Page 1

KEPERAWATAN ANAK “KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK”


MAKALAH DISKUSI KELOMPOK KEPERAWATAN ANAK “KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK”

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI(UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2016

2


KATA PENGANTAR Puji syukur kami mengucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan kuasa-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah “Konsep Tumbuh Kembang Anak” dengan baik. Makalah ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan pembaca tentangpola, prinsip, ciri-ciri, serta faktor tumbuh kembang anakserta hal hal yang terkait dengannya. Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi pembaca dalam memperdalam atau menambah wawasan dan pengetahuan tentang “Konsep Tumbuh Kembang Anak”. Jika terdapat kata maupun penulisan yang salah, kami mohon maaf. Kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan agar makalah selanjutnya dapat kami kerjakan lebih baik lagi.

Tangerang Selatan,2016

Tim Penyusun

i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN 1.1

Latar Belakang ......................................................................................... 5

1.2

Rumusan Masalah .................................................................................... 5

1.3

Tujuan ....................................................................................................... 5

1.4

Metode Penulisan ..................................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN 2.1

Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan ............................................... 7

2.2

Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan .............................................. 7

2.3

Pola Pertumbuhan dan Perkembangan ..................................................... 9

2.4

Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan ............................................... 10

2.5

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan ............. 11

2.6

Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Anak ............................ 11

2.6.1

Definisi ............................................................................................ 11

2.6.2

Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan ..................................... 13

2.6.3

Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan ................................... 15

2.7

Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak ................................. 14

2.7.1

Jenis Kegiatan SDIDTK .................................................................. 16

2.7.2

Intervensi Dini Penyimpangan PerkembanganAnak ...................... 17

2.7.3

Stimulasi Tumbuh Kembang........................................................... 19

2.7.4

Empat Aspek Perkembangan yang Dipantau .................................. 20

2.7.5

Denver II ......................................................................................... 21

2.7.6

Stimulasi kecerdasan multiple ........................................................ 24

2.8

Jenis Bermain untuk Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 27

BAB III PENUTUP 3.1

Kesimpulan ............................................................................................. 32

3.2

Saran ....................................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 33

ii


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan dalam masa hidupnya. Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamik sepanjang kehidupan manusia. Dimana pertumbuhan bersifat kuantitatif (dapat diukur) sedangkan perkembangan bersifat kualitatif (tidak dapat diukur). Namun keduanya terjadi secara sinkron pada setiap individu. Perubahan yang terjadi pada satu fase menjadi dasar perkembangan pada fase berikutnya. Tahap tumbuh dan kembang terdiri atas beberapa tahap yang berkesinambungan mencakup masa neonatus, bayi, todler, pra- sekolah, sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa madya dan dewasa tua atau lansia. Dan pada setiap tahap memiliki ciri yang berbeda- beda. Seorang anak bukan “miniatur� orang dewasa merupakan karena anak kecil sangat khas dan mempunyai sifat yang berbeda dari orang dewasa. Walaupun pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut tahapan- tahapan tertentu, tapi setiap anak terlahir dengan keunikannya sendiri. Oleh karena itu, orang tua hendaknya tidak “menuntut� anak untuk bisa sama dengan anak lain yang dianggap ideal dalam masalah pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan dan perkembangan yang paling mencolok adalah pada masa kanak- kanak dan remaja. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah Definisi Pertumbuhan Dan Perkembangan? 2. Apa Saja Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan? 3. Bagaimana Pola Pertumbuhan dan Perkembangan? 4. Apa Saja Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan? 5. Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan? 6. Bagaimana Cara Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Anak? 7. Bagaimana Cara Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak? 8. Apa Saja Jenis Bermain untuk Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak?


1.3 Tujuan 1. Mengetahui Definisi Pertumbuhan Dan Perkembangan 2. Mengetahui Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan 3. Mengetahui Pola Pertumbuhan dan Perkembangan 4. Mengetahui Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan 5. Mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan 6. Mengetahui Cara Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 7. Mengetahui Cara Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 8. Mengetahui Jenis Bermain untuk Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 1.4 Metode Penulisan Pembuatan makalah ini menggunakan metode studi pustaka, yaitu mengumpulkan materi-materi dan informasi melalui buku-buku, jurnal, artikel ilmiah , dan sebagainya.


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel diseluruh bagian tubuh selam sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein baru,menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran,berat badan,tinggi badan,ukuran tulang,dan gigi,serta perubahan secara kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh. Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu yaitu secara bertahap berta dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif,psikososial maupun spiritual. Perkembangan Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh,meningkatkan dan meluasnya kapasitas seseorang melalui pertubuhan,kematangan atau kedewasaan, dan pembeajaran. Perkembangan manusia berjalan secara progresif,sistematus,dan berkesinambungan dengan perkembangan diwaktu yang lalu. Perkembanagn terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik,intelektual,dan emosional. Perkembanagn secara fisik yang terjadi adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual yang ditunjukkan

dengan

kemampuan

secara

symbol

maupun

abstrak

seperti

berbicara,bermain,berhitung. Perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku social lingkungan anak. 2.2 Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Menurut Moersintowati tahap-tahap pertubuhan dan perkembangan, antara lain:


1. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).Masa ini dibagi menjadi 2 periode,antara lain: 1) Masa embrio adalah sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu. 2) Masa fetus adalah sejak umur 9 minggu sampai kelahiran. Masa ini terdiri dari 2 periode: a. Masa fetus dini,sejak usia 9 minggu sampai trimester kedua kehidupan intra uterin,terjadi percepatan pertumbuhan ,pembentukan jasad manusia sempurna dan alat tubuh telah terbentuk dan mulai berfungsi. b. Masa fetus lanjut ,pada trimester akhir pertumbuhan berlangsung pesat dan adanya

perkembangan

funsi-fungsi.

Pada

masa

ini

terjadi

transfer

immunoglobulin (igG) dari darah ibu melalui plasenta. 2. Masa postnatal atau masa setlah lahir. Masa ini terdiri dari lima periode,antara lain: 1) Masa neonatal (0-28 hari) Terjadi adaptasi lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah,serta mulainya berfungsi organ-organ tubuh lainnya. 2) Masa bayi ,dibagi menjadi 2: a. Masa bayi dini (1-12 bulan),pertumbuhan yang sangat pesat dan proses pematangan berlangsung secara kontinyu terutama meningkatnya fungsi sistem saraf. b. Masa bayi akhir (1-2 tahun),kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan daam perkembangan motorik dan fungsi ekskresi.

3) Masa prasekolah (2-6 tahun) Pada saat ini pertumbuhan berlangsung stabil terjadi perkembangan dengan aktifitas jasmani yang bertambaha dan meningkatnya keterampilan dan proses berfikir. 4) Masa sekolah atau masa pubertas (wanita :6-10 tahun,laki-laki (8-12 tahun)


Pertumbuhan lebih cepat dibandingkat dengan masa prasekolah,keterampilan dan inetelektual makin berkembang ,senagng bermain berkelompok dengan jenis kelamin yang sama. 5) Masa remaja (wanita 10-18 tahun),laki-laki (12-20 tahun) Anak wanita 2 tahun cepat memasuki masa remaja dibangdingkan laki-laki . masa ini merupakan transisi dar periode anak ke dewasa. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan dan berat badan dan tinggi badan yang sangat pesat yang disebut adolescent growth spurt . Pada masa ini juga terjadi pertumbuhan dan perkembangan pesat dari alat kelamin dan timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder. 2.3 Pola Pertumbuhan dan Perkembangan 1. Pola pertumbuhan fisik yang terarah. Pola ini memiliki dua prinsip atau hukum perkembangan, yaitu : 1) Cephalocaudal atauhead to tail direction (dari arah kepala kemudian ke kaki). Pola pertumbuhan dan perkembangan ini dimulai dari kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke ekstermitas bawah lengan, tangan, dan kaki. Hal tersebut merupakan pola searah dalam pertumbuhan dan perkembangan. 2) Proximodistal atau near for direction. Pola ini dimulai dengan menggerakkan anggota gerak

yang paling dekat dengan

pusat/sumbu tengah kemudian

menggerakkan anggota gerak yang lebih jauh atau ke arah bagian tepi, seperti menggerakkan bahu terlebih dahulu lalu jari-jari. Hal tersebut juga dapat dilihat pada perkembangan berbagai organ yang ada di tengah, seperti jantung, paru, pencernaan, dan yang lain akan lebih dahulu mencapai kematangan. 2. Pola perkembangan dari umum ke khusus (Mass to specific atau to complex). Dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian ke daerah yang lebih kompleks (khusus), seperti melambaikan tangan kemudian baru memainkan jarinya atau menggerakkan lengan atas.


3. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan. Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan yang dapat digunakan untuk mendeteksi perkembangan selanjutnya : 1) Masa pralahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat 2) Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian adaptasi lingkungan 3) Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya serta memiliki kemampuan untuk melindungi dan menghindar dari hal yang mengancam dirinya 4) Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, dan minat serta penyesuaian terhadap teman sebaya. 5) Masa remaja, terjadi perubahan ke arah dewasa (pubertas) 4. Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dalam latihan (belajar). Terdapat saat dimana anak siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses kematangan. Kematangan yang dicapainya dapat dicapai melalui rangsangan yang tepat, masa itulah yang dikatakan sebagai “masa kritis� yang harus dirangsang agar mengalami pencapaian perkembanagan yang diharapkan. (Hidayat, 2009) 2.4 Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan 1. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung pada aspek kematangan susunan saraf pada manusia, dimana semakin sempurna atau kompleks kematangan saraf maka semakin sempurna pula proses pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi mulai dari proses konsepsi sampai dengan dewasa 2. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu adalah sama, yaitu mencapai proses kematangan, meskipun dalam proses pencapaian tersebut tidak memiliki kecepatan yang sama anatara individu yang satu dengan yang lain 3. Proses pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola kas yang dapat terjadi mulai dari kepala hingga seluruh bagian tubuh atau juga mulai dari kemampuan yang sederhana hingga kemampuan yang lebih kompleks sampai mencapai kesempurnaan dari tahap pertumbuhan dan perkembangan. (Hidayat, 2009)


2.5 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan 1. Faktor genetik Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Anak dapat mewarisi sifat tertentu. 2. Faktor lingkungan Merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan. Faktor lingkungan dibagi menjadi 2: 1) Faktor pranatal Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan. Misalnya: gizi ibu pada waktu hamil, toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, dan stres. 1) Faktor post-natal Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir. Secara umum dapat digolongkan menjadi: a. Lingkungan biologis, antara lain: Ras/suku bangsa, Jenis kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, fungsi metabolisme dan hormon. b. Faktor fisik, antara lain: cuaca/musim, sanitasi, keadaan rumah dan radiasi. c. Faktor psikososial, antara lain: stimulasi, motivasi belajar, kelompok sebaya, kasih sayang dan kualitas interaksi anak-orang tua. d. Faktor keluarga dan adat istiadat, antara lain: pekerjaaan, pendidikan, jumlah saudara, adat istiadat, norma dan agama.(Hidayat, 2009) 2.6 Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 2.6.1 Definisi Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan.


Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik(anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak ) selsel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel, jadi pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran beratbadan, tinggi badan, dan lingkar kepala.(IDAI, 2002) Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dari struktur / fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirkan, dan diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ – organ dan sistemnya yang terorganisasi (IDAI, 2002) Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialasi dan kemandirian (Depkes RI, 2005). Deteksi tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak secara dini, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan. Tenaga kesehatan juga akan mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan atau intervensi yang tepat. Terutama ketika harus melibatkan ibu/ keluarga.Ada tiga jenis deteksi dini tumbuh kembang, yakni sebagai berikut. 1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan status gizi kurang/ buruk dan mikro/ makrosefali. 2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan daya lihat, dan gangguan daya dengar. 3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autism, dan gangguan pemusatan perhatian, serta hiperaktifitas.


2.6.2 Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam hal besar, jumlah ukuran, atau dimensi, baik pada tingkat sel, organ, maupun individu. (Nursalam, 2008) Table

5.2

pelaksanaan

dan

alat

yang

digunakan

pada

deteksi

dini

penyimpanganpertumbuhan Tingkatan pelayanan Keluarga atau masyarakat

Puskesmas

Pelaksanaan

Alat yang digunakan

-

Orang tua Kader kesehatan Petugas TPA guru TK

-

KMS timbangan

-

Dokter Bidan Perawat Ahli Gizi Petugas lainnya

-

Tabel BB/TB Grafik linkar kepala Timbangan Alat ukur tinggi badan Pita pengukurlingkar kepala

-

1. Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan. Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi ana, apakah anak termaksud normal, kurus, kurus ekali, atau gemuk. Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi dini tumbuh kembang balita.Pengukuran berat badan (BB) 1) Menggunakan timbangan bayi 2) Menggunakan timbangan injak pada anak(Nursalam, 2008) 2. Pengukuran panjang badan (PB)/ tinggi badan (TB).


Untuk pengukuran panjang badan atautinggi badan, petugasharus memiliki keterampilan mengukur panjang badan dengan posisiberbaring sertamengukur tinggibadan dengan posisi berdiri. Penggunaan table BB/TB (Direktorat Gizi Masyarakat, 2002). 1) Ukur TB dan BB 2) Lihatkolompanjang/ tinggibadan anak yang sesuai dengan hasil pengukuran. 3) Pilihkolom berat badan untuk laki-laki (kiri) atau perempuan (kanan) sesuai jenis kelamin anak. Tentukan angkah berat badan yang terdekat dengan berat badan anak. 4) Dari angkaBB tersebut, lihatbagian ataskolom untuk mengetahui angka standar deviasi (SD). (Nursalam, 2008) 3. pengukuranLingkar kepala anak. Tujuan pengukuran lingkarkepala adalah untuk mengetahui lingkarkepala anak apakah berada dalam batas normal atau diluar batas normal. Jadwal pengukuran Lingkar kepala disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak berusia 0-11 bulan pengukuran dilakukan setiap 3 bulan, dan untuk anka berusia12-72 bulan pengukuran dilakukan setiap 6 bulan.Cara mengukurlingkar kepala 1) Lingkarkan pengukuran kepala melewatidahi, menutupi alis mata, di atas kedua telinga, dan begian belakang kepala yang menonjol, lalu tarik agak kencang. 2) Baca angka pada pertemuan dengan angka 0 3) Tanyakan tanggal lahir bayi/ ana, hitungusiabayi/ anak 4) Hasil pengukuran dihitung pada grafiklingkar kepalamenurut umur dan jenis kelamin anak 5) Buat garis yang menghubungkan antara pengukuran lalu dengan sekarang Interpretasi.: 1) Jika ukuran LK di dalam jalur hijau, maka LK anak anak dikatakan normal 2) Jika ukuran LK di luar jalur hijau, maka LK anak dikatakan tidak normal ( makrosefal diatas jalur hijau dan mikrosefal di bawah jalur hijau). Segera rujuk ke RS jika menemui anak dengan LK di luar jalur hijau. (Nursalam, 2008)


2.6.3 Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan 1. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Denver Prescreening Developmental Questionnaire (PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari beberapa dokter spesialis anak, psikiater anak, neurolog, THT, mata dan lain-lain pada tahun 1986.22 Kuesioner ini untuk skrining pendahuluan bayi umur 3 bulan sampai anak umur 6 tahun yang dilakukan oleh orangtua. Setiap umur tertentu ada 10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan anak, yang harus diisi (atau dijawab) oleh orangtua dengan ya atau tidak, sehingga hanya membutuhkan waktu 10-15 menit (lihat lampiran).22 Jika jawaban ya sebanyak 6 atau kurang maka anak dicurigai ada gangguan perkembangan dan perlu dirujuk, atau dilakukan skrining dengan Denver II. Jika jawaban ya sebanyak 7-8, perlu diperiksa ulang 1 minggu kemudian. Jika jawaban ya 9-10, anak dianggap tidak ada gangguan, tetapi pada umur berikutnya sebaiknya dilakukan KPSP lagi.22 Untuk memperluas jangkauan skrining perkembangan Frankenburg dkk,. (1990) menganjurkan agar lebih banyak menggunakan PDQ, karena mudah, cepat, murah dan dapat dikerjakan sendiri oleh orangtua atau dibacakan oleh orang lain (misalnya paramedis atau kader kesehatan).20 Jika dengan PDQ dicurigai ada gangguan perkembangan, anak tersebut dirujuk untuk dilakukan skrining dengan Denver II yang lebih rumit, lama dan harus dilakukan oleh tenaga terlatih.20 Kuesioner ini sampai sekarang masih dianjurkan oleh Depkes untuk digunakan di tingkat pelayanan kesehatan primer (dokter keluarga,Puskesmas) sering disebut sebagai „buku hijauâ€&#x; berjudul Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita Depkes RI 1994 yang telah diuji coba di beberapa propinsi, tetapi tampaknya jarang dimanfaatkan. Bahkan beberapa dokter Puskemas tidak tahu adanya buku tersebut, atau tidak tahu cara penggunaannya karena tidak pernah diajarkan. (Siahaan, 2005) 2. Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) American Academic of Pediatrics (AAP) sejak 2001 merekomendasikan CHAT sebagai salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrum autistik


(autistic spectrum disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun, di samping PDDST (pervasive developmental disorder screening test) yang diisi oleh orangtua. CHAT dikembangkan di Inggris dan telah dipublikasikan oleh Cohen dkk,. sejak tahun 1992 serta telah digunakan untuk skrining lebih dari 16.000 balita. Walaupun sensitivitasnya kurang, AAP menganjurkan dokter menggunakan salah satu alat skrining tersebut. Bila dicurigai ada risiko autis atau gangguan perkembangan lain maka dapat dirujuk untuk penilaian komprehensif dan diagnostic (Siahaan, 2005) 2.7 Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik, mental, sosial, emosional dipengaruhi oleh gizi, kesehatan dan pendidikan. Ini telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian, diantaranya penelitian longitudinal oleh Bloom mengenai kecerdasan yang menunjukkan bahwa kurun waktu 4 tahun pertama usia anak, perkembangan kognitifnya mencapai sekitar 50%, kurun waktu 8 tahun mencapai 80%, dan mencapai 100% setelah anak berusia 18 tahun. Penelitian lain mengenai kecerdasan otak menunjukkan fakta bahwa untuk memaksimalkan kepandaian seorang anak, stimulasi harus dilakukan sejak 3 tahun pertama dalam kehidupannya mengingat pada usia tersebut jumlah sel otak yang dipunyai dua kali lebih banyak dari sel-sel otak orang dewasa. Program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) merupakan revisi dari program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) yang telah dilakukan sejak tahun 1988 dan termasuk salah satu program pokok Puskesmas. Kegiatan ini dilakukan menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat) dengan tenaga professional. Melalui kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan pertumbuhan anak seperti gizi buruk dapat dicegah, karena sebelum anak jatuh dalam kondisi gizi buruk, penyimpangan pertumbuhan yang terjadi pada anak dapat terdeteksi melalui kegiatan SDIDTK.


Selain mencegah terjadinya penyimpangan pertumbuhan, kegiatan SDIDTK juga mencegah terjadinya penyimpangan perkembangan dan penyimpangan mental emosional. Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada masa lima tahun pertama kehidupan, diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat) dengan tenaga professional kesehatan, pendidikan dan sosial). Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah yang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ibu/pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemapuan sosialisasi dan kemandirian. Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai “waktu� dalam membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Intervensi dini penyimpangan perkembangan adalah tindakan tertentu pada anak yang perkembangan kemampuannya menyimpang karena tidak sesuai dengan umurnya. Penyimpangan perkembangan bisa terjadi pada salah satu atau lebih kemampuan anak yaitu


kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian anak. 2.7.1 Jenis Kegiatan SDIDTK 1. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan 1) Pengukuran Berat Badan Terhadap Tinggi Badan (BB/TB) a. Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak, normal, kurus, kurus sekali atau gemuk. b. Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal DDTK. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih, yaitu tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan SDIDTK. 2) Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA) Tujuan pengukuran LKA adalah untuk mengetahui lingkaran epala anak dalam batas normal atau diluar batas normal. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dilakukan di semua tingkat pelayanan. 2. Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan 1) Skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Tujuan pemeriksaan perkembangan menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. 2) Tes Daya Dengar (TDD) Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. 3) Tes Daya Lihat (TDL) Tujuan TDL adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman penglihatan menjadi lebih besar. 3. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional


Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan gangguan secara dini adanya masalah emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan. 1) Deteksi dini masalah mental emosional pada anak pra sekolah. Bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/masalah mental emosional pada anak prasekolah 2) Deteksi dini autis pada anak pra sekolah. Bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur 18 bulan sampai 36 bulan. 2.7.2 Intervensi Dini Penyimpangan PerkembanganAnak Tujuan intervensi dan rujukan dini perkembangan anak adalah untuk mengoreksi, memperbaiki dan mengatasi masalah atau penyimpangan perkembangan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Waktu yang paling tepat untuk melakukan intervensi dan rujukan dini penyimpangan perkembangan anak adalah sesegera mungkin ketika usia anak masih di bawah lima tahun. Tindakan intervensi dini tersebut berupa stimulasi perkembangan terarah yang dilakukan secara intensif di rumah selama 2 minggu, yang diikuti dengan evaluasi hasil intervensi stimulasi perkembangan. 2.7.3 Stimulasi Tumbuh Kembang Stimulasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Stimulasi tumbuh kembang anak dapat dilakukan oleh setiap orang yang berinteraksi dengan anak, mulai dari ibu, ayah, pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh


kembang anak bahkan gangguan yang menetap. Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah meliputi setiap aspek perkembangan, yaitu: 1. kemampuan motorik / gerak kasar 2. kemampuan motorik / gerak halus 3. kemampuan bicara dan bahasa, serta 4. kemampuan sosialisasi dan kemandirian Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang. 2. Selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru tingkah laku orang-orang yang terdekat dengannya. 3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak. 4. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi, menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman. 5. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak, terhadap keempat aspek kemampuan dasar anak. 6. Gunakan alai bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada di sekitar anak. 7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan. 8. Anak Selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya. 2.7.4 Empat Aspek Perkembangan yang Dipantau 1. Gerak kasar atau motorik kasar Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri, dan sebagainya. 2. Gerak halus atau motorik halus Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjumput, menulis, dan sebagainya.


3. Kemampuan bicara dan bahasa Aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya 4. Sosialisasi dan kemandirian Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan setelah bermain), berpisah dengan ibu / pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya. 2.7.5 Denver II Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). DDST adalah salah satu metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Waktu yang dibutuhkan antara 15 – 20 menit. Tujuan Adapun tujuan dari DDST II antara lain sebagai berikut : 1. Mendeteksi dini perekembangan anak. 2. Menilai dan memantau perkembangan anak sesua usia (0 – 6 tahun) 3. Salah satu antisipasi bagi orang tua 4. Identifikasi perhatian orang tua dan anak tentang perkembangan 5. Mengajarkan perilaku yang tepat sesuai usia anak Aspek Perkembangan yang dinilai Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai antara lain sebagai berikut : 1. Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 2. Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otototot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.


3. Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan. 4. Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh Pelaksanaan DDST II (Margaglio T, 1991) Tahap Pengkajian 1. Kaji pengetahuan keluarga/ anak mengenai DDST II 2. Kaji pengetahuan tentang tumbang normal dan riwayat social 3. Tentukan/ kaji ulang usia kronologis anak

Tanda item penilaian 1. O = F (Fail/gagal) Bila anak tidak mampu melakukan uji coba dengan baik, ibu/pengasuh memberi laporan anak tidak dapat melakukan tugas dengan baik 2. M = R (Refusal/menolak) Anak menolak untuk uji coba. 3. V = P (Pass/lewat) Apabila anak dapat melakukan uji coba dengan baik, ibu/pengasuh memberi laporan tepat/dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukan dengan baik. 4. No = No Opportunity Anak tidak punya kesempatan untuk melakukan uji coba karena ada hambatan, uji coba yang dilakukan orang tua. Cara pemerikasaan DDST II 1. Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akandiperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas


2. Buat garis lurus dari atas sampai bawah berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir 3. Uji semua item dengan cara : 1) Pertama pada tiap sektor, uji 3 item yang berada di sebelah kiri garis umur tanpa menyentuh batas usia 2) Kedua uji item yang berpotongan pada garis usia 3) Ketiga item sebelah kanan tanpa menyentuh garis usia sampai anak gagal 4. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F. Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites.

1) Abnormal a. Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih b. Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . 2) Meragukan a. Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b. Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada

sektor

yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 3) Tidak dapat dites a. Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. Interpretasi dari nilai Denver II 1. Advanced


Bila anak mampu melaksanakan tugas pada item disebelah kanan garis umur, lulus kurang dari 25% anak yang lebih tua dari usia tersebut. 2. Normal Bila anak gagal/ menolak tugas pada item disebelah kanan garis umur, lulus/gagal/menolak pada item antara 25-75% (warna putih). 3. Caution Tulis C pada sebelah kanan blok, gagal/menolak pada item antara 75-100% (warna hijau). 4. Delay Gagal/menolak item yang ada disebelah kiri dari garis umur.


2.7.6

Stimulasi

kecerdasan multiple Kecerdasan multipel

(multiple

inteligensia)

adalah

berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain: verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran

dalam

kalimat-

kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical– mathematical (kemampuan menggunakan

logika-

matematik

dalam

memecahkan masalah),

berbagai

visual

spatial

(kemampuan berpikir tiga dimensi),

bodily-

kinesthetic

(ketrampilan

gerak, menari, olahraga), musical

(kepekaan

kemampuan dengan melodi,

dan

berekspresi

bunyi,

nada, irama),


intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kecerdasan Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. a. Keturunan Seorang anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan terus menerus.Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan balita. b. Lingkungan Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.

Cara Intervensi Kecerdasan Multipel Pada Bayi a. Kecerdasan berbahasa verbal Intervensi dan stimulasi dengan mengajak bernyanyi atau bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll. Pada umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain „cilukbaâ€&#x;, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk. Pada usia 6 – 9 bulan distimulasi dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng. Umur 9 – 12 bulan


ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola. b. Kecerdasan emosi inter- personal Intervensi dan stimulasi dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, meminjamkan mainan, belajar bersalaman dengan orang lain (saat usia 9-12 bulan), mengenalkan orang baru dll. c. Kecerdasan emosi itra-personal Intervensi dan stimulasi dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll. Stimulasi anak anda dengan mengajak selalu tersenyum dan tertawa. jkauhkan kata kasar, sikap emosional, bertengkar atau adu mulut di depan atau dapat di dengar dan dilihat bayi. d. Kecerdasan naturalis Dapat dilakukan dengan bercerita dengan gambar, benda, alam dan kegiatan sekelilingnya. Ajaklah bayi tertawa dan bersenang-senang dengan kejadian dan peritiwa di sekitarnya. Setiap benda yang ada dilingkungan dapat dijadikan sumber interaksi bayi untuk belajar mengenal lingkungan dan belajar berkomunikasi e. Kecerdasan logika-matematis Intervensi dan stimulasi dengan bernyanyi dan bercerita dengan angka, terumatama angka satuan 1-10. Seperti menghitung benda-benda disekitarnya, bernyayi satu-satu aku sayang ibu dll. f. Kecerdasan visual-spatial Intervensi dan stimulasi dengan mengamati gambar atau foto terutama bentuk wajah orang atau kartun yang lucu. Berceritalah dengan kata-kata atau kalimat panjang dengan gambar yang cukup besar dilihat atau benda atau lingkungan dan peristiwa alam. Menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok seperti lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih, benda-benda berbunyi. g. Kecerdasan gerak tubuh Intervensi dan stimulasi (motorik kasar) pada sia 6-8 bulan merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan. Usia 9 -12 bulan ditambah stimulasi memasukkan


mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan. Bila terjadi keterlambatan tidak bolak balik atau tidak duduk merangkak sesuai usia 6-8 bulan, menunjukkan minimal keterlambatan ringan. Dapat dilakukan stimulasi keseimbangan dan vestibularis dengan berenang, terapi bola dan bermain ayunan. h. Kecerdasan musikal Intervensi dan stimulasi dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada. Biasakanlah saat berkomunikasi atau kontak dengan anak seperti saat ganti popok, mandi atau menyuap makan selalu bernyayi. 2.8 Jenis Bermain untuk Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Anak bermain pada dasarnya agar ia memperoleh kesenangan, sehingga tidak akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makan, perawatan dan cinta kasih. Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan

sensoris-motorik,

perkembangan

sosial,

perkembangan

kreativitas,

perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995). Sebelum memberikan berbagai jenis permainan pada anak, maka orang tua seharusnya mengetahui maksud dan tujuan permainan pada anak yang akan diberikan, agar diketahui perkembangan anak lebih lanjut,mengingat anak memiliki berbagai masa dalam tumbuh kembang yang membutuhkan stimulasi dalam mencapai puncaknya seperti masa kritis,optimal dan sensitive. Untuk lebih jelasnya dibawah ini terdapat beberapa fungsi bermain pada anak diantaranya : 1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik Fungsi bermain pada anak ini adalah dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan rangsangan taktil,audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik akan meningkat.Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari kemampuan visualnya akan lebih


menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu yang baru dilihatnya.Demikian juga pendengaran,apabila sejak bayi dikenalkan atau dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran dikemudian hari anak lebih cepat berkembang dibandingkan tidak ada stimulasi sejak dini. 2. Membantu Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam permainan,sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya. 3. Meningkatkan Sosialisasi Anak Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak, menjadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang lain. 4. Meningkatkan Kreatifitas Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan. 5. Meningkatkan Kesadaran Diri Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari


individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain. 6. Mempunyai Nilai Terapeutik Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya. 7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh dilanggar. Klasifikasi BermainBerdasarkan Isi Permainan 1) Social affective play Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenagan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya dan/atau orang lain.permainan yang biasa dilakukan adalah “ciluk ba� berbicara sambil tersenyum/tertawa, atau sekedar memberikan tangan pada bayi dan menggenggamnya tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan tertawa. 2) Sense of pleasure play Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunung atau benda-benda apasaja yang dapat dibentuknya dengan pasir. Bias juga dengan menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan, misalnya memindahkan air ke botol, bak atau tempat lain. Ciri khas permainan ini adalah anak akan semakin lama semakin asyik bersentuhan dengan alat permainan ini dan dengan permainan yang dilakukan sehingga susah dihentikkan. 3) Skill play


Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan ketrampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Misalkan bayi akan trampil memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dan anak trampil naik sepeda. 4) Games atau permainan Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan dan/skor. Permainan ini bias dilakukan oleh anak sendiri dan/ atau temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern. Misalnya : ular tangga, congkla, puzzle,dll. 5) Unoccupied behavior Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjitjinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja atau apa saja yang ada disekelilingnya. Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan situasi atau objek yang ada disekelilingnya yang digunakannnya sebagai alat permainan. Anak tampak senang, gembira dan asyik dengan situasi serta lingkungannya tersebut. 6) Dramatic play Sesuai dengan sebutannya pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang lain melalui permainan. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa, misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakanya, dan sebagainya yang ia tiru. Berdasarkan Karakter Sosial 1) Onlooker play Pada jenis permainan ini anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam permainan, jadi, anak tersebut bersifat pasif, tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan yang sedang dilakukan temanya. 2) Solitary play Pada permainan ini, anak tampak berada dalam kelompok permainan tetapi anak bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya, tidak ada kerja sama, atau komunikasi dengan teman sepermainan.


3) Parallel play Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi antara satu anak dengan anak yang lain tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak yang satu dengan anak yang lain tidak ada sosialisasi satu sama lain. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak usia toddler.

4) Assosiatif play Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak yang lain, tetapi tidak terorganisasi tidak ada pemimpin atau yang memimpin permainan, dan tujuan permainan tidak jelas. Contoh bermain boneka, bermain hujan-hujanan, bermain masak-masakan. 5) Cooperative play Aturan permainan dlam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, juga tujuan dan pemimpin permainan. Anak yang memimpin permainan mengatur dan mengarahkan anggotanya,untuk bertindak dalam permainan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola.


BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses perubahan yang terjadi pada setiap makhluk hidup. Perubahan yang terjadi pada seseorang tidak hanya meliputi apa yang kelihatan seperti perubahan fisik dengan bertambahnya berat badan dan tinggi badan, tetapi juga perubahan (perkembangan)dalam segi lain seperti berpikir, emosi, bertingkah laku, semua anak-anak tumbuh melalui suatu tahapan pertumbuhan dan perubahan fisik, kognitif, dan emosional yang dapat diidentifikasi. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal dapat dicapai dengan dukungan faktor intrinsik dalam hal ini genetic yang merupakan blueprint pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kelainan genetik dapat mempengaruhi pertumbuhan anatara lain akondroplasia, sindrom down, sindrom marfan dan lain-lain. Selain itu, faktor ekstrinsik yaitu lingkungan (biologis, fisik, psikososial, keluarga dan sosial ekonomi) yang baik dan a\saling berkaitan satu sam lain akan mempengaruhi pola perkembangan anak pada akhirnya. Setiap anak memiliki potensi untuk tubuh dan berkembang. Penilaian dan pemantauan terhadap tumbuh kembang anak merupakan salah satu cara untuk mendukung pencapaian pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 3.2 Saran Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman tentang Sistem Termoregulasi. Dan apabila terdapat kekurangan dalam penulisan makalah kami harapkan kritik dan saran.


DAFTAR PUSTAKA Ariyanti,fitri,dkk. 2006. Diary tumbuh kembang anak. Bandung:Read Publishing Huouse. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : Depkes RI Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika Nursalam. (2008). Ilmu kesehatan anak. Jakarta : Salemba Medika Perry & Potter.(2009). Fundamental Keperawatan Ed 4.Jakarta : EGC Siahaan, R. (2005). Pelaksanaan Program Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita di Posyandu. http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index. Diakses tanggal 14 juni 2010 Sri Astuti. (2005). Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayananan Kesehatan Dasar. Jakarta : Departemen kesehatan Republik Indonesia Stuart, Gail W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta : EGC Supartini, Yupi. (2007). Konsep Dasar Keperawatan Anak.Jakarta : EGC

Makalah Tumbuh Kembang Anak  
Makalah Tumbuh Kembang Anak  
Advertisement