Page 1


Sepenggal kalimat dari pengajar isnpirasi “Menjadi inspirator itu tdk mudah, sebelum menginspirasi, tentunya saya pribadi harus pantut dicontoh dan bisa menginspirasi diri sendiri.” Erryza Zulfana Susilo “Bahwa hidup, dan juga apapun cita-cita mereka, sesungguhnya tetap mensyaratkan perjuangan dan kerja keras, serta semangat pantang menyerah untuk mewujudkannya!.” Ida Tungga Gautama “The UNFORGETABLE MOMENT bagi saya adalah saat ada anak kelas dua yang menghampiri dan berkata “saya ingin jadi dosen bu..” lalu ada anak kelas lima yang berkata “saya ingin jadi Bu Karlina”.. THAT KNOCKS ME DOWN!.” Karlina Denistia “Bahwa untuk menjadi guru tidaklah mudah, dibutuhkan passion dan kesabaran yang kuat. saya bangga menjadi bagian Kelas Inspirasi untuk menginspirasi generasi penerus bangsa dalam menggapai cita-cita mereka.” Syevira Citra “Dan…. Wacana saja tak pernah akan bisa memperbaiki hal ini. Jadi mari kita mulai dari diri pribadi, keluarga, tetangga....terus bergerak…bergerak. ( mirip MLM yak, iklannya ) demi membangun generasi yang lebih baik.” Fatimah Qies “Well secara garis besar, saya sangat senang bertemu dengan anak-anak siswa sekolah dasar. Pendidikan dasar memang menjadi pondasi untuk perkembangan anakanak selanjutnya.” Dewi Widianingsih “Overall, Pengalaman sehari ini sungguh LUAR BIASA !!!!!!! SUKSES TERUS BUAT KITA SEMUA DAN KELAS INSPIRASI. Tuhan Memberkati kita semua.” Yusak Kathi

KELAS INSPIRASI SDN SUROKARSAN 2 Tim Pengajar: Karlina Denistia [Dosen] Ida Tungga Gautama [ Jurnalis] Erryza Zulfana Susilo [Wiraswasta] Fatimah Qies [Perawat Gigi] Dewi Widianingsih [Pustakawan] Yusak Kathi [Petinju] Syevira Citra [Fotografer] Irfania Iyenk [Spesialis GIS] Tim Dokumentasi: Intan Agisti Teguh Budi Pratomo Ngaliman Fasilitator: Syarifah Hanim Konten Tulisan oleh : Tim Pengajar Editor Tulisan : Ngaliman Konten foto oleh : Intan Agisti Syevira Citra Ida Tungga Gautama Editor Foto : Teguh Budi Pratomo Sampul Depan: Teguh Budi Pratomo Tata Letak : Ngaliman

II YOGYAKARTA


LIPUTAN

SD N SUROKARSAN 2

Jl.Tamansiswa Gang Basuki MG/II/582 Yogyakarta

TERBANGKAN PESAWAT MIMPI KITA SETINGGI MUNGKIN “Kelas Inspirasi: Menginspirasi Guru, Menginspirasi Murid” Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bagaimana seorang Yusak yang berprofesi sebagai petinju akan berada di depan kelas untuk menjadi guru SD Surokarsan 2. Begitupun yang dirasakan Fatimah (perawat gugi), Karlina (dosen), Ida (jurnalis), Vira (fotografer), Dewi (pustakawan), dan Eis (wiraswaswta). Walaupun harus kehilangan satu guru seharinya pada H-2 yaitu Iyenk (spesialis GIS), hal itu tidak menyurutkan niat para guru sehari untuk berbagi wawasan tentang profesinya selama satu hari pada tanggal 20 Februari 2013. Sebuah program dari Indonesia Mengajar yang bernama Kelas Inspirasi menjadi ajang satu hari yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Banyak kisah yang mewarnai hari pelaksanaan kelas inspirasi. “Lesson plan saya mawut! Ngga ada yang jalan! Tapi untung anakanak paham. Hahahaha..”, ujar Karlina. Lain halnya dengan kisah Vira dan Ida yang merasa menjadi guru yang tidak diharapkan di kelas tersebut walaupun akhirnya saat sesi peragaan menjadi fotografer dan jurnalis berhasil menarik perhatian anak-anak. Eis beralih profesi menjadi motivator karena anak-anak di kelas 5 sangat tidak bisa diatur. Dewi, Fatimah, dan Yusak tidak mengalami banyak kendala dan sangat senang bisa berbagi. “Bu, saya ingin jadi pustakawan..”,ujar anak kelas 4. “Bu, saya ingin jadi dosen supaya bisa jadi pintar dan hidup enak..”, ujar anak kelas 2 sambil menunjukkan tulisan yang ada di pesawat mimpinya. Semua profesi baik, semua profesi bagus. Kami hanya memberikan gambaran yang lebih luas bahwa dengan rajin belajar dan tekun berkarya, semua orang bisa meraih mimpinya setinggi apapun itu seperti yel-yel sekolah kami: “Aku, Pasti, Bisa!”

II

YOGYAKARTA

Anak-anak sangat senang... Mendapatkan hari yang berbeda, guru ang berbeda, pelajaran yang berbeda, dan mimpi yang berbeda saat pulang sekolah. Banyak anak-anak yang akhirnya bercita-cita menjadi seperti apa yang diprofesikan oleh guru sehari. Wawasan mereka terbuka, begitupun wawasan kami. Tidak mudah ternyata menjadi guru SD. Butuh kesabaran yang teramat sangat untuk bisa menanamkan nilai-nilai pekerti yang baik pada anak-anak. Kelas Inspirasi ini menjadi jembatan bahwa di sebuah kelas, ada banyak insan yang terinspirasi: yang anak-anak duduk di kursi siswa dan orang dewasa yang berdiri di depan kelas. Tim Kelas Inspirasi SD Surokarsan 2 Pengajar: Karlina Denistia [Dosen] Ida Tungga Gautama [ Jurnalis] Erryza Zulfana Susilo [Wiraswasta] Fatimah Qies [Perawat Gigi] Dewi Widianingsih [Pustakawan] Yusak Kathi [Petinju] Syevira Citra [Fotografer] Irfania Iyenk [Spesialis GIS] Dokumentasi: Intan Agisti Teguh Budi Pratomo Ngaliman Fasilitator: Syarifah Hanim


II YOGYAKARTA


II

YOGYAKARTA


Pustakawan yang berbagi ilmu pengetahuan Saya, Dewi Widianingsih, Pustakawan, bekerja di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Saya mengajar di SD Surokarsan II Kota Yogyakarta. Sekolah ini terletak di tengah kota Yogyakarta namun mayoritas kemampuan orang tua murid menengah kebawah. Dari profesi orang tua murid mayoritas menjadi buruh. Walaupun terletak di tengah kota, sarana dan prasarana sekolah ini masih sangat terbatas. Saya mengajar kelas 2-6. Persiapan saya untuk mengajar lumayan membuat pusing hehehe karena saya ingin menyampaikan profesi saya secara fun and smart sehingga tidak membosankan bagi anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk memperkenalkan siapa atau apa itu pustakawan, apa itu perpustakaan, apakah anak-anak suka berkunjung ke perpustakaan, apakah anak-anak sudah mengenal internet, bisakah anak-anak mencari informasi di internet, dan memperkenalkan beberapa perpustakaan yang ada di kota Yogyakarta dan sangat menarik untuk dikunjungi. Untuk mencapai tujuan tersebut, saya pun rela membawa LCD Projector, laptop dan rol kabel. Tak lupa berharap semoga listrik cukup.

KISAH PENGAJAR SEHARI Perpustakaan Kota Yogyakarta apalagi Perpustakaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Anak-anak ternyata melihat perpustakaan masih dalam perspektif lama yaitu tempat menyimpan buku, tempat meminjam buku, ruangannya hanya berisi buku, rak, meja dan kursi. Ketika saya memperlihatkan bagaimana Perpustakaan Kota Yogyakarta berbeda dalam hal pelayanan mereka terlihat antusias dan tidak sabar untuk mengunjungi. Di Perpustakaan Kota Yogyakarta tidak hanya meminjam buku tapi juga bisa membaca dengan santai karena ada sofa-sofa di conter anak-anak, sering ada lomba-lomba, dan ada perpustakaan kelilingnya. Namun ketika saya memperlihatkan gambar taman pintar, otomatis mereka tahu dan sudah pernah berkunjung, sayangnya mereka hanya tahu yang ada di taman pintar adalah mainan, mereka tidak bahwa yang ada ditaman pintar adalah ilmu pengetahuan, saya langsung sadar bahwa disini peran orang tua juga sangat besar untuk memberi ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya sehingga tidak sekedar mengajak bermain ke taman pintar tanpa ada penjelasan ada apa itu di taman pintar.

Tibalah hari H yang ditunggu-tunggu. Upacara pembukaannyang cukup bikin degdegan karena ada beberapa pengajar yang terlambat datang. Yel-yel yang telah kita siapkan pun kita ajarkan kepada murid-murid dan alhamdulillah bisa membuat mereka semangat untuk memulai Kelas Inspirasi. Ternyata LCD Projector dan laptop cukup membuat penasaran anak-anak, mereka langsung bertanya apa itu, untuk apa, harganya berapa (gak saya jual hehehehe) dan lain-lain. Semua kelas bisa saya kendalikan, anak-anak selalu memperhatikan semua yang saya jelaskan, dan mereka antusias untuk bertanya. Kesimpulan dari satu hari mengajar adalah mereka tidak tahu apa itu profesi pustakawan dan tidak tahu ada

II YOGYAKARTA


KISAH PENGAJAR SEHARI Saya juga memperlihatkan beberapa gambar dari Salah satu perpustakaan di Malaysia (maaf saya harus mengambil contoh dari negeri tetangga yang sering bikin ribut hehehehe). Anak-anak sangat senang sekali melihat perpustakaan ternyata sangat nyaman, bisa belajar sambil bermain, ada berbafai macam fasilitas seperti komputer, alat peraga, panggung, permainan interaktif menggunakan teknologi canggih, 3D teater, XD teater dan gym. Saya hanya ingin mengajak anak-anak melihat dunia luar yang lain dan semoga bisa memotivasi mereka untuk ingin berkunjung ke berbagai negara. Selain itu saya juga mengadakan kuis mengenai pengertian beberapa profesi yang sering mereka dengar namun ternyata mereka tidak tahu apa artinya. Seperti contoh ketika saya tanya apa itu politikus? (pada murid kelas VI) mereka menjawab, penyakit tikus bu, virus tikus ya bu? partai politik bu dan jawab itu bikin saya ngaka abis. Kemudian Apa itu pengacara? jawaban mereka adalah orang yang suka bertanya, menanyai, yang suka muncul di TV-TV (untungnya bukan orang yang suka berdebat kusir hehehehe). Well secara garis besar, saya sangat senang bertemu dengan anak-anak siswa sekolah dasar. Pendidikan dasar memang menjadi pondasi untuk perkembangan anak-anak selanjutnya. Motivasi saya mengikuti Kelas Inspirasi adalah saya ingin mengabdi kepada masyarakat, saya merasa ada yang kurang karena saya belum pernah membagikan ilmu yang saya punya walaupun sangat terbatas kepada orang lain terutama anak-anak. Saya tidak keberatan apabila Kelas Inspirasi ini masih berlanjut dan saya diminta kembali menjadi volunter. Bravo Kelas Inspirasi!!!!

-Dewi Widianingsih-

II

YOGYAKARTA


Mengajari anak-anak menjadi fotografer, model dan pengarah gaya Pekerjaan saya seorang fotografer freelance untuk berbagai media dan personal service. saya mendengar Kelas Inspirasi ini dari teman saya. Begitu tau KI adalah kelas sehari dari seorang profesional untuk berbagi mimpi dengan generasi penerus bangsa, saya langsung mendaftar. Begitu saya menerima email bahwa saya diterim saya senang sekali. Tetapi waktu briefing saya bingung dan deg-degan, apa yang mau saya ajarkan ya untuk anak-anak SD? HaHaha...

KISAH PENGAJAR SEHARI

berkomitmen untuk terus mengajar anak bangsa. bahwa untuk menjadi guru tidaklah mudah, dibutuhkan passion dan kesabaran yang kuat. saya bangga menjadi bagian Kelas Inspirasi untuk menginspirasi generasi penerus bangsa dalam menggapai cita-cita mereka. -Syevira Citra-

Sampai hari H pun saya masih bingung lesson plan saya apa yaa, mengingat profesi fotografer itu berhubungan erat dengan teknis. jadi sebenernya lesson plan saya dadakan begitu masuk kelas. Hahaha... dan andalan saya adalah kamera dan cetakan foto yang saya bawa. Anak-anak suka sekali bemain berpurapura sebagai fotografer, model dan pengarah gaya. jarang-jarang mereka bisa secara langsung dan dekat dengan kamera ‘besar’. Ketika masuk mengajar di kelas yang lebih besar sapert kelas 4,5 dan 6 saya mengajarkan bagaimana memotret dengan cara yang tadi. nah, saya awalnya bingung bagaimana dengan anak-anak yang lebih kecil seperti kelas 1 dan 3?. tapi yaa ternyata anak kelas1 tetap antusias berpura-pura jadi fotografer, bahkan menyebabkan sedikit chaos karena semua mau pura-pura jadi fotografer. Ketika masuk ke kelas terakhir di kelas 3, saya agak panik karena anak-anaknya susah diatur dan chaos, padahal di sesi guru sebelumnya tenang-tenang saja. bahkan ada yang sampai berkelahi, saya gregetan, diajak maen juga tetep dicuekin sebagian anak, saya pikir sih mungkin karena sudah siang. Saya salut dengan guru SD yang

II YOGYAKARTA


Perawat gigi yang ternyata bisa menjadi guru Mengajar dengan materi tentang apa yang saya kerjakan sebagai Perawat Gigi setiap hari……hmmm its fun and easy ! Itu sebentuk fikiran positif yang memenuhi otak saya semenjak membaca email terpilih sebagai Pengajar di Kelas Inspirasi. Yang terlintas adalah anak - anak akan mendengarkan sedikit penjelasan dari saya dan sebanyak mungkin mencoba peralatan kesehatan gigi yang saya bawa. Berperan sebagai Perawat Gigi dan Pasien begitu…..Karena selama ini saya banyak menemui anak – anak usia SD yang masih nangis ketakutan saat diperiksa giginya. Anak – anak seusia mereka pasti akan lebih senang jika belajar langsung dengan alat peraga, daripada mendengarkan penjelasan saya…..sang guru karbitan hehehe… Tapi benarkah saat pelaksanaan se- easy yang saya bayangkan….tunggu dulu…deng…deng… deng!. Bu Koord ( Karlina ) saya yang super duper rajinnya, mengamanahi saya mengajar di kelas III, V, I, II, VI. Saya sih senang senang saja dapat kelas manapun…dan sejujurnya saya ‘bejo’ banget dapat jadwal seperti ini. Kenapa saudara - saudara? Karena oh karena, pada saat survey, saya sudah masuk di kelas kelas tersebut, kecuali kelas I dan II. Kelas V, siswa putra terpantau begitu kelebihan tenaga dan kreatifitas, jadi saat mendapatkan jadwal mengajar kelas V di jam 8:25, saya merasa beruntung, pastinya jam segitu anak – anak masih ‘on’, belum terlalu bosan dengan pelajaran. Dan benar saja, hampir di semua kelas, anak anak begitu antusias mencoba Stetoskop dan Sphygmomanometer saya. Bahkan mengalahkan rebutannya mereka saat mencoba menyikat gigi yang benar dengan Phantom, ataupun mencoba alat alat kesehatan gigi yang lain. Yaak, rebutan... dan inilah saat saat ‘ kritis’ saya ternyata belum mampu mengendalikan suasana hi…hi ( belum perlu Polisi sih tapinya ). Semua anak maju, berjubel, berebut, mendorong teman lain, ingin mencoba lebih dulu, sampai saya khawatir Stetoskopnya terbang …!

II

YOGYAKARTA

KISAH PENGAJAR SEHARI Untungnya, sedikit wangsit menghampiri saya ‘anak anak majunya bergilir per baris meja’, biar lebih teratur. Jadi sayapun berseru “Ayo anak-anak, kembali ke tempat duduk masing-masing yaa, mencoba alatnya perbaris meja “ (Ngga ngitung sih, bilang begitu berapa kali, tapi sepertinya 7 x lebih dah). Sebentar anak-anak duduk lagi, tapi sejurus kemudian saat saya menunjuk baris pertama yang maju, ada 2 anak di baris kedua yang menyelundup ikut maju; tak bisa diperingatkan...dan akhirnya anak-anak lainnya pun ikut. Wahhh...Intinya, saya bisa mengajar, menyampaikan materi dan berbagi semangat, tapi tidak sukses mengendalikan keributan di kelas…..hehehe Tidak mengapa, yang penting, semoga anak-anak mendapatkan semangat tersendiri untuk berjuang melanjutkan belajar, berjuang mewujudkan cita-cita baiknya, apapun itu. Bergerak bersama KI, saya berkesempatan mengamati banyak hal, dan lebih menyadarkan saya betapa banyak faktor yang mempengaruhi kwalitas pendidikan dan kwalitas pribadi seutuhnya seseorang. Guru yang kurang pedul dengan tugasnya sebagai Pendidik, ( mendidik semestinya tidak hanya sekedar proses mentransfer pelajaran, namun juga membentuk akhlaq dan budi pekerti ), tidak akan menghasilkan siswa yang berkwalitas. Bersamaan dengan itu, orang tua yang keliru mendidik anaknya, tidak akan terbangun generasi yang mulia dan cerdas; gemilang. Dan….


KISAH PENGAJAR SEHARI

Wacana saja tak pernah akan bisa memperbaiki hal ini. Jadi mari kita mulai dari diri pribadi, keluarga, tetangga....terus bergerak…bergerak. ( mirip MLM yak, iklannya ) demi membangun generasi yang lebih baik. Penutupnya…saya ingin KI akan terus ada, tidak hanya setahun sekali, dan menjangkau seluruh wilayah RI tercinta ini. Saya ingin, punya wadah untuk bisa menggerakkan anak anak memelihara kesehatan gigi sejak dini, karena sampling yang saya lihat kemarin, anak-anak masih banyak kariesnya….weeitss ngga nyambung sama KI ya keinginan saya. Dan yang pasti, saya ingin… diberi kesempatan lagi untuk mengajar di KI. Semoga… Salut, mari bergandengan tangan membentuk lingkaran buat teman-teman Tim KI SD Surokarsan yang ocree….Karlina, Bu Ida, Bu Dewi, Mba’ Eis, Mba’ Iyenk, Yusak, Vira, Intan, Liman, Tege….berteman dengan temanss semua merupakan salah satu anugrah yang indah dalam hidup saya….

-Fatimah Qies-

II YOGYAKARTA


Petinju idola para siswa Berbagi cerita profesi dengan anak-anak SDN 2 Surokarsan Yogyakarta merupakan suatu pengalaman berharga bagi saya. Disamping itu ternyata mereka juga menampilkan sikap menerima kehadiran saya dengan penuh senyum, tawa dan penasaran, terlihat dalam tingkah laku anak di SD tersebut, dari yang serius dalam menyimak cerita dari saya sampai yang mencari perhatian. Saya menjadi tahu sebenarnya minat anak terhadap olahraga (sesuai dengan yang saya bawakan) ternyata cukup banyak, namun belum banyak jenis-jenis olahraga yang mereka ketahui, sehingga kebanyakan saat saya menanyakan olahraga favorit, mereka cenderung menyukai sepakbola (mungkin karna termasuk olahraga populer) padahal belum tentu bakat mereka di sepakbola. Hal lain yang menarik perhatian saya saat itu waktu saya sedang bercerita kebetulan salah satu kelas di dampingi oleh seorang guru, Saya sedikit tidak menyukai SIKAP dari guru tersebut yang dengan gampangnya mencubit anak yang mendengarkan saya sambil kedua tangannya diberdirikan diatas meja untuk menopang dagunya, kemudian kadang membentak anak yang terlihat berbisik/ikut bicara saat saya sedang cerita. Mungkin maksudnya ingin membuat tenang dan teratur anak, tapi menurut saya SIKAP yang ditunjukan guru tersebut justru kurang layak, karena saat itu bukanlah belajar formal seperti hari-hari biasa. Inilah beberapa dinamika yang sebenarnya sangat unik untuk dikaji dan mendapatkan perhatian lebih perihal kualitas para pendidik di Indonesia. Overall, Pengalaman sehari ini sungguh LUAR BIASA !!!!!!! SUKSES TERUS BUAT KITA SEMUA DAN KELAS INSPIRASI. Tuhan Memberkati kita semua..

-Yusak Kathi-

II

YOGYAKARTA

KISAH PENGAJAR SEHARI


Wartawati mengenalkan dunia jurnalistik pada siswa-siswai SD Menjadi Guru yang tak Diharapkan… (Refleksiku saat menjadi pengajar di Kelas Inspirasi SDN Surokarsan II Yogyakarta) Bagaimana perasaan Anda ketika dalam sebuah pertemuan yang telah direncanakan, disambut dengan setengah hati oleh si “empunya tempat”? Boleh jadi, pada diri Anda akan muncul rasa sakit, kecewa, sedih atau mungkin malah gemas bercampur mangkel. Apalagi jauh-jauh hari Anda sudah mempersiapkan pertemuan tersebut dengan matang, termasuk materi yang akan disampaikan.   Kejadian seperti inilah yang kualami ketika Rabu (20/1) berkesempatan menjadi relawan guru Kelas Inspirasi di SDN Surokarsan II Yogyakarta. Saat itu jam pelajaran ke enam atau jam terakhir. Sesuai jadwal yang telah dibuat oleh Karlina Denistia selaku Koordinator Tim Kelas Inspirasi SDN Surokarsan II, aku dijadwalkan mengajar di kelas 5 yang terletak di lantai 2.   Begitu kaki melangkah memasuki kelas, seorang anak laki-laki, yang duduk di deretan bangku belakang, langsung menodong dengan pertanyaan, “Bu, pak Yusak nanti ngajar ke sini ndak?”   Ups…, aku terdiam sejenak. Lalu, mencoba memahami pertanyaan itu. Aku pun tersadar sudah, bahwa bukan aku yang diharapkan mengajar pada jam terakhir tersebut. Sebagian besar anak laki-laki di kelas 5 itu ternyata menaruh harapan, akan diajar oleh Yusak E Kathi, relawan guru lainnya yang berprofesi sebagai asisten pelatih dan atlet tinju.  

KISAH PENGAJAR SEHARI

Yusak memang menjadi “bintang” dalam Kelas Inspirasi di SDN Surokarsan II. Banyak siswa, dari kelas 1 sampai kelas 6, berebut mencarinya. Mereka minta Yusak mengajari cara bertinju. Aku lalu menjawab pertanyaan itu dengan santai, ”Pengin belajar tinju ya? Pak Yusak memang keren ya? Atlet tinju gitu lho! Tapi, pak Yusak ke sini nggak ya? Atau gini aja, kalau pak Yusak nggak ke sini, kalian bisa menemuinya saat jam istirahat. Pasti pak Yusak mau ngajari tinju. Bagaimana? Oke?”   Meski hanya sesaat, jawabanku cukup bisa meredamkan kegaduhan di kelas 5, yang disebut para guru SDN Surokarsan II, “kelas super gaduh”. Namun, aku juga paham bahwa situasi di kelas 5 tak sepenuhnya kondusif untuk menjelaskan materi seputar profesiku, yaitu wartawan. Maka, aku pun memutuskan mengubah penyampaian materi dengan cara bermain peran.   Secara bergantian kuajak siswa kelas 5 melakoni peran sebagai wartawan dan narasumber berita. Juga, peran sebagai wartawan foto. Mereka lalu belajar wawancara, menggunakan kamera saku dan tape recorder kecil. Puji Tuhan sebagian dari mereka cukup antusias. Apalagi reward berupa bintang telah kusiapkan untuk yang berani menjajal tantangan tersebut.   Berikut salah satu petikan hasil wawancara anak kelas 5:   Wartawan    : “Boleh tahu, mas namanya siapa? Narasumber  : Saya Noah. Wartawan    : Masnya penyanyi itu ya? Narasumber: Iya. Betul. Wartawan    : Mas Noah sedang apa di Yogya? Narasumber: Saya mau nyanyi Wartawan    : Di mana? Narasumber : Di Alun-alun Utara Wartawan    : Lagunya apa? Narasumber  : Separuh Hati Wartawan    : Lagu baru ya? Narasumber  : Betul Wartawan    : Album barunya sudah ada? Narasumber: Ada Wartawan    : Bisa nyanyi sedikit? Narasumber  : Ndak bisa. Suara saya sudah habis!

II YOGYAKARTA


KISAH PENGAJAR SEHARI Latihan wawancara itu selesai sudah. Dan aku, cuma bisa melongo sebelum akhirnya tertawa sendiri. Hahahaha… Dasar bocah…!   Aku sungguh tak tahu jika ruang kelas 5 ini dipasang pintu penyekat sebagai dinding pemisah dengan kelas 6. Maka, ketika aku berasyik-masyuk menangani anak-anak yang berlatih wawancara dan memotret, ternyata sebagian anak lainnya kabur melalui pintu penyekat ini.   Aku baru tersadar ketika latihan wawancara itu usai. Ternyata, hanya separoh anak yang berada di kelas 5, bersamaku. Anak-anak yang kabur itu ada yang berkeliaran di kelas 6 sehingga membuat Syevira Citra, yang sedang mengajar di kelas tersebut, menjadi terheran-heran sendiri. Yang lainnya, ada yang mengintip kelas 6. Ada yang ke kamar kecil. Selebihnya, mencari Yusak! Maka, akupun berinisiatif mengajak mereka bertepuk Pramuka dan menari, yang kusebut Joget Pramuka. Sengaja kupilih yang berbau Pramuka karena itulah kegiatan ekstrakurikuler yang wajib mereka ikuti. Ajang Pramuka telah mengantarkan anak-anak SDN Surokarsan II meraih predikat juara III dalam Lomba Pramuka.   Jari dan jempol pinggul digoyang Jari dan jempol pinggul digoyang Jari dan jempol pinggul digoyang Kita selalu riang….   Lagu itu kuulang-ulang sampai mereka hapal dan bisa menikmatinya.   Tepuk Pramuka dan Joget Pramuka ini menjadi salah satu jurusku untuk mengusir rasa kantuk, bosan dan mungkin juga jenuh. Lagu dan joget itu juga kuajarkan di kelas 1,2,3 dan 4.   Di kelas kecil seperti kelas 1,2 dan 3, aku tak menemui kesulitan berarti. Mungkin, karena di

II

YOGYAKARTA

kelas 1 dan 2 ada ibu guru wali kelas yang berada di dalam kelas, mendampingi anak-anak. Anak-anak terlihat cukup antusias. Tak ada rona takut. Apalagi ketika aku mengeluarkan “peralatan perangku”, kamera saku dan tape recorder kecil. Mereka berebut ingin mencobanya. Secara bergantian, kuminta mereka mencoba menggunakan tape recorder kecil dan kamera saku serta berlatih wawancara. Juga di kelas 4. Anak-anak juga berebut menggunakan tape recorder kecil dan kamera saku. “Saya bu…, saya bu…, yang jadi wartawan fotonya!” teriak mereka. Saat wawancara, mereka juga melakukan improvisasi yang membuatku tergelak-gelak sendiri. Bagaimana tidak, si narasumber menyebut dirinya Direktur Perusahaan Tambang Emas yang sudah 6 tahun berada di Malaysia. Emas produksinya dijual di Indonesia, Singapura sampai China...! Hahahahaha…. Sekali lagi: Dasar bocah!   Dari perbincanganku dengan bu Endang dan bu Sumartilah, ketika jeda waktu istirahat mengajar untukku, aku mendapat gambaran utuh tentang siapa siswa-siswi SDN Surokarsan II ini? Sebagian besar berasal dari keluarga menengah ke bawah atau ekonomi lemah. Bahkan ada yang berstatus yatim ataupun yatim piatu. Orangtua mereka banyak yang ndak ngaruhke anak-anak itu. Mereka pasrah bongkokan kepada sekolah. Bu Sumartilah menyebut, perhatian orangtua kepada pendidikan anak-anak, sungguh sangat minim.   Sebagian anak-anak itu tinggal di bantaran Kali Code, di wilayah Kampung Ledok Prawirodirjan. Ada juga yang tinggal di daerah Bintaran dan Mergangsan. Jarak ke sekolah memang cukup lumayan. Sedangkan SDN Surokarsan II sesungguhnya berada tak jauh dari jantung kota Yogya. Jaraknya hanya sepelemparan pandangan saja dari Pendapa Agung Tamansiswa di Jalan Tamansiswa. SDN Surokarsan II adalah satu-satunya SD yang berada di wilayah Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta.   Banyak anak-anak yang tak sarapan saat berangkat sekolah. Banyak juga yang harus membantu orangtua mereka mencari nafkah, sepulang sekolah. Akibatnya, energi mereka terkuras sudah. Saat pelajaran, banyak yang tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Banyak dari mereka punya kesukaan menonton televisi. Acara favoritnya adalah: sinetron!   “Sebagai guru, tugas kami ini bukan sekadar mengajar dan mendidik. Tapi juga menjadi ‘orangtua’ mereka. Karena kurang perhatian, anak-anak itu menjadi anak bermasalah mereka selalu cari-cari perhatian dengan berbagai ulahnya,” jelas bu Sumartilah.   Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Aku seperti kehilangan kata-kata. Beban para guru di SDN Surokarsan II pasti sangat berat. Mereka berkewajiban meningkatkan kualitas pendidikan dan


KISAH PENGAJAR SEHARI prestasi siswa didiknya, yang di wilayah Yogyakarta Selatan berada di urutan 33 dari 35 SD yang ada. Tapi di sisi lain, mereka juga harus berperan sebagai ‘orangtua’ bagi siswa didiknya. Bahkan, para guru di sekolah tersebut juga membuat terobosan, rajin nyambangi anak-anak bermasalah ke rumah mereka. Tentu saja untuk ngaruhke dan membantu mengurai permasalahan. Keikutsertaanku di Kelas Inspirasi bukan tanpa alasan. Aku, CM Ida Tungga Gautama, sesungguhnya pernah bercita-cita menjadi guru TK dan SD. Itu benar-benar impianku saat kanakkanak dulu. Tapi, jalan hidupku ternyata berbelok. Aku malah jadi wartawan!   Maka, ketika diterima sebagai relawan guru Kelas Inspirasi, aku sungguh sangat senang. Setidaknya, aku bisa mewujudkan impianku menjadi guru. Aku bisa melakoni dan merasakannya, meski hanya sehari saja! Dan ternyata, menjadi guru SD itu tidaklah mudah. Menyampaikan materi dengan menarik saja, sudah sebuah persoalan tersendiri. Apalagi aku tak tahu apa itu ilmu psikologi pendidikan, apa itu ilmu psikologi anak.    Polah tingkah anak-anak itu, sungguh super luar biasa. Dan itu, tentu menjadi persoalan pula. Meminjam istilah Syevira Citra, rasanya bener-benar seperti di-bully oleh anak-anak! Menurutku, rasanya, benar-benar “nano-nano”! Hahahaha…       Di penghujung acara, semua relawan guru di SDN Surokarsan II mengajak anak-anak membuat pesawat mimpi dari kertas warna-warni, yang akan diterbangkan dalam acara penutupan Kelas Inspirasi. Mereka diminta menuliskan nama dan cita-cita mereka. Di kelas 1, tempatku menjadi “wali kelas”, aku sungguh dibuat kewalahan oleh ulah mereka. Bagaimana tidak, hanya melipat kertas menjadi dua bagian saja, mereka berebut berteriak, “Bu guru, saya ndak bisa… Ndak bisa bu!” Ehm, mungkin ini yang disebut bu Sumartilah, dengan modus cari-cari perhatian.   Lalu ketika semua pesawat mimpi sudah ditulisi nama dan cita-cita, iseng-iseng kutanyakan cita-cita mereka. Banyak anak-anak laki-laki menjawab, pemain sepakbola. Sedangkan anak perempuan, menulis cita-citanya adalah artis!   Sebenarnya, tak ada yang salah dengan cita-cita itu. Meskipun dalam hatiku, muncul perasaan seperti gimana gitu. Seperti sedikit tak rela. “Walah… ra guna ndobos sedina ki! Ra guna sedina njelaske berbagai profesi nganti suara rasane arep entek!” Hehehehe….   Tentang cita-cita anak-anak ini, Yusak E. Kathi punya penjelasan yang bagus. Menyebut pemain bola sebagai cita-cita, menurut Yusak E. Kathi, itu wajar-wajar saja. Sepakbola adalah jenis olahraga yang paling sering ditayangkan di televisi. Sepakbola adalah olahraga paling populer.

Maka, sepakbola menjadi dekat dengan kehidupan anak-anak itu.   Televisi memang lekat dengan keseharian anak-anak itu. Hampir tak bisa dipisahkan. Itulah sebabnya, ketika kulontarkan pertanyaan di kelas 3, 4 dan 5 : Siapakah gubernur DIY? Mereka menjawab penuh pasti: Jokowi! Sungguh, jawaban ini membuatku prihatin. Anak-anak Yogya tak tahu dan tak kenal gubernurnya! Mereka tak sepenuhnya paham jika Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah raja Yogya dan sekaligus Gubernur DIY. Mereka lebih tahu sosok Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta, karena hampir setiap hari wajahnya menghiasi layar televisi!   Pun, ketika kutanyakan: Siapakah Wakil Gubernur DIY? Anak-anak itu sontak terdiam. Setelah celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, yang keluar hanya jawaban asal bunyi. Sosok Sri Paduka Paku Alam IX sebagai Wakil Gubernur DIY sungguh asing bagi mereka. Gegap gempita pemberitaan tentang keistimewaan Yogyakarta, ternyata jauh dari kehidupan mereka sebagai pelajar Yogya. Padahal Sultan HB X dan Paku Alam IX, bagi warga Yogya, adalah Dwi Tunggal. Bahkan kediaman Paku Alam IX, Pura Pakualam, tak jauh dari sekolah mereka, SDN Surokarsan II.    Maka, cita-cita sebagian besar anak-anak perempuan sebagai artis juga menjadi wajar-wajar pula. Sebab, anak-anak itu doyan nonton sinetron yang ditayangkan di televisi. Menjadi artis, bisa jadi karena mereka ingin tampil cantik seperti gambaran artis dalam sinetron. Menjadi artis identik dengan berpakaian mahal, naik mobil bagus, makan enak dan tak pernah hidup susah. Mereka tak sepenuhnya paham jika banyak cerita sinetron Indonesia yang tidak realistis. Mereka hanya menjual mimpi!   Dan, bukankah sebagian besar anak-anak itu berasal dari keluarga ekonomi lemah? Jadi, klop sudah. Mimpi menjadi artis, boleh jadi, salah satu keinginan untuk mentas dari kemiskinan, yang selama ini menjadi nafas keseharian hidup mereka. Anak-anak itu mungkin tak tahu, hidup sesungguhnya tidaklah semanis cerita-cerita sinetron di televisi kita. Bahwa hidup, dan juga apapun cita-cita mereka, sesungguhnya tetap mensyaratkan perjuangan dan kerja keras, serta semangat pantang menyerah untuk mewujudkannya!     -CM Ida Tungga Gautama-

II YOGYAKARTA


Ibu Rumah Tangga berbagi inspirasi kewiraushaan untuk siswa-siswi SD

“Menjadi inspirator itu tidak mudah, sebelum menginspirasi, tentunya saya pribadi harus patut dicontoh dan bisa menginspirasi diri sendiri. Program Kelas Inspirasi ini saya bukan hanya bertujuan untuk menginspirasi anak-anak sekitar kita, justru saya yg terinspirasi, untuk harus bisa mengejar cita-cita saya, menyelesaikan target-target saya di dunia usaha dan kepenulisan supaya lebih bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak. Yang pasti Kelas Inspirasi sangat berkesan, sangat bermanfaat dan pengalaman yang tak terlupakan. Kelas Inspirasi, AKU PASTI BISAAAA.... Yeee..... “

II

YOGYAKARTA

-Erryza Zulfana Susilo-

KISAH PENGAJAR SEHARI


KISAH PENGAJAR SEHARI

Ibu Dosen beralih mengajar siswa-siswi SD Saya mengajar kelas 1,2,4,5,dan 6. Lesson plan saya bubrah. Hahaha… semua tidak berjalan sesuai rencana saya. Saya menggunakan teknik mengajar di setiap kelas dan cukup memeras otak ketika melihat situasi kelas yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa chaos sempat terjadi seperti misalnya di kelas 1, anak-anak saling dorong hingga ada yang saling pukul kemudian ada yang menangis. Sayaaaaa…. Cuek saja.. hahahaha.. saya cuma bilang “pukpuk bahu kanan temannyaaa, bilang “antri tanpa dorong yaaa” pukpuk bahu kirinya, bilang “setelah cap jempol, langsung duduk ya..”” entahlah apa mereka mengerti makna “pukpuk”. Begitupun di kelas 2. Saya harus mengganti lirik lagu “kalau kau suka hati tapuk tangan!” menjadi “gambar ini tulisannya yang mana?*nyanyik*” pada saat saya menjelaskan dengan menggunakan gambar. Berbeda halnya dengan kelas 5 yang ternyata sangat ribut. Mereka suka menggebrak meja menjadi sebentuk musik yang terkenal dengan lagu ‘iwak

peyek’. Deng moment nih! Gimana ini cara bikin mereka tenang.. alhasil, saya menyanyi lagu ‘garuda di dadaku’ dengan lirik yang diganti ‘satu orang bicara, yang lain tidak bicara..*nyanyik*’ lalu di ending-nya saya bergaya ala dirigen yang menutup lagu. Dan semua pun diam. Saat semua diam, saya menjelaskan ala preman karena mereka harus tau bahwa saya lebih berkuasa dibanding mereka. Di kelas 6, anak yang paling bandel menurut ibu guru, saya jadikan kapten pengawas dalam proses cap jempol. Kesan saya mengikuti kelas inspirasi adalah bahwa anak-anak SD itu itu unpredictable dan semau mereka sendiri. Kita yang dewasa dan waras yang harus mengalah, ahihihihi.. menjadi guru SD bukan hal yang mudah dan butuh kesabaran khusus dan bahkan harus lebih sabar dibanding saat menghadapi pacar yang sedang bête sama kita. The UNFORGETABLE MOMENT bagi saya adalah saat ada anak kelas dua yang menghampiri dan berkata “saya ingin jadi dosen bu..” lalu ada anak kelas lima yang berkata “saya ingin jadi Bu Karlina”.. THAT KNOCKS ME DOWN! Saya berharap, hubungan para inspirator dapat tetap terjalin dan sebagai pelaksana kelas inspirasi 1 Yogyakarta, kami bersedia jika dimintai tolong apapun terkait pendidikan di kota pelajar ini. Semoga ke depannya Kelas Inspirasi dapat menjadi pionir tempat para professional berbagi dengan generasi cilik penerus bangsa.

-Karlina Denistia-

II YOGYAKARTA


Inspirator yang berhalangan mengajar tetapi tetap berbagi inspirasi

Teman-teman, Maaf, saya baru pulang dari Papua, dan karena akses e-mail dan telepon terbatas, saya baru baca e-mail dan tahu miscall dari karlina. Wah seru sekali kayaknya. Motivasi ikut KI (kalau masih berlaku ya), saya ingin tahu kemampuan mental map anak-anak Yogyakarta, karena tahun lalu sewaktu mengajar di Jakarta, saya baru tahu mental map anakanak ibukota termasuk katagori menyedihkan *versi saya loh ya. Sederhananya, sewaktu saya minta gambar Indonesia, banyak yang tidak bisa dan bahkan tidak tahu nama-nama pulau besar Indonesia. Terima kasih untuk semua, walau saya tidak ikut partisipasi, tetap dimasukan dalam e-mail ini, jadi masih bisa mengikuti perkembangannya. Terima kasih sekali lagi. Sukses buat semua. regards

II

YOGYAKARTA

KISAH PENGAJAR SEHARI


II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II

YOGYAKARTA


FOTO KISAH SEHARI

II YOGYAKARTA


II

YOGYAKARTA


II YOGYAKARTA


II YOGYAKARTA SD N SUROKARSAN 2

II

YOGYAKARTA

Ebook Kelas Inspirasi SDN2 Surokarsan Yogyakarta  

Kisah Para Pengajar Inspirasi dalam kegiatan Kelas Inspirasi (KI) I I. Pada tahun 2013 Kegiatan ini merupakan kegiatan tahun ke-2 di Indones...

Advertisement