Page 1

MARET

#2

SEMANGAT, CERDAS, DAN OBJEKTIF ITU NARODNIK!

Narodnik

Gambar Kover oleh Laura Bottaro

Majalah Elektronik


Narodnik #2 Editorial

Imaji Laki-Laki Perempuan dalam dunia patriarki ini berada pada posisi yang kurang menguntungkan mereka. Tidak ada posisi tawar, tidak ada negosiasi, dan tidak ada rekonsiliasi bagi perempuan. Sebagaimana kita ketahui semua, di dalam sejarah zaman, perempuan hanya ditempatkan pada posisi 'dayang-dayang' laki-laki. padahal, perempuan juga seharusnya memiliki hak dan memiliki kapabilitas untuk menyatakan sesuatu, menawarkan posisi, bernegosiasi, berekonsiliasi, dan sebagainya. Dari hal itulah muncul gerakan-gerakan perlawanan perempuan. Pada tahun 70-an, di Amerika, misalnya, gerakan feminisme yang menolak keberadaan perempuan diberlakukan semena-mena. Tidaklah heran bila perlu adanya peringatan hari perempuan, yang jatuh pada bulan Maret, Hari Internasional Perempuan (red: dari Hari Perempuan Internasional). Selain itu, kita menghadapi Hari Film Nasional pada tanggal 30 Maret. Awalnya adalah langkah Usmar Ismail membuat film Darah dan Doa. Film tersebut diambil gambarnya tepat pada tanggal 30 Maret 1950. Di sanalah penanggalan 30 Maret kita peringati sebagai Hari Film Nasional. Sebab, sebelumnya, film-film di Indonesia, baik itu film yang beredar maupun film yang diproduksi di

Saat ini film sangat jauh dari nilai-nilai historinya. Hal itulah yang ingin kami (red. Narodnik) ungkap mulanya rapat redaksi yang terdiri dari Adi, Fredy, dan Tirena membahas mengenai momen-momen di bulan Maret, hingga mengerucutlah pada dua momen tadi, yang kemudian dibahaslah di dalam rapat mengenai tema yang akan diulas tersebut- di dalam tema kali ini. Di edisi kedua ini kami mengangkat tema “Perempuan dalam Film� atau intinya adalah bagaimana sosok perempuan berada di dalam bayang-bayang imaji laki-laki. Imaji laki-laki tidak melulu diwujudkan ke dalam film, bisa saja diwujudkan ke dalam bentuk prosa (cerita fiksi), maupun narasi-narasi verbal yang kemudian menjadi konsumsi publik. Secara tak langsung, narasi tersebut sangat kuat menjadi faktor pembentuk perempuan. Semoga tema kali ini kami mampu memberikan kontribusi terhadap pandangan pembaca segala tentang posisi perempuan dan lakilaki di dalam zamannya. (redaksi)

dalam negeri, hanyalah film-film yang dihasilkan dari tangan orang asing.

Bagi Usmar Ismail, visi membangun film nasional bukan mimpi belaka. Ada cita-cita bangsa yang mulia melalui film, karena dianggapnya film mampu ikut serta membangun perkembangan bangsa. Hal itu tentu melalui film-film yang bermutu, bukan sembarang film. apalagi pada saat itu, filmfilm sejarah dan bernilai budaya tinggi sedang marakmaraknya di kalangan sineas.

Majalah elektronik Narodnik adalah majalah berkala dari kelompok Metafor. Terbit tiap sebulan sekali. Fokus di bidang humaniora. Info lebih lanjut mengenai Metafor dapat menghubungi: Email: kelompokmetafor@yahoo.com Phone: 081394334150 (Zulfikar) 085222105107 (Fredy Wansyah)


SEGERA... Edisi Website untuk Edisi Berikutnya

Kami membutuhkan: A. Donatur Menyumbang biaya cetak dengan perjanjian terikat. Donatur dapat memberikan masukan-masukan yang berarti bagi kelangsungan Narodnik. B. Pewarta Dapat berkontribusi berita-berita budaya, liputan, maupun isu-isu yang terkait humaniora. C. Kontributor Foto Dapat berkontribusi foto-foto terkait tema yang telah ditentukan dalam rapat redaksi. Info selanjutnya dapat menghubungi: Adi (081321786610) Fredy (085222105107) Keredaksian Penanggungawab: Zulfikar (Ketua Metafor). Penasehat Redaksi: Fredy Wansyah. Pemimpin Redaksi: Novriadi Sitompul. Tim Redaksi & Pewarta: Tirena Oktaviani. Muhammad Apian Romadhoni. Novriadi Sitompul. Fredy. Kontributor Foto: Dinal Kelian. Keuangan: Iffah Adilah. Distribusi/Publishing: Muhammad Aprian Romadhoni. Layout/Desain: Ucok. Kontak Redaksi email: redaksinarodnik@gmail.com phone: 081321786610 (Novriadi) blog: majalahnarodnik.blogspot.com basis/pusat kesekretariatan: Jln. Raya Jatinangor. Km.21. Sumedang. Jawa Barat. Indonesia. Narodnik menerima tulisan esai, puisi, cerpen, fotografi, dan isian Narodnik lainnya. Silakan kirim kritik dan saran. Semua dialamatkan ke email redaksi: redaksinarodnik@gmail.com Pengiriman tulisan disertai data diri singkat dan nomor kontak. Tulisan yang kami muat, untuk saat ini, belum dapat kami beri imbalan dana. Kami hanya mendukung kreatifitas kepenulisan karya sastra dengan membantu publikasi secara kualitatif, tapi tidak menutup kemungkinan untuk masa mendatang.


Photo Editing: Dinal Kelian

Di sini Kami sediakan space iklan (non iklan baris) gratis untuk tiga edisi Info lebih lanjut hubungi 081321786610 (Abel) 085222105107 (Fredy)


5

Narodnik #2 Warta

Aksi Dari Pasteur Hingga Cikapayang Bandung. Sekira 150-200 masa turun kejalan melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM, yang terdiri dari 5 elemaen organisasi, yakni GMKI Sumedang, GMKI Bandung, HMI Bandung, GMNI Bandung, dan Forum Komunikasi Mahasiswa Cirebon. Aksi dimulai pukul 11.45, Selasa (20/032012). Suatu wilayah yang mungkin dijadikan jalur ke Lembang, tidak jauh jauh jembatan yang jadi ikon Bandung, tidak jauh dari sanalah mahasiswa melakukan aksinya. Tepatnya di sekitaran tol Pasteur. Akses keluar masuk tol Pasteur terganggu. Di lain sisi, pihak kepolisian berusaha bernegosiasi dengan mahasiwa. Negosiasi itu berhasil. Pasca negosiasi, polisi masih berjaga-jaga sedangkan mahasiswa melanjutkan aksinya dengan melakukan longmarch menuju kampus Maranata, tidak jauh dari titik aksi semula. Secara garis besar ada 9 poin yang disampaikan mahasiswa pengunjuk rasa tersebut, antara lain: menolak kenaikan harga bbm, wujudkan kemandirian energi, tolak liberalisasi ekonomi serta nasionalisasikan aset negara yang dikuasai asing, optimalisasi pajak tambahan atas keuntungan (windfall profit tax) perusahaan minyak akibat lonjakan harga minyak mentah dunia, transparansi pengelolaan pajak perminyakan, tolak pembatasan subsidi bbm dan tambahkan kapasitas kilang pertamina untuk memenuhi kebutuhan minyak Indonesia, memangkas alur perdagangan minyak dalam rangka ekspor-impor dan tangkap mafia perminyakan, hentikan pembodohan dan pemiskinan terhadap masyarakat melalui bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), dan hentikan utang luar negeri. Mahasiswa menyampaikan kesembilan poin dengan cara berteriak di sepanjang jalan dan membagibagikan selembaran yang berisi poin tuntutan mereka.

Tidak berapa lama setelah longmarch, mahasiswa melakukan aksi tatrikal yang mengunakan topeng bergambar SBY. Mata topeng dibolongi. Menurut salah satu peserta aksi, mereka menilai pemerintahan SBY-Budiono sudah buta kebutuhan rakyat. Secara bergilir mahasiswa meludahi topeng tersebut sebagai simbol ketaklayakan Presiden. Kemudian membakarnya. Koordinator aksi, Rendra, mengatakan bahwa rezim SBY-Budiono gagal dalam menjalankan mandat rakyat, hingga bangsa ini dalam permasalahan yang sangat pelik. Mahasiswa yang turut dalam aksi menegaskan dirinya bahwa menolak seluruh sistem yang dihasilkan rezim ini, ungkap rendra di sela-sela aksinya kepada Narodnik. Aksi elemen mahasiswa tersebut berlanjut menuju jambatan Cikapayang, Dago. Mereka kembali membentangkan bendera dan membakar ban serta berorasi penolakan kenaikan harga bbm. Jalanan simpang empat Dago pun jadi macet. Tidak berapa lama selang aksi pembakaran ban t e r s e b u t , mahasiswa meninggalkan lokasi seputaran Dago, dan berjalan santai s e p e r t i menunjukkan menyudahi aksi hari itu. (Novriadi Sitompul) Dok. GMKI

Dibutuhkan, Mahasiswa Pewarta Narodnik! Hub. Red. Narodnik


7

Narodnik #2 Catatan Perjalanan

Pergi Ke Bali Itu Murah, Kawan! Inilah salah satu perjalanan yang paling mengesankan dalam hidup. Orang-orang kaya pergi melintasi pulau hanya untuk melihat pulau lainnya tanpa memperhitungkan ongkos yang harus dibawa. Sedangkan bagi backpacker, uang merupakan bagian yang tidak bisa dihilangkan dari tiap penjejakkan suatu kota ke kota lainnya. Pengeluaran ongkos yang super murah dan irit merupakan kunci dari perjalanan yang saya usung ke pulau Bali. Saya dan teman saya berencana untuk pergi ke Bali. Rencana itu hanya membutuhkan waktu sekitar kurang dari seminggu. Persiapan yang mapan kadang hanya bisa menghasilkan ketidakjadian dalam melakukan perjalanan. Selama beberapa hari itu, kami mencari-cari informasi di google tentang perjalanan dan semua yang berhubungan dengan Bali. Mulai dari bis, kereta, delman, beca, pesawat, hingga nyarter angkot. Mulai dari tempat-tempat yang akan dilewati hingga tempat yang disinggahi di sana. Bali gitu loh. Kami juga tidak lupa menyiapkan alat-alat yang berhubungan dengan kepentingan sehari-hari. Alat mandi, baju, kolor, hape, kamera, roti bungkus, obat-obatan, peta Bali, hingga berapa bungkus rokok yang harus dibeli. Uang menjadi titik yang paling penting dalam sebuah perjalanan. Dengan modal yang sederhana kami bisa mendapatkan perjalanan seindah-indahnya. Perjalanan Murah, Meriah, Merakyat! Jika ada backpacker yang mengatakan biaya itu tidak jadi masalah, itu salah. Walaupun ini merupakan perjalanan awal kami ke sana, tetapi keyakinan akan pentingnya biaya akan sangat penting. Kalau dihitung dari sebelum kami berangkat, misalnya membeli rokok, alat mandi, kolor baru, dan semacamnya itu bergantung dari kesiapan masing-masing dan keputusan masing-masing orang untuk membawa apa saja. Sempat merinci bagaimana dari awal kami membeli tiket. Pada 2012 ini ternyata sudah ditentukan bahwa pembelian tiket kereta tidak seperti dulu bisa mendadak. Tetapi karena deadline kami dalam rencana adalah hari Senin, kami harus pergi hari itu juga. Kami memutuskan untuk naik kereta api Kahuripan, yang katanya kereta ekonomi nyaman dan aman. Tiket yang tersedia di hari senin sore itu telah habis untuk pemberangkatan malam. Dengan mengeluarkan ongkos Rp 35.000 bisa pergi sampai Yogyakarta. Akhirnya kami memutuskan membeli pagi-pagi. Barang-barang bawaan sudah dirapikan dalam ransel yang tidak terlalu berat, karena kami sadar akan melakukan perjalanan yang jauh. Pagi-pagi sekitar pukul 6 berangkat ke statsiun Kiara Condong dan mendapatkan tiket untuk malamnya, tiket jam 9, alhamdulillah. Sampai malam berangkat, stasiun menawarkan wajah-wajah asing, memandang curiga mereka seperti orang jahat, tapi itu hanya pikiranku saja. Keretanya memang tentram, takada apapun. Tidak usah heran juga jika di dalam kereta banyak pedagang kopi, pop mie, dll. Kita bisa terbantu oleh mereka jika mengalami kelaparan di tengah perjalanan. Perjalanan sekitar 11-12 jam kita lalui, serasa sebentar, karena kita akan menghabiskan malam dengan tidur atau membaca buku, yakinlah tidak ada pemandangan apa pun selain kegelapan. Untuk itu kita akan menghabiskan uang sekitar 10.000 untuk membeli kopi dll.

Muhammad Romyan Fauzan Pagi sampai di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Dari info yang kami dapat dari satpam, tiket menuju Banyuwangi bisa dibeli langsung di loket. Kami takut kejadian di Bandung terulang. Tapi nyatanya tidak, kami langsung membeli tiket pukul 7 pagi, masih Rp 35000/orang. 'Mba cantik, beli tiket kereta Sri Tanjung ke Banyuwangi!' tinggal bilang begitu saja. Yess, selangkah lagi kita ada di Banyuwangi. Jam 7.30 bisa langsung caww deh, dan setengah jam kita bisa mencari makan. Bagi orang Sunda, paling cocok di luar gerbang, namanya Warung Kuningan. Harganya murah dan sesuai selera mulut, hanya Rp.4000 s.d Rp.6000-an. Jangan sampai ketipu seperti kami, ada ibu-ibu yang dagang makanan ala Yogya dan rasanya basi. Njritt,t Rp.12.000 melayang. Yah, walau pun pantat kami agak sedikit pegal. Tapi apa mau dikata, persediaan uang kan terbatas. Jadi harus pintar mengatur waktu, pengeluaran, dan keinginan untuk membeli yang tidak benar-benar berhubungan dengan nyawa. Perjalanan dari Lempuyangan menuju Banyuwangi. Keretanya lebih bersih, stasiun-stasiun lebih bersih, dan pemandangan bisa kita lihat, Ilustrasi: google mata akan serasa dibawa ke dunia yang ada dalam cerita dongeng. Sawah yang hijau, air sungai, dll. Banyak stasiun yang kami lewati. Cuaca yang gerah bisa ditanggulangi dengan buka baju, kalau ngga malu. Maklum gak ada AC, hehe. Angin langsung dari jendela bisa membantu lah. Tapi harus hati-hati juga karena di beberapa perhentian stasiun ada pengamen yang setengah memaksa untuk mengasihani mereka uang. Kita siapkan beberapa recehan untuk hal itu. Oh iya, kita bisa ajak ngobrol penumpang lain, siapa tahu ada yang sama-sama akan pergi ke Dewata. Setidaknya ada teman yang lebih banyak menuju ke sana, nggak ada ruginya, hehe. Banyuwangi sampai jam 10-11 malam. Jalan sebentar sambil mencari makan, tepat pintu masuk gerbang pelabuhan, ada warung yang harganya Rp.7000. kami bisa makan dan beristirahat sejenak banget di sana. Pelabuhan. Kami akan naik Kapal Laut, asyiikkk. Siapkan saja uang Rp.6000 untuk tiket masuk dan itu aman. Jangan lupa pula siapkan KTP, karena sampai di Pelabuhan Gilimanuk akan diperiksa untuk masuk Bali. Kalau tak punya, ya pulang lagi ke Bandung. Hohooo. Bali gelap, mennn! Maklum masih jam 12 malam. Tapi kami merasa bahagia bahwa kaki kami telah menginjak Bali. Percayalah. Oh Bali... Di Gilimanuk kami harus jalan lagi selama dua menit menuju terminal bus. Sudah ada bus-bus kecil yang siap mengangkut kami ke Terminal Bis Ubung. Harganya Rp.25000/orang. Bagi yang beruntung dapet AC hidup, kalau ngga ya lumayan gerahlah. Heuheu. Setelah beberapa jam melewati bangunan Bali yang dipenuhi ukiran-ukiran indah malam itu, sampailah kami di Terminal Ubung. Kami sempat kebingungan. Banyak orang dan tentunya, banyak preman. Hati-hati, bray! Nanti bisa tertipu. Kami akan ditawari berabagai sarana transportasi menuju Kuta. Jangan sampai tertipu, kalau menuju Kuta langsung ongkos biasanya adalah Rp.15000 25000/orang. Lebih baik jalan sebentar ke jalan raya, lalu cari angkot dan akan menemukan angkot menuju satu terminal Tegal apa yah, saya lupa. Dengan harga ongkos Rp.5000, lalu naik lagi angkot dengan harga Rp.5000 juga. Sampailah kami di Pantai Kuta. Oh Pantai Kuta. Bagaimana perjalanan selanjutnya di Pulau Bali selama 5 hari? Tunggu di cerita perjalanan berikutnya. Yuhuuu...


8

Narodnik #2

Cita-Cita Riri Riza pada Perfilman Periode hitam film adalah di masa-masa tinggi gejolak para sineas nasional. Gejolak antara hal ini dan hal itu, yang kiranya itu tidak penting. Di satu sisi, kondisi politik juga memengaruhi. Politik sangat retan terhadap 'represifitas' kreatifitas pada sineas. Akibatnya, muncullah periode mati suri, pada tahun 90-an. Ada sesosok pemuda berkacamata yang seakan tak berlarut dengan periode mati suri itu. Rambutnya yang kriwil-kriwil seakan membenarkan pandangan umum bahwa pegiat film itu jarang memiliki tampang yang good looking. Dia bernama Riri Riza, seorang yang kutu buku dan gemar menonton film. Sejak kecil sudah akrab dengan perfilman. Ayahnya, seorang pejabat di Departemen Penerangan di era Orde Baru, sering mengajak Riri ke berbagai daerah untuk memutar film pembangunan. Riri menempuh studi film di IKJ (Institute Kesenian Film). Setelah studi di IKJ, Riri mengambil bidang penulisan skenario film di Royal Holloway University, London, pada 2001. Semasa aktif di kampus dahulu Riri dikenal sebagai mahasiswa yang lumayan cerdas. Riri juga menjadi lulusan terbaik IKJ untuk angkatannya. Sejumlah prestasi di bidang film diraihnya. Film perdananya, "Sonata Kampung Bata", memenangkan suatu penghargaan dalam Festival Film di Jerman. Atas prestasi film perdana tersebut, Riri diundang ke Jerman, yang kemudian mendapatkan apresiasi positif dari orang tua Riri. Setelah dari Jerman itu, Riri seakan mendapat 'daya juang' seorang sineas. Ia terlibat dalam pembuatan sejumlah film -- baik film pendek, film dokumenter, film televisi, sinetron, maupun film layar lebar. Diantaanya Siulan Bambu Toraja (film dokumenter), Buku Catatanku (film televisi), Kupu-Kupu Ungu, episode Emilia dan AIDS (sinetron), Kuldesak, Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta, dan Eliana, Eliana (film layar lebar). Keterlibatannya dalam film-film tadi tidak sebatas pegiat biasa. Riri duduk sebagai sutradara, skenario, bahkan produser. Atas kegigihan tersebut Riri mendapat buah jatuh, mendapat beasiswa untuk kuliah program master di Inggris. Disanalah, di Royal Holloway University, Riri memperdalam ilmu pembuat skenario film. Riri tidak punya cita-cita yang terbilang muluk-muluk. Sangat sederhana, dan seperti pada umumnya, Riri hanya ingin memberikan kontribusi perfilman nasional dengan membangun sekolah film maupun sekolah skenario film. (Redaksi)

Nama :Muhammad Rivai Riza Lahir :Makassar, Sulawesi Selatan, Oktober 1970 Agama :Islam Pendidikan : - Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (1993) - Media Arts Department, Royal Holloway University, London, Inggris (MA dalam bidang penulisan skenario film, 2001) Karir - Sutradara film dokumenter, antara lain Siulan Bambu Toraja (1995), Kupu-Kupu di Atas Batikku (1995), Nafas Batu Merapi (1996) - Sutradara Mata Ketiga (1997) - Sutradara/co-writer film televisi Buku Catatanku (1997), sinema yang masuk dalam nominasi untuk film terbaik untuk program televisi pada Festival Film International di Singapura 1998 - Sutradara sinetron Kupu-Kupu Ungu, episode Emilia dan AIDS (1998) - Penulis, sutradara, co-producer film Kuldesak (1998) - Sutradara film Petualangan Sherina (2000) - Produser Ada Apa dengan Cinta (2002) - Penulis, sutradara, produser film Eliana, Eliana (2002) Keluarga : Istri : Wilita Putrinda Anak : Liam Amadeo Riza Alamat Kantor : Miles Production, Jalan Pangeran Antasari 17, Cipete Selatan, Jakarta Selatan 12410 Telepon (021) 7500503, 7500739 Faksimile (021) 75817755

Riri Riza

Sosok


9

Narodnik #2 Cerpen

Ilustrasi/Fotografer: Hendy P.

Bulan Merah Hati Oleh Husein Arifin

Malam kasih sayang atau malam remang-remang. Aku galau bagaimana menyebutnya dan apakah ini hanya perasaanku yang bimbang? Entahlah, sementara aku menunggunya dengan mata berlinang. Bayangkan, dingin di sini menusukku dalam-dalam. Aku terus memandangi langit yang sendiri. Rembulan sendiri. Bintang sendiri. Aku pun sendiri. Aku datang untuk memenuhi janjinya malam ini. Aku penuhi waktuku untuknya di atas bulan merah hati. Ingatkah ia tentang suasana kota Malang di persimpangan jalan bersamaku? Saat itu ia ucapkan kasih sayang paling mengharukan hingga aku sangat riang. Betapa tidak, ia selalu membawaku pada ruang bernama pernikahan. Ia katakan untukku singgahan yang diidamkan oleh perempuan manapun, termasuk aku.


10 Itulah, saat aku benar-benar terjaga oleh lelaki paling kusayang. Aku tiada lagi berandai mendapat apapun kecuali kasih sayangnya. Lelaki yang selalu membuatku jika terbangun dari subuh aku buatkan teh hangat dan menghidangkan makanan ringan. Oh, inikah kesungguhannya sampai kumenantinya sekarang! Aku tidak sabar ingin menjadi bagian dari hidupnya. Aku terlalu terpana dan sangat membutuhkan kehadirannya. Malam yang lengah bila aku tak bisa mendapat suaranya, atau aku kehilangan dari kata-kata yang ia kirimkan lewat pesan handphone. Aku sedang kasmaran, mungkin saja. Tapi aku tetaplah perempuan yang membutuhkan kehadiran seorang lelaki, dan lelaki itu yang telah menjawab seluruh kerinduanku selama ini. Sehingga tak ada alasan bagiku untuk mengingkarinya. Walaupun semalam penuh aku harus menunggunya. Meski dulu, aku hanya pemalu untuk sekadar kenal, dengan lelaki pun aku tersipu dan terburu-buru menutup pintu. Aku seperti ketakutan ataupun enggan tak ingin menemui makhluk berwujud lelaki. Lantaran satu hal, orang tuaku menginginkanku nikah muda. Sementara aku tak siap dengan kondisi itu. Aku ingin menjalani masa muda usiaku dengan bekerja tanpa harus terkurung oleh sesuatu yang sakral. Dan aku tak mengiyakan permintaan orang tuaku, terutama bapakku. “Menikahlah dulu. Baru bekerja.” Kata bapakku begitu kerasnya. “Tapi Pak, Riana mau kerja dulu, biar beban keluargaku nantinya tidak terpikulkan oleh bapak,” belaku dengan sungguh-sungguh. “Sudahlah. Ikuti kata orang tua,” “Biarkan Riana menentukan jalan sendiri, Pak!” Pertengkaran semacam itu terkadang membuatku ragu melangkah, dan sampai tak menyapa Bapak di rumah. Entahlah, aku merasa sungkan dan sakit. Sungkan lantaran belum juga menerima siapapun lelaki dan sakit karena sering dijadikan bahan gunjingan oleh Bapak dan tetangga lainnya.

Narodnik #2 Semacam duri-duri yang menusuk ke kakiku. Barang sebentar saja, aku sudah mendapat berita kepergian dari Bapak dan tinggallah aku dengan Emak. Seusai itu, aku memecah sepi dengan ayat-ayat ilahi. Mungkin bisa membantuku untuk terus menegar dan menegap hati. Bila perlu aku ingin segera mencari pasangan hidup karena Bapak telah meninggalkanku. Aku tak sanggup untuk diam sendiri jika kebahagiaan ini aku tak pernah dapat. Apa mungkin karena Bapak? Tidak, aku sudah dewasa dan berhak mendapat kasih sayang seorang lelaki. Benarkah lelaki sekarang mencari kedewasaan seorang perempuan dan tidak mencari kecantikan semata? Ketiadaan Bapak membuatku sadar bahwa aku harus segera mendapat pasangan. Lelaki yang aku idamkan dan ia harus selera denganku. Meski tak mudah, aku tetap berusaha mendapatkan yang terbaik. Sampai kemudian, aku bertemu dengan lelaki bagus, lelaki serupa planet Venus. Ah, bayanganku terbawa suasana ketika pertemuan pertama yang mempesona. Kesanku padanya, kewibawaan dan ketenangannya memikat hatiku dan mengalihkan segala perhatianku padanya. Kuresapi hari-hari perkenalan itu. Ia selalu mengirimiku bunga-bunga. Tak jarang, menghabiskan pulsa teleponnya untukku saja. Ini tidak biasa bagiku. Atas pengorbanannya itulah aku yakin jika masa depanku ada di pundaknya. “Mungkinkah kasih sayangmu itu terus tumbuh sampai kita benar-benar bersatu?” “Kasih sayangku pasti tumbuh di antara cinta dan rindumu. Rindui saja aku, maka aku cintaimu.” Jawabnya. Tentu aku begitu pegang erat kata itu. Sungguh telah membawaku pada nuansa cinta yang abadi. Lelaki yang berwibawa sekali. Aku kagum dengan kesetiaannya. Lewat dua bulan, ia ingin ikrarkan kesetiaan itu. Ia ingin menghadap ke Emak untuk meminangku. Sebagai keseriusannya itu, ia bilang untuk menunggunya di malam yang penuh kasih sayang.


11 “Kenapa mesti malam hari?” “Iya. Malam hari menandakan keabadian.” “Bukankah kita abadi dalam hati?” “Lebih dari itu. Hidup kita selalu terjal untuk dijalani. Maka di malam hari semoga kita memiliki langkah yang sama,” “Maksudnya?” “Kita ganjilkan malam ini dari dua hati menjadi satu antara aku dan kamu punya cinta yang sama.” “Dengan apakah kita ganjilkan malam ini?” “Dengan hati kita.” Sesudah itu, aku tersipu. Ia benar-benar memikatku dengan cara yang berbeda. Seolah ia tahu betapa aku membutuhkannya. Sikapnya pun begitu tegas. Kali ini aku tak salah pilih lelaki. Sementara Emak hanya memasrahkan itu padaku. Emak menuruti apa yang menjadi pilihan terbaik dalam hidupku. Emak tak seperti almarhum Bapak. Emak sudah tahu bahwa aku tak ingin dipaksakan kehendakku. Karena itu, Emak cukup mendukung apa yang menjadi keinginanku, termasuk hubunganku dengan lelaki. “Doa Emak selalu untukmu, Nak!” ujarnya. Terharu. “Jadi, Riana boleh memilih pasangan hidup sendiri kan, Mak?” “Iya, asalkan jangan terlalu lama. Dan Bapak bisa bangga padamu, Nak!” “Insya Allah, Mak!” Aku bangga. Emak tidak mengharapkan sesuatu yang aneh-aneh terutama tentang penilaian lelaki yang akan kudekati, kucintai dan kusuamikan sendiri. Meskipun Emak sebetulnya berharap menimang cucu sebelum mengikuti Bapak. “Kapan Emak bisa menimang cucu?” “Ya, sebentar lagi. Emak sabar aja,” “Asal tidak terlalu lama. Biar Bapak senang, dan Emak juga dapat tenang” “Emak percaya pada Riana. Emak tak perlu risau.” Aku yakini jika lelaki pilihanku segera melabuhkan pinangan. Kerap dalam hatiku

Narodnik #2 bertanya kapankah semua ini berlalu dengan kebahagiaan. Hati terdalam selalu berasa seperti tak ingin menjadi perawan tua. Lelakiku yang kutunggu di malam yang separuh rembulan ini. Akankah bahagia itu menyerbuku? Aku menunggu lelaki yang menjadi pilihan hidupku. Tiba-tiba dari kejauhan, seseorang berlari ke arahku. Tergopoh-gopoh, terdengar sekali kalau ia ingin memberikan kabar penting untukku. Lalu ia menjulurkan sepucuk surat dan entah ia langsung berlari lagi. Begitu kubaca, sesekali tetesan airmataku terjatuh tak tertahankan. Betapa sedihku berulang, kesepianku berganda, Emak sudah menyusul Bapak. Sementara aku ratapi diri, lelakiku tak kunjung datang ke sini. Bayangkan, dingin di sini menusukku dalamdalam. Aku terus memandangi langit yang sendiri. Rembulan sendiri. Bintang sendiri. Aku pun sendiri. Aku datang untuk memenuhi janjinya malam ini. Aku penuhi waktuku untuknya di atas bulan merah hati. Masihkah cintaku berikrar di hatimu, Sayang? (*)

Malang, 14 Februari 2011


12

Narodnik #2 Resensi

Cinta sering dibungkus dengan kata-kata romantis dan bunga-bunga yang mempersolek kenyataannya. Perempuan dirupakan sebagai rembulan, belahan jiwa, atau mawar. Jika pun ada kalimat seperti “perempuan adalah racun,” itu hanya candaan belaka. Tidak sungguh-sungguh. Shakespeare sepertinya berhasil menghipnotis para pembacanya, dari zaman ke zaman, dengan keindahan konsep romantisme. Lantas kita mencoba menahan air mata (hanya) karena mengulang film Titanic. Seakan-akan cinta memang hanya “yang indah-indah”. Tapi tidak di novel Therese Raquin. Emile Zola, Penulisnya, mencoba bertanya, bahkan “menghina”, keindahan Romantis. Ia lantas mencarinya pada sisi manusia yang paling gelap, sisi kebinatangan. Therese, yang telah menikah dengan Camille si sepupu yang sakit-sakitan, jatuh cinta kepada Laurent. Itu saja garis besar novel. Sederhana. Seperti umumnya. Mudah kita temukan dalam cerita-cerita romantis tentang penemuan cinta sejati. Yang membedakan, Zola tidak bersusah payah mencari simpati untuk hubungan kedua tokoh yang saling mencintai tersebut. Tidak ada ending. Mereka pun bahagia selamanya. Zola, dengan agak kejam, memosisikan cinta menjadi sebuah neraka; gelora asmara yang tidak terbatas antara Therese dan Laurent yang menyebabkan mereka terjerumus dalam tindakan kriminal yang paling keji. Awal kemunculan novel, banyak kritikus menjudgement Therese Raquin ini, adalah karya sampah, menjijikan, porno, dan kotor. Zola pun terpaksa membantah (dapat dibaca di kata pengantar). Karyanya, hanya mencoba “apa adanya”, natural, dan ilmiah; bahwa dalam cinta, dalam perempuan, dalam manusia, selalu ada sisi kebinatangan yang menjadikannya paling buas, adalah hal yang wajar. Ini mengingatkan kita pada konsep cinta Freud; cinta lahir dari hasrat seksualitas manusia. Dan hasrat seksualitas, hasrat bereproduksi, adalah salah satu sisi hewani yang Freud anggap, bentuk naturalnya manusia. Perlu dicatat pula, karya penulis Prancis ini, ditulis tahun 1868. Era tersebut merupakan era berkembangnya pemahaman cinta romantis. Tema “cinta untuk membunuh” pun dapat dianggap bentuk perlawanan Zola. Ini dapat pula menjadi acuan untuk melihat kedudukan perempuan dalam sudut pandang Therese Raquin. Judul yang menggunakan nama tokoh perempuan, tentu bukan tanpa sebab. Tokoh Therese menjadi titik persoalan dan titik alur dalam penceritaan. Tokoh Therese mengemban tema. Darinya, Zola menunjukkan, perempuan secara psikologis ternyata memiliki kecenderungan cinta protektif yang lebih besar dibanding lelaki, kadang berlebihan dan menjerumuskan (ini diabaikan dalam karya-karya romantisme). Mungkin sebagian kita tidak setuju. Begitulah. Dalam cinta, ada cerita tentang perempuan dan kebinatangan. Ini, tentu bukan karena Emile Zola adalah seorang lelaki -yang memungkinkan lahirnya anggapan diskriminasi gender. Therese Raquin, sekali lagi, mencoba melihat dari sisi yang hitam. Bukan dari sisi bunga dan rembulan. Juga, meski agak berbau Freudian, bukan lantas ia pun membenarkan sisi kebinatangan pada cinta. Bagi saya, ini karya yang cukup bagus sebab ingin melihat apa adanya, melihat manusia dari sisi psikologi sedalam-dalamnya, yang kadang memuakkan.

Cinta, Perempuan, dan Kebinatangan Peresensi: Abrorza A Yusra

Judul Penulis Penerbit Terbit di Indonesia Jumlah Halaman

: Therese Raquin : Emile Zola : PT Gramedia Pustaka Utama : 2011 : 336


13

Narodnik #2 Resensi

Semakin tinggi aktivitas seseorang, maka semakin tinggi pula potensi lemah kejiwaannya. Bila kejiwaan sudah lemah, maka dokter jiwa (psikolog) pun butuh 'mengobatinya' agar jiwanya kembali pulih. Ibarat sakit, jiwa yang lemah itu sakit pilek. Sakit kecil yang mudah menyerang tetapi mudah untuk diobati. Namun, bila tidak segera diobati akan menimbulkan sakit-sakit lainnya. Coba tengok realitanya, manusia modern hidup dengan percepatan yang luar biasa. Mobilitasnya semakin hari semakin tinggi. Aktivitasnya semakin hari semakin tinggi. Begitulah, mau tidak mau seseorang harus mengikuti gaya hidup zaman yang super cepat ini. Tuntutan hidup dari sektor ekonomi, tuntutan hidup dari sektor prestasi individu, dan tuntutan lainnya yang harus dipenuhi dengan cara persaingan- sehingga menyebabkan percepatan itu semakin hari semakin tinggi seiring pertambahan manusianya. Akibatnya, banyak individu yang merasa tertekan hingga membutuhkan 'dokter' tadi. Indikasinya kita bisa melihat banyak seminar-seminar motivasi, acara-acara motivasi di layar Memaknai Keberanian televisi, dan buku-buku motivasi yang dilabeli 'best seller' di toko-toko buku. Motivasi pun dibutuhkan dalam situasi seperti itu, bagi individu-individu yang 'membutuhkannya'. Salah satu unsur motivasi itu, pada umumnya, berpijak pada keberanian. Keberanian merupakan unsur materi sang motivator kepada pendengarnya. Pendengar seperti itu tergolong sebagai individu yang membutuhkan keberanian hidup untuk menjalani hidup ini. Jauh sebelum sekarang, tema keberanian telah disinggung oleh para aristokrat. Seperti apa yang ditunjukkan di dalam buku Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes), bahwa terdapat sebuah dialog antara Lakhes, Nikias, Sokrates, serta dua kaum awam berbincang keberanian pada 418 SM. Kemudian dialog itu ditulis oleh Platon semasa mudanya 399-387 SM. Dari zaman itu hingga sekarang, kita dapat pahami bahwa tema keberanian akan terus diulas di manapun dan kapanpun. Buku yang berjudul Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes) bukan tentang keberanian yang secara kognitif saat ini dipahami sebagai unsur motivasi seperti apa yang diuraikan oleh motivator-motivator pop saat ini. Kita tidak akan menemui apa itu motivasi, tidak menemui apa itu manusia baik, dan sebagainya. Buku ini diterjemahkan oleh Setyo dari teks dialog yang berjudul Platon. Namun, proses penerjemahnnya dilakukan oleh Setyo tidak berasal dari teks aslinya, Yunani, melainkan dari teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga memungkinkan adanya 'miss-link' dalam aspek budaya, seperti persoalan penerjemahan pada umumnya. Proses penerjemahan bukan semata proses menerjemahkan teks atau bukan semata menerjemahkan bahasa, melainkan juga sebagai linguistic hospitality (meminjam istilah Alois A. Nugroho) yang kompleks. Setyo memaparkan hal itu seperti berikut: Penulis mengikuti terjemahan yang sudah dibuat dalam teks Yunani-Inggris dari W. R. B. Lamb M.A. Plato: Laches, Protagoras, Meno, Euthydemus, The Loeb Judul Buku : Mari Berbincang Classical Library, London: William Heinemann Ltd, edisi cetakan 1967 (hal. 83). Kedua kaum awam tadi mengawali dialog dengan mempertanyakan persoalan mengenai Bersama Platon: Keberanian mendidik anak kepada Lakhes dan Nukias, dan pada saat itu Sokrates berada di dalamnya yang mendampingi Lakes dan Nukias. Lebih lanjut, dialog pun mengalir membicarakan persoalan (Lakhes) pendidikan, khususnya menanamkan pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai medium keberanian anak-anak sebelum memasuki fase dewasa dalam menentukan kehidupannya, menentukan kebijakan- Judul Asli Yunani: Platon kebijakan, menentukan keputusan-keputusan secara mandiri. Seperti adigum “berani karena benar, Penerjemah : A. Setyo Wibowo takut karena salah� yang telah kita kenal sejak di bangku sekolah dasar, pendidikan dijadikan proses Penerbit : iPublishing pemberian pengetahuan (logos) sehingga kelak dengan pengetahuan anak-anak akan menjadi berani. Mudahnya, dari pokok buku ini kita akan memahami bagaimana pentingnya keberanian Cetakan Pertama: September dikonstruksi ke dalam diri dan karakter anak. Pun keberanian dipandang secara filosofis, yang 2011 tentunya tidak akan pernah ada habisnya untuk diulas dan diperbincangkan dari masa ke masa dan dari Tebal : 220 halaman individu ke individu. Jelas bahwa orang yang mengikatkan diri pada disiplin-disiplin semacam itu, maksudnya pelajaran-pelajaran dan latihan-latihan yang bernilai dan sangat terpuji untuk dipelajari dan dipraktekkan ... ia pasti memulainya dengan pelajaran sebagai titik pijaknya (dialog oleh Nikias hal. 92). Karena itu pula, akhir pembacaannya, di dalam buku tidak akan ditemukan titik definitif yang universal. Keberanian bukan universalitas, melainkan kontekstualitas. Keberanian bergantung pada konteks latar, situasi, kondisi, dan materi yang memengaruhi di luarnya (yang lain). Tidak ada definisi universal mengenai apa itu keberanian (aporia). Meski seakan-akan aporia tersebut hanya memberikan kesia-siaan, tetapi kita akan mendapati subtansi keberanian itu sendiri. Begitulah, bahwa buku ini memperjelas subtansi keberanian kepada kita yang hidup pada zaman percepatan yang super cepat ini. Meski aporia, yang menjadi salah satu unsur filsafat (tidak pernah habis-habisnya untuk dibahas), kita akan lebih cerdas memahami subtansi keberanian dari dialog Lakhes yang telah kita kontekstualkan pada diri sendiri. (redaksi).


Oleh Abdul Haris

Ketika Partai Tak Peduli Budaya... Ketika Partai Tak Mengakomodir Kebutuhan Rakyat Ketika Partai Cuma Mengakomodir Kebutuhan Pebisnis


16

Narodnik #2 Sorot Pop

Fredy Wansyah Kita semua tahu bahwa pembuat film sutradara dan produser lebih utama- acapkali merupakan sosok tak ubahnya narasi esai ini, yang bagi saya jelaslah sulit, meski dengan daya dan upaya diusahakan, menanggalkan perspektif jender saya- laki-laki. Maksudnya adalah lebih dominan, bukan berarti semua pembuat film adalah laki-laki. Hal ini disebabkan karena budaya patriarki yang menghidupi dunia ini, termasuk mencipta film. Dalam budaya patriarki, laki-laki berada pada posisi di atas perempuan yang dapat melakukan tindakan lebih laluasa ketimbang perempuan (perempuan subordinat, menurut Spivak bahwa subordinat itu dilarang bicara). Pembuat film itulah penggagas ide di dalam unsur-unsur film yang akan dibuat. Laki-laki di sini menjadi sebagai penggagas dan target pasar (orientasi jender). Kameramen, salah satu instrumen produksi, laki-laki akan mengambil bingkai kamera yang berfokus pada titik-titik keperempuanan. Si kameramen mengambil titik-titik tadi dengan tujuan menambah keindahan bagi penontonnya. Nah, di sinilah akan terlihat orientasi jender penonton dan pembuat film tadi, yakni laki-laki. Dari pola itu muncul film-film yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Tujuannya ialah membuat daya tarik penonton dengan perspektif kelaki-lakian. Akibatnya, perempuan penonton kadangkala secara taksadar tubuhnya, yang serupa di dalam film, sedang dinikmati oleh laki-laki penonton, yang akan dengan mudahnya mentransformasi imaji tubuh di dalam film kepada tubuh perempuan yang dihadapinya. Dianggap (laki-laki penonton) bahwa tubuh perempuan di dalam film adalah tubuh perempuan yang ada di depan matanya (kenyataan, di luar film). bagi Baudrillard, di sana pun telah terjadi kenikmatan visual. Salah satu jenis produksi film adalah video klip. Video klip diciptakan berdasar pada musik, gaya musik, bentuk musik, maupun kesesuaian lirik. Paling tidak satu diantara keempatnya. Video-video yang berasal dari India, Negeri Paman Sam, atau negeri-negeri Eropa yang membebaskan eksploitasi tubuh erotis di ruang-ruang publik, misalnya, sangat kuat gaya penubuhan perempuan sebagai daya tarik massa. Contohnya,

“Chammak Challo� yang di dalamnya ada aktris cantik nan seksi Karena Kapoor, video-video si manis dari Perancis Alizee Jacotey yang acapkali bergoyang pinggul, serta artis-artis seksi lainnya dari Negeri Paman Sam (Katty P., Britney Spears, Madonna, dll), dan aktris-aktri lainnya. Begitulah racikan video-video klip yang merangsang laki-laki penonton di dunia patriarki saat ini. Selain sebagai daya tarik pasar, sesungguhnya ada kepuasan pula bagi si artis ketika ia dieksploitasi tanpa sadar karena 'iming-iming' ketenaran serta kebanggaan tubuhnya. Dengan 'kekuasaan' lelaki, maka kebanggaan dan daya tarik pasar sangatlah efektif. Pemasaran video akan lebih optimal di 'tangan' laki-laki serta peredaran semakin cepat. Kepuasaan aktrisnya pun ikut mengiringi, kepuasan atas tubuhnya (hasrat) dan kepuasaan atas ketenaran yang memungkinkan si aktris dapat dengan mudah mengakses berbagai kebutuhannya. Pada akhirnya, hasil dari peredaran video seperti itu adalah lontaran “seksinya...!� Inilah realitas pop melalui peredaran video klip di dunia industri seni kreatif saat ini! Ilustrasi: Google


17

Narodnik #2 Puisi

Ilustrasi lukisan Laura Bottaro

Ketika Garis Hidup Berasal dari Jarimu -seseorang, lelaki yang senang berlayar "hanya aku yang boleh mencintaimu" sebagai kekasih sebagai kekasih, sekarang kamu sedang menuliskan garis hidup di tanganku siang telah kusesapkan segala sunyi yang ada di dadamu, simpanlah sebagai tanda kau takkan meninggalkanku senja meski hari mulai gelap dan meminjam nyala kunang-kunang, jangan pernah berpikit hanya sementara diam di hidupku! malam sampai takdir memisahkan, aku akan tetap menjaga sela-sela jariku diisi oleh jarimu sebab sebab aku ingin melihat wajah tuhan yang dapat menghentikan sepasang rongga dada seperti kamu‌ 2012

Tirena Oktaviani


s a t i un m o K

Save Street Child

Save Street Child adalah gerakan

Saat ini kegiatan SSChild

dapatkan. Sesungguhnya pergerakan

komunitas berjejaring. Komunitas ini

Bandung rutin berkegiatan setiap hari

kami lebih ke arah konsep mikro

merupakan desentralisasi dari tiap-tiap

Sabtu pukul 4 sore, di Taman Buah Batu.

ketimbang makro. Meskipun kecil

daerah yang tersebar di beberapa wilayah.

Di sana kami mengadakan KBM

mungkin tidak berdampak besar, tapi

Save Street Child sudah ada di Jakarta,

(Kegiatan Belajar Mengajar). Proses

konsistensi dan kegiatan yang terfokus

Surabaya, Makassar, Medan dan

belajar yang kami berikan selalu dua arah.

merupakan tolak ukur kami. Kami lebih

Bandung. Peran Save Street Child

Biasanya anak jalanan ingin belajar

menitikberatkan pada pengembangan

menjembatani serta memberikan angin

'Calistung' (Membaca, Menulis, dan

karakter anak-anak itu sendiri. Selain itu,

segar bagi anak-anak yang sudah

Berhitung). Banyak pula dari mereka

SSChild dapat menjadi laboratorium

semestinya menjadi “tanggungan.”

yang ingin belajar selain kegiatan itu,

pengabdian masyarakat anak-anak muda

Tujuannya memanusiakan, harkat dan

seperti mempelajari kesenian daerah,

yang sadar dan peduli serta mau beraksi

martabat anak-anak jalanan, baik itu yang

ataupun kesenian populer. Ada sekitar dua

untuk perubahan kecil yang mungkin saja

dapat tertampung maupun tidak dapat

puluh orang anak jalanan yang berusia

akan berdampak besar karena anak-anak

tertampung.

kira-kira 7-12 tahun yang semangat

jalanan juga generasi penerus bangsa.

Kegiatan-kegiatan yang biasa

berkegiatan bersama SSChild Bandung.

Tidak ada yang bisa memastikan

dilakukan adalah pemberdayaan anggota

Biasanya para anak jalanan ini

keberlangsungan masa depan selain

dengan workshop, kajian, dan diskusi.

didampingi oleh orang tua mereka ketika

Tuhan, dan manusia berhak

Pemberdayaan anak-anak dengan

kami sedang melakukan KBM. Sebelum

mengupayakan semaksimal mungkin

pengetahuan dan kreativitas (bermain

melakukan KBM di Buah Batu kami

agar tercapai masa depan yang lebih baik.

sambil belajar). Bahkan pemenuhan-

melakukan survey dan pendekatan

Bagi kami, secara mikro dilakukan

pemenuhan kebutuhan dengan membuka

terhadap orang tua mereka. Tujuannya

memupuk harapan dari anak-anak

portal donasi sembako dan pakaian-

agar tidak terjadi kesalahpahaman.

tersebut, dan secara makro dilakukan

pakaian layak pakai, maupun membuka

Sebagian besar dari orang tua tersebut

menyelamatkan generasi bangsa.

kesempatan untuk menjadi orang tua atau

mengizinkan anaknya untuk ikut KBM

kakak asuh.

yang kami adakan.

Di Bandung, misalnya. Save

Kebutuhan finansial dari

Street Child (selanjutnya disebut

komunitas ini sifatnya lepas dan tidak

SSChild) Bandung ini kegiatannya tidak

mengikat. Biasanya berupa donasi dari

hanya mengajar anak jalanan saja,

“Sahabat SSC” (sebutan untuk para

melainkan juga tempat berkumpulnya

donatur) dan swadaya dari tiap-tiap

orang-orang yang peduli terhadap anak

anggota, atau fundraising berupa ngamen,

jalanan. Ini semacam sebuah jaringan,

jualan baju, dan aksi-aksi lain yang

wadah naungan pemersatu

mendukung pengumpulan donasi.

lembaga/yayasan pemerhati anak jalanan

Tujuan dibentuknya komunitas

dalam mengayomi kebutuhan yang

ini bukan lantas seperti target pemerintah

sangat diperlukan oleh anak jalanan,

“Bebas Anak Jalanan” tetapi lebih pada

kepedulian kita terhadap anak jalanan.

humanisasi yang seharusnya mereka

Tim SSChild Bagi yang ingin mendapatkan kontak pegiat SSChild silakan hubungi redaksi Narodnik.


s a t i un m o K

Save Street Child

Dok. SSChild


20

Narodnik #2 Ruang Catatan

Si Seksi Dipolitikkan Pada zaman keterbukaan ini, seks bukan lagi sebatas ritual persetubuhan seperti pandangan klasik dalam memandang seks. Dahulu, katakanlah sebelum era modern serta keterbukaan informasi, seks dianggap sebatas persetubuhan yang tidak memiliki makna dan fungsi lainnya. Pergeseran budaya di dunia memunculkan pikiran-pikiran baru. Seks pun dianggap memiliki peran penting lainnya, seperti medium pemikat. Dalam kuasa laki-laki, perempuan adalah objek seks itu sendiri. Wacana-wacana seks yang direproduksi sebagai bahan kajian, bahan pertimbangan regulasi, moral sosial, dan bahkan keilmuan, mengakibatkan posisi perempuan ditempatkan berada di bawah lakilaki. Perempuan pun jadi 'penderita' seks karena berbagai hal tadi yang dibentuk oleh laki-laki. Sistem demokrasi memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk turut aktif berpartisipasi dalam perebutan kekuasaan ala demokrasi. Sebagaimana telah kita ketahui, perempuan di era reformasi ini mulai berpartisipasi terhadap dinamika parlemen. Terbukti, sekitar 10-15% perempuan menempati kursi parlemen. Bukan hanya itu saja, kuota perempuan untuk menduduki anggota dewan pun tersedia sebesar 30%. Peran perempuan di ruangruang pejabat publik tersebut seakan memberikan harapan terhadap kondisi perempuan umumnya (masyarakat). Perempuan mampu memberikan

Dialektik dalam pembentukan regulasi yang s e l a m a i n i kecenderungannya menguntungkan laki-laki (kelompok jender yang membentuknya). Keberadaan perempuan di ruang-ruang itu justru tidak optimal. Sebaliknya, malah 'digunakan' ke dalam fungsi-fungsi lain. Misalnya, perempuan dijadikan daya tarik, perempuan dijadikan medium pencitraan, dan perempuan dijadikan objek hasrat di ruang kerja. Fungsi terakhir itu sangat mengkhawatirkan, karena ini tidak sejalan dengan moralitas sebagai pejabat publik (wakil masyarakat) yang seharusnya menunjukkan sikap bermoral seperti harapan (yang ada di dalam pikiran) rakyat pada umumnya. Begitulah fungsi peran perempuan di parlemen semakin jauh dari apa yang diharapkan sejak awal. (Redaksi)

Ilustrasi Lukisan Laura Bottaro


21

Narodnik #2 Opini Mahasiswa

Harga Mati dalam Percaturan Politik Indonesia

Novriadi Sitompul Kita mempunyai pertanyaan etis setiap saat, ketika kita ingin berhadapan dengan lawan ataupun kawan dalam ruang publik. Menyiapkan sebuah skenario yang tepat, baik berupa tindakan atau ucapan, hingga bagaimana mengatur gesture yang tepat. Ingin menjadi manusia yang berkharisma didepan orangorang, menunjukan dalam lingkungan sosial sekitar kita bahwa kita adalah manusia lebih beradab diantara manusia-manusia lainnya, terlebih menjadi manusia yang layak memangku segala macam unek-unek kemasyarakatan dan mampu menghindari konflik horizontal ataupun vartikal. Mungkin menjadi kepribadian setiap manusia haus akan sebait pujian yang melambungkan ego pribadi didalam kelompok masyarakat. Seperti para elit politik bangsa ini berusah tampil seperti seorang dewa yang seakan mampu menghadang konflk dengan bahasa yang penuh estetik keabsurdan untuk ditindaklanjuti secara praktik kemasyarakatan bahkan terkesan tidak ada solusi yang bisa dijadikan sejata untuk mengakhiri konflik yang terjadi. Berusaha tampil menyakinkan dengan gesture dan komunikasi public yang melingkar dalam satu jalur tampa bisa membawa kita yang mendengar arah mana yang layak untuk kita jalani. Akibatnya masyarakat hanya bisa mendengar sekumpulan orang yang sedang bermain drama dalam sebuah skenario cerita kebangsaan yang tidak berkesudahan. Mari kita simak acara-acara debat yang dewasa ini sering kita saksikan distasiun televise swasta yang tiap hari bahkan tiap jam bisa kita saksikan, mereka kaum “borjois-borjois separuh patuk” itu sibuk mendebatkan satu wacana yang yang dalam hitungan masyarakat awam melebihi perdebatan kaum teologis dan saintologis tentang asal muasal bumi. Mereka seakan berbica bukan pada tataran berkebangsan melainkan pada tataran komersialisasi dan kelompok. Konsekuensinya hubungan seperti ini mirip seperti apa yang dikatakan Clifford Geertz tentang hubungan sosial orang jawa, tidak lagi mementingakan apa yang lazim disebut kejujuran. Sehingga seni berpura-pura menjadi kemahiran dan keahlian tersendiri, sehing mencoba mengubah mindset masyarakat bahwa suatu sikap atau pendapat itu tidak lagi menjadi sebuah pertanyan benar atau tidak yang penting dia cocok dengan tatanan keselarasan dan tidak mengusik-usik harmoni dalam

masyarakat. Sehingga memaksa masyarakat untuk tidak ikut mengkaji lebih dalam apa sebenarnya yang terjadi dalam percaturan kaum elit politik bangsa ini. Satu konsep besar yang terkadang lumrah tapi penting dalam politik yaitu etika politik sering menjadi simbolik dalam dunia politik bangsa dewasa ini. Yang ada bukan lagi bagaimana menjadikan politik sebagai roda bangsa yang membawa direction kemajuan, melainkan bagaimana menjadi partai atau kelompok pengusa negeri ini. Tanda paling jelas dalam diri seorang penguasa yang sah adalah kemampuannya untuk mengkosentrasikan kekuasaan. Maksimalisasi kekuasaan yang dimilikinya sebagai pribadi. Dalam film-film mandarin tradisonal digambarkan bagaimana seorang pendekar kelas wahid melakukan hal ini lewat semedi demi mendapat tenaga dalam super, setelah mahir mereka lalu mendirikan perguruan, lalu mencetak murid-murid yang tangguh lalu rela mati demi dirinya dan perguruan. Murtadha Mutahhari pernah berkata yakni kesadaran akan diri seseorang dalam kaitannya dengan orang-orang yang berbagi ikatan etnis yang sama dengannya . manusia cenderung menyatu karena mengalami satu aturan , adat, tradisi, pasang-surut sejarah, bahasa, sastra, dan terutama sekali budaya yang sama. Dengan kata lain sebagaimana manusia dikaruniai “diri” , suatu kelompok atau suatu bangsa pun mempunyai “diri nasional” atau kesatuan yang mewakili budaya bersama mereka. Johanes leimena pun pernah berkata politik bukanlah alat kekuasaan melaikan etika melayani, mungkin ketika leimena berujar “mantera” itu, Beliau masih dikarunia “diri” yang yang tersimpul dalam sebuah konsep etika politik. Lalu apa yang terjadi dewasa ini dikalangan elit politik bangsa? Politik tidak lagi menjadi alat untuk mentransformasikan ide-ide yang bersumber pada nilai-nilai moral dan gagasan kebangsaan yang Universal secara “diri nasional” melainkan untuk kepentingan kekuasaan kelompok semata. Kesadaran ini harus lahir dari intelektual-intelektual progresif yang memaknai politik bukan hanya dari kekuasan melainkan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang harus ditanam sehingga bangsa ini tidak larut dalam carut marut perpolitikan yang semakin terpuruk kedasar jurang. Maka dari itu kaum muda progresif lah yang semestinya berani mengejewantahkan kemerosotan etika percaturan politik bangsa, sehingga menciptakan roda pergerakan bangsa kearah yang lebih beradab.


Foto oleh Dinal Kelian


23

Narodnik #2 Meja Sekolah

Wanita dan Film Kita Nour Muhammad Adriani Saat saya kecil sering diputar film-film bernuansa hiburan tahun 70/80-an seperti Benyamin atau Warkop DKI di layar televisi, yang saya saksikan lewat pesawat televisi tetangga, dan itu masih saya ingat sampai sekarang. Meski terkesan jijik dan terlalu mengada-ada, kisah-kisah supranatural “khas” masa itu, semacam film misteri seperti film-film yang dibintangi Suzanna, masih juga saya ingat. Berbeda dengan film-film layar lebar atau sinetron Indonesia saat ini, yang bagi subjektif saya, kebanyakan lebih mudah dilupakan daripada dinikmati dan dijadikan sumber pembelajaran masyarakat. Tanpa saya pungkiri juga, bahwa film-film berkualitas dan mendidik semacam Garuda di Dadaku, Laskar Pelangi, Alangkah Lucunya Negeri Ini, dan sederet film-film bernuansa spiritual lain, banyak yang patut diberi apresiasi. Pengamatan saya sempat hilang begitu saja karena masa saya sebagai penikmat film semata, namun kini lebih dapat menilai lebih jauh. Saat ini saya menemukan, kebanyakan dari film, cenderung mengedepankan sisi wanitanya. Sengaja atau tidak, promosi tayangan dengan unsur-unsur sensualitas dan kewanitaan seolah menjadi bumbu yang diharuskan dalam suatu tayangan masa itu maupun sekarang. Coba amati, kostum para wanita dalam filmfilm Warkop cenderung terbuka bukan? Atau pernahkah anda menemukan film Warkop tanpa wanitanya? Itu tidak terlalu dan bukan jadi masalah bagi saya. Mirisnya adalah, pada masa itu, ketika keadaan masyarakat relatif belum tercampuri demam globalisasi, tayangan film layar lebar membuat wanita “dieksplorasi” demi kebutuhan hiburan dan bumbu film tersebut. Lihat film Warkop tadi misalnya, Anda pasti dengan mudah mendapatkan adegan wanita dengan kostum mencolok, digoda oleh para tokoh utama yang tertarik kepadanya. Tidak jauh beda agaknya jika kita mengomparasikan hal di atas dalam konteks kekinian. Jika anda memperhatikan, film-film kita saat ini juga banyak menggunakan wanita untuk menarik minat penonton. Misal, tayangan film bertema roman picisan, film drama, atau juga horor humor bernuansa seks, semua menunjukkan peran wanita sebagai objek, bukan subjeknya. Kedudukan wanita sebagai objek ini, dalam pengamatan saya, ditandai dengan beberapa

Parameter seperti pengenaan kostum, penunjukkan peran, akting yang dilakukan, jalan cerita, yang pada intinya membuat mereka cenderung menarik secara sensual untuk dinikmati penonoton. Di masa kita sekarang, mungkin memang semua berlindung atas nama kebebasan seni dan berekspresi. Ini bukan lagi masanya semua dibatasi. Persaingan dan strategi pemasaran demi keuntungan ekonomis lebih sering dikedepankan sebagai prioritas. Hak-hak dituntut meski kadang etika dikorbankan. Film dan wanita kita saat ini, dalam kondisi tersebut, anehnya justru masih saja dibiarkan (jika tidak dikatakan) disukai masayarakat, padahal dilihat dari kacamata transfer nilai-nilai moral, semua itu merugikan pembangunan masyarakat sendiri. Di mata laki-laki, kaum wanita akan semakin direndahkan, sebab mau diperlakukan demikian. Bagi wanita yang lain, gaya semacam itu justru ditiru sebagai model, dan akan menurunkan secara general harga diri itu. Wanita dan film, sudut pandang saya, adalah pemeranan wanita yang dalamnya “merugikan” kaum perempuan itu sendiri. Film adalah media yang baik dan berpengaruh bagi transfer nilai, sehingga pencitraan dan pertunjukkan wanita di dalamnya menentukan bagaimana pembentukan pandangan masyarakat terhadapnya. Ketika ia diperlakukan dan dipertontonkan kepada masyarakat dalam posisi yang rendah, demikianlah sedikit demi sedikit masyarakat memperlakukannya. Lihatlah di sekitar Anda, produksi video porno, tempat-tempat prostitusi, dunia malam, dan pemerkosaan terjadi hingga berujung pada pembunuhan. Media massa pun tampak tak bosan dengan itu semua, yang merupakan gambaran atas kedudukan wanita sebagai hasil pencitraan semacam ini. Sebatas ingatan saya ada beberapa film yang menuai kritikan di tengah-tengah masyarakat Orde Baru yang represif itu. Dan kini kita telah lihat hasil didikan melalui film-film semacam ini. Sementara, untuk sekarang, saya hanya perlu mengatakan bahwa pencitraan semacam itu masih terjadi hingga kini, bahkan lebih berkembang. Dan perlu diingat, hal ini sedang terjadi di dalam masyarakat di lingkungan kita masing-masing tanpa ada wujud ktitik keras. Lalu bagaimana ke depan? Kita semua akan segera melihatnya.


24

Narodnik #2 Ruang Langkah

Rubrik Ruang Langkah adalah kolom khusus untuk Langkah Komunitas Sastra. Narodnik menerima karya cerpen/puisi khusus anggota Langkah dan akan diseleksi. Mulai edisi kedua Narodnik akan memberi imbalan berupa satu buah buku (kumpulan cerpen/kumpulan puisi) untuk penulis yang karyanya dimuat di rubrik ini. Silakan kirim ke email redaksi Narodnik.

SEPATU YANG BERISIK Bungkus permen yang menganga Bicara dia Membiaskan kepala yang menganga A, B, AB, O Hanya itu? Lembut alas sepatu menjawabnya bersama Sebuah belaian retorika yang mengantar pada Kelembutannya berkata “KUINJAK KAU!� 2012

Puisi Izulma


25

Narodnik #2 Event

Meskipun sempat diwarnai ketidakpastian, event tahunan Sail Indonesia Morotai 2012 akhirnya dipastikan jadi terlaksana setelah Presiden RI mengeluarkan Keppres No. 4 yang ditandatangani pada 24 Januari 2012. Pemerintah pun tidak main-main dengan rencananya menggelar event internasional di kabupaten yang baru mekar pada 3 tahun silam itu. Menurut Ketua Panitia Lokal, Muhajirin Albar, untuk mensukseskan Sail Morotai, pemerintah akan mengelontorkan dana mencapai 100 milyar untuk pembangunan infrastruktur dasar. Angkat yang tentunya lebih dari cukup untuk menepis keraguan publik akan minimnya fasilitas yang ada di kabupaten itu. Informasi terakhir bahkan menyebutkan bahwa Menteri Perekonomian, Hatta Rajasa baru saja melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan hotel dengan 500 kamar yang juga dilengkapi fasilitas lapangan golf di tanjung Degehila. Bahkan dalam perancangan 100 tahun ke depan Morotai digadang-gadang akan menjadi setara Singapura dan Hongkong (Malut Post, 14 Pebruari 2012). Lantas apa hubungannya event yang digelar di Morotai itu dengan Halmahera Utara? Memang Pulau Morotai secara administratif tidak lagi menjadi bagian dari Halmahera Utara, namun sebagai kabupaten induk sekaligus kabupaten terdekatnya, Halmahera Utara dipastikan akan ikut kecipratan sibuk untuk mensukseskan event internasional yang sudah 3x digelar itu. Sail Morotai akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik, di antaranya display Perang Dunia ke-II semacam rekonstruksi peristiwa Perang Dunia ke-II antara Sekutu dan Jepang di Pulau Morotai pada 1945. Sail Morotai sendiri dijadwalkan pada 8 September 2012 dan akan diikuti oleh 120 kapal layar yang berasal dari berbagai negara di dunia. (Sumber sail indonesia 2012)

“Bike to Health” Fakultas Unpad Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Dunia 2012 dan HUT ke-39 Atlas Medical Pioneer (AMP), Unit Kepecintaalaman Fakultas Kedokteran Unpad, Atlas Medical Pioneer, mengadakan acara “Bike to Health” , dengan rangkaian kegiatan berupa bersepeda bersama dari depan Rumah Sakit Hasan Sadikin hingga ke Dago Tea House mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 13.00 WIB. Rute dari kegiatan bersepeda ini dimulai dari Gedung Rumah Sakit Pendidikan FK Unpad Eikjman-Pasteur-Cicendo-Taman Sari-Simpang Dago-Tubagus Ismail-CikutraBojong Koneng-Dago Resort dan berakhir di Dago Tea House. Peserta kegiatan meliputi praktisi kesehatan, dari mahasiswa kedokteran hingga dokter dan petugas kesehatan yang berada di Rumah Sakit Hasan Sadikin, RS.Cicendo, dan sekitarnya.

Tanggal Pelaksanaan: Sabtu, 14 April 2012 Waktu: 6.00 - 13.00 WIB Tempat: Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dan Dago Tea House Informasi lebih lanjut hubungi: Annisa Sundani, S.Ked. 08562250212 Annisasundani@yahoo.com


26

Narodnik #2 Ruang Kontemplasi

JENAH Fredy Wansyah Hamparan padi nan luas, hijau, dan irigasi lancar. Baru saja gerombolan Nica (Netherland Indies Civil Administration) pemerintahan sipil orang Belanda- barang sebentar mengobrak-abrik kawasan Bekasi. Di Bekasi Nica sempat 'duduk', meski tak terhitung lama selayaknya tragedi-tragedi yang di kawasan lainnya seperti Bandung (Bandung Lautan Api). Prajurit Beruang Merah mampu mengeluarkan orang-orang Nica itu. Bekasi pun jadi kondusif. Lebih tepatnya, kondusif yang berupa masa transisi. Paling tidak, situasi kondusifnya mampu membuat warga Bekasi mengurusi kembali sawah-sawahnya. Menjadi sawah yang terurus. Di sanalah, situasi Bekasi yang baru kondusif tadi, Pramoedya Anata Toer mulai meletakkan dasar ceritanya. Bermula dari sawah bersama bapaknya, Jenah melewati persawahan sehabis membantu bapaknya mengolah sawah. “Pastilah panen yang akan datang boleh diharapkan hasilnya dan hidup kita tidak kalangkabut seperti beberapa bulan yang lalu,” begitulah pikiran Jenah. Jenah dihadirkan tanpa deskripsi kecantikan. Tidak ada deskripsi apalagi narasi- tentang warna kulitnya. Tidak ada deskripsi pancaindera secara detail yang dimetaforkan seperti entah apa saja untuk dapat menggambarkan keindahan. Bukan seperti kecantikan yang mudah kita pahami saat ini yang berasal dari deskripsi media-media publik (iklan, televisi, radio, dsb). Kecantikan di media itu ditunjukkan dengan warna kulit putih, mata lentik, pinggul tidak lebar, langsing, dan lemah lembut kita mungkin bertanya, sesungguhnya apa relasi kecantikan bagi kepuasan (laki-laki)- yang salah satunya diasosiasikan terhadap kepuasan seks. Kecantikan di media-media massa kini cuma seonggok pornografi kecantikan1. Artinya, dengan pendeskripsian umum agar memunculkan definisi kecantikan, kepuasan seakan-akan dapat didefinisikan secara universal. Padahal, pendefinisian kecantikan hanyalah bersifat aporia. Jenah hanyalah gadis kampung, yang bisa dikatakan, penurut pada orang tuanya. Penurut di sini bukan berarti Jenah seakan-akan menjadi individu yang tersubordinatkan, tidak mampu berbuat apa-apa, atau tidak berani berbicara. Tidak ada bentuk-bentuk perlawanan, termasuk dalam batinnya. Batalyon Beruang Merah melawan penjajah- hadir di tengah-tengah kampung Jenah, yang telah berjasa menjadi pahlawan, melindungi, dan menghargai penduduk kampung. Para pengusir penjajah itu dikagumi Jenah, kagum yang berpotensi jadi cinta, selayaknya gadis-gadis kampung lainnya, bukan karena tampangnya yang tampan, melainkan karena pahlawan-pahlawan itu digambarkan mampu melindungi bangsanya dari kemungkinankemungkinan buruk maupun kemungkinan-kemungkinan

Kejahatan sosial (konteks waktu itu ialah penjajah). Mereka jatuh hati bukan karena rupa, kekayaan atau ancaman senjata, melainkan karena mereka itu boleh disebut pahlawan kebangsaan sejati, begitu paparan Pram dalam narasinya. Sesungguhnya itu pun akan berlaku bagi diri mereka, melindungi mereka dari kemungkinan-kemungkinan kejahatan sosial sehingga akan merasa aman dan nyaman. Para pahlawan dari Beruang Merah pun singgah ke rumah Jenah. Semakin dekatlah harapan Jenah, dengan kekagumannya, untuk lebih leluasa memerhatikan pahlawan dari Beruang Merah. Di saat ayahnya memerintahkan untuk menyuguhkan segelas air kepada prajurit, Jenah sesungguhnya bangga. Bangga karena mampu memberi air, dan mampu bertatap dengan dekat. Ia gadis, hanya gadis Bekasi, gadis kampung belaka. Gadis Bekasi cinta pada prajurit dari Batalyon Beruang Merah, begitulah narasi Pram. Meski pada akhirnya, Jenah tidak ditunjukkan mampu menyatakan perasaan kagum maupun cinta itu. Setidaknya Pram, dalam cerpen “Gadis Bekasi” ini, dengan tokoh utama Jenah, tidak membentuk tokoh yang pseudoseksual2 atau tokoh yang fanatik kecantikan dalam berbagai ceritanya. Apalagi menjadikan pseudoseksual sebagai estetika cerita. Dapatlah dipahami, bahwa Pram bukanlah sosok penulis karya sastra yang senang memperkosa tokohnya melalui penggambarankecantikan, sebab ada hal yang lebih penting dan lebih estetis dalam penceritaan baginya. Cempaka Putih. Maret, 2012. 1. Pornografi kecantikan di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah, “kecantikan” yang terkomodifikasi dihubungkan langsung secara artifisial dengan seksualitas- terus menggempur kelompok arus utama dalam rangka meruntuhkan perasaan perempuan tentang harga diri seksualitas mereka yang baru dan masih rapuh. (Mitos Kecantikan, oleh NW) 2. Skenario pseudoseksual yang manis. Skenario inilah yang memberikan batasan baru tentang apa yang dapat mereka pikirkan, bagaimana mereka bisa bergerak dan apa yang dapat mereka makan (Mitos Kecantikan, oleh NW).


Kontributor Muhammad Romyan F.

Laura Bottaro

, Penulis yang selalu galau. Aktif di MSB (Majelis Sastra Bandung). Bermukim di Bandung.

. Lahir pada tanggal 19 Desember 1958, di Vicenza, Italia. Mendapat gelar Painting dari Accademia di Belle Arti, tahun 1986. Kini tinggal dan bekerja di Vicenza. Ia juga menjalin hubungan dengan European Culture. F e s b u k : www.facebook.com/lbottaro

Husen Arifin,

lahir di Probolinggo 28 Januari 1989. Sedang menyelesaikan S-1 di UIN Maliki Malang. Sekarang cerpen, puisi, dan esainya menjadi pemenang tingkat nasional dan dimuat di buku, antara lain: Menolak Lupa (2010), Akulah Musi (2011), Tuah Tara No Ate (2011), Karena Aku Tak Lahir dari Batu (2011), Lelaki yang Dibeli (2011), Akar Jejak (2011), Jurnal LoroNG (2011), dan Jurnal Pohon (2011). Juga pernah mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang dan Temu Sastra Indonesia IV di Ternate (2011).

Dinal Kelian

, biasa dipanggil Ende. Sempat menempuh studi di jurusan fakultas sastra Unpad. Saat ini tinggal di Cianjur. Menyukai seni gambar dan musik. Beberapa kali pernah perform musik di Jatinangor, Cianjur, dan Jakarta.

Izzulma. Mahasiswi sastra Rusia Unpad. Aktif di Langkah Abdul Haris, Komunitas Sastra, Jatinangor. Gemar menulis puisi dan cerpen.

perantau dari Padang yang kini mendedikasikan dirinya untuk perfilman. Pernah menempuh studi Sastra Rusia di Unpad. Sekarang bermukim di Jakarta. Telah menyelesaikan beberapa judul film pendek.

Nour Muhammad Adriani. Mantan Ketua OSIS SMA 2 Bandung.

Abrorza A Yusra

adalah alumnus mahasiswa sastra Indonesia Unpad. Alumni pesantren ini juga pegiat seni pertunjukan. Selain aktif seni peran di kelompok teater Djati, juga aktif di kelompok seni musik. Saat ini bermukim di Jatinangor.

Narodnik dapat dinikmati melalui versi cetak. Kini Narodnik ‘belajar’ untuk mengembangkan sistem POD (Print On Demand). Tujuannya mempermudah pembaca agar nyaman membaca, karena seperti pada umumnya membaca di depan layar komputer bukanlah hal yang mudah atau tanpa gangguan. Pemesanan Narodnik cetak dapat menghubungi bagian cetak Metafor:

Dicky Kribo (082115297172)

Narodnik majalahnarodnik.blogspot.com redaksinarodnik@gmail.com Maret 2012


Narodnik #2  

majalah humaniora yang dikelola oleh Metafor

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you