Issuu on Google+

“ LUMPIA ” Bukan Anak Kandung Semarang

“ BERJILBAB ” Tapi Telanjang Rp 3.000 SWARA Semarang @swarabanget

swarabanget@gmail.com www.swarasemarang.com

MINGGU II MARET 2014 | Terbit 32 Halaman | Redaksi (024) 3518359, Faks (024) 3516531 | Iklan & Pemasaran (024) 3516531, Faks (024) 3512771

GILA BOLANYA SEMARANG H CA FOTO: ILUSTRASI


COVER SWARA/DOK

2

Jersey MU dan Arsenal Dibikin di Semarang Produk jersey, jaket, hingga scarf tim sepakbola dunia ada yang dibuat dari Indonesia. Kebanyakan dari produk-produk tersebut diproduksi di sentra produk apparel di Semarang dan Boyolali.

B

ila Anda datang ke kandang Arsel di Emirates Stadium maupun MU di Old Trafford, Anda akan menemukan produkproduk made in Indonesia seperti kaos jersey. “Garmen-garmen di Semarang dan Boyolalu memang memasok produksinya ke mancanegara,” kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat. Ade mengatakan, beberapa produsen garmen asal Boyolali seperti PT Pan Brothers Tbk termasuk PT Sritex, sudah langganan memproduksi kaoskaos olahraga seperti sepakbola dan mengekspornya ke berbagai negara. Ia juga menyebut beberapa perusahaan apparel Semarang secara berkala mengekspor hasil karyanya ke daratan Eropa.

Bidikan pasar produk-produk tersebut mayoritas ditujukan ke negaranegara di Eropa. Namun bukan khusus dipakai untuk para pemain klub dunia, melainkan untuk produk para fans atau pendukung tim-tim kesayangan mereka, termasuk suporter Manchester United dan Arsenal. Ade belum memastikan apakah produk-produk garmen Semarang atau Boyolali itu bisa masuk ke Brasil, tuan rumah Piala Dunia 2014. Padahal, itu akan menjadi pasar yang sangat cerah. “Kalau ke Brasil kita nggak tahu bisa masuk apa tidak, karena kita dikenakan safeguard atau anti dumping (hambatan ekspor),” jelas Ade.

Bola Sepak

Selain kaus, produk bola sepak buatan Indonesia juga pernah dipakai dalam Piala Dunia. Produk bola asli Majalengka, Jawa Barat, pernah dipakai di Piala Dunia 1998 di Perancis. Ketua Umum Asosiasi Industri Olahraga Nasional Indonesia (Asioni) Irwan Suryanto yang juga pemilik PT Sinjaraga Santika Sport (Triple S) ini mengatakan, perusahaannya menjual bola saat itu seharga 8 dolar AS (kurs sekarang Rp 92.544) per buah. “Harga segitu sudah sangat besar,” katanya.

Menurut Irwan, bola Triple S adalah satu-satunya bola yang memiliki sertifikat standard FIFA. Hal ini lah yang membuat bola asal Majalengka bisa diakui di pasar ekspor. Tahun ini, Irwan kembali mengirimkan 1 juta buah bola untuk gelaran Piala Dunia 2014 Brasil. Namun bukan untuk dipakai di dalam pertandingan melainkan hanya untuk acara-acara pendukung seperti sponsor, merchandise, dan lain sebagainya. Gelaran akbar sepakbola ini menjadi ladang uang bagi Irwan. Setidaknya, setiap 2 tahun sekali dia meraup keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Karena selain memasok untuk Piala Dunia, Irwan pun memasok untuk Piala Eropa, yang digelar berselang dua tahun dengan Piala Dunia.

Sepatu Bola

Meski menggunakan merek asing, namun produk sepatu buatan Indonesia banyak dipakai pemain sepakbola internasional. Banyak pemain bola di Liga Inggris dan Spanyol memakai sepatu buatan Indonesia. “Kita ada beberapa pabrik yang buat khusus untuk mereka,” kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia Eddy Widjanarko.

Namun Eddy enggan menyebutkan siapa contoh pemain dunia yang memakai sepatu buatan Indonesia. Menurutnya tak sedikit pemain di Liga Inggris dan Liga Spanyol yang menggunakan sepatu buatan Indonesia sejak lama. “Klub-klubnya banyak sekali itu, memang produksinya itu di Indonesia, terutama yang Adidas dan Nike,” imbuh Eddy. Sepatu yang dipakai pemain bola internsaional punya spesifikasi khusus, sesuai pesanan atlet atau pihak terkait. Produsen sepatu di Indonesia tugasnya membuatkan sepatu-sepatu pesanan tersebut. “Misalnya Cristiano Ronaldo. Sepatunya itu dipakai Ronaldo, tapi dia juga produksi untuk market, dan itu produksi Indonesia semua,” jelas Eddy. Produsen sepatu di Indonesia telah banyak memasok produk-produk sepatu olahraga selama lebih dari 10 tahun ke seluruh dunia. “Kurang lebih selama 1416 tahunan kita sudah kirim,” kata Eddy. Indonesia selama ini sudah menjadi tempat riset untuk pembuatan sepatusepatu olahraga internasional. Hasilnya tak sedikit dipakai atlet internasional seperti pemain-pemain sepakbola di Liga Inggris, Spanyol, atau bahkan di Piala Dunia 2014 nanti. Arief Firhanusa


COVER

3

SWARA/DOK

Manchester United ala Thamrin

Mengawinkan fanatisme sepakbola dengan citarasa makan sesungguhnya tidak mudah. Tapi akan jadi gampang bila klub Manchester United yang jadi ‘tulang punggung’-nya. ANDA pecinta MU? Kalau iya, datanglah ke Waroeng MU di Jalan Thamrin Semarang. Bukan sembarang warung, di

sini tersaji hal-hal yang berbau Manchester United, dari telapak meja, menu makanan dan minuman, hingga menonton sepak terjang pemain United di meja makan. Tempat nongkrong bagi fans MU ini mulai ramai sejak dibuka pada 23 Juni 2012. Maklum saja, Manchester United menjadi magnet di sana. Warna merah dan emas mendominasi gerai makan berkapasitas 70 pengunjung ini, sesuai warna kebanggaan klub berjuluk “Setan Merah” tersebut. “Kebetulan kami juga penggemar klub Manchester United,” jelas Ivon Susanti, pemilik Waroeng MU. Seringkali warung ini menggelar acara nonbar. Dan tentu saja nonton bareng di depan layar lebar ini selalu pertandingan yang melibatkan MU. Seraya menonton, pengunjung yang kebanyakan tergabung dalam wadah United Indonesia bisa mengudap makanan. Hampir semua menu dikaitkan dengan MU. Nama-nama menu makanan di warung

itu cukup unik. Contohnya saja “old traffocado”, minuman yang diracik. Ada pula “ice cantonacino buble”, “manwester united” (mania wedang dan es puter). Untuk wedang, tersedia wedang ronde yang tersaji hangat dalam kuah jahe, plus bola-bola kenyal ronde berisi kacang. Sementara es puternya tersedia dalam beberapa rasa, yaitu durian, cokelat, vanila, dan stroberi. Sajian ini rata-rata dipatok dengan harga Rp 8 ribu. Untuk hidangan utamanya, Ivon merekomendasikan “manwester roasted chicken”. Sajian ini menawarkan chicken stuffed yang diolah seperti bebek peking. Kulit ayam terlihat berkilau emas dan renyah menawarkan kelezatan yang sulit ditolak. Kelezatannya bisa dicicipi seharga Rp 17 ribu per potong. Busby’s Chilli Beef juga tak kalah enak. Daging impor Australia berbalut tepung renyah ini disajikan dalam saus pedas ala Waroeng MU yang kental. Teksturnya empuk sekali. Kalau yang ini harganya Rp 25 ribu per porsi. Kalau ingin camilan ringan, coba saja Fried Cheese Prawn Cakwee yang menawarkan cakue isi udang dengan balutan mayones nan

lembut. Gerai ini melayani pengunjung mulai pukul 11.00-23.00. “Namun jika ada acara nonton bareng, kami buka hingga dini hari,” tuturnya. Fasilitas free WIFI serta LCD projector untuk nobar sudah cukup membuat betah pengunjung yang datang ke sini. Bisa dibayangkan seperti apa teriakan dan yel-yel yang menggema dari puluhan pecandu sepakbola tatkala nobar digelar. Masih sempatkah makan ketika tim kesayangan ketinggalan skor. Memang ada kernyit sedih di wajah, tetapi hidup harus terus berlanjut, dan makan tidak boleh ditinggalkan. Meski memikul misi MU, tapi terkadang Waroeng MU juga menggelar pertandingan persahabatan Timnas Indonesia, baik senior, U-23, maupun U-19. Menurut seorang waiter Waroeng MU, kegiatan nobar malam ini tidaklah resmi sebagaimana kegiatan nobar biasanya. “Kalau yang main MU kami kerjasamanya dengan United Army, sehingga pengunjung terorganisasi,” sebutnya. Arief Kurniawan


KOMUNITAS SWARA/DOK

4

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

K

alau Sabtu sore atau Minggu pagi Anda melintas di Taman KB, kemudian melihat puluhan remaja bergerombol di sisi Taman KB persis di belakang kantor gubernuran, nah itulah Fatinistic Semarang! Fans club penyanyi solo maupun grup band menjamur di mana-mana. Hampir setiap penyanyi punya fanbase. Bahkan sejumlah presenter macam Raffi Ahmad atau Billy “Dahsyat” punya fans. Namun, fans penyanyi Fatin Shidqia Lubis mungkin berbeda. Penggemar Fatin meluas hingga seluruh pelosok Nusantara, terorganisasi, dan punya pedoman pengorganisasian macam AD/ART. Di tengah berlimpahnya Fatinistic di sekujur Bumi Pertiwi, Fatinistic Semarang mencoba eksis melalui beragam kegiatan, mulai yang digariskan oleh Fatinistic Pusat, maupun aktivitas dadakan macam bhakti sosial. Saat banjir melanda Semarang, Januari silam, Fatinistic Semarang melakukan aksi kemanusiaan. Fatinistic Semarang – atau disingkat Fase – memiliki lebih dari seratus anggota. Mereka terdiri dari sebagian besar anak sekolahan dan kuliah, plus para pekerja, kuli bangunan, tukang jual sembako di pasar, pengangguran, pengamen, hingga guru dan wartawan. “Meski berbeda-beda latarbelakang, tapi hati kami sama, yaitu mendukung karir Fatin di dunia menyanyi,

dan terus mem-back up tiap kegiatan-kegiatan Fatin maupun Fatinistic Pusat,” cetus Herlambang, Ketua Fase, yang masih kelas 3 sebuah SMK di kawasan Banyumanik. Cara mendukung karir Fatin ini dilakukan dengan menonton konser-konser Fatin di dalam dan luar Semarang, membuat lingkar keamanan saat Fatin promo album di Semarang dan sekitarnya, juga turun ke jalan untuk melakukan aksi kemanusiaan. Mereka juga memuat kaus seragam berwarna biru muda, khas Fatinistic, dengan stempel “Fatinistic Semarang. Selain itu dibikin pula mug dan pin dengan logo Fatinistic. Saat Fatin promo album di Semarang, Desember tahun silam, Fatinistic Semarang juga total mendukung, termasuk membentuk regu pengaman.

Tidak Angin-anginan

Fatin menyelonong ke blantika musik Indonesia setelah menjuarai ajang pencarian bakat X Factor Indonesia sesi pertama. Rata-rata penggemarnya menyukai Fatin lantaran ia berbeda ketimbang penyanyi lain dalam melantunkan lagu. Suara Fatin spesisik dan sangat berkarakter, “Sehingga bila kita menutup kuping saja lekas kita tahu bahwa yang nyanyi itu Fatin.” Lontar

Ade, siswi SMK Muhammadiyah, Semarang. Senada, Endah, seorang TKW asal Kendal yang mengaku fans berat Fatin mengatakan bahwa vibrasi penyanyi yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA itu tak ada duanya di Indonesia, selain juga punya nilai plus karena berjilbab. “Suaranya membuat saya melupakan penyanyi-penyanyi lain di Indonesia. Jujur saya, dan banyak TKW di Singapura, langsung cinta pada pandangan pertama,” cetus Endah. Hanya, sebagaimana fans club penyanyi lain, Fatinistic juga berpotensi menciptakan lubang menganga bagi Fatin sendiri bila banyak memuji. Sebagaimana kita tahu, di media-media sosial maupun jejaring sosial macam Twitter dan Facebook, begitu selangit fans Fatin memuji idolanya tersebut. Sampai-sampai ada sekelompok orang yang menamai dirinya hater (pembenci) Fatin. “Saya berulang-ulang menekankan, jangan terlalu memuja seseorang, tapi tetaplah memuja Tuhan. Bila Fatin terlalu dipuji, maka itu justru tidak baik bagi karier Fatin sendiri. Kritiklah dia, dan berikan masukan bila harus diberi masukan. Misalnya penampilannya yang monoton, atau terlalu sering show sehingga suaranya tidak optimal lagi,” kata Arief Firhanusa, Penasehat Fatinistic Semarang. Cintya Herdiani


BISNIS

SWARA/DOK

5

Kue Istana Briliant, 60 hari Tak Basi

Bisnis “Matengan” Paling Menjanjikan di Semarang Bukan rahasia lagi jika

B

osan mengunyah roti atau kue yang itu-itu saja dan bikin eneg? Datanglah ke Istana Brilliant. Di sana terhampar kue-kue legit yang bisa membuat Anda ketagihan! Sepintas Istana Brilliant yang tempatnya di pojok Simpanglima menuju Erlangga itu mirip toko mainan anak lantaran banyak ornamen di bagian luar toko yang bicara seputar anak-anak, ditunjang bangunan yang mirip istana tempat bermain. Tetapi, di dalamnya begitu berlimpah makanan ringan yang lezat dan khas Semarang. Rasanya yang khas itu berupa roti dengan lapisan coklat, cukup padat dan tahan lama meski tanpa bahan pengawet. Ya, kata “mak nyus” pantas diucapkan Bondan Winarno dalam acara “Wisata Kuliner” TransTV ketika berkunjung ke Istana Brliant, belum lama ini. Nanda Junaidi, pemilik Istana Briliant, menunjukkan keunikan kuenya yang memiliki rasa khas dan tahan lama. Cake dibuat berlapis untuk melindungi dari udara dan sekaligus bentuk kue. Tak aneh memang jika Istana Briliant menjadi pusat perhatian. Bahkan, kue yang memiliki ketahanan hingga 60 hari tanpa bahan pengawet ini telah dicatat oleh MURI. Uniknya, selain mampu bertahan lama tanpa bahan pengawet, rasa kue tidak berubah. Dengan apa kue itu bisa awet? “Divakum. Sama sekali kita tidak memikirkan kekuatannya

sampai begitu lama. Karena waktu itu cuma 9-10 hari. Kami terus mencari ide. Akhirnya kami temukan alat. Nggak langsung, tapi melalui proses. 30 hari layak makan. 60 hari, layak makan. Dan sebetulnya sampai setengah tahun pun tak masalah. Tapi mulai mengering,” tutur Nanda. Ada empat macam rasa yang ditawarkan Istana Briliant. Coklat, keju, kismis, dan almon. Semuanya dilapisi coklat. “Karena dasar kekuatan kita di coklat. Jenis apapun dilapisi coklat,” aku pengusaha cake yang juga berbisnis galeri patung ini. Karena perkembangannya begitu bagus, dari empat jenis itu kemudian dikembangkan lagi dengan merk Browneo. Coklatnya hitam. Orang kenal biskuit Oreo. Di istana Briliant dibuat cake. Lapisannya dari coklat. Karena ada permintaan dari pelanggan, dibuat juga lapisan dari coklat sehingga ada dua jenis browneo, yakni cream dan coklat. Kue tiga rasa – cokelat, almion, dan keju – ini dijual seharga Rp 55.000. Untuk jenis coklat satu rasa dijual Rp 50 ribu. Harga ini sesuai tarf per 1 Januari 2007. Memang benar, rasanya khas, tidak nempel, dan tidak eneg meski memakannya berulang-ulang. Hasil Temuan Sendiri

Sukses Istana Briliant ini memang tak mudah. Nanda dan sang Istri, Cyntia Margeratta,

yang menjadi master resep kue khas Semarang ini telah mulai membuka usaha kue sejak 80-an. Mulanya bernama Luciana Cake yang buka di daerah Jagalan, Semarang Tengah. Di awal 90-an, setelah mencoba dan mencoba, Cyntia akhirnya menemukan formula yang tepat untuk citarasa kuenya. Ide menciptakan produk baru itu adalah dengan menggunakan coklat, bukan selai lagi. Proses penemuan resep oleh Cyntia didapatkan dari anugerah. Kini Nanda mengelola dua usaha toko kue. Luciana Cake di Jalan Thamrin 59 dan Istana Briliant di kompleks Simpanglima. Diakui Nanda, pengunjung ke Istina Briliant yang launching pada 21 September 2006 tidak begitu padat. Namun nama Istana Briliant sudah cukup dikenal, terutama wisatawan, termasuk pelancong dari mancanegara. Mereka beli untuk oleh-oleh dan titipan. Ada yang dikirim ke Hong Kong bahkan Australia. Pernah seorang turis dari Jepang membeli lebih dari 50 pak. Katanya mau dibawa langsung ke Jepang. Selain untuk oleh-oleh, kue Istana Briliant banyak dipakai untuk bingkisan-bingkisan pegawai instansi pemerintah maupun swasta menjelang hari raya. Beberapa selebritis bahkan telah mencicipi kue Istana Briliant. Cintya Herdiani

masyarakat Semarang suka jajan. Jadi kalau ada pertanyaan bisnis apa paling aman di Kota Lunpia ini, maka jawaban yang paling pas adalah kuliner alias makanan matengan. Coba tengok warung makan. Restoran yang mestinya berbeaya mahal pun kian merebak di Semarang. Jumlahnya kian tahun kian membengkak. Dibanding dengan bisnis lain yang cenderung agak stagnan untuk bertahan di kota Venesia van Java ini, bisnis kuliner di Semarang cenderung lebih aman. Sebagai pembanding, Semarang selalu dilewati konser artis-artis. Bahkan sampai seleksi Indonesia Idol pun di kotakota besar di Jawa, dan hanya Semarang yang tidak dijadikan tempat seleksi. Fakta lain, meski Semarang selalu hanya jadi ‘kota numpang lewat’ untuk bisnis entertainment, tapi tidak untuk bisnis makanan Dan bicara kuliner, Anda jangan ragu untuk melirik kota ini menjadi lahan berbisnis berbasis urusan perut. Contoh aneka makanan khas Semarang banyak yang populer dan dikenal oleh masyaraat Indonesia macam lunpia,wingko babat, bandeng presto, bakpia, Semarang bisa menjadi tolok ukur dan tanda bahwa selera masyarakat

Semarang untuk urusan lidah memang tak diragukan.

Kawasan Kampus Tak Luput Dilirik

Jika Anda tinggal di kawasan Banyumanik, Tembalang maupun Tlogosari, Anda bisa amati kini hampir tiap rumah yang berlokasi di pinggir jalan dan dilewati banyak orang hampir pasti rumah tersebut dijadikan ladang usaha. Dan bisnis serta usaha yang digeluti adalah bisnis makanan dan warung makan, kafe, toko roti, hingga nasi kucing. Hal ini tak lepas dari budaya masyarakat Semarang yang gemar jajan dan makan di luar. Hampir sebagian restoran maupun warung makan selalu dipadati pengunjung. Mereka masing-masing memilki pelanggan fanatik. Terlebih jika Anda berada di Tembalang. Tengoklah, jika dipersentase secara benar, maka bisnis yang paling mendominasi adalah kuliner. Dari jalan masuk Ngesrep atau Patung Kuda Diponegoro hingga kawasan Banjarsari dan menuju turunan Sigar Bencah, Anda akan disuguhi pemandangan ratusan warung makan, restoran, kafe hingga penjual angkringan yang mangkal di sepanjang jalan. Hasta MS

SWARA/DOK


GAYA

Berjilbab tapi ‘Telanjang’ BERJILBAB dengan niat rakus ingin tampil modis

itulah yang sering menjerumuskan. Karena seharusnya mengenakan busana jilbab tak hanya berfungsi sebagai hijab (penutup), namun lebih pada kewajiban mengenakan busana sesuai syariat Islam. Banyak muslimah menjadikan jilbab tak lebih dari selembar kain penutup kepala (khimar atau kerudung) tidak lagi sampai menutup dada . Mereka kenakan hanya menutup bagian kepala, itupun tidak sempurna tertutup yang tidak lagi memenuhi fungsinya untuk menutup (bukan membungkus) aurat, keindahan tubuh mereka yang sudah seharusnya ditutup.Mungkin mereka tidak paham untuk apa mereka berjilbab. Jilbab pun mengalami pergeseran fungsi dari penutup aurat menjadi sekedar tren dalam berbusana. Menjadi sekadar kelengkapan berbaju, yang digunakan justru untuk semakin mempercantik penggunanya. Jilbab menjadi hanya kain penutup kepala ala kadarnya, yang tidak sampai menutupi bagian dada. Lihatlah jika Anda berjalan di mal atau jalanan umum. Sering kita jumpai banyak remaja putri maupun wanita dewasa mengenakan jilbab kecil yang dililitkan ngepas di leher, yang justru semakin menampakkan jenjangnya leher si pemakai. Mengenakan selembar kain yang dikenakan dengan memperlihatkan sedikit rambut bagian depan, jipon (jilbab poni) istilah kerennya, dan ada juga yang memaki selembar kain yang sangat tipis transparan hingga bayang-bayang rambut pun terlihat.

Nah, itu baru bagian atas, belum lagi bagian bawahnya! Mengenakan celana jins dan kaos ketat menjadi padanannya, sehingga semua lekuk tubuh tetap terlihat. Dan ketika pemakainya sedikit membungkuk, terlihatlah punggung bagian bawah. Ada juga yang menjadikan kebaya sebagai padanan, tapi sengaja dipilih yang ukuran kecil dan ngepas di badan. Jika dulu istilah “berpakaian tapi telanjang”, tampaknya sekarang ada istilah baru: “berjilbab tapi telanjang”, Ini karena mengenakan jilbabnya belum benar!

memakai jilbab yang benar: Menutupi aurat  Jilbab lebar dan menutup dada  Jilbab longgar tidak menampakkan bentuk tubuh  Tidak tembus pandang  Tidak memakai riasan/make up tebal  Hasta MS, dari berbagai sumber

SWARA/DOK

Jilbab, pakaian yang disyariatkan Islam, belakangan menjadi tren bagi mereka yang ingin kelihatan muslimah, namun tetap modis.

6

Jadi di era informatif ini rasanya tidak ada alasan untuk mengatakan tidak tahu bagimana cara berjilbab yang benar. Saran saja, sebelum memutuskan memakai jilbab, alangkah lebih baik lebih dahulu : • Sempatkanlah beberapa menit untuk mendengarkan ceramah tentang jilbab • Sempatkanlah barang sejenak membaca buku tentang jilbab • Sempatkanlah sedikit waktu untuk browsing artikel tentang jilbab dari sumber yang benar Jadi alangkah indahnya jika diniatkann mengenakan hijab karena ingin menutup aurat. Jika terpeleset atau kesasar justru malah jadi menonjolkan aurat dan menjadi tontonan. Kini para remaja putri punya istilah keren untuk para pemakai hijab yang dikenal dengan sebutan “hijabersayo”. Sebuah ajakan yang hikmat, namun jangan sampai Anda ingin fashionable dengan memadupadankan busana jilbab agar terlihat chic, tetapi sayangnya pemilihan busana muslimnya malah konyol dan menarik perhatian umum. Memakai jilbab telah ada aturannya. Jilbab yang baik adalah yang sesuai tuntunan Islam. Bukan sesuai tuntutan mode atau tren. Mau tahu aturannya? Inilah syarat-syarat

Keuntungan Bisnis Cuci Mobil Nyaris Tak Ada Habisnya USAHA cuci mobil dan motor akan bisa maju dan ramai pelanggan, tentunya harus dijalankan dengan strategi bisnis yang tepat. Ada beberapa syarat umum untuk usaha cuci mobil dan cuci motor agar menarik.

Lokasi yang Tepat Lokasi yang tepat merupakan faktor penting yang mendukung lancarnya usaha cuci mobil dan motor. Lokasi ini tidak harus disuatu tempat yang tidak ada saingannya, tapi justru kalau bisa di sebuah jalan yang disana sudah banyak pesaing sesama usaha cuci mobil dan motor. Lokasi yang baik dan bagus akan mengurangi biaya marketing. Buatlah papan nama atau spanduk yang besar dan menarik perhatian, yang mudah dibaca dan diingat oleh target pasar. Promosi dan Komunikasi yang Menarik Hampir semua orang di level ekonomi manapun sangat menyukai program promosi. Orang juga

cenderung mau mencoba sebuah jasa (cuci mobil dan cuci motor ) apabila ada promosi yang menarik. Lakukan komunikasi yang berbeda dengan pesaing Anda. Buatlah promosi yang membuat orang penasaran. Misalnya dengan undian, atau hadiah kejutan, atau kreatifitas lain. Suasana Tunggu yang Nyaman Aturlah agar tempat usaha cuci mobil dan motor anda senentu saja, desain harus disesuaikan dengan target pasar yang anda bidik. Sediakanlah makanan kecil dan minuman ringan agar pelanggan yang menunggu dapat menikmati makanan dan minuman. Dan asiknya, ini tidak harus gratis. Pastikan ada koran, majalah atau televisi, music, agar tidak membosankan. Kualitas Harus Terjamin Pelanggan tentunya akan datang kembali, dan kembali dan kembali lagi bila kualitas jasa yang Anda

berikan dapat memenuhi ekspektasi mereka. Jadi anda harus dapat memastikan bahwa hasil cuci di tempat usaha cuci mobil dan motor anda sangat baik dan bersih. Pastikan setiap petugas cuci anda bekerja dengan standar yang Anda tentukan.

Pelayanan yang Sangat Baik Pelanggan di masa kini ini sangat memperhatikan pelayanan ini. Bahkan dibeberapa literatur menyebutkan bahwa pelayananlah yang membuat usaha Anda berbeda dan sulit dicontoh. Untuk itu, Anda harus benar-benar melatih seluruh karyawan Anda agar benar-benar mengerti soal service excellent ini. Service yang baik bukan sekedar memberikan senyuman, tapi harusmemberi solusi bagi pelanggan. Buatlah standar keramahan yang unik di tempat usaha cuci mobil dan motor Anda dari mulai greeting, hingga proses pelayanan yang cepat dan praktis. Ucapan terimakasih sangat penting untuk mengakhiri pelayanan. (cintya)


7

GAYA

Dari Minder, Kerja Impian Desainer

SWARA/DOK

K

eterbatasan fisik bukan halangan untuk terus berprestasi. Prinsip itu yang dipegang teguh oleh mahasiswa disabilitas asal Universitas Brawijaya (UB) Malang Siti Nur Lathifah dalam menggapai semua impiannya. Sejak berusia tujuh tahun, Siti kehilangan pendengarannya. Jatuh saat bermain sepeda membuat dara cantik berkerudung itu mulai mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Awalnya, bungsu dari empat bersaudara itu merasa minder dengan keadaaanya. Namun, motivasi dari sang bunda dan orang terdekatnya membuat Siti bangkit dan mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer terkemuka.

SWARA/DOK

“Dulu saya minder dan pemalu. Tapi ibu memberi semangat untuk berani sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang,” kata Siti, selepas acara Silaturahim Nasional Bidikmisi 2014, di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, belum lama ini. Meski menderita tuna rungu, Siti bertekad mengikuti pendidikan layaknya orang normal. Sayang, dia ditolak saat mendaftar di sebuah SMA umum dan akhirnya menjalani masa SMA di SLB Negeri Semarang. Nasib baik ternyata masih berpihak padanya. Tahun lalu, Siti diterima di jurusan Seni Rupa UB sekaligus mendapatkan beasiswa bidikmisi.

“Senang sekali dapat bantuan sehingga bisa meningkatkan prestasi. Saya memang suka menggambar dan membuat kerajinan tangan makanya pilih jurusan Seni Rupa. Apalagi di UB ada pusat studi dan layanan disababilitas (PSLD),” katanya. Dalam kesehariannya di kampus, putri pasangan Munawaroh dan Mulyono itu didampingi oleh pemandu yang merupakan mahasiswa UB. Dengan demikian, dia dapat memahami materi yang diberikan oleh dosen saat di kelas. “Awalnya saya sempat susah komunikasi dengan teman-teman lainnya karena tidak ada yang mengerti bahasa isyarat dan saya tidak bisa mengerti apa yang mereka sampaikan. Tapi sekarang sudah terbiasa karena teman-teman pun belajar untuk mengerti dan menggunakan bahasa isyarat juga,” tutur mahasiswi yang kerap menjadi model itu. Siti berharap, akan semakin banyak kampus yang memiliki PSLD, tidak hanya UB saja. Sehingga, para penyandang disabilitas lainnya juga bisa merasakan kesempatan yang sama seperti dirinya saat ini. Terakhir, dia pun mengajak temanteman disabilitas lainnya untuk terus berprestasi dan mengejar cita-cita mereka. Sebab, lanjutnya, keterbatasan bukan halangan tapi jadi motivasi untuk terus berkarya. “Penyandang disabilitas harus bersyukur. Harus yakin ada kelebihan di balik kekurangan. Jangan biarkan

kekurangan memutuskan harapan dan impian kita,” imbuhnya sembari tersenyum. Salah satu kelebihan Ifa – begitu ia biasa disapa – adalah parasnya yang cantik. Ia punya bakat modeling dengan talenta luar biasa bakat tersebut dimanfaatkannya dengan mengikuti berbagai kejuaraan. Alhasil berbagai kejuaraan modeling, baik tingkat lokal hingga nasional, berhasil dimenangkannya. Prestasi anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Mulyono dan Munawaroh yang tinggal di Jalan Medoho Raya Nomor 98 Semarang ini sebenarnya telah terlihat sejak kecil. Berkat dorongan kedua orang tuanya, yang menyekolahkannya ke Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) membuat bakat dara dengan tinggi 166 sentimeter bersinar. Hal tersebut dibuktikan dengan berhasil menyabet juara 3 saat mengikuti kejuaraan nasional festival dan lomba siswa nasional, di Nusa Tenggara Barat, Juli 2012. Ifa mengalahkan 33 finalis lainnya dari seluruh Indonesia. Meski menjuarai lomba, namun keterbatasannya sempat membuatnya tidak percaya diri. Tidak hanya menyandang tuna rungu dan tuna bicara, ifa yang terlahir dari keluarga tidak mampu ini berharap semangat dan kekurangan dirinya dapat menjadi inspirasi bagi teman senasibnya, agar terus berprestasi dalam keterbatasan. Arief Kurniawan


PSIS MANIA

Pemain Lokal Boleh Bermimpi

SWARA/DOK

KESEMPATAN berpayung

Pratama, serta pemain asal Garuda Taufik Marjuki. Pada rencana awal, PSIS akan menyertakan lima pemain magang dalam mengarungi Divisi Utama musim 2014. Ini adalah sebuah tradisi yang sudah berjalan setiap musim, di mana PSIS memberikan kesempatan kepada pemain terbaik dari 25 PS untuk berlatih dengan skuat utama. ‘’Kami tengah bicarakan dengan manajemen. Bila memungkinkan, akan kembali mencari pemain magang baru. PSIS telah memiliki bank data pemain dari 25 PS setelah pada akhir Desember 2013 lalu menggelar seleki lokal Semarang,’’ tutur Pelatih PSIS Eko Riyadi. Sejak musim lalu, tim kebanggaan warga Kota

SMNetwork/rif)

M

odal awal yang minim, memaksa PSIS harus mengencangkan ikat pinggang dalam mengarungi kompetisi Divisi Utama 2014. Kini Laskar Mahesa Jenar tak lagi dapat royal dalam hal belanja pemain, seperti di musim-musim sebelumnya. Mereka juga harus merelakan pemain bidikan lepas karena meminta nilai kontrak diluar jangkauan kantong manajemen. Sebut saja Rizky Yulian Saputra yang kini merumput bersama Persijap Jepara. Kemudian Saiful Amar yang berkostum PSCS Cilacap. Padahal keduanya merupakan punggawa musim lalu. Kebijakan dari PT Liga Indonesia terkait kuota pemain asing yang hanya dua, sedikit memperpanjang napas tim kebanggaan warga Kota Semarang. Anggaran belanja ekspatriat yang di musim-musim sebelumnya berjumlah tiga pemain dapat dialokasikan kepada keperluan lain. Untuk menekan biaya operasional, manajemen membuat kebijakan berbeda kepada para pemain. Mereka yang berasal dari Semarang tidak wajib tidur di mess. Selain gaji, Fauzan Fajri dkk diberikan uang makan, sehingga setiap harinya manajemen tidak berkewajiban memberikan makan tiga kali sehari. ‘’Untuk belanja pemain, kami dianggarkan sekitar Rp 2 miliar sampai Rp 2,5 miliar. Karenanya, kami harus beli pemain sesuai dengan anggaran yang ada. Tidak boleh pengeluaran lebih besar dari pemasukan,’’ ungkap Manajer Tim PSIS Wahyu Liluk Winarto. Awalnya, PT Mahesa Jenar Semarang menganggarkan Rp 3,5-4 miliar bagi PSIS selama semusim. Namun, karena pelaksanaan Divisi Utama mundur tiga bulan menjadi 15 April, anggaran membengkak mencapai Rp 5 miliar. Estimasinya, tiap bulan harus mengeluarkan sekitar Rp 300 juta. Digunakan untuk membayar gaji pelatih dan pemain, sewa mes, sewa lapangan dan lain-lain.

Saat masih diperbolehkan menggunakan APBD, klub-klub berlomba-lomba membeli pemain nomor wahid. Karenanya, sebesar apapun dananya, akan habis. Bahkan guyonan pun mengudara, klub yang daerahnya menggelontorkan uang rakyat paling besar, dialah yang akan memenangi kompetisi. Namun, sejak musim 2011/2012, seluruh klub profesional Indonesia, baik Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama tidak lagi diperbolehkan menggunakan APBD. Hal itu sebagai tindak lanjut dari keluarnya Permendagri Nomor 22 tahun 2011. Masing-masing klub dituntut mandiri dan profesional dalam mengelola tim. Kini, prestasi yang didapat tidak hanya diraih dengan mengandalkan teknik bermain di lapangan. Namun, bagaimana usaha sebuah klub mencari pemasukkan untuk mengarungi kompetisi. Seleksi alam akan terjadi, klub yang tidak dapat mandiri akan tersisih dengan sendirinya. PSIS pun mulai realistis dalam belanja pemain. Perekrutan pemain disesuaikan dengan kekuatan finansial tim. Contohnya, pada musim 2011/2012 PSIS memiliki anggaran sekitar Rp 8 miliar. Perbulan, mereka berani membayar pemain lokal berkisar Rp 15 juta hingga Rp 35 juta sedangkan pemain asing mencapai Rp 50 juta. Sama-sama profesional, musim ini PSIS tidak dipersenjatai dana yang berlimpah. Sehingga tidak ada pemain lokal yang dibayar lebih dari Rp 15 juta perbulan. Bahkan banyak yang kurang dari Rp 5 juta tiap bulannya. Pemain asing juga tak digaji terlalu mahal, kurang dari Rp 30 juta perbulan. ‘’Sebagai pemegang saham PT Mahesa Jenar Semarang, saya sudah siap dengan segala sesuatunya saat memutuskan kembali mengelola PSIS. Ini adalah sebuah tantangan untuk mengantarkan PSIS meraih prestasi,’’ tegas CEO PT Mahesa Jenar Semarang AS Sukawijaya. (Hendra Setiawan /CN34/SMNetwork )

SWARA/DOK

tim sebesar PSIS bakal terbuka bagi para pemain lokal. Mahesa Jenar berencana menambah kuota pemain magang untuk menyaring potensi setempat dan memberi peluang bagi mereka untuk lepas dari ‘tempurung’. Dengan promosinya Taufik Hidayat ke skuat utama PSIS, jumlah pemain magang berkurang satu. Pihak manajemen dan pelatih Laskar Mahesa Jenar tengah berdiskusi, terkait kemungkinan mengisi slot pemain magang yang ditinggalkan Taufik. Setidaknya saat ini ada empat pemain asal 25 perkumpulan sepak bola (PS) yang berlatih bersama PSIS. Mereka adalah striker Wahyu Tri Saputra asal PSAD. Gelandang dari PMC Elmirio Andrestasi dan Yudha

Semarang mulai mempercayakan pemain magang untuk tampil di skuat utama. Pendobraknya adalah gelandang Tirta Wahyu. Pemain asal SSS itu merasakan atmosfer laga profesional saat PSIS bertandang ke markas Persebaya Surabaya pada musim lalu. Taufik Hidayat lebih fantastis. Belum kompetisi dimulai, mantan pemain PSIS Yunior itu sudah dikontrak oleh manajemen. Padahal status awalnya adalah pemain magang. Dia menjadi satu dari dua pemain asal 25 PS yang musim ini langsung masuk skuat PSIS. Selain Taufik adalah gelandang Komaedi asal PSAD. Hanya saja, ada kutukan yang belum dapat lepas dari pemain magang. Salah satunya tidak dapat kembali masuk skuat di kompetisi selanjutnya. Hal itu terus terjadi dari musim ke musim. Tirta Wahyu yang digadang-gadang sebagai pemain potensial pun tak dapat masuk personel PSIS pada musim ini. ‘’Ini adalah kesempatan yang baik bagi para pemain magang untuk berlatih bersama PSIS. Karenanya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sampai pada musim depan tak dapat masuk skuat utama. Untuk keputusan apakah akan penambahan pemain magang, akan segera ditetapkan,’’ imbuh Manajer Tim PSIS Wahyu ‘’Liluk’’ Winarto. (Hendra Setiawan/CN26/

8 PSIS Kencangkan Ikat Pinggang

Jl. Terboyo No. 7 Genuk - Semarang 50112 Jawa Tengah - Indonesia Tel : (62-24) 658 4460 (Hunting) Fax : (62-24) 658 2435 Email : surya@sibagroup.net


LINTAS INFO

9

Jejak Sunan Kalijaga di Gua Kreo SWARA/DOK

Setiap tanggal 3 Syawal, warga Kampung Talunkacang, Kandri, Kecamatan Gunungpati, menggelar ritus sesaji rewanda, sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang kera-kera Gua Kreo yang telah membantu Sunan Kalijaga SWARA/DOK

G

ua Kreo di Semarang menyuguhkan keindahan gua yang masih alami. Pepohonan, udara sejuk, dan kawanan monyet ekor panjang siap menyambut kedatangan Anda. Berada di Dukuh Talun Kacang, Gunungpati, Semarang, Gua Kreo berada di lereng Bukit Kreo. Menurut legenda yang berkembang di masyarakat sekitar, Gua Kreo merupakan salah satu tempat yang dilalui Sunan Kalijaga. Konon, ketika sedang mencari kayu jati untuk membangun Masjid Demak, Sunan Kalijaga singgah di Gua Kreo ini. Gua Kreo menyajikan wisata gua yang menarik untuk didatangi wisatawan. Di sini, pelancong tidak hanya bisa melihat keindahan gua yang masih alami, tetapi juga hamparan sawah. Ya, sekitar Gua Kreo memang terdapat hamparan sawah yang luas. Tidak hanya sawah, keasrian Gua Kreo bisa dirasakan lewat pepohonan yang ada di tebing gua. Jika berjalan ke sebelah utara gua, Anda akan disuguhkan dengan keindahan air terjun jernih yang berasal dari berbagai sumber mata air. Nah, karena gua ini berlokasi di dataran rendah, untuk mencapai mulut gua pengunjung diharuskan menuruni anak tangga yang cukup banyak. Meski

SWARA/DOK

Nokia X Gampang Dibongkar

jalur yang ditempuh untuk mencapai gua cukup sulit, hal ini tidak menyurutkan minat wisatawan untuk datang ke objek wisata ini. Gua Kreo memiliki kedalaman gua mencapai 25 meter. Sekitar 10 meter dari Gua Kreo, Anda bisa masuk ke dalam Gua Landak yang tak kalah dalam dengan Gua Kreo. Jika berani, cobalah masuk ke gua sedalam 30 meter ini dan temukan ketenangan di dalamnya. Puas menelusuri gua, turis bisa berjalan ke atas puncak Bukit Kreo di ketinggian 350 mdpl. Di sana, Anda bisa menemukan monumen batu. Menurut masyarakat sekitar, monumen tersebut dibuat sebagai tanda kalau Sunan Kalijaga telah menjejakkan kaki di Bukit Kreo. Gua Kreo memang menarik untuk dikunjungi, tapi berhati-hatilah dengan populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di sekitar gua. Mereka bisa saja mengganggu atau bahkan menggambil makanan, terutama jika Anda sedang berada dekat dengan air terjun. Tertarik menyambangi keindahan alam di dekat Semarang? Adib

Kubur Ngilu dengan Pijat Batu SPA dan massage digandrungi

wanita kelas menengah ke atas. Bukan lagi merupakan gaya hiudp, melainkan juga lantaran perawatan ini sebagai kebutuhan. SPA diamini banyak kalangan sebagai sarana memanjakan tubuh sekaligus merawat kulit, pria maupun wanita. Untuk jangka panjang, spa membuat tubuh fleksibel, menampik stres, dan paras tampak awet muda. Alunan musik syahdu, suara gemericik air, plus aroma terapi menjadi daya tarik bilik spa. Sensasi ini terdapat di Bali Spa Hotel New Metro, sebuah pemijatan dengan media bebatuan. Pada teknik warm stone (pemanasan dengan batu), batu tidak asal diambil begitu saja. Namun dioles minyak khusus dengan cara memutar serta menekannya. Teknik warm stone membersihkan racun dari tubuh, melalui paduan kehangatan dan tekanan dari batu. Panas batu berfungsi sebagai pori-pori sehingga kulit dapat bernapas. Selain warm stone, juga terdapat terapi chocolate stone atau batu coklat. Bedanya, seluruh tubuh yang akan diterapi diolesi masker beraroma coklat jenis bubuk khusus untuk tubuh. Terapi ini membutuhkan waktu cukup lama dibanding warm stone. Selain itu, di Bali Spa juga menghadirkan berbagai layanan spa, mulai dari ujung kaki hingga muka. Salah satunya chocolate sensation spa. “Kami mengambil konsep massage tradisional, dalam pemijatan ada gerakan

BARU-baru ini Nokia meluncurkan kembali smartphone pertamanya yakni Nokia X. Saat ini Nokia X telah beredar di beberapa negara, dan menyusul kini Indonesia. Nokia X ini hadir dengan layar sentuh berukuran 4 inci dengan resolusi WVGA 480 x 800 piksel dengan kerapatan layar mencapai 233 piksel per inci. Kinerja Nokia X ini menggunakan chipset Qualcomm Snapdragon S4 Play MSM8225 yang mengusung prosesor dual-core ARM Cortex-A5 berkecepatan 1GHz dengan pengolah grafis dari Adreno 203 dan didukung oleh memori RAM sebesar 512MB. Serta mengusung kamera belakang dengan resolusi 3 megapiksel fixed focus dan tidak dilengkapi LED flash. Nokia X ini juga dibekali dengan sektor konektivitas yang cukup lengkap dengan dukungan dual SIM, port microUSB, Bluetooth, dan WiFi Menurut kabar yang telah beredar bahwa dengan spesifikasi tersebut. Nokia X ini mudah dibongkar karena Nokia X memiliki desain yang sederhana dan mudah diperbaiki apabila terjadi kerusakan. Hal ini diketahui bahwa hasil pembongkaran tersebut

terapi yang berbeda-beda. Para therapist sudah dibekali pengetahuan, sehingga mereta sudah paham titik-titik mana untuk menghilangkan lelah atau stres,� kata Sukma, GRO Bali Spa. Sensasi aroma terapi ini dijamin dapat meregangkan otot pikiran dan fisik. Tidak ada salahnya jika meluangkan waktu, untuk mencoba sensasinya. Aktivitas sehari-hari, tak dapat dipungkiri tubuh kita mengalami kelelahan dan bakal mengalami kepenatan. Perawatan ini cocok bagi yang memiliki padat aktivitas. Pertama, jelas sukma kaki akan direndam untuk menghilangkan kotoran yang ada di kaki yang disebut thalaso. Setelah dibersihkan, mulai perawatan dengan menggunakan scrub ke seluruh tubuh. “Scrub berfungsi mengangkat sel-sel kulit mati dan sisa sabun beserta kotoran yang menempel di kulit,� jelasnya. Setelah dibersihkan, dilakukan body massage ke seluruh tubuh. Dengan penekanan secara tepat pada titik tubuh tertentu oleh therapist dengan menggunkan oil massage memberikan rasa rileks dan nyaman. Setelah itu dilanjutkan dengan berendam susu, atau bunga, atau rempah selama 10-15 menit. Jadi, tak ada salahnya bila meluangkan waktu untuk memanjakan diri dengan merasakan sensasi terapi spa. Selain kulit terasa halus dan fresh juga membuat pikiran terasa rileks. Cintya Herdiani

berhasil ditampilkan sebuah foto dari situs Windowsmania. pl . Situs tersebut mengungkapkan bahwa desain Nokia X cukup sederhana dan mudah diperbaiki atau dibongkar karena memiliki struktur desain perangkat keras. Bahkan diketahui Nokia X ini hanya terdapat 11 sekrup yang terpasang pada chasis smartphone tersebut dan tidak terdapat banyak lem. Sehingga pengguna yang memiliki keahlian di bidang elektronik, Nokia X ini tidak menjadi suatu kendala dalam hal bongkar pasang ketika rusak. Nokia X miliki dimensi panjang 115,5 mm dengan lebar 63 mm. Ponsel ini miliki ketebalan 10,4 mm dan berat hanya 128,7 gram saja. Sangat nyaman dan pas digenggam dengan satu tangan. Nokia X tersedia dalam enam pilihan warna, hitam, biru, hijau, merah, putih, dan kuning. Warna-warni dukungan ini mengingatkan kita akan jajaran smartphone dari keluarga Lumia. Selain itu Nokia X disuntikkan aplikasi peta digital HERE Maps yang bisa dipakai offline dengan dukungan HERE Drive. Pengguna juga bisa gratis telpon internasional selama setahun menggunakan Skype plus telah ready aplikasi BBM (pre-installed). *Arief Kurniawan


HORROR

10

Rumah setan menjadi bagian penting legenda horor di Kota Semarang. Seperti apa kengerian di gedung yang konon penuh hantu itu?

R

umah setan. Sebutan ini muncul di lingkungan Gedong Setan Pendrian bernama Vrijmetselaars-loge yang merupakan loji (club house) untuk perkumpulan masoneri (vrijmetselar). Perkumpulan vrijmetselar ini adalah perkumpulan yang paling tertutup dan terbesar di seluruh dunia, bertujuan mengangkat derajat rohani, kesusilaan, setia kawan dan berdasarkan cita-cita humanisme ketuhanan. Awalnya, loji di Semarang yang didirikan pada tahun 1801 ini punya nama Perancis La Constance et Fidle (Ketangguhan dan Kesetiaan). Terletak dekat Stasiun Poncol di perempatan Pendrian (sekarang Jalan Imam Bonjol), dengan Karangtengah (Jalan Kapten Tendean). Disebut “Rumah Setan” atau “Gedong Setan” oleh masyarakat sekitar karena pada saat itu loji ini suasananya angker dan remang-remang bin wingit di malam hari. Gedung itu dulu sejarahnya memang

dipergunakan oleh kelompok penganut aliran kebatinan. Menurut masyarakat Pendrian yang kini berubah nama menjadi Pindrikan, pada masa pendudukan jepang perkumpulan masoneri ini dilarang. Pasca-Indonesia merdeka, gedung berubah fungsi menjadi Kantor Kejaksaan Negeri Semarang. Lukman, salah seorang warga Pindrikan menuturkan, banyak cerita horor yang didengarnya dari beberapa orangtua dan sesepuh kampung. Mulai dari cerita suster ngesot, hantu toilet, siluman kuda, hantu tentara baris, sampai demit mesin ketik. “Ayah saya kebetulan teman dari seorang saksi mata, yaitu almarhum Pak Kasbi yang bekerja sebagai tukang bersihbersih di gedung itu. Banyak penampakan dan cerita horor di sana,” ugkap Lukman. Dari kisah-kisah yang bikin merinding ini, menyelip di antaranya cerita tentang arwah penasaran seorang “Suster Kesot” yang tinggal di gedung. Konon hantu suster ngesot ini muncul setelah suster dibantai oleh tentara Jepang, kemudian diperkosa dan kaki sama tangannya dikapak oleh serdadu Jepang. Ada lagi cerita tentang toilet di gedung. Di dalam toilet kerapkali terdengar suara orang kencing atau batuk-batuk. Namun, setelah ditunggu lama tak ada satupun orang keluar dari urinoir tersebut. Saat

pintu diketuk, tak ada satu orang pun di dalam toilet tersebut! “Kalau hantu mesin ketik biasanya terjadi di malam hari. Tidak ada karyawan kejaksaan atau pegawai yang lembur. Ruangan yang terdengar suara mesin ketik itu lampunya menyala. Ketika dicek, ternyata kosong tidak ada orang sama sekali dan ruangan terkunci,” ungkap Lukman, menirukan cerita ayahnya.

Bocah Cilik Disembunyikan Hantu Cilik

Gedong Setan yang bangunannya bergaya arsitektur neoklasik tersebut dibongkar pada tahun 1976. Saat ini, tempat itu menjadi ruko dan pemukiman penduduk warga Pindrikan Lor. Memang masih ada bekas tembok runtuh dan sisa bangunan rumah setan atau loji. Namun, kesan seram dan angker sudah tidak ada lagi di perempatan yang dulu sering terjadi kecelakaan itu. Lain lagi kisah Madrun, warga Pindrikan Lor pemilik warung di sekitar loji atau rumah setan itu. Ia merasa yakin dan percaya sampai saat ini hantu dan makhluk astral ‘menghuni’ loji. Meski bangunan aslinya sudah runtuh, tetapi arwah penasaran masih gentayangan.

SWARA/DOK

SWARA/DOK

Suster Ngesot dan Hantu Toilet di “Rumah Setan” Pindrikan

“Beberapa waktu lalu seorang bocah berumur 3,5 tahun lenyap begitu saja. Setelah berhari-hari dicari-cari orangtua dan familinya, bocah itu ditemukan dalam mobil di bengkel yang merupakan bekas bagian bangunan deretan loji. Setelah ditanyai, anak itu bilang bahwa dia diajak main sama teman yang diduga hantu anak-anak dari bekas rumah setan itu,” bisiknya menahan ngeri. Warga Prindikan lainnya, Turmuji (51) yang menempati rumah panggung peninggalan Perusahaan Kereta Api (Perumka) – kini PT KAI – punya cerita lain. Gedung setan itu diubah fungsinya sebagai kantor kejaksaan. Supaya tidak jadi tempat bermain-main anak-anak dan warga sekitar, maka dihembuskanlah berbagai cerita horor. “Kejaksaan kan tempatnya orangorang nahan penjahat sama menyita mobil, sepeda motor dan barang-barang berharga. Supaya tidak ada orang luar masuk, apalagi karyawanya rata-rata orang Belanda, maka dihembuskanlah cerita misteri dan horor untuk nakutnakuti. Dan tampaknya trik itu berhasil,” ungkap Turmuji. Arief Firhanusa


PRODEO

11

Awas, Perampok Bidik Minimarket 24 Jam ! .Aksi perampokan terhadap Minimarket yang beroperasi selama 24 jam di Kota Semarang belakangan ini semakin sering terjadi. Bahkan, cenderung meningkat siring dengan meningkatnya jumlah gerai Minimarket.

A

ksi perampokan terhadap minimarket tersebut umumnya dilakukan oleh komplotan yang spesialis merampok minimarket. Perampokan gerai Indomaret Ganesha di Jl Wolter Monginsidi Kecamatan Pedurungan, misalnya, dilakukan oleh komplotan spesialis tersebut. Tiga anggota komplotan tersebut berhasil dibekuk Aparat Poltabes Semarang, yakni Tri Bambang Adi alias Didik (22), Reza Alhakim alias Chez (19) dan Munif Ardan (18). Mereka dibekuk 18 Februari 2014. Sebelumnya, komplotan lainnya juga beraksi di gerai Indomaret Jl Abdurahman Saleh No 13 tanggal 3

Februari 2014 dan gerai Alfamart di jalan yang sama dua hari kemudian (5/2). Komplotan ini beranggotakan 4 orang. Satu diantaranya berhasil dibekuk, yakni Slamet Riyadi alias Kompong. Sedang tiga lainnya masih buron, yakni Dower, Mandowik alias Bagong dan Bayu alias Bonyok. Komplotan spesialis perampok minimarket tersebut sudah berulangkali melakukan aksinya. Komplotan Tri Bambang Adi, Reza Alhakim dan Munif Ardan, misalnya, mengaku kepada polisi bahwa setidaknya mereka telah beraksi sebanyak 12 kali di wilayah Kota Semarang. Mereka juga mengaku sering merampok minimarket di daerah lain. Sementara komplotan Slamet Riyadi, menurut pengakuan Slmaet Riyadi sendiri bahwa ia bersama komplotannya sudah 14 kali beraksi di Kota Semarang. Mereka tidak hanya merampok uang tunai, tapi juga barang lain seperti rokok. Perampokan terhadap minimarket yang beroperasi selama 24 jam umumnya dilakukan setelah tengah malam, karena keadaan sepi dan pengamanan terhadap minimarket hampir tidak ada. Berdasarkan pengamatan SWARA di beberapa minimarket yang

beroperasi selama 24 jam di kawasan Perumnas Banyumanik, misalnya, setiap minimarket paling banter dijaga empat orang yang bertugas sebagai pelayan toko. Sementara tenaga keamanan (security/Satpam) tidak ada. Para pemilik minimarket hanya mengandalkan CCTV yang dipasang hampir di setiap minimarket. Beberapa anggota masyarakat mengusulkan agar pemilik minimarket

bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk menjaga keamanan minimarket, khususnya yang beroperasi 24 jam. “Pemilik minimarket umumnya kurang kooperatif dengan masyarakat sekitar sehingga masyarakat pun tak acuh terhadap kemanan minimarket yang ada di lingkungan mereka,” ujar Bambang, bukan nama asli, yang bermukim di kawasan Kruing, Perumnas Banyumanik. Mesker MD

mencegah perampokan tersebut terulang. Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Kota Semarang mengakui adanya trauma di lingkungan pemilik toko emas di Kranggan setelah perampokan tersebut. Mereka mengkhawatirkan itu terjadi di toko mereka. Seorang pemilik toko emas terkenal di Kranggan yang namanya enggan dikorankan menuturkan, sejak peristiwa perampokan itu terjadi, pihaknya selalu berhati-hati melayani

pembeli. Kewaspadaan kepada pembeli ditingkatkan. “Kami harus waspada penuh walau jumlah polisi yang berjaga di Pasar Kranggan ditambah. Kami takut jika peristiwa itu terulang menimpa kami, “ ungkapnya. Sebagian besar pedagang emas di Kota Semarang terpusat di Pasar Kranggan yang terletak di Jalan Wahid Hasyim. Ada sekitar 40 pedagang emas yang berjualan di Pasar Kranggan dari 70 pedagang emas anggota APEPI Kota Semarang . Sebagai antisipasi terjadinya perampokan di toko emas, nyaris seluruh anggota APEPI Kota Semarang memasang teralis di toko masingmasing. Pemasangan itu untuk mencegah perampok masuk ke dalam ruang penyimpanan emas dan perhiasan. Selain itu, setiap toko emas di Pasar Kranggan terpasang alarm tersembunyi dan CCTV. “Alarm ini dibunyikan jika ada perampokan toko emas, sedangkan CCTV untuk merekam setiap transaksi di depan etalase,” jelasnya.

Pascaperampokan di Toko Emas “Bintang Mas”, jam buka toko emas di Kranggan dipercepat. Jika sebelumnya tutup hingga pukul 17.00, pascaperampokan itu dipercepat menjadi pukul 16.30. Percepatan tutup toko itu sudah menjadi keputusan bersama di APEPI. Keputusan ini suatu keharusan. Jika masih ada toko yang buka dari waktu yang ditetapkan, akan mendapat peringatan petugas keamanan yang berpatroli. Polisi pun selalu berpatroli di pusat perdagangan emas dan perhiasan di Kranggan. Namun, jumlahnya semakin diperbanyak menyusul perampokan yang menewaskan tiga anggota keluarga pemilik Toko Emas “Bintang Mas” tersebut. Pihak kepolisian sudah memberikan pengarahan kepada para pemilik toko jika terjadi perampokan segera membunyikan alarm. Tindakan selanjutnya adalah menutup seluruh pintu keluar di kawasan Kranggan untuk mencegah perampok melarikan diri. *Arief Firhanusa

SWARA/DOK

Alarm Dibunyikan Bila Terjadi Perampokan SWARA/DOK

PASCA perampokan Toko Emas “Bintang Mas” yang menewaskan seorang pengunjung, pedagang emas di Kota Semarang mengaku trauma dan was-was, meski peristiwa itu terjadi hampir enam tahun silam. Pengamanan ditingkatkan untuk


METRO

12

SWARA/DOK

Kalibanteng Tetap Macet, Pemerintah Bisa Dituntut

Flyover Kalibanteng yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dengan APBN murni sebesar Rp 95 miliar ditujukan untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Bundaran Kalibanteng. Tapi fakta menunjukkan, lalu lintas di kawasan Kalibanteng masih semrawut, bahkan sering terjadi kemacetan.

B

underan Kalibanteng mempertemukan enam jalur jalan, yakni Jl Sudirman, Jl Siliwangi, Jl Arteri Utara Yos Sudarso, Jl WR Supratman, Jl Abdul Rahman Saleh dan Jl Bandara Achmad

Yani. Karena itu, arus lalu lintas di bundaran tersebut sering macet. Untuk mengurai kemacetan tersebut, dibangunlah flyover Kalibanteng. Pembangunan flyover tersebut diyakini mampu mengurangi penumpukan kendaraan di Bundaran Kalibanteng. Karena, lampu lalu lintas di bundaran tersebut hanya mengatur arus lalu lintas ke dan dari WR Supratman, Abdul Rahman Saleh dan Bandara Ahmad Yani yang volume arus lalu lintasnya relatif rendah. Volume tertinggi memang melalui Siliwangi dan Arteri Utara Yos Sudarso yang umumnya kendaraan berat, seperti truk kontainer, truk gandeng dan bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi). Sementara dari dan ke Jl Sudirman umumnya kendaraan pribadi. Harapan tersebut masih sebatas harapan. Faktanya, kemacetan masih sering terjadi. “Proyek flyover sepertinya

bukan solusi kemacetan di wilayah ini. Buktinya setelah dibangun kemacetan tetap ada. Malah di kawasan Jerakah dan Krapyak lebih parah,” ujar Kasno, pengemudi truk. Pengemudi truk lain, Bambang mengatakan, banyak truk yang tidak naik flyover dan antri di lampu merah Bundaran Kalibanteng (jalan bawah). “Karena ada pembatasan berat muatan sehingga banyak truk yang tidak naik flyover,” katanya. Kondisi tersebut bisa dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap pasal 3 huruf d Undang-Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan. Pasal 3 huruf d tersebut menyatakan bahwa pengaturan penyelenggaraan jalan bertujuan untuk: ”mewujudkan pelayanan jalan yang andal dan prima serta berpihak kepada kepentingan masyarakat” Masih terjadi terjadinya kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas jelas

menunjukkan bahwa pembangunan flyover tidak mampu dan atau belum mampu mewujudkan pelayanan jalan yang andal dan prima serta berpihak pada kepentingan masyarakat. Bahkan, terkesan merugikan masyarakat. Karena itu pula, masalah pembangunan flyover tersebut bisa dikaitkan dengan Ketentuan Pidana dalam pasal 64 ayat (1) – UU yang sama - yang diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling banyak Rp 300 juta. Karena itu, pemerintah perlu melakukan kajian ulang secara cermat untuk mengatasi kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas di bundaran dan Flyover Kalibanteng. Misalnya, pembangunan jalan lingkar atau jalan alternatif dari Mangkang menelusuri pantai sampai Semarang Utara. Mesker MD


METRO

13

Ingin Buka Usaha di Banyumanik? Jangan di Jalan Jatiraya!

GERAI minimarket bisa dijumpai hampir di setiap kompleks permukiman, termasuk di daerah penggiran Kota Semarang. Bahkan banyak dua minimarket yang berbeda pemilik dibangun berdampingan, hanya berbatasan tembok. Maraknya gerai atau toko (modern) minimarket tersebut sepertinya belum sampai tahap mengkhawatirkan. Sebab pembangunan minimarket telah diatur dalam Peraturan Walikota Semarang No. 5 tahun 2013 tentang Penataan Toko Modern Mini Market. Peraturan Walikota tersebut antara lain menetapkan bahwa toko modern minimarket yang dibangun harus berjarak minimal 500 meter dari pasar tradisional. Dengan ketentuan itu, Pemerintah Kota Semarang berkeyakinan bahwa kehadiran minimarket tidak akan mengancam usaha masyarakat dalam pasar tradisional. Selain itu, Pemerintah Kota Semarang juga menetapkan kuota atau jumlah minimarket yang bisa dibangun di wilayah Kota Semarang. Bahkan, kuota tersebut ditetapkan untuk setiap wilayah kecamatan. Untuk seluruh wilayah Kota Semarang, menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang, dibutuhkan 529 gerai minimarket. Sampai akhir Juni 2013 baru terdapat 436 gerai minimarket. Berdasarkan kuota yang ditetapkan Pemerintah

Kota Semarang tersebut, sampai akhir Juni 2013 baru Kecamatan Pedurungan yang sudah memenuhi kuota, yakni 42 gerai. Artinya, wilayah Pedurungan tertutup bagi pembangunan minimarket baru. Berbeda dengan wilayah kecamatan lainnya. Kecamatan Tembalang, misalnya, kuotanya 42 gerai sementara baru ada 39. Kemudian Mijen baru ada 8 sementara kuotanya 14 Minimarket. Gajahmungkur, dari kuota 21 baru ada 14 minimarket. Selain sistem kuota, menurut sumber SWARA di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang, dalam Peraturan Walikota No. 5 tahun 2013 ditetapkan bahwa setiap pembangunan gerai minimarket harus mendapat izin dari walikota. “Kalau pun ada investor yang ingin membangun minimarket baru, tapi kalau walikota tidak memberi izin ya tidak boleh dibangun,” ujarnya Pembangunan minimarket baru akan membidik kawasan permukiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti penduduknya padat, sebagian besar berpenghasilan menengah ke atas dan agak jauh dari pasar tradisional. “Kami paling hanya memberikan pertimbangan. Yang memutuskan tetap aparat yang di atas,” ujar Wahyudin, Kepala Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik, ketika ditanya tentang banyak Minimarket yang bertebaran diwilayahnya, Selasa (11/3). Mesker MD

erumnas Banyumanik seluas 300 hektar yang dibangun tahun 1978 sampai 1980, sekarang berkembang menjadi kota satelit yang semakin menarik sebagai kawasan bisnis yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kini, Perumnas Banyumanik tidak hanya bergeliat selama 24 jam, tapi juga bak gula yang terus mengundang semut untuk berkerumun. Berbagai jenis usaha terus tumbuh, seperti rumah makan, kantor unit perbankan, minimarket, apotek, toko tekstil, toko emas dan lain-lain. Tumbuhnya berbagai jenis usaha tersebut antar lain terlihat dari berubahnya puluhan rumah tinggal menjadi tempat usaha, seperti rumah toko (Ruko), Rumah Makan dan Toko Minimarket. Puluhan rumah tinggal yang terletak di sisi kiri dan kanan Jalan Jatiraya, terutama di wilayah Kelurahan Srondol Wetan tersebut umumnya disewakan dengan harga ratusan juta rupiah untuk jangka waktu antara lima sampai 10 tahun. Menurut Wahyudin, Kepala Kelurahan Srondol Wetan, pihaknya tidak bisa mencegah keinginan warga untuk menyewakan rumahnya kepada pengusaha yang berminat untuk membangun minimarket, rumah toko atau rumah makan. “Kami paling menyarankan kepada pemilik rumah dan pengusaha yang mau menyewa agar menaati

peraturan yang ada. Misalnya, harus ada IMB dan izin usahanya,” ujar Wahyudin ketika ditemui SWARA di kantornya, Selasa (11/3). Wahyudin yang sudah 11 tahun menjabat sebagai Lurah Srondol Wetan itu mengatakan, perumahan fungsi rumah tinggal menjadi tempat usaha tersebut selama ini berjalan sesuai peraturan yang ada. Dan, masyarakat pun menerima kenyataan itu sebagai suatu kewajaran. Urusan perizinan, menurut Wahyudin, menjadi kewenangan Dinas Tata Kota dan Perumahan. “Sebagai lurah, saya hanya memberi pertimbangan. Itu pun saya selalu koordinasi dengan Pengurus RT dan RW setempat agar tidak terjadi kesalahfahaman. Dan, Alhamdulillah, semua berjalan lancar,” katanya. Wahyudin mengakui, Perumnas Banyumanik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dan, wilayah Kelurahan Srondol Wetan lebih menonjol, terutama di sepanjang Jalan Jatiraya. Karena, di Jatiraya yang membentang tidak lebih dari satu kilometer itu menjadi pusat bisnis Perumnas Banyumanik. Akibatnya, arus lalu lintas di Jalan Jatiraya selalu padat. “Alhamdulillah, masalah parkir bisa diatasi sehingga tidak terjadi kemacetan, Kriminalitas juga hampir tidak pernah terjadi, karena saya selalu melibatkan pengurus RT dan RW,” katanya. Mesker MD

SWARA/DOK SWARA/DOK

SWARA/DOK

Tak Boleh Ada Indomaret & Alfamart Baru di Pedurungan P

TARIF IKLAN Display FC Rp. 15.000/mmk Display BW Rp. 10.000/mmk Advertorial FC Rp. 10.000/mmk Advertorial BW Rp. 8.000/mmk Kolom Rp. 8.000/mmk Iklan Pendidikan Rp. 7.500/mmk

Iklan dan Berlangganan: 024 - 3518359, 3512771

Email : swarabanget@gmail.com.

Iklan Keluarga Rp. 7.500/mmk Iklan Sosial Rp. 7.000/mmk Iklan Dukacita Rp. 6.500/mmk Iklan Baris Rp. 1.000/3baris (min. 3 baris, maks. 9 baris) Keterangan : Harga belum termasuk PPn 10%

Harga Berlangganan: Rp 10.000,-


BUDAYA

SWARA/DOK

14

Buang Sengkala dengan Potong Rambut TRADISI memotong rambut sebagai bagian ritual terhadap sang pencipta rupanya berakar pada beragam kebudayaan. Bagi umat Muslim, upacara potong rambut diselenggarakan saat upacara pemberian nama jabang bayi. Ritual itu juga dilakukan saat naik haji. Umat Hindu memotong rambut pada upacara agnihotra. Dilakukan untuk menunjukkan pengabdian kepada Sang Hyang Widhi. Dalam khasanah Jawa, upacara ruwatan dengan memotong rambut pemilik sengkala merupakan simbol upaya untuk menghapus keburukan. “Semua rangkaian acara dalam ritual ruwat mengandung berbagai simbol dan pertanda,” ujar Soejanto Ketua Persaudaraan Budaya Nasional Indonesia (Permadani). Belum lama ini, lembaga yang konsisten nguri-nguri kebudayaan Jawa itu mengadakan ruwatan ke-21 di

Museum Ronggowarsito. Sebanyak 79 “pasien” pemilik sengkala dari puluhan keluarga diruwat dalam ritual yang digelar sejak pagi hingga petang itu. Tak semua peserta dari suku Jawa. Ewin Hartono pemilik ontang-anting (anak lelaki tunggal) adalah putra pasangan Tjan Kiem Sim dan Tan Le Ing. Ya, dari namanya pembaca dengan mudah bisa mengidentifikasi mereka dari etnis Tionghoa. Ritual dimulai pentas wayang dengan dalang Ki Liliek Guna Hanatadipromo dari Wonogiri. Lakon singkat itu mengisahkan dua tokoh Murwotolo dan Sudopolo yang mencari kesejatian.

Makna Simbolik

Setelah pentas berdurasi singkat, satu persatu peserta ruwatan yang mengenakan busana mirip pakaian ihram memasuki ruangan. Mereka mesti merelakan rambut indahnya dipangkas

oleh sang dalang menggunakan gunting. “Opo sing dadi karepanmu (apa yang menjadi keinginanmu),” demikian tanya sang dalang sesaat sebelum memulai ritual. Sang “pasien” kemudian menyatakan keinginannya. Ada yang berkehendak lancar jodoh, banyak rejeki, hingga tobat dari dosa. Sang dalang kemudian memberikan benda sesuai harapan dari pasien. Ada yang diberi bambu kuning, telur, atau beras. Selanjutnya, semua potongan rambut disatukan dengan ubo rampe berupa kain mori, kembang telon, minyak jebat, kendhil tanah, serta pakaian pantas pakai. Semua syarat itu kemudian dilarung ke laut. “Peserta wajib membuang pakaian yang paling disukai, ini merupakan simbol pengorbanan demi menggapai cita-cita,” ujar Soejanto. Soejanto berharap ruwatan tak hanya dimaknai sebagai sebuah ritual tetapi

The Amaya Luxury Home Resort

Alamat: Jl Kompol Maksum 314 Semarang 50249 Jawa Tengah. Nomor Telepon: 024 024-70207001, 8442501. No Fax 024 8441401. Email: info@cityonedevelopment.com

juga sebentuk kegiatan budaya. Apalagi semua prosesi ritual mengandung pesan yang bermakna simbolik. “Contohnya diwajibkan mandi suci mengguunakan air dari tujuh mata air. Maknanya, manusia mesti berusaha membersihkan dosa yang dilakukan selama tujuh hari seminggu,” jelasnya. Menurut Anwar Effendi salah satu panitia, sengkala terjadi karena berbagai faktor. “Bisa dari faktor kodrat sejak lahir (uwat murwakala). Masuk kategori ini di antaranya ontang-anting, sendang kapit pancuran, atau sampir,” jelasnya. Ontang-anting terjadi pada anak lakilaki tunggal. Sedangkan sendang kapit pancuran merupakan julukan pada tiga anak dengan urutan pria – wanita – pria. Adapun sampir adalah bayi yang lahir bersamaan dengan tanggapan wayang. Ada juga sengkala yang berasal dari perbuatan atau kesalahan yang dilakukan serta diruwat karena halangan. PJS/Adib


UNIK

SWARA/DOK

15

Ada Rumah Panggung di Blok M

B

ukan hanya Jakarta yang mempunyai Blok M yang difungsikan sebagai kawasan bisnis dan perdagangan di Kebayoran Baru. Semarang pun memiliki wilayah yang dinamai serupa. Bedanya, Blok M di Kota Lunpia bukan hunian modern melainkan pemukiman dekat rel kereta api. Letaknya di RT 01 RW 11, Kampung Condorejo, Muktiharjo Kidul. Mengapa diberi nama Blok M? “Sekitar 80% warga berprofesi sebagai tukang mayeng alias pencari rongsok,” ujar Simon warga setempat. Dari istilah mayeng itulah lahir nama Blok M. Sebuah nama yang sejatinya merupakan olok-olok bahwa mayoritas penghuninya merupakan warga kelas bawah. Lazimnya hunian tukang rongsok, gunungan barang bekas menjadi pemandangan lumrah. Tapi bukan itu yang membuat keinginan untuk melihat lebih jauh. Di kawasan tersebut, banyak rumah berbentuk panggung. Sedikitnya terdapat 20 rumah sederhana dengan ketinggian sekitar 30 centimeter di atas tanah. Rumah-rumah dari kayu dan bambu itu tak tak didirikan di daratan, melainkan di atas tambak. Rumah yang lebih tepat disebut gubuk itu memiliki ukuran sekitar 4 x 5 meter. Didirikan secara tak beraturan di atas rawa dan pinggir sungai. Kesan kumuh terlihat dari bentuk dan letak rumah yang tak beraturan.

Langganan Banjir Blok M Barangkali merupakan ironi bagi kota metropolis seperti Semarang. Meski perkampungan miskin memang ada di semua kota besar, tetap keberadaan mereka tetap saja membuat kita terjeranheran. Rupanya, di Semarang masih ada hunian seperti ini. “Selain tukang rongsok, warga berprofesi sebagai tukang parkir, pemulung, pengamen, pemintaminta, dan profesi kelas bawah lainnya,’ ujar Sutarmin Ketua RT 02/09. Pria yang berprofesi sebagai sopir serabutan itu mengatakan Blok M merupakan tanda masih banyak warga yang tidak sejahtera. “Sebagian orang mungkin akan heran, kok di Semarang masih ada gubuk-gubuk semacam ini,” ujarnya. Gubuk-gubuk kumuh di Blok M menjadi mozaik kemiskinan di negeri ini. Meski kita saban hari melihat banyak pengamen, pemulung, dan peminta-minta tetapi tetap saja akan mengelus dada melihat hunian murung ini. “Para pejabat mestinya datang ke sini, menyaksikan secara langsung bagaimana kehidupan di sini,’ pinta Sutarmin. Tidak jelas kepemilikan tanah di kawasan tersebut. Sebagian mengatakan, rumah-rumah itu didirikan secara liar di atas tanah milik Pertamina. Ada juga yang mengaku, tanah yang mereka huni merupakan hibah dari Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS). Agus Prasetyo salah seorang penghuni rumah panggung mengaku menempati

tempat itu sejak 2008. “Dulunya tinggal di Ngemplak Simongan, di gubuk liar juga,” ujar pria berputra tiga ini. Pekerja serabutan ini mengaku tinggal di “gubuk derita” karena terpaksa. “Kalau tidak di sini, di mana lagi? Mau kontrak, sewa bulanan nya mahal. Kalau di sini kan bisa gratis,” ujarnya. Berlima mereka tinggal di rumah papan sederhana. Selain istrinya, Mutiah, terdapat tiga anak yakni Defani, Arif, dan

Rizky. Listrik dipasok dari nyalur tetangga. Sedangkan air bersih dari ngangsu di kampung sebelah. Dia mengaku, pihak kelurahan menaruh perhatian kepada mereka. “Kami memperoleh bantuan beras miskin dan asuransi kesehatan. Jadi untuk kebutuhan makan sehari-hari bisa tercukupi,” ujarnya. (panji)

Bertahan dengan Barang Bekas KONTRAS dengan namanya, Ny Ribut,

wanita ini dengan tenang menyobek selotip yang menempel di plastik. Di beranda rumahnya yang kecil, dia memanfaatkan waktu luang dengan membersihkan plastikplastik bekas dari kotoran seperti selotip dan benda lain. Dari jasa membersihkan plastik bekas, dia memperoleh upah Rp 600 untuk setiap kilogramnya. “Mayoritas ibu rumah tangga di kampung ini memanfaatkan waktu luang membersihkan plastik bekas,” jelas wanita yang lahir bebarengan dengan geger pemberontakan PKI itu. Plastik bekas itu diambil dari sebuah pabrik. Warga tidak bisa mengambil sendiri, melainkan melalui seorang pengepul. “Pabriknya di daerah Kaligawe, tapi tepatnya di mana saya kurang tahu,” jelasnya. Sehari rata-rata dirinya hanya bisa membersihkan plastk sekitar 18 kilogram. Itu setara dengan satu karung

berukuran besar. Jadi dalam sehari dia bisa memperoleh Rp 10.000. “Lumayan, Mas daripada nganggur,” ujarnya. Pengepul menjadi penghubung antara warga dengan pabrik. Order dari pabrik juga berganti-ganti sesuai kebutuhan. Kadang mencuci plastic, membersihakn kardus bekas, hingga membuat tekukan kotak pembungkus makanan. Banyak warga di Blok M dan sekitarnya menggaantungkan hidup dari barangbarang bekas. Ada yang memang bermata pencaharian utama dengan mengumpulkan barang bekas. Sejak pagi hingga sore mereka mayeng mengumpulkan rongsok. Kemudian dijual ke pengepul di beberapa tempat. Biasanya di kawasan Barito. Adapun warga yang tak bekerja sebagai pencari rongsok, turut “terpengaruh” dengan bekerja yang berkait dengan barang bekas itu. (panji)


HORROR

16

Genderuwo Gombel

Nama “Gombel� menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Tokoh yang namanya diabadikan untuk ruas jalan Simpanglima menuju Tugumuda itu melalui jalan yang curam dan terjal saat berziarah, yang kini intim disebut tanjakan Gombel. SAAT jaman penjajahan, seorang doktor Belanda, Dr WT de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan Semarang Selatan, jangan hanya bagian utara dan sekitarnya. Belanda memang kurang hirau akan Semarang Selatan sebab daerah tersebut adalah perbukitan. Rencana pembangunan itu ditentang masyarakat Tionghoa. Pasalnya, di Gunung Jabalkat yang kini dikenal kawasan Bukit Gombel itu banyak dipakai sebagai area kuburan pengganti area kuburan Pekojan. Sesuai adat Cina, memindahkan jenazah bukanlah hal

mudah. Akhirnya, penguasa wilayah Mr Baron van Heeckeren mengusulkan dibangunnya pekuburan lain di sekitar tanjakan Gombel, yang saat ini disebut Kedungmundu. Gombel pun kemudian dikembangkan menjadi kawasan pemukiman. Jalan yang lebih dulu dibangun adalah Gombel Lama. Pada tahun 1929, ruas Jalan Gombel Lama terputus karena tanah longsor. Maka, pada tahun 1934 Belanda membuat jalan baru yaitu Jalan Setiabudi, atau saat ini dikenal dengan Jalan Gombel Baru dan memanjang sampai Swalayan ADA Setiabudi. Meski saat itu sudah beraspal, jalan yang dari dulu sudah dilalui bus dan kendaraan umum menuju Solo dan Yogyakarta itu belumlah selebar sekarang. Bangunan di kanan kiri jalan juga tidak sebanyak saat ini. Taman Tabanas juga belum dibangun. Di balik keindahan Gombel, terdapat kepercayaan bahwa ada Wewe Gombel (hantu perempuan) dan makhluk lainya penunggu bukit. Penduduk sekitar percaya, saat terjadi longsor atau kecelakaan, makhluk-makhluk gaib tersebut sedang marah akibat pertapaannya diganggu. Konon, di tanjakan Gombel ini sering terlihat hantu wewe yang menggoda pengemudi. Pada masa lalu, di tanjakan ini memang sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa maupun luka-luka.

Kejadiannya mulai dari secara sengaja hantu memakai rok panjang putih menabrakkan diri, menyeberang secara mendadak, maupun melambaikan tangan di pinggir jalan. Jika kita berkendaraan dari Banyumanik ke Jatingaleh, maka akan terlihat jalur penyelamatan kecelakaan berbentuk tanjakan kecil naik sekitar 75 derajat berisi pasir. Di titik itulah konon wewe Gombel berada. Beberapa orang menyebut, lokasi tersebut adalah kerajaan hantu. Hantu Wewe Gombel dalam tradisi Jawa berarti roh jahat atau hantu yang suka mencuri anak-anak, tapi tidak mencelakainya. Konon anak yang dicuri biasanya anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya. Wewe Gombel biasanya menakut-nakuti orang tua si anak atas sikap dan perlakuannya pada anaknya. Bila mereka telah sadar, Wewe Gombel akan mengembalikan anaknya. Wewe Gombel konon adalah roh seorang wanita yang mati bunuh diri lantaran dikejar massa karena membunuh suami. Dia membunuh suaminya sebab si suami berselingkuh. Mengapa sang suami menyeleweng? Sebab si perempuan tak bisa memberikan anak. Akhirnya

ia dibenci suaminya lalu dikucilkan sampai gila, sampai kemudian ia bunuh diri dan arwahnya penasaran. Wewe Gombel digambarkan punya buah dada yang besar dan menjuntai seperti pepaya. Kisah lain mengatakan, anak-anak yang diculik wewe Gombel diberi makan kotoran manusia. Terkadang anak-anak yang diculik akan dihalusinasi sehingga kotoran manusia yang ia lihat seolah-olah makanan lezat. Tujuannya adalah membuat anak menjadi bisu agar tidak bisa menceritakan apa yang telah ia alami. Jika terjadi kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Gombel, maka penduduk setempat memotong sapi lalu kepalanya ditanam di situ. Kepercayaan adat itu sudah mulai kurang terdengar namun masih banyak yang percaya. Selain keberadaan Wewe Gombel, perbukitan Gombel itu dimanfaatkan muda-mudi untuk pacaran. Di tepian bukit, pasangan-pasangan bermesraan sambil memandang laut dan kerlapkerlip lampu di malam hari. Namun, di bibir bukit itu sering muncul genderuwo. Sebelum genderuwo muncul, bau ketela bakar menyengat. Penampakan genderuwo biasanya bergelantungan di pohon di samping Hotel Alam Indah dan berseliweran di belakang mereka saat bermesraan. “Saya lagi mojok sama pacar di atas motor. Kira-kira jam 9 malam waktu itu. Tiba-tiba bau bakaran ketela menyengat. Tahu-tahu sesosok makhluk berbulu hitam bergelantungan di pohon depan sana. Kami merinding tak karuan, sebelum memutuskan kabur,� kata Harjianto, warga Pekunden Timur, Kota Semarang. Seorang satpam Hotel Alam Indah mengatakan, di bibir bukit itu memang sering ada penampakan genderuwo. Mereka adalah penghuni istana gaib yang bergentayangan di perbukitan dan tanjakan Gombel itu. Arief Firhanusa SWARA/DOK

SWARA/DOK

Ganggu Orang Pacaran


PEKOJAN

17

Makam Tokoh Islam di Masjid Pekojan M

ASJID Jami Pekojan berdiri di atas tanah seluas 3.515 M2, dengan luas bangunan asli seluas 16 M2. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari Khalifah Natar Sab asal Gujarat, wilayah India. Tidak diketahui kapan pertama kali bangunan ini berdiri. Sebelum menjadi bangunan masjid seperti saat ini, bangunan aslinya adalah mushola kecil dan pemakaman umum untuk warga sekitar yang mewakafkan tanah untuk tempat ibadah. Di tangan kepengurusan Akuan (seorang keturunan Gujarat), masjid ini mengalami kemajuan. Pada tahun 1305 H oleh keluarga Akuan masjid ini dipugar diganti dengan bangunan yang lebih kokoh dengan lantai marmer dan sebagian dinding dilapisi keramik yang konon didatangkan dari Cina. Pada perkembangannya di daerah tersebut makin lama makan ramai. Ditambah lagi di daerah itu juga sebagai

SWARA/DOK

Pekojan menyimpan riwayat yang panjang dari sempalan misteri Kota Semarang. Salah satu hikayat di Pekojan adalah terdapatnya makam tokoh Islam di sebuah masjid kawasan yang bertetangga dengan Pecinan ini.

tempat perdagangan yang banyak dikunjungi orang. Sehingga masjid ini pun perlu diadakan perombakan dan penambahan bangunan untuk menampung banyak jamaah. Sayangnya, perombakan itu harus menghilangkan bentuk kubah aslinya yang kecil. Areal pemakaman yang ada di sekitar masjid pun turut tergusur. Yang masih ada walinya dipindahkan ke pemakaman umum Bergota. Sementara yang tidak ada walinya dikumpulkan dalam satu liang pemakaman. Sampai saat ini masih dapat dilihat beberapa makam di sekitar masjid yang nisannya mempunyai nama maupun

tanpa nama. Ada satu makam yang di waktu tertentu banyak dikunjungi oleh para peziarah, yaitu makam Syarifah Fatimah binti Sayed Husain bin Ahmad al Idrus. Dia adalah penyebar agama Islam atau pendakwah putri yang wafat pada 5 Jumadil Akhir 1290 H. Selain sebagai penyebar agama, Syarifah Fatimah juga sangat dikenal sebagai penyembuh. Sayangnya beliau wafat dalam usia yang masih muda. Di samping makam Syarifah Fatimah terdapat pohon Bidara, yang konon berasal dari negeri Gujarat. Pohon ini tergolong unik, karena diyakini hanya ada

di lingkungan masjid alias idak ditemukan di daerah lain. Pohon ini dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa harus disemai. Karena jika disemai pohon ini dapat tumbuh lalu tidak lama kemudian mati dengan sendirinya. Pohon ini juga memiliki manfaat yang sangat banyak. Buahnya yang rasanya sedikit asam dan manis diyakini dapat mengobati sakit perut. Daunnya bisa digunakan untuk memandikan/ melemaskan mayat yang kaku, selain untuk menghilangkan bau tak sedap dari mayat. Adib Baskara

Bubur India, Saksi Sejarah Pekojan

SWARA/DOK

BARANGKALI masih ada warga Semarang dan sekitarnya yang belum familiar dengan bubur India. Penganan ini cuma ada pada saat bulan ramadan saja. Satu-satunya tempat yang menyediakan bubur itu ada di Masjid Jami Pekojan, Jalan Petolongan Semarang. H Ngatiman (65), adalah salah seorang peracik bubur beras putih berbumbu aneka rempah ini. Setiap menjelang beduk magrib, Ngatiman selalu sibuk menyiapkan ratusan mangkuk bubur India untuk dibagikan kepada para jamaah masjid dan warga sekitar. “Siapa pun yang datang ke masjid

ini pada saat menjelang azan magrib ramadan, akan kami berikan bubur India yang tiada duanya ini,� kata Ngatiman. Cita rasa bubur tersebut memang tergolong unik, lantaran banyak rempah-rempah yang diolah untuk menambah kelezatannya. Sebagaimana resep turun-temurun dari para Kojan (pedagang keturunan India, Pakistan, dan Arab muslim), Ngatiman pun membumbui buburnya dengan aneka rempah, diantaranya kayu manis, pandan wangi, sere, jahe, bawang, wortel, dan santan kelapa. Biasanya bubur tersebut disajikan

dengan sayur dan lauk-pauk yang berganti setiap harinya, seperti sayur lodeh, tahu, sup, ayam cacah, gulai, ataupun sate kambing. Sejarah bubur India berasal dari orang Koja yang tinggal di kampung yang kini disebut Pekojan itu. Dahulu sekitar 200 tahun silam, orang-orang Koja tersebut sering melaksanakan ibadah salat ashar sekaligus berbuka di masjid seluas 3.500 m2 ini. Lamakelamaan muncul kesepakatan untuk membuat bubur sebagai hidangan buka bersama. Hingga saat ini, seluruh bahan untuk hidangan itu berasal dari donatur jamaah. Arief Kurniawan


PAPAN

18

William Booth mata di tanah jajahan Hindia Belanda, Vihelm berobsesi ik n i l k membangun rumah sakit h i sebua r , a yang lebih besar agar n d a l g a ugan B Beraw i menampung lebih banyak d a n n a ha k r i e r i d e d pasien. Angannya terkabul s n mata ille me a W ketika seorang pasien A m a t m l r dr Vihe sakit mata pe yang disembuhkannya h a m u R i berkenan menghibahkan n i rumah ang. K g r n a a sebidang tanah di sebuah m y e h S t di m Boo a perbukitan yang disebut i l l h i e l W 5o 1 9 Sakit 1 “Madurangin”. i n 23 Ju di n a j a n k Ketika lahan tersedia, i e m m dires masih , i s tapi dana untuk n u i g n i l r a membangun rumah PKW Ke ien mata, sek akit s s a h p a sakit belum tersedia. n m a jujug jadi ru . n e m Maka dokter ini pun u m m a u jug berinisiatif meminta donasi kepada kolega dari kalangan bangsawan Belanda. RIWAYAT Lambat laun, sumbangan para donatur fasilitas kesehatan terus mengalir, termasuk dari Ratu milik Bala Keselamatan ini dimulai Wihelmina yang cukup besar, sehingga saat dr. Vihelm, dokter mata sekaligus jumlah dana yang terkumpul mencapai pendeta kelahiran Denmark, bertugas di 94.000 gulden. Indonesia. Dia membuka klinik sederhana Setelah berdiri, rumah sakit itu di kawasan Bugangan, persisnya di depan diberi nama William Booth. Nama Pasar Dargo. itu dinisbatkan dari pendeta Inggris Selain melayani kalangan bangsawan kelahiran 1829 pendiri aliran Bala dan kaum Eropa, dia juga tak menolak Keselamatan. pasien dari kalangan pribumi dan rakyat jelata. Meski hanya punya Dihentikan Saat Zaman Jepang peralatan sederhana, dokter Vihelm cukup mumpuni mengobati penyakit. Selama puluhan tahun rumah sakit Keampuhannya tersiar hingga ke luar ini melayani masyarakat. Namun pada negeri. zaman Jepang, operasionalnya terpaksa Tak heran pasien berdatangan dari dihentikan. Tahun 1947, rumah sakit Singapura, Muangthai (Thailand), dan swasta ini diserahkan pengelolaannya negara-negara Asia lainnya. Salah satu kepada pemerintah Indonesia. Setahun prestasi pendeta ini adalah menemukan kemudian, dikembalikan kepada Bala xerophtalmia. Penyakit ini kerap keselamatan. Opsir pertama yang menjangkiti anak-anak pribumi yang bertugas di klinik itu adalah Mayor Bass kurang asupan vitamin A. Karnbel. Melihat banyaknya penderita penyakit Sampai sekarang, masih ada yang

SWARA/DOK

Rumah Sakit Mata Tertua di Semarang

mengira rumah sakit di Jalan S Suparman 5 ini, hanya melayani pengobatan mata. Padahal, sejak 1968 rumah sakit yang menempati lahan seluas 23 ribu meter persegi ini telah membuka klinik umum. Sayang, bekas gedung kuno tak lagi tersisa di rumas sakit tipe C ini. Semua gedung telah direnovasi agar sesuai standar bangunan fasilitas kesehatan. Namun jejak sejarahnya masih terekam dari foto-foto jadul yang dipasang menyebar di dinding. Beragam peralatan kesehatan kuno juga bisa dilihat di ruang lobi. Humas RS William Booth Martha Siagian mengatakan, berbekal

The Amaya Luxury Home Resort Alamat: Jl Kompol Maksum 314 Semarang 50249 Jawa Tengah. Nomor Telepon: 024 024-70207001, 8442501. No Fax 024 8441401. Email: info@cityonedevelopment.com Website: http://theamayaliving.com

pengalaman selama 102 tahun, pihaknya terbilang mumpuni melakukan pengobatan mata. “Kami telah memiliki Central Java Eye Center yang dilengkapi berbagai peralatan modern,” ujarnya. Setiap hari rumah sakit ini dikunjungi sekitar tak kurang 300 pasien. Khusus warga miskin, dibuka layanan medis dengan tarif terjangkau setiap pagi dari pukul 08.00-10.00. “Warga miskin yang ingin memperoleh pelayanan medis profesional tapi murah, bisa datang pada jam tersebut. Tapi dalam kondisi darurat, kami tetap membuka tangan bagi pasien miskin selama 24 jam per hari,” jelasnya. Zulfikar Prabu


HUMANIORA

19

Pergaulan Bebas

Bikin Hidupku Hancur

Aku perempuan berusia 34, memiliki seorang putri berusia 7 tahun. Sejak empat tahun lalu aku menjanda. Kisahku bermula ketika aku SMA. Sering nongkrong di tempat mangkal pendaki gunung, lalu aku bertemu Arwan (bukan nama sebenarnya) yang membuat hidupku berubah total.

A

WALNYA aku gadis pendiam walau senang beraktivitas bersama klub pencinta alam. Namun Arwan (nama samaran) memberiku banyak ‘pelajaran’ tentang cara bergaul dengan “anak gunung�. Di sebuah acara pelantikan anggota baru aku akhirnya mengenal apa itu drugs dan seks. Malam itu Arwan menawarkan tendanya untukku. Malam makin larut, namun acara pelantikan belum juga berakhir. Aku memutuskan meninggalkan acara dan tidur, karena esok pagi kami akan melanjutkan acara di puncak gunung yang membutuhkan tenaga ekstra. Aku terbangun mendengar gigil kedinginan seseorang di depan pintu tenda. Ternyata Arwan. Tak tega, aku menyuruhnya masuk. Karena tenda

SWARA/DOK

hanya muat satu orang, kami tidur berhimpit-himpitan. Entah bagaimana awalnya, aku membiarkan saja Arwan memelukku. Aku malah membalas apa yang ia lakukan. Saat itu aku merasakan sensasi yang luar biasa. Hingga akhirnya kami melakukan hubungan badan. Aku memang tak menyesali apa yang kami lakukan. Yang aku sesali adalah Arwan tak menginginkan aku menjalin hubungan dengannya. Buatnya seks malam itu adalah cinta sesaat. Itulah pergaulan yang berlaku bagi mereka. Untunglah aku tidak hamil. Hingga aku berkenalan dengan Dimas (juga nama samara) di lokasi yang sama. Awalnya kami hanya berteman, namun kemudian perasaan cinta tumbuh. Kami

Semarang Heritage Condotel Jalan Agus Salim Ruko Jurnatan ( Ruko THD) Blok C-26 Semarang. Nomor Telepon: 024 3556 999 No Fax 345 999. Website: www.heritagesemarang.com

sepakat menjalin hubungan lebih intim dan ada komitmen. Perjalanan cinta kasih kami berjalan sangat indah. Begitulah seterusnya, aku dan Dimas sering berhubungan intim dan kami kecanduan. Seperti biasa, aku harus menggugurkan kandungan setiap kali hamil. Tidak tanggung-tanggung, perbuatan itu aku jalani hampir dua tahun. Di tahun kedua hubungan kami, pertengkaran kerap terjadi. Puncak pertengkaran ketika aku hamil untuk yang kesekian kali. Aku berkeras mempertahankannya dan menuntut Dimas segera menikahiku. Tuntutanku tidak membuat Dimas melunak. Aku dipukuli di bagian perut sambil menuduhku pelacur. Hatiku pedih luar biasa.

Sejak kejadian itu, setiap kali melihat laki-laki, emosiku selalu meledak. Tapi itu tidak berlaku bagi Doni, bukan nama sebenarnya, sebulan sejak kejadian itu. Doni memberi perhatian lebih padaku. Singkat cerita, sejak itu aku mulai menjalin hubungan dengannya. Namun hubungan ini tak berlangsung lama. Begitu banyak perbedaan di antara kami. Tapi kami tetap berteman, dan sering mabuk berdua karena frustrasi dan kecewa.. Namun kenyataan berbicara lain. Putus dengan Doni, aku menjalin kasih dengan Jefri (nama disamarkan) yang juga teman satu klub Doni. Hingga Jefri akhirnya menikahiku. Di luar itu aku masih memelihara hubunganku dengan Doni karena hati ini tak bisa dibohongi bahwa aku mencintainya. Dari hubungan itu aku hamil dan untungnya Jefri menyangka bahwa janin itu adalah anaknya. Setelah melahirkan, ada perubahan pada diri Jefri. Ia mulai jarang pulang. Ia lebih banyak berkumpul bersama teman-tamannya. Begitu terkejutnya aku sebab mendadak banyak tagihan datang. Tagihan utang yang tak pernah aku lakukan. Setelah kuteliti ternyata itu tagihan-tagihan Jefri. Begitulah, perjalanan rumah tanggaku hancur. Semua hasil jerih payahku bekerja dijual Jefri. Sementara Doni harus pontang panting membantu keuanganku khususnya untuk anakku yang notabene adalah anaknya. Hingga kini kondisiku tak pernah berubah, aku tetap bekerja, Jefri merongrong, dan Doni bekerja keras menghidupi anakku. Hasta MS


KULINER

SWARA/DOK

20

LUMPIA

Bukan Anak Kandung Semarang! Lunpia Semarang tak bisa dipandang sekadar sebagai sebuah makanan. Lebih dari itu, kuliner khas ini merupakan “produk budaya”. OLEH-oleh apa yang pantas dibawa ketika seseorang singgah di Semarang? Tiga makanan ini yang paling menjadi sering menjadi pilihan: wingko babat, bandeng presto, dan lunpia. Meski jika ditilik dari aspek sejarah, ketiganya masih “diragukan” merupakan “anak kandung” kota ini.Coba saja tanya ke Mbah Gugel (Google, red) di internet. Ketik kata kunci “lumpia” atau “lunpia” di baris pencarian. Goggle akan mengarahkan ratusan referensi mengena makanan yang gurih itu. Ternyata, makanan yang oleh Goggle dieja “lumpia” (bukan lunpia) itu merupakan makanan tradisional Filipina, Cina, dan Indonesia. Jelas bahwa makanan ini tak bisa diakui “hanya” sebagai milik Kota Semarang. Tetapi masyarakat kadung menjadikannya sebagai ikon kota. Tentu ini merupakan berkah yang wajib disyukuri. Maka wajar belaka lunpia sering dijadikan oleh-oleh favorit. Dia menjelma menjadi oleh-oleh “wajib” bagi pelancong yang singgah di kota yang dulu bernama

Sam Po To Lang ini. Makanya wajar saban hari pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran serta kawasan lain ramai dikunjungi pembeli. Industri lunpia menghidupi banyak orang. Dari produsen dan pemasok bahan baku hingga tukang becak dan tukang parkir di sekitar Jalan Pandanaran. Baginya, lunpia ibarat senjata untuk berdiplomasi. “Pokoknya setiap ada acara dari Semarang, bawa oleh-oleh lunpia. Tak perlu repot cari oleh-oleh apa yang mahal. Cukup bawa lunpia, sudah pantas untuk diberikan sebagai oleh-oleh kepada atasan, kolega, atau sanak saudara,” ujar Slamet Effendy, pengurus Muhammadiyah Cilacap yang kerap berkunjung ke Semarang. Awal mulanya lunpia terdiri dari sayur rebung berbumbu sebagai pengisi kulit, kemudian digulung berbentuk rolade. Namun lambat laun, berkat kreativitas pembuatnya muncul beberapa versi. Bukan hanya sayur yang ada di balik gulungan, melainkan berbagai bahan lain, seperti daging ayam, telur, udang, bahkan kepiting.

Lima Aliran

Saat ini terdapat lima aliran lunpia di Semarang dengan cita rasa khasnya masing-masing. Semuanya terpengaruh cita rasa makanan Thionghoa. Maklum, makanan ini dipopulerkan etnis yang piawai berdagang dan berpromosi ini. Aliran Gang Lombok atau biasa disebut (Siem Swie Kiem) merupakan lunpia yang tak boleh dilewatkan. Berikutnya aliran Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie

Hie), dan ketiga aliran Jalan Mataram (Siem Hwa Nio). Ketiganya berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lunpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih. Boleh dibilang, lunpia “klasik” ini merupakan yang asli di Semarang. Aliran keempat didirikan oleh karyawan yang ‘membelot” kemudian berusaha mendirikan usaha sendiri. Serta aliran berikutnya boleh disebut sebagai aliran “kreatif”. yakni lunpia yang dibuat oleh pecinta kuliner dan pengusaha yang berusaha menciptakan kreasi-kreasi baru dalam membuat lunpia. Jika dilihat lunpia yang “klasik” atau tua, yang masih melayani adalah generasi ketiga dari Babah Siem Swie Kiem (68). Di toko warisan ayahnya Siem Gwan Sing di Gang Lombok 11, dia masih setia melayani konsumen. Terutama yang rindu mencicipi lunpia yang asli. Keistimewaan lunpia ini adalah racikan rebungnya yang tidak beraroma khas. Jujur saja, sebagian menganggap rebung dari lunpia sering dianggap “berbau aneh.” Selain itu, campuran telur dan udangnya juga tak meninggal jejak aroma di hidung. Lunpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lunpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran. Kekhasan lunpia Mbak Lien ini

adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lunpia, yaitu lunpia isi udang, lunpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lunpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lunpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam. Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan, ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lunpia sendiri di Semarang. Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lunpia tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lunpia semarang. Mereka umumnya mantan karyawan mereka. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lunpia semarang dengan membuat sendiri, seperti Lunpia Express, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang. Nah tinggal dicoba, mau pilih yang mana? (PJS/Cintya Herdiani)


WISATA

21

Menyusuri Jalan Berliku Menuju Pantai Maron

K

ota Semarang yang ‘mukim’ di kawasan pesisir menyimpan keindahan alam pantai yang indah dan eksotis. Salah satunya Pantai Maron. Semarang ,ungkin terlalu identik dengan Tanjung Mas, a tau Pantai Marina. Tapi, jangan lupa bahwa kota yang 2 Mei nanti merayakan ultah ke-467 ini punya Pantai Maron. Pantai Maron letaknya hanya sekitar 20 menit perjalanan dari pusat kota. Melewati tambak-tambak petani bandeng dengan jalanan tanah yang berdebu di sepanjang Kali Banger, maka sampailah kita di Pantai Maron. Untuk menuju Pantai Maron tidak sulit. Tetapi harus diakui bahwa perjalanan menuju pantai yang berdekatan dengan Bandara A Yani ini harus benar-benar ekstra sabar dan hati-hati. Maklum, kondisi jalanan bergelombang. Di musim hujan, jalanan berubah menjadi hamparan tanah becek dan licin. Kondisi ini ditopang pula belum adanya angkutan umum menuju ke sana. Maka, tumpangan menuju pantai ini musti pakai motor atau mobil pribadi. Jalur menuju Maron harus dilalui lewat Bandara Ahmad Yani. Bila sudah masuk kawasan bandara, pelancong tidak perlu belok menuju tempat parkir bandara, namun terus melaju ke arah barat. Di ujung tempat parkir terpasang papan bertuliskan “Pantai Maron” plus tanda panah. Nah, dari bandara hingga pantai inilah terdapat jalan bergelombang dan berkelok. Tiket Murah Untuk memasuki kawasan pantai, pengunjung dibebani tiket Rp 3.000 per kepala. Pengunjung segera bisa menikmati keindahan pantai yang indah bersama keluarga atau pacar. Bisa juga untuk berenang

bebas di laut. Karena pantai ini tidak bergelombang sebagaimana Parangtritis, maka aman untuk berenang. Selain berenang, pengunjung pun bisa menikmati ombak yang menderu lembut sambil duduk, dengan siraman angina sepoisepoi yang asyik, seraya menikmati makanan yang banyak dijual disekitar pantai. Ada lagi keindahan lain yang ditawarkan pantai ini. Meski Maron tidak langsung menghadap ke barat, namun wisatawan bisa menikmati indahnya sunset yang muncul di sisi barat laut. Kalau mujur, kita bisa mendapat matahari yang lembut mulai menuruni lautan yang bergerak tenang. Hal yang sama juga bisa dinikmati di Pantai Marina Semarang yang letaknya tak jauh dari Pantai Maron. Meski jarak antara laut dengan pantai sekarang hanya tersisa sekitar 10 hingga 15 meter sehingga tak lagi bisa digunakan untuk beraktivitas paramuda macam bolavoli pantai, ditambah pula warung-warung yang makin banyak mencapai bibir pantai, tapi Maron masih punya sisi keindahan yang layak untuk diperhitungkan. Pelancong masih bisa beraktivitas rekreatif seperti berkejar-kejaran, membuat rumah dari pasir pantai; serta tentu saja berenang di pantai dengan siulet sinar matahari yang mulai merekah di arah barat, atau menyaksikannya turun kedasar laut ketika senja mulai menyapa. Pantai Maron menawarkan tempat plesir yang indah, murah, merakyat, dan dekat dengan masyarakat. Tapi, sayangnya, terkadang pantai ini kurang memerhatikan masalah kebersihan

WARGA Tlogosari dan sekitarnya terbilang beruntung. Di perumahan padat itu, terdapat banyak taman. Ukurannya memang mungil, tapi tersebar merata di beberapa tempat. Taman-membuat suasana kian cantik. Keberadaan ruang terbuka hijau bisa dirasakan manfaatnya oleh warga kota. Menyuguhkan keindahan sekaligus kenyaman untuk rekreasi keluarga. Nyaris tak ada taman di perumahan Tlogosari yang dibiarkan terbengkalai. Bahkan sebagian besar dilengkapi beragam fasilitas untuk kenyamanan wisata keluarga, seperti jogging track, air mancur, dan lampu-lampu hias. Berapa taman di perumahan tersebut di antaranya di Jalan Parangkesit, Parangsarpo, Sekarjagat, Truntum Raya, dan Bledhak Anggur. Yang terbesar dan kerap menjadi jujugan adalah Taman Sari Kusuma di Jalan Parangkusumo. Letaknya strategis, di depan Toko Roti Virgin, hanya beberapa meter dari pintu gerbang perumahan. Fasilitasnya, selain wahana seperti seluncuran, ayunan, papan jungkat-jungkit, bola dunia, juga terdapat air mancur dengan patung setan dan

lapangan bulutangkis. Pada malam hari suasana terlihat semarak dengan kelap-kelip lampu hias. Berada di taman ini bak merasakan oase di gurun. Maklum, hawa Kota Semarang cenderung panas. Di Taman ini, terdapat beragam tanaman yang membuat nyaman untuk melepas penat. Anakanak bisa bermain sembari belajar mengenal lingkungannya. Nania, warga Taman Udan Riris, Tlogosari mengatakan kerap menikmati keindahan taman tersebut. Alasannya klasik, karena gratis. “Nggak perlu keluar biaya untuk main di sini,” ujarnya yang saat ditemui tengah asyik bermain plorotan dengan anaknya. Menurutnya, taman menjadi katarsis dari kesumpekan rumah. Di rumah sumpek dan panas. Kalau di sini kan rasanya adem. Hati rasanya senang berada di ruang terbuka,” jelasnya. Benar, ruang terbuka membuat hati terbuka. Keberadaan taman di Tlogosari barangkali bisa menjadi “suri tauladan” bagi perumahan lain agar tak pelit menyediakan fasilitas umum dan sosial. (PJS/Cintya)

SWARA/DOK

SWARA/DOK

Tlogosari juga Tawarkan Taman

Arief Firhanusa

SWARA/DOK


SITUASI

22

Sepeda Motor Bunuh Angkot

U

capan itu spontan terlontar lantaran sejak dari Pemuda sampai Sriwijaya, ia hanya mengangkut wartawan SWARA seorang diri walau beberapa kali ngetem di Jalan Gajah Mada dan Simpanglima. Sementara itu, tiga penumpang mikrolet C-10 dari Perumnas Banyumanik tujuan Pasar Johar mengomeli pengemudi lantara ngetem selama 20 menit di Jalan Setiabudi, dekat Supermarket ADA, Srondol. Pengemudi ngetem untuk menjaring penumpang bus dari Solo dan Yogyakarta yang menurunkan penumpang di areal tersebut. “Maaf bapak dan ibu, kalau mau pindah silakan, saya masih mau cari penumpang. Kalau sampai Johar hanya bawa tiga penumpang rugi saya. Karena, sekarang susah dapat penumpang di dalam kota,” ujar Imam berterus terang. Baik Bambang maupun Imam menuturkan, dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini penumpang angkotan kota di Semarang menurun drastis. “Paling banter bawa pulang Rp 40.000 tiap hari ke rumah setelah potong setoran Rp 50.000,- dan biaya BBM. Terkadang malah nombok,” ujar Bambang. Imam

FOTO-FOTO: SWARA/DOK

“Alhamdulillah masih ada rejeki, Pak,” tutur pengemudi mobil Angkot C-5 (Johar-Simpang Lima-Java Mall), sebut saja Bambang, begitu ada 4 ibu yang menyetop kendaraannya di Jalan Sriwijaya, Minggu (2/3/2014).

pun mengatakan hal yang sama. Menurunnya jumlah penumpang angkot juga dialami Bus Kota Perum Damri yang melayani trayek JoharPemuda-Kalisari-JatingalehPerumnas Banyumanik. “Jumlah penumpang turun sampai di atas 40 persen,” ujar seorang petugas Perum Damri di pangkalan Damri di Pasar Johar, Minggu (2/3). “Tahun lalu masih ada 12 unit bus yang melayani Pasar Johar-Perumnas Banyumanik

tiap hari. Sekarang tinggal lima unit saja, lainnya dalam perawatan. Karena penumpangnya turun drastis di atas 40 persen, rugi kalau semua dioperasikan,” imbuh petugas itu. Lalu apa penyebab utama menurun drastisnya jumlah penumpang Angkutan Kota di Kota Semarang? Jawaban atas pertanyaan ini sama dari semua pengemudi yang diajak berbincang, termasuk petugas Perum Damri. Yaitu, terusnya meningkatnya populasi sepeda

Punya Rp 500 Ribu Sudah Numpak Motor

PENJUALAN atau pembelian sepeda motor dengan sistem kredit berbuntut pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua ini menggila. Kasarannya, orang punya duit Rp 500 ribu sudah bisa menunggang motor. Data Badan Pusat Statistik Kota Semarang menunjukkan, bila tahun 2010 baru tercatat 119.019 unit sepeda motor, maka pada 2011 bertambah menjadi 151.286 unit atau ada penambahan 32.267 unit atau tumbuh 27,11 persen.

Sementara data dari sumber lain menyebutkan, dalam tahun 2012, penjualan sepeda motor di Kota Semarang mencapai hampir 30.000 unit, lebih rendah dari tahun 2011. Itu berarti, populasi motor di Semarang bertambah menjadi sedikitnya 181.286 unit. Dan, sampai akhir 2013 diperkirakan, populasi kendaraan roda dua ini di Semarang sudah mencapai di atas 210.000 unit. Semula, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI)

memperkirakan, realisasi penjualan motor sepanjang tahun 2012 dan 2013 akan mengalami penurunan akibat uang muka kredit dinaikkan Bank Indonesia menjadi 20 persen dari harga jual atau harga beli. Tapi ternyata, pengaruhi uang muka tersebut sangat kecil. Karena, realisasi penjualan secara nasional tahun 2012 memang turun dibawah 7,2 juta unit, tapi tahun 2013 kembali naik hingga di atas 7,5 juta unit sepeda motor. Mesker Md

motor. “Harga Sepeda Motor sekarang sangat murah, apalagi bisa dibeli secara kredi. Lagian biayanya pun murah dibanding naik angkot,” ujar Bambang yang diiyakan para pengemudi lain. Dari Peterongan ke Pasar Johar dengan Angkot C-5, misalnya, ongkosnya Rp 3.000 sekali jalan atau Rp 6.000 pergi pulang (PP). Sementara dari Perumnas Banyumanik ke Pasar Johar, baik naik Angkot C-10 maupun Bus Damri, ongkosnya sama yakni Rp 4.000/orang sekali jalan atau Rp 8.000/orang PP. Ongkos angkot tersebut tergolong mahal ketimbang motor. Pemilik motor cukup membeli dua liter premium seharga Rp 13.000 dan bisa digunakan keliling kota Semarang selama dua hari. Dari sisi waktu tempuh naik motor lebih cepat, sementara angkot sering ngetem mencari penumpang. Mesker Md


SITUASI SWARA/DOK

23

Rem Blong

Pengusaha Bisa Dibui Secara umum, kecelakaan lalu lintas termasuk akibat rem blong, disebabkan adanya ketidakseimbangan antara perilaku pengemudi, karakteristik kendaraan, kondisi lingkungan dan prasarana serta perlengkapan jalan. Berikut wawancara SWARA dengan Anggota Tim Ahli Laboratorium Transportasi Fakultas Tehnik Universitas Diponegoro Semarang, Ir Wahyudi Kusharjoko, MT.

H

AMPIR 60 persen dari kasus kecalakaan lalu lintas yang disebabkan faktor kendaraan, penyebab utamanya adalah rem blong. Menurut hasil pengamatan Bapak, apa faktor penyebab rem blong? Rem blong tejadi karena kendaraan tidak mampu diberhentikan pada suatu jarak turunan maupun tanjakan tertentu. Perilaku pengemudi, kecepatan kendaraan, berat kendaraan, kondisi lingkungan dan jalan bisa menyebabkan kegagalan pengereman. Biasanya kecelakaan berat sering terjadi pada titiktitik transisi. Misalnya, kendaraan dari luar kota masuk dalam kota. Kebiasaan mengemudi di luar kota dengan kecepatan

tinggi, tiba-tiba harus mengurangi kecepatan karena kondisional. Apalagi kalau kondisi jalan masuk kota menurun dengan kelandaian cukup tajam dan kendaraan bermuatan beban berat, bisa menyebabkan ketidakmampuan sistem rem, sehingga rem blong. Pengemudi selalu masuk bui kalau terjadi kecelakaan lalu lintas, meski kecelakaan terjadi karena rem blong. Menurut Bapak, apakah pantas pengemudi dipersalahkan? Faktor perilaku supir minimal 85 persen penyebab kecelakaan. Rem blong terjadi karena ketidakseimbangan antara perilaku pengemudi, kecepatan kendaraan, berat kendaraan, kondisi lingkungan dan jalan. Setiap terjadi

kecelakaan lalu lintas, ada analisis black spot-nya. Penyebab kecelakaan lalu lintas disimpulkan dari analisis black spot-nya. Mengapa pengusaha angkutan tidak pernah dikenai tindak pidana bila terjadi kecelakaan karena rem blong? Pengusaha wajib dan bertanggung jawab atas perawatan rutin terhadap armada yang dioperasikan. Kendaraan angkutan umum penumpang atau barang wajib dilakukan uji kir untuk kelayakan jalan. Uji kir harus dilakukan sesuai ketentuan, seperti uji sistem rem, lampu dan sign, permukaan ban, dsb. Pengusaha dapat diberi sanksi pidana atau denda, bilamana kendaraan memuat lebih besar dari kapasitas kendaraan. Apakah aparat pemerintah, khususnya pelaksana uji kir bisa dipersalahkan dalam kasus kecelakaan karena rem blong tersebut? Kalau uji kir dilakukan tidak sesuai ketentuan teknis yang berlaku, aparat uji kir dapat dipersalahkan. Tetapi dalam kasus rem blong banyak penyebabnya. Tapi aparat uji tidak bisa dipersalahkan. Disarankan, dilakukan uji petik secara berkala terhadap keandalan rem kendaraan, terutama untuk kendaraan berat (truk dan bus). Karena, uji kir berlaku selama 6 bulan, sehingga dalam periode tersebut segala kemungkinan bisa terjadi akibat utilitas operasional kendaraan, termasuk terjadinya kegagalan rem karena beban operasi. Bagaimana pendapat Bapak tentang masih banyaknya kendaraan angkutan umum barang dan penumpang usia tua (di atas 10 tahun) yang masih bebas beroperasi?

Kendaraan itu sebaiknya diremajakan. Sebab kerusakan kendaraan tergantung utilitas/penggunaan operasional kendaraan tersebut. Biasanya kendaraan yang telah berumur lebih dari 10 tahun sudah tidak layak jalan dan tidak mendatangkan keuntungan, karena biaya dihabiskan untuk perbaikan. Apa saran Bapak untuk meminimalisasi kasus dan korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia ? Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti mengefektifkan ruang jalan dengan mengurangi sepeda motor dan kendaraan pribadi dengan memperbanyak kendaraan angkutan massal. Juga peraturan operasional lalu lintas lebih ketat, ada ketentuan kecepatan aman yang harus ditaati sehingga lalu lintas yang berjalan pada kecepatan dan lintasan yang sama akan meminimalkan kecelakaan. Selain itu, pendidikan tata cara berlalu lintas yang baik harus diterapkan sejak usia dini, sehingga terbentuk karakter manusia Indonesia yang berbudaya dalam berlalu lintas. Pemerintah juga harus menerapkan kebijakan yang tepat, tidak ambivalen. Disatu pihak kendaraan di produksi besar-besaran, ruang jalan tidak tumbuh selaras, BBM di batasi. Semestinya ada koordinasi yang baik antar instansi terkait, seperti Kementerian Perhubungan, Perindustrian, Perdagangan, ESDM, Pekerjaan Umum dan lainnya. Pemberian atau penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM), terutama untuk kendaraan angkutan umum barang dan penumpang harus diperketat dan law enforcement harus berjalan baik. Mesker Md


KULINER

24

Rumah Makan Cabe

SWARA/DOK

Murah dan Memerahkan Wajah

Anda penyuka makanan pedas? Datanglah ke Rumah Makan Cabe. Maklum, restoran yang buka bulan April 2011 ini menawarkan berbagai macam sambal pedas, sepedas wajah kita digampar sandal. SETIDAKNYA ada 30 macam sambal, seperti sambal bajak, korek, dan sambal mangga muda di rumah makan ini. Pemiliknya, Budi Noor Aswin (30), menuturkan bahwa ia memang sengaja ingin membuat suatu konsep rumah makan yang berbeda. Berbeda bila dilihat dari varian sambal yang ditawarkan, serta sayuran dan lauk sebagai pelengkap. “Saya melihat usaha bidang kuliner prospeknya bagus. Segmen yang dibidik tidak hanya mahasiswa dan pelajar, namun semua kalangan,” katanya Aswin. Restoran yang berada di Jalan Hayam Wuruk ini – kemudian juga membuka cabang di Jalan Moch Suyudi dan beberapa lainnya – juga ruang VIP bagi yang ingin melakukan meeting dengan klien. “Di sini kita ada dua lantai, pengunjung bisa memilih di dalam ataupun yang diluar. Kalau di atas memang jumlahnya terbatas. Serta menyediakan ruangan VIP,” lanjutnya

mengenai RM Cabe di Hayam Wuruk. Harga yang ditawarkan rumah makan dengan motto “rasa nomor 1” ini pun sangat ramah kantong. Tak heran tiap hari banyak anak muda datang ke restoran ini. Dengan Rp 1000 sampai Rp 12.500 bisa puas makan bersama teman-teman. Dengan modal awal Rp 130 juta, sampai saat ini Restoran Cabe di Semarang

telah memiliki 7 cabang. Selain di Jalan Hayamwuruk dan Moch Suyudi, Cabe juga ada di Jalan Puri Anjasmoro, Pamularsih serta daerah Tembalang. “Omset rata-rata mencapai Rp 150 juta perbulannya,” jelasnya.

Pernah Jadi Supir Angkot Meraih sukses tidak mudah dan penuh liku-liku. Sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang, Aswin sempat menjadi supir angkot jurusan Sampangan-

Simpanglima. “Dulu saya kerja sebagai supir angkot. Pada 2007 saya memilih berkecimpung di dunia bisnis, karena tuntutan ekonomi. Salah satunya bisnis kuliner,” tutur Aswin. Awalnya dia, merintis usaha singkong keju dan membuka beberapa cabang. Namun dalam perjalanannya hanya

ada satu yang masih eksis yakni gerai singkong keju di depan SMA Kartini, Kagok. Tidak berhenti begitu saja, ia pun mencoba membuka usaha kuliner lainnya dengan membuka restoran Cabe yang berada di jalan Hayam Wuruk. “Usaha kuliner itu, merupakan usaha yang subur. Kuncinya harus fokus dengan target,” ungkapnya. Dengan keuletan dan kegigihannya, terbukti kini restoran Cabe sudah memiliki 7 cabang di kota Semarang. “Dalam menjalankan usaha, saya menerapkan sistem franchise karena dengan sistem tersebut lebih cepat dikenal masyarakat,” katanya. Aswin mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Ia hanya lulusan SMA, meski sempat kuliah tetapi tidak tamat. “Saya ini malah sempat nunggak 2 kali saat SMA, kuliah juga tidak lulus. Meskipun begitu saya tidak ragu menjalankan bisnis ini,” ungkapnya. Menurutnya, untuk menjadi orang sukses tidak harus berangkat dari orang pintar ataupun yang memiliki modal besar. Dengan semangat dan kerja keras itulah yang dijadikan modal bagi Aswin dalam berbisnis. “Sekarang saya bersyukur, berkat hasil kerja keras saya. Saya sudah memiliki, rumah, mobil, dan tiap tahun jalan-jalan

ke luar negeri,” pungkasnya. Cintya Herdiani


SOSIAL

25

Mengunjungi Orang Arab Lewat Pecinan

T

ujuh dari sekitar 20-an kelenteng yang ada di Semarang terdapat di kawasan ini. Salah satunya adalah Kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng yang di-bangun tahun 1746 atau 256 tahun yang lalu ini juga dikenal dengan sebutan Kelenteng Gang Lombok. Kelenteng tertua ini tampak terawat rapi dan menjadi center warga Pecinan yang mayoritas dari etnis Tionghoa. Tingkah laku baik yang eksklusif dalam kekerabatan masyarakat Cina di Semarang maupun yang inklusif ketika berinteraksi dengan masyarakat Jawa dan etnis lain, bisa juga menjadi daya tarik. Selain juga adanya akulturasi budaya melalui konsep-konsep agama. Pecinan bisa menarik bila paket pariwisata bisa menampakkan tiga hal itu sekaligus. Tiga hal tersebut bisa didahulukan sebelum memunculkan masalah penataan lingkungan atau kondisi geografis. Robert Budi Wijaya (63), Ketua Pengurus Kelenteng Gang Lombok yang juga sesepuh warga Tionghoa di Pecinan Semarang kepada Pembaruan, awal Juli lalu mengatakan, Karnaval Sam-poo yang secara rutin diadakan dua kali setiap tahun, betul-betul bisa menjadi objek turis yang dijual. Setiap tahunnya, ada dua upacara yang wajib dilaksanakan. Sampoo Tay Jien yang disebut juga Sampoo besar, yaitu arak-an Dewa Dagang dari Kelenteng Gang Lombok ke Kelenteng Gedung Batu, yang dikenal dengan Kelenteng Sampoo Kong. Sementara upacara Poo Seng Tay Tee atau Sampoo kecil, yang mengarak Dewa Obat dari kelenteng Gang Lombok menuju petilasan Boom Lama di Bandarharjo. Selain dua upacara ritual itu, masih ada bentuk kesenian Tionghoa lainnya. Seperti sandiwara Mih Cicih

SM/HARI SANTOSO

yang menggambarkan kondisi orang Tionghoa dengan gaya Melayu, wayang kulit Tionghoa berbahasa Jawa seperti cerita Si Jin Gui yang diganti dengan nama Jawa Joko Sudiro, serta wayang golek khas Tionghoa bernama Potehi. Ide mengembangkan pariwisata berciri wisata heritage atau warisan budaya di Pecinan ini, me-nurut Robert, bermula dari Dinas Pariwisata Kota Semarang. Robert mengatakan, bila daerahnya akan dikembangkan menjadi China Town, yang paling penting adalah prosesnya secara alamiah. Alamiahnya kehidupan Pecinan di Semarang tidak dapat dilepaskan dari adanya proses akulturasi antara orang Tionghoa dengan orang Jawa, serta orang Tionghoa dengan etnis lain, seperti Arab. “Contohnya dengan Arab, Pecinan Semarang langsung berbatasan dengan kampung orang keturunan Arab, yaitu Pekojan. Secara otomatis, ada proses saling mengisi yang terjadi, baik dari bentuk keseniannya, tingkah lakunya, maupun dari makanannya,� papar Robert pula. Makanan khas Pecinan, kata Robert, juga menjadi daya tarik tersendiri, tidak hanya untuk orang Tionghoa. Bahkan makanan khas yang selalu mudah dicari di China Town di seluruh dunia tersebut, di Semarang juga sudah mengalami akulturasi dengan budaya Jawa. Kelenteng-kelenteng di Pecinan Semarang, menurutnya, merupakan kelenteng yang paling terawat rapi, dibanding kelenteng di kota-kota lain. Ornamen dan atap yang melengkung naik menunjukkan gaya Tiongkok Se-latan. Kelenteng-kelenteng itu merupakan penyembahan bagi Dewa Bumi, karena itu dibangun di tiap mulut gang untuk menangkal pengaruh bumi yang buruk. Adanya kegairahan semangat reformasi, menyebabkan

Kawasan Pecinan Semarang ternyata memiliki daya tarik tersendiri yang bisa dijadikan aset wisata Kota Semarang. Selain menjadi salah satu pusat perdagangan, kawasan ini menjadi pusat peribadatan umat Kong Hu Cu. tiap-tiap kelenteng ramai-ramai melakukan kirab sendiri-sendiri, yang tidak didasarkan pada ritual Kong Hu Cu. Bahkan terkesan berlomba-lomba. Ia mengatakan, hal itu perlu ditertibkan, agar tidak merusak suasana ritual yaitu sedekah kepada Dewa Bumi. Selain itu, rumah-rumah obat atau sinshe, rumahrumah makan, serta gedung-gedung tua bisa menjadi tempat singgah turis. Sayangnya, banyak gedung tua telah dibongkar dan didirikan bangunan baru. Seperti gedung Be Biau Tjoan di Kebondalem yang dulu dikenal dengan Gedung Gula dan dilengkapi dengan taman yang indah. Kali Semarang yang mengalir persis di tepi Gang Lombok, yang dulu dikenal dengan perahu-perahu nelayan membawa ikan hasil tangkapan dari laut utara Semarang, sudah tak mengalir karena endapan sampah begitu tebal. Gang Lombok sendiri yang diharapkan menjadi jalan utama China Town Semarang hanya selebar 6,5 meter, dan kini dipenuhi pedagang barang rongsokan. Cintya Poppy


SITUASI

SWARA/DOK

26

REM BLONG Tumbalnya Selalu Sopir

M

ISALNYA, Truk Fuso B-9357-AO bermuatan pasir, Kamis (20/2/2014) menyebabkan tabrakan beruntun di Jl Arteri Yos Sudarso dekat Hotel Puri Garden Semarang. Truk yang dikemudikan Muryanto (35) itu diduga mengalami rem blong sehingga menyeruduk Toyota Fortuner hitam H-7401-TY. Toyota Fortuner tersebut kemudian menyeruduk truk trailer H-1805BY. Tabrakan beruntun itu tidak menimbulkan korban jiwa. Kemudian bus PO Nugroho H-1574-AG menabrak enam sepeda motor dan tiga mobil di turunan Jl Dr Wahidin Semarang (3/5/2013) yang menyebabkan tiga orang tewas. Penyebabnya, menurut Dishubkominfo Kota Semarang, rem blong karena sil rem dari roda sebelah kiri bagian belakang bocor sehingga oli rem rembes dan habis. Masih banyak lagi kasus kecelakaan yang disebabkan rem blong yang terjadi setiap hari di jalan raya. Data Korlantas Polri menunjukkan, selama tahun 2011, misalnya, 59,03 persen dari 17.898 kasus kecelakaan yang disebabkan faktor kendaraan karena rem blong alias rem tidak berfungsi dengan baik. Artinya, setiap hari 49 kasus atau sedikitnya dua kasus kecelakaan akibat rem blong setiap jam terjadi di jalan raya. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatinkan. Karena,

Setiap jam terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan sedikitnya dua orang mati sia-sia di jalan raya. Banyak faktor penyebab kecelakaan lalu lintas. Salah satunya faktor kendaraan. Dan, elemen penyebab utama dari faktor kendaraan ini adalah rem blong alias rem tidak berfungsi dengan sempurna.

Undang-Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU-LLAJ) menetapkan faktor keselamatan menjadi perhatian utama penyelenggara angkutan umum, baik angkutan umum penumpang maupun barang. Karenanya, setiap kendaraan angkutan umum diwajibkan menjalani Uji Kelayakan atau Uji KIR setiap enam bulan sekali. Selain itu, setiap perusahaan angkutan umum (penumpang maupun barang) diwajibkan melakukan perawatan rutin atas setiap armada yang akan dan atau setelah dioperasikan untuk menjamin kelaikan dan kehandalan armada yang dioperasikan tersebut. Masalahnya adalah mengapa kasus kecelakaan yang terjadi akibat rem blong masih cukup banyak?. Tingkat kehandalan rem, menurut Agus – mekanik mobil yang bekerja di salah satu bengkel mobil terkenal di Semarang, dipengaruhi sistem perawatan, suku cadang yang digunakan, beban muatan dan kondisi

jalan.

Perawatan dilakukan secara baik dan rutin, tapi kalau suku cadang yang digunakan bukan suku cadang asli, maka perawatan rutin tidak menjamin tingkat kehandalan rem menjadi prima. Di sisi lain, kalau pun perawatan benar dan baik serta suku adang yang digunakan asli, tapi beban muatan melebihi kapasitas angkut kendaraan dan kondisi jalan yang dilalui bergelombang atau berlobang – apalagi bergelombang dan berlobang, maka tingkat kehandalan rem akan berkurang akibat tekanan beban rem meningkat saat difungsikan sehingga bisa terjadi rem blong secara tiba-tiba. Kalau begitu, siapa yang seharusnya bertanggung jawab kalau terjadi rem blong, apakah pengemudi atau pengusaha (perusahaan) angkutan? Fakta menunjukkan bahwa pengemudi selalu menjadi tumbal. Pengemudi langsung dijadikan terdakwa dan akhirnya divonis pidana penjara. Dan, umumnya para pengemudi didakwa melanggar pasal 310 UU-LLAJ,

yakni kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah pengemudi merupakan penyebab utama rem blong sehingga selalu dijadikan pesakitan dan kemudian dihukum pidana penjara? Menurut Agus, andil pengemudi dalam penyebab rem blong sangat kecil, yakni 15 persen. Karena, setiap kendaraan berat seperti bus dan truk memiliki sistem peringatan dini rem blong dan para pengemudi umumnya tahu dan memahami hal itu. (Mesker Md)


Ada Televisi di WC Umum

SOSIAL SWARA/DOK

27

Kampung Bustaman

Lahan yang semakin sempit, penduduk yang kian padat, serta terbatasnya ketersediaan air bersih membuat warga Kampung Bustaman Kelurahan Purwadinatan Kecamatan Semarang Tengah mengalami kesulitan dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, cuci, kakus (MCK).

A

palagi sebagian besar penduduknya tidak memiliki fasilitas kamar mandi dan WC pribadi, akibatnya banyak warga yang melakukan buang air besar (BAB) di kali Semarang. Dengan keadaan seperti ini membuat kampung Bustaman kumuh. Sehingga dengan keberadaan MCK Plus di kampung ini sangat membantu warga dalam memenuhi kebutuhan MCKnya. Ketua RW III Wahyuno mengatakan MCK di Kampung yang letaknya dekat Pasar Johar ini merupakan peninggalan Jaman Belanda. Pada saat itu saluran pembuangan masuk ke dalam got. ”Kalau dulu masih bisa menampung karena jumlah warganya sedikit, tapi lama kelamaan warga di Bustaman makin bertambah sehingga tidak mampu menampung,” tutur Wahyuno. Tahun 2000 MCK ini pun sempat ditutup selama dua tahun untuk masa perbaikan karena bangunan lama itu sudah tidak layak lagi. ”Selama ditutup warga buang hajat kembali ke kali Semarang,” imbuh dia. Selanjutnya menyikapi hal ini, kampung Bustaman menerapkan program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) yang bertujuan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan pola hidup bersih dan sehat. Di atas lahan seluas 86 m2, bangunan Belanda tersebut dibongkar dan dibangun kembali pada tahun 2006. Bila sebelumnya

terdapat 12 kamar mandi yang terdiri dari enam kamar mandi pria, dan enam kamar mandi wanita. Namun setelah direnovasi menjadi empat kamar mandi dan enam WC. MCK plus ini boleh digunakan siapa saja, tetapi yang sering menggunakan warga RT 3, 4, 5, 6 RW III. MCK ini dikelola oleh Kelompok Swadaya masyarakat (KSM) Pangrukti Luhur. Dalam menggunakan jasa kamar mandi maupun WC, pemakai dapat membayar sebesar Rp 500 atau Rp 1000. ”Untuk pembayaran ini sudah sesuai dengan kesepakatan warga, sebenarnya boleh bayar berapa saja yang penting ikhlas,” jelas Wahyuno. Wahyuno menjelaskan dirinya ingin mengubah pola pikir warga Bustaman yang gemar membuang hajat di Kali Semarang, dengan menggunakan MCK dapat menerapkan PHBS dalam kehidupan keseharian mereka. Dalam sehari MCK Plus yang dikelola warga ini mampu menghasilkan Rp 90.000 per bulan. Rata-rata yang menggunakan jasa MCK ini 300 orang per harinya. ”Kira-kira dalam sebulan kami

mendapat penghasilan tambahan Rp 2.700.000, dan hasilnya ini digunakan untuk kegiatan warga,” papar dia. Melalui penghasilan tambahan ini, Wahyuno mengaku dapat mensejahterakan warganya. Bahkan untuk penjaga MCK pun mendapat gaji Rp 300.000 per bulan. Selain itu juga hasilnya dapat membantu pembangunan di Kampung Bustaman. Diantaranya pembuatan gedung pertemuan yang berada di atas MCK, membuat gorong-gorong saluran, serta pavingisasi di wilayah RW III.

Jadi Biogas Dalam program sanimas yang diterapkan disini, selain untuk pemenuhan MCK juga ada plus nya yakni pemanfaatan biogas dari hasil pembuangan. Hasil pengolahan limbah menghasilkan biogas dimanfaatkan warga untuk memasak. MCK ini menggunakan sistem pengolaan anaerobic yang terdiri atas bioregister sebagai

bak penampungan, septik tank sebagai bak sedimentasi, reactor baffle sebagai tempat tinggal dan berkembangnya bakteri anaerob. ”Biogas ini aman sehingga bisa digunakan oleh warga untuk memasak,” kata dia. MCK Plus ini berbeda dengan MCK umum lainnya, selain plus karena limbahnya dimanfaatkan untuk biogas, di MCK yang sudah berjalan empat tahun ini pun tidak bau seperti yang lain. Bisa merasa nyaman untuk berada di dalam MCK Plus. Selain itu juga fasilitas lainnya di MCK ini pun terdapat televisi 14 inci, menjadi hiburan bagi pengantre WC. ”TV itu merupakan hadiah dari Gubernur Jateng (saat itu) Ali Mufidz saat memperingati Hari Air,” jelasnya. Sehingga bagi pengguna yang mengantri pun tidak merasa bosan. ”Jadi ya bisa nunggu antrian sambil nonton TV,” lanjutnya. Keberadaan MCK Plus di kampung Bustaman ini juga mendapat penghargaan dari LPTP Sanimas Award 2009 tingkat Jateng. Yang memenangkan juara 1 untuk kategori MCK Plus.

(WM/Cintya)

Buku Murah Stadion Diponegoro Pedagang buku bekas di dinding Stadion Diponegoro bagian belakang tak melulu mengandalkan momen-momen tertentu, misalnya menjelang ujian nasional (UN) seperti sekarang ini. Namun, mereka tetap berharap UN mendatangkan rezeki. “Masih sepi, tak banyak yang mencari buku ujian nasional,” ujar Rifki seorang pedagang, Selasa (11/3) lalu. Dalam sehari, sebutnya, paling hanya satu dua pembeli. “Dulu, saat pertama

kalinya ujian nasional akan diberlakukan, sehari bisa laku hingga puluhan buku,” imbuhnya. Dia menduga sepinya omzet buku pelajaran sekolah karena siswa membeli secara langsung dari sekolah. Selain itu karena UN tak lagi dianggap momok oleh pelajar. Kompleks pedagang buku Stadion Diponegoro dihuni sekitar 25 pedagang. Mereka telah menghuni kawasan tersebut sejak beberapa tahun lalu. Selain buku pelajaran, buku dan majalah

bekas, mayoritas pedagang juga menyediakan buku-buku kuliah. Di luar lesunya buku-buku referensi ujian nasional tadi, buku-buku terjemahan berbagai bidang lmu, baik matematika, fisika, ekonomi, dan bahasa Inggris laris manis diburu mahasiswa. Kios-kios buku di Kompleks Stadion Diponegoro menjado favorit bagi mahasiswa karena menjual buku dengan harga teramat miring. Kurniawan

SWARA/DOK


OLAHRAGA

28

Mahesa Jenar Lolos! *Kick Off Divisi Utama 15 April

Tim Mahesa Jenar dinyatakan lolos verifikasi tanpa syarat untuk mengikuti Divisi Utama 2014. Selain PSIS, juga terdapat 50 tim lain dan 9 di antaranya dari Jateng. Persitema, Persipur, Persip Pekalongan, PPSM, Persis, PSCS, Persiku, Persibangga, dan PSIR.

PT Liga Indonesia juga merilis 12 tim lainnya yang lolos bersyarat. Ada catatan di aspek infrastruktur, keuangan, dan kepengurusan klub. Sementara tiga lainnya dinyatakan tidak lolos, yakni Perssin Sinjai, PSSB Bireuen dan Persemalra Langgur. Sementara itu, skuad garapan pelatih Eko Riyadi ini kembali memulangkan ekspatriat. Umur Fahad Khaled Al-Dossary dalam seleksi di PSIS tak berlangsung lama. Striker blasteran ThailandArab Saudi itu hanya berlatih sehari dan (Selasa, 11/3) dipulangkan. Bersama dengan striker lokal Aldo Prasetyo, Fahad angkat koper dari Stadion Jatidiri. Sementara itu, nasib lebih baik dialami Julio Alcorse. Penyerang ber-KTP Argentina itu masih diberi kesempatan untuk dilihat kemampuannya. Dengan dipulangkannya Fahad,

peluang penyerang 32 tahun tersebut untuk masuk skuat Laskar Mahesa Jenar samakin besar. ‘’Sebenarnya kualitas Fahad cukup baik. Namun karakternya tak sesuai yang kami inginkan, karenanya dipulangkan. Sedangkan kemampuan Aldo masih jauh dibandingkan striker lokal yang ada saat ini, yakni Hari Nur Yulianto dan Saptono,’’ tutur Eko Riyadi. Eko memiliki catatan bagi Alcorse. Menurutnya, bomber berumur 32 tahun itu mampu menahan bola dengan baik dan memiliki insting mencetak gol yang tinggi. Tidak kalah penting, memiliki motivasi dan tipikal pemain yang mau bekerja keras. Namun, Eko masih belum merekomendasikan Alcorse karena fisik masih di bawah standar pemain PSIS. Bila memang akan dikontrak, pelatih fisik harus bekerja keras untuk membenahi stamina penyerang bertinggi 191 sentimeter itu. Setidaknya masih ada sebulan untuk membenahinya. Pelatih Fisik Ahmad Shoffianto tak sesumbar dengan mengatakan stamina Alcorse akan sama dengan pemain PSIS lainnya saat kick off Divisi Utama, 15 April mendatang. Hanya

SWARA/DOK

saja, sambungnya, bila terus digembleng secara intensif, fisik bomber jangkung itu dapat terus meningkat. ‘’Mungkin, sebelum ini Alcorse jarang berlatih secara intensif sehingga fisiknya kedodoran. Tetapi dia memiliki motivasi untuk

menjadi lebih baik. Dia dapat melahap seluruh latihan fisik dengan baik, tadi pagi (kemarin-red). Sedangkan Fahad justru berhenti sebelum latihan berakhir,’’ sambung pria lulusan Unnes itu. (K18, H85/ SMNetwork/rif)


PSIS MANIA

29 Gaya-gaya Pelatih PSIS

Dari Pemarah, Perokok, Kusut, hingga Wangi Perjalanan PSIS di rumput sepakbola diwarnai beragam karakter dan gaya pelatih. Ada yang menjemukan, galak, merokok terus sepanjang pertandingan, dan klowor. Tapi, untunglah ada yang gemar menyemprotkan parfum, baik kala menunggui latihan, maupun saat timnya tengah berlaga. SEPERTI apa tingkah polah mereka?

Inilah mereka, dimulai dari yang tertua.

1. SARTONO ANWAR Sartono jarang tersenyum saat memberi instruksi, baik latihan maupun bertanding. Ia bahkan kerap teriak, sampai-sampai bila tim yang ia besut

1

ditayangkan langsung televisi suaranya terdengar nyaring. Sesekali ia mengumpat dalam pertandngan tatkala pemainnya berbuat salah. Meski dikenal tegas – bahkan cenderung galak – Sartono juga humoris. Ia bisa tertawa ngakak bila berbincang informal dengan pemain-pemainnya. Terpenting, pemilik SSB Tugu Muda ini pernah membawa PSIS juara di Kompetisi Perserikatan 1987.

2. BAMBANG NURDIANSYAH Mantan striker nasional ini tanpa tedeng aling-aling saat ngomong. Ucapannya sering menyakitkan bila ditelan mentah. Maklum, ia kelahiran Malang, kota di mana warganya keras bila berbicara. Bambang dikenal ahli strategi. Ia paham benar kapasitas pemain dan ditaruh di posisi mana. Permainan yang ia kembangkan campuran pertahanan kuat Italia, dan penyerangan yang konstan mirip Spanyol. Hanya saja, ia merokok sepanjang pertandingan, sesuatu yang mungkin membuang stresnya, tapi mengingkari nilai-nilai kebugaran

2

olahraga.

3. EDY PARYONO Tampangnya terus menerus serius. Bahkan bila becanda pun ia juga kaku. Pria berkacamata ini punya ilmu yang mungkin setara dengan Bambang Nurdiansyah karena Paryono pernah dikirim PSSI ke Brasil dan Singapura untuk berguru. Tapi, meski juga dikenal tegas sehingga ditakuti pemain, Paryono pernah membawa PSIS juara di Ligina 1999. Namun sayangnya Tugiyo cs yang dipermak Edy Paryono ditenggelamkan oleh klub Suwon Samsung Bluewings Korsel di Liga Champions.

4. FIRMANDOYO Pria yang humoris. Nyaris tak ada jarak antara pemain dengan dirinya. Pelatih yang membawa medali perunggu cabang sepakbola untuk Jateng di PON Riau 2012 ini sebenarnya mahir menata strategi. Sayangnya ia memilih untuk becanda dan tampak klowor ketimbang menjadi sosok yang disegani dan berkharisma. Tapi, apapun, itu sebuah pilihan.

3

5. AHMAD MUHARIAH Keterbatasannya dalam menyuarakan vokal mungkin menjadi kendala serius bagi Muhariah saat memberi instruksi. Suaranya memang seolah tercekat di tenggorokan. Tetapi, mantan pilar penting PSIS di masa lalu ini cukup memberi warna di kursi kepelatihan Mahesa Jenar, kendatipun yang ia torehkan jauh dari harapan. Hanya jam terbang yang patut ia tambah agar kehadirannya di sebuah tim menjadi penentu. 6. BONGGO PRIBADI Cuma Bonggo pelatih PSIS yang terkenal paling trendi. Bajunya necis, sepatunya bagus, dan selalu wangi. Mantan bek nasional ini memang senantiasa menjaga performa. Sayang sentuhan Bonggo masih belum bisa menyamai para seniornya. Ia – seperti halnya Ahmad Muhariah – harus menambah jam terbang kepelatihan. Arief

Firhanusa

4

6 5

FOTO-FOTO: SWARA/DOK


POLITIK

30

Karena Caleg Langgar Aturan Pemasangan alat peraga kampanye semakin massif dilakukan para caleg, khususnya Caleg DPR-RI Dapil I Jateng, DPRD Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang, karena pelaksanaan Pemilu Legislatif tingga 45 hari lagi, yakni 9 April 2014.

C

elakanya, pemasangan alat peraga kampanye, seperti poster ukuran kecil dan sedang terkesan asal-asalan sehingga tidak hanya melanggar Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 15 tahun 2013, tapi juga merusak estetika lingkungan. Dalam PKPU No. 15 tahun 2013, khususnya pasal 17 ayat (1) huruf a ditetapkan bahwa alat peraga kampanye tidak ditempatkan pada tempat ibadah,rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lemabaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan. Kemudian dalam pasal 17 ayat (4) ditetapkan bahwa spanduk dapat dipasang oleh Partai Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD dengan ukuran maksimal 1,5 X 7 meter hanya 1 (satu) unit pada 1 (satu) zona atau wilayah yang ditetapkan oleh KPU, LPU/KIP Provinsi dan atau KPU/KIP Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Daerah. Ketentuan dalam pasal 17 ayat (1) huruf a dan ayat (4) tersebut jelas mengarahkan para Calon Anggota DPR-RI dan DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota agar lebih arif dan berbudaya dalam memasang alat peraga kampanye di luar ruangan. Sayangnya, ketentuan tersebut hanya sebatas untaian kalimat bijak di atas kertas.

Parade Poster di Banyumanik

SWARA/DOK

Harapan masyarakat, Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu/Panitia Pengawas Pemilu dan Pemerintah agar Pemilu 2014, termasuk Pemilu Legislatif 9 April 2014, menjadi Pemilu yang berkualitas. Karenanya, para caleg yang sejak awal diharapkan memberi contoh yang baik sebagai calon negarawan yang mewakili rakyat yang memberikan kedaulatannya, hanya

sebatas harapan. Karena, para Caleg belum mampu mengendalikan emosi dan nafsunya untuk “mengumbar” poster di sembarang tempat. Di kompleks permukiman Perumnas Banyumanik, misalnya, pohon-pohon rindang yang semula asri dipandang mata, kini berubah menjadi tempat parade poster berbagai warna dan ukuran dari Caleg DPR-RI Dapil I Jateng, DPRD Provinsi Jateng dan DPRD Kota Semarang. Poster-poster itu dipaku berurutan ke atas atau ke samping di pohon-pohon besar maupun kecil dan diikat di tiang-tiang listrik. Bahkan ada poster ukuran billboard/baliho yang dipasang di tanah kosong dengan tiang bambu. Hampir semua pohon di jalan-jalan utama Perumnas Banyumanik “berdaun” poster dan tiang listrik berbalut poster. Estetika lingkungan ternoda dengan vandalisme poster. Sementara spanduk yang dijinkan KPU tak terlihat sehelai pun di kompleks Perumnas Banyumanik seluas 300 hektar tersebut. Pelanggaran pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) tersebut tidak hanya diprotes masyarakat yang tinggal di kompleks Perumnas yang dibangun antara tahun 1978 sampai 1980-an itu. Tapi juga Panitia Pengawas Pemilu Kota Semarang telah mendata semua pelanggaran tersebut.

Kewalahan Menertibkan

Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Semarang, termasuk Panwas Kecamatan se-Kota Semarang mencatat, sampai akhir Januari 2014 terdapat 5.974 Alat Peraga Kampanye (APK) non-baliho (poster, stiker,

spanduk dan lain-lain) dan 32 APK berbentuk Baliho melanggar PKPU No. 15 tahun 2013 dan Peraturan Walikota Semarang No. 30A tahun 2013. Semua itu telah direkomendasikan Panwaslu Kota Semarang kepada KPU Semarang untuk ditertibkan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kota Semarang. Hanya saja, penertiban tersebut belum berjalan lancar. Bahkan, pemasangan APK terkesan semakin marak, seperti terlihat di kompleks Perumnas Banyumanik yang terus bertambah jumlahnya dari hari ke hari. Kondisi itu membuat masyarakat Perumnas Banyumanik gusar. “Baru menjadi Caleg saja sudah melanggar peraturan, bagaimana kalau mereka terpilih jadi anggota DPR nanti. Mereka nanti akan mengurus diri mereka sendiri atau partai yang mengusung mereka, rakyat dilupakan. Saya berharap, para Caleg yang pasang poster di pohon-pohon dan tiang listrik itu tahu diri dan menurunkan sendiri poster-poster mereka,” ujar Adi yang tinggal di kawasan Ulin, Kelurahan Padangsari, Perumnas Banyumanik. Pandangan serupa juga dilontarkan Imam yang bermukim di kawasan Merbau (Kelurahan Pandansari), Arie yang bermukim di kawasan Rasamala (Kelurahan Srondol Wetan), Perumnas Banyumanik. “Saya jadi ragu untuk nyoblos tanggal 9 April nanti. Habis caleg-calegnya pada melanggar aturan semua. Siapa nanti yang bisa kita jadikan panutan,” ujar Imam. “Kelakuan para Caleg kita sejak dahulu tidak berubah. Mereka mengumbar nafsu dengan pasang poster sembarangan dan melanggar aturan. Sekarang zaman reformasi, tapi caleg-caleg kita masih berperilaku kuno,” ujar Arie. (mmd)

SWARA/DOK

Malas Nyoblos


PENDIDIKAN

31

Hujan Tangis di Ujian Terbuka Jawade Hafidz SWARA/DOK

Dekan Fakultas Hukum (FH) Unissula Jawade Hafidz meraih gelar doktor dari Undip, Selasa (11/3). Pria yang juga aktif sebagai Ketua Umum DPP Ikatan Alumni (Ika) Unissula tersebut lulus menyandang predikat memuaskan, dalam ujian promosi terbuka di Gedung Pascasarjana Undip Pleburan.

T

AK cukup dihadiri puluhan orang, suasana ujian terasa berbeda. Kopromotor Dr Eko Soponyono bahkan sempat menangis menyaksikan mahasiswa bimbingannya itu, menyelesaikan studi S-3. ‘’Bukan perkara gampang menyelesaikan kuliah di Program Doktor Ilmu Hukum Undip. Menyandang predikat doktor Undip, sungguh membuktikan niat, kemauan, dan kualitas keilmuan Jawade Hafidz,’’ tutur Eko Soponyono. Kegigihan promovendus terungkap pemberian kata pengantar pelepasan doktor. Itu, setelah hampir dua jam, Jawade melewati pendadaran dihadapan pakar

dan guru besar ilmu hukum. Menurut dosen senior Undip tersebut, Jawade memiliki prinsip pantang menyerah. Hal senada dikemukakan Dekan Fakultas Hukum Undip, Prof Dr Yos Johan Utama, yang merupakan pembimbing utama (promotor). Dia menilai Jawade Hafidz adalah sosok dosen dan peneliti yang ulet. Menempuh masa studi beberapa tahun, berhasil menyabet gelar doktor yang merupakan strata keilmuan tertinggi di dunia pendidikan. Yos Johan sekaligus berpesan supaya doktor baru itu makin memberikan dedikasi pada keilmuan. Jangan sampai prestasi yang diraih sebatas

menambah panjang deretan gelar yang dimiliki. Ketua PDIH Prof FX Adji Samekto membenarkan, menyelesaikan kuliah S-3 Hukum Undip, membuktikan kualitas keilmuan seseorang. Pihaknya tidak sembarangan mencetak doktor melainkan dengan kualifikasi tinggi. Alumnus PDIH Undip, rata-rata berhasil dalam karir, jabatan bahkan banyak yang kemudian mendapat gelar Profesor. Sementara itu, dalam ujian Jawade menyampaikan disertasi berjudul Reformasi Kebijakan Hukum Birokrasi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Dalam Mencegah Terjadinya Tindak

Pidana Korupsi di Indonesia. Jawade juga dibimbing Dr RB Sularto (kopromotor). Hadir sebagai penguji yakni Prof Dr Nyoman Serikat Putra Jaya, Prof Dr Esmi Warrasih P, Dr Retno Saraswati, dan Dr Retno Mawarini. Promovendus menyodorkan konsep perlunya aturan khusus pengadaan barang dan jasa di Indonesia. Aturan itu mencakup kelahiran sebuah undangundang untuk menghindari kemungkinan perilaku koruptif. UU, nanti butuh dilengkapi lembaga atau badan khusus diiringi penataan birokrasi dan SDM. (H41-SMNetwork/rif)


SOSOK

32

Ki Joko Edan

Memodifikasi Pakem Pedalangan Hanya Tamat SD Lahir di Yogyakarta, 20 Maret 1948. Nama aslinya Joko Prasojo. Namun setelah menikah mengganti namanya jadi Joko Hadiwijoyo. Hingga kini dia telah menikah empat kali. Istrinya sekarang, Nurhana, adalah pesinden. Nurhana dinikahi saat berusia 16 sedangkan Joko saat itu berusia 46. Buah cinta dari pasangan berbeda usia 30 tahun ini melahirkan Rahayu Hana Wijayanti dan Dewi Lestari Hana Wijayanti. Joko hanya menamatkan sekolah di SD Kanisius Ungaran. Di SMP, tiga tahun nunggak di kelas 1. Itu karena dia tak pernah memperhatikan pelajaran dari para guru. Setiap gurunya menerangkan, pikirannya justru membayangkan sedang mendalang, sambil kedua tangannya menggerak-gerakkan buku seperti dua wayang yang bertarung. Buku-buku tulisnya SWARA/DOK

Mendalang jelaslah bukan pekerjaan gampang. Hanya orang-orang pilihan yang bisa dan mau menjadi dalang. Terlebih di zaman serba instan sekarang.

W

AYANG kulit makin merana tergerus oleh zaman. Di lain pihak, kualitas dalang yang masih tersisa ditinggalkan masyarakat karena kolot pada pakem. Meski ideal dari segi pelestarian kejawen, namun hal itu menjadikan wayang hanya warisan masa lalu yang tak bisa dinikmati generasi terkini dan masa depan. Prihatin, sejak tiga puluh tahun lalu

pun digambari wayang dengan coretan pensil. Darah dalang mengalir dari ayahnya, Kartowijoyo. Sang ayah memang penggila wayang, meski tak bisa mendalang. Oleh ayahnya dia didukung belajar pedalangan di Ngesti Pandowo. Tiga tahun ia tekuni kursus itu. Namun yang lebih mengasah kemampuannya mendalang adalah pengamatan langsung kepada dalang yang sedang manggung. Pertama kali mendalang ia lakukan di rumahnya sendiri, saat ayahnya mengadakan acara Suronan. Sedangkan pengalaman manggung pertama ia dapatkan saat ditanggap seorang warga Tengaran Salatiga. Usai haji tahun 2004, ia ini mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Manarul Mabrur. Puluhan santri mondok gratis. (*)

Ki Joko Hadiwijoyo alias Ki Joko Edan melakukan ”pembongkaran” terhadap pakem pedalangan. Ia memodifikasi cerita wayang sehingga enak dinikmati siapapun. Segala usia, semua suku bangsa. ”Jika dalang masih

memakai ’bahasa langit’ yang tak bisa dipahami khalayak tentu wayang semakin tidak populer dan terancam mati,” tuturnya. Sebagaimana Ki Enthus Susmono, sahabatnya yang sealiran, ia menampilkan wayang dengan cerita kekinian. Menggathukkan babad Mahabharata dengan kondisi republik maupun dunia kontemporer. Adalah hal biasa bagi Ki Joko menampilkan cerita wayang dengan bahasa Melayu, campuran IndonesiaJawa, dan diiringi gending gamelan campur drum dan alat musik band. Dalang necis yang masih terlihat muda di usianya yang ke-65 ini punya obsesi besar terhadap anak muda. Yaitu mengajak membangun kemandirian. Dia sangat tidak simpati jika pemuda mengejar gelar lalu antre mencari kerja. Seharusnya, para cerdik pandai itu menciptakan produk atau pekerjaan sendiri. Tak harus semua. Cukup 25% saja sarjana mandiri, maka bangsa ini akan mandiri. Sejajar dengan bangsa-bangsa lain semisal Jepang atau Itali. “Saya berobsesi, dalang akan jadi seperti dahulu, dijadikan panutan masyarakat karena ilmu dan kebijaksanaannya. Maka saya mengajak dalang untuk menjadi pengawal masa depan,” urai dia. Setiap detik waktunya, Joko Edan selalu menulis naskah wayang. Persis seperti menulis

skenario. Sehingga ketika ada dalang muda meminta naskahnya si dalang itu bisa tampil sempurna hanya dengan membaca naskah buatan Ki Joko. Sebutan ”edan” di belakang Joko murni dari para penggemar dalang ini. Awalnya ia nggerundel setiap, orang waras kok dibilang gendheng. Tapi setelah para penanggap makin senang memanggilnya Ki Joko edan, para penggemar juga selalu menulis surat kepadanya, ia biarkan saja. Percuma melarang orang meyebut kata yang dibuatnya sendiri. Lebih-pebih panitia acaranya, selalu memasang spanduk atau baliho dengan menulis besar kata ”Edan” dan membuat para penonton membludak, akhirnya dia terima saja. Rupanya, dengan nama Joko Edan justru undangan mendalang makin banyak dan dirinya semakin laris. ”Ya sudah lah, rupanya dengan julukan edan, rezeki saya makin deras mengalir,” katanya sedikit bercanda. ***

SWARA/DOK


Swara tata jadii lhooooo 333