lakpesdam NU

Pengkajian

Jl. Wisnu Wardhana No. 40, Jombang

0321854131

81515 50900 5

29

Gatot Adhi Prasetyo

PT Bank Sahabat Purba Danarta

Direktur Utama

Jalan Pamularsih no. 17, Semarang, Jawa Tengah

2476222 80

81325 37782 9

gatot.prasetyo@ban ksahabat.com

0641 426535

85277 09124 0

unsam_lgs@yahoo.c o.id

30

H. DJamaludin A.R

Univ. Samudera Langsa

Ketua LPM Universitas Samudra Langsa

LPM Universitas Samudera Langsa Aceh kampus Meurandeuh Jl. Desa Meurandeuh Kec. Langsa Lama, Langsa, Aceh

31

H. Musthafa Zuhad Mughni

PT Bank BRI Syariah

Komisaris

Jl. Abdul Muis No. 2-4 Jakarta Pusat

0213450022 6/27

81890 9801

musthafa.zuhad@ya hoo.com

Rektor

Jl. Raden Fatah KM 10 Pagar Dewa Kec. Selebar Kota Bengkulu Bengkulu

073651171

81639 1644

sirajuddin.bkl@gmai l.com

Presiden Mahasiswa UNIPA Surabaya

Jl.Dukuh Menanggal XII/4, Surabaya

0318281181

87850 65000 6

mr.lukmanhakim.f@ gmail.com

81234 19064

wuryanto.hari@yaho o.co.id

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu Univ. PGRI Adi Buana Surabaya

32

H. Sirajuddin M

33

Hakim

34

Hari Wuryanto

Kbpr Arta Kencana

Direktur Utama Kbpr Arta Kencana

Jl. P. Sudirman No. 120 Wonoasri Madiun Jawa Timur

0351383260

35

Hasan Abadi

STAI Raden Rahmat

Ka. Humas

Jl. Raya Mojosari No.2, Kepanjen Malang, Jawa Timur

0341 397265

36

Hendrasmor o

Univ. Ciputra Surabaya

Ketua Lppm Universitas Ciputra

Uc Town Citraland Surabaya

0317451699

37

Henson Enjein Manurung

Universitas Palembang

Ketua Prodi Manajemen

38

Hery H Hanafiah

PT Bank BRI Syariah

Corporate Planning Manager

39

Hidayat

40

Hj. Ame Sukaesih

41

Hj. Mufidah CH

Univ. Tanjung Pura STIE Sebelas April Sumedang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Jl. Dharmapala No. 1A, Bukit Besar Palembang Gedung Menara Jamsostek LT. 19 Jalan Gatot Subroto NO.38 Jakarta

0711442318

85549 50160 1 81375 02592 5 81271 10012 9

hasanabadi999@g mail.com hendrasmoro@ciput ra.ac.id hensonmanru@gmai l.com

0215296235 4

81198 5213

hery.hanafiah1@gm ail.com

Ketua LPKM Untan

Jl. Imam Bonjol, Pontianak

0561743467

81522 09105

hidayatuntan@yaho o.com

Ketua

Jl. Angkrek Situ No. 19 Sumedang

0261205524

85222 31946 6

stiesas@yahoo.com

Ketua LP2M

Jl. Gajayana No. 50 Malang

0341551354

81232 11786

fidah_cholil@yahoo. co.id

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

156

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

Nama

Lembaga

Jabatan

Alamat Kantor

Telepon

0215794475 5

81119 90969

ali@mbss.co.id

General Manager

Puri Mesari Hotel Jl. Mertasari 166, Sanur, Denpasar, Bali

0361281578

81338 77077 0

im_patera@yahoo.c om

Wakil Sekjend. Bid Koperasi dan UKM

Gedung Senatama Jl. Kuitang Raya No. 8 Jakarta Pusat

0213192416 1

81315 90608 0

imam.elhady@gmail .com

Ketua STIE Mura Lubuk Linggau

Jl. Yos Sudarso Lubuk Kupang Kecamatan Lubuk Lingau, Selatan I Sumsel

0733 452219

85369 35434 3

jumroh.dahlan@gm ail.com

42

PT Mitra bahtera Segara Sejati Tbk

43

I Made Patera

Puri Mesari Hotel

44

Indah Muljani

PT Petrosea Tbk

45

Imam Hadi Kurnia

Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia

46

Jumroh

STIE Mura Lubuk Linggau

47

L Suryoto Ispandriarso

Bina Swadaya

48

Liawati Suntiana

Univ. Brawijaya

Mahasiswa

Universitas Brawijaya

49

M. Dzikron AM

Univ. Islam Bandung

Dosen Fakultas Teknis Universitas Islam Bandung

Jalan Tamansari No. 1 Bandung

0224203368

50

M. SALEH LUBIS

STAI Yappas

Ketua STIE YAPPAS

Jl. Puja Rahayu Ophir, Kecamatan Luhak Nan Duo Kab. Pasaman Barat

8116621 184

51

Magdalena

Kemenko Kesra

ASDEP

52

Maulana

STIE Mura Lubuk Linggau

53

Mohamad Zen

54

55

Mohammad Gifari Sono

Muktiono Wibowo

PT Bank Syariah

Email

Ponsel

Hutakemri Ali Samad

Univ. Maratim Raja Ali Haji Universitas Muhammadi yah Luwuk Banggai

No

Kantor

-

Ketua Litbang dan LPPM

Wakil Rektor

Wakil Rektor Dept. Head Mikro Banking Group

Jl. Yos Sudarso Lubuk Kupang Kecamatan Lubuk Linggau, Selatan I Sumsel Jalan Politeknik Senggarang Tanjung Pinang Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 79 Sulawesi Tengah, 94711 BRI Syariah Menara Jamsostek Tower Selatan Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 38

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

81566 30684 85733 03181 0 81802 03130 5

suryoto_sms@yahoo .com liasuntiana@yahoo. com mdzikron@gmail.co m

81374 08684 8

stieyappas@gmail.c om

81114 1122

meggimagdalena@ gmail.com

81274 41701 3

maulana_57@ymail .com

07717001550

81121 7399

email@umrah.ac.id

0461 23452

81241 67990

mohgifari@yahoo.c o.id

0215290177 7

81289 87119 8

muktiono_wibowo@ yahoo.com


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

157

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

Nama

Lembaga

Jabatan

Alamat Kantor

56

Multifiah

Univ. Brawijaya

Sekretaris LPPM

Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang

57

Noor Shodiq Askandar

Univ. Islam Malang

Dekan FE Unisma Malang

-

58

Pahlawansja h Harahap

Universitas Semarang

Rektor Universitas Semarang

Jalan SoekarnoHatta Kota Semarang

59

Rahmatiah

60

Ray Rake Setyawan

Univ. Achmad Dahlan Yogyakarta

61

Rakhmat Ceha

Univ. Islam Bandung

62

Ridwan Al Rossid Budyantoro

PT RNI (Persero)

63

Ridwan Soeriyadi

64

Richi Fillaily

65

Rubianus

UKI Toraja

Ketua LPPM UKI TORAJA

66

Saiful Affandie

STAI Raden Rahmat

Kepala LPPM

67

Saiful Alamsyah

LKM Center FEUI

Manajer Divisi Kredit

68

Sapto Kuntoro

PT Integre Quadro

Direktur Utama PT Integre Quadro

69

Sardiyo

STIE Mura Lubuk Linggau

Lektor

70

Semerdanta Pusaka, D.B.A

STIA Sandikta

Head Of Business Administration Program Study

Telepon Kantor

PT. Mitra Kreasidharm a PT Indika Indonesia Resources

Ketua LPPM Universitas Islam Bandung Fasilitator Program Desa Berdaya PT RNI (persero) Direktur

Email

0341575823

81233 07355

0246702757

81334 68520 0 81325 52097 0 81355 23401 1

zatya20@yahoo.co m

Jl. Kapas No. 9, Semaki Yogyakarta

0274563515

85743 81444 4

rairake@gmail.com

Jalan Tamansari No. 20 Bandung

0224203368

81220 23058

rceha@yahoo.com

85642 11001 8

ridwan.alrossid@gm ail.com

81818 1978

frs@mkdgroup.com

-

Kepala PPE

No

Ponsel

Kawasan Pabrik Gula Jatitujuh, Desa Sumber Kulon, Majalengka Wisma UIC Lt. 4 Jl. Gatot Subroto Kav. 6-7 Jakarta Selatan

JL Nusantara No. 12 Jl. Raya Mojosari No.2, Kepanjen Malang, Jawa Timur LKM Center FEUI Gedung Perpustakaan FEUI Lt. Dasar Kampus Baru UI Depok Jl. Jend. Ahmad Yani No.221-223 Segi Tiga Emas Kosambi - Blok F-11 Bandung jl. yos sudarso kelurahan lubuk kupang kecamatan Lubuk Kupang Selatan 1 Lubuk Linggau

0215790524 5

(0423)22 468

87770 04577 7 81241 88726 7

titik_multi@yahoo.c om shodiqask@yahoo.c om

richi.fillaily@indikae nergy.co.id rubianus@gmail.co m

0341 397265

81252 36426

smkplusam_sgs@ya hoo.com

0217272425 ext 124

85959 58333 8

s_alams@yahoo.co.i d

0227237103

85610 02343

sapto.kuntoro@gma il.com

8199625 0508

81535 55057

sardiyo_adams@yah oo.com

0218466569

81619 27211

dantapusaka@gmail .com

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

158

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

Nama

71

Siti Chuzaemi

Univ. Brawijaya

Ketua LPPM

72

Subagyo

Universitas Nusantara PGRI Kediri

Lektor

73

Sulastri Sardjo

Sosiologi FISIP UI

74 75 76

Suryo Dwianto Agung Nugroho Suwarno Widodo Swat Lie Liliawati

Lembaga

Jabatan

Peneliti

Alamat Kantor

Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang Jl. KH. Akhmad Dahlan No. 76 Kediri Departemen Sosiologi FISIP UI Kampus FISIP UI Depok

IKIP PGRI Semarang Univ. Kristen Maranatha

Ketua LPPM IKIP PGRI Semarang Dosen

81853 3582

schuzaemi@gmail.c om

0354771576

81235 84929

ybnbagyo@yahoo.c o.id

0217884902 5,786342 7

81511 30857 4

titisosio@yahoo.com

81296 27317

agung_394@yahoo. com

81228 23210 81223 99183 82142 34689 1

suwarno61widodo@ yahoo.com

Klakah Wajak, Malang

03417725007

Kampus UI Salemba

0213912007

78

Titissari Rumbogo

FE UI, Salemba

Dosen

79

Triatmanto

Univ. Negeri Yogyakarta

LPPM UNY

80

Wiko Saputra

Prakarsa

Program Officer

81

Wisnu Wirandanu

Univ. PGRI Adi Buana Surabaya

Menteri Luar Negeri UNIPA Surabaya

82

Woro Wahyuningty as

JKLPK

Surabaya

83

Widodo Brontowiyon o

Universitas Islam Indonesia

Direktur

Jl. Kaliurang KM 14.4 Yogyakarta 55584

84

Wiyanto

PT Petrosea Tbk

85

Yoan Nursari Simanjuntak

Universitas Surabaya

Ketua LPPM

Staf program

Yuliana

3415758 25

0248451279 0222012186

Ponpes. Al Huda

Email

Ponsel

Jl. Dr. Cipto-Lontar No. 1 Semarang Jl. Suria Sumantri 65 Bandung

Tajoell Arifin

No

Kantor

-

77

86

Telepon

swatlie@yahoo.co.id alhuda_wajak@yah oo.co.id

81860 0518

titissari_r@yahoo.fr

81744 5655

tribiola@yahoo.coo m

0217811798

82124 66678 8

wikosa24@gmail.co m

0318281181

89796 87330

wisnu.wirandanu@fa cebook.com

85292 22374 7

worowahyuningtyas @gmail.com

0274 898444

81804 21332 1

widodo_indo@yaho o.com widodo.bronto@gm ail.com

Jl. Raya Kalirungkut, Tenggilis, Surabaya

0312981361

81230 08677 1

yoan@ubaya.ac.id

Singopuran Rt 02/ V No. 103 Kartasura, Surakarta, Jawa Tengah

02717003159

81390 80760 4

yuli_prog@yskk.org

Kampus Karangmalang Yogyakarta Jln. Rawa Bambu 1 Blok A No. 8-E, Pasar Minggu, Jakarta Selatan Jl. Dukuh Menanggal Surabaya

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Peserta Temu Nasional 2013

159

Daftar Peserta Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

"Peran Strategis Perguruan Tinggi Dalam Mendukung Sinergi Multipihak Untuk Pengembangan Usaha Mikro" Balai Tirta UI, Depok 30 Oktober - 1 November 2013 No

87

Nama

Zahra K. Murad

Lembaga

MPKP-FEUI, Salemba

Jabatan

Alamat Kantor

Telepon

No

Kantor

Ponsel

Email

Dosen

Kampus UI Salemba

0213912007

87883 95804 1

zahra.murad@yaho o.com

073651171

81225 49715

zulkarnainsapal@g mail.com

88

Zulkarnain S

IAIN Bengkulu

Dosen

Jl. Raden Fatah KM 10 Pagar Dewa Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu Bengkulu

89

Zuriah Sitorus

Universitas Asahan Medan

Rektor

Jl. Jend. A. Yani Kisaran, Sumut

81376 96020 3

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Dukungan Dari Berbagai Pihak 1. Akademisi Rekomendasi APTISI

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

160


161

Daftar Dukungan Dari Berbagai Pihak

Rekomendasi APTISI

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Dukungan Dari Berbagai Pihak

Rekomendasi Ditjen DIKTI Muhammadiyah

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

162


Daftar Dukungan Dari Berbagai Pihak

163 2. Korporasi

Suksesnya acara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan Penanggulangan Kemiskinan 30 Oktober-1 November 2013, tidak luput dari dukungan pihak korporasi dan lembaga lainya. Beberapa Korporasi dan lembaga lain yang sangat berperan aktif dalam kesukesan acara TEMUNAS ini, diantaranya adalah: PERTAMINA Foundation Pertamina Foundation adalah salah satu Lembaga yang bergerak dalam bidang social, khususnya pada kesejahteraan masyarakat dan pelestarian hutan di Indonesia. Pertamina Foundation memiliki perhatian lebih terhadap penanggulangan kemiskinan. Hal ini dibuktikan dengan peran aktif Pertamina Foundation dalam mendukung acara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 ini. Bentuk dari partisipatif Pertamina Foundation ini adalah selain menjadi sponsor utama pada tahun ini, partisipasi dari Direktur Pertamina Foundation yang juga mengisi acara pada Temunas penanggulangan kemiskinan tahun lalu.

PGN (Perusahaan Gas Negara) Perusahaan Gas Negara atau lebih dikenal dengan PGN, merupakan perusahaan dibawah naungan BUMN. PGN merupakan perusahaan yang juga fokus terhadap kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Saat ini PGN konsisten untuk mendukung Konversi Energi BBM ke Gas, hal ini ditujukan untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik dan lestari. Selain konsentrasi terhadap pelestarian lingkungan, PGN juga sangat mendukung kegiatan yang memberikan sumbangsih untuk mensejahteraan masyarakat. PGN berpartisipasi dan mendukung dan memberikan bantuan financial pada acara Temu Nasional penanggulangan kemiskinan 2013. Indika Energy PT. Indika Energy Tbk (“Indika Energy�) adalah salah perusahaan energi terkemuka di Indonesia. Selalin kosnetrasi pada bidang energi, PT Indika Energy juga memngembangkan beberapa program dalam mensejahterakan masyarakat. PT Indika Energi juga turut menyukseskan acara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 di Universitas Indonesia, Depok.

BTPN BTPN adalah salah satu Bank terkemuka di Indonesia yang memiliki perhatian lebih terhadap penanggulangan kemiskinan. Hal ini dibuktikan dengan peran aktif BTPN dalam mendukung acara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 ini. Bentuk dari partisipatif BTPN ini adalah selain mendukung dalam bentuk financial, kehadiran Bapak Jerry Ng (Presiden Direktur BTPN) menjadi panelis dalam TEMUNAS 2012 ini sangat mendukung kesuksesan acara TEMUNAS dari tahun ke tahun.

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Daftar Dukungan Dari Berbagai Pihak

164

Tanoto Foundation Tanoto Foundation adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto, dengan visi menjadi pusat unggulan dalam penanggulangan kemiskinan melalui Pendidikan, Pemberdayaan dan Peningkatan Kualitas Hidup. Tanoto Foundation sangat mendukung kegiatan Temunas Penanggulangan Kemiskinan 2013, di Bali Tirtha Universitas Indonesia dengan memberikan bantuan financial dan perhatian khusus terhadap acara ini. PT Triputra Investindo Arya didirikan pada tahun 1998 sebagai perusahaan induk dari Adira Mobil dan Adira Finance. PT Triputra Investindo Arya memiliki perhatian lebih terhadap penanggulangan kemiskinan. Hal ini dibuktikan dengan peran aktif PT Triputra Investindo Arya dalam mendukung acara Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013 ini

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Laporan Keuangan Temu Nasional 2013

165 LAPORAN KEUANGAN TEMU NASIONAL PENANGGULANGAN KEMISKINAN 2013 Balai Tirta UI Depok 30 Oktober - 01 November 2013 Pemanfaatan Dana PRA EVENT No 1

Deskripsi

LAPORAN KEUANGAN TEMU NASIONAL PENANGGULANGAN KEMISKINAN 2013 Balai Tirta UI Depok 30 Oktober - 01 November 2013

Total (Rp)

Sosialisasi Temunas

18.500.000 FGD Leaders High Tea Roadshow ke daerah untuk dukungan Temunas

2

Promosi Temunas

8.724.681 Pembangunan Data Base Penyebaran Informasi (Via internet, Fax dll mencakup seluruh Indonesia)

TOTAL PRA EVENT

27.224.681 -

D DAY No 1

Deskripsi

Satuan

Qty

Price (Rp)

Venue, Catering, Accomodation

Total (Rp) 59.310.000

Fullboard meeting Balai Tirta Fullday meeting + kamar di luar Balai Tirta Media Gathering (Coffe Break Menu) Sewa Gedung Balai Tirta Transportasi Peserta (antar jemput bandara, penginapan) 2

Tools

3

Dokumentasi

78.860.000 Giant Banner 4 x 6 m Umbul - umbul 1 x 3 m Spanduk 1 x 3 m Welcome Giant Board 3 x4 m + Standing Backdrop 3 x 4 + Standing ID Card panitia Seminar Kit ( Buku Program, Stationery) ID Card + Sertifikat Peserta Dekorasi Walkie Talkie Roundtable dan Kursi' 30.000.000 Photography Videography Notulensi Penyusunan Prosiding Penyusunan Laporan Temunas

-

Pemanfaatan Dana PRA EVENT No 1

Deskripsi

Total (Rp)

Sosialisasi Temunas

18.500.000 FGD Leaders High Tea Roadshow ke daerah untuk dukungan Temunas

2

Promosi Temunas

8.724.681 Pembangunan Data Base Penyebaran Informasi (Via internet, Fax dll mencakup seluruh Indonesia)

TOTAL PRA EVENT

27.224.681 -

D DAY No 1

Deskripsi

Satuan

Qty

Price (Rp)

Venue, Catering, Accomodation

Total (Rp) 59.310.000

Fullboard meeting Balai Tirta Fullday meeting + kamar di luar Balai Tirta Media Gathering (Coffe Break Menu) Sewa Gedung Balai Tirta Transportasi Peserta (antar jemput bandara, penginapan) 2

Tools

78.860.000 Giant Banner 4 x 6 m Umbul - umbul 1 x 3 m Spanduk 1 x 3 m Welcome Giant Board 3 x4 m + Standing Backdrop 3 x 4 + Standing ID Card panitia Seminar Kit ( Buku Program, Stationery) ID Card + Sertifikat Peserta Dekorasi Walkie Talkie Roundtable dan Kursi'

3

Dokumentasi

30.000.000 Photography Videography Notulensi Penyusunan Prosiding Penyusunan Laporan Temunas

-

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Laporan Keuangan Temu Nasional 2013 4

Kepanitian

103.250.000 Tim LO, Escorts hari H Tim ini AKSI UI 90 hari kerja Tim Panitia ad-hoc 15 hari kerja Transportasi Panitia Komunikasi Panitia

5

166

Miscellaneous

19.400.000

Kesekretariatan Art performance Pembuatan Kaos Temunas

-

TOTAL D-DAY

290.820.000

GRAND TOTAL

318.044.681

Pemasukan Dana No 1 Kepesertaan 2 Sponsorship dari berbagai pihak 3 Donasi Kaos Temunas 4 Donasi Laporan Temunas 2012 5 Partisipasi SINERGI INDONESIA

Deskripsi

Grand Total

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013

Total (Rp) 58.280.000 230.000.000 1.545.000 270.000 27.949.681 318.044.681


167

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


168

Laporan

SINERGI INDONESIA Kantor Operasional: Kavling Pupuk Kujang Jl. Amonia I Blok E-26, Beji Timur, Depok 16422 T/F: 621 7721 4466 E: info@sinergi-indonesia.org sinergi.id@gmail.com www. sinergi-indonesia.org

Prosiding Temu Nasional Penanggulangan Kemiskinan 2013


Prosiding Temu Nasional 2013