Page 1

AGAMA DAN TERORISME “An Interview with Dr. Jamhari Makruf� Kamis, 19 November 2009, UIN Jakarta Tidak Ada Tempat Untuk Terorisme Dalam Islam Kalau anda membaca buku-buku kaum teroris, atau buku-buku yang dirujuk oleh misalnya pendiri Taliban, kemudian ulama-ulama di Afganistan, ulama-ulama di Irak atau bahkan di Mesir, memang banyak yang memahami jihad itu sebagai sebuah kekerasan. Tapi saya kira itu bagian minor saja, bahkan bagian yang saya kira salah. Saya kira problem bagi gerakangerakan ini adalah karena memahami Islam secara literal, secara sangat sederhana. Demikianlah yang dipahami oleh orang radikal. Tapi menurut saya, teman-teman yang menggunakan label itu tidak memahami dimensi sosiologis, jadi tidak memahami kerangka berpikir yang lebih luas. Dahulu memang pernah ada beberapa konflik sosiologis yang keras akibat dari pemahaman teologis. Namun saya kira pandangan keagamaan yang muncul pada abad itu tidak kondusif dengan abad yang sekarang. Dahulu beragama itu merupakan identitas sosial, jadi relasi hubungan yang satu dengan yang lain masih sebatas pada kelompok-kelompok. Oleh karena itu, identitas sosial merupakan bagian terpenting untuk mempertahankan kelompok. Demikian pula relasi kekuasaan pada waktu itu mengikuti pola seperti itu. Maka tidak mengherankan kalau pandangan jihad itu dipengaruhi oleh struktur masyarakat pada saat itu. Karena itu, saya kira pengertian jihad harus di sesuaikan dengan kondisi sosiologis yang ada sekarang ini. Demikianlah intisari pemikiran Dr. Jamhari Makruf, Purek Bidang Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ketika diwawancarai oleh PSIK-Indonesia yang diwakili oleh Rahmat Hidayatullah di kantornya Kamis, 19 November 2009. Pertama-tama saya ingin menggali pandangan Anda mengenai terorisme yang saat ini menjadi fenomena menakutkan di Indonesia, bagaimana Anda mendefinisikan terorisme? Terorisme itu definisinya banyak, anda bisa lihat itu dalam berbagai literatur. Tapi kira-kira intinya bahwa terorisme itu adalah sebuah kegiatan baik fisik maupun tidak fisik yang menggunakan violence dan itu mengganggu ketertiban orang banyak. Kemudian kenapa terorisme itu timbul? Nah, itu juga secara literatur banyak penjelasan yang bisa dikemukakan. Namun ada beberapa hal yang bisa digarisbawahi kenapa terorisme itu muncul. Pertama, ada pandangan dari sudut psikologi, bahwa orang-orang yang melakukan terorisme itu adalah psikopat yang mempunyai persoalan kejiwaan dan seterusnya. Kedua, ada juga yang berpendapat bahwa terorisme itu adalah bagian dari usaha rasional untuk melawan sebuah kekuatan. Kekuatan itu bisa berarti kekuatan untuk mendirikan negara sendiri – seperti yang terjadi di Palestina dan Srilanka – dan seterusnya. Jadi sebetulnya terorisme itu bagi mereka merupakan sebuah pilihan rasional karena keterbatasan resources sehingga mereka bisa nekat seperti itu. Ketiga, setelah tragedi WTC, orang melihat bahwa gerakan terorisme itu ada kaitannya dengan paham keagamaan tertentu. Walaupun yang menjadi latar belakang atau pemicu dari tindakan terorisme itu di antaranya adalah masalah kemiskinan dan pendidikan, tapi tidak dapat dinafikan bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang melakukan gerakan tersebut. Menurut Anda, apakah tindakan terorisme itu ciri satu agama atau sesuatu yang ada dalam setiap agama? Kalau dilihat dari sejarah, setiap lapisan masyarakat pernah melakukannya, bukan hanya agama. Jika dilihat dalam konteks agama, saya kira semua agama pernah melakukannya, misalnya konflik di Irlandia Utara antara Katolik dengan Protestan, kemudian di Jepang

1


juga ada, terus di Korea Utara dengan Korea Selatan dan macam-macam. Dengan demikian terorisme bukan milik satu agama tertentu, tapi itu fenomena masyarakat yang bisa dilakukan oleh yang beragama maupun yang tidak beragama. Lantas bagaimana dengan fenomena gerakan terorisme belakangan ini yang kerap diidentikkan dengan Islam? Dalam dunia akademik, orang biasanya melihat kecenderungan yang ada. Dan setelah tahun 2001, kecenderungan umum memperlihatkan bahwa terorisme itu banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang berafilasi kepada Islam, misalnya di WTC, di Indonesia, di Inggris dan macam-macam. Artinya, ada afiliasi kelompok tertentu dengan gerakan Islam. Oleh karena itu, orang banyak bertanya apakah ada kaitan antara paham keagamaan tertentu dalam Islam yang mendukung terorisme. Saya kira ada beberapa studi tentang itu. Sekali lagi saya tegaskan bahwa terorisme itu drill-nya bermacam-macam, bisa kemiskinan, bisa kurangnya pendidikan, bisa persaingan politik untuk mendirikan negara otonom, independen dan lain sebagainya. Kemudian paham agama itu menjadi pembungkus sehingga terorisme itu menjadi legitimate. Contoh yang paling gampang adalah terorisme di Indonesia yang dilakukan oleh kelompok Imam Samudra dan lain sebagainya. Drill-nya adalah kebencinan Imam Samudra dan kelompoknya terhadap hegemoni Barat yang terlalu dominan, yang menurut pandangan mereka mempunyai standar ganda terutama mengenai Israel dan Yahudi. Lalu perang Amerika yang tidak terbantahkan di Irak dan Afaganistan dan lain sebagainya. Karena peristiwa-peristiwa itu, mereka kemudian menganggap perlu ada suatu gerakan balas dendam. Untuk melegitimasi gerakan itu mereka butuh satu ideologi, butuh sebuah keyakinan yang menjustifikasi kebenaran untuk melakukan kekerasan itu, salah satunya adalah agama. Kebetulan dalam literatur klasik Islam itu konsep jihad. Padahal, pengertian jihad itu kan macam-macam, dari jihad kecil sampai jihad besar, dari yang dalam bentuk puasa, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, sampai dengan kata-kata perang. Nah, mereka menggunakan pemahaman jihad secara spesifik dalam pengertian perang itu untuk menjustifikasi penggunaan kekerasan dalam rangka balas dendam. Apakah dalam tradisi Islam sendiri ada hermeneutika menderivasikan doktrin kekerasan dan terorisme?

Kita

Suci

yang

Kalau anda membaca buku-buku kaum teroris, atau buku-buku yang dirujuk oleh misalnya pendiri Taliban, kemudian ulama-ulama di Afganistan, ulama-ulama di Irak atau bahkan di Mesir, memang banyak yang memahami jihad itu sebagai sebuah kekerasan. Tapi saya kira itu bagian minor saja, bahkan bagian yang saya kira salah. Saya kira problem bagi gerakangerakan ini adalah karena memahami Islam secara literal, secara sangat sederhana. Jadi kalau mau mengontrol mereka harus dilihat dari induknya, dari mana gerakannya dan dari mana mereka mengambil pemahaman jihad sebagai sebuah perang. Apakah terminologi jihad itu dalam tradisi Islam bisa dijadikan landasan teologis atau justifikasi untuk melakukan tindakan kekerasan dan terorisme? Kalau menurut orang radikal memang begitu, itu yang mereka pahami. Tapi menurut saya, teman-teman yang menggunakan label itu tidak memahami dimensi sosiologis, jadi tidak memahami kerangka berpikir yang lebih luas. Dahulu memang pernah ada beberapa konflik sosiologis yang keras akibat dari pemahaman teologis. Namun saya kira pandangan keagamaan yang muncul pada abad itu tidak kondusif dengan abad yang sekarang. Dahulu

2


beragama itu merupakan identitas sosial, jadi relasi hubungan yang satu dengan yang lain masih sebatas pada kelompok-kelompok. Oleh karena itu, identitas sosial merupakan bagian terpenting untuk mempertahankan kelompok. Makanya dalam Islam atau Kristen atau dalam agama-agama yang lain, jika seseorang murtad atau keluar dari agama akan dikenakan hukuman berat, kenapa, karena itu menghianati komunitas. Demikian pula relasi kekuasaan pada waktu itu mengikuti pola seperti itu. Maka tidak mengherankan kalau pandangan jihad itu dipengaruhi oleh struktur masyarakat pada saat itu. Perang salib, misalnya, sebetulnya mencerminkan model masyarakat beragama pada waktu itu. Jadi ada percampuran antara identitas agama dan identitas sosial. Nah, sekarang ini tidak ada lagi sekat-sekat semacam itu, sekat-sekat itu hampir punah bahkan dapat dikatakan sama sekali tidak ada. Misalnya kita bisa saja menyatakan bahwa A itu negara Islam sementara B itu negara yang bukan Islam, tapi kenyataannya kan tidak. Di Amerika dan Australia juga banyak umat Islam. Jadi kalau kita berbuat sesuatu itu akan berakibat pada yang lain. Karena itu, saya kira pengertian jihad harus di sesuaikan dengan kondisi sosiologis yang ada sekarang ini. Sebenarnya bagaimana perspektif Islam sendiri terhadap tindakan terorisme, paling tidak menurut pemahaman Anda? Terorisme itu tidak diperkenankan. Bahkan Nabi sendiri menyatakan bahwa menyingkirkan duri dari jalan saja merupakan bagian dari iman. Ini untuk duri yang kecil, menaruhnya saja tidak boleh, apalagi menaruh bom. Jadi saya kira tidak ada tempat untuk terorisme di dalam Islam. Apakah kita bisa mengatakan bahwa tindakan terorisme atau para pelaku teror itu mencerminkan kondisi split personality kaum beragama? Bukan split personality, tapi saya kira terorisme itu adalah penyakit kemanusiaan. Jadi tidak ada kelompok atau paham tertentu yang menjustifikasi, kalau dia berpikir rasional, kebenaran terorisme. Islam itu bagian dari kemanusiaan, makanya tadi saya bilang bahwa terorisme itu akarnya atau drill-nya macam-macam, barang kali kemiskinan, karena dia tidak punya sesuatu, kemudian pendidikan, atau juga orang yang mengalami psikopat -orang yang punya problem psikologi. Jadi tidak bisa kita menjustifikasi satu faktor saja, karena masing-masing mempunyai latar belakang yang berbeda. Barang kali dalam kasus Imam Samudra dan kawan-kawan, di samping karena kemiskinan dan pendidikan juga ditentukan oleh pengalaman hidupnya, misalnya mereka pernah berperang di Afganistan dan seterusnya. Itu juga mempengaruhi pemikiran sosiologis dia bahwa sekarang ini juga masih ada perang – walaupun bentuknya berbeda. Jadi saya kira bukan split personality, tapi kira karena dia memahami agama secara parsial atau secara sepotong-sepotong. Apakah modus tindakan terorisme lebih dipicu oleh realitas ketidakadilan atau akibat konstruksi keyakinan para pelakunya? Kalau mau berbicara secara keilmuan kan begini, ada orang yang miskin bahkan ada yang lebih miskin dari Imam Samudra, tapi kenapa orang tersebut tidak mau melakukan tindakan radikal. Ada orang yang bodoh dan tidak sekolah bahkan lebih bodoh dari Imam Samudra, tapi kenapa dia tidak melakukan tindakan terorisme. Ada orang yang sakit jiwanya lebih dari itu, tapi kenapa tidak melakukan menjadi teroris. Ada orang yang tersiksa, dijajah dan lain sebagainya, tapi kenapa tidak melakukan tindakan seperti itu. Saya kira ini banyak sekali yang tidak bisa di justifikasi. Kalau saya sendiri percaya bahwa

3


terorisme mempunyai setting sosiologis yang khas. Jadi setting sosiologis di Irak tidak bisa digunakan untuk menjelaskan terorisme di Indonesia, karena di Indonesia juga punya suatu setting sosiologis sendiri yang menjadi latar belakang dan akar permasalahan terorisme di Indonesia. Beberapa kalangan mensinyalir keterkaitan antara terorisme dengan pesantren, bagaimana komentar Anda? Saya berpendapat bahwa memang ada potensi itu, dan kalau itu tidak dibetulkan bisa menjadi terorisme atau membenarkan atau minimal menjadi simpatisan terorisme. Sebagaimana sudah saya singgung sebelumnya, bahwa buku-buku Islam itu ditulis berabad-abad yang lalu dan ditulis dalam situasi sosiologis yang ada pada waktu itu. Mau tidak mau, orang yang menullis pada waktu itu sangat dipengaruhi oleh keadaan sosiologis pada saat itu, saya percaya itu. Dan saya kira buku-buku yang ditulis sekarang itu juga dipengaruhi oleh suasana sosiologis maupun politis pada saat sekarang. Anda bisa bayangkan, kalau buku-buku yang lama itu dibaca dan diinterpretasi dengan kondisi dan situasi yang sekarang, itu jadi problem. Nah, pesantren itu mungkin saja seperti itu. Karena ketidaktersediaan teks yang baru kemudian tidak punya kesempatan belajar perspektif yang lebih luas dan seterusnya. Sehingga para santri masih memahami konteks sosiologis umat Islam waktu itu seperti kondisi sosiologis saat ini. Misalnya, ada beberapa mesjid yang masih tidak memakai pengeras suara karena memahami konteks pada waktu itu -- memang waktu itu tidak ada pengeras suara, atau orang yang tidak mau menggunakan sains seperti komputer dan seterusnya karena memang pada waktu itu tidak ada. Bahaya adalah kalau semua interpretasi keagamaan mengambil model semacam itu – itulah yang berbahaya. Jadi bukan berarti ada pesantren atau ada pesantren tertentu yang mengajarkan terorisme. Menurut saya sekarang ini permasalahannya adalah karena keterbatasan resources dan pergaulan. Dan kebetulan saja buku-buku yang diajarkan di pesantren pada umumnya adalah buku-buku yang ditulis pada zaman dahulu. Anda tentu tahu cerita Shalahuddin al-Ayyubi atau Thariq bin Ziyad. Kalau sejarah-sejarah itu dibaca sekarang ini tanpa memperhatikan konteks sosiologisnya, kan jadi problem. Jadi saya kira yang harus dibantu di pesantren adalah memberikan resources baru, teks-teks baru, rujukan baru dan kemudian membaca keadaan sosiologis yang sesuai dengan zaman, sehingga wawasan pesantren bisa berkembang. Terima kasih Pak Jamhari atas kesempatan wawancara ini.

4

tidak-ada-tempat-terorisme-dalam-islam  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you