Issuu on Google+

Edisi III Volume 5, Nopember 2013

PENGANTAR REDAKSI Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam atas limpahan rahmat dan kasih sayangNya yang senantiasa kita nikmati hingga saat ini. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya dan kepada umatnya yang senantiasa konsisten berpegang pada sunnahnya hingga yaumul akhir. Semoga kita senantiasa berada dalam golongan ummat yang tetap istiqomah sehingga kelak mendapat ridho dan ampunanNya. Aamin yaa robbal ‘alamiin. Tidak terasa, bulan demi bulan menjelang; tahun demi tahun pun berlalu. Kaum Muslim kembali memasuki bulan Muharram, menandai datangnya kembali tahun yang baru; kali ini memasuki Tahun Baru 1435 Hijriyah. Tidak seperti ketika datang Tahun Baru Masehi yang disambut dengan penuh semarak oleh masyarakat, Tahun Baru Hijriyah disikapi oleh kaum Muslim dengan 'dingin-dingin' saja. Memang, Tahun Baru Hijriyah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijriyah dijadikan sebagai momentum untuk bermuhasabah dan merenungkan kembali amal perbuatan yang telah kita lakukan dan juga kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi SAW. sebetulnya merupakan momentum perubahan dan pengorbanan individu-individu muslim sehingga mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat secara global. Peristiwa Hijrah Nabi SAW. tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliyah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi SAW.

Pengurus dan santri PYD berfoto bersama di depan Hewan Qurban menjelang pelaksanaan Ibadah Qurban.

Kita juga telah melalui semaraknya Hari Raya Idul Adha dimana pada hari itu kita dididik untuk membangkitkan semangat berkorban yang tentunya kita harapkan akan terus menjadi ciri dan karakter ummat Islam untuk senantiasa rela menafkahkan sebagian harta yang telah Allah berikan kepada kita untuk kepentingan Islam. Karena hal terpenting dari ibadah qurban adalah sarana sebagai penggemblengan jiwa untuk lebih bertaqarrub kepada Allah dan memperbaiki kualitas taqwa kita. Kritik dan saran dari para sahabat selalu kami nantikan demi terjalinnya ukhwah dan demi terwujudnya generasi yang taqwa, cerdas dan mandiri, tak lupa kami seluruh pengurus dan anak asuh Pondok yatim & Dhu'afa mengucapkan

“Selamat Tahun Baru 1435 Hijriyah. Semoga Ketaqwaan kita tahun ini lebih baik dari tahun kemarin Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarokaatuh. Tim Redaksi

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

1


LOKASI PONDOK YATIM & DHU’AFA Edisi III Volume 5, Nopember 2013

DAFTAR ISI Salam Redaksi

1

Tim Redaksi, Daftar Isi

3

Kegiatan Santri PYD Bulan September - Oktober 2013

4

Materi Utama Makna Tahun Baru Hijriyah

Asrama Putra I

ai 4

Daftar Donatur PYD Bulan September - Oktober 2013

8

Materi Utama Refleksi Ibadah Qurban dalam Kehidupan

10

Santri Berbicara

14

Mutiara Hikmah Kisah si Kusta, si Botak dan si Buta

15

PYD dalam Gambar

16

Asrama Putri I

Redaksi menerima kritik / saran daripada para pemerhati Pondok Yatim & Dhu’afa Alamat Redaksi : Jl. Kembang Kerep No. 7, Kembangan, Jakarta Barat Telp. (021) 5844 684, 5867 312 E-mail : pondok.yatim.dhuafa@gmail.com

Sekretariat :

Kunjungi Website kami di :

pondokyatim.or.id

TIM REDAKSI Penasehat: Drs. Taviv Teguh Waluyo, Thoha Hablil, S.Kom Penanggung Jawab: Hadi Wihanda Pimpinan Redaksi: Padlullah. ZB Redaksi: Ahyani, Eko Riyanto, Edo Novran Editor: Tri Hardoyo Humas: Zainal Arifin Lay out & Design: Iwan Sara

2

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

3


Kegiatan Santri Pondok Yatim dan Dhu'afa

MATERI UTAMA

Bulan September dan Oktober 2013 Alhamdulillah segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah ST yang telah memberikan nikmatnya yang banyak, Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah, Muhammad. SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Kami ucapkan Terima kasih kepada para donatur serta dermawan yang telah berbagi dan ikut memperhatikan kami, dan kami ucapkan terima kasih juga kepada para pengurus dan pengasuh Pondok Yatim & Dhu'afa yang telah mengasuh dan mendidik kami dengan penuh perhatian, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda….amin…Ya Robbal 'alamin. Ya Allah Ya Rohmanurrohim, Bahagiakanlah kami dengan membahagian mereka yang telah menyisihkan sebagian hartanya untuk kami, kasihi mereka serta kabulkanlah do'a mereka...aamiin.

4

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

Makna Tahun Baru Hijriyah Waktu terus berputar tanpa pernah berhenti. Ia bahkan tak bisa diperlambat ataupun dipercepat meskipun kita menginginkannya. Alhamdulillah saat ini kita telah memasuki Tahun Baru Islam 1435 Hijriyah. Tahun Baru Hijriyah memang tidak disambut dengan kemeriahan yang gegap gempita sebagaimana orang-orang Jahiliyah menyambut tahun baru masehi, tetapi seharusnya menjadi bahan renungan bagi kita karena ada beberapa makna penting yang bisa kita petik pada pergantian Tahun Hijriyah ini. 1. Muhasabah Setiap memasuki Tahun Baru, hendaklah kita bermuhasabah, menoleh ke belakang, melihat kembali apa yang telah kita kerjakan. Selanjutnya melakukan evaluasi, melakukan penilaian serta membuat perencanaan kedepan. Apapun yang kita kerjakan, tetap harus diiringi kesadaran bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah SWT. Ada ayat inspiratif yang bisa dijadikan bahan evaluasi diri atau muhasabah guna memperbaiki diri dalam setiap langkah kehidupan yang fana ini: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Hasyr: 18) Pada ayat ini terdapat pengulangan perintah untuk bertaqwa. Perintah taqwa yang pertama menurut sebagian mufasir adalah ketaqwaan yang membuahkan amal sholih. Sedangkan perintah taqwa yang kedua melakukan perbaikan-perbaikan terhadap apa yang sudah dilaksanakan serta memasang kembali niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Mufasir lain menyatakan bahwa perintah taqwa yang pertama adalah menyeru agar manusia takut terhadap hukuman Allah bagi mereka yang berbuat maksiat. Dan perintah taqwa yang kedua menguatkan kesadaran agar manusia merasa malu dihadapan Allah jika mengingkari perintahNya. Manusia bersifat lupa, oleh karena itu perlu ada peringatan (ahwaju ilattahdzir). Justru itulah

mengingatkan ketaqwaan kali yang kedua itu agar manusia melakukan muhasabah guna membenahi segala amalnya dengan landasan taqwa. Ayat ini juga mengandung unsur manajemen, dalam mengisi kehidupan kita, baik kehidupan keluarga, lingkungan, maupun masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dikatakan demikian, karena didalamnya terdapat unsur evaluasi, perencanaan, pelaksanaannya dan pengawasan. Dan yang istimewa adalah penekanan perhatian terhadap adanya hari esok berupa kematian dan kelak menghadapi kehidupan di akhirat. Sedangkan pengawasan juga dilakukan malaikat secara intensif oleh malaikat yang menyertai setiap manusia. Tak ada hal sekecil apapun yang luput dari catatan malaikat. Jelas pengawasan seperti itu lebih ampuh dari manajemen jenis apapun ciptaan manusia di permukaan bumi ini. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Infithar ayat 10 - 12 ditegaskan : “Sesungguhnya bagi kamu ada malaikatmalaikat yang mengawasi pekerjaanmu. Yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat pekerjaanpekerjaanmu itu”. 2. Meneladani sikap Rasulullah SAW dan para sahabatnya, pada peristiwa Hijrah dari Mekah ke Madinah lebih 14 abad yang lalu.

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

5


Hijrah bukanlah perjuangan ringan. Bayangkanlah orang-orang yang telah disiksa di kampung halamannya harus berpindah ke negeri lain yang tidak dikenal. Yang belum jelas. Yang masih samar masa depan di sana. Di saat yang sama ia harus meninggalkan rumah dan harta benda yang tidak mungkin dibawa. Seakan-akan mereka terusir. Terusir dari kampung halaman tanpa bekal dan tanpa kejelasan masa depan. Namun karena iman, mereka menempuh perjuangan sulit dan melelahkan itu. D e m i k i a n l a h , p a ra s a h a b a t r e l a meninggalkan kampung halaman dan semua harta benda mereka. Bahkan rela mengambil resiko nyawa karena tidak ada jaminan bahwa hijrah itu berjalan mulus tanpa halangan kafir Quraisy hingga bisa dengan selamat di Madinah. Misalnya Ayash bin Abi Rabi'ah yang akhirnya ditangkap oleh orang Quraisy, diikat dan dibawa kembali ke Makkah. Terlebih hijrahnya Rasulullah dan Abu Bakar yang langsung diburu oleh kafir Quraisy. Dan disayembarakan dengan hadiah besar bagi siapa yang bisa mendapatkan Rasulullah hidup atau mati. Tidak heran jika kaum muhajirin dipuji oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an dan dipersaksikan para shaadiquun: “Bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hasyr: 8). Disisi lain, bantuan kaum Anshor, penduduk Madinah ketika itu kepada kaum Muhajirin atau mereka yang berasal dari Mekah sungguh sangat besar dan mengharukan. Kaum Anshor rela menerima dan menyediakan tempat tinggal. Bahkan ada yang membagi dua hartanya. Separuh buat dirinya dan separuh lagi buat teman barunya. Padahal yang menumpang dirumahnya bukanlah sanak famili mereka. Tidak ada pertalian senasab seketurunan. Allah SWT berfirman : “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada orang-orang Muhajirin, mereka itulah orang-orang yang benar dan beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki atau nikmat yang mulia”. ( QS. Al-Anfal : 74) Ukhuwah Islamiyahlah, ukhuwah seaqidah, ukuran tertinggi yang mengikat teguh persaudaraan diantara mereka. Inilah suatu feomena, suatu fakta kehidupan yang harus kita contoh teladani. Yakni

6

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

terus meningkatkan persaudaraan sesama muslim dimanapun kita berada. Jika saudara kita bahagia, kita ikut bahagia. Sebaliknya jika kita mengalami kesusahan atau musibah, kita segera memberikan pertolongan. Sikap seperti ini sejalan dengan Firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 71 yang artinya : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. Dari ayat tersebut, Ada empat hal yang harus dimiliki umat Islam jika ingin mendapatkan rahmat dari Allah SWT, yang pertama, saling tolong menolong baik berupa harta, tenaga maupun fikiran. Yang kedua, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Menegakkan kebenaran dan memberantas setiap kebatilan. Secara khusus Aththusi dalam Attibyan Fi Tafsiril Quran menyatakan, ayat ini menunjukkan bahwa melaksanakan amar makruf nahi mungkar merupakan fardhu 'ain, karena merupakan ciri atau sifat kaum mu’minin. Yang ketiga, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Fungsinya antara lain menghilangkan sifat keluh kesah, tidak sabar ketika ditimpa musibah, pelit jika berharta. Dengan demikian yang diharapkan adalah bangkitnya kesadaran melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Yang keempat, terus menerus dalam ketaatan kepada Allah SWT menghadapi setiap persoalan dunia/akhirat. Mereka yang memiliki empat hal inilah yang akan mendapat rahmat Allah SWT. 3. Hijrah dan Memperbaharu Niat Makna penting yang ketiga, ketika memasuki Tahun Baru Islam harus menyadarkan kita untuk berhijrah dari segala hal yang buruk kepada hal yang baik. Dari kesesatan kepada jalan yang lurus, memperbaiki kesalahan yang ada guna meraih masa depan yang lebih baik lagi. Serta kembali meluruskan niat kita bahwa kita menjalani hidup ini semata-mata hanyalah untuk mengabdi secara total kepada Allah dan senantiasa mengharap keridhaan-Nya. Hijrah secara bahasa berarti "tarku" (meninggalkan). Dikatakan: hijrah ila syai' berarti

"intiqal ilaihi 'an ghairihi" (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Sedangkan secara istilah hijrah berarti "tarku man nahallaahu 'anhu": meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari) Dengan demikian, hijrah secara maknawi terus relevan sampai kapan pun. Bahwa nilai dan semangat hijrah harus kita bawa dalam kehidupan modern ini. Kita berhijrah dari kejahiliyahan menuju Islam. Hijrah dari kekufuran menuju Iman. Hijrah dari kesyirikan menuju tauhid. Hijrah dari kebathilan menuju al-haq. Hijrah dari nifaq menuju istiqamah. Hijrah dari maksiat menuju tha'at. Dan hijrah dari yang haram menuju yang halal. Mewujudkan Kembali Makna Hakiki Hijrah Nabi Di masa ini, kita melihat bahwa ummat Islam hidup sangat jauh dari nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Ummat Islam terberangus dalam sistem hidup sekuler, yang bersumber dari aqidah sekulerisme; yakni aqidah yang menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Saat ini masyarakat didominasi oleh pemikiran demokrasi (yang menempatkan kedaulatan rakyat di atas kedaulatan Tuhan), HAM, nasionalisme (paham kebangsaan), liberalisme (kebebasan), permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham yang menjadikan kesenangan duniwai/ jasadiah sebagai orientasi hidup), feminisme (paham mengenai kesetaraan jender, pria-wanita), kapitalisme, privatisasi, pasar bebas dan sebagainya. Mereka meridhai semua yang bersumber dari aqidah sekuler dan sebaliknya membenci semua yang bertentangan dengan pandangan sekulerisme; mereka meridhai demokrasi (yang menjunjung tinggi kedaulatan manusia) dan sebaliknya membenci kedaulatan Allah untuk mengatur manusia; mereka meridhai nasionalisme dan nation state (negara-bangsa) dan sebaliknya membenci ikatan ukhuwah islamiyah dan kesatuan kaum Muslim di bawah satu negara (Khilafah Islamiyah); mereka meridhai liberalisme (kebebasan), permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham yang menjadikan kesenangan duniawi/jasadiah sebagai orientasi hidup), dan sebaliknya membenci keterikatan dengan syariah/hukum-hukum Allah dan menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup mereka; mereka meridhai sistem ekonomi kapitalisme yang berasaskan manfaat, ekonomi ribawi, privatisasi, dan pasar

bebas dan sebaliknya membenci sistem ekonomi Islam; mereka pun meridhai hukum-hukum kufur yang bobrok dan sebaliknya membenci hukumhukum Islam—seperti hukum cambuk, hukum rajam, atau hukum potong tangan—yang mendatangkan keadilan dan rahmat bagi manusia. Lebih dari itu, sistem yang mengatur masyarakat saat ini tidak lain adalah sistem yang juga bersumber dari akidah sekularisme. Sebaliknya, sistem Islam—yakni sistem ekonomi, politik, pemerintahan, peradilan, hukum, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan negara yang bersumber dari akidah Islam—mereka campakkan. Itulah realitas masyarakat Jahiliah pada zaman modern saat ini. Kaum Muslim saat ini terbelenggu dalam “penjara besar”, yakni negeri mereka sendiri, yang telah dikuasai oleh sistem kufur yang dikontrol oleh negara-negara imperialis. Posisi umat Islam yang pernah mengalami masa kejayaannya sejak zaman Nabi saw. sampai Kekhilafahan Ustmaniyah di Turki kini tinggal kenangan. Sungguh sangat mengherankan bagaimana ummat Islam itu sendiri enggan untuk diatur dalam sistem kehidupan yang Islami dan malah menukarnya dengan sistem lain. Padahal hanya sistem kehidupan Islam lah yang akan diridhai oleh Allah SWT. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran d a n m e n j a t u h ka n ka u m n y a ke l e m b a h kebinasaan?, . Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka". (Q.S. Ibrahim : 28-30) Kita menyadari bahwa hanya sistem Islamlah yang akan diridhai oleh Allah dan hanya sistem Islamlah yang terbaik untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu, upaya mengubah masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat Islam, mengajak masyarakat untuk menerapkan sistem Islam secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan itulah di antara makna hakiki dari Peristiwa Hijrah Nabi saw. yang harus kita realisasikan kembali saat ini. Wallahu a’lam bishowab.

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

7


DAFTAR DONATUR PONDOK YATIM & DHU’AFA BULAN : SEPTEMBER DAN OKTOBER 2013 Pt Dinamika Bp Widio Suryandaru Hamba Alloh Bayu Pkajian Gusti Zivanna Kel Zivanna Bp Yosi Khazali Syahdan Ibu Titi Hamba Alloh Bp Supriyanto bp Ngatimin Iis Kurniawan Bu sofyanti Bp Wahyu Bp Sony K.S H Tamrin Bp Beni Yanti Daryanti Asep Kamarullah Bp Seno Sumbogo Queen Hamba Alloh Bu Wulan Bu Adita Devanty Linda Lindyawati Yoga Dan Melani Jaya S.L Sofyan Hamba Alloh Maftuhin Ida Maulida Dhita Rahmadania Bu Githa Bp Rori Bp Wandi Ferdian Bp M Syarifudin Eko Wahyudo Bu Sri Piah Nuryati Bp Sadulloh Ibu Eppi Bp Sumarno Bp Hengki Bu PMI Nita F Susanti Sahrul Nilla Windiawati PT Tangguh Samudera Jaya Kel Ibu Suyanto Hamba Alloh Nurhayani Bp Sudjadi Nabila Sekar Pt Sumit Oto Finance Bp Ikhsan Rifani Bi Dinna Kel H Siti Mukminah Bambang

8

Hamba Alloh Rosilawati maruli Hamba Alloh Dewi M Jeti Alumni Univ Merucu Buana Desi Iwan K Jalal Ibu adita Bp Akhirudin Lily wiyanti Susilowati Bp Agus Gunawan Bp Saiful Abdul Fattah Bp Supriyadi Bp Ridho Yogi Bp Holil Sutisna Mikhail Anindya Indah Alm Bp Fuad Said Bin Muhammad Said Bp Martin M nur Santi Pik Hanuddin . NST Ari Bu Susi Solfina Bp Roy Bahfie .A Bp Donny Kurniawan Bp Salim Rizal Rendi Bu sri Bp Burhan & Kel Dewi Intan Nurcahya Utami Bp Renaldy R.J Arzil Nazir Bp Edward Ibu Intan Permatasari Angga Mirna Agus Pramono Nunung Kartikawati Anastasia Indri Bp Jumadi Bu Shinta Ria Bu Ruswati Bp Sentosa Ajeng A Hamba Alloh Rena Ibu Ayunda Ibu Esterina Santoso Bp Bagus Suwandana Bp widhi W Bp Rikun Mahasiswa Mesin Univ Mercu Buana Bp Ayi Saban Ratno Sampol Danish El Akmal

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

Syamsiah Agus Windratno Bp Ayi Saban Bp Billy Yusuf Bp Hairil Pohan Bp Ahmad & Bu Erika Bu Haijani Hamba Alloh Bu Erni Nuraini Bu Nuryati Alm H Masnun Bu Susi Sekeluarga Hamba Alloh Bu Sri Bp Mochamad Bp Toto Bu Sti Widayanti Nurul Fauziah Tuti Hamba Alloh Bu Dina / Bp Dimas Bp edit widjaja Bu Hartati Bp Muh Tadin & Bu Dwi Hamba Alloh Ahmad Fatahillah Hamba Alloh Ahchmad Zubair Eva Widyanti Budi Setiawan HJ Sumariah Sarah Dwi Jayanti Ida Maulida Dhita Rahmadhani Agus Agus Salim M Panji Wicaksono Fatma Sari Dewi Bp Ridho Heri Purwanto Kusroni Bp Yosi Bp H Matyani Bu Samini Bp Aryono Erland Kel Bp Rois Bp Andre Bu Sri Bp Ridwan Dini Mulyawati Bu Anita Andriyani Bu Dewi Zainal Abidn Dan Winda Bp Ahmad & Bu Erika Bp Imam Yulianto Bp Imam Yulianto Bakso Tembak Hamba Alloh Bp Saiful Abdul Fattah Yudi Rahmadhani Fitri Rahmadani

Bu Dewi Bp Maftuhin Nurul Agmar Arno Phoa Ribiah Christopher Nona Yanyan Wenna Rosnawati Bp Ferry Bp Roefke Irsan Dinamik Alono Kenze Alono Kenze Bp Heri Saleh Bp Iwan Bp Sumisno Bp Adi Padi Nu Baiti Ko Aseng Priyo Utomo Bu Dian Sartkia Bp Nang Iis Bp Limkahar Bu Fatma Sari Dewy Bu Fatma Sari Dewy Bp Dedy Setiadi Bp Abdillah Nasution Risfianti Octavia Febrianto Bu Maryeni Bp Ngatimin Wawan Munjirin & Istri Hamba Alloh Bp Erwin Bp Rachmat Ali Adira Bp John Martin Fadiah Dina Kel Bp Hafiz Ibu Sri Rudi Ikhwan Rudi Ikhwan Bp Hengky Bp Ibnu & Ibu Rosmaliana Karyawan PT Summit Oto Finance Hamba Alloh Estherlita Siswoyo Warto Bp Mair Ismail Bin Djaka Ibu Samini Bp Yusufu R Bp Oey Kwat Djie Bu Agustina Sinta Dewi Bp Agung Ismaladi Bp Supriyadi

Bp Yanto Sugianto Muntami Dan Sukriah Hairil Pohan M Wahyu Lubis Widi Satmoko Donatur Makanan Bp H.M Nasir Bp Hari Ibu Herlina Wati Ibu Bariah Damayanti Sulaiman Rosilawati Dan Maruli Bp Hengky Andriyanto Bp Rory Adriananto Meila Hamba Alloh Bp Afrisal Ngizati Oksia Albriansyah Thorik A.W Bp Toro Koeat Leksana Sulilawati Bp Hadi Bp Herman Dandy Safitri Wijayanti Serhan Danish Syabrina Ardhian Bp Dendri Alm Bp Soetrisno Sosrodinoto H Martin M noer Hamba Alloh Sugeng Santoso Tomy Bp Reza Bp bambang H Agung Mochammad Ackman Hamba Alloh Ridwan Arifin Devy Andriyani Bp Iwan Bp Rikun Bp Supriadi Bu Sri Iriantini Bu Sri Iriatini Bu Wulan Bp Heri Bu Sri Renaldy Bp Arzir Nazir Bp Hari Bu sri Sumariyati Gazara Pt Fuji Tech Indonesia Pt BHM Bp Habib Syarif Bin Mahdi Bu Iis Kurniawati M Hasan Basri Bu Hena Hj Titi

Bp Subhan Bu Iyus Bp Widi W Hj Sunariah Phia Ibu Andrian A/n Alm Supinah Binti Abdul Rahman Bambang Sony Bp gunardi Bu Silvia Wijaya Bp Hj Wahab Bp Hairil Pohan Kak Fitri Bu Ruswati Bp Ahmad Yusuf Wijaya Bp Irham Hamba Alloh Bu Nurhayati M Riyadi Karno Subrata Bu Carsiti Bu Sri Yuniarti Artha Sejati Ananda Fitrah H Syifa Nur Habibah Bp Sutedjo Bp Widi Agus Pramono Bp Solidi Bin Yakub Laudza At Alla Hamba Alloh Bp Wasmad Sobirin Pt CBM Dody Aditya Pt Mandiri Cipta Gemilang Ibu Rennie Puspita Bu Elyana Djaya Putra Tamala Bp Suwarjo Bp Vicky Rizky Marvil Rizal Listi Yulianti Risdwan Dan Feni Bp Yuliyas Hamba alloh Bp Masud Bu Femi Agustina BNI syariah Bu Isti Prihatin Bu Rika Bu Hana Yoana Bu Irma Kak Ika Hamba Alloh Toro Pamungkas Bp Seno Sumbogo Rahman S Sofyansyah Bu Fatma Sari Dewi Bu Fatma Sari Dewi

Bu Nessy Bank BJB Cabang Daan Mogot Bp Ari Bp Kupria Tatori Bp Yoga Dan Bu Melani Hamba Alloh Ibu Sri Hamba Alloh Habib Syarib Hamba Alloh Ibu Femi Agustina Farel Alharsyah Sinta Sinta Adita Devanty Sekolah IPK Bp Soebekti Pt Sriwijaya Air Reza Faldian Hamba Alloh Bp Ridho Bp Holil Sutisna Diana Ny Astuti Hamba Alloh Univ Moestopo Ka Henilia Bp Dwi Ibu Fatma Sari Dewy Ibu Fatma Sari Dewy Bp Ayi Sabar C Bp Tratzarwin Ibu Dinni Ibu Sri Sumarjati Tommy Ibu Hasiyani Bp Hendro Hamba Alloh Ibu Maisarah Indah wati Esa Lara Mardes Bp Denny Iskandar Bp Rico Bu Sri Emilyadi Diana Lian ( Percikan sedekah mu ) Ratu Salsabila Basmal Fitri lubis Stephanus Harrie hari Linda Hartati Andhika C. N Fandy Suzan Agung suyatmo bin mulya wirgi Hamba Allah Hamba Allah ririn

mega H. Darmuji Hj. Maryati Yuzar Irvansyah Hamba Allah Denry josman bejo Arahim Ahmady wanthi dudy ibu nunung K Kel. Adhi Nugroho novi/santo restu ezra rosady mutuar siti rohani dudi machyudi Achmad Taufik Nia Anton suswanti bambang HP Rahmah Fauzan Ibu Jasjifi Arimi Utami Suparman Monica Senri Abdul Khalimi Hj. Asminar Yuzar Irvansyah Moch Zainal Arief Ratu Salsabila Hairul Satiadi Lukman H Yeyet Nurbaiti Marto JNE Sumanulang Sutrisno Agung Supriadi Sayuti Jeff Mulyadi ulfah. F Lola P Dudy Srivany Hari JNE M. Amrih Utomo Ita Masita Abdul Khaer Dwi Y M. Agus Nurudin Agung Subhandana Esa Lara Mardes Andrian Arif Sri Yuliana S Rodjali Siti Rohanah Indri Nur Suci Ferawati & Ari Umbara

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

9


MATERI UTAMA

Refleksi Ibadah Qurban dalam Kehidupan Sesungguhnya kami telah memberikan ni'mat kepadamu yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang orang yang membencimu, dialah yang terputus (Q.S. Al-Kautsar : 1-3) Setiap hari besar dalam Islam pastilah m e n ga n d u n g h i k m a h ke m u l i a a n u n t u k diaplikasikan dalam Kehidupan, demikian pulalah dengan hari raya Idul Adha, sebagai salah satu diantara dua hari raya yang secara syar'i dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Setelah lewat Ramadhan 1434 H sebagai pusat tarbiyah spiritual, diikuti dengan munculnya hilal syawal sebagai lambang masuknya kita ke dalam syawal sebagai bulan peningkatan secara ma'nawi dan bulan pengaplikasian nilai nilai Ramadhan, maka di bulan Dzulhijjah jutaan kaum muslimin berkumpul di tanah suci Makkah untuk melaksanakan rukun Islam ke lima yakni ibadah haji, sedangkan milyaran kaum muslimin lainnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia menjalankan “Ibadah Qurban” dengan cara menyembelih binatang qurban, untuk kemudian didistribusikan kepada mustahiknya. Makna Qurban Qurban dalam bahasa arab berakar kata dari qaruba. Akar kata ini membentuk kata: qurb (dekat), taqarrub (mendekatkan diri) aqriba' (kerabat) dsb. Menurut para pakar bahasa Arab, q u r b a n b e r m a k n a s u a t u s a ra n a u n t u k mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Allah berfirman: "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa." (Q.S. Al-Maidah: 27) Keikhlasan sebagai ruh taqwa adalah syarat

10

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

diterimanya sebuah qurban. Sebab taqwa memiliki makna lahir dan batin. Makna lahiriyah taqwa diukur dari sejauh mana seorang hamba memperhatikan batasanbatasan (hudud) yang telah ditetapkan Allah. Sedangkan makna batinnya ditentukan oleh keikhlasan dalam setiap amalannya. Allah berfirman: "Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat m e n c a p a i ny a . D e m i k i a n l a h A l l a h te l a h menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-Hajj: 37) Ridha Allah tidak akan sampai pada pemilik daging-daging yang disedekahkan dan darah-darah yang mengalir dari hewan yang diqurbankan kecuali jika dia melandasi amalannya dengan niat ikhlas dan memperhatikan syarat-syarat taqwa saat berqurban. Secara kebahasaan, taqwa berarti menjaga jiwa dari sesuatu yang ditakuti (ja'lun nafs fi wiqayatin mimma yakhaf). Makna taqwa ini dapat kita ketahui dari penjelasan hadits Nabi SAW; "Hindarilah (ittaqu, dari kata taqwa) api neraka walau dengan sebutir kurma, jika tidak punya sebutir kurma, maka gunakan kata yang baik." (HR. Bukhari) Sedangkan secara istilah, taqwa berarti menjaga jiwa dari segala yang mengotorinya, yaitu dengan meninggalkan semua yang dilarang. Orang yang bertaqwa adalah yang menjadikan ketaatannya hanya untuk Allah dan mematuhi perintah-Nya sebagai pelindung dari azab-Nya. Kesemuanya ini bisa disempurnakan dengan meninggalkan hal-hal dibolehkan tapi

mengandung syubhat, sehingga dia tidak terperosok kedalam hal yang diharamkan. Oleh karena itu, Ibn 'Umar berkata: "Seorang hamba tidak akan mencapai taqwa yang hakiki sehingga dia meninggalkan gejolak (niatan buruk) dalam dadanya." (HR Shahih Bukhari, kitabul iman) Dengan demikian hal terpenting dari ibadah qurban adalah sarana sebagai penggemblengan jiwa untuk lebih bertaqarrub kepada Allah dan memperbaiki kualitas takwa kita. Hikmah dari Ibadah Qurban Ada banyak ibrah dan hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa bersejarah ini. Diawali dari keluarga Ibrahim AS yang dianugerahi oleh Allah SWT putra melalui rahim sayyidah Hajar, wanita yang terangkat derajatnya atas perintah Allah kepada Ibrahim AS untuk menikahinya, dari seorang wanita yang berstatus hamba sahaya menjadi ibunda Nabiullah Ismail AS, yang kelak dari keturunan tersebut terlahirlah Muhammad SAW. Berqurban untuk sesuatu yang kita cintai merupakan sebuah kewajaran kalau tidak boleh dibilang keniscayaan, tidak ada satupun di atas bumi Allah ini yang kita dapatkan tanpa “membayar harganya”, dalam arti pasti ada sebab akibat yang mengikuti sunatullah dan ketetapan Allah atas peristiwa tersebut. Sebutan Khalilullah – yang berarti kekasih Allah bagi Ibrahim AS pun mengharuskan “bayaran tersebut”. Dalam banyak literatur yang membahas peristiwa ini, disebutkan bahwa Ibrahim AS mendapatkan wahyu melalui mimpi beliau yang terjadi secara berulang, sehingga difahami sebagai perintah Allah yang memang harus dilaksanakan.

Ketika Ibrahim AS mendiskusikan wahyu tersebut kepada sang putra, dan dialog yang sangat indah tersebut di abadikan oleh Allah dalam AlQur'anul Kariim sebagai berikut : “maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama sama Ibrahim, Ibrahim berkata ' Hai anakku, aku melihatmu dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkan apakah pendapatmu '?, Ia menjawab, 'wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engakau akan mendapatiku sebagai hamba yang sabar” (QS Ashaffat : 102) Pengorbanan Ibrahim AS dan kesabaran Ismail menjadi momen historis yang seharusnya senantiasa dikenang oleh kaum muslimin, yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Kecintaan Ibrahim tampak didominasi oleh sifat kehambaan yang tulus kepada Allah SWT, sehingga menempatkan perintahNya jauh di atas kecintaannya kepada makhluq (istri, anak, harta dll), termasuk sang putra Ismail AS, meski pada akhir cerita kita dapatkan sang maha Rahman – Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor domba, sungguh..... Allah semata hendak menguji kelayakan sang nabi untuk mendapatkan julukan kekasih Allah – Khalilullah, dan terbukti benar karena Ibrahim berhasil memposisikan rasa cintanya secara shahih. Aplikasi Qurban di masa ini Jika Ibrahim AS dimasa itu berhasil lulus dari ujian Allah terkait dengan takaran kecintaan kepada-Nya, maka hari inipun, sebenarnya kita dihadapkan kepada realitas yang hampir sama, meski dengan wujud fisik yang berbeda. Hari Raya Qurban memang selalu identik dengan disembelihnya domba, onta atau lembu, akan tetapi ada hikmah besar yang kadang tidak terjangkau oleh kebanyakan kaum muslimin, sehingga pemaknaan Idul Adha menjadi sangat dangkal, karena tidak pernah sampai pada nilainilai yang sesungguhnya...seakan Hari Raya Qurban hanya sampai pada iuran pembelian kambing atau lembu di masjid-masjid yang nantinya akan dibagikan kepada fuqara masakin ataupun yang

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

11


memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Jaatsiyah : 23)

lain. Meski yang demikian ini tidaklah salah karena unsur empati yang terekstraksi dari peristiwa tersebut juga menjadi pembelajaran kita semua, akan tetapi seharusnya kita juga mendapatkan sisi pemaknaan yang lebih dalam sekaligus menjadi renungan bersama untuk meningkatkan kualitas kehambaan kita dihadapan-Nya Karena, Sungguh setiap kita pastilah memiliki Ismail-Ismail dalam kehidupan ini, sesuatu yang amat Sangat kita cintai, bisa harta, kedudukan, keluarga, perniagaan dll yang kesemuanya seringkali menyita waktu dan pikiran kita, sehingga melalaikan diri ini pada hakikat penghambaan hanya kepada-Nya. Tengoklah orang orang yang menjadikan jabatan dan status sosial sebagai Tuhan dalam kehidupan mereka, orang orang seperti ini akan m emfo rs ir s elu ru h p o ten s i h id u p ya n g dianugerahkan oleh Allah untuk mengejar nama besar, status sosial, pangkat jabatan dengan menghalalkan segala cara. Suap sana sini untuk menjadi pejabat, anggota dewan, kepala daerah dan lainnya tanpa pernah meyakini adanya balasan setelah kematian. Pangkat, jabatan telah menutupi nurani dan fitrahnya, menjadikan dalil-dalil agama sebagai legislasi semu dari tindakan mereka, demikian pula dengan para pemuja harta, apapun akan dilakukan untuk memperbanyak pundi-pundi depositnya, meski Allah melarang dan membencinya. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan

12

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. (Q.S. Al-Furqaan:43-44] Merekalah orang-orang yang tertipu dengan kehidupan dunia sehingga lalai untuk menyiapkan bekal di akhirat nanti. Inilah Ismail-ismail kita dalam kehidupan kontemporer ini, yang seharusnya “kita sembelih� untuk menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT. Menyembelih dalam makna, mendudukkan mereka secara proporsional, harta boleh dicari untuk ditebar dan termanfaatkan secara benar, terbagi atas siapapun yang memiliki hak atasnya, demikian pula dengan tahta atau jabatan, yang memiliki nilai hakiki sebagai amanah yang seharusnya kita jaga sebagaimana kehendak yang memberi amanah tersebut (bukan rakyat, tetapi Allah, karena kadang kehendak mayoritas justru bertentangan dengan syari'at Allah SWT). Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak , s a u d a r a - s a u d a r a , i st e r i - i st e r i , ka u m keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. AtTaubah : 24) Makna Sosial dalam Ibadah Qurban Setiap yang disyariatkan Allah kepada hambanya di samping memiliki makna dalam konteks relasi hamba denganRabb-nya, juga selalu memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari

dalam konteks relalsi hamba dengan hamba. Sehingga setiap yang disyariatkan Allah kepada hambanya, pasti memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah qurban di samping memiliki makna ritual juga mengandung makna sosial. Artinya, umat Islam yang melaksanakan qurban atau umat Islam lain yang tidak berqurban tetapi mereka merayakan idul qurban sudah seharusnya berupaya mengambil makna yang ada dalam ibadah qurban agar umat Islam benar-benar dapat mengimplementasikan nilai atau makna ibadah qurban dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah qurban yang dirayakan setiap tahun oleh umat Islam hanya sampai di bibir saja, hanya sampai pada proses penyembelihan hewan qurban saja, bahkan sangat ironis ibadah qurban hanya dijadikan arena pesta pora makan-makan bagi masyarakat. Ibadah qurban haruslah dimaknai sebagai pendidikan kepada orang yang mampu untuk memberikan sebagian harta kekayaannya kepada umat yang membutuhkan (miskin). Dengan harapan dapat meringankan beban penderitaan bagi kaum lain yang masih dalam kemiskinan. Membantu agar meringankan beban orang lain tidak selalu dengan harta kekayaan, melainkan bisa dengan kemampuan intelektual (konseptual). Orang yang tidak memiliki harta tetapi memiliki kualitas intelektual maka mereka harus membantu meringankan beban dengan pikiran. S e m a n gat m e m b a nt u m e r i n ga n ka n penderitaan sesama manusia adalah substansi qurban yang perlu dikedepankan. Orang yang tidak memiliki semangat untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain meskipun mereka setiap tahun melaksanakan penyembelihan hewan qurban, belum dapat dikatakan telah melaksanakan ibadah qurban. Sebaliknya, meskipun seseorang itu tidak pernah menyembelih hewan qurban tetapi memiliki semangat dan selalu memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan berarti mereka telah melaksanakan ibadah qurban. Ibadah qurban juga mengandung makna agar umat Islam dalam kehidupannya selalu membunuh, membuang jauh-jauh sifat-sifat binatang yang bersarang dalam dirinya. Karakter dominan dari binatang adalah tidak memiliki rasa

kebersamaan atau persatuan-kesatuan, hanya mementingkan isi perut (kenyang), tidak mengenal aturan, norma atau etika. Qurban bukan semata-mata hanya cukup dengan menyembelih hewan qurban, justru yang sangat penting adalah bagaimana manusia benarbenar mampu membuang jauh-jauh segala sifat binatang dari dalam dirinya. Imam Al-Gazali menyebut, ada dua sifat yang selalu bergejolak dalam diri manusia, yaitu sifat malaikatiyah dan sifat hewaniyah. Sifat malaikatiyah selalu mengajak untuk berbuat positif, sedang sifat hewaniyah selalu mengajak untuk berbuat jahat. Substansi qurban berarti upaya untuk mengoptimalkan sifat malaikatiyah dan menghilangkan sifat hewaniyah. Untuk itulah, ibadah qurban sudah sepantasnya dijadikan momentum yang sangat berharga untuk menggerakkan dan mengembangkan kesadaran sosial bagi sebagian orang yang memiliki asset ekonomi memadai agar melakukan pemerataan kesejahteraan. Hewan qurban hanyalah repesentasi dari keniscayaan berqurban yang lebih besar bagi kepentingan masyarakat. Dengan demikian, wujud kecintaan kepada Allah dapat dimanifestasikan dalam kecintaan kepada sesama manusia. Buah dari ibadah shaum Ramdhan yang diikuti dengan penguatan dan peneguhan selama enam hari dibulan syawal, harusnya menjadikan kita mampu berada pada posisi mencintai-Nya, lebih dari mencintai makhluq-Nya. Kiranya semangat pengorbanan yang terpatri di Hari Raya Idul Adha, menambah kedekatan kita kepada Allah SWT dan kecintaan kita atas-Nya..amiin ya Rabbal'alamiin.

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

13


SANTRI BICARA

MUTIARA HIKMAH

Kisah si Kusta, si Botak dan si Buta

Grand Imtihan

Abdul Qarriem

14

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013

DARI Abu Hurairah r.a. bahawa dia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, iaitu: seorang penderita sakit kusta, seorang berkepala botak, dan seorang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang Malaikat. Pertamanya datanglah Malaikat itu kepada si penderita sakit kusta dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?’ Ia menjawab, “Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.” Maka diusap-usapnya kulit penderita sakit kusta itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya, serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.” Kemudian Malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rambut yang indah yang hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.” Saat Malaikat itu mengusap kepala orang yang botak itu, maka hilanglah penyakitnya serta tumbuhlah rambut yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi bunting dan didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.” Selanjutnya Malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat.’ Maka diusap-usapnya wajah orang buta itu, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Kambing.” Maka diberilah seekor kambing bunting kepadanya. Waktu berselang, maka berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga orang pertama mempunyai selembah unta, orang kedua mempunyai selembah sapi, dan orang ketiga mempunyai selembah kambing. Dengan perintah Allah datanglah Malaikat itu lagi kepada orang yang sebelumnya menderita sakit kusta dengan menyerupai dirinya dan berkata, “Aku ini seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan kamu. Demi Allah yang telah memberi kamu rupa yang elok,

kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada kamu seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Tetapi dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) banyak.” Malaikat yang menyerupai orang penderita sakit kusta itu pun berkata kepadanya, “Sepertinya aku mengenal kamu. Bukankah kamu ini yang dulu menderita sakit kusta, orang-orang jijik kepada kamu, lagi pula orang melarat, lalu Allah memberi kamu kekayaan?’ Dia malah menjawab, “Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka Malaikat itu berkata kepadanya, “Jika kamu berkata dusta, nescaya Allah akan mengembalikan kamu kepada keadaan kamu dahulu.” Setelah malaikat meninggalkannya, maka dengan serta merta Allah mengembalikan penyakitnya dulu semula dan segala kekayaannya lenyap. Kemudian Malaikat tersebut mendatangi pula orang yang sebelumnya botak dengan menyerupai dirinya berkepala botak, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada orang yang pernah menderita sakit kusta. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka berkatalah Malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya, “Jika kamu berkata dusta, nescaya Allah akan mengembalikan kamu kepada keadaan seperti dahulu.” Bila Malaikat itu beredar, demikianlah juga Allah mengembalikan keadaan orang itu seperti dulu berkepala botak dan miskin. Akhirnya, Malaikat tadi mendatangi pula orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, “Aku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan kamu. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan kamu, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Orang itu menjawab, “Sungguh, dahulu aku buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang kamu suka dan tinggalkan apa yang kamu tidak suka. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit kamu dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil kerana Allah.” Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, “Peganglah kekayaan kamu, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada kamu, dan murka kepada kedua teman kamu.” Sumber: Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab hadis tentang orang berpenyakit kusta, orang buta dan orang botak Bani Israil (6/500 no. 3464).

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013 15


PYD dalam gambar

Suasana pembagian daging Qurban kepada masyarakat disekitar Asrama, pada Idul Adha 1434 H Panitia Qurban PYD sedang menimbang daging Qurban, pada Idul Adha 1434 H

Pelaksanaan Ibadah Qurban di Asrama Kembang Kerep, Idul Adha 1434 H Pelaksanaan Ibadah Qurban di Asrama Kembang Kerep, Idul Adha 1434 H

Simbolik serah terima Santunan Dana Pendidikan tingkat SLTA dalam program SIDIK, 8 September 2013 Penyerahan Santunan kepada Janda-janda Binaan PYD dalam Program SAJADA, 14 September 2013

16

Aulaadunaa - Edisi III Volume 5, Nopember 2013


Buletin PYD Edisi November 2013