Page 9

±

±

CMYK

±

CMYK Lampung post MINGGU 22 Juli 2012

WAWANCARA ±

DJADJAT SUDRADJAT

SETIAP kali puasa Ramadan tiba, bentangan panjang “film” masa kecil seperti hadir kembali. Semuanya menjadi piuha­n peristiwa yang menghadirkan kerinduan belaka. Kerinduan pada suasana batin puluhan tahun silam. Ada sepotong adegan ketika surau-surau dibersihkan para tetua, sementara anak-anak ngabuburit di hamparan sawah menguning, tidur-tiduran dari dangau satu ke dangau yang lain. Sementara dari surau-surau di beberapa kampung ayat-ayat Ilahi mulai dikumandangkan. Kami bergegas, berlarian, ketika waktu buka puasa hampir tiba. Juga muncul adegan antrean anak-anak menabuh beduk dengan nada khas kampung halaman, setelah salat tarawih usai. Kami belajar dari para senior kami. Cukup melihat dan mendengar saja. Tak ada bimbingan khusus. Kali lain, di sore hari, anak-anak sibuk membunyikan jeblukan bambu. Yang terbaik adalah jika bambu yang kira-kira panjangnya 2 meter dan berdiameter 20—25 cm itu menggelegar dan getarannya sampai kampung tetangga. Yang paling mengundang senyum lebar adalah ketika puasa memasuki likuran (tanggal ganjil dimulai malam ke-21). Surau dan langgar tempat tarawih kian ramai anak-anak. Karena makanan mulai membanjir. Secara bergiliran para ibu menyuguhkan makanan paling enak. Makanan yang sehari-hari tak kami rasakan. Dihidangkan di atas talam. Kami makan berebutan. Dan, dari film masa silam itu, di tengah malam ketika terang bulan, Kiai Abu Tolhah, ahli agama terpandang di desa kami, mengajak anak-anak berlatih pencak silat di sebuah pelataran. Dengan bertelanjang dada tubuh-tubuh kurus kami bergerak ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, seraya tangannya mengikuti gerakan-gerakan sang kiai. Keringat menderas dari seluruh tubuh. “Kesehatanmu ada pada tubuhmu. Dan, puasa yang sesungguhnya ada pada kesehatanmu, juga pikiranmu. Jika puasa tak membuat kamu jadi sehat, itu artinya salah,” katanya setelah latihan selesai. Saya tak terlalu paham kata-kata itu, awalnya. Masih Abu Tolhah, di hari Jumat, 15 menit sebelum khatib naik mimbar, ia menguraikan kandungan Alquran. Kali itu ia menguraikan makna puasa. Syahdan, ketika puasa Ramadan diwajibkan, cuaca di Tanah Arab sangatlah panas. Bumi jadi amat kering, siap membakar apa saja. Ada pula pemandangan kaum Jahiliyah mengasah alat-alat perangnya. Karena itu, mula-mula Ramadan juga berarti membakar atau mengasah. “Membakar kemungkaran dan mengasah ketajaman jiwa dan pikiran,” katanya seraya menambahkan betapa beruntungnya

±

±

umat ­Islam punya bulan yang istimewa yang bernama Ramadan. Ia semacam pesantren modern yang keren untuk membangun karakter kaum muslim. Tetapi, hanya sedikit yang bisa mendapatkan berkahnya karena gagal menjalankan Ramadan. Ia mengutip sabda Kanjeng Nabi Muhammad saw. “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari ibadah puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” *** MERUJUK pada aspek historis Islam, Ramadan memang bulan penuh berkah, penuh keistimewaan. Bulan ketika pertama kali Alquran diwahyukan kepada Muhammad saw. Kali lain, Jibril turun ke bumi menemui Nabi untuk mengajak tadarus bersama. Di bulan ini pula Tuhan menurunkan kitab-kitab agama Samawi yang lain, seperti Zabur, Taurat, dan Injil. Bukankah ini juga sebuah penanda, mestinya umat dari “keluarga besar” Ibrahim as. bisa bersatu? Membangun persaudaraan. Beribu kali makna Ramadan diulas dan dibahas oleh para penceramah agama setiap bulan suci tiba. Betapa ia bulan pelatihan kepribadian yang paling lengkap. Menggabungkan kedisiplinan beribadah kepada Sang Pencipta, juga sesama ciptaan-Nya, porsinya sangat seimbang. Saya sependapat dengan banyak pihak yang menginginkan ada korelasi antara puasa dan perilaku keseharian bangsa ini yang ma­ yoritas muslim. “Puasa tidak artinya jika bangsa ini tak puasa korupsi.” Atau “Puasa hanya ramai seremoni, tetapi sepi di hati.” Ia hanya festival tahunan: ramai, meriah, jadi kompetisi, tetapi meminggirkan substansi. Sementara refleksi, introspeksi, dan kontemplasi sebuah ikhtiar menuju substansi, terpinggirkan begitu rupa. Di negeri ini formalisme beragama meningkat pesat. Tetapi, korupsi, hipokrisi, dan kesenjangan sosial juga tinggi. Ada rasa malu muslimah yang tak memakai jilbab. Ada rasa jengah kaum muslimin yang belum berhaji. Tapi, banyak pula yang tak merasa ada aib yang menindih ketika mengambil hak orang lain: korupsi. Bahkan, pengadaan kitab Ilahi, Alquran, juga dana haji, pun dikorupsi. Bagaimana kita menjelaskannya? Bahkan, ada beberapa perempuan yang semula tak memakai jilbab, begitu ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi, muncul dengan balutan busana yang membungkus seluruh tubuh. Mereka seolah ingin mengubah citra dalam waktu sekejap dan memberi tahu publik, “Lihatlah saya orang baik-baik. Kenapa kalian masih terus menyelidik?” Mereka bersembunyi di balik penanda keislaman itu. Ramadan memang spesial. Karena itu sang Ilahi Rabbi menilai sendiri amalan ini. Kita mungkin tak bisa seketika mengubah Ramadan yang telah menjadi “festival tahunan”. Tetapi, aksi borong makanan, pakaian, atau benda-benda “aksesori” yang menimbulkan inflasi, apakah itu tidak masuk dalam kategori berlebih-lebihan? Bukankah berlebihan justru menjadi bagian dari nafsu yang harus dikendalikan selama Ramadan? Aspek pembersihan jiwa, yang akan membentuk kepribadian kaum muslimin, itulah justru yang utama. Inilah training kepribadian yang mestinya menjadi keutamaan dalam ibadah Ramadan ini. Jika tidak, Ramadan hanya menjadi “festival tahunan” yang tak punya korelasi dengan makna yang hakiki. Di era modern ketika ilmu pengetahuan berkembang begitu rupa dan rasionalitas makin dijunjung tinggi, Ramadan mestinya tak hanya memunculkan kerinduan masa silam terhadap kampung halaman seperti yang saya alami. Ia mestinya memberi harapan masa depan karena kualitas manusia yang setiap tahun ditempa karakternya lewat “pesantren modern” selama satu bulan penuh itu. ***

±

Sisa-sisa

re f l e k s i

‘Pesantren’

9

Laskar Pajang “PRODUKSI 500 ribu ton, Yes.” Begitu yel-yel yang diteriakkan siswa Sekolah Sugar Group dan pimpinan Sugar Group Companies (SGC) saat menyambut rombongan Lampung Post di aula PT Gula Putih Mataram (GPM), Rabu (18-7).

A

dalah M. Fauzi Toha, direktur utama SGC yang mempunyai empat perusahaan pengolah tebu yang tersebar di Lampung Tengah dan Tulangbawang. Keempatnya adalah PT Gula Putih Mataram (GPM), Sweet Indo Lampung (SIL), dan Indo Lampung Plantation (ILP) yang mengolah tebu menjadi gula. Serta Indo Lampung Destilery (ILD) yang mengolah tanaman perkebunan itu menjadi etanol. Sebagai pemegang komando pada perusahaan itu, Fauzi Toha mengaku mesti bisa menempatkan dirinya terhadap keluarga besar di perusahaannya, pemerintah dan warga di sekitar pabriknya. Padahal, Fauzi menyebut dirinya sebagai “Sisa-sisa Laskar Pajang”. Apa maksud dari sebutan terhadap dirinya hingga bisa menggerakkan seluruh infrastruktur dalam SGC itu. Berikut petikannya kepada kru Lampung Post yang terdiri dari Bambang Eka Wijaya (Pemimpin Umum), Djadjat Sudradjat (Wakil Pemimpin Umum), Gaudensius Suhardi (Pemimpin Redaksi), Iskandar Zulkarnain (Wakil Pemimpin Redaksi), dan Edi Haryanto (Manajer Iklan). Tulisan disarikan oleh Mustaan Basran. Mengapa Anda menyebut diri sebagai “Sisasisa Laskar Pajang”? Memang begitulah kenyataannya. Lo saya ini sudah berumur 62 tahun yang seharusnya tinggal menikmati masa tua bersama keluarga. Tapi memang karena saya diamanahkan untuk mengelola perusahaan ini dan harapan teman-teman yang bersama-sama membuka lahan perkebunan tebu. Makanya “Sisa-sisa Laskar Pajang” ini memang pantas bagi saya yang sudah menurun daya juangnya, tapi tetap tinggi semangat juangnya. Artinya, saya ini sudah memasuki usia pensiun, hanya semangat untuk berjuang saja yang membuat saya bertahan. Memang kamilah awalnya yang membuka lahan di Terbanggibesar dan modal saya cuma satu, senantiasa ber-kromo inggil atau santun dalam berbahasa dan sikap dengan para buruh yang telah duluan datang ke sini. Secara kultural, dengan bahasa Jawa halus yang dia pakai justru membuat lawan bicaranya, yakni buruh yang rata-rata dari suku Jawa bisa “membeli” hati mereka. Memang sejak kapan Anda berkecimpung dengan pertebuan dan pergulaan ini? Awalnya pada 1976, saat saya lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat itu pabrik gula PT Gunung Madu Plantation (GMP) menugaskan saya ke lahan ini yang dulu masih rimba belantara. Kami mulai membangun perkebunan tebu ini dari land clearing. Hingga kemudian selesai, mulailah menanam sembari pabrik terbangun di Terbanggi ini. Di sini ilmu kesarjanaan saya lambat laun mulai terpakai. Mulai dari bekerja di kebun, sampai kemudian mendapat promosi menjadi manajer departemen pada 1982. Nah saat itu, PT GMP yang dimiliki konglomerat gula asal Malaysia, Robert Kwok, pun menjual saham ke Anthony Salim. Tapi justru perusahaan merugi, salah satunya akibat penjarahan dari segala elemen. Mulai dari warga, pejabat bahkan karyawan ada juga yang ikut-ikutan menjarah. Pada 1992, taipan Liem Sioe Liong yang juga orang tua Anthony Salim meminta Kwok menyelamatkan perusahaan itu. Saya pun diminta mengelolanya, sebab yang mengetahui pembebasan lahan itu saya.

M. Fauzi Toha

Direktur Utama SGC

Mengapa Anda mau mengelola perusahaan merugi, sementara Anda mempunyai jabatan tinggi di grup usaha Kwok? Memang saat itu saya merasa berat untuk melaksanakan tugas mengelolanya. Karena memang saya sudah mempunyai kedudukan tinggi grup usaha Mr. Kwok. Bahkan salah satu kolega saya di GMP sempat mengatakan, “Sayang Pak, cuma Bapak satu-satunya orang Indonesia yang punya posisi tertinggi di GMP.” Tapi, ya itu. Rekan-rekan yang dulu bersama saya membuka lahan itu langsung datang memohon agar saya mau membantu mereka. Mereka bilang, “Saya ke sini yang mengajak Bapak, apa tega melihat kami susah sementara Bapak enak-enakan di sana. Tolonglah kami.” Dari sana, saya merasa ada tanggung jawab moral terhadap mereka. Dan memang benar saya yang mengetahui batas-batas lahan yang dibebaskan itu. Tak mungkin ada klaim atas lahan SGC, sebab kami sudah membuat batas yang jelas.

bantuan di bidang pendidikan dan kesejahteraan. Ini memang menjadi agenda yang dijadwalkan secara rutin melalui program corporate social responsibility (CSR). Makanya, jika anggaran itu diminta pemerintah untuk membantu membangun infrastruktur yang mestinya sudah dianggarkan. Kami khawatir akan mengurangi “jatah” CSR untuk warga di lingkungan pabrik. Sebab, hanya dari anggaran itu kami bisa membantu mereka. Hasilnya sekarang ternyata SGC bisa maju dengan predikat penyumbang 35% kebutuhan gula nasional. Apakah Anda puas dengan hasil ini? Kalau untuk puas, sebagai manusia biasa saya merasa belum. Ternyata berkecimpung dalam satu bidang, yakni perkebunan tebu, selama 36 tahun belum bisa menjawab secara perfect tentang tebu dan hasil olahannya ini. Ya itu, memang ilmunya Allah itu sangat luas dan tak terjangkau. Untuk produksi gula, kini SGC baru bisa mencapai 400 ribu—450 ribu ton per tahun. Kondisi ini menjadikan kami sebagai penyumbang 35% kebutuhan gula nasional. Tapi itu belum cukup. Seperti yel-yel yang kami teriakkan tadi “Produksi 500 ribu ton, Yes”, itulah target kami ke depan dan kemungkinan akan terus bertambah dengan mendayagunakan teknologi yang ada. Untuk itulah kami terus melakukan sejumlah riset tentang intensifikasi produksi gula mulai dari menari varietas baru, teknologi budi daya hingga teknologi pengolahan. Walau kini, SGC diakui sebagai pengolah tebu yang efisien di dunia. n

Batas jelas seperti apa? Lo, batasnya jelas. Sebab kami ini dikelilingi sungai di tiga penjuru, yakni Way Seputih, Way Terusan, dan Way Tulangbawang, serta pantai yang kini sebagian dibeli oleh PT CPB. Sementara untuk enklave berbatasan dengan Kampung Dente, Bakung, dan lainnya yang batasnya kami buat dengan kanal. Hingga kini kampungnya masih ada, jadi mana ada batas tanah yang kami geser. Dari banyaknya masalah terkait klaim lahan oleh orang itulah terpikir saya untuk memberi pelatihan bela diri terhadap karyawan dengan medatangkan Perguruan Merpati Putih. Semuanya B i o d ata harus ikut latihan, termasuk saya. Sebab, latihan bela diri ini menjadi modal Nama : Ir. H.M. Fauzi Toha untuk mempertahankan “periuk nasi” Kelahiran : Tulungagung, 11 April 1950 kami, yakni SGC. Kami berprinsip SGC Agama : Islam adalah “periuk nasi” kami, jadi apa pun Alamat : Jalan Penguin VII CK3 Sektor III, Bintaro, akan kami hadapi untuk mempertahJakarta Selatan ankannya. Ayah : H.M. Thoha Soofwan Makanya saya terus berganti-ganti : Hj. Crisny tugas, sebagai panglima perang, orang Ibu : Hj. Agustina Fauzi tua, dan atasan yang mengharuskan Istri berbeda-beda karakternya. Untungnya Anak : M. Rido Ficardo, S.Pi., M.Si. saya mendapat banyak “ilmu hidup” Silvy Noviana, S.E. dari orang tuanya. Kita jangan sekaliGita Farina, S.Si. sekali mengambil hak orang lain. Tapi Pendidikan : SDN 3 Tulungagung (1962) jika hak kita diambil orang, apa pun SMPN 1 Tulungagung (1965) harus diupayakan untuk mempertahSMAN 1 Tulungagung (1968) ankannya. Sekarang, bagaimana caranya untuk lebih memberikan manfaat kepada lingkungan pabrik ini? Itulah yang terus kami jalankan untuk mendekatkan diri dengan warga sekitar sehingga mereka mau mendukung keberadaan pabrik ini. Tiap tahun kami berupaya bisa memberi

±

Institut Pertanian Bogor (1976) Karier

: 1976—1993 PT GMP (Plant Manager) : 1994—1997 PT SIL dan PT ILP (Deputy GM) : 1997—2002 PT Tiara Adi Kencana, PT Kerry Plt. Service Indonesia (Technical Director) dan PT Mustika Sembuluh, PT Tungkai Sawit (Director) : 2002—sekarang SGC (Site Director) PT GPM, PT SIL, PT ILP, dan PT ILD

Pemimpin Umum: Bambang Eka Wijaya. Wakil Pemimpin Umum: Djadjat Sudradjat. Pemimpin Redaksi: Gaudensius Suhardi. Wakil Pemimpin Redaksi: Iskandar Zulkarnain, Heri Wardoyo (Non Aktif). Pemimpin Perusahaan: Prianto A. Suryono. Kepala Divisi Percetakan: Kresna Murti. Dewan Redaksi Media Group: Saur M. Hutabarat (Ketua), Bambang Eka Wijaya, Djadjat Sudradjat, Djafar H. Assegaff, Laurens Tato, Lestari Moerdijat, Rahni Lowhur Schad, Suryopratomo, Toeti Adhitama, Usman Kamsong. Redaktur Pelaksana: Iskak Susanto. Sekretaris Redaksi: M. Natsir. Redaktur: Alhuda Muhajirin, Amiruddin Sormin, D. Widodo, Heru Zulkarnain, Hesma Eryani, Sri Agustina, Sudarmono, Trihadi Joko, Umar Bakti, Wiwik Hastuti, Zulkarnain Zubairi. Asisten Redaktur: Adian Saputra, Aris Susanto, Isnovan Djamaludin, Kristianto, Lukman Hakim, Muharam Chandra Lugina, Musta’an, Nova Lidarni, Rinda Mulyani, Sri Wahyuni, Syaifulloh. Liputan Bandar Lampung: Hendrivan Gumay, Iyar Jarkasih, Rizki Elinda Sary, Sony Elwina Asrap, Vera Aglisa, Zainuddin. Biro Lampung Utara: Buchairi Aidi (Kabiro), Hari Supriyono. Lampung Barat: Henri Rosadi (Plt. Kabiro), Eliyah. Way Kanan: Yoel Lukasim (Kabiro), Mat Saleh. Lampung Tengah: Ikhwanuddin (Kabiro), Andika Suhendra (Wakabiro), M. Wahyuning Pamungkas, M. Lutfi, Agus Hermanto. Metro/Lampung Timur: Sudirman (Kabiro), Djoni Hartawan Jaya (Wakabiro), Chairuddin (Wakabiro), Agus Chandra, Eddy Ribut Herwanto, Suprayogi. Tulangbawang/Mesuji/Tulangbawang Barat: Muhammad Guntur Taruna (Kabiro), Juan Santoso Situmeang. Tanggamus/ Pringsewu: Mif Sulaiman (Kabiro), Sudiono, Sayuti, Widodo. Lampung Selatan: Herwansyah (Plt. Kabiro), Aan Kridolaksono, Usdiman Genti. Pesawaran: Meza Swastika, Erlian. Desain Grafis: DP. Raharjo. Penerbit: PT Masa Kini Mandiri. SIUPP: SK Menpen RI No.150/Menpen/SIUPP/A.7/1986 15 April 1986. Kadiv Sales & Marketing: Pinta R Damanik. Account Manager: Edy Haryanto, Marcomm: Syarifudin, Manajer Keuangan dan Akunting: Rosmawati Harahap. Manajer Sirkulasi: Indra Sutaryoto. Harga: Eceran per eksemplar Rp3.000 Langganan per bulan Rp75.000 (luar kota + ongkos kirim). Alamat Redaksi dan Pemasaran: Jl. Soekarno Hatta No.108, Rajabasa, Bandar Lampung, Telp: (0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi). Faks: (0721) 783578 (redaksi), 783598 (usaha). http://www.lampungpost.com e-mail: redaksi@lampungpost.co.id redaksilampost@yahoo.com. Kantor Pembantu Sirkulasi dan Iklan: Gedung PWI Jl. A.Yani No.7 Bandar Lampung, Telp: (0721) 255149, 264074. Jakarta: Gedung Media Indonesia, Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp: (021) 5812088 (hunting), 5812107, Faks: (021) 5812113. Kalianda: Jl. Sanggar Pramuka No. 9, Kalianda Telp/Fax: (0727) 322724. Pringsewu: Jl. Ki Hajar Dewantara No.1093, Telp/Fax: (0729) 22900. Kotaagung: Jl. Ir. H. Juanda, Telp/Fax: (0722) 21708. Metro: Jl. Imam Bonjol No.1, Telp/Fax: (0725) 47275. Menggala: Jl. Gunung Sakti No.271 Telp/Fax: (0726) 21305. Kotabumi: Jl. Pemasyarakatan Telp/Fax: (0724) 26290. Liwa: Jl. Raden Intan No. 69. Telp/Fax: (0728) 21281. Percetakan: PT Masa Kini Mandiri, Jl. Soekarno - Hatta No. 108, Rajabasa, Bandar Lampung Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan. DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK, WARTAWAN LAMPUNG POST DILENGKAPI KARTU PERS DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA ATAU MEMINTA IMBALAN DENGAN ALASAN APA PUN.

±

CMYK

±

±

CMYK

±

wonosobo ekspress  

wonosobo ekspress adalah kantor koran wonosobo

wonosobo ekspress  

wonosobo ekspress adalah kantor koran wonosobo

Advertisement