Page 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1

LATAR BELAKANG Menurut data penelitian Badan Pusat Statistik tahun 2010, Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa atau tepatnya 1.340 suku bangsa. Tentu angka tersebut merupakan angka yang bisa dikatakan sangat besar. Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya suku dari dari 34 (tiga puluh empat) provinsi di Indonesia. Perbedaan suku bangsa atau etnis tentu

saja

memiliki

kebudayaannya tersendiri dan memiliki ciri khas tersendiri. Baik secara kebiasaan,

ritual,

pakaian

tradisional,

senjata

tradisional,

rumah

tradisional, dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang menjadi fokus dalam paper: “Bingkai Kebudayaan dan Arsitektur�, dalam konteks kebudayaan adalah perilaku masyarakat (behavior of society) yang mempengaruhi rumah adatnya. Rumah Tradisional (rumah adat) memiliki beberapa tipe. Tipe-tipe tersebut adalah: Rumah panggung, Rumah yang menapak langsung di atas tanah, Rumah yang mengapung diatas air, dsb. Tipe-tipe tersebut biasanya dipengaruhi kebiasaan dan kebudayaan masyarakat sekitar dan juga ada rumah dimana rumah tersebut merupakan ala kadarnya sehingga mempengaruhi kebudayaan masyarakat juga. Apakah perilaku masyarakat yang membentuk rumah adatnya, atau apakah rumah adat menyesuaikan perilaku masyarakat? Untuk menjawab hal ini, maka diadakan penelitian dengan melakukan kunjungan studi. Kami melakukan kunjungan studi ke TMII (Taman Mini Indonesia Indah) untuk melihat dan menganalisis 1.2

secara langsung tentang rumah adat secara arsitektural. TUJUAN Dalam paper (makalah) yang berjudul : “Bingkai Kebudayaan dan Arsitektur�, kami memiliki tujuan sebagai berikut : a. Meneliti bentuk-bentuk arsitektural rumah adat

Page 1 of 24


b. Kaitan kebudayaan/kebiasaan masyarakat terhadap bentuk

1.3

rumah tradisional c. Mempelajari makna dari pada rumah adat d. Memenuhi tugas matakuliah Behaviour in Architecture RUANG LINGKUP PERMASALAHAN Agar lingkup permasalahan tidak terlalu luas, kami memfokuskan terhadap 2 (dua) rumah adat yang juga merupakan 2 (dua) jenis rumah adat. Salah satu rumah adat yang berbentuk rumah panggung, berasal dari provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat) atau suku Sumbawa, Batam, Lombok, dsb. Salah satu rumah adat yang lain berbentuk rumah yang menapak diatas tanah, berasal dari provinsi DKI Jakarta atau yang lebih dikenal sebagai suku Betawi. Selain itu, kami juga memfokuskan terhadap perilaku masyarakat setempat dan mengaitkannya dengan bentuk arsitektural rumah adatnya, baik dari segi denah maupun fasad rumah adat.

Page 2 of 24


BAB II LANDASAN TEORI A.

RUMAH ADAT Rumah adat adalah bangunan rumah yang memiliki ciri khas bangunan suatu daerah di Indonesia yang melambangkan kebudayaan dan masyarakat setempat. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya, banyak ragam bahasa dan suku dari Sabang sampai Merauke sehingga Indonesia memiliki banyak koleksi arsitektur rumah adat. (Pramono, 2013) Sampai saat ini masih banyak suku atau daerah di Indonesia yang tetap mempertahankan rumah adat sebagai usaha untuk memelihara nilainilai budaya yang mulai tergeser oleh budaya modernisasi. Rumah adat tertentu biasanya dijadikan sebagai auala (tempat pertemuan), musium atau dibiarkan begitu saja sebagai objek wisata. (Pramono, 2013) Dalam arsitektur tradisional, tercermin kepribadian masyarakat tradisional, artinya bahwa arsitektur tradisonal tersebut tergabung dalam wujud ideal, sosial, material, dan kebudayaan. Di Sumatera Utara terdapat beberapa bentuk arsitektur tradisonal yaitu : Batak Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing, Melayu, Nias Utara dan Nias Selatan. Masingmasing memiliki perbedaan, ini disebabkan pengaruh lingkungan kebudayaan dan pola kehidupan masyarakat tiap daerah. Sesuai dengan pelestarian adat istiadat dan kebudayaan suatu daerah, maka bersamaan dengan kegiatan tersebut, pelestarian dan perawatan juga dilakukan pada bangunan-bangunan tradisionalnya terutama pada rumah adatnya. (Wahid

B.

& Alamsyah, 2013) ARSITEKTUR TRADISIONAL Arsitektur tradisional ialah suatu bangunan yang bentuk, struktur, fungsi, ragam hias dan cara pembuatannya diwariskan secara turun temurun serta dapat dipakai untuk melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya. Kebudayaan dilihat dari segi bahasa, berasal dari kata “budayaâ€&#x; yang berarti suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan merupakan seluruh sikap, adat istiadat, dan Page 3 of 24


kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dengan kelompok lain, kebudayaan ditransmisikan melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (misalnya sekolah), dan kesenian, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya (Dictionary of Cultural Literatur). Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui 10 Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumahrumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan mengugnakan bahanbahan alami seperti atap ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman di Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, namun dengan seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata. Arsitektur Bangunan Tradisional di Indonesia Bangunan vernakular yang tertua di Indonesia saat ini tidak lebih dari sekitar 150 tahun usianya. Namun dari relief di dinding abad ke-9 di candi Borobudur di Jawa Tengah mengungkapkan bahwa ada hubungan erat dengan arsitektur rumah vernakular kontemporer yang ada saat ini. Arsitektur vernakular Indonesia juga mirip dengan yang dapat ditemukan di seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Karakteristik utamanya adalah dengan digunakannya lantai yang ditinggikan (kecuali di Jawa), atap dengan kemiringan tinggi menyerupai pelana dan penggunaan material dari kayu dan bahan organik tahan lama lainnya. C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERWUJUDAN BENTUK RUMAH TRADISIONAL (RUMAH ADAT) Arsitektur yang berkembang dari tradisi masyarakat (folk tradition) merupakan pencerminan langsung dari budaya, nilai-nilai yang dianut, kebiasaan-kebiasaan dan keinginankeinginan masyarakat. Perilaku sosial, arsitektur dan latar lingkungannya (kondisi ekologis-sosiokultural yang spesifik dari lingkungan) adalah faktor-faktor komunitas yang selalu berinteraksi (Pangarsa, 1994). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi

Page 4 of 24


perwujudan arsitektur rumah tinggal, walaupun banyak teori lain yang berbeda mengenai hal ini. Pendekatan enviromental determinism menekankan bahwa bentuk dan pola rumah, terutama rumah tradisional merupakan konsekuensi yang wajar atau respon pragmatis terhadap situasi iklim dan lingkungan tempat rumah tersebut berada. Arsitektur juga harus dipahami sebagai solusi relatif atau strategi adaptif (kolektif) terhadap ekologi. Faktor religi atau kepercayaan juga dipandang sangat berpengaruh pada bentuk dan pola rumah, bahkan dalam masyarakat tradisional cenderung merupakan faktor dominan dibandingkan faktor-faktor lain (Haryadi dan Setiawan, 1995:64). Dalam masyarakat tradisional, rumah dipandang sebagai wujud mikrokosmos keseluruhan alam semesta. Menurut Rapoport (1969), faktor sosial budaya merupakan faktor penentu perwujudan arsitektur, karena terdapat sistem nilai di dalamnya yang akan memandu manusia dalam memandang serta memahami dunia sekitarnya. Iklim, konstruksi, bahan dan teknologi hanya sebagai faktor pengaruh. Dalam studi silang budaya, Rapoport juga menemukan bahwa terdapat variasi perwujudan arsitektur dalam suatu kebudayaan yang sama, pada waktu dan tempat yang sama, tetapi terdapat pula kesamaan diantara berbagai kebudayaan pada waktu dan tempat berbeda. Perbedaan bentuk rumah tergantung respon masyarakat terhadap lingkungan fisik, sosial, kultural dan ekonomi, sedangkan untuk menemukan variabel fisik dan kultural akan lebih jelas, jika karakter kultural, pandangan dan tata nilai masyarakat telah dipahami.

Page 5 of 24


BAB III. PEMBAHASAN A.

PROVINSI NTB (NUSA TENGGARA BARAT) I. Filosofi Rumah adat Dalam Loka Samawa berasal dari daerah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rumah dalam Loka atau istana Sumbawa merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan yang berlokasi di kota Sumbawa Besar. Dalam Loka dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin III (1983-1931) untuk menggantikan bangunan-bangunan istana yang telah dibangun. Rumah Dalam Loka merupakan desain asli rumah para raja-raja di Sumbawa. Kuatnya pengaruh islam yang masuk kedalam wilayah ini membuat hampir seluruh aspek-aspek adat dan kesukuan larut dalam syariat islam. Makna dari Dalam Loka berasal

dari

dua

kata

yakni “Dalam” yang

berarti

istana

atau rumah-rumah di dalam istana dan “Loka” yang berarti dunia atau tempat. Jadi, Dalam Loka bermakna istana tempat tinggal raja. Untuk pertama kali masuk ke istana, akan ditemukan susunan anak tangga yang satu-satunya merupakan jalan masuk ke istana. Bentuk bangunan beratap kembar yang tidak berada pada posisi tengah menghadap ke timur, dan merujuk pada salah satu rukun sholat. Hal ini sebagai bentuk peringatan untuk raja dan rakyatnya melaksanakan sholat 5 waktu sebanyak 17 rakaat sehari semalam. Selain itu, hiasan ornament merupakan symbol religius seperti ornament yang berbentuk buah nanas yang menggambarkan hubungan antar manusia. Untuk atap istana atau Bangkung menghadap ke selatan, yang berarti sejuk, nyaman bagi penghuni II.

istana. Struktur dan Material Rumah Adat NTB ini didesain cukup besar. Bangunan ini berdiri ditopang oleh 98 tiang dan 1 tiang pendek yang terbuat dari

Page 6 of 24


pohon cabe. Secara keseluruhan jumlah dari tiang ini yaitu 99, yang melambangkan 99 sifat Allah (asmaul husna). Bahan untuk membangun rumah ini berasal dari bahan disekitar, yaitu menggunakan kayu jati yang berukuran besar yang berasal dari hutan Jati Timur. Untuk atapnya terbuat dari seng yang berasal dari Singapura. Sarat akan pesan filosofis yakni ‘adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko kitabullah’. Artinya adalah semua aturan adat istiadat maupun nilai-nilai dalam sendi kehidupan harus bersemangatkan pada syariat Islam. Didalam komplek dalam loka terdapat 2 bangunan kembar dengan sebutan Bala Rea atau Graha Besar. Bangunan ini juga memiliki beberapa III.

fungsi yang berbeda. Pembagian Ruang

Gambar 1. Denah rumah adat NTB 1. Lunyuk agung

Page 7 of 24


Di bagian depan bangunan terdapat ruangan bernama Lunyuk Agung yang berfungsi sebagai tempat musayawarah, resepsi atau acara pertemuan lainnya. 2. Lunyuk mas Di sebelah Lunyuk Agung terdapat ruangan yang bernama Lunyuk Mas, fungsinya adalah sebagai ruangan khusus untuk permaisuri, istri-istri menteri dan staf penting kerajaan ketika dilangsungkan upacara adat. 3. Ruang dalam sebelah barat Ada juga yang disebut Ruang Dalam sebelah barat, ruanganruangan ini hanya disekat oleh kelambu fungsinya adalah sebagai tempat shalat, di sebelah utaranya merupakan kamar tidur permaisuri dan dayang-dayang. 4. Ruang dalam sebelah timur Ruang Dalam sebelah timur terdiri dari empat kamar dan diperuntukan bagi putra/putri raja yang sudah berumah tangga di ujung utara ruangan ini adalah kamar pengasuh rumah tangga istana. 5. Ruang sidang Di bagian belakang Bala Rea terdapat ruang sidang, pada malam hari ruangan ini dijadikan tempat tidur para dayang. Selain bagian dalam, bagian luar rumah terdapat beberapa penghias halaman, seperti kebun istana (kaban alas), gapura (bala buko), rumah jam (bala jam), dan tempat lonceng istana. IV.

Kebiasaan Masyarakat

Page 8 of 24


Rumah Dalam Loka Samawa ini merupakan istana bagi raja. Hal ini dapat menimbulkan kebiasaan pada warga nya, yaitu: 1

Salah satu kebiasaan bisa dilihat dari cara rakyat melewati tangga yang merupakan salah satu jalan untuk masuk kedalam istana. Tangga ini menyimbolkan bahwa siapapun harus menghormati raja. Setiap orang yang melewati tangga harus membungkuk sebagai pertanda menghormati raja.

2

Masyarakat disekitar biasanya sering bermusyawarah dan melakukan prosesi pernikahan atau acara sakral. Maka dibuatlah Lunyuk Mas / Agung yang ada dibagian depan rumah.

V.

Analisis Rumah Adat Hasil analisis kunjungan studi ke TMII

Rumah Adat NTB (Sumbawa) merupakan rumah adat berjenis rumah panggung. Terlihat sekali dari tangga yang menopang bangunan untuk lebih tinggi. Bangunan dari depan ke belakang, semakin belakang, kita akan menemukan ruangan “kembar�. Selain itu juga terlihat dari struktur yang semakin atas semakin tinggi, sehingga terlihat seperti rumah panggung. Dibangun mengarah ke selatan. Atapnya banyak dan mengusahakan

Page 9 of 24


kenyamanan seisi rumah (lebih terjaga dari panas matahari dan saat turun hujan). Lebih memainkan ritme

pada atap

dibandingkan fasad bangunannya.

Dari dalam, atap tak terlihat seperti pada tampak depan. Jika kita melihat dari luar (tampak depan), kita melihat bahwa atap tersebut lurus. Ketika kita berada di dalam, atap mulai terlihat. Dari dalam, atap dibuat miring. Bentuk seperti itu sengaja dibuat untuk membuat suatu kebiasaan pada masyarakat Sumbawa, bahwa konteks “Dalam Loka Samawa� adalah rumah para Raja. Sehingga dibuat bentuk miring agar terbiasa menghormati para raja.

Waktu zaman dahulu, orang-orang masih tinggi. Sekitar 180 cm. Sehingga untuk masuk ke Dalam Loka Samawa, harus menunduk terlebih dahulu. Sekaligus juga menhormati para raja

Page 10 of 24


sebelum masuk ke istana. Beda kalau sekarang, tingginya sudah semakin pendek, jadi tidak perlu menunduk.

Miniatur Dalam Loka Samawa yang asli. Bentukan aslinya, ketika bahan-bahan dari pohon kayu jati yang sesungguhnya

Penamaan di TMII, Dalam Loka Samawa. Nama lainnya adalah Istana Tua Sumbawa. Provinsi NTB memiliki banyak suku, tetapi yang menjadi perwakilan adalah bentukan istana raja Sumbawa.

Page 11 of 24


Ketika hujan turun, tidak mengenai seisi rumah. Sehingga atap yang dibuat mengusahakan kenyamanan penghuninya

Tinggi zaman sekarang beda pada saat zaman dahulu. Sehingga untuk masuk istana raja Sumbawa tidak harus menunduk. Tinggi paling mentok, paling atas, hanya sekitar 165 cm (contoh berdiri)

Page 12 of 24


Fasad pada bangunan, struktur yang menopang. Fasad bangunan berupa motif suku Sumba.

Contoh lainnya

Page 13 of 24


Meskipun di TMII rata-rata semua rumah adat merupakan galeri, tetapi denah yang dibuat mengusahakan mirip dengan aslinya. Kemungkinan pada saat ruang ini, merupakan ruang Panompik Basar, karena pintunya akan mengarah lagi ke ruang selanjutnya, yaitu Palidangan.

Fasad pada bangunan Istana Dalam Loka Samawa

Page 14 of 24


Istana Dalam Loka Samawa terdiri bangunan kembar. Seperti sayap. Ketika kita melihat seberang, akan terlihat ruang yang sama juga. Dalam hal ini, di denah merupakan anjung. Anjung ini kemungkinan besar merupakan ruang ridur para raja, atau merupakan ruang kumpul/ruang rapat.

Suasana ketika di Anjung. Pameran alat-alat musik masyarakat NTB dan juga pameran alat-alat pancing dan alat-alat berlayar masyarakat NTB artinya, salah satu kebiasaan masyarakat NTB, adalah mata pencahariannya memancing dan berlayar.

Page 15 of 24


Alat-alat masak masyarakat NTB

Detail jendela. Jendela yang terdapat di anjung ada 12 buah. Berderet dan bersusun.

Page 16 of 24


Page 17 of 24


B.

PROVINSI DKI JAKARTA I. Filosofi Rumah Bapang / Kebaya adalah Rumah Adat Betawi yang berada di pedalaman. Rumah adat ini disesuaikan dengan Etnis Jawa. Pada zaman dahulu juga rumah ini dibentuk untuk etnis Betawi yang dalam golongan terpandang yaitu Ningrat. Alkulturasi dari adat sunda dan jawa serta pengaruh pendatang dari Arab, Cina, dan

Eropa

menjadikan

rumah

adat

Betawi

kaya

akan

keanekaragaman dengan konstruksi dan design yang menarik. Disebut Rumah Kebaya karena bentuk atapnya yang menyerupai pelana yang berilipat-lipat seperti lipatan kebaya. Bagi tradisi lawas masyarakat Betawi, mereka membuat sumur di depan rumah dan pemakaman yang berada di samping rumah. Konsep rumah ini berpegang pada kekeluargaan, keterbukaan, dan keramahan yang saling bersosialisasi pada warga sekitar. Hal ini ditunjukkan pada teras rumah yang luas yang di isi dengan meja dan kursi kayu untuk tamu yang datang kapan saja dan sebagai tempat bersantai keluarga. Rumah ini dibangun di atas lahan yang berbentuk kubus. Biasanya posisi lantai rumah ditinggikan dari dasar tanah, kemudian sebagai penghubung dengan dasar tanah dibuatlah anak II.

tangga maksimal 3 buah. Struktur dan Material Untuk material atap rumah, biasanya menggunakan genteng atau atep (daun kiral membentuk anyaman). Konstruksi kuda-kuda dan gording menggunakan kayu gowok atau kayu kecapi. Balok tepi, terutama diatas dinding luar menggunakan kayu nangka yang sudah tua. Kaso dibuat dengan ukuran 4cm x 6cm atau 5cm x 7cm dan reng dengan ukuran 2cm x 3cm atau 3cm x 4cm. Pada daun pintu dan jendela terdapat jalusi. Jalusi yaitu lubang yang mempunyai fungsi sebagai sirkulasi udara agar tetap terjaga di ruangan yang tertutup seperti kamar mandi.

Page 18 of 24


Untuk pondasi rumah ini, digunakan pondasi batu kali dengan system pondasi umpak yang diletakkan dibagian bawah III.

setiap kolom. Pembagian Ruangan Rumah Kebaya dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu public (umum), pribadi, dan service. Adapun jenis ruangannya: 1. Area Public Area ini terletak pada bagian depan rumah seperti teras dan ruang tamu. Kedua tempat tersebut bisa leluasa datang dan duduk. 2. Area Pribadi Area ini terletak pada bagian tengah rumah seperti kamar tidur. Umumnya setiap rumah memiliki 4 kamar tidur. Rumah Kebaya juga memiliki kamar tamu atau disebut paseban yang di design indah untuk menghormati dan menghargai tamu yang datang / menginap. Jika tamu tidak ada, kamar ini digunakan sebagai tempat ibadah. Pangkeng atau ruang keluarga yang dibatasi oleh dindingdinding kamar. Ruangan ini digunakan sebagai tempat berkumpul penghuni rumah pada malam hari.

Gambar 2. Denah Rumah Adat Bapang/Kebaya 3. Area Service Area ini terletak dibagian belakang rumah seperti dapur (Srondoyan). Dapur sebagai tempat masak-memasak, yang

Page 19 of 24


didalamnya sudah ada ruang makan. Gudang dan kamar mandi juga berada di area ini. IV.

Kebiasaan Masyarakat 1. Masyarakat Betawi sangat suka bersosialisasi dan ramah tamah dengan warga sekitar nya. Selain bersosialisasi dengan warga, mereka juga senang berkumpul dengan keluarganya, yang menjadikan

sesuatu

hubungan

yang

harmonis

dan

kekeluargaan. Kemudian pada bangunan rumah adat kebaya, dibuatlah teras yang luas untuk para tamu yang datang kapan saja. Bisa juga sebagai tempat berkumpul dan bersantai untuk keluarga. Ini termasuk ciri khas dari rumah adat Betawi. 2. Mereka tidak suka adanya binatang peliharaan yang masuk dan mengotori gejogan. Gejogan biasanya disebut dengan halaman depan. Kebersihan gejogan selalu dijaga karena adanya balaksuji, yaitu tangga yang dikeramatkan oleh suku Betawi. Balak artinya bencana, suji artinya penyejuk. Sehingga balaksuji dapat diartikan sebagai penyejuk yang dapat menghalangi bencana dikehidupan penghuninya. Pada rumah ini, dibuatlah pagar disekeliling rumah sebagai bentuk pencegahan. 3. Karena sifat masyarakat Betawi yang terbuka, ramah, dan suka bersosialisasi bagi setiap pendatang, mereka tetap membatasi diri dari segala pengaruh buruk yang berasal dari budaya luar, terutama yang tidak sesuai dari ajaran Islam. Hal ini dilambangkan dengan adanya pagar teras rumah sebagai bentuk nilai filosofis. 4. Adanya makam di samping rumah, agar pihak keluarga yang masih hidup tau akan sebuah kematian. Hal ini dikarenakan pihak yang tinggal dirumah tersebut bisa berziarah kapan pun tanpa

harus

menempuh

jarak

jauh.

Namun

seriring

Page 20 of 24


perkembangan zaman dan lahan yang terbatas, tradisi menyimpan makan sudah mulai ditinggalkan. V.

Analisis Rumah Adat

Rumah adat Betawi mengadopsi atap joglo. Rumah adat Betawi menapak langsung di atas tanah. Atap yang terlihat besar mengikuti selera orang Betawi yang sangat menyukai sesuatu yang terkesan besar dan megah. Banyak sekali bukaan-bukaan jendela, karena menyesuaikan lingkungan kota Jakarta yang berhawa panas. Tetapi pada zaman dahulu, kota Jakarta masih dingin, sehingga dimanfaatkan sebagai penyejuk.

Suasana “welcome� terasa sekali pada teras depan. Orang Betawi sangat

menyukai

sekali

bersosialisasi,

sehingga

rumah

Page 21 of 24


disediakan teras khusus menerima tamu untuk bertemu dan berdiskusi. Tetapi tetap menjaga privasi tuan rumah, teras diletakan di area publik.

Teras yang di samping lebih privasi dibandingkan teras depan, memang dikhususkan untuk kenyamanan pemilik rumah. Karena orang Betawi sangat suka bersantai. Pada zaman dahulu, orang Betawi memiliki kebiasaan silat. Sehingga untuk membuat diri sendiri nyaman, ada waktu untuk bersantai. Pada area teras samping, angina terasa lebih sejuk, hawa tidak sepanas di teras depan. Sehingga cocok bagi pemilik rumah Betawi.

Detail teras samping Keunikan dan ciri khas dari rumah betawi terletak pada lisplank rumah tersebut, terdapat hiasan terbuat dari material kayu papan

Page 22 of 24


yang diukir dengan ornamen segitiga berjajar yang diberi nama gigi balang. Dinding bagian depan dari rumah ini biasanya bersistem knock down atau bisa di bongkar pasang berguna jika pemilik rumah menyelenggarakan hajatan dan membutuhkan ruangan yang lebih luas.

Tampak depan anjungan provinsi DKI Jakarta di TMII. Ciri khas Betawi adalah ondel-ondel. Orang-orang Betawi percaya bahwa ondel-ondel adalah lambang kemakmuran dan kebahagiaan. Hingga

sekarang

masih

digunakan,

untuk

menandakan

kebahagiaan orang Betawi.

Page 23 of 24


BAB IV. PENUTUP

4.1

KESIMPULAN Kesimpulan dari kelompok kami adalah semua rumah adat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku masyarakat setempat. Seperti contoh, dalam tradisi NTB, masyarakat harus menghormati rajanya. Untuk membiasakan hal tersebut, maka istana raja dpada bagian depan dibuat miring agar masyarakat dapat menunduk sekaligus menghormati raja. Pada hal inilah, arsitektur yang membentuk perilaku (behavior) pada masyarakat, arsitektur mengikuti kebiasaan masyarakat. Beda halnya pada tradisi Betawi. Arsitektur yang lebih apa adanya. Pada awalnya. Kebiasaan masyarakat mengikuti arsitektur yang ada di tempat mereka. Rumah adat Betawi sebetulnya merupakan bawaan dari adat Jawa Tengah, yaitu terlihat dari atapnya merupakan atap joglo. Tetapi, semakin hari kebiasaan Betawi terus berkembang, sehingga arsitektur harus mengikuti kebiasaan masyarakat Betawi.

Page 24 of 24

PENELITIAN BEHAVIOUR ARCHITECTURE  

PENELITIAN TERHADAP KEBUDAYAAN

PENELITIAN BEHAVIOUR ARCHITECTURE  

PENELITIAN TERHADAP KEBUDAYAAN

Advertisement