Page 1

Artikel Utama

Pesantren dalam Persaingan Global Oleh: Maria Ulfah Anshor A. Fenomena di Era Globalisasi

D alam bidang ekonomi, globalisasi melahirkan kapitalisme; sistem perekonomian yang benar-benar bebas: bebas dari berbagai batasan baik oleh raja mau- pun penguasa, orang boleh menjual dan membeli barang di pasar mana pun, bebas dari pembatasanpembatasan produksi, bebas dari pembatasan tenaga kerja, yang menentukan sematamata keuntungan yang lebih besar. Sistem ekonomi yang hanya mengakui satu hukum yaitu tawar menawar di pasar. Nilai yang ingin dicapai adalah nilai tukar bukan nilai pakai (memproduksi atau membeli bukan untuk dipakai tetapi untuk dijual kembali untuk memperoleh keuntungan yang sebesar mungkin). Tujuan sistem ekonomi kapitalis adalah uang, dan bukan barang yang diproduksi. Barang hanya sebagai sarana untuk mendapatkan uang. Industri besar menciptakan pasar dunia. Pasar dunia yang mengendalikan modal dan perdagangan. Pemilik modal memonopoli seluruh aspek industri dari hulu hingga hilir. Keuntungan hanya menjadi kepemilikan pribadi. Petani, nelayan, pedagang kecil dan kelompok proletar harus tunduk pada pasar. WTO (Organisasi perdagangan dunia) menetapkan free trade pada 1 Januari 2005. Dampak dan konsekwensi dari itu: pemilik modal makin diuntungkan dan kelompok miskin terus dimiskinkan. Eksploitasi besar-besaran terhadap sumberdaya alam dan hutan tanpa memikirkan kelestariannya. Nilai-nilai masyarakat berubah dari saling menolong menj adi individualistik. Pola hidup yang saling menghargai, menghormati menjadi materialistik, yang menjadi ukuran hanya sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. Komoditas tidak terbatas pada barang dan jasa, tetapi manusia khususnya perempuan dan anak (trafficking in person). Perempuan dan anak menjadi objek ekploitasi seksualitas yang “sah� untuk diperdagangkan baik secara fisik

1


Artikel Utama

maupun grafis (pornografi). Bentuk-bentuk kooptasi seksual seperti pemasaran homoseksual, biseksual, janda puncak, dan sebagainya. Perempuan mengalami dua bentuk penindasan sekaligus (kapitalis dan patriarkhis). Dalam bidang politik, globalisasi melahirkan perang ideologi. Demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) menjadi perspektif seluruh proses dan kebijakan dunia termasuk Indonesia. Ada ketergantungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, antara kebijakan satu dengan kebijakan lain, contoh: insiden 11 September 2001 yang menghancurkan gedung WTC di Amerika mempengaruhi kebijakan dunia, terorisme menjadi ancaman global. Kebijakan internasional dikendalikan oleh negara-negara maju. Pasca keruntuhan Uni Sovyet, Amerika menjadi negara adidaya tunggal di dunia yang mempengaruhi hampir seluruh kebijakan dunia. Kekosongan ideologi di negaranegara bekas sekutu Uni Sovyet (yang memanjang dari Asia Selatan, Asia Timur sampai wilayah Balkan dan negara-negara Timur Tengah) turut memperkuat ideologi Islam sebagai alternatif. Tumbuh partai-partai Islam militan yang konservatif khususnya di negara-negara Timur Tengah yang bercita- cita mengembalikan daulah Islamiyah dan Imamah sebagai bentuk negara yang ideal. Dampak dan konsekwensinya: Indonesia dalam berbagai hal harus tunduk pada kebijakan-kebijakan dan kesepakatan internasional, baik yang ada di PBB maupun persekutuan lain. Partai-partai yang berbasis internasional memiliki perwakilan di Indonesia; Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrat dll. Globalisasi juga menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Klasifikasi ilmu pengetahuan menjadi sangat spesifik. Teknologi informasi mampu menyerap dan menyebarkan data secara akurat dan lengkap ke seluruh penj uru dunia. Teknologi menjadi sarana kehidupan yang sangat efektif dan efisien. Kehidupan kita tergantung pada teknologi. Dampak dan konsekwensinya: Akses terhadap berbagai informasi dapat dijangkau secara cepat, tepat dan murah, misalnya internet/web. Akses terhadap lembaga pendidikan terbuka 2


Artikel Utama

lebar di berbagai belahan dunia. Dalam bidang sosial budaya, globalisasi melahirkan persaingan yang kejam. Kebiasaan buruk dan kotor menjadi budaya baru dalam memenangkan kompetisi. Gaya hidup yang individualistik, tidak mau tahu dengan lingkungan dan alam di sekitarnya. Pola hidup yang mendunia. Perilaku manusia menjadi mekanik, karena menjadi bagian dari mesin. Teralienasi dari lingkungan hidupnya. Serba komputeris dan terukur. Tidak mengenal kewarganegaraan, warga negara campuran. Budaya glo bal (pakaian, makanan, musik, film, majalah/bacaan dan sebagainya) dampak dan konsekuensinya: serba materialistik. Terjadi berbagai krisis sosial dalam kehidupan manusia. Manusia mengalami kebosanan hidup, kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Manusia kehilangan makna dan tujuan hidupnya (meaning and purpose life) Globalisasi juga menyebabkan terjadinya sekularisasi agama dan privatisasi agama. Ideologi kapitalisme yang membebaskan manusia menimbulkan efek terciptanya masyarakat abstrak (the abstact society). Kapitalisme melahirkan kejenuhan terhadap hal-hal yang materialistik bahkan kebosanan hidup, yang mendorong pencarian jati diri baru yang damai, mistik-spiritualitas. Manusia kehilangan harmoni, baik hubungan dengan dirinya, dengan alam bahkan dengan Tuhan. Merindukan untuk kembali pada kehidupan-kehidupan yang alamiah. Lahir sekte-sekte atau agama-agama baru untuk mengisi kekosongan spiritual. New Age (zaman baru); ditandai dengan pesatnya perhatian terhadap dunia mistik-spiritualitas. Spirituality, yes! Organized religion, no! (John Naisbit dan Patricia Aburdene, dalam Megatrend 2000). Dampak dan konsekwensi: tumbuh ideologi dan metodologi baru dalam memahami agama.

Lahir

3


Artikel Utama

gerakan post-modernisme sebagai bentuk gugatan bahwa modernisme bukan satusatunya pilihan sistem pemikiran dan cara hidup yang baik. Gerakan reformasi agama yang berupaya merekonstruksi nilai-nilai: Konservatif—tekstual dan Progressive— kontekstual. B. Peluang Pesantren Era

globalisasi

memberikan

peluang

yang

besar

bagi

pesantren

untuk

mentransformasikan nilai-nilai Islam yang universal, yang rahmatan lil alamiin ke dalam aktualisasi kehidupan nyata. Pesantren memiliki peran yang multidimensional; pendidikan,

keagamaan

yang

mempertahankan

nilai-nilai

Islam,

pengembangan,

penyadaran dan penguatan civil society. Menyelesaikan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dengan perspektif agama. Menjadikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang berbasis komunitas lokal dengan kualitas global/internasional. Pesantren dapat melakukan percepatan pembangunan kualitas sumberdaya manusia tanpa kehilangan nilai- nilai spiritualitasnya. C. Tantangan Pesantren 1. Merekonstruksi kurikulum dan metode pendidikan. 2. Kemampuan

mentransformasikan

nilai-nilai

Islam

aplikatif

dalam

menghadapi berbagai perubahan sosial yang terjadi. 3. Merancang nilai-nilai tersebut ke dalam suatu kerangka konseptual yang sistematis dan terpadu ke dalam sistem pendidikan. 4. Membangun wacana baru yang pluralis dan demokratis dalam menyikapi tum- buhnya ideologi baru dari dampak globalisasi. 5. Membangun jaringan kerjasama dengan berbagai pihak lintas negara, lintas agama, dan lintas kepentingan. 6. Menyediakan fasilitas dan sarana pendidikan yang berkualitas dengan 4


Artikel Utama

standar global. 7. Menerapkan manajemen yang profesional, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. D. Harapan 1. Pesantren menjadi agen pembaharuan dan perubahan bagi penguatan civil society—pendidikan kritis kepada masyarakat dan lingkungan nya. 2. Mampu menjadi lembaga pendidikan alternatif yang tidak mendikotomikan ilmu pengetahuan. 3. Mampu bersaing secara kualitatif dengan lembaga pendidikan yang bertaraf internasional.

5

pesantren-dalam-persaingan-global  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you